• Tidak ada hasil yang ditemukan

KOMISI INFORMASI PROVINSI SULAWESI BARAT PUTUSAN. Nomor : 022/XI/KI-SB/PS-A/ IDENTITAS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KOMISI INFORMASI PROVINSI SULAWESI BARAT PUTUSAN. Nomor : 022/XI/KI-SB/PS-A/ IDENTITAS"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

1

KOMISI INFORMASI PROVINSI SULAWESI BARAT

PUTUSAN

Nomor : 022/XI/KI-SB/PS-A/2019

1. IDENTITAS

[1.1] Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat yang menerima, memeriksa dan menjatuhkan putusan dalam Sengketa Informasi Publik dengan Nomor Registrasi : 025/REG-PSI/KI-SB/IX/2019 yang diajukan oleh :

Nama : LSM Lintas Pemburu Keadilan (LPK)

Alamat : Jl. Poros Mamasa Polewali Karangan Desa Bombong Lambe Kecamatan Mamasa Kabupaten Mamasa.

Dalam persidangan di wakili oleh Roberth P., Selaku Pimpinan Umum DPP Lembaga Pemburu Keadilan (LPK) serta para kuasanya yaitu Untung Wijaya, Sarman, danArifin, berdasarkan Surat Kuasa yang ditanda tangani oleh Roberth P selaku Pimpinan Umum LSM Lintas Pemburu Keadilan (LPK) tertanggal 1 November 2018.

Selanjutnya disebut sebagai Pemohon, Terhadap

Nama : Pemerintah Desa Siwi Kecamatan Nosu Kabupaten Mamasa.

Selanjutnya disebut sebagai Termohon.

(2)

2 [1.2] Telah membaca permohonan Pemohon;

Telah mendengar keterangan Pemohon;

Telah memeriksa surat-suratPemohon;

2. DUDUK PERKARA A. Pendahuluan

[2.1] Bahwa Pemohon telah mengajukan permohonan penyelesaian Sengketa Informasi Publik pada tanggal 4 September 2019 yang diterima dan terdaftardi Kepaniteraan Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat tanggal 4 September 2019 dengan registrasi Sengketa Nomor: 025/REG-PSI/KI-SB/IX/2019.

Kronologi

[2.2] Bahwa Pemohon mengajukan permohonan informasi kepada Kepala Desa Siwi Kecamatan Nosu Kabupaten Mamasa melalui surat tertanggal 2 Maret 2019 yang diterima pada tanggal 2 Maret 2019 oleh atas nama Dominggus. Adapun salinan informasi yang dimohonkan Pemohon berupa “Dokumen Perencanaan dan Pertanggungjawaban Penggunaan Dana ADD dan DDS yang jumlahnya

± 2 Milyar Tahun Anggaran 2017 dan 2018”.

[2.3] Bahwa hingga batas waktu yang ditentukan dalam memberikan jawaban/tanggapan atas informasi yang dimohonkan oleh Pemohon, Termohon tidak memberikan tanggapan, sehingga Pemohon melalui Surat tertanggal 27 April 2019 mengajukan keberatan atas tidak di tanggapinya permintaan informasi kepada Termohon, yang di terima Termohon pada tanggal 10 Mei 2019 oleh atas nama Anis.

[2.4] Bahwa hingga batas waktu yang ditentukan dalam memberikan jawaban/tanggapan atas keberatan yang dimohonkan oleh Pemohon, Termohon tidak memberikan tanggapan, sehingga pada tanggal 4 September 2019 Pemohon mengajukan permohonan penyelesaian Sengketa Informasi ke Komisi

(3)

3

Informasi Provinsi Sulawesi Barat yang di terima Kepaniteraan pada tanggal yang sama, di proses, dan di registrasi sengketa dengan nomor: 025/REG-PSI/KI- SB/IX/2019.

[2.5] Bahwa terhadap sengketa a quo, telah di lakukan rangkaian persidangan pada waktu sebagai berikut:

1. Persidangan Tanggal15 Oktober 2019 dengan agenda Pemeriksaan Awal yang dihadiri Pemohon, namun tidak dihadiri Termohon.

2. Persidangan Tanggal 29 Oktober 2019, dengan agenda Lanjutan Pemeriksaan Awal yang dihadiri Pemohon dan tidak di hadiri Termohon.

Alasan atau Tujuan Permohonan Informasi Publik

[2.6] Bahwa alasan atau tujuan Pemohon mengajukan Permohonan Informasi Publik atas perkara a quoadalah untuk melakukan fungsi kontrol terhadap pembangunan yang dilaksanakan di desa.

