PENYANDANG DISABILITAS DAN PEMILU DI INDONESIA: ANTARA HARAPAN DAN KENYATAAN1
Mudiyati Rahmatunnisa
Departemen Ilmu Politik Universitas Padjadjaran Email: [email protected]
Abstrak
Dalam sebuah Negara dengan system demokrasi, aktifitas memilih (voting) sejatinya dalam pemilihan umum merupakan hak fundamental bagi semua warga Negara. Oleh karenanya, Pemerintah memiliki tanggungjawab untuk menjamin adanya kesempatan yang setara bagi semua kelompok masyarakat untuk berpartisipasi dalam pemilihan umum. Namun demikian, kondisi ideal itu belum sepenuhnya menjadi kenyataan. Secara khusus, keikutsertaan aktif di dalam pemilihan umum masih merupakan sebuah tantangan bagi penyandang disabilitas di berbagai Negara di dunia, termasuk di Indonesia. Secara umum dapat dikatakan bahwa kehadiran (turn out) penyandang disabilitas selalu jauh lebih rendah dibandingkan dengan kelompok lainnya yang tidak mengalami kekurangan secara fisik. Beragam hambatan untuk berpartisipasi penuh dalam memberikan suara masih kerap dihadapi oleh penyandang disabilitas. Padahal, secara kuantitas, jumlahnya cukup signifikan dan memiliki potensi untuk mempengaruhi kontestasi dalam proses pemilihan umum. Tulisan ini akan mendiskusikan secara kritis berbagai persoalan penyelenggaraan pemilu di Indonesia terkait keberadaan penyandang disabilitas, baik dari perspektif normative maupun empiris. Pada bagian akhir dari tulisan ini akan diuraikan berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk menciptakan pemilu yang accessible bagi penyandang disabilitas.
Kata kunci: demokrasi, pemilihan umum, accessible election, penyandang disabilitas
Abstract
In a country with a democratic system, voting in elections is a fundamental right for all citizens. Therefore, the Government has a responsibility to ensure equal opportunity for all community groups to participate in elections, regardless. However, the ideal condition is not yet fully realized. In particular, active participation in elections is still a challenge for disabilities in various countries in the world, including Indonesia. In general, it can be said that the presence (turn out) of the disabilities is always much lower than the other groups who do not experience physical deficiencies. Various obstacles to full participation in voting are still often faced by disabilities. In fact, in quantity, the number is quite significant and has the potential to affect contestation in the election process. This paper will discuss critically the various issues of elections in Indonesia regarding the existence of the disabilities, both from a normative and empirical perspective. At the end of this paper will be described various efforts that can be done to create elections that are accessible for the disabilities.
Keywords: democracy, elections, accessible election, disability
Pendahuluan
Kesempatan untuk bisa terlibat dalam aktifitas politik merupakan kondisi mendasar yang harus ada dalam sebuah Negara dengan system demokrasi, termasuk penyandang disabilitas. Kesempatan ini termasuk di dalamnya tidak hanya memilih, tetapi juga hak untuk dipilih dan mewakili warga Negara lain serta terlibat dalam lembaga penyelenggara pemilu. Hak untuk berpartisipasi dalam aktifitas politik untuk penyandang disabilitas ini terkodifikasi secara tegas di dalam beragam hukum internasional, regional, maupun nasional, diantaranya the United Nations Convention on the Rights of Persons with Disabilities (CRPD) sejak 2006, seperti tercantum dalam Pasal 29” “[to give] guarantee the persons with disabilities political rights and the opportunity to enjoy them on an equal basis with others”.
Namun demikian, meski telah banyak konvensi dan regulasi tersebut diakui bahwa penyandang disabilitas di banyak Negara di dunia – Negara maju maupun berkembang2 – masih menghadapi
berbagai hambatan ketika mencoba untuk mewujudkan hak-hak dasar mereka, terutama terkait akses ke tempat pemungutan suara dan beragam informasi terkait kebijakan dan proses pemilu. Bahkan, di berbagai Negara penyandang disabilitias masih diperlakukan sebagai warga Negara “kelas dua”[ CITATION Raw17 \l 1033 ].
Indonesia merupakan salah satu Negara yang telah secara resmi meratifikasi konvensi tersebut pada tahun November 2011.3 Salah satu ketetapan penting dalam konvensi tersebut adalah
memberikan kesempatan yang sama kepada pemilih dengan disabilitas untuk terlibat dalam setiap proses pemilihan umum sebagaimana juga yang didapat oleh warga Negara lainnya yang bukan disabilitas. Apakah kesepakatan dalam konvensi tersebut telah dilaksanakan secara efektif di Indonesia, atau apakah beragam kebijakan dan proses pemilu di Indonesia telah inklusif – tidak hanya melibatkan warga Negara yang bukan disabilitas, tetapi juga para disabilitas? Makalah ini akan mendiskusikan secara kritis efektivitas penyelenggaraan pemilu yang inklusif di Indonesia sebagai perwujudan komitmen Pemerintah Indonesia atas CRPD. Secara khusus, makalah ini akan mendiskusikan beragam kebijakan dan proses penyelenggaraan pemilu yang telah berlangsung di Indonesia pasca ratifikasi atas CRPD. Pada bagian akhir dari makalah ini, juga
2 Data World Helath Organization (WHO) menunjukan bahwa terdapat 15 persen penduduk dunia adalah penyandang disabilitas. Sejumal 90 juta dari mereka tersebar di berbagai Negara di Asia Tenggara dari total 0.6 Milyar penduduknya. Lihat, misalnya, WHO dan The World Bank (2011). Lihat juga Hayes dan Zhao [CITATION Hay12 \n \t \l 1033 ]
akan didiskusikan tentang beragam alternative upaya yang dapat dilakukan untuk memperbaiki beragam kebijakan dan proses pemilu yang inklusif di Indonesia.
