Hukum acara pidana Indonesia menganut sistem pembuktian negatif sebagaimana ketentuan Pasal 183 KUHAP menyatakan bahwa “Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan terdakwalah yang bersalah melakukannya”.
Penjelsannya “ketentuan ini adalah untuk menjamin tegaknya kebenaran, keadilan dan kepastian hukum bagi seseorang”.
Penerapan sistem pembuktian negatif tersebut dimaksudkan terutama untuk menilai ada atau tidaknya kesalahan pelaku tindak pidana, sehingga sangat berkaitan erat dengan ajaran sifat melawan hukum yang di anut oleh hukum pidana Indonesia. Sebagaimana di dalam hukum pidana dikenal dengan prinsip hukum yang sangat mendasar yaitu: gen straf zonder schuld (tiada sanksi pidana tanpa kesalahan) dan gen schuld zonder wederrechtelijk (tiada kesalahan tanpa sifat melawan hukum).17
17E. Utrecht, Hukum Pidana 1, Penerbit Universitas,Jakarta,1960,hlm 235
20 Ajaran sifat melawan hukum (wederrechtelijkheid) dibagi menjadi 2 (dua) pendekatan, yaitu: dalam arti formal dimana suatu perbuatan hanya dapat dipandang sebagai bersifat wederrechtelijkheid apabila perbuatan tersebut memenuhi semua unsur yang terdapat di dalam rumusan suatu delik berdasarkann undang-undang. Sedang menurut ajaran wederrechtelijkheid dalam arti materil dimana perbuatan dapat dipandang sebagai wedderchtelijkheid bukan saja harus ditinjau dari terpenuhinya unsur rumusan delik sebagaimana diatur oleh ketentuan-ketentuan hukum yang tertulis, melainkan juga harus ditinjau menurut asas-asas hukum umum dari hukum yang tidak tertulis”.18
Sementara, sifat melawan hukum materil juga terbagi menjadi 2 (dua) yaitu: sifat melawan hukum materil dengan fungsinya yang positif dimana perbuatan yang menurut masyarakat dapat dicela, namun menurut hukum pidana tidak dapat dipidana (asas legalitas) dan sifat melawan hukum materil dengan fungsinya yang negatif dimanaperbuatan menurut hukum pidana terbukti namun tidak dapat dijatuhi pidana, karena menurut asas hukum umum dianggap bukan sebagai perbuatan tercela karena merupakan perbuatan yang didasarkan pada hubungan hukum yang telah diatur secara sah dan kerugiannya tidak dianggap sebagai kerugian bagi kepentingan umum secara luas.
Perbuatan yang diduga suatu tidak pidana ternyata terbukti merupakan suatu persengketaan mengenai pelaksanaan suatu perjanjian yang sah sehingga meskipun salah satu pihak ternyata dirugikan oleh pihak lainnya, dan kualifikasi perbuatannya sama dengan tindak pidana tertentu, namun sesungguhnya bukan tindak pidana.
Perbuatan seseorang yang didakwa melakukan suatu tindak pidana, meskipun terbukti memenuhi unsur-unsur pasal pidana, belum tentu dapat dituntut bahkan dijatuhi sanksi pidana. Hal tersebut darpat disebabkan oleh hilangnya kesalahan seseorang karena dirinya tidak dapat dipertanggungjawabkan dengan adanya alasan pembenar dan pemaaf sebagaimana yang telah ditentukan oleh KUHP, serta berdasarkan hilangnya sifat melawan hukum materil secara negatif, yaitu
18P.A.F. Lamintang, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1997, hlm 351
21 dimungkinkan hilangnya sifat melawan hukum suatu perbuatan disebabkan oleh alasan-alasan yang tidak secara tegas diatur oleh undang-undang, melainkan juga berdasarkan asas-asas hukum umum dan hukum yang tidak tertulis. Ajaran ini ingin membela asas gen straf zonder schuld (tiada pidana tanpa kesalahan) yang dianut oleh hukum pidana, sehingga memaksa penerapan hukum pidana melalui penafsiran secara ekstensif di ranah hukum pidana yang terkadang mengundang konstroversi di dalam praktik.
