• Tidak ada hasil yang ditemukan

BOOK Henny Sri Mulyani R Penggunaan Radio Mora

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "BOOK Henny Sri Mulyani R Penggunaan Radio Mora"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

Penggunaan Radio Mora oleh Komunitas Pendengar

Amor di Kota Bandung

Henny Sri Mulyani R

Fakultas Ilmu Komunikasi –Universitas Padjadjaran Email : [email protected]

Abstrak

Radio sebagai salah satu bentuk media dianggap punya pengaruh kuat bagi khalayak pendengarnya. Kekuatan radio tersebut didasarkan pada daya langsung, daya tembus, dan daya tarik yang dimiliki radio. Trend radio dimasa kini memiliki segmentasi yang spesiik atau jenis format yang didasarkan pada pilihan konten tertentu. Pada gilirannya menjadikan stasiun radio memiliki ciri khasnya masing-masing. Radio Mora adalah salah satu media radio yang memiliki konten spesiik yaitu bidang hukum sebagai menu utama siarannya sementara pada umumnya radio siaran lain bidang hukum hanya sebagian kecil dari konten keseluruhan.

Radio Mora memiliki komunitas pendengar yang bernama Anggota Mora (Amor). Berdasarkan data terdapat 720 anggota Amor di Kota Bandung. Keberadaan komunitas ini menunjukan bahwa mereka secara sadar menggunakan media tersebut selain media lain untuk pemenuhan kebutuhan informasi. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk melihat bagaimana penggunaan media radio Mora oleh komunitas Amor untuk pemenuhan kebutuhan informasi dalam bidang hukum.

(2)

dan interaktivitas yang terjadi antara audiens dengan penyiar radio menggunakan saluran SMS dan telepon dan tergolong cukup.

Kata kunci : program radio, komunitas, intensitas penggunaan media, interaktivitas

Pendahuluan

Media massa mempunyai peran yang berkaitan dengan fungsi media pada umumnya yag berada pada ranah komunikasi massa. Domminick dalam Efendy (2001 :29) menyebutkan bahwa setidaknya ada lima fungsi mendasar komunikasi massa, yakni pengawasan (surveillance), penafsiran (interpretation), pertalian (linkage), penyebaran nilai-nilai (transmission of value) dan hiburan (entertaintment).

Radio sebagai salahsatu bentuk media massa mendapat julukan sebagai the ith estate (Ardianto, 2007:128). Julukan ini muncul mengingat kekuatan radio sebagai teknologi baru dianggap punya pengaruh kuat seperti pada Perang Dunia II, kekuatan radio tersebut didasarkan pada daya langsung, daya tembus, dan daya tarik yang dimiliki radio.

Daya langsung radio berkaitan dengan proses penyusunan dan penyampaian pesan poada pendengarnya yang relatif cepat dibandingkan media massa lainnya. Daya tembus radio berkaitan dengan pendistribusian informasi yang lebih ringkas dan tidak terlalu terbebani oleh lokasi khalayak. Sementara daya tarik radio terdapat pada sifatnya yang serba hidup berkat tiga unsur yang ada padanya yaitu musik, kata-kata dan efek suara.

(3)

sebagian kecil dari konten keseluruhan.

Menurut General Manager Radio Mora, Mora Saragih, Radio Mora memiliki visi untuk membangun komunikasi konstruktif da dalam masyarakat yaitu dapat saling memberi manfaat tentang kesadaran kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara dalam kerangka mengerti dan taat hukum demi menuju kehidupan yang lebih baik. Hal tersebut diwujudkan dalam positioning Radio Mora sebagai he law and justice station. Mora membidik tujuan untuk mengembangkan pemahaman masyarakat dalam ranah hukum.

Keberadaan radio Mora menarik untuk diteliti sehubungan dengan kondisi hukum yang ada dewasa ini. Banyak pihak menilai pelaksanaan hukum di Indonesia belum maksimal. Hukum seperti pisau tajam di bawah tetapi tumpul di atas1. Maksudnya ketika berhadapan dengan masyarakat yang lemah, hukum seolah diterjemahkan seperti tertulis sehingga para pelaku kejahatan sekecil apapun mendapat ganjaran. Sementara kepada pelanggar dari kalangan kuat baik secara inansial maupun akses terhadap kekuasaan hukum bisa diatur agar menuntungkan mereka.

