UPAYA MENINGKATKAN
KETERAMPILAN MENULIS SISWA
KELAS 8A SEMESTER 1 TAHUN
PELAJARAN 2015/2016 MELALUI
PERMAINAN TEKA-TEKI SILANG
Oleh : Ratmoko
Abstrak
Penelitian ini bertujuan meningkatkan motivasi dan hasil belajar Mata Pelajaran Bahasa Inggris di kelas 8A SMPN 2 Sumbang yang cukup memprihatinkan. Salah satu model pembelajaran sebagai tindakan melalui permainan teka teki silang (TTS). Pembelajaran melalui permainan TTS selaras dengan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual (CTL) dan PAKEM. Upaya peningkatan keterampilan menulis bahasa Inggris dilakukan selama 3 siklus. Setiap siklus melalui tahap; (1) perencanaan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Kegiatan yang dilaksanakan dalam tindakan terdiri dari; (1) brainstorming, (2) study group, (3) problem solving, dan (4) plenary session. Dengan upaya tersebut diketahui adanya peningkatan aktifitas positif dari 13% menjadi 56%.. Sedangkan untuk rata-rata hasil penilaian proses meningkat dari 50.75 menjadi 79.50.
Kata kunci: antusias, aktif, kontekstual
Pendahuluan
Ada beberapa jenis kegiatan untuk mengembangkan keterampilan menulis Bahasa Inggris di tingkat SMP/MTs. Dari bentuk yang paling sederhana sampai yang rumit. Kegiatan yang paling sederhana yaitu menyusun huruf acak menjadi kata bermakna. Kemudian meningkat dengan kegiatan menyusun kata acak menjadi kalimat bermakna dan menyusun kalimat acak menjadi paragraph yang koheren. Keterampilan menyusun huruf menjadi kata dibutuhkan penguasaan kosa kata yang cukup banyak, sedangkan untuk menyusun kata menjadi kalimat diperlukan penguasaan pola kalimat yang benar dan berterima. Penguasaan pola kalimat belum cukup untuk bisa menyusun paragraf yang padu, karena meyusun paragraf yang baik dan benar perlu urutan yang logis sesuai dengan hirarki waktu, ukuran, kesulitan, prosedur, dan pengamatan.
penguasaan kosa kata yang cukup, pemahaman tentang pemilihan kosakata yang tepat (diction), hubungan antar kata (concord), kelompok dan jenis kata. Untuk melengkapi kalimat atau paragraph berrumpang ini siswa bisa mengisi secara bebas tapi logis dan ada juga pengisian secara terbimbing. Untuk pengisian secara bebas akan terjadi beberapa kemungkinan jawaban benar sepanjang masih masuk akal dan berterima. Untuk pengisian terbimbing biasanya sudah disiapkan kosa kata pelengkapnya namun disajikan secara acak.
Kedua jenis kegiatan “menulis” di atas selalu keluar dalam soal Ujian Nasional Mata Pelajaran Bahasa Inggris. Karena pentingnya materi tersebut maka para siswa harus diperkenalkan dan dilatih secara terus menerus supaya bisa memahami dan menguasai jenis keterampilan menulis tersebut. Agar dalam belajar siswa tidak merasa sulit dan bosan maka guru perlu memperkenalkan teknik pembelajaran yang mempermudah siswa dalam memahami materi dan menarik dalam kegiatannya. Dengan pembelajaran yang menarik dan menyenangkan akan meningkatkan motivasi siswa dalam belajar. Jika motivasi belajar meningkat maka hasil belajar akan meningkat.
KKM mata pelajaran Bahasa Inggris kelas 8 telah ditetapkan sebesar 70. Hasil beberapa kali penilaian keterampilan menulis jenis cloze test Mata Pelajaran Bahasa Inggris di kelas 8A menunjukkan hasil yang cukup memprihatinkan. Hasil penilaian terakhir yang dilaksanakan pada 30 September 2015, dari 32 siswa hanya ada 8 siswa yang memenuhi KKM.Nilai rata-rata kelas 50,75 masuk dalam kelompok Kurang setelah kita kelompokan menjadi 5 kelompok.
