• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH PERSEPSI RISIKO DAN KEPERCAYAAN TERHADAP NIAT BELI ONLINE DIMEDIASI OLEH SIKAP KONSUMEN SHOPEE DI KOTA MAKASSAR PROPOSAL SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGARUH PERSEPSI RISIKO DAN KEPERCAYAAN TERHADAP NIAT BELI ONLINE DIMEDIASI OLEH SIKAP KONSUMEN SHOPEE DI KOTA MAKASSAR PROPOSAL SKRIPSI"

Copied!
75
0
0

Teks penuh

(1)

i

PENGARUH PERSEPSI RISIKO DAN KEPERCAYAAN TERHADAP NIAT BELI ONLINE DIMEDIASI OLEH SIKAP KONSUMEN SHOPEE

DI KOTA MAKASSAR

PROPOSAL SKRIPSI

Diajukan sebagai Salah Satu syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Administrasi Bisnis

Program Studi Administrasi Bisnis

PROGRAM STUDI ADMINISTRASI BISNIS FAKULTAS KOMUNIKASI DAN BISNIS

UNIVERSITAS TELKOM BANDUNG

2021

(2)

ii

PENGARUH PERSEPSI RISIKO DAN KEPERCAYAAN TERHADAP NIAT BELI ONLINE DIMEDIASI OLEH SIKAP KONSUMEN SHOPEE

DI KOTA MAKASSAR

PROPOSAL SKRIPSI

Diajukan sebagai Salah Satu syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Administrasi Bisnis

Program Studi Administrasi Bisnis

PROGRAM STUDI ADMINISTRASI BISNIS FAKULTAS KOMUNIKASI DAN BISNIS

UNIVERSITAS TELKOM BANDUNG

2021

(3)

iii

HALAMAN PERSETUJUAN

PENGARUH PERSEPSI RISIKO DAN KEPERCAYAAN TERHADAP NIAT BELI ONLINE DIMEDIASI OLEH SIKAP KONSUMEN SHOPEE

DI KOTA MAKASSAR

PROPOSAL SKRIPSI

Diajukan sebagai Salah Satu syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Administrasi Bisnis

Program Studi Administrasi Bisnis

PROGRAM STUDI ADMINISTRASI BISNIS FAKULTAS KOMUNIKASI DAN BISNIS

UNIVERSITAS TELKOM BANDUNG

2021

(4)

iv DAFTAR ISI

HALAMAN PERSETUJUAN ... III HALAMAN PERNYATAAN ... ERROR! BOOKMARK NOT DEFINED.

HALAMAN MOTO DAN PERSEMBAHAN ... ERROR! BOOKMARK NOT DEFINED.

KATA PENGANTAR ... ERROR! BOOKMARK NOT DEFINED.

ABSTRAK ... ERROR! BOOKMARK NOT DEFINED.

DAFTAR ISI ... IV DAFTAR TABEL... VI DAFTAR GAMBAR ... VII

BAB 1 PENDAHULUAN... 1

1.1 GAMBARANUMUMOBJEKPENELITIAN ... 1

1.1.1 Sejarah Singkat Perusahaan Shopee... 1

1.1.2 Visi, Misi, Nilai dan Logo Shopee ... 4

1.1.3 Struktur Organisasi Shopee ... 4

1.1.4 Layanan Shopee ... 5

1.1.5 Perkembangan Shopee dari Waktu ke Waktu... 6

1.1.6 Dukungan Pendanaan ... 7

1.2 LATARBELAKANGPENELITIAN ... 8

1.3 IDENTIFIKASIMASALAH ... 12

1.4 TUJUANPENELITIAN ... 13

1.5 KEGUNAANPENELITIAN ... 13

1.5.1 Aspek Teoritis... 13

1.5.2 Aspek Praktis ... 13

1.6 WAKTUDANPENELITIAN(KHUSUSPROPOSAL) ... 14

1.7 SISTEMATIKAPENULISAN ... 14

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 16

2.1 PEMASARAN ... 16

2.1.1 Pengertian Pemasaran ... 16

2.1.2 Pengertian E-Commerce ... 17

2.1.3 Situs Shopee ... 19

2.1.4 Pengertian Persepsi Risiko ... 21

(5)

v

2.1.5 Pengertian Kepercayaan ... 22

2.1.6 Pengertian Niat Beli Kosnsumen ... 24

2.1.7 Pengertian Sikap Konsumen... 28

2.2 KERANGKAPEMIKIRAN ... 44

2.3 HIPOTESIS ... 47

2.4 RUANGLINGKUPPENELITIAN ... 48

2.4.1 Faktor-Faktor Dalam Penelitian ... 48

2.4.2 Lokasi dan Objek Penelitian ... 48

2.4.3 Waktu Penelitian ... 48

BAB III METODE PENELITIAN ... 49

3.1 JENISPENELITIAN ... 49

3.2 OPERASIONALISASIVARIABEL ... 49

3.3 SKALAPENGUKURAN ... 51

3.4 TAHAPANPENELITIAN ... 51

3.5 POPULASIDANSAMPEL ... 53

3.5.1 Populasi ... 53

3.5.2 Sampel ... 53

3.6 TEKNIKPENGUMPULANDATA ... 54

3.7 TEKNIKANALISISDATA ... 54

DAFTAR PUSTAKA ... 57

xi

(6)

vi

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1. Skripsi Terdahulu ... 30

Tabel 2.2. Jurnal Nasional ... 36

Tabel 2.3. Jurnal International ... 40

Tabel 3.1. Variabel Operasional ... 49

xii

(7)

vii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Struktur Organisasi PT Shopee International Indonesia ... 5 Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran ... 47 Gambar 3.1 Tahapan Penelitian ... 52

(8)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian 1.1.1 Sejarah Singkat Perusahaan Shopee

Shopee tidak lepas dari perkembangan marketplace di Indonesia yang sangat pesat. Shopee sendiri dikelola oleh Garena Group yang sekarang berubah nama menjadi SEA Group. Jika dibandingkan dengan situs marketplace lainnya seperti bukalapak, tokopedia, OLX dan lain-lain, maka shopee termasuk yang termuda dan minim pengalaman. Namun dengan promosi yang gencar e-commerce ini mampu berdiri sejajar dengan pesaing-pesaing terdahulunya tersebut.

Sejarah Shopee di Indonesia dimulai pada bulan Desember tahun 2015. Prestasi marketplace ini adalah keberhasilan promosi yang dalam waktu singkat, pengguna shopee tidak kalah banyak dari para pesaingnya. Tokoh penting di balik sejarah Shopee adalah Chris Feng pendiri dan CEO yang juga merupakan lulusan terbaik dari Universitas Singapura. Shopee memudahkan para penjual serta pembeli dalam berinteraksi melalui fitur live chatnya. Sarana jual beli ini juga menyediakan banyak produk mulai dari gadget, fashion, kosmetik, elektronik, otomotif dan lain sebagainya.

Shopee berkantor pusat di Wisma 77 Tower 2 lantai 11, Jl. Letjen. S. Parman Kav. 77 Slipi, palmerah. Jakarta Barat, 11410.

Seiring berjalannya waktu, Shopee mencoba untuk menjalankan bisnis model lain yang juga mereka gunakan hingga saat ini, yaitu Hibrid C2C dan juga B2C, yang ditandai dengan adanya Shopee Mall. Shopee Mall sendiri adalah kumpulan dari toko- toko yang dipilih secara khusus oleh shopee dengan mempertimbangkan produk yang mereka jual sampai pelayanan yang diberikan kepada konsumen.

Shopee adalah salah satu marketplace yang mencatatkan perkembangan signifikan dari tahun ke tahun. Selang dua tahun setelah shopee lahir, yakni pada tahun 2017 ia sudah mendapatkan pengguna yang sangat banyak. Pada saat itu, aplikasi dari Shopee sudah di download sebanyak 80 juta kali. Tidak hanya jumlah unduhannya saja yang

(9)

naik signifikan, jumlah produk yang tersedia di Shopee juga tidak kalah banyak, yakni sekitar 180 juta produk.

Jumlah pengguna naik, produk yang dijual juga semakin beragam berhasil membawa shopee pada Q4 tahun 2017 mencatatkan nilai GMV (perdagangan bruto) US$1,6 millar. Jika dibandingkan dengan nilai perdagangan bruto yang diraihnya pada tahun 2016, perolehan pada tahun 2017 ini berhasil naik sangat signifikan, yakni sebesar 206%.

Hal yang sama juga terjadi pada tahun berikutnya, yakni tahun 2018. Pada tahun ini shopee berhasil memperoleh perdagangan bruto senilai US$2,7 milliar. Secara prosentase, kenaikan memang tidak sebesar pada tahun 2017, namun bukan berarti itu kecil. Pada tahun 2018 shopee berhasil menaikkan GMV nya mencapai 153%.

Keberhasilan shopee sebagai marketplace sebenarnya tidak hanya terjadi di negara dimana ia dibuat. Shopee secara nyata berhasil meraih beberapa prestasi di negara lain seperti Indonesia dan juga Malaysia.

Di Indonesia misalnya, data dari sebuah survei yang dilakukan oleh TheAsianParent pada tahun 2017 mencatatkan shopee sebagai salah satu marketplace yang sangat disukai oleh ibu-ibu di Indonesia dengan memperoleh nilai mencapai 73%.

Sedangkan tokopedia pada saat itu hanya bisa mencapai angka 54% saja.

