ABSTRAK
Penelitian retrospektif membuktikan, pasien penyakit diabetes melitus umumnya kebersihan mulutnya lebih jelek dibandingkan pasien normal.
Selain itu juga pada penderita diabetes melitus banyak ditemukan bakteri actinomycetemcomitans A.
dan Porthyromonas Gingivalis yang banyak ditemukan pada lesi periodental.Studi epidemiologis mengusulkan bahwa inveksi rongga mulut khususnya radang gusi (gingivitis) dan jaringan pendukung gigi (periodontitis) merupakan faktor resiko bagi penyakit sistemik misalnya penyakit Diabetes Melitus.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pasien DM tipe 1 dan tipe 2 dengan indeks gingiva.
Jenis penelitian ini adalah penelitiaan kolerasional dengan jumlah responden sebesar 15 responden DM tipe 1 dan 15 responden dm tipe 2, cara pengambilan sampel secara cross sectional dan analisa data yang dipakai adalah chi square. Dari penelitian ini didapatkan hasil dari 15 responden (50 %) responden DM 1 terdapat 5 responden (16,7 %) mengalami gingivitis sedang dan 10 responden (33, 3%) gingivitis berat. Untuk 15 responden (50 %) responden DM 2 terdapat 1 responden (3,3 %) gingivitis ringan, 1 responden (3,3 %) gingivitis sedang dan 13 responden (43,3 %) gingivitis berat. Hasil uji chi
2 2
square (χ ) diperoleh niai χ hitung = 4,058 dengan p value 0,131 > α = 0,05 yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan tipe diabetes mellitus dengan tingkat k e p a r a h a n r a d a n g g u s i p a d a p a s i e n D M . Kesimpulannya adalah bahwa tidak ada hubungan antara tipe diabetes dengan indeks gingiva.
Kata Kunci : Diabetes Mellitus , Indeks Gingiva
ABSTRACT
Retrospective study proves, diabetes mellitus patients generally poorer oral hygiene than normal patients. In addition, in patients with diabetes mellitus are common bacteria A. actinomycetemcomitans and Porthyromonas gingivalis is found in many
epidemiological periodental.Studi propose that lesions of the oral cavity inveksi especially inflammation of the gums (gingivitis) and tooth supporting tissues (periodontitis) is a risk factor for systemic diseases eg Diabetes Mellitus. This study aims to determine the relationship of patients with DM type 1 and type 2 with the index gingival. This research is penelitiaan kolerasional the number of respondents by 15 respondents DM type 1 and type 2 dm 15 respondents, sampling method and analysis of cross sectional data used was chi square. From this study, the results of 15 respondents (50%) of respondents are DM 1 5 respondents (16.7%) had moderate gingivitis and 10 respondents (33,3%) severe gingivitis. For the 15 respondents (50%) of respondents are 1 DM 2 respondents (3.3%) mild gingivitis, one respondent (3.3%) moderate gingivitis and 13 respondents (43.3%) severe gingivitis. The results of the chi square test (χ ) was obtained niai 2
count χ = 4.058 with p value 0.131 > α = 0.05, which 2
indicates that there is no relationship of diabetes mellitus type with the index gingival in patients with DM. The conclusion is that there is no relationship between the type of diabetes to theindex gingival.
Keywords: Diabetes Mellitus , Index Gingival
DENGAN INDEKS GINGIVA DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH MUNTILAN JAWA TENGAH
1 2 3
Risma Ayu Alvionita , Suharyono , Ta’adi
1 Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
2,3Dosen Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Kemenkes Yogyakarta Jl. Kyai Mojo no. 56. Pingit, Yogyakarta
e-mail : [email protected]
Pendahuluan
Penyakit diabetes mellitus atau biasa disebut penyakit kencing manis adalah penyakit nomor dua paling berbahaya, tetapi justru menduduki peringkat satu untuk kategori paling mudah diderita orang.
