PROPOSAL PENELITIAN MULTIDISIPLIN UNIVERSITAS LAMPUNG
STRATEGI KOMUNIKASI DAN ANALISIS MAKNA SIMBOLIK DALAM PROSESI ADAT PERKAWINAN
MARGA MESUJI LAMPUNG
(Studi Pada Masyarakat Marga Mesuji Lampung di Kecamatan Banjar Margo, Tulang Bawang)
Tim Peneliti:
Dr. ANNA GUSTINA ZAINAL, S.SOS.,M.SI NIDN 0021087603
Dr. HELVI YANFIKA, SP.,M.E.P NIDN 0210018101
Dr. RYZAL PERDANA NIDN 0209119201
JURUSAN ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL & ILMU POLITIK UNIVERSITAS LAMPUNG
2022
HALAMAN PENGESAHAN PENELITIAN MULTIDISIPLIN
UNIVERSITAS LAMPUNG
Judul Penelitian : Strategi komunikasi dan analisis makna simbolik pesan pada prosesi perkawinan adat marga Mesuji Lampung di
Kecamatan Banjar Margo, Tulang Bawang, Lampung
Manfaat sosial ekonomi : Memberikan informasi kepada masyarakat mengenai strategi komunikasi dan analisis makna simbolik pesan pada prosesi perkawinan adat marga Mesuji Lampung di Kecamatan Banjar Margo, Tulang Bawang, Lampung dalam upaya pelestarian nila-nilai budaya lokal masyarakat.
Jenis Penelitian : Penelitian Dasar Penelitian Terapan Penelitian Multidisiplin
Ketua Peneliti
a. Nama Lengkap : Dr. Anna Gustina Zainal,S.Sos., M.Si
b. NIDN : 0021087603
c. SINTA ID : 6718869
d. Jabatan Fungsional : Lektor Kepala e. Program Studi : Ilmu Komunikasi
f. Nomor HP : 0811726579
g. Alamat surel (e-mail) : [email protected] Anggota Peneliti (1)
a. Nama Lengkap : Dr. Helvi Yanfika, SP.,M.E.P
b NIDN : 0210018101
c. SINTA ID. : 6131423 d. Program Studi : Agribisnis
Anggota Peneliti (2)
a. Nama Lengkap. : Dr. Ryzal Perdana b. NIDN : 0209119201 c. SINTA ID. : 6032806 d. Program Studi : Pendidikan
RINGKASAN
Salah satu hal penting dalam masa peralihan kehidupan manusia ialah perkawinan yang merupakan peralihan dari masa remaja menuju masa dewasa dan berkeluarga. Perkawianan merupakan hal sakral yang diimpikan dan dinantikan oleh sebagian besar orang. Perkawinan diharapkan membawa kebahagiaan didalam kehidupan dua insan yang bersatu diikat oleh janji sehidup semati. Bahkan lebih dari itu, perkawinan juga dianggap sebagai penyatuan dua keluarga besar dari kedua mempelai. Perkawianan yaitu menunjukan pada suatu peristiwa saat sepasang calon suami-istri dipertemukan secara formal dihadapan ketua agama, para saksi, dan para hadirin untuk kemudian disahkan secara resmi dengan upacara dan ritual-ritual tertentu
Ikatan tali persaudaraan antara sesama masyarakat Marga Mesuji terjalin dengan baik karena masyarakat Mesuji menganggap orang-orang yang masih memiliki keturunan Marga Mesuji akan tetap dianggap saudara walaupun tidak terikat dengan garis kekeluargaan dan akan selalu gotong royong dalam melaksanakan berbagai prosesi adat salah satunya upacara adat perkawinan. Begitu pula yang terjadi di kecamatan Banjar Margo, Kabupaten Tulang bawang, Lampung, walaupun tidak tinggal di wilayah aslinya masyarakat Marga Mesuji masih terus melaksanakan upacara adat perkawinan secara gotong royong sehingga hubungan yang terjalin semakin kuat walaupun tempat tinggalnya tidak berada disatu komplek atau lingkup yang sama. Selain itu, masyarakat Mesuji yang tinggal di wilayah tersebut masih sangat menjaga serta terus melestarikan kebudaayan mereka khususnya pada seserahan pada prosesi datang besagh dalam tata upacara adat perkawinannya. Hal itulah yang membuat peneliti tertarik untuk melakukan penelitian di wilayah tersebut.
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, maka rumusan masalah yang akan d a g a da a e e a ada ah Baga a a a eg a da a a a a simbolik pesan yang terkandung pada prosesi perkawinan adat marga Mesuji Lampung yang
gga d Keca a a Ba a Ma g , T a g Ba a g, La g .
Pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan menggunakan metode survai, observasi, kuesioner dan wawancara mendalam (Indepth Interview). Output penelitian ini adalah artikel accepted/publish di jurnal/prosiding Scopus/Book chapter serta artikel yang dipresentasikan pada forum seminar internasional yang dilaksanakan oleh LPPM Unila.