Begitu juga dengan pencapaian yang berhasil diperoleh oleh Shopee di Malaysia, ia berhasil menjadi situs jual beli online dengan trafiict terbanyak nomor 3, ia berhasil mengalahkan kompetitornya yakni Lelong, bahkan shopee di Apps Store juga berhasil menjadi aplikasi terbaik, yang sebelumnya dipegang oleh Lazada.

Seperti tidak mau kalah dengan supper apps lain layaknya gojek, pada tahun 2020, tepatnya dibulan April shopee merambah bisnis baru dengan menghadirkan layanan makanan delivery order layaknya yang dilakukan grab dengan grabfood, dan juga gojek dengan gofood. Selain itu, hal lain yang dilakukan oleh shopee adalah membuat dompet digital yang kini kita kenal sebagai shopeepay.

Bukan marketplace pertama di Asia Tenggara memang, namun dengan pengelolaan yang matang dan terencana berhasil membuat shopee dikenal dan digunakan, yang kemudian dikenal sebagai salah satu marketplace ternama di Asia

(10)

Tenggara bersaing dengan tokopedia yang kini bergabung dengan GOTO yang satu organisasi dengan Gojek.

Banyaknya pengguna Shopee, tidak lepas dari kemudahan yang ditawarkan oleh marketplace yang satu ini. Beberapa keunggulan yang ditawarkan antara lain adalah sebagai berikut.

1. Barang lebih cepat sampai

2. Shopee menawarkan banyak promo serta diskon yang pastinya digemari para pembeli 3. Memiliki fitur terdekat yang memungkinkan pembeli mencari penjual terdekat dari

posisi calon pembeli berada

4. Adanya fitur beriklan bagi para penjual yang ingin produknya berada di urutan atas 5. Ada pula fitur live chat yang memungkinkan penjual dan pembeli berinteraksi

mengenai produk yang dijual 6. Potensi transaksi yang cukup besar

7. Adanya fasilitas ongkir gratis dengan ketentuan yang berlaku

8. Tersedianya kategori produk yang sangat luas. Alhasil penjual bisa menjual jenis barang apa saja. Hal ini akan sangat menguntungkan bagi pihak penjual.

Selain memiliki kelebihan, Shopee juga memiliki kelemahan seperti yang dikemukakan dibawah ini :

1. Respon penjual yang terkadang cukup lama 2. Situs yang susah diakses pada jam-jam tertentu

3. Ada beberapa penjual yang tidak jujur sehingga merugikan para pembeli 4. Untuk promo ongkir gratis diberi syarat atau ketentuan yang cukup merepotkan 5. Beberapa gambar atau tampilan produk yang dianggap kurang menarik

Bagi anda yang tertarik berbelanja di Shopee, anda bisa melakukan langkah- langkah seperti yang berikut ini:

1. Langkah yang pertama adalah dengan memilih barang yang akan dibeli lalu pilih tombol Beli sekarang.

2. Jika barang yang dipesan sudah sesuai dengan keinginan, anda bisa memilih tombol Checkout

3. Pilih kurir pengiriman dan jangan lupa untuk memilih metode pembayaran. (kartu kredit atau debit, indomaret, transfer bank) Jika sudah, anda bisa pilih konfirmasi

(11)

4. Jika kurir dan metode pembayaran telah dipilih, anda bisa menekan tombol buat pesanan dan segera lakukan pembayaran sesuai dengan metode yang telah anda pilih sebelumnya.

1.1.2 Visi, Misi, Nilai dan Logo Shopee 1. Visi

“Menjadi mobile marketplace nomor 1 di Indonesia”

2. Misi

“Mengembangkan jiwa kewirausahaan bagi para penjual di Indonesia”

3. Logo Shopee

Logo shopee berupa gambar tas belanja dengan tulisan S di tengahnya. Logo ini sangat melambangkan profil dari perusahaan shopee ini sebagai aplikasi marketplace yang mempertemukan penjual dan pembeli. Warna utama yang digunakan di shopee adalah warna orange. Warna ini juga menjadi warna brand dari shopee. Brand warna juga penting untuk usaha.

Shopee Indonesia menjadi salah satu contoh bisnis ecommerce sukses di Indonesia yang harus kita ambil ilmunya. Dengan beragam promosi dan fitur menarik di dalamnya, perusahaan ini telah mengalahkan para pesaingnya.

1.1.3 Struktur Organisasi Shopee

Shopee Indonesia dipimpin oleh Handhika Wiguna Jahja sebagai Direktur.

Pada pelaksanaan penelitian, penulis berada dalam Tim marketing yang dipimpin oleh Fiona Wijaya sebagai Marketing Project Team Manager yang mengepalai

(12)

empat Tim, yaitu Tim In-House Account dan User and Seller yang dipimpin oleh Jonathan Handoyo, serta Tim curation dan KOL management yang dipimpin oleh Cindy Angelina. Berikut ini dikemukakan bagan struktur organisasi dapat dilihat melalui gambar dibawah ini :

Bagan 2.1

Struktur Organisasi PT Shopee International Indonesia

Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2020 1.1.4 Layanan Shopee

Lewat siaran pers, 1/9, Handhika Jahja, Direktur Shopee Indonesia menjelaskan sederet layanan dan inovasi Shopee untuk memaksimalkan pengalaman belanja pengguna dalam metode logistik, diantaranya : Tim Customer Service: dapat dihubungi di berbagai kanal (e-mail, call center, Twitter dan Instagram) yang beroperasi selama 24

Direktur Shopee Indonesia

Marketing Project Team Manager

Asisten Manager In House Account

Asisten Manager User &

Seller

Staff

Asisten Manager KOL

Management Asisten

Manager Curation Team

Staff Staff Staff

Intern Intern Intern Intern

(13)

jam dan 7 hari dalam seminggu. Tim Fraud: melakukan pemantauan terhadap isu-isu yang sekiranya berpotensi merugikan pihak internal dan eksternal Shopee. Mitra logistik terpercaya: yang menjamin pesanan sampai ke tangan pengguna dengan aman dan cepat.

Saat ini Shopee telah bekerja sama dengan berbagai mitra logistik, salah satunya seperti J&T Express.

Dikelola Shopee: layanan one stop solution dikemas dan dikirim oleh Shopee yang mengedepankan kecepatan dan terpercaya dengan sistem keamanan 24 jam di gudang untuk mengelola berbagai produk, stock, dan pesanan dari para mitra brand dan penjual.

Shopee Xpress: layanan pengiriman milik Shopee dengan rata-rata pesanan dikirim 2 jam setelah pengguna menyelesaikan transaksi.

ShopeePay: layanan e-money guna memberikan variasi metode pembayaran lain bagi pengguna, dimana telah dijamin keamanannya di bawah supervisi OJK dan Bank Indonesia. Hingga saat ini, ShopeePay mencatat pertumbuhan e-money terpesat di Indonesia menurut riset YouGov. Sejalan dengan ekspansi ShopeePay di pedagang online dan offline, ShopeePay sudah dapat digunakan di >500 kota dan ratusan ribu mitra merchant.

Cash on Delivery: menjadi salah satu solusi metode pembayaran pengguna yang nyaman dan aman selama berbelanja online. Tercatat adanya kenaikan hampir 2.5x lipat untuk penggunaan layanan Cash on Delivery selama kuartal II 2020. Pengguna Shopee masih dapat menikmati kampanye Shopee 9.9 Super Shopping Day hingga 13 September 2020 dengan gratis ongkir XTRA, Late Night Sale Rp99, Shopee Tanam berhadiah 9,9JT dan TV Show pada tanggal 9 September dengan performa spesial dari GFRIEND dan sederet artis ternama lainnya.

1.1.5 Perkembangan Shopee dari Waktu ke Waktu

Berdasarkan Map E-Commerce yang dirilis oleh iprice.co.id, Shopee berhasil mempertahankan posisi pertamanya sebagai top e-commerce selama sepuluh kuartal berturut-turut berdasarkan ranking di PlayStore. Pada kuartal II 2019, Shopee juga memimpin pada kategori ranking AppStore. Namun jika berdasarkan rata-rata jumlah pengunjung situs secara bulanan, Shopee dikalahkan oleh Tokopedia. Pengunjung situs Tokopedia secara bulanan mencapai 140,4 juta pengunjung sedangkan Shopee

(14)

sebanyak 90,7 juta pengunjung. Sementara itu, Lazada dan Tokopedia bersaing sengit memperebutkan posisi kedua berdasarkan ranking di PlayStore. Namun hingga dua kuartal terakhir di 2019, Tokopedia berhasil menyalip Lazada di peringkat kedua.

Bukalapak cenderung stagnan di posisi keempat, meskipun pada kuartal III 2018 untuk pertama kalinya Bukalapak berhasil menggantikan posisi Tokopedia di peringkat ketiga.

Sale Stock Indonesia, yang berganti nama menjadi Sorabel menjadi pendatang baru pada kuartal II 2018 yang menduduki peringkat kedelapan. Setahun kemudian, Sorabel berhasil naik ke peringkat kelima pada kuartal II 2019. Adapun pendatang baru di kuartal ini, Alfacart berhasil menduduki 10 top e-commerce berdasarkan ranking PlayStore.

1.1.6 Dukungan Pendanaan

Induk perusahaan mobile marketplace Shopee, Garena, memperoleh dana baru

$550 juta (7,3 triliun Rupiah) dari 5 investor. Investor Indonesia GDP Venture termasuk dalam jajaran investor yang berpartisipasi di putaran ini. Mayoritas dana akan digunakan untuk memperkuat kehadiran Shopee di Indonesia. Termasuk dalam pengumuman ini adalah penggunaan nama holding baru Sea, yang juga merupakan akronim untuk Asia Tenggara (Southeast Asia).