Salah satu alasan bahwa perbuatan seseorang meskipun terbukti memenuhi unsur tindak pidana tertentu, namun dianggap bukan sebagai tindak pidana manakala perbuatan tersebut secara materil kebenarannya terbukti mengandung unsur persengektaan hak yang yang tidak lain merupakan suatu hubungan hukum keperdataan. Sehingga hukum pidana memandang bahwa perbuatan tersebut bukan merupakan suatu tindak pidana yang dapat dituntut apalagi dijatuhi sanksi pidana. Sejalan dengan itu, maka hukum acara pidana Indonesia juga memberikan ketentuan yang mendukung penerapan sifat melawan hukum materil secara negatif tersebut. Sebagaimana ketentuan Pasal 191 Ayat (2) dan KUHAP menyatakan bahwa “Jika pengadilan berpendapat bahwa perbuatan yang didakwakan kepada terdakwa terbukti, tetapi perbuatan itu tidak merupakan suatu tindak pidana, maka terdakwa diputus lepas dari segala tuntuttan hukum’.“tidak merupakan suatu tindak pidana” dikarenakan adanya alasan pemaaf, pembenar dan adanya fakta suatu persengketaan di dalam hubungan hukum perdata.
Ketentuan di atas menjadi menarik untuk didiskusikan manakala kita melihat pertimbangan-pertimbangan hakim yang menyatakan bahwa perbuatan terdakwa terbukti memenuhi unsur suatu norma hukum pidana tertentu namun perbuatn terdakwa dianggap tidak merupakan suatu tindak pidana, melainkan suatu sengketa hak keperdataan (wanprestasi dan Perbuatan Melawan Hukum) yang seharusnya diselesaikan melalui gugatan perdata, oleh sebab itu menyatakan terdakwa harus dilepaskan dari segala tuntutan.
Perbuatan yang didakwakan kepada terdakwa terbukti, tidak merupakan tindak pidana berarti bahwa tidak terpenuhinya sifat melawan hukum materil dari suatu
22 perbuatan seseorang yang didakwa melakukan tindak pidana tertentu, sehingga perbuatan tersebut tidak dapat dijatuhi sanksi pidana dikarenakan tidak ada kesalahan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada terdakwa berdasarkan hukum pidana.
Sebaliknya hukum pidana dan hukum acara pidana tidak berwenang menyelesaikan suatu persengketaan hak, karena merupakan permasalahan mengenai kepentingan privat warga masyarakat, atau dengan kata lain bahwa para pihak yang bersengketa bukan merupakan pelaku kejahatan yang dapat dituntut oleh negara dan dijatuhi sanksi pidana karena merugikan kepentingan umum, melainkan suatu konsekunsi yuridis yang mungkin lahir dari hubungan hukum keperdataan, dalam hal ini perbuatan tiap orang dalam memperoleh hak dan perbuatan mempertahankan hak (hak kebendaan dan hak perseorangan) di dalam kehidupan bermasyarakat yang dilindungi oleh perdata.
Konsepsi hak (khususnya hak keperdataan yang bersifat kebendaan) merupakan ranah hukum perdata dan berdimensi hukum privat, sementara hak negara untuk menuntut seseorang pelaku tindak pidana yang berkaitan dengan hak keperdataan merupakan dimensi hukum publik. Pada tahap ini menimbulkan suatu pertanyaan, mana yang lebih didahulukan antara kepentingan privat atau kepentingan publik?
Dimanakah titik pembeda antara Perbuatan Melawan Hukum Perdata (onrechtmatig) yang melindungi kepentingan privat,19 dengan Perbuatan Melawan Hukum Pidana/tindak pidana/delik (wedderechttelijk).20 Bukankah baik Perbuatan Melawan Hukum (PMH) maupun Tindak Pidana (TP) sama-sama perbuatan yang merugikan pihak lain.
Sampai disini negara melalui hukum pidana seolah tidak berwenang mencampuri hubungan hukum privat yang terjadi antara warga masyarakatnya. Namun bukan berarti negara tidak melindungi hak individu yang dirugikan, dan membuka peluang pihak yang dirugikan melakukan perbuatan main hakim sendiri atau eigenrichting. Sebaliknya negara menyediakan jalan keluar lain guna penyelesaian
19De Schutznorm Theorie sebagaimana dikutip di dalam Emong Supardjaja, Ajaran Sifat Melawan Hukum Materil dalam Hukum Pidana Indonesia, (Bandung: PT. Alumni, 2013) hlm. 71.
