• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
51
0
0

Teks penuh

(1)

58

BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Pelaksanaan penelitian ini dibagi menjadi dua tahap, yaitu penelitian pendahuluan dan penelitian utama. Pada penelitian pendahuluan, dosis spora B. anthracis berpengaruh terhadap kelangsungan hidup tikus ( Tabel 5.1). Semakin tinggi dosis spora, semakin tinggi tingkat mortalitasnya, sehingga injeksi SC spora B. anthracis dosis 0,2 ml digunakan untuk penelitian selanjutnya, dengan hasil :

Tabel 5.1 Pembagian Kelompok pada Penelitian Pendahuluan Kelompok Jumlah

hewan coba Dosis injeksi

SC Kondisi akhir 1

2 3

3 Ekor 3 Ekor 3 Ekor

0.1 cc 0.2 cc 0.4 cc

2 hidup dan 1 mati Semua hidup

Semua mati

Untuk memastikan infeksi antraks telah terjadi, pemeriksaan histopatologi jaringan paru dengan menggunakan pengecatan HE. Gambar 5.1 menunjukkan bahwa jaringan paru mengalami proses inflamasi yang berat hingga supuratif.

Hasil pemeriksaan histopatologi pada jaringan paru adalah :

Gambar 5.1 Histopatologi dengan Pengecatan HE Jaringan Paru

Keterangan : Histopatologi jaringan paru menunjukkan radang kronis supuratif berat (tanda panah) pada peribronkial dan jaringan intersitial paru (Pengecatan Hematoxilin Eosin. A. Perbesaran 100x B. Perbesaran 400x).

commit to user

(2)

Pengaruh EEP Gunung Lawu pada Tikus Model Antraks A. Respons Inflamasi

Pada penelitian ini, respons inflamasi dibagi menjadi tiga, yaitu penanda inflamasi yang dinilai dengan pemeriksaan TNF-α dari serum dan jaringan paru, penanda apotosis yang dinilai dengan Caspase-3 dari serum serta penanda disfungsi endotel yang dinilai dengan E-selectin yang diambil dari serum dan jaringan paru.

1) Kadar TNF-α

a) Pemeriksaan TNF-α Serum

Uji normalitas pada variabel kadar TNF-α serum menggunakan uji Shapiro wilk, menunjukkan data kadar TNF-α pada semua kelompok terdistribusi normal, sehingga dilanjutkan dengan uji ANOVA.

Tabel 5.2 Rata-Rata Pemeriksaan Kadar TNF-α Serum

Kelompok N Rata-rata ± SD P

P1 8 6.136 ± 0.205

P2 8 7.207 ± 0.335

P3 8 8.923 ± 0.315 <0.001

P4 8 6.822 ± 0.246

K 8 14.247 ± 0.311

Pada Tabel 5.2 menunjukkan rata-rata kadar TNF-α serum yang tertinggi pada kelompok kontrol, yaitu 14.247 ± 0.311 pg/ml, dan terendah pada kelompok P1, yaitu 6.136 ± 0.205 pg/ml. Pada kelompok P3 menduduki peringkat kedua tertinggi, yaitu 8.923 ± 0.315 pg/ml. Hasil uji ANOVA adalah p<0.001, artinya ada perbedaan yang signifikan antar kelompok penelitian.

Pada variabel TNF-α, setelah dilakukan uji ANOVA, maka dilanjutkan dengan uji Post Hoc Tukey, untuk menilai perbedaan antar kelompok. Pada Post Hoc akan diketahui antara kelompok kontrol dengan perlakuan, serta antar kelompok perlakuan, terdapat perbedaan yang signifikan atau tidak. Perbedaan yang signifikan bila didapatkan p≤0.05. commit to user

(3)

Tabel 5.3 Hubungan Antar Kelompok Kadar TNF-α Serum

Kelompok P Keterangan

P1 – P2 P1 – P3 P1 – P4 P1 – K P2 – P3 P2 – P4 P3 – P4 P2 – K P3 – K P3 – K P4 – K

<0.001

<0.001

<0.001

<0.001

<0.001

<0.001 0.770

<0.001

<0.001

<0.001

<0.001

signifikan signifikan signifikan signifikan signifikan signifikan tidak signifikan

signifikan signifikan signifikan signifikan

Pada Tabel 5.3 menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada variabel TNF-α antara kelompok kontrol (K) terhadap kelompok perlakuan (P1, P2, P3 dan P4), yaitu p<0.001, sedangkan hubungan antara kelompok P3 dan P4 menunjukkan perbedaan yang tidak signifikan dengan p=0.770.

K P1 P2 P3 P4

0 5 10 15 20

KADAR TNF

Kelompok

pg/ml

** p 0.01**

** p 0.01**

** p 0.01** ** p 0.770 **

Gambar 5.2 Rata-Rata Kadar TNF-α Serum commit to user

(4)

Pada Gambar 5.2 menunjukkan perbedaan yang signifikan pada kadar TNF-α serum antara kelompok kontrol terhadap kelompok P1 dengan p<0.001, kontrol terhadap P2 dengan p<0.001, kontrol terhadap P3 dengan p<0.001, dan kontrol terhadap P4 dengan p<0.001.

b) Pemeriksaan Imunohistokimia TNF-α Jaringan Paru.

Pemeriksaan IHK TNF-α dinilai dengan menggunakan skor, yang ditunjukkan pada Gambar 5.3, area inflamasi jaringan paru sebanyak 51 - 75% pada kelompok kontrol (gambar A dan F), pada kelompok P1 menunjukan area inflamasi 51 - 75% (gambar B dan G), pada kelompok P2 menunjukan area inflamasi sebanyak 51 - 75% (gambar C dan H). Pada kelompok P3 menunjukan juga area inflamasi antara 51 - 75% (gambar D dan I), sedangkan pada kelompok P4 menunjukkan area inflamasi sebanyak 26 - 50% (gambar E dan J).

Gambar 5.3 Ekspresi TNF-⍺ Pada Jaringan Paru.

Gambar A, B, C, D dan E dengan perbesaran 100 x ; gambar F, G, H, I, J dengan perbesaran 400 x, tanda panah berwarna kuning menunjukkan area positif TNF-⍺.

commit to user

(5)

Tabel 5.4 Mean Rank Pemeriksaan IHK TNF-α Jaringan Paru

Kelompok N Mean rank 1 Mean rank 2

P1 8 21.50 20.00

P2 8 21.50 22.50

P3 8 19.00 17.50

P4 8 16.50 17.50

K 8 24.00 25.00

Pada perhitungan nilai koefisien kappa pada IHK TNF-α jaringan paru, didapatkan 0.88 yang artinya pembacaan hasil antara dua ahli Patologi Anatomi, mempunyai kekuatan kesepakatan yang sangat baik. Pada Tabel 5.3 menunjukkan mean rank tertinggi pada kelompok kontrol, yaitu 24.00 pada pemeriksa 1 dan 25.00 pada pemeriksa ke 2. Hasil terendah pada kedua pemeriksa di kelompok P4, masing-masing 16.50 dan 17.50. Hasil uji Kruskal wallis antar kelompok, didapatkan pada pemeriksa 1 dengan p = 0.356, dan pada pemeriksa 2 dengan p = 0.314, artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antar kelompok penelitian.

Tabel 5.5 Skor Pemeriksaan IHK TNF-α Jaringan Paru Kelompok Jumlah (%) Skor TNF-α

(n = 8) Skor 0 Skor 1 Skor 2 Skor 3 Jumlah

K 0 0 0 8 8

(0%) (0%) (0%) (100%) (100%)

P1 0 0 1 7 8

(0%) (0%) (12.5%) (87.5%) (100%)

P2 0 0 1 7 8

(0%) (0%) (12.5%) (87.5%) (100%)

P3 0 0 2 6 8

(0%) (29%) (25%) (75%) (100%)

P4 0 0 3 5 8

(0%) (0%) (37.5%) (62.5%) (100%) Skor pada pemeriksaan IHK :

skor 0 = tidak ada inflamasi, skor 1 = area inflamasi 1 - 25%, skor 2 = area inflamasi 26 - 50%, skor 3 = area inflamasi 51 - 75%

skor 4 = area inflamasi 76 - 100%.

commit to user

(6)

Pada Tabel 5.5 menunjukkan skor 3 terjadi pada semua kelompok, sedangkan skor 2 paling banyak pada kelompok hewan model antraks dengan EEP Gunung Lawu 200 mg/kgBB dan amoksisilin 9 mg/8 jam, sedangkan pada kelompok kontrol didapatkan semua sampel dengan skor 3.

Tabel 5.6 Rata-Rata Pemeriksaan IHK TNF-α Jaringan Paru

Kelompok N Rata-rata ± SD p

P1 8 2.88 ± 0.518

P2 8 2.88 ± 0.354

P3 8 2.75 ± 0.463 0.367

P4 8 2.63 ± 0.518

K 8 3.00 ± 0.00

Pada Tabel 5.6 menunjukkan rata-rata skor IHK TNF-α tertinggi pada kelompok kontrol, yaitu 3.00 ± 0.00, sedangkan kelompok dengan skor paling rendah pada kelompok P4 adalah 2.63 ± 0.518, dengan nilai p=0.367, artinya tidak ada perbedaan yang signifikan.

