• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB 1 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL"

Copied!
80
0
0

Teks penuh

(1)

Sumber : BPS Kepulauan Riau

*) angka sementara **) angka sangat sementara

Tabel 1.1.

Pertumbuhan Ekonomi Sektoral dan Penggunaan (yoy) Grafik 1.1.

Struktur Perekonomian Kepulauan Riau

BAB 1

PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL

1.1. KONDISI UMUM

Optimisme pemulihan ekonomi negara-negara mitra dagang utama sedang berlangsung meskipun belum mendorong terjadinya recovery perekonomian Kepulauan Riau di triwulan II 2009. Kontraksi ekonomi diperkirakan melandai dari 0,35% pada triwulan I (angka revisi) menjadi 0,44% (y-o-y) di periode ini. Kinerja ekspor mulai memperlihatkan perbaikan meski masih mencatat pertumbuhan negatif dari 5,5% menjadi 2,15%.

Menurunnya investasi fisik secara tajam diidentifikasi sebagai penyebab dominan berlanjutnya kontraksi ekonomi di triwulan II 2009. Di sisi lain, berlangsungnya pemilu presiden cukup memberi stimulus positif terhadap perkembangan konsumsi dan sekaligus mampu menahan laju penurunan lebih lanjut.

Sementara itu aspek produksi masih ditandai oleh penurunan aktivitas industri yang diperkirakan kembali berkontraksi 2,94%, dibanding triwulan sebelumnya yang mencatat kontraksi sebesar 2,66%. Selain itu, berlanjutnya perlambatan sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan dari 6,12% menjadi 5,46% turut mempengaruhi buruknya kinerja ekonomi Kepulauan Riau di triwulan ini. Adapun sektor-sektor yang masih mencatat angka pertumbuhan positif antara lain sektor Bangunan, Pengangkutan dan Jasa-jasa.

I II III IV I* II**

KOMPONEN PENGGUNAAN

1. Konsumsi Rumah Tangga 23.04% 17.48% 18.59% 17.45% 11.42% 12.58%

2. Konsumsi Lembaga Swasta 16.74% 11.26% 11.94% 13.91% 30.78% 28.91%

3. Konsumsi Pemerintah 18.06% 13.30% 9.15% 13.01% 7.11% 8.83%

4. Pembentukan Modal Tetap Bruto 26.50% 34.38% 31.22% 25.72% 16.31% 7.60%

5. Ekspor Barang dan Jasa 7.07% 5.88% 0.60% -1.39% -5.50% -2.15%

6. Impor Barang dan Jasa 12.95% 15.59% 23.46% 19.57% 16.42% 16.77%

SEKTOR EKONOMI

1. Pertanian 8.37% 5.78% 2.18% -0.72% 0.08% -0.29%

2. Pertambangan & Penggalian -1.89% -2.99% -2.85% -3.09% -1.29% -1.04%

3. Industri Pengolahan 5.56% 6.35% 4.67% 1.78% -2.66% -2.94%

4. Listrik, Gas & Air Bersih 13.49% 12.34% 5.12% 1.65% -0.73% -0.66%

5. Bangunan 45.93% 42.58% 28.52% 24.03% 14.81% 13.65%

6. Perdagangan, Hotel & Restoran 10.52% 10.37% 8.36% 2.21% -0.87% -0.38%

7. Pengangkutan & Komunikasi 18.56% 16.34% 13.84% 9.64% 5.71% 5.40%

8. Keuangan, Persewaan & Jasa P'an 11.69% 10.69% 9.59% 7.10% 6.12% 5.46%

9. Jasa-Jasa 20.57% 17.47% 14.77% 10.36% 8.29% 9.12%

P D R B 8.63% 8.60% 6.52% 3.05% -0.35% -0.44%

2008 2009

(2)

Melandainya kontraksi ekonomi Kepulauan Riau cukup dipengaruhi oleh sinyalmen positif perkembangan ekonomi Singapura. Pemerintah Singapura mengoreksi indikator ekonomi tahun ini setelah negara itu bangkit dari resesi terburuk sejak kemerdekaannya pada tahun 1965. Kinerja industri elektronik seperti perakitan komponen computer peripherals dan data storage, industri kimia, precision engineering serta sektor konstruksi memperlihatkan perbaikan di akhir semester I tahun 2009. Kontraksi ekonomi semakin moderat dari 9,6% di triwulan I menjadi 3,7%. Laju perekonomian diproyeksi menyusut sekitar 4% - 6% di tahun 2009, lebih optimis dibanding prediksi sebelumnya yang mencapai -9%. Tanda-tanda pemulihan negara tersebut diyakini sebagai indikator membaiknya permintaan di Asia.

Kondisi tersebut turut didukung oleh penguatan nilai tukar Rupiah dibarengi dengan penurunan harga gas yang berimbas pada penurunan ongkos produksi. Selanjutnya, tren kenaikan harga minyak selama periode laporan cukup menggerakkan permintaan ekspor Kepulauan Riau.

Sumber : Bank Indonesia Batam & MTI Singapore (diolah)

*) Angka Sementara Sumber : Kurs Tengah Bank Indonesia

Grafik 1.3.

Perkembangan Kurs IDR terhadap USD dan SGD Grafik 1.2.

Pertumbuhan Ekonomi Kepri. &Singapura (y-o-y)

Sumber : Bloomberg Grafik 1.4.

Perkembangan Harga Minyak Dunia

Sumber : Bloomberg

Grafik 1.5.

Perkembangan Harga Gas Internasional

(3)

1.2. SISI PERMINTAAN

1.2.1. Konsumsi

Penguatan nilai tukar Rupiah diiringi tekanan inflasi yang terus menurun semakin memberi pengaruh terhadap peningkatan konsumsi secara keseluruhan. Pola konsumsi masyarakat yang meningkat selama masa liburan sekolah menjadi faktor dominan yang mendorong akselerasi pertumbuhan konsumsi rumah tangga di triwulan berjalan. Konsumsi rumah tangga diperkirakan tumbuh 12,58%, lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya yang meningkat 11,42% (angka revisi). Sejalan dengan tren Nasional, paket-paket stimulus pemerintah untuk mengurangi tekanan akibat krisis mulai direalisasikan di triwulan II 2009.

Pengeluaran pemerintah diperkirakan tumbuh 8,83%, relatif meningkat dibanding pertumbuhan di triwulan sebelumnya sebesar 7,11%.

Stabilitas perekonomian Nasional sepanjang semester I 2009 cukup didorong oleh adanya pemilu legislatif yang dilanjutkan dengan pemilihan presiden di awal bulan Juli.

Aktivitas kampanye partai politik memberi kontribusi yang signifikan dalam mengkompensir laju penurunan konsumsi rumah tangga dan pemerintah di awal tahun 2009. Kondisi tersebut ditunjukkan dengan pesatnya peningkatan konsumsi lembaga swasta nirlaba di periode semester I 2009.

Terus berlanjutnya tren penguatan nilai tukar Rupiah direspon dengan meningkatnya impor barang-barang kebutuhan konsumsi masyarakat. Beberapa produk konsumsi yang mengalami kenaikan permintaan antara lain daging-dagingan, ikan, udang, susu, buah- buahan dan sayur-sayuran. Impor produk daging mencatat kenaikan terbesar dari US$ 825 ribu pada bulan April 2009 menjadi US$ 1,5 juta di bulan Mei 2009. Diikuti kenaikan buah- bahan dan kacang-kacangan, dari US$ 617 ribu menjadi US$ 935 ribu.

Grafik 1.6.

Laju Pertumbuhan Konsumsi (y-o-y)

Sumber : BPS Provinsi Kepulauan Riau (diolah) Pemilu

(4)

Sementara itu daya beli masyarakat petani diperkirakan relatif menurun sejalan dengan penurunan harga-harga komoditas internasional dan berakhirnya musim panen, terlebih untuk komoditas ikan-ikanan. Berdasarkan hasil pemantauan terhadap harga-harga pedesaan di Provinsi Kepulauan Riau pada bulan April 2009, Nilai Tukar Petani (NTP) tercatat mengalami penurunan sebesar 2,92 poin dibanding bulan Maret 2009, dari 103,08 menjadi 100,06. Penyebab utama berasal dari penurunan indeks harga hasil produksi pertanian atau indeks yang diterima petani di sektor perikanan sebesar 8,05 poin, dari 130,72 menjadi 120,19.

`

Untuk konsumsi non makanan, tren peningkatan baru terjadi pada indikator penjualan semen dimana selama bulan Mei dan Juni 2009 mulai memperlihatkan pertumbuhan yang membaik. Sedangkan indikator penjualan kendaraan bermotor masih memperlihatkan tren menurun sampai dengan akhir triwulan II 2009. Bersamaan dengan itu, realisasi kredit perbankan juga belum menunjukkan pemulihan. Hal ini disebabkan hampir

Grafik 1.7.

Perkembangan Impor Barang Konsumsi

Sumber : SEKDA - BI

Grafik 1.8.

Perkembangan Impor Komoditas Konsumsi

Sumber : SEKDA - BI

Grafik 1.10.

Penjualan Semen di Kepulauan Riau

Sumber : Asosiasi Semen Indonesia Grafik 1.9.

Perkembangan Indeks Nilai Tukar Petani (NTP)

Sumber : BPS Provinsi Kepulauan Riau

(5)

40% dari total kredit konsumsi yang disalurkan perbankan di Kepualauan Riau ditujukan untuk pembelian kendaraan bermotor, dan selebihnya untuk pembiayaan KPR dan lain-lain.

