Efektifitas Iklan Bungkus Rokok Terhadap Anak di Bawah Umur Studi Kasus Kecamatan Medan Belawan
Syafii Maarief, Muhammad Alfikri Korespondensi: [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas iklan bungkus rokok sebagai komunikasi informative dan komunikasi massa. Iklan yang dimaksud adalah peringatan bahaya merokok sebagai bentuk himbauan sebagai akibat dari merokok. Pada dewasa ini, merokok sudah menjadi polemik baik dari segi sosial maupun segi kesehatan. Hal ini diperparah dengan data bahwa sepuluh tahun terakhir angka perokok malah meningkat jauh. Problematika ini memunculkan keraguan atas kredibilitas kemenkes dalam memanfaatkan komunikasi massa. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis efektifitas iklan bungkus rokok pada Kecamatan Belawan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara dan observasi.
Data primer penelitian ini adalah sepuluh pelajar SMP yang terkategori di bawah umur.
Sedangkan data sekunder diambil dari beberapa penelitian terdahulu dari buku, jurnal dan artikel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efektifitas iklan rokok masih jauh dari ekspektasi. Sepuluh informan merasa iklan tersebut bukan bagian dari himbauan dan hanya sekedar seremonial belaka. Adapun mayoritas informan tidak terlalu peduli terhadap iklan layanan masyarakat yang diupayakan oleh kementrian kesehatan.
Keywords: Iklan Rokok, Komunikasi Informatif, Komunikasi Massa PENDAHULUAN
Rokok menjadi salah satu peroblematika skala nasional bahkan telah menjadi permsalahan inernasional yang sudah ada sejak zaman revolusi indusri. Rokok menjadi salah satu penyumbang terbesar penyebab kematian yang sulit dicegah oleh masyarakat.
Kandungan senyawa adiktif pada rokok yang dapat mempengaruhi perokok adalah golongan alkaloid yang bersifat perangsang atau stimulan (Hammado, 2015). Meskipun banyak perokok yang telah mengethui kandungan zat yang berbahaya pada rokok, namun mereka tidak berhenti merokok dan jumlah perokok setaip tahunnya semakin bertambah begitu juga dengan angka kematiannya.
Kementrian Kesehatan merilis hasil survei global penggunaan tembakau pada usia dewasa (Global Adult Tobacco Survey – GATS) yang dilaksanakan pada tahun 2011 dan diulang pada tahun 2021 dengan melibatkan sebanyak 9.156 responden. Dalam hasil temuannya, jumlah perokok dalam kurun waktu 10 tahun terakhir terjadi peningkatan signifikan yakni sebanyak 8,8 juta orang dewasa, yaitu dari 60,3 juta penduduk pada tahun 2011 menjadi 69, 1 juta perokok pada tahun 2021 (Dinas Kesehatan Provinsi Jakarta, 2022). Tidak hanya dengan orang dewasa, jumlah perokok pada anak di bawah umur juga bertmabah dari 7,2% pada tahun 2013, meningkat menjadi 9,2% pada tahun 2018. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Badan Pusat Statistik, banyak anak usia di bawah umur di berbagai provinsi mengalami peningkatan dalam mengkonsumsi rokok.
Akibat tingginya jumlah perokok, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono untuk mengajaksemua pihak di jajaran pemerintahan,pemerintah daerah, asosiasi dan organisasi profesi, organisasi masyarakat, kalangan swasta, dan dunia usaha bersama seluruh kelompok dan tokoh masyarakat untuk memperkuat komitmen dan saling dukung dalam melakukan tindakan nyata untuk menurunkan prevalensi konsumsi tembakau ada seuruh masyarakat terutama pada anak usia di bawah umur (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2022).
Salah satu penyebab tingginya prevalensi perokok anak dibawah umur adalah keterpaparan iklan. Dalam 10 tahun terakhir terdapat peningkatan keterpararan iklan rokok. Oleh karena itu, butuh visualisasi yang eviden serta menyebarluaskan informasi yang dikemas dalam bentuk edukasi untuk mereduksi jumlah perokok. Faktanya, Indonesia telah mengeluarkan regulasi berupa pencantuman peringatan kesehatan bergambar di dalam kemasan rokok.