Dugaan sementara dari penyebab nilai rendah dalam penilaian keterampilan menulis jenis cloze test adalah penguasaan kosa kata yang kurang, sulitnya memilih kosa kata yang tepat, dan motivasi yang rendah karena merasa bosan dengan pola pembelajaran yang monoton. Dari sisi guru juga menyadari bahwa selama ini penyajiannya kurang bervariasi karena kurangnya persiapan dalam pelaksanaan pembelajaran. Agar motivasi siswa bangkit dan pembelajarannya menarik maka guru mencoba untuk menerapkan pembelajaran dengan menggunakan permainan teka-teki silang (TTS).
Permainan TTS diyakini oleh peneliti dapat meningkatkan motivasi siswa dalam belajar Bahasa Inggris karena adanya unsur permainan. Siswa SMP yang masih tergolong anak-anak masih senang bermain. Disaat siswa bermain maka guru menyisipkan materi menulis ini melalui kegiatan mengisi kotak dengan huruf yang menjadi targetnya. Dengan jumlah kotak yang sudah ditentukan maka pilihan kosa kata menjadi lebih kecil dan dipastikan ketepatannya.
Banyak kata dalam bahasa Inggris yang memiliki arti sama tetapi ejaan dan jumlah hurufnya berbeda. Jumlah kotak yang telah ditentukan sangat membantu para siswa untuk menentukan kata yang tepat dengan jumlah huruf yang sama dengan jumlah kotak tersebut. Jika terjadi persamaan jumlah huruf dan arti maka siswa harus mendiskusikan dengan temannya untuk menentukan jawaban yang paling tepat dengan argumentasi berdasarkan pengalaman dan teori dari buku yang mereka baca. Atau dengan voting jika sudah buntu.
Teori konstruktivisme memandang belajar sebagai proses di mana pembelajar secara aktif mengkonstruksi atau membangun gagasan-gagasan atau konsep-konsep baru didasarkan atas pengetahuan yang telah dimiliki di masa lalu atau ada pada saat itu. Dengan kata lain belajar melibatkan konstruksi pengetahuan seseorang dari pengalamannya sendiri oleh dirinya sendiri. Untuk mencapai hasil belajar siswa sebagaimana yang diharapkan, maka perlu diperhatikan beberapa faktor yang membedakan hasil belajar antara lain; faktor yang terdapat dalam diri siswa (faktor intern) yaitu; kecerdasan, bakat, minat, dan motivasi dan dari luar siswa (faktor ekstern) yaitu; keluarga, masyarakat, dan sekolah.
Elaine B. Johnson dalam Rusman (2014:189) mengatakan pembelajaran kontekstual adalah sebuah sistem yang merangsang otak untuk menyusun pola-pola yang mewujudkan makna. Pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning) merupakan konsep belajar yang dapat membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dalam pembelajaran kontekstual ada tujuh prinsip pembelajaran yang harus dikembangkan oleh guru, yaitu: konstruktivisme, menemukan, bertanya, masyarakat beklajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian sebenarnya. Konstruktivisem mendasarkan bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas. Menemukan pengertiannya adalah bahwa pengetahuan dan keterampilan bukan merupakan hasil mengingat seperangkat fakta tetapi merupakan hasil menemukan sendiri. Bertanya merupakan kegiatan yang diajukan untuk mencari dan menemukan kaitan antara konsep yang dipelajari dengan kehidupan nyata.Masyarakat belajar masksudnya bahwa siswa melakukan kerja sama dan memanfaatkan teman-teman sebagai sumber belajarnya. Pemodelan artinya bahwa guru bukan satu-satunya sumber belajar bagi siswa. Refleksi yaitu merenungkan materi yang baru saja dipelajari dan diendapkan untuk sandaran hidup. Penilaian sebenarnya artinya ada data dan informasi yang bisa memberikan gambaran atau petunjuk terhadap pengalaman belajar siswa.