1.2.2. Investasi

Iklim investasi di Kepulauan Riau khususnya kota Batam dianggap masih cukup kondusif, baik oleh investor domestik maupun asing. Status sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dalam bentuk kawasan berikat (bonded zone), selain menghemat biaya dalam bentuk insentif fiskal, juga memberi kemudahan lalu lintas bahan baku dan barang modal.

Perlakuan khusus tersebut pada 1 April 2009 ditingkatkan sebagai Free Trade Zone (FTZ) untuk wilayah Batam, Bintan dan Karimun merupakan critical factor bagi provinsi Kepulauan Riau dalam menarik investasi asing dibanding provinsi lainnya di Indonesia.

Setelah beroperasi secara efektif sampai dengan pertengahan 19 Juni 2009, investasi asing di Batam mulai menunjukkan perkembangan yang positif dimana pada masa tersebut terdapat aplikasi penanaman modal asing mencapai 11 proyek senilai US$ 6,5 juta dengan daya serap tenaga kerja diperkirakan sebanyak 375 pekerja. Selain itu terdapat dua proyek perluasan dengan nilai investasi US$ 4,9 juta dengan perkiraan penyerapan tenaga kerja sebanyak 391 pekerja. Secara keseluruhan terhitung sejak 1 Januari sampai 19 Juni 2009 telah dikeluarkan persetujuan investasi dari penanaman modal asing sebanyak 40 perusahaan dengan rencana investasi senilai US$ 30,87 juta dan target penyerapan tenaga kerja sebanyak 2.070 orang.

Namun demikian, besarnya persetujuan rencana investasi tersebut belum diikuti oleh realisasi proyek dalam bentuk pembangunan fisik. Pertumbuhan investasi Pembentukan Modal tetap Bruto (PMTB) selama triwulan II 2009 diperkirakan sebesar 7,6%, menurun dibanding di triwulan I yang mencatat pertumbuhan sebesar 16,31% (angka revisi).

Penurunan angka realisasi investasi tidak terlepas dari ketidakpastian ekonomi di negara-

Grafik 1.12.

Kredit Konsumsi Perbankan Kepri.

Sumber : Laporan Bulanan Bank Grafik 1.11.

Penjualan Kendaraan Bermotor Baru

Sumber : Dinas Pendapatan Daerah (diolah)

(6)

negara prinsipal utama seperti Singapura, AS, Jepang, dan Eropa. Kesulitan finansial yang dialami negara-negara tersebut mempengaruhi langkah ekspansi yang akan dilakukan di wilayah Kepulauan Riau, baik dalam bentuk investasi baru maupun perluasan usaha.

Melambatnya investasi PMTB di triwulan II 2009 cukup teridentifikasi dari penurunan nilai impor barang modal (capital goods) yang masuk ke wilayah kepabeanan Kepulauan Riau. Sejak awal tahun 2009, koreksi impor barang modal terus berlangsung sampai dengan bulan Mei 2009. Nilai impor selama bulan April dan Mei 2009 sebesar US$ 644 juta, turun mencapai 45% dibanding periode yang sama tahun 2008 sebesar US$ 1.171 juta.

Sementara itu pembiayaan kredit investasi perbankan pada posisi Juni 2009 masih memperlihat perlambatan. Outstanding kredit investasi tercatat sebesar Rp 2,5 triliun atau tumbuh 9,5% dibanding tahun 2008, sedangkan pada posisi triwulan I 2009 masih tumbuh 13,4%. Meski demikian, pertumbuhan kredit investasi selama periode triwulan II relatif stabil dengan kecenderungan meningkat di akhir Juni 2009. Kondisi tersebut mengindikasikan optimisme pengusaha dalam menghadapi kondisi perekonomian ke depan.

Melihat banyaknya proyek investasi yang sedang berjalan – seperti pembangunan Hotel Aston Internasional, Hotel Harmony One, Batam City Condominium, Apartemen Harris, Kantor Pemerintahan di Pulau Dompak, Water Treatment Plan (WTP) Duriangkang III oleh perusahaan air minum PT. Adhya Tirta Batam, serta lanjutnya pengerjaan proyek-proyek properti residensial – perkembangan investasi di Kepulauan Riau ke depan diproyeksi akan tumbuh sebaik kondisi di tahun 2008.

Grafik 1.13.

Perkembangan Investasi PMTB

Sumber : BPS Provinsi Kepulauan Riau (diolah)

(7)

1.2.3. Ekspor-Impor

Resesi yang dialami beberapa negara prinsipal bersamaan dengan menurunnya konsumsi secara global berdampak langsung pada buruknya kinerja ekspor Kepulauan Riau setahun terakhir. Kontraksi ekspor yang terjadi sejak triwulan IV 2008 diperkirakan masih berlanjut di triwulan II 2009 yang mengalami penurunan sebesar 2,15%, lebih optimis dibanding triwulan I yang mencatat kontraksi sebesar 5,5% (angka revisi). Membaiknya kontraksi ekspor berpotensi berlanjut di triwulan selanjutnya seiring proses recovery di negara-negara mitra dagang utama yang terus berjalan. Kondisi tersebut juga ditandai dengan berakselerasinya impor meski dalam level yang sangat terbatas.

Ditinjau dari volume perdagangan, arah pembalikan ekspor dipengaruhi oleh meningkatnya ekspor barang-barang dari besi dan baja selama bulan April dan Mei 2009.

Barang-barang besi dan baja yang diekspor pada bulan April 2009 sebanyak 20,4 juta Kg atau mengalami kenaikan 1,4% dibanding posisi April 2008. Sedangkan pada bulan Mei 2009 tercatat sebanyak 33,56% atau meningkat 31,6% dibanding tahun sebelumnya.

Grafik 1.16.

Pertumbuhan Ekspor dan Impor Kepulauan Riau (y-o-y)

Sumber : BPS Provinsi Kepulauan Riau (diolah) Periode Krisis Grafik 1.14.

Perkembangan Impor Capital Goods

Sumber : SEKDA - BI Sumber : Laporan Bulanan Bank

Grafik 1.15.

Kredit Investasi Perbankan Kepulauan Riau

(8)

Bersamaan dengan itu impor barang-barang dari besi dan baja serta bahan dasar besi dan baja juga mengalami peningkatan. Kondisi ini dapat dijadikan sebagai indikasi awal adanya optimisme pada industri logam dasar. Di samping itu penyelesaian beberapa proyek konstruksi seperti Hotel Aston Internasional, Batam City Condominium, Apartemen Harris, Water Treatment Plan (WTP) Duriangkang III oleh perusahaan air minum PT. Adhya Tirta Batam yang memiliki kapasitas layanan mencapai 500 liter per detik, serta beberapa proyek properti.

Adapun aktivitas industri elektronik dan mesin-mesin diperkirakan belum pulih sebagaimana terlihat dari tren impor dan ekspor yang relatif stagnan selama triwulan laporan.

Berdasarkan negara tujuan dan asal barang dapat diketahui bahwa pamanfaatan peluang pasar oleh industri-industri manufaktur telah dilakukan secara optimal. Hal ini terlihat dari signifikannya kenaikan ekspor ke Cina, merespon pemulihan ekonomi negara tersebut yang diperkirakan berlangsung lebih cepat dari kekhawatiran banyak pihak. Volume ekspor ke Cina pada bulan April-Mei 2009 rata-rata sebanyak 616 juta Kg, meningkat tajam

Grafik 1.17.

Perkembangan Volume Produk Ekspor Utama

Grafik 1.18.

Perkembangan Volume Produk Impor Utama

Grafik 1.20.

Volume Impor dari Negara Asal Utama Grafik 1.19.

Volume Ekspor ke Negara Tujuan Utama

Sumber : Statistik Ekonomi dan Keuangan Daerah – Bank Indonesia

(9)

dibanding rata-rata ekspor selama Januari-Maret 2009 yang tercatat sebanyak 113 juta Kg.

Peningkatan ini relatif mengkompensir penurunan ekspor ke Singapura, sebagai pangsa ekspor utama Kepulauan Riau.

Indikasi pembalikan ekspor juga terkonfirmasi dari melonjaknya volume peti kemas yang dimuat untuk tujuan internasional pada bulan Juni 2009 yang tercatat sebanyak 6.486 Teus sedangkan di bulan April dan Mei masing-masing tercatat sebesar 4.557 Teus dan 4.321 Teus. Secara keseluruhan, volume Muat kontainer tujuan internasional selama triwulan II 2009 sebanyak 15.364 Teus, sedangakan di triwulan I hanya hanya tercatat sebanyak 14.540 Teus. Selain itu, volume perdagangan dalam negeri juga menunjukkan optimisme sebagai terlihat pada tren kenaikan bongkar-muat kontainer domestik dai pelabuhan utama kota Batam.

1.3. SISI PENAWARAN

Realisasi investasi fisik di sektor industri pengolahan, konstruksi dan pengangkutan diperkirakan masih melambat merespon turunnya pertumbuhan di ketiga sektor tersebut.

Sementara itu melandainya tingkat kontraksi ekspor di triwulan ini belum berpengaruh besar terhadap perbaikan kinerja sektor industri. Adapun akselerasi di sektor jasa-jasa diperkirakan ditopang oleh aktivitas ekonomi selama masa pemilu.