Padahal demi terciptanya kepastian hukum semua orang haruslah memiliki kedudukan yang sama di hadapan hukum. Jadi setiap orang bisa terjerat hukum dan setiap orang memiliki hak yang sama sewaktu berhadapan dengan hukum. Hukum di Indonesia ada untuk mengatur kehidupan tiap individu dalam negeri ini sehingga tercipta keteraturan dann ketertiban di dalamnya.2

Menurut Mora Saragih, General Manager Radio Mora, disinilah Radio Mora menampilkan perannya sebagai media mengemban misi untuk menjadi media yang berguna bagi rakyat sebagai media advokasi yang bersedia membantu masyaralkat menerima aspirasi, aduan, maupun kluhan masyarakat seraya senantiasa berupaya untuk menigkatkan kesadaran hukum masyarakat. Hal ini dilakukan dengan menyediakan program-program yang menonjolkan diskusi interaktif yang membahas realitas sosial dalam masyarakat dengan perspektif hukum.

Program di Radio Mora diasuh oleh penyiar radio yang kebanyakan

(4)

merupakan praktisi di bidang hukum. Dari 14 program siaran yang ada terdapat lima program siaran utama yang berkaitan dengan masalah hukum. Dalam penelitian ini lima program itulah yang masuk kategori program informasi hukum. Kelima program tersebut secara rutin mengudara dari hari Senin hingga Sabtu sejak pukul 06.00 hingga pukul 21.00 atau mengudara selama 12 jam. Kelima program tersebut adalah :

1. Somasi (Sorotan Masalah dan Situasi) yang membahas berbagai informasi dan permasalahan publik Kota Bandung dengan perspektif hukum.

2. Saksi (Saran Komentar dan Informasi), membahas . Permasalahan regional maupun nasional yang sedang hangat dengan perspektif hukum.

3. Kasasi (Kasus dari Sana Sini) yang membahas kasus-kasus hukum secara detail sekaligus menjadi ruang untuk berkonsultasi masalah hukum.

4. Motif (Mora Interaktif) merupakan program interaktif dengan topik mengenai kasus hukum yang spesiik.

5. Eksekusi (Ekstra Sekunder dan Informasi) merupaka program interaktif dengan topik mengenai isu-isu yang sedang berkembang di masyarakat. Sesekali menghadirkan narasumber terkait dengan isu yang dibahas.

Segmentasi pendengar radio Mora adalah pendengar berusia 27 tahun ke atas yang terdapat pada rentang SES (status ekonomi sosial) B1, B2 dan C. Dengan asumsi bahwa golongan masyarakat inilah yang seringkali berhadapan dengan permasalahan hukum yang beragam dan menyentuh banyak bidang kehidupan seperti masalah pertanahan, perkawinan hingga perniagaan. selain itu Radio Mora memiliki wilayah jangkauan siaran Kota Bandung dan sekitarnya.

(5)

oleh komunitas Amor untuk pemenuhan kebutuhan informasi dalam bidang hukum.

Tinjauan pustaka

Komunikasi massa mengacu Domminick dalam Efendy (2001 :29) memiliki fungsi sebagai berikut :

1. Pengawasan (surveillance)

Pengawasan mengacu kepada yang dikenal sebagai peranan berita dan informasi dari media massa. Fungsi pengawasan dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu :

(1) Pengawasan peringatan : pengawasan jenis ini terjadi jika media menyampaikan informasi kepada kita mengenai ancaman bencana alam, kondisi ekonomi yang mengalami depresi atau serangan militer. Peringatan ini dapat diinformasikan segera dan serentak, dapat pula diinformasikan ancaman dalam jangka waktu lama atau ancaman kronis (berita surat kabar mengenai polusi udara atau masalah pengangguran), tapi dalam praktiknya banyak juga informasi yang tidak merupakan ancaman yang perlu diketahui oleh rakyat.

(2) Pengawasan instrumental : ini berkaitan dengan penyebaran informasi yang berguna bagi kehidupan sehari-hari. Misalnya berita harga barang kebutuhan sehari-hari dipasar, produk baru dll.

