Nama : Taufik Amin Nur Wijaya
Prodi : Agama dan Lintas Budaya (Kajian Timur Tengah)
Pluralisme Agama
Tantangan pemikiran pada zaman modern ini mendapat respon cukup besar dan dominan sepanjang zaman seperti issue keberagaman atau pluralitas agama. Pluralisme agama adalah paham mengenai pluralitas dalam kehidupan beragama, Issue ini merupakan fenomena yang kini hadir di tengah keanekaragaman klaim kebenaran (absolut truth claims) antar agama yang saling berseberangan. Setiap agama mengklaim dirinya yang paling benar dan yang lain sesat semua. Klaim seperti ini kemudian melahirkan keyakinan yang biasa disebut “Doctrine of Salvation” (doktrin keselamatan), bahwa keselamatan atau pencerahan (enlightenment) atau surga merupakan hak para pengikut agama tertentu saja, sedangkan pemeluk agama lain akan celaka dan masuk neraka.
Pluralisme agama yang melihat kemajemukan agama- agama, beserta kebenaran yang menyertainya. Sehingga sikap eksklusif terhadap agama berubah menjadi inklusif, dan menjadi solusi bagi setiap umat beragama atas kekerasan dan intoleransi antar sesama beragama. Sejatinya keyakinan semacam ini, juga berlaku pada penganut antara sekte atau aliran dalam agama yang sama, seperti yang terjadi antara Protestan dan Katolik dalam agama Kristen, antara Mahadaya dan Hinayama atau Theravada dalam agama Budha, dan juga antara kelompok Islam yang beragam. Realitas tersebut telah mengantarkan pluralismee kepada diskursus yang semakin luas dan sangat konflik.
'liberalisme' (liberalism), yang komposisi utamanya adalah kebebasan, toleransi, persamaan dan keragaman (pluralism).
Yang unik dalam wacana ini adalah bahwa pemikiran “persamaan” agama (Religious Equality), tidak saja dalam memandang eksistensi riil agama- agama (Equality on Exixtence), namun juga dalam memandang aspek esensi dan ajarannya, sehingga dengan demikian diharapkan akan tercipta suatu kehidupan bersama antar agama yang harmonis, penuh toleransi, saling menghargai atau apa yang diimpikan oleh para “pluralis” sebagai “pluralisme agama”. Alih dalih menciptakan kerukunan dan toleransi, paham pluralisme agama itu sendiri sebenarnya sangat tidak toleran, otoriter, dan kejam, karena menafikan kebenaran semua agama.