1.3.1. Sektor Industri Pengolahan

Sektor industri diperkirakan masih mengalami kontraksi pertumbuhan di triwulan II 2009 sekitar 2,94%, lebih intens dibanding triwulan I 2009 yang menurun 2,66% (angka revisi). Perlambatan masih dibayangi oleh ketidakpastian global walaupun beberapa negara

Grafik 1.21.

Aktivitas Peti Kemas Domestik

Sumber : Otorita Batam, Pelabuhan FTZ Batam : Batu Ampar, Sekupang dan Kabil.

Grafik 1.22.

Aktivitas Peti Kemas Internasional

(10)

mulai merevisi target pertumbuhan secara lebih optimis. Kontribusi penurunan di triwulan ini berasal dari lesunya aktivitas di industri Alat Angkutan, Mesin dan Peralatannya, diikuti oleh industri pengolahan Kayu, serta Logam Dasar Besi dan Baja.

Nilai tambah yang dihasilkan dari industri Alat Angkutan, Mesin dan Peralatannya di triwulan II-2009 diperkirakan turun 2,13% atau sekitar Rp 53 milyar dibanding posisi yang sama tahun 2008. Sedangkan industri Kayu dan Logam Dasar (besi dan baja) masing-masing berkontraksi sebesar 11,63% dan 2,7%. Seluruh sub-sektor industri pengolahan lainnya seperti industri Makanan, Tekstil, Kertas, Pupuk, Kimia dan Semen juga masih mengalami pertumbuhan negatif di triwulan laporan.

Sektor industri pengolahan di provinsi Kepulauan Riau memiliki keterkaitan dengan beberapa sektor industri manufaktur Singapura, antara lain elektronik, mesin dan alat angkutan. Investasi Singapura mencapai 60% dari US$ 4,86 milyar kumulatif investasi asing yang masuk ke Batam sampai dengan tahun 2008, baik dalam bentuk investasi langsung (foreign direct investment) maupun joint venture. Di triwulan II 2009, Departemen Perindustrian dan Perdagangan Singapura mengestimasi terjadinya kenaikan output di sektor manufaktur, diperlihatkan dengan tingkat kontraksi yang melandai dari -24,3% (revisi) menjadi -1,5%, terutama dipengaruhi oleh peningkatan kinerja industri biomedical dan kenaikan output sektor elektronik terkait dengan inventory restocking. Namun demikian, industri farmasi, industri mesin, serta industri perkapalan dan pengerjaan lepas pantai (offshore engineering) masih akan terkoreksi lebih tajam di triwulan ini. Penurunan kinerja beberapa sektor industri manufaktur tersebut diperkirakan berpengaruh signifikan terhadap lesunya aktivitas industri pengolahan di Kepulauan Riau.

Grafik 1.23.

Pertumbuhan Sub-Sektor Industri Pengolahan Tw.I & Tw.II-2009

Sumber : BPS Kepulauan Riau, diolah Sumber : MTI Singapore - Juli 2009 *) angka sementara Grafik 1.24.

Pertumbuhan GDP Singapura, Sektor Manufaktur, Konstruksi dan Jasa (yoy)

(11)

Perkembangan volume ekspor dan impor produk utama sektor Industri Pengolahan (termasuk Kawasan Berikat) cukup mengkonfirmasi kondisi tersebut. Impor bahan baku elektronik, mesin-mesin dan perlengkapan kantor masih berjalan stagnan, sejalan dengan pola ekspornya. Di lain pihak, impor perlengkapan transportasi dan barang kimia memperlihatkan peningkatan selama bulan April dan Mei 2009, yang diperkirakan berpengaruh positif terhadap peningkatan ekspor produk-produk tersebut di triwulan selanjutnya.

Aspek pembiayaan perbankan juga memperlihatkan pola konvergen dengan penurunan output industri manufaktur. Melambatnya pertumbuhan kredit untuk sektor industri masih berlanjut di triwulan II-2009.

1.3.2. Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran

Meningkatnya konsumsi masyarakat dan pemerintah bersamaan dengan lalu lintas barang di pelabuhan yang semakin lancar berimplikasi positif dalam mendorong aktivitas

Grafik 1.26.

Perkembangan Volume Impor Utama Sektor Industri Pengolahan

Sumber : SEKDA - BI Grafik 1.25.

Perkembangan Nilai Impor Utama Sektor Industri Pengolahan

Sumber : SEKDA - BI

Grafik 1.27.

Perkembangan Kredit Sektor Industri Pengolahan

Sumber : Laporan Bulanan Bank

(12)

sektor perdagangan, baik perdagangan besar maupun eceran. Di triwulan II, penurunan output sektor Perdagangan diperkirakan lebih moderat dibanding triwulan sebelumnya, dari - 1,48% (angka revisi) menjadi -0,76%. Arah membaiknya kinerja sektor Perdagangan dikonfirmasi oleh kenaikan volume bongkar-muat kontainer di 3 pelabuhan Free Trade Zone (FTZ) kota Batam, baik domestik maupun internasional, sebagaimana telah dibahas sebelumnya.

Adapun perbaikan kinerja industri perhotelan dan restoran diperkirakan masih tertahan merespon perlambatan di sektor-sektor ekonomi lainnya. Sejak pemberlakuan regulasi bebas fiskal bersamaan dengan menurunnya daya beli domestik dan global akibat krisis finansial, aktivitas sektor hotel dan restoran terus menurun. Kondisi ini diperparah dengan merebaknya virus H1N1 di Singapura dengan penemuan mencapai 89 kasus sampai akhir Juni 2009. Pertumbuhan output industri perhotelan diperkirakan menurun dari 2,28%

menjadi 1,59% pada triwulan laporan. Sedangkan industri Restoran diproyeksi melambat dari 1,71% menjadi 1,28%.

Perkembangan di sisi pembiayaan cukup sejalan dengan prakiraan makro tersebut.

Kontraksi pertumbuhan kredit untuk kegiatan usaha perdagangan eceran pada posisi Juni 2009 melandai dibanding posisi triwulan I 2009, dari -5,29% menjadi -3,77%. Sementara pertumbuhan kredit untuk sektor hotel dan restoran terus menurun hingga berkontraksi sebesar 8,04% di triwulan laporan, sedangkan di triwulan sebelumnya masih mencatat pertumbuhan sebesar 2,53%. Permintaan atas pembiayaan sektor-sektor tersebut mulai memperlihatkan tren meningkat di bulan Juni 2009, setelah bulan Mei sebelumnya mengalami kondisi terburuk sejak provinsi Kepulauan Riau berdiri pada tahun 2002.

Belum pulihnya industri Perhotelan di Kepulauan Riau terlihat dari penurunan tingkat hunian (occupancy rate) selama tahun 2009. Tingkat hunian hotel berbintang di bulan Mei

Grafik 1.28.

Pertumbuhan PDRB Sub-sektor Perdagangan, Hotel & Restoran

Sumber : BPS Kepulauan Riau, diolah Sumber : Laporan Bulanan Bank Grafik 1.29.

Pertumbuhan Kredit Sektor Distribusi, Perdagangan Eceran, Hotel & Restoran

(13)

2009 relatif meningkat dibanding bulan sebelumnya dari 35,57% menjadi 39,22%. Namun jauh menurun dibanding tingkat hunian di bulan Mei 2008 diperkirakan sebesar 46,17%.

Kondisi ini sejalan dengan indikator jumlah kunjungan melalui bandara Hang Nadim Batam yang mulai memperlihatkan tren meningkat dalam 2 bulan terakhir. Adapun komposisi wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke wilayah Kepualuan Riau tidak banyak mengalami perubahan. Pangsa kunjungan wisman yang berasal dari Singapura kembali meningkat, dimana pada bulan Februari 2009 sebanyak 42,6%, di akhir Mei 2009 telah mencapai 55,62%. Namun secara keseluruhan, kunjungan wisman ke wilayah Kepulauan Riau di bulan Mei turun sekitar 13% dibanding tahun sebelumnya, dari 140.333 orang menjadi 121.379 orang. Berdasarkan data realisasi kunjungan wisman selama bulan April dan Mei 2009, merebaknya virus H1N1 belum berpengaruh terhadap kondisi pariwisata di Kepulauan Riau.

Tabel 1.2.

Pangsa Wisatawan Mancanegara yang Berkunjung ke Kepulauan Riau

Sumber : BPS Kepulauan Riau

Pangsa (%)

May-08 Apr-09 May-09

Singapura 55.47% 53.95% 55.62%

Malaysia 16.28% 14.93% 15.64%

Korea Selatan 6.59% 3.61% 3.11%

Jepang 2.50% 2.75% 2.77%

India 3.49% 3.04% 3.57%

Inggris 2.16% 2.62% 2.40%

China 1.52% 1.93% 1.73%

Australia 1.55% 2.23% 1.78%

Amerika Serikat 1.35% 1.38% 1.53%

Jerman 0.71% 0.91% 0.78%

Taiwan 0.61% 0.69% 0.44%

Belanda 0.43% 0.47% 0.51%

Lainnya 7.34% 11.49% 10.10%

Jumlah Wisman 140.033 118.938 121.379

Kebangsaan

Grafik 1.30.

Tingkat Hunian Hotel Berbintang (occ.rate)

Sumber : BPS Kepulauan Riau, diolah Sumber : Otorita Batam, Bandara Hang Nadim - Batam Grafik 1.31.