Pencantuman gambar peringatan bahaya merokok merupakan tindak lanjut PP No 109 tahun 2012 dan implementasi dari peraturan Menteri dari Permenkes No. 28 Tahun 2013 Tentang Pencantuman Peringatan Kesehatan dan Informasi Kesehatan Pada Kemasan Poduk Tembakau. Berdasarkan kondisi inilah, Kemenkes menegaskan mengenai bahaya akibat dari mengkonsumsi rokok dan berupaya mengurangi prevalensi konsumsi rokok dengan edukasi, layanan berhenti merokok, dan membuat kebijakan iklan bahaya merokok pada kemasan rokok. Namun realitas yang terjadi di masyarakat banyak konsumen rokok yang mengabaikan peringatan bahaya merokok tersebut termasuk anak di bawah umur.
Berdasarkan paparan diatas, penulis mengemukakan pertanyaan yang menjadi masalah yaitu : Bagaimana efektifitas tagline bungkus rokok dalam mempengaruhi anak dibawah umur untuk berhenti merokok?
METODE PENELITIAN
Artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif. Menurut Lexy J. Meleong (1998) jenis penelitian kualitatif adalah pendekatan perspektif yang menggambarkan fenomena, aktifitas sosial, peristiwa dan sikap baik individu maupun berkelompok.
Lokasi penelitian terletak di Kecamatan Medan Belawan. Sumber data yang digunakan pada penelitian ini ialah data primer dan data sekunder. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam peneliian ini adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Menurut Sugiyono (2014) teknik pengumpulan data merupakan teknik yang paling relevan dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mencari,mengumpulkan dan mengolah data. Adapun data primer dalam penelitian ini adalah informan yang menjadi narasumber, sedangkan data sekunder yang digunakan adalah, artikel ilmiah, buku-buku yang berkeenaan dengan tema dan kamus.
Untuk mengolah data mentah yang sudah terkumpul, penulis menggunakan metode analisis isi. Menurut Weber dalam Moeloeng, analisis isi adalah tata cara dalam mengoptimalkan prosedur-prosedur untuk dijadikan sebuah kesimpulan yang valid.
Selanjutnya, Holsi dalam Moeloeng mengartikannya sebagai teknik apapun yang digunakan untuk menarik kesimpulan melalui usdaha menemukan karakteristik pesan dan dilakukan secara obyektif dan sistematis (Weber, 2017).
HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Perilaku Perokok
Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil wawancara dan observasi penelitian, peneliti membagi kategori antara perilaku merokok aktif dan non-aktif. Pembagian kategori ini guna mempermudah penelitian dalam menetapkan informan yang candu merokok.
Adapun pembagian kategori dan identifikasinya adalah sebagai berikut.
Tabel 1. Kategorisasi perokok
No Kategori Identifikasi
1 Perokok Aktif a. Memiliki adiksi dan ketergantungan terhadap rokok.
b. Merokok dengan porsi minimal 5-10 batang per hari.
c. Kesulitan mengendalikan keinginan untuk merokok.
2 Perokok non-aktif a. Tidak memiliki adiksi terhadap rokok.
b. Merokok dengan porsi di bawah 5 batang per hari.
c. Memiliki kemampuan untuk mereduksi keinginan merokok.
Hasil data yang diperoleh pada penelitian dapat diketahui bahwa perilaku merokok pada anak-anak SMP di Kecamatan Medan Belawan termasuk dalam kategori aktif. Dari 10 narasumber yang peneliti wawancara 8 di antara perokok aktif dan 2 perokok pasif.
Secara umum perokok aktif merupakan orang yang menghisap tembakau rokok dalam jumlah yang banyak, hal ini kemudian menjadikan si perokok kecanduan karena nikotin yang terkandung di dalam rokok. Sedangkan perokok non-aktif adalah individu yang merokok dengan porsi sedikit dan tidak memiliki adiksi terhadap zat adiktif yang terkandung dalam rokok.