IDENTITAS DAN URAIAN UMUM
Judul Penelitian : Strategi komunikasi dan analisis makna simbolik pesan pada prosesi perkawinan adat marga Mesuji Lampung di Kecamatan Banjar Margo, Tulang Bawang, Lampung
1. Tim Peneliti
No Nama Jabatan
Bidang Keahlian
Program Studi Alokasi Waktu (jam/minggu) 1. Dr. Anna Gustina
Zainal, S.Sos.,M.Si
Ketua Komunikasi Budaya
Ilmu Komunikasi 60 2. Dr. Helvi Yanfika Anggota 1 Agribisnis Penyuluhan 58 3. Dr. Ryzal Perdana Anggota 2 Kependidikan Kependidikan 58
Objek Penelitian. : menganalisis Strategi komunikasi dan analisis makna simbolik pesan pada prosesi perkawinan adat marga Mesuji Lampung di Kecamatan Banjar Margo, Tulang Bawang, Lampung
2. Masa Pelaksanaan
Mulai : bulan Mei tahun 2022 Berakhir : bulan Oktober tahun 2022 5. Usulan Biaya : Rp. 75.000.000,00
6. Lokasi Penelitian : Kabupaten Tulang Bawang 7. Instansi lain yang terlibat : Tidak Ada
8. Kontribusi mendasar pada suatu bidang ilmu: Menemukan strategi komunikasi dan makna simbolik dalam prosesi perkawinan adat marga Mesuji Lampung di Kecamatan Banjar Margo, Tulang Bawang yang banyak digunakan masyarakat dalam menyebarkan informasi mengenai perkawinan adat marga Mesuji Lampung serta mengetahui hal yang melatarbelakangi masyarakat menggunakan strategi komunikasi tersebut. Memberikan masukan dan pandangan kepada para tokoh adat setempat dalam melakukan komunikasi dengan masyarakat guna melestarikan budaya lokal.
9. Jurnal ilmiah yang menjadi sasaran: Heliyon
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Proses komunikasi dibagi menjadi dua yaitu secara primer dan sekunder. Secara secara primer komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan dengan menggunakan simbol (lambang) sebagai media contohnya bahasa, isyarat, gambar dan lain-lain. Sedangkan sekunder komunikasi adalah proses penyampaian pesan dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media setelah memakai lambang sebagai media pertama contohnya benda.
Ra h a ah Afdh ah (2019) da a e e a a a g be d Makna Simbol- Simbol Komunikasi Budaya Dalam Adat Pernikahan Suku Bulungan e e a a bah a Kebudayaan dan komunikasi mempunyai hubungan timbal balik, kebudayaan dan komunkasi dalam prosesnya melibatkan simbol-simbol. Simbol-simbol dalam kebudayaan digunakan untuk memenuhi kebutuhan anggota dan antar kelompok. Hubungan pertama menunjukkan kebudayaan menentukan perilaku komunikasi, yang kedua tanpa komunikasi maka setiap kebudayaan menjadi tidak memiliki proses komunikasi untuk menghasilkan kode-kode simbolis yang biasa dilakukan manusia yang berwujud perilaku. Bentuk aktivitas simbolik dalam komunikasi manusia banyak melibatkan benda-benda yang bermakna budaya. Pada sebagian masyarakat simbol-simbol budaya memiliki peran yang penting dalam kehidupan sosial antar manusia.
Salah satu hal penting dalam masa peralihan kehidupan manusia ialah perkawinan yang merupakan peralihan dari masa remaja menuju masa dewasa dan berkeluarga. Perkawianan merupakan hal sakral yang diimpikan dan dinantikan oleh sebagian besar orang. Perkawinan diharapkan membawa kebahagiaan didalam kehidupan dua insan yang bersatu diikat oleh janji sehidup semati. Bahkan lebih dari itu, perkawinan juga dianggap sebagai penyatuan dua keluarga besar dari kedua mempelai. Perkawianan yaitu menunjukan pada suatu peristiwa saat sepasang calon suami-istri dipertemukan secara formal dihadapan ketua agama, para saksi, dan para hadirin untuk kemudian disahkan secara resmi dengan upacara dan ritual-ritual tertentu (Bustami dan Fitriani, 2020:6).
Indonesia memiliki suku budaya beragam yang tentunya memiliki ciri khas tersediri dalam setiap tradisinya, terutama pada tradisi upacara adat perkawianan. Pada setiap prosesi upacara adat perkawianan akan melibatkan keluarga besar serta orang orang yang bersangkutan
dengan menggunkan berbagai macam peralatan tradisional yang diyakini memiliki arti dan harapan atau doa tertentu untuk perjalanan kehidupan perkawinan kedua mempelai serta hubungan keluarga besar mempelai.