Alasan Permohonan Penyelesaian Sengketa Informasi Publik

[2.7]Pemohon mengajukan permohonan penyelesaian sengketa informasi publik atas perkara a quokarena keberatan yang diajukan Pemohon tidak mendapat tanggapan dari Termohon.

Petitum

[2.8] Memohon kepada Majelis untuk menyatakan informasi yang dimohonkan Pemohon adalah informasi terbuka dan memerintahkan Termohon untuk memberikan dokumen yang di mohonkan Pemohon.

B. Alat Bukti

Keterangan Pemohon

[2.9] Menimbang bahwa dalam persidangan, Pemohon telah menyampaikan keterangan sebagai berikut :

(4)

4

1. Bahwa Pemohon menyatakan mengajukan permohonan permintaan informasi kepada Kepala Desa Siwi Kecamatan Nosu Kabupaten Mamasa melalui surat yang diterima Termohon pada tanggal 2Maret 2019 atas nama Dominggus.

2. Bahwa Pemohon menyatakanmengajukan keberatan kepada Kepala Desa Siwi Kecamatan Nosu Kabupaten Mamasa melalui surat 27 April 2019karena permintaan Informasi yang di mohonkan Pemohon tertanggal 2 Maret 2019 tidak ditanggapinya oleh Termohon, dan surat keberatan Pemohon diterima Termohon pada tanggal10Mei 2019 oleh atas nama Anis.

3. Bahwa Pemohon menyatakan mengajukan permohonan penyelesaian sengketa informasi publik kepada Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat pada tanggal 4 September 2019 dan diterima pada tanggal yang sama oleh petugas Kepaniteraan Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat.

4. Bahwa Pemohon menyatakan keterlambatan dalam mengajukan permohonan sengketa informasi ke Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat terkendala pada keterlambatan proses pengesahan lembaga sebagai badan hukum di Kementerian Hukum dan HAM yang pengesahannya baru terbit pada bulan Agustus 2019.

5. Bahwa Pemohon menyatakan tidak bisa memastikan surat permohonan informasi diterima Temohon atau tidak karena di antar oleh pengurus lembaga yang lain.

Surat-Surat Pemohon

[2.10] Bahwa Pemohon telah mengajukan surat-surat sebagai berikut :

Surat P-1 Foto copy Surat Permohonan Informasi Publik yang ditujukan kepada Kepala Siwi Kecamatan Nosu Kabupaten Mamasatertanggal 2 Maret 2019.

Surat P-2 Fotokopi tanda terima Surat Permohonan Informasi Publik yang ditujukan kepadaKepala Siwi Kecamatan Nosu Kabupaten Mamasatertanggal 2 Maret 2019 oleh atas nama Dominggus.

(5)

5

Surat P-3 Fotocopy surat Keberatan yang ditujukan kepada Desa Siwi Kecamatan Nosu Kabupaten Mamasatertanggal 27 April 2019 Surat P-4 Fotokopi tanda terima Surat Keberatan ditujukan kepadaSiwi

Kecamatan Nosu Kabupaten Mamasa tertanggal 6 Mei 2019 oleh atas nama Anis.

Surat P-5 Surat Permohonan Penyelesaian Sengketa Informasi Publik yang ditujukan kepada Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat tertanggal 4 September 2019.

Surat P-6 Foto copy Pengesahan Pendirian Badan Hukum Perkumpulan Lembaga Swadaya Masyarakat Lintas Pemburu Keadilan dari Menteri Hukum dan Hak Azasi Manusia Republik Indonesia.

Surat P-7 Foto copy Surat Tugas Nomor: 033/LPK/I/2018, tertanggal 1 November 2018 yang diberikan oleh Roberth selaku Pimpinan Umum LSM LPK kepada Arifin jabatan Biro Investigasi LSM LPK.

Surat P-8 Foto copy Surat Tugas Nomor: 033/LPK/I/2018, tertanggal 1 November 2018 yang diberikan oleh Roberth selaku Pimpinan Umum LSM LPK kepada Sarman jabatan Biro Investigasi LSM LPK.

Surat P-9 Foto copy Surat Tugas Nomor: 033/LPK/I/2018, tertanggal 1 November 2018 yang diberikan oleh Roberth selaku Pimpinan Umum LSM LPK kepada Untung Wijaya jabatan Bendahara Umum LSM LPK.

Surat P-10 Foto copy Kartu Tanda Penduduk (KTP) atas nama Roberth P.

dengan Nomor KTP 7604041407680001 dengan alamat Lingk.

Pande Bassi Desa Sulewatang Kecamatan Polewali Kabupaten Polewali Mandar.

