• Tidak ada hasil yang ditemukan

Artikel Manajemen Administrasi Pendidika pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Artikel Manajemen Administrasi Pendidika pdf"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

PENDAHULUAN

Sekolah Buin Batu (SBB) tergolong

dalam Satuan Pendidikan Kerja Sama.

Satuan Pendidikan Kerjasama (SPK) adalah

satuan pendidikan yang diselenggarakan

atau dikelola atas dasar kerja sama antara

Lembaga Pendidikan Asing yang

terakreditasi/diakui di negaranya atau

Lembaga Pendidikan di Indonesia pada jalur

formal dan nonformal yang sesuai dengan

ketentuan perundang-undangan. Mulai 1

Desember 2014, seluruh sekolah berlabel

internasional di Indonesia harus mengganti

nama menjadi Satuan Pendidikan Kerja

Sama (SPK). Hal itu tertuang dalam

Peraturan Menteri Pendidikan dan

Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 31

Tahun 2014 tentang Kerja Sama

Penyelenggaraan dan Pengelolaan

Pendidikan oleh Lembaga Pendidikan Asing

dengan Lembaga Pendidikan di Indonesia.

Permendikbud tersebut kemudian dijabarkan

melalui penerbitan Peraturan Dirjen Dikdas

Nomor 105/C/KEP/LN/2014 tentang

Petunjuk Teknis Kerja Sama

Penyelenggaraan dan Pengelolaan

Pendidikan Dasar oleh Lembaga Pendidikan

Asing dengan Lembaga Pendidikan di

Indonesia. Kemudian, Direktur Jenderal

Pendidikan Menengah menerbitkan

Peraturan Dirjen Dikmen Nomor

1941/D/KEP/KP/2014 tentang Petunjuk

Teknis Kerja Sama Penyelenggaraan dan

Pengelolaan Pendidikan Menengah oleh

Lembaga Pendidikan Asing dengan

Lembaga Pendidikan di Indonesia. Hingga 1

Maret 2016, Kementerian Pendidikan dan

Kebudayaan telah menerbitkan 178 surat

izin SPK tingkat SD, 157 SPK tingkat SMP.

dan 94 SPK tingkat SMA. Kini, per 15 Juni

2016, angka tersebut bertambah lagi.

Sebagai sekolah SPK, Sekolah Buin

Batu bekerjasama dengan Lembaga

Pendidikan Asing dalam pengelolaan dan

penyelenggaraan pendidikan, termasuk

dalam pengelolaan dan penyelenggaraan

kurikulum. Dalam hal ini SBB bekerjasama

dengan International Baccalaureate

Organization (IBO) yaitu sebuah lembaga

pendidikan asing yang bermarkas di Jenewa

dan memiliki cabang di setiap benua.

Adapun benchmark yang ditawarkan oleh IBO adalah sebuah kerangka kurikulum

yang dapat diintegrasikan dengan kurikulum

nasional di negara setempat. Pada konteks

pendidikan di Indonesia, kerangka

kurikulum IBO dapat diintegrasikan dengan

KTSP dan atau Kurikulum 2013. Melalui

integrasi kurikulum ini timbul suatu

pertanyaan terkait bagaimana manajemen

kurikulum IBO yang diintegrasikan dengan

(2)

Menjawab pertanyaan di atas,

peneliti akan memberikan satu deskripsi

mengenai manajemen pengelolaan dan

penyelenggaraan kurikulum IBO pada

tingkat satuan pendidikan Dasar di Sekolah

Buin Batu yang dengan istilah lain disebut

sebagai Primary Years programme. Adapun aspek-aspek kajian dalam penelitian ini

adalah untuk lebih spesifik menggambarkan

satu pola dan model manajemen yang dapat

digunakan sebagai acuan dalam

pengembangan manajemen kurikulum

bermutu berbasis karakter baik di

sekolah-sekolah sejenis maupun di sekolah-sekolah-sekolah-sekolah

nasional.

Hakikat dan urgensi manajemen

implementasi kurikulum

Manajemen merupakan salah satu

masalah penting dalam implementasi

kurikulum, terutama kurikulum baru.