Tidak disebutkan berapa valuasi Sea setelah pendanaan. Terakhir Sea memiliki valuasi $3,75 miliar dan perusahaan (bersama dengan Grab dan Go-Jek) bersaing untuk menjadi startup paling bernilai (most valuable) di Asia Tenggara. Selain GDP Venture, juga turut berpartisipasi dalam pendanaan ini Farallon Capital Management, Cathay Financial Holding, Hillhouse Capital Group, dan JG Summit Holdings.

Sea kini memiliki tiga fokus utama, hiburan dan permainan (direpresentasikan oleh Garena), e-commerce (direpresentasikan oleh Shopee), dan pembayaran (direpresentasi-kan oleh Airpay). Shopee sebagai mobile marketplace kini fokus ke berbagai barang kebutuhan perempuan dan memberikan kelebihan bebas ongkos kirim ke seluruh Indonesia. Sea dikabarkan sebelumnya telah menunjuk Goldman Sachs untuk membantu persiapan go public.

Pertumbuhan pesat Shopee di Indonesia menjadi pencetus utama putaran pendanaan kali ini. Disebutkan GMV (atau total nilai penjualan) Shopee dalam 9 bulan

(15)

terakhir mencapai $3 miliar (40 triliun Rupiah). Selain di Indonesia, Shopee juga tersedia di Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, Vietnam, dan Taiwan.

Sebagai bagian pendanaan ini, mantan Menteri Luar Negeri Singapura George Yeo dan mantan Menteri Perdagangan Mari Pangestu sebagai penasihat, sementara Pandu Sjahrir menjadi Preskom PT Garena Indonesia.

1.2 Latar Belakang Penelitian

Perkembangan yang semakin cepat dari teknologi informasi dan internet telah banyak memunculkan aktivitas usaha yang terkait dengan ekonomi digital yang telah menyerbu di hampir semua lini bisnis. Ekonomi digital mengacu pada ekonomi yang didasarkan pada teknologi digital, termasuk jaringan komunikasi digital (internet, intranet, dan jaringan nilai tambah pribadi), komputer, perangkat lunak, dan teknologi informasi terkait lainnya. Aplikasi ekonomi digital ini kian nyata dengan munculnya berbagai macam start-up, perusahaan e-commerce, dan bisnis berbasis digital yang inovatif lainnya.

Pesatnya pertambahan pengguna internet adalah pemicu munculnya perusahaan- perusahaan yang bergerak di bidang jual-beli online di dunia, termasuk Indonesia.

Sehingga hal ini memicu persaingan bisnis yang sangat ketat. Dengan alasan tersebut, banyak perusahaan yang termotivasi untuk melakukan berbagai usaha dalam mempertahankan bisnisnya. E-commerce menjadi bagian ekonomi global yang sangat signifikan pertumbuhannya di abad kedua puluh satu ini. E-commerce didefinisikan sebagai wadah untuk berbagi informasi bisnis, mempertahankan hubungan bisnis dan melakukan transaksi bisnis melalui jaringan telekomunikasi. Dengan semakin

menjamurnya bisnis di e-commerce, membuat semakin ketatnya persaingan bisnis e-commerce di Indonesia. Berdasarkan data dari iPrice Group Kuatal III 2020, peta

persaingan e-commerce mencatatkan shopee sebagai e-commerce yang memiliki jumlah pengunjung web bulanan terbesar yaitu sebanyak 96,5 juta, Tokopedia sebanyak 85 juta, diikuti Bukalapak sebanyak 31,4 juta, Lazada sebanyak 22,7 juta, Blibli sebanyak 18,7 juta, JD JD sebanyak 4,8 juta, Orami 3,1 juta, Bhinneka 2,8 juta, Sociolla sebanyak 2 juta dan yang terakhir adalah Zalora sebanyak 1,8 juta pengunjung web bulanan.

(16)

Sehingga dengan semakin meningkatnya persaingan yang ada, tantangan untuk

dapat menguasai pasar juga menjadi semakin berat. Persaingan ini membuat perusahaan e-commerce dan penjual online harus dapat merancang sebuah strategi pemasaran yang

efektif, yaitu dengan memahami apa yang memotivasi niat pembelian untuk dapat bertransaksi secara online.

Online shop merupakan sarana atau toko untuk menawarkan barang dan jasa lewat internet sehingga pengunjung online shop dapat melihat barang-barang di toko online (Loekamto, 2012). Konsumen bisa melihat barang-barang berupa gambar atau foto-foto atau bahkan juga video. Toko online atau online shop bisa dikatakan sebagai tempat berjualan yang sebagian besar aktivitasnya berlangsung secara online di internet. Online shop memberikan beragam kemudahan bagi konsumennya diantaranya adalah adanya penghematan biaya, barang bisa langsung diantar ke rumah, pembayaran dilakukan secara transfer, dan harga lebih bersaing. Proses transaksi jual beli yang ada di online shop dilakukan dengan memberikan berbagai syarat kepada calon konsumen.

Diantaranya adalah memberikan syarat kepada calon konsumen untuk registrasi sebagai anggota. Konsumen yang sudah menjadi anggota, selanjutnya dapat memesan produk.

Setelah itu, konsumen membayar produk yang dibeli menggunakan kartu kredit atau melalui transfer bank. Pemilik toko online selanjutnya mengirimkan produk tersebut ke konsumen (Wicaksono, 2010).

Dari sekian banyak marketplace yang hadir di Indonesia Shopee adalah satu dari banyak pihak yang memanfaatkan peluang tersebut dengan meramaikan segmen mobile marketplace melalui aplikasi mobile mereka dapat mempermudah transaksi jual beli melalui perangkat ponsel. Saat ini aplikasi Shopee telah tersedia untuk perangkat dengan sistem operasi Android dan iOS. Shopee adalah sebuah aplikasi yang bergerak di bidang jual beli secara online dan dapat diakses secara mudah dengan menggunakan smartphone. Shopee hadir dalam bentuk aplikasi yang memudahkan penggunanya dalam melakukan kegiatan berbelanja secara online tanpa harus ribet menggunakan perangkat komputer. Adanya kemudahan-kemudahan dalam menggunakan aplikasi shopee sehingga mempengaruhi niat beli konsumen.

Niat membeli berkaitan erat dengan keputusan pembelian konsumen, niat digunakan untuk memprediksi kecenderungan seseorang akan melakukan atau tidak

(17)

melakukan perilaku membeli. Menurut Sumarwan (2014:195), niat beli merupakan kecenderungan atau keinginan yang kuat pada individu untuk melakukan perilaku tertentu. Niat merupakan indikasi dari seberapa kuat keinginan individu untuk mewujudkan suatu perilaku, dengan kata lain semakin kuat keinginan individu tersebut semakin besar kemungkinan suatu perilaku diwujudkan melalui keputusan pembelian.

Untuk memberikan niat beli konsumen maka dipengaruhi oleh adanya sikap konsumen, hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh I. B. Hong & Cha (2013) disebutkan bahwa niat pembelian online konsumen dipengaruhi oleh sikap konsumen.

Dalam penelitian Bianchi & Andrews (2012) disebutkan bahwa sikap konsumen juga digunakan untuk memprediksi niat konsumen untuk membeli secara online. Sreen, et.al., (2018) melakukan penelitian mengenai pengaruh sikap konsumen terhadap minat beli konsumen green product dan menemukan bahwa sikap memiliki pengaruh terhadap minat beli kosnumen. Kemudian pada penelitian Ha & Stoel (2009) sikap konsumen juga digunakan sebagai prediktor minat beli. Dari penelitian di atas disebutkan bahwa sikap konsumen menjadi faktor penentu minat atau niat konsumen untuk melakukan pembelian secara online. Dimana terebih dahulu konsumen akan melakukan evaluasi terhadap produk yang akan mereka beli, yang kemudian menjadi penentu apakah konsumen beminat atau tidak melakukan pembelian produk tersebut.

Ada banyak faktor yang perlu diperhatikan oleh konsumen dalam melakukan niat beli online shopee, dimana dalam penelitian ini difokuskan pada dua variabel yakni persepsi risiko dan kepercayaan. Persepsi risiko sangat berpengaruh terhadap keputusan konsumen dalam melakukan niat beli, sebagaimana dikemukakan oleh Osman Demirdogen (2010) bahwa persepsi risiko bisa disimpulkan sebagai potensi terjadinya kerugian atau konsekuensi negatif terhadap upaya untuk mendapatkan hasil yang diinginkan oleh konsumen dalam transaksi pembelian atau pengonsumsian suatu produk atau jasa. Pembelian online masih dianggap berisiko dibandingkan dengan pembelian eceran. Semakin berisikonya pembelian online maka konsumen akan tidak berminat, tetapi apabila risiko rendah maka konsumen akan lebih berminat membeli secara online (Arun dan Xavier, 2012:20).

Kemudian persepsi risiko berpengaruh terhadap sikap konsumen, dimana menurut Andrews & Boyle (2008) bahwa faktor kunci, yang terus diidentifikasi sebagai

(18)

penghambat utama untuk berbagai bentuk aktivitas transaksi atas sikap konsumen online adalah persepsi resiko. Dimana resiko yang dirasakan (persepsi risiko) secara konsisten telah diidentifikasi memiliki pengaruh terhadap perilaku online, termasuk pembelian (Bianchi & Andrews, 2012). Risiko dirasakan penting karena mereka memiliki kemampuan untuk secara drastis mempengaruhi sikap konsumen dalam hal membeli label pribadi.