Dari data yang penulis peroleh, terdapat beragam alasan bagi siswa SMP di Kecamatan Medan Belawan untuk merokok. Sebagian besar di antaranya adalah faktor lingkungan yang meliputi keluarga, pergaulan dan lains ebagainya. Selain itu terdapat beberapa alasan minor bagi para informan penelitian seperti adegan film, periklanan media dan penawaran dari sales promotion girl (SPG). Hal ini mengeksploitasi kegiatan merokok dan memberikan stimulasi pada anak untuk merokok.
Hasil wawancara penulis menunjukkan bahwa iklan yang ada pada bungkus rokok awalnya mampu mengurangi keinginan para perokok aktif untuk mengkonsumsi rokok.
Meski demikian, hal ini berlangsung tidak lama dan bersifat sebagai shock theraphy sementara. Meski peraturan Menteri dari Permenkes No. 28 Tahun 2013 sudah meregulasi peringatan bahaya merokok, namun hal ini belum mampu menekan hasrat merokok dalam jangka waktu yang lama bahkan permanen.
Selain itu, perokok non-aktif yang menjadi informan juga mengemukakan argumentasi yang serupa. Bedanya, mereka tidak takut sama sekali karena kadar konsumsi yang mereka lakukan tidak lebih dari lima batang rokok per hari. Mereka berpendapat bahwa apabila tidak semua perokok aktif mengalami kerusakan fisik, maka mereka tidak akan mengalami hal yang serupa.
Penulis juga sudah mengobservasi beberapa jenis bungkus rokok yang terdapat peringatan bahaya merokok. Adapun dari bungkus rokok tersebut terdapat beberapa peringatan dan layanan sebagai berikut:
1. Peringatan bahaya merokok yang disertai dengan gambar-gambar korban zat adiktif seperti kanker mulut, kanker tenggorokan dan beberapa penyakit lainnya.
2. Kandungan isi rokok yang meliputi tar dan nikotin.
3. Layanan berhenti merokok dengan call centre (0800-177-6565).
Selain memperingati dari bungkus rokok, pemerintah melalui Kemenkes juga memberi peringatan melalui media, iklan layanan masyarakat dan beberapa spanduk/billboard di jalan raya. Hal ini bertujuan untuk memberi peringatan dan menekan jumlah perokok di Indonesia.
Menurut hemat penulis, upaya yang dilakukan pemerintah melalui Kemenkes sudah maksimal namun belum mencapai tujuan yang diinginkan. Kemenkes butuh strategi yang lebih kontiniu dalam memberi peringatan bahaya merokok dengan tambahan strategi.
Meski peringatan sudah disosialisasikan, perokok aktif belum menemukan efek jera dari sosialisasi tersebut.
Temuan dan Analisis Data
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI), efektifitas adalah bentuk keberhasilan dalam memberikan kesan atau pengaruh. Tulisan ini hendak memberikan gambaran yang eviden terkait efektifitas peringatan di bungkus rokok terhadap penurunan angka perokok aktif. Efektifitas peringatan di bungkus rokok akan dikomparasikan dengan teori komunikasi informatif versi Shannon dan Weaver.
Dari beberapa aspek yang dikemukakan Shannon dan Weaver, Kemenkes selaku komunikator memaparkan beberapa pesan kesehatan. Adapaun korelasinya adalah sebagai berikut:
Tabel 2. Korelasi Teori Komunikasi Informatif dan Iklan di Bungkus Rokok
No Komponen Keterangan
1 Sumber Informasi Kementrian Kesehatan.
2 Pemancar Gambar gangguan kesehatan akibat merokok, layanan call centre dan kandungan rokok.
3 Tanda Bungkus Rokok.
4 Penerima Masyarakat, terkhusus bagi perokok aktif.
5 Sasaran Menekan jumlah perokok aktif.
6 Gangguan Komunikan tidak mampu menginternalisasi substansi pesan bahaya merokok.
Dari uraian pesan yang sudah penulis analisis, terdapat beberapa permasalahan yang menjadi pokok pembahasan. Pokok yang pertama adalah pemancar belum bisa memberikan deskripsi khusus tentang bahaya merokok sehingga tidak menimbulkan efek jera. Pelajar di Kecamatan Belawan mengaku tidak merasa diberi peringatan oleh iklan tersebut. Sebaliknya, mereka beranggapan bahwa iklan tersebut hanya bersifat informatif saja dan tidak sampai ke edukatif.