Volume Penumpang (Domestik & Int’l) yang Datang Melalui Bandara Hang Nadim Batam

(14)

1.3.3. Sektor Bangunan

Sektor bangunan di Kepulauan Riau diperkirakan mulai pulih memasuki akhir triwulan II 2009 sebagaimana diindikasikan oleh indikator pertumbuhan kredit sektor konstruksi dan properti yang bergerak naik di bulan Juni 2009. Pembangunan beberapa proyek konstruksi baik properti residensial, hotel, apartemen/kondominium, dan berbagai sarana publik lainnya menahan laju perlambatan sektor bangunan yang diperkirakan tumbuh 13,65% di triwulan ini. Sektor bangunan sempat mengalami masa booming sejak semester II tahun 2007 sampai dengan akhir tahun 2008 dengan tingkat pertumbuhan rata-rata di atas 30%, sebelum akhirnya terkoreksi tajam di triwulan I 2009 yang tumbuh 14,81% (angka revisi).

Penyaluran kredit konstruksi pada posisi Juni 2009 tercatat sebesar Rp 927 milyar atau naik 19,7% (yoy), jauh menurun dibanding posisi triwulan I yang masih tumbuh sebesar 33,48%. Tingkat pertumbuhan terendah diperkirakan terjadi pada bulan Mei 2009 yang hanya mencatat pertumbuhan sebesar 16%.

Optimisme juga didorong oleh meningkatnya realisasi pengadaan semen di Kepulauan Riau sepanjang periode April - Juni 2009. Konsumsi semen di bulan Juni tercatat sekitar 66 ribu ton atau meningkat 8,9% dibanding posisi yang sama tahun 2008.

Sedangkan di bulan Maret sampai dengan Mei 2009 mengalami kontraksi pertumbuhan yang cukup besar. Namun secara triwulan, konsumsi semen selama triwulan II menurun dibanding triwulan I, dari 181 ribu ton menjadi 166 ribu ton.

Berdasarkan indikator impor komoditi utama sektor bangunan dapat diketahui bahwa terdapat tren kenaikan impor produk besi, baja, kayu dan furniture. Sementara impor keramik cenderung menurun dibanding bulan-bulan sebelumnya. Berbagai indikator sektor riil tersebut mengindikasikan bahwa sebagian besar aktivitas sektor bangunan masih

Grafik 1.32.

Perkembangan Sektor Bangunan

Sumber : BPS Kepulauan Riau

Grafik 1.33.

Perkembangan Kredit Konstuksi

Sumber : Laporan Bulanan Bank

(15)

didorong oleh kegiatan konstruksi, sedangkan sektor properti diperkirakan baru berakselerasi di akhir tahun 2009.

Pertumbuhan sektor properti yang masih tertahan terkonfirmasi dari indikator pembiayaan perbankan lokal. Total kredit properti yang disalurkan Bank Umum dan BPR di Kepulauan Riau pada posisi Juni 2009 sebesar Rp 3,31 triliun atau naik 13,8%, terkoreksi dibanding posisi triwulan I tumbuh 17,6% (yoy). Perlambatan sebagian besar berasal dari menurunnya pertumbuhan kredit pemilikian rumah (KPR) tipe di atas 70 m2, dari 46% di posisi Maret menjadi 20,2% di bulan Juni 2009. Adapun penurunan KPR untuk tipe ≤70 m2 relatif kecil, dari 18% menjadi 16,2%.

Tingginya persaingan untuk rumah tipe sederhana akibat jumlah rumah bersubsidi yang dibangun telah melebihi kebutuhan (over supply) berdampak pada penurunan harga rumah yang dijual. Namun demikian penurunan harga tersebut belum direspon dengan meningkatnya permintaan KPR rumah tipe < 70 m2. Sebaliknya, rumah mewah diperkirakan mengalami kenaikan harga di triwulan II ini akibat kenaikan relatif harga bahan bangunan

Sumber : SEKDA - BI Grafik 1.35.

Perkembangan Volume Impor Utama Sektor Bangunan

Grafik 1.34.

Volume Penjualan Semen di Kepulauan Riau

Sumber : Asosiasi Semen Indonesia

Grafik 1.37.

Perkembangan KPR Type >70m2 Grafik 1.36.

Perkembangan KPR Type <70m2

Sumber : Laporan Bulanan Bank

(16)

ditambah penurunan suku bunga KPR perbankan yang masih tertahan. Kondisi tersebut diduga sebagai salah satu penyebab tajamnya koreksi pertumbuhan KPR perbankan untuk tipe > 70 m2.

1.3.4. Pertambangan dan Penggalian

Kinerja sektor Pertambangan dan Penggalian terus membaik dipengaruhi oleh meningkatnya output yang dihasilkan dari aktivitas pertambangan minyak dan gas (migas).

Kontraksi pertumbuhan semakin melandai dari -1,29% (angka revisi) pada triwulan I 2009 menjadi -1,04% di periode laporan. Sejalan dengan itu, kontraksi output yang berasal dari aktivitas pertambangan migas terus mengecil dari -2,13% menjadi -1,77%.

Peningkatan kinerja sektor pertambangan belum dipengaruhi oleh faktor fundamental, namun lebih karena tren kenaikan harga minyak dunia. Asesmen tersebut didasarkan pada realisasi lifting minyak dan gas yang cenderung stagnan selama bulan April- Juni 2009.

Sebagai penghasil minyak utama yakni sebesar 65% dari total produksi minyak Kepulauan Riau, produksi yang dihasilkan lapangan minyak Belanak berkontribusi besar terhadap nilai tambah perekonomian yang mampu dihasilkan dari sektor migas Kepulauan Riau. Hasil produksi dari blok tersebut relatif menurun di triwulan II, seiring dengan tingginya angka pencapaian produksi sampai dengan bulan Juni 2009 sebesar 97,2% dari prognosa lifting tahun 2009 yang ditetapkan sebesar 8.935 ribu barel. Sementara itu akumulasi realisasi lifting minyak di lapangan Belida dan Kerapu tercatat masih cukup rendah, masing- masing sebesar 34% dan 37%. Secara agregat, pencapaian total produksi minyak Kepulauan Riau selama semester I 2009 diperkirakan sebesar 12,1 juta barel, atau 59% dari prognosa tahun 2009 yang ditetapkan sebesar 20,51 juta barel.

Sumber : BPS Kepulauan Riau

Grafik 1.38. 

Pertumbuhan PDRB Sub‐Sektor Pertambangan   Migas & Non‐Migas, serta Penggalian 

Grafik 1.39. 

Pertumbuhan Kredit Sub‐Sektor  Pertambangan Migas, Bijih Logam & Lainnya 

Sumber : Laporan Bulanan Bank

(17)

Adapun pencapaian lifting gas Kepulauan Riau selama periode semester I tahun 2009 tergolong cukup optimal. Total produksi gas dari lapangan gas Conoco Phillips selama Januari-Juni 2009 tercatat sebesar 76 juta MMBTU atau 60,7% dari target produksi 2009.

Sedangkan pencapaian lifting gas dari lapangan gas Kakap dan Premier Oil masing-masing sekitar 43,5$ dan 60,7%. Implikasinya, total produksi gas dari wilayah Kepulauan Riau selama semester I 2009 mencapai 111 juta MMBTU, atau 58,7% dari target lifting gas untuk tahun 2009 sebesar 189 juta MMBTU.

1.3.5. Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan

Stagnasi sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan di periode ini dipengaruhi oleh turunnya kinerja industri perbankan. Pertumbuhan output diperkirakan melambat dari 6,12% (angka revisi) di triwulan I 2009 menjadi 5,46%, dimana laju pertumbuhan industri perbankan juga diproyeksi turun dari 6,83% menjadi 6,03%.

Kinerja perbankan regional Kepulauan Riau masih dibayangi oleh ketidakpastian dunia usaha yang berimplikasi pada turunnya pertumbuhan kredit dari 23,9% menjadi 16,8%. Outstanding kredit yang disalurkan per posisi Juni 2009 mencapai Rp 11,4 triliun.

Bersamaan dengan itu laju pertumbuhan dana juga menurun dari 24,8% menjadi 18,8%. Di tengah penurunan tersebut terdapat pertambahan dana dalam jumlah signifikan selama bulan Juni 2009 mencapai Rp 503 milyar, berselang berakhirnya pemilihan Legislatif menuju pemilihan umum Presiden Indonesia.

Grafik 1.40. 

Perkembangan Lifting Minyak Kepri

Sumber : ESDM – Dirjen Minyak & Gas Bumi

Grafik 1.41. 

Perkembangan Lifting Gas Kepulauan Riau 

Sumber : ESDM – Dirjen Minyak & Gas Bumi

(18)

Dampak krisis terhadap resiko perbankan terlihat mulai mereda di akhir triwulan II.

Tingkat kredit bermasalah (NPL’s) turun menjadi 2,72%, dibanding triwulan I sebesar 2,91%.

Penurunan BI Rate mulai direspon perbankan dengan meningkatkan fungsi intermediasi dalam penyaluran kredit. Imbasnya, rasio LDR meningkat hampir 2%, dari 63,9% menjadi 65,8%.

Sementara itu aktivitas di sektor jasa perusahaan semakin menurun dari -2,01%

menjadi -2,16%. Melambatnya aktivitas sektor riil berkorelasi langsung terhadap industri jasa pendukung. Kontraksi output industri jasa perusahaan tercermin dari turunnya pertumbuhan kredit sampai dengan akhir triwulan II. Laju penurunan semakin intens hingga mencapai - 7,73%.