Tinjauan Teoretik
Pemilu yang Inklusif Untuk Demokrasi Yang Berkualitas
Demokrasi dimaknai beragam oleh para ahli. Makinda [CITATION Mak96 \n \t \l 1033 ] misalnya, mengatakan bahwa secara umum demokrasi dilihat “as a way of government firmly rooted in the belief that people in society should be free to determine their own political, economic, social, and cultural systems.” Dari pernyataan tersebut dapat digarisbawahi satu elemen penting dalam sebuah system demokrasi yakni pentingnya keberadaan warganegara yang memiliki kebebasan untuk berperan serta mempengaruhi pengelolaan berbagai aspek dalam negaranya. Hal ini seperti juga diungkapkan oleh Mesfin [CITATION Mes08 \n \t \l 1033 ] bahwa demokrasi secara luas dipahami sebagai sebuah system politik yang didisain untuk memperluas partisipasi semua warga Negara dalam proses penyelenggaraan pemerintahan yang mana kekuasaan pemerintah dalam system ini “clearly defined and limited”. Pemikiran yang sama dikemukakan oleh Redy dan Sabelo [CITATION Red97 \n \t \l 1033 ] bahwa system demokrasi merupakan sebuah system pemerintahan dimana di dalamnya “eligible people in a polity actively non only in determining the kind of people that govern them, but also participate actively in shaping the policy output.”
Dengan merujuk pendapat beberapa ahli, Rahmatunnisa [CITATION Rah11 \n \t \l 1033 ] juga menjelaskan bahwa terdapat paling tidak tiga dasar justifikasi mengapa demokrasi lebih disukai ketimbang system yang lain. Pertama, demokrasi lebih disukai karena system ini memfasilitasi perwujudan prinsip-prinsip moral yang mendasar seperti akuntabilitas politik, kesetaraan berpolitik, dan kedaulatan rakyat. Prinsip-prinsip ini merupakan wujud dari prinsip otonomi personal sebagai manusia [ CITATION NgM97 \l 1033 ] dan aspirasi manusia akan kebebasan [ CITATION Woo04 \l 1033 ]. Karena prinsip-prinsip manusiawi yang mendasar inilah, demokrasi dapat diterima disemua pelosok dunia terlepas dari batasan kultur. Argumentasi ini terjustifikasi melalui survey opini yang dilakukan di berbagai Negara di Afrika, Amerika Latin dan Asia pada tahun 2001 yang memberikan simpulan bahwa demokrasi bukanlah monopoli budaya barat. Dari survey tersebut diketahui bahwa public di Negara-negara tersebut memandang demokrasi berasosiasi dengan kemerdekaan sipil, kedaulatan rakyat dan pemilihan umum. Oleh karenanya dipandang sebagai bentuk pemerintahan yang terbaik [ CITATION Dia03 \l 1033 ]. Hasil yang serupa juga ditemukan di berbagai Negara muslim di Afrika, Asia Tengah dan Timur Tengah yang menganggap demokrasi sebagai sebuah tatanan yang baik [ CITATION Dry96 \l 1033 ].
Kedua, demokrasi lebih disukai karena beragam kebaikan yang melekat (inherent virtues). Demokrasi memberikan kesempatan untuk pengembangan kapasitas individual sebagai hasrat mendasar dari manusia terlepas dari latar belakang budaya. Dalam hal ini, Holden [CITATION Hol88 \n \t \l 1033 ] berpendapat bahwa melalui keterlibatan dalam proses politik, public dapat memperkuat kapabilitasnya untuk berpartisipasi di arena politik secara lebih efisien dan efektif. Kebaikan lainnya adalah kemampuan demokrasi untuk meredam konflik dengan lebih baik melalui berbagai mekanisme musyawarah dalam suasana yang bebas dan setara. Selanjutnya, Holden menjelaskan bahwa demokrasi memiliki potensi perguliran kepemimpinan secara tertib dan damai melalui mekanisme pemilihan umum. Inherent virtues inilah yang menjadikan demokrasi diterima oleh banyak kalangan didunia sebagai sebuah system potensial yang mampu memfasilitasi perwujudan beragam kebaikan tersebut.
Saw98 \l 1033 ]. Dalam hal ini Mayo [CITATION May62 \n \t \l 1033 ] beberapa decade lalu juga menambahkan bahwa demokrasilah yang mampu mewujudkan beragam nilai sosial berupa penanganan konflik, perubahan sosial dan pergantian kepemimpinan secara damai, serta nilai-nilai positif individu seperti independensi, rasionalitas, sikap toleran, dan simpati.
Perkembangan kontemporer menunjukkan bahwa berbagai kebaikan atas demokrasi tersebut dapat diwujudkan melalui mekanisme pemilu sebagai instrumen fundamental warga Negara untuk ikut serta dalam proses penyelenggaraan Negara, sebagaimana dikemukakan oleh Mesfin [CITATION Mes08 \n \t \l 1033 ] bahwa pemilu merupakan founding pillars dari system politik demokrasi. Demikian halnya Downs [CITATION Dow11 \n \t \l 1033 ] mengatakan bahwa pemilu merupakan prasyarat penting keberadaan sekaligus berfungsinya system demokrasi. Kaitan demokrasi dan pemilu nampak sekali dalam pernyataan yang dikemukakan oleh Huntington (dalam Downs, 2011) bahwa demokrasi secara mendasar sangat ditentukan oleh adanya mekanisme proses pemilihan para pemimpin Negara secara adil dan periodic. Blondel [CITATION Blo95 \n \t \l 1033 ] berpendapat bahwa pemilu merupakan mekanisme penting yang menghubungkan warga Negara dengan pemerintahnya. Oleh karena itu, pemilu merupakan “the most fundamental and the most distinguishing feature of modern governments.” Melalui mekanisme pemilu, warga Negara memilih para wakil mereka. Tanpa penyelenggaraan pemilu yang adil dan periodic, system demokrasi tidak akan mampu mendeteksi kehendak politik dari warga Negara.
Covenan on Civil and Political Rights (ICCPR) dan berakam instrument internasional hak asasi manusia lainnya [ CITATION Mer08 \l 1033 ].