Upacara adat perkawinan merupakan salah satu ajang untuk menampilkan budaya daerah asal pengantin. Selain merupakan kebanggan bagi keluarga besar mempelai, hal ini juga sebagai bagian dari upaya melestarikan budaya leluhur daerah setempat. Begitupula dengan salah satu kebudayaan yang dimiliki masyarakat Mesuji Lampung yaitu ritual adat perkawinan, masyarakat Marga Mesuji Lampung sangat menghormati dan menjujung tinggi ritual adat perkawinan. Masyarakat Marga Mesuji saling bergotong royong untuk ikut melaksanakan setiap prosesinya.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Siti Fajar Magfiroh (2020) yang berjudul Tata Upacara Ritual Adat Perkawinan Marga Mesuji Wiralaga Lampung e de a mengenai tata upacara ritual adat perkawinan Marga Mesuji yang tinggal di desa Wiralaga, kabupaten Mesuji, Lampung. Magfiroh menjelaskan bahwa Marga Mesuji yang tinggal di Wiralaga dalam setiap melaksanakan upacara ritual adat perkawinan selalu dilakukan dengan gotong royong dimulai dari pembentukan panitia atau biasa disebut dengan nengko. Magfiroh juga menjelaskan bahwa ritual adat perkawinan Marga Mesuji memiliki beberapa tahapan atau prosesi antara lain, yakni Nindai (bibit, bobot dan bebet dari si calon) namun kebiasaan ini sudah hilang sejak tahun 1980-an, Proses Sie hanyot dilanjutkan dengan proses selanjutnya yaitu Sie tanye (melamar), disebut juga datang kecek (datang kecil), Proses Datang besagh (datang besar), Proses selanjutnya yaitu pacaran Tahap selanjutnya merupakan ritual hari perkawinanakan ritual tahap ini terdapat akad nikah yang dilakukan prosesi secara islam, dilanjutkan dengan prosesi sujutan.
Didalam Upacara Adat Perkawinan Marga Mesuji terdapat juga Seserahan atau biasa disebut juga dengan hantaran pernikahan yang dibawa oleh pihak calon mempelai pria untuk mempelai wanita. Setiap budaya memiliki jenis barang-barang yang beragam dan memiliki simbol dan makna tertentu yang juga termasuk sarana komunikasi non-verbal. Begitu pula dengan seserahan dalam adat pernikahan Marga Mesuji Lampung. Dalam upacara adat perkawinan Marga Mesuji seserahan dibawakan oleh pihak mempelai pria pada saat prosesi adat pernikahan. Seserahan dalam adat pernikahan Marga Mesuji masuk kedalam proses sekunder komunikasi yakni proses penyampaian pesan dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media setelah memakai lambang sebagai media pertama. Karna seserahan termasuk media yang mewakilkan simbol pesan dalam penyampaian komunikasi.
Setiap barang atau benda yang sering disebut juga dengan bahan adat dalam bahasa Marga Mesuji (seserahan) yang dibawakan oleh pihak calon mempelai pria dalam prosesi datang besagh pada upacara adat perkawinan Marga Mesuji merupakan simbol sebagai sarana komunikasi yang memiliki makna dan doa-doa untuk kehidupan pernikahan kedua mempelai serta kedua hubungan keluarga besar. Dalam kepercayaan masyarakat Mesuji, barang atau benda yang menjadi seserahan dalam pernikahan merupakan hal yang sakral dan tradisi yang harus dilakukan disetiap perkawinan baik perkawinan yang mengikuti tata upacara adat perkawinan Marga Mesuji ataupun perkawinan yang tidak menggunakan prosesi adat (nasional).
Dalam adat perkawinan Marga Mesuji terdapat tiga prosesi yang dimana pihak mempelai pria harus membawakan seserahan. Ketiga prosesi tersebut yakni sie tanye (datang kecik), datang besagh, dan hari pernikahan. Akan tetapi peneliti memfokuskan pada makna simbolis pesan yang terkandung dalam seserahan pada prosesi datang besagh karna pada prosesi tersebut seserahan yang yang dibawakan lebih sakral dibandingkan dengan prosesi lainnya.
Seserahan pada prosesi datang besagh memiliki makna dan doa-doa yang sangat mendalam sehingga tidak boleh dihilangkan atau digantikan dengan barang lain. Berbeda dengan seserahan pada prosesi sie tanye dan hari pernikahan dimana bila seserahan yang harus dibawa sekiranya dapat memberatkan pihak mempelai pria maka dapat digantikan dengan hal lain.
Selain sebagai sarana komunikasi sekunder, Benda-benda seserahan dalam prosesi datang besagh ini merupakan sebuah pencerminan dari Marga Mesuji Lampung sebagai penghormatan kepada wanita yang telah diwariskan secara turun temurun dari leluruh hingga generasi saat ini dan juga sebagai bagian dari komunikasi budaya dengan diwakilkan oleh simbol-simbol berupa benda seserahan tersebut. Hal itu juga masih dibawa dan dipegang teguh oleh masyarakat Mesuji hingga ke ranah perantauan. Salah satunya kelompok Marga Mesuji yang tinggal di Kecamatan Banjar Margo, Kabupaten Tulang Bawang, Lampung. Dalam prosesi pernikahan baik yang menggunakan tata cara adat maupun nasional tetap harus selalu membawa seserahan yang telah turun temurun dilakukan. Meskipun ada beberapa hal yang mengalami perubahan atau modifikasi untuk menyesuaikan dengan kondisi jaman sekarang.
