• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Judul Analisis Nilai Impor Kendaraan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "A. Judul Analisis Nilai Impor Kendaraan"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

A. Judul : Analisis Nilai Impor Kendaraan Bermotor Indonesia dari Jepang Periode 1990-2012 dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi.

B. Latar Belakang Masalah

Seiring dengan perkembangan jaman, banyak perubahan yang terjadi diantaranya adanya perubahan pendapatan, kemajuan teknologi, kemajuan informasi, komunikasi dan transportasi yang menyebabkan keinginan akan suatu barang yang berkualitas semakin meningkat. Salah satu perubahan perilaku konsumen adalah kesadaran konsumen akan gaya hidup berkelas atau sosial di dunia masyarakat. Hal ini menimbulkan munculnya berbagai produk impor yang merajalela di Indonesia salah satunya adalah produk kendaraan bermotor impor dengan berbagai merk. Dengan semakin terbukanya pasar global maka para pengusaha dituntut untuk melakukan pembenahan terhadap kinerjanya dalam rangka memenuhi kualitas produk yang dikehendaki pasar. Di dalam hidupnya, manusia tidak terlepas dari berbagai macam kebutuhan. Kebutuhan merupakan tuntutan dasar manusia dan manusia membutuhkan makanan, udara, air, pakaian dan tempat berlindung untuk dapat bertahan hidup (Kotler 2005:13).

Pemenuhan kebutuhan dengan sumber daya yang ada biasanya memerlukan tenaga ahli dan biaya yang cukup besar. Apabila hanya mengandalkan sumber-sumber daya yang tersedia dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan, dirasa belum mencukupi akibat keterbatasan sumber daya manusia dan teknologi. Indonesia belum dapat sepenuhnya memiliki kemampuan untuk menciptakan atau memproduksi sebagian besar kebutuhannya. Dengan pertimbangan inilah, Indonesia masuk dalam perdagangan internasional yang dapat memberikan peluang bagi suatu negara untuk dapat melakukan ekspor maupun impor.

(2)

kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kemakmuran masyrakat suatu negara. Perdagangan internasional adalah suatu cara yang paling tepat untuk meningkatkan kemakmuran masyarakat suatu negara karena tidak semua negara memiliki peralatan produksi dan kondisi yang sama, baik kualitas maupun kuantitasnya. Kenyataan ini lebih meyakinkan pentingnya peran dari perdagangan internasional dewasa ini. Para ahli ekonomi sejak beberapa abad yang lalu menyadari manfaat dari adanya perdagangan antar bangsa terhadap perekonomian suatu negara. Salah satu keuntungan perdagangan antar negara adalah memungkinkan suatu negara untuk berspesialisasi dalam menghasilkan barang dan jasa dengan biaya yang lebih murah dari segi bahan maupun berproduksi dengan kualitas produk yang baik.

Perdagangan internasional memberikan harapan bagi negara untuk bisa menutupi kekurangan tabungan yang diperlukan bagi pembentukan modal dalam rangka untuk meningkatkan produktivitas ekonomi (Tambunan,2000:63). Dalam hal ini dapat diketahui salah satunya melalui tingkat Produk Domestik Bruto (PDB). Indonesia dikatakan berhasil dalam strategi pengembangan pembangunan jika laju pertumbuhan pendapatan rata-rata pertahunnya tinggi dengan komposisi yang tidak lagi di dominasi oleh komoditas pertanian dan pertambangan.

(3)

Komoditi penting yang diimpor Jepang dari Indonesia adalah minyak, gas alam cair, batubara, hasil tambang, udang, tekstil dan produk tekstil , mesin perlengkapan listrik, dll. Di lain pihak, barang-barang yang diekspor Jepang ke Indonesia meliputi mesin-mesin dan suku cadang, produk plastic dan kimia, baja, transportasi dan suku cadang mobil.

Pada umumnya pertumbuhan ekonomi suatu negara dapat diukur dengan Produk Domestik Bruto (PDB). PDB sangat mempengaruhi pola konsumsi penduduk di suatu negara. Umumnya pola konsumsi penduduk yang meningkat di negara sedang berkembang akan diikuti oleh kecendrungan meningkatkan impor, hal ini disebabkan produktivitas di negara tersebut belum mampu untuk memenuhi seluruh kebutuhannya. Dalam dunia nyata , sangat sulit untuk mencatat jumlah juta US$ barang dan jasa yang dihasilkan selama periode tertentu, sehingga untuk menafsir perubahan output angka yang digunakan adalah nilai moneternya (uang) yang tercermin dalam Produk Domestik Bruto (PDB). Pada umumnya pertumbuhan aktivitas ekonomi yang terjadi atau berlangsung didalam perekonomian suatu negara dapat dihitung dengan Produk Domestik Bruto (PDB) (Muana,2005:9).

Jumlah impor ditentukan oleh kesanggupan atau kemampuan suatu negara dalam menghasilkan barang-barang yang mampu bersaing dengan buatan luar negeri, selain itu yang paling menentukan jumlah impor adalah kemampuan negara dalam membeli barang-barang hasil buatan luar negeri yang berarti nilai impor tergantung dari tingkat pendapatan nasional negara itu sendiri. Makin tinggi pendapatan serta makin rendah kemampuan negara dalam menghasilkan barang-barang tersebut maka impor makin tinggi dan makin banyak terdapat kebocoran dalam pendapatan nasional (Deliarnov, 1995:204).

(4)

diyakini terbaik dalam menilai kerja pertumbuhan ekonomi suatu negara dan merupakan landasan dalam melakukan pengukuran kinerja perekonomian suatu negara (Sukirno,2001:33).

Tabel 1.1 Perkembangan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia atas Dasar

Harga Konstan Periode 1990-2012

Tahun Produk Domestik Bruto (Miliar Rupiah) Perkembangan (%)

(5)

tahun 2012 yaitu sebesar 261,893,840 miliar rupiah dengan perkembangan 6 persen. Sedangkan Produk Domestik Bruto (PDB) terendah terjadi pada tahun 1991 yaitu sebesar 12,318.10 miliar rupiah dengan perkembangan minus 89 persen. Hal ini dikarenakan pada tahun 1991 terjadi krisis ekonomi yang melanda Indonesia. Krisis ekonomi yang terjadi tersebut menyebabkan terpuruknya perekonomian Indonesia.

Teori permintaan menjelaskan bahwa terdapat hubungan antara permintaan dan harga. Bahkan semakin tinggi suatu harga komoditas maka semakin rendah kuantitas permintaan terhadap komoditas tersebut. Demikian sebaliknya semakin rendah harga komoditas tersebut maka meningkat asumsi ceteris paribus (factor yang lain tidak mengalami perubahan). Harga yang dimaksud adalah kurs valuta asing sedangkan permintaannya adalah impor dari negara bersangkutan. Jika kurs valuta asing meningkat maka impor cenderung menurun, sebaliknya jika kurs valuta asing menurun maka impor akan meningkat (Sukirno,2006:76).

