• Tidak ada hasil yang ditemukan

MARIA CHRISTINA ABIWIYANTI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MARIA CHRISTINA ABIWIYANTI"

Copied!
107
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PENGETAHUAN DAN SIKAP SERTA KARAKTERISTIK DOKTER SPESIALIS EMPAT DASAR

TERHADAP POLA PERESEPAN OBAT DI RUMAH SAKIT SANTA ELISABETH MEDAN

TAHUN 2006

T E S I S

Oleh

MARIA CHRISTINA ABIWIYANTI 027013006

SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATER UTARA

MEDAN 2007

(2)

PENGARUH PENGETAHUAN DAN SIKAP SERTA KARAKTERISTIK DOKTER SPESIALIS EMPAT DASAR

TERHADAP POLA PERESEPAN OBAT DI RUMAH SAKIT SANTA ELISABETH MEDAN

TAHUN 2006

T E S I S

Untuk memperoleh Gelar Magister Kesehatan (M.Kes) Dalam Program Magister Administrasi dan kebijakan Kesehatan

Konsentrasi Administrasi Rumah Sakit

Pada Sekolah PascasarjanaUniversitas Sumatera Utara

OLEH

MARIA CHRISTINA ABIWIYANTI 027013006/AKK

SEKOLAH PASCASARJANA

(3)

Judul Tesis

:

PENGARUH PENGETAHUAN DAN SIKAP SERTA KARAKTERISTIK DOKTER SPESIALIS EMPAT DASAR TERHADAP POLA PERESEPAN OBAT DI RUMAH SAKIT SANTA ELISABETH MEDAN TAHUN 2006

Nama mahasiswa : Maria Christina Abiwiyanti Nomor Pokok : 027013006

Program Magister : Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Konsentrasi : Administrasi Rumah Sakit

Menyetujui Komisi Pembimbing

(Prof.Dr. Sumadio, HS, Apt.) Ketua

(Dra. Elly Zahara, Apt, MARS) (dr. Fauzi, SKM) Anggota Anggota

Ketua Program Studi Direktur

(DR.Drs. Surya Utama, MS) (Prof.Dr.Ir. T. Chirun Nisa B.,MSc)

Tanggal Lulus : 02 Oktober 2007

(4)

Telah diuji

Pada tanggal : 02 Oktober 2007

Panitia Penguji Tesis

Ketua : Prof. Dr. Sumadio, HS. Apt.

Anggota : Dra. Elly Zahara, Apt, MARS Dr. Fauzi, SKM

Prof. dr. Rozaimah Z. Hamid, Ph.D Dr. Linda T. Maas, MPH

(5)

PERNYATAAN

PENGARUH PENGETAHUAN DAN SIKAP SERTA KARAKTERISTIK DOKTER SPESIALIS EMPAT

DASAR TERHADAP POLA PERESEPAN OBAT DI RUMAH SAKIT SANTA ELISABETH MEDAN

TAHUN 2006

T E S I S

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka

Medan, Oktober 2007

(Maria Christina Abiwiyanti)

(6)

ABSTRAK

Sistem pelayanan kesehatan dikatakan baik bila struktur dan fungsi pelayanan kesehatan dapat menghasilkan pelayanan kesehatan yang memenuhi tigabelas persyaratan yakni tersedia, adil/merata, tercapai, terjangkau, dapat diterima, wajar, efektif, efisien, menyeluruh, terpadu, berkelanjutan, bermutu serta berkesinambungan. Pelayanan rumah sakit menitikberatkan pada upaya yang bersifat penyembuhan dan pemulihan pasien melalui pelayanan salah satunya adalah pelayanan obat dan farmasi.

Mengingat terbatasnya sumber daya kesehatan terutama obat-obatan serta beragamnya obat yang beredar di pasaran serta banyaknya dokter spesialis yang bekerja di rumah sakit mendorong perlunya diterapkan standar terapi dan penerbitan formularium rumah sakit. Pemakaian obat non generik dibandingkan obat generik di Rumah Sakit Santa Elisabeth selama tahun 2005 sangat tinggi yakni 93.743 dibanding 23.433. Dalam upaya untuk melihat rasionalisasi pemakaian obat di rumah sakit, dilakukanlah penelitian bagaimana pengaruh pengetahuan dan sikap serta karakteristik dokter spesialis empat dasar terhadap pola persespan obat rawat inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth.

Metode penelitian dalah deskriptik analitik. Sampel penelitian adalah dokter spesialis empat dasar dengan jumlah sampel sebesar 35 orang. Waktu penelitian dimulai dari bulan Oktober 2006 hingga Januari 2007. Kepada responden dibagikan kuesioner yang terdiri dari 2 bagian yakti bagian pengetahuan dan sikap. Data sekunder diperoleh dari resep obat yang ditulis oleh dokter spesialis empat dasar selama 1 bulan.

Hasiil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh tingkat pengetahuan dan sikap dokter spesialis empat dasar terhadap pola peresepan obat (p = 0,475 dan p

= 0,277) tetapi ada pengaruh karakteristik dokter yakni jenis spesialisi dokter terhadap pola peresepan obat (p = 0,016)

Kata kunci : pengetahuan, sikap, karakteristik dokter, standar terapi, pengobatan rasional, formularium

(7)

ABSTRACT

A health care system is considered good if its structure and function can result a health services that meet thirteen indicators i.e. available, fair/adequate, achievable, affordable, acceptable, reasonable, effective, efficient, comprehensive, integrated, continuity, quality and sustainable. Services provided by hospital focus on cure and health recovery through a number of methods including drugs and pharmacy.

Due to limited number of health resources, especially the drugs and the variety of drugs marketed and a great number of specialists working in the hospitals generate the need to set a standard of therapy and the issuance of hospital formulary.

In 2005, it was noted that at Santa Elisabeth Hospital, the administration of non generic medicines were much higher compared to that of generic medicines (with the ratio of 93,743 to 23,433). The present study aims to investigate the use of prescribed drugs in the hospitals by undertaking research on the influences of four basic specialists’ knowledge and attitude on prescribing pattern for the in-patient patients hospitalized in this hospital.

The study was undertaken from October 2006 to January 2007 using descriptive analysis method involving thirty five respondents of four basic specialists medical practitioners. The respondents were given questionnaire consisting two aspects i.e. knowledge and attitude. Secondary data were obtained using the prescriptions they issued in a month period.

It was found that the level of knowledge and attitude did not have significant influences on prescribing pattern (p = 0.475 dan p = 0.277), while there was a significant influence of medical specialist on prescribing pattern (0.016).

Keywords : knowledge, attitude, standard of therapy, rational treatment, formulary

(8)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat dan kuasaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis dengan judul “Pengaruh Pengetahuan Dan Sikap Serta Karakteristik Dokter Spesialis Empat Dasar Terhadap Pola Peresepan Obat Di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2006”

Proses penulisan tesis ini tidak terlepas dari dukungan dan bantuan dari berbagai pihak, untuk itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih yang setulusnya kepada :

1. Ibu Prof. Dr. Ir. T. Chairun Nisa B., MSc., selaku Direktur sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak dr. Drs. Surya Utama, MS., selaku Ketua Program Studi Pasca Sarjana Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara Medan, beserta staf yang telah membantu dalam penulisan ini.

3. Bapak Prof.Dr. Sumadio, HS, Apt., selaku Ketua Komisi Pembimbing yang telah membimbing dan memberikan banyak masukan dan bahan-bahan pustaka kepada penulis dalam penyelesaian tesis.

4. Ibu Dra. Elly Zahara, Apt, MARS sebagai pembimbing I yang telah membantu penulis dengan masukan dan bahan-bahan pustaka sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini.

5. Bapak dr. Fauzi, SKM sebagai pembimbing II yang telah memberikan masukan dan membantu mengarahkan penulis dalam penyusunan tesis ini.

6. Ibu Prof.dr. Rozaimah Z. Hamid, PhD. Dan Ibu dr. Linda T. Maas, MPH.

selaku pembanding dan penguji yang juga telah memberikan masukan yang sangat berharga untuk penyempurnaan tesis ini.

7. Sr. M. Petra Siringo-ringo, FSE. Selaku ketua dewan Pimpinan Umum Suster Fransiskanes Santa Elisabeth, yang telah memberik kesempatan kepada

(9)

8. Dr. Bungaran Sihombing, SpU., selaku Direktur Rumah Sakit Santa Elisabeth yang telah memberikan motivasi kepada penulis untuk menyelesaikan studi di Program Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.

9. Staf Direksi RS Santa Elisabeth yang telah membantu penulis dalam proses penelitian di lapangan.

10. Anak-anak tersayang, Brigitta Maria dan Constantia Maria yang senantiasa memberikan inspirasi dan mengiringi dengan doa dalam penulisan tesis ini.