Inklusifitas pemilu merupakan salah satu kriteria penting untuk sebuah pemilu yang demokratis. Merloe [CITATION Mer08 \n \t \l 1033 ] menjelaskan bahwa pemilu yang demokratik mensyaratkan inklusifitas baik untuk warga neraga yang hendak melaksanakan hak pilihnya maupun bagi mereka yang ingin mencalonkan diri. Prinsip anti-diskriminasi menghendaki Negara untuk menyelenggarakan pemilu yang inklusif. Jadi, selain prinsip universal and equal suffrage berkelindan dengan prinsip anti-diskriminasi. Prinsip inklusifitas ini menghendaki Negara untuk dapat mengidentifikasi dan mengatasiberagam factor yang menghambat warganya untuk mewujudkan hak-hak elektoralnya. Untuk itu,
Governments therefore should take steps to educate people about their electoral related rights and remove barriers to participation for those traditionally underrepresented in election processes amd participation in government and pulic affairs, such as women, minorities (including those who communicate in minority languages), citizens who do not read or write and those with physical challenges and disabilities [ CITATION Mer08 \l 1033 ].
Satu lagi poin mendasar yang perlu digarisbawahi bahwa demokrasi tidak hanya berhenti pada kualitas respon politiknya terhadap warga Negara melalui mekanisme pemilu yang periodic, namun system ini juga menekankan pada pentingnya membuka dan memfasilitasi partisipasi aktif dari kelompok-kelompok minoritas dan marginal atau tersubordinasi. Eksistensi mekanisme pemilu yang inklusif ini yang dapat menjadikan procedural democracy menjadi participatory democracy yang sesungguhnya.
Disabilitas
Konsep disabilitas telah dimaknai beragam oleh berbagai pihak. Menurut World Helath Organization (WHO)4 misalnya,
“disabilities is an umbrella term, covering impairments, activity limitations, and participation restrictions. An impairment is a problem in body function or structure; an activity limitation is a difficulty encountered by an individual in executing a task or action; while a participation restriction is a problem experienced by an individual in involvement in life situations.”
Dalam perpektif pendekatan kontemporer – human rights-based approach – disabilitas bukan merupakan merupakan fenomena yang sederhana [ CITATION Irw13 \l 1033 ]. Disabilitas bukanlah sekedar permasalahan kesehatan. Disabilitas sesungghnya merefleksikan interaksi antara karakter fisik seseorang dengan berbagai karakter masyarakat di mana dia tinggal. Konsepsi ini hampir sama dengan yang dirumuskan oleh the International Classification of Functioning Disability and Health (ICF) yakni disabilitas sebagai “functioning in multiple life areas. Simply seeing, walking, taking a bath, working, going to school, accessing social services and many such domain…”[ CITATION Hal12 \l 1033 ]. Pada definisi ini, disabilitas merupakan hasil dari interaksi dua komponen, yakni seseorang dengan kondisi kesehatan khusus dan factor-faktor lingkungan dan personal yang merupakan konteks kehidupannya. Disabilitas terjadi ketika kelemahan dalam fungsi dan struktur tubuh membatasi partisipasinya. Jadi, disabilitas dalam pengertian ini bukanlah sesuatu yang dimiliki oleh seseorang, akan tetapi sebagai hasil dari interaksi antara seseorang dengan kondisi lingkungannya. Dalam UNCRPD, juga disebutkan bahwa “Persons with disabilities include those who have long-term physical, mental, intellectual or sensory impairments which in interaction with various barriers may hinder their full, and effective participation in society on an equal basis with others.” (dalam Prince, 2012). Pemahaman ini menjadi penting dan mendasar khususnya untuk Negara yang memiliki tanggungjawab untuk menghilangkan berbagai hambatan disabilitas untuk melaksanakan hak-hak elektoralnya secara optimal.
Tantangan Disabilitas dalam Pemilu
pengihatan juga mengalami kesulitan ketika hendak memberikan suara karena kertas suara yang tidak sesuai dengan kebutuhannya [ CITATION Irw13 \l 1033 ].
Beragam permasalahan yang umum terjadi: perangkat hukum yang tidak secara khusus melindungi hak-hak politik penyandang disabilitas; informasi, infrastruktur dan aksesibilitas beragam fasilitas pemilu; kurangnya peralatan, pelayanan dan bantuan dari petugas di tempat pemungutan suara; manajemen pemilu yang tidak melibatkan perwakilan dari penyandang disabilitas dalam perencanaan dan pelaksanaan proses pemilu, termasuk juga proses seleksi untuk menjadi kandidat dalam pemilu karena persepsinegatif yang terbangun. Persoalan-persoalan ini jelas membatasi betul dan bahkan menghapus hak-hak politik penyandang disabilitas dalam pemilu [ CITATION Irw13 \l 1033 ].
Pada saat hari pemungutan suara permasalahan yang kerap terjadi misalnya, tempat pemungutan suara yang tidak ramah terhadap penyandang disabilitas (jalan khusus). Atau, para petugas yang tidak dilatih untuk merespon pemilih dengan kebutuhan khusus. Beragam sarana khusus yang dibutuhkan oleh disabilitas juga kerap tidak tersedia. Kesemuanya berimplikasi pada marginalisasi peran politik penyandang disabilitas. Marginalisasi tidak hanya terjadi pada saat hari pemungutan suara. Penyandang disabilitas juga kerap mengalami hambatan dalam mengakses informasi seputar pemilu, khususnya terkait pendaftaran pemilih dan tata cara pemilihan.
Hambatan lain yang tidak kalah serius adalah terkait harapan penyandang disabilitas untuk masuk arena politik sebagai kandidat. Hambatan dapat tersirat dalam bentuk norma-norma budaya dan perilaku. Permasalahan beragam hambatan ini kerap tidak tertangani dengan baik mengingat penyandang disabilitas tidak memiliki perwakilan yang memadai dalam lembaga penyelenggara pemilu (Election Management Bodies [EMBs]) [ CITATION Irw13 \l 1033 ].
Dengan demikian, pada prinsipnya, tantangan disabilitas dalam pemilu di berbagai Negara di dunia dapat dikelompokkan ke dalam empat kategori: hambatan institusional, informasional, perilaku (attitudinal) dan fisik (physical) yang terjadi pada keseluruhan tahapan pemilu (election cycle) – pra pemilu, pada saat pemilu, dan post-pemilu.