Pada era moderenisasi ini telah banyak generasi muda yang tidak memahami makna komunikasi yang ada didalam setiap adat dan budayanya. Begitu juga yang terjadi pada generasi muda masyarakat Mesuji. Masih banyak anak muda keturunan Marga Mesuji yang tidak memahami adat istiadat budayanya, hanya sebagian masyarakat Marga Mesuji yang paham akan makna komunikasi yang terkandung dalam adat istiadatnya terlebih pada masyarakat Mesuji yang tidak tinggal di wilayah Mesuji asli yang dimana penduduknya
mayoritas merupakan transmigran Jawa. Kendati demikian, masyarakat Marga Mesuji yang tidak tinggal di wilayah aslinya tetap melestarikan budaya dan adat istiadat yang telah diturunkan oleh leluhurnya salah satunya ialah seserahan pada proses datang besagh dalam tata upacara adat perkawinan Marga Mesuji.
Akan tetapi fenomena yang terjadi saat ini generasi muda keturunan Marga Mesuji yang ikut melaksanakan budaya seserahan pada adat perkawinan Marga Mesuji tidak memahami maksud, makna serta pesan-pesan yang terkandung dalam seserahan tersebut sehingga mereka hanya melaksanakan sebuah kebudayaan tanpa tahu tujuan dari hal yang mereka lakukan. Dari fenomena tersebut bukan tidak mungkin seserahan dalam adat perkawinan Marga Mesuji akan hilang dimakan waktu karna generasi muda yang seharusnya terus melestarikan kebudayaannya merasa hal tersebut tidak perlu dilakukan akibat dari ketidak tahuan mereka mengenai kesakralan serta makna yang disimbolkan oleh benda-benda seserahan tersebut.
Selama perkembangannya banyak warga Mesuji yang berpindah tempat tinggal untuk mencari pekerjaan ke wilayah lain salah satunya wilayah kecamatan Banjar Margo, Kabupaten Tulang bawang, Lampung. Yang dimana jaraknya tidak terlalu jauh dari wilayah Mesuji hanya sekitar dua sampai tiga jam perjalanan darat dari kampung-kampung tua kabupaten Mesuji.
Perpindahan tersebut biasanya dilakukan bersama-sama dengan mengajak sanak sodara sehingga tempat tinggalnya sering berkelompok disuatu tempat.
Hal tersebut menyebabkan ikatan tali persaudaraan antara sesama masyarakat Marga Mesuji terjalin dengan baik karena masyarakat Mesuji menganggap orang-orang yang masih memiliki keturunan Marga Mesuji akan tetap dianggap saudara walaupun tidak terikat dengan garis kekeluargaan dan akan selalu gotong royong dalam melaksanakan berbagai prosesi adat salah satunya upacara adat perkawinan. Begitu pula yang terjadi di kecamatan Banjar Margo, Kabupaten Tulang bawang, Lampung, walaupun tidak tinggal di wilayah aslinya masyarakat Marga Mesuji masih terus melaksanakan upacara adat perkawinan secara gotong royong sehingga hubungan yang terjalin semakin kuat walaupun tempat tinggalnya tidak berada disatu komplek atau lingkup yang sama. Selain itu, masyarakat Mesuji yang tinggal di wilayah tersebut masih sangat menjaga serta terus melestarikan kebudaayan mereka khusunya pada seserahan pada prosesi datang besagh dalam tata upacara adat perkawinannya. Hal itulah yang membuat peneliti tertarik untuk melakukan penelitian di wilayah tersebut.
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, maka rumusan masalah yang akan d a g a da a e e a ada ah Baga a a strategi komunikasi dan analisis makna simbolik pesan yang terkandung pada prosesi perkawinan adat marga Mesuji Lampung yang tinggal d Keca a a Ba a Ma g , T a g Ba a g, La g .
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Gambaran Umum
2.1.1 Marga Mesuji Lampung
Mesuji adalah salah satu nama sebuah Marga atau kelompok suku bangsa yang berasal dari suatu wilayah di Provinsi Lampung Sumatera, tepatnya di bagian selatan. Mesuji kemudian terus berkembang menjadi nama Kabupaten, yang diberi nama Kabuaten Mesuji.
Marga Mesuji Lampung merupakan keturunan dari Muhamad Ali bin Pangeran Djugal serta pengikutnya yang berasal dari wilayah Sumatra Selatan, Palembang, Seri Pulau Padang, dan Kayu Agung. Pada tanggal 22 Oktober 1886 Muhamad Ali bin Pangeran Djugal diberikan pengahargaan oleh Hindia Belanda sebagai Raja adat di Mesuji dengan gelar Pangeran Mad dan mensahkan warga yang tinggal di Mesuji sebagai suatu Marga. Selain di Lampung keturunan Marga Mesuji juga terdapat di Provinsi Sumatra Selatan tepatnya di kabupaten Ogan Komering Ilir Kecamatam Mesuji yang wilayahnya masih bergandengan dengan kabupaten Mesuji Lampung.
Masyarakat Marga Mesuji memiliki ciri khas aktivitas berkebun, nelayan dan hidup disepanjang sungai serta penggunaan bahasa melayu sebagai bahasa sehari-hari dengan banyak penekanan huruf vokal E. Ciri fisik yang dimiliki oleh masyarakat Marga Mesuji ialah warna kulit kuning langsat, rambut hitam, serta suara lantang. Masyarakat Marga Mesuji Lampung ditinjau dari seni dan budayanya mempunyai berbagai macam upacara adat yang sakral seperti pernikahan, kelahiran, syukuran dan kematian yang masih dipetertahankan.
