1 KEBERPIHAKAN KEBIJAKAN PENDIDIKAN UNTUK ORANG MISKIN DI JAWA TIMUR
Bahan Kajian Pembangunan, Mata Diklat Otonomi dan Pembangunan Daerah untuk peserta Diklat Kepemimpinan Tingkat IV:
Oleh: Prof. Dr. Zainuddin Maliki, M.Si1
Abstrak:
Kebijakan yang berpihak kepada masyarakat miskin untuk mendapatkan pendidikan bermutu, termasuk di Jawa Timur tidak bisa hanya membenahi internal system pendidikan. Kebijakan yang harus dilakukan mengharuskan untuk mencakup kebijakan internal dan juga eksternal system pendidikan. Langkah-langkah kebijakan eksternal yang perlu diambil pemerintah, meniscayakan pentingnya pembenahan lingkungan struktural yang disadari atau tidak, jelas berdampak pada pelayanan pendidikan. Dalam hal ini penguatan daya beli masyarakat menjadi sesuatu yang tak bisa diabaikan. Diperlukan upaya yang efektif dalam pemberdayaan ekonomi. Tidak bisa membiarkan harga pasar terus melambung yang membebani biaya hidup dan berdampak kepada kenaikan biaya pendidikan.
Keywords: pemerataan pendidikan, akses pendidikan, rakyat miskin’
kebijakan berpola lampu pijar,
I. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan keniscayaan karena merupakan prasyarat dari sebuah upaya meningkatkan kesejahteraan, membangun masa depan, meningkatkan harkat dan martabat sebagai sebuah bangsa. Undang-undang dasar 1945 mengamanatkan agar semua warga negara, termasuk mereka yang miskin harus mendapatkan pendidikan. Pemerintah dalam hal ini memikul tanggung jawab untuk membuka akses kepada seluruh warga –termasuk mereka yang miskin untuk mendapatkan pendidikan. Tentu saja yang diminta adalah pendidikan yang bermutu –sebagaimana diamanatkan oleh pasal 5 ayat (1) UU No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas. Pendidikan bermutu dimaksud adalah yang menjamin lahirnya sumberdaya manusia yang berperan positif dalam membangun masa depan berbasis keunggulan yang mereka peroleh dari proses pendidikan.
Pemerintah Jawa Timur cukup memberikan komitmennya dalam upaya memenuhi amanat undang-undang dimaksud. Dalam hal ini telah digulirkan berbagai paket beasiswa, pemerataan pendidikan PAUD, TK, Madrasah Diniyah, termasuk memenuhi beban meningkatkan mutu SBN dan RSBI,2 penugasan guru untuk studi lanjut S1. Kendati demikian, Jawa Timur masih memiliki pekerjaan rumah berkaitan dengan pendidikan. Pengurangan angka buta aksara di satu pihak dan pemerataan serta peningkatan mutu pendidikan. Dalam
1 Prof. Dr. Zainuddin Maliki, M.Si adalah Ketua Dewan Pendidikan Jawa Timur dan Widyaiswara BDK Surabaya.
2Terhitung 8 Januari 2013 RSBI tidak memiliki payung hukum setelah dihapus oleh Mahkamah Konstitusi.
2 hal pemerataan pendidikan tentu saja terkait dengan upaya menekan angka kemiskinan.
Angkanya masih relatif tinggi meski sebenarnya pemerintah Jawa Timur telah berhasil menekan dari 14,23 % per Maret 2011 menjadi 13,85% per September 2011.
2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah sebagaimana digambarkan di atas maka dapat dirumuskan masalahnya sebagai berikut:
1) Apakah asumsi yang mendasari pengambilan kebijakan di bidang pendidikan di Jawa Timur?
2) Apakah persoalan mendasar yang dihadapi sebagai tantangan dalam upaya memberi akses pendidikan kepada rakyat miskin di Jawa Timur?
3) Model kebijakan macam apa yang dinilai efektif untuk memberikan akses pendidikan kepada rakyat miskin di Jawa Timur?
3. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini dimaksudkan untuk:
1) Memahami asumsi yang mendasari pengambilan kebijakan di bidang pendidikan di Jawa Timur.
2) Mengidentifikasi persoalan mendasar yang dihadapi sebagai tantangan dalam upaya memberi akses pendidikan kepada rakyat miskin di Jawa Timur.
3) Mememukan model kebijakan yang dinilai efektif untuk memberikan akses pendidikan kepada rakyat miskin di Jawa Timur.
II. TIGA TANTANGAN PEMERATAAN PENDIDIKAN
Dalam upaya melakukan pemerataan pendidikan, khususnya memberi akses pendidikan kepada masyarakat miskin, menghadapai berbagai persoalan. Setidak-tidaknya ada dua tantangan yang penting untuk diperhatikan:
Pertama, yang paling mudah diidentifikasi tentu saja adalah peningkatan biaya pendidikan seiring peningkatan harga pasar. Biaya pendidikan yang terus membengkak, menjadikan upaya melakukan pemerataan pendidikan sebuah persoalan yang kian pelik.
Bukan hanya anggaran belanja daerah yang menjadi semakin terbebani. Kesanggupan APBD di Jawa Timur pun belum mencapai apa yang diamanatkan oleh konstitusi. Demikian juga, para orangtua siswa pun kemudian semakin terbebani biaya pendidikan mahal. Walhasil pendidikan, apalagi yang bermutu, semakin sulit diakses oleh masyarakat miskin.
Pemerintah telah berusaha meringankan beban masyarakat melalui berbagai skema.
Namun pertanyaannya, kenapa program-program yang menyedot anggaran belanja pemerintah yang sebenarnya tidak kecil itu, belum sepenuhnya bisa memberi seluruh masyarakat miskin akses pendidikan bermutu? Pada kenyataannya berbagai skema yang dibuat pemerintah tersebut belum cukup untuk bisa menunjang seluruh masyarakat miskin mampu mengakses pendidikan bermutu. Rasanya jumlah masyarakat miskin masih cukup signifikan –meski sudah mengalami penurunan. Namun, masih cukup besar jumlah anggaran
3 yang harus disediakan untuk membuat seluruh masyarakat miskin mendapat akses dan kesempatan memperoleh pendidikan bermutu.
Kedua, kemiskinan struktural. Selama angka kemiskinan belum bisa ditekan hingga titik tertentu, maka kewajiban memberi akses masyarakat miskin untuk memperoleh pendidikan bermutu terus menjadi beban yang berat. Angka kemiskinan yang ada, tidak bisa dipisahkan dari struktur ekonomi yang timpang akibat kebijakan ekonomi yang tidak seluruhnya berpihak kepada rakyat kecil. Saat ini kita menyaksikan hampir seluruh ruang spasial di kota-kota besar sudah tereksploitasi untuk kepentingan mobilitas modal besar.
Kegiatan ekonomi bermodal besar tersebut menggusur kekuatan ekonomi rakyat bermodal kecil ke daerah-daerah pinggiran atau ke kawasan kumuh (slum area).
Kesenjangan antar wilayah di Jawa Timur juga berkorelasi dengan tingkat pendidikan masyarakat, yang antara lain bisa dilihat dari tingkat melek huruf yang tinggi di daerah tapal kuda. Masalahnya konsentrasi aktifitas perekonomian di kawasan tersebut tidak sekuat di wilayah Jawa Timur yang lain yang lebih menjanjikan untuk meraih keuntungan ekonomis.
Meminjam istilah ekonom klasik, Myrdal yang menyatakan, kegiatan perekonomian termasuk perputaran modal, cenderung terkonsentrasi di wilayah yang berpotensi besar mendatangkan laba.3
Demikian pula mengikuti logika aglomerasinya Marshal yang kemudian dipopulerkan oleh Michael E. Porter, maka kegiatan industri dan perekonomian cenderung memilih spasial tertentu yang berpotensi mendatangkan keuntungan lebih besar. Di kawasan industri dan konsentrasi kegiatan perekonomian itu kemudian diikuti jenis-jenis usaha lain yang mencoba menarik keuntungan akibat kemudahan memperoleh fasilitas usaha dari pusat industri dan perekonomian bermodal besar tersebut. Pusat-pusat pendidikan yang bermutupun kemudian muncul di pusat-pusat kegiatan perekonomian dan industri tersebut.