2. Interpretasi (interpretation)

fungsi ini erat kaitannya dengan fungsi pengawasan, karena media massa tidak hanya menyajikan fakta dan data tetapi juga informasi beserta interpretasi mengenai suatu peristiwa tertentu. Acap kali fungsi ini mendapat perhatian utama para pejabat pemerintah, tokoh politik dan pemuka masyarakat karena seringkali bersifat kritik terhadap kebijakan pemerintah. Oleh karena itu lewat fungsi ini media massa sering disebut sebagai anjig penjaga yang menggonggong apabila pemerintah ingkar dari kewajibannya. Fungsi in I bisa berbentuk kartun atau gambar lucu yang bersifat sindiran.

3. Hubungan (linkage)

(6)

terdapat di dalam masyarakat yang tidak bisa dilakukan secara langsung oleh saluran perseorangan. Missal hubungan pemuka partai politik dengan pengikutnya ketika membaca surat kabar ternyata partainya banyak dikagumi dimasyarakat.

Fungsi hubungan yang dimiliki oleh media akan berpengaruh banyak pada masyarakat sehingga dijuluki sebagai “public making” ability of the mass media atau kemampuan membuat sesuatu menjadi umum dari media massa. Hal ini erat kaitannya dengan perilaku seseorang (baik yang positih konstruktif atau negative destruktif) yang apabila diberitakan oleh media massa maka akan segera seluruh masyarakat mengetahuinya.

4. Sosialisasi

Sosialisasi merupakan transmisi nilai-nilai yang mengacu kepada cara-cara di mana seseorang mengadopsi prilaku dan nilai-nilai suatu kelompok. Media massa menyajikan penggambaran masyarakat dan dengan membaca, mendengarkan dan menonton maka seseorang mempelajari bagaimana khalayak berprilaku dan nilai-nilai apa yang penting.

5. Hiburan (entertainment)

Hiburan sangatlah penting untuk melepaskan saraf-saraf setelah berjam-jam membaca berita-berita berat juga sebagai sarana rekreasi dan kesenangan. Komunikasi massa membantu khalayak untuk mengisi waktu luangnya dengan menyajikan berbagai acara yang dipenuhi oleh komedi, drama, tragedi, permainan dan lain-lain.

Penggunaan Media

Menurut McQuail (1996:217) Penyebab utama penggunaan media terletak dalam lingkungan sosial dan psikologis yang dirasakan untuk menanggulangi masalah sebagai pemuas kebutuhan. Penggunaan media didorong oleh adanya kebutuhan dan tujuan yang ditentukan oleh audien sendiri dan bahwasannya partisipasi aktif dalam proses komunikasi dapat mempermudah dan mempengaruhi kepuasan dan dapat menimbulkan berbagai efek yang terkait dengan terpaan media.

(7)

media secara keseluruhan.

Metode Penelitian

Sugiyono (2008:8) mendeinisikan metode penelitian kuantitatif sebagai sebuah metode penelitian yang berdasarkan pada ilsafat positivisme, digunakan untuk meneliti populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data mengunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan.

Singarimbun dan Efendi (1989:42) menyebutkan penelitian survei digunakan untuk maksud eksploratif, deskriptif, eksplanatif, evaluasi, prediksi, operasional dan pengembangan indikator-indikator sosial. Lebih jauh disebutkan penelitian survei dilakukan melalui proses seperti pengumpulan data lapangan, menggambarkan dan menganalisis data dengan bantuan analisis statistika yang relevan dan selanjutnya dibuat kesimpulan tentang arti data tersebut. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengukur dengan cermat fenomena sosial tertentu dengan mengembangkan konsep dan menghimpun fakta tanpa melakukan pengujian hipotesis.

Populasi yang dijadikan objek dalam penelitian ini adalah seluruh anggota komunitas pendengar radio Mora yang berada di Kota Bandung. Jumlah anggota komunitas pendengar adalah sebanyak 720 orang. Ukuran sampel dalam penelitian ini dihitung dengan menggunakan rumus Yamane (Rahmat , 2007 :82) diperoleh sebanyak 88 orang anggota.

