• Tidak ada hasil yang ditemukan

e-Book Pembelajaran dasar Bahasa Indonesia

N/A
N/A
redaksi suara nabire

Academic year: 2023

Membagikan "e-Book Pembelajaran dasar Bahasa Indonesia"

Copied!
104
0
0

Teks penuh

(1)

1

(2)

2

Pembelajaran Dasar

BAHASA INDONESIA

(3)

3 Sanksi Pelanggaran Pasal 72

Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta

1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1) dan (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling sedikit satu bulan dan/atau denda paling sedikit Rp1.000.000,00 atau pidana paling lama tujuh tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hak cipta atau hak terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana penjara paling lama lima tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

(4)

4

Pembelajaran Dasar

Bahasa Indonesia

Abdy Busthan, S.Pd., M.Pd

DesnaLife Ministry

(5)

5

Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT)

Pembelajaran Dasar Bahasa Indonesia

Abdy Busthan, S.Pd., M.Pd

Copyright © 2017 pada penulis

ISBN: 978-602-6487-06-3

Editor & Penyunting:

Gloria Kasih Narwastu Calunggun

Desain Sampul & Tata Letak:

Abdy Busthan, S.Pd., M.Pd

Penerbit:

Desna LifeMinistry

Jln. Bakti Karya 20 B, Kecamatan Oebobo, Kupang - NTT Telp. 081333343222

Email: [email protected] Website: desnapublishing.blogspot.co.id

Cetakan pertama, Maret 2017 1-103 hlm; 14,5 x 21 cm

Hak cipta dilindungi undang-undang

Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara apapun, tanpa ijin tertulis dari penulis dan penerbit

(6)

6

PRAKATA

Sungguh, bukan waktu yang sedikit untuk mempelajari dan menjadi ahli yang mahir dalam berbahasa Indonesia. Sebab hingga detik ini, penyalahgunaan bahasa Indonesia masih saja menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di republik ini. Artinya, bahasa Indonesia memang selalu bermasalah!

Di setiap jenjang pendidikan formal, dari SD hingga PT (Perguruan Tinggi), pelajaran Bahasa Indonesia merupakan mata pelajaran yang sulit untuk dihindari. Ketika SD misalnya, mungkin siswa diharapkan mengetahui, memahami, dan bisa mengimplementasikan keterampilan berbahasa seperti membaca, menulis, menyimak, dan berbicara. Setingkat lebih tinggi, yaitu SMP sampai SMA, siswa diperkenalkan pada dunia sastra dan pembelajaran lebih dititikberatkan pada tata bahasa, ilmu bahasa, dan berbagai apresiasi sastra. Namun, masa pendidikan sejak dari TK hingga PT (Perguruan Tinggi), tidak cukup berhasil untuk mencetak para alumni yang mahir berbahasa dan dapat mengaplikasikan bahasa Indonesia yang benar dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dapat dilihat dari kenyataan dalam kehidupan sehari-hari, bahwa tidak sedikit orang berlevel akademisi, ilmuan dan mahasiswa, yang masih saja kesulitan menggunakan bahasa Indonesia dengan benar, terutama dalam penulisan karya ilmiah.

(7)

7

Hal lain bahwa, masyarakat pada umumnya masih banyak dimanjakan dengan gaya berbahasa konvensional, sehingga aturan-aturan dalam berbahasa yang selayaknya diperhatikan, justru diabaikan dan menimbulkan kekacauan berbahasa yang nyaris sempurna. Bahasa dalam kalangan muda-mudi misalnya, bahasa yang trend digunakan adalah bahasa “sms” atau dikenal dengan istilah “bahasa gaul”.

Memang sah-sah saja apabila “bahasa gaul” ditempatkan pada situasi yang seharusnya, tetapi masalahnya akan lain apabila seorang masih mengikutsertakan bahasa tersebut ke dalam forum yang lebih resmi, seperti dalam diskusi ilmiah atau pun dalam penulisan karya ilmiah.

Persoalan lainnya yang juga tidak kalah penting adalah pengajaran Bahasa Indonesia di sekolah-sekolah formal baik negeri maupun swasta, juga cenderung konvesional, dan bersifat hapalan, serta penuh jejalan teori-teori linguistik yang rumit. Ya, bahasa Indonesia tidak ramah terhadap upaya mengembangkan kemampuan berbahasa siswa. Hal ini terjadi khususnya dalam kemampuan membaca dan menulis. Ketika duduk di bangku SD, pengajaran bahasa Indonesia cenderung menjadi mata pelajaran “mengarang” dengan tema “liburan sekolah”, tanpa ada perkembangan yang signifikan terhadap kemampuan menulis siswa. Yang ada, siswa malah semakin kebingungan mencari variasi lain dalam mengarang, karena cerita tentang liburan sekolah sudah tidak ada lagi.

Ironis memang jika pembelajaran Bahasa Indonesia yang seharusnya menjadi sesuatu yang “bring pleasure”

(membawa kesenangan), justru menjelma menjadi pelajaran yang membosankan, apalagi jika implementasi pengajarannya

(8)

8

kurang variatif, dan hanya berkutat dalam penyampaian teori semata tanpa ada upaya mengembangkan keterampilan dan kreativitas siswa dalam berbahasa. Pengajaran yang bersifat formal-akademis, memang tidak akan melatih kebiasaan berbahasa para siswa itu sendiri. Pengajaran seperti ini akhirnya akan menggiring pelajaran bahasa Indonesia ke dalam kawasan teori dibanding praktek. Fenomena ini tentu akan menimbulkan sikap yang jenuh dan membosankan dari para peserta didik.

Dengan beberapa ulasan persoalan di atas, maka buku ini, dapat dijadikan pedoman dasar dalam mempelajari cara menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Sebab mengingat bahwa setiap orang di medan merdeka ini selalu menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari, bahkan pendidikan Bahasa Indonesia di sekolah-sekolah formal merupakan salah satu aspek pengajaran yang sangat penting, maka pembelajaran berbahasa Indonesia adalah hal urgen yang patut di pelajari melalui dasar-dasar pembelajaran bahasa Indonesia yang substansial.

Akhirulkalam, semoga buku ini bisa memberikan warna tersendiri, untuk dijadikan salah satu pilihan dari sekian banyak buku-buku Bahasa Indonesia yang sudah ada, demi mempelajari lebih dalam lagi tentang penggunaan bahasa Indonesia secara legal-formal, sehingga timbul kemapanan dalam berbahasa Indonesia. Salam, Wassalam. Hormat di Bri!

Kota Kupang, Awal Maret 2017 Penulis, Abdy Busthan, S.Pd., M.Pd

(9)

9

(10)

10

DAFTAR ISI

Prakata_________ (6)

Daftar Isi________ (10)

Tentang Penulis________ (11)

Bagian 1:

Substansi Bahasa Indonesia___________(13)

A. Konsep Bahasa__________(13)

B. Sejarah Bahasa Indonesia_________(16)

C. Esensi Bahasa Indonesia__________(22)

Bagian 2:

Komponen Bahasa Indonesia___________ (33)

A. Ejaan Bahasa Indonesia___________ (33)

B. Penulisan Huruf Kapital___________ (39)

C. Penulisan Huruf Cetak Miring___________ (44)

D. Penulisan Tanda Baca___________ (50)

E. Penulisan Angka atau Nomor___________ (64)

F. Kata Ulang, Kata Depan & Kata Sambung___________ (67)

G. Kata Baku & Tidak Baku___________ (68)

H. Kalimat Efektif___________ (73)

I. Paragraf___________ (78)

J. Abstrak___________ (81)

Bagian 3:

Menulis Karya Ilmiah___________ (87)

A. Bentuk Karya Ilmiah___________ (88)

B. Ciri-Ciri Karya Ilmiah___________ (89)

C. Sikap & Manfaat Penulisan Karya Ilmiah___________ (90)

D. Prinsip-Prinsip Penulisan Karya Ilmiah___________ (91)

E. Tema & Topik dalam Karya Ilmiah___________ (92)

F. Tahapan & Bahasa Penulisan Karya Ilmiah___________ (93)

G. Kutipan & Daftar Pustaka dalam Karya Ilmiah___________ (96)

(11)

11

Tentang Penulis

Abdy Busthan, S.Pd., M.Pd, adalah Dosen, Teknolog bidang Pembelajaran, dan Aktivis Pendidikan. Pada jenjang S-1, penulis lulus dengan predikat lulusan terbaik dan tercepat (cumlaude), dengan menempuh pendidikan hanya dengan waktu 3 tahun di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) - IPTH Universitas Kristen Artha Wacana Kupang NTT.

Penulis melanjutkan pendidikann S-2, pada jurusan Magister Teknologi Pendidikan, dengan mengambil konsentrasi ilmu Teknologi Pembelajaran di Pascasarjana UNIPA Surabaya.

