• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK DALAM MENINGKATKAN INTERAKSI SOSIAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK DALAM MENINGKATKAN INTERAKSI SOSIAL"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK DALAM MENINGKATKAN INTERAKSI SOSIAL

Naeli Zubaidah1, Mulyani2, Suriswo3

1Bimbingan dan Konseling, Universitas Pancasakti Tegal, Indonesia email: [email protected]

2Bimbingan dan Konseling, Universitas Pancasakti Tegal, Indonesia Email: [email protected]

3Bimbingan dan Konseling, Universitas Pancasakti Tegal, Indonesia email: [email protected]

Abstrak

Penelitian ini meneliti tentang layanan bimbingan kelompok dalam meningkatkan interaksi sosial pada peserta didik kelas XI TKJ SMK Larenda Kabupaten Brebes Tahun Pelajaran 2018/2019. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Peserta didik kelas XI SMK Larenda Kabupaten Brebes Tahun 2018/2019 berjumlah 44 peserta didik. Sampel dalam penelitian ini adalah peserta didik yang interaksi sosialnya masih rendah dan 28 peserta didik. Metode pengumpulan data menggunakan angket, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif persentase dan analisis t-test. Berdasarkan analisis statistik deskriptif dapat dilaporkan bahwa interaksi sosial sebelum layanan bimbingan kelompok peserta didik kelas XI TKJ SMK Larenda Kabupaten Brebes tahun pelajaran 2018/2019 dalam kategori rendah sebesar 43%. Perolehan hasil análisis statistik deskriptif bahwa interaksi sosial setelah layanan bimbingan kelompok peserta didik kelas XI TKJ SMK Larenda Kabupaten Brebes tahun pelajaran 2018/2019 meningkat dalam kategori tinggi sebesar 57%. Hasil analisis statistik dari nilai uji t-test diperoleh nilai thitung

sebesar 7,653. Nilai thitung tersebut kemudian dikonsultasikan dengan ttable pada taraf signifikan 5 % atau ( 5 %) dengan derajat kebebasan N-1 atau 28 – 1 = 27 dimana diperoleh ttable = 2,052 ternyata thitung = 7,653 > ttabel = 2,052 yang berarti hipotesis alternatif berbunyi “Layanan bimbingan kelompok dapat meningkatkan interaksi sosial pada peserta didik kelas XI TKJ SMK Larenda Kabupaten Brebes Tahun Pelajaran 2018/2019”. perlu disadari bahwa upaya meminimalisir bagi para remaja dalam mengatasi kesulitan dalam berinteraksi sosial. Guru BK mencoba bentuk-bentuk layanan bimbingan kelompok yang lain sehingga siswa tidak akan bosan. Dan terus berinovasi dalam hal peningkatan interaksi sosial peserta didik.

Kata Kunci : Bimbingan Kelompok, Interaksi Sosial

Abstract

This study uses a quantitative approach. The population in this study were all class XI students of Larenda Vocational School Brebes Regency Year 2018/2019 totaling 44 students. The sample in this study were students whose social interactions were still low and 28 students. Methods of data collection using questionnaires, interviews, and documentation. Data analysis techniques used percentage descriptive analysis and t-test analysis. Based on descriptive statistical analysis, it can be reported that social interaction before the guidance service of the 11th grade students of TKJ SMK Larenda, Brebes, 2018/2019 in the low category was 43%. The acquisition of descriptive statistical analysis results that social interaction after the guidance service group of class XI TKJ SMK Larenda Brebes Regency 2018/2019 increased in the high category by 57%. The results of statistical analysis of the value of the t-test test obtained a tcount of 7.653. The tcount is then consulted with ttable at a significant level of 5% or ( 5%) with degrees of freedom N-1 or 28 - 1 = 27 where it is obtained ttable = 2.052, it turns out tcount = 7.653>

t table = 2.052 which means the alternative hypothesis reads "Service group guidance can overcome social interaction in class XI TKJ SMK Larenda Brebes Regency 2018/2019 Academic Year ". Need to be aware that efforts to minimize for teens in overcoming difficulties in social interaction. BK teachers try other forms of group guidance

(2)

services so students will not be bored. And continue to innovate in terms of improving student social interaction.