Menurut UNDP (dalam Sanford et.al, 2013), pemilu merupakan mekanisme fundamental untuk melindungi “economic, social and cultural rights for the most deprived individuals and to ensure participation of all in decision-making.” Penyelenggaraan pemilu yang bebas dan adil berkontribusi signifikan kepada pemenuhan hak untuk berpartisipasi politik. Dengan dasar ini, hak politik penyandang disabilitas sejatinya setara dengan kelompok lain yang bukan penyandang disabilitas. Hak politik terkait pemilu ini menyangkut hak untuk memberikan suara secara bebas dan rahasia dan tanpa hambatan apapun; hak untuk mencalonkan diri sebagai kandidat peserta pemilu; dan hak untuk dipilih untuk menjadi anggota penyelenggara pemilu. Ketika pelaksanaan hak-hak electoral ini tidak terjadi, akan membawa konsekuensi pada aspek kebijakan dan sosial sebagaimana dikemukakan oleh Karlawish et al (2008, dalam Prince, 2012) bahwa “When a discrete group of citizens is disenfranchised, its consequent lack of political power may reflected in a systematic neglect of the issues of greatest import to its members or thet group.”
Untuk mewujudkan hak-hak electoral para penyandang disabilitas ini, mensyaratkan penyelenggaraan pemilu yang dapat diakses oleh mereka (accessible elections). AGENDA mendefinisikan konsep “election access” sebagai pemilu yang “…provides facilities for persons with disabilities and without physical/non-physical barriers.”[ CITATION Irw13 \l 1033 ]. Singkatnya, aksesibilitas pemilu bagi disabilitas menyangkut penyediaan beragam layanan dan fasilitasi untuk memudahlan mereka dalam mewujudkan hak-hak elektoralnya.Pemilu Akses tidak hanya menyangkut dimensi proses registrasi dan pemungutan suara. Jika memperhatikan kembali uraian tentang beragam hambatan yang kerap dihadapi oleh penyandang diabilitas, maka upaya menciptakan pemilu akses perlu menyangkut juga dimensi pra-pemilu dan masa sesudah pemilu. Kesemuanya terefleksi dalam berbagai kebijakan dan prosedur pemilu, aturan adminsitratif dan implementasinya.
Pengalaman berbagai Negara telah memberikan banyak pelajaran berharga dalam upaya meningkatkan partisipasi politik penyandang disabilitas.5 Melalui Manual Book yang dibuat oleh
International Foundation for Electoral Systems and National Democratic Institute, diberikan pedoman cukup lengkat terkait beragam upaya yang dapat dilakukan untuk memciptakan Pemilu
Akses. Gambar berikut memberikan ilustrasi tiga dimensi penting dari keseluruhan fase Electoral Cycle yang dapat dilakukan untuk menciptakan Pemilu Akses.
Gambar 1 Electoral Cycle
Sumber: IFES & NDI (2014)
Metode
Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Menurut Sarantakos [ CITATION Sar98 \l 1033 ], qualitative-descriptive method mengandalkan non-qualitative data gathering technique and analysis yang Peneliti anggap tepat untuk mengeksplorasi dan menggambarkan beragam informasi terkait focus studi ini.
Beragam data diperoleh dari sumbesekunder seperti buku, artikel jurnal, pemberitaan media, khususnya media online dan berbagai website yang menyediakan informasi terkait. Data yang diperoleh kemudian di analisis dengan menggunakan tehnik thematic analysis yang menekankan pada ide dasar dari berbagai sumber yang ditelaah [ CITATION Lia05 \l 1033 ].
Diskusi
Kebijakan Pemilu Bagi Penyandang Disabilitas Di Indonesia
Untuk menciptakan system sosial yang adil dalam sebuah Negara demokrasi, keterlibatan aktif dalam arena politik bagi penyandang disabilitas menjadi sangat penting, mengingat melalui keterlibatan aktif tersebut, beragam kebijakan yang diskriminatif dapat dicegah atau diubah. Dengan kata lain, keterlibatan aktif di arena politik merupakan kunci penting untuk memenhi beragam hak penyandang disabilitas.
Indonesia merupakan salah satu Negara yang aktif meratifikasi berbagai konvensi Internasional maupun regional. Seperti diketahui, beragam instrumen regulasi terkait hak-hak penyandang disabilitas telah ada sejak lama, dimulai dari Universal Declaration of Human Rights (UDHR),
International Covenan Civil and Political Rights (ICCPR), Convention on the Rights of Persons with Disabilities (UNCRPD), Bill of Electoral Rights for Citizens with Disabilities, ASEAN
Human Rights Declaration (ADHR), ASEAN General Election Commission Forum Declaration
– telah mengamanatkan pentingnya memberikan perhatian dan melakukan berbagai upaya untuk memenuhi dan melindungi hak-hak penyandang disabilitas di dalam pemilu.
ASEAN Strategic Framework and Plan of Action for Social Welfare, Family and Children 2011-2015, semuanya berkontribusi pada upaya penguatan hak-hak penyandang disabilitas dan kepedulian masyarakat lainnya tentang berbagai isu ini.
Pada level nasional juga telah banyak memberikan kerangka hukum untuk penguatan hak-hak penyandang disabilitas. Konstitusi Negara telah menjamin hak-hak politik semua warga Negara, tidak terkecuali penyandang disabilitas. Dasar konstitusional ini telah ditindaklanjuti ke dalam berbagai undang-undang sebagaimana dapat di lihat dalam Tabel berikut ini.
Tabel 1 Kerangka Hukum Terkait Penyandang Disabilitas di Indonesia
No. Jenis Regulasi Topik Pengaturan
1. UU No. 4 Tahun 1997 Penyandang Disabilitas 2. UU No. 39 Tahun 1999 Hak Asasi Manusia
3. UU No. 12 Tahun 2005 Pengesahan International Covenant On Civil and Political Rights 4. UU No. 19 Tahun 2011 Pengesahan Convention On The Rights of ersons With Disabilities 5. UU No. 15 Tahun 2011 Penyelenggaraan Pemilu
6. UU No. 8 Tahun 2012 Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah 7. UU No. 42 Tahun 2008 Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden
8. UUNo 8 Tahun 2016 Penyandang DIsabilitas 9. Peraturan Bersama
KPU, Bawaslu dan DKPP No. 1 Tahun 2012
Kode Etik Penyelenggara Pemilu
10. PKPU No. 9 Tahun 2013
Pemutakhiran Data Pemilih dalam Pemilihan Umum DPR, DPD dan DPRD
Sumber: Irwan, Otto & Utami [CITATION Irw13 \n \t \l 1033 ]; Hidayat[CITATION Hid16 \n \t \l 1033 ]
Diakui bahwa beragam peraturan tersebut memiliki kelebihan sekaligus kekurangan. Beberapa informasi penting dalam kerangka peraturan tersebut adalah tentang definisi penyandang disabilitas dalam kerangka hukum Indonesia. Dalam UU No 8 Tahun 2011 Pasal 1 ayat 1, yang termasuk dalam kelompok penyandang disabilitas adalah
Setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan/atau sensorik dalam jangka waktu lama yangdalam berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga Negara lainnya berdasarkan kesamaan hak.