Masalah manajemen menjadi sangat penting

karena implementasikurikulum memiliki

sejumlah komponen danaspek-aspek, faktor,

dan strategi yang perluditata dan dikelola

secara baik sehingga tujuan kurikulum dapat

dicapai. Implementasi kurikulummerupakan

salah satu bagian penting darimanajemen

kurikulum. English & Larson (2013:1)

menggambarkan (Gambar 1) bahwa

manajemenkurikulum merupakan upaya dari

keseluruhanproses delivery tujuan dan isi kurikulumke dalam praktik pembelajaran di

sekolah. Implementasi merupakan bagian

dari keseluruhanmanajemen kurikulum yang

mencakup pengembangan kurikulum

(curriculum development), implementasi (implementation), umpan balik (feedback), evaluasi (evaluation), modifikasi

(modification) dan konstruksi kurikulum(curriculum construction). Dengan demikian, posisi manajemen

implementasi kurikulum sangatstrategis dan

terkait dengan komponen manajemen

lainnya.

Manajemen untuk implementasi

kurikulum dapat diartikan sebagai suatu

proses mengelola (managing) semua sumber daya pendidikan, baik individu, kelompok,

maupun sumber daya lainnya yang

memungkinkan terjadi proses delivery tujuan dan isi kurikulum ke dalam proses

pembelajaran di sekolah. Implementasi

kurikulum memerlukan suatu proses

manajemen yang kuat dan baik.

Implementasi kurikulum dapat dilihat

sebagai suatu proses penerapan gagasan, ide,

tujuan, dan keseluruhan program yang

termuat di dalam suatu kurikulum. Setiap

kurikulum termasuk kurikulum baru

memiliki gagasan dan ide yang tercermin

(3)

dalam proses pembelajaran maupun dalam

sistem evaluasinya. Dalam kaitan dengan

gagasan-gagasan baru dari setiap kurikulum

baru, Herbert Altrichter, mengemukakannya

sebagai berikut.

Consequently, a new curriculum may be described as an attempt to change teaching and learning practices which will also include the transformation of some of the beliefs and understandings hitherto existent in the setting to be changed. It is usually strong on the material side by providing a written curriculum, text books, recommendations for teaching strategies, working material for students, and probably also new artifacts for learning (Heibert, 2005:35-62)

Faktor Perencanaan Implementasi Kurikulum

Perencanaan merupakan faktor

strategis dalam implementasi suatu

kurikulum, terutama kurikulum baru.

Implementasi kurikulum terkait dengan

banyak faktor yang harus dipersiapkan agar

implementasi berhasil dengan baik.

Perencanaan implementasi penting sebagai

kerangka acuan sehingga terjadi efisiensi

dalam pendayagunaan Perencanaan

implementasi kurikulum penting untuk

memberi arah implementasi. Implementasi

kurikulum membutuhkan perencanaan yang

baik dan jelas mengenai bagaimana

organisasi dan mekanisme implementasi,

tahapantahapan implementasi, kegiatan apa

yang harus dilakukan dalam setiap tahapan

itu, kapan waktu pelaksanaannya, siapa yang

harus bertanggung jawab setiap tahapan dan

setiap kegiatan, kebutuhan logistik apa yang

diperlukan, serta berapa daya dan biaya

yang diperlukan. Fullan seperti dikutip oleh

Labane mengemukakan bahwa karakteristik

implementasi kurikulum yang baik

mencakup kejelasan mengenai how

implementers should do the tasks, why they

need to dothese tasks, who must take

responsibility for particular tasks, by whom

such people will be supervised, and what

kind of resources will be required (Labane,

2009:6). Kejelasan dalam perencanaan

terhadap setiap aspek-aspek implementasi

kurikulum tersebut akan memberi kepastian

bahwa implementasi kurikulum akan

berjalan dengan baik. Faleni (2005:13-14)

mengemukakan urgensi perencanaan

implementasi kurikulum baru terkait dengan

(4)

choose a final plan; (7) draw up a budget; and (8) implement the plan.

Kurikulum baru memiliki

karakteristik baru sehingga sangat

diperlukan perencanaan implementasi yang

baik. Melalui perencanaan, akan dapat

diantisipasi berbagai tantangan serta peluang

termasuk potensi yang dimiliki. Tujuan

implementasi kurikulum itu sendiri harus

jelas bagi semua pihak yang terkait,

terutama guru dan kepala sekolah di tingkat

mikro. Asumsi-asumsi yang dibangun yang

menjadi landasan bagi implementasi seperti

diasumsikan bahwa semua sekolah

menerima kurikulum baru. Melalui

perencanaan, penting untuk dibuatkan

alternative strategi implementasi sampai

pada tindakan implementasi itu sendiri.