Keywords: Group Guidance, Social Interaction

PENDAHULUAN

Interaksi individu sebagai makhluk sosial dapat terjadi dalam lingkungan yang ditempatinya.

Keberadaan manusia sebagai makhluk sosial merupakan penyeimbang bagi proses perkembangannya sebagai individu. Setiap manusia yang hidup pasti saling berinteraksi antara satu orang dengan orang lain, namun pada dasarnya setiap orang memiliki potensi kreatif dengan tingkat atau derajat kreatifitas yang berbeda-beda. Sebagai makhluk sosial, manusia ditakdirkan untuk hidup bersama-sama atau berdampingan dengan manusia lain. Tidak dapat dipungkiri bahwa seseorang memerlukan orang lain untuk hidup dan bersosial. Dalam berbagai kegiatan seseorang tidak dapat melakukan sesuatu sendiri, misal dalam bermasyarakat, mengampu pendidikan, dunia pekerjaan, dan masih banyak lainnya. Hal tersebut membuktikan bahwa seseorang tidak akan mampu menghindari interaksi sosial.

Interaksi sosial merupakan inti dari terwujudnya kehidupan sosial. Dengan interaksi sosial, manusia dapat saling kenal-mengenal, saling memengaruhi dan saling bekerja sama satu sama lain (Soekanto, 2015:55). Interaksi sosial dapat terjalin baik di lingkungan keluarga, lingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakat. Interaksi di lingkungan keluarga merupakan dasar bagi kemampuan interaksi sosial anak. Interaksi ini dapat terjalin baik dalam bentuk hubungan antara anak dengan orang tua maupun dengan anggota keluarga lain. Anak berkewajiban patuh dan tunduk terhadap orang tua sedangkan orang tua memiliki kewajiban untuk mengajarkan anak hal-hal yang positif sebagai bekal interaksi sosial anak, baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan masyarakat.

Interaksi di lingkungan sekolah merupakan hubungan timbal balik yang

terjadi di dalam lingkungan sekolah. Interaksi di lingkungan sekolah melibatkan hubungan antara peserta didik dengan guru, peserta didik dengan peserta didik dan peserta didik dengan tenaga administrasi sekolah. Hal tersebut mengindikasikan bahwa anak dapat membina hubungan yang baik terhadap sesama teman, guru dan tenaga administrasi sekolah. Kemampuan peserta didik dalam membangun hubungan sosial tersebut akan menyebabkan peserta didik merasa nyaman berada di lingkungan sekolah sehingga akan mudah mendapatkan informasi yang diinginkan (Soekanto, 2015:56).

Interaksi sosial antara peserta didik dengan guru dapat terjalin misalnya ketika proses belajar mengajar berlangsung. Interaksi yang baik antara peserta didik dengan guru dapat dilihat dari adanya hubungan timbal balik ketika proses belajar mengajar berlangsung. Guru menerangkan pelajaran sedangkan peserta didik dapat menerima pelajaran serta dapat merespon dengan bertanya atau menjawab pertanyaan tentang pelajaran yang tengah diajarkan oleh guru. Selanjutnya, interaksi dengan tenaga administrasi sekolah misalnya ketika ada guru yang belum masuk kelas, peserta didik dengan sigap melapor ke guru piket untuk menanyakan guru terkait.

Peserta didik yang tidak berinteraksi sosial, ditandai dengan hubungan antar peserta didik diliputi rasa kebencian, dan kurangnya kerjasama diantara peserta didik. Bentuk-bentuk peserta didik yang tidak berinteraksi sosial dapat kita lihat dimana peserta didik saling membenci, saling menjatuhkan, dan terbentuknya kelompok teman sebaya dimana masing-masing kelompok saling menyerang atau saling menjatuhkan sehingga akan menciptakan hubungan yang kurang harmonis diantara peserta didik. Peserta didik yang tidak berinteraksi sosial di lingkungan sekolah juga akan menghambat kemajuan peserta didik dalam proses pembelajaran karena kurangnya kerjasama, komunikasi, dan peserta didik kurang menghargai peserta didik yang lain sehingga sering menimbulkan suasana belajar yang selalu gaduh, tegang, sering ribut, timbulnya pertengkaran, perkelahian, dan sebagainya, lingkungan seperti ini akan menyebabkan peserta didik terganggu dalam proses pembelajaran yang pada akhirnya akan mempengaruhi sikapnya terhadap pembelajaran.

