• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknik Analisa Kuantitatif ANALISIS FAKT (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Teknik Analisa Kuantitatif ANALISIS FAKT (1)"

Copied!
41
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

ANALISA FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT KESEHATAN

MASYARAKAT TERHADAP KETERSEDIAAN FASILITAS KESEHATAN DI SURABAYA

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena berkat limpahan dan karunia-Nya penulis

dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Analisis Faktor yang Mempengaruhi Tingkat

Kesehatan Masyarakat Terhadap Ketersediaan Fasilitas Kesehatan di Kota Surabaya” sebagai

tugas dari Mata Kuliah Teknik Analisa Kuantitatif.

Penulis berterima kasih kepada seluruh pihak yang telah banyak membantu dalam

proses penyusunan dan penyelesaian makalah ini. Dan terima kasih kami sampaikan kepada :

1. Dosen Mata Kuliah Teknik Analisa Kuantitatif Ibu Ketut Martha Dewi Erli, S.T,

M.T dan Ummi Fadhilah, S.T, M.T yang telah memberi tugas serta membimbing

kami dalam menyelesaikan makalah ini.

2. Rekan rekan yang telah membantu terselesainya makalah ini.

Tujuan dari pembuatan tugas mata kuliah ini adalah diharapkan penulis memahami

analisis faktor yang dijadikan acuan untuk analisis cluster untuk menentukan tingakt

penyediaan fasilitas ksehatan di Kota Surabaya.

Demikian makalah Teknik Analisa Kuantitatif ini yang kiranya masih jauh dari

kesempurnaan, oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak

sangat penulis harapkan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan dapat

memberikan masukan informasi serta wacana yang bermanfaat bagi masyarakat pada

umumnya.

Surabaya, Mei 2015

(3)

ANALISA FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT KESEHATAN

MASYARAKAT TERHADAP KETERSEDIAAN FASILITAS KESEHATAN DI SURABAYA

DAFTAR ISI

4.2 Analisis Faktor Penentuan Tingkat Kesehatan dalam Penyediaan Sarana Kesehatan... 11

4.3 Analisa Cluster Pengelompokan Tingkat Kesehatan Terhadap Penyediaan Fasilitas Kesehatan... 14

4.4 Analisa dan Pembahasan Penyediaan fasilitas kesehatan terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Surabaya...16

BAB V PENUTUP... 20

5.1 Kesimpulan... 20

5.2Rekomendasi... 20

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

1. 1 Latar Belakang

Seiring berkembangnya zaman semakin tumbuh-kembangnya suatu ruang wilayah dapat diidentifikasikan dengan adanya pertumbuhan penduduk dan perkembangan aktivitas wilayah tersebut. Adanya pemusatan dan aktivitas ekonomi dan sosial yang beragam, maka membuat suatu wilayah akan menjadi berkembang (Pudjiantoro, 2008). Dengan jumlah penduduk Indonesia yang sangat tinggi yaitu 237.6 juta jiwa menjadi sebuah tuntutan agar mampu bersaing dengan negara lain baik berupa ilmu teknologi, kemajuan perkembangan kota melalui sarana dan prasarana, dan kualitas sumber daya manusia. Kemajuan ilmu teknologi yang diaplikasikan ke dalam pemenuhan sarana dan prasarana yang memadai akan dihasilkan oleh sumber daya manusia yang berkualitas.

Perkembangan penduduk dan aktivitas perKota an akan berdampak pada perkembangan kota dengan peningkatan kebutuhan fasilitas baik fasilitas umum maupun fasilitas sosial. Salah satunya adalah kebutuhan akan kesehatan yang merupakan faktor penting dalam menjaga kelangsungan hidup manusia. Dengan kesehatan orang berhak mendapatkan keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi karena kesehatan merupakan suatu hak yang fundamental bagi setiap orang tanpa membedakan ras, agama, politik, dan tingkat sosial ekonominya.

(5)

kesehatan perorangan, baik promotif, preventif, kuratif, maupun rehabititatif yang dilakukan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan/atau masyarakat.

Fasilitas kesehatan sangat diperlukan oleh penduduk untuk menunjang kebutuhan pelayanan kesehatan guna meningkatkan pelaksanaan aktivitas. Salah satu usaha peningkatan kesehatan pada masyarakat suatu kota adalah dengan cara menyediakan fasilitas kesehatan yang merata dan sesuai dengan keinginan masyarakat yang dilayani. Karena jika suatu fasilitas tidak diinginkan keberadaannya pada suatu lingkungan maka fasilitas tersebut akan ditinggalkan atau tidak dipergunakan oleh masyarakatnya.

Dari latar belakang ini diperlukan adanya suatu analisis untuk menganalisa pengaruh tingkat kesehatan masyarakat terhadap ketersediaan fasilitas kesehatan yang berada di suatu wilayah. Pada penulisan makalah ini, pembahasan akan difokuskan pada kecamatan-kecamatan yang berada di Kota Surabaya.

1.2 Tujuan dan Sasaran Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kesehatan masyarakat terhadap ketersediaan fasilitas kesehatan di lokasi studi, yakni di Kota Surabaya. Adapun sasaran yang akan dicapai untuk mendukung terwujudnya tujuan tersebut adalah:

1. Merumuskan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi tingkat kesehatan masyarakat terhadap ketersediaan fasilitas kesehatan di Kota Surabaya.

(6)

1.3 Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam pembahasan makalah ini adalah metode pengumpulan data dan metode analisis. Dalam proses pengumpulan data, metode yang digunakan adalah studi literatur untuk mendapatkan data-data mengenai variabel yang berkaitan dengan fasilitas kesehatan sehinga dapat dijadikan bahan dalam melakukan sintesa dan hipotesa awal dan survey sekunder melalui data-data kecamatan dalam angka untuk mengetahui jumlah ketersediaan fasilitas kesehatan di setiap kecamatan yang ada di KotaSurabaya. Dalam metode analisis yang digunakan dalam interpretasi adalah menggunakan metode analisis faktor dan analisis cluster.