20 Ibid . hlm 155.
23 sengketa hak yang terjadi pada warga masyarakatnya tersebut yaitu melalui gugatan perdata (jurisdiksi kontentiosa) yang proses pembuktiannya diatur oleh hukum acara perdata dan melalui lembaga peradilan yang disediakan oleh negara.
Secara sederhana perbedaannya terletak pada konsekuensi perbuatannya, PMH berakibat pelakunya membayar ganti rugi tertentu, sementara TP berakibat sanksi pidana (Pasal 10 KUHP), sementara berdasarkan siapa yang menjadi korban dan kepentingan yang dilindungi, maka PMH korbannya adalah seseorang atau badan hukum privat. Sementara TP adalah kepentingan umum dimana kepentingan individu atau badan hukum privat yang menjadi korban dianggap juga terwakili kepentingannya. Hakim perdata di dalam memutus perkara PMH belandaskan kebenaran formil sementara Hakim pisana memutus TP belandaskan kebenaran materil.
Pembuktian suatu tindak pidana yang berkaitan dengan konsepsi hak keperdataan tersebut harus memperhatikan asas hukum umum. Hal tersebut didasarkan pada prinsip bahwa proses penegakan hukum pidana melalui KUHAP bukan ditujukan untuk menyelesaikan persengketaan hak keperdataan, sehingga jika proses penegakan hukum pidana berhadapan dengan persengketaan hak keperdataan, maka harus menyerahkan penyelesaian tersebut kepada hukum acara perdata.
Mengingat persengketaan hak keperdataan tidak dapat dikategorikan sebagai suatu kejahatan atau pelanggaran yang merugikan kepentingan umum, sehingga tidak dapat dituntut oleh Penuntut Umum, atau di dalam putusan pengadilan yang terbukti suatu persengketaan hak maka harus dilepaskan dari tuntutan hukum karena bukan merupakan tindak pidana dan tentu saja bukan merupakan jurisdiksi hukum pidana untuk menyelesaikan sengketa hak keperdataan (menetapkan hak keperdataan bagi seseoarang).
Sebaliknya hukum perdata telah menegaskan jurisdiksi tersebut menjadi kewenangannya berdasarkan Pasal 1865 KUHPerdata yang menyatakan bahwa
“setiap orang yang mendalilkan bahwa ia mempunyai suatu hak, atau guna meneguhkan haknya sendiri maupun membantah suatu hak orang lain, menunjuk pada suatu peristiwa, diwajibkan membuktikan adanya hak atau peristiwa
24 tersebut”.
Disinilah argumentasinya menjadi jelas bahwa butuh kecermatan dan ketelitian di dalam pembuktian delik-delik yang berkaitan dengan konsepsi-konsepsi keperdataan dalam hal ini hak keperdataan dan hubungan hukum keperdataan yang menimbulkan kerugian terhadap orang lain, apalagi dihadapkan pada dua subjek hukum yang masing-masing baik pelaku dan korban sama-sama memiliki dan dapat membuktikan hak kepemilikannya.
Persengketaan hak dianggap suatu tindak pidana maka konsekuensinya adalah kriminalisasi terhadap ranah hukum privat yang tentu saja mencederai keadilan dan bertentangan dengan doktrin hukum yang membedakan perlindungan hukum bagi kepentingan publik (negara) dan kepentingan privat (individu) dan terhadap penyelesaian perkara hukum masing-masing maka negara memberikan jurisdiksi yang berbeda, dimana pada hukum pidana negara dapat menghukum demi kepentingan umum, sementara pada hukum perdata negara dapat menghukum seseorang demi kepentingan individu yang juga harus dilindungi.
Prof Dr. Wirjono Prodjodikoro S.H. berjudul “Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia”,21 mengatakan bahwa norma-norma atau kaidah-kaidah dalam bidang hukum tata negara dan hukum tata usaha negara harus pertama-tama ditanggapi dengan sanksi administrasi, begitu pula norma-norma dalam bidang hukum perdata pertama-tama harus ditanggapi dengan sanksi perdata. Hanya, apabila sanksi administrasi dan sanksi perdata ini belum mencukupi untuk mencapai tujuan meluruskan neraca kemasyarakatan, maka baru diadakan juga sanksi pidana sebagai pamungkas (terakhir) atau ultimum remedium. Wirjono antara lain lebih lanjut mengatakan bahwa sifat sanksi pidana sebagai senjata pamungkas atau ultimum remedium jika dibandingkan dengan sanksi perdata atau sanksi administrasi.22 Sifat ini sudah menimbulkan kecenderungan untuk menghemat dalam mengadakan sanksi pidana. Jadi, dari sini kita ketahui bahwa ultimum remedium merupakan istilah yang menggambarkan suatu sifat sanksi pidana.