Keterangan Termohon

[2.11] Menimbang bahwa dalam persidangan tanggal 15 Oktober 2019, dan tanggal 29 Oktober 2019 Termohon tidak hadir.

(6)

6 Surat-Surat Termohon

[2.12] Bahwa Termohon tidak mengajukan surat-surat sebagai alat bukti.

3. PERTIMBANGAN HUKUM

[3.1] Menimbang bahwa maksud dan tujuan permohonan sesungguhnya adalah mengenai Permohonan Penyelesaian Sengketa Informasi Publik, sebagaimana diatur pasal 35 ayat (1) huruf c, Undang-undang No.14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik,selanjutnya disebut UU KIP,juncto pasal 5 huruf b Pasal 13 dan Pasal 36 ayat (1) dan (2) Peraturan Komisi Informasi No.1 Tahun 2013 tentang Prosedur Penyelesaian Sengketa Informasi Publik, selanjutnya disebut Perki No 1 Tahun 2013, yaitu dengan alasan permintaan informasi tidak di tanggapi.

[3.2] Menimbang bahwa sebelum memasuki pokok permohonan, berdasarkan pasal 36 ayat (1) Perki No 1 Tahun 2013 tentang PPSIP, Majelis Komisioner terlebih dahulu akan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :

1. Kewenangan Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat untuk memeriksa dan menjatuhkan putusan terhadap permohonan a quo ;

2. Kedudukan hukum (legal standing)Pemohonuntuk mengajukan mengajukan Permohonan Penyelesaian Sengketa Informasi Publik ;

3. Kedudukanhukum (legal standing)Termohon sebagai Badan Publik dalam penyelesaian sengketa informasi publik ;

4. Batas waktu pengajuan permohonan penyelesaian sengketa informasi publik.

Bahwa terhadap keempat hal tersebut, Majelis Komisioner mempertimbangkan dan memberikan pendapat sebagai berikut :

(7)

7

A. Kewenangan Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat

[3.3] Menimbang bahwa Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat memiliki dua kewenangan yaitu Kewenangan Absolut dan Kewenangan Relatif.

Kewenangan Absolut

[3.4] Menimbang bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 1 angka 4 UU KIP dinyatakan:

Komisi Informasi adalah lembaga mandiri yang berfungsi menjalankan Undang-Undang KIP dan peraturan pelaksanaannya, menetapkan petunjuk teknis standar layanan informasi publik dan menyelesaikan sengketa informasi publik melalui mediasi dan/atau ajudikasi nonlitigasi.

[3.5] Menimbang bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 1 angka 5 UU KIP, juncto Pasal 1 angka 3 Perki No 1 Tahun 2013 tentang PPSIP dinyatakan:

Sengketa Informasi Publik adalah sengketa yang terjadi antara badan publik danpengguna informasi publik yang berkaitan dengan hak memperoleh dan menggunakaninformasi berdasarkan perundang-undangan.

[3.6] Menimbang bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 1 angka 2 UU KIP dinyatakan bahwa:

Informasi Publik adalah informasi yang dihasilkan, disimpan, dikelola, dikirim, dan/atau diterima oleh suatu Badan Publik yang berkaitan dengan penyelenggara dan penyelenggaraan negara dan/atau penyelenggara dan penyelengaraan Badan Publik lainnya yang sesuai dengan Undang-undang ini serta informasi lain yang berkaitan dengan kepentingan publik.

[3.7] Menimbang bahwa berdasarkan ketentuan-ketentuan : Pasal 22 UU KIP:

Ayat (1)

Setiap Pemohon Informasi Publik dapat mengajukan permintaan untuk memperoleh Informasi Publik kepada badan Publik terkait secara tertulis atau tidak tertulis.

(8)

8 Ayat (7)

Paling lambat 10 (sepuluh) hari kerja sejak diterimanya permintaan, Badan Publik yang bersangkutan wajib menyampaikan pemberitahuan tertulis yang berisikan :

a. informasi yang diminta berada di bawah penguasaannya ataupun tidak;

b. Badan Publik wajib memberitahukan Badan Publik yang menguasai informasi yang diminta apabila informasi yang diminta tidak berada di bawah penguasaannya dan Badan Publik yang menerima permintaan mengetahui keberadaan informasi yang diminta;

c. penerimaan atau penolakan permintaan dengan alasan yang tercantum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17;

d. dalam hal permintaan diterima seluruhnya atau sebagian dicantumkan materi informasi yang akan diberikan;

e. dalam hal suatu dokumen mengandung materi yang dikecualikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17, maka informasi yang dikecualikan tersebut dapat dihitamkan dengan disertai alasan dan materinya;

f. alat penyampai dan format informasi yang akan diberikan; dan/atau g. biaya serta cara pembayaran untuk memperoleh informasi yang

diminta.