Suatu perencanaan implementasi kurikulum

baru yang baik, hendaknya memuat

aspek-aspek penting tersebut.

Pengorganisasian kurikulum

Pengorganisasian di sekolah dapat

didefinisikan sebagai keseluruhan proses

untuk memilih orang-orang (guru dan

personel sekolah lainnya) serta

mengalokasikan sarana dan prasarana untuk

menunjang tugas orang-orang itu dalam

rangka mencapai tujuan sekolah. Termasuk

di dalam kegiatan pengorganisasian adalah

penetapan tugas, tanggung jawab, dan

wewenang orang-orang tersebut serta

mekanisme kerjanya sehingga dapat

menjamin tercapainya tujuan sekolah itu.

Setidaknnya terdapat enam ragam

pengorganisasian kurikulum, Meysin

(2009:12) antara lain:

1) Mata pelajaran terpisah (isolated

subject);

2) Mata pelajaran berkorelasi;

3) Bidang studi (broad field);

4) Program yang perpusat pada anak

(child centered);

5) Inti masalah (core program);

6) Electic program

Untuk lebih jelas keenam

pengorganisasian kurikulum yaitu: (1) mata

pelajaran terpisah (isolated subjek); kurikulum terdiri dari sejumlah mata

pelajaran yang terpisahpisah, yang diajarkan

sendiri-sendiri tampa ada hubungan dengan

mata pelajaran lainnya. Masingmasing

diberikan pada waktu tertentu dan tidak

mempertimbangkan minat, kebutuhan, dan

kemampuan peserta didik, semua materi

diberikan sama. (2) Mata pelajaran

berkorelasi; korelasi diadakan sebagai upaya

untuk mengurangi kelemahan-kelemahan

sebagai akibat pemisahan mata pelajaran.

(5)

menyampaikan pokok-pokok yang saling

berkorelasi guna memudahkan peserta didik

memahami pelajaran tertentu. Selanjutnya, (3)

Bidang studi (broad field); yaitu organisasi

kurikulum yang berupa pengumpulan

beberapa mata pelajaran yang sejenis serta

memiliki ciri-ciri yang sama dan

dikorelasikan (difungsikan) dalam satu

bidang pengajaran. Salah satu mata pelajaran dapat dijadikan ”core subject”, dan mata pelajaran lainnya dikorelasikan

dengan core tersebut. (4) Program yang

berpusat pada anak (child centered), yaitu program kurikulum yang menitikberatkan

pada kegiatan-kegiatan peserta didik, bukan

pada mata pelajaran. (5) Inti Masalah (core program), yaitu suatu program yang berupa unit-unit masalah, dimana masalah-masalah

diambil dari suatu mata pelajaran tertentu,

dan mata pelajaran lainnya diberikan

melalui kegiatankegiatan belajar dalam

upaya memecahkan masalahnya. Mata

pelajaran yang menjadi pisau analisisnya

diberikan secara terintegrasi. (6) Electic

program, yaitu suatu program yang mencari

keseimbangan antara organisasi kurikulum

yang terpusat pada mata pelajaran dan

peserta didik.

Selain dari itu, pengorganisasian dapat

dipahami sebagai upaya dalam

mengkoordinir personil dan sumber daya

yang ada. Pengkoordinasian di sekolah

diartikan sebagai usaha untuk

menyatupadukan kegiatan dari berbagai

individu atau unit di sekolah itu agar

kegiatan mereka berjalan selaras dengan

anggota atau unit lainnya dalam usaha

mencapai tujuan sekolah. Usaha

pengkoordinasian dapat dilakukan melalui

berbagai cara, seperti; (a) melaksanakan

penjelasan singkat (briefing), (b) mengadakan rapat kerja, (c) memberikan petunjuk

pelaksanaan dan petunjuk teknis, dan (d)

memberikan balikan tentang hasil suatu

kegiatan. Selanjutnya pengorganisasian

manajemen kurikulum merupakan suatu

keseluruhan proses pengelompokan materi,

alat-alat, tugas, tanggung jawab personel

pendidik, sehingga tercapainya tujuan

kurikulum yang dapat digerakkan sebagai

suatu kesatuan dalam rangka mencapai

tujuan pendidikan. Pengorganisasian

mempertimbangkan hal-hal strukturnya

harus mencerminkan tujuan dan

rencana-rencana, pembagian tugas yang jelas,

mencerminkan lingkungan.

