PROPOSAL
PENELITIAN TERAPAN UNIVERSITAS LAMPUNG
PENGARUH SUPLEMENTASI ASAM AMINO CAIR
PADA PAKAN BUATAN BERBASIS TEPUNG DAUN ECENG GONDOK
TERHADAP PERFORMA PERTUMBUHAN IKAN GABUS Channa striata (Bloch, 1793)
PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2021
2 DAFTAR ISI
Halaman Pengesahan ...i
Daftar Isi...ii
Ringkasan ...iii
Bab 1. Pendahuluan...1
1.1 Latar Belakang ...1
1.2 Tujuan Khusus Penelitian...2
1.3 Urgensi Penelitian ...3
Bab 2. Tinjauan Pustaka...4
2.1 Kebutuhan Protein Ikan Jelawat...5
2.2 Sumber Protein Nabati dalam Pakan...6
2.3 Tepung Eceng Gondok...7
2.4 Tepung Fermentasi Eceng Gondok ...8
2.5 Tepung Fermentasi Eceng Gondok sebagai Sumber Protein Nabati Untuk Pakan Ikan ...9
Bab 3. Metode Penelitian ...10
3.1 Alat dan Bahan yang Digunakan...11
3.2 Metodologi Penelitian ...12
3.2.1 Waktu dan Tempat Penelitian ...13
3.2.2 Pelaksanaan Penelitian ...14
3.2.3 Proses Pembuatan Tepung Fermentasi Eceng Gondok...15
3.2.4 Proses Pembuatan Pakan Uji...16
3.2.5 Pemeliharaan Ikan Uji...17
3.2.6 Parameter yang Diukur ...18
3.2.7 Analisis Data ...19
Bab 4. Biaya dan Jadwal Penelitian ...20
4.1 Anggaran Biaya...21
4.2 Jadwal Penelitian...22
DAFTAR PUSTAKA ...23
RINGKASAN
Salah satu bahan baku lokal yang banyak terdapat di Provinsi L a m p u n g dan berpotensi untuk dijadikan sebagai bahan penyusun pakan ikan adalah eceng gondok (Eichhornia crassipes) yang selama ini sering dianggap sebagai tanaman gulma di perairan umum. Meskipun dapat digunakan sebagai bahan baku alternatif untuk pakan ikan, eceng gondok mempunyai kelemahan yaitu tingkat kecernaannya yang rendah. Hal ini disebabkan tingginya kandungan serat kasar p a da eceng gondok tersebut. Namun, hal tersebut dapat diatasi dengan teknologi fermentasi, yaitu dengan bantuan bakteri dan yeast. Penelitian i ni bertujuan untuk mengetahui persentase tepung eceng gondok yang tepat dalam formulasi pakan untuk meningkatkan pertumbuhan dan efisiensi pakan ikan g a b u s . Penelitian ini akan dilakukan selama enam bulan dan dibagi menjadi 2 tahapan yaitu: ( 1) p embuatan tepung daun eceng gondok, analisis proksimat dan an al i s i s k an du n ga n asam amino p a d a t e p u n g d a u n e n c e n g g o n d o k ; ( 2) pembuatan pakan menggunakan tepung d a u n eceng gondok, penambahan asam amino cair pada pakan buatan (dosis 0 ml, 5 ml, 10 ml, dan 20 ml/kg pakan) dan pengujian pakan tersebut pada ikan g a b u s Chana striata (bloch,1793);
P enelitian i n i m e n g g u n a k a n metode eksperimen l a b o r a t o r i e s d e n g a n d e s ai n rancangan acak lengkap (RAL) non faktorial. D a u n e ceng gondok d i k e r i n g k a n d e n g a n m e s i n o v e n d a n s e l a n j u t n y a d i f e r m e n t a s i m e n g g u n a k a n c a i r a n r u m e n s a p i . S e t e l a h i t u dibuat p a k a n berdasarkan formulasi dengan persentase tepung eceng gondok yang berbeda. Selanjutnya, pakan yang telah terbentuk dilakukan uji kimia meliputi analisa proksimat dan analisa asam amino pakan, serta uji biologis pada ikan g a b u s untuk mengetahui pertumbuhan dan efisiensi pakan ikan tersebut. Hasil penelitian akan dipublikasikan di jurnal nasional terkareditasi Sinta 4.
Key word : asam amino, tepung daun enceng gondok, fermentasi, ikan gabus
4 BAB 1. LATAR BELAKANG
1.1 Latar Belakang dan Permasalahan
Permasalahan yang dihadapi oleh petani ikan adalah tingginya harga pakan ikan di pasaran. Apabila ditinjau dari aspek biaya produksi, lebih dari 6 0% dari total biaya produksi budidaya ikan adalah biaya u n t u k m e m b e l i pakan. Apabila hal ini tidak dicarikan solusi, maka ketertarikan pada usaha budidaya ikan akan semakin berkurang. S ementara itu permintaan ikan sebagai sumber protein hewani semakin meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk di Indonesia. Disamping itu, ketersediaan pakan juga harus diperhatikan untuk menjaga keberlanjutan usaha budidaya ikan, baik ikan air tawar atau pun ikan air laut.