Mata pelajaran Bahasa Inggris mempunyai karakteristik yang berbeda dengan mata pelajaran eksakta atau mata pelajaran ilmu sosial yang lain. Perbedaan ini terletak pada fungsi bahasa sebagai alat komunikasi. Hal ini mengindikasikan bahwa belajar Bahasa Inggris bukan saja belajar kosakata dan tatabahasa dalam arti pengetahuannya, tetapi harus berupaya menggunakan atau mengaplikasikan pengetahuan tersebut dalam kegiatan komunikasi. Ruang lingkup keterampilan menulis dalam bahasa Inggris pada jenjang SMP/MTs adalah mengungkapkan makna secara tertulis dalam wacana interpersonal dan transaksional sederhana, secara formal maupun informal, dalam bentuk recount, narrative, procedure, descriptive, dan report, dalam konteks kehidupan sehari-hari. Keterampilan menulis pada kelas 8 semester Idituangkankan menjadi 2 Kompetensi Dasar (KD) yaitu: 1) Mengungkapkan makna dalam bentuk teks tulis fungsional pendek sederhana dengan menggunakan ragam bahasa tulis secara akurat, lancar dan berterima untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitar; 2) Mengungkapkan makna dan langkah retorika dalam esei pendek sederhana dengan menggunakan ragam bahasa tulis secara akurat, lancar dan berterima untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitar dalam teks berbentuk
descriptive dan recount.
Permainan Teka Teki Silang (TTS) dan Manfaatnya
Di lingkungan yang masih terlihat keakraban antar anggota masyarakat, banyak permainan yang dilakukan oleh anak-anak secara beramai-ramai dengan teman-teman mereka di halaman atau di teras rumah. Beberapa permainan ini karena tercipta di masa yang lama berlalu disebut dengan permainan tradisional, sedangkan permainan yang lebih akhir dan biasanya menggunakan peralatan yang canggih disebut permainan modern.
Di dalam ensiklopedia Wikipedia (2015) disebutkan bahwa Teka Teki Silang atau disingkat TTS adalah suatu permainan di mana kita harus mengisi ruang-ruang kosong (berbentuk kotak putih) dengan huruf-huruf yang membentuk sebuah kata berdasarkan petunjuk yang diberikan.Petunjuknya biasa dibagi ke dalam kategori ‘Mendatar’ dan ‘Menurun’ tergantung posisi kata-kata yang harus diisi.
Nia Hidayati (2010) mengemukakan bahwa sebuah teka-teki bisa membuat kita berpikir, mencari dan menemukan jawaban. Teka-teki yang kadangkala menyenangkan, membingungkan dan menyulitkan langkah untuk memecahkannya tapi malah menimbulkan rasa penasaran untuk menemukan jawabannya. Sebuah teka-teki bisa menutrisi kesegaran pikiran dari kepenatan sekaligus menambah wawasan dan mengasah kemampuan otak. TTS bisa digunakan untuk
me-recall kosa kata yang telah lama tidak kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari sehingga bisa menyegarkan lagi ingatan kita.
Kerangka Berfikir
Brainstorming merupakan proses diskusi untuk menggali ide dan pendapat sebanyak-banyaknya dari seluruh peserta. Guru memberi stimulus siswa menanggapi dengan berbagai idenya tanpa beban karena semua akan diterima. Kebebasan berpendapat dikembangkan dan rasa percaya diri dibangun. Pembentukan kelompok belajar (study group) merupakan upaya untuk melatih siswa hidup bermasyarakat yang memiliki anggota dengan berbagai macam perbedaan. Pengetahuan yang diperoleh saat brainstorming dan kesolidan study group dengan beberapa anggota yang memiliki latar belakang pengetahuan, pemahaman dan pendalaman materi yang berbeda menjadi modal untuk memecahkan masalah (problem solving) bersama. Seringnya siswa membuat kesalahan dalam memilih kata yang tepat dalam menyusun kalimat, menarik bagi peneliti untuk menawarkan solusi pemecahan masalah tersebut dengan menggunakan permainan teka-teki silang (TTS). Dalam mengerjakan TTS siswa mengisi kotak dengan huruf yang telah ditentukan jumlahnya. Banyak kata dalam bahasa Inggris yang memiliki arti sama tetapi ejaan dan jumlah hurufnya berbeda. Jumlah kotak yang telah ditentukan sangat membantu para siswa untuk menentukan kata yang tepat dengan jumlah huruf yang sama dengan jumlah kotak tersebut. Jika terjadi persamaan jumlah huruf dan arti maka siswa harus mendiskusikan dengan temannya untuk menentukan jawaban yang paling tepat dengan argumentasi berdasarkan pengalaman dan teori dari buku yang mereka baca. Atau dengan voting jika sudah buntu.Hasil keputusan tiap kelompok merupakan hasil keputusan dari pemikiran beberapa orang.Hasil tersebut perlu dibawa ke plenary session untuk mendapatkan masukan yang lebih dalam dan argumentasi yang lebih luas dari seluruh anggota kelas serta penguatan dari guru.Keputusan plenary session merupakan keputusan terakhir untuk menentukan kebenaran jawaban sesuai dengan teori yang dikuasai.