Selebihnya, interaksi yang paling penting adalah interaksi antar peserta didik dengan peserta didik. Interaksi sosial antar peserta didik dengan peserta didik lain ini menjadi sangat penting lantaran intensitasnya yang lebih banyak dibandingkan interaksi dengan guru maupun dengan tenaga administrasi sekolah. Interaksi sosial antara peserta didik dengan peserta didik merupakan hubungan yang paling sering terjalin selama di lingkungan sekolah, karena para peserta didik umumnya lebih

(3)

banyak berkomunikasi dengan peserta didik lain dalam segala kegiatan. Hal ini menuntut peserta didik agar dapat membina hubungan yang baik dengan peserta didik lain yang berbeda baik dari latar belakang keluarga, sosial, maupun ekonomi. Dengan demikian, interaksi sosial peserta didik dengan peserta didik lain sangat penting dimiliki agar terciptanya hubungan yang baik sesama teman.

Interaksi sosial peserta didik dengan peserta didik dapat mempengaruhi pergaulan peserta didik di lingkungan sekolah karena dengan interaksi sosial yang baik, dapat membuat peserta didik mudah dalam bergaul, mendapatkan perasaan nyaman dan dapat saling bertukar informasi tentang pelajaran atau hal-hal lain yang dibutuhkan.

Untuk meningkatkan interaksi sosial peserta didik yang rendah, diperlukan dukungan dari semua pihak yang terlibat, khususnya peserta didik itu sendiri. Selain itu, peran guru pembimbing juga sangat penting untuk memberikan rancangan layanan bimbingan konseling bagi peserta didik yang memerlukannya, salah satu layanan bimbingan konseling yang mengatasi permasalahan peserta didik adalah layanan bimbingan kelompok.

Layanan bimbingan kelompok merupakan kegiatan informasi kepada sekelompok peserta didik untuk membantu mereka menyusun rencana dan keputusan yang tepat, informasi yang diberikan adalah informasi untuk kebutuhan tertentu anggota kelompok. Tohirin, (2014:172) mengatakan bahwa secara umum layanan bimbingan kelompok bertujuan untuk pengembangan kemampuan bersosialisasi, khususnya kemampuan berkomunikasi peserta layanan, dimana komunikasi merupakan salah satu syarat terjadinya interaksi sosial.

Dengan layanan bimbingan kelompok, para peserta didik dapat diajak untuk bersama-sama mengemukakan pendapat tentang sesuatu dan memberikan topik-topik penting, mengembangkan nilai- nilai tentang hal tersebut, dan mengembangkan langkah-langkah bersama utuk menangani permasalahan yang dibahas dalam kelompok. Dengan demikian, selain dapat menumbuhkan hubungan yang baik antar anggota kelompok, kemampuan berkomunikasi antar individu, pemahaman berbagai situasi dan kondisi lingkungan, juga dapat mengembangkan sikap dan tindakan nyata untuk mencapai hal-hal yang diinginkan sebagaimana terungkap dalam kelompok.

Berdasar ulasan di atas, maka diidentifikasi masalah dalam penelitian ini adalah berikut:

Adanya peserta didik kurang memiliki kemampuan interaksi sosial baik antar sesama peserta didik maupun antara peserta didik dengan guru.

Peserta didik tidak mendengarkan dan menghargai guru yang sedang mengajar di depan kelas, mereka lebih suka berbicara sendiri dengan temannya.

Peserta didik membuat gaduh suasana kelas, bahasa lisan mereka tidak sopan dan sering membuat guru marah.