Tabel 5.7 Hubungan Antar Kelompok TNF-α Jaringan Paru

Kelompok p Keterangan

P1 – K P2 – K P3 – K P4 – K

0.334 0.334 0.149 0.060

tidak signifikan tidak signifikan tidak signifikan

tidak signifikan

Pada Tabel 5.7 menunjukkan bahwa hasil T Test terhadap IHK pada TNF-α jaringan paru, tidak ada perbedaan signifikan pada semua kelompok.

2) Kadar Caspase-3

Pada variabel caspase-3 dilakukan uji statistik untuk menilai normalitas data dengan Shapiro wilk, yang menunjukkan hasil, semua kelompok terdistribusi normal, maka dilanjutkan dengan uji ANOVA.

Tabel 5.8 Rata-Rata Pemeriksaan Kadar Caspase-3

Kelompok Rata-rata ± SD P

P1 2.040 ± 0.067

P2 5.363 ± 0.652

P3 3.366 ± 0.272 <0.001

P4 2.617 ± 0.253

K commit to user 7.226 ± 0.168

(7)

Pada Tabel 5.8 menunjukkan rata-rata kadar caspase-3 tertinggi pada kelompok kontrol, yaitu 7.226 ± 0.168 ng/ml, sedangkan rata-rata terendah pada kelompok P1, yaitu 2.040 ± 0.067 ng/ml. Rata-rata kelompok P3 diantara kedua kelompok diatas, yaitu 5.363 ± 0.652 ng/ml. Hasil uji ANOVA pada variabel ini adalah p<0.001, artinya ada perbedaan signifikan antara kelima kelompok tersebut.

Pada variabel kadar caspase-3 pada serum, dilakukan uji Post Hoc Tukey, untuk menilai perbedaan antara kelompok kontrol dan perlakuan.

Tabel 5.9 Hubungan Antar Kelompok Kadar Caspase-3 Serum

Kelompok p Keterangan

P1 – P2 P1 – P3 P1 – P4 P1 – K P2 – P3 P2 – P4 P2 – K P3 – K P3 – K

<0.001

<0.001 0.016

<0.001

<0.001

<0.001

<0.001

<0.001

<0.001

signifikan signifikan tidak signifikan

signifikan signifikan signifikan signifikan

signifikan signifikan

P4 – K <0.001 signifikan

Pada Tabel 5.9 menunjukkan perbedaan yang signifikan pada variabel Caspase-3 antara kelompok kontrol (K) terhadap semua kelompok perlakuan (P1, P2, P3 dan P4), yaitu p<0.001, sedangkan hubungan antara kelompok P1 dan P4 menunjukkan perbedaan yang tidak signifikan dengan p=0.016

commit to user

(8)

K P1 P2 P3 P4 0

2 4 6 8

Kelompok

ng/ml

** p<0.001 **

** p<0.001 **

KADAR CASPASE 3

Gambar 5.4 Rata-Rata Kadar Caspase-3 Serum

Pada Gambar 5.4 menunjukkan perbedaan yang signifikan pada kadar caspase-3 antara kelompok kontrol terhadap kelompok P1 dengan p<0.001, kontrol terhadap P2 dengan p<0.001, kontrol terhadap P3 dengan p<0.001, dan kontrol terhadap P4 dengan p<0.001.

3) Kadar e-selectin

a. Pemeriksaan e-selectin serum

Uji normalitas data pada variabel kadar e-selectin serum, digunakan uji Shapiro wilk, yang menunjukkan bahwa data kadar e-selectin serum pada semua kelompok terdistribusi normal, yang akan dilanjutkan dengan uji ANOVA.

Tabel 5.10 Rata-Rata Kadar E-Selectin Serum

Kelompok N Rata-rata ± SD p

P1 8 17.646 ± 0.909

P2 8 26.057 ± 0.999

P3 8 20.017 ± 0.500 <0.001

P4 8 21.208 ± 0.426

K 8 34.307 ± 1.160

commit to user

(9)

Pada Tabel 5.10 menunjukkan rata-rata kadar e-selectin serum tertinggi pada kelompok kontrol yaitu 34.307 ± 1.160 pg/ml, sedangkan rata-rata terendah pada kelompok P1 17.646 ± 0.909 pg/ml, sedangkan rata-rata kelompok P3 dan P4 hampir sama, masing-masing 20.017 ± 0.500 pg/ml dan 21.208 ± 0.426 pg/ml. Hasil uji ANOVA pada variabel ini menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan p<0.001.

Pada variabel e-selectin serum dilakukan uji Post Hoc Tukey, yaitu untuk menilai perbedaan antara kelompok kontrol dan perlakuan.

Tabel 5.11 Hubungan Antar Kelompok Kadar E-selectin Serum

Kelompok p Keterangan

P1 – P2 <0.001 signifikan

P1 – P3 <0.001 signifikan

P1 – P4 <0.001 signifikan

P1 – K <0.001 signifikan

P2 – P3 <0.001 signifikan

P3 – P4 0.059 tidak signifikan

P2 – K <0.001 signifikan

P3 – K <0.001 Signifikan

P4 – K <0.001 Signifikan

Pada Tabel 5.11 menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada variabel caspase-3 antara kelompok kontrol (K) terhadap kelompok perlakuan (P1, P2, P3 dan P4), yaitu p<0.001, sedangkan hubungan antara kelompok P3 dan P4 menunjukkan perbedaan yang tidak signifikan dengan p=0.059.

commit to user

(10)

K P1 P2 P3 P4 0

10 20 30 40

Kelompok

pg/ml

** p < 0.001**

** p 0.770 **

KADAR E SELECTIN

** p < 0.001**

Gambar 5.5 Rata-Rata Kadar E-selectin Serum

Pada Gambar 5.5 menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada kadar e-selectin antara kelompok kontrol terhadap kelompok P1 dengan p<0.001, kontrol terhadap P2 dengan p<0.001, kelompok kontrol terhadap P3 dengan p<0.001, dan kelompok kontrol terhadap P4 dengan p<0.001.

b. Pemeriksaan imunohistokimia e-selectin jaringan paru Tabel 5.12 Rata-Rata Pemeriksaan IHK E-selectin Jaringan paru

Kelompok N Rata-rata ± SD p

P1 8 2.00 ± 0.926

P2 8 1.75 ± 0.707

P3 8 1.88 ± 0.835 0.303

P4 8 1.50 ± 0.535

K 8 2.25 ± 0.723

Pada Tabel 5.12 menunjukkan rata-rata skor imunohistokimia e-selectin tertinggi pada kelompok kontrol, yaitu 2.25 ± 0.723, sedangkan kelompok dengan skor paling rendah pada kelompok P4 adalah 1.50 ± 0.535, dengan nilai p=0.303, artinya tidak ada perbedaan yang signifikan.

commit to user

(11)

Tabel 5.13 Hubungan Antar Kelompok E-selectin Jaringan Paru

Kelompok p Keterangan

P1 – K P2 – K P3 – K

0.506 0.116 0.285

tidak signifikan tidak signifikan tidak signifikan

P4 – K 0.010 signifikan

Pada Tabel 5.13 menunjukkan hasil T Test pada hasil pemeriksaan IHK e-selectin jaringan paru, yaitu ada perbedaan yang signifikan pada kelompok P4 dan kontrol, dengan p≤0.010.

Gambar 5.6 Ekspresi E-selectin pada Jaringan Paru

Keterangan : gambar A,B,C,D dan E dengan perbesaran 100 x, gambar F,G,H,I, J dengan perbesaran 400 x, tanda panah menunjukkan area positif e-selectin.

Gambar 5.6 menunjukkan bahwa pada kelompok kontrol didapatkan area inflamasi antara 26 – 50% (gambar A dan F), kelompok P1 menunjukan area inflamasi antara 26 – 50% (gambar B dan G), kelompok P2 menunjukan area inflamasi antara 26 – 50% (gambar C dan H), sedangkan pada kelompok P3 menunjukan area inflamasi antara 51 – 75% (gambar D dan I), sedangkan pada kelompok P4 menunjukkan area inflamasi yang paling kecil, yaitu antara 1 – 25%

(gambar E dan J).

commit to user

(12)

Tabel 5.14 Mean Rank Pemeriksaan IHK E-selectin Jaringan Paru

Kelompok N Mean rank 1 Mean rank 2

P1 8 22.06 20.75

P2 8 18.69 19.13

P3 8 20.38 22.38

P4 8 15.00 15.50

K 8 26.38 24.75

Pada perhitungan nilai koefisien kappa pemeriksaan IHK e-selectin jaringan paru, didapatkan 0.88 yang artinya pembacaan hasil

antara dua ahli Patologi Anatomi, mempunyai kekuatan kesepakatan yang sangat baik. Pada Tabel 5.14 menunjukkan mean rank tertinggi pada kelompok kontrol, yaitu 24.00 pada pemeriksa 1 dan 25.00 pada pemeriksa ke 2. Hasil terendah pada kedua pemeriksa di kelompok P4, masing-masing 15.00 dan 15.50. Hasil uji Kruskal wallis antar kelompok, didapatkan pada pemeriksa 1 dengan p =0.303, dan pada pemeriksa 2 dengan p=0.508 artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antar kelompok penelitian.