(6)

pihak luar negeri (Sukirno, 1981:297). Kurs rupiah terhadap dollar AS memainkan peranan sentrel dalam perdagangan internasional, karena kurs rupiah terhadap dollar AS memungkinkan kita untuk membandingkan harga semua barang dan jasa yang dihasilkan berbagai negara. Kurs valuta asing dapat diklasifikasikan kedalam kurs jual dan kurs beli. Selisih dari penjualan dan pembelian merupakan pendapatan bagi pedagang valuta asing. Sedang bila ditinjau dari waktu yang dibutuhkan dalam menyerahkan valuta asing setelah transaksi kurs dapat diklasifikasikan dalam kurs spot dan kurs berjalan (forward exchange). Semua transaksi valuta asing yang berlangsung seketika atau langsung di mana kedua belah pihak sepakat untuk saling membayar secepatnya saat itu atau paling lambat dua hari setelah transaksi, disebut kurs spot (spot exchange rate). Sedangkan kesepakatannya disebut transaksi spot. Beberapa kesepakatan sering seringkali secara khusus menetapkan tanggal lebih dari dua hari, misalnya 30 hari, 90 hari,atau 180 hari atau bahkan beberapa tahun. Kurs yang menjadi dasar bagi transaksi semacam ini disebut kurs berjangka (forward exchange rate). (Triyono, 2008)

Kurs valuta asing dalam hal ini adalah kurs dollar Amerika Serika, berpengaruh pada perkembangan perdagangan. Perkembangan kurs mata uang dalam negeri terhadap mata uang asing, khususnya dollar Amerika Serikat. Dollar Amerika Serikat merupakan mata uang internasional atau mata uang cadangan yang sejalan dengan menanjaknya posisi Amerika Serikat di bidang perekonomian dunia, terutama setelah perang dunia I. Dollar Amerika Serikat diterima oleh siapapun sebagai pembayaran bagi transaksinya (Boediono,2005:97). Apabila kurs valuta asing mengalami penurunan dibandingkan dengan mata uang dalam negeri, maka akan meningkatkan impor dan apabila kurs valuta asing mengalami peningkatan akan menurunkan impor (Pratama Andika, 2007:9).

(7)

Sumber : Badan Pusat Statistik 1990-2012 (data digabung) (www.bps.go.id) Gambar 1.2 memperlihatkan kurs dollar Amerika Serikat (US$) terhadap rupiah peningkatan tertinggi terjadi pada tahun 1997 yang pningkatannya mencapai 4.650,00 dengan perkembangan 95,13 persen. Kurs dollar Amerika Serikat pada periode 1990-2012 menunjukan perkembangan rata-rata sebesar 9,81 persen.

(8)

lainnya. Mata uang yang dapat diterima secara universal adalah nilai mata uang Amerika Serikat yaitu US$. Oleh karena itu untuk melakukan perdagangan internasional harus memperhatikan nilai tukar rupiah terhadap mata uang Amerika Serikat agar menjauhkan terjadinya defisit anggaran yang terlalu tinggi.

Gambar 1.3 Perkembangan Inflasi di Indonesia Pada Tahun 1990-2012

Sumber : Badan Pusat Statistik (data diolah) (www.bps.go.id)

Gambar 1.3 menunjukkan bahwa tingkat inflasi terlihat cukup fluktuatif. Dapat dilihat tingkat inflasi tertinggi terdapat pada tahun 1998 dimana inflasi mencapai 77,63 persen. Pada tahun berikutnya, yaitu 1999 dimana inflasi dapat ditekan menjadi 2,01 persen yag dimana dapat dikategorikan tingkat paling rendah. Pada tahun 2001 dan 2002 inflasi sempat meninggi di angka 12,55 persen di tahun 2001 dan 10,03 persen di tahun 2002. Inflasi mengalami penurunan pada tahun 2003 dan 2004, kemudian meningkat kembali di tahun 2005 dengan 17,11 persen. Dan pada tahun 2011 dan 2012 mengalami penurunan kembali sebesar 3,79 persen di tahun 2011 dan 4,30 di tahun 2012.

(9)

jumlah mata uang asing atau jumlah cadangan devisa, dimana dalam hal penanaman modal asing di Indonesia melalui portofolio asing memiliki pangsa yang cukup besar dalam struktur modal dan finansial. Hal tersebut terjadi karena Indonesia merupakan bagian dalam negara emerging market economy sehingga dapat memberikan imbal balik investasi yang menarik (Masdjojo, 2010).

Selain inflasi, yang secara tidak langsung mempengaruhi impor adalah cadangan devisa. Menurut Tambunan (2001: 158) menyebutkan cadangan devisa merupakan salah satu indicator moneter yang sangat penting yang menunjukan kuat atau lemahnya fundamental ekonomi suatu negara. Cadangan devisa dalam jumlah yang cukup merupakan salah satu jaminan bagi tercapainnya stabilitas moneter dan ekonomi makro suatu negara. Adapun perkembangan cadangan devisa Indonesia selama dua puluh tiga tahun terakhir periode 1990-2012 diperlihatkan oleh gambar 1.4.

(10)

Gambar 1.4 Perkembangan Cadangan Devisa Indonesia Tahun 1990-2012

Sumber : Bank Indonesia, 2013 (bi.go.id)

Salah satu kebijakan pemerintah dalam bidang perdagangan adalah melalui kebijakan impor. Kebijakan impor dilakukan karena Indonesia belum sepenuhnya mampu dalam memproduksi kebutuhan sendiri dan juga jumlah barang dan jasa yang dibutuhkan ternyata lebih besar dari produksinya. Adanya kebutuhan untuk memenuhi kebutuhannya ini , maka Indonesia harus melakukan kerjasama dengan pihak luar negeri melalui perdagangan Internasional.

(11)

Impor kendaraan bermotor Indonesia dari Jepang tidak terlepas dari kondisi dalam negeri yang sangat dibutuhkan sebagai sarana transportasi dalam kegiatan sehari-hari. Kendaraan bermotor pada jaman ini bukan lagi sebagai kebutuhan sekunder melainkan sudah menjadi kebutuhan primer. Dan juga lonjakan impor kendaraan bermotor dipicu oleh peningkatan permintaan terhadap perekonomian di Indonesia. Kegairahan pasar otomotif di Indonesia di topang oleh industry pembiayaan yang semakin kreatif menciptakan berbagai produk yang memudahkan bagi masyarakat konsumen untuk memiliki kendaraan bermotor (http://bataviase.co.id/node/128294).

