• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUBUNGAN KEMANDIRIAN BELAJAR DAN HASIL B

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "HUBUNGAN KEMANDIRIAN BELAJAR DAN HASIL B"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

Irzan Tahar ([email protected]) Enceng ([email protected])

Universitas Terbuka

ABSTRACT

This research aims to know the relationship between independent learning and achievement in Financial Management Course. The hypothesis of this research is there was a positive relationship between independent learning and achievement in Financial Management Course. The population of this research was all Universitas Terbuka students registered in Financial Management Course in 2003.2 in the area of Jakarta Regional Centre. The numbers of population were 516 students and the samples were 130 students (25%) selected by using random sampling technique. Data were collected by using questionnaires. The results show that there is a positive relationship between independent learning and achievement in Financial Management Course. Based on the results, it is concluded that the higher students independent learning, the higher students’ achievement in the course.

Keywords: achievement, distance learning system, independent learning

Pembelajaran pada sistem belajar jarak jauh yang merupakan prinsip dasar pendidikan di Universitas Terbuka (UT) mengharuskan peserta ajar melakukan aktivitas belajar secara mandiri. Aktivitas tersebut mempersyaratkan kemandirian belajar pada peserta ajar. Menurut Long (1989), kemandirian belajar hanya ditujukan kepada orang dewasa (andragogi). Sehubungan dengan hal tersebut, Atmodiwirio (1993) menjelaskan bahwa ada empat konsep dasar terkait dengan pendidikan andragogi, yaitu:

1. Konsep diri. Orang dewasa diasumsikan sebagai orang yang telah cukup matang untuk dapat mengambil keputusan sendiri. Ia merupakan orang yang telah mandiri dan karena

kemandiriannya itu maka proses pembelajaran lebih dititikberatkan kepada segi menggali pengetahuan melalui pengalaman dan membangkitkan aktivitas berdasarkan pengalamannya. 2. Pengalaman. Pengalaman merupakan bagian terpenting dari kegiatan belajar bagi orang

dewasa. Pengalaman merupakan kumpulan berbagai peristiwa dan kejadian yang dialami. Pengalaman inilah yang membedakan antara anak-anak dan orang dewasa. Pengalaman turut menentukan nilai hidup dan pengalaman itu menentukan seseorang dalam proses pengambilan keputusan.

3. Kesiapan belajar. Andragogi lebih menitikberatkan kepada belajar sambil bekerja. Belajar bukanlah sesuatu hal yang dipompakan sedemikian rupa, melainkan tumbuh secara sadar dari diri seseorang serta berkaitan dengan pengalamannya.

(2)

proses pendekatan yang berusaha memecahkan persoalan di mana sekarang kita berada dan ke mana tujuan kita arahkan.

Sementara itu, Knowles (1975) menjelaskan elemen disain proses andragogi, sebagai berikut.

1. Climate setting. Pada elemen ini, pertanyaan yang perlu diajukan bagi peserta ajar adalah “bagaimana aku bisa mendapatkan sumber belajar dengan cepat atau orang-orang yang dapat membantu dalam belajar?”

2. Planning. Dalam bagian ini, pertanyaan yang perlu dijawab adalah ”Bagaimana menentukan prosedur yang digunakan dalam proses pembelajaran, bagaimana menentukan pilihan di antara prosedur yang ada dan apa dasar menentukan pilihan itu?”

3. Diagnosis needs for learning. Pada unsur ini, peserta ajar perlu bertanya ”Bagaimana mengkonstruksi sebuah model kompetensi atau tujuan yang diharapkan untuk dicapai dalam kegiatan belajar?”

4. Setting goals. Yang dimaksudkan di sini adalah ”Bagaimana menterjemahkan kebutuhan dalam bentuk tujuan belajar secara jelas dan feasible baik secara spesifik maupun bersifat umum dan terukur.”

5. Designing a learning plan. Pada butir ini, maksudnya adalah ”Bagaimana peserta ajar mendisain rencana pembelajarannya sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, dan menentukan model perencanaan yang digunakan? Bagaimana strategi yang digunakan dalam memanfaatkan sumber-sumber belajar?”

