BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada bagian ini peneliti memaparkan mengenai hasil penelitan dan pembahasan yang telah dianalisis setelah melakukan crawling pada online news media menggunakan Discourse Network Analysis (DNA). Paparan mengenai hasil penelitian mencakup deskripsi lokus penelitian dan paparan mengenai pembahasan mencakup analisis penelitian.
A. Deskripsi Lokus Online news media 1. Kompas.com
Parameter utama online news media yang kredibel adalah memiliki kelengkapan identitas dan berbadan hukum. Secara eksplisit profil Kompas.com terdeksripsi di website resminnya yang memiliki kantor tetap di Gedung Kompas Gramedia Unit II Lt.5 Jl. Palmerah Selatan No.22-28 Jakarta 10270, Indonesia.
Selain itu, sebagai bagian dari PT Kompas Cyber Media, Kompas.com memiliki badan hukum (Nomor TDP 09.05.1.73.37957) dengan izin usaha SIUP Nomor 00573/24.1.0/31.71-7.1001/1.824.271/2015. Pada posisi tersebut Kompas.com merupakan media arus utama yang resmi dan memiliki kredibilitas dalam menyajikan konten jurnalistiknya. Penulis kemudian melakukan pantauan pada website Kompas.com dan mendapatkan informasi sebagai berikut :
a. Kerangka Historis Kompas.com
Secara historis Kompas.com mulai mengudara pada tahun 1995 dengan nama Kompas Online. Pada saat itu, Kompas Online hanya berperan sebagai media replikasi surat kabar Harian Kompas untuk ditampilkan di internet.
Tujuannya untuk mndorong aksesisbilitas bagi pembaca yang sulit dijangkau oleh jaringan offline Harian Kompas baik di dalam maupun luar negeri.
Kemudian untuk mengoptimalisasi layanan, pada tahun 1996 Kompas Online mengganti namanya menjadi Kompas.com dan mulai berfokus pada pengembangan isi, desain, dan strategi pemasaran yang baru. Sejak saat itulah Kompas.com memulai langkahnya sebagai portal berita terpercaya di Indonesia yang dapat diakses di banyak wilayah. Sebagai upaya menciptakan adaptabilitas di era media digital yang semakin besar, pada tahun 1998 Hak cipta dan merek dagang Kompas.com diberikan kepada PT.Kompas Cyber Media, salah satu unit usaha Kompas Gramedia. Sejak saat itu, pengunjung Kompas Online hanya
commit to user
mendapatkan replika harian Kompas, tapi juga mendapatkan update perkembangan berita-berita terbaru yang terjadi sepanjang hari.
Sepuluh tahun kemudian, pada tahun 2008 Kompas.com tampil dengan perubahan penampilan yang signifikan. Mengusung ide “Reborn”, Kompas.com melakukan branding besar-besaran membawa logo, tata letak, hingga konsep baru di dalamnya. Menjadi lebih kaya, lebih segar, lebih elegan dan tentunya tetap mengedepankan unsur user-friendly dan advertiserfriendly. Sinergi ini menjadikan Kompas.com sebagai sumber informasi lengkap, yang tidak hanya menghadirkan berita dalam bentuk teks, namun juga gambar, video, hingga live streaming.
Sebagai portal berita yang mengikuti perkembangan teknologi terkini, kini selain bisa diakses melalui handphone atau dapat diunduh sebagai aplikasi gratis di smartphone. Pada tahun 2013, KOMPAS.com kembali melakukan perubahan yaitu, tampilan halaman yang lebih rapi dan bersih serta fitur baru yang lebih personal. Setiap orang memiliki preferensi dan kebutuhan berita yang berbeda.
Upaya ini menghasilkan berbagai penghargaan, salah satu yang terbaru adalah pada tahun 2019 memperoleh Superbrands Award sebagai media berita online paling terpercaya.
b. Visi dan Misi Kompas.com 1) Visi
Visi Kompas adalah menjadi institusi yang memberikan pencerahan bagi perkembangan masyarakat Indonesia yang demokratis dan bermartabat, serta menjunjung tinggi asas dan nilai kemanusiaan. Relevansi kiprahnya di industri pers “Visi Kompas” berpartisipasi membangun masyarakat Indonesia beru berdasarkan Panca Sila melalui prinsip humanisme, transcendental (persatuan dan perbedaan) dengan menghormati individu dan menciptapkan masyarakat adil dan makmur.
2) Misi
Misi Kompas adalah mengantisipasi dan merespon dinamika masyarakat secara professional, sekaligus memberi arah perubahan (Trend Setter) dengan menyediakan dan menyebarluaskan informasi terpercaya.
Kompas berperan serta ikut mencerdaskan bangsa, menjadi nomor satu dalam semua usaha diantara usaha-usaha lain yang sejenis dalam kelas yang commit to user
sama. Hal tersebut dicapai melalui etika usaha bersih dengan melakukan kerjasama dengan perusahaan-perusahaan lain.
c. Struktur Perusahaan Kompas.com
Bagan IV.1.
Tim Manajemen Kompas.com Group of Digital Management Team
Amir Sodikin, Johanes Heru Margianto – Managing Editor Laksono Hari Wiwoho, Ana Shofiana Syatiri, Caroline Sondang Andhikayani Damanik –Assistant Managing Editor
Editors : Bayu Galih Wibisono, Diamanty Meiliana, Krisiandi, Fabian Januarius Kuwado, Icha Rastika, Kristian Erdianto, Dani Prabowo, Sabrina Asril, Sandro Gatra, Egidius Patnistik, Jessi Carina, Irfan Maullana, Ambaranie Nadia Kemala Movanita, Nursita Sari, Farid Assifa, Aprillia Ika, Robertus Belarminus, Abba Gabrillin, Erlangga Djumena, Bambang Priyo Jatmiko, Sakina Rakhma Diah Setiawan, Yoga Sukmana, Hilda Hastuti, Dian Maharani, Kistyarini, Andi Muttya Keteng, Tri Susanto Setyawan, Aris Fertonny Harvenda, Agung Kurniawan, Azwar Ferdian, Aditya Maulana, Agustinus Wisnubrata, Glori Kyrious Wadrianto, Lusia Kus Anna Maryati, Bestari Kumala Dewi, Muhammad Reza Wahyudi, Reska Koko Nistanto, Oik Yusuf Araya, Gito Yudha Pratomo, Silvita Agmasari, Aloysius Gonsaga Angi Ebo, Eris Eka Jaya, Ferril Dennys Sitorus, Shierine Wangsa Wibawa, Wahyu Adityo Prodjo, Palupi Annisa Auliani, Erwin Kusuma Oloan Hutapea, Yunanto Wiji Utomo, Nibras Nada Nailufar, Ardi Priyatno Utomo, Michael Hangga Wismabrata, Gloria Setyvani Putri K., Inggried Dwi Wedhaswari, Resa Eka Ayu Sartika, Ariska Puspita Anggraini, Tri Indriawati
Director Andi Budiman
Deputy Director Dhanang Radityo
Editorial Departement Wisnu Nugroho
(Chief)
GM HR dan GA M.Trinovita
commit to user
Reporters : Ihsanuddin, Rakhmat Nur Hakim, Ardito Ramadhan, Akhdi Martin Pratama, Rosiana Haryanti, Ira Gita Natalia Sembiring, Setyo Adi Nugroho, Stanly Ravel Pattiwaelapia, Nabilla Tashandra, Dian Reinis Kumampung, Wahyunanda Kusuma Pertiwi, Josephus Primus, Alsadadrudi, Mela Arnani, Luthfia Ayu Azanella, Retia Katika Dewi, Akbar Bhayu Tamtomo
Multimedia & Social Media : Roderick Adrian Mozes, Heribertus Kristianto Purnomo, Dino Oktaviano Sami Putra, Ari Prasetyo, Garry Andrew Lotulung, Andreas Lukas, Lulu Cinantya, Sherly Puspita, Pamela Djajasaputra
Administrative & Secretary : Adinda Dwi Putri, Ira Fauziah
Content Marketing : Alia Deviani, Fikria Hidayat, Sri Noviyanti, Mikhael Gewati, Sheila Respati, Anggara Wikan Prasetya, Hisnudita Hagiworo, Alek Kurniawan, Anissa Dea Widiarini, Aditya Mulyawan
Sumber : (Olahan Data dari Kompas.com) d. Mekanisme Jurnalistik
Metodologi Verifikasi
Dengan tagline Jernih Melihat Dunia, Kompas.com ingin memosisikan diri sebagai media yang selalu menyajikan informasi dalam perspektif yang obyektif, utuh, independen, tidak bias oleh berbagai kepetingan politik, ekonomi, dan kekuasaan. Karena itu, Kompas.com tidak hanya menyajikan informasi terkini dalam bentuk berita hardnews yang update mengikuti nature- nya media online, tapi juga berita utuh dalam berbagai perspektif untuk menjelaskan duduknya perkara sebuah persoalan yang kerap simpang siur.
Reportase utuh kami sajikan dalam berbagai bentuk, mulai dari hardnews, softnews/feature, wrap-up berbagai isu yang disajikan tiap pagi, liputan khusus yang memberikan kelengkapan update informasi tiap saat, hingga liputan mendalam berupa long-form. Laporan mendalam atau indepth kami sajikan dalam bentuk multimedia story telling yang dikenal sebagai Visual Interaktif Kompas (VIK).