Kemudian faktor kedua yang berpengaruh terhadap niat beli dan sikap konsumen adalah kepercayaan, sebagaimana dikemukakan oleh Tan & Sutherland (2004) mereka menyebutkan bahwa kepercayaan pada vendor memiliki peranan penting dalam mempengaruhi minat beli konsumen, dan ketika konsumen tidak memiliki rasa percaya terhadap vendor tersebut maka mereka cenderung akan mencari vendor atau alternatif lain yang bisa dipercaya. Mamang (2013:197) bahwa kepercayaan konsumen memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap keberlangsungan sebuah perusahaan, karena jika produk sebuah perusahaan sudah tidak dipercayai lagi oleh konsumen maka produk tersebut akan sulit untuk berkembang di pasar. Namun sebaliknya jika produk perusahaan tersebut dipercayai oleh konsumen, maka produk perusahaan tersebut akan dapat terus berkembang di pasar. Kepercayaan ini yang harus selalu didapatkan oleh perusahaan, semakin konsumen percaya, perusahaan akan terus menjalani hubungan yang baik yakni dengan berniat untuk membeli produk yang ditawarkan. Tractinsky (1999) dan Gefen dan Straub (2004) dalam Ling et al. (2010). menyimpulkan bahwa semakin tinggi tingkat kepercayaan konsumen, maka semakin tinggi pula niat pembelian konsumen tersebut.

Penelitian ini menggunakan sikap konsumen sebagai variabel mediasi antara pengaruh persepsi risiko terhadap niat beli konsumen shopee, bahwa ketika konsumen menemukan kemudahan dalam berinteraksi saat berbelanja secara online dan kemudahan dalam mencari informasi tentang produk dan pembayaran online dalam website, maka konsumen akan memilih berbelanja secara online. Risiko dan kepercayaan pada situs web memainkan peran penting dalam e-commerce, karena

konsumen tidak akan

berbelanja online jika mereka tidak percaya situs web penjual tempat mereka berbelanja (Bonsón Ponte, Carvajal-Trujillo, & Escobar-Rodríguez, 2015). Dalam penelitian I. B.

(19)

Hong & Cha, (2013) juga disebutkan bahwa kepercayaan memiliki efek tidak langsung pada niat transaksi melalui sikap sebagai mediator. Ketika suatu aplikasi dirasa lebih mudah untuk digunakan, maka konsumen akan menerima untuk menggunakan aplikasi tersebut sehingga timbul niat untuk membeli.

Penelitian ini dilakukan pada marketplace Shopee di Kota Makassar, sebagai aplikasi yang bergerak di bidang jual beli secara online dan dapat diakses secara mudah dengan menggunakan smartphone. Shopee hadir dalam bentuk aplikasi yang memudahkan penggunanya dalam melakukan kegiatan berbelanja secara online tanpa harus ribet menggunakan perangkat komputer, yang menawarkan berbagai macam produk-produk fashion seperti: pakaian, alat kecantikan, serta berbagai macam kebutuhan rumah tangga lainnya yang ditawarkan oleh Shopee. Namun permasalahan yang sering terjadi bahwa dalam membeli secara online memiliki risiko yang sangat besar, dimana seringkali produk yang dipesan tidak sesuai dengan gambar yang ada.

Permasalahan lainnya yakni kurangnya kepercayaan konsumen terhadap produk yang ditawarkan sehingga hal ini mempengaruhi sikap konsumen dalam membeli secara online pada Shopee. Sehingga dari permasalahan tersebut di atas maka peneliti tertarik untuk mengangkat tema ini dengan memilih judul penelitian : “Persepsi Risiko dan Kepercayaan Terhadap Niat Beli Online di Mediasi Oleh Sikap Konsumen Shopee di Kota Makassar “

1.3 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, terdapat masalah-masalah yang berkaitan dengan penelitian ini. Masalah tersebut diidentifikasikan sebagai berikut : 1. Apakah persepsi risiko berpengaruh terhadap sikap konsumen Shopee di Kota

Makassar

2. Apakah kepercayaan berpengaruh terhadap sikap konsumen Shopee di Kota Makassar

3. Apakah sikap konsumen Shopee berpengaruh terhadap niat beli online Shopee di Kota Makassar.

4. Apakah persepsi risiko berpengaruh terhadap niat beli online dimediasi oleh sikap konsumen Shopee di Kota Makassar.

(20)

5. Apakah kepercayaan berpengaruh terhadap niat beli online dimediasi oleh sikap konsumen Shopee di Kota Makassar.

1.4 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah disusun, maka penelitian ini dilakukan untuk mencapai tujuan berikut

1. Untuk menganalisis pengaruh persepsi risiko terhadap sikap konsumen Shopee di Kota Makassar

2. Untuk menganalisis pengaruh kepercayaan terhadap sikap konsumen Shopee di Kota Makassar

3. Untuk menganalisis pengaruh sikap konsumen Shopee terhadap niat beli online Shopee di Kota Makassar.

4. Untuk menganalisis pengaruh persepsi risiko terhadap niat beli online dimediasi oleh sikap konsumen Shopee di Kota Makassar.

5. Untuk menganalisis pengaruh kepercayaan terhadap niat beli online dimediasi oleh sikap konsumen Shopee di Kota Makassar.

1.5 Kegunaan Penelitian

Penelitian yang dilakukan akan mengemukakan dua manfasat yaitu manfaat teoritis dan manfaat praktis yang dapat dilihat melalui uraian dibawah ini :

1.5.1 Aspek Teoritis

Penelitian ini dapat berguna sebagai pendalaman ilmu tentang e-commerce khususnya mengenai persepsi risiko dan kepercayaan terhadap niat beli online dimediasi oleh sikap konsumen Shopee serta sebagai pratik dalam penerapan ilmu yang telah diperoleh selama menjalani perkuliahan di Program Studi Administrasi Bisnis Fakultas Komunikasi dan Bisnis Universitas Telkom Bandung

1.5.2 Aspek Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan salah satu bahan masukan bagi perusahaan Shopee untuk mengembangkan strategi pemasaran yang digunakan agar dapat menarik niat beli secara online, dengan tujuan untuk membuat perusahaan mereka

(21)

dapat terus berkembang dengan lebih baik kedepannya. Serta dengan adanya penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu contoh bahan bagi peneliti selanjutnya.

1.6 Waktu Dan Penelitian (Khusus Proposal)

Adapun waktu yang digunakan mulai dari pemasukan judul hingga selesainya penyusunan proposal ini membutuhkan waktu kurang lebih satu bulan yakni dimulai dari awal bulan Oktober hingga awal bulan November tahun 2021.

1.7 Sistematika Penulisan

Untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai penelitian yang dilakukan maka disusunlah suatu sistematika penulisan yang berisi informasi mengenai materi dan hal-hal yang dibahas dalam tiap-tiap bab. Adapun sistematika penulisan tersebut adalah sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN

menjelaskan mengenai objek studi penelitian yang meliputi gambaran umum obyek penelitian sejarah singkat Shopee visi, misi, nilai dan Shopee, struktur organisasi layanan Shopee perkembangan Shopee dari waktu ke waktu dukungan pendanaan, latar belakang masalah, identifikasi masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, waktu dan penelitian (khusus proposal) sistematika penulisan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Menjelaskan mengenai pengertian pemasaran, pengertian e-commerce, pengfertian shopee, pengertian persepsi risiko, pengertian kepercayaan, pengertian niat beli konsumen dan pengertian sikap konsumen, kerangka pemikiran hipotesis, ruang lingkup penelitian

BAB III METODE PENELITIAN

Mendeskripsikan tentang jenis penelitian, operasionalisasi variabel, tahapan penelitian, populasi dan sampel, teknik pengumpulan data, teknik analisis data.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

(22)

Membahas mengenai data-data yang telah di peroleh dan diolah, bab ini memuat pembahasan dari hasil penelitian dan hubungannya dengan teori yang ada atau ketentuan yang telah ada.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini merupakan bab terakhir yang akan menjelaskan mengenai penasiran dan pemaknaan atas hasil analisis temuan penelitian, yang diajukan dalam bentuk kesimpulan dan saran.

(23)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pemasaran

2.1.1 Pengertian Pemasaran

Pemasaran (marketing) merupakan sebuah konsep ilmu dalam strategi bisnis yang bertujuan untuk mencapai kepuasan berkelanjutan bagi stakeholder (pelanggan, karyawan dan pemegang saham). Sebagai ilmu, marketing merupakan ilmu pengetahuan yang obyektif, yang diperoleh dengan penggunaan instrumen-instrumen tertentu untuk mengukur kinerja dari efektifitas bisnis dalam membentuk, mengembangkan, mengarahkan pertukaran yang saling menguntungkan dalam jangka panjang antara produsen dan konsumen atau pemakai. Sebagai strategi bisnis, marketing merupakan tindakan penyesuaian suatu organisasi yang berorientasi pasar dalam menghadapi kenyataan bisnis, baik dalam lingkungan mikro maupun lingkungan makro yang terus berubah.

Pemasaran merupakan salah satu kegiatan penting yang perlu dilakukan perusahaan untuk meningkatkan usaha dan menjaga kelangsungan hidup perusahaan tersebut. Di samping kegiatan pemasaran perusahaan juga perlu mengkombinasikan fungsi-fungsi dan menggunakan keahlian mereka agar perusahaan berjalan dengan baik.