2.1.2 Tata Upacara Adat Perkawinan Marga Mesuji Lampung
Pada hakekatnya prosesi pernikahan yang dilakukan antara sepasang pria dan wanita, merupakan fitrah manusia sebagai makhluk sosial guna melanjutkan keturunannya.
Koentjaraningrat, dalam (Sugeng Pujilaksono, 2006) mengatakan bahwa pernikahan atau pula sering di sebut dengan perkawinan merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah kehidupan setiap orang. Di Indonesia banyak ditemukan berbagai prosesi pernikahan sesuai dengan kepercayaan yang dianut, mulai dari prosesi perkawinan nasional ataupun tradisional atau biasa disebut dengan upacara adat. Upacara adat khususnya perkawinan merupakan salah satu ajang untuk menampilkan budaya daerah asal pengantin.
Selain merupakan kebanggan bagi keluarga besar mempelai, hal ini juga sebagai bagian dari upaya melestarikan budaya leluhur daerah setempat. Begitupula dengan salah satu kebudayaan yang dimiliki masyarakat Mesuji Lampung yaitu ritual adat perkawinan, masyarakat Marga Mesuji Lampung sangat menghormati dan menjujung tinggi ritual adat perkawinan. Masyarakat Marga Mesuji saling bergotong royong untuk ikut melaksanakan setiap prosesinya, dimulai dari pembentukan panitia atau biasa disebut dengan nengko.
Menurut Magfiroh (2020) Dalam prosesi upacara adat perkawinan Marga Mesuji terdapat beberapa tahapan yakni Nindai, yaitu pemilihan bibit, bobot dan bebet dari si calon, namun kebiasaan ini sudah hilang sejak tahun 1980-an. Proses Sie hanyot dilanjutkan dengan proses selanjutnya yaitu Sie tanye (melamar), disebut juga datang kecek (datang kecil) yaitu pihak keluarga calon mempelai pria datang kerumah pihak keluarga calon perempuan dengan membawa rombongan keluarga sekitar 15-25 orang dan perwatin (perangkat desa) sebagai saksi karena dalam proses ini menitipkan duet jojor dan asap api yang berupa uang (nominal uang sesuai kesepakatan kedua belah pihak). Pada proses datang besagh (datang besar) ini keluarga calon mempelai pria membawa adat istiadat dan seserahan. Tujuan datang besagh untuk memastikan kembali yang telah disepakati pada prosesi datang kecek.
Proses selanjutnya yaitu pacaran. Proses ini dilaksanakan satu hari sebelum hari perkawinan yang dilakukan bujang gadis untuk melakukan prosesi inai atau hena. Tahap selanjutnya merupakan ritual hari perkawinanakan ritual tahap ini terdapat akad nikah yang dilakukan prosesi secara islam, dilanjutkan dengan prosesi sujutan kalau dijawa sungkeman namun bedanya sujutan dilakukan dengan berdiri sambil meminta doa restu kepada semua orang yang hadir pada prosesi akad nikah.
2.3 Komunikasi Budaya
Komunikasi budaya adalah suatu proses komunikasi yang dilakukan oleh dua orang atau lebih untuk mendapatkan sebuah pemahaman yang sama melalui lambang atau tingkah laku dari aktifitas manusia yang berbeda kebudayaan. Komunikasi budaya mengacu pada aktifitas komunikasi antara orang-orang dari budaya yang sama atau budaya yang berbeda yang memiliki kepercayaan, nilai, atau cara berperilaku kultural. Pada dasarnya komunikasi budaya merupakan komunikasi yang biasa, yang membedakannya adalah orang-orang yang terlibat dalam komunikasi tersebut berbeda dalam hal latar belakangnya. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan- perbedaannyan membuktikan budaya itu dipelajari.
Martin dan Nakayama (Judith N. and Thomas K. Nakayama, 2003) mengulas bagaimana komunikasi mempengaruhi budaya. Dijelaskan, bahwa budaya tidak akan bisa terbentuk tanpa komunikasi. Pola-pola komunikasi yang tentunya sesuai dengan latar belakang dan nilai-nilai budaya akan menggambarkan identitas budaya seseorang. Karakteristik yang khas terlahir karena adanya perilaku komunikasi yang terbangun dan terpola sedemikian rupa. Karakteristik yang khas ini akan membentuk suatu kebiasaan/budaya komunikasi bagi suatu komunitas budaya tertentu. Jelasnya bahwa aktifitas komunikasi seseorang dari komunitas budaya tertentu dapat mempresentasikan kepercayaan, nilai, sikap dan bahkan pandangan dunia dari budayanya itu.
2.4 Proses Komunikasi
Proses komunikasi terbagi menjadi dua hal yakni secara primer (Primary Proces) dan secara sekunder (Secondary Proces). Menurut Liliweri dalam Nur Hasomah (2010:14-15) proses komunikasi primer berlaku tanpa alat tulis yaitu secara langsung dengan menggunakan bahasa, gerakan yang diberi arti khusus aba-aba dan sebagainya. Sedangkan proses komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang lainnya dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama berbentuk bahasa, sedangkan proses komunikasi sekunder lebih menekankan pada pengguna media (alat) untuk mengatasi hambatan-hambatan secara geografi.