Tablel 1.5 memperlihatkan kenaikan impor di berbagai negara tersebut bervariasi, tetapi menunjukan tred yang semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Tabel 1.5. Perkembangan Nilai Impor Kendaraan Bermotor Indonesia Menurut

Negara Asal Periode 1990-2012 (juta US$)

Tahun Negara

Jepang Korea Selatan Australia Amerika Serikat Inggris Prancis Jerman Thailand

(12)

2010 828.90 48.90 0 70.00 76.20 0.00 122.40 1 195.50

2011 1 208.00 61.50 0 293.30 122.70 0.00 171.00 1

412.80

2012 1 574.50 63.30 0 258.70 228.80 0.00 171.50 2

(13)

Jepang merupakan salah satu negara pengekspor terbesar kendaraan bermotor ke Indonesia dibandingkan dengan pengekspor negara lainnya dengan nilai ekspor 1574.50 juta US$ pada tahun 2012. Adapun berbagai merk kendaraan yang berasal dari Jepang antara lain seperti Honda, Toyota , Suzuki dan lain-lain. Berbagai produk impor dari Jepang telah masuk ke Indonesia untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Perkembangan volume impor kendaraan bermotor Indonesia dari Jepang dalam waktu dua puluh tiga tahun yaitu tahun 1990-2012 mengalami fluktuasi seperti ditunjukan pada Tabel 1.5 Perkembangan Nilai Impor Kendaraan Bermotor Indonesia dari Jepang tahun 1990-2012

Sumber : Badan Pusat Statistik 1990-2012 (data digabung) (www.bps.go.id) Tahun Nilai Impor Kendaraan Bermotor Indonesia dariJepang Periode 1990-2012 (jutaUS$) Perkembangan(%)

(14)

-Tingkat perkembangan nilai impor kendaraan bermotor Indonesia dari Jepang rata-rata… persen per tahun. Nilai impor kendaraan bermotor yang tertinggi terjadi pada tahun 2012 yaitu sebesar 1574,50 juta US$ dengan perkembangan persen dan yang terendah terjadi pada tahun 1999 yaitu sebesar 16,5 juta US$ dengan perkembangan minus persen. Semua hal tersebut ditunjukan pada Tabel 1.5.

C. Rumusan Masalah Penelitian

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan , maka yang menjadi pokok permasalahan adalah :

1) Apakah Produk Domestik Bruto (PDB), Kurs Dollar Amerika Serikat, Inflasi dan Cadangan Devisa secara serempak berpengaruh terhadap Nilai Impor Kendaraan Bermotor Indonesia dari Jepang periode 1990-2012?

2) Bagaimakah pengaruh Produk Domestik Bruto (PDB), Kurs Dollar Amerika Serikat, Inflasi dan Cadangan Devisa secara parsial berpengaruh terhadap Nilai Impor Kendaraan Bermotor Indonesia dari Jepang periode 1990-2012?

3) Variabel manakah yang berpengaruh dominan terhadap Nilai Impor Kendaraan Bermotor Indonesia dari Jepang periode 1990-2012?

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah ditetapkan ,maka tujuan dari penelitian yang hendak dicapai asalah untuk mendapatkan bukti empiris mengenai :

(15)

2) Untuk mengetahui pengaruh Produk Domestik Bruto (PDB) , Kurs Dollar Amerika Serikat, Inflasi dan Cadangan Devisa secara parsial terhadap Nilai Impor Kendaraan Bermotor Indonesia dari Jepang periode 1990-2012.

3) Untuk mengetahui variable yang mana paling berpengaruh dominan terhadap nilai impor kendaraan bermotor Indonesia dari Jepang periode 1990-2012.

E. Kegunaan Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian maka penelitian ini diharapkan dapat membeikan kegunaan sebagai berikut :

1. Kegunaan Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan informasi , wawasan dan refrensi yang lebih luas tentang konsep atau teori-teori yang berkaitan dengan bidang perdangan internasional , khususnya mengenai impor.

2. Kegunaan Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dan pertimbangan bagi pemerintah khusunya dalam merumuskan dan menentukan kebijakan dalam perdagangan baik dalam kebijakan ekspor maupun impor.

F. Kajian Pustaka dan Hipotesis Penelitian

F.1 Landasan Teori dan Konsep

F.1.1 Perdagangan Internasional

(16)

perdagangan pada dasarnya terjadi karena salah satu atau kedua belah pihak melihat adanya manfaat dan keuntungan tambahan yang dapat diperoleh dari kegiatan pertukaran tersebut. Perbedaan di dalam permintaan maupun penawaran menjadi prinsip timbulnya perdagangan antar Negara. Perbedaan tersebut berbeda, misalnya dikarenakan selera dan pendapatan masing-masing konsumen yang berbeda satu sama lain. Sedangkan , perbedaan penawaran misalnya dikarenakan perbedaan di dalam kualitas factor-faktor produksi dan jumlah produk yang dihasilkan , eksternalitas , dan tingkat teknologi (Nopirin,2007:26)

Teori-teori perdagangan internasional adalah teori-teori yang mencoba memahami mengapa sebuah Negara melakukan kerja sama perdagangan dengan memahami negara-negara lain. Teori tersebut makin disempurnakan oleh Adam Smith, David Ricardo, Dan Hecher Ohlin.

1) Teori Praklasik (Merkantilisme)

Merkantilisme adalah ajrn atau paradigm yang berkeyakinan bahwa perekonomian suatu Negara makin makmur bila mampu surplus perdagangan. Konsekuensinya adalah memaksimalkan ekspor sekaligus meminimumkan impor. Dengan campur tanggan pemerintah maka surplus neraca perdagangan selalu dipertahankan sehingga logam mulia akan mengalir kedalam negeri.

2) Teori Klasik

 Teori Keunggulan Absolut (Absolute Advarage : Adam Smith)

(17)

upaya peningkatan efisiensi. Sebaliknya spesialisasi dilakukan berdasarkan pertimbangan absolute, yaitu keunggulan yang dilihat dari kemampuan produksi dengan biaya lebih murah.

 Teori Keunggulan Komperatif (omratie Adantage : David Ricardo)

Menurut David Ricardo, suatu negara akan mengekspor produk dimana negara itu mempunyai comperative disadvantage yaitu suatu barang yang dapat dihasilkan dengan lebih murah dan mengimpor barang yang kalau dihasilkan sendiri akan memakan ongkos yang besar atau mahal. Dalam hal ini nilai suatu barang juga ditentukan oleh banyaknya tenaga kerja yang digunakan untuk menghasilkan barang tersebut. Teori ini didasarkan pada nilai tenaga kerja atau Theory Value yang mnyatakan bahwa, nilai atau harga suatu produk ditentukan oleh jumlah waktu atau jam yang dipelukan untuk memproduksinya (hady,2001).