11. Ny. Katarina hardjito, ibunda tercinta dan adik-adik Christoforus Antonius Abicahyono dan Alfons Abikaryono yang selalu mendorong dan mengiringi doa dalam penulisan tesis ini

12. Magdalena, Martha, Bima dan Rudi yang telah membantu penulis dalam penyelesaian tesis ini.

13. Rekan-rekan mahasiswa Angkatan 2002 Program Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara serta semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah membantu dalam proded penyelesaian studi.

Medan, Oktober 2007

Maria Christina Abiwiyanti

(10)

RIWAYAT HIDUP

Nama : Maria Christina Abiwiyanti

Tempat/ Tanggal Lahir : Medan, 11 Februari 1966

Alamat : Jl. Brigjend Katamso Kompleks Rispa No. 1 Kampung Baru Medan

Nama Anak : 1. Brigitta Maria Hutajulu 2. Constantia Maria Hutajulu

Riwayat Pendidikan : 1. SD St. Yoseph Medan tamat tahun 1978 2. SMP Budi Murni I Medan tamat tahun 1982 3. SMA RK St Thomas I Medan tamat tahun

1985

4. Fakultas Kedokteran Universitas

Sumatera Utara Medan tanat tahun 1993 Riwayat Pekerjaan 1. 1993 – 1996, Dokter Pegawat Tidak Tetap

(PTT) di PUSKESMAS Hamparan Perak Kecamatan Hamparan Perak Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara

2. 1993 – 1998, Dokter Jaga Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan

3. 1998 – 2002, Kepala Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan 4. 2002 – 2004, Kepala Bagian Penunjang

Medis Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan 5. 2004 - Kepala Bagian Sekretariat Rumah

(11)

DAFTAR ISI

Hal

ABSTRAK...………...…... i

ABSTRACT.………...……….... ii

KATA PENGANTAR... iii

RIWAYAT HIDUP... v

DAFTAR ISI... vi

DAFTAR TABEL... viii

DAFTAR GAMBAR... ix

DAFTAR LAMPIRAN... x

BAB 1 PENDAHULUAN... 1.1. Latar belakang ... 1.2. Perumusan masalah... 1.3. Tujuan penelitian... 1.4.Hipotesis... 1.5. Manfaat penelitian... 1 1 8 9 10 10 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 11

2.1. Rumah Sakit...

2.1.1. Fungsi Rumah Sakit...

2.1.2. Klasifikasi Rumah Sakit...

2.2. Farmasi Rumah Sakit...

2.2.1. Tujuan Pelayanan Farmasi Rumah Sakit...

11 11 13 14 15 2.3. Penggunaan Obat yang Rasional...

2.3.1. Indikator Penggunaan Obat yang Rasional...

2.4. Farmakoekonomi...

2.5. Perilaku Dokter...

2.5.1.Pengetahuan Dokter...

2.5.2.Sikap Dokter...

2.5.3.Tingkatan Sikap...

2.5.4.Praktek atau Tindakan Sikap...

2.5.5.Motivasi...

2.6. Landasan Teori...

2.7. Kerangka Konsep...

16 17 19 20 20 22 23 24 25 27 29 BAB 3 METODE PENELITIAN ...…….

3.1. Jenis Penelitian...

3.2.Tempat dan Waktu Penelitian...

3.2.1.Tempat Penelitian...

30 30 30 30

(12)

3.2.2.Waktu Penelitian...

3.3. Populasi dan Sampel ...

3.3.1. Populasi...

3.3.2. Sampel...

3.4. Definisi Operasional...

3.4.1. Variabel independen...

3.4.2. Variabel dependen...

3.5. Metode Pengukuran...

3.5.1. Variabel independen...

3.5.2. Variabel dependen...

3.6. Metode Pengumpulan Data ...

3.7. Metode analisa Data ...

30 31 31 31 32 32 33 33 33 35 37 37 BAB 4 HASIL PENELITIAN...

4.1. Deskripsi Lokasi Penelitian ...

4.1.1. Gambaran Umum RS Santa Elisabeth...

4.1.2. Distribusi Tenaga Dokter di RS Santa Elisabeth...

4.1.3. Gambaran Peresepan Obat di RS Santa Elisabeth...

4.2. Hasil Analisa ...

4.2.1. Analisa Univariat...

4.2.2. Analisa Bivariat...

39 39 39 39 41 42 42 48 BAB 5 PEMBAHASAN ...

5.1. Pengaruh Pengetahuan Dokter Spesialis Empat Dasar Terhadap Pola Peresepan Obat...

5.2. Pengaruh Sikap Dokter Spesialis Empat Dasar Terhadap Pola Peresepan Obat...

5.3. Pengaruh Umur Dokter Spesialis Empat Dasar Terhadap Pola Peresepan Obat...

5.4. Pengaruh Jenis Kelamin Dokter Spesialis Empat Dasar Terhadap Pola Peresepan Obat...

5.5. Pengaruh Jenis Spesialis Dokter Spesialis Empat Dasar Terhadap Pola Peresepan Obat...

5.6. Pengaruh Lama Kerja Dokter Spesialis Empat Dasar Terhadap Pola Peresepan Obat...

56

56 59 62 64 65 67 BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN...

6.1. Kesimpulan...

69 69

(13)

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Hal

4.1. Distribusi Tenaga Dokter di RS Santa Elisabeth Medan... 40 4.2. Distribusi Peresepan Obat Pada Pasien Rawat Inap di RS Santa

Elisabeth tahun 2004 – 2006 ...

41

4.3. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden di RS Santa Elisabeth tahun 2006...

43

4.4. Distribusi Frekuensi Pengetahuan Dokter Spesialis Empat Dasar Tentang Konsep Dasar Formularium Rumah Sakit, Standar Terapi dan Pemberian Obat yang Rasional...

44

4.5. Distribusi Frekuensi Sikap Dokter Spesialis Empat Dasar Tentang Konsep Dasar Formularium Rumah Sakit, Standar Terapi dan Pemberian Obat yang Rasional...

45

4.6. Distribusi Frekuensi Pola Peresepan Obat yang Ditulis oleh Dokter Spesialis Empat Dasar...

46

4.7. Distribusi Frekuensi Sumber Informasi Dokter Spesialis Empat Dasar Tentang Obat Baru...

47

4.8. Distribusi Frekuensi Simber Informasi Dokter Spesialis Empat Dasar tentang Indikasi, Kontra Indikasi, Efek Samping dan Interaksi Obat..

47

4.9. Distribusi Proposi Berdasarkan Pengetahuan Dokter Spesialis Empat Dasar terhadap Pola Peresepan Obat di RS Santa Elisabeth...

49

4.10. Distribusi Proposi Berdasarkan Sikap Dokter Spesialis Empat Dasar Terhadap Pola Peresepan Obat di RS Santa Elisabeth...

50

4.11. Distribusi Proposisi Berdasarkan Umur Dokter Spesialis Empat Dasar terhadap Pola Peresepan Obat di RS Santa Elisabeth...

51

4.12. Distribusi Proposisi Berdasarkan Jenis Kelamin Dokter Spesialis Empat Dasar terhadap Pola Peresepan Obat di RS Santa Elisabeth...

52

4.13. Distribusi Proporsi Berdasarkan Jenis Spesialisasi Dokter terhadap Pola Peresepan Obat di RS Santa Elisabeth...

53 4.14. Distribusi Proporsi Berdasarkan Lama Kerja Dokter Spesialis Empat

Dasar terhadap Pola Peresepan Obat di RS Santa Elisabeth...

54

(14)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Hal

2.1. Diagram Model Pengambilan Keputusan

Klinis...

28

2.2. Kerangka

Konsep...

29

(15)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Judul Hal

1. Formulir Kuesioner... 76 2. Analisa Univariat dan Bivariat... 82

(16)

ABSTRAK

Sistem pelayanan kesehatan dikatakan baik bila struktur dan fungsi pelayanan kesehatan dapat menghasilkan pelayanan kesehatan yang memenuhi tigabelas persyaratan yakni tersedia, adil/merata, tercapai, terjangkau, dapat diterima, wajar, efektif, efisien, menyeluruh, terpadu, berkelanjutan, bermutu serta berkesinambungan. Pelayanan rumah sakit menitikberatkan pada upaya yang bersifat penyembuhan dan pemulihan pasien melalui pelayanan salah satunya adalah pelayanan obat dan farmasi.