2.5 Simbol
Simbol merupakan dasar dari bahasa, pemikiran, dan kebanyakan perilaku nonverbal.
Simbol bersifat abstrak, memungkinkan kita mengangkat pengalaman dari diri kita sendiri.
Oleh karena simbol membiarkan kita mewakili ide-ide dan perasaan, kita dapat berbagi pengalaman dengan orang lain, bahkan jika mereka belum pernah merasakan pengalaman tersebut. Pada dasarnya simbol dapat dimaknai baik dalam bentuk bahasa verbal dan bentuk bahasa non-verbal pada pemaknaannya dan wujud riil dari interaksi simbol ini terjadi dalam kegiatan komunikasi. Misalnya ketika seorang komunikator memberikan suatu isyarat (pesan), baik verbal maupun non-verbal, komunikasn berusaha memaknai kandungan isyarat tersebut.
Berawal dari sinilah terjadi sebuah proses sosial dimana kedua belah pihak berusaha untuk memberi andil terhadap proses komunikasi yang terjadi saat itu. Karena itu komunikasi sebenarnya tidak bisa dilihat sebagai sebuah proses sederhana untuk berinteraksi antar simbol
melainkan lebih jauh lagi, komunikasi merupakan proses interaksi makna yang terkandung dalam simbol-simbol yang digunakan.
Menurut Geertz (dalam Sobur, 2006: 178) mengatakan bahwa kebudayaan adalah sebuah pola dari makna-makna yang tertuang dalam simbol-simbol yang diwariskan melalui sejarah. Kebudayaan adalah sebuah sistem dari konsep-konsep yang diwariskan dan diungkapkan dalam bentuk-bentuk simbolik melalui mana manusia berkomunikasi, mengekalkan, dan memerkembangkan pengetahuan tentang kebudayaan dan bersikap terhadap kehidupan ini. Dengan memanfaatkan simbol (lambang) dalam proses komunikasi dapat menjadi sarana dalam memperkenalkan sesuatu kepada pihak lain untuk menyampaikan suatu pesan. Adapun tentang penggunaan bahasa dan juga lambang menyangkut tentang simbol verbal dapat diperlihatkan melalui kebendaan, warna, gambar, dan hal penunjang lainnya.
2.6 Makna
Makna merupakan kandungan maksud atau arti dari segala jenis penandaan apapun baik verbal maupun non-verbal, makna adalah produk dari budaya. Makna adalah istilah yang memiliki banyak arti. Istilah tersebut timbul karan adanya proses komunikasi. Makna yang diberikan pada proses komunikasi yang sama bisa berbeda-beda, tergantung pada konteks ruang dan waktu. Makna adalah bagian yang tidak terpisahkan dari semantik dan selalu melekat dari apa yang kita tuturkan (Usfatun Hasanah, 2014). Makna tidak melekat pada kata-kata melainkan kata-kata yang membangkitkan makna dalam pikiran orang. Antara komunikasi dan makna memiliki keterkaitan yang khusus.
Makna sebagai konsep komunikasi, mencangkup lebih dari pada sekedar penafsiran dan pemahamn seorang individu saja. Makna selalu mencakup banyak pemahaman, aspek-aspek pemahaman yang secara bersama dimiliki para komunikator. Shands (Fisher, 1986:347), menyatakan bahwa makna melahirkan konsensus (kesepakatan), makna lahir dalam proses sosial yang memungkinkan consensus itu berkembang. Proses sosial itu dalam arti teori komunikasinya Shands adalah komunikasi itu sendiri.
2.7 Teori Simbol
Teori simbol adalah teori yang diciptakan oleh Susanne Langer sebagai standarisasi tradisi untuk semiotika dalam kajian ilmu komunikasi, untuk membuka makna dalam pesan pesan yang disampaikan oleh manusia dalam bentuk simbol, dikarenakan perasaan manusia dimediasikan oleh konsepsi, simbol dan bahasa, hubungan antara tanda dan makna dinamakan
dengan pemaknaan (signification). Simbol ialah sebuah instrument pemikiran. sebuah simbol bekerja menghubungkan sebuah konsep, ide umum, pola atau bentuk.
Menurut Langer konsep adalah makna yang disepakati bersama sama diantara pelaku komunikasi. Makna adalah sebuah hubungan komplek di antara simbol, objek dan manusia yang melibatkan denotasi (makna bersama) dan konotasi (makna pribadi). Hubungan antara simbol dengan komunikasi tidak muncul dalam ruang hampa sosial melainkan dalam suatu konteks atau situasi tertentu, dimana pada dasarnya konteks merupakan suatu situasi dan kondisi yang bersifat lahir dan batin yang dialami oleh para peserta komunikasi.