3) Teori Modern

(18)

Teori perilaku menurut Mowen dan Minor (2002:6) menyatakan bahwa perilaku konsumen adalah suatu studi tentang unit pembelian (buying units) dan proses pertukaran yang melibatkan perolehan , konsumsi , dan pembuatan barang , jasa , pengalam-pengalaman , serta ide-ide. Na dan Ping (2002:2) bahwa orang yang memiliki lifestyle lebih modern dan yang memiliki waktu terbatas cnderung membeli online , yaitu mereka yang menggunakan internet sebagai alat rutin dan atau mereka yang lebih banyak waktu kelaparan lebih suka berbelanja di Internet. Menurut Swastha dan Handoko (2000:10) , perilaku konsumen adalah kegiatan personal yag secara tidak langsung terlibat dalam mendapatkan dan menggunakan barang dan jasa, termasuk di dalamnya proses pegambilan keputusan pada persiapan dan penentuan kegiatan-kegiatan yang sesuai kriteria tersebut.

Schiffman dan Kanuk (2008:5) memiliki definisi perilaku konsumen yang menitikberatkan pada proses, yaitu perilaku yang ditunjukan oleh konsumen dalam mencari ,membeli , menggunakan , mengevaluasi , dan membuang produk dan jasa yang diharapkan akan memenuhi berbagai kebutuhannya. Menurut Kotler (2005:201) perilaku konsumen mempelajari cara individu , kelompok dan organisasi memilih , membeli , memakai serta memanjfaatkan barang dan jasa, gagasan atau pengalaman dalam rangka memuaskan kebutuhan dan hasrat mereka.

F.1.2 Teori Impor

Impor merupakan kegiatan pengiriman barang ke dalam daerah pabean di Indonesia. Menurut Amir (2001), suatu kegiatan impor akan dimulai dari adanya pelaku-pelaku yang terlibat, yaitu importir dan eksportir atas barang dan jasa tertentu dimana keduanya berada di wilayah negara yang berbeda. Impor di tiap negara berbeda-beda, tergantung kebutuhan dan kemampuan dalam memenuhinya.

(19)

konsumsi penduduknya. Herlambang (2001: 267) menyebutkan bahwa ada dua macam defisiensi yang dapat terjadi, yaitu defisiensi kuantitas dan defisiensi kualitas. Besarnya impor yang dilakukan suatu negara dipengaruhi oleh kesanggupan barang yang di produksi di negara lain dan mampu untuk bersaing dengan barang-barang dan jasa produksi domestik.

F.1.3 Teori Produk Domestik Bruto (PDB)

F.1.3.1 Pengertian Produk Domestik Bruto (PDB)

Menurut Ace Prataditeja dalam Hastuti (2008) PDB adalah hasil dari produksi barang-barang dengan jasa-jasa dan perusahaan serta barang-barang dan jasa asing yang ada di suatu negara bersangkutan. PDB mengukur nilai barang dan jasa yang diproduksi diwilayah negara tanpa membedakan kewarganegaraan pada suatu periode tertentu (Herlambang, 2001:22). Lebih lanjut Abbas et al (2011). Menjelaskan PDB merupakan nilai barang-barang dan jasa-jasa yang diproduksi dalam suatu negara selama satu tahun, PDB bisa dikatakan sebagai nilai barang dan jasa dalam suatu negara yang diproduksikan oleh faktor-faktor produksi milik warga negara negara tersebut dan negara asing. Hal ini sering dianggap sebagai indikator pertumbuhan dan standar hidup untuk negara.

Dari beberapa pengertian PDB di atas, setidaknya terdapat tiga hal penting yang perlu untuk dijelaskan lebih lanjut yaitu (Nanga, 2005:13-14) :

1) PDB hanya mencangkup barang akhir (final goods) dan nilai tambah (value added) saja. Sedangkan barang antara dan barang setengah jadi (intermediate or semifinished goods) tidak dimasukkan sebagai komponen dari PDB.

(20)

3) PDB yang dihasilkan itu dinilai berdasarkan harga pasar yang berlaku (at current market prices).

F.1.3.2 Hubungan Produk Domestik Bruto (PDB) dengan Impor

Pada umumnya pertumbuhan perekonomian suatu negara dapat di ukur dengan PDB, karena merupakan nilai pasar semua barang dan jasa akhir yang diproduksi dalam suatu negara selama satu periode atau satu tahun (Van den Bergh, 2009). PDB sangatlah mempengaruhi pola konsumsi masyarakat di negara berkembang, biasanya seiring meningkatnya pola konsumsi masyarakat maka impor akan cenderung meningkat. Hal semacam ini di sebabkan karena produktifitas suatu negara belum mampu memenuhi seluruh kebutuhannya (Nanga, 2005:9).

Jumlah impor juga ditentukan oleh kemampuan suatu negara dalam menghasilkan barang-barang yang nantinya bersaing dengan barang negara lain. Kemampuan suatu negara untuk membeli barang-barang impor juga sangat di pengaruhi oleh tingkat pendapatan nasional negara itu sendiri. Semakin tinggi pendapatan suatu negara dan makin rendah kemampuan negara menghasilkan barang tersebut maka impor akan meningkat. Menurut Nopirin (2009:148) yang menyebutkan bahwa, semakin tinggi tingkat pertumbuhan pendapatan (PDB), maka semakin besar kemungkinan untuk impor. Dapat disimpulkan antara impor dengan tingkat pendapatan atau produk domestik bruto memiliki hubungan yang positif.

F.1.4 Teori Kurs Valuta Asing

(21)

Selain itu menurut Nopirin (2000:138), dalam pasar valuta asing tidak hanya menyangkut masalah kurs atau harga suatu valuta asing saja, tetapi juga pihak-pihak yang melakukan transaksi seperti eksportir dan importir, bank, pedagang perantara dan bank sentral. Pasar valuta asing mempunyai beberapa fungsi pokok dalam membantu kelancaran lalu lintas pembayaran internasional, diantaranya :

1. Mempermudah dalam penukaran valuta asing serta pemindahan dana dari satu negara ke negara lain. Proses penukaran atau pemindahan dana ini dapat dilakukan dengan sistem “clearing” seperti halnya yang dilakukan oleh bank-bank serta para pedagang. 2. Seringnya terdapat transaksi internasional yang tidak perlu segera diselesaikan

pembayaran dan atau penyerahan barangnya, maka pasar valuta asing memberikan kemudahan untuk dilaksanakannya perjanjian atau kontrak jual beli dengan kredit.

F.1.4.1 Hubungan Kurs Dollar Amerika Serikat Dengan Impor

Kurs adalah suatu variabel ekonomi yang digunakan untuk mengkonversi suatu harga mata uang asing ke dalam mata uang domestik, ataupun sebaliknya. Apabila kurs mengalami kenaikan atau terapresiasi, maka barang-barang di luar negeri akan lebih mahal dan impor akan menurun. Mampu mengkonversi satu mata uang ke dalam mata uang yang lain dengan kurs yang berlaku sangat penting untuk bisnis internasional dan pengambilan keputusan. Menurut penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Darwanto (2007) menyatakan bahwa, depresiasi rupiah akan menyebabkan harga barang domestik itu sendiri lebih kompetitif dibandingkan produk luar negeri.