Menurut survei yang dilakukan oleh WHO, Indonesia menduduki peringkat keempat terbesar dalam jumlah penderita diabetes mellitus dengan prevalensi 8,6% dari total jumlah penduduk, sedangkan urutan yang
ketiga adalah India, kedua Cina dan yang menduduki peringkat pertama adalah Amerika Serikat. Dari temuan tersebut telah membuktikan bahwa penyakit diabetes mellitus merupakan masalah kesehatan yang sangat serius .1
Data WHO pada tahun 2003 tercatat hampir 200 juta orang di dunia menderita penyakit diabetes melitus dan di perkirakan pada tahun 2025 jumlah penderita dapan mencapai sekitar 330 juta jiwa. Di Indonesia sendiri menurut data WHO pada tahun 2003 tercatat lebih dari 13 juta penderita penyakit diabetes mellitus, dari jumlah tersebut diperkirakan akan meningkat menjadi lebih dari 20 juta penderita penyakit diabetes mellitus pada tahun 2030. Jumlah kematian akibat penyakit tersebut di seluruh dunia adalah 3,2 juta orang pertahun. Itu artinya setiap menit 6 orang meninggal dunia akibat penyakit diabetes melitus .2
Penyakit diabetes mellitus secara umum terdapat dua tipe dari diabetes mellitus, yaitu : diabetes melitus tipe 1 dan diabetes mellitus tipe 2. Diabetes melitus tipe 1 juga disebut sebagai insulin-dependent diabetes mellitus, yang disebabkan oleh kekurangan sekresi insulin. diabetes mellitus tipe 2 yang disebut sebagai non-insulin-dependent diabetess mellituss (NIDDM), yang disebabkan oleh menurunnya sensitivitas dari jaringan target terhadap efek metabolisme dan insulin yang biasa di sebut sebagai resistensi insulin.
Dimana diabetes melitus tipe 2 lebih umum terjadi dari pada Diabetes Melitus tipe 1, berkisar antara 90-95 % dari semua kasus diabetes melitus .3
Penelitian retrospektif membuktikan, pasien penyakit diabetes mellitus umumnya k e b e r s i h a n m u l u t n y a l e b i h j e l e k dibandingkan pasien normal. Selain itu juga pada penderita diabetes mellitus banyak ditemukan bakteri actinomycetemcomitans A. dan Porthyromonas Gingivalis yang
banyak ditemukan pada lesi periodental.
Sehingga keadaan kesehatan gigi dan mulut mereka terganggu. Dari penjelasan diatas telah menjelaskan bahwa penyakit diabetes Mellitus mempengaruhi kesehatan gigi dan mulut. Studi epidemiologis mengusulkan bahwa inveksi rongga mulut khususnya radang gusi (gingivitis) dan jaringan pendukung gigi (periodontitis) merupakan faktor resiko bagi penyakit sistemik misalnya penyakit diabetes mellitus. Kesehatan rongga mulut ini akan semakin buruk jika penderita diabetes Mellitus tidak mengerti bagaimana penanganan hal ini . Oleh karena 4
itu, penelitian ini menunjuk pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 1 Dan Tipe 2 Dengan Gingiva Index di Rumah Sakit Umum Daerah Muntilan Jawa Tengah.
Metodologi Penelitian
Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian korelasi, dengan rancangan pengambilan data survei Cross Sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien diabetes mellitus tipe 1 dan tipe 2 yang terdapat di Rumah Sakit Umum Daerah.
Kriteria inklusi :
a. Pasien diabetes mellitus tipe 1 dan tipe 2 di Rumah Sakit Umum Daerah Muntilan Jateng.
b. Terdapat gingivitis c. Pasien rawat jalan
d. Bersedia menjadi responden
Sampel dalam peneliitian ini sejumlah 30 responden yang dibagi menjadi 15 pasien diabetes mellitus tipe 1 dan 15 pasien tipe 2 di Rumah Sakit Umum Daerah Muntilan Ja te n g . Te kn i k p e n g a mb i l a n sa mp e l dilakukan secara Quota Sampling. Penelitian ini dilakukan di RSUD Muntilan mulai bulan Maret sampai April 2014. Variabel pengaruh dalam penelitaian ini adalah pasien diabetes mellitus tipe 1 dan 2 dengan skala nominal ,
variabel terpengaruh yaitu gingiva indeks dengan skala ordinal. Variabel terkontrol dalam penelitian ini adalah pasien DM yang terdapat gingivitis, sedangkan variabel tak terkontrolnya adalah umur, jenis kelamin, Kadar Gula. Pelaksanaan penilitian ini yaitu pertama responden diberi penjelasan tentang maksud, alur dan tujuan penelitian, setelah itu pasien di minta menandatangani informed consent, setelah itu di lakukan pemeriksaan indeks gingiva dengan kriteria sebagai betikut : 0 = sehat, 1 = peradangan ringan, 2 = Peradangan ringan, 3 = Peradangan sedang, 4 = peradangan berat.