Pelaksanaan kurikulum

Penerapan kurikulum atau biasa

disebut juga implementasi kurikulum

berusaha mentransfer perencanaan

(6)

Sehingga tahap pelaksanaan manajemen

kurikulum merupakan implementasi dari

perencanaan manajemen kurikulum yang

telah dirumuskan dan mendayagunakan

fungsi organisasi pendidikan, sehingga dapat

mewujudkan tujuan kurikulum yang telah

ditetapkan. Dalam tahap ini, sumber daya

manusia, dialokasikan, jadwal dan waktu

kegiatan ditetapkan, demikian juga hal-hal

lain yang berhubungan dengan pelaksanaan

kegiatan, seperti mekanisme pendelegasian

wewenang, pembagian tugas dan tanggung

jawab dan sebagainya. Pada tahap

pelaksanaan, sumber daya manusia sangat

menentukan keberhasilan suatu pelaksanaan. Menurut Sule (2005:216) bahwa: ”Faktor yang sangat menentukan pada tahap

pelaksanaan adalah sejauh mana sumber

daya manusia atau tenaga kerja yang telah

dipilih dan ditempatkan dalam organisasi

menunjukkan kinerja yang terbaik, karena

faktor manusia menjadi kunci penting dalam langkah implementasi”. Berkaitan dengan manajemen kurikulum tidak dapat

dilepaskan dari pelaksanaan pengembangan

kurikulum itu sendiri. Sedangkan

prinsip-prinsip yang digunakan dalam kegiatan

manajemen kurikulum pada dasarnya

merupakan kaidah-kaidah yang menjiwai

suatu kurikulum. Dalam pelaksanaan

manajemen kurikulum di suatu lembaga

pendidikan sangat mungkin terjadi

penggunaan prinsip-prinsip yang berbeda

dengan kurikulum yang digunakan di

lembaga pendidikan lainnya, sehingga akan

ditemukan banyak sekali prinsip-prinsip

yang digunakan dalam suatu pengembangan

kurikulum. Dalam hal ini, Sukmadinata

(Sudrajat, 2008: 2) mengetengahkan

prinsip-prinsip pengembangan kurikulum yang

dibagi ke dalam dua kelompok: (1)

prinsip-prinsip umum : relevansi, fleksibilitas,

kontinuitas, praktis, dan efektivitas; (2)

prinsipprinsip khusus: prinsip berkenaan

dengan tujuan pendidikan, prinsip berkenaan

dengan pemilihan isi pendidikan, prinsip

berkenaan dengan pemilihan proses belajar

mengajar, prinsip berkenaan dengan

pemilihan media dan alat pelajaran, dan

prinsip berkenaan dengan pemilihan

kegiatan penilaian. Selanjutnya menurutu

Sudrajat (2008: 3) mengemukakan lima

prinsip dalam pengembangan kurikulum,

yaitu : 1. Prinsip relevansi; secara internal

bahwa kurikulum memiliki relevansi di

antara komponen-komponen kurikulum

(tujuan, bahan, strategi, organisasi dan

evaluasi). Sedangkan secara eksternal bahwa

komponenkomponen tersebut memiliki

relevansi dengan tuntutan ilmu pengetahuan

dan teknologi (relevansi epistomologis),

(7)

peserta didik (relevansi psikologis) serta

tuntutan dan kebutuhan perkembangan

masyarakat (relevansi sosiologis). 2. Prinsip

fleksibilitas; dalam pengembangan

kurikulum mengusahakan agar yang

dihasilkan memiliki sifat luwes, lentur dan

fleksibel dalam pelaksanaannya,

memungkinkan terjadinya

penyesuaianpenyesuaian berdasarkan situasi

dan kondisi tempat dan waktu yang selalu

berkembang, serta kemampuan dan latar

belakang peserta didik. 3. Prinsip

kontinuitas; yakni adanya kesinambungan

dalam kurikulum, baik secara vertikal,

maupun horizontal.

Pengalaman-pengalaman belajar yang disediakan

kurikulum harus memperhatikan

kesinambungan, baik yang di dalam tingkat

kelas, antar jenjang pendidikan, maupun

antara jenjang pendidikan dengan jenis

pekerjaan. 4. Prinsip efisiensi; yakni

mengusahakan agar dalam pengembangan

kurikulum dapat mendayagunakan waktu,

biaya, dan sumbersumber lain yang ada

secara optimal, cermat dan tepat sehingga

hasilnya memadai. 5. Prinsip efektivitas;

yakni mengusahakan agar kegiatan

pengembangan kurikulum mencapai tujuan

tanpa kegiatan yang mubazir, baik secara

kualitas maupun kuantitas.