Penulis dilahirkan di desa Serity, pada tanggal 14 Maret.

Ayahnya bernama Markus Busthan Calunggun, S. Pd (alm), merupakan mantan guru dari kota Nabire - Papua, yang pernah mendapatkan penghargaan sebagai "guru teladan nasional" di era tahun 80-an. Penulis lahir sebagai anak ketiga, dari empat bersaudara, dari rahim seorang ibu, bernama Esry Inthe.

(12)

12

Beberapa buku yang pernah ditulis oleh penulis, dan berhasil menembus Katalog Perpustakaan Nasional, serta mendapatkan nomor ISBN, antara lain berjudul:

1. Pendidikan Berbasis Goblok (ISBN: 978-602-74103-8-1) 2. Kristus versus tuhan-tuhan Postmo (ISBN: 978-602-74103-3-6) 3. Sekolah Tuhan (ISBN: 978-602-74103-4-3)

4. Pedagogik Yahudi (ISBN: 978-602-74103-7-4) 5. Mesias dalam Progeni (ISBN: 978-602-74103-6-7) 6. Perkembangan Peserta Didik (ISBN: 978-602-74103-1-2) 7. Pendidikan Kristen yang Membebaskan

(ISBN: 978-602-70664-4-1)

8. Teori Belajar & Pembelajaran (ISBN: 978-602-74103-2-9) 9. Model Pembelajaran Saskrim – 5 is (ISBN: 978-602-74103-9-8) 10. Dasar-Dasar Evaluasi Hasil Belajar (ISBN: 978-602-74103-0-5) 11. Teori Belajar Humanistik (ISBN: 978-602-74190-1-8)

12. Analisis Kebijakan Pendidikan (ISBN 978-602-74190-4-9) 13. Media & Multimedia dalam Teknologi Pembelajaran

(ISBN 978-602-74190-3-2)

14. Perencanaan Pembelajaran (ISBN 978-602-74190-5-6) 15. Vygotsky versus Pavlov (ISBN 978-602-74190-0-1) 16. Pembelajaran Kognitif (ISBN 978-602-74103-5-0)

(13)

13

Bagian 1:

Substansi Bahasa Indonesia

Bahasa adalah ‘titik berangkat’ peradaban manusia. Manusia akan berada setingkat lebih maju di dalam peradabannya, jika ia mampu menguasai dan menggunakan bahasa sesuai dengan situasi dan kondisi (kontekstual) di mana ia berada. Hal ini tentu menjadi penting, karena bahasa adalah alat komunikasi dalam kehidupan manusia yang sosiodemokrasi.

Manusia sebagai makluk sosial, sangat sulit menghindari penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Dalam bekerja, berbicara, dan melakukan kegiatan apapun yang berhubungan dengan orang lain, manusia akan menggunakan alat komunikasi berupa bahasa sebagai sistem lambang bunyi.

Dalam hal ini bahasa merupakan alat pemersatu manusia dalam menjalani kehidupan ini. Itu sebabnya setiap negara memiliki bahasa persatuannya sendiri-sendiri.

A. Konsep Bahasa

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah “bahasa”

merujuk pada dua pengertian, yaitu: (1) bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri; (2) bahasa adalah percakapan (perkataan) yang baik; tingkah laku yang baik; sopan santun:

(14)

14

(baik budi -- nya;-- menunjukkan bangsa, pb) budi bahasa atau perangai serta tutur kata menunjukkan sifat dan tabiat seseorang (baik buruk kelakuan menunjukkan tinggi rendah asal atau keturunan). (Setiawan Ebta, 2012-2016).

Dari kedua definisi di atas, maka bahasa dapat diartikan sebagai alat untuk beriteraksi atau berkomunikasi dengan bentuk lambang bunyi yang dihasilkan alat ucap manusia, untuk menyampaikan pikiran, gagasan, konsep dan perasaan seseorang. Bahasa juga terdiri atas kumpulan kata yang apabila di gabungkan akan memiliki makna tersendiri. Bahasa diciptakan sebagai alat komunikasi universal yang diharapkan dapat dimengerti oleh setiap manusia untuk melakukan suatu interaksi sosial dengan manusia lainnya.

1) Ciri Bahasa

Dalam konteks penggunaannya, bahasa mengandung ciri khasnya tersendiri, diantaranya adalah sebagai berikut:

 Bahasa berwujud lambang. Artinya bahwa bahasa memiliki simbol untuk dapat menyampaikan pesan atau maksud kepada orang lain.

 Bahasa berwujud bunyi. Artinya bahasa berguna untuk menyampaikan pesan lambang dari bunyi yang dihasilkan oleh alat kecap manusia.

 Bahasa memiliki makna. Artinya dari setiap kalimat yang kita sampaikan melalui bahasa pasti selalu memiliki arti/makna untuk dapat disampaikan kepada orang lain.

 Bahasa bersifat universal. Artinya bahasa bersifat umum sehingga diharapkan setiap orang dapat mengerti dan memahami apa yang sedang dibicarakan.

(15)

15

 Bahasa itu arbitrer. Artinya bahasa selalu berubah-ubah sesuka penggunanya, dan cenderung tidak tetap karena bahasa mengikuti perkembangan IPTEK.

 Bahasa itu unik. Bahasa di sini mengandung keunikannya sendiri. Artinya setiap bahasa yang ada pada tiap-tiap daerah atau Negara memiliki keunikan tersendiri karena yang berbeda dengan bahasa dari Negara/daerah lainnya.

 Bahasa bersifat manusiawi. Artinya bahwa, bahasa yang manusiawi adalah bahasa yang lahir alami oleh manusia sebagai penutur bahasa.

 Bahasa memiliki variasi. Artinya bahwa jarang sekali ditemukan bahasa yang memang benar-benar sama dari negara atau daerah dan tempat yang berbeda.

 Bahasa bersifat dinamis. Bahasa bersifat dinamis bahwa bahasa sedikit-sedikit berubah mengikuti perkembangan zaman.

2) Fungsi Bahasa

Selain memiliki ciri seperti diuraikan di atas, bahasa juga memiliki fungsi dalam penggunaannya pada kehidupan sehari-hari. Fungsi-fungsi tersebut diantaranya:

Bahasa sebagai alat komunikasi manusia. Bahasa digunakan sebagai alat komunikasi manusia sejak beratus- ratus tahun lalu, untuk berinteraksi dengan manusia lainnya guna menyampaikan maksud dalam hati dan fikiran manusia, sehingga tercipta kerja sama yang baik antar manusia.

Bahasa sebagai alat untuk ekspresi diri. Bahasa biasanya digunakan mengekspresikan diri seseorang guna

(16)

16

menarik perhatian orang lain dan membebaskan diri dari tekanan emosi.

Bahasa sebagai alat integrasi dan adaptasi sosial.

Bahasa merupakan alat yang digunakan untuk berintegrasi dan beradaptasi dengan masyarakat sekitar. Bahasa yang digunakan hendaknya harus sesuai dengan kondisi daerah atau negara dimana kita berada.

Bahasa sebagai suatu alat kontrol sosial. Melalui bahasa, manusia akan mengetahui apakah seseorang itu sedang marah, sedih, atau bahagia. Bahasa dalam hal ini, lebih mempengaruhi sikap, tingkah laku, serta tutur kata seseorang.

B. Sejarah Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia merupakan varian bahasa Melayu, sebuah bahasa Austronesia dari cabang bahasa-bahasa Sunda- Sulawesi, yang juga digunakan sebagai lingua franca (bahasa perantara) di zaman kerajaan Nusantara, yaitu sejak abad-abad awal penanggalan modern.

Aksara pertama dalam bahasa Melayu atau Jawi, mulanya ditemukan di pesisir tenggara Pulau Sumatera, yang mengindikasikan bahwa bahasa ini menyebar ke berbagai tempat di Nusantara melalui penggunaannya oleh Kerajaan Sriwijaya yang menguasai jalur perdagangan saat itu.

Istilah Melayu atau Malayu berasal dari Kerajaan Malayu, yaitu sebuah kerajaan Hindu-Budha pada abad ke-7 yang terletak di hulu sungai Batanghari, Jambi, pulau Sumatera.

Bahasa Melayu yang digunakan di Jambi adalah menggunakan dialek "O" (huruf O), sedangkan dikemudian hari bahasa dan dialek Melayu menjadi berkembang secara luas dan beragam.

(17)

17

Jadi secara geografis, semula istilah “Melayu” hanya mengacu kepada wilayah kerajaan tersebut yang merupakan sebagian dari wilayah pulau Sumatera.

Dalam perkembangannya, pemakaian istilah Melayu mencakup wilayah geografis yang lebih luas dari wilayah Kerajaan Malayu itu sendiri, mencakup negeri-negeri di pulau Sumatera sehingga pulau tersebut disebut juga Bumi Melayu seperti disebutkan dalam Kakawin Nagarakretagama.

