• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROPOSAL PENELITIAN TERAPAN UNIVERSITAS LAMPUNG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PROPOSAL PENELITIAN TERAPAN UNIVERSITAS LAMPUNG"

Copied!
51
0
0

Teks penuh

(1)

PROPOSAL

PENELITIAN TERAPAN UNIVERSITAS LAMPUNG

KONTROVERSI TITIK SINGGUNG ANTARA HUKUM PIDANA DAN HUKUM PERDATA DALAM PUTUSAN ONTSLAG VAN

RECHTSVERVOLGING DI INDONESIA

TIM PENGUSUL

Ketua : Depri Liber Sonata, S.H., M.H. NIDN 0018108008 SINTA ID 6680834 Anggota : 1. Deni Achmad, S.H., M.H. NIDN 0015038106

2. Muhammad Farid, S.H., M.H NIDN 0005088403 3. Aisyah Muda C., S.H., M.H NIDN 0019109301

4. Tiara Lala NPM 1712011011

5. Joni Ardiansyah NPM 1712011017

BAGIAN HUKUM PIDANA FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS LAMPUNG

2021

(2)

HALAMAN PENGESAHAN PROPOSAL PENELITIAN TERAPAN UNIVERSITAS LAMPUNG

Judul Penelitian : Kontroversi Titik Singgung Antara Hukum Pidana Dan Hukum Perdata Dalam Putusan Onslag Van Rechtsvervolging Di Indonesia Ketua Peneliti

a. NamaLengkap : Depri Liber Sonata, S.H., M.H.

b. NIDN : 0018108008

c. SINTA ID : 6680834

d. Jabatan Fungsional : Wakil Dekan III e. Program Studi : Perdata/Ilmu Hukum

f. Nomor HP : 081279553539

g. Alamat surel (e-mail) : [email protected] Anggota (1)

a. Nama Lengkap : Deni Achmad, S.H., M.H.

b. NIDN : 0015038106

c. Program Studi : Ilmu Hukum Anggota (2)

a. NamaLengkap : Muhammad Farid, S.H., M.H

b. NIDN : 0005088403

c. Program Studi : Ilmu Hukum Anggota (3)

a. Nama Lengkap : Aisyah Muda C., S.H.,M.H.

b. NIDN : 0099109301

c. Program Studi : Ilmu Hukum Jumlah mahasiswa yang terlibat : 2 Orang Jumlah alumni yang terlibat : 1 Orang

Lama Kegiatan : 6 (Enam) Bulan

Biaya Kegiatan : Rp.35.000.000,00 (Tiga Puluh lima Juta Rupiah)

Sumber dana

a. Sumber dana institusi : DIPA BLU Unila TA. 2021

(3)

Bandar Lampung, 19 Februari 2021 Mengetahui,

Dekan Fakultas Hukum Unila Ketua Tim Penelitian

Dr. M. Fakih, S.H., M.S. Depri Liber Sonata, S.H., M.H.

NIP196412181988031002 NIP198010162008011001

Menyetujui,

Ketua LPPM Universitas Lampung,

Dr. Lusmeilia Afriani. D. E. A.

NIP196505101993032008

(4)

DAFTAR ISI

Halaman I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Permasalahan dan Ruang Lingkup... 7

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 8

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Hukum Publik dan Hukum Privat ... 9

B. Persengketaan Hak Sebagai Wilayah Hukum Perdata... 15

C. Ajaran Sifat Melawan Hukum Formil dan Materil ... 19

D. Hubungan Timbal Balik antara Perkara Pidana dengan Perkara Perdata... 25

E. Jenis-Jenis Putusan Hakim ... 26

F. Dasar Pertimbangan Hakim ... 29

III. TUJUAN DAN KONTRIBUSI PENELITIAN A. Tujuan Penelitian ... 32

B. Kontribusi Penelitian ... 32

IV. Metode Penelitian A. Pendekatan Masalah ... 34

B. Jenis dan Sumber Data ... 34

C. Penentuan Populasi dan Sampel ... 35

D. Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Data ... 35

E. Analisis Data ... 36

F. Prosedur dan Tahapan Penelitian ... 36

V. Rencana Anggaran Belanja Dan Jadwal Pelaksanaan A. Rencana Anggaran Belanja ... 38

B. Jadwal Pelaksanaan ... 39

VI. PERSONALIA PENGUSUL DAN KEAHLIAN A. Ketua Pengusul ... 40

(5)

B. Anggota 1 ... 40 C. Anggota 2 ... 41 D. Anggota 3 ... 42 DAFTAR PUSTAKA

(6)

RINGKASAN

KONTROVERSI TITIK SINGGUNG ANTARA HUKUM PIDANA DAN HUKUM PERDATA DALAM PUTUSAN ONTSLAG VAN

RECHTVERVOLGING DI INDONESIA

Kontroversi mengenai titik singgung antara sengketa perdata sekaligus memiliki kemiripan unsur dengan kualifikasi tindak pidana masih sering menjadi perdebatan. Meskipun keduanya sama-sama dinggap sebagai perbuatan yang merugikan orang lain, namun terkadang sulit memisahkan kualifikasi antara keduanya. Penelitian ini mendiskusikan titik singgung antara sengketa perdata dengan tindak pidana yang seharusnya dapat dibedakan dengan jelas dan dapat diselesaikan dengan hukum acara yang tepat. Penelitian ini mencoba menganalisis norma hukum dan beberapa pertimbangan putusan pengadilan bahwa: Pertama, doktrin pembedaan antara hukum privat dan hukum publik serta ajaran sifat melawan hukum materil dalam fungsinya yang negatif sebagaimana yang dianut oleh hukum pidana Indonesia ternyata menjadi prinsip dasar yang dapat digunakan untuk membedakan antara sengketa perdata dan tindak pidana. Kedua, peraturan perundang-undangan hukum materil secara normatif telah memberikan pedoman dalam menentukan titik singgung antara hubungan hukum keperdataan dengan tindak pidana. Demikian juga dengan peraturan hukum formil yang secara tidak langsung telah memberikan batasan berupa kewenangan penghentian pada proses hukum sejak tahap penyidikan (penghentian penyidikan) dan tahap penuntutan (penghentian penuntutan). Bahkan pada tahap pemeriksaan persidangan, hakim dapat memberikan putusan lepas dari segala tuntutan hukum/onslag van rechtvervolging.

Kata Kunci: Titik Singgung, Hukum Perdata, Hukum Pidana, Putusan Ontslag.

(7)

PETA JALAN PENELITIAN

Vrijspraak Pemidanaan

Perdata Pidana

Tolak Ukur Hakim

PUTUSAN HAKIM

Onslag Van Rechtsvervolging

(8)

1 BAB I

PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH

Hubungan hukum kontraktual yang timbul dari suatu perjanjian di dalam pelaksanaannya tidak jarang berujung terjadinya wanprestasi, namun terkadang di dalam praktiknya sebab-sebab yang menimbulkan wanprestasi tersebut dapat dikategorikan suatu tindak pidana atau delik, dan tidak jarang tetap diproses melalui prosedur hukum acara pidana. Sebagai reaksinya biasanya pihak yang terlibat di dalam tindak pidana tertentu tetap berargumen bahwa proses pemeriksaan perkara pidana sebagaimana dimaksud merupakan permasalahan hukum keperdataan yang sifatya kontraktual. Lain halnya dengan suatu tindak pidana tertentu yang juga dapat dikatakan sebagai perbuatan melawan hukum perdata dimana tujuan dari terbuktinya perbuaan tersebut agar pihak yang dirugikan dapat menuntut haknya baik materil maupun imateril. Selanjutnya, permasalahan yang muncul adalah tidak adanya kepastian hukum terhadap penyelesaian perkara-perkara keperdataan yang juga berdimensi hukum pidana, dan sebaliknya, terhadap perkara-perkara pidana yang juga berdimensi keperdataan.

Hukum pidana bukan dimaksudkan untuk menyelesaikan sengketa hak antar subjek hukum di masyarakat (kepentingan privat), karena di dalam konteks ini negara tidak mewakili kepentingan privat dalam mempertahankan hak seseorang terhadap individu lainnya terutama dalam kaitannya dengan kerugain yang ditimbulkan akibat perbuatan seseorang. Namun, negara dipihak lain juga tetap bertanggung jawab menyediakan solusi dengan cara mengatur hubungan hukum antar individu (kepentingan privat) di dalam kehidupan bermasyarakat melalui hukum perdata (hukum perdata materil) dan hukum acara perdata (hukum perdata formil). Pada tahap ini negara sebagai kewenangan yang melaksanakan prinsip

(9)

2 restitutio in integrum.

Permasalahan yang menarik adalah bahwa pada perbuatan seseorang yang merugikan pihak lain dapat merupakan tindak pidana yang dapat dituntut dan dijatuhi sanksi pidana oleh negara sekaligus juga merupakan perbuatan melawan hukum perdata yang merugikan orang lain (korban) dan mewajibkan pelakunya membayar ganti kerugian seperti Perbuatan pembunuhan, penganiayaan, penyerobotan tanah dan penghinaan. Namun, sebalikanya tidak semua perbuatan melawan hukum perdata dapat dikualifikasikan sebagai tindak pidana, mengingat hukum pidana dibatasi oleh prinsip hukum bahwa tiada perbuatan pidana tanpa peraturan yang mengaturnya (nullum delictum nulla poena sene previa lege poenale), prinsip tiada sanksi pidana tanpa kesalahan (gen straf zonder schuld) dan prinsip tiada kesalahan tanpa sifat melawan hukum (gen schuld zonder wederrechtelijk).