Peserta didik sangat pendiam dan jarang mengungkapkan pendapat ataupun bertanya kepada guru, hanya beberapa peserta didik saja yang terlihat aktif mendengarkan dan bertanya saat guru menjelaskan materi pelajaran

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui:

Interaksi sosial peserta didik sebelum dilaksanakan layanan bimbingan kelompok pada peserta didik Kelas XI TKJ SMK Larenda Kabupaten Brebes Tahun Pelajaran 2018/2019.

Interaksi sosial peserta didik setelah dilaksanakan layanan bimbingan kelompok pada peserta didik Kelas XI TKJ SMK Larenda Kabupaten Brebes Tahun Pelajaran 2018/2019.

Efektifitas layanan bimbingan kelompok dalam mengatasi interaksi sosial pada peserta didik kelas XI TKJ SMK Larenda Kabupaten Brebes Tahun Pelajaran 2018/2019.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini mengambil populasi dan sampel seluruh Peserta didik kelas XI SMK Larenda Kabupaten Brebes Tahun 2018/2019 berjumlah 44 peserta didik. Sedangkan sampel diambil 28 peserta didik yang bermasalah yaitu peserta didik yang interaksi sosialnya masih rendah. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen semu. Desain penelitian ekperimen yang digunakan dalam penelitian ini adalah pra eksperimen dengan desain eksperimen pretest-postest kelompok tunggal untuk mendapatkan layanan bimbingan kelompok terhadap meningkatkan interaksi sosial. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan angket, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif persentase dan analisis t-test. dalam kategori validitas sangat tinggi sehingga modul dapat digunakan; (2) Hasil uji tingkat keterbacaan modul dalam penelitian ini menunjukkan bahwa Modul Konsep Dasar IPA Bervisi SETS Berbasis Literasi Sains yang dikembangkan berada pada kategori cukup mudah dipahami dan ideal digunakan dalam pembelajaran.

(4)

HASIL PENELITIAN

Data hasil analisis tiap responden terbukti mengalami peningkatan yang signifikan. Subjek penelitian atau responden dalam penelitian ini adalah 28 peserta didik yang memiliki masalah pada interaksi sosial yang disajikan sebagai subjek penelitian. Responden diberikan layanan bimbingan kelompok perlakuan, kemudian diberi test (Post-Test). Teknis analisis data yang digunakan untuk menganalisis tingkat interaksi sosial adalah teknik statistic deskripstif. Metode analisis t-test digunakan untuk mengetahui ada dan tidaknya pengaruh layanan bimbingan kelompok dalam mengatasi interaksi sosial dengan cara membandingkan data hasil pengukuran interaksi sosial sebelum (Y1) dan sesudah perlakuan layanan bimbingan kelompok (Y2). Untuk mengetahui mean perbedaan antara sebelum perlakuan (Y1) dan sesudah perlakuan (Y2).

Untuk mengetahui kondisi interaksi sosial peserta didik sebelum diberikan perlakuan layanan bimbingan kelompok, kemudian hasil perolehan skor tersebut dicari tingkat ketercapaian skor dengan rumus deskriptif persentase yang dihasilkan sebagai berikut :

Distribusi Frekuensi Interaksi Sosial Sebelum Pemberian Layanan Bimbingan Kelompok

Interval Pre-Test

Kategori

Frek. %

157 - 165 5 18% Sangat Rendah

166 - 174 12 43% Rendah

175 - 183 4 14% Sedang

184 - 192 3 11% Tinggi

193 - 201 2 7% Sangat Tinggi

202 - 210 2 7% Amat Sangat Tinggi

Jumlah 28 100%

Berdasarkan data tersebut di atas, dapat ditemukan bahwa kondisi interaksi sosial peserta didik sebelum layanan bimbingan kelompok yang termasuk dalam kategori sangat rendah sebanyak 5 peserta didik (18%), rendah sebanyak 12 peserta didik (43%), kategori sedang sebanyak 4 peserta didik (14%), kategori tinggi sebanyak 3 peserta didik (11%), kategori sangat tinggi sebanyak 2 peserta didik (7%), dan kategori amat sangat tinggi sebanyak 2 peserta didik (7%). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kondisi interaksi sosial peserta didik sebelum layanan bimbingan kelompok pada peserta didik kelas XI TKJ SMK Larenda Kabupaten Brebes tahun pelajaran 2018/2019 adalah dalam kriteria rendah.