Pemanfaatan bahan baku pakan alternatif telah banyak dilakukan untuk mengatasi p e r masalahan mahalnya h a r g a bahan baku pakan, khususnya yang berperan sebagai sumber protein seperti tepung ikan dan bungkil kedelai. Upaya pemanfaatan bahan baku pakan alternatif banyak dilakukan dengan menggunakan bahan baku pakan lokal yang mudah didapat, murah dan belum termanfaatkan secara optimal. Salah satu bahan baku lokal yang potensial sebagai penyusun pakan ikan yang terdapat di daerah P rovinsi L a m p u n g adalah tanaman eceng gondok.
Eceng gondok (Eichhornia crassipes) merupakan salah satu tanaman air yang banyak tumbuh di sungai, r a w a - r a w a , s a l u r a n i r i g a s i , s e r t a waduk dan bendungan. Keberadaan tanaman ini lebih sering dianggap sebagai gulma air yang sangat merugikan manusia (Mahmilia, 2005). Ketersediaan eceng gondok di perairan umum cukup melimpah dan tidak perlu biaya untuk memperolehnya, serta kandungan gizinya cukup baik sehingga eceng gondok dapat dipertimbangkan sebagai bahan pakan ikan. Eceng gondok memiliki kandungan nutrien yang cukup baik, yaitu protein kasar sebesar 13,6 % dan lemak 4,5 % (Konyeme et al., 2006).
Hasil penelitian s e b e l u m n y a menunjukkan bahwa penggunaan tepung eceng gondok dalam pakan dapat memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ikan lele dumbo Clarias gariepinus (Sotolu and Sule, 2011) dan penggunaannya d a p at mencapai 40% (Konyeme et al. 2006). Selanjutnya menurut Widyastuti (2010) kombinasi 50% tepung eceng gondok terfermentasi dan 50% dedak dalam formulasi pakan dapat menghasilkan pertumbuhan relatif dan efisiensi pemanfaatan pakan terbaik bagi ikan nila merah (Oreochromis sp). Meskipun eceng gondok dapat
digunakan sebagai bahan baku pakan ikan, namun tanaman ini memiliki kendala dalam pemanfaatannya, yaitu kandungan serat kasar cukup tinggi sehingga
menyebabkan daya cerna dari eceng gondok menjadi rendah. Kandungan serat kasar yang terdapat dalam eceng gondok adalah sebesar 15,3% (Marlina dan Askar, 2001).
Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi kendala tersebut adalah dengan teknologi fermentasi.
Bahan pakan yang difermentasi mempunyai nilai nutrisi yang baik karena k e b e r a d a a n mikroba y a n g mampu memecah komponen k ompleks p a d a t e p u n g e n c e n g g o n d o k menjadi zat-zat yang lebih sederhana sehingga mudah dicerna oleh ikan. Oleh karena itu, melalui proses fermentasi eceng gondok diharapkan dapat meningkatkan bioavailabilitas nutrien eceng gondok yang dapat meningkatkan pertumbuhan ikan, terutama ikan gabus Chana striata (Bloch,1793) yang banyak dibudidayakan oleh petani ikan di daerah Lampung.
1.2 Tujuan Khusus Penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui j u m l a h a s a m a m i n o c a i r dan persentase tepung daun eceng gondok y ang terbaik dalam formulasi pakan untuk meningkatkan pertumbuhan ikan gabus Channa striata (Bloch,1793). Hasil penelitian ini diharapkan diperolehnya formulasi pakan ikan gabus d a r i tepung eceng gondok yang disuplementasi asam amino cair.
1.3 Urgensi Penelitian
Meskipun eceng gondok memiliki protein yang cukup tinggi (13,6%), namun permasalahan dalam pemanfaatan eceng gondok sebagai bahan pakan ikan adalah masih tingginya serat kasar yang terkandung dalam tanaman tersebut. Oleh karena itu perlu dilakukan f e r m e n t a s i u n t u k meningkatkan bioavailabilitas nutrien tepung eceng gondok. Fermentasi ini dapat menyebabkan perubahan sifat bahan pangan, sebagai akibat dari pemecahan kandungan bahan pangan tersebut (Winarno dan Fardiaz, 1980). Selanjutnya, perlu dikaji seberapa banyak a s a m a m i n o c a i r y a n g p e r l u d i t a m b a h k a n k e dalam formulasi pakan untuk meningkatkan pertumbuhan dan efisiensi pakan ikan gabus.
Pada penelitian ini dipilih ikan gabus sebagai hewan uji karena beberapa alasan yaitu : ikan gabus merupakan salah satu sumberdaya ikan lokal yang banyak dijumpai di
6 pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan; ikan gabus mudah sekali dibudidayakan;
teknologi budidaya ikan gabus sudah banyak dikuasai oleh pembudidaya ikan di daerah Lampung, permintaan ikan gabus semakin meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk dan meningkatnya kebutuhan ikan; serta sebagai upaya diversifikasi usaha perikanan budidaya.
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Road Map Penelitian
Penelitian tentang pemanfaatan tepung eceng gondok masih sedikit dilakukan baik dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak maupun pakan ikan.