Dengan pola kegiatan aglomerasi yang menyebabkan terjadinya konsentrasi spasial dari kegiatan perekonomian seperti itu menyebabkan wilayah lain menjadi terlantar. Tentu saja sekolah-sekolah diluar konsentrasi spasial kegiatan industri dan pereknomian itupun juga ikut terlantar.4
Ketiga, pendidikan itu sendiri belum bisa memberi sumbangan yang berarti untuk mengurangi angka kemiskinan. Salah satu sebabnya dikarenakan terjadi disorientasi pendidikan. Kebijakan pendidikan yang ada selama ini telah melahirkan pandangan seragam tentang jalur pengembangan pendidikan. Pemerintah, dunia usaha, masyarakat, termasuk para orang tua berpandangan bahwa keberhasilan pendidikan diukur dari kemampuan siswa
3 Perspektif utilitarian Gunar Myrdal ini bisa dibaca lebih jauh dalam Asian Drama, New York: Pantheon, 1939 dan The Political Element in The Development of Economic Theory, London: Routledge & Paul Kegen, 1990.
4 Apa yang bisa kita saksikan di kawasan industri di Surabaya Barat, melahirkan sebuah konsentrasi aglomerasi perekonomian dan industri. Bukan hanya usaha-usaha ekonomi yang lebih kecil lainnya yang ikut membangun usaha perekonomian di sana, tetapi sejumlah lembaga pendidikan dari TK hingga Perguruan tinggi berdiri di sana, termasuk berdiri sejumlah lembaga pelatihan dan kursus yang muncul dan digerakan motive laba seperti yang dimaksud Myrdal dengan hanya menampung anak-anak yang kaya. Mengenai aglomerasi lihat Michael E. Porter, The Competitive Advantage of Nations. New York: The Free Press, 1990.
4 didik untuk bisa melanjutkan studi ke jenjang di Perguruan Tinggi dan bukan memasuki lapangan kerja selepas menyelesaikan pendidikan menengahnya.
Penyeragaman jalur pengembangan pendidikan seperti itu mematikan upaya memahami kekhasan, kebutuhan, minat dan bakat siswa. Tidak seluruh minat, bakat dan kebutuhan siswa memang siap untuk masuk ke jenjang Perguruan Tinggi. Tidak sedikit orang tua dan siswanya itu sendiri yang memproyeksikan diri hanya sampai pada sekolah hingga menengah atas, dan bahkan ada yang memproyeksikan diri hingga menengah pertama saja. Selebihnya mereka ingin memasuki dunia pekerjaan, mengingat kemampuan dan status sosial ekonomi mereka yang tidak menunjang.
Kendati demikian, mereka yang tidak melanjutkan studi setelah menyelesaikan pendidikan menengah bukan berarti tidak memandang penting akan pendidikan. Mereka memilih tidak melanjutkan pendidikannya karena pendidikan yang ada dinilainya tidak mempersiapkan siswa untuk mendapatkan bekal menyambung hidup di tengah masyarakat yang tantangannya kian kompleks ini. Di tengah himpitan beban sosial ekonomi yang berat, bukan gelar yang diraih dari bangku Perguruan Tinggi yang mereka butuhkan, melainkan bekal hidup di tengah kehidupan nyata. Mereka membutuhkan kemampuan memecahkan problema terutama problema sosial ekonomi yang dihadapinya.
Jadi masyarakat dan juga pemerintah mengalami disorientasi yang kemudian mendorong semua proses pendidikan terkonsentrasi pada upaya mempersiapkan siswa didik ke bangku Perguruan Tinggi. Padahal kenyataannya, APK perguruan tinggi kita sampai saat ini hanya 18 persen saja. Mereka yang tidak melanjutkan di Perguruan Tinggi kemudian menjadi pengangguran, dan sebagian kecil berhasil memasuki lapangan kerja.