Meskipun perbuatan melawan hukum perdata dapat menimbulkan kerugian terhadap orang lain, namun belum tentu perbuatan tersebut oleh pemerintah dikualifikasikan sebagai suatu kejahatan (crime), melainkan dikualifikasikan sebagai suatu persengketaan hak yang menmbulkan kerugian bagi orang lain (kepentingan privat), sehingga meniadakan hak negara untuk menuntut pelaku dan dapat diputus lepas dari segala tuntutan hukum. Sebagaimana diatur didalam Pasal 183 KUHAP. Yahya Harahap berpendapat bahwa “tegasnya perbuatan yang didakwakan dan telah terbukti itu, tidak ada di atur dan tidak termasuk ruang lingkup hukum pidana, tapi mungkin termasuk ruang lingkup hukum perdata, hukum asuransi, hukum dagang dan hukum adat”1

J. Van Apeldorn berpendapat bahwa hukum perdata adalah peraturan-peraturan hukum yang objeknya ialah kepentingan-kepentingan khusus dan soal yang akan dipertahankannya atau diserahakan kepada yang berkepentingan, sementara hukum publik adalah peraturan-peraturan hukum yang objeknya ialah kepentingan-kepentingan umum dan yang karena itu soal mempertahankannya

1 Yahya Harahap, Hukum Acara Perdata (Gugatan, Persidangan, Penyitaan, Pembuktian, dan Putusan Pengadilan. Jakarta: Sinar Grafika, 2004. hlm. 352-353.

(10)

3 dilakukan oleh pemerintah.2 Pada prinsipnya, berdasarkan sudut pangdang hukum perdata bahwa permasalahan hak keperdataan seseorang yang dengan sengaja dilanggar dan menimbulkan kerugian terhadap pihak lain diserahkan kepada pihak yang berkepentingan untuk menuntut atau dapat pula justru merelakannya.

Sementara negara tidak memiliki kewajiban untuk memaksa seseorang untuk menuntut kerugian akibat terganggunya hak-hak keperdataan seseorang di masyarakat.

Sementara hukum pidana sebagai ultimum remedium dalam mengatasi kerugian yang ditimbulkan oleh suatu perbuatan yang dilakukan seseorang,terlebih dahulu diawali dengan suatu kebijakan kriminalisasi yang dilakukan oleh pemerintah terhadap suatu perbuatan di masyarakat yang sebelumnya tidak dianggap memiliki sifat jahat (mens mea) kemudian oleh negara dipandang penting untuk dinyatakan sebagai perbuatan yang dilarang dan diberikan sanksi pidana.Konsekuensi yang menyertainya adalah menjadikan negara memilik hak menuntut warga negaranya (ius poenandi) yang melakukan perbuatan yang telah diatur didalam peraturan perundang undangan (ius poenale). Di dalam menjalankan kewenangannya dalam menuntut perbuatan seseorang yang dikulafikasikan sebagai tindak pidana, negara perpedoman pada prinsip hukum pidana bahwa tiada perbuatan pidana tanpa peraturan yang mengaturnya (nullum delictum nulla poena sene previa lege poenale), prinsip tiada sanksi pidana tanpa kesalahan (gen straf zonder schuld) dan prinsip tiada kesalahan tanpa sifat melawan hukum (gen schuld zonder wederrechtelijk).3

Sampai di sini terlihat bahwa perbuatan PMH lebih luas daripada Perbuatan pidana (delict). Di lihat dari sudut pandang hukum materilnya, perbedaan yang pailing mendasar dari hukum perdata dan hukum pidana adalah dimana hukum perdata berdimensi privat sedangkan hokum pidana berdimensi publik. Namun keduanya sama-sama berfungsi sebagai sarana kontrol sosial bagi masyarakat.

Kemudian dari sudut pandang hukum formalnya (hukum acara) penyelesaian sengketa perdata lebih menitikberatkan pada mencari kebenaran formil,

2 L.J.Van Apeldorn, Pengatar Ilmu Hukum (Djakarta: Noordhoff Kolff N.V., 1959). hlm. 147.

3E. Utrecht, Hukum Pidana 1, Penerbit Universitas,Jakarta,1960,hlm 235

(11)

4 sedangkan penyelesaian perkara pidana tidak lain untuk mencari kebenaran materil.

Sebagaimana diketahui bahwa penyidik dan penuntut umum diberikan ruang kebijakan oleh peraturan perundang-undangan dengan adanya kewenangan dalam menentukan ada atau tidaknya sengketa keperdataan dalam suatu perkara pidana disamping kewenangannya utamanya menemukan peristiwa pidana, mengumpulkan alat bukti yang cukup dan sah, dan melakukan penuntutan pidana.

Permasalahannya adalah bahwa oleh sebagain pihak dipandang sebagai kewenangan yang berlebihan, hal tersebut didasarkan pada anggapan bahwa penentuan titik singgung perkara perdata pada perkara pidana merupakan ranah kewenangan hakim pada proses peradilan, pasalnya permasalahan tersebut hanya dapat dipastikan dengan suatu putusan lepas dari segala tuntutan hukum sebagai konsekuensi dari tidak terpenuhinya sifat melawan hukum materil suatu tindak pidana hanya mutlak kewenangan hakim. Di lain pihak ketiadaan kewenangan menghentikan perkara yang beraspek perdata bagi penyidik dan penuntut umum hal tersebut justru memperbesar potensi kegagalan dalam proses penuntutan, lagi pula SP3 masih dapat dilakukan upaya prapradilan oleh pihak yang tidak sependapat dengan keputusan SP3.

Salah satu permasalahan hukum yang sering dijumpai dalam praktik penegakan hukum adalah kontroversi mengenai penentuan titik singgung antara perbuatan hukum yang berdimensi perdata atau merupakan hubungan hukum keperdataan yang disisi lain juga memiliki kesamaan atau memenuhi unsur kualifikasi perbuatan pidana tertentu. Meskipun keduanya dinggap perbuatan yang merugikan orang lain, namun terkadang sulit menentukan dengan pasti apakah perbuatan pidana yang terjadi sesungguhnya merupakan sengketa keperdataan sehingga bukan merupakan perbuatan pidana yang memiliki sifat melawan hukum pidana, dimana meskipun suatu perbuatan terbukti memenuhi seluruh unsur perbuatan pidana tertentu namun menurut hukum acara pidana hal tersebut tidak dapat dijatuhi pidana sehingga negara harus melepaskan pelakunya dari tuntutan pidana.

(12)

5 Seperti contoh kasus syafrudin arsyad temenggung, seorang terdakwa dalam kasus dugaan korupsi terkait penerbitan Surat Keterangan Lunas Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (SKL BLBI) kandas di Mahkamah Agung (MA).Melalui putusan kasasi, terdakwa bernama Syafruddin Arsyad Temenggung dilepaskan dari tuntutan pidana. Kronologinya yaitu Pada tanggal 25 april 2017 KPK melalui wakil ketuanya, Basaria Pandjaitan, mengumumkan penetapan tersangka Syafruddin. Saat itu KPK menyebut Syafruddin sebagai mantan Ketua Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). KPK menyangka Syafruddin dengan Pasal 2 Ayat 1 atau Pasal 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. 24 september 2018 Proses hukum untuk Syafruddin berlangsung hingga akhirnya divonis. Syafruddin divonis 13 tahun penjara dan denda Rp 700 juta serta subsider 3 kurungan bulan. yafruddin terbukti melanggar Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana.4

Hakim menyebutkan Syafruddin melakukan perbuatan haram itu bersama-sama Sjamsul Nursalim dan istrinya, Itjih S Nursalim, serta Dorojatun Kuntjoro Jakti selaku Ketua Komite Kebijakan Sektor Keuangan (KKSK) dalam penerbitan SKL itu. Syafruddin juga menghapus piutang BDNI kepada petani tambak yang dijamin PT Dipasena Citra Darmadja dan PT Wachyuni Mandira serta surat pemenuhan kewajiban pemegang saham meski Sjamsul belum menyelesaikan kewajibannya yang seolah-olah piutang lancar atau misrepresentasi. Atas perbuatan itu, Syafruddin merugikan negara sebesar Rp 4,5 triliun terkait BLBI.

Karena menguntungkan Sjamsul sebesar Rp 4,5 triliun.

Tanggal 4 januari 2019 Syafruddin tidak terima akan putusan itu, dia mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi (PT) DKI Jakarta. Namun PT DKI malah menambah Syafruddin menjadi 15 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar subsider 3 bulan kurungan.Atas putusan itu, KPK sempat menyampaikan apresiasi.

4https://news.detik.com/berita/d-4617242/syafruddin-temenggung-di-kasus-blbi-dijerat- kpkdilepas-ma, di akses pada 15 Februari 2021.