Untuk lebih jelasnya mengenai p e t a jalannya penelitian p e n g g u n a a n tepung eceng gondok untuk pakan ikan seperti yang tertera di bawah ini :
- Penelitian yang sudah dilakukan
Peluang untuk melakukan penelitian yang mengeksplorasi eceng gondok untuk bahan alternatif pakan ikan sangat besar mengingat hasil penelitian yang terkait pemanfaatan tepung eceng gondok sebagai bahan pakan masih sangat minim. Oleh karena itu pada penelitian terapan unggulan perguruan tinggi ini diangkat tema penelitian pemanfaatan eceng gondok sebagai bakan pakan ikan gabus Channa striata (Blonch, 1793). Penelitian ini direncanakan akan dilaksanakan selama dua tahun. Adapun Road Map penelitian ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini :
Tepung eceng gondok
Pakan Ternak
Sotolu and Sule (2011).
Menyatakan tepung eceng gondok untuk pakan ikan African catfish
Muchtaromah et al. (2006).
Menyatakan t epung eceng gondok terfermentasi untuk pakan ikan nila merah Orechromis sp PAKAN
Pakan Ikan
Konyeme et al. 2006).
Tepung eceng gondok untuk pakan ikan lele dumbo Clarias sp
Widyastuti (2010). Tepung eceng gondok terfermentasi untuk pakan ikan nila merah Oreochromis sp
8 - Penelitian yang akan dilakukan pada tahap 1 :
- Penelitian yang akan dilakukan pada tahap 2 :
2.2. Kebutuhan protein ikan gabus
Ikan gabus Chana striata (Bloch,1793) sebagai ikan pemakan segala (omnivora) merupakan salah satu jenis asli perairan umum Indonesia yang terdapat di sungai-sungai di p u l a u J a w a , Sumatera dan Kalimantan (Anonim, 1992). Ikan ini termasuk jenis ikan ekonomis penting yang sangat digemari masyarakat setempat maupun negara tetangga seperti Malaysia (Suhenda dan Tahapari, 1997).
Peningkatan permintaan pasar telah merangsang pengembangan budidaya jenis ikan ini baik ukuran benih maupun konsumsi. Dengan berkembangnya budidaya maka faktor makanan harus mendapat perhatian.
Protein merupakan nutrisi utama yang diperlukan ikan untuk pertumbuhan, memperbaiki s e l dan pemeliharaan jaringan tubuh, pembentukan enzim, hormon, dan antibodi dalam tubuh (Millamena et al., 2002). Faktor yang mempengaruhi kebutuhan nutrisi pada ikan antara lain kuantitas dan jenis asam amino essensial, kandungan protein yang dibutuhkan, kandungan energi pakan dan faktor fisiologis ikan (Lovell, 1988). Kombinasi seimbang dari bahan-bahan penyusun serta kecernaan pakan menjadi dasar penyesuaian formulasi pakan terhadap kebutuhan ikan (Cho et al., 1985). Kebutuhan protein setiap spesies ikan berbeda-beda. Pada umumnya ikan
membutuhkan protein sekitar 30-40% dalam pakannya (Jobling, 1994). Suhenda dan Tahapari (1997) melaporkan bahwa pemberian pakan dengan kandungan protein 40%
memberikan pertumbuhan terbaik bagi benih ikan jelawat dengan bobot awal 6,7 gram.
Dilakukan analisis komposisi kimia (proksimat), analisis komposisi asam amino essensial, dan zat anti nutrisi pada tepung eceng gondok yang telah difermentasi
Pembuatan pakan u j i d e n g a n menggunakan tepung fermentasi eceng gondok dan m e l a k u k a n pengujian pakan tersebut kepada ikan
Dilakukan suplementasi asam amino cair pada pakan ikan yang berbahan tepung eceng gondok fermentasi dengan konsentrasi yang berbeda, yaitu 5 ml, 10 ml, dan 15 ml/kilogram pakan
Pakan tersebut diujikan pada ikan
2.3. Sumber protein nabati dalam pakan
Faktor utama yang harus tersedia dalam pembuatan pakan adalah bahan baku pakan. Bahan baku pakan ini biasanya dibagi menjadi dua golongan, yaitu bahan baku yang berasal dari hewan (hewani) dan tumbuhan (nabati) (NRC, 1983).
Seiring dengan peningkatan harga bahan baku yang berasal dari hewan (tepung ikan), maka bahan baku nabati sering digunakan sebagai bahan alternatif. Salah satu bahan alternatif pengganti tepung ikan sebagai sumber protein nabati dalam pakan adalah dengan memanfaatkan tepung bungkil kedelai. Namun substitusi sumber protein nabati tidaklah selalu berhasil akibat rendahnya palatabilitas pakan, l a j u pertumbuhan, dan efisiensi pakan (Burel et al., 1998 dalam Jombling et al., 2002).
Protein nabati mempunyai kekurangan satu atau lebih asam amino essensial sehingga ketersediaannya harus tetap diperhatikan. Hal ini bertujuan agar kandungan asam amino yang diberikan dalam pakan dapat mendekati kebutuhan asam amino essensial ikan (Jobling et al., 2002).
2.4. Tepung eceng gondok
Salah satu bahan baku alternatif sebagai sumber protein nabati pengganti tepung bungkil kedelai dalam pakan ikan adalah tepung eceng gondok (Eichhornia crassipes). Tepung eceng gondok memiliki keuanggulan yaitu dihasilkan dari tanaman eceng gondok yang pertumbuhannya sangat cepat pada kondisi lingkungan yang menguntungkan sehingga ketersediannya dalam jumlah besar relatif terjamin.