Data yang diperoleh di uji menggunakan uji kolerasi chi square untuk mengetahui hubungan anatara pasien diabetes mellitus tipe 1 dan tipe 2 dengan indeks gingiva.
Hasil Penelitian
H a s i l p e n e l i t i a n d a n p e m b a h a s a n disajikan dalam bentuk tabel tentang karakteristik responden, kadar gula, indeks gingiva antara DM tipe 1 dan tipe 2, tabulasi silang antara tipe diabetes dengan indeks gingiva dan hasil uji chi square.
1. Karakteristik Responden Berdasar-kan Usia
Distribusi frekuensi 30 responden diabetes mellitus di RSUD Muntilan Jawa Tengah berdasarkan usia adalah sebagai berikut :
2. Kadar Gula
Rata-rata kadar gula darah pada responden diabetes mellitus di RSUD Muntilan Jawa Tengah adalah sbb :
Tabel 1. Deskripsi Responden Berdasarkan Kelompok Usia pada Responden
Diabetes Melitus di RSUD Muntilan Jateng
Usia (Tahun) 21-30 31 – 40 41 – 50 51 – 60 61 – 70 71 – 80 Jumlah
Frekuensi (n) 1 2 6 15
3 3 30
Presentase (%) 3,30 6,70 30,0 50,0 10,0 10,0 100
Tabel 2. Rata-rata Kadar Gula pada Responden DM di RSUD Muntilan Jawa Tengah
Tipe Diabetes
DM 1 DM 2
Rata-rata Kadar Gula (mg/dl)
336,1 292,9
3. Tingkat Keparahan Radang Gusi (Gingivitis)
Distribusi frekuensi tingkat keparahan radang gusi (gingivitis) pada responden diabetes mellitus di RSUD Muntilan Jawa Tengah adalah sebagai berikut :
Tabel 3. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Indeks Gingiva pada Responden Diabetes Mellitus tipe 1 di RSUD Muntilan Jawa Tengah
Gingivitis Ringan Sedang Berat Total
Frekuensi 0 5 10 15
Presentase 0 33,3%
66,7%
100%
Tabel 4. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Indeks Gingiva pada Responden Diabetes Melitus Tipe 2 di RSUD Muntilan Jawa Tengah
Gingivitis Ringan Sedang Berat Total
Frekuensi 1 1 13 15
Presentase 6,7%
6,7%
86,7%
100%
Tabel 5. Tabulasi Silang Antara Tipe Diabetes Melitus dengan Indeks Gingiva di RSUD Muntilan Jawa Tengah
Tipe Diabetes
DM 1 DM 2 Total
Ringan n 0 1 1
Sedang n 5 1 6
Berat n 10 13 23
Sum
15 15 30 Gingivitis
Berdasarkan Tabel 6 hasil uji chi square
2 2
(χ ) diperoleh niai χ hitung = 4,058 dengan p value 0,131 > α = 0,05 yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan tipe diabetes mellitus dengan Indeks Gingiva pada responden diabetes mellitus di RSUD Muntilan Jawa Tengah.
2 2
Hasil uji chi square (χ ) diperoleh niai χ hitung = 4,058 dengan p value 0,131 > α = 0,05 yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara tipe diabetes mellitus dengan tingkat keparahan radang gusi pada pasien diabetes mellitus di RSUD.
Hasil penelitian ini di dukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Rachmawati (2007), yang mengungkapkan bahwa hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa frekuensi gingivitis pada penderita tipe 2 yang tidak terkontrol lebih tinggi dari pada penderita DM tipe 2 yang terkontrol.