Kedatangan pedagang Portugis, diikuti oleh Belanda, Spanyol, dan Inggris meningkatkan informasi dan mengubah kebiasaan masyarakat pengguna bahasa Melayu. Bahasa Portugis banyak memperkaya kata-kata untuk kebiasaan Eropa dalam kehidupan sehari-hari, seperti gereja, sepatu, sabun, meja, bola, bolu, dan jendela.

Bahasa Belanda terutama banyak memberi pengayaan di bidang administrasi, kegiatan resmi (misalnya dalam upacara dan kemiliteran), dan teknologi hingga awal abad ke- 20. Kata-kata seperti asbak, polisi, kulkas, knalpot, dan stempel, adalah pinjaman dari bahasa ini. Bahasa yang dipakai pendatang dari Cina juga lambat laun dipakai oleh penutur bahasa Melayu, akibat kontak di antara mereka yang mulai intensif di bawah penjajahan Belanda. Sudah dapat diduga, kata-kata Tionghoa yang masuk biasanya berkaitan dengan perniagaan dan keperluan sehari-hari, seperti pisau, tauge, tahu, loteng, teko, tauke, dan cukong.

Jan Huyghen van Linschoten pada abad ke-17, dan Alfred Russel Wallace pada abad ke-19, menyatakan bahwa bahasa orang Melayu atau Melaka, dianggap sebagai bahasa

(18)

18

penting di "dunia timur". Luasnya penggunaan bahasa Melayu ini melahirkan berbagai varian lokal dan temporal.

Bahasa perdagangan menggunakan bahasa Melayu di berbagai pelabuhan Nusantara yang bercampur dengan bahasa Portugis, bahasa Tionghoa, maupun bahasa setempat. Terjadi proses pidginisasi di beberapa kota pelabuhan di kawasan timur Nusantara, misalnya di Manado, Ambon, dan Kupang.

Orang-orang Tionghoa di Semarang dan Surabaya juga menggunakan varian bahasa Melayu pidgin. Terdapat pula bahasa Melayu Tionghoa di Batavia. Varian yang terakhir ini malah dipakai sebagai bahasa pengantar bagi beberapa surat kabar pertama berbahasa Melayu (sejak akhir abad ke-19.

Varian-varian lokal ini secara umum dinamakan bahasa Melayu Pasar oleh para peneliti bahasa. (Wikepedia, 2016).

Tepat pertengahan abad ke-19, Raja Ali Haji dari istana Riau-Johor (pecahan Kesultanan Melaka) menulis kamus ekabahasa untuk bahasa Melayu. Sejak saat itu dapat dikatakan bahwa bahasa ini adalah bahasa yang full-fledged, sama tinggi dengan bahasa-bahasa internasional pada masa itu, karena memiliki kaidah dan dokumentasi kata yang terdefinisi jelas.

Hingga akhir abad ke-19 dapat dikatakan terdapat paling sedikit dua kelompok bahasa Melayu yang dikenal masyarakat Nusantara: bahasa Melayu Pasar yang kolokial dan tidak baku; serta bahasa Melayu Tinggi yang terbatas pemakaiannya tetapi memiliki standar. Bahasa ini dikatakan sebagai lingua franca, tetapi kebanyakan berstatus sebagai bahasa kedua atau ketiga.

(19)

19

Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia memiliki catatan perkembangannya, yang diantaranya seperti dikutip dari Wikipedia (2017), yaitu sebagai berikut:

 Tahun 1908 pemerintah kolonial mendirikan sebuah badan penerbit buku-buku bacaan yang diberi nama Commissie voor de Volkslectuur (Taman Bacaan Rakyat), yang kemudian pada tahun 1917 diubah menjadi Balai Pustaka. Badan penerbit ini menerbitkan novel-novel, seperti Siti Nurbaya dan Salah Asuhan, buku-buku penuntun bercocok tanam, penuntun memelihara kesehatan, yang tidak sedikit membantu penyebaran bahasa Melayu di kalangan masyarakat luas.

 Tanggal 16 Juni 1927 Jahja Datoek Kajo menggunakan bahasa Indonesia dalam pidatonya. Hal ini untuk pertamakalinya dalam sidang Volksraad, seseorang berpidato menggunakan bahasa Indonesia

 Tanggal 28 Oktober 1928 secara resmi Muhammad Yamin mengusulkan agar bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan Indonesia.

 Tahun 1933 berdiri sebuah angkatan sastrawan muda yang menamakan dirinya sebagai Pujangga Baru yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisyahbana.

 Tahun 1936 Sutan Takdir Alisyahbana menyusun Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia.

 Tanggal 25-28 Juni 1938 dilangsungkan Kongres Bahasa Indonesia I di Solo. Dari hasil kongres itu dapat disimpulkan bahwa usaha pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia telah dilakukan secara sadar oleh cendekiawan dan budayawan Indonesia saat itu.

(20)

20

 Tanggal 18 Agustus 1945 ditandatanganilah Undang- Undang Dasar 1945, yang salah satu pasalnya (Pasal 36) menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara.

 Tanggal 19 Maret 1947 diresmikan penggunaan ejaan Republik sebagai pengganti ejaan Van Ophuijsen yang berlaku sebelumnya.

 Tanggal 28 Oktober s.d 2 November 1954 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia II di Medan. Kongres ini merupakan perwujudan tekad bangsa Indonesia untuk terus-menerus menyempurnakan bahasa Indonesia yang diangkat sebagai bahasa kebangsaan dan ditetapkan sebagai bahasa negara.

 Tanggal 16 Agustus 1972 H. M. Soeharto, Presiden Republik Indonesia, meresmikan penggunaan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) melalui pidato kenegaraan di hadapan sidang DPR yang dikuatkan pula dengan Keputusan Presiden No. 57 tahun 1972.

 Tanggal 31 Agustus 1972 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah resmi berlaku di seluruh wilayah Indonesia (Wawasan Nusantara).

 Tanggal 28 Oktober s.d 2 November 1978 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia III di Jakarta. Kongres yang diadakan dalam rangka memperingati Sumpah Pemuda yang ke-50 ini selain memperlihatkan kemajuan, pertumbuhan, dan perkembangan bahasa Indonesia sejak tahun 1928, juga berusaha memantapkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia.

(21)

21

 Tanggal 21-26 November 1983 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia ke-IV di Jakarta. Kongres ini diselenggarakan dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda yang ke-55. Dalam putusannya disebutkan bahwa pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia harus lebih ditingkatkan sehingga amanat yang tercantum di dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara, yang mewajibkan kepada semua warga negara Indonesia untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, dapat tercapai semaksimal mungkin.

 Tanggal 28 Oktober s.d 3 November 1988 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia V di Jakarta. Kongres ini dihadiri oleh kira-kira tujuh ratus pakar bahasa Indonesia dari seluruh Indonesia dan peserta tamu dari negara sahabat seperti Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, Belanda, Jerman, dan Australia. Kongres itu ditandatangani dengan dipersembahkannya karya besar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa kepada pencinta bahasa di Nusantara, yakni Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.

 Tanggal 28 Oktober s.d 2 November 1993 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia VI di Jakarta. Pesertanya sebanyak 770 pakar bahasa dari Indonesia dan 53 peserta tamu dari mancanegara meliputi Australia, Brunei Darussalam, Jerman, Hongkong, India, Italia, Jepang, Rusia, Singapura, Korea Selatan, dan Amerika Serikat. Kongres mengusulkan agar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa ditingkatkan statusnya menjadi Lembaga Bahasa

(22)

22

Indonesia, serta mengusulkan disusunnya Undang-Undang Bahasa Indonesia.

 Tanggal 26-30 Oktober 1998 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia VII di Hotel Indonesia, Jakarta. Kongres mengusulkan dibentuknya Badan Pertimbangan Bahasa.

C. Esensi Bahasa Indonesia

Dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), bahasa yang digunakan sebagai bahasa nasional, adalah “bahasa Indonesia”. Hal ini merujuk pada ikrar Sumpah Pemuda pada tahun 1928, butir ketiga, dengan bunyi, “Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”, dan juga merujuk pada Undang-Undang Dasar RI 1945 Bab XV (Bendera, Bahasa, lambang Negara, dan Lagu Kebangsaan) pada pasal 36 yang menyatakan: “Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia”.

Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa Melayu yang penggunaannya diresmikan setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, yaitu tepatnya sehari sesudahnya, bersamaan dengan mulai berlakunya konstitusi. Dari sudut pandang linguistik, bahasa Indonesia adalah salah satu dari banyak ragam bahasa Melayu, di mana sejak abad ke-19, dasar yang digunakan adalah bahasa Melayu Riau, yang sekarang merupakan wilayah Kepulauan Riau. Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia akhirnya mengalami perubahan akibat penggunaannya sebagai bahasa kerja pada lingkungan administrasi kolonial Belanda dan berbagai proses pembakuan sejak awal abad ke-20.