1.4 Ruang Lingkup Penelitian

Ditinjau dari cakupan wilayahnya, Kota Surabaya adalah ibukota dari Provinsi Jawa Timur yang dikenal juga sebagai Kota Pahlawan. Berdasarkan data Surabaya Dalam Angka Tahun 2013, Kota Surabaya memiliki luas wilayah sekitar 326,36 km2 yang terbagi dalam 31 kecamatan dan 163 desa/kelurahan dan jumlah penduduk yang mencapai 3.024.321 jiwa. Kota Surabaya memiliki batas kewilayahan yang akan dijelaskan sebagai berikut:

 Sebelah Utara : Selat Madura

 Sebelah Timur : Selat Madura

 Sebelah Selatan : Kabupaten Sidoarjo

 Sebalah Barat : Kabupaten Gresik

(7)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kesehatan Masyarakat

Sehat adalah suatu keadaan seimbang yang dinamis antara bentuk dan fungsi tubuhdengan berbagai faktor yang berusaha mempengaruhinya (Perkin 1938).Sehat adalah suatu keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis (UU Kesehatan No. 23 tahun 1992).

WHO menyatakan kesehatan adalah suatu keadaan sehat yang utuh secara fisik, mental dan sosial serta bukan hanya merupakan bebas dari penyakit.Dalam Undang Undang No. 9 Tahun 1960 tentang Pokok-Pokok Kesehatan. Dalam Bab 1, Pasal 2 dinyatakan bahwa Kesehatan adalah meliputi kesehatan badan (somatik), rohani (jiwa) dan sosial dan bukan hanya deadaan yang bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan. Definisi ini memberi arti yang sangat luas pada kata kesehatan.Keadaan kesehatan masyarakat di Indonesia masih merupakan hal yang perlu mendapaat perhatian.Bahwa kesehatan rakyat adalah salah satu modal pokok dalam rangka pertumbuhan dan kehidupan bangsa, dan mempunyai peranan penting dalam penyelesaian revolusi nasional dan penyusunan masyarakat sosialis Indonesia; bahwa kesejahteraan umum termasuk kesehatan, harus diusahakan sebagai pelaksanaan cita-cita bangsa Indonesia.Tiap-tiap warga negara berhak memperoleh derajat kesehatan yang setinggi tingginya dan perlu diikut-sertakan dalam usaha-usaha kesehatan Pemerintah.

2.2 Fasilitas Kesehatan

Menurut Sarjito dalam Mahmud R (1997) Fasilitas kesehatan merupakan fasilitas yang memberikan pelayanan di bidang kesehatan yang memiliki 3 fungsi utama yaitu :

1. Kuratif, yaitu pemeriksaan pengobatan dan perawatan

(8)

pendidikan kesehatan

3. Kesehatan lingkungan

Menurut Suratno (2005), fasilitas kesehatan berdasarkan hirarki dan fungsinya dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Rumah sakit tipe A dan B merupakan fasilitas kesehatan yang mempunyai jangkauan tingkat regional

2. Rumah sakit tipe C dan D merupakan rumah sakit umum kecil untuk kebutuhan Kota

3. Puskesmas merupakan pusat kesehatan yang melayani unit lingkungan kecil

4. Puskesmas pembantu atau BKIA/poliklinik, dan praktek dokter merupakan pusat kesehatan yang melayani unit ligkungan yang lebih kecil

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit berdasarkan tingkatan klasifikasi Rumah Sakit menurut kemampuan unsur pelayanan kesehatan yang dapat disediakan, ketenagaan, fisik dan peralatan, maka Rumah Sakit Umum pemerintah pusat dan daerah diklasifikasikan antara lain:

1. Rumah Sakit Umum Kelas A adalah Rumah Sakit Umum yang mempuntai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik paling sedikit 4 (empat) spesialis dasar, 5 (lima) spesialis penunjang medi, 12 (diua belas) spesialis lain dan 13 (tiga belas) sub spesialis.

(9)

(delapan) spesialis lain dan 2 (dua) sub spesialis dasar.

3. Rumah Sakit Umum Kelas C adalah Rumah Sakit Umum yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik paling sedikit 4 (empat) spesialis dasar dan 4 (empat) spesialis penunjang medik.

4. Rumah Sakit Umum Kelas D adalah Rumah Sakit Umum yang mempunyai fasilitas

dan kemampuan pelayanan medik paling sedikit 2 (dua) spesialis dasar.

Pelayanan kesehatan adalah setiap upaya yang diselenggarakan secara sendiri atau bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan mengobati penyakit serta memulihkan kesehatan perseorangan, kelompok ataupun masyarakat (Azwar, 1996).

Ada 4 syarat pokok pelayanan kesehatan yang harus dipenuhi agar dapat dikatakan sebagai pelayanan kesehatan yang baik, yaitu:

1. Tersedia dan berkesinambungan, artinya semua jenis pelayaan kesehatan yang dibutuhkan masyarakat tidak sulit ditemukan, serta keberadaannya dalam masyarakat adalah pada setiap saat yang dibutuhkan.

2. Dapat diterima dan wajar, artinya pelayanan kesehatan masyarakat tersebut tidak bertentangan dengan keyakinan dan kepercayaan masyarakat.

3. Mudah dicapai, pengertian ketercapaian yang dimaksud di sini terutama dari sudut lokasi.

(10)

5. Bermutu, pengertian mutu disini adalah yang menunjuk pada tingkat kesempurnaan pelayanan kesehatan yang diselenggarakan yang disatu pihak dapat memuaskan para pemakai jasa pelayanan dan di pihak lain tata cara penyelenggaraannya sesuai dengan kode etik serta standard yang telah ditetapkan (Azwar, 1996)

2.3 Faktor yang mempengaruhi Kesehatan Masyarakat

Sehat adalah suatu keadaan dan kualitas dari organ tubuh yang berfungsi secara wajar dengan segala faktor keturunan dan lingkungan yang dipunyainya (WHO 1957). Menurut H.L Blum, ada 4 faktor yang bersama-sama mempengaruhi tingkat kesehatan masyarakat, yaitu: kesehatan lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan, dan genetik.