Media online dituntut menyajikan berita secara cepat. Namun, bagi Kompas.com kecepatan bukan segalanya. "Get it first, but first get it right"
adalah adagium jurnalistik lama yang masih kami pegang teguh. Di era digital dan media sosial saat ini, ketika kebenaran sulit ditemukan di antara lautan informasi, menemukan kebenaran menjadi sangat relevan. Kompas.com tidak
commit to user
ingin menjadi bagian dari kegaduhan (noise) di media sosial. Kompas.com berupaya memberi jawaban atas kegaduhan-kegaduhan itu (voice).Tim media sosial memberikan hasil social media listening tersebut kepada tim redaksi yang kemudian dipakai untuk bahan mentah untuk diolah di dapur Newsroom.
Redaksi tak langsung menelan mentah-mentah apa yang dibicarakan di media sosial. Ada tiga hal yang menjadi perhatian dalam proses verifikasi:
observasi lapangan, narasumber, dan data. Observasi lapangan adalah prioritas pertama yang kami lakukan untuk mendapatkan fakta orisinal. Semua informasi awal yang kami dapatkan, termasuk informasi dari media sosial, kami cek langsung ke lapangan. Berikutnya, kami mendalami fakta tersebut dengan mencari narasumber yang dapat dipercaya. Setiap wartawan Kompas.com memastikan narasumber yang dikutip adalah sumber pertama yang berada saat peristiwa terjadi. Informasi dari sumber kedua dan ketiga diperlakukan dengan sikap skeptis.
Selanjutnya, semua informasi dari narasumber wajib dicek dan cek ulang ke pihak-pihak yang terkait dengan topik yang dibahas. Kredibilitas narasumber menyangkut latar belakang, rekam jejak, dan kredibilitasnya juga menjadi perhatian utama demi mendapatkan pandangan yang obyektif dari mereka.
Untuk melindungi privasi, Kompas.com tidak memublikasikan atau memberi link informasi pribadi nasarumber, seperti nomor telepon dan alamat email.
Pembaca yang membutuhkan, bisa meminta kepada redaksi Kompas.com dan akan diberikan atas persetujuan narasumber terlebih dahulu. Untuk lembaga atau wakil lembaga, Kompas.com menyertakan sumber resmi lembaga sebagai pemberi informasi (misal berupa link siaran pers atau link ke sebuah data) di dalam tubuh berita sebagaimana diatur dalam kode etik jurnalistik.Untuk data, Kompas.com memastikan data yang diperoleh berasal dari sumber resmi yang kredibel, apakah lembaga pemerintah atau lembaga internasional. Data yang ditampilkan menyebutkan sumber data maupun tautan (link) sumber tersebut.
Kompas.com juga didukung lembaga riset mandiri yaitu Pusat Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Kompas yang selama puluhan tahun teruji dengan data yang obyektif, valid, dan independen.
Fact-checker Kompas.com
Sejak berita-berita hoaks marak, Kompas.com secara reguler menjadi bagian dari media massa yang berusaha memverifikasi dan memvalidasi setiap
commit to user
berita hoaks atau fakta yang beredar di masyarakat. Kerja jurnalistik Kompas.com secara otomatis menempatkan diri sebagai fact-checker dari setiap simpang-siur berita yang ada. Namun, upaya secara reguler untuk mulai mengikuti berbagai isu yang bergulir di masyarakat maupun di media sosial, dilakukan sejak tahun 2016, dengan pembuatan Topik Pilihan di Kompas.com yaitu "Hoaks atau Fakta?" Dalam upaya memperluas mitra untuk verifikasi dan validasi setiap isu, Kompas.com bekerja sama dengan TurnBackHoax.id (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia - MAFINDO).
Melalui Kompas.com, pembaca juga bisa melaporkan jika menemukan keraguan apakah berita yang mereka terima hoaks atau bukan, melalui link Laporkan Hoaks yang terhubung ke TurnBackHoax.id. Untuk beberapa berita yang berhasil diverifikasn Kompas.com, redaksi memberi kesimpulan dengan 3 hal, yaitu Fakta (jika berita tersebut benar), Hoaks (jika berita tersebut tidak benar), dan Sesat (jika berita tersebut mengandung kebenaran namun disimpangkan oleh penyebar berita). Berkat konsistensinya, Kompas.com menjadi salah satu dari 49 lembaga di seluruh dunia yang mendapatkan sertifikasi dari jaringan internasional penguji fakta (IFCN - International Fact- Checking Network). IFCN resmi memasukkan Kompas.com sebagai jejaring lembaga penguji internasional. Pencapaian ini kian memacu Kompas.com untuk terus memberikan sajian berita akurat, lengkap dan tepercaya.
Pendanaan Kompas.com
PT Kompas Cyber Media merupakan perusahaan media online yang seluruhnya dimiliki oleh grup Kompas Gramedia. Grup Kompas Gramedia didirikan oleh Jakob Oetama dan PK Ojong. Pengeluaran Kompas.com adalah untuk biaya karyawan di divisi editorial, bisnis, dan support functions, biaya event, biaya maintenance server dan pengembangan teknologi di bawah PT Kompas Cyber Media. Sebagai perusahaan media online yang bertujuan untuk menegakkan kebenaran, integritas & transparansi menjadi komitmen kami.
Untuk itu, maka seluruh catatan keuangan kami terbuka, untuk diakses oleh publik dalam hal ini pengeluaran tim Fact-checker Kompas.com bisa lihat di sini
Pengeluaran Kompas.com seluruhnya didanai oleh pendapatan dari bisnis advertising, event production, dan content marketing. Sebagai media online yang mewarisi jurnalisme presisi dan jurnalisme makna yang diusung Jakob
commit to user
Oetama, Kompas.com mengedepankan akurasi dan independensi dalam setiap artikelnya. Kompas.com tak terkait dengan partai politik, non-partisan, menghargai perbedaan dan keragaman, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Kompas.com melarang setiap karyawan terlibat dalam kegiatan politik sebagaimana diatur dalam Pasal 12 Peraturan Perusahaan PT Kompas Cyber Media, yang berbunyi demikian:
1) Setiap karyawan dilarang melakukan kegiatan politik di lingkungan Perusahaan maupun di luar lingkungan Perusahaan pada jam dan atau waktu kerja atau di luar jam dan atau waktu kerja dengan menggunakan fasilitas dan atau aset dan atau nama Perusahaan yang dapat merugikan Perusahaan.
2) Kegiatan yang dilarang, antara lain:
- Melakukan propaganda politik baik lisan maupun tertulis;
- Menggunakan dan atau menempelkan dan atau menyebarluaskan segala atribut partai, antara lain: jaket, pakaian, bendera, pin, pamflet, selebaran, tanda gambar, slogan ataupun tanda/bentuk lain yang terkait dengan kegiatan politik;
- Memberikan dukungan kepada suatu kegiatan politik dengan menggunakan atau memanfaatkan fasilitas dan atau aset milik Perusahaan, antara lain: kendaraan dinas, telepon, facsimile, amplop, kertas surat, logo, komputer, dan atau jaringannya
(Sumber : https://inside.kompas.com/about-us diakses 25 Maret 2021 Jam 16:01 WIB)
e. Alamat Kompas.com PT. Kompas Cyber Media
Gedung Kompas Gramedia, Unit II Lt. 5
Jl. Palmerah Selatan No. 22 – 28 Jakarta 10270, Indonesia.
Telp : 62-21 53699200 / 5350377 Fax : 62-21 5360678
Redaksi:
[email protected] [email protected] Iklan:
[email protected] www.kompas.com
commit to user
(Sumber : https://inside.kompas.com/about-us diakses 18 Maret 2021 Jam 11:01 WIB)
2. Okezone.com
Secara eksplisit profil Okezone.com terdeksripsi di website resminnya yang memiliki kantor tetap di SINDO Building, 8th floor. Jln. KH.Wahid Hasyim No.
38, Jakarta Pusat 10350. Selain itu, sebagai bagian dari PT Media Nusantara Citra Tbk, Okezone.com memiliki badan hukum (Nomor C-15092.HT.01.01.TH2000).
Pada posisi tersebut Okezone.com merupakan media arus utama yang resmi dan memiliki kredibilitas dalam menyajikan konten jurnalistiknya. Penulis kemudian melakukan pantauan pada website Okezone.com dan mendapatkan informasi sebagai berikut :
a. Kerangka Historis Okezone.com
Secara historis, Okezone.com resmi mengudara (Commercial Launch) pada Maret 2007 sebagai bisnis online pertama yang dimiliki oleh PT. Media Nusantara Citra Tbk (MNC). Guna mendorong adaptabilitas di era digital yang semakin disruptif, pada bulan Mei 2012, Okezone.com resmi berada di bawah bendera PT. Linktone Indonesia yang merupakan salah satu pecahan dari perusahaan PT. Media Nusantara Cintra Tbk yang bergerak di bidang content provide. Setelah dipindahkan ke PT. Linktone Indonesia MNC kemudian menggabungkan seluruh perusahaan yang berada di bidang digital seperti mobile, web, dan mobile application menjadi satu. Okezone.com menjadi portal informasi dan berita sebagai representasi dari MNC Group yang berfokus pada pembaca Indonesia yang menjangkau dalam maupun luar negeri.