Informasi penting lainnya adalah terkait ragam penyandang disabilitas yang diatur dalam UU No. 8 Tahun 2011 Pasal 4 ayat 1, yaitu:
1. Penyandang Disabilitas fisik, yaitu yang terganggu fungsi gerak, antara lain amputasi, lumpuh layuh atau kaku, paraplegi, celebral palsy (CP), akibat stroke, akibat kusta, orang kecil.
2. Penyandang Disabilitas intelektual, yaitu yang terganggu fungsi piker karena tingkat kecerdasan di bawah rata-rata, antara lain lambat belajar, disabilitas grahita dan down syndrome,
3. Penyandang Disabilitas mental, yaitu yang terganggu fungsi pikir, emosi, dan perilaku, antara lain:
a. Psikososial di antaranya skizofrenia, bipolar, depresi, anxietas, dan gangguan kepribadian;
b. Disabilitas perkembangan yang berpengaruh pada kemampuan interaksi sosial di antaranya autis dan hiperaktif.
4. Penyandang Disabilitas sensorik, yaitu terganggunya salah satu fungsi dari panca indera, antara lain disabilitas netra, disabilitas rungu, dan/atai disabilitas wicara.
Diakui pula bahwa dari sisi normative, pengaturan aksesibiltas Pemilu telah mengalami perbaikan dalam berbagai aspek. Penyelenggara Pemilu melalui beberapa Peraturannya telah menerjemahkan beragam aturan perundangan sebagai upaya memberikan dasar operasional menciptakan akses pemilu. Salah satunya adalah munculnya kolom khusus dalam daftar pemilih yang memuat tentang jenis disabilitas. Data ini sangat penting untuk memberikan fasilitasi pemilih disabilitas yang tepat agar mereka nyaman dalam menggunakan hak pilihnya. Demikian halnya dengan desain lingkungan yang ramah terhadap penyandang disabilitas. PKPU No. 3/2009 dan PKPU No. 29/2009 telah mewajibkan panita menyediakan berbagai fasilitas sesuai dengan jenis disabilitas, termasuk fasilitasi pendamping dan lokasi TPS yang memudahkan [ CITATION Pas15 \l 1033 ].
Penyandang Disabilitas dalam Pemilu di Indonesia
Sejak masa reformasi bergulir di akhir tahun 1990-an, Indonesia telah menyelenggarakan lima kali pemilu presiden (pilpres) dan pemilu legislative (pileg). Untuk level daerah, pemilu kepala daerah (pemilukada) dimulai sejak tahun 2007, dengan Kabupaten Kutai Kertanegara sebagai daerah otonom pertama yang melaksanakan hajat besar daerah ini pada tahun 2005. Selanjutnya, Pemilukada serentak dimulai tahun 2015. Penyelenggaraan berbagai even pemilu ini telah menjadikan pemilu Indonesia termasuk ke dalam salah satu pemilu yang paling kompleks di dunia. Hal ini karena dalam setiap even pemilu terdapat jutaan staff, ratusan ribu tempat pemungutan suara, ratusan juta kertas suara dengan ribuan desain yang berbeda, terlibat di dalamnya [ CITATION AGE15 \l 1033 ].
Tabel 2
Pemilu Presiden dan Wakil Presiden serta Pemilu Legislatf
Tahun Pemilu Pemilih Terdaftar Turnout
2014 Legislative 187 juta 75% 2014 Presiden 193 juta 70% 2009 Legislative 171 juta 71% 2009 Presiden 176 juta 73% 2004 Legislative 148 juta 84,06% 2004 Presiden 153 juta 79,76%
Sumber: AGENDA [CITATION AGE15 \n \t \l 1033 ]
Dari berbagai even besar pemilu tersebut, membahas peran serta para penyandang disabilitas di Indonesia ternyata tidak sesemarak hajat-hajat besar demokrasi tersebut. Padahal dari sisi jumlah, penyandang disabilitas cukup signifikan dan layak untuk diperhitungkan oleh partai politik dan calon. Pada Pemilu 2014 misalnya, meski terdapat perbedaan jumlah persis penyandang disabilitas antara data UNESCAP, Kementerian Kesehatan dan Kementerian Kesejahteraan Sosial, terdapat kurang lebih 2.250.000 penyandang disabilitas yang tercatat sebagai pemilih. Apabila harga kursi DPR pada Pemilu 2014 setara 223.000 suara, maka total potensi suara penyandang disabilitas setara dengan 10 kursi di DPR [ CITATION Pas15 \l 1033 ].
a. Hak untuk didaftar guna memberikan suara; b. Hak atas akses ke TPS;
c. Hak atas pemberian suaya yang rahasia; d. Hak untuk dipilih menjadi anggota legislative;
e. Hak atas informasi termasuk informasi tentang pemilu; f. Hak untuk ikut menjadi pelaksana dalam pemilu.
Mencermati penyelenggaraan setiap pemilu membawa kepada simpulan bahwa isu aktualisasi hak-hak electoral penyandang disabilitas – hak memilih, hak untuk dipilih dan hak berpartisipasi sebagai penyelenggara pemilu – belum menjadi sebuah prioritas penting di benak penyelenggara, pengawas dan peserta pemilu. Justifikasi atas argumentasi ini dapat dilihat dari beragam permasalahan yang dialami penyandang disabilitas di Indonesia. Beragam persoalan terkait aktualisasi hak sebagai pemilih masih mendominasi banyak kajian dan laporan. Dua hak electoral lainnya – hak dipilih dan hak berpartisipasi sebagai penyelenggara – bahkan kondisi lebih memprihatinkan. Persoalan aksesibilitas pemilu merupakan isu klasik yang mendominasi banyak kajian dan laporan.