F.1.5 Teori Inflasi

(22)

hargabarang dan jasayang tersedia pada umumnya. Perlu digaris bawahi bahwa definisi inflasi mencakup aspek-aspek sebagai berikut (Santoso, 2008) :

1. Tendency, yaitu berupa kecenderungan harga-harga untuk meningkat, artinya dalam suatu waktu tertentu dimungkinkan terjadinya penurunan harga tetapi secara keseluruhan mempunyai kecenderungan (trend) meningkat.

2. Sustained, kenaikan harga yang terjadi tidak hanya berlangsung dalam waktu tertentu saja, melainkan secara terus menerus dalam jangka waktu yang lama.

3. General level of price, harga dalam konteks inflasi dimaksudkan sebagai harga barang-barang secara umum, bukan dalam artian satu atau dua jenis barang-barang saja.

Dilihat dari tingkat keparahannya (severity), inflasi juga dapat dipilah ke dalam 3 jenis,yaitu (Nanga, 2005:247) :

1. Inflasi Sedang (moderate inflation), yaitu inflasi yang ditandai dengan harga harga yang meningkat secara lambat, dan tak terlalu menimbulkan distorsi pada pendapatan dan harga relatif.

2. Inflasi Ganas (galloping inflation), yaitu inflasi yang mencapai antara dua atau tiga digit seperti 20%, 100% atau 200% per tahun, dan dapat menimbulkan gangguan-gangguan serius dalam perekonomian.

3. Hiperinflasi (hyperinflation), yaitu tingkat inflasi yang sangat parah, bisa mencapai ribuan bahkan milyar persen per tahun dan merupakan jenis inflasi yang mematikan.

F.1.5.1 Hubungan Inflasi Dengan Impor

(23)

mengurangi ekspor dan mengurangi impor. Kecenderungan ini akan memperlambat pertumbuhan perekonomian.

Inflasi juga menyebabkan harga barang impor menjadi lebih murah daripada barang yang dihasilkan dalam negeri. Pada umumnya inflasi akan menyebabkan impor berkembang lebih cepat dibandingkan dengan ekspor (Sadono Sukirno, 2002). Dalam penelitian Ulke (2011) dalam Econometric Analysis of Import and Inflation Relationship in Turkey between 1995 and 2010 dinyatakan bahwa inflasi mempunyai hubungan yang searah terhadap volume

impor.

F.1.6 Teori Cadangan Devisa

Cadangan Devisa atau Foreign Reserve Currencies adalah mata uang asing, misalnya dolar Amerika yang dipegang oleh pemerintah atau bank sentral setiap negara yang pada umumnya digunakan sebagai cadangan internasional (Lipsey, 1990:499). Dalam hal ini, penyimpanan mata uang asing sebagai aset dapat berdampak terhadap stabilitas nilai mata uang dan mengurangi dampak guncangan ekonomi nantinya (Kumarasamy, 2012).

Begitu juga dikatakan oleh Nilawati (2000:162), cadangan devisa yaitu stok emas dan mata uang asing yang dimiliki dan sewaktu-waku digunakan untuk transaksi atau pembayaran internasional.Posisi cadangan devisa suatu negara biasanya dinyatakan aman apabila mencukupi kebutuhan impor untuk jangka waktu setidak-tidaknya tiga bulan. Jika cadangan devisa yang dimiliki tidak mencukupi kebutuhan untuk tiga bulan impor, maka hal itu dianggap rawan. Tipisnya persediaan valuta asing suatu negara dapat menimbulkan kesulitan ekonomi bagi negara yang bersangkutan.

(24)

sesuai dengan tugas yang diberikan oleh UU No. 13Tahun 1968.Kedua, mencakup seluruh devisa yang dimiliki badan, perorangan, lembaga,terutama lembaga keuangan nasional yang secara moneter merupakan bagian darikekayaan nasional (Halwani Hendra:2005).

F.1.6.1 Hubungan Cadangan Devisa Dengan Impor

Impor ditentukan olehkesanggupan atau kemampuan dalam meghasilkan barang-barang yang bersaingdengan barang-barang luar negeri. Hal ini berarti nilai impor bergantung pada tingkat nilaipendapatan nasional suatu negara tersebut.

Semakin tinggi tingkat pendapatan nasional, dan semakin rendah kemampuannegara tersebut dalam menghasilkan barang- barang tertentu, maka kegiatan imporpun akan semakin tinggi. Hal ini menyebabkan banyaknya kebocoran dalampendapatan nasional.

F.2 Hipotesis Penelitian

Dari landasan teori, pembahasan hasil penelitian sebelumnya dan model perilaku pembelian konsumen dan keputusan pembelian produk, terdapat beberapa hipotesis yaitu jawaban sementaradari hasil penelitian sesuai dengan rumusan masalah yang diajukan , yaitu sebagai berikut :

1). Diduga bahwa produk domestik bruto (PDB) , kurs dollar Amerika Serikat , Inflasi dan cadangan devisa berpengaruh signifikan terhadap nilai impor kendaraan bermotor Indonesia dari Jepang Periode 1990 -2012.

2). Diduga bahwa produk domestik bruto (PDB) , kurs dollar Amerika Serikat, Inflasi dan cadangan devisa berpengaruh negatif terhadap nilai impor kendaraan bermotor Indonesia dari Jepang Periode 1990 -2012.

(25)

Metode penelitian adala langkah dan prosedur yang digunakan dalam pengumpulan data atau informasi empiris guna memecahkan permasalahan dan menguji hipotesis penelitian. Metode penelitian adalah tata cara bagaimana suatu penelitian dilaksanakan. Penulisan menggunakan metode penelitian sebagai berikut:

G.1 Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini adalah Indonesia dengan menggunakan data runtut waktu yang dikeluarkan dan dipublikasikan oleh Badan Pusat Statistik yang ada kaitannya dengan obyek penelitian. Alasannya adalah karena dilihat dari data yang ada bahwa Indonesia merupakan salah satu negara pengimpor kendaraan bermotor terbesar dari Jepang.

G.2 Objek Penelitian

Objek penelitiannya adalah Produk Domestik Bruto (PDB) , kurs dollar Amerika Serikat, Inflasi dan cadangan devisa terhadap nilai impor kendaraan bermotor Indonesia dari Jepang periode 1990-2012.

G.3 Indetifikasi Variabel

Sebelum melakukan analisis data dan menguji hipotesis, terlebih dahulu perlu didefinisikan variable-variabel yang akan dipergunakan dalam model penelitian ini. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini, antara lain :

1) Variabel Terikat (Dependent Variable)

(26)

2) Variabel Bebas (Independent Variabel)

Variable bebas merupakan variable yang mempengaruhi atau penyebab timbulnya variable terikat (Sugiyono , 2007 :33). Pada penelitian ini yang menjadi variable bebas adalah Produk Domestik Bruto (PDB) (X1), kurs dollar Amerika Serikat (X2), Inflasi (X3) dan cadangan devisa (X4).