Tepung kering eceng gondok mengandung protein kasar 16,67%, serat kasar 29,30%, lemak 2,66%, bahan ekstraks tanpa nitrogen (BETN) 33,45%, kalsium 1,13%, dan fosfor 0,43% (Toha et al., 1992). Walaupun mempunyai kandungan nutrien yang cukup baik, eceng gondok memiliki kelemahan yaitu cukup tingginya kadar serat kasar sehingga menyebabkan daya cerna dari eceng gondok menjadi rendah. Untuk meningkatkan kecernaan dapat dilakukan melalui proses fermentasi (Oboh, 2006 dan Ugwuanyi et al., 2009).
Salah satu cara untuk meningkatkan nilai gizi eceng gondok adalah melalui teknologi fermentasi. Fermentasi merupakan suatu proses perubahan kimiawi pada substrat organik melalui aksi enzim yang dihasilkan oleh mikroorganisme (Fardiaz, 1988). Perubahan kimia oleh aktivitas enzim yang dihasilkan oleh mkrooorganisme tersebut meliputi perubahan molekul kompleks menjadi molekul sederhana dan mudah dicerna (Anah dan Lindajati, 1987). Bahan pakan yang difermentasi mempunyai nilai nutrisi yang baik karena mikroba mampu memecah komponen yang kompleks menjadi zat-zat yang lebih sederhana sehingga mudah dicerna. Fermentasi bertujuan untuk meningkatkan kandungan dan kualitas protein, mempertahankan nilai nutrisi
10 selama penyimpanan dan menghilangkan zat anti nutrisi (Sudaryani, 1994 dalam
Handajani, 2007 ).
2.6.Tepung fermentasi eceng gondok sebagai sumber protein nabati
Tepung fermentasi eceng gondok berpotensi sebagai bahan baku pakan alternatif untuk pakan ikan. Kombinasi 50% tepung fermentasi eceng gondok dan 50%
dedak dalam formulasi pakan dapat menghasilkan pertumbuhan relatif dan efisiensi pemanfaatan pakan terbaik bagi ikan nila merah (Oreochromis sp) (Widyastuti, 2010).
Selanjutnya penggunaan tepung hasil fermentasi eceng gondok sebesar 10% mampu menghasilkan peningkatan bobot tubuh akhir tertinggi pada ikan nila merah
(Oreochromis sp) (Muchtaromah et al. 2006).
BAB 3. METODE PENELITIAN
3.1. Alat dan bahan yang digunakan
Alat yang digunakan selama penelitian berhubungan dengan pembuatan tepung eceng gondok, mesin pembuatan pakan ikan, instrument analisa kimia (proksimat) dan asam amino (Watanabe, 1988) serta kualitas air (Boyd dan Tucker, 1992). Bahan yang digunakan adalah tepung eceng gondok dan tepung fermentasi eceng gondok serta bahan baku penyusun pakan lainnya. Wadah pemeliharaan yang akan digunakan adalah k o l a m t e r p a l b e r u k u r a n 2 x 1 x 1 m3 sebanyak 15 buah (untuk uji pertumbuhan) dan akuarium berukuran 50x40x35 cm3 (untuk uji kecernaan pakan) yang dilengkapi dengan sistem aerasi. Hewan uji yang akan digunakan yaitu benih ikan g a b u s berukuran 8-10 cm. Benih ikan gabus ini berasal dari hatchery Balai Benih Ikan (BBI) Probolinggo, Lampung Timur.
3.2. Waktu dan tempat penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan selama e n a m b u l a n , b e r t e m p a t di L a b o r a t o r i u m B u d i d a y a P e r i k a n a n , Fakultas Pertanian
Universitas Lampung.
3.3. Rancangan Penelitian
Penelitian ini terdiri atas 5 pelakuan dan 3 ulangan yaitu :
Perlakuan A : Pakan berbasis tepung daun eceng gondok/ TDEG (kontrol) Perlakuan B : Suplementasi asam amino cair 5 mm/kg pakan berbasis TDEG Perlakuan C : Suplementasi asam amino cair 10 ml/kg pakan pakan berbasis TDEG Perlakuan D : Suplementasi asam amino cair 15 ml/kg pakan pakan berbasis TDEG Perlakuan E : Suplementasi asam amino cair 20 ml/kg pakan pakan berbasis TDEG
3.4. Pelaksanaan penelitian
Kegiatan penelitian ini direncanakan selama enam bulan dengan t ahap -tahap percobaan yaitu:
1. Pembuatan tepung eceng gondok yang telah difermentasi, analisis
komposisi kimia (proksimat) dan asam amino pada tepung fermentasi eceng gondok.
2. Pembuatan pakan menggunakan tepung fermentasi eceng gondok dan pengujian pemberian pakan tersebut pada ikan gabus (Channa striata).
3. Penambahan asam amino cair pada pakan berbasis tepung daun eceng gondok yang telah difermentasi dengan konsentrasi 5 ml, 10 ml, dan 15 ml per kilogram pakan.
12 4. Pengujian pakan yang telah disuplementasi asam amino cair kepada ikan
gabus Channa striata dan diukur performa pertumbuhan dan kecernaan pakan yang diuji.