(13)

6 Menurutnya, putusan PT DKI ini menunjukkan proses hukum yang dilakukan KPK terhadap Syafruddin telah memiliki bukti yang kuat. Namun 9Juli 2019 PK sempat menyampaikan bila masa tahanan Syafruddin akan habis, sedangkan MA belum memutus kasasi yang diajukan terdakwa BLBI itu. KPK pun berharap MA segera mengeluarkan putusan.Hingga pada keesokan harinya MA menyampaikan putusan kasasi. Namun isinya ternyata mengejutkan. Kasasi yang diajukan Syafruddin dikabulkan MA.

Amar putusan kasasi yang diajukan Syafruddin itu disampaikan Kabiro Hukum Humas MA Abdullah dalam konferensi pers. Abdullah menyampaikan putusan itu diambil tidak secara bulat, ada hakim agung yang memiliki pendapat lain. Dalam putusan tersebut, ada dissenting opinion. Jadi tidak bulat.Ketua majelis Dr Salman Luthan sependapat judex facti pengadilan tingkat banding.Hakim anggota I, Syamsul Rakan Chaniago, berpendapat bahwa perbuatan terdakwa merupakan perbuatan hukum perdata. Sedangkan anggota 2, Prof Mohamad Askin, berpendapat bahwa perbuatan terdakwa merupakan perbuatan hukum adminsitrasi.

Berikut amar putusan yang dibacakan Abdullah: Mengabulkan kasasi pemohon kasasi, terdakwa Syafruddin Arsyad Temenggung. Membatalkan putusan pengadilan tindak pidana korupsi pada Pengadilan Tinggi DKI Jakarta nomor 29/PID.SUS-TPK/2018/PT.DKI pada 2 Januari 2019 yang mengubah amar putusan pengadilan tindak pidana korupsi pada Pengadilan Negeri Jakarta pusat no 39 / pidsus/TPK/2018/PN JKT PST tanggal 24 September 2018.5

Mengadili sendiri,

1. Menyatakan terdakwa Syafruddin Arsyad Temenggung terbukti melakukan perbuatan sebagaimana didakwakan kepadanya, akan tetapi perbuatan itu tidak merupakan suatu tindak pidana.

2. Melepaskan terdakwa oleh karena itu dari segala tuntutan hukum.

3. Memulihkan hak terdakwa dalam kemampuan, kedudukan, harkat serta martabatnya

5https://putusan3.mahkamahagung.go.id/direktori/putusan/f3961e1a5ea176070ba8330c977e8a4f.h tml, di akses pada 15 Februari 2021.

(14)

7 4. Memerintahkan agar terdakwa dikeluarkan dari tahanan.

5. Menetapkan barang bukti berupa :

o Nomor 746 berupa 3 buah buku paspor atas nama Syafruddin Arsyad Temenggung, dikembalikan kepada terdakwa

o Nomor 786 berupa satu handphone Samsung warna gold, model SM G925F, S/N RR8G400QS6F, IMEI: 359667064080503 beserta sim card Indosat Oredoo dengan nomor kode 6201 3000 2246 16358 U, atas nama Herman Kartadinata.

o Selainnya, barang bukti berupa nomor 1 sampai 745, nomor 747 sampai 767, dan nomor 769 sampai dengan nomor 776, selengkapnya sebagaimana dalam amar putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat no 39/PID.SUS/TPK/2018/PN.JKT.PST tanggal 24 September 2018.

6. Membebankan biaya perkara pada seluruh tingkat peradilan dan pada tingkat kasasi pada negara.

B. Permasalahan dan Ruang Lingkup Penelitian 1. Permasalahan

Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas mengenai sengketa perdata dan tindak pidana, kontroversi titik singgung dalam ketidakpastian praktik penegakan hukum maka dapat dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini sebagai berikut:

1) Bagaimanakah cara mencari dan menjelaskan titik singgung dalam melihat aspek keperdataan di dalam suatu perbuatan pidana yang hendak di buktikan kesalahannya serta kecenderungan permasalahan tersebut sulit dipecahkan dalam praktik penegakan hukum?

2) Bagaimanakah tolak ukur majelis hakim dalam suatu persidangan untuk memutus perkara tersebut termasuk perkara pidana atau perdata?

2. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini dibatasi dalam bidang ilmu hukum khususnya Hukum Pidana serta Hukum Perdata terhadap mencari dan menjelaskan titik singgung dalam melihat aspek keperdataan di dalam suatu perbuatan pidana yang

(15)

8 hendak di buktikan kesalahannya serta kecenderungan permasalahan tersebut sulit dipecahkan dalam praktik penegakan hukum, penelitian ini akan dilakukan pada lingkup penelitian wilayah Indonesia pada Tahun 2021.

(16)

9 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Hukum Publik dan Hukum Privat

Pentingnya pemahaman mengenai perbedaan antara hukum publik dan hukum privat merupakan landasan awal dalam memahami perbedaan antara hukum perdata dengan hukum pidana. Perkembangan hukum telah membawa pergeseran penting dalam melihat suatu pembidangan sistem hukum, dimana bidang hukum mulai bergeser kearah pembangunan hukum yang bersifat sektoral. Seperti hukum agraria misalnya, substansi pengaturannya tidak lagi dapat dilihat sebagai hukum publik maupun hukum privat saja, melainkan lebih berorientasi kepada objek yang diaturnya. Pembidangan antara hukum publik dan hukum privat menitik beratkan pada kepentingan yang akan dilindungi oleh suatu norma hukum, baik kepentingan antar subjek hukum privat, maupun kepentingan publik yang pemenuhannya diupayakan oleh negara.

1. Hukum Publik

Hukum publik adalah hukum yang mengatur hubungan antara Negara dengan alat-alat perlengkapan atau hubungan antara negara dengan warganegaranya.6 Hukum publik terbagi dalam dua bagian, yaitu:

a. Hukum Pidana

Hukum pidana adalah semua aturan-aturan hukum yang menentukan terhadap perbuatan-perbuatan apa yang seharusnya dijatuhi pidana dan apakah macamnya pidana itu.7 Dengan kata lain hukum pidana ialah hukum yang mengatur hubungan antara warganegara dengan negara. Asas berlakunya hukum pidana adalah asas legalitas Pasal 1Ayat (1) KUHP aturan yang paling ringan sanksinya bagi terdakwa Pasal 1 Ayat (2) KUHP dan Asas Tiada Pidana Tanpa Kesalahan. Hukum pidana dibagi dalam

6C.S.T. Kansil, Pengantar Ilmu Hukum, Jakarta : Balai Pustaka, 2002, hlm.46.

7Pompe dalam Sudarto, Hukum Pidana 1A, Undip, Semarang, 1990, hlm 1.

(17)

10 beberapa bagian yaitu:

a) Hukum Pidana Dalam Arti Objektif Dan Dalam Arti Subyektif:8

1) Hukum Pidana Dalam Arti Objektif (ius poenale) yaitu sejumlah peraturan yang mengandung larangan-larangan atau suatu keharusan yang terdapat sanksi bagi para pelanggarnya

2) Hukum Pidana Dalam Arti Subyektif (ius puniendi) Adalah sejumlah peraturan yang mengatur hak negara untuk menghukum seseorang yang melakukan suatu perbuatan yang dilarang oleh hukum.

b) Hukum Pidana Material Dan Hukum Formil:9 1) Hukum Pidana Material meliputi:

a. Perintah dan larangan yang pelanggarannya diancam dengan sanksi pidana oleh badan yang berhak

b. Ketentuan yang mengatur upaya yang dapat dipergunakan, apabila norma itu dilanggar yang dinamakan hukum penitensier

c. Aturan-aturan yang menentukan kapan dan dimana berlakunya norma- norma tersebut diatas.

2) Hukum Pidana Formil Hukum pidana formil atau hukum acara pidana adalah sejumlah peraturan-peraturan yang mengandung cara-cara negara dengan menggunakan haknya untuk melaksanakan suatu hukuman.

c) Hukum pidana yang dikodifikasikan (gecodificeerd) dan hukum pidana yang tidak dikodifikasi (nietgecodificeerd)

1) Hukum Pidana Yang Dikodifikasikan Hukum pidana yang dikodifikasikan misalnya adalah Kitab UndangUndang Hukum Militer, Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), Kitab Undang- Undang Hukum Pidana (KUHP). Adapun sistematika Kitab Undang- Undang Hukum Pidana antara lain:

a. Buku I Tentang Ketentuan Umum (Pasal 1-103) b. Buku II Tentang Kejahatan (Pasal 104-488) c. Buku III Tentang Pelanggaran (Pasal 489-569)

8 Satochid Kartanegara, Hukum Pidana, Balai Lektur Mahasiswa, Bandung, 1984, hlm. 1.

9 Bambang Poernomo, Asas-Asas Hukum Pidana, Ghalia Indonesia, 1978, hlm. 14

(18)

11 d) Hukum pidana yang tidak dikodifikasi hukum pidana yang tidak dikodifikasi adalah berbagai ketentuan pidana yang tersebar diluar KUHP, Seperti UU. No. 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, UU No. 9 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen, UU No.

19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta dan sebagainya.