Pembelajaran dengan TTS melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan yang dirancang sehingga memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kerjasama, persaingan sehat dengan siswa lain untuk menggali potensi sesuai dengan tuntutan dari standard kompetensi maupun kompetensi dasar yang telah ditentukan dalam kurikulum.
Peneliti berpendapat bahwa pembelajaran dengan menggunakan TTS menciptakan kondisi yang dapat memberikan kebiasaan siswa terampil bekerja sama dan berkompetisi. Di samping itu, kebiasaan mengisi TTS juga melatih siswa untuk bisa memecahkan masalah dengan cepat dan tepat serta mengisi waktu luang secara positif sambil me-review materi pelajaran yang telah dipelajari.
Hasil Penelitian dan Pembahasannya
Setelah pelaksanaan tindakan kelas dari siklus 1 sampai 3 motivasi belajar siswa kelas 8A semester 1 tahun pelajaran 2015/2016 SMP Negeri 2 Sumbang meningkat. Peningkatan motivasi itu terjadi karena adanya perubahan model pembelajaran yang diterapkan oleh guru dengan menggunakan permainan teka-teki silang (TTS).
Hasil pengamatan terhadap aktifitas siswa dalam pembelajaran bahasa Inggris dengan mengunakan TTS dalam setiap siklusnya cenderung terus meningkat kearah yang positif. Kenaikannya dapat dilihat pada grafik berikut ini.
Grafik 1. Hasil pengamatan terhadap aktifitas siswa dalam pembelajaran bahasa Inggris dengan mengunakan TTS
Peningkatan keantusiasan dan keaktifitan mengerjakan tugas dari pra siklus sampai ke siklus 3 sangat signifikan.Peningkatan mencapai 350% yaitu dari 4 siswa menjadi 18 siswa. Hal ini menurut peneliti karena pembelajaran Bahasa Inggris dengan menggunakan permainan TTS menarik bagi siswa. Mengisi TTS tidak sekedar sebagai hiburan, tetapi juga mendidik kita untuk terus menambah wawasan dan mengasah kemampuan berpikir cepat (Niahidayati, 2010). Kebiasaan mengisi TTS bisa meningkatkan motivasi siswa untuk menjawab atau menanggapi pertanyaan atau pernyataan dari gurunya di dalam kelas pada saat pembelajaran.
Siswa yang berusaha dan mencoba untuk mengerjakan tugas meningkat dari 5 siswa menjadi 10 siswa berarti ada kenaikan 100%. Penafsiran dari peneliti adalah bahwa pada saat mengisi TTS siswa sering menjumpai pertanyaan yang sulit.Namun karena TTS memiliki sifat dasar dan peran yang membuat siswamerasa senang dan tertantang maka mereka selalu merasa penasaran dan berusaha mencari jawaban sampai ketemu.Tak masalah bila mereka harus bolak balik buka kamus untuk mendapatkan jawaban yang diinginkan. Rasa penasaran juga bisa menurunkan jumlah siswa yang bermalas-malasan dan cenderung diam di kelas, masing-masing dari 14 siswa ke 4 siswa dan dari 9 siswa ke 0 siswa.
Suasana kompetitif yang diciptakan oleh guru membuat mereka menjadi mengerjakan tugas dengan sebaik-baiknya dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, artinya mereka mengerjakan tugas sesuai dengan petunjuk apa yang harus dikerjakan yaitu benar dan tepat waktu sesuai target. Kebiasaan seperti ini memupuk siswa untuk selalu bertindak disiplin dan bertangggung jawab.