Mengingat terbatasnya sumber daya kesehatan terutama obat-obatan serta beragamnya obat yang beredar di pasaran serta banyaknya dokter spesialis yang bekerja di rumah sakit mendorong perlunya diterapkan standar terapi dan penerbitan formularium rumah sakit. Pemakaian obat non generik dibandingkan obat generik di Rumah Sakit Santa Elisabeth selama tahun 2005 sangat tinggi yakni 93.743 dibanding 23.433. Dalam upaya untuk melihat rasionalisasi pemakaian obat di rumah sakit, dilakukanlah penelitian bagaimana pengaruh pengetahuan dan sikap serta karakteristik dokter spesialis empat dasar terhadap pola persespan obat rawat inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth.

Metode penelitian dalah deskriptik analitik. Sampel penelitian adalah dokter spesialis empat dasar dengan jumlah sampel sebesar 35 orang. Waktu penelitian dimulai dari bulan Oktober 2006 hingga Januari 2007. Kepada responden dibagikan kuesioner yang terdiri dari 2 bagian yakti bagian pengetahuan dan sikap. Data sekunder diperoleh dari resep obat yang ditulis oleh dokter spesialis empat dasar selama 1 bulan.

Hasiil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh tingkat pengetahuan dan sikap dokter spesialis empat dasar terhadap pola peresepan obat (p = 0,475 dan p

= 0,277) tetapi ada pengaruh karakteristik dokter yakni jenis spesialisi dokter terhadap pola peresepan obat (p = 0,016)

Kata kunci : pengetahuan, sikap, karakteristik dokter, standar terapi, pengobatan rasional, formularium

(17)

ABSTRACT

A health care system is considered good if its structure and function can result a health services that meet thirteen indicators i.e. available, fair/adequate, achievable, affordable, acceptable, reasonable, effective, efficient, comprehensive, integrated, continuity, quality and sustainable. Services provided by hospital focus on cure and health recovery through a number of methods including drugs and pharmacy.

Due to limited number of health resources, especially the drugs and the variety of drugs marketed and a great number of specialists working in the hospitals generate the need to set a standard of therapy and the issuance of hospital formulary.

In 2005, it was noted that at Santa Elisabeth Hospital, the administration of non generic medicines were much higher compared to that of generic medicines (with the ratio of 93,743 to 23,433). The present study aims to investigate the use of prescribed drugs in the hospitals by undertaking research on the influences of four basic specialists’ knowledge and attitude on prescribing pattern for the in-patient patients hospitalized in this hospital.

The study was undertaken from October 2006 to January 2007 using descriptive analysis method involving thirty five respondents of four basic specialists medical practitioners. The respondents were given questionnaire consisting two aspects i.e. knowledge and attitude. Secondary data were obtained using the prescriptions they issued in a month period.

It was found that the level of knowledge and attitude did not have significant influences on prescribing pattern (p = 0.475 dan p = 0.277), while there was a significant influence of medical specialist on prescribing pattern (0.016).

Keywords : knowledge, attitude, standard of therapy, rational treatment, formulary

(18)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kesehatan merupakan hak azasi manusia, dimana setiap orang berhak untuk hidup layak, baik dalam kesehatan pribadi maupun keluarganya, termasuk didalamnya hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang diperlukan. Pelayanan kesehatan adalah setiap upaya yang diselenggarakan secara sendiri atau bersama- sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan, keluarga, kelompok dan atau masyarakat. Upaya kesehatan diselenggarakan dengan pendekatan pemeliharaan, peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif) dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif), yang dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan.

Suatu sistem pelayanan kesehatan dikatakan baik, bila struktur dan fungsi pelayanan kesehatan dapat menghasilkan pelayanan kesehatan yang memenuhi tiga belas persyaratan, yaitu tersedia (available), adil/merata (equity), tercapai (accessible), terjangkau (affordable), dapat diterima (acceptable), wajar (appropriate), efektif (effective), efisien (efficient), menyeluruh (comprehensive), terpadu (integrated), berkelanjutan (continues), bermutu (quality) serta

(19)

Sebagaimana yang tercantum dalam pokok-pokok rencana pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010, yang menggariskan arah pembangunan kesehatan yang mengedepankan paradigma sehat, maka tujuan pembangunan kesehatan di Indonesia antara lain meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat dan memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan bermutu secara adil dan merata (Depkes, 2004). Rumah sakit sebagai bagian integral dari keseluruhan sistem pelayanan kesehatan yang dikembangkan melalui rencana pembangunan kesehatan, tidak dapat dilepaskan dari kebijaksanaan pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010. Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No.

983/Menkes/SK/XI/1992 tentang Pedoman Organisasi Rumah Sakit Umum, menyebutkan bahwa rumah sakit umum adalah rumah sakit yang memberikan pelayanan kesehatan yang bersifat dasar, spesialistik dan subspesialistik.

Merujuk pada Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No.

983/Menkes/SK/XI/1992, pelayanan spesialistik dasar adalah pelayanan 4 (empat) dasar spesialistik yakni spesialis bedah, anak, penyakit dalam dan kebidanan. Hal tersebut juga tercantum pada Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No.

806b/Menkes/SK/ XII/1987 tentang klasifikasi rumah sakit swasta, yang menyatakan bahwa rumah sakit tipe Madya adalah rumah sakit yang memberikan pelayanan umum dan spesialistik 4 (empat) dasar.

Pelayanan rumah sakit menitik beratkan pada upaya yang bersifat penyembuhan dan pemulihan bagi penderita melalui pelayanan obat dan farmasi,

(20)

sehingga obat merupakan unsur penting dalam sistem pelayanan kesehatan.

Mengingat terbatasnya sumber daya kesehatan terutama obat-obatan maka pengobatan yang rasional merupakan salah satu upaya yang amat penting dalam rangka pencapaian tujuan pembangunan di bidang kesehatan. Pengobatan yang rasional akan membantu pemerataan distribusi sumber daya kesehatan, khususnya obat-obatan (Sastramihardja, 1997).

Menurut World Health Organization (WHO, 1993), pengobatan yang rasional adalah penggunaan obat yang sesuai dengan kebutuhan klinis pasien, dengan dosis yang sesuai dengan kebutuhannya, untuk periode waktu yang sesuai dan dengan harga yang terjangkau. Pemakaian obat yang tidak rasional memberikan dampak yang serius terhadap kesehatan masyarakat, antara lain reaksi obat, kegagalan terapi, resistensi antibiotik, ketergantungan obat dan resiko infeksi akibat penggunaan injeksi yang tidak pada tempatnya (Grand dkk., 1999). Ketidakrasionalan penulisan resep mempunyai banyak sebab dan sifatnya kompleks. Quick (1991), mengidentifikasi faktor-faktor penyebab ketidakrasional penggunaan obat antara lain faktor pembuat resep, faktor pasien/masyarakat, faktor perencanaan dan pengelolaan obat, faktor kebijaksanaan obat dan sistem pelayanan kesehatan, faktor praktek pengobatan oleh tenaga non-medik serta faktor-faktor lain, seperti banyaknya informasi dan iklan obat, persaingan praktek atau kebiasaan memberikan obat menurut keinginan pasien.

(21)

Masalah ketidakrasionalan dan ketidaktepatan penggunaan obat tidak saja merupakan masalah lokal di Indonesia tetapi sudah merupakan masalah global yang serius dalam pelayanan kesehatan. Menurut Arustiyono (1999), pola peresepan obat di pusat pelayanan kesehatan di Indonesia menunjukkan masih tingginya derajat pemberian polifarmasi (3,5 jenis obat per penderita), pemakaian antibiotik yang berlebihan (43%) dan penyalahgunaan dan pemakaian obat suntik yang berlebihan (10–80%). Data dari WHO (1993) menunjukkan bahwa di Bangladesh derajat polifarmasi adalah 1,4 jenis obat per penderita dan di Nigeria sebesar 3,8 jenis obat per penderita. Sementara pemakaian antibiotik di Bangladesh adalah sebesar 25% dan di Sudan sebesar 63%. Pemakaian obat suntik di Zimbabwe adalah sebesar 11% dan di Sudan sebesar 36%.

Menurut Grand dkk., (1999), pemakaian obat yang tidak rasional memberikan dampak yang serius terhadap kesehatan masyarakat, antara lain reaksi obat, kegagalan terapi, resistensi antibiotik, ketergantungan obat dan resiko infeksi akibat penggunaan injeksi yang tidak pada tempatnya. Penelitian Supardi (2003) di Rumah Sakit Umum Kabupaten K dan Kabupaten B menunjukkan bahwa penulisan resep yang tidak sesuai formularium dan standar pengobatan menyebabkan dampak adanya selisih biaya pengobatan yang harus dikeluarkan pasien rawat inap sebesar Rp.