METODE PENELITIAN

Penelitian yang dilakukan dalam

penulisan ini adalah menggunakan metode

diskriptif dengan pendekatan kualitatif.

Penggunaan pendekatan ini disesuaikan

dengan tujuan pokok penelitian, yaitu

mendeskripsikan dan menganalisis

mengenai perencanaan, pelaksanaan

manajemen kurikulum International Baccalaureate Organization-Primary Years Program (IBO-PYP) di Sekolah Dasar Buin Batu Sumbawa. Pendekatan kualitatif lebih

mementingkan segi proses dari pada hasil,

maka berdasarkan hal tersebut penelitian ini

akan melihat dan menganalisa tentang

gambaran pelaksanaan manajemen

kurikulum sehingga data yang akan

dikumpulkan nanti akan lebih lengkap serta

dapat di pertanggungjawabkan secara

keilmuan dan lebih objektif.

Menurut Salim (2006:142) “secara umum penelitian kualitatif sebagai suatu

proses dari berbagai langkah yang

melibatkan peneliti, paradigm teroritis dan

interpretif, strategi penelitian, metode

pengumpulan data dan analisis data empiris

maupun pengembangan interpretasi dan pemaparan”. Dalam mencapai tujuan penelitian, meteode dan pendekatan

merupakan kunci penting, oleh sebab itu

(8)

Metode yang digunakan dalam penelitian ini

adalah metode deskriptif.

PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN Seperti yang telah dijelaskan di atas,

Sekolah Dasar Buin Batu Sumbawa

merupakan sekolah yang dahulunya disebut

sebagai sekolah internasional. Mengacu

pada peraturan menteri pendidikan, secara

legal Sekolah Buin Batu berubah menjadi

SPK (Satuan Pendidikan Kerjasama).

Adapun kerjasama yang dimaksud adalah

kerjasama dalam aspek pengelolaan dan

penyelenggaraan pendidikan. Dalam hal ini

Sekolah Dasar Buin Batu bekerjasama

dengan badan/lembaga pendidikan asing

(LPA) IBO (International Baccalaureat Organization) dalam menyelenggarakan kurikulum tingkat dasar yang disebut

dengan PYP (Primary Years Programme). Kurikulum PYP dikawinkan dengan

kurikulum indonesia. Adapun hasil

perkawinan kurikulum menghasilkan satuan

kurikulum yang dalam implementasinya

berbeda dengan kurikulum pada

sekolah-sekolah nasasional pada umumnya.

Kurikulum PYP pada satuan

pendidikan tingkat dasar di Sekolah Buin

Batu memiliki 6 tema. Enam tema tersebut

adalah; Who we are (Siapa diri kita), Where

we are in place and time (Kapan dan dimana

kita berada), How the world works

(Bagaimana bumi bekerja), How we

organize ourselves (Bagaimana kita

mengelola diri kita), How we express

ourselves (Bagaimana kita mengekspresikan

diri kita), Sharing the planet (Berbagi planet

bumi). Dari keenam tema besar tersebut

komponen-komponen silabus yang telah

dikawinkan terintegrasi di dalamnya.

Sehingga pembelajaran di Sekolah Dasar

Buin Batu menganut integrated dan inquiry based learning yang terpusat pada siswa.

Keenam tema besar tersebut

dilaksanakan dalam dua semester. Tiga tema

unit diajarkan pada semester pertama dan

tiga unit selanjutnya dilaksanakan pada

semester kedua. Masing-masing unit terdiri

dari 5 komponen pokok yaitu; Central idea, concept, lines of inquiry, transdiciplinary skills, transdiciplinary attitudes dan learner profiles. Kelima komponen pokok menjadi acuan dalam melakukan perencanaan

pembelajaran pada masing-masing unit.

