METODE TAH{FI<Z{ AL-
QUR’AN DAN PEMBENTUKAN
GENERASI RABANI
(Studi multi kasus di SD Islam Terpadu Ar-Rayyan Surabaya
dan SD Islam Sari Bumi Sidoarjo)
TESIS
Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Syarat
Memperoleh Gelar Magister dalam Program Studi Pendidikan Agama Islam
Oleh:
Oscar Wardhana Windro Saputro NIM. F.132.13.115
PASCASARJANA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA
vi ABSTRAK
Oscar Wardhana Windro Saputro. F.132.13.115, Metode Tah}fi>z} al-Qur’an dan Pembentukan Generasi Rabani (Studi multi kasus di SDIT Ar-Rayyan Surabaya dan SD Islam Sari Bumi Sidoarjo), Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, Tahun 2017. Pembimbing: Dr. H. Saiful Jazil, M.Ag.
Kata Kunci: Metode, Tah}fi>z} al-Qur’an, Generasi Rabani
Pendidikan Islam adalah pendidikan yang seluruh komponen atau aspeknya didasarkan pada ajaran Islam yang sumber paling utamanya adalah al-Qur’an al-Kari>m. Al-Qur’an adalah pondasi dalam membentuk generasi rabani yaitu generasi yang mapan dalam segi ibadah, akhlak/etika dan memiliki jiwa kepemimpinan. Penelitian ini difokuskan pada permasalahan mengenai : (1) proses penerapan metode tah}fi>z} al-Qur’an yang dilakukan; (2) Upaya mewujudkan generasi rabani melalui metode tah}fi>z} al-Qur’an yang diterapkan; (3) faktor pendukung dan penghambat metode tah}fi>z} al-Qur’an dalam mewujudkan generasi rabani.
Penelitian ini termasuk ke dalam penelitian lapangan (field research) dengan pendekatan kualitatif. Metode yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif interaktif dengan metode studi kasus. Data primer dalam penelitian ini berupa hasil wawancara dan observasi terhadap pembelajaran
tah}fi>z} al-Qur’an, adapun data sekunder berasal dari buku, jurnal, dan dokumen-dokumen terkait. Teknik pemeriksaan data yang digunakan yaitu teknik ketekunan pengamatan dan triangulasi sumber.
Dari penelitian ini didapatkan temuan yaitu : (1) Metode tah{fi>z{ al-Qur’an yang diterapkan di SDIT Ar-Rayyan merupakan gabungan dari dua metode yaitu metode talaqqy atau talqi>n dan metode tasmi>’ dan mura>ja’ah. Adapun metode tah}fi>z} al-Qur’an yang dilaksanakan di SDI Sari Bumi Sidoarjo adalah metode al-Muyassar yang merupakan gabungan dari metode talaqqy atau talqi>n, metode tasmi>’ dan mura>ja’ah, dan metode kita>bah. (2) Usaha yang dilakukan dalam rangka membentuk generasi rabani melalui metode tah}fi>z} al-Qur’an yaitu di antaranya dengan penanaman nilai-nilai al-Qur’an dalam ibadah maupun akhlak dalam h{alaqah, dan penetapan kualifikasi guru tah}fi>z} al-Qur’an. (3) Di antara faktor yang mendukung tah}fi>z} al-Qur’an yaitu jumlah guru yang cukup, alokasi waktu yang banyak, metode yang tersusun dengan sistematis, dan partisipasi orang tua. Adapun faktor yang menghambat di antaranya : keluar masuknya guru, adanya siswa yang belum bisa membaca al-Qur’an dan adanya siswa yang tidak mengulang hafalan di rumah.
vii
ثحبلا صخلم
َثحبلاَتاملك
َ:
يارلاَلي اَ،نآرقلاَظيفحَ،ةقيرط
َ
َ
َميلاعتَ ىلعَ اهئازجأَ عيمَ تدمتعاَ لاَ ةيبرلاَ ي َ ةيملسإاَ ةيبرلا
مركلاَنآرقلاَاهساسأَ لاَملسإا
َ.
َنآرقلا
َو وَ،يارلاَلي اَنيوكتَيَنكرلاَو
ةسارلاَىلعَةردقَهلوَ،قلخأاوَ،ةدابعلاَثيحَنمَنكمتماَلي ا
.َ
َزكرمَثحبلاَاذ
َي َرومأَةدعَىلع
(َ:
1
َ)
َةيرا اَنآرقلاَظيفحَةقيرطَةيفيك
(
2
َ)
َءاشنإَيَلامعأا
َنآرقلاَظيفحَللخَنمَيارَليج
(
3
َ)
لاوَقئاوعلا
َرَليجَءاشنإَيَعفاود
َنمَيا
نآرقلاَظيفحَللخ
.َ
يفيكلاَ ثحبلاَ نمضَ نمَ و وَ ياديماَ ثحبلاَ نمَ ثحبلاَ اذ
َ
يكارشاا
َ
ةلاحَ ةساردب
َ .