Ayat (8)

Badan Publik yang bersangkutan dapat memperpanjang waktu untuk mengirimkan pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (7), paling lambat 7 (tujuh) hari kerja berikutnya dengan memberikan alasan secara tertulis.

Pasal 26 ayat (1) huruf a UU KIP

Komisi Informasi bertugas menerima, memeriksa, dan memutus permohonan penyelesaian Sengketa Informasi Publik melalui Mediasi dan/atau Ajudikasi nonlitigasi yang diajukan oleh setiap Pemohon Informasi

(9)

9

Publik berdasarkan alasan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang KIP.

Pasal 36 UU KIP:

(1) Keberatan diajukan oleh Pemohon Informasi Publik dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari kerja setelah ditemukannya alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (1).

(2) Atasan pejabat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (1) memberikan tanggapan atas keberatan yang diajukan oleh Pemohon Informasi Publik dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari kerja sejak diterimanya keberatan secara tertulis

Pasal 37 ayat (2) UU KIP

Upaya penyelesaian Sengketa Informasi Publik diajukan dalam waktu paling lambat 14 (empat belas) hari kerja setelah diterimanya tanggapan tertulis dari atasan pejabat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (2)

Pasal 38 ayat (1) UU KIP

Komisi Informasi Pusat dan Komisi Informasi provinsi dan/atau Komisi Informasikabupaten/kota harus mulai mengupayakan penyelesaian Sengketa Informasi Publikmelalui Mediasi dan/atau Ajudikasi nonlitigasi paling lambat 14 (empat belas) hari kerjasetelah menerima permohonan penyelesaian Sengketa Informasi Publik.

[3.8] Menimbang bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 5 Perki No 1 Tahun 2013 tentang PPSIP dinyatakan bahwa:

Penyelesaian Sengketa Informasi Publik melalui Komisi Informasi dapat ditempuh apabila:

a. pemohon tidak puas terhadap tanggapan atas keberatan yang diberikan oleh atasan PPID; atau

b. pemohon tidak mendapatkan tanggapan atas keberatan yang telahdiajukan kepada atasan PPID dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari kerja sejak keberatan diterima oleh atasan PPID.”

(10)

10

[3.9] Menimbang bahwa berdasarkan fakta permohonan dan fakta persidangan, Pemohon telah menempuh mekanisme memperoleh informasi dan mengajukan permohonan penyelesaian sengketa informasi publik sebagaimana pada paragraf [2.2] sampai dengan [2.4] bagian kronologis sengketa aquo, Majelis berpendapat telah melalui tahapan prosedur yang benar berdasarkan UU KIP dan perki PPSIP yaitu melalui tahapan permohonan informasi, keberatan, dan permohonan penyelesaian sengketa informasi ke Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat.

[3.10] Menimbang bahwa berdasarkan uraian paragraf [3.4] sampai paragraf [3.9], Majelis berpendapat bahwa sengketa a quo berada dalam kewenangan Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat dan oleh karenanya Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat memiliki kewenangan untuk menyelesaikan sengketa a quo.

Kewenangan Relatif

[3.11] Menimbang bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 27 ayat (3) UU KIP dinyatakan :

Kewenangan Komisi Informasi provinsi meliputi kewenangan penyelesaian sengketa yang menyangkut Badan Publik tingkat provinsi yang bersangkutan.”

[3.12] Menimbang bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 6 ayat (4) Perki No 1 Tahun 2013 tentang PPSIP dinyatakan:

Dalam hal Komisi Informasi Kabupaten/Kota belum terbentuk, kewenangan menyelesaikan Sengketa Informasi Publik yangmenyangkut Badan Publik tingkat kabupaten/kota dilaksanakan oleh Komisi Informasi Provinsi.

[3.13] Menimbang bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 1 angka 3 UU KIP yang dinyatakan :

Badan Publik adalah lembaga eksekutif, legislatif, yudikatif, dan badan lain yang fungsidan tugas pokoknya berkaitan dengan penyelenggaraan negara, yang sebagian atau seluruh dananya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan/atau Anggaran Pendapatan dan

(11)

11

Belanja Daerah, atau organisasi nonpemerintah sepanjang sebagian atau seluruh dananya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan/atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, sumbangan masyarakat,dan/atau luar negeri.