Adapun Tujuan Hukum Pidana:10

a) Untuk menakut-nakuti orang jangan sampai melakukan kejahatan, baik secara menakut-nakuti orang banyak (genele preventive) maupun secara menakut- nakuti orang tertentu yang sudah menjalankan kejahatan agar dikemudian hari tidak melakukan kejahatan lagi (special preventine).

b) Untuk mendidik atau memperbaiki orang-orang yang sudah menandakan suka melakukan kejahatan agar menjadi orang yang baik tabiatnya sehingga bermanfaat bagi masyarakat.

b. Hukum Tantra

Hukum Tantra adalah hukum yang mengatur tentang segala kegiatan dalam bidang kenegaraan atau bidang penyelenggaraan negara,11 yang pada garis besarnya terbagi atas:

1) Hukum Tata Negara

Hukum Tata Negara dalam arti sempit, ialah hukum pengatur ke tatanegaraan. Jadi kesimpulan hukum tata negara menurut para pakar adalah peraturan-peraturan yang mengatur organisasai negara dari tingkat atas sampai bawah, sturktur,tugas dan wewenang alat perlengkapan negara,hubungan antara perlengkapan tersebut secara hierarki maupun horizontal, wilayah negara, kedudukan warganegara serta hak-hak asasnya.

2) Hukum Administrasi Negara

Hukum Administarsi Negara adalah hukum mengenai pemerintah didalam kedudukannya, tugas-tuganya, fungsi dan wewenangnya sebagai administrator negara hukum administrasi negara meliputi hukum pemerintahan, hukum peradilan (peradilan tata negara, peradilan

10 Wirjono Pradjodikoro, Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia, (Bandung: Refika Aditama, 2003)., h. 19-20.

11http://nungkykatty.blogspot.com/2013/10/klasifikasi, di akses pada 13 Februari 2021.

(19)

12 administrasi negara, hukum acara perdata, hukum acara pidana), hukum kepolisisian, hukum proses perundang-undangan. Hukum administrasi negara mengatur empat hal, yaitu organisasi atau institusi.bagaimana mengisi jabatan-jabatan dalam organisasi tersebut, bagaimana berlangsungnya kegiatan atau pelaksanaan tugas dari jabatan-jabatan tersebut, bagaimana memberi pelayanan dari aparatur pemerintahan kepada masyarakat.

3) Hukum Internasional

Hukum internasional (HI) merupakan norma atau aturan non nasional, yang mengatur hubungan antara subyek hukum internasional. Hukum internasional publik atau yang selanjutnya disebut dengan hukum internasional.Hukum internasional sendiri berasal dari bahasa inggris International law, common law, law of nations, transnational law dan dalam bahasa Perancis dikenal dengan droit international.Perbedaan terdapat pada kata terjemahan law dan droit, yang memiliki makna identik hukum atau aturan. Dalam kamus bahasa indonesia diterjemahkan menjadi ( hukum bangsa-bangsa, hukum antara negara, dan hukum antara negara ).

2. Hukum Privat

Hukum privat atau perdata adalah hukum yang isinya mengutamakan kepentingan pribadi atau individu warganegara.12 Hukum perdata disebut pula hukum privat atau hukum sipil sebagai lawan dari hukum publik. Jika hukum publik mengatur hal-hal yang berkaitan dengan negara serta kepentingan umum (misalnya politik dan pemilu (hukum tata negara), kegiatan pemerintahan sehari-hari (hukum administrasi atau tata usaha negara), kejahatan (hukum pidana), maka hukum perdata mengatur hubungan antara penduduk atau warga negara seharihari, seperti misalnya kedewasaan seseorang, perkawinan, perceraian, kematian, pewarisan, harta benda, kegiatan usaha dan tindakan-tindakan yang bersifat perdata lainnyahukum privat terbagi dalam dua bagian, yaitu hukum perdata dalam arti

12A. Ridwan Halim, Pengantar Ilmu Hukum dalam Tanya Jawab, Ghalia Indonesia, Ciawi bogor selatan , 2005, hlm 50.

(20)

13 luas dan hukum perdata dalam arti sempit.13

a. Hukum Perdata

1) Hukum Perdata Dalam Arti Luas meliputi seluruh peraturan-peraturan yang terdapat dalam KUHPer, KUHD beserta peraturan undang-undang tambahan lainnya (seperti hukum agrarian, hukum adat, hukum islam, dan hukum perburuhan).

2) Hukum Perdata Dalam Arti Sempit meliputi seluruh peraturan- peraturan yang terdapat dalam KUHPer, yaitu:

a) Hukum pribadi adalah bagian dari hukum material khusus mengatur tentang urusan-urusan perorangan (secara pribadi) dan hubungan- hubungannya dengan orang lain(secara antarpribadi). Misalkan urusan kedudukan seseorang, domisili, kewarganegaraannya, tanggungjawabnya dalam bertindak, dan sebagainya.

b) Hukum Benda adalah hukum yang khusus mengatur tentang hal-hal kebendaan yang menjadi objek pelaksanaan peranan para sunjek hukum yang bersangkutan.

c) Hukum Hak Immaterial adalah hukum yang khusus mengatur tentang hak immaterial, yakni hak seseorang atau suatu pihak atas keaslian ciptaannya yang sebenar-benarnya.

d) Hukum Perjanjian adalah hukum yang khusus mengatur tentang segala tata cara menurut hukum untuk mengadakan perjanjian serta segala akibat yang ditimbulkan karena diadakannya perjanjian tersebut.

e) Hukum Keluarga adalah hukum yang khusus mengatur hal keluarga beserta seluk-beluk yang berkaitan didalamnya. Misalkan cara-cara pembentukannya (perkawinan), hak dan kewajiban para anggotanya masing-masing beserta tanggungjawabnya, dan sebagainya.

f) Hukum Waris adalah hukum yang khusus mengatur tentang waris mewaris, yakni bagaimana cara beralihnya segala hak atau kewajiban pewaris kepada ahli waris atau para ahli waris

g) Hukum Penyelewengan Perdata dalah hukum yang khusus mengatur

13Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, Hukum Perdata:Hukum Benda, Yogyakarta:Liberty, 1981, hlm 1.

(21)

14 dan menegaskan tentang sikap tindak yang mana saja yang dapat menimbulkan kerugian bagi pihak lain dan siapa saja yang dapat dimintai tanggungjawabnya serta bagaimana pula cara-cara penyelesaiannya.

b. Hukum Dagang

Hukum Dagang adalah himpunan peraturan-peraturan yang mengatur seseorang dengan orang lain dalam kegiatan perusahaan yang terutama terdapat dalam kodifikasi Kitab Undang-Undang Hukum Dagang dan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Hukum dagang dapat pula dirumuskan sebagai serangkaian kaidah yang mengatur tentang dunia usaha atau bisnis dan dalam lalu lintas perdagangan.14 Dalam arti lain, Hukum Dagang ialah aturan-aturan hukum yang mengatur hubungan orang yang satu dengan yang lainnya,khususnya dalam perniagaan. Hukum dagang adalah hukum perdata khusus. Pada mulanya kaidah hukum yang kita kenal sebagai hukum dagang saat ini mulai muncul dikalangan kaum pedagang sekitar abad ke-17

Persamaan dan perbedaan antara hukum publik dan hukum privat:

a. Persamaan antara hukum publik dan hukum privat adalah kedua-duanya merupakan peraturan-peraturan hukum yang mengatur kehidupan manusia, kedua-duanya mempunyai sanksi hukum tertentu yang dapat dikenakan terhadap para pelanggarnya, tetap tunduk pada pengecualian yang bisa saja diberlakukan dalam keadaa-keadaan yang memaksa, dalam hal tidak adanya jalan-jalan yang dapat ditempuh untuk mengatasi keadaan-keadaan darurat saja.

b. Perbedaanya diantara keduanya adalah hukum publik mengutamakan kepentingan umum sedangkan hukum privat mengutamakan kepentingan perorangan atau individu, hukum publik dipertahankan oleh negara, sedangkan hukum privat dipertahankan oleh individu, para pelanggarnya dimintai tanggung jawabnya berdasarkan tuntutan jaksa sedangkan hukum privat para pelanggarnya dimintai tanggung jawab berdasarkan tuntutan dari pihak penggugat sebagai pihak yang langsung dirugikan.

14R. Soekardono, Hukum Dagang Indonesia. Rajawali, Jakarta,, 1982. hlm 17.

(22)

15 B. Persengketaan Hak Sebagai Wilayah Hukum Perdata

Hukum perdata dalam arti luas meliputi semua hukum privat materiil, yaitu segala hukum pokok yang mengatur kepentingan-kepentingan perseorangan.15 Menurut doktin ilmu hukum, hukum perdata dibagi menjadi 4 (empat) bidang, yaitu:16

1. Hukum tentang diri seseorang, memuat peraturan-peraturan tentang manusia sebagai subyek dalam hukum, peraturan-peraturan perihal kecakapan untuk memiliki hak-hak dan kecakapan untuk bertindak sendiri melaksanakan hak- haknya itu serta hal-hal yang mempengaruhi kecakapan-kecakapan itu.

2. Hukum Keluarga, mengatur perihal hubungan-hubungan hukum yang timbul dari hubungan kekeluargaan, yaitu: perkawinan beserta hubungan dalam lapangan hukum kekayaan antara suami dan isteri, hubungan antara orang tua dan anak, perwalian dan curatele.

3. Hukum Kekayaan, mengatur perihal hubungan-hubungan hukum yang dapat dinilai dengan uang. Jika kita mengatakan tentang kekayaan seseorang, yang dimaksudkan ialah jumlah segala hak dan kewajiban orang itu, dinilai dengan uang.