2.3.1 Sarana Kesehatan

Sarana kesehatan berfungsi memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, memiliki peran yang sangat strategis dalam mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat sekaligus untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk.Dasar penyediaan sarana ini adalah didasarkan jumlah penduduk yang dilayani oleh sarana tersebut. Dasar penyediaan ini juga akan mempertimbangkan pendekatan desain keruangan unit-unit atau kelompok lingkungan yang ada. Tentunya hal ini dapat terkait dengan bentukan grup bangunan/blok yang nantinya terbentuk sesuai konteks lingkungannya. Sedangkan penenempatan penyediaan fasilitas ini akan mempertimbangkan jangkauan radius area layanan terkait dengan kebutuhan dasar sarana yang harus dipenuhi untuk melayani pada area tertentu.

Beberapa jenis sarana yang dibutuhkan adalah

a) posyandu yang berfungsi memberikan pelayanan kesehatan untuk anak-anak usia

(11)

b) balai pengobatan warga yang berfungsi memberikan pelayanan kepada penduduk

dalam bidang kesehatan dengan titik berat terletak pada penyembuhan (currative)

tanpa perawatan, berobat dan pada waktu-waktu tertentu juga untuk vaksinasi;

c) balai kesejahteraan ibu dan anak (BKIA) / Klinik Bersalin), yang berfungsi melayani ibu

baik sebelum, pada saat dan sesudah melahirkan serta melayani anak usia sampai

dengan 6 tahun;

d) puskesmas dan balai pengobatan, yang berfungsi sebagai sarana pelayanankesehatan tingkat pertama yang memberikan pelayanan kepada penduduk dalam penyembuhan penyakit, selain melaksanakan program pemeliharaan kesehatan danpencegahan penyakit di wilayah kerjanya;

e) puskesmas pembantu dan balai pengobatan, yang berfungsi sebagai unit pelayanankesehatan sederhana yang memberikan pelayanan kesehatan terbatas dan membantupelaksanaan kegiatan puskesmas dalam lingkup wilayah yang lebih kecil;

f) tempat praktek dokter, merupakan salah satu sarana yang memberikan pelayanankesehatan secara individual dan lebih dititikberatkan pada usaha penyembuhan tanpaperawatan; dan

(12)

2.3.2 Kemisikinan

Kemiskinan merupakan lingkungan hidup yang sangat membahayakan kesehatan manusia (jasmani, rohani dan sosial). Karena miskin, orang tidak dapat memenuhi kebutuhan akan makanan yang sehat, yang akan melemahkan daya tahan tubuh, sehingga mudah terserang sesuatu penyakit. Bahkan karena kekurangan makanan itu sendiri dapat menyebabkan orang menjadi sakit seperti. Penyakit-penyakit karena kekurangan vitamin misalnya: Xerophthalmi, scorbut, beri-beri.

Kemiskinan yang parah dapat meruntuhkan akhiak manusia secara total sehingga tidak lagi menunaikan kewajiban-kewajiban sosialnya. Menjadikan manusia menjadi kurang/tidak bertanggung jawab.Menumbuhkan sifat-sifat egoistis (mementingkan diri sendiri) dan munculnya berbagai jenis kejahatan baik yang dilakukan anak-anak/remaja maupun yang dilakukan orang dewasa.Karena itu perkembangan dalam bidang kesehatan harus pula sejalan dengan perkembangan dalam bidang sosio-ekonomi.Usaha-usaha kesehatan harus diselenggarakan agar keadaan sosio-ekonomi mendapat kemajuan, sebaliknya pula hanya dalam keadaan sosio-ekonomi yang baiklah usaha-usaha kesehatan dapat berkembang dengan sebaik-baiknya.

2.3.3 Jumlah Penduduk

Dalam dalam masalah ini maka penduduk tidak akan jauh dengan masalah kesehatan atau penyakit yang melanda penduduk tersebut, dikarenakan lingkungan yang kurang terawat ataupun pemukiman yang kumuh, seperti limbah pabrik, selokan yang tidak terawat yang menyebabkan segala penyakit akan melanda para penghuni wilayah tersebut yang mengakibatkan kematian dan terjadi pengurangan jumlah penduduk.

(13)

juga terancam akibat pertambahan penduduk yang besar adalah ketersediaan pangan semakin meningkat.

2.3 Sintesa Pustaka

Berdasarkan Kajian Pustaka yang telah dijabarkan, didapatkan beberapa hal yang harus diperhatikan dalam kaitannya dengan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi tingkat kesehatan masyarakat terhadap ketersediaan fasilitas kesehatan di Kota Surabaya. Hal-hal tersebut yang berpengaruh terhadap faktor-faktor tingkat kesehatan masyarakat di Kota Surabaya. Indicator-indikator yang mempengaruhi tingkat kesehatan masyarakat di suatu wilayah diantaranya adalah jumlah penduduk, ketersediaan fasilitas kesehatan, jumlah tenaga kesehatan, jumlah keluarga miskin, dan jumlah imunisasi bayi.

Berdasarkan penjelasan diatas, maka dapat dikatakan bahwa hal-hal tersebut merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kesehatan masyarakat di Kota Surabaya. Adapun hasil sintesa tinjauan pustaka dapat ditampilkan pada tabel dibawah ini:

Tabel1. Hasil Sintesa Kajian Pustaka

No Variabel Keterangan

1 Jumlah Penduduk Jumlah Penduduk setiap kecamatan akan menjadi dasar pertimbangan jumlah pelayanan yang dibutuhkan oleh masyarakat yang ada pada kecamatan. Dengan mengetahui jumlah penduduk, maka akan lebih memudahkan dalam menentukan besaran pelayanan yang harus disediakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di tiap kelurahan.