81.671,-/hari untuk TBC paru dan untuk penyakit hipertensi sebesar Rp. 71.417,- /hari. Sedangkan untuk penyakit diabetes sebesar Rp. 86.481,-/hari dan demam tifoid sebesar Rp. 86.481,-/hari.

(22)

. Untuk memperbaiki masalah ketidakrasionalan pemberian obat di fasilitas- fasilitas kesehatan yang terjadi hampir di seluruh dunia, pada tahun 1985 di Nairobi telah diadakan konferensi mengenai penggunaan obat yang rasional dan kemudian pada tahun 1989 telah dibentuk jaringan kerjasama internasional dalam bentuk International Network for the Rational Use of Drugs (INRUD) dan sejak saat itu telah banyak dilakukan usaha-usaha untuk memperbaiki pola pemakaian obat (Almasdottir dan Traulsen, 2005).

Langkah awal menuju kerasionalan pemakaian obat adalah dengan membatasi diri terhadap pilihan obat yang demikian banyaknya yakni dengan menetapkan Daftar Obat Esensial Nasional. Strategi ini berhasil menekan biaya pengobatan dengan mencapai tujuan efisiensi dan cakupan yang lebih luas. Seperti beberapa negara lainnya, Indonesia juga telah menetapkan kebijakan yang berkaitan dengan pemakaian obat yang rasional dengan menetapkan Daftar Obat Esensial Nasional 2002 sesuai Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1375A/Menkes/SK/XI/2002 tentang Daftar Obat Esensial Nasional 2002.

Rumah sakit sebagai bagian integral dari pelayanan kesehatan juga tidak terlepas dari sasaran pemerintah untuk meningkatkan pemakaian obat yang rasional.

Salah satu adalah dengan mengembangkan suatu daftar obat terbatas yang lebih luas seperti formularium rumah sakit, Daftar Plafon Harga Obat (DPHO) yang digunakan Asuransi Kesehatan (ASKES) dalam pengobatan penderita yang tergabung dalam

(23)

Formularium rumah sakit merupakan daftar obat baku yang dipakai oleh rumah sakit yang dipilih secara rasional dan dilengkapi penjelasan, sehingga merupakan informasi obat yang lengkap untuk pelayanan medik rumah sakit (Permenkes 085/Menkes/Per/I/1989).

Formularium Rumah Sakit merupakan bentuk realisasi dari kebijakan obat nasional tentang Daftar Obat Esensial atau dengan perkataan lain formularium rumah sakit merupakan Daftar Obat Esensial Rumah Sakit dan digunakan sebagai pedoman dalam pemakaian obat di suatu rumah sakit (Sastramihardja, 1997).

Dasar utama penyusunan formularium rumah sakit adalah Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) sebagaimana yang ditetapkan dalam Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 477/Menkes/SK/XI/1983 dan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 085/Menkes/Per/I/1989 tentang kewajiban menuliskan resep dan atau menggunakan obat generik di fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah.

Penyusunan formularium di rumah sakit menjadi penting mengingat beragamnya obat yang beredar di pasaran serta banyaknya dokter spesialis yang ada di rumah sakit dan merupakan suatu cara untuk tercapainya pemakaian obat yang rasional di rumah sakit (Almasdottir dan Traulsen, 2005). Dari segi manajemen, formularium rumah sakit akan memberikan manfaat efisiensi dana dalam pengadaan obat dengan mengurangi biaya penyediaan dan penyimpanan obat yang tidak sering digunakan. Sementara dari segi pelayanan medik, formularium akan menghasilkan

(24)

pengobatan yang lebih efektif, aman dengan harga yang terjangkau (Darmansyah, 1988).

Berdasarkan Profil Rumah Sakit Santa Elisabeth diperoleh data bahwa penggunaan obat non generik selama 4 tahun terakhir (2002 – 2004) cukup tinggi dibanding pemakaian obat generik. Pada tahun 2002 pemakaian obat non generik adalah sebesar 73,64% dan obat generik sebesar 26,36% dari keseluruhan resep yang dilayani di Instalasi Farmasi. Pada tahun 2004 pemakaian obat non generik adalah sebesar 76,54% sementara pemakaian obat generik adalah sebesar 23,46% dari resep yang dilayani. Menurut Ervinna (2004), dari penelitian pada 4500 pasien yang dirawat inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth, sebanyak 71,82% menggunakan antibiotik, dengan jumlah resep 5.411 lembar yang terdiri dari 2112 lembar resep antibiotik non injeksi dengan jumlah antibiotika 22.690 dosis dan 3299 lembar resep antibiotika injeksi dengan jumlah antibiotik 18.228 dosis serta antibiotika diluar Formularium sebesar 0,86% (352 dosis).

Rumah Sakit Santa Elisabeth sebagai rumah sakit swasta kelas Madya yang telah terakreditasi, telah membentuk dan mengangkat Sub Komite Farmasi Terapi sesuai Surat Keputusan Direksi Rumah Sakit Santa Elisabeth No. 043/Dir- RSE/SK/II/2005, juga telah memiliki formularium yang diberlakukan dengan Surat Keputusan Direksi Rumah Sakit Santa Elisabeth No. 370/Dir/SK/VIII/1999.

Komite Farmasi dan Terapi Rumah Sakit Santa Elisabeth yang telah dibentuk

(25)

menunjukkan kinerja yang maksimal dalam mengatur penggunaan obat di Rumah Sakit Santa Elisabeth. Formularium yang sudah disosialisasikan tidak pernah dievaluasi, bahkan pemesanan obat di luar obat formularium kerap terjadi.

Dari survey pendahuluan di Rumah Sakit Santa Elisabeth diperoleh gambaran pola peresepan yang ditulis oleh dokter spesialis bedah di mana dari 93 pasien bedah rata-rata mendapat obat sebanyak 9,6 macam obat, dengan persentase pasien yang mendapat obat generik sebesar 4,59%, persentase pasien yang mendapat obat antibiotik sebesar 89,3%, persentase pasien yang mendapat injeksi sebesar 92,4% dan persentase obat formularium sebesar 74%.

Mengingat bahwa perangkat standar terapi dan formularium telah tersedia tetapi penulisan obat diluar formularium masih tinggi, serta tingginya pemakaian obat generik dan pemakaian antibiotik di Rumah Sakit Santa Elisabeth, maka penulis merasa perlu meneliti tentang pengaruh karakteristik dokter serta pengetahuan dan sikap dokter spesialis pada empat bidang spesialisasi dasar terhadap pola peresepan obat di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan.

1.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut di atas dan berdasarkan fakta di lapangan bahwa banyak dijumpai kendala dalam menjalankan kebijakan rumah sakit berkaitan dengan pemakaian obat yang rasional serta formularium yang telah diterbitkan tidak sepenuhnya dipatuhi oleh para dokter, maka rumusan permasalahan penelitian ini adalah bagaimana pengaruh karakteristik dokter serta

(26)

pengetahuan dan sikap dokter tentang formularium dan standar terapi terhadap pola peresepan obat tersebut di Rumah Sakit Santa Elisabeth.

1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum

Untuk menganalisis pengaruh pengetahuan dan sikap dokter tentang formularium dan standar terapi serta pengaruh karakteristik individu dokter terhadap pola peresepan obat di Rumah Sakit Santa Elisabeth.

1.3.2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui gambaran pola peresepan obat di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan.

b. Untuk menganalisis pengaruh pengetahuan dokter tentang formularium dan standar terapi serta pengaruh karakteristik individu dokter terhadap pola peresepan obat di Rumah Sakit Santa Elisabeth.

c. Untuk menganalisis pengaruh sikap dokter tentang formularium dan standar terapi serta pengaruh karakteristik individu dokter terhadap pola peresepan obat di Rumah Sakit Santa Elisabeth.

d. Untuk menganalisis pengaruh umur dokter terhadap pola peresepan obat di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan.

(27)

e. Untuk menganalisis pengaruh jenis kelamin dokter terhadap pola peresepan obat di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan.

f. Untuk menganalisis pengaruh spesialisasi dokter terhadap pola peresepan obat di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan.

g. Untuk menganalisis pengaruh masa kerja dokter terhadap pola peresepan obat di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan.

1.4. Hipotesis

“Ada pengaruh pengetahuan dan sikap dokter tentang Formularium Rumah Sakit dan Standar Terapi serta karakteristik individu dokter terhadap pola peresepan obat di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan”

1.5. Manfaat Penelitian

1. Bagi Rumah Sakit St Elisabeth

Sebagai bahan masukan dan informasi tentang perilaku dokter dan pola peresepan obat di Rumah Sakit Santa Elisabeth sehingga dapat dilakukan intervensi jika diperlukan dalam rangka memperbaiki mutu peresepan obat dan meningkatkan pemakaian obat yang rasional di rumah sakit.