1.3.6. Sektor Lainnya

Pertumbuhan sektor-sektor ekonomi lainnya yang dihitung dalam PDRB juga mengalami tingkat koreksi yang lebih landai dibanding periode-periode sebelumnya.

Sumber : BPS Kepulauan Riau, diolah Grafik 1.42.

Pertumbuhan PDRB Sub-Sektor Bank, LKBB, Sewa Bangunan & Jasa Perusahaan

Grafik 1.43.

Pertumbuhan Aset, DPK & Kredit Perbankan Kepulauan Riau

Grafik 1.45.

Perkembangan Kredit Sektor Jasa Dunia Usaha

Sumber : Laporan Bulanan Bank Grafik 1.44.

Perkembangan LDR & NPL Perbankan

Sumber : Laporan Bulanan Bank

Sumber : Laporan Bulanan Bank

(19)

Grafik 1.49.

Pertumbuhan Kredit Sub-sektor Tanaman Pangan, Perikanan & Peternakan

Berbagai isu terkait seperti kebijakan bebas fiskal dan wabah virus H1N1 diduga mempengaruhi mobilitas sumber daya. Imbasnya, sektor Pengangkutan dan Komunikasi tumbuh melambat dari 5,71% menjadi 5,4% di triwulan laporan. Sementara itu tren penurunan harga komoditas dan tekanan inflasi, serta berkahirnya musim panen komoditas perikanan berkorelasi negatif terhadap pendapatan masyarakat petani. Output sektor Pertanian diproyeksi turun 2,15%, lebih besar dibanding penurunan di triwulan I 2009 sebesar 1,8%.

Berbagai indikator penting yang terkait dengan asesmen tersebut antara lain jumlah kunjungan kapal di pelabuhan, ekspor komoditas pertanian, produksi dan produktivitas sektor tanaman pangan, serta pertumbuhan kredit perbankan cukup menggambarkan kondisi yang terjadi selama triwulan II 2009.

Sumber : Otorita Batam,

Pelabuhan Batu Ampar, Kabil dan Sekupang Batam Grafik 1.46.

Jumlah Kunjungan Kapal Barang (bendera Indonesia & bendera Asing)

Grafik 1.48.

Perkembangan Ekspor Komoditas Ikan, Udang dan Kepiting

Sumber : SEKDA - BI

Grafik 1.47.

Pertumbuhan Kredit Sub-sektor Pengangkutan, Biro Perjalanan & Komunikasi

Sumber : SEKDA - BI

Sumber : Laporan Bulanan Bank (BU+BPR)

(20)

Grafik 1.51.

Produktivitas Padi, Jagung & Kacang Tanah Grafik 1.50.

Produksi Padi, Jagung & Kacang Tanah

Sumber : BPS Kepulauan Riau

*Angka Tetap ; **Angka Ramalan

Sumber : BPS Kepulauan Riau

*Angka Tetap ; **Angka Ramalan

(21)

BAB 2

PERKEMBANGAN INFLASI REGIONAL

2.1 INFLASI KOTA BATAM

2.1.1. Kondisi Umum

Laju inflasi Kota Batam pada triwulan II 2009 tercatat relatif rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Krisis keuangan global juga mempengaruhi terhadap rendahnya permintaan sehingga berpengaruh pada turunnya harga di wilayah Kota Batam. Selain itu, turunnya harga komoditas dunia serta peningktan supply barang kebutuhan pokok dari wilayah pemasok juga ikut mempengaruhi rendahnya laju inflasi di Kota Batam. Sampai dengan triwulan II 2009 laju inflasi tahun kalender Kota Batam tercatat sebesar 0,21% (ytd) jauh lebih rendah dibanding periode yang sama tahun 2008 yang tercatat sebesar 5,94%

(ytd).

Melanjutkan trend triwulan-triwulan sebelumnya, laju inflasi Batam pada triwulan II 2009 juga berada di bawah laju inflasi nasional. Secara tahunan inflasi Kota Batam tercatat sebesar 2,52% (yoy) di bawah angka inflasi tahunan nasional yang tercatat sebesar 3,65%

(yoy). Turunnya harga komoditas dunia serta berakhirnya musim utara di akhir triwulan I 2009 ikut berpengaruh pada rendahnya laju inflasi di Kota Batam pada triwulan II 2009.

Grafik 2.1 – Perkembangan Laju Inflasi Tahunan Batam & Nasional

Sumber : BPS data diolah 

(22)

2.1.2. Inflasi Triwulanan

Jika pada triwulan awal 2009 Kota Batam mengalami inflasi yang relatif tinggi ecara triwulanan yaitu sebesar 0,65% (qtq) maka, pada triwulan II 2009 Kota Batam mengalami deflasi atau penurunan harga sebesar 0,43% (qtq). Penurunan harga pada triwulan laporan tersebut terutama dipengaruhi oleh penurunan harga yang terjadi di bulan April 2009 yang mengalami deflasi sebesar 0,61% (mtm). Sedangkan pada bulan Mei dan Juni 2009 Kota Batam mengalami inflasi masing-masing sebesar 0,03% (mtm) dan 0,15% (mtm).

Deflasi yang cukup tinggi di bulan April 2009 terutama dipengaruhi oleh penurunan harga yang terjadi di kelompok bahan makanan khususnya sub kelompok ikan segar.

Pengaruh musiman sangat berpengaruh pada penurunan harga yang terjadi di bulan ini.

Berakhirnya musim utara menyebabkan aktivitas pelayaran dan distribusi barang kembali lancar. Para nelayan juga dapat kembali melaut dengan hasil yang jauh lebih besar dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya.

Bertiupnya angin utara di bulan Januari dan Februari yang menyebabkan mereka tidak bisa melaut pada bulan-bulan tersebut berdampak pada peningkatan jumlah ikan di laut. Melimpahnya jumlah ikan segar di laut menyebabkan pasokan ikan untuk memenuhi kebutuhan ikan masyarakat Kota Batam terpenuhi bahkan cenderung mengalami surplus.

Kelebihan pasokan ikan segar ini mengakibatkan penurunan harga ikan baik di level distributor maupun di level konsumen. Mengingat share ikan segar khususnya dan bahan makanan pada umumnya yang cukup besar dalam pembentukan harga di Kota Batam, penurunan harga ikan segar ini berpengaruh cukup besar sehingga Kota Batam mengalami deflasi di bulan April 2009.

Tabel 2.1. Perkembangan Inflasi Triwulanan Kota Batam

KELOMPOK Triwulan I -2009 Triwulan II -2009

Inflasi Sumbangan Inflasi Sumbangan

I Bahan Makanan 1,02 0,24 -1,93 -0,46

II Makanan Jadi, Minuman, Rokok &

Tembakau 3,57 0,57 1,17 0,19

III Perumahan, Air, Listrik & Bahan Bakar 0,30 0,08 0,16 0,04

IV Sandang 5,48 0,38 -3,56 -0,25

V Kesehatan 0,34 0,02 1,38 0,06

VI Pendidikan, Rekreasi & Olahraga 0,20 0,01 0,00 0

VII Transpor, Komunikasi & Jasa Keuangan -3,36 -0,65 -0,03 -0,01

INFLASI 0.65 -0,43

Sumber : BPS (diolah)

Berdasarkan kontribusinya, pada triwulan II 2009 kelompok bahan makanan menjadi penyumbang deflasi terbesar dengan angka kontribusi sebesar 0,46% (qtq). Pada triwulan laporan kelompok ini mengalami penurunan harga sebesar 1,93% (qtq). Penurunan harga

(23)

yang terjadi di kelompok bahan makanan diikuti oleh penurunan harga kelompok sandang dengan kontribusi sebesar 0,25% (qtq) dan angka deflasi sebesar 3,56% (qtq). Sementara itu kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan masih melanjutkan trend penurunan harga sebagai akibat dampak dari penurunan BBM dengan kontribusi deflasi sebesar 0,01%

(qtq) dengan penurunan harga sebesar 0,03% (qtq).

Sementara tiga kelompok tersebut di atas mengalami penurunan harga, tiga kelompok lainnya mengalami kenaikan harga dengan kontribusi yang tidak sebesar tiga kelompok yang mengalami penurunan harga. Kelompok yang menyumbang inflasi tertinggi pada triwulan II 2009 adalah kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau dengan kontribusi inflasi sebesar 0,19% (qtq) dan angka inflasi sebesar 1,17% (qtq).

Kelompok berikutnya yang mengalami kenaikan harga adalah kelompok kesehatan dengan kontribusi inflasi sebesar 0,06% (qtq) dan angka inflasi sebesar 1,38% (qtq). Pada triwulan II 2009, kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar menyumbang kontribusi inflasi sebesar 0,04% (qtq) dengan angka inflasi sebesar 0,16% (qtq). Sementara itu, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga pada triwulan II 2009 tidak mengalami perubahan harga.

Meskipun demikian, pada triwulan berikutnya kelompok ini diperkirakan akan mengalami kenaikan harga terkait dengan dimulainya tahun ajaran baru sekolah.