Tabel 5.15 Skor Pemeriksaan IHK E-Selectin Paru

Kelompok Jumlah (%) Skor E-selectin

(n = 8) Skor 0 Skor 1 Skor 2 Skor 3 Jumlah

K 0 0 6 2 8

(0%) (0%) (75%) (25%) (100%)

P1 0 3 2 3 8

(0%) (37.5%) (25%) (37.5%) (100%)

P2 0 3 4 1 8

(0%) (37.5%) (50%) (12.5%) (100%)

P3 0 3 3 2 8

(0%) (37.5%) (37.5%) (25%) (100%)

P4 0 4 4 0 8

(0%) (50%) (50%) (0%) (100%)

Pada Tabel 5.15 diatas dapat dilihat bahwa skor 2 terbanyak terjadi pada kelompok kontrol (75%), diikuti kelompok P2 dan P4 (50%), kemudian kelompok P3 (37,5%) dan urutan terakhir pada kelompok P1 (25%). commit to user

(13)

B. Tingkat Stres Oksidatif

Pada penelitian ini, variabel kadar MDA, merupakan parameter yang digunakan dalam menilai stres oksidatif. Uji normalitas data dengan uji Shapiro wilk menunjukkan, kadar MDA pada semua kelompok terdistribusi normal dan akan dilanjutkan dengan uji ANOVA.

Tabel 5.16 Rata-Rata Pemeriksaan Kadar MDA Serum

Kelompok N rata-rata ± SD p

P1 8 1.893 ± 0.188

P2 8 5.046 ± 0.344

P3 8 2.282 ± 0.133 <0.001

P4 8 2.717 ± 0.383

K 8 9.642 ± 0.279

Pada Tabel 5.16 menunjukkan rata-rata MDA tertinggi pada kelompok kontrol, yaitu 9.642 ± 0.279 nmol/ml, sedangkan kelompok terendah pada P1, yaitu 1.893 ± 0.188 nmol/ml. Rata-rata kelompok P3 hampir sama dengan kelompok P4, masing-masing adalah 2.282 ± 0.133 nmol/ml dan 2.717 ± 0.383 nmol/ml. Hasil uji ANOVA menujukkan nilai p<0.001, artinya ada perbedaan yang signifikan antar kelompok tersebut.

Tabel 5.17 Hubungan antar kelompok kadar MDA serum

Kelompok p Keterangan

P1 – P2 P1 – P3 P1 – P4 P1 – K P2 – P3 P2 – P4 P2 – K P3 – P4 P3 – K P4 – K

<0.001 0.065

<0.001

<0.001

<0.001

<0.001

<0.001 0.030

<0.001 0.001

signifikan tidak signifikan

signifikan signifikan signifikan signifikan signifikan

signifikan signifikan

signifikan

Pada Tabel 5.17 menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada variabel kadar MDA serum antara kelompok kontrol (K) terhadap kelompok perlakuan (P1, P2, P3, P4), yaitu p<0.001, namun hubungan antara kelompok P1 dan P2 menunjukkan perbedaan yang tidak signifikan dengan p=0.065. commit to user

(14)

K P1 P2 P3 P4 0

5 10 15

Kelompok

nmol/ml

** p < 0.001**

** p < 0.001**

KADAR MDA SERUM

** 0.030 **

** p < 0.001**

Gambar 5.7 Rata-Rata Kadar MDA Serum

Pada Gambar 5.7 menunjukkan perbedaan yang signifikan pada kadar MDA serum antara kelompok kontrol terhadap kelompok P1 dengan p<0.001, kelompok kontrol terhadap P2 dengan p<0.001, kelompok kontrol terhadap P3 dengan p<0.001, dan kelompok kontrol terhadap P4 dengan p<0.001.

C. Disfungsi Multi Organ 1) Fungsi hati

Untuk menilai fungsi hati, peneliti menggunakan pemeriksaan kadar SGPT serum, dilakukan uji normalitas dengan uji Shapiro wilk, dengan hasil pada semua kelompok terdistribusi normal dan dilanjutkan dengan uji ANOVA.

Tabel 5.18 Rata-Rata Pemeriksaan Kadar SGPT

Kelompok N Rata-rata ± SD p

P1 8 1826.625 ± 57.477

P2 8 2864.375 ± 44.902

P3 8 2227.250 ± 54.714 <0.001

P4 8 2360.750 ± 44.637

K commit to user 8 2599.850 ± 63.350

(15)

Pada Tabel 5.18 menunjukkan rata-rata kadar SGPT tertinggi pada kelompok kontrol, yaitu 2599.850 ± 63.350 u/l, sedangkan kelompok terendah pada P1, yaitu 1826.625 ± 57.477 u/l. Rata-rata kelompok P3 hampir sama dengan kelompok P4, masing-masing adalah 2227.250 ± 54.714 u/l dan 2360.750 ± 44.637 u/l. Hasil uji ANOVA menunjukkan nilai p<0.001, artinya ada perbedaan yang signifikan antara kelima kelompok tersebut.

Pada variabel SGPT pada serum dilakukan uji Post Hoc Tukey, untuk menilai perbedaan antara kelompok kontrol dan perlakuan.

Tabel 5.19 Hubungan antar kelompok Kadar SGPT serum

Kelompok p Keterangan

P1 – P2 P1 – P3 P1 – P4 P1 – K P2 – P3 P2 – P4 P2 – K P3 – P4 P3 – K P4 – K

<0.001

<0.001

<0.001

<0.001

<0.001

<0.001

<0.001 0.012

<0.001

<0.001

signifikan signifikan signifikan signifikan

signifikan signifikan signifikan signifikan signifikan signifikan Pada Tabel 5.19 menunjukkan perbedaan yang signifikan pada variabel kadar SGPT serum antara kelompok kontrol (K) terhadap kelompok perlakuan (P1, P2, P3 dan P4), yaitu p<0.001.

commit to user

(16)

K P1 P2 P3 P4 0

1000 2000 3000 4000 5000

Kelompok

u/l

** p < 0.001**

** p < 0.001**

** p 0.012 **

KADAR SGPT SERUM

Gambar 5.8 Rata-Rata Kadar SGPT Serum

Pada Gambar 5.8 berikut ini menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada kadar SGPT serum antara kelompok kontrol terhadap kelompok P1 dengan p<0.001, kontrol terhadap P2 dengan p<0.001, kontrol terhadap P3 dengan p<0.001, dan kontrol terhadap P4 dengan p<0.001.

2) Fungsi ginjal

Hasil uji normalitas data pada variabel kreatinin serum, menggunakan Shapiro wilk, dengan hasil bahwa data terdistribusi normal, yang akan dilanjutkan dengan uji ANOVA dan post hoc untuk menilai beda rata-rata antar kelompok.

Tabel 5.20 Rata-Rata Kadar Kreatinin Serum

Kelompok N Rata-rata ± SD p

P1 8 75.000 ± 1.851

P2 8 193.500 ± 10.184

P3 8 114.125 ± 6.937 <0.001

P4 8 136.250 ± 10.951

K 8 316.875 ± 5.986

commit to user

(17)

Pada Tabel 5.20 menunjukkan rata-rata kadar kreatinin pada kelompok P1 adalah 75.000 ± 1.851 u/l, kelompok P2 adalah1193.500

± 10.184 u/l, kelompok P3 114.125 ± 6.937 u/l, kelompok P4 adalah 136.250 ± 10.184 u/l dan kelompok K 316.875 ± 5.986 u/l dengan nilai p<0.001, artinya ada perbedaan yang signifikan antara kelima kelompok penelitian.

Pada variabel kadar kreatinin serum dilakukan uji Post Hoc Tukey, untuk menilai perbedaan antara kelompok kontrol dan perlakuan.

Tabel 5.21 Hubungan Antar Kelompok Kadar Kreatinin Serum

Kelompok p Keterangan

P1 – P2 P1 – P3 P1 – P4 P1 – K P2 – P3 P2 – P4 P2 – K P3 – P4 P3 – K P4 – K

<0.001

<0.001

<0.001

<0.001

<0.001

<0.001

<0.001

<0.001

<0.001

<0.001

signifikan signifikan signifikan signifikan signifikan signifikan signifikan signifikan

signifikan signifikan

Pada Tabel 5.21 menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada variabel kadar kreatinin serum antara kelompok kontrol (K) terhadap kelompok perlakuan (P1, P2, P3 dan P4), yaitu p<0.001.

commit to user

(18)

K P1 P2 P3 P4 0

100 200 300 400

Kelompok

u/l

** p < 0.001**

** p < 0.001**

** p < 0.001**

** p < 0.001**

KADAR KREATININ

Gambar 5.9 Rata-Rata Kadar Kreatinin Serum

Pada Gambar 5.9 menunjukkan perbedaan yang signifikan pada kadar kreatinin serum antara kelompok kontrol terhadap kelompok P1 dengan p<0.001, kontrol terhadap P2 dengan p<0.001, kontrol terhadap P3 dengan p<0.001, dan kontrol terhadap P4 dengan p<0.001.

3) Nekrosis Jaringan Paru

Pemeriksaan dalam menilai adanya nekrosis pada jaringan paru menggunakan pemeriksaan histopatologi dengan pengecatan HE.

Penilaian status inflamasi yang terjadi mengunakan skor 0 – 3, yaitu : skor 0 : negatif

skor 1 : radang ringan pada peribronkial dan jaringan intersitial paru

skor 2 : radang sedang pada peribronkial dan jaringan intersitial paru

skor 3 : radang berat pada peribronkial dan jaringan intersitial paru disertai jaringan nekrotik dan radang granulomatosa supuratif.

commit to user

(19)

Gambar 5.10 Histopatologi Jaringan Paru (perbesaran 400 x)

Keterangan : Panah berwarna kuning menunjukkan area inflamasi. Kelompok kontrol menunjukkan sel radang berat disertai jaringan nekrotik (A), kelompok P1 menunjukkan sel radang kategori sedang (B), kelompok P2 menunjukan sel radang kategori sedang skor 2 (C), kelompok P3 menunjukkan sel radang kategori sedang (D) dan kelompok P4 menunjukkan radang ringan pada peribronkial dan jaringan intersitial paru.