Simbol adalah objek sosial dalam suatu interaksi. Ia digunakan sebagai perwakilan dan komunikasi yang ditentukan oleh orang yang menggunakannya. Orang-orang tersebut memberi arti, menciptakan dan mengubah objek tersebut di dalam interaksi. Simbol sosial tersebut dapat mewujud dalam bentuk objek fisik ( benda-benda kasat mata) kata kata (untuk mewakili objek fisik, perasaan, ide-ide, dan nilai nilai), serta tindakan (yang dilakukan orang untuk memberi arti dalam berkomunikasi dengan orang lain berupa penyaimpaian pesan atau kesan melalui media dengan cara tertentu agar tertarik.
Langer memandang makna sebagai sebuah hubungan kompleks diantara simbol, objek, dan manusia yang melibatkan denotasi (makna bersama) dan konotasi (makna pribadi).
Abstraksi, sebuah proses pembentukan ide umum dari sebentuk keterangan konkret, berdasarkan pada denotasi dan konotasi dari simbol. Langer mencatat bahwa proses manusia secara utuh cenderung abstrak. Ini adalah sebuah proses yang mengesampingkan detail dalam memahami objek, peristiwa, atau situasi secara umum. Hal tersebut menjelaskan suatu benda maupun peristiwa dengan simbol tertentu, pemaknaannya dapat diartikan secara luas.
BAB III
METODE PENELITIAN 3.1 Diagram Alir Tahapan Penelitian
Output. Penelitian
Artikel Accepted/publish di Jurnal/Prosiding Scopus Book chapter
Artikel di Seminar Internasional LPPM MULAI
Studi Literatur dan Identifikasi Lapangan
Identifikasi dan perumusan masalah
Kajian Pustaka (Road Map Penelitian)
Pengolahan Data
Pembahasan dan Kesimpulan
SELESAI Pengumpulan Data Data Primer
Wawancara Mendalam Penyebaran kuesioner Data Sekunder
3.2. Tipe Penelitian dan Variabel
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif korelasional yang ditujuan untuk mengetahui bagaimana gambaran startegi komunikasi dan analisis makna simbolik dalam adat perkawinan Mesuji Lampung.
3.3 Teknik pengumpulan dan Analisa Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder.
Data primer diperoleh dengan menggunakan metode survai, observasi, kuesioner dan wawancara mendalam (Indepth Interview). Metode survai dan wawancara mendalam dilakukan dengan menggunakan alat bantu kuesioner. Selain itu peneliti juga melakukan observasi lapangan. Pengumpulan data dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu (1) Survai pendahuluan; (2) Pengumpulan data primer; (3) Pengumpulan data
Tugas masing-masing anggota tim penelitian dapat dilihat dalam tabel berikut ini:
Tabel 1 Tugas dan Tanggungjawab Tim Penelitian
No. Nama Jabatan Tugas Program
Studi
Alokasi Waktu (jam/
minggu) 1. Dr. Anna
Gustina Zainal, M.Si
Ketua - Ketua pelaksana penelitian - Mengkoordinir pelaksanaan
penelitian
- Bersama dengan tim menyusun laporan
penelitian, laporan keuangan dan output penelitian
Ilmu Komunikasi
60
2. Dr. Helvi Yanfika, M.E.P
Anggota 1 - Bendahara penelitian - Koordinator turun lapang di
Kab. Tulang Bawang - Bersama dengan tim
menyusun laporan
penelitian, laporan keuangan dan output penelitian
Penyuluhan 58
3. Dr. Ryzal Perdana
Anggota 2 - Sekertaris tim - Bersama dengan tim
menyusun laporan
penelitian, laporan keuangan dan output penelitian
FKIP 58
BAB 4
RENCANA ANGGARAN BIAYA DAN JADWAL PENELITIAN
4.1 Rencana Anggaran Biaya
Rencana anggaran biaya penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah sebesar Rp. 75.000.000,00 (Tujuh puluh lima juta rupiah) dengan rincian sebagai berikut:
Biaya Pengadaan Alat dan Bahan
No Nama Alat Jumlah Satuan Harga
Satuan (Rp)
Jumlah (Rp)
1 Kuesioner 1 Paket 1.250.000 1.250.000
2 Perlengkapan Enumerator
4 Paket 500.000 2.000.000
3 Fotocopy bahan/
Literature
3 Paket 500.000 1.500.000
Sub total 1 4.750.000
Biaya perjalanan penelitian
No Tujuan Jumlah Satuan Harga
Satuan (Rp)
Jumlah (Rp) 1 Transpot PP lokasi
penelitian
2 Paket 1.500.000 3.000.000
2 Pencarian data Sekunder 1 Paket 1.500.000 1.500.000
3 Pengambilan Data Lapang ke Lokasi
6 Hari 1.500.000 9.000.000
Sub total 2 13.500.000
24
Pengumpulan Data
No. Tujuan Jumlah Satuan Harga Satuan
(Rp)
Jumlah (Rp)
1 FGD 1 Paket 4.250.000 4.500.000
2 Pengambilan Data 5 Orang 1.500.000 7.500.000