[3.14] Menimbang bahwa pada bagian penjelasan Pasal 6 ayat(3) Perki No 1 Tahun 2013 tentang PPSIP dinyatakan:

Yang dimaksud dengan Badan Publik kabupaten/kota adalah Badan Publik yang lingkup kerjanya mencakup kabupaten/kota setempat atau lembaga tingkat kabupaten/kota dari suatu lembaga yang hierarkis. Contoh:

Pemerintah Kabupaten/Kota, DPRD kabupaten/kota, Pengadilan tingkat pertama, Komando Distrik Militer, BUMD tingkat kabupaten/kota, Partai Politik tingkat kabupaten/kota, organisasi non pemerintah tingkat kabupaten/kota, RSUD tingkat kabupaten/kota, atau lembaga tingkat kabupaten/kota lainnya.

[3.15] Menimbang bahwa berdasarkan Undang-undang No 6 Tahun 2014 tentang Desa yang menyebutkan :

Pasal 1

Desa adalah desa dan desa adat atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut Desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pasal 5

Desa berkedudukan di wilayah Kabupaten/Kota.

Pasal 23

Pemerintahan Desa diselenggarakan oleh Pemerintah Desa.

(12)

12 Pasal 25

Pemerintah Desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 adalah Kepala Desa atau yang disebut dengan nama lain dan yang dibantu oleh perangkat Desa atau yang disebut dengan nama lain.

Pasal 26

(1) Kepala Desa bertugas menyelenggarakan Pemerintahan Desa, melaksanakan Pembangunan Desa, pembinaan kemasyarakatan Desa, dan pemberdayaan masyarakat Desa.

Pasal 27

Dalam melaksanakan tugas, kewenangan, hak, dan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26, KepalaDesa wajib:

a. Menyampaikan laporan penyelenggaraan Pemerintahan Desa setiap akhir tahun anggaran kepadaBupati/Walikota;

Pasal 72

(1) Pendapatan Desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 71 ayat (2) bersumber dari:

a. pendapatan asli Desa terdiri atas hasil usaha, hasil aset, swadaya dan partisipasi, gotong royong, dan lain-lain pendapatan asli Desa;

b. alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara;

c. bagian dari hasil pajak daerah dan retribusi daerah Kabupaten/Kota;

d. alokasi dana Desa yang merupakan bagian dari dana perimbangan yang diterima Kabupaten/Kota;

e. bantuan keuangan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi dan AnggaranPendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten/Kota;

f. hibah dan sumbangan yang tidak mengikat dari pihak ketiga; dan g. lain-lain pendapatan Desa yang sah.

(13)

13

[3.16] Menimbang bahwa termohon adalah Desa Siwi Kecamatan Nosu Kabupaten Mamasa yang berdasarkan ketentuan pasal 1 ayat 2 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2014 tentangPeraturan Pelaksanaan Undang- Undang Nomor 6 Tahun 2014Tentang Desa disebutkan:

Pemerintahan Desa adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

[3.17] Menimbang bahwa laporan penyelenggaraan pemerintah desa berdasarkan Pasal 48 PP No 43 Tahun 2014, disebutkan:

Dalam melaksanakan tugas, kewenangan, hak, dan kewajibannya, kepala Desa wajib:

a. menyampaikan laporan penyelenggaraan Pemerintah Desa setiap akhir tahun anggaran kepada bupati/walikota.

[3.18] Menimbang bahwa sumber pendanaan penyelenggaraan pemerintahan desa salah satunya dialokasikan dari Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah Kabupaten/kota berdasarkan ketentuan pasal 96 PP No 43 Tahun 2014, disebutkan:

(1) Pemerintah daerah kabupaten/kota mengalokasikan dalam anggaran pendapatan dan belanja daerah kabupaten/kota ADD setiap tahun anggaran.

(2) ADD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit 10% (sepuluh perseratus) dari dana perimbangan yang diterima kabupaten/kota dalam anggaran pendapatan dan belanja daerah setelah dikurangi dana alokasi khusus.

(3) Pengalokasian ADD sebagaimana dimaksud pada ayat (2)mempertimbangkan:

a. kebutuhan penghasilan tetap kepala Desa dan perangkat Desa; dan

(14)

14

b. jumlah penduduk Desa, angka kemiskinan Desa, luas wilayah Desa,dan tingkat kesulitan geografis Desa.

[3.19] Menimbang bahwa Pemerintah Desa merupakan salah satu Badan Publik yang berkedudukan di Desa berdasarkan ketentuan Pasal 1 angka 3 Peraturan Komisi Informasi Nomor 1 Tahun 2018 Tentang Standar layanan Informasi Publik Desa yang dinyatakan:

3. Badan Publik Desa adalah Pemerintah Desa, Badan Permusyawaratan Desa, Badan Usaha Milik Desa dan Badan Kerjasama Antar Desa.