Tabel 5.22 Mean Rank Pemeriksaan Histopatologi Jaringan Paru

Kelompok N Mean rank 1 Mean rank 2

P1 8 23.63 22.75

P2 8 21.38 22.75

P3 8 19.25 20.50

P4 8 12.50 11.50

K 8 25.75 25.00

Pada perhitungan nilai koefisien kappa pemeriksaan histopatologi jaringan paru, didapatkan 0.86 yang artinya pembacaan hasil antara dua ahli Patologi Anatomi, mempunyai kekuatan kesepakatan yang sangat baik. Pada Tabel 5.15 menunjukkan mean rank tertinggi pada kelompok kontrol, yaitu 25.75 pada pemeriksa 1 dan 25.00 pada pemeriksa ke 2.

Hasil terendah pada kedua pemeriksa di kelompok P4, masing-masing 15.00 dan 15.50. Hasil uji Kruskal wallis antar kelompok, didapatkan pada pemeriksa 1 dengan p =0.032, dan pada pemeriksa 2 dengan p=0.009 yang artinya ada perbedaan yang signifikan pada semua kelompok penelitian. commit to user

(20)

Tabel 5.23 Skor Pemeriksaan Histopatologi Jaringan Paru Kelompok Jumlah (%) Skor Inflamasi Jaringan Paru

(n = 8) Skor 0 Skor 1 Skor 2 Skor 3 Jumlah

K 0 4 4 0 8

(0%) (50%) (50%) (0%) (100%)

P1 0 0 6 2 8

(0%) (0%) (75%) (25%) (100%)

P2 0 1 7 0 8

(0%) (12.5%) (87.5%) (0%) (100%)

P3 0 0 7 1 8

(0%) (0%) (87.5%) (12.5%) (100%)

P4 0 1 6 1 8

(0%) (12.5%) (75%) (12.5%) (100%)

Pada Tabel 5.23 menunjukkan kelompok kontrol dengan skor 1 dan 2 sebesar 50%, namun tidak didapatkan skor 3, sedangkan pada kelompok P3 didapatkan 25% dengan skor 3 dan 75% dengan skor 2. Kelompok P2 dan P3 didapatkan 87.5% dengan skor 2, sedangkan kelompok P4 75% dengan skor 2.

Hasil pemeriksaan histopatologi jaringan paru, setelah dinilai dengan skor, kemudian dilakukan hasil T-Test untuk menilai perbedaan antar kelompok kontrol dan perlakuan.

Tabel 5.24 Hubungan Antar Kelompok Histopatologi Jaringan Paru

Kelompok p Keterangan

P1 – K P2 – K P3 – K P4 – K

0.535 0.332 0.090 0.015

tidak signifikan tidak signifikan tidak signifikan

signifikan Tabel 5.24 menunjukkan hasil T Test terhadap histopatologi jaringan paru, yaitu adanya perbedaan signifikan pada kelompok kontrol dan P4 (kelompok hewan model antraks dengan pemberian EEP Gunung Lawu 200 mg/kgBB dan amoksisilin 9 mg/8 jam) dengan p=0.015, sedangkan dengan P1, P2 atau P3 tidak didapatkan adanya perbedaan yang signifikan terhadap kontrol.

commit to user

(21)

K P1 P2 P3 P4 0

1 2 3

Kelompok

** p 0.015 **

p 0.535 p 0.332

p 0.090

PEMERIKSAAN JARINGAN PARU

Gambar 5.11 Rata-Rata Gambaran Histopatologi Jaringan Paru

Pada Gambar 5.11 menunjukkan hubungan antar kelompok dinilai menggunakan uji Mann Whitney, yang didapatkan adanya perbedaan yang signifikan antara kelompok P4 (hewan model antraks dengan pemberian EEP Gunung Lawu 200 mg/kgBB dan amoksisilin 9 mg/8 jam) dengan kontrol yaitu p<0.05.

B. PEMBAHASAN

Antraks adalah salah satu penyakit zoonosis yang disebabkan oleh B. anthracis, bakteri gram positif yang berspora. Infeksi ini dapat ditularkan melalui

kontak langsung maupun tidak langsung dengan hewan atau produk hewan yang terinfeksi (Redhono, 2016). Resiko kontak ini merupakan pintu masuknya spora ke dalam tubuh manusia. Beberapa jam setelah spora masuk ke dalam tubuh, kemudian berubah menjadi bentuk vegetatif, yang mempunyai faktor virulensi melalui commit to user

(22)

produksi exotoxins dan kapsul. Faktor-faktor virulensi ini terutama oleh dua plasmid virulensi yang disebut pXO1, yang bertanggung jawab untuk bakteri exotoksin dan pXO2 yang mengkodekan untuk mesin biosintetik yang bertanggung jawab untuk produksi kapsul (Tunkel et al., 2019). Exotoxins yang terbentuk adalah PA dan dua subunit enzimatik, yaitu LF dan EF. Sub unit toksin ini akan membentuk dua toksin aktif, yaitu LT dan ET.

Setelah B. anthracis masuk ke sitoplasma harus berikatan dengan reseptor utama Tumor Endotel Marker 8 (TEM8, ANTXR1) dan gen Cappilary morfogenesis 2 (CMG2, ANTXR2). Lethal Toxin (LT) akan menghambat MAPKK sehingga menurunkan maturasi dan motilitas sel, menurunkan sitokin IL-8, IL-10, TNF-α. Lethal Toxin memacu Nalp1b dengan mencetuskan inflammasome yang akan memicu caspase-1 sehingga merubah pro IL-1b dan pro IL-18 menjadi IL-1b dan IL-18 yang akan menyebabkan kematian sel. Edema toxin melalui CAMP akan memicu PKA dan CREB hingga terjadi penurunan sitokin inflamasi. Proses inflamasi ini akan berlanjut dan menimbulkan manifestasi klinis, sesuai dengan tempat masuknya spora. Bila proses berlanjut dapat menyebabkan meningitis hingga syok septik bahkan kematian (Savransky et al., 2020).

Deteksi dan tata laksana awal sangat berpengaruh terhadap hasil akhir klinis individu yang terinfeksi antraks sehingga angka morbiditas dan mortalitas dapat turun. Pada penelitian ini berupaya dalam menurunkan angka morbiditas dengan cara pemberian propolis pada tikus yang terpapar antraks, sebagai terapi komplementer dalam upaya dalam menurunkan proses inflamasi dan stress oksidatif yang terjadi sehingga diharapkan dapat memperbaiki disfungsi pada organ hati, ginjal dan paru. Analisis dalam penelitian ini meliputi:

1. Tingkat molekuler, yaitu menilai kadar TNF-α, caspase-3, e-selectin, MDA pada serum.

2. Tingkat kimia darah, yaitu menilai SGPT dan kreatinin pada serum.

3. Tingkat jaringan, yaitu dengan menilai histopatologi paru dan metode imunohistokimia padaTNF-α dan e-selectin.

Penelitian akan dibahas dengan pendekatan ontologi, epistomologi dan aksiologi. commit to user

(23)

1. Pendekatan Berdasarkan Prinsip Ontologi

Aspek ontologi membahas tentang realitas atau kenyataan konkret secara kritis, sehingga berdasarkan prinsip tersebut, peneliti akan membahas efek yang terjadi akibat infeksi antraks pada tubuh secara menyeluruh.

Pembahasan dengan pendekatan ontologi akan dibagi menjadi efek infeksi antraks terhadap status inflamasi, stress oksidatif dan disfungsi organ. Status inflamasi dengan menganalisis TNF-α, caspase-3, e-selectin dan stress oksidatif menggunakan MDA serum sedangkan disfungsi organ menggunakan kadar SGPT pada hati, kadar kreatinin pada ginjal, serta tingkat inflamasi pada jaringan paru.

a. Efek Infeksi Antraks terhadap Respons Inflamasi 1) Kadar TNF-α pada Infeksi Antraks

Pada saat spora masuk, akan terjadi respons imun dari sel dendrit dan makrofag, yang memicu 3 repon imun yaitu keluarnya sitokin pro-inflamasi, antara lain TNF-α, IL-8, IL-6, Il-1β, yang akan mengawali proses inflamasi. Pada penelitian ini salah satu marker yang digunakan dalam menilai adanya proses inflamasi pada infeksi antraks adalah TNF-α. Berdasarkan hasil penelitian ini, terbukti adanya kadar TNF-α yang tinggi yaitu 14.247 ± 0.311 pg/ml pada tikus yang di induksi dengan spora B. anthracis pada hari ke 14, dibandingkan dengan kelompok lain. Hal ini sesuai dengan studi Pickering dan Merkel (2004) bahwa TNF-α akan meningkat mulai pada 300 menit hingga jam ke-7,5 pertama, setelah masuknya spora B. antrhacis ke dalam tubuh, yang semakin lama semakin meningkat, sedangkan menurut Ayala et al. (2014), kadar TNF-α mencapai puncak pada jam ke-6 dan menurun setelah 24 jam (Ayala et al.,2014).