4. Hukum Waris, mengatur hal ikhwal tentang benda atau kekayaan seorang jikalau ia meninggal. Juga dapat dikatakan, hukum waris itu mengatur akibat-akibat hubungan keluarga terhadap harta peninggalan seseorang.

Hubungan hukum adalah hubungan antara dua atau lebih subjek hukum. Dalam hubungan hukum ini hak dan kewajiban pihak yang satu berhadapan dengan hak dan kewajiban pihak yang lain. Dengan demikian hubungan hukum perdata merupakan hubungan hukum yang telah diatur oleh hukum perdata, atau dengan kata lain hanya menyangkut kepentingan perseorangan, sebagai kebalikan dari kepentingan publik yang pelaksanaannya diemban oleh aparatur yang sah. Dengan demikian, sengketa hukum (legal disputes) merupakan setiap pertikaian yang terjadi antara dua subjek hukum (Persoon) atau lebih yang masing-masing memiliki kepentingan yang saling bertentangan atau tidak sependapat, dimana hak dan kewajibannya yang mendasari hubungan hukum para pihak tersebut telah diatur oleh hukum perdata.

15Subekti. Pokok-Pokok Hukum Perdata. Jakarta: PT.Intermasa. 2003. hlm. 9.

16Subekti, Op. Cit. hal. 16-17:

(23)

16 Wujud konkrit bahwa pesengketaan merupakan ranah hukum privat adalah bahwa negara menyerahkan kepada para pihak yang bersengketa untuk menyelesaikannya melalui mekanisme yang dipilih oleh para pihak, baik melalui Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa maupun melalui bantuan negara melalui kekuasaan kehakiman, dengan mekanisme hukum acara perdata yang berlaku khususnya mengenai hukum pembuktian yang mengatur mengenai cara membuktiakan kebenaran fakta hukum konkrit yang dipersengketakan. Baik pengaturan mengenai penggunaan alat bukti yang sah dan pembagian beban bagi para pihak untuk membuktikan masing-masing dalil-dalilnya, sebagaimana Pasal 1865 KUHPerdata telah mengatur bahwa “setiap orang yang mendalilkan bahwa ia mempunyai suatu hak, atau guna meneguhkan haknya sendiri maupun membantah suatu hak orang lain, menunjuk pada suatu peristiwa, diwajibkan membuktikan adanya hak atau peristiwa tersebut”.

Persengketaan yang mungkin timbul dari hubungan hukum keperdataan dapat terjadi dalam beberapa hal, antara lain:

a. Sengketa Mengenai Hak Kebendaan

Jenis sengketa ini didasarkan pada hubungan hukum yang berkaitan dengan hak kebendaan (right in rem). Permasalahan utama yang muncul dari hubungan hukum kebendaan ini adalah sengketa hak kepemilikan atas benda. Dimana dua subjek hukum saling mengklaim memperoleh, memiliki dan menguasai suatu benda yang sama. Jenis tindak pidana yang berkaitan erat atau sering bersinggungan dengan sengketa jenis ini adalah tindak pidana yang berkaitan dengan harta kekayaan. Biasanya salah satu unsur dari tindak pidana yang berkaitan dengan hak kepemilikan memerlukan kepastian mengenai subjek hukum yang secara sah sebagai pemilik suatu benda objek tindak pidana tersebut.

Mengingat begitu pentingnya kepastian mengenai pemilik yang sah tersebut, baik penyidik maupun penuntut umum harus berpegang kepada bukti kepemilikan yang sah, baik benda bergerak maupun benda tak bergerak. Sehingga jika belum dapat dipastikan mengenai pemilik yang sah atas benda tersebut, maka dapat dikatakan bahwa terdapat suatu persengketaan hak kepemilikan atas benda yang

(24)

17 perlu dipastikan terlebih dahulu melalui mekanisme hukum pembuktian acara perdata. Oleh karena Hukum pidana tidak berfungsi memutuskan persengektaan hak tersebut, maka untuk membuktiakan adanya kesalahan seseorang yang bekaitan dengan kepemilikan benda maka harus menunggu putusan pengadilan perdata dan harus menunda proses pidana yang sedang berjalan. sampai dengan adanya putusan pengadilan perdata yang memastikan subjek hukum sebagai pemilik yang sah atas benda tersebut. Jika langkah tersebut tidak dilakukan dan tetap diajukan penuntutan terhadap perkara tersebut, pengadilan biasanya memberikan putusan bebas karena pada pembuktian unsur kepemilikan terhadap benda objek tindak pidana belum dapat ditentukan secara pasti.

Pada prinsipnya setiap sengketa perdata memiliki esensi adanya persengketaan hak, kondisi dimana kedudukan dua pihak atau lebih yang saling bertentangan dan sama-sama bermaksud untuk mempertahankan dan atau menuntut hak yang menurut pendapatnya benar dan dilindungi oleh hukum. Persengketaan hak merupakan konsekuesi dari suatu hubungan hukum yang telah diatur oleh hukum benda (law of property) dan/atau hukum perikatan (law of obligation), baik yang lahir dari perikatan maupun lahir dari undang-undang. Pada suatu perikatan tidak menutup kemungkinan terjadi suaut kondisi dimana salah satu pihak yang terikat tersebut merasa dirugikan oleh pihak lainnya, sehingga pihak yang dirugikan tersebut dapat menuntut pemenuhan perikatan di antara mereka, baik dalam bentuk memberikan sesuatu, melakukan sesuatu dan tidak melakukan sesuatu.

Perbuatan menuntut hak keperdataan tersebut justru suaut hal yang telah dibenarkan oleh hukum, dalam hal ini melalui hukum perdata materil dan formil.

Sebagaimana perbuatan mempertahankan dan menuntut hak berkaitan dengan hak kebendaan sebagaimana telah diatur oleh Pasal 574 KUHPerdata menyatakan bahwa “tiap-tiap pemilik sesuatu kebendaan berhak menuntut kepada siapa pun juga yang menguasainya akan pengembalian kebendaan itu dalam keadaan beradanya”. Perbuatan mempertahankan dan menuntut hak perseorangan sebagaimana merupakan ruang lingkup hukum perikatan diatur oleh Pasal 1236 KUHPer perikatan untuk memberikan sesuatu, Pasal 1239 KUHPer perikatan untuk berbuat sesuatu, Pasal 1242 KUHPer perikatan untuk tidak berbuat sesuatu.

(25)

18 Berdasarkan Pasal 572 KUHPerdata yang menyatakan bahwa ”tiap-tiap milik harus dianggap bebas adanya. Barangsiapa membeberkan mempunyai hak atas kebendaan milik orang lain, harus membuktikan hak itu”. Kemudian Pasal 574 KUHPerdata menyatakan bahwa “tiap-tiap pemilik sesuatu kebendaan berhak menuntut kepada siapa pun juga yang menguasainya akan pengembalian kebendaan itu dalam keadaan beradanya” Pasal 528 KUHPerdata menyatakan bahwa “atas suatu kebendaan, seseorang dapat mempunyai baik suatu kedudukan berkuasa, baik hak milik, baik hak waris,baik hak pakai hasil, baik hak pengabdian tanah, baik hak gadai dan hipotik”

Sebagaimana berdasarkan Pasal 1865 KUHPerdata yang menyatakan bahwa

“setiap orang yang mendalilkan bahwa ia mempunyai suatu hak, atau guna meneguhkan haknya sendiri maupun membantah suatu hak orang lain, menunjuk pada suatu peristiwa, diwajibkan membuktikan adanya hak atau peristiwa tersebut”. Dengan demikian, permasalahan penuntutan hak kebendaan telah diatur oleh hukum perdata, maka penyelesaian persengketaan hak kebendaannya dapat diselesaikan sendiri oleh para pihak yang bersengketa atau membutuhkan bantuan negara melalui kekuasaan kehakiman dengan menggunakan mekanisme hukum acara perdata yang berlaku.

b. Sengketa Mengenai Hak Perorangan

Sengketa mengenai hak perorangan (right in personem) Wanprestasi merupakan konsekuensi yang mungkin terjadi pada suatu perjanjian yang sah. Sebagai akibat dari suatu perjanjian yang sah maka seluruh kesepakatan yang tertuang pada suatu perjanjian berlaku seperti undang-undang bagi para pihak yang membuatnya.

Sehingga perlu adanya pembuktian atas kesalahan sebagai akibat dari tidak diberikannya sesuatu, tidak dilakukannya sesuatu perbuatan, bahkan justru melakukan sesuatu yang dilarang berdasarkan kesepakatan di dalam suatu perjanjian yang sah.

Pembuktian kesalahan pada tuduhan terjadinya wanprestasi terhadap seseorang merupakan persengketaan mengenai hak perorangan Oleh sebab itu terhadap tindak pidana yang unsur perbuatannya berupa tipu muslihat tidak sama dengan

(26)

19 wanprestasi atau tidak melaksanakan prestasi yang diperjanjiakan secara sah, atau dengan kata lain bahwa wanprestasi bukan tipu muslihat. Baik dalam ranah hukum perdata (onrechtmatig daad) maupun ranah hukum hukum pidana (delict), sama-sama merupakan perbutan seseorang yang menimbulkan kerugian terhadap orang lain, baik yang berkaitan dengan kepentingan individu (kepentingan privat) maupun kepentingan masyarakat secara luas (kepentingan umum).