(23)

23

Penamaan "Bahasa Indonesia", dicanangkan ketika hari Sumpah Pemuda, tanggal 28 Oktober 1928, dengan tujuan untuk menghindari kesan "imperialisme bahasa" apabila nama bahasa Melayu tetap digunakan (Asmadi T. D, 2010). Proses ini menyebabkan berbedanya bahasa Indonesia sekarang ini dengan varian bahasa Melayu yang digunakan di Riau, maupun Semenanjung Malaya. Dan hingga saat ini, bahasa Indonesia merupakan bahasa yang hidup, yang terus menghasilkan kata- kata baru, baik melalui penciptaan maupun penyerapan dari bahasa daerah dan bahasa asing.

1) Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia memiliki kedudukan sangat penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kedudukan bahasa Indonesia dapatlah diperoleh berdasarkan pengalaman sejarah bangsa Indonesia yang berkaitan erat dengan perkembangan bahasa Indonesia. Dalam hal ini, terdapat dua kedudukan atau fungsi utama bahasa Indonesia, yaitu sebagai bahasa nasional dan bahasa negara.

a. Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional

Seminar politik Bahasa Nasional yang diselenggarakan pada bulan Februari 1975, Hasil Perumusan Seminar Politik Bahasa Nasional yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 25-28 Februari 1975 memutuskan kedudukan dan fungsi Bahasa Indonesia berada di atas bahasa-bahasa daerah. Dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia berfungsi sebagai berikut:

Lambang kebanggaan Nasional. Sebagai lambang kebanggaan Nasional, bahasa Indonesia memancarkan nilai-

(24)

24

nilai sosial budaya luhur bangsa Indonesia. Dengan keluhuran nilai yang dicerminkan bangsa Indonesia, kita harus bangga, menjunjung dan mempertahankannya.

Lambang Identitas Nasional. Bahasa sebagai lambang identitas nasional, bahasa Indonesia merupakan lambang bangsa Indonesia. Berarti bahasa Indonesia dapat mengetahui identitas seseorang, yaitu sifat, tingkah laku, dan watak sebagai bangsa Indonesia.

Alat pemersatu masyarakat yang berbeda-beda latar belakang sosial budaya dan bahasanya. Dengan fungsi ini, memungkinkan masyarakat Indonesia yang beragam latar belakang sosial budaya dan berbeda-beda bahasanya dapat menyatu dan bersatu dalam kebangsaan, cita-cita, dan rasa nasib yang sama.

Alat penghubung antar budaya-daerah. Dengan bahasa Indonesia seseorang dapat saling berhubungan untuk segala aspek kehidupan. Bagi pemerintah, segala kebijakan dan strategi yang berhubungan dengan ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan, akan mudah diinformasikan kepada warga negara. Apabila arus informasi antarmanusia semakin meningkat, berarti akan mempercepat peningkatan pengetahuan seseorang. Apabila pengetahuan seseorang meningkat, berarti tujuan pembangunan akan cepat tercapai.

b. Bahasa Negara (Sebagai bahasa resmi Negara Kesatuan Republik Indonesia- NKRI)

Dalam hasil perumusan seminar politik Bahasa Nasional yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 25-28

(25)

25

Februari 1975, dikemukakan bahwa di dalam kedudukannya sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia berfungsi sebagai:

Bahasa resmi kenegaraan. Bukti kuat bahwa bahasa Indonesia dijadikan sebagai bahasa resmi kenegaraan adalah digunakannya bahasa Indonesia dalam naskah proklamasi kemerdekaan RI 1945. Mulai dengan saat itu, bahasa Indonesia digunakan dalam segala upacara, peristiwa serta kegiatan kenegaraan.

Bahasa pengantar resmi pada lembaga pendidikan.

Bahasa Indonesia dapat digunakan sebagai bahasa pengantar di lembaga-lembaga pendidikan mulai dari taman kanak-kanak sampai dengan perguruan tinggi. Untuk memperlancar kegiatan belajar mengajar, materi pelajaran ynag berbentuk media cetak hendaknya juga berbahasa Indonesia.

Bahasa resmi perhubungan tingkat nasional. Bahasa Indonesia adalah untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta pemerintah. Dalam hal ini bahasa Indonesia digunakan dalam hubungan antar badan pemerintah dan penyebarluasan informasi kepada masyarakat.

Bahasa resmi dalam pengembangan kebudayaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan serta teknologi modern. Keragaman kebudayaan Indonesia berasal dari keanekaragaman suku, bahasa, dan budaya yang ada di Negara Indonesia. Dalam penyebarluasan ilmu dan teknologi modern agar jangkauan pemakaiannya lebih luas, penyebaran ilmu dan teknologi, baik melalui buku-buku pelajaran, buku-buku populer, majalah-majalah ilmiah maupun media cetak lain, hendaknya menggunakan bahasa Indonesia.

(26)

26

2) Dialek & Ragam Bahasa

Bahasa Indonesia berkembang dengan dua bentuk varian, yaitu 1) varian menurut pemakai yang disebut sebagai dialek; dan 2) varian menurut pemakaian yang disebut sebagai ragam bahasa.

a. Dialek

Berdasarkan dialegnya, bahasa Indonesia dibedakan atas empat bentuk berikut ini:

 Dialek regional, yaitu rupa-rupa bahasa yang digunakan di daerah tertentu sehingga dapat membedakan bahasa yang digunakan di suatu daerah dengan bahasa yang digunakan di daerah yang lain. Meski semuanya berasal dari eka bahasa, namun masing-masing daerah memiliki dialeg yang berbeda-beda. Misalnya: bahasa Melayu dialek Ambon, dialek Jakarta (Betawi), atau bahasa Melayu dialek Medan, dll.

 Dialek sosial, yaitu dialek yang digunakan oleh kelompok masyarakat tertentu atau yang menandai tingkat masyarakat tertentu. Contoh: dialek wanita, dialek remaja, dialek anak.

 Dialek temporal, yaitu dialek yang digunakan pada kurun waktu tertentu. Contohnya dialek Melayu zaman Sriwijaya dan dialek Melayu zaman Abdullah.

 Idiolek, yaitu keseluruhan ciri khas bahasa seseorang.

Sekalipun semua orang dapat berbahasa Indonesia, namun setiap individu, masing-masing memiliki ciri-ciri khas pribadi dalam pelafalan, tata bahasa, atau pilihan dan kekayaan penggunaan “kata”.

(27)

27

b. Ragam Bahasa

Ragam bahasa dapat diartikan sebagai variasi bahasa berdasarkan pemakaiannya, topik yang dibicarakan, hubungan pembicara dan teman bicara, dan medium pembicaraannya.

Berikut ragam bahasa yang umum dikenal. Beberapa bentuk ragam bahasa adalah sebagai berikut.

Ragam daerah atau dialek. Ragam patokan daerah, lazim dikenal dengan dialek atau logat. Ragam ini digunakan sekelompok masyarakat dari suatu wilayah atau daerah tertentu. Misalnya dialek Medan, Jawa, Sunda, dan Aceh.

Ragam sosiolek. Ragam sosiolek adalah ragam bahasa yang mencerminkan pribadi sosial pengguna bahasa. Seorang yang berpendidikan tinggi tentu saja berbeda ragam dalam pemakaian bahasa dengan orang yang berpendidikan rendah.

Begitu juga jika kita membandingkan bahasa yang digunakan oleh para pekerja pelabuhan dan calo di terminal. Bahasa yang digunakan oleh cerdik pandai umumnya lebih bagus dan piawai. Mereka yang pernah mengecap pendidikan dapat membedakan pengucapan kata-kata seperti: folio, film, apotek, dan fitnah. Mereka dapat menganalisis kebenaran sesuai dengan konteks kalimat atau kebakuan kata. Folio sebagai jenis kertas atau polio yang merupakan jenis penyakit sesuai dengan konteks kalimat yang diinginkan. Demikian juga kata film adalah jenis kata yang baku bukan filem. Begitu juga kata apotek, termasuk kata baku, karena toko obat disebut sebagai apoteker bukan apotiker. Sedangkan mereka yang tidak pernah belajar bahasa akan semena-mena mengucapkan kata-kata seperti: pilem/pilm, pitnah dan lain-lain (Yamilah dan Samsoerizal, 1994:10).

(28)

28

Ragam fungsiolek. Ragam berdasarkan sikap penutur, mencakup daya ucap secara khas. Ragam ini digunakan antara lain dalam kegiatan: kesehatan, susastra, olahraga, jurnalistik, lingkungan, dan dalam karya ilmiah. Setiap bidang tersebut menampakkan ciri tersendiri dalam pengungkapannya.