2. Bagi Institusi Pendidikan

Sebagai kontribusi bagi pengembangan ilmu dan penelitian yang berkelanjutan.

(28)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Rumah Sakit

Rumah sakit adalah bagian integral dari keseluruhan sistem pelayanan kesehatan. Sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No.

983/Menkes/SK/XI/1992 tentang Pedoman Organisasi Rumah Sakit Umum, terdapat beberapa ketentuan umum tentang rumah sakit, yakni:

a. Rumah Sakit Umum adalah rumah sakit yang memberikan pelayanan kesehatan yang bersifat dasar, spesialistik dan subspesialistik

b. Rumah Sakit Pendidikan adalah rumah sakit umum pemerintah kesehatan A dan B yang dipergunakan sebagai tempat pendidikan tenaga medis.

c. Rumah Sakit Swadana adalah rumah sakit milik pemerintah yang diberikan wewenang untuk menggunakan penerimaan fungsionalnya secara langsung.

d. Rumah Sakit Umum Swasta adalah rumah sakit umum yang diselenggarakan oleh pihak swasta.

2.1.1. Fungsi Rumah Sakit

Menurut Milton Roemer dan Friedman dalam Aditama (2004), menyatakan bahwa rumah sakit setidaknya punya lima fungsi, yaitu:

(29)

a. Harus ada pelayanan rawat inap dengan fasilitas diagnostik dan terapeutiknya serta memiliki berbagai jenis spesialisasi, baik bedah maupun non bedah.

b. Rumah Sakit harus memiliki pelayanan rawat jalan.

c. Rumah Sakit juga memiliki tugas untuk melakukan pendidikan dan pelatihan.

d. Rumah Sakit perlu melakukan penelitian di bidang kedokteran dan kesehatan e. Rumah Sakit mempunyai tanggung jawab untuk program pencegahan

penyakit dan penyuluhan kesehatan bagi populasi di sekitarnya.

Dalam Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 983/Menkes/SK/XI/1992 disebutkan bahwa rumah sakit umum mempunyai tugas melaksanakan upaya kesehatan secara berdaya guna dan berhasil guna dengan mengutamakan upaya penyembuhan dan pemulihan yang dilaksanakan secara serasi dan terpadu dengan upaya peningkatan dan pencegahan serta melaksanakan upaya rujukan.

Untuk melaksanakan tugas tersebut rumah sakit umum mempunyai fungsi:

a. Menyelenggarakan pelayanan medis.

b. Menyelenggarakan pelayanan penunjang medis dan non medis.

c. Menyelenggarakan pelayanan dan asuhan keperawatan.

d. Menyelenggarakan pelayanan rujukan.

e. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan tenaga medis, para medis dan non medis.

f. Menyelenggarakan penelitian dan pengembangan.

g. Menyelenggarakan administrasi umum dan keuangan.

(30)

2.1.2. Klasifikasi Rumah Sakit

Berdasarkan tingkat kemampuan pelayanan kesehatan, ketenagaan, fisik dan peralatan yang tersedia, maka rumah sakit umum pemerintah diklasifikasi atas:

a. Rumah Sakit Umum Kelas A.

Rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis spesialistik dan subspesialistik luas, dipimpin oleh seorang direktur dan dibantu oleh sebanyak-banyak 4 (empat) wakil direktur.

b. Rumah Sakit Umum Kelas B.

Rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis sekurang-kurangnya 11 (sebelas) spesialistik dan subspesialistik terbatas, dipimpin oleh seorang Direktur dan dibantu sebanyak-banyaknya 3 (tiga) wakil direktur.

c. Rumah Sakit Umum Kelas C.

Rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis spesialistik dasar, dipimpin oleh seorang direktur dan tidak mempunyai wakil direktur.

d. Rumah Sakit Umum Kelas D.

Rumah sakit yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis dasar.

(31)

Klasifikasi Rumah Sakit Umum Swasta menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 806b/Menkes/SK/ XII/1987 adalah:

a. Rumah Sakit Umum Swasta Pratama.

Rumah sakit umum swasta yang memberikan pelayanan medik bersifat umum.

b. Rumah Sakit Umum Swasta Madya.

Rumah sakit umum swasta yang memberikan pelayanan medik bersifat umum dan spesialistik 4 (empat) dasar.

c. Rumah Sakit Umum Swasta Utama.

Rumah sakit umum swasta yang memberikan pelayanan medik bersifat umum, spesialistik dan subspesialistik.

2.2. Farmasi Rumah Sakit

Farmasi rumah sakit adalah seluruh aspek kefarmasian yang dilakukan di suatu rumah sakit. Sebagai unit pelayanan, instalasi farmasi merupakan suatu organisasi pelayanan di rumah sakit yang memberikan pelayanan produk yang bersifat nyata (tangible) dan pelayanan farmasi klinik yang bersifat tidak nyata (intangible) bagi konsumen penderita, dokter, perawat, profesional kesehatan lain dan masyarakat rumah sakit (Siregar, 2003).

Sesuai dengan Surat Keputusan Menkes No. 1333/Menkes/SK/XII/ 1999 tentang Standar Pelayanan Rumah Sakit bahwa pelayanan farmasi rumah sakit adalah

(32)

bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pelayanan kesehatan rumah sakit yang utuh dan berorientasi kepada pelayanan pasien, penyediaan obat yang bermutu, termasuk pelayanan farmasi klinik yang terjangkau bagi semua lapisan masyarakat. Farmasi rumah sakit bertanggung jawab terhadap semua barang farmasi yang bersedar di rumah sakit tersebut.

2.2.1. Tujuan Pelayanan Farmasi Rumah Sakit

Menurut Surat Keputusan Menkes No. 1197/Menkes/SK/X/2004, tujuan pelayanan farmasi rumah sakit adalah:

a. Melangsungkan pelayanan farmasi yang optimal baik dalam keadaan biasa maupun dalam keadaan gawat darurat, sesuai dengan keadaan pasien maupun fasilitas yang tersedia.

b. Menyelenggarakan kegiatan pelayanan profesional berdasarkan prosedur kefarmasian dan etik profesi.

c. Melaksanakan KIE (Komunikasi Informasi dan Edukasi) mengenai obat.

d. Menjalankan pengawasan obat berdasarkan aturan-aturan yang berlaku.

e. Melakukan dan memberi pelayanan bermutu melalui Analisis, telaah dan evaluasi pelayanan.

f. Mengawasi dan memberi pelayanan bermutu melalui Analisis, telaah dan evaluasi pelayanan.

(33)

2.3. Penggunaan Obat yang Rasional

Pengobatan yang rasional adalah suatu prosedur pengobatan yang didasarkan pada penalaran yang bersifat ilmiah dengan metode deduktif sehingga pengobatan yang rasional akan menghasilkan reprodusibilitas dan prediktabilitis yang tertinggi dibanding pengobatan yang tidak rasional (Darmansyah,1988).

Menurut World Health Organization (WHO) pengobatan yang rasional adalah penggunaan obat yang sesuai dengan kebutuhan klinis pasien, dengan dosis yang sesuai dengan kebutuhannya, untuk periode waktu yang sesuai dan dengan harga yang terjangkau. Menurut World Bank, penggunaan obat yang rasional mengandung dua prinsip utama: (1) Menggunakan obat berdasarkan data ilmiah tentang efikasi, keamanan dan kepatuhan (2) Penggunaan obat yang cost-effective yang berlaku dalam suatu sistem pelayanan kesehatan.

Menurut Quick (1991), penggunaan obat yang rasional harus memenuhi kriteria tertentu, yaitu diagnosis yang tepat, memilih obat yang terbaik diantara obat- obat yang ada (melalui pertimbangan efektivitas, keamanan dan keterjangkauan harganya), meresepkannya dalam dosis yang cukup untuk interval waktu yang cukup dan sesuai dengan standar terapi yang berlaku.

(34)

2.3.1. Indikator Penggunaan Obat yang Rasional

Untuk mengukur kinerja suatu pelayanan kesehatan yang berkaitan dengan penggunaan obat yang rasional, WHO telah mengembangkan suatu indikator yang terdiri dari tiga pengukuran, yakni:

a. Indikator penulisan resep Meliputi:

1. Jumlah obat rata-rata per penderita: jumlah total obat dalam resep dibagi jumlah total penderita.

Tujuannya adalah untuk mengukur derajat polifarmasi, dengan syarat obat kombinasi dihitung sebagai satu obat.

2. Persentase obat yang diresepkan dengan obat generik: jumlah obat dengan nama generik dibagi jumlah obat dalam resep dikali 100%.