Bagan alir rencana penelitian, capaian dan keluaran (output) tahap penelitian sebagai berikut:
1. Pembuatan pakan dari tepung d a u n eceng gondok (TFEG) yang difermentasi dan pengujiannya pada benih ikan Gabus
Tepung eceng gondok
PENELITIAN OUTPUT
Pembuatan pakan dengan persentase tepung fermentasi eceng gondok berbeda (Persentase TFEG akan disusun berdasarkan hasil persentase TEG terbaik pada tahap 2 di
Tahun 1)
Pengujian pakan pada ikan gabus di wadah akuarium
Penyiapan ikan uji:
• Benih ikan gabus Channa striata berukuran 8-10 cm dan diaklimatisasi selama satu minggu
• Pada tebar 20 ekor/wadah
• Perlakuan pakan uji akan diformulasi berdasarkan hasil persentase tepung eceng gondok pada tahap 2 di penelitian tahun 1.
• Pemberian pakan tiga kali sehari secara at satiation.
• Masa pemeliharaan ikan uji selama 2 bulan.
ikan yang terbaik Diketahui efisiensi pakan yang terbaik
Diketahui kelulushidupan terbaik protein terbaik Diperoleh data
tingkat
kualitas air media pemeliharaan T
a a
1 Parameter yang diukur meliputi :
Laju pertumbuhan ikan.
Efisiensi Pakan (EP)
Retensi Protein
Sintasan/Kelulushidupan.
Tingkat Kecernaan Pakan
Kualitas Air (O2, CO2, Amoniak, pH, Suhu).
40%
2. Penambahan Asam amino cair pada pakan dari tepung d a u n eceng gondok (TFEG) yang difermentasi dan pengujian pada benih ikan Gabus
3.4. Proses pembuatan tepung fermentasi eceng gondok
Langkah kerja yang akan dilakukan adalah eceng gondok yang telah tersedia dibersihkan untuk memisahkan bagian akar dan kotoran, bagian yang diambil adalah daun dan batang ukuran kira-kira 5 cm, kemudian dipotong atau dicacah, setelah itu direndam selam 24 jam dengan pergantian air sebanyak 3 kali, kemudian dikukus selama 30 menit. Pengukusan eceng gondok selama 30 menit mampu menurunkan kandungan HCN tanpa mengurangi kandungan protein pada daun eceng gondok tersebut (Rahmawan dan Mansyur, 2008).
Setelah itu didinginkan dan ditiriskan, kemudian difermentasi d e n g an diberi Rhizopus sp. Pemberian jamur Rhizopus sp sebanyak 2% dari berat tepung eceng
Tepung daun eceng gondok (TDEG) Fermentasi
PENELITIAN OUTPUT
Penambahan asam amino cair pada pakan dengan konsentrasi berbeda, yaitu 0 ml, 5 ml, 10 ml, 15 ml, dan 20 ml per kilogram pakan berdasarkan persentase TDEG Fermentasi
terbaik pada Penelitian Tahap 1
Pengujian pakan pada ikan gabus di wadah akuarium
Penyiapan ikan uji:
• Benih ikan gabus Channa striata berukuran 8-10 cm dan diaklimatisasi selama satu minggu
• Pada tebar 20 ekor/wadah
• Perlakuan pakan uji akan diformulasi berdasarkan hasil persentase tepung eceng gondok pada tahap 2 di penelitian tahun 1.
• Pemberian pakan tiga kali sehari secara at satiation.
• Masa pemeliharaan ikan uji selama 2 bulan.
ikan yang terbaik Diketahui efisiensi pakan yang terbaik
Diketahui kelulushidupan terbaik protein terbaik Diperoleh data
tingkat
kualitas air media pemeliharaan T
a a
2 Parameter yang diukur meliputi :
Laju pertumbuhan ikan.
Efisiensi Pakan (EP)
Retensi Protein
Sintasan/Kelulushidupan.
Tingkat Kecernaan Pakan
Kualitas Air (O2, CO2, Amoniak, pH, Suhu).
100%
14 gondok. Setelah bahan diberi jamur Rhizopus sp, b a h a n t e r s e b u t diaduk sehingga m e rata. Kemudian dibungkus dengan plastik yang sudah diberi lobang kecil dan diletakkan pada inkubator dengan suhu 27-30 oCselama 48 jam. Setelah fermentasi berhasil, eceng gondok yang sudah difermentasi akan dikukus selama 10 menit dan kemudian dikeringkan dengan cara di oven pada suhu 60 oC selama 4 jam. D a u n eceng gondok yang sudah kering digiling hingga menjadi tepung halus.
3.5. Proses pembuatan pakan uji
Bahan-bahan pakan yang sudah dipersiapkan selanjutnya ditimbang sesuai dengan komposisi masing-masing pakan. Selanjutnya, bahan-bahan dicampur mulai dari bahan yang jumlahnya paling sedikit hingga jumlahnya yang paling banyak, diaduk hingga merata. Bahan yang sudah tercampur merata dan homogen, ditambahkan air hangat sedikit demi sedikit dan diaduk hingga terbentuk gumpalan. Kemudian, gumpalan tersebut dicetak menggunakan mincer, lalu dijemur. Selanjutnya di oven selama 7 jam pada suhu 60oC. Pakan yang sudah kering, dipotong-potong sesuai ukuran bukaan mulut ikan gabus dan siap diberikan ke ikan gabus yang dipelihara atau disimpan di tempat yang kering.