Minimnya lulusan menengah atas yang memasuki lapangan kerja, tentu saja terkait dengan kompetensi yang mereka peroleh selama di sekolah. Mereka memang tidak dipersiapkan untuk memasuki lapangan kerja, melainkan untuk mengisi bangku di Perguruan Tinggi. Akibatnya sekolah yang ada selama ini boleh dibilang sangat kecil kontribusinya terhadap upaya mempersiapkan SDM yang siap mengurusi kesejahteraan ekonomi dirinya. Dengan kata lain, sumbangan pendidikan terhadap upaya mengatasi kemiskinan sangat rendah.
Dengan demikian pendekatan kebijakan yang berpihak kepada masyarakat miskin untuk mendapatkan akses pendidikan, bukan hanya diarahkan kepada penyediaan anggaran yang kemudian dialokasikan untuk program-program karitatif. Pendekatan kebijakan yang lebih penting dalam hal ini adalah justru meluruskan orientasi pendidikan yang bisa berdampak pada pengurangan angka kemiskinan.
Sudah waktunya dihentikan penyeragaman pandangan yang menyatakan bahwa sekolah dikatakan berhasil apabila si anak didik bisa melanjutkan ke bangku Perguruan Tinggi. Pandangan itu harus digantikan dengan memahami keunikan siswa. Artinya, pelayanan pendidikan harus dimulai dari kebutuhan, minat dan bakat siswa. Pelayanan pendidikan akan berarti, apabila dilakukan penelusuran minat dan bakat, kebutuhan siswa akan pendidikan, kemudian disertai dengan penyediaan layanan pendidikan berbanding lurus dengan kompetensi yang memang mereka butuhkan.
5 III. TAWARAN KEBIJAKAN
Berdasarkan analisis permasalahan yang dihadapi dalam rangka pemerataan dan pelayanan pendidikan di muka, maka kebijakan yang berpihak kepada masyarakat miskin untuk mendapatkan pendidikan bermutu harus berangkat dari asumsi bahwa kebijakan pendidikan akan efektif jika berbasis pada pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat terutama dari segi ekonomi akan menentukan daya jangkau masyarakat dalam mengakses pelayanan pendidikan yang senantiasa mengalami peningkatan dari waktu ke waktu.
Berangkat dari asumsi kebijakan seperti telah dikemukakan di atas, maka pelayanan pendidikan tidak bisa hanya membenahi internal system pendidikan itu sendiri. Kebijakan yang harus dilakukan haruslah mencakup kebijakan internal dan juga eksternal system pendidikan.Langkah-langkah kebijakan eksternal yang perlu diambil pemerintah, meniscayakan pentingnya pembenahan lingkungan struktural yang disadari atau tidak, jelas berdampak pada pelayanan pendidikan. Dalam hal ini penguatan daya beli masyarakat menjadi sesuatu yang tak bisa diabaikan. Hampir mustahil mendapatkan pendidikan, apalagi pendidikan bermutu tanpa biaya –setidak-tidaknya untuk saat ini. Diperlukan upaya yang efektif dalam pemberdayaan ekonomi. Tidak bisa membiarkan harga pasar terus melambung yang membebani biaya hidup dan berdampak kepada kenaikan biaya pendidikan.
Kebijakan yang berpola lampu pijar –nyala terang hanya di sekitar bola lampu atau elitis yang berpihak pada modal besar yang terkonsentrasi di wilayah kegiatan ekonomi tertentu, harus dihindarkan karena berpotensi pada penciptaan ketimpangan dan kemiskinan struktural. Pemihakan kebijakan kepada masyarakat miskin untuk mendapatkan pendidikan bermutu, memerlukan komitmen yang kuat dalam berusaha mengurangi tingkat kesenjangan, baik kesenjangan antar penduduk maupun antar wilayah. 5
Mengenai kebijakan yang terkait dengan pembenahan internal system pendidikan, setidak-tidaknya dalam hal ini perlu dilakukan 4 hal sebagai berikut:
Pertama, perlu keberanian untuk melakukan perubahan orientasi. Dalam hal ini meninggalkan orientasi penyeragaman pendidikan yang mengasumsikan bahwa semua siswa berhasrat sekali untuk masuk Perguruan Tinggi. Perlu disadari bahwa masyarakat bukanlah fenomena homogen, melainkan heterogen. Mereka memiliki permasalahan juga minat dan harapan yang berbeda satu sama lain. Oleh karena itu pelayanan pendidikan harus berangkat dari penelusuran posisi sosial, minat dan bakat serta kebutuhan mereka.