Hasil Penelitian dan Pembahasan 1. Identitas responden

Tabel 1 : Rentang usia responden

Rentang usia

Frekuensi

%

< 30 tahun

18

20,4

31 – 40 tahun

25

28,4

> 40 tahun

45

51,2

Jumlah

88

100

(8)

yaitu sebanyak 51,2 %, sementara usia yang paling sedikit adalah usia kurang dari 30 tahun. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa radio Mora memang sejalan dengan misinya yaitu membidik pasar yang berusia diatas usia 27 tahun.

Tabel 2 Jenis Kelamin Responden

Jenis kelamin Frekuensi %

Laki-laki 60 68,2

Perempuan 28 31,8

Jumlah 88 100

Perbandingan Komunitas pendengar radio Mora pada umumnya adalah laki-laki 68,2 % dan perempuan 31,8 %. Sementara radio Mora sendiri membidik target khalayak dengan rasio 60 % laki-laki dan 40 % perempuan.3

Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan sering disetarakan dengan kemampuan intelek seseorang. Menurut Maslow dalam Goble (2009:114) pendidikan memainkan perana penting dalam pengembangan watak. Hal tersebut akan berimbas pada perilaku seseorang terhadap sesuatu. Perbandingan tingkat pendidikan komunitas pendengar radio Mora tampak pada tabel berikut

Tabel 3 Tingkat Pendidikan

Tingkat Pendidikan frekuensi %

SD 3 3,4

SMP 9 10,2

SMA 39 44,3

Diploma 19 21,5

Strata 1 16 18,2

S2 1 1,1

S3 1 1,1

Jumlah 88 100

Mayoritas komunitas pendengar Radio Mora adalah berlatar belakang pendidikan SMA sebanyak 44,3 % sementara yang tidak

(9)

menamatkan pendidika SMA sebanyak 13,6 %. Proporsi tingkat pendidikan di atas tidaj jaug berbeda dengan target segmentasi radio Mora, yaitu 40% tamatan SMA, 30 % tamatan Diploma , 20 % tamatan tingkat Diploma dan 10 % tamatan lainnya.4

Tabel 4 Masa Keanggotaan

Keanggotaan Frekuensi %

< 1 tahun 17 19,3

1 – 2 tahun 30 34,1

3 – 4 tahun 15 17

5 – 6 tahun 11 12,5

 6 tahun 15 17

Jumlah 88 100

Tabel 4 menunjukan bahwa mayoritas responden bergabung dalam komunitas penggemar Mora selama 1 sd 2 tahun sebanyak 34,1 %. Dan yang baru bergabung kurang dari satu tahun sebanyak 19,3 %.

2. Analisis Deskriptif Penggunaan Media oleh Komunitas Pendengar Radio Mora

Tabel 5 Frekuensi Penggunaan Per Minggu

Frekuensi/minggu Frekuensi %

< 2 kali 3 3,4

2 – 3 kali 8 9,2

4 – 5 kali 14 15,9

 5 kali 63 71,5

Jumlah 88 100

Tabel 5 menunjukan frekuensi penggunaan radio Mora dihitung perminggu, dari tabel menunjukan bahwa 71,5 % menggunakan radio Mora lebih dari 5 kali dalam seminggu sehingga hampir tiada hari yang dilewatkan tanpa mendengar radio Mora dan penggunaan paling rendah adalah frekuensi penggunaanya kurang dari 2 kali sebanyak 3,4 %.

(10)

Tabel 6 Durasi Penggunaan

Durasi

Frekuensi

%

< 1 jam

3

3,4

1 – 2 jam

26

29,5

3 – 4 jam

30

34,1

5 – 6 jam

12

13,6

7 jam

17

19,3

Jumlah

88

100

Radio Mora mengudara 24 jam sehari dan mayoritas responden sebanyak 34,1 % mendengarkan antara 3 – 4 jam per harinya dan sedikit sekali responden mendengarkan kurang dari 1 jam yaitu 3,4 %.

Tabel 7 Jumlah Program yang Dikonsumsi

Jumlah Program

Frekuensi

%

< 3 Program

6

6,8

3 – 6 program

45

59,2

7 - 10 program

17

19,4

10 program

12

13,6

Jumlah

88

100

Radio Mora menyiarkan sebanyak 14 program acara secara rutin dan ternyata pada umumnya responden mendengarkan 3 sd 6 program yaitu sebanyak 59,2 % dan hanya 6,8 % responden mendengarkan kurang dari 3 program.