Meskipun Okezone.com termasuk situs berita online yang tergolong baru mengudara. Namun demikian, situs ini mampu bersaing dengan situs-situs berita nasional lainnya. Berdasarkan pantauan penulis website utama okezone.com, Pada tahun 2020 Okezone.com telah memiliki beragamtema konten seperti berita umum, politik, peristiwa, internasional, ekonomi, lifestyle, selebriti, sports, bola, auto, teknologi, Travel, Food, Haji, majalah Majalah Highend dan Muslim. Disparitas konten berita yang dikemas secara inovatif dalam berbagai rubrik dan sub rubrik tersebut menjadikan Okezone.com sebagai situs berita online yang tetap eksis hingga saat ini. Pada bulan April 2013, Okezone.com mendapatkan peringkat ke-20 dari Top 100 webside terpopuler di Indonesia. Peringkat ini terus berekskalasi seiring dengan semakin
commit to user
banyaknya pengunjung yang mengakses Okezone.com setiap harinya. Bahkan pada tahun 2020 Okezone.com menjadi situs berita online yang paling banyak diakses versi Alexa. Hal ini berarti pula bahwa konten dalam Okezone.com ditulis secara tajam, singkat, padat, dan dinamis sebagai respon atas situasi dan tuntutan masyarakat yang semakin efisien dalam membaca berita. Sesuai dengan tagline Okezone.com yakni Tajam, Singkat, Padat, dan Dinamis.
b. Visi dan Misi Okezone.com 1) Visi
Menjadi portal berita dan hiburan terfavorit, telengkap dan tercepat di Indonesia.
2) Misi
- Memberikan sajian berita dan informasi secara cepat, tepat, ringkas, mudah, dan praktis dalam bentuk multimedia convergence, mengenai berbagai peristiwa yang terjadi di Indonesia maupun Luar Negeri.
- Memberikan kontribusi pembangunan budaya ber-internet yang mendidik bagi masyarakat.
- Mengajak masyarakat untuk berperan aktif menyampaikan berita dan informasi kepada publik, termasuk memberikan kesempatan untuk para pembaca menyampaikan pendapatnya.
- Menjadi media online yang responsif terhadap perkembangan Information and Communication Technology (ICT)
c. Struktur Perusahaan Okezone.com Bagan IV.2.
Tim Manajemen Okezone.com
Director Center
Pemimpin Redaksi
Redaktur Pelaksana
Redaktur Kepala Divisi
Multimedia
Kepala Divisi Gathering Pembina
commit to user
Pembina : Hary Tanoesoedibjo Pemimpin Redaksi : M. Budi Santosa
Wakil Pemimpin Redaksi : Fetra Hariandja, Santi Siera Kadiv multimedia : Yunita Mandolang
Kadiv Gathering : Armydian Kurniawan
Redaktur Pelaksana : Rani Hardjanti, Amril Amarullah, Kemas Irawan Nurrachman, Widi Agustian.
Redaktur : Fahmi Firadus, Rizka Diputra, Siska Maria Eveline, Ramdani Bur, Dani Jumadil Akhir, Alan Pamungkas, Dyah Ratna Meta Novia.
Asisten Redaktur : Angkasa Yudhistira, Qur'anul Hidayat, Erha Aprili Ramadhoni, Rachmat Fahzry, Arief Setyadi, Hantoro, Rahman Asmardhika, Fakhri Rezy,Kurniasih Miftakhul Jannah, Edi Hardian, Helmi Ade Saputra, M. Rezhatama Herdanu, Feby Novalius, Lidya Hidayati, Salman Mardira, Awalludin, Martin Bagya Kertiyasa, Khafid Mardiansyah.
Reporter : Fakhrizal Fakhri, Arie Dwi Satrio, Puteranegara, Taufik Fajar, Fahreza Rizky, Fadel Prayoga, Wikanto Arung budoyo, Leonardus Selwyn Kangsaputra, Bagas Abdiel Kharis Theo, Hendry Kurniawan, Djanti Virantika, Giri Hartomo,Rizky Pradita Ananda, Dewi Kurniasari,Muhammad Sukardi, Dhimas Andhika Fikri, Adiyoga Priyambodo, Vania Ika Aldida,Pernita Hestin Untari, Rivan Nasri Rachman, Admiraldy Eka Saputra, Andika Pratama, Lintang Tribuana, Novie Fauziah, Wilda Fajriah.
commit to user
Fotografer, Infografis,
& Video Editorr : Feri Usmawan, Arif Julianto, Dede Kurniawan, Heru Haryono, Sopan, Andhika, Faisal.
Social Media : Rizky Gunawan, Bondan Setiaji, Karina Arohma, Ghina Nurul Aini, Badar Khoirul Iman, Risma Evrylianti, Putri Intan Srikandiati, Firda Setyana Muri.
Research and
Development (R&D) : Adam Sapta Nugraha, Teguh Iman Mulia SEO : Denny Setiawan,Gumilang Hidayat.
Sekretaris Redaksi : Evi Yulianti Sumber : (Olahan Data dari Okezone.com) d. Mekanisme Jurnalistik
Verifikasi dan keberimbangan berita
1) Pada prinsipnya setiap berita harus melalui verifikasi.
2) Berita yang dapat merugikan pihak lain memerlukan verifikasi pada berita yang sama untuk memenuhi prinsip akurasi dan keberimbangan.
3) Ketentuan dalam butir (a) diatas dikecualikan, dengan syarat:
- Berita benar-benar mengandung kepentingan publik yang bersifat mendesak;
- Sumber berita yang pertama adalah sumber yang jelas disebutkan identitasnya, kredibel dan kompeten;
- Subyek berita yang harus dikonfirmasi tidak diketahui keberadaannya dan atau tidak dapat diwawancarai;
- Media memberikan penjelasan kepada pembaca bahwa berita tersebut masih memerlukan verifikasi lebih lanjut yang diupayakan dalam waktu secepatnya. Penjelasan dimuat pada bagian akhir dari berita yang sama, di dalam kurung dan menggunakan huruf miring.
4) Setelah memuat berita sesuai dengan butir (c), media wajib meneruskan upaya verifikasi, dan setelah verifikasi didapatkan, hasil verifikasi dicantumkan pada berita pemutakhiran (update) dengan tautan pada berita yang belum terverifikasi.
Ralat, Koreksi, dan Hak Jawab
1) Ralat, koreksi, dan hak jawab mengacu pada Undang-Undang Pers, Kode Etik Jurnalistik, dan Pedoman Hak Jawab yang ditetapkan Dewan Pers.
commit to user
2) Ralat, koreksi dan atau hak jawab wajib ditautkan pada berita yang diralat, dikoreksi atau yang diberi hak jawab.
3) Di setiap berita ralat, koreksi, dan hak jawab wajib dicantumkan waktu pemuatan ralat, koreksi, dan atau hak jawab tersebut.
4) Bila suatu berita media siber tertentu disebarluaskan media siber lain, maka:
- Tanggung jawab media siber pembuat berita terbatas pada berita yang dipublikasikan di media siber tersebut atau media siber yang berada dibawah otoritas teknisnya;
- Koreksi berita yang dilakukan oleh sebuah media siber, juga harus dilakukan oleh media siber lain yang mengutip berita dari media siber yang dikoreksi itu;
- Media yang menyebarluaskan berita dari sebuah media siber dan tidak melakukan koreksi atas berita sesuai yang dilakukan oleh media siber pemilik dan atau pembuat berita tersebut, bertanggung jawab penuh atas semua akibat hukum dari berita yang tidak dikoreksinya itu.
5) Sesuai dengan Undang-Undang Pers, media siber yang tidak melayani hak jawab dapat dijatuhi sanksi hukum pidana denda paling banyak Rp500.000.000 (Lima ratus juta rupiah).
Pencabutan Berita
1) Berita yang sudah dipublikasikan tidak dapat dicabut karena alasan penyensoran dari pihak luar redaksi, kecuali terkait masalah SARA, kesusilaan, masa depan anak, pengalaman traumatik korban atau berdasarkan pertimbangan khusus lain yang ditetapkan Dewan Pers.
2) Media siber lain wajib mengikuti pencabutan kutipan berita dari media asal yang telah dicabut.
3) Pencabutan berita wajib disertai dengan alasan pencabutan dan diumumkan kepada publik.
Iklan
1) Mediasi berwajib membedakan dengan tegas antara produk berita dan iklan.
2) Setiap berita/artikel/isi yang merupakan iklan dan atau isi berbayar wajib mencantumkan keterangan "advertorial", "iklan", "ads", "sponsored", commit to user
atau kata lain yang menjelaskan bahwa berita/artikel/isi tersebut adalah iklan.
Hak Cipta
Media siber wajib menghormati hak cipta sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pencantuman Pedoman
Media siber wajib mencantumkan Pedoman Pemberitaan Media Siber ini di medianya secara terang dan jelas.