Dalam pemberitaannya, BBC Indonesia [ CITATION na15 \l 1033 ] melaporkan bahwa sampai dengan Pilpres 2014, paling sedikit 11 juta penyandang disabilitas yang tidak dapat menggunakan hak elektoralnya. Demikian temuan Komisi Nasional HAM (Komnas HAM) pasca penyelenggaraan Pileg 2014 di berbagai daerah, penyelenggara pemilu dinilai kurang ramah terhadap penyandang disabilitas [CITATION na14 \t \l 1033 ]. Temuan ini dikonfirmasi oleh Komisioner KPU Hadar Gumay bahwa rendahnya partisipasi para penyandang disabilitas dikarenakan ketidaksiapan pemerintah utnutk menyediakan beragam fasilitas yang dibutuhkan. Pemantauan Komnasham pada Pileg 2014 di hampir semua Provinsi menunjukkan persoalan-persoalan seperti bilik suara dengan instrumen yang tidak lengkap dan tidak aksesibel untuk para penyandang disabilitas, sosialisasi yang tidak sampai secara detil sehingga para penyandang disabilitas minim informasi terkait Pileg 2014. Ditambah lagi dengan lokasi pemungutan suara yang tidak strategis dan menyulitkan penyandang disabilitas untuk menjangkaunya.
multihandicap (disabilitas ganda). Di samping para petugas yang mengalami kesulitan dalam mendata, para penyandang disabilitas juga banyak yang belum memiliki kesadaran politik yang baik terkait pentingnya aktualisasi hak-hak electoral mereka dan masih merasa malu untuk terlibat dalam politik. Demikian pula keluarga penyandang disabilitas yang enggan mendaftarkan anggota keluarga penyandang disabilitas karena malu dan pada akhirnya memilih untuk menyembunyikan keberadaannya [CITATION na15 \t \m na17 \t \l 1033 ].
Persoalan tidak hanya berhenti pada daftar pemilih saja. Kalaupun sudah terdaftar, persoalan berikutnya yang muncul adalah tidak teraksesnya informasi dan pendidikan pemilih yang tidak memadai sehingga pemilih disabilitas minim informasi terkait visi, misi, program peserta pemilu dan tata cara pemilihan. Model kampanye belum dapat diakses terutama oleh pemilih dengan disabilitas sensorik (mata, pendengaran, dan sejenisnya) dan intelektual. Pada akhirnya, meski sudah ada dalam daftar pemilih, tapi pada akhirnya tidak dating ke TPS [ CITATION Pas15 \l 1033 ].
Sampai dengan tahun 2015, upaya yang sudah dilakukan baru terbatas pada menyediakan layanan pembicara dengan bahasa isyarat ketika debat presiden berlangsung. Kemudian, penyediakan kertas suara khusus untuk penyandang tuna netra, namun belum semua TPS dapat menyediakan sarana ini.
Fenomena Pilkada DKI 2017 juga masih menyisakan persoalan lain terkait akses TPS. Dengan 7 kriteria TPS Akses: 1) Jalan menuju TPS; 2) Pintu masuk dan keluar; 3) Permukaan TPS; 4) Luas TPS untuk kursi roda; 5)Tinggi meja suara; 6) Ruang meja kosong dibawahnya dan tinggi bilik suara; dan 7) Ketersediaan alat bantu tuna netra, laporan pemantauan AGENDA menunjukkan bahwa dari 1001 TPS di 5 Kotamadya DKI Jakarta, hanya 210 (21%) yang akses dan sisanya 791 (79%) tidak akses.
Berbicara hak electoral lainnya, yakni hak dipilih dan untuk menduduki jabatan publik kondisinya pun tidak lebih baik. Stigma penyandang disabilitas tidak mampu menarik suara masih kuat di kalangan partai politik. Tidak kalah menyulitkan adalah adanya syarat keikutsertaan “sehat jasmani dan rohani” (Pasal 5 hruf d UU No.42/2008) yang dipandang diskriminatif bagi penyandang disabilitas [ CITATION Pas15 \l 1033 ]. Padahal, representasi penyandang disabilitas merupakan modal penting untuk penguatan beragam kebijakan yang memihak kepada segmen warga Negara penyandang disabilitas. Wacana optimalisasi hak electoral untuk dipilih sampai saat ini sangat minim, untuk tidak mengatakantidak ada sama sekali. Baik diskursus maupun pengaturan normative masih terkonsentrasi pada hak memilih penyandang disabilitas.
Terdapat beragam penyebab masih belum optimalnya aktualisasi hak-hak electoral penyandang disabilitas, salah satu diantaranya adalah perspektif Negara yang memperlakukan mereka sebagai orang sakit. Padahal sesungguhnya, mereka bukanlah orang-orang yang sakit, tapi merupakan kelompok yang mempunyai kebutuhan khusus agar mampu mengaktualisasikan hak-hak elektoralnya. Perspektif yang keliru ini telah berimplikasi pada kegagalan dalam memberikan fasilitas dan layanan yang tepat sesuai dengan kebutuhan penyandang disabilitas [CITATION na15 \t \l 1033 ].
Implikasi lainnya dari perspektif yang keliru ini adalah ketidaktepatan proses sosialisasi untuk beragam penyandang disabilitas. Misalnya, alat peraga sosialisasi untuk tunagrahita yang memiliki daya tangkap yang lemah, tidak bisa disamakan dengan penyandang disabilitas jenis yang lain.
menyangkut: 1) system pemilu (proporsional terbuka atau tertutup); 2) parliamentary threshold (3,5% atau lebih); 3) penentuan daerah pemilihan (tetap atau berubah); 4) konversi suara pemilih; dan 5) syarat minimal dukungan calon presiden [ CITATION Sup17 \l 1033 ]. Dari lima topik perdebatan hangat tersebut, keberpihakan belum pada penyandang disabilitas. Tidak ada pembahasan yang alot terkait kewajiban penyelenggara pemilu untuk menyediakan fasilitas dan layanan untuk penyandang disabilitas. Sulit rasanya untuk tidak mengatakan bahwa tingkat keperdulian para pembuat kebijakan terkait pemenuhan hak-hak electoral penyandang disabilitas memang masih rendah.