3.6.Pemeliharaan ikan uji
Sebelum diberi perlakuan, terlebih dahulu benih ikan gabus Channa striata diadaptasikan terhadap lingkungan serta diberikan pakan kontrol selama satu minggu.
Sebelum d i l a k u k a n penimbangan benih ikan gabus dipuasakan selama 24 jam untuk mengetahui bobot awalnya, selanjutnya benih dimasukkan pada wadah percobaan sebanyak 20 ekor/wadah. Ikan uji diberi pakan sebanyak 10% dari bobot biomassa dengan frekuensi pemberian tiga kali sehari yaitu pukul 08.00, 12.00 dan 16.00 WIB. Banyaknya pakan yang diberikan dicatat untuk mengetahui tingkat konsumsi dan efesiensi pakan. Untuk menyesuaikan jumlah pakan yang diberikan, maka setiap dua minggu sekali dilakukan penimbangan ikan uji. Pemeliharaan ikan
dilakukan selama dua bulan.
3.7. Parameter yang diukur
(a) Laju pertumbuhan harian (LPH)
Menurut Huisman (1976), laju pertumbuhan harian diukur dengan menggunakan rumus :
LPH = t
Wt - 1 x 100 % Wo
Dimana: LPH = Laju pertumbuhan bobot harian (%)
Wt = Bobot rata-rata ikan pada akhir penelitian (gram) Wo = Bobot rata-rata ikan pada awal penelitian (gram)
t = Lama penelitian (hari) (b) Efisiensi pakan (EP)
Jumlah pakan yang diberikan selama penelitian serta berat ikan pada awal dan akhir penelitian akan diperoleh informasi tentang efisiensi pakan. Menurut
Watanabe (1988), rumus menghitung efisiensi pakan adalah :
EP = (Bt Bd ) Bo
x100%
F
16 Dimana: EP = Efisiensi Pakan (%)
Bt = Bobot biomassa ikan pada akhir penelitian (gram) Bo = Bobot biomassa ikan pada awal penelitian (gram)
Bd = Bobot biomassa ikan yang mati selama penelitian (gram) F = Jumlah pakan yang dikonsumsi ikan selama penelitian (gram)
(c.) Retensi protein (RP)
Retensi protein merupakan perbandingan antara jumlah protein yang disimpan ikan di dalam tubuh dengan jumlah protein yang diberikan melalui pakan.
Retensi protein dapat dihitung dengan rumus Watanabe (1988) : RP = Pertambahan bobot protein tubuh ( g ram)
x 100%
Bobot total protein yang dikonsumsi(gram)
Dimana : RP = Retensi Protein (%).
(d) Kecernaan pakan (KP) (Watanabe, 1988) KP = 100 – (100 x Ip x Np)
If Nf
Dimana : KP = Kecernaan pakan (%)
Ip = Persentase indikator dalam pakan (%) If = Persentase indikator dalam feses (%) Np = Persentase nutrien dalam pakan (%) Nf = Persentase nutrien dalam feses (%) (e) Tingkat kelulushidupan (SR)
Jumlah ikan yang hidup pada awal dan akhir penelitian memberikan informasi tingkat kelulushidupan ikan. Menurut Effendie (1986), tingkat kelulushidupan dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :
SR Nt 100 % No
Dimana: SR = Tingkat kelulushidupan (%)
Nt = Jumlah ikan yang hidup pada akhir penelitian (ekor) No = Jumlah ikan yang hidup pada awal penelitian (ekor)
(f) Kualitas Air
Parameter kualitas air yang diukur selama penelitian adalah suhu, pH, A l k a l i n i t a s , p a d a t a n t e r s u s p e n s i , oksigen terlarut (DO), dan amoniak (NH3). Pengukuran ini dilakukan di awal, pertengahan dan akhir penelitian.
3.8. Analisis Data
Data l a j u pertumbuhan h a r i a n ikan, nilai efisiensi pakan (EP), retensi protein (RP), dan kelangsungan hidup ikan a k a n disusun dalam tabulasi dan
s e l a n j u t n ya dianalisis dengan Analisis o f Varian (ANOVA), dan apabila terdapat perbedaan yang nyata antar perlakuan, dilanjutkan uji lanjut berdasarkan nilai koefisien keragaman. S e b a g a i d a t a p e n d u k u n g , d ata kualitas air kolam pemeliharaan akan diuraikan secara deskriptif.