Jika kemudian diketahui hanya 18 persen saja yang hendak melanjutkan ke Perguruan Tinggi, maka pilihan kebijakan pendidikan harus jelas dan kongkrit untuk benar-benar bisa mempersiapkan anak didik memasuki lapangan kerja.
Kedua, hidup bukan untuk sekolah, tetapi sekolah untuk hidup. Oleh karena itu jangan pisahkan siswa didik dari kehidupan nyata dengan hanya membekali mereka pengetahuan
5 Budaya politik lampu pijar di Jawa dapat diikuti dalam tulisan Bennedict Anderson, “The Idea of Power in Javanese Culture,” dalam Culture and Politics in Indonesia, Ithaca, New York: Cornel University Press, 1972.
6 kognitif. Sebaliknya, persiapkan siswa didik agar kelak bisa mengarungi kehidupan nyata dengan memberi pendidikan multiintelegensia sehingga siswa didik memiliki kompetensi tertentu yang relevan dan cukup memadai untuk memasuki kehidupan nyata.
Proses pembelajaran dan sumber-sumbernya dengan sendirinya juga harus disesuaikan, dalam hal ini di dan dalam kehidupan itu sendiri. Prinsip the best learning is in the real life, with the real problem and the real people, harus diangkat sebagai sumber orientasi pembenahan proses belajar mengajar dan pendidikan pada umumnya.
Ketiga, membangun kebijakan pendidikan berparadigma progresivisme. Sebagaimana kita saksikan bersama, kehidupan terus berubah cepat, oleh karena itu bekal yang diberikan oleh sekolah yang relevan adalah mempersiapkan dan mengenalkan siswa berbagai bekal memasuki perubahan baru.
Dalam konteks ini, perspektif pendidikan progresivisme yang pada intinya berasumsi bahwa pendidikan hanya akan berhasil jika mampu mempersiapkan siswanya menghadapi masa depan –terutama masa depan yang lebih banyak dikendalikan oleh teknologi baru seperti yang ditawarkan oleh John Dewey (1959), relevan untuk diajukan sebagai acuan dalam menyusun kebijakan pendidikan di Jawa Timur.
Pikiran-pikiran Dewey yang dikemas dalam pendidikan progresivisme telah diadopsi banyak ahli dan dikembangkan di berbagai sekolah. Salah satunya adalah Tony Wagner yang mengkritisi pendidikan di Amerika Serikat dari perspektif progresivisme. Wagner melihat kesenjangan pendidikan di Amerika Serikat. Kesenjangan proses dan hasil pembelajaran.