6. Engaging in learning activities. Aktivitas belajar “Bagaimana yang akan digunakan untuk mencapai tujuan-tujuan umum atau tujuan spesifik dari apa yang telah direncanakan sebelumnya?

7. Evaluating learning outcomes. Dalam hal ini dibahas, “Bagaimana menilai hasil belajar yang telah dicapai dibandingkan dengan tujuan yang telah ditetapkan atau yang telah direncanakan sebelumnya. Bagaimana membuat keputusan dalam melihat kesesuaian antara hasil yang dicapai dengan hasil evaluasi yang telah dilakukan?”

Kemandirian belajar merupakan kesiapan dari individu yang mau dan mampu untuk belajar dengan inisiatif sendiri, dengan atau tanpa bantuan pihak lain dalam hal penentuan tujuan belajar, metoda belajar, dan evaluasi hasil belajar. Berkaitan dengan hal tersebut, Sugilar (2000) merangkum pendapat Guglielmino, West & Bentleymenyatakan bahwa karakteristik individu yang memiliki kesiapan belajar mandiri dicirikan oleh: (1) kecintaan terhadap belajar, (2) kepercayaan diri sebagai mahasiswa, (3) keterbukaan terhadap tantangan belajar, (4) sifat ingin tahu, (5) pemahaman diri dalam hal belajar, dan (6) menerima tanggung jawab untuk kegiatan belajarnya.

Dalam kemandirian belajar, inisiatif merupakan indikator yang sangat mendasar (Knowles). Dalam pengertiannya yang lebih luas, kemandirian belajar mendeskripsikan sebuah proses di mana individu mengambil inisiatif sendiri, dengan atau tanpa bantuan orang lain, untuk mendiagnosis kebutuhan belajar, memformulasikan tujuan belajar, mengidentifikasi sumber belajar, memilih dan menentukan pendekatan strategi belajar, dan melakukan evaluasi hasil belajar yang dicapai.

Kemandirian belajar menuntut tanggung jawab yang besar pada diri peserta ajar sehingga peserta ajar berusaha melakukan berbagai kegiatan untuk tercapainya tujuan belajar. Hiemstra yang dikutip Darmayanti, Samsul Islam, & Asandhimitra (2004) menyatakan tentang kemandirian belajar sebagai bentuk belajar yang memiliki tanggung jawab utama untuk merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi usahanya. Hal yang senada juga dikemukakan Haryono (2001) bahwa

(3)

dalam mengatur dan mendisiplinkan dirinya dalam mengembangkan kemampuan belajar atas kemauan sendiri. Di samping tanggung jawab, motivasi yang tinggi dari peserta ajar sangat

diperlukan dalam kemandirian belajar. Lebih jauh dikemukakan Julaeha (1999), dalam sistem belajar jarak jauh, motivasi memegang peranan sangat penting karena peserta ajar dituntut untuk belajar mandiri. Peserta ajar yang memiliki motivasi belajar yang tinggi akan berusaha untuk mengatur waktu dan jadual belajar secara optimal sehingga mereka dapat menguasai materi mata kuliah yang dipelajarinya. Dikemukakan oleh Wlodkowski (1985) bahwa motivasi yang dimiliki dan dibawa individu ke dalam lingkungan belajar berpengaruh kuat terhadap apa dan bagaimana mereka belajar. Sementara itu, Slavin (1991) menyatakan bahwa motivasi merupakan salah satu prasyarat yang paling penting dalam belajar dan motivasi dapat mempengaruhi proses hasil belajar.

Uraian tersebut memberikan indikasi bahwa individu yang menerapkan kemandirian belajar akan mengalami perubahan dalam kebiasaan belajar, yaitu dengan cara mengatur dan

mengorganisasikan dirinya sedemikian rupa sehingga dapat menentukan tujuan belajar, kebutuhan belajar, dan strategi yang digunakan dalam belajar yang mengarah kepada tercapainya tujuan yang telah dirumuskan. Kemandirian belajar adalah aktivitas belajar yang dilakukan oleh individu dengan kebebasannya dalam menentukan dan mengelola sendiri bahan ajar, waktu, tempat, dan

memanfaatkan berbagai sumber belajar yang diperlukan. Dengan kebebasan tersebut, individu memiliki kemampuan dalam mengelola cara belajar, memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi, dan terampil memanfaatkan sumber belajar.