Kemudian kondisi interaksi sosial peserta didik setelah layanan bimbingan kelompok yaitu dengan rumus deskriptif persentase dan diperoleh hasil sebagai berikut:

Distribusi Frekuensi Interaksi Sosial Setelah Pemberian Layanan Bimbingan Kelompok

Interval Post-Test

Kategori

Frek. %

205 - 211 1 4% Sangat Rendah

212 - 218 1 4% Rendah

219 - 225 3 11% Sedang

226 - 232 16 57% Tinggi

233 - 239 5 18% Sangat Tinggi

240 - 246 2 7% Amat Sangat Tinggi

Jumlah 28 100%

Berdasarkan data tersebut di atas, dapat ditemukan bahwa interaksi sosial peserta didik setelah layanan bimbingan kelompok yang termasuk dalam kategori sangat rendah sebanyak 1 peserta didik (4%), rendah sebanyak 1 peserta didik (4%), kategori sedang sebanyak 3 peserta didik

(5)

(11%), kategori tinggi sebanyak 16 peserta didik (57%), kategori sangat tinggi sebanyak 5 peserta didik (18%), dan kategori amat sangat tinggi sebanyak 2 peserta didik (7%). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kondisi interaksi sosial sebelum layanan bimbingan kelompok pada peserta didik kelas XI TKJ SMK Larenda Kabupaten Brebes Tahun Pelajaran 2018/2019 meningkat dalam kriteria tinggi.

Untuk mengetahui pengaruh layanan bimbingan kelompok dalam meningkatkan interaksi sosial peserta didik kelas XI TKJ SMK Larenda Kabupaten Brebes tahun pelajaran 2018/2019 menggunakan uji statistik t-test. Pengolahan data atau analisis data merupakan salah satu langkah yang sangat penting dalam kegiatan penelitian, terutama bila diinginkan generalisasi atau kesimpulan tentang masalah yang diteliti.

Langkah selanjutnya adalah untuk menguji hipotesis yang telah penulis ajukan, maka data yang akan dianalisis berupa kuantitatif yang berasal dari variabel interval, di bawah ini akan disajikan tabel persiapan penghitungan uji t-test.

Diketahui nilai-nilai sebagai berikut : Md = 21,071

X2d = 5731,857 n = 28

Berdasarkan nilai-nilai tersebut, maka dapat dilakukan perhitungan t test sebagai berikut :

) 1 (

2

 

N N

d X t

tes

Md

) 1 28 ( 28

857 , 5731

071 , 21

tes

t

) 27 ( 28

857 , 5731

071 ,

 21 t

tes

756 857 , 5731

071 ,

 21 t

tes

582 , 7

071 ,

 21 t

tes

754 , 2

071 ,

 21

t

tes

t

tes

 7 , 653

Berdasarkan perhitungan di atas diperoleh nilai thitung sebesar 7,653. Nilai thitung tersebut kemudian dikonsultasikan dengan ttable pada taraf signifikan 5 % atau ( 5 %) dengan derajat kebebasan N-1 atau 28 – 1 = 27 dimana diperoleh ttable = 2,052 ternyata thitung = 7,653 > ttabel = 2,052 yang berarti hipotesis nihil ditolak dan menerima hipotesis alternatif berbunyi “Layanan bimbingan kelompok efektif dalam mengatasi interaksi sosial pada peserta didik kelas XI TKJ SMK Larenda Kabupaten Brebes Tahun Pelajaran 2018/2019”.