G.5 Definisi Operasional Variabel

Berdasarkan identifikasi variabel penelitian, adapun definisi operasional dari masing-masing variabel adalah sebagai berikut :

1.Nilai Impor Kendaraan Bermotor Indonesia dari Jepang adalah jumlah keseluruhan nilai impor kendaraan bermotor Indonesia dari Jepang periode 1990-2012.

2. Produk Domestik Bruto merupakan alat untuk mengukur nilai barang dan jasa yang diproduksi diwilayah negara tanpa membedakan kewarganegaraan pada suatu periode tertentu dalam penelitian ini menggunakan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia atas dasar harga konstan periode 1990-2012 dalam satuan Milyar Rupiah.

3. Kurs dollar Amerika Serikat adalah nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat yang merupakan kurs tengah yang digunakan oleh Bank Indonesia pada periode 1990-2012 dan dinyatakan dalam satuan Rp/1US$.

4. Inflasi dalam hal ini dimana suatu gejala yang membuat tingkat harga umum mengalami kenaikan secara terus-menerus dan terjadi di Indonesia dalam kurun waktu 1990-2010 dan dinyatakan dalam satuan persentase (%).

5. Cadangan devisa merupakan penerimaan negara yang digunakan dalam transaksi pembayaran untuk menjaga stabilitas moneter dalam negeri dan dinyatakan dalam satuan triliun.

G.4 Jenis dan Sumber Data

(27)

Devisa, dan Nilai Impor Kendaraan Bermotor Indonesia dari Jepang periode 1990-2012. Selanjutnya data kualitatif yang dimana merupakan data yang tidak berbentuk angka-angka dan tidak dapat diukur dengan satuan hitung yang berupa yaitu berupa penjelasan keterangan-keterangan yang berbentuk kata, kalimat, skema dan gambar mengenai variable yang diteliti (Sugiyono, 2002:13). Selain itu terdapat jenis dan data menurut sumbernya yaitu data sekunder merupakan data yang telah dikumpulkan dan dipublikasikan oleh pihak lain (Sugiyono, 2007:59). Data sekunder yang dipergunakan dalam penelitian ini diperoleh dari Badan Pusat Statistik Bali , Bank Indonesia serta literature-literatur yang terkait dan mendukung penelitian ini.

G.5 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi non paticipan , yang artinya dalam melakukan pengumpulan data dengan pengamatan atau observasi dimana peneliti tidak langsung dan hanya sebagai pengamat independen (Sugiyono, 2007:204). Adapun berbagai dokumentasi atau publikasi dari berbagai pihak yang berwenang dan instansi terkait seperti data dari Badan Pusat Statistik dan Bank Indonesia.

G.6 Teknik Analisis Data

Analisis Regresi Linier Berganda

Untuk mengetahui prospek perkembangan dan faktor-faktor yang mempengaruhi impor kendaraan bermotor di Indonesia tahun 1990-2012 maka digunakan analisis regresi linier berganda, dengan rumus : (Ghozali, 2002 : 62)

Y = α + β1X1 + β2X2 + β3X3 + β4X4 + µi……….(1)

Keterangan :

Y = Nilai impor kendaraan bermotor Indonesia dari Jepang

α = Konstanta

(28)

= Kurs Dollar Amerika Serikat = Inflasi

= Cadangan Devisa = error

Agar hasil regresi yang diperoleh benar-benar memenuhi sifat BLUE (Best Linear Unbiased Estimator) atau apakah sudah memiliki kriteria ekonometrika dalam arti tidak terjadi penyimpangan yang cukup serius dari asumsi-asumsi yang diperlukan maka perlu dilakukn uji asumsi klasik.

1.Uji Asumsi Klasik

Uji Asumsi Klasik merupakan ekonometrika untuk mengetehaui hasil estimasi regresi yang dilakukan benar-benar bebas dari adanya gejala multikolinearitas, autokolerasi dan heteroskedastisitas.

Uji asumsi Klasik meliputi : a. Uji Normalitas

Sebelum model regresi digunakan untuk memprediksi maka terlebih dahulu dilakukan uji normalitas terhadap residual. Model regresi yang baik adalah model regresi yang residual berdistribusi normal. Suyana Utama (2009:11) mengatakan bahwa untuk menguji normalitas suatu residual dilakukan dengan melihat Sig ( 2-tailed). Jika Sig (2-tailed) lebih besar dari level of significant yang dipakai, maka Ho diterima, selanjutnya disimpulkan bahwa residual yang dianalisis berdistribusi normal. Sebaliknya jika Sig (2-tailed) lebih kecil berarti bahwa data yang dianalisis tidak berdistribusi normal.

Formulasi Hipotesis

H0 : Residual yang diuji berdistribusi normal H1 : Residual yang diiuji tidak berdistribusi normal

b. Uji Autokorelasi

(29)

Masalah ini timbul karena residual (kesalahan pengganggu) tidak bebas dari satu observasi lainnya (Imam Ghozali, 2002 : 61). Adapun cara yang digunakan untuk mendeteksi ada atau tidaknya autokorelasi adalah dengan menggunakan Uji Durbin-Watson (DW test).

Tidak ada autokorelasi apabila dl<DW<du Hipotesis yang akan diuji :

Ho : tidak ada autokorelasi ( r = 0 ) Ha : ada autokorelasi ( r # 0 )

Adapun cara pengambilan keputusan ada tidaknya autokorelasi adalah : 1) Bila nilai DW terletak antara batas atau upper (du) dan (k-du), maka

koefisien autokorelasi sama dengan nol, berarti tidak ada autokorelasi. 2) Bila DW lebih rendah dari pada batas bawah atau lower bound (d1), maka

koefisien autokorelasi lebih besar dari nol, berarti ada autokorelasi positif. 3) Bila nilai DW lebih besar dari pada ( k- d1), maka koefisien autokorelasi

lebih kecil dari nol, berarti ada autokorelasi negatif.

4) Bila nilai DW terletak antara batas atas (d) dan batas bawah (dt), atau DW terletak antara (k-du) dan (k-d1), maka hasilnya tidak dapat disimpulkan. c. Uji Multikolinearitas

Uji Multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antara variabel-variabel bebas (independen). Untuk mendeteksi ada tidaknya multikolinearitas akan dilihat dari variance factor (VIF), Tolerance mengukur variabelitas variabel bebas yang dipilih

yang tidak dapat jelaskan oleh variabel lainnya. Jadi nilai Tolerance yang rendah sama dengan nilai VIF lebih dari 10 maka model regresi ada indikasi terjadinya multikolinearitas begitu juga sebaliknya. (Imam Ghozali, 2002 : 57).

d. Uji Heterokedastisitas

(30)

statistik (Imam Ghozali, 2002 :57). Pada penelitian ini, cara yang digunakan untuk mendeteksi heterokedastisitas adalah dengan metode grafik. Metode grafik memperlihatkan pola sebran residual yang tidak estimasi, sehingga dapat dipastikan model tidak mengandung masalah heterokedastisitas.