(14)

No Variabel Keterangan

pemerintah daerah telah mampu memenuhi kebutuhan pelayanan.

3 Tenaga Kesehatan Tenaga kesehatan memiliki peranan penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan yang maksimal kepada masyarakat. Dengan mengetahui jumlah tenaga kesehatan, dapat menentukan kebijakan dalam memeratakan penyebaran tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. membahayakan kesehatan manusia (jasmani, rohani dan sosial). Karena miskin, orang tidak dapat memenuhi kebutuhan akan makanan yang sehat, yang akan melemahkan daya tahan tubuh, sehingga mudah terserang sesuatu penyakit

5 Jumlah Imunisasi Bayi Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan

seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga bila kelak ia terpapar dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau sakit ringan. Jumlah imunisasi bayi untuk mengetahui tingkat kekebalan daya tahan tubuh anak terhadap penyakit.

(15)
(16)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian

Metode yang dilakukan merupakan sebuah proses analisa yang melakukan penelitian dengan mengumpulkan data-data yang dibutuhkan sesuai dengan tujuan peneliti, kemudian setelah mendapatkan data yang diperlukan maka langkah selanjutnya adalah menganalisis data yang sudah diperoleh.

3.1.1 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data merupakan teknik atau cara yang dilakukan untuk mengumpulkan data. Untuk pengumpulan data-data, metode yang digunakan adalah survei sekunder untuk mendapatkan data-data statistic. Sumber data sekunder dari penelitian ini antara lain dokumen Kecamatan dalam angka tahun 2014 (data tahun 2013) yang dapat diakses di BPS Kota Surabaya.

3.1.2

Metode Analisa

Metode analisa merupakan tahap pertama yang dilakukan dalam penelitian dengan merumuskan suatu permasalahan, dan tujuan permasalahan sehingga permasalahan tersebut dapat diselesaikan serta membuat rumusan sasaran agar tujuan penelitian dapat dipenuhi. Oleh karena itu, pada tahap analisa diperlukan kompilasi data dan valid data yang tepat sehingga memiliki output analisa data yang valid. Metode analisa yang digunakan dalam interpretasi, yaitu :

a. Analisa Faktor

(17)

asli berdasarkan keeratan hubungan yang ditentukan berdasarkan besarnya korelasi antar variabel. Setiap kelompok variabel disebut faktor yang akan mewakili variabel yang di dalamnya tidak ada hubungan atau korelasi antar faktor.

Hal yang perlu di perhatikan dalam analisa faktor adalah memperhatikan yaitu KMO > 0,5 berarti variabel dan sampel yang ada sudah kuat dan mencukupi, sehingga analisis yang dilakukan sudah dapat mencukupi, sedangkan KMO < 0,5 berarti variabel dan sampel tidak memiliki data yang cukup kuat sehingga diperlukan penambahan variabel. Adapun pedoman penilaiannya adalah nilai MSA >0.5. Jika ada variabel yang nilainya < 0.5 maka variable tersebut harus dikeluarkan dari proses analisis faktor sampai tidak ada variabel yang nilai MSA dibawah 0,5.

b. Analisa Cluster

Analisa cluster digunakan untuk meringkas sebuah data, yang tujuannya untuk mengelompokkan sebuah objek berdasarkan kesamaan karakteristik di antara objek-objek tersebut. Analisa cluster dibedakan dengan ciri-ciri cluster yang baik, yaitu homogenitas internal dan heterogenitas external. Perbedaan dari ciri-ciri cluster tersebut adalah homogenitas lebih menentukan kesamaan pada antar anggota dalam satu cluster, berbeda dengan heterogenitas yang melihat perbedaan antara cluster yang satu dengan cluster yang lainnya.

(18)

Kota Surabaya 5. Jumlah Imunisasi Bayi

2. Terbentuk 3 cluster dengan tingkat

kesehatan

Mengelompokkan

kecamatan di

Surabaya

berdasarkan jumlah penduduk, jumlah keluarga miskin, jumlah fasilitas kesehatan, jumlah tenaga kesehatan dan jumlah imunisasi bayi

Analisa Cluster

1. Jumlah Penduduk 2. Jumlah Keluarga Miskin

3. Jumlah Fasilitas Kesehatan

(19)

BAB IV

ANALISA DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Wilayah Studi

Kota Surabaya secara geografis termasuk dalam wilayah Provinsi Jawa Timur. Kota Surabaya memiliki luas wilayah sebesar 350,54 km2 dan terdiri atas 31 kecamatan serta 160 kelurahan. Batas administratif Kota Surabaya adalah sebagai berikut :

- Sebelah Utara : Selat Madura - Sebelah Selatan : Kabupaten Sidoarjo - Sebelah Barat : Kabupaten Gresik - Sebelah Timur : Selat Madura

Data yang digunakan untuk menganalisa faktor-faktor yang menentukan tingkat kesehatan dalam penyediaan sarana kesehatan antara lain terdiri atas jumlah fasilitas kesehatan, jumlah tenaga kesehatan, jumlah keluarga miskin, jumlah penduduk dan imunisasi bayi.