Namun negara menyediakan norma hukum baik materil maupun formil yang berbeda untuk mejalankan fungsinya sebagai pemulih keganjilan/ketimpangan dan ketidakadilan di masyarakat guna mengembalikan kepada keadaan keseimbangan kembali (status quo), upaya ini dikenal dengan restutio et integrum. Dimana tujuan terbesar negara dalam hal ini adalah guna menghindari anggota masyarakatnya untuk main hakim sendiri dalam menyelesaikan permasalahan hukum yang terjadi, sekaligus membuktinya kedaulatan negara .

C. Ajaran Sifat Melawan Hukum Formil dan Materil

Hukum acara pidana Indonesia menganut sistem pembuktian negatif sebagaimana ketentuan Pasal 183 KUHAP menyatakan bahwa “Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila dengan sekurang- kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan terdakwalah yang bersalah melakukannya”.

Penjelsannya “ketentuan ini adalah untuk menjamin tegaknya kebenaran, keadilan dan kepastian hukum bagi seseorang”.

Penerapan sistem pembuktian negatif tersebut dimaksudkan terutama untuk menilai ada atau tidaknya kesalahan pelaku tindak pidana, sehingga sangat berkaitan erat dengan ajaran sifat melawan hukum yang di anut oleh hukum pidana Indonesia. Sebagaimana di dalam hukum pidana dikenal dengan prinsip hukum yang sangat mendasar yaitu: gen straf zonder schuld (tiada sanksi pidana tanpa kesalahan) dan gen schuld zonder wederrechtelijk (tiada kesalahan tanpa sifat melawan hukum).17

17E. Utrecht, Hukum Pidana 1, Penerbit Universitas,Jakarta,1960,hlm 235

(27)

20 Ajaran sifat melawan hukum (wederrechtelijkheid) dibagi menjadi 2 (dua) pendekatan, yaitu: dalam arti formal dimana suatu perbuatan hanya dapat dipandang sebagai bersifat wederrechtelijkheid apabila perbuatan tersebut memenuhi semua unsur yang terdapat di dalam rumusan suatu delik berdasarkann undang-undang. Sedang menurut ajaran wederrechtelijkheid dalam arti materil dimana perbuatan dapat dipandang sebagai wedderchtelijkheid bukan saja harus ditinjau dari terpenuhinya unsur rumusan delik sebagaimana diatur oleh ketentuan-ketentuan hukum yang tertulis, melainkan juga harus ditinjau menurut asas-asas hukum umum dari hukum yang tidak tertulis”.18

Sementara, sifat melawan hukum materil juga terbagi menjadi 2 (dua) yaitu: sifat melawan hukum materil dengan fungsinya yang positif dimana perbuatan yang menurut masyarakat dapat dicela, namun menurut hukum pidana tidak dapat dipidana (asas legalitas) dan sifat melawan hukum materil dengan fungsinya yang negatif dimanaperbuatan menurut hukum pidana terbukti namun tidak dapat dijatuhi pidana, karena menurut asas hukum umum dianggap bukan sebagai perbuatan tercela karena merupakan perbuatan yang didasarkan pada hubungan hukum yang telah diatur secara sah dan kerugiannya tidak dianggap sebagai kerugian bagi kepentingan umum secara luas.

Perbuatan yang diduga suatu tidak pidana ternyata terbukti merupakan suatu persengketaan mengenai pelaksanaan suatu perjanjian yang sah sehingga meskipun salah satu pihak ternyata dirugikan oleh pihak lainnya, dan kualifikasi perbuatannya sama dengan tindak pidana tertentu, namun sesungguhnya bukan tindak pidana.

Perbuatan seseorang yang didakwa melakukan suatu tindak pidana, meskipun terbukti memenuhi unsur-unsur pasal pidana, belum tentu dapat dituntut bahkan dijatuhi sanksi pidana. Hal tersebut darpat disebabkan oleh hilangnya kesalahan seseorang karena dirinya tidak dapat dipertanggungjawabkan dengan adanya alasan pembenar dan pemaaf sebagaimana yang telah ditentukan oleh KUHP, serta berdasarkan hilangnya sifat melawan hukum materil secara negatif, yaitu

18P.A.F. Lamintang, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1997, hlm 351

(28)

21 dimungkinkan hilangnya sifat melawan hukum suatu perbuatan disebabkan oleh alasan-alasan yang tidak secara tegas diatur oleh undang-undang, melainkan juga berdasarkan asas-asas hukum umum dan hukum yang tidak tertulis. Ajaran ini ingin membela asas gen straf zonder schuld (tiada pidana tanpa kesalahan) yang dianut oleh hukum pidana, sehingga memaksa penerapan hukum pidana melalui penafsiran secara ekstensif di ranah hukum pidana yang terkadang mengundang konstroversi di dalam praktik.

Salah satu alasan bahwa perbuatan seseorang meskipun terbukti memenuhi unsur tindak pidana tertentu, namun dianggap bukan sebagai tindak pidana manakala perbuatan tersebut secara materil kebenarannya terbukti mengandung unsur persengektaan hak yang yang tidak lain merupakan suatu hubungan hukum keperdataan. Sehingga hukum pidana memandang bahwa perbuatan tersebut bukan merupakan suatu tindak pidana yang dapat dituntut apalagi dijatuhi sanksi pidana. Sejalan dengan itu, maka hukum acara pidana Indonesia juga memberikan ketentuan yang mendukung penerapan sifat melawan hukum materil secara negatif tersebut. Sebagaimana ketentuan Pasal 191 Ayat (2) dan KUHAP menyatakan bahwa “Jika pengadilan berpendapat bahwa perbuatan yang didakwakan kepada terdakwa terbukti, tetapi perbuatan itu tidak merupakan suatu tindak pidana, maka terdakwa diputus lepas dari segala tuntuttan hukum’.“tidak merupakan suatu tindak pidana” dikarenakan adanya alasan pemaaf, pembenar dan adanya fakta suatu persengketaan di dalam hubungan hukum perdata.

Ketentuan di atas menjadi menarik untuk didiskusikan manakala kita melihat pertimbangan-pertimbangan hakim yang menyatakan bahwa perbuatan terdakwa terbukti memenuhi unsur suatu norma hukum pidana tertentu namun perbuatn terdakwa dianggap tidak merupakan suatu tindak pidana, melainkan suatu sengketa hak keperdataan (wanprestasi dan Perbuatan Melawan Hukum) yang seharusnya diselesaikan melalui gugatan perdata, oleh sebab itu menyatakan terdakwa harus dilepaskan dari segala tuntutan.

Perbuatan yang didakwakan kepada terdakwa terbukti, tidak merupakan tindak pidana berarti bahwa tidak terpenuhinya sifat melawan hukum materil dari suatu

(29)

22 perbuatan seseorang yang didakwa melakukan tindak pidana tertentu, sehingga perbuatan tersebut tidak dapat dijatuhi sanksi pidana dikarenakan tidak ada kesalahan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada terdakwa berdasarkan hukum pidana.

Sebaliknya hukum pidana dan hukum acara pidana tidak berwenang menyelesaikan suatu persengketaan hak, karena merupakan permasalahan mengenai kepentingan privat warga masyarakat, atau dengan kata lain bahwa para pihak yang bersengketa bukan merupakan pelaku kejahatan yang dapat dituntut oleh negara dan dijatuhi sanksi pidana karena merugikan kepentingan umum, melainkan suatu konsekunsi yuridis yang mungkin lahir dari hubungan hukum keperdataan, dalam hal ini perbuatan tiap orang dalam memperoleh hak dan perbuatan mempertahankan hak (hak kebendaan dan hak perseorangan) di dalam kehidupan bermasyarakat yang dilindungi oleh perdata.

Konsepsi hak (khususnya hak keperdataan yang bersifat kebendaan) merupakan ranah hukum perdata dan berdimensi hukum privat, sementara hak negara untuk menuntut seseorang pelaku tindak pidana yang berkaitan dengan hak keperdataan merupakan dimensi hukum publik. Pada tahap ini menimbulkan suatu pertanyaan, mana yang lebih didahulukan antara kepentingan privat atau kepentingan publik?

Dimanakah titik pembeda antara Perbuatan Melawan Hukum Perdata (onrechtmatig) yang melindungi kepentingan privat,19 dengan Perbuatan Melawan Hukum Pidana/tindak pidana/delik (wedderechttelijk).20 Bukankah baik Perbuatan Melawan Hukum (PMH) maupun Tindak Pidana (TP) sama-sama perbuatan yang merugikan pihak lain.

Sampai disini negara melalui hukum pidana seolah tidak berwenang mencampuri hubungan hukum privat yang terjadi antara warga masyarakatnya. Namun bukan berarti negara tidak melindungi hak individu yang dirugikan, dan membuka peluang pihak yang dirugikan melakukan perbuatan main hakim sendiri atau eigenrichting. Sebaliknya negara menyediakan jalan keluar lain guna penyelesaian

19De Schutznorm Theorie sebagaimana dikutip di dalam Emong Supardjaja, Ajaran Sifat Melawan Hukum Materil dalam Hukum Pidana Indonesia, (Bandung: PT. Alumni, 2013) hlm. 71.

20 Ibid . hlm 155.

(30)

23 sengketa hak yang terjadi pada warga masyarakatnya tersebut yaitu melalui gugatan perdata (jurisdiksi kontentiosa) yang proses pembuktiannya diatur oleh hukum acara perdata dan melalui lembaga peradilan yang disediakan oleh negara.