2.1.3. Inflasi Berdasarkan Kelompok Barang

Secara total, Kota Batam pada triwulan II 2009 mengalami deflasi sebesar 0,43%

(qtq) berlawanan arah dengan triwulan sebelumnya yang mengalami inflasi sebesar 0,65%

(qtq). Deflasi pada triwulan laporan terutama dipengaruhi oleh deflasi yang terjadi di bulan April 2009 yang dipengaruhi oleh penurunan harga dari kelompok bahan makanan khususnya sub kelompok ikan segar. Sub kelompok ikan segar mengalami penurunan harga terkait dengan berakhirnya musim utara sehingga pasokan ikan segar mengalami peningkatan dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.

Grafik 2.2. Inflasi Kota Batam Berdasarkan Kelompok

Sumber : BPS data diolah

(24)

2.1.3.1. Bahan Makanan

Kelompok bahan makanan di Kota Batam pada triwulan II 2009 mengalami deflasi sebesar 1,93% (qtq) dengan sumbangan deflasi sebesar 0,46% (qtq). Sub kelompok yang mengalami deflasi terbesar adalah sub kelompok sayur-sayuran yang mengalami deflasi sebesar 10,01% (qtq). Deflasi sub kelompok sayur-sayuran yang terjadi pada triwulan II 2009 terutama disumbang oleh deflasi yang terjadi di bulan April 2009 sebesar 13,87% (mtm).

Berakhirnya musim utara yang menyebabkan gelombang laut kembali tenang mengakibatkan distribusi sayur-sayuran yang sebagian besar didatangkan dari luar Pulau Batam kembali lancar.

Sementara itu sub kelompok ikan segar mengalami deflasi sebesar 7,41% (qtq) yang disebabkan oleh cuaca yang mendukung untuk pelayaran pencarian ikan. Musim utara yang bertiup selama bulan Januari dan Februari menyebabkan nelayan tidak melaut pada bulan tersebut sehingga jumlah ikan yang ada di laut mengalami peningkatan yang cukup tajam.

Peningkatan supply ikan segar tersebut berdampak pada penurunan harga sub kelompok ini baik di level distributor maupun konsumen.

Selain sub kelompok sayur-sayuran dan sub kelompok ikan segar, sub kelompok bumbu-bumbuan juga mengalami penurunan harga yang cukup besar. Sub kelompok ini

Grafik 2.3. Prakiraan Kecepatan Angin & Tinggi Gelombang Laut di Indonesia

FORECAST APRIL 2009 VALID : 17-24/04/2009 00 UTC FORECAST MEI 2009 VALID : 13-20/05/2009 00 UTC

(25)

mengalami penurunan harga sebesar 5,02% (qtq). berbeda dengan sub kelompok sayur- sayuran dan sub kelompok ikan segar dimana deflasi terjadi pada bulan April 2009, sub kelompok bumbu-bumbuan secara konsisten terus mengalami penurunan harga secara konsisten selama tiga bulan. Selain faktor distribusi yang telah lancar, upaya pemerintah dalam rangka pembudidayaan tanaman pangan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Kota Batam juga ikut mempengaruhi peningkatan supply beberapa komoditas di kelompok bumbu-bumbuan. Budidaya cabai merah yang dikembangkan di Sei Temiang dengan dukungan Dinas Pertanian Kota Batam cukup berpengaruh pada penurunan harga komoditas ini sehingga ikut menurunkan pembentukan harga komoditas ini di Kota Batam.

Sementara itu sub kelompok daging pada triwulan laporan juga mengalami penurunan harga sebesar 1,54% (qtq). Penurunan harga yang terjadi pada kelompok sub kelompok daging juga diikuti oleh sub kelompok padi-padian yang mengalami deflasi sebesar 0,27% (qtq). Sebagaimana dengan tiga sub kelompok di atas, dua sub kelompok ini juga mengalami penurunan harga akibat distribusi yang mulai lancar karena cuaca yang sudah mulai kondusif untuk pelayaran.

Meskipun secara umum kelompok bahan makanan mengalami penurunan harga, namun ada beberapa sub kelompok yang mengalami penurunan harga. Sub kelompok lemak dan minyak mengalami inflasi tertinggi dengan angka inflasi sebesar 5,27% (qtq). Sub kelompok buah-buahan mengalami kenaikan harga sebesar 4,25% (qtq) yang diikuti oleh sub kelompok ikan diawetkan dengan angka inflasi sebesar 3,62% (qtq). Sementara itu sub kelompok telur dan susu mengalami inflasi sebesar 1,17% (qtq) diikuti oleh sub kelompok oleh kacang-kacangan yang mengalami inflasi sebesar 0,22% (qtq).

2.1.3.2. Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau

Kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau pada triwulan II 2009 mengalami inflasi sebesar 1,17% (qtq). Ketiga sub kelompok yang ada pada kelompok ini mengalami inflasi. Sub kelompok yang mengalami inflasi tertinggi adalah sub kelompok tembakau dan minuman beralkohol yang mengalami inflasi sebesar 2,84% (qtq). Sedangkan sub kelompok minuman tidak beralkohol mengalami inflasi sebesar 1,18% (qtq). Sementara itu, sub kelompok makanan jadi mengalami terendah dalam kelompok ini dengan angka inflasi sebesar 0,48% (qtq).

(26)

2.1.3.3. Kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar

Kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar pada triwulan laporan mengalami kenaikan harga sebesar 0,16% (qtq). Inflasi tertinggi dialami oleh sub kelompok perlengkapan rumah tangga yang mengalami inflasi sebesar 1,63% (qtq) yang diikuti sub kelompok penyelenggaraan rumah tangga dengan angka inflasi sebesar 0,93% (qtq) dan sub kelompok bahan bakar, penerangan dan air yang mengalami inflasi sebesar 0,16% (qtq).

Berbeda dengan triwulan sebelumnya, sub kelompok biaya tempat tinggal pada triwulan II 2009 mengalami deflasi sebesar 0,15% (qtq). Penurunan harga pada sub kelompok ini terjadi secara konsisten selama tiga bulan berturut-turut selama triwulan II 2009.

2.1.3.4. Kelompok Sandang

Kelompok sandang pada triwulan II 2009 mengalami deflasi sebesar 3,56% (qtq).

Penurunan harga pada kelompok ini dipengaruhi oleh penurunan harga yang terjadi pada sub kelompok barang pribadi dan sandang lain dengan angka deflasi sebesar 10,56% (qtq).

Penurunan harga harga sub kelompok ini terutama disebabkan oleh penurunan harga komoditas emas. Komoditas emas mengalami penurunan harga mengikuti penurunan harga emas internasional setelah pada triwulan sebelumnya mengalami kenaikan harga yang cukup tinggi.

Sementara itu tiga sub kelompok lain dalam kelompok ini melanjutkan tren sebelumnya tetap mengalami kenaikan harga. Sub kelompok sandang laki-laki tercatat mengalami kenaikan harga sebesar 0,29% (qtq) diikuti oleh sub kelompok sandang wanita yang mengalami kenaikan harga sebesar 0,16% (qtq). Sementara itu sub kelompok sandang anak-anak pada triwulan ini tercatat relatif stabil dan mengalami kenaikan pada bulan Mei dengan angka inflasi yang relatif rendah yaitu sebesar 0,08% (mtm). Sementara itu pada bulan April dan Juni sub kelompok ini tidak mengalami kenaikan harga sehingga secara triwulanan sub kelompok ini mengalami inflasi sebesar 0,08% (qtq).

2.1.3.5. Kelompok Kesehatan

Kelompok kesehatan pada triwulan laporan mengalami inflasi sebesar 1,38% (qtq) yang berasal dari sub kelompok perawatan jasmani dan kosmetik yang mengalami inflasi sebesar 2,29% (qtq). Sementara itu sub kelompok jasa kesehatan dan sub kelompok obat- obatan mengalami inflasi dengan angka inflasi masing-masing sebesar 0,84% (qtq) dan

(27)

0,61% (qtq). Sementara itu sub kelompok jasa perawatan jasmani pada triwulan II 2009 tidak mengalami perubahan harga.

2.1.3.6. Kelompok Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga

Kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga pada triwulan II 2009 tidak mengalami perubahan harga. Meskipun demikian kelompok ini pada triwulan III 2009 diperkirakan akan mengalami kenaikan harga yang cukup tinggi terkait dengan dibukanya tahun ajaran baru bagi sekolah maupun perguruan tinggi.

2.1.3.7. Kelompok Transportasi, Komunikasi dan Jasa Keuangan

Masih melanjutkan trend triwulan sebelumnya kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan pada triwulan II 2009 juga mengalami penurunan harga dengan angka deflasi sebesar 0,03% (qtq) yang berasal dari sub kelompok transportasi yang mengalami penurunan harga sebesar 0,06% (qtq). Penurunan harga yang dialami sub kelompok ini merupakan efek dari kebijakan pemerintah menurunkan harga BBM pada bulan Desember 2008. Berbeda dengan sub kelompok transportasi, sub kelompok komunikasi dan pengiriman pada triwulan ini justru mengalami kenaikan harga meskipun tidak terlalu besar dengan angka inflasi sebesar 0,02% (qtq). Sementara itu sub kelompok sarana penunjang transportasidan sub kelompok jasa keuangan pada triwulan II 2009 tidak mengalami perubahan harga.