Setelah pelaksanaan tindakan kelas dari siklus 1 sampai dengan siklus 3 hasil belajar siswa kelas 8A semester 1 tahun pelajaran 2015/2016 SMP Negeri 2 Sumbang meningkat. Peningkatan hasil belajar itu terjadi karena adanya intervensi guru memberikan bimbingan atau pancingan yang menuju kunci jawaban meskipun tidak secara langsung. Kuncinya berupa jumlah kotak yang menandakan jumlah huruf dalam kata yang dibutuhkan dalam jawaban dan bersilang-silang yang disebut permainan teka-teki silang (TTS).
Model pembelajaran dengan menggunakan permainan teka-teki silang adalah suatu upaya guru untuk membawa apa yang biasa ditemukan siswa dalam kehidupan sehari-hari ke dalam kelas sebagi media untuk mempelajari materi bahasa Inggris yang selama ini dianggap sulit. Hal ini sesuai dengan model pembelajaran kontekstual (CTL) yang dikemukakan oleh Elaine B.Johnson (Rusman, 2014) bahwa pembelajaran kontekstual adalah suatu system pembelajaran yang cocok dengan otak yang menghasilkan makna dengan menghubungkan muatan akademis dengan konteks dari kehidupan sehari-hari siswa. Pembelajaran dengan menggunakan TTS akan lebih bermakna bagi para siswa karena secara langsung merupakan pengalaman sehari-hari yang dialami oleh para siswa itu sendiri.
Teka teki silang bisa mencakup semua prinsip yang dikembangkan dalam pembelajaran CTL, yaitu prinsip; konstruktivisme, menemukan, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, dan refleksi.
Konstruktivisme merupakan landasan berpikir CTL yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas. TTS adalah strategi untuk membelajarkan siswa menghubungkan antara setiap konsep yang telah dipelajari dengan kenyataan yang dihadapi. Disamping itu, pengsisian TTS juga memerlukan pengetahuanyang harus diingat untuk dikonstruksikan dengan kondisi saat ini. Nia (2010) mengatakan bahwa seringkali hal-hal kecil yang terlupakan dan terlewatkan menjadi kita ketahui ketika mengisi TTS. Konsep tentang tata bahasa dalam bahasa Inggris serta ingatan siswa tentang kosa kata yang telah dipelajari pada waktu yang lalu sangat membantu siswa dalam mengisi TTS yang selanjutnya berimplikasi positif terhadap kegiatan siswa di saat menghadapai soal-soal ulangan.
Menemukan jawaban yang benar merupakan hal yang biasa dalam mengisi TTS. Dengan adanya bantuan berupa sejumlah kotak tertentu yang harus diisi oleh siswa, TTS bisa dimanfaatkan oleh para siswa sebagai kunci (clue) untuk menemukan jawaban yang benar. Banyaknya kosa kata yang memiliki arti sama bisa membuat siswa bingung untuk memilihnya. Jumlah kotak dalam TTS serta adanya bantuan huruf dari soal lainnya bisa membantu siswa untuk menemukan kosa kata yang dibutuhkan dalam kontek yang sebenarnya.
Pertanyaan dalam TTS akan menimbulkan pertanyaan pada diri siswa untuk mencari jawaban. Kebiasaan ditanya dan bertanya akan mendorong proses dan hasil pembelajaran yang lebih luas dan mendalam. Siswa tidak lagi takut bertanya dan ditanya, serta tidak ragu untuk menjawab meskipun kadang salah.
permasalahan dalam kelompoknya. Hasil pembelajaran diperoleh dari kerja sama dengan orang lain melalui berbagi pengalaman (sharing). Siswa juga belajar untuk saling memberi dan menerima di dalam masyarakat belajar (learning community).
TTS dapat dijadikan sebagai salah satu model sumber belajar bagi para siswa untuk mengembangkan pembelajaran yang selama ini tidak dapat dipenuhi oleh gurunya. Luasnya materi pembelajaran bahasa Inggris serta perkembangan teknologi pendidikan yang sangat cepat menuntut para siswa untuk belajar dari berbagai macam sumber belajar. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber belajar bagi siswa. Mengisi TTS bahasa Inggris merupakan salah satu sumber belajar bahasa Inggris. Nia (2010) mengatakan bahwa TTS adalah media rekreasi otak karena selain mengasah kemampuan kognitif, meningkatkan daya ingat, memperkaya pengetahuan, juga menyenangkan kita.