2. Analisis Data dengan Uji F

Untuk menjawab rumusan masalah 1 yaitu pengaruh simultan dan parsial, maka dilakukan Uji F untuk menganalisis simultan dan Uji t-test untuk analisis parsial.

 Uji F (F-test)

Untuk menguji kebenaran (signifikan) prospek perkembangan dan faktor-faktor yang mempengaruhi impor kendaraan bermotor di Indonesia dari Jepang dengan rumus :

k = Banyaknya variabel dalam regresi Langkah-langkah pengujian : a. Rumusan Hipotesis

Ho : β1 = β2 = β3 = β4 = 0, berarti produk domestic bruto (X1), kurs dollar AS (X2), inflasi (X3), dan cadangan devisa (X4) tidak berpengaruh terhadap nilai impor kendaraan bermotor Indonesia dari Jepang periode 1990-2012 (Y).

H1 : Paling sedikit salah satu βi ≠ 0 (i = 1,2,3,4,5), berarti produk domestic bruto (X1), kurs dollar AS (X2), inflasi (X3), dan cadangan devisa (X4) berpengaruh terhadap nilai impor kendaraan bermotor Indonesia dari Jepang periode 1990-2012 (Y).

(31)

Taraf nyata yang digunakan (α) = 5% atau tingkat keyakinan 95%.

Dengan derajat kebebasan pembilang (k-1) dan derajat kebebasan (n-k) maka dari itu :

Ftabel = F(α)(k-1)(n-k).

c. Kriteria Pengujian

Ho diterima bila F hitung ≤ F tabel atau sig ≥ 0,05

Ho ditolak bila F hitung > F tabel atau sig < 0,05

Gambar 3.2 Daerah Pengujian Penolakan/Penerimaan Ho dengan uji F

Sumber: Gujarati (2006:392) d. Kesimpulan

Nilai uji F yang diperoleh dari hasil regresi dengan program SPSS dilakukan perbandingan dengan nilai F Tabel pada level of signifikan 5 persen derajat bebas , df (n-k ; k-1). Jika F test ada pada daerah penerimaan, maka Ho diterima dan Hi ditolak. Sebaliknya jika F test jatuh pada daerah penolakan berarti Ho di tolak dan Hi diterima. Daerah kritis dapat dilihat pada gambar 3.2

3.Analisis Data dengan Uji t (Uji Parsial)

Untuk mengetahui apakah masing-masing variabel bebas (independent) secara individu mampu menjelaskan variabel tak bebas (dependent) secara signifikan, apabila variabel bebasnya tak konstan. Pengujian nilai “t” dapat dilakukan dengan derajat kepercayaan tertentu. Adapun langkah-langkah pengujian hipotesis tersebut adalah :

Adapun rumus thitung menurut Wirawan (2002:304)

t

1= ... (3) Daerah

Penerimaan H0

Daerah Penolakan H0

F(k-1) (n-k)

(32)

Keterangan : ti = t- hitung

bi = Koefisien regresi parsial ke-i dari regresi sampel ßi = Koefisien parsial yang ke-i dari regresi populasi Sebi= Kesalahan standar (standar error) dari bi

Uji parsial ini akan diuraikan sebagai berikut :

1). Pengaruh PDB terhadap nilai impor kendaraan bermotor Indonesia dari Jepang periode 1990-2012.

a. Perumusan Hipotesis

Ho : βi ≤ 0, berarti PDB tidak berpengaruh terhadap nilai impor kendaraan bermotor

Indonesia dari Jepang periode 1990-2012.

H1 : βi > 0, berarti PDB berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai impor

kendaraan bermotor Indonesia dari Jepang periode 1990-2012.

b. Menentukan Taraf Nyata

Menentukan taraf nyata (α ) = 5% dengan menggunakan uji satu sisi, yaitu sisi kanan. Dengan taraf nyata (α) = 5% atau tingkat keyakinan 95% dan derajat kebebasan (n-k), maka t tabel = tα(n-k).

c. Kriteria pengujian dan daerah kritis

Ho diterima jika t-hitung ≤ t α(n-k) atau sig ≥ 0,05 Ho ditolak jika t-hitung > tα(n-k) atau sig < 0,05

(33)

d. Kesimpulan

Apabila diperoleh t-hitung ≤ t α(n-k) Ho diterima yang berarti bahwa variable PDB tidak berpengaruh terhadap nilai impor kendaraan bermotor Indonesia dari Jepang periode 1990-2012. Sebaliknya jika diperoleh t-hitung > tα(n-k) Ho ditolak yang berarti bahwa PDB berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai impor kendaraan bermotor Indonesia dari Jepang periode 1990-2012.

2). Pengaruh kurs dollar AS terhadap nilai impor kendaraan bermotor Indonesia dari Jepang periode 1990-2012.

a. Perumusan Hipotesis

Ho : βi ≥ 0, berarti kurs dollar AS tidak berpengaruh terhadap nilai impor kendaraan bermotor Indonesia dari Jepang periode 1990-2012.

H1 : βi < 0, berarti kurs dollar AS berpengaruh negative dan signifikan terhadap nilai impor kendaraan bermotor Indonesia dari Jepang periode 1990-2012.

b. Taraf nyata

(34)

c. Kriteria pengujian dan daerah kritis

Ho diterima jika t-hitung ≤ t α(n-k) atau sig ≥ 0,05 Ho ditolak jika t-hitung > tα(n-k) atau sig < 0,05

Gambar 3.4 Daerah Penerimaan dan Penolakan Ho untuk variable Kurs Dollar Amerika Serikat (X2)

d. Kesimpulan

Apabila diperoleh t-hitung (equition) Ho diterima yang berarti bahwa variabel kurs dollar AS tidak berpengaruh terhadap nilai impor kendaraan bermotor Indonesia dari Jepang periode 1990-2012. Sebaliknya, jika diperoleh t-hitung (equition) Ho ditolak yang berarti bahwa variabel kurs dollar AS berpengaruh negatif dan signifikan terhadap nilai impor kendaraan bermotor Indonesia dari Jepang periode 1990-2012.

3). Pengujian pengaruh tingkat inflasi (X3) terhadap impor kendaraan bermotor

Indonesia dari Jepang periode 1990-2012.

a. Perumusan Hipotesis

0

Sumber: Gujarati (2006:392)

t (:df) Daerah Penolakan

Ho

(35)

Ho : βi ≥ 0, berarti bahwa tingkat inflasi tidak berpengaruh negatif dan signifikan terhadap nilai impor kendaraan bermotor Indonesia dari Jepang periode 1990-2012.