Adanya peningkatan kadar TNF-α pada kelompok kontrol ini membuktikan induksi spora antraks secara SC dapat memacu produksi TNF-α pada serum. Hal ini sesuai penelitian yang menyatakan peningkatan yang signifikan kadar TNF-α pada hari ke-1 hingga hari ke-3 setelah paparan spora antraks (Loving et al., 2017). commit to user

(24)

Pada pemeriksaan TNF-α pada jaringan paru dengan IHK juga didapatkan adanya peningkatan Mean rank pada kelompok yang di induksi spora antraks saja. Hal ini membuktikan efek induksi spora b. anthracis melalui injeksi SC menyebabkan peningkatan TNF-α pada jaringan paru. Hasil ini sesuai dengan penelitian Bischof et al.

(2007) yang menggunakan induksi intradermal untuk menilai efek sistemik pada antraks. Penelitian lain menggunakan induksi melalui aerosol atau intranasal pada tikus dalam menilai infeksi antraks pada paru (Loving et al., 2007).

2) Kadar Caspase-3 pada Infeksi Antraks

Caspase-3 adalah enzim yang termasuk kelompok cysteine- aspartate protease (caspase) yang merupakan endoprotease dan berperan dalam kematian sel terprogram (Lossi, Castagna and Merighi, 2018). Hal ini penting dalam proses terjadinya apoptosis, terutama peranan caspase-9 sebagai inisiator dan caspase-3 sebagai eksekutor (Seervi and Xue, 2015). Adanya kenaikan kadar caspase-3 pada infeksi didapatkan pada penelitian McComb et al. (2010), yaitu adanya peningkatan caspase-3 pada model infeksi Lysteria monocytogenes dari 10−8 menjadi 10−2 µg/mL (McComb et al., 2010).

Berdasarkan hasil penelitian ini, terbukti kadar caspase-3 pada kelompok kontrol meningkat, yaitu 7.226 ± 0.168 ng/ml dibandingkan kelompok perlakuan. Untuk saat ini belum ada penelitian yang mengukur kadar caspase-3 pada infeksi antraks.

Peningkatan kadar caspase-3 ini menunjukkan adanya proses apoptosis, yang sesuai dengan penelitian Walters et al. (2009), bahwa peningkatan caspase-3 merupakan tanda terjadinya apoptosis.

Penelitian Popov et al. (2002) juga yang menyatakan apoptosis dapat terjadi pada infeksi antraks yang akan berakibat nekrosis pada jaringan target organ, serta penelitian Stearns-Kurosawa et al. (2006) yang menyatakan adanya proses apoptosis hingga nekrosis akan memperberat manifestasi klinis yang terjadi terutama pada paru dan commit to user

(25)

saluran cerna, sehingga bila tetap berlanjut akan menyebabkan bakteremia hingga sepsis yang bermanifestasi mulai dari batuk darah hingga perdarahan pada saluran cerna (Popov et al., 2002; Stearns- Kurosawa et al., 2006). Proses apoptosis yang terjadi dapat menyebabkan nekrosis pada jaringan, sehingga memperberat respons inflamasi yang terjadi terutama pada hati, ginjal, paru, saluran cerna, maupun faktor koagulasi, yang memicu terjadinya multi organ dysfunctions yang berlanjut menjadi multi organ failure dan syok (Popescu et al., 2019)

3) Kadar E-selectin pada Infeksi Antraks

E-selectin adalah salah satu marker yang digunakan dalam menilai kerusakan endotel. Infeksi antraks sangat berpotensi dalam merusak endotel pembuluh darah dan jaringan (Xie, Auth and Frucht, 2011). Pemberian propolis dapat menurunkan kadar e-selectin, pada kasus infeksi, sesuai dengan hasil penelitian (Franchin et al., 2018).

Berdasarkan penelitian ini terbukti kadar e-selectin pada kelompok kontrol meningkat, yaitu 34.307 ± 1.160, dibandingkan dengan kelompok perlakuan. Hal ini sesuai dengan studi Raffray, yaitu adanya peningkatan kadar e-selectin pada infeksi Leptospira sp (Raffray et al., 2017).

E-selectin tidak diekspresikan dalam kondisi awal, namun

dengan cepat diinduksi oleh sitokin inflamasi. Setelah cedera, e-selectin berikatan dengan sel endotel, yang memungkinkan

pelekatan neutrofil ke dinding pembuluh dan terjadi agregasi, sehingga akan meningkatkan inflamasi dan cedera imunitas (Liu et al., 2017). Selama proses inflamasi, e-selectin memiliki peran penting dalam mengikat PMN ke lokasi cedera. Pelepasan IL-1 dan TNF-α pada lokasi kerusakan sel menstimulasi ekspresi e-selectin dari endotel pembuluh darah. Leukosit dalam darah mengekspresikan ligand yang tepat kemudian berikatan dengan e-selectin, menyebabkan leukosit “bergerak” di sepanjang dinding dalam commit to user

(26)

pembuluh darah. Adanya disfungsi endotel pada pembuluh darah, akan mengakibatkan disfungsi endotel pada mukosa, yang menyebabkan terjadinya mikroalbuminuria. Adanya TNF-α yang tinggi dapat memacu endotel untuk mengekspresikan e-selectin yang akan mengikat leukosit PMN sehingga mensekresikan lisozym, yang merupakan proteolitik yang kuat sehingga dapat menyebabkan nekrosis sel (Purwanto, 2012). Peningkatan pelekatan neutrophil ke dinding pembuluh darah juga akan memicu tersekresinya ROS secara berlebihan, hal ini terbukti dari peningkatan kadar MDA pada kelompok antraks dibandingkan kontrol.

b. Efek Infeksi Antraks terhadap Stress Oksidatif Kadar MDA Serum pada Infeksi Antraks

Salah satu reaksi akibat adanya radikal bebas yaitu terjadinya proses peroksidasi lipid membran sel dimana akan menghasilkan senyawa MDA. Pada proses infeksi, dengan adanya agen infeksi yang masuk, dalam hal ini induksi spora antraks, yang dimulai dari reaksi innate dari sistem kekebalan tubuh (Ribot et al., 2006) Adanya ekspresi TNF-α juga dapat menimbulkan ROS (Kim et al., 2010).

Peningkatan ROS di dalam tubuh yang tinggi, dapat meningkatkan respons inflamasi yang mengakibatkan nekrosis pada jaringan (Festjens, Vanden Berghe and Vandenabeele, 2006), sehingga dengan menurunkan ROS maka dapat mencegah terjadinya nekrosis.

Berdasarkan penelitian ini terbukti kadar MDA pada kelompok dengan induksi spora antraks menjadi sangat tinggi, yaitu 9.642 ± 0.279, dibandingkan dengan kelompok perlakuan. Hasil ini sesuai dengan penelitian yang menyatakan adanya infeksi menyebabkan peningkatan pada stress oksidatif, yang dapat dinilai dengan pemeriksaan MDA serum (Agarwal et al., 2017).

commit to user

(27)

c. Efek Infeksi Antraks terhadap Disfungsi Organ 1) Fungsi Hati

Hati adalah tempat detoksikasi racun di dalam tubuh, bila terjadi infeksi, maka akan memacu peningkatan kadar SGPT (Minemura, Tajiri and Shimizu, 2014). Infeksi antraks dapat menyebabkan disfungsi pada beberapa organ terutama hati, paru, ginjal dan sistem gastrointestinal (Coggeshall et al., 2013).

Pemeriksaan fungsi hati diukur pada akhir penelitian dengan parameter kadar SGPT, setelah dilakukan induksi spora antraks melalui injeksi SC.

Berdasarkan hasil penelitian ini membuktikan rata-rata kadar SGPT pada tikus adalah 372 0.250 ± 663.350, yang menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan, dibandingkan dengan kelompok perlakuan. Saat ini belum ada penelitian yang menilai fungsi hati dengan cara induksi spora B. anthracis melalui injeksi subkutan.

Adanya gambaran histopatologi dari cedera hati yang ditandai dengan nekrosis hemoragik yang parah, kerusakan arsitektur lobulus hati, infiltrasi masif oleh sel inflamasi seperti neutrofil dan makrofag di area portal dan di jaringan hati menyebabkan nekrosis hepatoseluler dan apoptosis hepatosit hingga perdarahan multifokal luas di hati pada tikus yang di induksi LPS dari bakteri gram negatif pernah dilaporkan (Korish et al., 2012).

2) Fungsi Ginjal

Salah satu marker penurunan fungsi ginjal adalah dengan cara menilai kadar kreatinin serum (Jafar, Schmid dan Levey, 2005).

Adanya infeksi antraks dapat menyebabkan kerusakan pada ginjal karena adanya reaksi inflamasi dan terbentuknya ROS, sehingga menyebabkan disfungsi endotel yang berakibat nekrosis pada sel nefron ginjal. Hal ini dapat dinilai dengan pemeriksaan kreatinin serum. Bila berlanjut akan menyebabkan kegagalan pada organ ginjal (Nankivell, 2001). commit to user

(28)

Berdasarkan hasil penelitian ini, kelompok tikus yang di induksi dengan spora B. anthracis menunjukkan kadar kreatinin yang paling tinggi dibanding kelompok perlakuan, yaitu 316.875 ± 5.986.

Infeksi antraks menyebabkan efek sistemik berupa peningkatan kadar kreatinin serum pada hari ke 14 paska induksi. Hasil ini sesuai dengan penelitian Sweeney, efek pemberian ET yang dapat menurunkan HR dan CVP, sedangkan efek pemberian LT akan meningkatkan kadar kreatinin. Pemberian LT sendiri atau dengan ET akan meningkatkan AST, ALT dan tingkat laktat dan menurunkan pH (Sweeney et al., 2010 ).