4.2 Analisis FaktorPenentuan Tingkat Kesehatan dalam

Penyediaan Sarana Kesehatan

Data-data yang digunakan untuk input awal yang menentukan tingkat kesehatan dalam penyediaan sarana kesehatan di Kota Surabaya dimasukkan dan diproses dengan menggunakan SPSS Statistik 17,0. Penggunaan analisa faktor bertujuan untuk menstrukturkan data, yaitu mengelompokkan data berdasarkan keeratan masing-masing variabel dalam satu kelompok, sehingga variabel yang termasuk dalam kelompok tersebut merupakan faktor-faktor yang menentukan tingkat kesehatan dalam penyediaan sarana kesehatan di Kota Surabaya. Berdasarkan analisa pertama diperoleh output sebagai berikut :

 Output KMO

(20)

Interpretasi : Dari tabel di atas diketahui bahwa nilai KMO (0,559) lebih dari 0,5 dengan nilai signifikasi (0,000) kurang dari 0,005, sehingga bisa dilakukan proses selanjutnya.

 Output nilai MSA (Measures of Sampling Adequacy)

Nilai MSA yang dapat dilihat pada matriks anti-image matrices menguji apakah variabel layak dipertimbangkan dalam analisis faktor.Semakin besar nilai MSA, maka semakin kecil nilai korelasi parsialnya dengan variabel lain, yang berarti semakin layak dipertimbangkan dalam pembentukan faktor. Berdasarkan tabel anti-image didapatkan semua variabel sudah memiliki nilai MSA lebih dari 0,5, yang berarti layak dipertimbangkan dalam pembentukan faktor, sehingga dapat dilakukan analisa faktor.

(21)

 Output KMO dan Anti Image

Interpretasi : Dari tabel di atas diketahui bahwa nilai KMO (0,589) lebih dari 0,5 dengan nilai signifikasi (0,000) kurang dari 0,005, sehingga bisa dilakukan proses selanjutnya.

Interpretasi : Berdasarkan tabel anti-image didapatkan semua variabel diatas sudah memiliki nilai MSA lebih dari 0,5 sehingga analisis faktor bisa dilakukan.

(22)

Berdasarkan tabel diatas, ternyata ada 1 faktor yang terbentuk karena pada component 2, nilai eigenvaluesnya mendekati 1. Dengan total % kumulatif sebesar 78.07%. Hal ini berarti kedua faktor yang terbentuk bisa menjelaskan

78.07% dari semua variabel yang ada.

Berdasarkan hasil analisis SPSS yang telah ditampilkan dalam tabel tersebut, berikut pembagian faktornya :

- Faktor 1 : Jumlah fasilitas , jumlah keluarga miskin, jumlah penduduk, imunisasi bayi

Berdasarkan rotasi komponen matriks hanya ada satu yang terekstrasi sehingga faktor yang terbentuk hanya ada satu faktor.

Analisa:

(23)

tenaga kesehatan inibukan merupakan subyek utama, namun bukan pula sebagai obyek dalam peningkatan taraf kesehatan masyarakat. Dibandingkan dengan variabel-variabel yang lainnya, seperti jumlah fasilitas, jumlah keluarga miskin, jumlah penduduk, dan imunisasi bayi mengindikasikan bahwa variabel tersebut mempunyai nilai kepentingan yang lebih tinggi daripada variabel tenaga kesehatan.

Jumlah ketersediaan fasilitas kesehatan di suatu wilayah sangat mempengaruhi pelayanan kesehatan penduduk yang memerlukan adanya pelayanan kesehatan. Hal ini dikarenakan bahwa adanya fasilitas kesehatan mempunyai peran dalam menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan, baik promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat. Begitu pula dengan kaitannya dengan jumlah keluarga miskin, dimana kesehatan bukan merupakan prioritas utama karena masyarakat menengah kebawah lebih mementingkan kebutuhan pangan daripada kepentingan kesehatan.

4.3 Analisa Cluster Pengelompokan Tingkat Kesehatan Terhadap

Penyediaan Fasilitas Kesehatan

(24)
(25)

Interpretasi: Dari tabel Case Processing Summary diatas diperoleh informasi bahwa tingkat kesalahan (missing) bernilai 0 yang berarti tidak terdapat error/kesalahan pada data. Sedangkan nilai kebenaran (valid) bernilai 31 yang berarti data yang telah dimasukkan berjumlah 31 yang seluruh kolom dan barisnya telah terisi sehingga tidak ada data yang missing.

(26)

Kesimpulan: Dari analisa cluster ini dihasilkan 3 cluster sebagai berikut:

- Cluster 1 yang terdiri atas Kecamatan pabean cantian, Kecamatan semmapir, Kecamatan krembangan, Kecamatan kenjeran, Kecamatan tegalsari, Kecamatan simokerto, Kecamatan bubutan, Kecamatan gubeng, Kecamatan sukolilo, Kecamatan mulyorejo, Kecamatan sukomanunggal, Kecamatan wonokromo, Kecamatan wonocolo, Kecamatan sawahan merupakan kecamatan yang memiliki jumlah fasilitas kesehatan tinggi, jumlah keluarga miskin tinggi, jumlah penduduk tinggi, dan jumlah imunisasi bayi tinggi.

- Sedangkan Cluster 2 terdiri atas Kecamatan bulak, Kecamatan genteng, Kecamatan gunung anyar, Kecamatan rungkut, Kecamatan tenggilis mejoyo, Kecamatan tandes, Kecamatan asemrowo, Kecamatan benowo, Kecamatan pakal, Kecamatan lakarsantri, Kecamatan sambikerep, Kecamatan wiyung, Kecamatan karangpilang, Kecamatan jambangan, Kecamatan gayungan. Kecamatan dukuh pakis merupakan kecamatan yang memiliki jumlah fasilitas kesehatan rendah, jumlah keluarga miskin rendah, jumlah penduduk rendah, dan jumlah imunisasi bayi rendah.

- Sedangkan Cluster 3 terdiri atas Kecamatan tambaksari merupakan kecamatan yang memiliki jumlah fasilitas kesehatan sedang, jumlah keluarga miskin sedang, jumlah penduduk sedang, dan jumlah imunisasi bayi sedang.