Tujuannya adalah untuk mengukur kecenderungan penulisan generik.

3. Persentase penderita yang menerima antibiotik: jumlah penderita yang menerima antibiotik dibagi jumlah total penderita dikali 100%.

Tujuannya untuk mengukur penggunaan antibiotik yang sering kali berlebihan dan menimbulkan tingginya biaya pengobatan.

4. Persentase penderita yang menerima injeksi: jumlah penderita yang menerima injeksi dibagi total penderita dikali 100%.

Tujuannya untuk mengukur penggunaan injeksi yang seperti antibiotik sering

(35)

5. Persentase obat sesuai dengan Data Obat Esensiel Nasional/ Formularium:

jumlah obat dalam resep sesuai DOEN/Formularium dibagi jumlah total obat dalam resep dikali 100%.

b. Indikator perawatan penderita

Merupakan kunci utama mengenai berbagi aspek yang berhubungan dengan pengalaman penderita ketika berobat disuatu fasilitas kesehatan, meliputi:

1. Lama rata-rata waktu konsultasi per penderita.

2. Lama rata-rata waktu pemberian obat (dispensing).

3. Persentase obat yang sesungguhnya diberikan.

4. Persentase obat yang diberi label secara layak.

5. Persentase penderita yang mengetahui dosis obat yang diberikan.

c. Indikator fasilitas kesehatan

1. Ketersediaan DOEN/Formularium. Tujuannya mengukur sejauh mana DOEN/

Formularium tersedia di fasilitas kesehatan. Jawabannya Ya atau Tidak per fasilitas kesehatan.

2. Ketersediaan obat-obat penting. Tujuannya mengukur ketersediaan sejumlah obat terpenting (10-15 obat esensial) untuk pengobatan beberapa penyakit terbanyak.

(36)

2.4. Farmakoekonomi

Aspek ekonomi dari penggunaan obat disebut dengan Farmakoekonomi (WHO, 2003). Harga obat merupakan hal penting dalam pelayanan kesehatan. di mana 10-15% dari biaya kesehatan di negara maju dan 30-40% berasal dari obat.

Bahkan di negara-negara yang sedang berkembang biaya obat dapat mencapai lebih dari 30-40% dari keseluruhan biaya kesehatan.

Menurut WHO (2003) beberapa konsep ekonomi dapat digunakan untuk pengambilan keputusan penentuan dan pemilihan obat yang berkualitas mengingat keterbatasan sumber daya yang ada :

1. Cost Minimization Analysis

Merupakan suatu cara untuk menghitung biaya obat yang paling rendah atau menentukan modalitas terapetik suatu obat. Analisis ini digunakan untuk membandingkan 2 produk obat yang dengan dosis ekivalen yang sama memberikan efek terapetik yang sama.

2. Cost Effectivity Analysis

Analisis efektifitas biaya ini menghitung biaya inkrimental untuk mencapai derajat kesehatan inkrimental.

3. Cost Utility Analysis

Analisis ini digunakan untuk menentukan biaya dalam hal penggunaan terkait dengan kualitas dan kuantitas hidup dengan membandingkan dua jenis obat atau

(37)

4. Cost Benefit Analysis

Analisis ini digunakan untuk menghitung nilai biaya inkrimental dan hasil keluaran dalam istilah keuangan. Analisis ini dapat langsung menghitung biaya netto dari pencapaian suatu kondisi kesehatan tertentu.

2.5. Perilaku Dokter

Menurut Skinner dalam Notoadmodjo (2003), perilaku adalah bentuk respons atau reaksi terhadap stimulus atau rangsangan dari luar organisme, yang sangat tergantung pada karakteristik atau faktor-faktor lain dari orang yang bersangkutan.

Menurut Bloom (1908) dalam Ross dan Mico (1980), perilaku manusia dapat dibagi dalam 3 (tiga) domain yakni :

a. Kognitif, yakni kemampuan seseorang yang berhubungan dengan pengetahuan atau informasi.

b. Afektif, yakni berkaitan dengan pengendalian emosi.

c. Psikomotor, yakni tindakan yang terkait dengan perilaku.

2.5.1. Pengetahuan Dokter

Pengetahuan sebagai bagian dari domain kognitif dari 3 (tiga) domain perilaku, merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan adalah merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (Overt behavior). Dari pengalaman

(38)

dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang didasari pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan.

Menurut Notoadmojo (2003), pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yakni:

5. Tahu (Know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang diterima.

6. Memahami (Comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.

7. Aplikasi (Application)

Merupakan kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya).

8. Analisis (Analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan analisis atau suatu objek

(39)

penggunaan kata kerja seperti menggambarkan (membuat bagan) membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan lain sebagainya.

9. Sintesis (Synthesis)

Sintesis menunjukkan suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.

Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyususn formulasi- formulasi yang ada.

10. Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.

2.5.2. Sikap Dokter

Gibson (1985), menyatakan bahwa sikap adalah kesiap-siagaan mental yang dipelajari dan diorganisasi melalui pengalaman dan mempunyai pengaruh tertentu atas cara tanggap seseorang terhadap orang lain, objek dan situasi yang berhubungan dengannya. Sikap merupakan faktor penentu perilaku, karena sikap berhubungan dengan persepsi, kepribadian dan motivasi.

(40)

Menurut Notoadmodjo (2003), sikap merupakan materi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap secara nyata menunjukkan kesan adanya penyesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial.

2.5.3. Tingkatan Sikap

Menurut Notoadmodjo (2003), sikap terdiri dari berbagai tingkatan yakni:

a. Menerima (receiving)

Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (objek).

b. Merespon (responding)

Memberikan jawaban apakah ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan.

c. Menghargai (valuing)

Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah.

d. Bertanggungjawab (responsible)

Bertanggungjawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko adalah merupakan sikap yang paling tinggi.

(41)

2.5.4. Praktek atau Tindakan Sikap

Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt behavior).

Untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan yang nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain fasilitas dan faktor pendukung dari pihak lain.

Praktek ini mempunyai beberapa tingkatan yakni:

a. Persepsi (Perception)

Merupakan praktek tingkat pertama yakni mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil.

b. Respon terpimpin (Guided response)

Merupakan indikator praktek tingkat ke dua yakni dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar dan sesuai dengan contoh.

c. Mekanisme (Mechanisme)

Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan maka ia sudah mencapai praktek tingkat ke tiga.

d. Adaptasi (Adaptation)

Adaptasi adalah suatu praktek atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik. Artinya tindakan itu sudah dimodifikasi sendiri tanpa mengurangi kebenaran tindakannya tersebut.

(42)

2.5.5. Motivasi

Perilaku manusia pada hakikatnya ditentukan oleh keinginan untuk mencapai beberapa tujuan. Keinginan itu istilah lainnya ialah motivasi. Dengan demikian motivasi merupakan pendorong agar seseorang itu melakukan suatu kegiatan untuk mencapai tujuannya. Seorang manajer harus mengetahui dorongan atau kebutuhan seseorang yang membuat orang tersebut melakukan suatu aktivitas tertentu.

Menurut Gibson (1985), motivasi adalah konsep yang menguraikan tentang kekuatan-kekuatan yang ada dalam diri karyawan yang memulai dan mengarahkan perilaku. Konsep tersebut digunakan untuk menjelaskan perbedaan-perbedaan dalam intensitas perilaku, di mana perilaku yang lebih bersemangat adalah hasil dari tingkat motivasi yang lebih kuat. Menurut Steers & Porter (1987) yang dikutip oleh Fottler dkk,(2005), motivasi merupakan suatu keadaan perasaan atau pikiran yang dirangsang untuk melakukan suatu tugas atau terlibat dalam perilaku tertentu.

Menurut Gibson (1985), teori motivasi dapat dikelompokkan dalam 2 kategori.

A. Teori Kepuasan yang memusatkan perhatian pada faktor-faktor dalam diri orang, yang menggerakkan, mengarahkan, mendukung dan menghentikan perilaku. Menurut O’Connor (1998) dalam Fottler, dkk. (2005) motivasi dalam teori kepuasan dapat dianggap sebagai dorongan dari dalam untuk mencapai tujuan untuk memuaskan kebutuhan. Kebutuhan dapat berupa kebutuhan fisik

(43)

a. Teori Hirarki Kebutuhan dari Maslow. Menurut teori ini ada semacam hirarki yang mengatur dengan sendirinya kebutuhan-kebutuhan manusia.

b. Teori Tiga Tingkat Hirarki dari Alderfer. Menurut teori ini, ada 3 (tiga) kelompok inti kebutuhan, yakni kebutuhan akan keberadaan (Existence), kebutuhan berhubungan (Relatedness) dan kebutuhan untuk berkembang (Growth).

c. Teori Dua Faktor Herzberg. Menurut Herzberg dalam memotivasi pegawai, ada 2 (dua) faktor yang mempengaruhi yakni faktor lingkungan (hygiene) dan faktor pekerjaan itu sendiri (motivator).

d. Teori Kebutuhan Mc. Lelland. Menurut teori ini ada 3 (tiga) kebutuhan manusia, yakni kebutuhan untuk berprestasi, kebutuhan untuk berafiliasi dan kebutuhan untuk kekuasaan.