Perencanaan kurikulum PYP

Berdasarkan hasil penelitian,

terungkap bahwa perencanaan manajemen

kurikulum dimulai dari integrasi silabus

anatara kurikulum nasional dengan

kurikulum PYP. Integrasi silabus dilakukan

(9)

dengan merancang pembelajaran yang berisi

rencana materi ajar yang diasuhnya,

pengelompokan materi, mengurutkan, dan

penyajian materi sesuai dengan kurikulum

yangberlaku untuk mencapai penguasaan

kompetensi dasar bagi siswa. Silabus yang

disusun oleh guru Sekolah Dasar Buin Batu

digunakan untuk memperjelas program

kegiatan untuk mencapai tujuan

pembelajaran yang diharapkan, silabus yang

telah dikembangkan selanjutnya menjadi

dokumen yang menjadi acuan dalam

menyusun rencana pelaksanaan

pembelajaran dalam satu tahun atau satu

semester, serta sebagai pedoman dalam

melaksanakannya.

Bagan 1. Langkah-langkah perencanaan

kurikulum

Setelah melakukan integrasi kurikulum, guru membuat pengelompokan silabus berdasarkan mata pelajaran untuk selanjutnya diintegrasikan kembali dibawah payung tema-tema besar yang sudah penulis sebutkan di atas. Adapun integrasi silabus pada tema besar ini disebut dengan Program of inquiry.

Tabel 1. Sampel Program of Inquiry Sekolah Dasar Buin Batu.

Who we are

An inquiry into the nature of the self; beliefs and values; personal, physical, mental, social and spiritual health; human relationships including families, friends, communities and cultures; rights and responsibilities; what it means to be human.

Title Homes and personal identity

Year 1

Central idea

Home reflects personal

Key concepts:

Form, Connection, Reflection

Lines of inquiry  Types of houses

 What makes a house a home

 Homes reflect our personal identity

Learner Profiles

Open-minded, Reflective

Attitudes

Tolerance and Respect

Transdisciplinary Skills: Communication skills

Viewing and Presenting

Social Skills

Respecting others

Implementasi kurikulum

Implementasi kurikulum si Sekolah

(10)

adalah model yang Inquiry Based Learning oleh Kath Murdoch. Berikut adalah siklus inkuiri yang dicontohkan oleh Kath

Murdoch.

Gambar 1. Siklus inkuiri Kath Murdoch

Tuning in phase adalah fase dimana peserta

didik mencoba untuk mengingat-ingat

kembali hal-hal yang pernah dialami terkait

dengan tema/topik yang akan dipelajari.

Tujuan dari fase ini adalah untuk

menyatukan persepsi peserta didik terhadap

tema yang akan dipelajari. Disamping itu

juga peserta didik mencoba untuk

mengaitkan informasi dan

peristiwa-peristiwa yang pernah mereka alami

sebelumnya. Sehingga rombongan belajar

tersebut dapat memulai sebuah pengalaman

pembelajaran dari titik dan persepsi yang

sama.

Finding out phase, pada fase ini peserta

didik diberikan kebebebasan yang luas

untuk melakukan pencarian dan eksplorasi

informasi-informasi baru terkait tema

dengan memanfaatkan sumber-sumber

belajar yang tersedia. Kath Murdoch memberikan gambaran, fase ini akan lebih

memadai jika guru menyediakan sumber

primer agar siswa dapat menggali informasi

secara langsung dari sumber primer,

disamping mengalami konteks

pembelajaran. Seperti contoh, pada topic

bahasan tentang Building and Construction peserta didik mengunjungi proses

pembuatan batu bata dengan bahan alami

dan langsung melakukan wawancara dengan

pembuat batu-bata. Pengalaman-pengalaman

seperti inilah nanti yang akan mendidik

seseorang/peserta didik dalam

mengkonstruksi makna/sintesa baru dalam

pembelajarannya.

Sorting out phase, fase ini menggambarkan

fungsi bimbingan dan kontrol guru. Seperti

yang saya sampaikan sebelumnya,

kebebasan menyerap beragam informasi dan

pengetahuan serta pengalaman pembelajaran

tidak terlepas dari proses penyaringan yang

(11)

kebebasan pada siswa untuk menyerap

informasi dan mengalami beragam peristiwa

pada fase finding out, guru membimbing siswa untuk menyaring

pengetahuan-pengetahuan tersebut agar tetap pada

garis-garis tujuan kompetensi yang ingin dicapai.

Going further phase merupakan fase

dimana seseorang/peserta didik melakukan

pendalaman pada informasi dan

pengetahuan yang telah dialami. Pada fase

ini peserta didik lebih lanjut memperkaya

pengetahuan yang telah diserap untuk

mencapai kompetensi yang telah ditetapkan.