Ragam lisan dan tulis. Berdasarkan pada ragam penggunaannya, bahasa dapat di bagi menjadi ragam lisan dan tulisan. Ragam lisan memiliki ciri seperti: 1) Memanfaatkan alat ucap dengan bantuan intonasi, mimik, dan gerak-gerik anggota tubuh; 2) Komunikasi berlangsung secara tatap muka.

Ragam bahasa lisan, dalam kegiatan sehari-hari terwujud melalui: Ragam percakapan; Ragam pidato; dan Ragam kuliah.

Ragam bahasa tulis ciri-ciri seperti: 1) Menggunakan ejaan dalam penyampaian informasi; 2) Komunikasi berlangsung secara non tatap muka. Ragam bahasa tulis dapat dilihat pada penggunaan: ragam teknis; ragam undang-undang; ragam catatan; ragam surat-menyurat.

Ragam baku dan tidak baku. Ragam bahasa baku (standar) memiliki sifat; kemantapan, dinamis, kecendikiaan, dan keseragaman. Ragam baku adalah ragam (konvensional) yang telah disepakati bersama dan terkumpul dalam Tata Bahasa Baku.

3) Laras Bahasa

Laras bahasa (bahasa Inggris: register) merupakan ragam bahasa yang digunakan untuk suatu tujuan atau pada konteks sosial tertentu. Banyak sekali laras bahasa yang dapat diidentifikasi tanpa batasan jelas. Definisi dan kategorisasi laras bahasa berbeda antara para ahli linguistik.

(29)

29

Dapat dipahami bahwa, laras bahasa adalah suatu kesesuaian antara bahasa itu sendiri dengan pemakaiannya.

Dengan kata lain, suatu bahasa harus sesuai dengan pemakaiannya. Contohnya, jika dalam hal penulisan karya sastra seperti puisi dan pantun, maka laras bahasa yang digunakan adalah laras puisi atau pun laras pantun. Sebaliknya, jika bahasa di gunakan dalam hal penulisan ilmiah, maka laras bahasa yang digunakan adalah laras ilmiah.

Berdasarkan fungsi pemakaiannya, bahasa dibedakan menjadi beberapa bentuk laras bahasa di antaranya adalah laras bahasa iklan, laras bahasa ilmiah, laras populer dan lain- lain. Salah satu model pembagian laras bahasa yang paling terkemuka diajukan oleh Joos (1961) ; sebagaimana dikutip dari Wikipedia (2017), yang membagi lima laras bahasa menurut derajat keformalannya, yaitu (1) beku (frozen), (2) resmi (formal), (3) konsultatif (consultative), (4) santai (casual), dan (5) akrab (intimate)

 Ragam beku digunakan pada situasi hikmat dan sangat sedikit memungkinkan keleluasaan seperti pada kitab suci, putusan pengadilan, dan upacara pernikahan.

 Ragam resmi digunakan dalam komunikasi resmi seperti pada pidato resmi, rapat resmi, dan jurnal ilmiah.

 Ragam konsultatif digunakan dalam pembicaraan yang terpusat pada transaksi atau pertukaran informasi seperti dalam percakapan di sekolah dan di pasar.

 Ragam santai digunakan dalam suasana tidak resmi dan dapat digunakan oleh orang yang belum tentu saling kenal dengan akrab.

(30)

30

 Ragam akrab digunakan di antara orang yang memiliki hubungan yang sangat akrab dan intim.

Laras bahasa juga memiliki ciri dan gaya penulisannya sendiri yang dapat disampaikan baik dalam bentuk tulisan mau pun penulisan. Ada dua macam laras bahasa yang dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu laras bahasa biasa dan laras bahasa khusus.

Laras bahasa biasa. Laras bahasa biasa adalah laras bahasa yang sering ditemukan dan digunakan oleh masyarakat luas, misalnya laras bahasa yang dipakai dalam bidang hiburan, seperti laras bahasa berita, penerangan, dan lain-lain.

Laras bahasa khusus. Laras bahasa khusus adalah laras bahasa yang digunakan dalam pemakaian khusus yaitu, laras bahasa ilmiah yang dipakai dalam penulisan laporan ilmiah, dan lain-lain.

Kedua jenis laras bahasa ini dapat dibedakan dengan cara melihat Kosakata, Gaya Bahasa, dan Tata bahasa.

Contoh Analisis Laras Bahasa:

ANALISIS LATAR BELAKANG BERDASARKAN BAHASA INDONESIA LARAS ILMIAH

Sebagai mahasiswa tentunya harus memiliki pengetahuan, kemampuan, dan keterampilan untuk menyelesaikan tugas-tugasnya.

Mahasiswa tentunya harus memiliki bekal, seperti keterampilan menulis atau keterampilan menuangkan ide atau gagasan dalam bentuk tulisan. Dalam menggunakan ejaan yang benar, memilih kata dan istilah yang tepat, serta menyusun kalimat efektif. Selain itu mahasiswa juga harus mampu membuat ide pokok yang jelas dalam sebuah paragraf dan menyusun paragraf menjadi kohesif dan koheren sehingga mahasiswa dituntut memiliki pemikiran yang logis. Oleh karena itu, berikut ini dikemukakan tentang konsep dasar mengenai fungsi dan bahasa keilmuan, ciri-ciri bahasa Indonesia ragam ilmiah.

(31)

31

Di dalam paragraf tersebut, terdapat beberapa kalimat yang tidak menggunakan bahasa indonesia ilmiah.

Pertama. “Mahasiswa tentunya harus memiliki bekal, seperti keterampilan menulis atau keterampilan menuangkan ide atau gagasan dalam bentuk tulisan.” Kalimat ini tidak efektif. Kesalahan tersebut terlihat dalam penggunaan kata

“atau” sehingga kalimatnya menjadi boros dan tidak sesuai dengan kaidah penulisan kalimat efektif.

Kedua. “Dalam menggunakan ejaan yang benar, memilih kata dan istilah yang tepat, serta menyusun kalimat efektif.” Kalimat ini, tidak memenuhi persyaratan penggunaan kalimat efektif secara benar, sehingga informasi yang disusun penulis tidak tersampaikan dengan baik kepada pembaca.

Setelah kalimat di atas di revisi, paragraf yang benar adalah sebagai berikut:

Mahasiswa harus memiliki pengetahuan, kemampuan, dan keterampilan untuk menyelesaikan tugas-tugasnya. Salah satu bentuk keterampilan tersebut adalah keterampilan menulis. Keterampilan menulis merupakan kemampuan menuangkan ide atau gagasan dalam bentuk tulisan. Menulis sebuah karya ilmiah harus menggunakan EYD dengan benar, memilih kata dan istilah dengan tepat, serta menyusun kalimat efektif. Mahasiswa juga harus mampu membuat ide pokok yang jelas dalam sebuah paragraf, menyusun paragraf menjadi kohesi dan koheren. Mahasiswa dituntut memiliki pemikiran yang logis. Oleh karena itu, berikut ini dikemukakan tentang konsep dasar fungsi bahasa keilmuan dan ciri-ciri bahasa Indonesia ragam ilmiah.

Referensi

Asmadi T. D. (2010). Arti Tanggal 2 Mei bagi Bahasa Indonesia. Laman Lembaga Pers Dr. Sutomo. Edisi 08 Februari 2010. diakses 5 Maret 2010.

(32)

32

Setiawan Ebta (2012-2016). Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Kamus versi online/daring (dalam jaringan).

versi 1.9. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemdikbud (Pusat Bahasa)

Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. (2017). Laras Bahasa. https://id.wikipedia.org/wiki/Laras_bahasa/diakses tanggal 22 Januari 2017, pada pukul 12.33 Wita

Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. (2017).

Bahasa Indonesia. https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Indonesia/diakses tanggal 25 Januari 2017, pada pukul 19.07 Wita

Yamilah M dan Slamet Samsoerizal. (1994). Bahasa Indonesia untuk Pendidikan Tenaga Kesehatan. Jakarta: EGC.

(33)

33

Bagian 2:

Komponen Bahasa Indonesia

A. Ejaan Bahasa Indonesia

Ejaan adalah kaidah-kaidah, atau cara menggambarkan bunyi- bunyi (kata, kalimat, dsb) dalam bentuk tulisan atau huruf- huruf serta penggunaan tanda baca. Untuk ejaan-ejaan dalam bahasa Indonesia, sedikitnya banyak mengalami beberapa tahapan penting, yaitu sebagai berikut.

1) Ejaan van Ophuijsen

Ejaan ini merupakan ejaan bahasa Melayu dengan huruf Latin. Ejaan ini disusun pada tahun 1896, oleh Charles Van Ophuijsen yang dibantu oleh Nawawi Soetan Ma’moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim. Pedoman tata bahasa yang kemudian dikenal dengan nama ejaan van Ophuijsen ini resmi diakui pemerintah kolonial pada tahun tahun 1901. Ciri-ciri dari ejaan ini adalah sebagai berikut:

 Huruf ï untuk membedakan antara huruf i sebagai akhiran dan karenanya harus disuarakan tersendiri dengan diftong seperti mulaï dengan ramai. Juga digunakan untuk menulis huruf y seperti dalam Soerabaïa.