B. Teori Proses yang menguraikan dan menganalisis bagaimana perilaku itu digerakkan, diarahkan, didukung dan dihentikan, termasuk dalam kategori ini adalah :

a. Teori Skinner b. Teori Adams c. Teori Locke

d. Teori harapan dari pilihan Vroom.

(44)

2.6. Landasan Teori

Proses terapi merupakan suatu proses ilmiah yang dilakukan dokter terhadap pasiennya berdasarkan temuan-temuan yang diperolehnya. Upaya tersebut harus ditempuh melalui suatu tahapan prosedur tertentu yaitu terdiri dari anamnesis, pemeriksaan, penegakan diagnosis, pengobatan dan tindakan selanjutnya.

Sehubungan dengan usaha untuk memaksimalkan penggunaan obat yang rasional, dokter wajib memutuskan pengobatan berdasarkan pada informasi obat dan terapi mutakhir untuk mencapai sasaran yang diinginkan. Apabila dibuat keputusan pengobatan penderita dengan obat, maka obat yang dipilih adalah obat yang terbaik berdasarkan manfaat, keamanan, kecocokan dan harga.

Menurut Bauchner dkk (2001), perilaku dokter dalam mengambil keputusan diagnosa dan terapi merupakan hal yang kompleks dan digambarkan sebagai domain yang saling bertindihan. (Gambar 2.1), di mana ada 3 (tiga) domain yang mempengaruhi pengambilan keputusan klinis oleh seorang individu :

1. Pengalaman dan pengetahuan dokter.

2. Nilai dan karakteristik pasien.

3. Bukti klinis eksternal.

Ketiga domain tersebut, dipengaruhi oleh faktor-faktor lain. Latar belakang etnis dan kebudayaan mempengaruhi karakteristik perilaku kesehatan, keyakinan, nilai dan prioritas pasien. Ketersediaan pedoman pengobatan yang sah dan dapat dipercaya

(45)

seperti formularium dan standar terapi juga berpengaruh terhadap pengambilan keputusan pengobatan.

Mengingat model tersebut maka pengetahuan dan karakteristik dokter memegang peranan terkait dengan pemilihan obat yang diberikan kepada pasien yang dapat dilihat dari pola peresepan obat di rumah sakit.

Pengetahuan dan Karakteristik Dokter

Bukti Klinis Eksternal Nilai dan

Karakteristik Pasien

Gambar 2.1. Diagram Model Pengambilan Keputusan Klinis (Bauchner dkk, 2001)

(46)

2.7. Kerangka Konsep

Variabel Independent Variabel Dependent

DOKTER

Gambar 2.2. Kerangka Konsep

Pola Peresepan Obat - Jumlah obat rata-rata per

penderita

- Persentase obat generik - Persentase penderita

yang menerima antibiotik

- Persentase penderita yang menerima injeksi - Persentase obat sesuai

dengan Formularium

• Pengetahuan

• Sikap Karakteristik Individu

• Umur

• JenisKelamin

• Jenis Spesialisasi

• Masa kerja

Nilai dan Karakteristik

Pasien

(47)

BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian

Rancangan penelitian ini bersifat Deskriptif Analitik dengan menggunakan Studi Cross Sectional, dimana pengukuran variabel pada objek penelitian ini dikumpulkan dan diukur pada saat yang bersamaan.

3.2. Tempat dan Waktu Penelitian

3.2.1. Tempat Penelitian

Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan. Adapun

Alasan pemilihan tempat ini adalah: (1) Merupakan rumah sakit swasta dengan jumlah dokter yang relatif banyak, (2) belum diketahui bagaimana gambaran pola peresepan obat yang diberikan oleh para dokter di rumah sakit ini.

3.2.2. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan mulai bulan Oktober 2006 sampai dengan bulan Januari 2007.

(48)

3.3. Populasi dan sampel 3.3.1. Populasi Penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah dokter-dokter yang memberikan pelayanan rawat inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan, yang terbatas pada dokter spesialis penyakit dalam, dokter spesialis bedah, dokter spesialis kebidanan dan dokter spesialis anak dan resep yang ditulis oleh dokter-dokter tersebut.

Populasi berjumlah 35 orang yang terdiri dari dokter Penyakit Dalam 7, Bedah 12, Kebidanan dan Kandungan 10, Anak 6.

3.3.2. Sampel Penelitian

Sampel dalam penelitian ini adalah keseluruhan populasi dokter yang memberikan pelayanan rawat inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan sebanyak 35 orang dokter spesialis yang terdiri dari dokter spesialis penyakit dalam, dokter spesialis bedah, dokter spesialis kebidanan dan dokter spesialis anak (Total sampling).

Resep yang diteliti adalah semua resep yang ditulis oleh dokter-dokter tersebut selama 1 (satu) bulan.

(49)

3.4. Defenisi Operasional 3.4.1. Variabel Independen

Variabel independent adalah pengetahuan dan sikap dokter tentang formularium, standar terapi dan pemberian obat yang rasional serta karakteristik dokter yang meliputi umur, jenis kelamin, spesialisasi dan masa kerja:

a. Pengetahuan adalah pengetahuan dokter tentang formularium, standar terapi dan pemberian obat yang rasional.

b. Sikap dokter adalah respon dokter terhadap formularium, standar terapi dan pemberian obat yang rasional.

c. Umur adalah umur dokter saat ulang tahun terakhir pada saat penelitian dilakukan.

d. Jenis kelamin adalah penggolongan dokter atas jenis kelamin laki-laki dan perempuan.

e. Jenis spesialisasi adalah bidang keilmuan dokter berdasarkan brevet yang diperoleh, dalam penelitian ini dibatasi pada spesialisasi empat besar yakni spesialis penyakit dalam, bedah, kebidanan dan anak.

f. Masa kerja adalah lamanya dokter bekerja di rumah sakit tersebut berdasarkan surat perjanjian kerjasama yang ditandatangani antara dokter dengan pejabat yang berwenang di rumah sakit.

(50)

3.4.2. Variabel Dependen

Pola peresepan obat adalah gambaran peresepan obat yang ditulis oleh dokter yang dilihat berdasarkan indikator WHO yakni :

a. Jumlah macam obat rata-rata per penderita.

b. Persentase obat yang diresepkan dengan obat generik.

c. Persentase penderita yang menerima antibiotik.

d. Persentase penderita yang menerima injeksi.

e. Persentase obat sesuai dengan Data Obat Esensial Nasional/

Formularium.

3.5. Metode Pengukuran 3.5.1. Variabel Independen

No

Variabel Kriteria Jumlah

indikator

Bobot nilai

Bobot nilai seluruh variabel

Skala ukur

1. Pengetahuan dokter tentang konsep dasar formularium, standar terapi dan pemberian obat yang rasional

1. Baik 2. Cukup 3. Kurang

10 1

0

> 76%

56 – 75%

< 55%

Interval

2. Sikap dokter tentang konsep dasar formularium,

1. Baik 2. Sedang 3. Kurang

15 5

4 3

55 - 75 35 - 54 15 - 34

Interval

(51)

No Variabel Kriteria Jumlah indikator

Bobot nilai

Bobot nilai seluruh variabel

Skala ukur

1. Umur 1 Ratio

2. Jenis kelamin 1. Laki-laki 2. Perempuan

1 Nominal

3. Masa kerja 1. ≤ 10 tahun 2. > 10 tahun

1 Nominal

4. Jenis Spesialisasi Dokter

1. Dokter spesialis anak 2. Dokter

spesialis bedah 3. Dokter

spesialis kebidanan dan kandungan 4. Dokter

spesialis penyakit dalam

1 Nominal

Pengetahuan adalah pengetahuan dokter tentang konsep dasar formularium, standar terapi dan pemberian obat yang rasional yang akan diketahui dengan mengajukan kuesioner berupa pertanyaan multiple choice. Untuk setiap jawaban yang benar diberi nilai 1 dan jawaban yang salah diberi nilai 0.