Secara sederhana perbedaannya terletak pada konsekuensi perbuatannya, PMH berakibat pelakunya membayar ganti rugi tertentu, sementara TP berakibat sanksi pidana (Pasal 10 KUHP), sementara berdasarkan siapa yang menjadi korban dan kepentingan yang dilindungi, maka PMH korbannya adalah seseorang atau badan hukum privat. Sementara TP adalah kepentingan umum dimana kepentingan individu atau badan hukum privat yang menjadi korban dianggap juga terwakili kepentingannya. Hakim perdata di dalam memutus perkara PMH belandaskan kebenaran formil sementara Hakim pisana memutus TP belandaskan kebenaran materil.

Pembuktian suatu tindak pidana yang berkaitan dengan konsepsi hak keperdataan tersebut harus memperhatikan asas hukum umum. Hal tersebut didasarkan pada prinsip bahwa proses penegakan hukum pidana melalui KUHAP bukan ditujukan untuk menyelesaikan persengketaan hak keperdataan, sehingga jika proses penegakan hukum pidana berhadapan dengan persengketaan hak keperdataan, maka harus menyerahkan penyelesaian tersebut kepada hukum acara perdata.

Mengingat persengketaan hak keperdataan tidak dapat dikategorikan sebagai suatu kejahatan atau pelanggaran yang merugikan kepentingan umum, sehingga tidak dapat dituntut oleh Penuntut Umum, atau di dalam putusan pengadilan yang terbukti suatu persengketaan hak maka harus dilepaskan dari tuntutan hukum karena bukan merupakan tindak pidana dan tentu saja bukan merupakan jurisdiksi hukum pidana untuk menyelesaikan sengketa hak keperdataan (menetapkan hak keperdataan bagi seseoarang).

Sebaliknya hukum perdata telah menegaskan jurisdiksi tersebut menjadi kewenangannya berdasarkan Pasal 1865 KUHPerdata yang menyatakan bahwa

“setiap orang yang mendalilkan bahwa ia mempunyai suatu hak, atau guna meneguhkan haknya sendiri maupun membantah suatu hak orang lain, menunjuk pada suatu peristiwa, diwajibkan membuktikan adanya hak atau peristiwa

(31)

24 tersebut”.

Disinilah argumentasinya menjadi jelas bahwa butuh kecermatan dan ketelitian di dalam pembuktian delik-delik yang berkaitan dengan konsepsi-konsepsi keperdataan dalam hal ini hak keperdataan dan hubungan hukum keperdataan yang menimbulkan kerugian terhadap orang lain, apalagi dihadapkan pada dua subjek hukum yang masing-masing baik pelaku dan korban sama-sama memiliki dan dapat membuktikan hak kepemilikannya.

Persengketaan hak dianggap suatu tindak pidana maka konsekuensinya adalah kriminalisasi terhadap ranah hukum privat yang tentu saja mencederai keadilan dan bertentangan dengan doktrin hukum yang membedakan perlindungan hukum bagi kepentingan publik (negara) dan kepentingan privat (individu) dan terhadap penyelesaian perkara hukum masing-masing maka negara memberikan jurisdiksi yang berbeda, dimana pada hukum pidana negara dapat menghukum demi kepentingan umum, sementara pada hukum perdata negara dapat menghukum seseorang demi kepentingan individu yang juga harus dilindungi.

Prof Dr. Wirjono Prodjodikoro S.H. berjudul “Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia”,21 mengatakan bahwa norma-norma atau kaidah-kaidah dalam bidang hukum tata negara dan hukum tata usaha negara harus pertama-tama ditanggapi dengan sanksi administrasi, begitu pula norma-norma dalam bidang hukum perdata pertama-tama harus ditanggapi dengan sanksi perdata. Hanya, apabila sanksi administrasi dan sanksi perdata ini belum mencukupi untuk mencapai tujuan meluruskan neraca kemasyarakatan, maka baru diadakan juga sanksi pidana sebagai pamungkas (terakhir) atau ultimum remedium. Wirjono antara lain lebih lanjut mengatakan bahwa sifat sanksi pidana sebagai senjata pamungkas atau ultimum remedium jika dibandingkan dengan sanksi perdata atau sanksi administrasi.22 Sifat ini sudah menimbulkan kecenderungan untuk menghemat dalam mengadakan sanksi pidana. Jadi, dari sini kita ketahui bahwa ultimum remedium merupakan istilah yang menggambarkan suatu sifat sanksi pidana.

21Prof. Wirjono Prodjodikoro, Asas – Asas Hukum Pidana di Indonesia (Bandung: Refika Aditama, 2003), hlm. 17.

22Ibid, hal. 50

(32)

25 D. Hubungan Timbal Balik antara Perkara Pidana dengan Perkara Perdata Kebenaran materil dari suatu putusan perkara pidana dapat mempengaruhi dan menentukan kedudukan dari suatu hak keperdataan dan kebenaran formil dari suatu putusan perkara perdata. Namun, kebenaran materil dalam putusan perkara pidana tersebut tidak dapat secara serta merta mengubah kedudukan dari suatu hak keperdataan dan kebenaran formil dari suatu putusan perkara perdata yang lahir terlebih dahulu. Perubahan hak keperdataan dan kebenaran formil dari suatu putusan perkara perdata tersebut harus terlebih dahulu mendapatkan legitimasi berdasarkan putusan perkara perdata yang amarnya bersifat deklaratoir dan konstitutif dari suatu lembaga peradilan yang berwenang memutus perkara perdata.

Prosedur yang harus ditempuh harus melalui suatu gugatan perdata terlebih dahulu dan pembuktiannya berdasarkan putusan perkara pidana sebagai dasar bahwa hak keperdataan yang disengketakan tersebut merupakan perbuatan melawan hukum perdata dan menyatakan pemilik semula tidak lagi berhak atas benda objek sengketa. Putusan perkara pidana juga dapat dijadikan dasar untuk melakukan upaya hukum terhadap putusan pengadilan perkara perdata.Kebenatan formil dalam perkara perdata dapat mempengaruhi kebenaran materil perkara pidana, terutama terkait tindak pidana yang terkait dengan hak kepemilikan atas benda yang menjadi objek tindak pidana, atau dengan kata lain mengenai objek tindak pidana yang sedang dipersengketakan kepemilikannya. Lihat penjelasanan mengenai alat bukti persangkaan hakim di dalam pembuktian hukum acara perdata.

Pengadilan di dalam menemukan kebenaran materil dari suatu perkara pidana tidak terikat dengan putusan perkara perdata, karena putusan perkara perdata hanya berdasarkan pada kebenaran formil. Hal tersebut dapat berarti bahwa tidak semua perbuatan seseorang yang telah terbukti suatu perbuatan melawan hukum perdata dan menimbulkan kewajiban pembayaran ganti kerugian, serta merta dapat dikualifikasikan sebagai tindak pidana. Dengan kata lain seserang yang dinyatakan bersalah secara perdata belum tentu bersalah secara pidana, namun

(33)

26 sebaliknya jika seseorang terbukti bersalah secara sah dan meyakinkan melakukan suatu tindak pidana dan menimbulkan kerugian terhadap orang lain/korban, membawa konsekuensi dapat dituntut secara perdata untuk mendapatkan ganti kerugian materil dan imateril.

Kedua, perbuatan pidana yang terkait dengan kejahatan terhadap harta kekayaan yang diatur oleh peraturan perundang-undangan terutama KUHP sering dihadapkan pada permasalahan apakah Penyidik melalui SP3 maupun Penuntut Umum (Penghentian Penuntutan) memiliki kewenagan untuk dapat menyatakan suatu perbuatan pidana merupakan suatu persengketaan atau untuk terpenuhinya unsur pasal pidana terkait dengan kepemilikan maka memerlukan kepastian mengenai hak yang mendasari unsur pasal pidana tertentu dan untuk itu harus diselesaikan melalui proses gugatan perdata terlebih dahulu? Padahal kewenangan tersebut hanya dimiliki oleh lembaga peradilan yaitu melaui pemeriksaan persidangan dan putusan hakim yang menyatakan seorang terdakwa lepas dari segala tuntutan (onslag) karena perbuatan yang dituntut bukan merupakan tindak pidana.

E. Jenis-Jenis Putusan Hakim

Putusan hakim adalah hasil musyawarah yang bertitik tolak dari suatu dakwaan dengan segala sesuatu yang terbukti dalam pemeriksaan di sidang Pengadilan.

Penilaian dari putusan hakim itu, apa yang didakwakan dalam surat dakwaan terbukti, mungkin juga menilai apa yang didakwakan memang benar terbukti, akan tetapi apa yang didakwakan bukan merupakan tindak pidana, tetapi termasuk ruang lingkup perkara perdata atau termasuk ruang lingkup tindak pidana aduan (klacht delict).23 Bentuk putusan yang dapat dijatuhkan oleh Pengadilan mengenai suatu perkara yaitu:

1) Putusan Bebas/ vrij spraak

Putusan bebas adalah terdakwa yang dijatuhi putusan bebas atau bebas dari tuntutan hukum (vrij spraak) atau acquitall.Terdakwa dibebaskan dari

23Yahya Harahap, 2000, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP, Jakarta, Sinar Grafika, cetakan kedua, hlm. 347

(34)

27 tuntutan hukum, artinya terdakwa dibebaskan dari pemidanaan. Dasar dari putusan bebas ada di ketentuan Pasal 191 ayat (1) Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang menjelaskan bahwa, apabila pengadilan berpendapat:

a. Dari hasil pemeriksaan di sidang pengadilan.

b. Kesalahan terdakwa atas perbuatan yang didakwakan kepadanya

“tidak terbukti” secara sah dan meyakinkan.