Berikut ini definisi pemasaran dikemukakan oleh Sunyoto (2015 : 18) bahwa Pemasaran adalah merupakan ujung tombak perusahaan. Dalam dunia persaingan yang semakin ketat, perusahaan dituntut agar tetap agar tetap bertahan hidup dan berkembang.

Oleh karena itu pemasaran dituntut untuk memahami permasalahan pokok di bidangnya dan menyusun strategi agar dapat mencapai tujuan perusahaan.

Dari pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pemasaran adalah fungsi bisnis yang mengidentifikasi kebutuhan dan keinginan konsumen yang harus dipuaskan oleh kegiatan manusia lain, yang menghasilkan alat pemuas kebutuhan, yang berupa barang atau jasa. Dalam menetapkan pasar sasaran, yang mana dapat dilayani oleh perusahaan secara baik guna merancang produk, pelayanan dan program yang terkait untuk melayani pasar dan mengajak setiap orang dalam organisasi berpikir tentang

(24)

pelayanan. Karena itu konsumen tidak perlu menghasilkan sendiri barang atau jasa yang telah disediakan oleh perusahaan.

Sudaryono (2016:41), pemasaran adalah proses bisnis yang berusaha menyelaraskan antara sumber daya manusia, finansial dan fisik organisasi dengan kebutuhan dan keinginan para pelanggan dalam konteks strategi kompetitif.

Jadi dapat disimpulkan, pemasaran adalah suatu kegiatan perekonomian yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen dengan produk yang telah ditawarkan oleh perusahaan.

Rangkuti (2015: 101) mendefinisikan bahwa pemasaran adalah proses kegiatan yang dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial, budaya, politik, ekonomi, dan manajerial.

Akibat dari pengaruh berbagai faktor tersebut adalah masing-masing individu maupun kelompok mendapatkan kebutuhan dan keinginan dengan menciptakan, menawarkan, dan menukarkan produk yang memiliki nilai komoditas.

Dari definisi yang telah dikemukakan di atas pemasaran merupakan penghubung antara organisasi dengan perusahaan. Peran penghubung ini akan berhasil bila semua upaya pemasaran diorientasikan kepada konsumen. Keterlibatan semua pihak dari manajemen puncak hingga karyawan non manajerial dalam merumuskan maupun mendukung pelaksanaan pemasaran dalam melakukan aspek.

Adisaputro (2018 : 4) mengatakan bahwa pemasaran adalah fungsi organisasional dan seperangkat proses untuk menciptakan, mengkomunikasikan, dan menyerahkan nilai kepada pelanggan dan untuk mengelola hubungan dengan pelanggan dengan cara-cara yang menguntungkan bagi organisasi dan semua pemangku kepentingan (stakeholder).

Berdasarkan definisi yang telah dikemukakan di atas bahwa pemasaran adalah proses sosial dimana individu-individu dan kelompok-kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan (needs) dan inginkan (wants) melalui penciptaan, penawaran, dan pertukaran secara bebas dari barang dan jasa yang bernilai dengan pihak lain.

2.1.2 Pengertian E-Commerce

Perkembangan teknologi khususnya internet mempengaruhi berbagai bidang kehidupan, tidak terkecuali perdagangan. Perdagangan mengalami perubahan dalam hal proses jual beli dan pemasaran produk. Proses perdagangan ini lebih dikenal dengan

(25)

istilah electronic Commerce atau disingkat e-Commerce. E-commerce merupakan transaksi jual beli produk, jasa dan informasi antar mitra bisnis melalui jaringan komputer yaitu internet. Internet merupakan “a global network of computer network”

atau jaringan komputer yang sangat besar yang terbentuk dari jaringan-jaringan kecil yang ada di seluruh dunia yang saling berhubungan satu sama lain. Salah satu fungsi internet adalah sebagai infrastuktur utama e-commerce.

Menurut Laudon (2017:48) e-commerce merupakan penggunaan internet dan web

untuk melakukan transaksi bisnis. Lebih lanjut Laudon (2017:63) mengkategorikan e-commerce menjadi tiga kelompok besar yaitu business to consumer (B2C), business to

business (B2B), dan consumer to consumer (C2C). Dalam hal ini business to consumer adalah melibatkan penjualan produk dan layanan secara eceran kepada pembeli perorangan. Jenis e-commerce yang kedua yaitu business to business yang ditandai dengan melibatkan penjualan produk dan layanan antar perusahaan. Jenis yang ketiga yaitu consumer to consumer yang melibatkan konsumen menjual secara langsung ke konsumen. Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa e-commerce memberi banyak kemudahan dalam transaksi jual beli sehingga dapat menimbulkan keputusan pembelian dari konsumen.

E-commerce memberikan banyak perubahan dalam hal proses perdagangan. Jika proses jual beli konvensional mengharuskan pembeli dan penjual bertemu secara langsung maka dengan e-commerce hal tersebut tidak diperlukan lagi. Pembeli bisa melakukan transaksi dikota yang berbeda tanpa harus bertemu dan komunikasi bisa dilakukan dengan menggunakan internet.

Menurut Shely Cashman (2017:83), E-commerce atau kependekan dari elektronik commerce (perdagangan secara elektronik), merupakan transaksi bisnis yang terjadi dalam jaringan elektronik, seperti internet. Siapapun yang dapat mengakses komputer, memiliki sambungan ke internet, dan memiliki cara untuk membayar barang-barang atau jasa yang mereka beli, dapat berpartisipasi dalam e-commerce.

Menurut Barkatullah dan Prasetyo (2016:2), e-commerce merupakan layanan digital yang menghubungkan individu atau organisasi baik jarak dekat maupun jauh untuk melakukan transaksi bisnis. Kehadiran e-commerce membawa perubahan yang cukup signifikan terhadap sektor bisnis. Perubahan tersebut dapat dilihat pada sektor

(26)

aktivitas bisnis yang semula berbasis dunia nyata, kemudian berkembang menjadi ke dunia maya. Perkembangan tersebut tentunya tidak terlepas dari dampak positif yang dirasakan oleh para pengguna e-commerce. Adanya e-commerce memberikan dampak berupa kecepatan dan kemudahan melalui teknologi yang telah disediakan untuk melakukan interaksi secara global tanpa kendala tempat maupun waktu.

Kotler & Armstrong (2015 : 253) menyatakan bahwa E-commerce adalah saluran online yang dapat dijangkau seseorang melalui komputer, yang digunakan oleh pebisnis dalam melakukan aktifitas bisnisnya dan digunakan konsumen untuk mendapatkan informasi dengan menggunakan bantuan komputer yang dalam prosesnya diawali dengan memberi jasa informasi pada konsumen dalam penentuan pilihan.

Menurut Fahmi (2016:264), e-commerce diartikan sebagai penggunaan teknologi informasi dan komunikasi oleh pelaku bisnis, individu, atau pihak-pihak terkait untuk menjalankan dan mengelola proses bisnis utama sehingga dapat memberikan keuntungan dapat berupa keamanan, fleksibilitas, integrasi, optimasi, efisiensi, peningkatan produktivitas dan profit.

Berdasarkan penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa e-commerce adalah proses transaksi jual beli yang dilakukan melalui internet dimana website digunakan sebagai wadah untuk melakukan proses tersebut.

2.1.3 Situs Shopee

Shopee merupakan jual beli online berbasis aplikasi mobile, yang sedang berkembang di negara Indonesia. Secara resmi shopee mulai masuk ke negara Indonesia pada tahun 2015. Shopee menfasilitasi fitur-fitur dimana pengguna dapat menjual dan membeli berbagai produk, serta adanya penawaran yang menarik dengan harga yang relatif murah dan gratis ongkos kirim ke wilayah Indonesia (Sastika, 2018).

Shopee sendiri merupakan perpanjangan tangan dari Garena untuk merambah ke segmen e-commerce. Garena adalah penyedia platform internet konsumen yang berbasis di Asia yang didirikan di Singapura pada tahun 2009. Shopee tidak hanya hadi di pasar Indonesia saja, tetapi telah hadir di pasar Malaysia, Thailand, Singapura, Filipina, Taiwan, dan juga Vietnam. Merujuk pada halaman Facebook mereka, Shopee masuk ke

(27)

pasar Indonesia pada bulan Mei 2015 dan mulai beroperasi pada akhir Juni 2015 (Priambada, 2015).

Keputusan membuka cabang di Indonesia sendiri tak terlepas dari potensi yang dipunyai negara ini. CEO Shopee Chris Feng mengatakan Indonesia memiliki jumlah penduduk yang besar dengan angka lebih dari 250 juta. Selain itu, penetrasi internet di Tanah Air makin tinggi dengan lebih dari 100 juta pengguna internet. Meski dibuka di tujuh negara sekaligus, Shopee diberikan sentuhan lokal, termasuk di Indonesia.

Menurut Chris, setiap negara memiliki karakteristik sendiri. Untuk itu, ia lebih banyak merekrut tenaga profesional lokal agar mengerti cita rasa penduduk setempat. Shopee memfokuskan sendiri sebagai marketplace berbasis mobile. Kata Chris, platform mobile dirasa lebih mudah dan banyak digunakan (Rahman, 2015).