18 BAB 4. RENCANA BIAYA DAN JADWAL PENELITIAN
4.1. Rencana Anggaran Biaya
Rencana biaya penelitian disajikan pada Tabel 1 :
Tabel 1. Ringkasan Anggaran Biaya Penelitian Dasar Universitas Lampung 2019
No Komponen Biaya Jumlah Biaya (Rupiah)
1. Biaya Peralatan dan Bahan Rp.20.000.000,- 2. Biaya Akomodasi & Perjalanan Rp.5.000.000,- 3. Alat Tulis Kantor & Bahan Habis Pakai Rp.5.000.000,- 4. Seminar Hasil Penelitian & Publikasi Rp.3.000.000,-
Jumlah Total = Rp.35.000.000,-
Adapun rincian Anggaran Belanja Penelitian dapat dilihat pada tabel berikut :
1. Biaya Alat dan Bahan Penelitian
No Nama Material Justifikasi Pemakaian Volume Satuan Harga Satuan
Jumlah (Rp)
1 Timbangan digital Menimbang ikan 1 unit 800,000 800000
2 Aerator blower Untuk cadangan aerasi air 1 unit 1,200,000 1200000
3 Terpal plastik Untuk membuat kolam ikan 60 meter 20,000 1200000
4 Selang aerasi Untuk pemeliharaan ikan uji 40 meter 4,000 160000
5 Mesin pengering/oven
Untuk mengeringkan pakan ikan dan bahan baku
pakan 1 unit 1,050,000 1050000
6 Bahan baku pakan Bahan untuk pembuatan pakan uji 140 kg 10,000 1400000
7 Eceng gondok Bahan untuk pembuatan tepung eceng gondok 100 kg 4,000 400000
8 Benih Ikan gabus Ikan uji 1,000 ekor 2,000 2000000
9
Bahan analisa proksimat
Data komposisi kimia tepung eceng gondok
terfermentasi 4 sampel 250,000 1000000
10
Bahan analisa proksimat
Data komposisi asam amino tepung eceng
gondok 4 sampel 700,000 2800000
11 proksimat amino tepung eceng gondok terfermentasi 4 sampel 700,000 2800000 12
Bahan analisa proksimat
Data komposisi kimia pakan uji menggunakan
tepung eceng gondok 16 sampel 40,000 640000
13
Bahan analisa
proksimat Data komposisi kimia ikan uji 5 sampel 700,000 3500000
14
Bahan analisa kecernaan pakan dan ikan
Mengukur kecernaan pakan dan ikan 40 gram 10,000 400000
15 Fermentor Untuk fermentasi tepung eceng gondok 1 unit 650,000 650000
SUB TOTAL (Rp) 20000000
Biaya Akomodasi dan Transportasi 1
Transportasi
Seminar Untuk mengikuti seminar nasional 2 kali 1,250,000 2500000
2 Biaya menginap mengikuti seminar nasional 2 orang 2,000,000 4000000
SUB TOTAL (Rp) 6500000
Alat Tulis Kantor (ATK) / Bahan Habis Pakai
1 Kertas HVS A4 Untuk membuat laporan penelitian 4 rim 50,000 200000
2 Tinta printer Untuk mencetak laporan 2 buah 305,000 610000
3 Buku dan bulpen Untuk laporan harian /Logbook penelitian 2 paket 150,000 300000 4
Laporan
pendahuluan Hasil penelitian 7 eksemplar 120,000 840000
5
Penggandaan
laporan akhir Hasil penelitian 7 eksemplar 150,000 1050000
SUB TOTAL (Rp) 3000000 Laporan dan Publikasi Jurnal
1 Penerbitan artikel Biaya penerbitan jurnal
terakreditasi/internasional 2 artikel 2,150,000 4300000
2 Seminar Lokal Diseminasi hasil penelitian 1 kali 1,200,000 1200000
SUB TOTAL (Rp) 5500000
JUMLAH TOTAL (Rp) 35000000
4.2. Jadwal Penelitian
Penelitian Terapan Universitas Lampung ini akan dilaksanakan selama enam bulan, dimana pada penelitian ini terbagi menjadi beberapa sub- kegiatan. Kegiatan penelitian terbagi menjadi dua tahap, dimana setiap tahapan memiliki target yang terukur dan waktu yang tersusun (lihat Tabel 2).
20 Tabel 2. Jadwal Pelaksanaan Penelitian Terapan Universitas Lampung 2021
No Uraian Kegaiatan Penelitian Waktu Penelitian ( bulan ke- )
1 2 3 4 5 6
1. Pengumpulan daun eceng gondok, persiapan benih ikan gabus dan kolam pemeliharaan 2. Analisis proksimat dan asam amino p a d a
tepung daun eceng gondok (TDEG),
pembuatan pakan uji dan analisis proksimat serta asam amino pada pakan uji.
3. Pemeliharaan ikan g a b u s s e b a g a i h e w a n uji, sampling pertumbuhan, tingkat kecernaan pakan, rasio konversi pakan dan retensi protein.
4. Analisis data penelitian, pembuatan laporan penelitian tahap I dan penulisan artikel ilmiah 5. Penambahan asam amino cair pada pakan,
analisis proksimat dan asam amino p a d a p a k a n b e r b a s i s fermentasi d a u n eceng gondok (TDEG Fermentasi).
6. Pemeliharaan ikan g a b u s s e b a g a i h e w a n uji, sampling pertumbuhan, tingkat kecernaan pakan, rasio konversi pakan dan retensi protein.
7. Pengukuran kualitas air kolam, meliputi : suhu, pH, Oksigen terlarut, Amonia, Tingkat Kesadahan, Nitrit dan Nitrat.
8. Analisis proksimat p a d a d a g i n g ikan uji 9. Analisis data, pembuatan laporan a k h i r dan
artikel jurnal.
DAFTAR PUSTAKA
Anah, L. dan Lindajati, T. 1987. Peningkatan kadar protein onggok dengan cara fermentasi media padat. III (4) :335-341 .
Anonim, 1992. Budidaya ikan jelawat dalam keramba apung. Departemen Pertanian. Balai Informasi Pertanian Riau. (Brosur No. 2) Mei 1992.