Secara yuridis, seorang terdakwa diputus bebas apabila majelis hakim yang bersangkutan menilai:

a) Tidak memenuhi atas pembuktian menurut Undang-undang secara negatif. Pembuktian yang diperoleh dipersidangan, tidak cukup membuktikan kesalahan terdakwa dan sekaligus kesalahan terdakwa yang tidak cukup terbukti, itu tidak diyakini oleh hakim.

b) Tidak memenuhi asas batas pembuktian.Kesalahan yang didakwakan kepada terdakwa hanya didukung oleh satu alat bukti saja, dalam ketentuan Pasal 183 KUHAP, agar membuktikan kesalahan terdakwa maka sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah.

Berdasarkan kedua asas yang diatur dalam Pasal 183 KUHAP, dihubungkan dengan Pasal 191 ayat (1) KUHAP, putusan bebas pada umumnya didasarkan pada penilaian dari pendapat hakim, yaitu:24

a. Kesalahan yang didakwakan kepada terdakwa sama sekali tidak terbukti, semua alat bukti yang diajukan ke persidangan baik berupa keterangan saksi, keterangan ahli dan surat petunjuk maupun keterangan terdakwa, tidak dapat membuktikan kesalahan terdakwa.

Berarti perbuatan yang didakwakan tidak terbukti secara sah dan meyakinkan oleh hakim.

b. Hakim menilai, pembuktian kesalahan yang didakwakan tidak memenuhi batas ketentuan minimum pembuktian. Misalnya alat bukti yang diajukan ke persidangan hanya terdiri dari seorang saksi saja.

c. Putusan bebas tersebut bisa juga didasarkan atas penilaian, kesalahan

24Ibid.

(35)

28 yang terbukti itu tidak didukung oleh keyakinan hakim. Penilaian demikian yang dianut Pasal 183 KUHAP, mengajarkan bahwa pembuktian menurut Undang-undang secara negatif. Keterbuktian kesalahan yang didakwakan dengan alat bukti yang sah, harus didukung dengan keyakinan hakim.

2) Putusan Lepas dari Segala Tuntutan Hukum/Onslag Van Rechtsvervolging Putusan pelepasan diatur dalam Pasal 191 ayat (2) KUHAP, yang berbunyi:

“jika pengadilan berpendapat bahwa perbuatan yang didakwakan kepada terdakwa terbukti, tetapi perbuatan itu tidak merupakan suatu tindak pidana maka terdakwa diputus lepas dari segala tuntutan hukum”.

Kriteria dari putusan lepas dari segala tuntutan hukum sebagaimana yang disebutkan dalam Pasal 191 ayat (2) ini yakni:25

a) Apa yang didakwakan kepada terdakwa memang terbukti secara sah dan meyakinkan;

b) Tetapi sekalipun terbukti, hakim berpendapat bahwa perbuatan yang didakwakan tidak merupakan tindak pidana.

Putusan lepas dari segala tuntutan hukum yakni kenyataan bahwa apa yang didakwakan dan yang telah terbukti tersebut tidak merupakan tindak pidana. Perbedaan antara putusan lepas dari segala tuntutan hukum dengan putusan bebas adalah bahwa putusan bebas apa yang didakwakan penuntut umum tidak terbukti secara sah dan meyakinkan. Sedangkan putusan lepas dari segala tuntutan hukum adalah apa yang didakwakan oleh penuntut umum terbukti tidak merupakan suatu tindak pidana.

3) Putusan Pemidanaan

Bentuk putusan pemidanaan diatur dalam Pasal 193 KUHAP.Pemidanaan berarti terdakwa dijatuhi hukuman pidana sesuai dengan ancaman yang ditentukan dalam pasal tindak pidana yang didakwakan kepada terdakwa.

Sesuai dengan Pasal 193 ayat (1) KUHAP yang berbunyi:

“Jika pengadilan berpendapat bahwa terdakwa bersalah cukup terbukti

25Ibid, hlm. 352

(36)

29 seperti apa yang didakwakan kepadanya, maka pengadilan menjatuhkan pidana”

Sesuai dengan Pasal 193 ayat (1) penjatuhan putusan pemidanaan kepada terdakwa didasarkan pada penilaian pengadilan.Jiak pengadilan berpendapat dan menilai terdakwa terbukti bersalah melakukan perbuatan yang didakwakan kepadanya, pengadilan menjatuhkan hukuman pidana terhadap terdakwa. Dengan sistem pembuktian dan asas batas minumum pembuktian ditentukan dalam Pasal 183 KUHAP, kesalahan terdakwa sudah cukup terbukti dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah memberi keyakinan kepada hakim, terdakwalah pelaku tindak pidananya

F. Dasar Pertimbangan Hakim

Dalam memberikan penjelasan terhadap pertimbangan hakim dalam berbagai putusannya akan dilihat pada dua kategori. Kategori yang pertama 42 akan dilihat dari segi pertimbangan yang bersifat yuridis dan kedua adalah pertimbangan yang bersifat non-yuridis, yaitu:26

a. Pertimbangan yang bersifat yuridis

Pertimbangan yang bersifat yuridis adalah pertimbangan hakim yang didasarkan pada fakta-fakta yuridis yang terungkap di dalam persidangan dan oleh Undang-undang telah ditetapkan sebagai hal yang harus dimuat di dalam putusan. Meskipun belum ada ketentuan yang menyebutkan bahwa diantara yang termuat dalam putusan itu adalah pertimbangan yang bersifat yuridis. Hal itu sudah ditetapkan oleh Undangundang dan hal tersebut terungkap sebagai fakta yuridis di dalam sidang pengadilan.

Adapun pertimbangan yuridis dapat diuraikan sebagai berikut:

1) Dakwaan Jaksa Penuntut Umum

Dakwaan merupakan dasar hukum acara pidana. Berdasarkan dakwaan itulah pemeriksaan dipersidangan dilakukan. Dakwaan selain berisikan identitas terdakwa juga memuat uraian tindak

26 Rusli Muhammad, Sistem Peradilan Pidana, UII Press, Yogyakarta, November 2011. hlm 102- 103

(37)

30 pidana yang didakwakan dengan menyebut waktu dan tempat tindak pidana yang dilakukan. Perumusan dakwaan didasarkan atas hasil pemeriksaan pendahuluan yang dapat disusun tunggal, komulatif, alternatif, ataupun subsidair.

2) Keterangan Terdakwa

Keterangan terdakwa menurut KUHAP Pasal 184 butir e, digolongkan sebagai alat bukti. Keterangan terdakwa adalah apa yang dinyatakan terdakwa disidang tentang perbuatan yang ia lakukan atau yang ia ketahui sendiri atau alami sendiri. Keterangan terdakwa sering dinyatakan dalam bentuk pengakuan dan penolakan baik sebagian maupun keseluruhan terhadap dakwaan penuntut umum dan keterangan yang disampaikan oleh para saksi.

3) Keterangan Saksi

Keterangan saksi dapat dikategorikan sebagai alat bukti, sepanjang keterangan itu mengenai suatu peristiwa pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri, ia alami sendiri dan harus disampaijan di dalam sidang pengadilan dengan mengangkat sumpah.

4) Barang-barang bukti

Barang-barang bukti adalah semua benda yang dapat dikenakan penyitaan yang diajukan oleh penuntut umum di depan sidang pengadilan.

5) Pasal-pasal Peraturan Hukum Pidana

Salah satu hal yang sering terungkap didalam proses persidangan adalah pasal-pasal peraturan hukum pidana. Pasal-pasal ini bermula terlihat dan terungkap dalam surat dakwaan jaksa penuntut umum, yang diformulasikan sebagai ketentuan hukum pidana yang dilanggar oleh terdakwa.

b. Pertimbangan yang bersifat Non-Yuridis

Dalam pertimbangan ini, keadaan-keadaan yang digolongkan sebagai pertimbangan yang bersifat non-yuridis yaitu:

1) Latar belakang perbuatan terdakwa

setiap keadaan yang menyebabkan timbulnya keinginan serta

(38)

31 dorongan keras pada diri terdakwa dalam melakukan tindak pidana.

Mislanya keadaankonomi, kemiskinan, akhirnya bagi yang lemah iman dengan mudah menentukan pilihan berbuat pidana.

2) Akibat perbuatan terdakwa

Perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa sudah pasti membawa korban dan kerugian pada pihak lain

Referensi

Dokumen terkait

Urutan diagram blok pada penelitian ini adalah pada ada saat manusia(objek) berhenti di titik yang telah di tentukan untuk mengukur suhu tubuh, sensor ping ultrasonik akan mendeteksi

Setiap barang atau benda yang sering disebut juga dengan bahan adat dalam bahasa Marga Mesuji (seserahan) yang dibawakan oleh pihak calon mempelai pria dalam