Sengketa
Penilaian akhir atas sengketa mengenai pelaksanaan Pedoman Pemberitaan Media Siber ini diselesaikan oleh Dewan Pers.
e. Alamat Okezone.com
PT Media Nusantara Citra Tbk (MNC) Gedung Kompas Gramedia, Unit II Lt. 5
SINDO Building, 8th floor. Jln. KH.Wahid Hasyim No. 38, Jakarta Pusat 10350 Telp : 021 3924706
Fax : 021 3917103
Redaksi: [email protected]
(Sumber : https://management.okezone.com/ diakses 26 Maret 2021 Jam 11:01 WIB)
Deksripsi media diatas baik Kompas.com maupun Okezone.com menunjukan relevansi dengan lokus penelitian yang diambil. Kedua media tersebut memenuhi kriteria online news media yang berkarakter akurat, bermanfaat, komprehensif, dan berimbang (cover both side). Sehingga peneliti akan menemukan bukan hanya wacana namun juga kontra wacana yang saling berdialektika guna menghasilkan konstruksi penelitian yang mendalam. Kriteria tersebut terpatri dalam mekanisme jurnalistik yang dimiliki oleh kedua media dalam mempublikasikan konten beritanya.
Deskripsi media Kompas.com dan Okezone.com juga menunjukan relevansi dengan teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Kedua media tersebut memenuhi kriteria online news media yang kredibel yang diartikulasikan melalui keberadaan badan hukum, memiliki alamat redaksi, dan menyantumkan nama penanggungjawab media. Bahkan kedua media secara eksplisit menunjukan struktur organisasi, tugas, dan nama yang bertanggung jawab dalam menjalankan proses manajemen media.
commit to user
Selain itu deksripsi kedua media diatas juga memenuhi kebutuhan penulis dalam melakukan analisis data. Variabel yang digunakan penulis diartikulasikan melalui keberadaan sumber wacana yang diperoleh (source), judul dari wacana (headline), waktu lengkap (date), dan isi dari wacana (content). Hal ini terpatri dalam bentuk berita dari kedua media yang turut menampilkan kriteria variabel tersebut.
B. Dynamic Governance dalam Penanggulangan Terorisme
Penulis mengkonstruksikan Dynamic Governance dalam penanggulangan Terorisme di Indonesia berdasarkan analisis data yang diperoleh dari crawling data di online news media Kompas.com dan Okezone.com. Penyajian data ini diambil menggunakan aplikasi dan metode Discourse Network Analysis (DNA). Penyajian dan analisis data itu sendiri merupakan bagian dari upaya lanjutan untuk menjawab rumusan masalah terkait wacana Dynamic Governance dalam penanggulangan terorisme di Indonesia.
Seperti terkonstruksi dalam narasi di bab pertama dan kedua, penanggulangan terorisme menghadapi tantangan dan hambatan yang muncul akibat penetrasi teknologi informasi yang memunculkan kondisi disrupsi dan VUCA (Volatile, Uncertain, Complex and Ambiguous). Fakta sosial tersebut merupakan refleksi atas kondisi dunia multilateral yang dinamis, fluktuatif, penuh ketidakpastian, kompleks, dan ambigu sehingga menghasilkan konsekuensi terhadap kesulitan untuk memprediksi masa depan. Penggunaan teknologi digital oleh ISIS untuk merekrut kader menjadi contoh argumentatifnya. Oleh karena itu adaptabilitas kebijakan dan kultur organisasi menjadi kunci untuk menghadapi tantangan terorisme saat ini.
Pemerintah Indonesia sebagai pihak yang memiliki otoritas, sumber daya, sekaligus tanggung jawab dalam merespon terorisme sebagai ancamanan ketahanan nasional memerlukan kultur dan kebijakan yang mencerminkan Dynamic Governance untuk merespon tantangan terorisme yang semakin disruptif. Sedangkan poros utama hukum penanggulangan terorisme adalah Undang-Undang No. 5 Tahun 2018. Dalam undang-undang ini disebutkan lembaga-lembaga yang terkait. Secara eksplisit disebutkan dalam Pasal 43E ayat (2), “Badan Nasional Penanggulangan Terorisme menjadi pusat analisis dan pengendalian krisis yang berfungsi sebagai fasilitas bagi Presiden untuk menetapkan kebijakan dan langkah penanganan krisis, termasuk pengerahan sumber daya dalam menangani Terorisme”. Pada posisi tersebut BNPT menjadi leading sector dalam konsepsi penanggulangan teroris di Indonesia. BNPT
commit to user
dapat bergerak bersama NGO, TNI, Kepolisian, dan Kementrian/Lembaga di Pusat dan daerah. Sehingga pada artikel ini akan fokus pada wacana dari seluruh lembaga tersebut menggunakan pisau analisis Dynamic Governance yang terefleksi dalam Online news media Kompas.com dan Okezone.com com pada bulan Juni 2018-Desember 2020, untuk kemudian dinarasikan dan divisualisasikan.
Dynamic Governance sendiri dapat mengaktual apabila lembaga/organisasi memiliki kapabilitas dinamis yang menurut Neo & Chen (2008) terkonstruksi oleh tiga komponen kemampuan thinking again, thinking across, dan thinking ahead. Komponen pertama mengacu pada kemampuan dan keterbukaan untuk mengevaluasi kebijakan.
Komponen kedua merupakan kemampuan melakukan benchmarking secara tepat sasaran. Sedangkan komponen ketiga merefleksikan kemampuan memproyeksikan hambatan dan tantangan kedepan. Ketiga komponen teoritis itu digunakan untuk membedah penanggulangan terorisme yang menggunakan 3 kerangka kegiatan yaitu pencegahan, penindakan, dan pemulihan Jainuri (2017).
Penulis melakukan crawling berita tentang "penanggulangan terorisme" di Kompas.com dan Okezone.com dan mendapatakan 1060 konten berita. Dari seluruh berita tersebut penulis mensortir berita pada kurun waktu Juni 2018-Desember 2020 sehingga tersisa 130 konten Berita. Kemudian dari 130 berita tersebut penulis menyortir berdasarkan relevansi dengan substansi penanggulangan terorisme sehingga menjadi 100 konten berita. Berdasarkan kerangka tersebutlah penulis menyajikan dan menganalisis data terkait Dynamic Governance dalam penanggulangan Terorisme di Indonesia dalam bentuk narasi deskriptif dan visualisasi data.
1. Kode Nodes Stakeholders
Penulis membuat kode nodes untuk setiap stokeholders supaya dapat memudahkan untuk melakukan kategorisasi identitas aktor dalam jaringan yang kompleks.
commit to user
Tabel IV.1.
Kode Nodes Stakeholders
Tipe Organisasi Organisasi Stakeholders
Leading Sector BNPT
Kementrian - Kemenkopolhukam
- Kemenlu - Kominfo - Kemenag - KemenKKP - KemenPANRB - Kemenhub - Kemendagri - KemenkumHAM - Kemendikbud
Lembaga Keamanan Polri
Lembaga Ketahanan TNI
Parlemen DPR
Kehakiman Kejaksaan
Lembaga Presiden Nonstruktural
- KSP - BPIP Lembaga Mandiri
Nonstruktural
- Komnas HAM - KASN
Lembaga Pemerintah Non Kementrian
- BKN - BIN
BUMN - PT. Aangkasa Pura I
- PT. Pegadaian
NGO - Kontras
- KMSR
(Sumber : Data diolah peneliti, 2021)
2. Kode Edges
Penulis membuat kode edges untuk setiap posisi wacana stokeholders supaya dapat memudahkan untuk melakukan kategorisasi posisi aktor dalam jaringan yang kompleks.
Tabel IV.2.
Kode Edges Edge/Jaring
Penghubung
Keterangan
Agreement Setuju terhadap konsep. Aktor memenuhi kriteria ini ketika berdasarkan hasil crawling narasinya dalam online news media baik secara eksplisit maupun implisit menyebutkan kata kunci konsep dan menyetujuinya. commit to user
Disgreement Tidak setuju terhadap konsep. Aktor memenuhi kriteria ini ketika berdasarkan hasil crawling narasinya dalam online news media baik secara eksplisit maupun implisit menyebutkan kata kunci konsep namun tidak menyetujuinya.
Swing Sebagian setuju dan sebagian yang lain tidak setuju terhadap konsep. Aktor memenuhi kriteria ini ketika berdasarkan hasil crawling narasinya dalam online news media baik secara eksplisit maupun implisit menyebutkan kata kunci konsep yang pada satu isu menyetujui sedang di isu lain tidak menyetujui.
(Sumber : Data diolah peneliti, 2021) 3. Rekap Data Deskriptif
Narasi deksriptif ini menunjukan bentuk wacana agreement, disagreement, dan swing beserta konteks isunya dalam penanggulangan terorisme. Wacana dikelompokan berdasarkan aktornya dalam konsep thinking across, thinking ahead, dan thinking again sebagai berikut :
a. Thinking Across
Komponen ini mengacu pada kemampuan dan keterbukaan wawasan untuk berfikir lintas batas melewati batasan tradisional dengan mempelajari pengalaman ide dan konsep aktor-aktor lain yang dapat diadopsi supaya tercipta kebijakan yang inovatif, kontekstual, dan dapat terlembaga. Hasil crawling data di Okezone.com dan Kompas.com menunjukan bahwa wacana yang muncul untuk merespon kemampuan thinking across dalam penanggulangan terorisme muncul dari berbagai aktor yang bersifat muldimensional-multisektoral. Aktor- aktor tersebut kemudian memiliki disparitas sentimen wacana thinking across terhadap kerangka penanggulangan terorisme (Agreement/Disagreement). Pada penelitian ini untuk melihat Thinking across pada kebijakan penanggulangan terorisme menggunakan kata kunci: “kerja sama”,“berbagi pengalaman”,
“bekerja sama”, ”manggandeng”, “koordinasi”, “bergandengan tangan “,
“sinergi”, “gabungan”, “keputusan bersama”, “audiensi”, “pelibatam”, dan
“rapat”.