Argumentasi di atas sejalan dengan adanya gangguan dalam pengiriman pesan melalui bungkus rokok. Iklan yang hanya sekedar memberikan informasi terkesan kering akan sentuhan edukasi. Upaya yang sudah terbilang maksimal ini masih saja belum mampu menekan angka perokok aktif di Indonesia. Ironisnya, menurut survey GATS jumlah perokok aktif bertambah sebesar 8.7 juta pengguna.
Sesuai dengan argumentasi di atas, hasil observasi menunjukkan bahwa angka perokok di kalangan pelajar Kecamatan Belawan terus mengalami peningkatan yang signifikan. Efektifitas pesan yang selama ini disosialisasikan oleh Kemenkes belum sesuai keinginan pemerintah. Adapun beberapa faktor signifikan yang menyebabkan pelajar
belawan merokok adalah sebagai berikut.
1. Lingkungan
Faktor lingkungan menjadi sebab terbesar mengapa pelajar Kecamatan Belawan menjadi perokok aktif. Beberapa alasan yang membuat lingkungan menjadi faktor terbesar adalah pergaulan yang kurang sehat. Butuh penekanan yang lebih bagi pihak- pihak tertentu khususnya sekolah dan orangtua untuk mengedukasi bahaya merokok.
2. Orangtua
Orangtua turut andil memperbesar angka perokok aktif di Kecamatan Belawan.
Seluruh informan penelitian mengaku bahwa mereka mempunyai orangtua perokok.
Merokok di depan anak akan memunculkan rasa penasaran sehingga hal ini dianggap sebagai stimulasi bagi anak untuk mencoba merokok. Kemudian, keringnya sentuhan edukasi dari orangtua membuat pelajar mencari tahu sendiri tentang rokok dan berakhir pada kecanduan.
3. Ekonomi
Mayoritas perokok yang menjadi informan penelitian ini berasal dari keluarga dengan kelas ekonomi menengah. Ditinjau dari sisi universal, hal serupa juga terjadi bahwa mayoritas perokok adalah keluarga dengan ekonomi menengah kebawah dan justru rokok adalah pengeluaran terbesar dalam hitungan bulanan keluarga (Widati et al., 2010)
4. Media
Kurangnya fungsi media sebagai wadah informasi turut mengakibatkan pelajar kekurangan wawasan terhadap bahaya merokok. Selain itu, di beberapa media terdapat tokoh masyarakat yang merokok sehingga remaja merasakan bahwa merokok dapat meningkatkan karisma sebagaimana halnya para tokoh masyarakat.
5. Tidak ada larangan dan sangsi
Tidak adanya penetapan hukuman bagi perokok di luar usia yang sudah diregulasi membuat aktivitas merokok di kalangan pelajar semakin marak. Pelajar berani membeli rokok karena sangsi yang ia dapatkan hanya berbentuk kekeluargaan dan sangsi ringan saja. Kemudian, sebagian besar penjual rokok tidak melarang anak di usia 18 tahun kebawah untuk membeli rokok. Seharusnya ada kebijakan untuk menunjukkan KTP dan identitas lainnya. Selanjutnya, pembeli yang menggunakan seragam sekolah harus dilarang untuk membeli rokok.