[3.20] Menimbang bahwa berdasarkan uraian paragraph [3.11] sampai dengan paragrap [3.19] Majelis berpendapat bahwa Termohon mempunyai tugas menyelenggarakan urusan pemerintahan yang berkedudukan di desa yang merupakan bagian dari kabupaten/kota yang alokasi penganggarannya sebahagian bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten/Kota, sehingga merupakan badan Publik tingkat kabupaten/kota.

[3.21] Menimbang bahwa berdasarkan uraian dalam paragraf [3.20], Majelis berpendapat Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat memiliki kewenangan relatif untuk menerima, memeriksa dan memutus sengketa a quo.

B. Kedudukan Hukum / Legal Standing Pemohon [3.22] Menimbang bahwa berdasarkan ketentuan:

Pasal 1 angka 12 UU KIP

Pemohon Informasi Publik adalah warga negara dan/atau badan hukum Indonesia yang mengajukan permintaan informasi publik sebagaimana diatur dalam UU KIP.

Pasal 1 angka 7 Perki PPSIP

Pemohon Penyelesaian Sengketa Informasi Publik yang selanjutnya disebut Pemohon adalah Pemohon atau Pengguna Informasi Publik yang mengajukan Permohonan kepada Komisi Informasi.

(15)

15

Pasal 11 ayat (1) huruf a angka 1 Perki PPSIP

Pemohon wajib menyertakan dokumen kelengkapan Permohonan berupa identitas yang sah, yaitu:

1. Fotokopi Kartu Tanda Penduduk, Paspor atau identitas lain yang sah yang dapat membuktikan Pemohon adalah Warga Negara Indonesia;

atau

2. Anggaran dasar yang telah disahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia dan telah tercatat di Berita Negara Republik Indonesia dalam hal Pemohon adalah Badan Hukum.

3. Surat kuasa dan fotokopi Kartu Tanda Penduduk pemberi kuasa dalam hal Pemohon mewakili kelompok orang.

[3.23] Menimbang bahwa berdasarkan fakta permohonan dan fakta persidangan yang tidak dibantahkan oleh Pemohon sehingga menjadi fakta hukum, bahwa

Pemohon dalam sengketa aquo yaitu Lembaga Swadaya Masyarakat Lintas Pemburu Keadilan yang didirikan berdasarkan Akta Notaris Nomor 01

tertanggal 08 Juli 2019 yang dibuat di hadapan Notaris Abu Afief Waris, S.H yang berkedudukan di Kabupaten Mamuju, yang pendiriannya telah mendapat pengesahan dari Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia sebagaimana tersebut dalam Salinan Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor AHU- 0008885.AH.01.07. Tahun 2019.

[3.24] Menimbang bahwa berdasarkan fakta persidangan pemohon telah mengajukan Permohonan Informasi Publik, Pengajuan keberatan, dan Permohonan penyelesaian Sengketa Informasi Publik ke Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat sebagaimana di uraiakan pada paragraf [2.2] sampai pada paragraf [2.4] pada bagian kronologis.

[3.25] Menimbang bahwa berdasarkan uraian paragraf [3.21] sampai dengan paragraf [3.24], Majelis berpendapat bahwa Pemohon memenuhi syarat kududukan hukum (legal standing) sebagai Pemohon dalam sengketa a quo.

(16)

16

C. Kedudukan Hukum / Legal Standing Termohon

[3.26] Menimbang bahwa kedudukan hukum Termohon dalam sengketa a quosesungguhnya telah diuraikan dan dipertimbangkan pada bagian kewenangan relatif Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat pada paragraf [3.11] sampai dengan [3.19],dimana pertimbangan tersebut berlaku secara mutatis mutandis dalam menguraikan dan mempertimbangkan kedudukan hukum Termohon.

[3.27] Menimbang berdasarkan paragraf [3.26], Majelis berpendapat bahwa Termohon memenuhi syarat kedudukan hukum (legal standing) sebagai Termohon penyelesaian sengketa informasi publik dalam sengketa a quo.

D. Batas Waktu Pengajuan Permohonan Penyelesaian Sengketa Informasi [3.28] Menimbang bahwa berdasarkan fakta hukum yang tidak terbantahkan dalam persidangan, Pemohon telah menempuh mekanisme permohonan informasi, keberatan, dan pengajuan permohonan penyelesaian Sengketa Informasi Publik sebagaimana dimaksud pada paragraf [2.2] sampai dengan paragraf [2.4] pada bagian kronologis.