1) BNPT
Hasil crawling data menunjukan bahwa BNPT telah memiliki kemampuan thinking across melalui kerjasama dengan aktor lain guna menanggulangi terorisme. Hal tersebut terefleksi dalam temuan berikut : commit to user
"Kami sudah lama bekerja sama dengan pihak BKA dan kami akan saling tukar menukar tenaga ahli untuk 'sharing information'," ujar Kepala BNPT Komjen Pol Suhardi Alius usai pertemuan dengan Wakil Presiden BKA Michael Kretschmer seperti dikutip dari Antaranews di Jakarta, Senin 1 Juli 2019. (Okezone.com, 2 Juli 2019).
Kemampuan thinking across tersebut dijustifikasi pula dalam berita lain di Okezone.com. Namun wacana tersebut berbeda dalam hal bingkai acara dan sistematisasi substansinya yang dapat terlihat dalam narasi berikut : Badan Nasional Penanggulangan Teroris manggandeng para perempuan pendakwah Islam (da'iah) yang tergabung dalam Fatayat Nadhtul Ulama untuk menebarkan Islam moderat dan diharapkan memberikan kesejukan beragama serta bermasyarakat di tengah gelombang virus radikal intoleran.
(Kompas.com, 30 Desember 2020).
Pernyataan diatas menunjukan posisi sepakat BNPT terhadap aktualisasi kemampuan thinking across dalam penanggulangan terorisme. Upaya penanggulangan terorisme tersebut dilakukan dengan cara saling bertukar informasi dan mengadakan perjanjian kerja dengan lembaga lain di dalam maupun luar negeri.
2) Kepolisian Republik Indonesia (Polri)
Polri bersama TNI merupakan pihak yang berada digarda terdepan dalam kerangka penindakan terorisme. Namun hal itu tidak menihilkan peranannya dalam kerangka pencegahan dan pemulihan. Hasil crawling data menunjukan bahwa Polri telah memiliki kemampuan thinking across melalui kolabrasi dengan aktor lain guna menanggulangi terorisme. Hal tersebut terefleksi dalam temuan berikut :
Kapolri Jenderal Tito Karnavian memimpin delegasi Indonesia (Head of Delegation/HOD) dalam pertemuan tingkat Menteri ASEAN untuk penanggulangan kejahatan transnasional '12th ASEAN Ministerial Meeting on Transnational Crime' di Nay Pyi Taw, Myanmar. Tito menjelaskan pertemuan rutin tahunan ini memiliki nilai yang sangat strategis dalam memperkuat kerja sama antarnegara untuk pencegahan dan penanganan berbagai bentuk kejahatan transnasional di kawasan ASEAN.
(Okezone.com, 31 Oktober 2018)
Kemampuan thinking across tersebut dijustifikasi pula oleh Kompas.com. Namun wacana tersebut berbeda dalam hal bingkai acara sebagai media aktualisasinya yang dapat terlihat dalam narasi berikut : Kepala Kepolisian RI Jenderal Polisi Tito Karnavian menghadiri Police Specialist Conference yang digelar oleh Singapore Police Force. Pertemuan
commit to user
itu merupakan upaya saling bertukar informasi dan pengalaman praktik terbaik Kepolisian terutama dalam penanggulangan kejahatan terorisme.
Tito mengatakan, terorisme adalah kejahatan transnasional sehingga perlu kerja sama internasional untuk mengatasinya (Kompas.com, 28 November 2018).
Upaya penanggulangan terorisme tersebut dilakukan dengan cara berdialektika dalam konferensi internasional.
3) TNI
TNI bersama Polri merupakan pihak yang berada digarda terdepan dalam kerangka penindakan terorisme sebagai bagian dari penanggulangan teorisme. Komitmen TNI dalam mengaktualisasikan kemampuan thinking across terefleksi dalam wacana berikut :
Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad), Jenderal TNI Mulyono mewakili Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto pada acara The 2018 Chiefs Of Defense Conference di Washinton, D.C, Amerika Serikat dengan tujuan pembahasan pada kerja sama transregional, serta mempertahankan dari ancaman Violent Extremis Organization (VEO) melalui pendekatan strategik hubungan militer guna meng-counter terorisme (Okezone.com, 17 September 2018).
Lebih lanjut kemampuan thinking across tersebut dijustifikasi pula dalam berita lain di online news media dalam narasi berikut :
Dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Intelijen TNI Tahun 2019, Asisten Intelijen (Asintel) Panglima TNI Mayjen TNI Andjar Wiratma mengatakan TNI telah siap dan berkomintmen untuk membantu BNPT dalam upaya penanggulangan terorisme di Indonesia. (Okezone.com, 07 Februari 2019) Pernyataan diatas menunjukan bahwa TNI mendukung kemampuan thinking across dalam penanggulangan terorisme. Hal ini relevan dengan tugas TNI dalam roadmap penaggulangan teorisme di Indonesia. Upaya thinking across tersebut dilakukan dengan cara saling bertukar informasi dan mengadakan berjanjian kerja dengan badan penanggulangan terorisme baik di dalam maupun luar negeri.
4) Kejaksaan
Komitmen kejaksaan dalam aktualisasi kemampuan thinking across dalam penanggulangan terorisme terpatri dalam wacana berikut :
Kejaksaan Agung (Kejagung) RI bersama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menjalin kerja sama penanganan terorisme. Adapun nota kesepahaman berupa MoU dibuat untuk membangun sinergi dalam commit to user
mengoptimalkan tugas penanggulangan terorisme di rahnah hukum (Okezone.com, 2 Juli 2018).
Wacana tersebut memiliki intrepetasi bahwa kejaksaan telah mampu menjalin kerjasama dengan aktor lain guna menuntaskan penanggulangan terorisme. Kerjasama tersebut juga dijustifikasi oleh wacana BNPT dan Kejagung di media Kompas.com sebagai berikut:
"Kerja sama ini langkah maju bagi BNPT dan jaksa dalam meningkatkan efisiensi dan sinergisitas, optimalisasi inteleijen melalui pertukaran data dan informasi guna mengoptimalisasikan penegakan hukum"
(Kompas.com, 3 Juli 2018).
Selain itu kejaksaan juga mengaktualkan thinking across dalam upaya melaksanakan penanggulangan terorisme melalui wacana berikut :
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme ( BNPT) Komjen Boy Rafli Amar bersama Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin menjalin silaturahim dan meningkatkan koordinasi dalam penanganan perkara terorisme, baik pada tataran pencegahan maupun penindakan kegiatan terorisme di Indonesia, (Kompas.com, 9 Juni 2020).
Berdasarkan hasil crawling data tersebut maka kejaksaan berposisi mendukung terhadap aktualisasi kemampuan thinking across dalam penanggulangan terorisme melalui peembangunan kerjasama dengan BNPT.
5) DPR
Signifikansi peran DPR dalam penanggulangan terorisme di Indonesia terletak pada fungsi pengawasannya untuk menjadi mitra kritis pemerintah. Hal ini relevan dengan hasil crawling data yang menunjukan dialektika posisi DPR dalam aktualisasi kemampuan thinking acros yang pada satu isu menolak sedang di isu lain mendukung. Posisi dialektis tersebut terpatri pada dua wacana berikut :
Wakil Ketua DPR Fadli Zon menilai, Komando Operasi Khusus Gabungan ( Koopsusgab) untuk membantu Polri melaksanakan tugas pemberantasan terorisme tak perlu dibentuk. Diketahui Koopsusgab merupakan gabungan personel TNI dari seluruh satuan elite yang ada di TNI, baik matra darat, laut, maupun udara. (Kompas.com, 24 Juni 2018).
Wacana diatas menunjukan ketidaksepakatan DPR terhadap aktualisasi thinking across dalam penanggulangan terorisme yang dilakukan oleh
commit to user
Koopsusgab. Namun disisi lain terdapat wacana DPR yang menyetujui aktualisasi thinking across dalam penanggulangan terorisme berikut : Wakil Ketua Komisi III DPR Adies Kadir menyebut penanggulangan terorisme di Indonesia ke depannya harus sinergis, komprehensif, dan berkelanjutan (Kompas.com, 21 November 2019).
Fakta diatas menunjukan bahwa DPR dapat mendukung dan menolak thinking across dalam penanggulangan teororisme. Sistematisasi dari pernyataan tersebut adalah ketidaksepakatan DPR terhadap Koopsusgab dan kesepakatan terhadap sinergitas seluruh lembaga dalam penanggulangan terorisme.