Beberapa keunggulan Shopee menurut Chris Feng, CEO Shopee dalam acara peluncuran Shopee di Jakarta adalah:

a. Menjual barang dengan cukup cepat, dapat dilakukan hanya dalam waktu 30 detik.

b. Memiliki tampilan yang sederhana dan dapat dengan mudah digunakan walaupun oleh pengguna baru.

c. Menawarkan fitur chatting dengan penjual sehingga dengan mudah bisa langsung bertransaksi atau tawar menawar. Fitur ini sangat memudahkan pengguna aplikasi Shopee mengingat di aplikasi atau situs e-commerce lainnya pembeli harus menyimpan nomor telepon terlebih dahulu untuk berhubungan langsung. Fitur chatting pada aplikasi Shopee juga berbeda karena selain bisa mengirim pesan tetapi juga bisa mengirim tautan seperti foto.

d. Memiliki fitur tawar yang memungkinkan pembeli untuk menawar harga yang sudah ditetapkan oleh penjual.

e. Memiliki fitur berbagi yang lengkap sehingga dengan mudah menyebarkan info ke berbagai media social atau messenger, seperti Facebook, Instagram, Twitter, Line, Pinterest, Whatsapp, Buzz, hingga Beetalk.

f. Shopee mengintegrasikan fitur media sosial mencakup fungsi hashtag, yang memungkinkan pengguna mencari barang atau produk yang sedang populer atau untuk mengikuti tren produk terbaru dengan mudah. (Reza, 2015).

(28)

2.1.4 Pengertian Persepsi Risiko

Persepsi risiko yang dirasakan adalah ketidakpastian yang dihadapi pelanggan ketika mereka tidak dapat melihat atau mengetahui konsekuensi dari keputusan pembelian mereka. Definisi ini menyoroti dua dimensi yang relevan dari risiko yang dirasakan: ketidakpastian dan konsekuensi. Tingkat risiko yang diterima oleh konsumen sendiri untuk mengambil risiko adalah faktor-faktor yang memengaruhi strategi pembelian mereka. Harus ditekankan bahwa konsumen dipengaruhi oleh risiko yang mereka pahami, apakah risiko tersebut benar-benar ada atau tidak. Risiko tidak dirasakan-tidak peduli seberapa nyata tidak akan mempengaruhi perilaku konsumen.

Persepsi risiko juga merupakan fungsi dari bagaimana informasi disajikan (Schiffman &

Joseph:2015:143).

Menurut Sciffman dan Joseph (2015:143) persepsi risiko adalah ketidakpastian yang harus dihadapi pelanggan karena mereka tidak dapat melihat konsekuensi yang ada dari keputusan pembelian yang mereka lakukan. Persepsi Risiko merupakan fungsi dari informasi yang disajikan.

Pembelian dari produk melibatkan dan mempertimbangkan risiko yang mungkin tidak seperti apa yang diinginkan. Persepsi risiko berbeda diantara konsumen sebagian bergantung berdasarkan pengalaman dan gaya hidup. Dalam alas an ini maka Perceived Risk adalah risiko yang dirasakan karakteristik konsumen dianggap juga sebagai karakteristik produk (Hawkins&Mothersbough:2014:589).

Menurut Arun dan Xavier (2012:20), pembelian online masih dianggap berisiko dibandingkan dengan pembelian eceran. Semakin berisikonya pembelian online maka konsumen akan tidak berminat, tetapi apabila risiko rendah maka konsumen akan lebih berminat membeli secara online.

Persepsi konsumen mengenai beberapa risiko, tergantung pada orang, produk bahkan situasi dan budaya. Besarnya risiko yang dirasakan tergantung pada konsumen.

Beberapa konsumen cenderung merasakan risiko yang tinggi dan konsumen lainnya merasakan risiko yang kecil. Tingkat risiko yang dirasakan oleh seorang konsumen juga dipengaruhi oleh situasi berbelanja misalnya pada direct mail, ritel tradisional internet dan katalog.terkadang konsumen cenderung lebih memilih direct mail karena lebih memiliki risiko yang cenderung rendah. Orang yang memiliki risiko tinggi tidak akan

(29)

membeli barang–barang dari internet walaupun terjadi perluasan toko-toko ritel di situs internet. Indikator risiko menurut Liau Xio dalam (Yusnidar et al., 2014) adalah sebagai berikut:

1. Financial Risk, yaitu kerugian yang berhubungan secara finansial yang mungkin dialami sebagai konsekuensi dari pembelian suatu produk.

2. Social Risk, yaitu risiko sosial berhubungan dengan kekhawatiran konsumen akan seperti apa pendapat orang atas pembelian suatu produk yang telah dilakukan.

3. Performance Risk. Yaitu risiko kinerja yang berhubungan dengan kekhawatiran konsumen tentang apakah suatu produk tersebut akan berfungsi sesuai dengan yang diharapkan.

4. Time and Convenience Risk, yaitu risiko yang berhubungan dengan ketakutan atas kerugian dari kehilangan atau tersia-sianya waktu akibat pembelian suatu produk.

5. Physical Risk. Yaitu risiko yang berhubungan dengan kekhawatiran mengenai keamanan produk dan potensi membahayakan diri atau orang lain akibat dari pemakaian suatu produk.

6. Psychological Risk, yaitu risiko yang berhubungan dengan kekhawatiran kemungkina hilangnya citra diri (self Image) akibat pembelian atau pemakaian suatu produk akibat tidak sesuainya produk dengan kepribadian konsumen atau dengan bagaimana konsumen mempeersepsikan dirinya.

Berdasarkan indikator yang telah dikemukakan di atas maka persepsi risiko merupakan ketidakpastian yang dihadapi konsumen ketika mereka tidak mampu melihat kemungkinan yang akan terjadi dari keputusan pembelian yang dilakukan.

2.1.5 Pengertian Kepercayaan

Kepercayaan menjadi aspek penting bagi sebuah komitmen atau janji dan komitmen hanya dapat direalisasikan jika suatu saat berarti. Keyakinan atau kepercayaan adalah faktor penting yang dapat direalisasikan jika suatu saat berarti. Keyakinan atau kepercayaan adalah faktor penting yang dapat mengatasi kritis dan kesulitan antara

(30)

rekan bisnis selain itu juga merupakan asset penting dalam mengembangkan hubungan jangka panjang antar organisasi.

Kepercayaan konsumen memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap keberlangsungan sebuah perusahaan, karena jika produk sebuah perusahaan sudah tidak dipercayai lagi oleh konsumen maka produk tersebut akan sulit untuk berkembang di pasar. Namun sebaliknya jika produk perusahaan tersebut dipercayai oleh konsumen, maka produk perusahaan tersebut akan dapat terus berkembang di pasar. Kepercayaan ini yang harus selalu didapatkan oleh perusahaan, semakin konsumen percaya, perusahaan akan terus menjalani hubungan yang baik dengan konsumennya (Mamang, 2013: 197). Kepercayaan konsumen menurut Mowen dan Minor (2013:201) adalah sebagai berikut: “Kepercayaan konsumen sebagai semua pengetahuan yang dimilki oleh konsumen dan semua kesimpulan yang dibuat oleh konsumen tentang objek, atribut, dan manfaatnya.

Menurut Kotler & Keller (2018:225) kepercayaan konsumen adalah sebagai berikut: “Trust is the willingness of a firm to rely on a business partner. It depends on a number of interpersonal and interorganizational factors, such as the firm’s perceived competence, integrity, honesty and benevolence”. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kepercayaan konsumen adalah kesediaan satu pihak menerima risiko dari pihak lain berdasarkan keyakinan dan harapan bahwa pihak lain akan melakukan tindakan sesuai yang diharapkan, meskipun kedua belah pihak belum mengenal satu sama lain.

Juni (2017 :116) Kepercayaan adalah semua pengetahuan yang dimiliki oleh konsumen dan semua kesimpulan yang dibuat oleh konsumen tentang objek, atribut dan manfaatnya. Dari definisi para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa kepercayaan merupakan sebuah harapan yang dipegang oleh sebuah individu atau sebuah kelompok ketika perkataan, janji, pernyataan lisan atau tulisan dari seseorang individu atau kelompok lainnya dapat diwujudkan.

Juni (2017 : 119) menyatakan terdapat tiga jenis kepercayaan konsumen, sebagai berikut:

1. Kepercayaan Atribut Objek

(31)

Pengetahuan tentang sebuah objek memiliki atribut khusus yang disebut kepercayaan objek. Kepercayaan atribut objek menghubngkan sebuah atribut dengan objek, seperti seseorang, barang atau jasa.

2. Kepercayaan Manfaat Produk

Seseorang mencari produk dan jasa yang akan menyelesaikan masalah-masalah dalam memenuhi kebutuhannya dengan kata lain memiliki atribut yang akan memberikan manfaat yang dapat dikenal.

3. Kepercayaan Manfaat Objek

Jenis kepercayaan ketiga dibentuk dengan menghubungkan objek dan manfaatnya. Kepercayaan manfaat objek merupakan persepsi konsumen tentang seberapa jauh produk, orang atau jasa tertentu yang akan memberikn manfaat tertentu.

Ada beberapa indikator untuk dapat mengetahui kepercayaan konsumen salah satunya menurut Kotler dan Keller (2018:225) ada empat indikator kepercayaan konsumen, yaitu sebagai berikut:

1. Benevolence (kesungguhan/ketulusan), yaitu seberapa besar seseorang percaya kepada penjual untuk berperilaku baik kepada konsumen.

2. Ability (Kemampuan), adalah sebuah penilaian terkini atas apa yang dapat dilakukan seseorang. Dalam hal ini bagaimana penjual mampu meyakinkan pembeli dan memberikan jaminan kepuasan dan keamanan ketika bertransaksi.