Interaksi sosial merupakan hubungan dinamis yang mempertemukan orang dengan orang, kelompok dengan kelompok maupun orang dengan kelompok. Bentuknya tidak hanya bersifat kerjasama, tetapi juga bisa berbentuk persaingan, pertikaian dan sejenisnya. Akan sangat berdampak apabila interaksi sosial itu kurang baik. Seperti yang dialami sebagian peserta didik kelas XI TKJ SMK Larenda Kabupaten Brebes, yang menurut pemaparan dari wali kelas dan juga guru bimbingan dan konseling bahwa interaksi sosial di kelas ini beragam. Ada yang aktif dalam hal ini interaksinya baik dan juga ada yang pasif yang berarti interaksinya kurang baik.

Secara umum layanan bimbingan kelompok bertujuan untuk pengembangan kemampuan bersosialisasi, khususnya kemampuan berkomunikasi peserta layanan. Secara lebih khusus layanan bimbingan kelompok bertujuan untuk mendorong pengembangan perasan, pikiran, pesepsi, wawasan dan sikap yang menunjang perwujudan tingkah laku yang lebih efektif, yakni peningkatan kemampuan berkomunikasi (Tohirin, 2014:156).

Jadi intinya tujuan layanan bimbingan kelompok adalah untuk membantu interaksi sosial peserta didik melalui kegiatan-kegiatan berkelompok, sehingga dengan demikian mereka akan selalu bersinggungan dengan orang lain dan akan dengan mudah melakukan interaksi.Dalam bimbingan kelompok ada banyak bentuk kegiatan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan interaksi sosial peserta didik yang dapat meningkatkan interaksi peserta didik.

Guru bimbingan dan konseling menerangkan bahwa di SMK Larenda Kabupaten Brebes tidak menerapkan semua bentuk layanan yang ada dalam bimbingan kelompok. Beliau hanya menerapkan sebagian saja yaitu melalui kegiatan diskusi kelompok, kegiatan kelompok dan organisasi peserta didik.

Dari hasil pengamatan dokumentasi yang ada di ruang guru bimbingan dan konseling peneliti menemukan catatan kegiatan yang di pernah dilakukan dalam bimbingan tersebut. Untuk diskusi kelompok tema yang pernah dilakukan adalah diskusi tehnikal meeting, cara interaksi yang baik, pemanfaatan media sosial dan lain-lain. Untuk organisasi peserta didik disana terlihat catatan anak-

(6)

anak yang ikut organisasi peserta didik. Dari uraian di atas peneliti merefleksikan bahwa di SMK Larenda Kabupaten Brebes bentuk yang digunakan adalah organisasi kelompok, diskusi kelompok dan kegiatan kelompok. Ini merupakan bentuk yang sederhana dalam pelaksanaanya akan tetapi memberikan hasil yang baik, karena dengan bentuk-bentuk di atas peserta didik akan sering bersinggungan bahkan mereka bisa sejalan atau tidak sejalan dalam memberikan tanggapan di dalam diskusi kelompok sehingga ini akan menjadi momen dimana mereka dapat berkomunikasi sering dan membuat interaksi sosial mereka lebih membaik.

PENUTUP

Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

Berdasarkan analisis statistik deskriptif dapat dilaporkan bahwa interaksi sosial sebelum layanan bimbingan kelompok peserta didik kelas XI TKJ SMK Larenda Kabupaten Brebes tahun pelajaran 2018/2019 dalam kategori rendah sebesar 43%.

Perolehan hasil análisis statistik deskriptif bahwa interaksi sosial setelah layanan bimbingan kelompok peserta didik kelas XI TKJ SMK Larenda Kabupaten Brebes tahun pelajaran 2018/2019 meningkat dalam kategori tinggi sebesar 57%.

Berpijak pada hasil analisis statistik dari nilai uji t-test diperoleh nilai thitung sebesar 7,653. Nilai thitung tersebut kemudian dikonsultasikan dengan ttable pada taraf signifikan 5 % atau ( 5 %) dengan derajat kebebasan N-1 atau 28 – 1 = 27 dimana diperoleh ttable = 2,052 ternyata thitung = 7,653 > ttabel = 2,052 yang berarti hipotesis nihil berbunyi “Layanan bimbingan kelompok efektif dalam meningkatkan interaksi sosial pada peserta didik kelas XI TKJ SMK Larenda Kabupaten Brebes Tahun Pelajaran 2018/2019”.