6) Kementerian Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Kemenkopolhukam)
Komitmen Kemenkopolhukam untuk mengimplementasikan kemampuan thinking across pada penanggulangan terorisme, terefleksi dalam wacana ketika Menko Polhukam Mahfud MD menerima Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme ( BNPT) di Kantor Menko Polhukam, Jakarta, Senin (18/11/2019) sebagai berikut :
"Cerita-cerita saja tentang terorisme, radikalisme dan macam-macam, tukar informasi saja, rutin. Kan, kami dalam satu koordinasi ya, jadi enggak ada yang baru, enggak ada yang istimewa, ya," (Kompas.com, 18 November 2019).
Kemampuan thinking across tersebut dijustifikasi pula dalam berita lain di online news media . Namun wacana tersebut berbeda dalam hal bingkai acara sebagai media aktualisasinya yang dapat terlihat dalam narasi berikut :
Direktur Jenderal Penanggulangan Terorisme Jepang Shigenobu Fukumoto menyambangi kantor Mahfud, Jumat (10/1/2020) siang, untuk membahas kerja sama di bidang penanggulangan terorisme. Tak hanya itu, penjajakan kerja sama juga menyasar program deradikalisasi (Kompas.com, 10 Januari 2020).
Upaya penanggulangan terorisme tersebut dilakukan dengan cara saling bertukar informasi dan mengadakan berjanjian kerja dengan badan penanggulangan terorisme di dalam maupun luar negeri.
7) Kementrian Agama (Kemenag)
Keseriusan Kemenag untuk bersinergi dengan aktor lain dalm penanggulangan terorisme terpatri dalam keikutsertaan Kemenag dalam
commit to user
Konferensi Internasional tentang Wasathiyah dan Islam Moderat di Baghdad, Irak, Minggu (24/6/2018) (Okezone.com, 24 Juni 2018). Melalui forum tersebut Thobib Al-Asyhar sebagai perwakilan menag menyampaikan wacana berikut :
Bahwa negara-negara Islam menurutnya harus merapatkan barisan dan bergandengan tangan untuk meng-counter ideologi tersebut dan membentengi generasi muda agar tidak terjerumus ke dalam kubangan pemikiran radikal (Okezone.com, 24 Juni 2018).
Kemampuan thinking across tersebut dijustifikasi pula dalam wacana lain di Okezone.com sebagai berikut :
Indonesia mengajak negara-negara Islam bekerja sama dalam promosi moderasi agama. Ajakan ini disampaikan Ketua Delegasi Indonesia Muchlis M Hanafi saat mewakili Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin berbicara pada Konferensi Internasional tentang Moderasi dan Islam Wasathiyah di Baghdad, Irak (Okezone.com, 27 Juni 2018).
Pernyataan diatas menunjukan kesepakatan Kemenag pada aktualisasi kemampuan thinking across dalam penanggulangan terorisme melalui diseminasi informasi dengan mitra lembaga keagamaan.
8) Kementrian Luar Negeri (Kemenlu)
Kemenlu memiliki peran untuk mengaktualisasikan thinking across dalam penanggulangan terorisme melalui diplomasi dengan negara lain.
Komitmen untuk melaksanakan tugas tersebut tercemin dalam narasi Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi ketika menyampaikan tiga poin guna melawan gerakan terorisme global dihadapan Dewan Keamanan (DK) PBB di New York, Amerika Serikat (AS) sebagai berikut:
Poin pertama yakni pentingnya penguatan upaya pencegahan penyebaran ideologi terorisme pada tingkat nasional. Kedua, penguatan mekanisme regional dan sub-regional yang tepat dalam penanggulangan terorisme.
Lalu, sinergi strategi penanggulangan terorisme pada tingkat global, sub- regional, regional dan nasional (Okezone.com, 3 Agustus 2018).
Lebih lanjut kemampuan thinking across tersebut dijustifikasi pula dalam berita lain di online news media pada Pertemuan Tahunan ASEAN dengan Rusia di Singapura sebagai berikut :
"Saat ini, kita menghadapi ancaman keamanan, baik tradisional maupun non-tradisional. Sebagai negara koordinator Kemitraan ASEAN-Rusia mendatang, Indonesia mengusulkan tiga area prioritas kerja sama, yaitu kontra-terorisme, keamanan siber dan penanggulangan bencana alam,"
(Okezone.com, 3 Agustus 2018) commit to user
Pernyataan diatas menunjukan bahwa posisi Kemenlu mendukung kemampuan thinking across dalam penanggulangan terorisme dengan menjalin kerjasama dan perjanjian bilateral untuk penanggulangan terorisme dengan negara lain.
9) Kementrian Perhubungan (Kemenhub)
Keseriusan Kemenhub untuk mengaktualisasikan kemampuan thinking across dalam penanggulangan terorisme terpatri dalam wacana berikut : Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menggandeng Kementerian Perhubungan dalam rangka memberantas terorisme. Kerja sama antar lembaga itu untuk meningkatkan upaya pencegahan terorisme (Kompas.com, 12 Desember 2018).
Wacana tersebut menunjukan dukungan Kemenhub pada aktualisasi kemampuan thinking across dalam penanggulangan terorisme melalui kerjasama dengan BNPT.
10) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KemenKKP)
Keseriusan KemenKKP untuk mengaktualisasikan kemampuan thinking across dalam penanggulangan terorisme terpatri dalam wacana berikut :
Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tentang Sinergitas Pencegahan Terorisme di Sektor Kelautan dan Perikanan (Okezone.com, 11 September 2019).
Pernyataan diatas menunjukan bahwa posisi KemenKKP mendukung kemampuan thinking across yang dilakukan melalui kerjasama dengan BNPT secara komprehensif.
11) KemenPANRB (Kementrian Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi)
Keseriusan Kemenhub untuk mengaktualisasikan kemampuan thinking across dalam penanggulangan terorisme terefleksi ketika membentuk taskforce dan juga meluncurkan portal Aduan ASN untuk menangani tindakan menentang atau membuat ujaran kebencian sebagai berikut : Sebanyak 11 kementerian /lembaga berkomitmen menangani radikalisme ASN ditandai dengan penandatanganan Surat Keputusan Bersama (SKB) yang dilakukan oleh Kominfo, Kementerian PANRB, Kementerian Agama, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Hukum dan HAM, Kementerian
commit to user
Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Intelijen Negara, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, Badan Kepegawaian Negara, dan Komisi Aparatur Sipil Negara (Okezone.com, 14 November 2019).
Wacana diatas menunjukandukungan wacana thinking across dalam penanggulangan yang juga diikuti oleh berbagai lembaga kementrian dan non-kementrian.
12) Kementerian Dalam Negeri (Kemendadgri)
Kemendagri telah mendukung aktualisasi kemampuan thinking across dalam penanggulangan terorisme. Hal ini terefleksi dari keikutsertaan Kemendagri dalam pembentukan task force dan portal aduan ASN untuk menangani tindakan menentang atau membuat ujaran kebencian. Hasil crawling data untuk wacana tersebut terpatri di dalam berita Okezone.com tertanggal 14 November 2019 yang telah tersebut diatas.
13) Kementerian Hukum dan HAM (KemenkumHAM)
KemenkumHAM telah mendukung aktualisasi kemampuan thinking across dalam penanggulangan terorisme. Hal ini terefleksi dari keikutsertaan KemenkumHAM dalam pembentukan task force dan portal aduan ASN untuk menangani tindakan menentang atau membuat ujaran kebencian. Hasil crawling data untuk wacana tersebut terpatri di dalam berita Okezone.com tertanggal 14 November 2019 yang telah tersebut diatas.
14) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud)
Kemendikbud telah mendukung aktualisasi kemampuan thinking across dalam penanggulangan terorisme. Hal ini terefleksi dari keikutsertaan Kemendikbud dalam pembentukan task force dan portal aduan ASN untuk menangani tindakan menentang atau membuat ujaran kebencian. Hasil crawling data untuk wacana tersebut terpatri di dalam berita Okezone.com tertanggal 14 November 2019 yang telah tersebut diatas.
15) Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo)
Kominfo memiliki signifikansi peran dalam penanggulangan terorisme pada ruang media komunikasi dan informasi. Keseriusan Kemenhub untuk commit to user
mengaktualisasikan kemampuan thinking across dalam penanggulangan terorisme terefleksi dalam gerak cepat Kominfo yang hingga November 2018, telah melakukan blokir terhadap 500 situs yang memuat konten terorisme, radikalisme dan separatisme. Dalam upaya tersebut tertulis wacana berikut :
Selain itu, Kementerian Kominfo juga bekerja sama dengan Polri untuk menelusuri akun-akun yang menyebarkan konten terorisme, radikalisme dan separatisme (Okezone.com, 21 Desember 2018).
Lebih lanjut kemampuan thinking across tersebut dijustifikasi pula dalam berita Okezone.com tertanggal 14 November 2019 diatas. Yakni ketika Kominfo turut serta dalam pembentukan task force dan portal aduan ASN untuk menangani tindakan menentang atau membuat ujaran kebencian. Kedua wacana tersebut menunjukan dukungan Kominfo terhadap aktualisasi kemampuan thinking across dalam pencegahan terorisme.