3. Integrity (integritas), adalah seberapa besar keyakinan seseorang terhadap kejujuran penjual untuk menjaga dan memenuhi kesepakatan yang telah dibuat kepada konsumen.

4. Willingness to depend, adalah kesedian konsumen untuk bergantung kepada penjual berupa penerimaan risiko atau konsekuensi negatif yang mungkin terjadi.

2.1.6 Pengertian Niat Beli Kosnsumen

Niat membeli seringkali digunakan untuk menganalisa perilaku konsumen.

Sebelum melakukan pembelian, konsumen biasanya akan mengumpulkan informasi

(32)

tentang produk yang didasarkan pada pengalaman pribadi maupun informasi yang berasal dari lingkungannya. Setelah informasi dikumpulkan maka konsumen akan mulai melakukan penilaian terhadap produk, melakukan evaluasi serta membuat keputusan pembelian setelah membandingkan produk serta mempertimbangkannya.

Niat beli diperoleh dari suatu proses belajar dan proses pemikiran yang membentuk suatu persepsi. Niat yang muncul dalam melakukan pembelian menciptakan suatu motivasi yang terus terekam dalam benaknya dan menjadi suatu kegiatan yang sangat kuat yang pada akhirnya ketika seorang konsumen harus memenuhi kebutuhannya akan mengaktualisasikan apa yang ada di dalam benaknya itu. Agar pengertian ini dapat dengan mudah dimengerti, terlebih dahuluakan dibahas pengertian niat beli.

Niat membeli berkaitan erat dengan keputusan pembelian konsumen, niat digunakan untuk memprediksi kecenderungan seseorang akan melakukan atau tidak melakukan perilaku membeli. Menurut Sumarwan (2014:195), niat merupakan kecenderungan atau keinginan yang kuat pada individu untuk melakukan perilaku tertentu. Niat merupakan indikasi dari seberapa kuat keinginan individu untuk mewujudkan suatu perilaku, dengan kata lain semakin kuat keinginan individu tersebut semakin besar kemungkinan suatu perilaku diwujudkan.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa niat beli adalah proses awal yang dilakukan oleh konsumen terhadap suatu produk atau jasa sebelum melakukan keputusan pembelian, apabila konsumen telah menerima rangsangan dari produk yang dilihatnya sehingga timbul keinginan untuk memiliki dan tertarik untuk membeli produk atau jasa maka konsumen akan pengambilan keputusan pembelian untuk memperoleh produk atau jasa tersebut.

Sedangkan pengertian lain menurut Kotler dan Keller (2018:181) niat beli adalah seberapa besar kemungkinan konsumen membeli suatu merek dan jasa atau seberapa besar

kemungkinan konsumen untuk berpindah dari satu merek ke merek lainnya. Bila manfaat

yang lebih besar dibandingkan pengorbanan untuk mendapatkannya maka dorongan untuk

(33)

membeli semakin tinggi. Terdapat empat model hierarki respon konsumen yaitu: model AIDA, model hierarki pengaruh, model inovasi adopsi, dan model komunikasi. Dari semua model tersebut mengasumsikan bahwa pembelian melewati tahap kognitif, afektif, dan tahap perilaku.

Menurut Julianti (2014:88) niat beli sebagai kekuatan pendorong atau sebagai motif yang bersifat instristik yang mampu mendorong seseorang untuk menaruh perhatian secara spontan, wajar, mudah, tanpa paksaan dan selektif pada satu produk untuk kemudian mengambil keputusan membeli. Bila manfaat mengkonsumsi produk yang dirasakan lebih besar dibandingkan pengorbanan untuk mendapatkannya, maka dorongan untuk membelinya semakin tinggi.

Lebih lanjut menurut Helmi (2015:15), Niat beli konsumen adalah kecendrungan responden untuk bertindak sebelum keputusan membeli suatu barang.

Kesediaan untuk membayar barang atau jasa konsumen yang memiliki minat terhadap suatu produk atau jasa dapat dilihat dari bentuk pengorbanan yang dilakukan terhadap barang atau jasa, konsumen yang cenderung memiliki minat lebih terhadap barang atau jasa, konsumen yang cenderung memiliki minat lebih terhadap suatu barang atau jasa akan bersedia untuk membayar barang atau jasa tersebut dengan tujuan konsumen yang berminat dapat menggunakan barang atau jasa tersebut.

Niat beli merupakan bagian dari komponen perilaku dalam sikap mengkonsumsi.

Suatu produk dapat dikatakan telah dikonsumsi oleh konsumen apabila produk tersebut telah diputuskan untuk dibeli. Keputusan untuk membeli dipengaruhi oleh nilai produk yang dievaluasi. Bila manfaat yang dirasakan lebih besar dibandingkan pengorbanan untuk mendapatkannya, maka dorongan untuk membelinya semakin tinggi. Sebaliknya, bila manfaatnya lebih kecil dibandingkan pengorbanannya maka biasanya pembeli akan menolak untuk membeli dan pada umumnya beralih mengevaluasi produk lain yang sejenis. Pada kebanyakan orang, perilaku pembelian konsumen seringkali diawali dan dipengaruhi oleh banyaknya rangsangan dari luar dirinya, baik berupa rangsangan pemasaran maupun rangsangan dari lingkungannya.

Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan minat beli merupakan keinginan untuk membeli yang timbul setelah konsumen merasa tertarik dan ingin memakai produk yang dilihatnya. Dan merupakan pernyataan mental dari konsumen yang

(34)

merefleksikan rencana pembelian sejumlah produk dengan merek tertentu. Hal tersebut sangat diperlukan oleh pemasar untuk mengetahui minat beli konsumen terhadap suatu produk, baik para pemasar maupun ahli ekonomi menggunakan variabel minat beli untuk memprediksi perilaku konsumen di masa yang akan dating.

Menurut Kotler (2018 : 568) yang dialih bahasakan oleh Molan) bahwa indikator niat beli adalah melalui model stimuli AIDA, yaitu:

1. Perhatian (Attention).

Minat beli seseorang diawali dengan tahap perhatian terhadap suatu produk setelah mendengar atau melihat produk yang dipromosikan oleh perusahaan. Jika produk dapat menarik perhatian lebih bagi konsumen maka kemungkinan besar konsumen membeli cukup tinggi.

2. Minat (Interest)

Setelah mendapatkan informasi mengenai produk yang dipromosikan oleh perusahaan, maka timbut minat konsumen terhadap produk tersebut. Jika konsumen terkesan dengan stimuli yang diberikan oleh perusahaan maka pada tahap ini akan timbul rasa ketertarikan terhadap produk yang ditawarkan.

3. Keinginan (desire)

Setelah konsumen mendalami tentang kelebihan produk, maka pada tahap ini konsumen akan memiliki keinginan dan hasrat untuk membeli produk tersebut.

4. Tindakan (Action)

Pada tahap ini, konsumen sudah melewati beberapa tahap yaitu mulai dari melihat dan mendengar suatu produk yang dipromosikan, sehingga timbul perhatian, ketertatikan dan minat terhadap produk. Jika adanya keinginan dan hasrat yang kuat, maka akan mengambil keputusan untuk membeli produk tersebut.

Niat beli diperoleh dari suatu proses belajar dan proses pemikiran yang membentuk suatu persepsi. Minat beli yang muncul menciptakan suatu motivasi yang terus terekam dalam benaknya, yang pada akhirnya ketika seseorang konsumen harus memenuhi kebutuhannya akan mengaktualisasikan apa yang terdapat dalam benak konsumen.

(35)

2.1.7 Pengertian Sikap Konsumen

Setiap orang mempunyai kecenderungan untuk bersikap dengan cara yang menyenangkan atau tidak menyenangkan terhadap suatu objek tertentu. Sikap merupakan salah satu konsep yang paling penting yang digunakan perusahaan untuk memahami konsumen. Perusahaan sangat berkepentingan pada sikap konsumen terhadap produknya, karena sikap yang positif akan menghasilkan pembelian, bukan saja dari

konsumen yang

bersangkutan tetapi rekomendasi kepada teman-teman maupun keluarganya juga akan membuahkan pembelian yang menguntungkan perusahaan. Sebaliknya, sikap negatif terhadap produk akan menghasilkan penolakan, dan sikap yang demikian ini akan diteruskan untuk mempengaruhi orang lain.

Sangadji dan Sopiah, (2013 : 176), sikap (attitude) adalah inti dari perasaan suka atau tidak suka seseorang terhadap suatu objek tertentu. Sikap konsumen adalah tanggapan perasaan konsumen yang bisa berupa perasaan suka atau tidak suka terhadap suatu objek tertentu, misalnya bagaimana sikap konsumen terhadap kinerja produk, bagaimana sikap konsumen terhadap merek perusahaan, bagaimana sikap konsumen terhadap harga produk, bagaimana sikap konsumen terhadap iklan produk yang ditayangkan dan sebagainya.