3) Jaringan Paru

Mekanisme kerusakan sel akibat radikal bebas, diawali dengan adanya peroksidasi lipid. Pembentukan radikal bebas dapat berlangsung selama proses inflamasi oleh infeksi bakteri. Sel-sel fagosit membentuk dan membebaskan radikal oksigen untuk membunuh bakteri yang masuk, proses ini dikenal dengan respiratory burst. Namun pada infeksi yang berkepanjangan, fagosit cenderung dapat mati dan membebaskan radikal toksik tersebut yang mempengaruhi sel di sekitarnya. Aktivitas peroksidasi lipid pada antraks dapat memicu rusaknya komponen sel, termasuk lipid, protein dan DNA sehingga mengganggu metabolisme sel-sel pada paru yang pada akhirnya dapat mengakibatkan kerusakan sel (Michael et al., 2016). Pada penelitian ini analisis mikroskopis dinilai dengan system skor, yaitu skor 0 menunjukkan histopatologi normal, skor 1 adanya radang ringan, skor 2 menunjukkan radang sedang, serta skor 3 ditandai radang berat pada peribronkial dan jaringan intersitial paru disertai jaringan nekrotik dan radang granulomatosa supuratif. Hal ini hampir sama dengan analisis mikroskopis pada spesimen paru oleh Ozdulger et al. (2003) yang membagi empat tingkat, yaitu derajat 1 pada hasil histopatologi normal, derajat 2 menunjukkan hanya sedikit infiltrasi leukosit neutrofil, derajat 3 mewakili infiltrasi leukosit commit to user

(29)

neutrofil sedang, pembentukan edema perivaskular dan kerusakan parsial arsitektur paru dan derajat 4 termasuk infiltrasi neutrofilukosit padat, pembentukan abses dan kerusakan lengkap arsitektur paru.

Berdasarkan hasil pemeriksaan histopatologi jaringan alveolus dan parenkim paru, menunjukkan masing-masing 50% sampel didapatkan gambaran radang ringan hingga sedang pada peribronkial dan jaringan intersitial paru, serta Mean rank yang paling tinggi pada kelompok tikus yang di induksi dengan spora B. anthracis, yaitu 25.75. Hasil ini sesuai dengan studi Koksel et al. (2005) yaitu adanya nekrosis jaringan paru pada tikus yang dinduksi LPS bakteri gram negatif melalui intraperitoneal.

Hasil penelitian ini membuktikan bahwa spora B. anthracis yang di injeksikan secara SC dapat menyebabkan efek sistemik, dengan ditandai adanya kerusakan pada alveoli dan parenkim paru, berupa radang berat pada peribronkial dan jaringan intersitial paru.

2. Pendekatan Prinsip Epistomologi

Infeksi antraks merupakan salah satu penyakit zoonosis yang menjadi fokus perhatian dari Kementerian Kesehatan bersama dengan 14 jenis penyakit zoonosis yang lain (Kemenkes, 2017). Permasalahan yang timbul akibat dampak infeksi ini terhadap beberapa sektor, antara lain kesehatan, ekonomi dan sosial.

Upaya pencegahan yang saat ini digunakan adalah pemberian vaksin dan pemberian antibiotik bila telah muncul gejala dan tanda antraks (Savransky et al., 2020). Penelitian ini menggunakan EEP Gunung lawu sebagai upaya preventif dalam mengurangi respons stress oksidatif, disfungsi endotel, inflamasi, apoptosis yang terjadi pada infeksi antraks dan mencegah terjadinya MODs, terutama pada hati, ginjal dan paru.

commit to user

(30)

a. Pembahasan secara epistomologi dibagi menjadi :

1) Pengaruh EEP Gunung Lawu terhadap TNF-α pada Infeksi antraks

Marker inflamasi pada penelitian ini adalah dengan mengukur TNF-α pada serum dengan pemeriksaan ELISA dan jaringan alveolus serta parenkim paru menggunakan pemeriksaan IHK. Pemberian propolis ini bertujuan untuk menurunkan aktivasi NF-κB dan migrasi netrofil sehingga menurunkan produksi TNF-α (Lazarini et al., 2020).

Pada penelitian ini, kadar TNF-α serum pada kelompok yang diberikan EEP Gunung Lawu selama 7 hari sebelum dilakukan induksi spora B. anthracis mempunyai kadar rata-rata yang lebih rendah, yaitu 6.136 ± 0.205 dibandingkan dengan kelompok yang tanpa pemberian EEP Gunung lawu, yaitu 14.247 ± 0.311. Hal ini sesuai dengan studi Lazarini et al. (2020), yaitu pemberian propolis sangat efektif bila diberikan selama 7 hari dengan dosis 100 mg/kg. Pemberian EEP Gunung Lawu pada kelompok dengan antibiotik standar mempunyai rata-rata yang lebih rendah, yaitu 6.822 ± 0.246, dibandingkan dengan kelompok yang diberikan EEP Gunung lawu selama 7 hari 8.923 ± 0.315 dan kelompok yang diberikan propolis selama 14 hari yaitu 7.207

± 0.335. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Fatahinia et al. (2012) dan Lazarini et al. (2020) yaitu pemberian propolis dapat menurunkan kadar TNF-α pada kasus infeksi serta pada studi Korish et al. (2011) yaitu ada peningkatan yang signifikan dalam kadar TNF-α plasma pada tikus LPS yang tidak diobati dibandingkan dengan kelompok kontrol (530,5 ± 89,56 vs 7,18 ± 0,28 pg/mL, p = 0,000) sedangkan tikus CAPE + LPS menunjukkan penurunan yang signifikan pada kadar TNF-α (194,2 ± 29,78 pg/mL) dibandingkan dengan tikus LPS yang tidak diberi perlakuan (p≤ 0,000).

Kadar TNF-α pada kelompok yang diberikan EEP Gunung Lawu sesaat setelah induksi spora B. anthracis pada ketiga kelompok menunjukkan perbedaan yang signifikan dibandingkan dengan commit to user

(31)

kelompok tanpa diberikan EEP Gunung lawu. Hal ini sesuai dengan penelitian De Castro et al. (2013) yang menyatakan adanya penurunan kadar TNF-α yang signifikan setelah pemberian propolis pada infeksi candida selama 10 har.

Pada kelompok yang diberikan propolis selama 7 hari dan 14 hari didapatkan adanya perbedaan yang signifikan dengan p≤0.01, sehingga faktor lama pemberian EEP Gunung Lawu sesaat setelah infeksi antraks, berkontribusi dalam menurunkan kadar TNF-α serum. Hal ini sesuai dengan penelitian Shang et al. (2020), yang menyatakan terjadi penurunan TNF-α pada pemberian propolis.

Berdasarkan hasil penelitian ini, kelompok yang diberikan EEP Gunung Lawu 200 mg/kgBB selama 7 hari sebelum paparan antraks terbukti mempunyai kadar TNF-α serum yang lebih rendah dibandingkan pemberian sesaat setelah paparan spora B. anthracis dan kelompok tanpa pemberian EEP Gunung lawu. Hal ini membuktikan efek EEP Gunung lawu sebagai anti-inflamasi pada infeksi antraks.

Pada pemeriksaan IHK TNF-α pada alveolus dan parenkim paru didapatkan perbedaan yang tidak signifikan antara kelompok kontrol dan perlakuan. Hasil ini berbeda dengan TNF-α pada serum, dimana perbedaan antara kelompok kontrol dan perlakuan signifikan. Hal ini mungkin disebabkan karena pemberian induksi spora B. anthracis secara subkutan mempunyai efek langsung ke serum darah, sedangkan kadar TNF-α pada jaringan belum meningkat, sehingga hubungan antar kelompok tidak didapatkan adanya perbedaan yang signifikan.

2) Pengaruh EEP Gunung Lawu terhadap caspase-3 pada Infeksi antraks

Caspase-3 merupakan salah satu marker dalam menilai adanya apotosis, semakin tinggi kadar caspase-3 maka akan meningkatkan kejadian apoptosis, yang pada akhirnya akan menyebabkan kegagalan beberapa sistem organ (Lossi, Castagna and Merighi, 2018). commit to user

(32)

Penggunaan propolis telah lama digunakan, antara lain bahan terapi, dalam produk makanan dan kosmetik. Sifat biologis propolis telah dibuktikan sebagai anti-inflamasi, antioksidan, anti bakteri, antiprotozoa, anti jamur, antitumor, sebagai bahan pada penyembuhan luka, imunomodulator, antiproliferatif dan antikariogenik (Toreti et al., 2013; Vijay, 2013; Mohamad et al., 2015; Sforcin , 2016). Komposisi kimia propolis sangat dipengaruhi oleh jenis vegetasi yang dikunjungi lebah dan musim. Propolis umumnya terdiri dari 50-60% resin dan balsam, 30-40% lilin, 5-10% minyak esensial dan aromatik, 5% serbuk sari, dan 5% senyawa lain (Sforcin, 2016). Studi lain menunjukkan bahwa propolis berfungsi sebagai anti-inflamasi pada peradangan akut dan kronis (Vincenzo et al., 2017).