16) Badan Kepegawaian Negara (BKN)
BKN mendukung aktualisasi kemampuan thinking across dalam penanggulangan terorisme. Hal ini terefleksi dari keikutsertaan BKN dalam pembentukan task force dan portal aduan ASN untuk menangani tindakan menentang atau membuat ujaran kebencian. Hasil crawling data untuk wacana tersebut terpatri di dalam berita Okezone.com tertanggal 14 November 2019 yang telah tersebut diatas.
17) Badan Intelejen Negara (BIN)
BIN mendukung aktualisasi kemampuan thinking across dalam penanggulangan terorisme. Hal ini terefleksi dari keikutsertaan BIN dalam pembentukan task force dan portal aduan ASN untuk menangani tindakan menentang atau membuat ujaran kebencian. Hasil crawling data untuk wacana tersebut terpatri di dalam berita Okezone.com tertanggal 14 November 2019 yang telah tersebut diatas.
18) Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN)
KASN mendukung aktualisasi kemampuan thinking across dalam penanggulangan terorisme. Hal ini terefleksi dari keikutsertaan KASN dalam pembentukan task force dan portal aduan ASN untuk menangani tindakan menentang atau membuat ujaran kebencian. Hasil crawling data
commit to user
untuk wacana tersebut terpatri di dalam berita Okezone.com tertanggal 14 November 2019 yang telah tersebut diatas.
19) Komnas HAM
Posisi Komnas HAM dalam aktualisasi kemampuan thinking across pada penanggulangan terorisme terefleksi ketika menanggapi suatu isu. Isu tersebut ketika Presiden akan meneken Perpres yang merupakan amanat Pasal 431 ayat 3 UU No. 5 Tahun 2018 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme sekaligus pengoperasionalan Peraturan Presiden No. 42 Tahun 2019 tentang Susunan Organisasi TNI terkait pembentukan Komando Operasi Khusus (Koopssus) TNI dalam wacana berikut :
Komnas HAM meminta Presiden Joko Widodo tak meneken Peraturan Presiden soal pelibatan TNI dalam memberantas terorisme (Kompas.com, 9 Agustus 2019)
Narasi diatas menunjukan ketidaksetujuan Komnas HAM pada aktualisasi kemampuan thinking across TNI dalam penanggulangan terorisme yang terpatri dalam Perpres tersebut diatas. Lebih lanjut terkait alasan penolakan tersebut terpatri dalam wacana berikut :
Setelah membacanya, ia menilai banyak penyimpangan di dalamnya.
Karenanya ia berencana menyurati Presiden untuk menolak Perpres tersebut diteken. Anam mengungkapkan, hal tersebut dapat dilihat pada Pasal 2 draf Perpres tersebut yang menyatakan tugas TNI dalam pemberantasan terorisme dimulai dari penangkalan atau pencegahan, penindakan, hingga pemulihan. Menurut Anam, semestinya pelibatan TNI hanya pada penindakan dengan skala ancaman tertentu. Ia menyatakan, negara sudah memiliki organ khusus untuk pencegahan dan pemulihan yakni melalui Polri dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Anam mengatakan, semestinya Perpres yang akan diteken ini hanya memuat skala penanganan dimana TNI dibutuhkan dalam pemberantasan terorisme melalui pasukan khususnya. Sebab, Polri telah diberi kewenangan menangkap sebelum terorisme terjadi melalui UU yang baru direvisi. Karena itu ia meyakini Polri tak kesulitan dalam upaya pencegahan (Kompas.com, 9 Agustus 2019)
Pada posisi tersebut Komnas HAM menolak aktualisasi thinking across dalam penanggulangan terorisme melalui penolakannya terhadap rancangan perpres diatas. Ketidaksetujuan terjadi karena upaya thinking across tersebut justru dapat menyebabkan overlapping otoritas keterlibatan TNI di seluruh sub penanggulangan terorisme.
20) Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) commit to user
BPIP telah mendukung aktualisasi kemampuan thinking across dalam penanggulangan terorisme. Hal ini terefleksi dari keikutsertaan BPIP dalam pembentukan task force dan portal aduan ASN untuk menangani tindakan menentang atau membuat ujaran kebencian. Hasil crawling data untuk wacana tersebut terpatri di dalam berita Okezone.com tertanggal 14 November 2019 yang telah tersebut diatas.
21) Kepala Staf Presiden (KSP)
Keseriusan KSP untuk mengaktualisasikan kemampuan thinking across dalam penanggulangan terorisme terpatri dalam wacana berikut : Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko memastikan, Presiden menyetujui pengaktifan kembali Komando Operasi Khusus Gabungan (Koopsusgab) untuk membantu Polri melaksanakan tugas pemberantasan terorisme (Kompas.com, 24 Juni 2018).
Wacana tersebut menunjukan kesetujuan KSP pada aktualisasi kemampuan thinking across dalam penanggulangan terorisme melalui dukungan pembentukan Koopsusgab.
22) PT. Angkasa Pura 1
Posisi BUMN pada aktualisasi kemampuan thinking across dalam penanggulangan terorisme terefleksi saat menjelang pelaksanaan Pemilihan Umum Presiden-Wakil Presiden 2019 (Pilpres 2019) dan Pemilihan Umum Legislatif 2019 (Pileg 2019) yang akan digelar secara serentak pada 17 April 2019 dalam wacana berikut :
Rapat digelar di Hotel Patra Jasa dihadiri oleh sejumlah instansi, di antaranya PT. Angkasa Pura I (Persero), TNI Angkatan Udara, Kepolisian Sektor Kawasan Udara Ngurah Rai, Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah IV, Badan Intelejen Negara (BIN) Daerah Bali, serta Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).Dalam sambutannya, General Manager PT. Angkasa Pura I (Persero) Kantor Cabang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Haruman Sulaksono, mengatakan tentang pentingnya keamanan bandar udara (Okezone.com, 5 April 2019).
Pernyataan diatas menunjukan bahwa PT. Angkasa Pura 1 mendukung implementasi kemampuan thinking across dalam meningkatkan penanggulangan terorisme. Sistematisasi atas pernyataan tersebut dilakukan dengan cara mengadakan dengar pendapat dengan lembaga lain yang memiliki tupoksi dalam penanggulangan terorisme.
commit to user
23) PT. Pegadaian
Posisi PT.Pegadaian pada aktualisasi kemampuan thinking across dalam penanggulangan terorisme termanifestasi dalam wacana berikut : Direktur Utama Pegadaian Kuswiyoto melakukan audiensi dengan Kepala BNPT Komjen. Pol. Boy Rafli Amar di Kantor Pusat BNPT. Melalui audiensi ini, Kuswiyoto menyampaikan komitmen PT Pegadaian (Persero) dalam menangkal persebaran paham radikalisme dan terorisme (Okeozne.com, 18 September 2020)
Pernyataan diatas menunjukan bahwa PT. Angkasa Pura 1 mendukung implementasi kemampuan thinking across dalam meningkatkan penanggulangan terorisme dengan cara mengadakan dengar pendapat dengan BNPT guna mencegah aliran dana ke teroris.
24) Kontras
Posisi Kontras dalam aktualisasi kemampuan thinking across pada penanggulangan terorisme terefleksi ketika menanggapi pembentukan Komando Operasi Khusus ( Koopssus) TNI dalam penanganan terorisme.
Hasil crawling data menunjukan wacana sebagai berikut :
Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan ( Kontras) Yati Andriyani menilai ketentuan pelibatan Komando Operasi Khusus ( Koopssus) TNI dalam penanganan terorisme tidak jelas. Hal itu dapat menimbulkan tumpang tindih kewenangan, pengulangan tindakan, hingga kompetisi antarinstitusi atau kesatuan (Kompas.com, 2 Agustus 2019)
Narasi diatas menunjukan ketidaksetujuan Kontras dalam aktualisasi kemampuan thinking across TNI dalam penanggulangan terorisme.
Ketidaksetujuan terjadi karena upaya thinking across melalui Koopssus tersebut justru dapat menyebabkan degradasi terhadap nilai-nilai demokrasi alih-alih meingkatkan penindakan terorisme.
25) Koalisi Masyaraktan Sipil untuk Reformasi (KMSR)
Posisi KMSR dalam aktualisasi kemampuan thinking across pada penanggulangan terorisme terefleksi ketika menanggapi suatu isu. Isu tersebut ketika Presiden akan meneken Peraturan Presiden yang merupakan amanat Pasal 431 ayat 3 UU No. 5 Tahun 2018 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme sekaligus pengoperasionalan Perpres No. 42 Tahun 2019 tentang Susunan Organisasi TNI terkait pembentukan commit to user
Komando Operasi Khusus (Koopssus) TNI. KMSR secara tegas menolak dalam wacana berikut :
Penolakan KMSR muncul karena rancangan aturan tersebut dinilai berpotensi mengancam kehidupan demokrasi dan HAM di Indonesia.
Pelibatan TNI dalam pemberantasan teroris seharusnya dibatasi, sepanjang aparat penegak hukum masih mampu menangani persoalan tersebut (Kompas.com, 11 Agustus 2020)
Narasi diatas menunjukan ketidaksetujuan KMSR dalam aktualisasi kemampuan thinking across TNI dalam penanggulangan terorisme.
Ketidaksetujuan terjadi karena upaya thinking across melalui Perpres tersebut justru dapat menyebabkan overlapping yang dilakukan oleh TNI.