Sumber belajar adalah suatu sistem yang terdiri dari sekumpulan bahan atau situasi yang diciptakan dengan sengaja dan dibuat agar memungkinkan seseorang dapat belajar secara individual. Dikatakan oleh Percival & Elington (1984) bahwa sumber belajar dapat berasal dari berbagai bentuk, misalnya orang, yakni ketika menyediakan diri mereka sebagai manusia sumber yang tersedia setiap saat sehingga dapat memecahkan kesulitan peserta ajar secara individual. Sumber belajar lain adalah laboratorium yang dapat digunakan setiap saat dari berbagai bentuk media instruksional seperti buku, catatan berstruktur, kaset video, berbagai program slide-tape, dan komputer. Eraut yang dikutip Seels & Richey (1994) menyatakan bahwa konsep sumber lebih mengacu pada pengertian sumber belajar yang lebih luas dan bukan diartikan sebagai sarana audiovisual. Oleh karena itu, sumber belajar dapat mencakup barang cetak, lingkungan, dan nara sumber.

Pemanfaatan sumber belajar ditandai dengan kemampuan memilih sumber belajar yang sesuai dengan kebutuhan, pengadaan bahan ajar, dan bentuk interaksi dengan bahan ajar yang digunakan. Dengan pemilihan dan pemanfaatan sumber belajar tersebut, kegiatan pembelajaran menjadi lebih bermakna. Miarso (2004) mengemukakan bahwa adanya pengelolaan kegiatan belajar yang memanfaatkan berbagai sumber belajar maka kegiatan menghasilkan dan/atau memilih sumber belajar, serta orang, lembaga yang terlibat langsung dalam kegiatan-kegiatan tersebut. Hal ini dilakukan agar kegiatan pembelajaran lebih berdaya guna, berhasil guna, dan produktif.

(4)

Dalam sintesis kemandirian belajar terdapat dimensi pengelolaan belajar, tanggung jawab, dan pemanfaatan berbagai sumber belajar, sebagai berikut.

1. Dimensi pengelolaan belajar berarti peserta ajar harus mampu mengatur strategi, waktu, dan tempat untuk melakukan aktivitas belajarnya seperti membaca, meringkas, membuat catatan dan mendengarkan materi dari audio. Pengelolaan belajar itu sangat penting. Peserta ajarlah yang secara otonom menentukan strategi belajar yang digunakan, kapan ia menggunakan waktu belajarnya, dan di mana ia melakukan proses pembelajarannya tanpa diperintah oleh orang lain. Kemampuan mengelola proses pembelajaran dapat membantu peserta ajar untuk berhasil dalam belajar.

2. Dimensi tanggung jawab berarti peserta ajar mampu menilai aktivitas, mengatasi kesulitan, dan mengukur kemampuan yang diperoleh dari belajar. Dalam belajar mandiri peserta ajar dituntut untuk memiliki kesiapan, keuletan, dan daya tahan. Sehingga diperlukan motivasi belajar yang tinggi. Kesulitan yang dialami dalam belajar harus mereka atasi sendiri dengan mendiskusikan sesama peserta ajar dengan memanfaatkan sumber belajar yang terkait dengan bahan ajar dan memperbanyak latihan soal yang dapat meningkatkan pemahaman peserta ajar. Disamping itu, peserta ajar harus mengukur kemampuan yang diperoleh dari hasil belajar bila hasil belajarnya tidak memuaskan dengan memperbaiki cara belajar dan secara rutin mengerjakan latihan soal. 3. Dimensi pemanfaatan berbagai sumber belajar berarti peserta ajar dapat menggunakan berbagai

sumber belajar seperti modul, majalah, kaset audio, VCD, Computer Assested Instructional (CAI), internet, dan tutor. Peserta ajar secara leluasa menentukan pilihan sumber belajar yang diinginkan. Kebebasan peserta ajar dalam memilih berbagai sumber belajar diharapkan dapat memperkaya pemahaman terhadap bahan ajar.