H1 : βi < 0, berarti bahwa tingkat inflasi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap nilai impor kendaraan bermotor Indonesia dari Jepang periode 1990-2012.

b. Menentukan Taraf Nyata

Menentukan taraf nyata (α ) = 5% dengan menggunakan uji satu sisi, yaitu sisi kiri. Dengan taraf nyata (α) = 5% atau tingkat keyakinan 95% dan derajat kebebasan (n-k), maka t tabel = tα(n-k).

c. Statistik Uji

Ho diterima jika t-hitung ≥ t α(n-k) atau sig ≤ 0,05 Ho ditolak jika t-hitung < t α(n-k) atau sig > 0,05

Gambar G.4 Daerah Penerimaan dan Penolakan Ho untuk variabel tingkat inflasi (X3)

d. Kesimpulan

Apabila diperoleh dari hasil regresi dengan program SPSS, t-hitung ≥ t α(n-k) H0 diterima yang berarti bahwa variabel tingkat inflasi tidak berpengaruh secara parsial

0 Sumber: Gujarati (2006:392)

t (:df) Daerah Penolakan

Ho

(36)

terhadap nilai impor kendaraan bermotor Indonesia dari Jepang periode 1990-2012 . Sebaliknya, jika diperoleh t-hitung < t α(n-k) H0 ditolak yang berarti bahwa variabel tingkat inflasi berpengaruh negatif dan signifikan secara parsial terhadap nilai impor kendaraan bermotor Indonesia dari Jepang periode 1990-2012.

4) Pengaruh cadangan devisa terhadap nilai impor kendaraan bermotor Indonesia dari Jepang periode 1990-2012.

a. Perumusan Hipotesis

Ho : βi = 0, berarti cadangan devisa tidak berpengaruh terhadap nilai impor kendaraan

bermotor Indonesia dari Jepang periode 1990-2012.

H1 : βi < 0, berarti cadangan devisa berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai

impor kendaraan bermotor Indonesia dari Jepang periode 1990-2012.

b. Menentukan taraf nyata

Taraf nyata yang digunakan (α ) = 5% dengan menggunakan uji satu sisi, yaitu sisi kiri. Dengan taraf nyata (α) = 5% atau tingkat keyakinan 95% dan derajat kebebasan (n-k), maka t tabel = tα(n-k).

c. Kriteria pengujian dan daerah kritis

(37)

DAFTAR RUJUKAN

Amir , MS. 2001. “Eksport Import”. (Seri Umum No.3), Cetakan No. 6. Jakarta : PT. Pustaka Binaman Pressindo.

Badan Pusat Statistik. 2012. Laporan Volume Impor Kendaraan Bermotor Indonesia dari Jepang Periode 2000-2012. Denpasar.

Bank Indonesia. 2012. Statistik Keuangan Ekonomi Indonesia. Jakarta.

Bank Indonesia. 2012. Data Perkembangan Kurs Dollar Amerika Serikat periode 2000-2012. Denpasar.

(38)

2000-2012. Denpasar.

Boediono, 2000. Sinopsis Pengantar Ilmu Ekonomi No. 3 Ekonomi Internasional Edisi Pertama. Yogyakarta: BPFE-UGM.

Deliarnov, 1995. Pengantar Ekonomi Makro, Jakarta;UI Press.

Ghozali, Imam. 2006. Aplikasi analisis Multivariate Dengan Program SPSS. Badan Penerbit Universitas Diponogoro, Semarang.

Gujarati, Damodar, 1999. Ekonometrika Dasar. Jakarta : Erlangga.

Herlambang, Teddy, Sugiarto, Brastoro, Said Kelana. 2001. Ekonomi Makro : Teori Analisis dan Kebijakan. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Indriyani Tuti, Ni Luh Putu 2012. Pengaruh Produk Domestik Bruto (PDB), Kurs

Dollar Amerika Serikat dan Cadangan Devisa Terhadap Nilai Impor Kendaraan Bermotor Indonesia dari Jepang periode 1990-2009. Skripsi Jurusan Ekonomi Pembangunan FEB UNUD, Denpasar.

Nanga Muana,2005. Ekonomi Makro : Teori , Masalah dan dan Kebijakan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Prasada.

Pratma, Andika. 2007. Analisis Pengaruh Produk Domestik Bruto (PDB) ,Suku Bunga Kredit dan Kurs Dollar Amerika Serikat Terhadap Volume Impor Suku Cadang Alat Angkutan Indonesia Periode 1990-2005. Skripsi Jurusan Ilmu Ekonomi FE UNUD, Denpasar.

Sukirno, Sadono. 2001. Pengantar Teori Makro Ekonomi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Prasada.

Sugiyono. 2000. Metode Penelitian Bisnis, Cetakan Pertama. Bandung: Alfabeta. Triyono. 2008. Analisis Perubahan Kurs Rupiah Terhadap

Dollar Amerika. Vol.9.no.2.h: 156-167.

Tambunan, Tulus. 2000. Perdagangan Internasional dan Neraca Pembayaran. Jakarta Pustaka: LP3Es.

(39)

USULAN PENELITIAN

ANALISIS NILAI IMPOR KENDARAAN BERMOTOR INDONESIA DARI JEPANG PERIODE 1990-2012 DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

(40)

Jurusan Ekonomi Pembangunan

Diajukan oleh :

KETUT EVILIA WIJAYANTHI 1106105065

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS UDAYANA

Gambar

Tabel 1.1 Perkembangan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia atas Dasar
Gambar 1.2 memperlihatkan kurs dollar Amerika Serikat (US$) terhadap rupiah peningkatan
Gambar 1.3 Perkembangan Inflasi di Indonesia Pada Tahun 1990-2012
Gambar 1.4  Perkembangan Cadangan Devisa Indonesia Tahun 1990-2012
+4

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai R 2 = 0,978 yang bermakna bahwa variabel PDB, Kurs, Inflasi dan Cadangan Devisa mampu menjelaskan variasi Impor

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Kurs Dollar Amerika, Pendapatan Perkapita, dan Cadangan Devisa, secara serempak dan parsial terhadap Nilai Impor Kendaraan

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kurs dollar Amerika Serikat, harga impor, harga domestik dan jumlah produksi berpengaruh secara simultan terhadap volume impor daging sapi

Penelitian dengan topik “Pengaruh Produk Domestik Bruto, Kurs, Cadangan Devisa, Tingkat Suku Bunga Riil, Dan Volatilitas Kurs Terhadap Permintaan Impor di Indonesia tahun 1990-2008

Hasil olah data menunjukkan secara serempak devisa, kurs dollar AS, PDB dan inflasi berpengaruh signifikan terhadap Impor mesin kompressor dari China periode 1996- 2012, dengan

Setelah melakukan analisis mengenai pengaruh produksi, konsumsi, harga eceran, inflasi dan kurs dollar Amerika Serikat terhadap impor gula Indonesia periode

Pengaruh inflasi, cadangan devisa, dan kurs terhadap nilai impor di Indonesia dengan menggunakan model analisis regresi berganda dan pengujian asumsi klasik

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh produksi, jumlah penduduk, Produk Domestik Bruto (PDB) dan kurs dollar Amerika secara simultan terhadap impor jagung