Hal ini karena TNI yang harusnya berperan dalam penindakan justru diikutsertakan dalam pencegahan terorisme.
b. Thinking Ahead
Kompenen ini merupakan kapabilitas untuk berpikir dalam memproyeksikan kondisi di masa mendatang yang dapat berdampak pada kondisi organisasi.
Hasil crawling data di Okezone.com dan Kompas.com menunjukan bahwa wacana yang muncul untuk merespon kemampuan thinking again dalam penanggulangan terorisme muncul dari berbagai aktor yang bersifat muldimensional-multisektoral. Aktor-aktor tersebut kemudian memiliki disparitas sentimen wacana thinking across terhadap kerangka penanggulangan terorisme (Agreement/Disagreement). Pada penelitian ini untuk melihat Thinking ahead pada kebijakan penanggulangan terorisme menggunakan kata kunci: “MoU”, “joint declaration”, dan “peraturan”.
a. BNPT
Posisi BNPT pada aktualisasi kemampuan thinking ahead dalam penanggulangan terorisme termanifestasi dalam pertemuan BNPT dengan Kemendagri Mesir dalam wacana berikut :
Indonesia dan Mesir menyepakati adanya kerja sama penanggulangan ancaman terorisme. Kesepakatan tersebut dituangkan dalam Nota Kesepahamanan (Memorandum of Understanding/MoU) antara Kementerian Dalam Negeri Mesir dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) (Okezone.com, 27 Februari 2019).
Lebih jauh wacana BNPT terhadap thinking ahead dalam penanggulangan teorisme dijustifikasi dalam narasi berikut : commit to user
BNPT melalui Boy Rafli Amar memastikan bahwa pihaknya akan proaktif mendorong pengesahan peraturan pemerintah (PP) tentang perlindungan korban tindak pidana terorisme (Kompass.com, 3 Juli 2020).
Kesuluruhan wacana diatas merefleksikan posisi sepakat BNPT terhadap aktualisasi kemampuan thinking ahead dalam penanggulangan terorisme.
Sistematisasi dari fakta tersebut dilakukan dengan melakukan prediksi tantangan terorisme kedepan sehingga menghasilkan keputusan untuk membuat MoU dengan Kemendagri Mesir dan mendorong PP perlindungan korban terorisme.
b. TNI
Komitmen TNI untuk mengaktualisasikan kemampuan thinking ahead dalam penanggulangan terorisme terpatri dalam wacana yang disampaikan oleh Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto setelah mengajukan anggaran sebesar 1,5 triliun sebagai berikut :
"(Anggaran) untuk pembangunan sarana dan prasarana, pemilihan material khusus, senjata dan perlengkapan lainnya," kata Hadi. Saat ini pemerintah menyiapkan Peraturan Presiden (Perpres) mengenai pelibatan TNI dalam pemberantasan terorisme. Setelah Perpres rampung, Koopsus langsung meningkatkan kesiapsiagaannya untuk membantu Polri dalam penanganan terorisme (Kompas.com, 5 September 2018).
Sistematisasi dari fakta dukungan terhadap kemampuan thinking ahead tersebut dilakukan dengan melakukan prediksi tantangan terorisme kedepan sehingga dianggap perlu mengajukan tambahan anggaran untuk membentuk Koopsus.
c. Polri
Posisi Polri pada aktualisasi kemampuan thinking ahead dalam penanggulangan teorisme termanifestasi dalam tanggapannya terhadap pembentukan Koopssus sebagai berikut :
Pembentukan Koopssus merupakan perintah Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang tugas dan fungsinya dituangkan ke dalam Peraturan Presiden Nomor 42 Tahun 2019 tentang susunan organisasi TNI. Menanggapi pembentukan Koopssus Polri memberikan dukungan terkait terbentuknya satuan dari prajurit terbaik tiga matra TNI itu. Dengan adanya satuan itu, Korps Bhayangkara meyakini bahwa akan terciptanya sinergitas yang baik untuk menanggulangi aksi terorisme ( Okezone.com, 30 Juli 2019)
Fakta dari hasil crawling data di atas menujukan posisi sepakat Polri terhadap aktualisasi thinking ahead dalam penanggulangan terorisme.
commit to user
Sistematisasi dari pernyatan tersebut adalah dukungannya terhadap pembentukan Koopssus melalui Perpres yang dianggap akan membantu penindakan terorisme di masa mendatang.
d. Kejaksaan
Kejaksaan berposisi beposisi sepakat atas aktualisasi kemampuan thinking ahead pada penanggulangan terorisme sub penindakan. Hal ini terefleksi dari pembuatan nota kesepahaman dengan BNPT berupa MoU yang dibuat untuk membangun sinergi dalam mengoptimalkan tugas penanggulangan terorisme. Kejaksaan membuat prediksi kedepan untuk mengoptimalisasikan penanggulangan terorisme sub penindakan kemudian memutuskan untuk membuat MoU dengan BNPT dalam ranah penindakan hukum. Hasil crawling data untuk wacana tersebut terpatri di dalam berita Okezone.com tertanggal 3 Juli 2018 yang telah tersebut diatas.
e. DPR
Posisi DPR pada aktualisasi kemampuan thinking ahead meliki kemiripan dengan posisi DPR terhadap kemampuan thinking across dalam penanggulangan teorisme. Hal ini karena terdapat wacana yang kontras dalam internal DPR yang termanifestasi dalam dua wacana berikut:
Pertama terkait ketidaksepakatan Wakil Ketua DPR Fadli Zon menilai, Komando Operasi Khusus Gabungan ( Koopsusgab) untuk membantu Polri melaksanakan tugas pemberantasan terorisme yang tercermin dalam wacana di Kompas.com tanggal 24 Juni 2018 yang telah tersebut sebelumnya diatas.
Namun disisi lain terdapat wacana kesepakatan terhadap Perpres Pelibatan TNI dalam penanggulangan terorisme sebagai berikut :
Peraturan Presiden (Perpres) tentang Pelibatan TNI dalam Penanggulangan Terorisme harus segera disahkan. Hal ini disampaikan Anggota Komisi I DPR dari Fraksi Partai Golkar Dave Laksono dalam kunjungan kerja Komisi I DPR ke Akademi Militer (AKMIL) Magelang, Jawa Tengah, Rabu 2 Desember 2020 lalu (Okezone.com, 4 Desember 2020).
Fakta diatas menunukan bahwa DPR dapat mendukung dan menolak aktualisasi thinking ahead dalam penanggulangan teororisme. Sistematisasi dari pernyataan tersebut adalah satu sisi ketidaksepakatan terhadap rencana Koopsusgab untuk penindakan teorisme kedepan, sedang di sisi lain sepakat rencana jangka panjang Perpres Pelibatan TNI dalam Penanggulangan Terorisme.
commit to user
f. Kemenlu
Posisi Kemenlu pada aktualisasi kemampuan thinking ahead dalam penanggulangan teorisme termanifestasi dalam pertemuan bilateral dan sidang komisi bersama (SKB) Arab Saudi dengan Menlu RI, Retno Marsudi dengan wacana sebagai berikut :
"SKB ini adalah hasil kunjungan dari Raja Arab Saudi pada tahun lalu, yang merupakan bagian dari hasil joint declaration antara kedua negara "
Beberapa isu yang menjadi perhatian dalam pertemuan kedua menlu antara lain mengenai bidang politik keamanan, penanggulangan terorisme, peningkatan kerja sama pedagangan, investasi, termasuk juga kerja sama perikanan, energi, perhubungan dan kerja sama pariwisata. Jelas Arrmanatha kepada awak media dalam press briefing rutin (Okezone.com, 18 September 2018).
Sistematisasi dari fakta tersebut dilakukan dengan melakukan prediksi tantangan terorisme kedepan sehingga dianggap perlu untuk membuat joint declaration dalam penanggulangan terorisme secara bilaeral antara Indonesia dengan Arab Saudi.
g. Kemenkopolhukam
Posisi Kemenkopolhukam pada aktualisasi kemampuan thinking ahead dalam penanggulangan teorisme termanifestasi dalam pembuatan merespon Perpres yang mengatur pelibatan TNI dalam penanggulangan terorisme sebagai berikut :
Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam), Mahfud MD menyebut pemerintah tengah mengebut proses perampungan daripada Peraturan Presiden (Perpres), yang mengatur pelibatan TNI dalam penanggulangan terorisme. Menurutnya, pelibatan TNI dalam penanggulangan terorisme merupakan pengaplikasian amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018 (Okezone.com, 29 Juli 2020)
Sistematisasi dari fakta tersebut dilakukan dengan melakukan prediksi tantangan terorisme kedepan, sehingga dianggap perlu untuk membuat Perpres yang mengatur pelibatan TNI dalam penanggulangan terorisme.
h. KemenKKP
Posisi KemenKKP pada aktualisasi kemampuan thinking ahead dalam penanggulangan teorisme termanifestasi dalam pembuatan Nota Kesepahaman (MoU) dengan BNPT yang berisi wacana berikut :
Kegiatan-kegiatan yang disepakati dalam MoU tersebut meliputi: a) pertukaran data dan informasi tentang dugaan atau indikasi terorisme di sektor kelautan dan perikanan; b) pencegahan paham radikal terorisme di
commit to user