3 Wawancara Mendalam 5 Orang 1.500.000 7.500.000
Sub total 3 19.500.000
Analisis Data
No. Tujuan Jumlah Satuan Harga Satuan
(Rp)
Jumlah (Rp)
1 Analisis Data 1 Paket 5.000.000 5.000.000
Sub total 4 5.000.000
Sewa Peralatan
No. Tujuan Jumlah Satuan Harga
Satuan (Rp)
Jumlah (Rp)
1 Sewa LCD 4 Paket 200.000 800.000
2 Sewa Laptop untuk Entry,Tabulasi, dan Analisis Data
1 Paket 1.000.000 1.000.000
Sub total 5 1.800.000
Biaya Alat Tulis Kantor (ATK)/BHP
No. Nama ATK Jumlah Satuan Harga
Satuan (Rp)
Jumlah (Rp)
1 Ballpoint 6 Kotak 25.000 150.000
2 Pensil 7 Kotak 20.000 140.000
3 Kertas A4 10 Rim 55.000 550.000
4 Cartridge BC-24 Black 6 Buah 200.000 1.200.000
5 Cartridge BC-24Color 6 Buah 250.000 1.500.000
6 CD kosong 20 Box 50.000 100.000
7 Flash Disk 8 GB 5 Buah 120.000 600.000
8 Penggaris 10 Buah 6.000 60.000
9 Papan alas tulis 10 Buah 20.000 200.000
25
10 Sovenir informan 10 Paket 500.000 5.000.000
Sub total 6 9.500.000
Biaya Laporan/Diseminasi/Publikasi
No. Keperluan Jumla
h
Satuan Harga
Satuan (Rp)
Jumlah (Rp)
1 Bookchapter ber-ISBN 1 Paket 5.000.000 5.000.000
2 Perbanyakan laporan kemajuan dan lap akhir
2 Paket 475.000 950.000
3 Publikasi di Jurnal Internasional yang
terindeks Scopus / Web of Science
1 Paket 15.000.000 15.000.000
Sub total 7 20.950.000
Total(1+2+3+4+5+6+7) 75.000.000 (Tujuh Puluh Lima Juta Rupiah)
1.2 RENCANA JADWAL PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan dengan rencana penjadwalan sebagai berikut:
Tabel 2. Rencana Penjadwalan Penelitian
Kegiatan Rencana Pelaksanaan (Bulan Ke/ Minggu)
1 2 3 4 5 6
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 Menyusun
proposal Mempersiapkan instrumen penelitian Mempersiapkan turun lapang Mengurus Perijinan Turun lapang
Mengolah data
Menyusun laporan penelitian
26
Menyusun output Penelitian Submit artikel di jurnal internasional dan
seminar LPPM Pengumpulan Laporan akhir
27
DAFTAR PUSTAKA
Beebe, S.A dan J.T. Masterson, 1994. Communicating in Small Groups; Principles and Practices. New York: Harper Collins College Publishers.
Depari E.dan Mc Andrew C. 1992. Peran Komunikasi Massa dalam Pembangunan.Yogjakarta: Gajah Mada University Press
DeVito, 1996, Sosiologi Komunikasi Massa. Bandung: Remaja Rosda Karya.
Jahi, Amri. Komunikasi Massa dan Pembangunan Pedesaan di NegaraNegara Dunia Ketiga;
suatu pengantar. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Liliweri, Alo. 1997. Komunikasi Antar Priubadi. Jakarta: Bina Aksara
Littlejohn, Stephen W. 2001. Theories of Human Communication 7ed Edition.California: Wadsword Publishing Co.
Kreech, D Crutchfield and Ballachey. 1962. Individual in Society. Tokyo:. Mc Graw Hill.
Kagakusha.
Muhammad, A. 1995. Komunikasi Organisasi. Jakarta: Bumi Aksara.
Nelly, M. 1988. Hubungan Beberapa Karakteristik Sosial Ekonomi dan Perilaku Petani Mengadopsi Rumput Laut Unggul di Daerah Aliran Sungai (DAS) Cimanuk Kabupaten Majalengka Jawa Barat. Institut Pertanian Bogor, Fakultas Pertanian. Bogor
Rakhmat, J. 2000. Psikologi Komunikasi. Edisi Revisi. Bandung: Rosdakarya. Rogers, Everett M and R A Roger. 1983. Communication in Organization. New York: The Free Press.
Rogers, Everett M and D. Lawrence Kincaid, 1981. Communication Network: Toward a new Paradigm for Research. Ohio: The Free Press McMillan Publishing, Inc
Saleh A. 1988. Hubunga Beberapa Karakteristik dan Perilaku Komunikasi Pemuka- Pemuka Tani dalam Diseminasi Teknologi Model Farm di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citanduy, Ciamis, Jawa Barat, Tesis IPB , Bogor: Sekolah Pascasarjana Bogor
Setiawan. Bambang, 1983. Metode Analisis Jaringan Komunikasi. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada Press,.
, 1989, Jaringan Komunikasi di Desa. Yogyakarta: FISIP GAMA.
Sopiana, 2002. Hubungan Karakteristik Petani dan Jaringan Komunikasi dengan Perilaku Usaha Tani Tebu. Tesis. Bogor: Institut Pertanian Bogor
Za a , A. G., Sa eh, A., H be , A. V. S., & Ma da , K. (2019). W e C ca Attitude in Pepadun Traditional Marriage in Digital Era - Dialnet. Opción: Revista de Ciencias Humanas y Sociales, 89, 2899 2921.