21Prof. Wirjono Prodjodikoro, Asas – Asas Hukum Pidana di Indonesia (Bandung: Refika Aditama, 2003), hlm. 17.
22Ibid, hal. 50
25 D. Hubungan Timbal Balik antara Perkara Pidana dengan Perkara Perdata Kebenaran materil dari suatu putusan perkara pidana dapat mempengaruhi dan menentukan kedudukan dari suatu hak keperdataan dan kebenaran formil dari suatu putusan perkara perdata. Namun, kebenaran materil dalam putusan perkara pidana tersebut tidak dapat secara serta merta mengubah kedudukan dari suatu hak keperdataan dan kebenaran formil dari suatu putusan perkara perdata yang lahir terlebih dahulu. Perubahan hak keperdataan dan kebenaran formil dari suatu putusan perkara perdata tersebut harus terlebih dahulu mendapatkan legitimasi berdasarkan putusan perkara perdata yang amarnya bersifat deklaratoir dan konstitutif dari suatu lembaga peradilan yang berwenang memutus perkara perdata.
Prosedur yang harus ditempuh harus melalui suatu gugatan perdata terlebih dahulu dan pembuktiannya berdasarkan putusan perkara pidana sebagai dasar bahwa hak keperdataan yang disengketakan tersebut merupakan perbuatan melawan hukum perdata dan menyatakan pemilik semula tidak lagi berhak atas benda objek sengketa. Putusan perkara pidana juga dapat dijadikan dasar untuk melakukan upaya hukum terhadap putusan pengadilan perkara perdata.Kebenatan formil dalam perkara perdata dapat mempengaruhi kebenaran materil perkara pidana, terutama terkait tindak pidana yang terkait dengan hak kepemilikan atas benda yang menjadi objek tindak pidana, atau dengan kata lain mengenai objek tindak pidana yang sedang dipersengketakan kepemilikannya. Lihat penjelasanan mengenai alat bukti persangkaan hakim di dalam pembuktian hukum acara perdata.
Pengadilan di dalam menemukan kebenaran materil dari suatu perkara pidana tidak terikat dengan putusan perkara perdata, karena putusan perkara perdata hanya berdasarkan pada kebenaran formil. Hal tersebut dapat berarti bahwa tidak semua perbuatan seseorang yang telah terbukti suatu perbuatan melawan hukum perdata dan menimbulkan kewajiban pembayaran ganti kerugian, serta merta dapat dikualifikasikan sebagai tindak pidana. Dengan kata lain seserang yang dinyatakan bersalah secara perdata belum tentu bersalah secara pidana, namun
26 sebaliknya jika seseorang terbukti bersalah secara sah dan meyakinkan melakukan suatu tindak pidana dan menimbulkan kerugian terhadap orang lain/korban, membawa konsekuensi dapat dituntut secara perdata untuk mendapatkan ganti kerugian materil dan imateril.
Kedua, perbuatan pidana yang terkait dengan kejahatan terhadap harta kekayaan yang diatur oleh peraturan perundang-undangan terutama KUHP sering dihadapkan pada permasalahan apakah Penyidik melalui SP3 maupun Penuntut Umum (Penghentian Penuntutan) memiliki kewenagan untuk dapat menyatakan suatu perbuatan pidana merupakan suatu persengketaan atau untuk terpenuhinya unsur pasal pidana terkait dengan kepemilikan maka memerlukan kepastian mengenai hak yang mendasari unsur pasal pidana tertentu dan untuk itu harus diselesaikan melalui proses gugatan perdata terlebih dahulu? Padahal kewenangan tersebut hanya dimiliki oleh lembaga peradilan yaitu melaui pemeriksaan persidangan dan putusan hakim yang menyatakan seorang terdakwa lepas dari segala tuntutan (onslag) karena perbuatan yang dituntut bukan merupakan tindak pidana.