Pada kelompok yang diberikan EEP Gunung Lawu selama 7 hari sebelum induksi B. anthracis, mempunyai nilai rata-rata paling rendah yaitu 2.040 ± 0.067, dibandingkan dengan kelompok yang diberikan propolis sesaat setelah induksi. Hal ini sesuai penelitian Sonata et al., 2017, yaitu kadar caspase-3 berkurang 1,52 kali pada pemberian CAPE secara intraperitoneal sebelum terjadi iskemia ginjal.

Kelompok dengan pemberian EEP Gunung Lawu selama 14 hari yang dikombinasikan dengan antibiotik standar sesaat setelah dilakukan induksi spora B. anthracis mempunyai kadar caspase-3 yang lebih rendah yaitu 2.617±0.253, dibandingkan dengan kelompok yang hanya diberikan EEP Gunung Lawu saja selama 14 hari yaitu 3.366 ± 0.272, namun hasil ini tetap lebih rendah dibandingkan dengan kelompok yang hanya diberikan EEP Gunung Lawu selama 7 hari, yaitu 3.366 ± 0.272.

Ketiga kelompok dengan pemberian propolis pasca induksi spora mempunyai rata-rata yang lebih rendah dari kelompok kontrol, dan didapatkan perbedaan yang signifikan, dengan p<0.001. Hal ini membuktikan bahwa dengan pemberian propolis selama 7 hari, 14 hari atau kombinasi dengan antibiotik berpengaruh terhadap penurunan commit to user

(33)

kadar caspase-3 serum pada tikus yang di induksi spora B. anthracis.

Hal ini sesuai dengan beberapa studi tentang efek propolis yang diberikan dengan dosis 150 mg/KgBB, dapat terjadi penurunan caspase-3 yang signifikan (Swamy et al., 2014).

Berdasarkan hasil tersebut, pemberian EEP Gunung lawu dengan dosis 200 mg/kgBB selama 7 hari sebelum paparan antraks terbukti mempunyai efek yang lebih baik dalam menurunkan kadar caspase-3 dibandingkan bila diberikan setelah paparan, meskipun efek nya tetap dapat menurunkan kadar caspase-3 serum dibandingkan tanpa diberikan EEP Gunung Lawu . Hal ini membuktikan efek EEP Gunung Lawu sebagai anti-apoptosis pada infeksi antraks.

3) Pengaruh EEP Gunung Lawu terhadap e-selectin pada Infeksi antraks

Infeksi antraks dapat mengakibatkan disfungsi pada endotel karena efek dari LT dan ET, sehingga akan terjadi respons inflamasi pada jaringan dan dapat berakhir menjadi nekrosis, sebagai akibat MODs. Pemberian EEP diharapkan dapat menghambat kerusakan organ tersebut (Korish and Arafa, 2011).

Berdasarkan hasil penelitian ini, pada kelompok yang diberikan EEP Gunung Lawu selama 7 sebelum terjadi induksi spora B.

anthracis, didapatkan e-selectin yang paling rendah yaitu 7.646 ± 0.909, dibandingkan dengan kelompok yang diberikan EEP Gunung Lawu sesaat setelah induksi.

Pemberian EEP Gunung Lawu sesaat setelah induksi B.

anthracis selama 14 hari saja menunjukkan penurunan e-selectin paling rendah, yaitu 20.017 ± 0.500, dibandingkan dengan kelompok kombinasi EEP Gunung Lawu dengan antibiotik standar, yaitu 21.208

± 0.426, serta kelompok yang diberikan EEP Gunung Lawu selama 7 hari, yaitu 26.057 ± 0.999. Hubungan antara kelompok yang diberikan EEP Gunung Lawu sesaat setelah induksi terhadap kontrol menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan p≤0.01. commit to user

(34)

Hal ini membuktikan bahwa pemberian EEP 200 mg/kgBB sebelum paparan antraks dapat menurunkan kadar e-selectin lebih baik dibandingkan pemberian EEP Gunung Lawu sesaat setelah paparan.

Pemberian EEP Gunung Lawu menunjukan perbedaan yang signifikan dibandingkan tanpa pemberian EEP Gunung Lawu dengan p≤0.01, sehingga dengan hasil ini dapat membuktikan pemberian EEP sebelum dan setelah induksi spora B. anthracis dapat menurunkan kadar e- selectin serum dibandingkan tanpa pemberian EEP sehingga dapat mencegah terjadinya disfungsi endotel, yang merupakan penyebab disfungsi multi organ hingga nekrosis. Hal ini membuktikan efek EEP Gunung Lawu sebagai anti-disfungsi endotel pada infeksi antraks.

Pada hasil pemeriksaan dengan IHK e-selectin pada alveolus dan parenkim paru didapatkan perbedaan yang tidak signifikan antara kelompok kontrol dan perlakuan, namun ada perbedaan yang signifikan antara kelompok kontrol dan kelompok yang diberikan kombinasi EEP dan antibiotik standar selama 14 hari, sedangkan pada kelompok dengan pemberian EEP Gunung Lawu saja tidak ada perbedaan yang signifikan. Hal ini berbeda dengan hasil pemeriksaan e-selectin pada serum, yaitu ada perbedaan yang signifikan pada semua kelompok yang diberikan EEP Gunung Lawu , terutama pada kelompok yang diberikan EEP 7 hari sebelum induksi spora antraks. Ini mungkin disebabkan karena kadar e-selectin yang ada di jaringan belum meningkat pada saat terminasi, atau mungkin karena induksi spora B. anthracis dengan cara injeksi SC belum mencapai jaringan paru.

4) Pengaruh EEP Gunung Lawu terhadap MDA Serum pada Infeksi Antraks

Stres oksidatif yang terjadi pada infeksi antraks menyebabkan peningkatan ROS yang dalam penelitian ini menggunakan kadar MDA serum dalam menilai stress oksidatif. Pengujian berbasis antibodi biasanya divalidasi pada hasil MDA dengan high-performance liquid chromatography (HPLC) (Washio et al., 2015). commit to user

(35)

Berdasarkan hasil penelitian ini, menunjukkan pemberian EEP Gunung Lawu dengan dosis 200 mg/kgBB, 7 hari sebelum induksi spora B. anthracis menunjukkan efek penurunan rata-rata kadar MDA serum paling baik, yaitu 1.893 ± 0.188, dibandingkan dengan pemberian setelah induksi. Pada pemberian EEP Gunung Lawu saja sesaat setelah induksi spora B. anthracis selama 14 hari, menunjukkan efek penurunan kadar MDA serum yang lebih baik, yaitu 2.282 ± 0.133, dibandingkan dengan pemberian kombinasi EEP Gunung Lawu dengan antibiotik standar selama 14 hari, yaitu 2.717 ± 0.383, dan kelompok yang hanya diberikan EEP Gunung Lawu selama 7 hari, yaitu 5.046 ± 0.344. Hasil ini sesuai dengan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Diding et al., (2013) yang menunjukan bahwa dosis 200 mg/kgBB/hari selama 30 hari dapat menurunkan kadar MDA serum, meningkatkan kadar soluble Receptor for Advanced Glycation End Products (sRAGE), serta adanya perbaikan luka pada mencit Balb/C model kaki diabetik yang diinduksi streptozotocin. Pemberian EEP Gunung Lawu selama 14 hari memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan pemberian EEP selama 7 hari paska induksi spora B. anthracis, dengan p≤0.01. Hasil sesuai dengan studi Koksel et al.

(2005), yaitu adanya penurunan kadar MDA serum pada tikus yang dinduksi dengan LPS bakteri g negatif dengan injeksi intraperitoneal dengan pemberian CAPE (Koksel et al., 2005; Prasetyo 2013).

Berdasarkan hasil penelitian ini, membuktikan bahwa pemberian EEP Gunung Lawu sebelum terjadi paparan antraks, mempunyai efek lebih baik dibandingkan dengan pemberian sesaat setelah paparan atau tanpa pemberian EEP, dalam menurunkan kadar MDA serum pada individu yang terpapar antraks. Hasil ini membuktikan EEP Gunung Lawu sebagai antioksidan, yang sesuai dengan penelitian propolis sebagai anti-inflamasi, antibakteri, antioksidan, antijamur, antiprotozoa, antitumor dan imunomodulator (Toreti et al., 2013;

Mohamad et al., 2015; Sforcin, 2016). commit to user

(36)

Mekanisme propolis sebagai anti-inflamasi telah di teliti oleh beberapa peneliti bahwa propolis dapat mengurangi terjadinya peradangan karena adanya kandungan CAPE dan quercetin yang berperan dalam menekan aktivitas sel T serta mampu melakukan inhibisi NFkB dan stimulant IL- 2 yang memacu poliferasi kerja dari sel T itu sendiri, sedangkan quercetin bisa mempengaruhi jalur siklooksigenase. Aktivitas inflamasi telah dibuktikan oleh beberapa penelitian pada tikus bahwa efek EEP Gunung Lawu sebagai anti peradangan pada kaki tikus menunjukkan anti-inflamasi yang signifikan dan mampu menghambat inflamasi baik secara kronis maupun akut, yaitu menghambat kerja mieloperoxidase, NADPH- oxidase ornithine decarboxilase, tyrosine protein kinase, dan hyaluronidase. Flavonoids dan derivate cinnamic acid yang terdapat pada propolis mampu menginhibisi silica yang menginduksi ROS dapat sehingga menginduksi pelepasan asam arachidonat, produksi PGE2 dan pelepasan histamine. Fungsi propolis sebagai anti-inflamasi dengan cara menghambat lipooksigenase dan siklooksigenase. Adanya hambatan tersebut akan berpengaruh pada produksi leukotrin, penurunan produksi leukotrin akan mempengaruhi aktifitas fagositosis neutrofil sehingga akan menekan proses radang. Terhambatnya jalur lipooksigenase dan siklooksigenase oleh CAPE, akan mengurangi terjadinya vasodilatasi pembuluh darah dan aliran darah akan berkurang sehingga migrasi (Vijay, 2013; Washio et al., 2015). Aktivitas antibakteri propolis yang sangat bervariasi ini lebih disebabkan oleh komposisi propolis yang digunakan. Hal ini sangat dipengaruhi oleh jenis dan umur tumbuhan, iklim, dan waktu di mana propolis tersebut diperoleh (Washio et al., 2015).