Dengan belajar seseorang akan mengalami perubahan perilaku dalam bentuk pengetahuan, keterampilan nilai, dan sikap tertentu. Perubahan perilaku yang terjadi merupakan akibat dari proses pembelajaran pada diri seseorang. Proses yang dimaksud adalah aktivitas yang dilakukan individu dalam mencapai tujuan pembelajaran. Pencapaian tujuan pembelajaran itu kemudian dapat dinyatakan sebagai hasil belajar. Hasil belajar menurut Sudjana (1995) adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia mengalami pengalaman belajarnya. Sementara itu, menurut Soedijarto (1993), hasil belajar merupakan tingkat penguasaan suatu pengetahuan yang dicapai oleh siswa dalam mengikuti program belajar mengajar sesuai dengan tujuan yang ditetapkan.

Artikel ini menyajikan hasil penelitian tentang hubungan kemandirian belajar dengan hasil belajar mahasiswa pada sistem pendidikan jarak jauh (PJJ) dalam matakuliah manajemen keuangan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kemandirian belajar dengan hasil belajar.

Data Pusat Pengujian UT menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa Unit Program Belajar Jarak Jauh (UPBJJ-UT) Jakarta yang meregistrasi mata kuliah Manajemen Keuangan (EKMA 4213) pada masa registrasi 2001.1 memperoleh nilai rendah (lihat Tabel 1).

Tabel 1. Nilai Manajemen Keuangan Mahasiswa UPBJJ-UT Jakarta

Jumlah Lulus Jml tidak

Lulus

Jml Kosong No Masa

Regist Jml Mhs

(5)

Dari Tabel 1 dapat dilihat bahwa mahasiswa UT yang mendapatkan nilai A dan B lebih sedikit bila dibandingkan dengan mahasiswa UT yang mendapatkan nilai C, D, dan E. Begitu pula nilai mata kuliah Manajemen Keuangan pada masa regsitrasi 2001.2.

Penelitian ini dilaksanakan di lingkungan UPBJJ-UT, dimana subyek penelitiannya adalah mahasiswa yang terdaftar pada UPBJJ-UT Jakarta yang meregistrasi matakuliah Manajemen Keuangan pada masa registrasi 2003.2.

Tabel 2. Kisi-kisi Instrumen Variabel Kemandirian Belajar

Indikator Sub indikator Nomor Butir

Metode belajar yang digunakan 1,3,9,12,13,15 6 Media belajar yang digunakan 10,23,49 3 Mampu mengelola

strategi belajar

Alokasi waktu belajar 2,11 2

Kebiasaan manfaatkan wkt belajar 5,24 2

Penggunaan waktu belajar 16 1

Mampu mengatur waktu belajar

Pembagian waktu belajar 7,21 2

Di rumah 18,37 2

Di Kantor 4,6 2

Mampu mengatur tempat belajar

Di Perpustakaan 22,28 2

Kesiapan dalam belajar 14,50 2

Keuletan dalam belajar 19 1

Mampu menilai aktivitas belajar

Daya tahan belajar 31,43 2

Diskusi sesame peserta ajar 8 1

Memanfaatkan sumber belajar 17 1

Mampu mengatasi kesulitan memahami

bahan ajar Mengerjakan latihan TM 20,34 2

Hasil belajar dari TM 45,48 2

Mampu mengukur

kemamp. dari belajar Hasil belajar dari UAS 26,41 2

Modul, majalah, literaratur lain 25 1

Kaset audio, VCD 39 1

Mengakses internet/website 52 1

Dapat memilih sumber belajar yang sesuai termasuk tutor

Kemampuan pengetahuan tutor 33 1

Membeli modul, kaset, VCD 36 1

Literatur lain yang mendukung 47 1

Memiliki bahan ajar

Print out internet 30 1

Lama belajar 32,42,46 3

Ketekunan/konsentrasi belajar 27,38 2

Membaca pendahuluan modul 35,40 2

Membaca Uraian dan Contoh 44 1

Mengerjakan latihan 29,51 2

Interaksi peserta ajar dengan bahan ajar

Melaksanakan tindak lanjut 53 1

Jumlah 53

(6)

yaitu 130 orang. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara acak sederhana dengan menggunakan bantuan program Minitab11 for Windows.