Jenis kelamin perempuan juga lebih tinggi frekuensi gingivitisnya dari pada laki-laki, selain itu umur dan lama responden tersebut juga mempengaruhi frekuensi gingivitis.
Serta kebersihan gigi dan mulut yang jelek sangat mempengaruhi tingkat keparahan gingivitis tersebut. Dari penelitian tersebut menjelaskan bahwa banyak faktor yang menyebabkan tingkat keparahan gingivitis pada pasien DM, dan tipe DM tidak masuk di dalamnya.
Penelitian ini juga di dukung oleh Veni (2007) yang mengatakan bahwa kadar amonia dalam cairan sulkus gingiva pada pasien diabetes tidak terkontrol lebih tinggi di bandingkan dengan pasien diabetes yang
terkontrol. Kadar amonia yang terdapat dalam sulkus gingiva mempunyai hubungan yang signifikan dengan tingkat keparahan penyakit gingivitis pada pasien diabetes.
S e l a i n k e d u a p e n e l i t i a n d i a t a s , penelitian ini juga di dukung oleh Boel (2003), kadar gula yang tinggi pada p e n d e r i t a D M d a p a t m e n y e b a b k a n perubahan flora normal pada rongga mulut disertai adanya perubahan vaskular yang dapat memperlama penyembuhan inflamasi pada jaringan. Keadaan hiperglikemia dalam jangka panjang pada pasien DM diikuti pula oleh peningkatan kadar glukosa saliva dan kadar glukosa cairan sulkus gingiva.
Peningkatan kadar glukosa di rongga mulut merupakan lingkungan yang baik bagi pembentukan plak. Produk bakteri plak ini yang memppengaruhi keparahan gingivitis yang diderita pasien DM.
Kesimpulan
Berdasarkan pada hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, maka pada penelitian ini dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Diabetes Mellitus tipe 1 tidak mempunyai hubungan yang signifikan dengan Indeks Gingiva pada pasien diabetes mellitus di RSUD.
2. Diabetes Mellitus tipe 2 tidak mempunyai hubungan yang signifikan dengan Indeks Gingiva pada pasien diabetes mellitus di RSUD.
Saran
Berdasarkan pada kesimpulan diatas, maka peneliti mengajukan saran sebagai berikut :
1. Bagi Penelitian Selanjutnya
a) Bagi peneliti yang akan melakukan penelitian tentang hubungan diabetes mellitus dengan gingivitis sebaiknya 4. Hubungan antara Tipe Diabetes
Melitus dengan Gingivitis
Tabel 6. Hasil analisis statistik uji Chi Square Tipe Diabetes Mellitus dg Indeks Gingiva di RSUD Muntilan Jawa Tengah (X ) p value α2
4.058 0,131 0,05
menambah variable terkontrol lain seperti kadar gula, lama menderita DM dan kebiasaan pasien dalam hal kebersihan gigi dan mulut.
b) Responden untuk lebih di perbanyak 2. Bagi Institusi Kesehatan
Perlu dilakukan penyuluhan oleh petugas kesehatan (dokter gigi/perawat gigi) tentang bagaimana cara menjaga kebersihan gigi dan mulut pasien diabetes mellitus serta pemeriksaan gigi dan mulut secara rutin kepada penderita diabetes mellitus.
Daftar Pustaka
1. Anonim, (2005), Diabetes Mellitus masalah kesehatan yang serius. Diunduh t a n g g a l 5 N o v e m b e r 2 0 1 3 d a r i http;//www.depkes.go.id
2. Kusumawardani E. (2011). Buruknya Kesehatan Gigi dan Mulut Memicu Penyakit Diabetes. Yogyakarta: Siklus 3. Pudiastuti R.D. (2013). Penyakit –
Penyakit Mematikan. Yogyakarta: Nuha Medika
4. Widyanto F.C, S.kep., Ns, Triwibowo C, S.kep., M.Sc. (2013). Trend Disease Trend Penyakit Saat Ini. Jakarta: Trans Info Media