Berdasarkan kesimpulan yang telah diuraikan di atas, maka saran yang dapat penulis sampaikan adalah sebagai berikut.

Bagi sekolah, dijadikan bahan kajian yang utama bahwa interaksi sosial pada peserta didik yang berada dalam kategori interaksi social rendah, diperlukan perlakuan khusus melalui berbagai pendekatan secara menyeluruh dalam mengatasi permasalahan tersebut. Guru BK dan wali kelas ikut ambil bagian dalam pengatasan berbagai permasalahan yang mungkin terjadi pada peserta didik tersebut.

Bagi guru Bimbingan dan Konseling, perlu disadari bahwa upaya meminimalisir bagi para remaja dalam mengatasi kesulitan dalam berinteraksi sosial. Guru BK mencoba bentuk-bentuk layanan bimbingan kelompok yang lain sehingga siswa tidak akan bosan. Dan terus berinovasi dalam hal peningkatan interaksi sosial peserta didik.

Bagi peserta didik yang mengalami kesulitan dalam berinteraksi sosial untuk terus belajar meningkatkan interaksi dengan lingkungan karena hal ini akan mempermudah kalian dalam menjalani hidup di sekolah dan masyarakat

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2015. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : Rineka Cipta.

Gerungan, W. A. 2014. Psikologi Sosial, Bandung: PT Refika Aditama

Hallen. A, 2014. Bimbingan dan Konseling. Edisi Revisi. Jakarta: Quantum Teaching.

Margono. 2015. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Moeleong, Lexy.J. 2014. Metode penelitian. Bandung: Remaja Rosda karya.

Nurihsan, Achmad Juntika. 2015. Bimbingan dan Konseling Dalam Berbagai Latar Belakang Kehidupan. Bandung: Refika Aditama,

Prayitno. 2014. Layanan Bimbingan dan Konseling Kelompok, Jakarta: Ghalia Indonesia.

Soekanto, Soejarno. 2015. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT.Rajagrafindo Persada, Sudaryanto. 2013. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa: Duta wacana University Press.

Sugiyono. 2015. Metode Penelitian Kualitatif, Kuantitatif Dan R&B. Bandung : Alfabeta.

Sukardi, Dewa Ketut. 2016. Proses Bimbingan dan Konseling Di Sekolah, Jakarta: Rineka Cipta.

Tohirin. 2014. Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah Berbasis Integrasi. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Referensi

Dokumen terkait

Permasalahan yang diajukan dalam penelitian ini adalah apakah melalui layanan bimbingan kelompok teknik role playing dapat meningkatkan interaksi sosial siswa kelas

Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji keefektifan layanan bimbingan kelompok teknik role playing untuk mengurangi prasangka sosial pada peserta didik kelas

Kesimpulan yang diambil dalam penelitian ini adalah ada hubungan positif yang signifikan antara layanan bimbingan konseling sekolah dengan interaksi sosial artinya variabel

Peneliti mempersiapkan siklus II ini dengan merancang perencanaan pelaksanaan layanan (RPL) bimbingan kelompok sesuai dengan pokok pembahasan “interaksi sosial yang

Berdasarkan hasil penelitian dalam meningkatkan kemampuan interaksi sosial mahasiswa melalui layanan bimbingan kelompok Jurusan PPB/BK FIP Unimed Tahun 2016, dapat

permainan ranjau interaksi sosial berkategori sangat baik dan dinyatakan layak digunakan dalam layanan bimbingan kelompok. Sehingga dapat disimpulkan bahwa media

Mendeskripsikan tindakan peneliti dalam meningkatkan motivasi belajar pada siswa kelas XI TKJ SMK Muhammadiyah Kudus melalui layanan bimbingan kelompok teknik live

Mengacu pada hasil observasi tersebut, maka peneliti memutuskan untuk menerapkan layanan bimbingan kelompok untuk meningkatkan hubungan sosial peserta didik di kelas IX-B Berdasarkan