Antara yang diperoleh klas menengah dengan minoritas. Kesenjangan antara sekolah di pusat dan pinggiran kota. Kesenjangan antara apa yang diberikan oleh sekolah dengan kebutuhan lapangan kerja. Bahkan sekolah yang dikatakan favorit sekalipun gagal memberikan survival skill kepada siswa didiknya. Salah satu sebabnya, sekolah terlalu mengutamakan pengetahuan daripada imajinasi. Pengetahuan menurutnya terbatas, tetapi imajinasi menyentuh keseluruhan semesta. Ia tertarik ungkapan Einstein, imagination is more important than knowledge. For knowledge is limited, whereas imagination embraces the entire world, stimulating progress, giving birth to evolution.” Oleh karena itu Wagner lalu menyarankan agar siswa di beri tujuh macam kompetensi (the 7 survival skill) untuk menghadapi situasi yang saat ini.6
Tidak hanya Jawa Timur, di bidang pendidikan, secara nasional bangsa kita juga menghadapi kesenjangan antar wilayah, antara yang bisa dinikmati oleh siswa yang berasal dari keluarga kelas menengah, dengan siswa yang berasal dari keluarga miskin. Kesenjangan siswa yang berada di pusat-pusat aglomerasi ekonomi, dengan yang dipinggiran wilayah aktifitas ekonomi. Kesenjangan antara apa yang diberikan di sekolah menengah dengan apa yang dibutuhkan Perguruan Tinggi. Kesenjangan antara apa yang diberikan di sekolah dengan apa yang dihadapi dalam kehidupan di tengah masyarakat. Pendidikan hanya
6 Ketujuh survival skill itu ialah (1) critical thinking and problem solving, 2) collaboration across networks and leading by influence, (3) agility and adaptabilitiy, 4) initiative and enterpreneurship, (5) effective oral and written communication, (6) Accessing and analyzing information, (7) Curiosity and imagination. Lihat Tony Wagner, The Global Achievement Gap, New York: Basic Books, 2008, hal. 14-41.
7 memberi pengetahuan, sementara kehidupan membutuhkan lebih dari sekedar imajinasi, kecerdasan, semangat, moralitas, kemampuan memecahkan masalah, membangun jaring- an, pemikiran kritis, kepemimpinan, dan komunikasi lisan maupun tertulis dengan baik.
Keempat, membangun sekolah unggul, bukan tarafnya yang internasional, melainkan unggul dalam penguasaan kompetensi di bidang tertentu. Mengurangi berbagai kesenjang- an sebagaimana digambarkan di muka, maka perlu keberanian mengambil langkah kebijak- an mengembangkan model pendidikan yang bukan sekedar mentransformasi pengetahuan, tetapi membentuk kepribadian dengan kompetensi yang relevan untuk memasuki kehidup- an yang terus mengalami perubahan.
IV. PENUTUP 1. KESIMPULAN
Kebijakan yang berpihak kepada masyarakat miskin untuk mendapatkan pendidikan bermutu harus berangkat dari asumsi bahwa kebijakan pendidikan akan efektif jika berbasis pada pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat terutama dari segi ekonomi akan menentukan daya jangkau masyarakat dalam mengakses pelayanan pendidikan yang senantiasa mengalami peningkatan dari waktu ke waktu.
Pelayanan pendidikan tidak bisa hanya membenahi internal system pendidikan itu sendiri. Kebijakan yang harus dilakukan haruslah mencakup kebijakan internal dan juga eksternal system pendidikan.Langkah-langkah kebijakan eksternal yang perlu diambil pemerintah, meniscayakan pentingnya pembenahan lingkungan struktural dengan mendorong penguatan daya beli masyarakat. Diperlukan upaya yang efektif dalam pemberdayaan ekonomi.
Kebijakan yang berpola lampu pijar –nyala terang hanya di sekitar bola lampu atau elitis yang berpihak pada modal besar yang terkonsentrasi di wilayah kegiatan ekonomi tertentu, harus dihindarkan karena berpotensi pada penciptaan ketimpangan dan kemiskinan struktural. Pemihakan kebijakan kepada masyarakat miskin untuk mendapatkan pendidikan bermutu, memerlukan komitmen yang kuat dalam berusaha mengurangi tingkat kesenjangan, baik kesenjangan antar penduduk maupun antar wilayah.
Pembenahan internal system pendidikan, dalam hal ini perlu melakukan 4 hal berikut:
Pertama, keberanian melakukan perubahan orientasi. Dalam hal ini meninggalkan orientasi penyeragaman pendidikan yang mengasumsikan bahwa semua siswa berhasrat sekali untuk masuk Perguruan Tinggi karena masyarakat bukanlah fenomena homogen, melainkan heterogen. Mereka memiliki permasalahan juga minat dan harapan yang berbeda satu sama lain. Oleh karena itu pelayanan pendidikan harus berangkat dari penelusuran posisi sosial, minat dan bakat serta kebutuhan mereka. Oleh karena diketahui hanya 18 persen saja yang hendak melanjutkan ke Perguruan Tinggi, maka pilihan kebijakan pendidikan harus jelas dan kongkrit untuk benar-benar bisa mempersiapkan anak didik memasuki lapangan kerja.