Hasil jawaban dimasukkan ke dalam rumus persentase:

(52)

P = x100% N

n

Hasil nilai apabila P ≥ 76 % = Baik

56 – 75% = Cukup

55% = Kurang

Sikap adalah respon dokter terhadap konsep dasar formularium, standar terapi dan pemberian obat yang rasional. Dalam hal ini dokter diberi kuesioner berbentuk pernyataan yang dinilai berdasarkan skala Likert.

Jawaban atas kuesioner diberi penilaian skor dari 1 – 5. Skor yang diperoleh dikategorikan menjadi 3 bagian :

1. Baik (nilai 55 – 75) 2. Cukup (nilai 35 – 54) 3. Kurang (nilai 15 – 34)

3.5.2. Variabel Dependen

Pola peresepan obat adalah gambaran peresepan obat yang ditulis oleh dokter yang dinilai berdasarkan indikator WHO yakni:

1. Jumlah obat rata-rata per penderita.

2. Persentase obat yang diresepkan dengan obat generik.

3. Persentase penderita yang menerima antibiotik.

4. Persentase penderita yang menerima injeksi.

(53)

No Indikator Kriteria Bobot nilai

Bobot nilai seluruh variable

Skala ukur

1. Jumlah obat rata-rata per penderita

≥ 10 5 – 10

≤ 5

1 2 3

12 – 15 9 – 11 5 – 8

Inter val

2. Persentase obat yang diresepkan dengan obat generik

≥ 76%

56 – 75 %

≤ 55%

3 2 1 3. Persentase penderita

yang menerima antibiotik

≥ 76%

56 – 75 %

≤ 55%

1 2 3 4. Persentase penderita

yang menerima injeksi

≥ 76%

56 – 75 %

≤ 55%

1 2 3 5. Persentase obat sesuai

dengan Data Obat Esensiel Nasional/

Formularium

≥ 76%

56 – 75 %

≤ 55%

3 2 1

Setiap indikator dari variabel dependen diberi nilai 1, 2 dan 3 sesuai kriteria yang telah ditetapkan. Skor yang diperoleh dikategorikan menjadi 3 bagian:

1. Baik 2 – 15 2. Sedang 9 – 11 3. Kurang 5 – 8

(54)

3.6. Metode Pengumpulan Data

Data yang yang dikumpulkan dari penelitian ini adalah data primer yang diperoleh dari wawancara dengan menggunakan kuesioner serta data sekunder berupa resep/kip obat yang ditulis oleh dokter yang diambil secara retrospektif.

3.7. Metode Analisis Data

Untuk menunjang kegiatan analisis sebagai pembuktian hipotesis, maka dilakukan tahapan analisis sebagai berikut:

1. AnalisisUnivariat

Digunakan untuk melihat distribusi frekuensi dan proporsi masing-masing variabel yang diteliti.

2. Analisis Bivariat

Dilakukan Analisis hubungan antara setiap variabel independen dengan variabel dependen untuk melihat apakah hubungan yang terjadi memang bermakna secara statistik dengan menggunakan uji statistik Chi Square.

Dengan rumus:

X 2 = ij ij ij

K

j B

j i

E E

O )

(

1

= =

Di mana Eij = (nioxnio) n

(55)

Keterangan:

X2 =harga Chi Square yang dihitung dibandingkan dengan Chi Square tabel.

O ij = banyak pengamatan yang terjadi karena taraf ke-i faktor ke I dan taraf ke j faktor ke II.

E ij = Frekuensi teoretik atau banyak gejala yang diharapkan terjadi.

Dari hasil nilai uji statistik akan diperoleh nilai p. Untuk nilai p < 0,05 berarti terdapat hubungan yang bermakna antara variabel yang diteliti.

(56)

BAB 4

HASIL PENELITIAN

4.1. Deskripsi Lokasi Penelitian

4.1.1. Gambaran Umum Rumah Sakit Santa Elisabeth

Rumah Sakit Santa Elisabeth berlokasi di Jl. H. Misbah No.7, Kelurahan Jati, Kecamatan Medan Polonia, merupakan rumah sakit swasta type B dengan kapasitas tempat tidur sebanyak 240 dengan Bed Occupation Rate (BOR) tahun 2005 adalah 75,27%. Rumah Sakit Santa Elisabeth telah terakreditasi penuh tingkat lanjutan untuk 12 bidang pelayanan. Pelayanan yang ada di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan meliputi pelayanan gawat darurat, pelayanan rawat inap dan rawat jalan, farmasi, radiologi, laboratorium dan transfusi darah, pelayanan bedah, pelayanan intensif, klinik ibu dan anak, rehabilitasi medis, hemodialisa dan gizi.

4.1.2. Distribusi Tenaga Dokter di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Pelayanan medis di Rumah Sakit Santa Elisabeth didukung oleh tenaga dokter yang berjumlah 80 orang yang terdiri dari dokter umum, dokter spesialis serta dokter subspesialis. Untuk jelasnya dapat dilihat pada Tabel 4.1. berikut ini.

(57)

Tabel 4.1. Distribusi Tenaga Dokter di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2006

Jenis Jumlah Dokter

Dokter Umum 11 11

Dokter Spesialis 4 dasar - Bedah

- Penyakit Dalam

- Kebidanan dan Kandungan - Anak

12 7 10

6 35

Dokter spesialis di luar spesialis empat dasar

- THT

- Gigi/ Bedah Mulut - Anestesi

- Syaraf - Mata - Jantung - Radiologi

- Patologi Anatomi - Paru

- Kedokteran Jiwa - Patologi Klinik - Kulit/ Kelamin - Rehabilitasi Medik - Mikrobiologi

3 5 4 4 1 1 2 1 2 3 2 4 1

1 34

Jumlah keseluruhan dokter 80

Dari Tabel 4.1., dapat dilihat bahwa dari 80 tenaga dokter, dokter umum sebanyak 11 orang, dokter spesialis empat dasar sebanyak 35 orang yang terdiri dari 12 oang dokter spesialis bedah, 7 orang spesialis penyakit dalam, 10 orang dokter spesialis kebidanan dan 6 orang dokter spesialis anak. Selebihnya adalah dokter spesialis di luar spesialis empat dasar sebanyak 34 orang. Dari keseluruhan dokter spesialis yang paling banyak adalah dokter spesialis bedah sebanyak 12 orang dan

(58)

yang paling sedikit adalah dokter mata, jantung, patologi anatomi, rehabilitasi medik dan mikrobiologi masing-masing sebanyak 1 orang.

4.1.3. Gambaran Peresepan Obat di Rumah Sakit Santa Elisabeth

Dari keseluruhan resep yang yang dilayani di farmasi Rumah Sakit Santa Elisabeth selama tahun 2004 – 2006 diperoleh gambaran peresepan obat generik dan non generik adalah sebagai berikut (Tabel 4.2.).

Tabel 4.2. Distribusi Peresepan Obat Pada Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth Tahun 2004 – 2006

Tahun Generik Non Generik Jumlah

Jumlah % Jumlah %

2004 43.574 23,46 142.127 76,54 185.701

2005 62.417 37,95 102.055 62,05 164.472

2006 15.021 8,49 161.930 91,51 176.951

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa peresepan obat non generik di Rumah Sakit Santa Elisabeth lebih tinggi dibanding peresepan obat generik. Pada

tahun 2004 resep obat non generik sebanyak 142.127 item obat (76,54%) dan resep obat generik sebanyak 43.574 item obat (23,46%). Pada tahun 2006 resep non generik sebanyak 161.930 item obat (91,51%) dan resep generik sebanyak 15.021 item obat (8,49%).

(59)

4.2. Hasil Analisis

Hasil penelitian ini digambarkan secara bertahap mulai dari analisis univariat meliputi distribusi frekuensi dari karakteristik responden yang mempengaruhi pola peresepan obat, Analisis bivariat untuk mengetahui hubungan variabel pengetahuan dan sikap terhadap variabel dependen.

4.2.1. Analisis Univariat

Analisis univariat dapat dilakukan untuk menganalisis data-data yang dikumpulkan dalam bentuk Tabel distribusi frekuensi karakteristik responden, karakteristik pengetahuan dan sikap responden tentang standar terapi, formularium dan peresepan yang rasional.

a. Karakteristik Responden

Responden dalam penelitian ini adalah dokter spesialis empat besar yang bekerja di Rumah Sakit Santa Elisabeth yang berjumlah 35 orang. Gambaran karakteristik individu responden dapat dilihat pada Tabel 4.3., berikut ini.

Gambar

Gambar 2.1.  Diagram Model Pengambilan   Keputusan Klinis  (Bauchner dkk, 2001)
Gambar 2.2.  Kerangka Konsep

Referensi

Dokumen terkait