2.2 INFLASI KOTA TANJUNG PINANG

2.2.1. Kondisi Umum

Searah dengan yang terjadi secara nasional maupun beberapa kota lainnya, laju inflasi Kota Tanjung Pinang pada triwulan II 2009 mengalami penurunan dibandingkan triwulan sebelumnya. Laju inflasi Kota Tanjung Pinang di triwulan II 2009 tercatat sebesar 4,13% (yoy) jauh lebih rendah dibandingkan dengan triwulan I 2009 yang tercatat sebesar 10,28% (yoy).

Melanjutkan trend triwulan sebelumnya, inflasi tahunan Kota Tanjung Pinang pada triwulan II 2009 tetap lebih tinggi dibanding angka inflasi nasional yang tercatat sebesar 3,65% (yoy).

(28)

Meskipun pada triwulan II 2009 laju inflasi Kota Tanjung Pinang relatif rendah, namun secara trend inflasi Kota Tanjung Pinang ini masih relatif tinggi. Hal ini salah satunya dipengaruhi oleh economic of scale Kota Tanjung Pinang yang masih terbatas. Sejak peralihan ibukota Provinsi Kepulauan Riau dari Kota Batam ke Kota Tanjung Pinang, banyak terjadi pergerakan penduduk dan kegiatan ekonomi dari Kota Batam ke Kota Tanjung Pinang. Oleh karena itu, terjadi peningkatan permintaan terhadap kebutuhan pokok masyarakat baik untuk konsumsi maupun sebagai bahan baku distribusi. Karena supply barang-barang kebutuhan pokok tersebut ke Kota Tanjung Pinang masih cukup terbatas, sehingga terjadi kenaikan harga yang masih cukup tinggi di Kota Tanjung Pinang.

2.2.2. Inflasi Triwulanan

Secara triwulanan, Kota Tanjung Pinang pada triwulan II 2009 tercatat mengalami deflasi sebesar 0,72% (qtq) berlawanan arah dengan triwulan I 2009 yang mengalami inflasi sebesar 0,33% (qtq). Sebagaimana yang terjadi di Kota Batam, penurunan harga pada triwulan II 2009 ini dipengaruhi oleh penurunan harga yang terjadi di kelompok bahan makanan yang mengalami deflasi sebesar 4,2% (qtq) dengan sumbangan deflasi sebesar 1,14% (qtq).

Grafik 2.4. Inflasi Kota Tanjung Pinang Berdasarkan Kelompok Barang

Sumber : BPS data diolah 

(29)

Berakhirnya musim utara yang mengakibatkan gelombang tinggi mengakibatkan distribusi barang kebutuhan masyarakat Kota Tanjung Pinang yang didatangkan dari Pulau Jawa dan Pulau Sumatera kembali lancar. Hal ini berakibat pada penurunan harga beberapa barang kebutuhan masyarakat seperti bumbu-bumbuan terutama cabai merah yang didatangkan dari Pulau Jawa.

Berakhirnya musim utara juga berdampak pada peningkatan jumlah ikan di laut karena selama musim utara yaitu pada bulan Januari dan Februari nelayan tidak bisa melaut sehingga stock ikan di laut relatif cukup banyka. Hal ini berakibat pada tingginya supply ikan segar di Kota Tanjung Pinang yang mengakibatkan penurunan harga ikan segar baik pada level distributor maupun konsumen akhir.

Tabel 2.2. Perkembangan Inflasi Triwulanan Kota Tanjung Pinang

KELOMPOK Triwulan I -2009 Triwulan II -2009

Inflasi Sumbangan Inflasi Sumbangan

I Bahan Makanan 0,48 0,1 -4,2 -1,14

II Makanan Jadi, Minuman, Rokok & Tembakau 1,73 0,38 2 0,45 III Perumahan, Air, Listrik & Bahan Bakar -0,06 -0,02 -0,07 -0,01

IV Sandang 4,66 0,26 -2,04 -0,13

V Kesehatan 0,8 0,03 2,07 0,08

VI Pendidikan, Rekreasi & Olahraga -0,17 0 0,2 0,01

VII Transpor, Komunikasi & Jasa Keuangan -2,61 -0,42 0,15 0,02

INFLASI 0,33 -0,72

Sumber : BPS (diolah)

Selain kelompok bahan makanan, kelompok sandang pada triwulan laporan juga mengalami deflasi dengan angka deflasi sebesar 2,04% (qtq) dan sumbangan deflasi sebesar 0,13% (qtq) diikuti kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar yang mengalami

Grafik 2.5. Inflasi Kota Tanjung Pinang dan Inflasi Kelompok Bahan Makanan

Sumber : BPS data diolah 

(30)

deflasi sebesar 0,07% (qtq) dengan sumbangan deflasi sebesar 0,01% (qtq). Deflasi yang dialami oleh kelompok sandang terutama dipengaruhi oleh penurunan harga emas yang mengikuti pergerakan harga emas yang sedang mengalami trend penurunan setelah pada triwulan I 2009 mengalami peningkatan harga yang cukup tinggi.

Sementara itu kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau pada triwulan II 2009 mengalami inflasi sebesar 2% (qtq) dengan sumbangan inflasi sebesar 0,45% (qtq).

Inflasi yang dialami oleh kelompok makanan jadi diikuti oleh kelompok kesehatan yang juga mengalami inflasi 2,07% (qtq) dengan sumbangan inflasi sebesar 0,08% (qtq). Sedangkan kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan pada triwulan II 2009 mengalami inflasi yang relatif rendah yaitu sebesar 0,15% (qtq) dengan sumbangan inflasi sebesar 0,02% (qtq). Kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga di Kota Tanjung Pinang pada triwulan laporan mengalami kenaikan harga sebesar 0,20% (qtq) dengan sumbangan inflasi sebesar 0,01% (qtq).

2.1.3. Inflasi Berdasarkan Kelompok Barang 2.1.3.1. Bahan Makanan

Kelompok bahan makanan di Kota Tanjung Pinang pada triwulan II 2009 mengalami deflasi sebesar 0,72% (qtq). Sebagian besar sub kelompok yang terdapat pada kelompok bahan makanan ini mengalami deflasi dua sub kelompok mengalami inflasi dan satu sub kelompok tidak mengalami perubahan harga. Dua sub kelompk yang mengalami inflasi adalah sub kelompok lemak dan minyak dan sub kelompok sayur-sayuran yang mengalami inflasi masing-masing sebesar 5% (qtq) dan 1,87% (qtq). Sementara itu sub kelompok yang tidak mengalami perubahan harga adalah sub kelompok kacang-kacangan. Sub kelompok ini secara konsisten tidak mengalami perubahan harga sejak awal tahun 2009.

Setelah pada triwulan I 2009 sub kelompok bumbu-bumbuan mengalami inflasi yang cukup tinggi bahkan terbesar di kelompok bahan makanan, sub kelompok bumbu-bumbuan pada triwulan II mengalami deflasi yang cukup tinggi yaitu sebesar 12,97% (qtq). Sementara itu sub kelompok yang memberikan kontribusi deflasi terbesar kedua adalah sub kelompok ikan segar dengan angka deflasi sebesar 12,89% (qtq). Sebagaimana telah dikemukakan di atas, cuaca yang kondusif untuk pelayaran baik untuk kepentingan distribusi barang kebutuhan pokok khususnya bumbu-bumbuan maupun untuk kepentingan nelayan mencari ikan berpengaruh besar terhadap deflasi yang terjadi pada dua sub kelompok tersebut.

Sub kelompok lain yang mengalami deflasi pada triwulan laporan adalah sub kelompok daging dengan angka deflasi sebesar 2,59% (qtq). Searah dengan sub kelompok

(31)

daging dan hasil-hasilnya, sub kelompok buah-buahan juga mengalami deflasi sebesar 1,07% (qtq) diikuti oleh sub kelompok padi-padian dengan angka deflasi sebesar 0,76%

(qtq). Sementara itu sub kelompok ikan diawetkan pada triwulan laporan juga mengalami penurunan harga sebesar 0,6% (qtq) yang diikuti oleh sub kelompok telur, susu dan hasilnya yang mengalami deflasi sebesar 0,46% (qtq).

2.1.3.2 . Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau

Kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau pada triwulan II 2009 mengalami inflasi sebesar 2% (qtq). Inflasi tertinggi dialami oleh sub kelompok makanan jadi yang mengalami inflasi sebesar 2,90% (qtq) diikuti sub kelompok minuman tidak beralkohol dengan angka inflasi sebesar 0,77% (qtq) dan sub kelompok tembakau dan minuman beralkohol mengalami inflasi sebesar 0,5% (qtq).

2.1.3.3. Kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar

Kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar pada triwulan laporan mengalami penurunan harga sebesar 0,07% (qtq) yang dipengaruhi penurunan harga pada sub kelompok biaya tempat tinggal serta sub kelompok bahan bakar, penerangan dan air dengan angka deflasi masing-masing 0,14% (qtq) dan 0,45% (qtq). Sementara itu dua sub kelompok lain dalam kelompok ini mengalami kenaikan harga yaitu sub kelompok penyelenggaraan rumah tangga dengan angka inflasi sebesar 1,02% (qtq) dan sub kelompok perlengkapan rumah tangga dengan angka inflasi sebesar 0,64% (qtq).

2.1.3.4. Kelompok Sandang

Pada triwulan II 2009 kelompok sandang mengalami deflasi paling besar dibandingkan dengan kelompok lain yaitu sebesar 2,04% (qtq). Penurunan harga yang dialami oleh kelompok sandang sangat dipengaruhi oleh penurunan harga yang dialami oleh sub kelompok barang pribadi dan sandang lain dengan angka deflasi sebesar 6,25% (qtq).