Boyd, C.E and Tucker, C.S. 1992. Water quality and pond soil analyses for aquaculture. Alabama Agriculture Experiment Station, Auburn University.
Alabama. 181 p.
Cho, C,Y, C.B. Cowey, and Watanabe. 1985. Finfish nutrition in asia:
methodological approaches to research and development. IDRC, Ottawa, 154 pp.
Effendie, M.I., 1986. Metode Biologi Perikanan. Yayasan Dwi Sri. Bogor.112 hal.
Fardiaz S. 1988. Fisiologi Fermentasi. Pusat Antar Universitas, Institut Pertanian Bogor. P. 182.
Handajani, H. 2007. Peningkatan nilai nutrisi nepung Azolla melalui fermentasi.
Naskah Publikasi. Jurusan Perikanan Fakultas Peternakan Perikanan Universitas Muhammadiyah Malang.
Huisman. E. A. 1976. Food Convertion Effecience At Maintenances and Production Level For Carp Cyprinus carpio and Rainbow Trowt. Salmon gaineri
Aquaculture.9:259 – 237.
Jobling, M. 1994. Food intake in fish. Norwegian College of Fishery Science.
University of Tromso 9037 Tromso, Norwegia.
Jobling, M., E. Gomez and J. Diaz. 2002. Feeds types manufacturer and ingredient 31-39 p in food intake fish (Houlihan D, Boujard T, Jobling, M.eds).
Blackwell Science Ltd. Osney Mead. Oxford.
Konyeme J. E; A. O. Sogbesan, dan A. A. A. Ugwumb 2006. Nutritive value and utilization of water hyacinth (Eichhornia crassipes) meal as plant protein supplement in the diet of Clarias gariepinus (Burchell, 1822) (Pisces:
Clariidae) fingerlings. African Scientist. Vol.7 No.3.
Lovell, T. 1988. Nutrition and feeding of fish. Auburn University. Published by Van Nostrand Reinhold, New York. 260 pp.
Mahmilia, F. 2005. Perubahan nilai gizi tepung eceng gondok fermentasi dan pemanfaatannya sebagai ransum ayam pedaging. JITV 10 (2): 90-95.
Marlina, N dan S. Askar, 2001. Nilai gizi eceng gondok dan pemanfaatan sebagai pakan ternak non ruminansia. Temu Teknis Fungsional Non Peneliti.
Millamena, O.M, R. M. Coloso, and F.P. Pascual. 2002. Nutrition in tropical aquaculture. SEAFDEC. Tigbauan Iloilo, Philippines. 221 pp.
Muchtaromah, B., R. Susilowati dan A. Kusumastuti. 2006. Pemanfaatan tepung hasil fermentasi eceng gondok (Eichornia crassipes) sebagai campuran pakan ikan untuk meningkatan berat badan dan daya cerna protein ikan nila merah (Oreochromis sp). Jurnal El-Qudwah No. 10. Lemlitbang UIN Maliki Malang.
22 NRC. 1983. Nutrient requirement of warmwater fishes dan shellfishes (Rev. Ed.).
Acad. Press. Washington DC. 86pp.
Oboh G. 2006. Nutrient enrichment of Cassava peels using a mixed culture of Saccharomyces cerevisae and Lactobacillus spp. Solid media fermentation techniques. Biotechnology 9, 46-48.
Rahmawan, O dan Mansyur. 2008. Detoksifikasi HCN Dari Bungkil Biji Karet (BBK) Melalui Berbagai Perlakuan Fisik. Fakultas Peternakan Universitas Padjajaran.
Jatinangor. 18 hal (tidak diterbitkan).
Sotolu, A.O and S.O. Sule. 2011. Digestibility and performance of water hyacinth meal in the diets of African catfish. Tropical and Subtropical Agroecosystems, 14: 245- 250.
Suhenda, N dan E. Tahapari, 1997. Penentuan kebutuhan kadar protein pakan untuk pertumbuhan dan sintasan benih ikan jelawat (Leptobarbus hoeveni). Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol. III No. 2.
Toha, M.D., A. Latief, F. Adrizal., Manin, dan Nelson. 1992. Substitusi beberapa tingkat tepung eceng gondok (Eichornia crassipes) dalam ransum terhadap performa itik betina ocal. Laporan Penelitian Fakultas Peternakan Universitas Jambi, Jambi.
Ugwuanyi, J.O., B. McNeil. and L.M. Harvey, L.M. 2009. Production of protein- enriched feed using agro-industrial residues as substrates, in: P. Singh nee’
Nigam, A. Pandey (eds.), Biotechnology for Agro-Industrial Residues Utilisation. DOI 10.1007/978-1-4020-9942-7 5. P. 78-92.
Widyastuti, E. 2010. Penambahan tepung eceng gondok (Eichornia crassipes) yang telah difermentasikan ke dalam pakan buatan terhadap pertumbuhan benih ikan nila merah (Oreochromis niloticus). Thesis. Departemen Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Semarang (Abstract) Watanabe. 1988. Fish nutrition and mariculture. Departement of Aquatic Biosciences
Tokyo University of Fisheries. 233 halaman.
Winarno, F. G, dan Fardiaz, S. 1980. Biofermentasi dan biosintesa protein.
Angkasa Bandung.