Kedua, hidup bukan untuk sekolah, tetapi sekolah untuk hidup. Oleh karena itu tidak bisa memisahkan siswa didik dari kehidupan nyata dengan hanya membekali mereka
8 pengetahuan kognitif. Agar kelak bisa mengarungi kehidupan nyata dengan memberi pendidikan multiintelegensia sehingga siswa didik memiliki kompetensi tertentu yang relevan dan cukup memadai untuk memasuki kehidupan nyata.
Ketiga, membangun kebijakan pendidikan berparadigma progresivisme untuk menghadapi kehidupan terus berubah cepat dengan mempersiapkan dan mengenalkan siswa berbagai bekal memasuki perubahan baru. Pendidikan hanya akan berhasil jika mampu mempersiapkan siswanya menghadapi masa depan –terutama masa depan yang lebih banyak dikendalikan oleh teknologi baru.
Keempat, membangun sekolah unggul, bukan tarafnya yang internasional, melainkan unggul dalam penguasaan kompetensi di bidang tertentu. Mengurangi berbagai kesenjang- an sebagaimana digambarkan di muka, maka perlu keberanian mengambil langkah kebijak- an mengembangkan model pendidikan yang bukan sekedar mentransformasi pengetahuan, tetapi membentuk kepribadian dengan kompetensi yang relevan untuk memasuki kehidup- an yang terus mengalami perubahan.
V. REKOMENDASI
Disarankan kepada pemerintah, khususnya pemerintah Provinsi Jawa Timur, agar memperhatikan dinamika masyarakat yang masih menghadapi kesenjangan antar wilayah.
Pengambilan kebijakan di bidang pendidikan jangan sampai menimbulkan perbedaan yang ekstrim, antara yang bisa dinikmati oleh siswa yang berasal dari keluarga kelas menengah, dengan siswa yang berasal dari keluarga miskin. Kesenjangan siswa yang berada di pusat- pusat aglomerasi ekonomi, dengan yang dipinggiran wilayah aktifitas ekonomi. Kesenjangan antara apa yang diberikan di sekolah menengah dengan apa yang dibutuhkan Perguruan Tinggi. Kesenjangan antara apa yang diberikan di sekolah dengan apa yang dihadapi dalam kehidupan di tengah masyarakat.
Kepada pemerintah disarankan juga untuk tidak hanya memberi pengetahuan, melainkan juga kemampuan imajinasi, kecerdasan, semangat, moralitas, kemampuan memecahkan masalah, membangun jaringan, pemikiran kritis, kepemimpinan, dan komunikasi lisan maupun tertulis dengan baik.
Perlu ada keberanian untuk membuat terobosan baru dengan menyelenggarakan pendidikan atau sekolah unggul –bukan karena sekolahan itu bertaraf internasional, melainkan sekolah unggul dalam perspektif progresivis, yakni sekolah atau pendidikan yang mampu memberikan bekal kemampuan berupa kecerdasan dan berbagai achievement skill yang bisa digunakan untuk beradaptasi dan mengatasi kehidupan di masa depan yang terus berkembang dan semakin kompleks ini.
DAFTAR PUSTAKA
Anderson, Bennedict
“The Idea of Power in Javanese Culture,” dalam Culture and Politics in Indonesia, Ithaca, New York:
Cornel University Press, 1972.
Myrdal, Gunar,
9 Asian Drama, New York: Pantheon, 1939
Myrdal, Gunar,
The Political Element in The Development of Economic Theory, London: Routledge & Paul Kegen, 1990.
Porter, Michael E.
The Competitive Advantage of Nations. New York: The Free Press, 1990.
Wagner, Tony
The Global Achievement Gap, New York: Basic Books, 2008, hal. 14-41.