 Huruf j untuk menuliskan kata-kata jang, pajah, sajang, dsb.

 Huruf oe untuk menuliskan kata-kata goeroe, itoe, oemoer, dsb.

(34)

34

 Tanda diakritik, seperti koma ain dan tanda trema, untuk menuliskan kata-kata ma’moer, ’akal, ta’, pa’, dsb.

2) Ejaan Republik

Ejaan ini diresmikan pada tanggal 19 Maret 1947 yang menggantikan ejaan sebelumnya. Ejaan ini juga dikenal dengan nama “ejaan Soewandi”. Ciri-ciri ejaan ini yaitu sebagai berikut:

 Huruf oe diganti dengan u pada kata-kata guru, itu, umur, dsb.

 Bunyi hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan k pada kata-kata tak, pak, rakjat, dsb.

 Kata ulang boleh ditulis dengan angka 2 seperti pada kanak2, ber-jalan2, ke-barat2-an.

 Awalan di- dan kata depan di, kedua-duanya ditulis serangkai dengan kata yang mendampinginya.

3) Ejaan Melindo (Melayu Indonesia)

Konsep ejaan ini muncul dan mulai dikenal luas oleh berbagai masyarakat yakni pada sekitar akhir tahun 1959.

Latarbelakang munculnya ejaan ini adalah perkembangan politik yang terjadi selama tahun-tahun berikutnya, dan akhirnya diurungkanlah peresmian ejaan ini.

4) Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD) Ejaan ini diresmikan pemakaiannya pada tanggal 16 Agustus 1972 oleh Presiden Republik Indonesia, Soeharto.

Peresmian itu berdasarkan Putusan Presiden No. 57, Tahun 1972. Dengan EYD, ejaan dua bahasa serumpun, yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Malaysia semakin dibakukan.

(35)

35

Perubahan yang terdapat pada Ejaan Baru atau Ejaan LBK (tahun 1967), antara lain:

 "tj" menjadi "c" : tjutji → cuci

 "dj" menjadi "j": djarak → jarak

 "j" menjadi "y" : sajang → sayang

 "nj" menjadi "ny" : njamuk → nyamuk

 "sj" menjadi "sy" : sjarat → syarat

 "ch" menjadi "kh": achir → akhir Indonesia

(pra-1972)

Malaysia (pra-1972)

Sejak 1972

tj ch c

dj j j

ch kh kh

nj ny ny

sj sh sy

j y y

oe* u u

Catatan: Tahun 1947 "oe" sudah digantikan dengan "u".

Revisi 1987. Pada tahun 1987, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0543a/U/1987 tentang Penyempurnaan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan.

Keputusan menteri ini menyempurnakan EYD edisi 1975.

Revisi 2009. Pada tahun 2009, Menteri Pendidikan Nasional mengeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 46 Tahun 2009 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Jadi, dengan dikeluarkannya peraturan menteri ini, maka EYD edisi 1987 diganti dan dinyatakan tidak berlaku lagi.

(36)

36

Beberapa kebijakan baru yang ditetapkan di dalam EYD, antara lain:

 Huruf f, v, dan z yang merupakan unsur serapan dari bahasa asing diresmikan pemakaiannya.

 Huruf q dan x yang lazim digunakan dalam bidang ilmu pengetahuan tetap digunakan, misalnya pada kata furqan, dan xenon.

 Awalan "di-" dan kata depan "udi" dibedakan penulisannya. Kata depan "di" pada contoh di rumah, di sawah, penulisannya dipisahkan dengan spasi, sementara

"di-" pada dibeli atau dimakan ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya.

 Kata ulang ditulis penuh dengan mengulang unsur- unsurnya. Angka dua tidak digunakan sebagai penanda perulangan

5) Daftar kata serapan dalam bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang terbuka, di mana bahasanya banyak menyerap kata-kata dari bahasa lain.

Berikut dikutip dari Wikipedia (2017), jumlah serapan kata dari beberapa negara:

Asal bahasa Jumlah kata

Belanda 3.280 kata

Inggris 1.610 kata

Arab 1.495 kata

Sanskerta 677 kata

Tionghoa 290 kata

Portugis 131 kata

Tamil 83 kata

Parsi 63 kata

Hindi 7 kata

(37)

37

Adapun jumlah kata-kata yang diserap dari bahasa Nusantara dalam KBBI Edisi Keempat, seperti dikutip dari Adi Budiwidiyanto (2012), ditunjukkan dalam daftar berikut:

Asal bahasa Jumlah kata

Jawa 1109 kata

Minangkabau 929 kata

Sunda 223 kata

Madura 221 kata

Bali 153 kata

Aceh 112 kata

Banjar 100 kata

Sistem Penulisan Huruf

besar

Huruf kecil

IPA Huruf besar

Huruf kecil

IPA

A a /ɑː/ N n /n/

B b /b/ O o /ɔ, o/

C c /tʃ/ P p /p/

D d /d/ Q q /q/

E e /e, ɛ, ə/ R r /r/

F f /f/ S s /s/

G g /ɡ/ T t /t/

H h /h/ U u /u/

I i /i/ V v /v, ʋ/

J j /dʒ/ W w /w/

K k /k/ X x /ks/

L l /l/ Y y /j/

M m /m/ Z z /z/

Dibandingkan dengan bahasa-bahasa Eropa, bahasa Indonesia tidak menggunakan kata bergender. Sebagai contoh kata ganti seperti "dia" tidak secara spesifik menunjukkan apakah orang yang disebut itu lelaki atau perempuan. Hal yang

(38)

38

sama juga ditemukan pada kata seperti "adik" dan "pacar"

sebagai contohnya. Untuk memerinci sebuah jenis kelamin, sebuah kata sifat harus ditambahkan, "adik laki-laki" sebagai contohnya. Ada juga kata yang berjenis kelamin, seperti contohnya "putri" dan "putra". Kata-kata seperti ini biasanya diserap dari bahasa lain. Pada kasus di atas, kedua kata itu diserap dari bahasa Sansekerta melalui bahasa Jawa Kuno.

Untuk mengubah sebuah kata benda menjadi bentuk jamak digunakanlah reduplikasi (perulangan kata), tapi hanya jika jumlahnya tidak terlibat dalam konteks. Sebagai contoh "seribu orang" dipakai, bukan "seribu orang-orang". Perulangan kata juga mempunyai banyak kegunaan lain, tidak terbatas pada kata benda.

Bahasa Indonesia menggunakan dua jenis kata ganti orang pertama jamak, yaitu "kami" dan "kita". "Kami" adalah kata ganti eksklusif yang berarti tidak termasuk sang lawan bicara, sedangkan "kita" adalah kata ganti inklusif yang berarti kelompok orang yang disebut termasuk lawan bicaranya.

Susunan kata dasar yaitu Subjek-Predikat-Objek (SPO), walaupun susunan kata lain juga mungkin. Kata kerja tidak di bahasa berinfleksikan kepada orang atau jumlah subjek dan objek. Bahasa Indonesia juga tidak mengenal kala (tense).

Waktu dinyatakan dengan menambahkan kata keterangan waktu (seperti, "kemarin" atau "esok"), atau petunjuk lain seperti "sudah" atau "belum".

Dengan tata bahasa yang cukup sederhana bahasa Indonesia mempunyai kerumitannya sendiri, yaitu pada penggunaan imbuhan yang cukup membingungkan bagi orang yang pertama kali belajar bahasa Indonesia.

(39)

39

6) Awalan, akhiran, dan sisipan

Bahasa Indonesia mempunyai awalan, akhiran, maupun sisipan, baik yang asli dari bahasa-bahasa Nusantara maupun dipinjam dari bahasa-bahasa asing.

Awalan Fungsi (pembentuk) Perubahanbentuk Kaitan

ber- verba be-; bel- per-

ter- verba; adjektiva te-; tel- ke-

meng- verba (aktif) me-; men-; mem-;

meny-

di-; pe-;

ku-; kau;

di- verba (pasif) meng-

ke- nomina; numeralia;

verba (percakapan)

ter-

per- verba; nomina pe-; pel- ber-

peng- nomina pe-; pen-; pem-;

peny-

meng-

se- klitika; adverbia

ku-, kau- verba (aktif) me-

B. Penulisan Huruf Kapital

Penulisan huruf kapital (huruf besar) adalah hal yang penting dan harus diperhatikan dalam penulisan. Berikut ini pedoman penulisan huruf kapital yang diambil dari Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD).

1) Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat. Contohnya: Saya sedang belajar.

2) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam kata dan ungkapan yang berhubungan dengan agama, kitab suci, dan Tuhan, termasuk kata ganti untuk Tuhan. Contoh:

 Islam

 Kristen

 Quran

 Injil

(40)

40

 Weda

 Yang Maha Kuasa

 Yang Maha Penyayang

 Rahmat-Mu

 Kuasa-Nya

3) Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama untuk menuliskan kata-kata, seperti imam, makmum, doa, puasa, dan misa. Contohnya seperti: Budi selalu berdoa sebelum keluar rumah.

4) Huruf kapital digunakan juga sebagai huruf pertama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang. Contohnya:

 Haji Nagabonar

 Sultan Abubakar

 Nabi Yunus

 Imam Abdullah

5) Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang tidak diikuti nama orang. Contoh:

Kalimat Salah Kalimat Benar Ibunya menunaikan ibadah

Haji.

Ibunya menunaikan ibadah haji.

Ia merupakan seorang Sultan yang bijaksana.

Ia merupakan seorang sultan yang bijaksana.

Pria itu ditangkap pihak berwenang karena mengaku sebagai Nabi.

Pria itu ditangkap pihak berwenang karena mengaku sebagai nabi.

6) Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang, nama instansi, atau nama tempat. Contoh:

(41)

41

 Presiden Joko Widodo

 Rektor Universitas Kristen Artha Wacana Kupang

 Gubernur Nusa Tenggara Timur

 Walikota Yonas Salean

 Jenderal Yakobus

 Menteri Luar Negeri

 Profesor Hartanto

7) Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang tidak diikuti nama orang, nama instansi, atau nama tempat. Contoh:

Kalimat Salah Kalimat Benar Bulan lalu ayahnya dilantik

menjadi Menteri.

Bulan lalu ayahnya dilantik menjadi menteri.

Pertemuan itu dihadiri beberapa Jenderal.

Pertemuan itu dihadiri beberapa jenderal.

Sebagai seorang Walikota yang baru, ia berani memberantas korupsi di kantornya.

Sebagai seorang walikota yang baru, ia berani memberantas korupsi di kantornya.

8) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama orang. Contohnya seperti di bawah ini:

 Agustinus Bakar Bessy

 Jusuf Blegur

 Maya Arvina Matadji

 Helmy Sahetapy

9) Dalam nama orang tertentu, huruf kapital tidak dipakai untuk menuliskan huruf pertama kata bin atau binti.

Contohnya:

 Ismail bin Abubakar

 Siti Fatimah binti Mahmud

(42)

42

10) Huruf kapital “tidak dipakai” sebagai huruf pertama nama orang atau nama geografis yang digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran. Contoh:

 10 volt,

 5 ampere,

 mesin diesel,

 garam inggris,

 gula jawa,

 jeruk bali.

11) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dari hal-hal berikut: nama bangsa, suku, dan bahasa. Contoh:

 suku Sunda

 bahasa Inggris

 bangsa Indonesia

 logat Kupang

12) Mohon diingat bahwa, kata bangsa, suku, dan bahasa, ditulis dengan huruf kecil jika berada di tengah kalimat.

Contoh: Para ahli bahasa sedang merumuskan aturan pengindonesiaan istilah asing.

13) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah. Contoh:

Salah Benar

Perang Kemerdekaan perang Kemerdekaan Bulan Agustus bulan Agustus

Tahun Masehi tahun Masehi

14) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama khas dalam geografi. Contohnya seperti di bawah ini:

 Bukit Barisan (bukan bukit Barisan)

 Danau Toba (bukan danau Toba)

(43)

43

 Selat Sunda (bukan selat Sunda)

 Teluk Jakarta (bukan teluk Jakarta)

 Sungai Cimanuk (bukan sungai Cimanuk)

15) Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama dalam geografi yang tidak khas. Perhatikan contoh berikut

Salah Benar

Berlayar sampai ke Teluk. Berlayar sampai ke teluk.

Kami menyeberangi Sungai yang dangkal.

Kami menyeberangi sungai yang dangkal.

Di desaku ada Bukit yang indah.

Di desaku ada bukit yang indah.

Setiap sore saya berenang di Danau yang bersih.

Setiap sore saya berenang di danau yang bersih.

16) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama resmi badan, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta dokumen resmi. Contoh: Dewan Perwakilan Rakyat;

Undang-Undang Dasar 1945; Kementerian Pekerjaan Umum. Perhatikan penulisan berikut:

Kalimat Salah Kalimat Benar Menurut Undang-Undang,

ia dapat dijatuhi hukuman paling lama lima tahun.

Menurut undang-undang, ia dapat dijatuhi hukuman paling lama lima tahun.

Teman saya menjadi pegawai di salah satu Kementerian.

Teman saya menjadi pegawai di salah satu kementerian.

17) Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan, seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik, dan paman yang dipakai sebagai kata ganti atau sapaan. Contoh:

 Kapan Saudara berangkat?

 Saya akan disuntik, Dok?

(44)

44

 Di mana rumah Pak Joni?

 Itu apa, Bu?

 Surat Bapak sudah saya terima.

Perhatikan contoh dalam tabel ini:

Kalimat Salah Kalimat Benar Semua Kakak saya sudah

menikah.

Semua kakak saya sudah menikah.

Kita harus menghormati Ayah dan Ibu kita.

Kita harus menghormati ayah dan ibu kita.

Mobil Pak Lurah mogok. Mobil pak lurah mogok.

Kami sedang menengok Bu Guru.

Kami sedang menengok bu guru.

18) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata ganti Anda. Untuk jelasnya, perhatikan contoh berikut.

Kalimat Salah Kalimat Benar Terima kasih perhatian

anda.

Terima kasih perhatian Anda.

Tahukah anda bahwa harga bahan bakar minyak akan dinaikkan?

Tahukah Anda bahwa harga bahan bakar minyak akan din

C. Penulisan Huruf Cetak Miring

Penggunaan huruf miring dalam Bahasa Indonesia sangat penting untuk menandakan pemahaman tentang kalimat. Ada banyak fungsi dari penggunaan kata miring dalam sebuah kalimat agar pembaca dapat memahami betul makna yang terkandung dalam kata yang dicetak miring tersebut.

Penulisan cetak miring memiliki beberapa ketentuan, yaitu sebagai berikut:

 Cetak miring digunakan untuk memberi penekanan pada kata-kata tertentu, dan penggunaannya harus berhati-hati.

(45)

45

Gunakan markah cetak miring (''...”), contoh: ''Teks cetak miring” yang menghasilkan: Teks cetak miring.

 Huruf miring digunakan untuk menuliskan nama buku atau sebuah kalimat. Contoh :

 Cerita kasih tak sampai, Siti Nurbaya, novel karya Marah Rusli yang melegenda

 Kitab Sutasoma, yang di karang oleh Empu Tantular, di jadikan sebagai Motto Negara Kesatuan Republik Indonesia yaitu Bhinekka Tunggal Ika

 Habis Gelap Terbitlah Terang, adalah buku yang merupakan kumpulan-kumpulan surat yang di tulis oleh R.A. Kartini dan di kirimkan kepada teman- temannya di Eropa

 Huruf miring digunakan untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf atau kata dalam sebuah kalimat.

Contohnya:

Huruf a adalah huruf pertama dalam alphabet

Isilah kolom di bawah ini dengan menggunakan huruf kapital

Blog ini tidak bermaksud untuk menggurui pembaca, tetapi hanya media sharing

 Dalam kasus investasi bodong kemarin, pasangan suami istri tersebut bukanlah penipu, tetapi mereka adalah korban yang tertipu

 Peraturan di sekolah tersebut, setiap hari jumat murid dan guru diwajibkan memakai baju batik

Di lingkungan rumah sakit tersebut, dilarang merokok

(46)

46

 Huruf miring digunakan untuk menuliskan daftar pustaka dalam sebuah karya ilmiah.