Penelitian ini membuktikan adanya perbedaan yang signifikan antara kelompok yang diberikan EEP Gunung Lawu dan tanpa pemberian EEP Gunung Lawu. Pada kelompok yang diberikan EEP Gunung Lawu 7 hari sebelum induksi mempunyai penurunan nilai rata-commit to user

(37)

rata kadar TNF-α, caspase-3 dan e-selectin serum yang lebih baik dibandingkan dengan kelompok yang diberikan EEP Gunung Lawu sesaat setelah induksi spora B. anthracis. Hal ini sesuai studi yang menunjukkan bahwa propolis berfungsi sebagai anti-inflamasi pada peradangan akut dan kronis (Vincenzo et al., 2017).

5) Pengaruh EEP Gunung Lawu terhadap SGPT Serum pada Infeksi Antraks

Propolis telah digunakan dalam pengobatan tradisional dan terbukti memiliki berbagai efek, yaitu, anti-oksidatif anti-inflamasi, antimikrobial, antiprotozoal, antiparasit, antitumor, antiviral, dan hepatoprotektif (Bankova et al., 2000 ; Lotfy 2006).

Berdasarkan hasil penelitian ini pada kelompok yang diberikan EEP Gunung Lawu 7 hari sebelum induksi spora B. anthracis, menunjukan rata-rata kadar SGPT yang paling rendah, yaitu 1826.625

± 57.477. Pada kelompok yang diberikan EEP Gunung Lawu sesaat setelah induksi selama 14 hari, menunjukkan rata-rata kadar SGPT yang lebih rendah, yaitu 2227.250 ± 57.714, dibandingkan dengan kelompok yang diberikan kombinasi EEP Gunung Lawu dengan antibiotik standar, yaitu 2360.750 ± 44.637, sedangkan yang diberikan EEP Gunung Lawu selama 7 hari menunjukkan kadar SGPT paling tinggi, yaitu 2864.375 ± 44.902. Hal ini sesuai dengan penelitian pada tikus yang menerima perlakuan awal dengan CAPE menunjukkan kerusakan hati yang berkurang secara signifikan yang terlihat dengan lobulus hati utuh dan bentuk hepatosit normal dengan batas yang pasti antara nukleus dan sitoplasma, ditandai pengurangan perdarahan, peradangan dan nekrosis (Korish et al., 2012).

Penelitian ini membuktikan bahwa pemberian EEP Gunung Lawu sebelum dan sesudah induksi, menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan p≤0.01, sehingga dengan pemberian EEP Gunung Lawu dapat mencegah terjadi disfungsi hati pada antraks.

commit to user

(38)

6) Pengaruh EEP Gunung Lawu terhadap Kreatinin Serum pada Infeksi Antraks

Kadar kreatinin serum merupakan marker yang digunakan dalam menilai tingkat fungsi ginjal. Berdasarkan hasil penelitian ini, menunjukkan kelompok yang diberikan EEP Gunung Lawu 7 hari sebelum induksi spora B. anthracis, didapatkan rata-rata kadar kreatinin serum yang paling rendah, yaitu 75.000 ± 1.851. Hal ini sesuai dengan penelitian Silveira et al. (2019), yang menganalisis pemberian propolis dalam mencegah inflamasi di ginjal. Hal ini membuktikan bahwa pemberian propolis pada infeksi antraks sangat berpengaruh dalam menurunkan kadar kreatinin sehingga kegagalan fungsi ginjal dapat dicegah.

Pada kelompok yang diberikan EEP Gunung Lawu saja sesaat setelah induksi selama 14 hari, menunjukkan rata-rata kadar kreatinin serum yang lebih rendah, yaitu 114.125 ± 6.937, dibandingkan dengan kelompok yang diberikan kombinasi EEP Gunung Lawu dengan antibiotik standar, yaitu 136.250 ± 10.951, sedangkan yang diberikan EEP Gunung Lawu selama 7 hari menunjukkan kadar kreatinin serum paling tinggi, yaitu 193.500 ± 10.184. Hal ini sesuai dengan penelitian yang menggunakan CAPE 1,5 jam sebelum iskemia pada ginjal, melindungi sebagian mitokondria dari cedera yang disebabkan oleh iskemia tersebut, sehingga akan menurunkan kejadian nekrosis pada ginjal (Sonata et al., 2017).

Penelitian ini juga membuktikan bahwa pemberian EEP Gunung Lawu sebelum dan sesudah induksi, menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan p≤0.01, sehingga dengan pemberian EEP Gunung Lawu dapat mencegah terjadi disfungsi hati pada infeksi antraks.

Berdasarkan hasil penelitian ini, terbukti bahwa pemberian EEP Gunung Lawu sebagai anti-inflamasi, anti-apoptosis, antioksidan, mencegah disfungsi endotel dan dapat mencegah disfungsi organ hati, ginjal dan paru pada infeksi antraks. commit to user

(39)

7) Pengaruh EEP Gunung Lawu terhadap Jaringan paru pada Infeksi Antraks

Berdasarkan hasil penelitian ini, pada kelompok yang diberikan EEP Gunung Lawu 200 mg/ kg BB mempunyai rata-rata skor yang lebih rendah daripada kelompok kontrol. Rata-rata yang paling rendah adalah kombinasi EEP Gunung Lawu dan antibiotik standar.

Pada uji korelasi, tidak didapatkan adanya perbedaan yang signifikan antara kelompok kontrol dan perlakuan, kecuali antara kelompok kontrol dan kelompok model antraks yang diberikan EEP Gunung Lawu 200 mg/kg BB dan amoksilin 9 mg / 8 jam selama 14 hari, dengan nilai p 0.015. Hal ini mungkin disebabkan adanya efek anti-inflamasi dan antioksidan pada EEP Gunung Lawu ditambah dengan efek antibiotik, sehingga TNF-α tidak meningkat tinggi, yang menyebabkan caspase-3 tidak terbentuk dan proses apoptosis tidak terjadi. Pada sisi lain, rendahnya kadar ROS di serum menyebabkan tidak terjadinya disfungsi endotel dan pada nekrosis tidak terjadi. Hal ini berefek pada berkurangnya kerusakan jaringan paru.

8) Pengaruh EEP Gunung Lawu Pre-Induksi pada Infeksi Antraks Propolis mempunyai efek secara concentration dan time dependent. Banyak studi dilakukan dengan beberapa dosis, namun studi untuk lama pemberian belum ada. Pada Penelitian ini, EEP Gunung Lawu diberikan berdasarkan lama dan waktu pemberian EEP, yaitu diberikan pre induksi dan post induksi ( 7 hari dan 14 hari ). Pemberian EEP lebih lama diprediksi akan menghambat TNF α dan produksi ROS yang lebih besar sehingga terjadi penuruan e-selectin yang lebih besar.

Pada hasil penelitian ini didapatkan bahwa kelompok yang diberikan EEP Gunung Lawu sebelum induksi antraks memberikan efek yang lebih baik. Kelompok P1 yang selanjutnya disebut sebagai kelompok pre-induksi dan kelompok P3 yang selanjutnya disebut sebagai kelompok post-induksi. Perbandingan pemberian EEP Gunung Lawu pre-induksi dan post- induksi dapat dilihat pada tabel dibawah. commit to user

Referensi

Dokumen terkait

Peserta didik dengan kecerdasan visual-spasial yang dominan cenderung memiliki pola belajar yang lebih baik dengan melihat daripada mendengarkan. Bahkan ketika mendengarkan

Data primer diperoleh dari hasil wawancara responden dengan menggunakan kuesioner yaitu data karakteristik konsumen buah jeruk, proses keputusan pembelian konsumen buah

Contoh: prinsip desain interior dan teori warna yang pada masjid-masjid baik yang memiliki sejarah maupun masjid yang baru dibangun, tidak tercantum secara dalam syariah,

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa (1) Prestasi belajar aspek kognitif pada siswa yang diajar menggunaan metode TAI didukung kegiatan

Pada hakikatnya orang Madura telah terbiasa dengan melakukan adat istiadat dan ritual-ritual yang sudah dianggap baik oleh sekelompok orang atau golongan saja, perbuatan ini

a) Hubungan Terpaan Komunikasi Pemasaran dan Citra Merek dengan Loyalitas Pelanggan Garuda Indonesia oleh Himah Prawira Prakasa pada tahun 2012. Tipe penelitian

Latar Belakang: Beberapa penelitian telah dilakukan mengenai hubungan faktor risiko mayor hipertensi dan diabetes mellitus dengan terjadinya stroke, akan tetapi masih

Faktor paritas ( anak pertama ) mempunyai risiko untuk terjadi preeklampsia berat sebesar 4,751 kali dibandingkan wanita hamil yang kedua atau ketiga