Berdasarkan hasil wawancara, penulis mendapati bahwa sebagian besar informan tidak peduli akan iklan tersebut meski mengetahui esensi pesan yang disampaikan pada iklan bungkus rokok. Sementara masih terdapat segelintir informan yang peduli dan memiliki itikad untuk berhenti merokok dan sisanya tidak tahu sama sekali tentang esensi dari bahaya merokok. Adapun data penelitian di atas penulis rangkum dalam diagram berikut:
Bahaya merokok harus diperingati sejak dini untuk menekan angka perokok aktif.
Iklan layanan berhenti merokok pada bungkus rokok masih kurang efektif untuk menghentikan keinginan perokok aktif untuk mengkonsumsi rokok. Ketidakefektifan ini ditandai dengan maraknya pelajar di bawah umur yang mengkonsumsi zat adiktif. Oleh karena itu, harus ada tambahan strategi baru agar pesan yang hendak disampaikan dapat diinternalisasi.
KESIMPULAN
Dari uraian di atas, dapat penulis simpulkan bahwa iklan layanan peringatan merokok sebagai komunikasi informatif dan komunikasi massa masih belum efektif. Ironisnya, upaya yang selama ini dilakukan tidak mampu menekan angka perokok pasif di Indonesia.
Penulis menyarankan kepada pemerintah untuk meregulasi ulang tentang usia perokok dan sangsi kepada penjual maupun konsumen rokok di bawah umur. Adapun kekurangan dalam penelitian ini adalah penulis belum melakukan wawancara eksklusif dengan kementrian kesehatan, ahli komunikasi massa dan narasumber ahli terkait adiksi terhadap rokok.
DAFTAR PUSTAKA
Bittner, J. R. (1989). Mass Communication, an Introduction. Prentice Hall.
https://books.google.co.id/books?id=K5XhAAAAMAAJ
Dinas Kesehatan Provinsi Jakarta. (2022). ANGKA PEROKOK DEWASA INDONESIA
MENINGKAT DALAM 10 TAHUN, TAPI....
https://dinkes.jakarta.go.id/berita/read/angka-perokok-dewasa-indonesia-
meningkat-dalam-10-tahun-tapi#:~:text=Perlu diketahui%2C jumlah perokok aktif,menjadi 69%2C1 juta perokok.
Gerbner, G. (1958). On content analysis and critical research in mass communication.
Audiovisual Communication Review, 6(3). https://doi.org/10.1007/BF02766931 Hammado, N. (2015). PENGARUH ROKOK TERHADAP KESEHATAN DAN. Dinamika, 1(1).
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Temuan Survei GATS: Perokok Dewasa
7 2
1
Informasi Peringatan Pada Bungkus Rokok
Tidak Peduli Peduli Tidak Tahu
di Indonesia Naik 10 Tahun Terakhir.
https://www.kemkes.go.id/article/view/22060200005/temuan-survei-gats- perokok-dewasa-di-indonesia-naik-10-tahun-terakhir.html
Lasswell, H. D. (2006). The Structure and Function of Communication in Society.
https://books.google.co.id/books?id=UsRsMwEACAAJ
Lexy J, M. (1998). Metodologi Penelitian Kualitatif. In PT. Remaja Rosdakarya.
Mulyana, D. (2007). Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Cetakan ke 18. In Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Newcomb, T. M. (1953). An approach to the study of communicative acts. Psychological Review, 60(6). https://doi.org/10.1037/h0063098
Shannon, C. E., E, S. C., Weaver, W., of Illinois (Urbana-Champaign). Press, U., Blahut, R. E.,
& Hajek, B. (1949). The Mathematical Theory of Communication (Issue v. 1).
University of Illinois Press.
https://books.google.co.id/books?id=dk0n%5C_eGcqsUC
Sugiyono. (2014). Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D.
Sunarko, A. (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jurnal Pendidikan Agama Kristen, 1(1), 5000. http://sttikat.ac.id/e-journal/index.php/sikip
Weber, M. (2017). Methodology of social sciences. In Methodology of Social Sciences.
https://doi.org/10.4324/9781315124445
Widati, S., Control, T., Centre, S., & Java, E. (2010). Efektivitas pesan bahaya rokok pada bungkus rokok terhadap perilaku merokok masyarakat miskin.