Peter dan Jerry C.Olson (2013 : 130) sikap merupakan evaluasi secara menyeluruh yang dilakukan seseorang atas suatu konsep. Dari definisi tersebut, dapat diuraikan bahwa sikap merupakan organisasi keyakinan yang relatif tetap, memiliki kecenderungan untuk dipelajari, untuk merespons secara konsisten dan konsekuen menguntungkan atau tidak, positif atau negatif, suka atau tidak terhadap obyek atau situasi. Seorang individu mempelajari sikap melalui pengalaman dan interaksi dengan orang lain. Meskipun sikap ini dapat dipelajari dan dapat diubah dari waktu ke waktu, pada setiap saat tidak semuanya memiliki dampak yang setara, dan beberapa sikap lebih kuat dari sikap lainnya. Ketika konsumen mempunyai sikap yang negatif terhadap suatu aspek atau lebih pada praktik pemasaran perusahaan, maka kemungkinan mereka tidak

berhenti menggunakan

produk tersebut, tetapi juga mendorong kerabat atau teman-teman untuk melakukan hal yang sama.

(36)

Dengan demikian berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa sikap konsumen adalah tindakan-tindakan nyata individu (konsumen) yang dipengaruhi faktor-faktor kejiwaan (psikologis) dan faktor-faktor luar lainnya (eksternal) dalam mendapatkan dan mempergunakan barang-barang dan jasa-jasa termasuk proses keputusan yang mendahului dan menyusul tindakan ini.

Menurut Kotler dan Keller (2018 : 166) sikap konsumen adalah studi tentang bagaimana individu, kelompok, dan organisasi memilih, membeli, menggunakan dan bagaimana barang dan jasa, ide, atau pengalaman untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan mereka. Berdasarkan beberapa definisi yang telah disebutkan di atas dapat disimpulkan bahwa perilaku konsumen adalah semua kegiatan, tindakan, serta proses psikologis yang mendorong tindakan tersebut pada saat sebelum membeli, ketika membeli, menggunakan, menghabiskan produk dan jasa setelah melakukan hal-hal di atas atau kegiatan mengevaluasi.

Menurut Kotler dan Armstrong (2015 : 176) sikap (attitude) menggambarkan evaluasi, perasaan, dan tendensi yang relatif konsisten dari seseorang terhadap sebuah objek atau ide. Sikap menempatkan orang ke dalam suatu kerangka pikiran untuk menyukai atau tidak menyukai sesuatu, untuk bergerak menuju atau meninggalkan sesuatu.

Sikap menempatkan seseorang kedalam satu pikiran menyukai atau tidak menyukasi sesuatu, bergerak mendekati atau menjauhi sesuatu (Kothler dan Amstrong, 2015: 246). Indikator sikap konsumen menurut (Kotler dan Amstrong, 2015 : 246) adalah:

1. Cognitive component: kepercayaan konsumen dan pengetahuan tentang objek. Yang dimaksud obyek adalah atribut produk.

2. Affective component: emosional yang merefleksikan perasaan seseorang terhadap suatu obyek, apakah obyek tersebut diinginkan atau disukai.

3. Behavioral component: merefleksikan kecenderungan dan perilaku actual terhadap suatu obyek, yang mana komponen ini menunjukkan kecenderungan melakukan tindakan.

Berdasarkan paparan diatas dapat disimpulkan bahwa sikap konsumen adalah respon konsumen terhadap suatu merek yang secara konsisten dapat mempengaruhi

(37)

perilaku pembelian. Adapun indikator dalam penelitian ini merujuk pada pendapat (Kotler dan Amstrong, 2015 : 246) yang meliputi Cognitive component: kepercayaan konsumen dan pengetahuan tentang objek, Affective component: emosional yang merefleksikan perasaan seseorang terhadap suatu obyek, Behavioral component: merefleksikan kecenderungan dan perilaku actual terhadap suatu obyek.

(38)

A. Skripsi Terdahulu

Penelitian membutuhkan penelitian terdahulu sebagai dasar pijakan dalam rangka penyusunan skripsi. Adapun penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian ini dapat dilihat melalui kolom tabel dibawah ini :

Tabel 2.1. Skripsi Terdahulu

NO NAMA PENELITI JUDUL PENELITI METODE VARIABEL KESIMPULAN PERBEDAAN

1 Faris Athif

Harjadinata (2014)

Pengaruh Persepsi

Risiko dan

Kepercayaan

terhadap Niat Pembelian Online (Studi pada Pengguna Situs OLX.co.id)

penelitian

deskriptif dengan menggunakan metode kuantitatif.

Persepsi Risiko, Kepercayaan, Niat Pembelian Online

Hasil yang diperoleh

menyatakan bahwa sebagian besar responden memiliki

tanggapan yang positif pada beberapa

pernyataan yang diajukan terkait persepsi risiko dan kepercayaan.

Dari masing- masing hasil analisisnya, persepsi risiko memiliki

pengaruh sebesar

38,5% dan

kepercayaan memiliki

Perbedaan:

objek penelitian dan variabel yang digunakan

(39)

pengaruh sebesar 17,3% terhadap niat pembelian online. Namun, dalam proses belanja online, unsur ketidakpas- tian tidak dapat terlepas begitu saja. Hal tersebut yang menjadi faktor kendala dalam

pembentukan niat pembelian online.

Dengan demikian, salah satu hal yang perlu dilakukan adalah dengan

meningkatkan kepercayaan dan mereduksi

kemungkinan adanya risiko yang dapat muncul dalam kegiatan belanja online.

2 Isna Lestari (2018) Pengaruh analisis regresi Kepercayaan, Hasil uji hipotesis Perbedaan:

(40)

Kepercayaan dan Persepsi Risiko Terhadap Minat Beli Konsumen pada Situs Online Shopee Ditinjau Menurut Ekonomi Islam (Studi Kasus di Desa Parit Kebumen

Kecamatan Rupat)

linier berganda persepsi risiko, minat beli

penelitian lewat uji t menunjukkan hasil variabel kepercayaan berpengaruh positif dan signifikan

terhadap variabel minat beli dan persepsi resiko tidak berpengaruh positif dan signifikan

terhadap variabel minat beli.

Kemudian melalui uji F dapat diketahui variabel kepercayaan dan persepsi resiko berpengaruh signifikan secara simultan terhadap minat beli konsumen. Angka R2 menunjukkan bahwa kontribusi variabel indepen- den terhadap variabel dependen

variabel yang digunakan

(41)

sebesar 61% dan sisanya 39%

dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti.

3 Yusuf Fitra Mulyana (2016)

Pengaruh

kepercayaan, persepsi risiko, dan keamanan terhadap minat beli konsumen pada toko online

( studi pada toko online olx.co.id )

Metode kuantitatif Kepercayaan, persepsi risiko, keamanan, minat beli

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) terdapat pengaruh positif kepercaya- an terhadap minat beli konsumen pada toko online.

(2) terdapat pengaruh positif persepsi risiko terhadap minat beli konsumen pada toko online (3) Terdapat pengaruh positif keamanan

terhadap minat beli konsumen pada toko online (4) Kepercayaan, persepsi risiko dan keamanan berpengaruh positif terhadap

Perbedaan:

objek penelitian dan variabel yang digunakan

(42)

minat beli konsumen pada toko online.

4 Jatuh Indah

Parmawati (2021)

Pengaruh

Kepercayaan, Dan Persepsi Risiko Terhadap Minat Beli Secara Online ( Studi

Kasus Pada

Perusahaan Toko Tas Felice Id di Aplikasi Lazada)

Metode kuantitatif Kepercayaan, persepsi risiko, minat beli

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Kepercayaan berpengaruh terhadap minat beli secara online di toko tas Felice Id. (2) Persepsi risiko berpe- ngaruh terhadap minat beli secara online di toko tas Felice Id. (3) Kepercayaan, dan persepsi risiko secara simultan berpengaruh signifikan

terhadap minat beli secara online di toko tas Felice Id.

Perbedaan:

objek penelitian dan variabel yang digunakan

5 Johan Nur Hidayat (2019)

Pengaruh Orientasi Belanja, Kepercayaan

Online, Dan

Persepsi Risiko

Metode kuantitatif Orientasi belanja, kepercayaan, persepsi risiko,

Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel Orientasi belanja,

Perbedaan:

objek penelitian dan variabel yang digunakan

(43)

Terhadap Minat Beli Secara Online Pada Tokopedia,

minat beli Kepercayaan berpengaruh positif dan signifikan

terhadap Minat Beli Secara Online dan variabel Persepsi Risiko

berpengaruh negatif terhadap Minat Beli Secara Online Pada Tokopedia.

Sumber : Hasil penelitian terdahulu

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan uraian tersebut, maka rumusan masalah yang diteliti mengenai e-commerce knowledge, persepsi risiko, persepsi teknologi terhadap kepercayaan dan niat beli

harga, kualitas, dan persepsi produk halal terhadap niat beli konsumen.

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa etnosentrisme konsumen berpengaruh signifikan secara langsung maupun tidak langsung pada niat beli produk domestik melalui

Terdapat perbedaan gender yang positif tetapi tidak signifikan antara niat beli konsumen perempuan dengan niat beli konsumen laki-laki terhadap produk kosmetik

Berdasarkan hasil penelitian pengaruh gaya hidup experiencers, gaya hidup traditionalist dan sikap etnosentrisme terhadap niat beli konsumen produk Bali Alus di Kota

Kepercayaan merupakan hal penting untuk membentuk persepsi seseorang yang akan memunculkan niat beli,(2) perusahaan dapat meningkatkan niat beli konsumen dengan

Terdapat perbedaan gender yang positif tetapi tidak signifikan antara niat beli konsumen perempuan dengan niat beli konsumen laki-laki terhadap produk kosmetik

Hasil pembahasan penelitian disimpulkan bahwa Pengaruh Persepsi Kemudahan Penggunaan, Persepsi Risiko Terhadap Kepercayaan dan Niat Beli E-ticket Pada Situs Traveloka