Penurunan harga yang cukup besar inggi pada sub kelompok ini dipengaruhi oleh pergerakan harga komoditas emas. Harga emas mengalami penurunan sebagai akibat penurunan harga emas internasional setelah pada triwulan sebelumnya mengalami kenaikan harga yang cukup tinggi.

Sub kelompok lain yang mengalami deflasi adalah sub kelompok sandang anak-anak yang pada triwulan laporan mengalami penurunan sebesar 0,04% (qtq). Pada triwulan II

(32)

2009 sub kelompok sandang anak-anak mengalami penurunan harga secara konsisten selama tiga bulan berturut-turut meski dengan besaran yang tidak terlalu signifikan.

Sementara itu sub kelompok sandang laki-laki dan sub kelompok sandang wanita pada triwulan I 2009 tidak mengalami kenaikan harga.

2.1.3.5. Kelompok Kesehatan

Kelompok kesehatan pada triwulan laporan mengalami inflasi sebesar 2,07% (qtq) yang berasal dari sub kelompok perawatan jasmani dan kosmetika yang mengalami inflasi sebesar 3,18% (qtq). Setelah secara konsisten tidak mengalami perubahan harga sejak bulan triwulan II 2008, sub kelompok jasa kesehatan pada triwulan II 2009 akhinya mengalami kenaikan harga dengan angka inflasi sebesar 1,25% (qtq) diikuti oleh sub kelompok obat- obatan dengan angka inflasi sebesar 1,07% (qtq). Sementara itu sub kelompok jasa perawatan jasmani pada triwulan II 2009 tidak mengalami perubahan harga.

2.1.3.6. Kelompok Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga

Kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga pada triwulan II 2009 relatif tidak mengalami perubahan harga. Kenaikan harga pada kelompok ini hanya terjadi pada bulan Mei 2009 yang dialami oleh sub kelompok rekreasi sebesar 0,89% (mtm). Melanjutkan trend triwulan sebelumya, tiga sub kelompok lainnya yaitu sub kelompok kursus-kursus, sub kelompok perlengkapan/peralatan pendidikan dan sub kelompok olahraga tidak mengalami perubahan harga. Oleh karena itu secara triwulanan kelompok pendidikan, rekreasi dan olahrga tercatat mengalami inflasi sebesar 0,2% (qtq).

2.1.3.7. Kelompok Transportasi, Komunikasi dan Jasa Keuangan

Setelah pada dua triwulan mengalami penurunan harga berturut-turut sebagai dampak kebijakan penurunan harga BBM oleh pemerintah, kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan pada triwulan II 2009 mengalami kenaikan harga sebesar 0,15% (qtq). Sub kelompok sarana penunjang transportasi mengalami kenaikan harga tertinggi dengan angka inflasi sebesar 0,56% (qtq). Sedangkan sub kelompok transportasi yang pada triwulan sebelumnya masih menunjukkan penurunan harga akibat penurunan

(33)

harga BBM, pada triwulan ini mulai menunjukkan kenaikan harga dengan angka inflasi sebesar 0,19% (qtq).

Sementara itu sub kelompok komunikasi yang pada triwulan-triwulan sebelumnya selalu mengalami kenaikan harga pada triwulan II 2009 mulai mengalami penurunan harga dengan angka deflasi sebesar 0,03% (qtq). Sedangkan kelompok jasa keuangan melanjutkan trend sejak triwulan IV 2008 secara konsisten selama sepuluh bulan berturut-turut tidak mengalami perubahan harga.

(34)

BAB 3

PERKEMBANGAN PERBANKAN REGIONAL

3.1 KONDISI UMUM

Kondisi perbankan di Provinsi Kepulauan Riau pada triwulan II 2009 menunjukkan pergerakan yang relatif stabil terhadap periode sebelumnya. Beberapa indikator-indikator perbankan, seperti total aset, Dana Pihak Ketiga (DPK) yang pada triwulan sebelumnya mengalami pertumbuhan secara triwulanan, pada triwulan laporan mengalami penurunan.

Sebaliknya, penyaluran kredit oleh perbankan yang triwulan sebelumnya mengalami penurunan pada triwulan II 2009 mengalami pertumbuhan positif.

Total asset perbankan di Provinsi Kepulauan Riau pada triwulan II 2009 tercatat sebesar Rp21,31 triliun atau mengalami penurunan sebesar Rp18,30 miliar (0,09%) dibandingkan triwulan I 2009 yang tercatat sebesar Rp21,33 miliar. Namun secara tahunan total asset perbankan di Provinsi Kepuluauan Riau pada triwulan II 2009 mengalami peningkatan Rp3,92 triliun (22,54%) dibandingkan posisi yang sama tahun 2008 yang tercatat sebesar Rp17,39 triliun.

Sementara itu, total DPK yang dihimpun oleh perbankan di Provinsi Kepulauan Riau pada triwulan II 2009 juga mengalami penurunan sebesar Rp81,87 miliar (0,47%) dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar Rp17,40 triliun sehingga menjadi Rp17,32 triliun. Namun secara tahunan DPK perbankan mengalami peningkatan sebesar Rp2,74 triliun (18,83%) dibandingkan posisi triwulan II 2008 yang tercatat sebesar Rp14,57 triliun.

Grafik. 3.1. Perkembangan Indikator Perbankan

Sumber : Bank Indonesia

(35)

Setelah pada triwulan sebelumnya penyaluran kredit yang dilakukan oleh perbankan di Provinsi Kepulauan Riau sempat mengalami sedikit penurunan, pada triwulan laporan penyaluran kredit perbankan di Provinsi Kepulauan Riau mengalami peningkatan. Hal ini menunjukkan fungsi intermediasi perbankan di Provinsi Kepulauan Riau semakin berjalan dengan baik yang juga dapat dibaca sebagai salah satu bentuk optimisme kalangan perbankan terhadap prospek ekonomi Provinsi Kepulauan Riau meskipun pada triwulan laporan masih mengalami pertumbuhan yang negatif.

Pada triwulan II 2009, penyaluran kredit di Provinsi Kepulauan Riau oleh perbankan tercatat sebesar Rp11,39 triliun atau mengalami peningkatan sebesar Rp268,67 miliar (2,42%) dibandingkan triwulan I 2009 yang tercatat sebesar Rp11,39 triliun. Sedangkan secara tahunan penyaluran kredit perbankan di Provinsi Kepulauan Riau mengalami peningkatan sebesar Rp1,63 triliun (16,80%) dibandingkan posisi yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp9,75 triliun. Akibatnya, LDR perbankan Provinsi Kepulauan Riau pada triwulan II 2009 mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya. Jika pada triwulan I 2009 LDR perbankan Provinsi Kepulauan Riau tercatat sebesar 63,91% maka pada triwulan II 2009 LDR perbankan tercatat sebesar 65,76%.

3.2. KONDISI BANK UMUM

Sebagaimana yang terjadi pada indikator perbankan secara keseluruhan, indikator industri bank umum juga menunjukkan pergerakan serupa. Total asset dan DPK bank umum pada triwulan II 2009 mengalami penurunan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.

Sementara itu penyaluran kredit oleh bank umum di wilayah kerja KBI Batam mengalami peningkatan dibandingkan dengan triwulan I 2009.

Grafik 3.2. Perkembangan Total Asset,  Kredit, DPK dan LDR Bank Umum 

Grafik 3.3. Perkembangan Kredit dan  NPL’s Bank Umum 

Sumber : Bank Indonesia

Gambar

Grafik 2.1 – Perkembangan Laju Inflasi Tahunan Batam &amp; Nasional
Tabel 2.1. Perkembangan Inflasi Triwulanan Kota Batam
Grafik 2.3. Prakiraan Kecepatan Angin &amp; Tinggi Gelombang  Laut di Indonesia
Grafik 2.4. Inflasi Kota Tanjung Pinang Berdasarkan Kelompok Barang
+7

Referensi

Dokumen terkait

oleh responden dalam wawancara karena bersifat sensitif atau ingin ditutupi karena dapat merugikan nama lembaga. Peneliti dapat menemukan hal-hal di luar persepsi

Pembuktian harus dihadiri pimpinan perusahaan atau yang menerima kuasa dari Direktur Utama/Pimpinan Perusahaan, dengan membawa surat Kuasa dari Direktur utama/Pimpinan Perusahaan,

Sistem dapat menentukan tingkat resiko atau faktor kepastian dari jenis penyakit karies berdasarkan ciri-ciri dan gejala-gejala klinis tertentu yang diberikan oleh pakar

Dominasi dan perubahan penggunaan lahan pola agroforestri pada periode 1989-2009 di DAS Balantieng, masih mampu menjaga kondisi hidrologi DAS dengan masih tingginya

Berdasarkan penelitian terkait Strategi Humas Basarnas Dalam Memberikan Edukasi Tanggap Bencana Melalui Program SAR Goes To SChool, maka dapat ditarik kesimpulan sebgai

Bahasa C++ mendukung gaya pemograman yang bertumpu dalam memanipulasi secara langsung dari hardware untuk mendapatkan tingkat efesiensi yang tinggi ditambah level yang

5) Guru mengingatkan kepada siswa agar tidak takut bertanya ketika mengalami kesulitan dalam mengerjakan. 6) Masing – masing kelompok mempersentasikan hasil diskusi di depan