4.4 Analisa dan Pembahasan Penyediaan fasilitas kesehatan

terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Surabaya

Ditinjau dari RTRW Kota Surabaya rencana pembangunan fasilitas kesehatan dilakukan sebagai berikut :

(27)

b. Peningkatan kualitas prasarana dan sarana kesehatan yang telah ada dilakukan pada Rumah Sakit yang dikelola oleh Pemerintah dan / atau militer yang terdapat pada Unit Pengembangan (UP) II Kertajaya, UP IV Dharmahusada, UP VI Tunjungan, UP VII Wonokromo, UP. IX Ahmad Yani, Rumah Sakit Rumah Sakit / klinik Swasta, dan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) yang tersebar di setiap wilayah Kecamatan dan pada lokasi-lokasi fasilitas umum.

c. Untuk peningkatan kualitas dan pemerataan pelayanan kesehatan, juga akan dilakukan pembangunan fasilitas kesehatan baru berupa Rumah

- Kecamatan Mulyorejo termasuk dalam cluster 1 yang merupakan cluster dengan jumlah fasilitas kesehatan tinggi, jumlah keluarga miskin tinggi, jumlah penduduk tinggi, dan jumlah imunisasi bayi tinggi. Pada kecamatan mulyorejo terdapat kesesuaian antara kondisi eksisting jumlah fasilitas kesehatan dengan peningkatan kualitas sarana dan prasarana kesehatan yang telah ada sehingga tidak diperlukan lagi peningkatan kualitas prasarana dan sarana kesehatan.

- Kecamatan Sukolilo termasuk dalam cluster 1 yang merupakan cluster dengan jumlah fasilitas kesehatan tinggi, jumlah keluarga miskin tinggi, jumlah penduduk tinggi, dan jumlah imunisasi bayi tinggi. Pada kecamatansukolilo terdapat kesesuaian antara kondisi eksisting jumlah fasilitas kesehatan dengan peningkatan kualitas sarana dan prasarana kesehatan yang telah ada sehingga tidak diperlukan lagi peningkatan kualitas prasarana dan sarana kesehatan.

(28)

dan prasarana kesehatan yang telah ada sehingga diperlukan sedikit lagi peningkatan kualitas prasarana dan sarana kesehatan.

- Kecamatan Gubeng termasuk dalam cluster 1 yang merupakan cluster dengan jumlah fasilitas kesehatan tinggi, jumlah keluarga miskin tinggi, jumlah penduduk tinggi, dan jumlah imunisasi bayi tinggi. Pada kecamatan gubeng terdapat kesesuaian antara kondisi eksisting jumlah fasilitas kesehatan dengan peningkatan kualitas sarana dan prasarana kesehatan yang telah ada sehingga tidak diperlukan lagi peningkatan kualitas prasarana dan sarana kesehatan.

- Kecamatan Simokerto termasuk dalam cluster 1 yang merupakan cluster dengan jumlah fasilitas kesehatan tinggi, jumlah keluarga miskin tinggi, jumlah penduduk tinggi, dan jumlah imunisasi bayi tinggi. Pada kecamatan simokerto terdapat kesesuaian antara kondisi eksisting jumlah fasilitas kesehatan dengan peningkatan kualitas sarana dan prasarana kesehatan yang telah ada sehingga tidak diperlukan lagi peningkatan kualitas prasarana dan sarana kesehatan.

- Kecamatan Bubutan termasuk dalam cluster 1 yang merupakan cluster dengan jumlah fasilitas kesehatan tinggi, jumlah keluarga miskin tinggi, jumlah penduduk tinggi, dan jumlah imunisasi bayi tinggi. Pada kecamatan bubutan terdapat kesesuaian antara kondisi eksisting jumlah fasilitas kesehatan dengan peningkatan kualitas sarana dan prasarana kesehatan yang telah ada sehingga tidak diperlukan lagi peningkatan kualitas prasarana dan sarana kesehatan.

- Kecamatan Genteng termasuk dalam cluster 2 yang merupakan cluster dengan jumlah fasilitas kesehatan rendah, jumlah keluarga miskin rendah, jumlah penduduk rendah, dan jumlah imunisasi bayi rendah. Pada kecamatan genteng belum terdapat kesesuaian antara kondisi eksisting jumlah fasilitas kesehatan dengan peningkatan kualitas sarana dan prasarana kesehatan yang telah ada sehingga diperlukan banyak peningkatan kualitas prasarana dan sarana kesehatan.

(29)

yang telah ada sehingga tidak diperlukan lagi peningkatan kualitas prasarana dan sarana kesehatan.

- Kecamatan Sawahan termasuk dalam cluster 1 yang merupakan cluster dengan jumlah fasilitas kesehatan tinggi, jumlah keluarga miskin tinggi, jumlah penduduk tinggi, dan jumlah imunisasi bayi tinggi. Pada kecamatan sawahan terdapat kesesuaian antara kondisi eksisting jumlah fasilitas kesehatan dengan peningkatan kualitas sarana dan prasarana kesehatan yang telah ada sehingga tidak diperlukan lagi peningkatan kualitas prasarana dan sarana kesehatan.

- Kecamatan Wonokromo termasuk dalam cluster 1 yang merupakan cluster dengan jumlah fasilitas kesehatan tinggi, jumlah keluarga miskin tinggi, jumlah penduduk tinggi, dan jumlah imunisasi bayi tinggi. Pada kecamatan wonokromo terdapat kesesuaian antara kondisi eksisting jumlah fasilitas kesehatan dengan peningkatan kualitas sarana dan prasarana kesehatan yang telah ada sehingga tidak diperlukan lagi peningkatan kualitas prasarana dan sarana kesehatan.

- Kecamatan Jambangan termasuk dalam cluster 2 yang merupakan cluster dengan jumlah fasilitas kesehatan rendah, jumlah keluarga miskin rendah, jumlah penduduk rendah, dan jumlah imunisasi bayi rendah. Pada kecamatan jambangan belum terdapat kesesuaian antara kondisi eksisting jumlah fasilitas kesehatan dengan peningkatan kualitas sarana dan prasarana kesehatan yang telah ada sehingga diperlukan banyak peningkatan kualitas prasarana dan sarana kesehatan.