Di tengah perdebatan penyusunan RUU Pemilu, terbersit harapan penyandang disabilitas terkait beragam dasar hukum hak-hak electoral penyandang disabilitas yang telah pada berbagai regulasi, tetap dapat dimunculkan dalam UU Pemilu yang baru. Misalnya, amanat Pasal 13 UU No. 8 Tahun 2016 tentang hak politik penyandang disabilitas meliputi hak: memilih dan dipilih dalam jabatan public; berperan aktif dalam system pemilihan umum pada semua tahap dan/atau bagian penyelenggaraannya; memperoleh aksesibilitas pada sarana dan prasarana penyelenggaraan pemilihan umum, pemilihan gubernir, bupati/walikota, dan pemilihan kepala desa atau nama lain; dan, memperoleh pendidikan politik [ CITATION Sup17 \l 1033 ].
Dasar hukum lainnya yang layak untuk dimasukkan ke dalam RUU Pemilu adalah sebagaimana yang telah diamanatkan dalam Pasal 11 dan Pasal 85 UU No. 15 Tahun 2011, tentang hak menduduki jabatan public seperti mencalonkan diri menjadi anggota KPU atau Bawaslu. Hak untuk mencalonkan diri sebagai anggota lembaga legislative seperti yang telah diatur dalam Pasal 51 UU No. 19 Tahun 2008 juga penting untuk terwadahi di dalam UU Pemilu yang baru. Pengaturan yang tidak kalah penting adalah menyangkut kewajiban penyelenggara pemilu untuk menjamin dan memberikan kemudahan bagi penyandang disabilitas dalam memberikan suaranya [ CITATION Sup17 \l 1033 ].
Penutup
cycle) – pra pemilu, pada saat pemilu, dan post-pemilu. Sampai saat ini, konsentrasi perbaikan masih sebatas pada hak electoral untuk memilih dan hanya pada tahap election day.
Namun demikian, beragam upaya perbaikan, khususnya kerangka regulasi patut mendapatkan apresiasi meski masih mengandung berbagai kelemahan. Peluang terbuka pada saat ini di tengah proses perumusan UU Pemilu. Berbagai kelemahan institusional yang selama ini terjadi dapat diperbaiki dengan konstruksi regulasi yang lebih memihak kepada upaya meningkatkan partisipasi dan keterwakilan politik penyandang disabilitas. Termasuk terobosan untuk memberikan langkah afirmasi. Dalam sebuah Rapat Dengar Pendapat Umum yang diselenggarakan Panitia Khusus RUU tentang Penyelenggaraan Pemilu pada bulan Februari 2017, selain membahas upaya penguatan pemilu akses dan berkeadilan, terlontar usulan dari Ketua Pansus dan juga Ketua Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) tentang perbaikan hak dipilih penyandang difabel dengan menghilangkan aturan yang diskriminatif sehingga membuka peluang yang setara kepada penyandang disabilitas yang kompeten dengan warga Negara lain yang tidak mengalami disabilitas. Selain itu, ide tindakan afirmasi dipandang strategis untuk diterapkan agar tercipta kompetisi yang seimbang untuk kandidat penyandang disabilitas dan bukan penyandang disabilitas.[CITATION na171 \t \l 1033 ]
Penyelenggara pemilu harus selalu berusaha untuk meminimalisir beragam hambatan untuk berpartisipasi bagi penyandang disanbilitas dengan membangun berbagai program dan proses yang memungkinkan penyandang disabilitas dapat mengakses berbagai pelayanan dan informasi yang disediakan oleh penyelenggara pemilu. Best practices negara-negara lain juga memberikan inspirasi terkait upaya penguatan partisipasi dan keterwakilan politik penyandang disabilitas.
Beberapa strategi yang dapat dilakukan oleh peneyelenggara pemilu untuk memperkuat partisipasi politik penyandang disabilitas adalah dengan:
o Menerapkan proses dan saluran pendaftaran dan pemilihan yang memungkinkan penyandang disabilitas berpartisipasi dalam pemilu melalui beragam perangkat regulasi dan dukungan finansial untuk mewujudkannya, termasuk menggunakan perangkat teknologi untuk pemberian suara yang independen dan rahasia.
o Membangun hubungan yang kuat dengan penyandang disabilitas agar dapat lebih memahami kebutuhan yang mereka rasakan.
o Menyediakan petunjuk dalam bentuk DVD bagi para pendamping (carers) dan penyandang
learning difficulties yang berisi tentang beragam informasi tentang pemungutan suara, bagaimana mendaftar dan bagaimana memberikan suara.
o Salah satu teknologi yang digunakan adalah pemungutan suara dengan menggunakan metode pendiktean melalui telepon untuk tunanetra atau disabilitas lainnya yang mengalami hambatan untuk memberikan suara secara independen dan rahasia. Akses untuk informasi dan sumberdaya lainnnya:
Upaya perbaikan terus menerus perlu dilakukan. Penyelenggara pemilu perlu mengadakan evaluasi menyeluruh dalam bentuk survey pemilih. Pemilu perlu diawali dengan proses konsultasi dengan penyandang disabilitas dalam rangka memperbaiki proses dan sumberdaya pemilu. Setelah fase konsultasi ini selesai, diikuti oleh beragam upaya penyelenggara pemilu bekerjasama dengan para penyedia layanan lainnya untuk menyediakan berbagai sumberdaya yang diperlukan.
Membentuk semacam Disability Advisory Group, yang terdiri dari perwakilan penyandang disabilitas dan unit pemerintah terkait untuk memperkuat hubungan satu sama lain dan memberikan beragam informasi kepada penyelenggara pemilu untuk memperbaiki kualitas pemilu.
Upaya yang tidak kalah penting adalah melakukan monitoring penyelenggaraan pemilu terkait penyandang disabilitas perlu secara terus menerus dilakukan, misalnya melalui laporan hasil evaluasi penyelenggaraan pemilu oleh KPU kepada lembaga legislative. Hasil evaluasi ini dapat menjadi rujukan untuk perbaikan kualitas pemilu berikutnya.
Daftar Pustaka
AGENDA. (2015). Media Guidelines for Reporting on Accessible Elections: Indonesian Edition.