Variabel Kemandirian Belajar (X) didefinisikan sebagai kebebasan seseorang dalam mengelola proses belajar dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar. Variabel ini diukur dari kemampuan responden dalam : (1) mengelola strategi belajar; (2) mengatur waktu belajar; (3) mengatur tempat belajar; (4) menilai aktivitas belajar; (5) mengatasi kesulitan memahami bahan ajar; (6) mengukur kemampuan dari belajar; (7) memilih sumber belajar yang sesuai termasuk tutor; (8) memiliki bahan ajar; (9) interaksi mahasiswa dengan bahan ajar. Instrumen yang digunakan untuk mengukur variabel kemandirian belajar terdiri dari 53 butir pernyataan, dengan kisi-kisi seperti pada Tabel 2.

Pengujian reliabilitas instrumen dilakukan menggunakan rumus Alpha Cronbach dengan hasil koefisien reliabilitas sebesar 0,982. Dengan nilai tersebut dapat disimpulkan bahwa instrumen memiliki reliabilitas yang sangat tinggi sehingga instrumen tersebut dapat dinyatakan memiliki tingkat kehandalan yang tinggi.

Hasil pembelajaran mata kuliah Manajemen Keuangan (variabel Y) pada penelitian ini didefinisikan sebagai penguasaan terhadap kompetensi dalam kawasan kognitif yang dicapai mahasiswa sebagai hasil dari aktivitas belajar yang ditempuh dalam kurun waktu tertentu terhadap mata kuliah Manajemen Keuangan yang mencakup pokok bahasan/sub pokok bahasan yang tertuang dalam tujuan pembelajaran khusus (TPK). Hasil belajar matakuliah Manajemen Keuangan (variabel Y) diukur dari penguasaan terhadap kompetensi yang diharapkan dicapai mahasiswa sebagai hasil dari pembelajaran yang ditempuh dalam kurun waktu tertentu atau skor yang dihasilkan oleh mahasiswa (responden) terhadap tes mata kuliah Manajemen Keuangan yang mengukur keputusan pendanaan, keputusan investasi, dan keputusan devident. Untuk pengumpulan data hasil belajar mahasiswa, data primer diperoleh dari Pusat Pengujian UT. Analisis data penelitian

menggunakan metoda statistika deskriptif dan statistika inferensial. Untuk pengujian hubungan antara kemandirian belajar dan hasil belajar digunakan regresi linier sederhana.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Kemandirian Belajar (X)

Untuk mengukur variabel kemandirian belajar digunakan instrumen yang teridiri dari 53 butir dalam bentuk skala empat dengan skor teoretik terendah 53, skor tertinggi 212, dan skor rata-rata 132,5. Dari hasil penelitian dan pengolahan data diperoleh skor empirik terendah 111, dan skor tertinggi 184. Berdasarkan hasil analisis deskriptif diperoleh skor rata-rata empirik 154,86, skor modus 145,06, skor median 154,88, standar deviasi 16,29, dan variansi 265,36.

Jika skor responden dikelompokkan ke dalam distribusi frekuensi, diperoleh 26 orang (20,00%) berada dalam kelompok rata-rata, 51 orang (39,24%) berada di bawah kelompok rata-rata, dan 53 orang (40,77%) berada di atas kelompok rata-rata. Data ini mengindikasikan bahwa 40,77 % responden yang menjadi subjek dalam penelitian ini memiliki hasil belajar mata kuliah Manajemen Keuangan lebih tinggi dari skor rata-rata.

(7)

149,5 139,5 129,5 119,5 109,5

10 Frekuensi

0 159,5 X

30 40

20

169,5 179,5189,5 1

Gambar 1. Histogram Distribusi Frekuensi Skor Kemandirian Belajar (X)

Hasil Belajar Mata Kuliah Manajemen Keuangan (Y)