Making conclusion phase, pada fase ini

peserta didik sudah mulai mengkonsep

informasi, pengetahuan dan peristiwa

pembelajaran yang mereka alami.

Disamping itu, peserta didik diberikan

kesempatan untuk mengaitkan konsep

mereka dengan fase-fase sebelumnya dan

membuat kesimpulan pada dugaan atau

hipotesis mereka sebelum mereka

mengalami sebuah proses pembelajaran.

Taking action phase merupakan

pengamalan sebagai kulminasi dari

pengalaman pembelajaran. Pengamalan

dalam hal ini adalah produk dari proses

penyerapan informasi, pengetahuan,

pengalaman pembelajaran yang dituangkan

dalam sebuah tindakan sederhana dan

bermanfaat nyata bagi lingkungan.

Satu siklus inkuiri berjalan selama 7

minggu. Dalam tujuh minggu, siswa

menjalani satu proses pembelajaran dengan

mengalami fase-fase pembelajaran di atas.

Hal ini bertujuan untuk membentuk karakter

pembelajar yang disebut sebagai learner profile yang telah direncanakan pada proses perencanaan kurikulum.

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil pembahasan pada

tulisan ini, penulis menyimpulkan bahwa

program pembelajaran pada IBO-PYP

(Primary Years Programme) memiliki

langkah-langkah yang dapat mengarahkan

guru dalam pembentukan karakter dan

pemikiran kritis siswa. Langkah-langkah

tersebut merupakan satu alur pembelajaran

berbasis inkuiri dimana siswa dituntut untuk

lebih aktif dalam pembelajaran.

Untuk membentuk karakter

pembelajar, sebuah tema hendaknya

terkonsep dengan baik memiliki garis-garis

inkuiri dengan tujuan siswa dapat

mengkonstruksi makna pembelajaran secara

mandiri. Disamping itu, makna atersebut

dituangkan dalam bentuk tindakan

(12)

Melalui tulisan ini saya menyarankan agar

sekolah-sekolah dasar dapat mengawinkan

praktek terbaik di atas dengan perangkat

kurikulum 2013/K-13 agar memperkaya

sumber-sumber pendukung pembentukan

karakter siswa. Disamping itu, pemerintah

juga hendaknya memberikan wawasan

mengenai pembentukan karakter siswa

melalui pendidikan berbasis inkuiri dan

pengembangan pemikiran kritis.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 2014.

Peraturan Menteri Pendidikan dan

Kebudayaan tentang kerjasama

penyelenggaraan.Jakarta.

International Baccalaureate Organization, 2011.

Making PYP Happen. Geneve

Sekolah Buin Batu, 2016. Curriculum Mapping and Integration. Sumbawa Barat

Djafar, Hanifah, 2014. Manajemen Kurikulum dalam peningkatan proses pembelajaran di SMK Negeri 1 Sabang. Aceh. Jurnal Administrasi Pendidikan. Pascasarjana Universitas Syahkuala.

Gambar

Tabel 1. Sampel Program of Inquiry Sekolah Dasar Buin Batu.
Gambar 1. Siklus inkuiri Kath Murdoch

Referensi

Dokumen terkait

UPT Perpustakaan ISI Yogyakarta.. dari daerah lain seperti Sunda dan Bali beserta garap karawitannya. Akan tetapi gending-gendingnya masih menggunakan tradisi Jawa

Ruang lingkup penelitian ini adalah penjelasan bagaimana dan seperti apa pesan yang terkandung dalam program talkshow “Kreasi Dapur Sehat” sehingga program tersebut

Berdasarkan hasil penjelasan dapat disimpulkan bahwa pertimbangan hakim menolak praperadilan pemohon yaitu: Pertama, Penetapan tersangka baru menjadi objek

Pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) PT.PLN Persero Sektor Pembangkitan Belawan, turbin uap digunakan untuk membangkitkan energi listrik dengan cara mengubah energi panas

Indikator Pada akhir perkuliahan mahasiswa dapat memahami Penegakan

Turut hadir dalam acara tersebut Auditor Utama Keuangan Negara V Bambang Pamungkas, Kepala Perwakilan Yusnadewi beserta para pejabat struktural dan tim pemeriksa

Pendapat Fulcher nyata benar di mana masih ada negara maju seperti Jerman yang lebih sukakan perkhidmatan rumah kanak-kanak berbanding perkhidmatan anak angkat atau jagaan