Contoh :

 Tampubolon, D.P. 1087. Kemampuan Membaca, Teknik Membaca Efektif dan Efisien. Bandung

 Keraf, Gorys.1980. Komposisi, Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa. Ende: Nusa Indah

 Witarsa dan Rahmat Ruhyana. 2002. Pendidikan Budi Pekerti 4. bandung: Ganeca Exact

 Arcturus. 2011. Kumpulan Dongeng Klasik: Kisah- Kisah Memikat dari seluruh Dunia. Jakarta: Elex Media

 Bambang Riyanto, Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan, Gajah Mada Press, Yogyakarta, 1995

 Huruf miring digunakan untuk menuliskan nama ilmiah dan nama latin dalam kalimat. Contoh:

Antigonon adalah nama ilmiah bunga air mata pengantin

 Indonesia pernah mengalami kerja paksa zaman jepang, Romusha

 Semut termasuk kelompok serangga yang merupakan anggota keluarga dari Artropoda

Makanan yang mengandung monosodium glutamat tidak baik untuk kesehatan

 Huruf miring di gunakan untuk memberi perbedaan atau penanda dalam kalimat. Contoh :

 Istilah ekonomi berasal dari bahasa Yunani, yaitu oikos yang berarti rumah tangga atau keluarga dan nomos yang berarti peraturan atau hukum

(47)

47

Huruf a,i,u,e,o, merupakan huruf vokal, sedangkan b,c,d,f,g, dan lainnya merupakan huruf konsonan

 Kata Pancasila, berasal dari bahasa sansekerta, yang terdiri dari dua kata, yaitu panca yang berarti lima dan sila yang berarti prinsip atau dasar atau asas

Bunga desa, baik hati, rendah diri, lapang dada, merupakan beberapa contoh kata sifat majemuk

 Huruf miring digunakan menuliskan alamat website atau sebuah link di dalam kalimat. Contoh :

 Untuk mencari berbagai informasi yang mudah dan cepat, anda dapat mencarinya di kamus listrik pintar yang bernama www.google.com

 Sekarang bukan lagi zamannya mengirim berita atau informasi melalui surat kertas apalagi burung merpati, karena sudah ada surat listrik tercepat (kecuali tidak ada listrik dan koneksi internet), www.yahoomail.com

 Ingin memperluas jaringan pertemanan yang tanpa di batasi jarak, usia dan waktu, mari berkunjung di jaringan sosialita, www.facebook.com

link survei: http://survey.paneland.com/index.php?

 Huruf miring digunakan untuk menulis kalimat yang dikutip dari buku, majalah atau pernyataan orang lain.

Contohnya:

Kekuasaan seorang presiden ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanya kekuasaan rakyat.

Dan di atas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa, Ir. Soekarno

(48)

48

Kesempatan untuk menemukan kekuatan yang lebih baik dalam diri kita muncul ketika hidup terlihat sangat menantang, Joseph Campbell

Jika ingin memperoleh ilmu pengetahuan yang tinggi, kita harus menghormati guru, belajar giat dan sungguh-sungguh, dan terutama berterima kasih atas bimbingan guru yang tanpa pamrih, Master Cheng Yen

Hargailah usahamu, hargailah dirimu. Harga diri memunculkan disiplin diri. Ketika anda memiliki keduanya, itulah kekuatan sesungguhnya, Clint Eastwood

Kesenangan dalam sebuah pekerjaan membuat kesempurnaan pada hasil yang dicapai, Aristoteles

 Penggunaan huruf miring bisa dituliskan untuk judul- judul film, contohnya:

Titanic yang di tulis oleh James Cameron dan Harry Potter, karya JK Rowling salah satu film terlaris sepanjang masa

Film kartun si unyil, dengan tokoh pak Raden sangat populer di tahun 1980 an

 Huruf miring bisa dituliskan untuk majalah dan surat kabar, contohnya:

Majalah Kartini dan Femina memang sangat populer di kalangan wanita.

Bisnis Indonesia, merupakan surat kabar mingguan yang ditunggu para pebisnis.

 Huruf miring bisa digunakan untuk ungkapan-ungkapan asing, contohnya:

(49)

49

 Karena menjadi tersangka pemakai narkoba dan obat- obat terlarang, siswa itu akhirnya di drop out oleh pihak sekolah

Nugget adalah salah satu jenis makanan fast food yang digemari semua kalangan

 Cetak miring digunakan untuk judul karya sastra dan seni.

Untuk judul artikel, bab, atau karya pendek lainnnya, tidak diberi cetak miring, melainkan diapit oleh tanda kutip ganda (“...”).

 Gunakan cetak miring jika menulis mengenai kata sebagai kata atau huruf sebagai huruf untuk menunjukkan perbedaan penggunaannya. Contoh:

 Dwi berarti dua

 Kata sastra diturunkan dari kata bahasa Sansekerta

 Huruf paling sering digunakan dalam bahasa Inggris adalah e.

 Jangan mencetak miring seluruh kutipan hanya karena itu adalah kutipan. Pertimbangkan untuk menggunakan metode lain seperti mengapit dengan tanda kutip ganda.

 Gunakan cetak miring di dalam kutipan jika bahan sumber melakukannya, atau jika ingin menambahkan penekanan.

Pada kasus kedua, maka berikan catatan "[penekanan ditambahkan]" pada bagian akhir kutipan.

 Jika sumber sendiri menggunakan cetak miring sebagai penekanan, dan Anda ingin menekankan bahwa penekanan tersebut berasal dari sumber dan bukan dari Anda, Anda dapat menambahkan "[penekanan dari sumber]" setelah kutipan tersebut.

(50)

50

D. Penulisan Tanda Baca

Tanda baca adalah simbol yang tidak berhubungan dengan fonem (suara), atau kata dan frasa pada suatu bahasa, melainkan ia berperan untuk menunjukkan struktur dan organisasi suatu tulisan, dan juga intonasi serta jeda yang dapat diamati sewaktu pembacaan. Aturan tanda baca berbeda antar bahasa, lokasi, waktu, dan terus berkembang. Beberapa aspek tanda baca adalah suatu gaya spesifik yang karenanya tergantung pada pilihan penulis.

Beberapa jenis tanda baca yang terdapat dalam kalimat, adalah sebagai berikut:

1) Tanda Titik (.)

 Tanda titik digunakan pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan. Contoh: Saya suka makan nasi.

Apabila dilanjutkan dengan kalimat baru, harus diberi jarak satu ketukan.

 Tanda titik dipakai pada akhir singkatan nama orang.

Contoh:

 Abraham J. Sinaga

 Deny K. B. Wattimena

 Apabila nama itu ditulis lengkap, maka tanda titik tidak dipergunakan, contoh: Leonardo Amallo

 Tanda titik dipakai pada akhir singkatan gelar, jabatan, pangkat, dan sapaan. Contoh:

 Dr. (doktor)

 S.E. (sarjana ekonomi)

 Kol. (kolonel)

 Bpk. (bapak)

(51)

51

 Tanda titik dipakai pada singkatan kata yang sudah umum. Pada singkatan yang terdiri atas tiga huruf atau lebih hanya dipakai satu tanda titik. Contoh:

 dll. (dan lain-lain)

 dsb. (dan sebagainya)

 tgl. (tanggal)

 hlm. (halaman)

 Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu atau jangka waktu.

Contoh:

 Pukul 7.10.12 (pukul 7 lewat 10 menit 12 detik)

 0.20.30 jam (20 menit, 30 detik)

 Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya. Contoh: Kota kecil itu berpenduduk 51.156 orang.

 Tanda titik “tidak digunakan” memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang tidak menunjukkan jumlah. Contoh:

 Nama Adi terdapat pada halaman 1210 dan dicetak tebal

 Nomor Giro 033983 telah saya berikan kepada Mamat.

 Tanda titik tidak digunakan dalam singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi maupun di dalam akronim yang sudah diterima oleh masyarakat. Contoh:

 DPR (Dewan Perwakilan Rakyat)

 SMA (Sekolah Menengah Atas)

 PT (Perseroan Terbatas)

 WHO (World Health Organization)

Referensi

Dokumen terkait

Selanjutnya ragam bahasa yang diaplikasikan adalah ragam bahasa tidak standar karena ternyata jenis ragam bahasa ini jauh lebih komunikatif ketimbang ragam bahasa baku

Penelitian ini adalah suatu kajian sikap bahasa yang bertujuan mengetahui,jawaban tentang sikap bahasa mahasiswa STBA Harapan Medan terhadap penutur bahasa Indonesia beraksen Jawa,

bahasa sapaan pada pedagang di pasar Klitikan Semanggi Surakarta meliputi ragam bahasa sapaan sebagai kata ganti dan istilah kekerabatan, dan (3) faktor-

(1994:2) menjelaskan bahwa bahasa indonesia ilmiah merupakan salah satu ragam bahasa Indonesia yang digunakan untuk menyampaikan buah pikiran yang bersifat ilmiah,

Berdasarkan hasil analisis data observasi, mengacu pada ciri-ciri sikap bahasa yang diungkapkan oleh Garvin Mathiot, dapat dikatakan bahwa sikap bahasa mahasiswa

Berdasarkan pemaparan di atas, interfrensi pada tataran morfologi adalah adanya persentuhan bahasa tersebut dengan unsur-unsur bahasa yang lain yang di lakukan oleh

Ragam bahasa puisi yang dianalisis berdasarkan: 1) penggunaan bahasa indah/estetis, 2) mengandung banyak makna, 3) terkandung simbol-simbol/bahasa figuratif yang mengacu

Dalam fungsi ini ragam baku menyatukan semua penutur bahasa dari tingkat dialek yang berbeda-beda dan tidak dapat berhubungan satu sarna lain dengan bahasa kedaerahannya