Untuk mengukur variabel hasil belajar mata kuliah Manajemen Keuangan di lingkungan mahasiswa UPBJJ-UT Jakarta yang meregistrasi mata kuliah Manajemen Keuangan pada masa registrasi 2003.2 digunakan tes objektif sebanyak 45 butir, dengan skor teoretik terendah 0, skor tertinggi 100, dan skor rata-rata 50. Dari hasil penelitian dan pengolahan data diperoleh skor empirik terendah 11, skor tertinggi 24, dan skor rata-rata 15,34. Selain itu diperoleh pula skor modus 16,47; skor median 15,84, standar deviasi 3,12, dan variansi sebesar 9,73. Jika skor responden

dikelompokkan ke dalam distribusi frekuensi, diperoleh 23 orang (17,96%) berada dalam kelompok rata-rata, 35 orang (26,92%) berada di bawah kelompok rata-rata, dan 72 orang (55,12%) berada di atas kelompok rata-rata. Data ini mengindikasikan bahwa sebagian besar, 107 orang (82,04%) responden yang menjadi subjek dalam penelitian ini memiliki hasil belajar mata kuliah Manajemen Keuangan dalam kelompok rata-rata atau lebih tinggi dari kelompok rata-rata.

Histogram skor hasil belajar mata kuliah Manajemen Keuangan di lingkungan UPBJJ-UT Jakarta yang terdaftar pada masa registrasi 2003.2 dapat dilihat pada Gambar 2.

17,5 15,5 13,5 11,5 9,5

10 Frekuensi

0 19,5 Y

30 40

20

21,5 23,525,5

(8)

Uji Normalitas Galat Regresi

Uji normalitas data sampel dilakukan terhadap galat taksiran regresi Y atas X dengan menggunakan uji Lilliefors (L0). Hipotesis statistiknya dinyatakan sebagai berikut.

H0 : populasi galat taksiran berdistribusi normal

H1 : populasi galat taksiran tidak berdistribusi normal

Kriteria pengujiannya adalah terima H0 jika L0≤ Ltabel dan tolak H0 jika L0 > Ltabel pada taraf

nyata α yang dipilih. Dalam penelitian ini dipilih α = 0,05, sehingga untuk n = 130 maka nilai Ltabel =

0,078.

1. Uji Normalitas Galat Regresi Y atas X

Dari hasil perhitungan berdasarkan galat regresi Y atas X diperoleh harga maksimum Uji Lilliefors yaitu L0 = 0,076. Karena nilai Lo = 0,076 < Kritis L = 0,078 maka dapat disimpulkan

bahwa galat regresi Y atas X berdistribusi normal. Dalam hal ini data berasal dari populasi berdistribusi normal. Hal ini menunjukkan bahwa persyaratan normalitas data untuk regresi linear sederhana Y atas X dipenuhi dalam penelitian ini.

2. Uji Homogenitas Varians Populasi

Hipotesis yang diuji sehubungan dengan kehomogenan varians populasi adalah: H0 : Varians data berasal dari populasi yang homogen

H1 : Varians data berasal dari populasi yang tidak homogen

Untuk menguji hipotesis ini digunakan uji Bartlett dengan kriteria pengujian: Terima H0 jika χ2hitung <χ2tabel dan Tolak H0 jika χ2hitung ≥χ2tabel

3. Uji Homogenitas Varians Populasi Regresi Y atas X

Hasil perhitungan berdasarkan regresi Y atas X diperoleh χ2hitung = 29,96. Nilai χ2tabel = 43,20 pada taraf nyata α = 0,05 dan derajat bebas (db) = 63. Karena nilai χ2hitung =29,96 <

= χ2

tabel 43,20 maka disimpulkan bahwa varians regresi Y atas X berasal dari populasi yang

homogen.

Hubungan Kemandirian Belajar (X) dengan Hasil Belajar Mata Kuliah Manajemen Keuangan (Y)

Berdasarkan hasil perhitungan melalui regresi linear sederhana, diperoleh adanya hubungan positif antara kemandirian belajar (X) dengan hasil belajar mata kuliah Manajemen Keuangan (Y) yang dinyatakan dalam bentuk persamaan regresi Yˆ = -7,89+ 0,15X.

Hasil perhitungan mengenai keberartian dan kelinieran regresi dilakukan dengan menggunakan uji F, dan hasilnya ditunjukkan dalam Tabel 2 .

Tabel 2 menunjukkan bahwa nilai Fhitung = 226,58 > Ftabel = 3,92 pada α = 0,05 sehingga

dapat disimpulkan bahwa persamaan regresi Y atas X adalah signifikan, yang berarti terdapat hubungan positif dan berarti antara hasil belajar mata kuliah Manajemen Keuangan (Y) dengan kemandirian belajar (X) melalui persamaan regresi Yˆ = -7,89 + 0,15X. Persamaan regresi tersebut berbentuk linier yang dibuktikan oleh nilai Fhitung (TC) = 0,89 < Ftabel = 1,54 pada taraf nyata

α = 0,05.