[3.29] Menimbangbahwa berdasarkan ketentuan : Pasal 36 ayat (2) UU KIP

Keberatan diajukan oleh Pemohon Informasi Publik dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari kerja setelah ditemukannnya alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (1).

Pasal 36 ayat (2) UU KIP

Atasan pejabat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (1) memberikan tanggapanatas keberatan yang diajukan oleh Pemohon Informasi Publik dalam jangka waktu palinglambat 30 (tiga puluh) hari kerja sejak diterimanya keberatan secara tertulis.

Pasal 37 ayat (2) UU KIP

Upaya penyelesaian Sengketa Informasi Publik diajukan dalam waktu paling lambat 14(empat belas) hari kerja setelah diterimanya tanggapan tertulis dari atasan pejabat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (2).

(17)

17

[3.30] Menimbang bahwa berdasarkan ketentuan : Pasal 5 Perki PPSIP

Penyelesaian Sengketa Informasi Publik melalui Komisi Informasi dapat di tempuh apabila:

a. Pemohon tidak puas terhadap tanggapan atas keberatan yang diberikan oleh atasan PPID; atau

b. Pemohon tidak mendapatkan tanggapan atas keberatan yang telah diajukan kepada atasan PPID dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari kerja sejak keberatan diterima oleh atasan PPID.

Pasal 13 huruf b Perki PPSIP

Permohonan diajukan selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja sejak:

b. berakhirnya jangka waktu 30 (tiga puluh) hari kerja untuk atasan PPID dalam memberikan tanggapan tertulis.

[3.31] Menimbang bahwa berdasarkan uraian kronologi permohonan penyelesaian sengketa informasi sebagaimana telah di uraian pada paragraf [2.2]

sampai dengan paragraf [2.4] Majelis menemukan adanya ketidaksesuaian jangka waktu yang di tempuh oleh Pemohon dengan syarat ketentuan jangka waktu yang diatur dalam UU KIP dan Perki No. 1 Tahun 2013.

[3.32] Menimbang bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 36 ayat (2) dan Pasal 37 ayat (2) UU KIP juncto Pasal 1 Perki No. 1 Tahun 2013 disebutkan bahwa jangka waktu pengajuan Permohonan Penyelesaian Sengketa Informasi ke Komisi Informasi dilakukan paling lambat 14 hari kerja sejak diterimanya tanggapan tertulis atas keberatan, atau berakhirnya jangka waktu 30 hari kerja bagi atasan PPID dalam memberikan tanggapan tertulis atas keberatan yang diajukan Pemohon.

[3.33] Menimbang bahwa pada faktanya, Pemohon mengajukan permohonan penyelesaian sengketa informasi ke Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat melebihi jangka waktu pengajuan Permohonan Penyelesaian Sengketa Informasi

(18)

18

sebagaimana yang ditetapkan dalam UU KIP dan Perki No. 1 Tahun 2013.

Seharusnya Pemohon mengajukan Permohonan Penyelesaian Sengketa Informasi dalam jangka waktu 14 hari kerja setelah ditemukannya alasan untuk itu, dalam hal ini setelah melewati waktu 30 hari kerja bagi Termohon untuk menanggapi/menjawab keberatan Pemohon. Batas waktu kesempatan Termohon menanggapi keberatan Pemohon terhitung dari rentang waktu penerimaan keberatan yakni tanggal 6 Mei 2019, hingga berakhirnya 30 hari kerja bagi Termohon menanggapi keberatan Pemohon yaitu tanggal 19 juli 2019.Permohonan PSI yang diajukan Pemohon seharusnya di terima Panitera dari range waktu 20 juni 2019 hingga 9 juli 2019, yakni 14 hari kerja setelah berakhirnya kesempatan Termohon menanggapi keberatan Pemohon pada tanggal 19 Juni 2019. Pada faktanya Pemohon baru mengajukan permohonan penyelesaian sengketa informasi ke Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat pada tanggal 4 September 2019. Olehnya itu Majelis berkesimpulan bahwa waktu pengajuan permohonan penyelesaian sengketa informasi yang ditempuh Pemohon yakni dari range waktu 20 Juni 2019 hingga tanggal 4 September 2019 dilakukan selama 55 hari kerja, melebihi 41 hari kerja dari 14 hari kerja dari yang diatur dalam UU KIP juncto Perki Nomor 1 Tahun 2013.