- KecamatanWonocolo termasuk dalam cluster 1 yang merupakan cluster dengan jumlah fasilitas kesehatan tinggi, jumlah keluarga miskin tinggi, jumlah penduduk tinggi, dan jumlah imunisasi bayi tinggi. Pada kecamatan wonocolo terdapat kesesuaian antara kondisi eksisting jumlah fasilitas kesehatan dengan peningkatan kualitas sarana dan prasarana kesehatan yang telah ada sehingga tidak diperlukan lagi peningkatan kualitas prasarana dan sarana kesehatan.

(30)

prasarana kesehatan yang telah ada sehingga diperlukan banyak peningkatan kualitas prasarana dan sarana kesehatan.

Sedangkan untuk peningkatan kualitas dan pemerataan pelayanan kesehatan dilakukan pada 1 unit pengembangan yang terdiri atas 2 kecamatan yaitu:

- Kecamatan Pakal termasuk dalam cluster 2 yang merupakan cluster dengan jumlah fasilitas kesehatan rendah, jumlah keluarga miskin rendah, jumlah penduduk rendah, dan jumlah imunisasi bayi rendah. Pada kecamatan pakal terdapat kesesuaian antara kondisi eksisting jumlah fasilitas kesehatan yang rendah sehingga akan dilakukan peningkatan kualitas dan pemerataan pelayanan kesehatan.

(31)

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan pengumpulan data dan analisa yang telah dilakukan, maka kesimpulan yang dapat diperoleh adalah sebagai berikut :

1. Melalui teknik analisis faktor konfirmatori, diperoleh variabel-variabel yang merupakan faktor penentu dalam menentukan tingkat kesehatan dalam penyediaan sarana kesehatan di Kota Surabaya. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kesehatan dalam penyediaan sarana kesehatan di Kota Suraaya adalah jumlah fasilitas kesehatan, jumlah keluarga miskin, jumlah penduduk dan imunisasi bayi.

2. Berdasarkan analisis cluster hierarcical, maka pembagian kecamatan-kecamatan di Kota Surabaya dalam 3 cluster yaitu :

a. Cluster 1 merupakan cluster dengan jumlah fasilitas kesehatan tinggi, jumlah keluarga miskin tinggi, jumlah penduduk tinggi, serta imunisasi bayi tinggi.

b. Cluster 2 merupakan cluster dengan jumlah fasilitas kesehatan rendah, jumlah keluarga miskin rendah, jumlah penduduk rendah, serta imunisasi bayi rendah.

c. Cluster 3 merupakan cluster dengan jumlah fasilitas kesehatan sedang, jumlah keluarga miskin sedang, jumlah penduduk sedang, serta imunisasi bayi sedang.

(32)

5.2Rekomendasi

Dengan adanya kurang kesesuaian antara Rencana Tata Ruang Kota Surabaya dengan kesiapan kecamatan yang menjadi pusat pelayanan kesehatan, maka rekomendasi arahan peningkatan fungsi pusat kesehatan Kota Surabaya dalam mendukung perwujudan rencana tata ruang Kota yaitu :

- Peningkatan kualitas prasarana dan sarana kesehatan yang telah ada perlu dilakukan evaluasi pada kondisi eksisting dengan perencanaan tata ruang pada kecamatan tambaksari, kecamatan genteng, kecamatan jambangan serta kecamatan gayungan agar terdapat kesesuaian kondisi eksisting dan rencana.

Kebijakan untuk masing – masing Kecamatan :

- Kecamatan yang tergabung dalam Cluster 1 terdiri atas Kecamatan pabean cantian, Kecamatan semampir, Kecamatan krembangan, Kecamatan kenjeran, Kecamatan tegalsari, Kecamatan simokerto, Kecamatan bubutan, Kecamatan gubeng, Kecamatan sukolilo, Kecamatan mulyorejo, Kecamatan sukomanunggal, Kecamatan wonokromo, Kecamatan wonocolo, Kecamatan sawahan dalam penyediaan fasilitas kesehatan tidak perlu dilakukan penambahan fasilitas kesehatan baru

(33)

fasilitas kesehatan, karena berdasarkan analisis pada daerah ini jumlah fasilitas kesehatannya rendah. Dengan begitu, pemerintah Kota Surabaya harusnya lebih memprioritaskan kecamatan pada cluster ini dalam pemenuhan fasilitas kesehatan agar taraf kesehatan di wilayah tersebut juga dapat meningkat.

(34)

LAMPIRAN

Data yang digunakan untuk menganalisa faktor yang mempengaruhi tingkat kesehatan terhadap penyediaan fasilitas kesehatan adalah sebagai berikut :

Sumber:Kecamatan dalam angka 2014, BPS Kota Surabaya.

Sedangkan untuk mengetahui pengelompokkan kecamatan berdasarkan tingkat kesehatan terhadap penyediaan fasilitas kesehatan menggunakan analisis cluster yang menghasilkan aglomerasi pembentukan 1 cluster, 2 cluster maupun 3 cluster.

(35)

Intepretasi 1 cluster

Berikut ini adalah penjelasan mengenai Agglomeration Schedule dan Cluster Membership :

(36)

- Pada stage 6, tertulis angka 7 (Kec Simokerto) dan angka 9 (Kec Bubutan). Hal ini berarti Kec Bubutan masuk pada kelompok yang pertama, yakni kelompok yang beranggotakan Kec Gubeng dan Kec Simokerto. Sehingga telah terdapat 3 kecamatan yang telah diketahui clusternya. Kemudian pada Next Stage pada Stage 3, menunjukkan stage 17. Lihat stage 17.

- Pada stage 17 ini terdapat angka 3 (Kec Krembangan) dan angka 7 (Kec Simokerto). Hal ini berarti Kec Krembangan masuk pada kelompok yang kedua, yakni kelompok Kec Simokerto yang beranggotakan Kec Krembangan. Kemudian pada Next Stage pada Stage 17, menunjukkan stage 23. Lihat stage 23.

- Pada stage 23, tertulis angka 2 (Kec Semampir) dan angka 3 (Kec Krembangan). Hal ini berarti Kec Semampir masuk pada kelompok yang ketiga, yakni kelompok Kec Krembangan yang beranggotakan Kec Semampir. Kemudian pada Next Stage pada Stage 23, menunjukkan stage 25. Lihat stage 25.

- Pada stage 25, tertulis angka 2 (Kec Semampir ) dan angka 18 (Kec Sukomanunggal). Hal ini berarti Kec Sukomanunggal masuk pada kelompok yang kelima, yakni kelompok Kec Semampir yang beranggotakan Kec Sukomanunggal. Kemudian pada Next Stage pada Stage 25, menunjukkan stage 28. Lihat stage 28.

- Pada stage 28, tertulis angka 1(Kec Pabean Cantian) dan angka 2 (Kec Semampir ). Hal ini berarti Kec Pabean Cantian masuk pada kelompok yang kelima, yakni kelompok Kec Semampir yang beranggotakan Kec Pabean Cantian dan Kec Sukomanunggal. Kemudian pada Next Stage pada Stage 28, menunjukkan stage 29. Lihat stage 29.

(37)

beranggotakan Kec Tambakasari. Kemudian pada Next Stage pada Stage 29, menunjukkan stage 30. Lihat stage 30.

- Pada stage 30, tertulis angka 1(Kec Pabean cantian) dan angka 5 (Kec Bulak). Hal ini berarti Kec bulak masuk pada kelompok yang keenam, yakni kelompok Kec Pabean Cantian yang beranggotakan Kec Tambaksari dan Kec Bulak. Kemudian pada Next Stage pada Stage 30, menunjukkan stage 0 sehingga proses telah selesai.

(38)

- Jika dibuat 2 cluster, maka anggota cluster pertama adalah Kecamatan Pabean Cantian, Kecamatan Semampir, Kecamatan Krembangan, Kecamatan Kenjeran, Kecamtan Tegalsari, Kecamatan Simokerto, Kecamatan Bubutan, Kecamatan gubeng, Kecamatan sukolilo, Kecamatan tambaksari, Kecamatan mulyorejo, Kecamatan rungut, Kecamatan sukomanunggal, Kecamatan wonokromo, Kecamatan wonocolo, Kecamatan sawahan. Sedangkan pada cluster kedua terdiri dari Kecamatan Bulak, Kecamatan genteng, Kecamatan gunung anyar, Kecamatan tenggilis mejoyo, Kecamatantandes, Kecamatan asemrowo, Kecamatan benowo, Kecamatanpakal, Kecamatan lakarsantri, Kecamatan sambikerep, Kecamatan wiyung, Kecamatan karang pilang, Kecamatanjambangan, Kecamatan dukuh

(39)

Kecamatan sukolilo, Kecamatan mulyorejo, Kecamatan sukomanunggal, Kecamatan wonokromo, Kecamatan wonocolo, Kecamatan sawahan

- Cluster 2 terdiri atas Kecamatan bulak, Kecamatan genteng, Kecamatan gunung anyar, Kecamatan rungkut, Kecamatan tenggilis mejoyo, Kecamatan tandes, Kecamatan asemrowo, Kecamatan benowo, Kecamatan pakal, Kecamatan lakarsantri, Kecamatan sambikerep, Kecamatan wiyung, Kecamatan karangpilang, Kecamatan jambangan, Kecamatan gayungan. Kecamatan dukuh pakis.

- Cluster 3 terdiri atas Kecamatan tambaksari

Dendogram 2 cluster

(40)
(41)

Gambar

tabel anti-image didapatkan semua variabel sudah memiliki nilai MSA lebih dari
Tabel  Cluster  Membership
Grafik dendogram disini hanya data tambahan untuk memudahkan dalam

Referensi

Dokumen terkait

Kahupaten Tasikmalaya yang terdiri atas 39 Kecamatan memiliki beberapa wilayah kegiatan basis untuk peternakan sapi potong yang berarti bahwa di Kabupaten Tasikmalaya ada beberapa

Penetapan harga internasional juga dikemukakan oleh Lamb, Hair, dan McDaniel (2001:494) yang terdiri atas 3 metode, yaitu penentuan harga yang berorientasi pada

Sumber belajar terdiri atas pesan (segala informasi dalam bentuk ide, fakta, dan data yang disampaikan kepada anak didik), orang (manusia yang berperan sebagai

Pada tataran tertentu, permasalahan- permasalahan di atas bisa terjadi secara parsial yang terfragmentasikan pada masing-masing kondisi, tetapi pada tataran atau kondisi lainnya

Sistem/aturan kerja buruh bongkar muat di Pelabuhan Sintete Kabupaten Sambas ini adapun sistem/aturannya itu ialah yang terdiri dari atas 7 kelompok kerja yaitu

Gadai pada masyarakat Desa Serut Kecamatan Panti yaitu menjadikan sawah atau ladang menjadi barang yang tertahan sebagai barang jaminan ( marhun bih ) atas pinjaman yang

Antisipasi yang dilakukan oleh Suku Dinas Pekerjaan Umum Kota Administrasi Jakarta Selatan dalam menunjang kebijakan tersebut di atas adalah dengan melakukan pengembangan

Hal ini sebagaimana yang terdapat di dalam Qanun Aceh Singkil Nomor 1 tahun 2012, yang berbunyi “Mukim adalah kesatuan masyarakat hukum dibawah Kecamatan yang terdiri atas gabungan