Pada saat mengisi TTS siswa melakukan refleksi dengan berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah dilakukan pada masa lalu. Siswa mencerna, menimbang, membandingkan, menghayati dan melakukan diskusi dengan dirinya sendiri untuk menentukan jawaban yang benar.
Dari uraian di atas menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan TTS searah dengan prinsip-prinsip pembelajaran kontekstual. Maka tidak heran jika hasil penilaian proses dari siklus 1 sampai ke siklus 3 selalu mengalami peningkatan. Peningkatan hasil penilaian proses dapat dilihat pada grafik berikut ini :
Grafik 2. Pembelajaran dengan menggunakan TTS searah dengan prinsip-prinsip pembelajaran kontekstual
Dengan materi pembahasan masih sama tapi ranah dan jumlah anggota kelompok berbeda pada siklus 2 rata-rata hasil penilaian proses meningkat dari 62.50 (kategori cukup) menjadi 73.75 (kategori baik). Disamping itu, jumlah siswa yang mencapai/melampaui KKM juga meningkat dari 25% menjadi 63%.Peningkatan ini disebabkan karena siswa sudah lebih mengenal model TTS dan dikerjakan oleh jumlah anggota kelompok yang lebih besar.Namun demikian masih ada 1 kelompok yang nilainya masuk kategori kurang dan 2 kelompok yang masuk kategori cukup. Refleksi merekomendasikan agar diteruskan ke siklus 3 dengan tema dan jenis teks berbeda, anggota kelompok diacak, dan setiap siswa wajib membawa kamus.
Dengan persiapan yang lebih matang, hasil penilaian proses siklus 3 meningkat dari 73.75 menjadi 79.50. Siswa yang mencapai/melampaui KKM menjadi 75%. Hasil refleksi pada siklus 3 menunjukkan bahwa sebagian besar siswa cukup puas dan terhibur mengikuti model pembelajaran dengan menggunakan TTS meskipun masih ada beberapa siswa yang bermalas-malasan dan belum mecapai KKM. Guru juga merasa puas dengan usaha yang telah dilakukan secara maksimal dan dapat meningkatan kompetensi menulis dibuktikan dengan meningkatnya hasil penilaian proses dan keaktifan siswa dalam berinteraksi dengan teman, guru, dan materi pembelajaran.
Berdasarkan interpretasi aktifitas dan hasil penialain proses di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan model TTS selaras dengan model pembelajaran kontekstual dan PAKEM karena pada saat bermain TTS semua siswa berpartisipasi dan aktif. Mereka juga kreatif menyusun huruf menjadi kata dan efektif bisa mengisi semua kotak dengan benar. Hal yang paling sesuai dengan dunia anak adalah bermain sehingga kegiatan ini menjadi menyenangkan.
Penutup
Berdasarkan analisis hasil penelitian dan pembahasan sebagaimana diuraikan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa penerapan model pembelajaran bahasa Inggris dengan menggunakan permainan TTS dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar bahasa Inggris siswa kelas 8A semester 1 SMP Negeri 2 Sumbang tahun pelajaran 2015/2016.
Peningkatan motivasi belajar bahasa Inggris ditandai dengan perubahan aktifitas siswa yang antusias dalam mengerjakan tugas dari 4 (13%) siswa pada pra siklus menjadi 18 (56%) siswa pada siklus 3. Respon terhadap pertanyaan dan pernyataan guru juga meningkat, sehingga suasana kelas menjadi lebih hidup.Kamus yang sangat menolong mereka dalam belajar bahasa Inggris menjadi teman akrab mereka dan selalu dibawa pada saat pelajaran bahasa Inggris.
DAFTAR PUSTAKA
Mulyasa, 2008.Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru, Bandung: Remaja Rosdakarya.
Niahidayati, 2010.Manfaat Teka-teki Silang. Ada pada: http://niahidayati.net/html. Diunduh: 22 Agustus 2010 pukul 8.51.
Rusman, Drs. M.Pd. 2014. Model-model Pembelajaran, Jakarta : RajaGrafindo Persada. Slameto, 1991.Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, Jakarta : Rineka Cipta,. Wikipedia, 2010.Definisi Teka-Teki Silang. Ada pada: http://id.wikipedia.org/wiki/Teka-teki_silang. Diunduh: 13 Okt 2015 – pukul 07.24