[3.34] Menimbang bahwa berdasarkan uraian pada paragraf [3.28] sampai dengan paragraf [3.33] Majelis berpendapat bahwa permohonan a quo daluwarsa dalam hal waktu pengajuan Permohonan PSI sehingga tidak memenuhi ketentuan jangka waktu sebagaimana diatur oleh UU KIP dan Perki No. 1 Tahun 2013.

[3.35] Menimbang bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 36ayat(2)Perki No. 1 Tahun 2013, mengatur ;

Dalam hal permohonan tidak memenuhi salah satu ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Majelis Komisioner dapat menjatuhkan putusan selauntuk menerima ataupun menolak permohonan.

(19)

19

[3.36] Menimbang bahwa berdasarkan uraian paragrap [3.35] Majelis memandang perlu untuk menjatuhkan Putusan Sela dan tidak mempertimbangkan pokok-pokok perkara a qu.

4. KESIMPULAN

[4.1] Berdasarkan seluruh uraian dan fakta hukum di atas, Majelis Komisioner berkesimpulan :

1. Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat berwenang untuk menerima, memeriksa dan memutuskan permohonan a quo.

2. Pemohon memiliki kedudukan hukum (legal standing) untuk mengajukan permohonan dalam sengketa a quo.

3. Termohon memiliki kedudukan hukum (legal standing) sebagai Termohon dalam sengketa a quo

4. Batas waktu pengajuan permohonan penyelesaian sengketa informasi publik tidak memenuhi jangka waktu yang telah ditentukan oleh Undang- Undang Keterbukaan Informasi PublikNo. 14 Tahun 2008 dan Peraturan Komisi Informasi No. 1 Tahun 2013.

5. AMAR PUTUSAN [5.1] Menolak permohonan Pemohon untuk seluruhnya.

Demikian diputuskan dalam Rapat Permusyawaratan Majelis Komisioner yaitu Dulhaj Muchtar Mahmud, selaku Ketua merangkap anggota, Rahmat dan Andry Pramono, masing-masing sebagai Anggota, pada hari ini Kamis tanggal 7 November 2019 dan diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum pada hari Selasa tanggal 12 November 2019 oleh Majelis Komisioner yang nama-namanya tersebut diatas, dengan didampingi oleh Merry Lembang sebagai Panitera Pengganti yang dihadiri oleh Temohon dan tidak dihadiri oleh Pemohon.

(20)

20

KETUA MAJELIS ttd

(DULHAJ MUCHTAR MAHMUD) ANGGOTA MAJELIS

ttd (RAHMAT)

ANGGOTA MAJELIS

ttd

(ANDRY PRAMONO)

PANITERA PENGGANTI ttd

(MERRY LEMBANG)

Untuk salinan Putusan ini sah dan sesuai dengan aslinya, diumumkan kepada masyarakat berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik dan ketentuan pasal 59 ayat (4) dan ayat (5) Peraturan Komisi Informasi Nomor 1 tahun 2013 tentang Prosedur Penyelesaian Sengketa Informasi Publik.

Dikeluarkan di Mamuju

Pada Tanggal : 14 November 2019 PANITERA

DARMAWATI JUSUF

Referensi

Dokumen terkait

yang menyatakan bahwa Pemohon telah mengajukan permohonan penyelesaian sengketa informasi publik kepada Komisi Informasi Provinsi Jawa Barat pada tanggal 28 Agustus

[2.1] Menimbang bahwa Pemohon telah mengajukan permohonan penyelesaian Sengketa Informasi Publik ke Komisi Informasi Provinsi Riau pada tanggal 18 Februari 2019

TAM mengasumsikan bahwa penerimaan teknologi informasi oleh individu dipengaruhi oleh dua variabel utama yaitu: persepsi mengenai kegunaan atau perceived of usefulness (PU)

Euclides memberi gagasan garis singgung adalah garis yang memotong kurva tersebut di satu titik, tetapi bgm dengan kurva ketiga di atas.. Untuk mendefinisikan pengertian garis

[2.1] Menimbang bahwa Pemohon telah menyampaikan permohonan penyelesaian sengketa informasi publik kepada Komisi Informasi Provinsi Banten pada tanggal 11 Juli 2012,

Hasil dari penelitian tersebut menyatakan bahwa sebanyak 32 responden kelompok yang mengikuti vasektomi memiliki tingkat pengetahuan tinggi dan sebanyak 9 responden

Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui tindakan Polri untuk melakukan penyidikan dalam perkara pencurian

Dengan kesadaran masyarakat sehingga baik perempuan maupun laki-laki memperoleh pendidikan yang setara sehingga yang putuh sekolah antara perempuan dan laki-laki