Tabel 8 Program yang Dikonsumsi

Nama Program

Frekuensi

%

Interupsi

23

4,46

Tabur kasih

6

1,16

Somasi

69

13,37

Saksi

65

12,60

Kasasi

67

12,98

Konpensi

23

4,45

(11)

Penglipur kalbu

48

9,30

Eksekusi

21

4,07

Eksepsi

13

2,52

Sapa Mora

26

5,03

Amor Memories

30

5,81

Mora Peduli

31

6,00

Kiprah Kopjaskum

37

7,17

Jumlah

516

100

Pada penelitian ini pendengar diminta untuk memilih program apa yang dikonsumsi dan pendengar boleh memilih lebih dari satu program yang dikonsumsi. Program yang paling banyak dminati adalah program Somasi (Sorotan Masalah dan Situasi) merupakan program rutin yang disiarkan setiap hari Senin hingga Sabtu pukul 06.00 sampai dengan pukul 09.00. Dalam program ini biasanya penyiar mengulas berita yang sedang hangat yang ada di surat kabar pagi yang berkaitan dengan masalah hukum.. peringkat kedua program Kasasi (Kasus dari Sana sini) program yang disiarkan setiap pukul 12.00 hingga 15.00 pada hari Senin hingga Sabtu. Peringkat ketiga program Saksi ( saran, komentar dan Informasi) yang disiarkan setiap pukul 09.00 hingga 12.00 pada hari Senin hingga Sabtu merupakan program informasi.

Menurut McQuail (1996 : 54) Pada dasarnya media adalah pembawa atau pengantar informasi dan pendapat artinya pendengar komunitas Amor telah menggunakan radio Mora sebagai sarana pengantar informasi tersebut.

Terdapat pengelompokan bidang hukum yang disiarkan melalui program acara di Radio Mora diantaranya adalah (1) bidang hukum pidana, kriminal dan korupsi (2) hukum agraria dan pertanahan (3) hukum keluarga, perkawinan dan waris (4) hukum administrasi dan tata negara (5) hukum dagang dan persaingan usaha (6) hukum perbankan dan pajak (7) hukum kontrak dan perburuhan (8) hukum adat dan agama (9) hukum internasional dan (10) hukum lingkungan.

(12)

dengan media. Ia mendeinisikan interaktivitas sebagai suatu derajat dimana audiens berpartisipasi dalam proses komunikasi bahkan dalam beberapa tingkat memiliki kemampuan untuk mengatur dan bertukar peran dengan media dalam konteks tertentu.

Pada saat penelitian interaksi yang diamati adalah mengenai penggunaan saluran telepon, SMS (Short Message service) yang terhubung langsung dengan penyiar.

Tabel 9 Saluran Interaksi

Saluran interaksi Frekuensi %

Tidak pernah 21 23,9

Melalui SMS 18 20,5

Melalui telepon 21 23,9

Melalui SMS dan Telepon 28 31,7

Jumlah 88 100

Saluran interaksi yang dilakukan pendengar komunitas Amor untuk terlibat dalam siaran radio Mora umumnya menggunakan dua saluran sekaligus yaitu SMS dan telepon tapi berdasarkan temuan penelitian tidak semua komunitas berinteraksi dengan media terbukti adanya pendengar yang tidak aktif dalam berinteraksi tetapi hanya sebagai pendengar sebanyak 23,9 %.

Untuk lebih jelasnya gambaran interaktivitas komunitas dengan media tampak pada gambar berikut :

(13)

Gambar 1 menunjukan bahwa komunitas Amor untuk berinteraksi dengan media yang menggunakan SMS sebanyak 46 orang dan menggunakan telepon sebanyak 49 orang sementara yang menggunakan keduanya sebanyak 28 orang.

Tabel 10 Intensitas Penggunaan SMS

Intensitas/ minggu Frekuensi %

< 2 kali 10 21,7

2 – 4 kali 16 34,8

5 – 7 kali 8 17,4

 7 kali 12 26,1

Jumlah 46 100

Dari 46 orang yang menggunakan fasilitas SMS untuk ikut terlibat dalam siaran radio umumnya 2 sd 4 kali dalam seminggu. Sementara intensitas penggunaan telepon dari 49 pengguna dapat terlihat pada tabel berikut :

Tabel 11 Intensitas Penggunaan Telepon

Intensitas/ minggu Frekuensi %

< 2 kali 10 20,4

2 – 4 kali 15 30,6

5 – 7 kali 14 28,6

 7 kali 10 20,4

Jumlah 49 100

Interaksi tersebut berdasarkan pengamatan mempunyai tujuan yaitu diantaranya untuk mengomentari topik, bertanya atau berkonsultasi, menyampaikan informasi, request lagu dan berkirim salam.

Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan rentang antar kuartil untuk penggunaan media oleh komunitas pendengar Amor di Kota Bandung dapat dikatagorikan sebagai berikut :

(14)

Tabel 12 Penggunaan Media Radio Mora

Penggunaan Kategori

Intensitas penggunaan Tinggi

Interaktivitas Cukup

Intensitas penggunaan radio Mora oleh komunitas pendengar Amor mempunyai kategori tinggi menunjukan bahwa radio Mora telah menjadi bagian dari keseharian anggota komunitas pendengar Amor. Salah satu pemicu tingginya intensitas adalah dengan adanya beragam kebutuhan yang akan mereka penuhi melalui penggunaan radio. Penggunaan media didorong oleh adanya kebutuhan dan tujuan yang ditentukan oleh audiens sendiri.

Penutup

Penggunaan media radio Mora umumnya untuk menanggulangi kebutuhan audiens atas informasi yang dibutuhkan atau penggunaan media didorong oleh adanya kebutuhan dan tujuan yang ditentukan oleh komunitas pendengar Amor itu sendiri.

Perkembangan teknologi dewasa ini sedikit banyak telah mengubah cara pandang mengenai komunikasi massa, misalnya Efendy (2003 : 83) yang menganggap komunikasi massa berjalan satu arah. Pada radio ternyata mengikuti perkembangan teknologi saat ini seperti kehadiran telepon dan SMS yang sifatnya personal membuat proses komunikasi tidak terpaku pada proses komunikasi satu arah. Dalam hal ini audiens dapat memberikan informasi atau tanggapan melalui saluran tersebut dan kini informasi tidak didominasi oleh media hal ini menunjukan bahwa audiens merupakan pengguna media yang aktif.

DAFTAR PUSTAKA

Ardianto, Elvinaro, Lukiati Komala dan Siti Karlina. 2007. Kmunikasi Massa : Suatu Pengantar. Bandung : Simbiosa Rekatama Media.

(15)

Kencana Prenada Media Grup.

Efendy, Onong Uchyana. 1991. Radio Siaran : Teori dan Praktek. Bandung : Penerbit Mandar Maju.

---.2003. Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi. Bandung : Citra Aditya Bakti.

Gobble, Frank G. 2009. Mazhab Ketiga : Psikologi Humanistik Abraham Maslow. Yogyakarta : Kanisius

Marzuki, Peter Mahmud. 2009. Pengantar Ilmu Hukum. Jakarta: Kencana Prenada Media Grup.

Masduki. 2001. Jurnalistik Radio : Menata Profesionalisme Reporter dan Penyiar. Yogyakarta: LKiS

McQuail, Dennis. 1996. Teori Komunikasi Massa : Suatu Pengantar. Jakarta : Erlangga.

Morissan, Andy Corry Wardhani dan Farid Hamid. 2010. Teori Komunikasi Massa. Bogor: Ghalia Indonesia

Mulyana, Deddy. 2005. Ilmu Komunikasi : Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Rahmat, Jalaluddin. 2005. Psikologi Komunikasi. Bandung : Remaja Rosdakarya.

---. 2007. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung : Remaja Rosda Karya

Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung : Alfabeta

Gambar

Tabel 1 :  Rentang usia responden
Tabel 2   Jenis Kelamin Responden
Tabel 4  Masa Keanggotaan
Tabel 8   Program yang Dikonsumsi
+4

Referensi

Dokumen terkait