(9)

kuliah Manajemen Keuangan (Y) sebesar 0,15 satuan, makin tinggi skor kemandirian belajar makin tinggi pula skor hasil belajar mata kuliah Manajemen Keuangan.

Tabel 2. ANAVA Untuk Uji Keberartian dan Kelinieran Regresi Y atas X

F tabel

Sumber Variansi db JK RJK F hitung

0,05 0,01

Total 130 31840

Regresi (a) Regresi (b|a) Residu (s)

1 1 128

30584,89 802,10 453,01

30584,89 802,10 3,54

226,58** 3,92 6,84

Tuna Cocok (TC) Galat

62 66

206,09 246,92

3,32

3,74 0,89ns 1,54 1,84

Keterangan:

** = sangat signifikan ts = tidak signifikan

Hubungan antara variabel kemandirian belajar dengan hasil belajar mata kuliah Manajemen Keuangan ditunjukkan oleh persamaan garis linear pada Gambar 3.

190 180 170 160 150 140 130 120 110 25

20

15

10

X Y = - 7.89 + 0.15 X

Y

1 0

1

Gambar 3. Hubungan antara Kemandirian Belajar dengan Hasil Belajar Mata Kuliah Manajemen Keuangan

Kekuatan hubungan antara kemandirian belajar dengan hasil belajar mata kuliah Manajemen Keuangan dinyatakan dalam bentuk koefisien korelasi product moment ry = 0,80. Nilai statistik t

untuk koefisien korelasi ini ialah thitung = 15,05, sedangkan nilai t tabel pada taraf nyata α = 0,05 dan

db = 128 adalah 1,64.

Karena nilai thitung = 15,05 > ttabel, = 1,64 maka dapat di simpulkan bahwa koefisien korelasi

(10)

semakin tinggi skor kemandirian belajar cenderung makin tinggi pula hasil belajar mata kuliah Manajemen Keuangan.

Besarnya konstribusi variabel kemandirian belajar terhadap hasil belajar mata kuliah Manajemen Keuangan di lingkungan UPBJJ-UT Jakarta yang meregistrasi mata kuliah Manajemen Keuangan pada masa registrasi 2003.2 ditunjukkan oleh nilai koefisien determinasi r2 x 100% =

63,91%. Koefisien determinasi Ini dapat diartikan bahwa sebesar 63,91% kontribusi variabel kemandirian belajar terhadap hasil belajar mata kuliah Manajemen Keuangan.

KESIMPULAN DAN SARAN

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan positif antara kemandirian belajar dengan hasil belajar mata kuliah Manajemen Keuangan (ry=0,80), dengan persamaan garis

regresi Yˆ = -7,89+ 0,15X (signifikan pada α = 0,05). Koefisien determinasi yang

mengindikasikan 63,91% variansi yang terjadi pada hasil belajar peserta ajar dapat dijelaskan melalui kemandirian belajar mereka. Ini berarti bahwa kemandirian belajar merupakan salah satu prediktor hasil belajar mata kuliah Manajemen Keuangan. Semakin tinggi kemandirian belajar seseorang peserta ajar, maka akan memungkinkannya untuk mencapai hasil belajar yang tinggi.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan, berikut ini dikemukakan dua saran. 1. Bagi Peserta Ajar

a. Memiliki motivasi yang tinggi dan bertanggung jawab sehingga dapat memperoleh hasil belajar yang baik.

b. Mengelola strategi, tempat dan waktu secara lebih baik sehingga proses pembelajarannya menjadi lebih efektif.

c. Pengambilan mata kuliah atau jumlah Satuan Kredit Semester (SKS) hendaknya disesuaikan dengan kemampuan individu masing-masing.

d. Belajar tidak hanya tergantung pada modul tetapi dapat pula memanfaatkan berbagai sumber belajar secara optimal.