Jakarta: AGENDA.
Barry, B. (1992). Is Democracy Special? In A. J. (ed), Democracy: Theory and Practice (pp. 59-66). Belmont: Wadsworth Publishing Company.
Bramantyo, H. A. (2015). Partisipasi Politik Penyandang Disabilitas Pada Pemilukada Sleman 2015. Skripsi. Yogyakarta: Universitas Muhamadiyah Yogyakarta.
Catt, H. (1999). Democracy in Practice. London & New York: Routledge. Diamond, L. (2003). Universal Democracy? Policy Review(June ), 3-26.
Downs, W. M. (2011). Electoral Systems in Comparative Perspective. In M. B. John T. Ishiyama,
21st Century Political Science : a Reference Handbook (pp. 159-167). Thousand Oaks, CA: SAGE Publications, Inc.
Dryzek, J. (1996). Political Inclusion and the Dynamic of Democratization. The American Political Science Review, 90(3), 475-487.
Hall, T. E., & Alvarez, R. M. (2012). Defining the Barriers to Political Participation for Individuals with Disabilities, Working Paper #001. Washington, D.C: The Information Technology and Innovation Foundation.
Handicap International Kenya/Somalia. (2014). Promoting The Civic and Political Rights of Persons With Disabilities & Increasing Their Participation in The Electoral Process in Urban and Rural Somaliland. Nairobi: Handicap International.
Hayes, A., & Zhao, Z. (2012, January 30). Population Prospects in East and Southeast Asia.
Retrieved Mei 09, 2017, from East Asia Forum:
http://www.eastasiaforum.org/2012/01/30/population-prospects-in-east-and-southeast-asia/
Hidayat, Y. (2016). Aksesibilitas Oemilu Lagislatif Tahun 2014 Bagi Penyandang Disabilitas di Provinsi Jawa Barat. Universitas Padjadjaran: Disertasi.
Holden, B. (1988). Understanding Liberal Democracy. Oxford & New Jersey: Philip Allan Publishers Limited.
IFES & NDI. (2014). Equal Access: How to Include Persons with Disabilities in Elections and Political Processes. Washington, D.C: InternationalFoundation for Electoral Systems. Irwan, A. Y., Otto, S. S., & Utami, R. (2013). Accessible Elections for Persons with Disabilities
in Five Southeast Asian Countries. Jakarta: International Foundation for Electoral Systems (IFES).
Liamputtong, P., & Ezzy, D. (2005). Qualitative Research Methods. Second Edition. Oxford: Oxford University Press.
Makinda, S. (1996). Democracy and Multipasrty Politics in Africa. The Journal of Modern African Studies, 34(4), 555-573.
Mayo, H. (1962). How Can We Justify Democracy? The American Political Science Review, 56(3), 555-566.
Menocal, A. R. (2013). 10 Things to Know About Elections and Democracy. London: Overseas Development Institute.
Merloe, P. (2008). Promoting Legal Frameworks for Democratic Elections: an NDI Guide for Developing Election Laws and Law Commentaries. Washington D.C: National
Democratic Institute for International Affairs (NDI).
Mesfin, B. (2008, July). Democracy, Elections & Political Parties. Retrieved April 07, 2017, from https://www.files.ethz.ch/isn/98951/PAPER166.pdf
n.a. (2014, Mei 28). KPU 'Kurang Ramah' Terhadap Disabilitas. Retrieved Mei 09, 2017, from BBC Indonesia:
http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2014/05/140528_komnasham_disabilitas _pemilu
n.a. (2015, January 29). Jutaan Penyandang Disabilitas Absen dalam Pemilu dan Pilkada.
http.www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/01/150129_indonesia_difabel_pemil u
n.a. (2017, Februari 02). Partisipasi Disabilitas Dalam Pilkada Masih Kurang, KPU Harus Libatkan Relawan Dalam Pendataan. Retrieved Mei 09, 2017, from Tribun Jabar: http://www.jabar.tribunnews.com/2017/02/partisipasi-disabilitas-dalam-pilkada-masih-kurang-kpu-harus-libatkan-relawan-dalam-pendataan
n.a. (2017, Februari 16). RUU Pemilu Akomodir Hak Politik Penyandang Disabilitas. Retrieved Mei 09, 2017, from nusakini: http"//www.nusakini.com/news/ruu-pemilu-akomodir-hak-politik-penyandang-disabilitas
Ng, M. (1997). Whay Asia Needs Democracy? Journal of Democracy, 8(2), 10-23. Pasaribu, K., & Sadikin, U. H. (2015). Akses Bagi Semua Yang Berhak. Jakarta: Yayasan
Perludem.
Prince, M. J. (2012). Electoral Participation of Electors With Disabilities: Canadian Practices in a Comparative Context. Canada: University of Victoria.
Rahmatunnisa, M. (2011). Desentralisasi dan Demokrasi. Governance, 1(2), 1-21.
Rawert, M. (2017, February 22). The Political Rights of Persons with Disabilities: A Democratic Issue. Retrieved May 07, 2017, from Parliamentary Assembly: http://assembly.coe.int Redy, P., & Sabelo, T. (1997). Democratic Decentralization and Central/Provincial/Local
Relations in South Africa. The International Journal of Public Sector Management, 10(7), 572-582.
Sanford, J. A., & et.al. (2013). Understanding Voting Experiences of People With Disabilities, Working Paper. Washington, D.C : The Information Technology and Innovation Foundation.
Sarantakos, S. (1998). Social Research. Hampshire: MacMillan Press. Saward, M. (1998). The Terms of Democracy. Cambridge: Polity Press.
Suprihno. (2017, Februari 01). Penyandang Disabilitas dalam Pembahasan RUU Pemilu.
Retrieved Mei 09, 2017, from KPU Kab. Tulungagung: http://www.
kpu-tulungagungkab.go.id/2017/02/01/penyandang-disabilitas-dalam pembahasan-ruu-pemilu/ Wood, A. (2004). Asian Democracy in World History. New York: Routledge.
Zaid, M. (2017, April). Hasil Pemantauan Pelaksanaan Pemilu Akses Pilkada DKI Jakarta.
Retrieved Mei 09, 2017, from Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat: