• Tidak ada hasil yang ditemukan

Paparan Kepala Bappeda di UNAND Padang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Paparan Kepala Bappeda di UNAND Padang"

Copied!
58
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

Secara Administratif Terdiri dari:

1. Kabupaten Bintan

5. Kab. Kepulauan Anambas

2. Kabupaten Karimun 6. Kota Batam

3. Kabupaten Lingga

7. Kota Tanjungpinang

4. Kabupaten Natuna

Letak

:

4

o

‘ LU

s.d 0

o

‘ LS

Dan 103

o

‘ BT

s.d 109

o

7

‘ BT

Luas Wilayah :

±

251.810,71 Km2

Darat :

10.595,41 KM

2

atau 4,21 %

Laut :

241.215,30 KM

2

atau 95,79 %

Batas Wilayah :

Utara : Vietnam & Kamboja

Selatan : Sum Sel & Jambi

Barat : Singapura, Malaysia & Riau

Timur : Malaysia Timur & Kal Bar

Provinsi Kepulauan Riau dibentuk berdasarkan UU No 25 Tahun 2002

Pemerintahan efektif berjalan mulai tanggal 1 Juli 2004

Jumlah pulau

:

2.408 pulau

Berpenghuni

:

366 buah (15 %)

Belum berpenghuni

:

2.042 buah (85%)

Pulau terdepan

:

52 buah

Pulau terluar

:

19 buah (Karimun 2, Batam 4, Bintan 1, Natuna 12)

(

catatan : Baru 1.795 pulau dari 2.408 pulau yang diakui dan 613 masih

dalam proses penetapan di PBB

)

(4)

JUMLAH PENDUDUK PROVINSI KEPULAUAN RIAU

TAHUN 2012

No.

Kabupaten/Kota

Luas Daratan

(km

2

)

Jumlah Penduduk

(jiwa)

1.

Tanjungpinang

239,50

210.836

2.

Batam

770,27

1.060.309

3.

Bintan

1.946,13

70.097

4.

Karimun

2.873,20

260.478

5.

Natuna

2.058,45

76.606

6.

Lingga

2.117,72

97.729

7.

Kep. Anambas

590,14

43.993

(5)

5

P. TAMBELAN

LAUT NATUNA

03 13 00 LU

P.SUBI KECIL

P.SENOA

P.SEMIUN

P.SEKATUNG

P.TOKONG BURUNG

P.DAMAR

P.MANGKAI

P.TOKONG NANAS

P.TOKONG BERLAYAR

P.BATU BERHANTI

P.NIPAH

P.IYU KECIL

01 20 00 LS 110 30 00 BT

P. TOKONG MALANG BIRU

P. SEBETUL

P. SENTUT

P. NONGSA

P. PELAMPUNG

P. KARIMUN KECIL

P. SERUTU

(6)
(7)

V I S I

TERWUJUDNYA KEPULAUAN RIAU SEBAGAI

BUNDA TANAH MELAYU YANG SEJAHTERA,

(8)

M I S I

1. Mengembangkan Budaya Melayu sebagai payung bagi budaya lainnya

dalam kehidupan masyarakat

2. Meningkatkan pendayagunaan sumberdaya kelautan, perikanan, dan

pulau-pulau kecil terdepan secara efisien, lestari dan untuk kesejahteraan

masyarakat

3. Mengembangkan wisata berbasis kelautan, budaya lokal dan keunggulan

wilayah

4. Mengembangkan potensi ekonomi lokal dengan keberpihakan kepada

rakyat kecil (wong cilik)

5. Meningkatkan investasi dengan pembangunan infrastruktur yang berkualitas

6. Memberdayakan masyarakat melalui pendidikan dan kesehatan yang

berkualitas

7. Mengembangkan tata kelola pemerintahan yang baik, etos kerja, disiplin,

budi pekerti, dan supremasi hukum

8. Mewujudkan

kehidupan

yang

demokratis,

berkeadilan

serta

berkesetaraan gender

(9)

SINKRONISASI PERENCANAAN & PENGANGGARAN PUSAT DAN DAERAH

DALAM SATU KESATUAN SITEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL

RPJPN

PEDOMAN DIJABARKAN

DIJABARKAN

PEDOMAN DIJABARKAN

PEDOMAN

PEDOMAN DIACU

(10)
(11)

No. Isu Strategis Provinsi Kepulauan Riau Prioritas Nasional 1 Belum ditetapkannya Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Kepulauan

Riau serta rendahnya capaian pembangunan infrastruktur penunjang konektivitas dan aksesibilitas antar pulau dan antar daerah untuk mengurangi disparitas antar wilayah.

Prioritas Nasional 6: Infrastruktur

2 Kurangnya penanganan Pulau-pulau Terluar dan daerah tertinggal di Provinsi Kepulauan Riau

Priotitas Nasional 9: Daerah Tertinggal, Terdepan, Terluar dan Pasca Konflik

3 Percepatan pertumbuhan ekonomi daerah melalui kekuatan ekonomi kelautan dan industri pengolahan serta pariwisata yang berwawasan lingkungan dalam rangka mendukung Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI)

Prioritas Nasional 7: Iklim Investasi dan Usaha

4 Masih tingginya angka kemiskinan, untuk itu perlu dilakukan upaya pemberian bantuan Perlindungan Sosial dan Pemberdyaan Masyarakat, Perempuan dan Perlindungan Anak.

Prioritas Nasional 4: Penanggulangan

Kemiskinan

5 Peningkatan Pembangunan Pendidikan dan Kesehatan dalam Rangka Percepatan Pencapaian Target MDGs

Prioritas Nasional 2: Pendidikan

Prioritas Nasional 3: Kesehatan

(12)

SINKRONISASI ISU STRATEGIS PROVINSI

NASIONAL (2013)

PENINGKATAN DAYA SAING

 Percepatan pembangunan infrastruktur:

domestic connectivity

 Meningkatnya pembangunan industri di berbagai koridor ekonomi

 Penciptaan kesempatan kerja khususnya tenaga kerja muda

 Peningkatan iklim investasi dan usaha (Ease of doing bussiness)

PENINGKATAN DAYA TAHAN EKONOMI  Ketahanan pangan : menuju pencapaian surplus

beras 10 juta ton

 Peningkatan rasio elektrifikasi dan konversi energi

PENINGKATAN DAN PERLUASAN KESRA  Peningkatan pembangunan sumber daya manusia  Percepatan pengurangan kemiskinan : sinergi

klaster 1-4

PEMANTAPAN STABILITAS SOSPOL  Persiapan pemilu 2014

 Membaiknya kinerja birokrasi dan pemberantasan korupsi

 Percepatan pembangunan Minimum Essential Force

Percepatan pertumbuhan ekonomi daerah melalui kekuatan ekonomi kelautan dan industri pengolahan serta pariwisata yang berwawasan lingkungan

dalam rangka mendukung Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI)

Kurangnya penanganan Pulau-pulau Terluar dan daerah tertinggal di Provinsi Kepulauan Riau

Belum ditetapkannya Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Kepulauan Riau serta rendahnya capaian pembangunan infrastruktur penunjang konektivitas dan aksesibilitas antar pulau dan antar daerah untuk mengurangi disparitas antar wilayah

Masih tingginya angka kemiskinan, untuk itu perlu dilakukan upaya pemberian bantuan Perlindungan Sosial dan Pemberdyaan Masyarakat, Perempuan dan Perlindungan Anak

Peningkatan Pembangunan Pendidikan dan Kesehatan dalam Rangka Percepatan Pencapaian Target MDGs

(13)

TEMA PEMBANGUNAN

PROVINSI KEPULAUAN RIAU 2013

Unsur Pokok Tema:

1. Kesejahteraan Masyarakat

2. Pengentasan Kemiskinan

3. Industri Kelautan dan Perikanan Terpadu

“Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Masyarakat serta

Pengentasan Kemiskinan melalui Percepatan Pembangunan

(14)

PRIORITAS PEMBANGUNAN

PROVINSI KEPULAUAN RIAU 2013

1. Peningkatan Kualitas dan Jangkauan Layanan Pendidikan

dan Kesehatan

2. Pengembangan Infrastruktur dan Percepatan Penyelesaian

RTRW

3. Pengentasan Kemiskinan

dan Pengembangan Potensi

Pulau Terdepan

(15)

BIDANG LINGKUNGAN HIDUP DALAM RKPD

PROVINSI KEPULAUAN RIAU TAHUN 2013

PROGRAM

KEGIATAN

Program

Pengembangan Kinerja

Pengelolaan

Persampahan

Penyediaan prasarana dan sarana pengelolaaan

persampahan

Peningkatan peran serta masyarakat dalam pengelolaan

persampahan

Program Pengendalian

Pencemaran dan

Perusakan Lingkungan

Hidup

Pengelolaan B3 dan Limbah B3

Pembinaan dan Pengawasan Kinerja Komisi AMDAL Daerah

Kabupaten/ Kota

Pemantaun Penilaian Kota Bersih dan Hijau (Adipura) di

Provinsi Kepulaun Riau

Menuju Indonesia Hijau

Penanganan Pengaduan dan Penyelesaian Sengketa

Lingkungan Hidup Pos P3SLH

Pemantauan Kualitas Air Bersih di Provinsi Kepulauan Riau

Pemantauan dan Pengawasan Pencemaran Air Laut Lintas

Kabupaten/Kota

(16)

BIDANG LINGKUNGAN HIDUP DALAM RKPD PROVINSI

KEPULAUAN RIAU TAHUN 2013 (LANJUTAN)

PROGRAM

KEGIATAN

Program Pengendalian

Pencemaran dan

Perusakan Lingkungan

Hidup

Pengawasan Penaatan Peraturan Bidang LH Bagi Pelaku

Usaha/Industri

Penilaian AdiwiyataTingkat Prov. Kepulauan Riau

Penyusunan Perencaan Program Kegiatan Pengelolaan

Lngkungan Hidup

Monitoring dan Evaluasi Penerapan dan Pencapaian SPM

Bidang LH Daerah Kab/Kota

Penguatan Komisi AMDAL Daerah

Kajian Strategis Pengendalian Kerusakan Lingkungan

Untuk Kelestarian Sumber Daya Air Guna Mendukung

MDGS

Monitoring dan Evaluasi dan Pengawasan Peredaran BPO

Studi Identifikasi dampak pencemaran limbah B3 dan

Domestik terhadap Biota Laut

(17)

BIDANG LINGKUNGAN HIDUP DALAM RKPD PROVINSI

KEPULAUAN RIAU TAHUN 2013 (LANJUTAN)

Program Perlindungan

dan Konservasi Sumber

Daya Alam

Peningkatan Konservasi Daerah tangkapan Air dan

Sumber-Sumber Air

Pembinaan dan Pemulihan Kerusakan Hutan Mangrove

Berbasis Masyarakat

Program Peningkatan

Kualitas dan Akses

Informasi Sumber Daya

Alam dan Lingkungan Hidup

Penyusunan Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah

Tahun 2013

Rapat Koordinasi Pengelolaan Lingkungan Hidup di

Provinsi Kepulauan Riau

Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia

Komunikasi, Informasi dan Edukasi Lingkungan Hidup

Penyusunan Laporan Penerapan dan Pencapaian Standar

Pelayanan Minimal Bidang LH Tahun 2013

Peningkatan Website BLH Prov Kepri

Pembuatan database AMDAL, dokumen

RKL-RPL,UKL-UPL Kabupaten/Kota

Pameran Lingkungan Hidup

(18)

BIDANG LINGKUNGAN HIDUP DALAM RKPD PROVINSI

KEPULAUAN RIAU TAHUN 2013 (LANJUTAN)

Program

pengembangan

ekowisata dan jasa

lingkungan

dikawasan-kawasan

konservasi laut dan

hutan

Pengembangan ekowisata dan

jasa lingkungan dikawasan

konservasi

Kajian Pemanfaatan Hutan Kota

Sebagai Pusat Botani Mini

(19)

BIDANG PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DALAM

RKPD PROVINSI KEPULAUAN RIAU TAHUN 2013

Program

Penguatan

Kelembagaan

Pengarusutamaan

Gender dan Anak

Rapat Kerja Sinkroniasai Program

Pemberdayaan Perempuan dan

Perlindungan Anak se- Prov.Kepri

Pelatihan, Pengembangan dan

Pendampingan Penyusunan ARG di

Kab/Kota dan Prov.Kepri

Forum PPRG Provinsi Kepulauan

Riau

Program

Peningkatan

Kualitas Hidup

Perempuan

Peningkatan dan Pengembangan

Program Pemberdayaan Perempuan

dan Anak Tingkat Prov. Kepri

(20)

BIDANG PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DALAM RKPD

PROVINSI KEPULAUAN RIAU TAHUN 2013 (L

ANJUTAN

)

Peningkatan Kualitas dan

Perlindungan Perempuan

dan Anak

Koordinasi dan Kerja sama Gugus Tugas

dalam Penangnan Trafiking

Pengembangan Pusat Pelayanan Terpadu

Perempuan dan Anak Korban Tindak

Kekerasan dan Perdagangan Manusia Berbasis

Rumah Sakit

Pengembangan Kota Layak Anak

Pengembangan Kelembagaan Forum Anak

Pemenuhan Hak Anak (Pembinaan Anak

Berkebutuhan Khusus)

Pengembangan Pusat Pelayanan Terpadu

Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A)

provinsi Kepulauan Riau

Pemenuhan Hak Anak( Peningkatan

Kesejahteraan Keluarga Anak Jalanan)

Pemenuhan Hak Anak (Pembinaan Anak yang

Berhadapan dengan Hukum )

(21)

TEMA PEMBANGUNAN

PROVINSI KEPULAUAN RIAU 2014

Memantapkan Perekonomian Daerah dan

Memperluas Kesempatan Kerja guna

Pengentasan Kemiskinan untuk

(22)

PRIORITAS PEMBANGUNAN

PROVINSI KEPULAUAN RIAU 2014

1. Peningkatan Pembangunan Pendidikan dan Kesehatan dalam

rangka

Percepatan Pencapaian Target MDGs

2. Peningkatan Pembangunan Infrastruktur dan Pengelolaan Sumber

Daya Alam serta Pulau-pulau Terdepan

3. Percepatan dan perluasan pertumbuhan ekonomi daerah melalui

pemberdayaan ekonomi kelautan, pertanian, industri kecil menengah

dan pariwisata yang

berwawasan lingkungan

4. Peningkatan kesejahteraan masyarakat yang berakhlak mulia dan

berbudaya

(23)

SPM BIDANG

(24)

Ketentuan tentang jenis dan mutu

pelayanan dasar yang merupakan

urusan wajib yang berhak di peroleh

setiap warga secara minimal.

(25)

PELAYANAN DASAR

BIDANG LINGKUNGAN HIDUP

Adalah : jenis pelayanan publik yang mendasar

dan mutlak untuk melestarikan mutu lingkungan

hidup agar kualitas hidup masyarakat terpenuhi

secara berkelanjutan.

Pelayanan Dasar adalah

jenis pelayanan publik yang

mendasar dan mutlak untuk memenuhi kebutuhan

masyarakat

dalam kehidupan sosial, ekonomi dan

(26)

LATAR BELAKANG

PUSAT

DOKUMEN RENCANA

PENCAPAIN dan

PEMBIAYAAN SPM

26

PP 65/2005

PP 38 /2007

Panduan Penyusunan

Laporan Pencapaian

SPM dan Pedoman

MONEV SPM

OTONOMI DAERAH (UU 32/2004)

UNDANG-UNDANG Nomor : 32/2009

PERMENDAGRI 6/2007 Tentang

Petunjuk Penerapan SPM

PERMENDAGRI 79/2007 Tentang

Penyusunan Rencana Pencapaian

SPM

DAERAH

PERMEN LH 19/2008 &

(27)

POSISI SPM

Urusan

Pemerintahan

Urusan Wajib

Pelayanan

Dasar

Standar Pelayanan

Minimal (SPM)

adalah Ketentuan

tentang Jenis dan

(28)

DASAR

HUKUM

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004

Psl. 11

ayat

(4), Psl. 13, Psl. 14

Peraturan Pemerintah

Nomor 65 Tahun 2005

Tentang Pedoman Penyusunan

dan Penerapan SPM

Peraturan Menteri Dalam Negeri

Nomor 6 Tahun 2007

Tentang Juknis Penyusunan

dan Penetapan SPM

Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007

Tentang Pembagian UrusanPemerintah

Pasal 2 Ayat (4)

1.

Limbah B3

2.

Amdal

3.

Kualitas Air

4.

Kualitas Udara

5.

Pesisir dan Laut

6.

Kebakaran Hutan & Lahan

7.

Kerusakan Tanah Biomassa

8.

Kerusakan akibat bencana

9.

SNI

10. Ekonomi Lingkungan

11. Manajemen Lingkungan

12. Diklat

13. Pelayanan Bidang LH

14. Otda Lingkungan

15. Hukum LIngkungan

16. Perjanjian Internasional

17. Iklim dan Atmosfir

18. Lab. Lingk

Sub Bidang : 1. Pengendalian Dampak Lingkungan

Sub-sub Bidang : 1. KEHATI

Sub

Bidang

: 2. Konservasi SDA

Permendagri 79/07 ttg

Pedoman Penyusunan

Rencana Pencapaian SPM

Draft Permen LH

1.

Provinsi

2.

Kab/Kota

Sub-sub Bidang :

Lampiran H:

(29)

Ruang Lingkup

Penyusunan

SPM Bidang LH oleh KLH (Pasal 4

Ayat (1) PP 65/2005)

Penerapan

oleh Pemerintahan Provinsi dan

Kabupaten/Kota (Pasal 3 Ayat (2) PP 65/2005);

SPM sebagai

acuan

Pemerintahan Daerah dalam rangka

(30)

Daerah Provinsi

Daerah Kab/Kota

Pelayanan Informasi

Status Mutu Air

Pelayanan Informasi

Status Mutu Udara Ambien

Pelayanan Tindak Lanjut

Pengaduan Masyarakat

Akibat Adanya Dugaan

Pencemaran Dan Atau

Kerusakan Lingkungan

Pelayanan Pencegahan

Pencemaran Air

Pelayanan Pencegahan

Pencemaran Udara Dari Sumber

Tidak Bergerak

Pelayanan Penyediaan Informasi

Status Kerusakan Lahan/Tanah

Untuk Produksi Biomassa

Pelayanan tindak lanjut pengaduan

masyarakat akibat adanya dugaan

pencemaran dan/atau kerusakan

lingk.

(31)

STANDAR PELAYANAN

MINIMAL dan

PENYELENGGARAAN

PEMDA

Penerapan SPM

melekat pada

Penyelenggaran

Pemerintahan Daerah

Dalam Kerangka

Desentralisasi

Urusan pemerintahan

yang bersifat wajib.

(32)

PENTINGNYA PENERAPAN SPM

DI DAERAH

Merupakan Prioritas 1 dalam

Instruksi Presiden No. 1/2010 tentang

Percepatan Pelaksanaan Prioritas

Pembangunan Nasional 2010

-

Mengukur Kinerja Kepala

(33)

INTEGRASI RENCANA PENCAPAIAN DAN

PELAKSANAAN SPM-LH

DALAM DOKUMEN PERENCANAAN

Standar Pelayanan Minimal bidang lingkungan hidup sesuai dengan

Kebijakan Umum Anggaran diterapkan melalui

Program Prioritas

dalam

RPJMD 2010 s/d 2015

Provinsi Kepulauan Riau

(34)

Program

Pengendalian Pencemaran dan

Perusakan Lingkungan Hidup

Badan Lingkungan Hidup Provinsi Kepulauan Riau

Pemantauan Kualitas Air Bersih

Pemantauan Kualitas Udara Ambient

Penanganan Pengaduan dan

Penyelesaian sengketa

(35)

TARGET PENCAPAIAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL

BIDANG LINGKUNGAN HIDUP

A. PELAYANAN INFORMASI STATUS MUTU AIR

Target pencapaian :

Tahun 2010 : 20%

Tahun 2011 : 63%

Tahun 2012 : 88 %

Tahun 2013 : 100%

Sasaran obyek :

Jumlah total sasaran hingga tahun 2013 adalah

7 sungai meliputi :

Tahun

2010

2011

2012

2013

Sungai/

Waduk

Sei Pulai

Sei Bati/Dang Merdu

Sei Pulai

Sei Bati/Dang Merdu

Sei Ladi

Sei Jago

Air Muncung

Sei Pulai

Sei Bati/Dang Merdu

Sei Ladi

Sei Jago

Air Muncung

Sei di Natuna

Air Daik

Sei Pulai

Sei Bati/Dang Merdu

Sei Ladi

Sei Jago

Air Muncung

Sei di Natuna

Air Daik

(36)

B. PELAYANAN INFORMASI STATUS MUTU UDARA

Berdasarkan PP 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Air dan Pengendalian

Pencemaran Air dengan Parameter yang Dipilih sebanyak 17 parameter (fisika dan

kimia) yaitu warna, bau, kecerahan, temperature, pH, DO, DHL, Salinitas, TSS, BOD,

COD, Total fosfat, NO3, Fe, Cl, Nitrit dan Sulfat.

TARGET PENCAPAIAN : Tahun 2010 : 14 % (1 kab/kota)

Tahun

2010

2011

2012

2013

Kab/kota

Tanjungpinang

Tanjungpinang

Batam

Parameter yang dianalisis lebih

ditekankan untuk parameter

NO

2

(Nitrogen Dioksida) dan

SO

2

(Sulfur Dioksida).

PARAMETER:

(37)

PELAYANAN TINDAK LANJUT PENGADUAN MASYARAKAT AKIBAT ADANYA

DUGAAN PENCEMARAN DAN/ATAU PERUSAKAN LINGKUNGAN HIDUP

C

.

Penetapan target didasarkan jumlah kasus yang sebelumnya masuk dan

Prediksi Kasus yang akan masuk

Tahun 2010 : 100 % (kasus yang masuk )

Tahun 2011 : 100 % (kasus yang masuk )

Tahun 2012 : 100 % (kasus yang masuk )

Tahun 2013 : 100% (kasus yang masuk )

Target Pencapaian :

Sasaran obyek :

(38)

KETERKAITAN BIDANG

PEMBERDAYAAN PEREMPUAN

(PENGARUSUTAMAAN

GENDER)

(39)

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH PROVINSI KEPULAUAN RIAU

Inpres Nomor 9 Tahun 2000 Tentang

Pengarusutamaan Gender Dalam Pembangunan

Nasional.

Permendagri Nomor 67 Tahun 2011 tentang Perubahan

Permendagri Nomor 15 Tahun 2008 Tentang Pedoman

Umum Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di

Daerah.

Peraturan Gubernur Kepri Nomor 19 Tahun 2010

(40)

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH PROVINSI KEPULAUAN RIAU

1. Keputusan Gubernur Kepri No. 239 Tahun 2006, direvisi dengan

Keputusan Gubernur Kepri No. 59a Tahun 2010 ttg pembentukan

Kelompok Kerja Pengarusutamaan Gender di Provinsi Kepri;

2. Pembentukan Tim Teknis Anggaran Daerah Responsif Gender

Provinsi Kepri yang ditetapkan dengan putusan Kepala Bappeda

selaku ketua Pokja PUG provinsi No. 02/BAPPEDA/X/2010;

3. Keputusan Semua Kepala SKPD tentang Pembentukan Pokja dan

Focal Point Gender di masing

masing SKPD;

4. Telah dibentuknya Focal Point SKPD dengan SK Gubernur Kepri No.

322 TAHUN 2009 Tentang Pembentukan Focal Point PUG Prov. Kepri;

(41)

SASARAN :

1. Meningkatnya tingkat partisipasi perempuan

dalam pembangunan.

2. Meningkatnya Indeks Pembangunan Gender

(IDG) dan Indeks Pemberdayaan Gender (IPG)

3. Menurunnya rasio KDRT

4. Berkurangnya tindak kekerasan pd perempuan

5. Meningkatnya jumlah kasus pengaduan

kekerasan perempuan yang diselesaikan

6. Berkurangnya ketimpangan tingkat pendidikan

menurut jenis kelamin.

Pemberdayaan

Perempuan dan

Perlindungan

Anak

Dimaksudkan

untuk

Meningkatkan peranserta

dan mewujudkan Kesetaraan

dan Keadilan gender dlm Pemb.

Mewujudkan perlindungan anak

Mendukung Prioritas

Program Pembangunan

(42)

1.

Penyusunan dan harmonisasi peraturan perundang-undangan terkait

Pengarusutamaan Gender;

2.

koordinasi dan penerapan strategi PUG, termasuk pengintegrasian

perspektif gender ke dalam siklus perencanaan dan penganggaran di

seluruh SKPD;

3.

Melakukan pendampingan teknis dalam penyusunan program, anggaran

dan kegiatan yang responsif gender dan peduli anak pada program

Dinas/Instansi dan Kabupaten/Kota;

4.

Memperkuat jaringan pengarusutamaan gender dengan meningkatkan

partisipasi masyarakat dalam pembangunan;

5.

Melakukan evaluasi dan pemantauan pelaksanaan program, anggaran dan

kegiatan yang responsif gender di Dinas/Instansi dan Kabupaten/ Kota;

6.

peningkatan penyediaan data dan informasi secara terpilah disemua

aspek kehidupan.

ARAH KEBIJAKAN PUG

(43)
(44)

Perencanaan yang responsif gender

Perencanaan yang dibuat oleh seluruh

lembaga pemerintah, organisasi profesi,

masyarakat dan lainnya yang disusun dengan

mempertimbangkan 4 (empat) aspek seperti

PERAN, AKSES, MANFAAT dan KONTROL

yang dilakukan secara setara antara

perempuan dan laki-laki.

(45)

Bahwa Perencanaan

tersebut dilakukan dengan

mempertimbangkan

aspirasi, kebutuhan dan

permasalahan pihak

perempuan dan dan

laki-laki baik dalam proses

penyusunannya maupun

dalam pelaksanaan

kegiatan.

(46)

Angggaran yang responsif gender (ARG)

adalah

Penggunaan atau pemanfaatan anggaran

yang berasal dari berbagai sumber

pendanaan untuk mencapai kesetaraan

dan keadilan gender.

(47)

- ARG bukanlah anggaran yang terpisah untuk laki-laki

dan perempuan;

- ARG sebagai pola anggaran yang akan menjembatani

kesenjangan status, peran dan tanggung jawab antara

laki-laki dan perempuan;

-

ARG bukanlah dasar yang “valid” untuk meminta tambahan

alokasi anggaran;

-Bukan berarti bahwa alokasi ARG hanya berada dalam

program khusus pemberdayaan perempuan;

-ARG bukan berarti ada alokasi dana 50% laki-laki, 50%

perempuan untuk setiap kegiatan;

(48)

Anggaran responsif gender hanya untuk kegiatan

PUG.

Anggaran responsif gender hanya terdapat pada

program pemberdayaan perempuan

Kegiatan selama ini hanya berkutat seputar

sosialisasi tentang pengarusutamaan gender

(49)

EFEKTIVITAS

EKONOMI

EQUITY/ KESETARAAN

EFISIENSI

ARG

(50)

Anggaran Khusus target Gender

Adalah alokasi anggaran yang diperuntukkan guna memenuhi

kebutuhan dasar khusus perempuan atau khusus laki-laki

berdasarkan hasil analisis gender

.

Anggaran Kesetaraan Gender

Adalah alokasi anggaran untuk mengatasi masalah kesenjangan

gender. Hal ini dapat diketahui berdasarkan analisis gender berupa

adanya kesenjangan dalam relasi antara laki-laki dan perempuan

baik berupa partisipasi, manfaat dan kontrol terhadap sumber daya.

Anggaran Pelembagaan dan Kesetaraan Gender

Adalah alokasi anggaran untuk penguatan pelembagaan

(51)

Prasyarat Anggaran Responsif Gender

(ARG)

1. Kemauan Politik (terdapat dalam prioritas pemerintah

daerah);

2. Transparansi dan Partisipasi (Keterlibatan semua pihak

dan transparansi proses penganggaran);

3. Ketersediaan data yang terpilah menurut jenis kelamin;

4. Sumberdaya manusia yang memadai (perencanaan

(52)

KONSEP ARG

Permasalahan pemberdayaan perempuan antara lain: diskriminasi terhadap

perempuan atau laki-laki, kesenjangan partisipasi politik, rendahnya kualitas

hidup perempuan dan anak

Salah satu upaya menurunkan ketimpangan tersebut di atas pada sisi

perencanaan anggaran dilakukan melalui

anggaran yang responsif gender

(ARG).

Istilah gender dalam konsep ini bukanlah pemisahan antara laki-laki dan

(53)

Penerapan ARG dalam sistem Penganggaran

Letak ARG berada pada level Output Kegiatan;

Sistem Aplikasi RKA-SKPD dilengkapi dengan

fasilitas pencantuman kode/atribut sesuai

dengan tema-

tema pembangunan: MDG’s,

ARG dll;

Informasi ARG tergambar pada TOR dan GBS;

(54)

Struktur Penganggaran pada ARG

Output 1

Komponen

Input-2

Detail

Komponen

Input-1

Detail

Detail

Output 2

PROGRAM

KEGIATAN

Outcome

Catatan:

(55)

Rencana Penyusunan RKA ARG

Sasaran SKPD

Seluruh SKPD harus menerapkan ARG;

Kegiatan yang menjadi fokus ARG :

Kegiatan dalam rangka Penugasan

Prioritas Pembangunan Daerah;

Kegiatan dalam rangka pelayanan;

Kegiatan Pelembagaan Gender (

capacity

building,

advokasi gender,kajian, sosialisasi,

desiminasi, atau pengumpulan data

terpilah.

Hal yang harus

diperhatikan

Gender Budget Statement

(GBS)

Penyusunan TOR

Mekanisme ARG

(56)

Penelaahan RKA

SKPD ARG

Langkah-langkah :

Isu kesenjangan gender dan gambaran perbaikannya tercermin dari uraian

analisis situasi yang ada dalam GBS dan gambaran umum dalam Kerangka

Acuan Kegiatan (TOR);

Meneliti adanya kesesuaian antara uraian GBS dengan TOR

Baru diputuskan apakah output kegiatan telah responsif gender atau belum;

Apabila telah responsif gender, petugas penelaah Bagian Keuangan (BKKD)

memberikan kode/atribut dalam sistem aplikasi RKA-SKPD bahwa

output kegiatan dimaksud telah responsif gender.

Daftar cek list atas pernyataan/pertanyaan dalam penelaahan :

Apa jenis ARG yang akan dilaksanakan ?

Apakah telah tersedia dokumen GBS?

Adanya isu gender yang dituangkan dalam TOR!

(57)

PERENCANAAN

PENGANGGARAN

RPJP

DAERAH

RPJM

DAERAH

R K P D

RAPBD

APBD

Data Pilah, Issue Gender Lintas

Pembangunan, Analisis,

Strategi

(Kebijakan Program)

&

Penganggaran

RENSTRA

SKPD

RENJA

SKPD

RKA-SKPD

PENJ

APBD

KUA PPAS

Integrasikan pedoman

penyusunan RKA-SKPD

dengan Analisis Gender

Bagan Alir

Perencanaan & Penganggaran

(58)

FILOSOFI RKA

SKPD DENGAN ANALISIS GENDER

Pengawasan oleh masyarakat thdp

pelaks pembangunan ;

Penerima manfaat pembangunan

Referensi

Dokumen terkait

Terapi kombinasi metformin dan glibenklamid memiliki efek sinergis sehingga kombinasi kedua obat ini dapat menurunkan glukosa darah lebih banyak daripada pengobatan tunggal

Tetapi di Sulawesi pembangunan kapal didahului dengan pemasangan kulit dan kemudian diikuti dengan pemasangan gading (rangka badan kapal). 2) Pemasangan kulit terhadap

Selanjutnya turun ke tiap kecamatan untuk menetapkan sampel sejumlah 10 (lima belas) orang yang dipilih secara acak. Sampel terplih diberikan angket atau kuisioner

Pada kelompok ini mahasiswa diperbolehkan membuat rancangan perangkat lunak database yang bersifat dinamis dari segi penyimpanan data, sehingga mahasiswa tersebut diharuskan

SEKRETARIAT DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN LAUT BAGIAN PERENCANAAN SUBBAGIAN RENCANA SUBBAGIAN PROGRAM BAGIAN KEUANGAN SUBBAGIAN PELAKSANAAN ANGGARAN SUBBAGIAN PERBENDAHARAAN

Bagi pasien rujukan dari praktek dokter/Rumah Sakit/Balai Pengobatan Swasta yang memerlukan pemeriksaan Penunjang Medis,Pemeriksaan Khusus dan Rehabilitasi Medik

Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: (1) Terdapat penurunan yang bermakna model pelatihan anaerobik dalam menurunkan kelebihan berat badan atlet judo