2. Bagi Lembaga Pendidikan Jarak Jauh

a. Membantu kelancaran peserta ajar dengan memberikan informasi yang akurat dan memberikan umpan balik secara cepat.

b. Penelitian jenis ini masih dapat dikembangkan menjadi lebih luas, misalnya pada program studi dan mata kuliah lain.

REFERENSI

Atmodiwirio, S. (1993). Manajemen training. Jakarta: Balai Pustaka.

Darmayanti, T., Islam, S., & Asandhimitra. (2004).Pendidikan tinggi jarak jauh: Kemandirian belajar pada PTJJ. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.

Haryono, A. (2001).Belajar mandiri konsep dan penerapannya dalam sistem pendidikan dan pelatihan terbuka/jarak jauh. Jurnal Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh, 2(2 ), hal. 137-161. Jakarta: Universitas Terbuka.

Julaeha, S. (1999). Menumbuhkan dan memelihara motivasi: Suatu upaya untuk mempertinggi persistensi mahasiswa.Dalam P. Pannen, dkk. (Eds), Cakrawala Pendidikan, hal. 183-199. Jakarta: Universitas Terbuka.

(11)

Miarso, Y. (2004). Menyemai benih teknologi pendidikan: Konsep dasar sistem belajar mandiri.

Jakarta: Pustekom.

Long, H.B. (1989). Self-directed learning: Emerging theory & practice. USA: Oklahoma Research Center.

Percival, F. & Henry, E. (1984). Teknologi pendidikan. Alih bahasa: Sudjarwo, S. Jakarta: PT. Gelora Aksara Pratama.

Seels, B.B. & Rita, C.R. (1994).Teknologi pembelajaran. Terjemahan: Prawiradilaga, dkk. Jakarta: Universitas Negeri Jakarta.

Soedijarto. (1993). Menuju pendidikan nasional yang relevan dan bermutu. Jakarta: Balai Pustaka. Sudjana, N. (1995). Penilaian hasil belajar. Bandung: PT. Rosda Karya.

Sugilar. (2000). Kesiapan belajar mandiri peserta pendidikan jarak jauh. Jurnal Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh, 1(2), hal. 13.Jakarta: Universitas Terbuka.

Slavin, R.E.(1991). Educational psychology: Theory into practice (3rd ed.). Needham Heights,M.A.:

Allyn and Bacon.

Gambar

Tabel 1. Nilai Manajemen Keuangan Mahasiswa UPBJJ-UT Jakarta
Tabel 2. Kisi-kisi Instrumen Variabel Kemandirian Belajar
Tabel 2. ANAVA Untuk Uji Keberartian dan Kelinieran Regresi Y atas X

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan Instruksional Umum : Mata Kuliah Keilmuan &amp; Ketrampilan Manajemen Keuangan merupakan mata kuliah yang diharapkan mampu meningkatkan kompetensi mahasiswa

Mata kuliah yang diampu antara lain Manajemen Keuangan, Investasi dan Pasar Modal, Teori Organisasi, Etika Bisnis dan Profesi, Analisis Keuangan dan Valuasi, Manajemen Aset,

Diskripsi Singkat MK Mata Kuliah Keilmuan &amp; Ketrampilan Manajemen Keuangan merupakan mata kuliah yang diharapkan mampu meningkatkan kompetensi mahasiswa

c. Penetapan kompetensi yang harus dicapai dari mata kuliah praktikum. Kompetensi tersebut dijabarkan dalam mata acara-mata acara praktikum sesuai dengan silabus mata

Laporan Capaian Kompetensi atau Rapor adalah kumpulan nilai dan deskripsi penguasaan kompetensi seluruh mata pelajaran masing-masing peserta didik, yang merupakan rekaman

Mata kuliah Manajemen Agribisnis merupakan mata kuliah pilihan bagi mahasiswa program S1 Manajemen pada Fakultas Ekonomi Universitas Riau dengan beban 2 SKS.

Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat dikemukakan bahwa setelah siklus III dilaksanakan melalui proses pembelajaran yang menerapkan model pembelajaran kognitif Gagne pada mata

Mata kuliah MMK dengan mata kuliah PLK merupakan bagian dari Mata Kuliah prerequisite, mata kuliah MMK dengan mata kuliah PLK sama-sama bertujuan untuk melatih dan mengaplikasikan