طتَ ءانثأَ ةظحلماوَ ةلباقماَ نوكتَ ةيلوأاَ تاايبلا
َقيب
نآرقلاَظيفح
َ.
هبَةقلعتماَةقيثولاوَ،بتكلاَللخَنمَنوكتَةيوناثلاَتاايبلاَامأ
َ.
َتاايبلاَليلحَةقيرط
تاايبلاَدكأوَةرمتسماَةظحلماَةقيرطبَنوكت
.َ
َةجيتنلاَتدجوَثحبلاَءاهإَدعب
(َ:
1
َ)
َةمدختسماَنآرقلاَظيفحَةقيرط
َي
"
SDIT Ar-Rayyan Surabaya
َ"
َوَنقلتلاَوأَيقلتلاَةقيرطَي
ةقيرطبَجزم
َ
َعيمستلا
َو
ةعجارما
َ.
َيَةمدختسماَنآرقلاَظيفحَةقيرطَامأو
"
SDI Sari Bumi Sidoarjo
َ"
َو
بَةموسوماَةقيرطلا
َ ـَ
"
metode al-Muyassar
ix DAFTAR ISI
Sampul Dalam ... i
Pernyataan Keaslian ... ii
Persetujuan Pembimbing ... iii
Pengesahan Tim Penguji ... iv
Pedoman Transliterasi ... v
Abstrak (Indonesia) ... vi
Abstrak (Arab) ... vii
Ucapan Terima Kasih ... viii
Daftar Isi ... ix
Daftar Tabel ... xiv
BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi dan Batasan Masalah ... 5
C. Rumusan Masalah ... 5
D. Tujuan Penelitian ... 6
E. Kegunaan Penelitian ... 6
F. Kerangka Teoritik ... 7
x
2. Pengertian Tah}fi>z} Al-Qur’an ... 8
3. Metode Tah}fi>z} Al-Qur’an ... 9
4. Generasi Rabani ... 11
G. Penelitian Terdahulu ... 14
H. Metode Penelitian ... 16
1. Jenis Penelitian ... 16
2. Sumber Data ... 17
3. Metode Pengumpulan Data ... 17
4. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data ... 18
5. Metode Analisa Data ... 19
I. Sistematika Pembahasan ... 20
BAB II : KAJIAN TEORI A.Metode Tah{fi>z{ Al-Qur’an ... 22
1. Definisi Metode Tah{fi>z{ Al-Qur’an ... 22
a) Pengertian Metode ... 22
b) Pengertian Tah}fi>z} Al-Qur’an ... 23
2. Sejarah Metode Tah{fi>z{ Al-Qur’an di Masa Rasulullah s}allallahu ‘alaihi wa sallam ... 24
xi
B. Jenis Metode Tah{fi>z{ Al-Qur’an ... 33
C. Keutamaan H{a>fiz} Al-Qur’an ... 36
D. Implementasi Metode Tah{fi>z{ Al-Qur’an dalam Mewujudkan Generasi Rabani ... 43
1. Metode Tah{fi>z{ Al-Qur’an dan pembentukan Ibadah ... 44
2. Metode Tah{fi>z{ Al-Qur’an dan Pembentukan Akhlak ... 46
3. Metode Tah{fi>z{ Al-Qur’an dan Pembentukan Jiwa Kepemimpinan ... 47
BAB III : PROFIL LOKASI PENELITIAN A.SD Islam Terpadu Ar-Rayyan ... 50
1. Sejarah dan Perkembangan ... 50
2. Visi dan Misi Lembaga ... 51
3. Letak Geografis ... 51
4. Profil Lembaga ... 51
B. SD Islam Sari Bumi ... 53
1. Sejarah dan Perkembangan ... 53
2. Visi dan Misi Lembaga ... 53
3. Letak Geografis ... 54
xii
BAB IV : PEMAPARAN DATA DAN ANALISIS
A. Pemaparan Data ... 60
1.SD Islam Terpadu Ar-Rayyan ... 60
a. Penerapan Metode Tah{fi>z{ Al-Qur’an ... 60
i. Alokasi Waktu Tah{fi>z{ Al-Qur’an ... 60
ii. Target Hafalan ... 61
iii. Metode Tah{fi>z{ al-Qur’an ... 61
iv. Evaluasi dan Penilaian ... 65
b. Metode Tah{fi>z{ Al-Qur’an dalam Membentuk Generasi Rabani ... 67
c. Faktor Pendukung dan Penghambat ... 70
2. SD Islam Sari Bumi ... 74
a. Penerapan Metode Tah{fi>z{ Al-Qur’an ... 74
i. Alokasi Waktu Tah{fi>z{ Al-Qur’an ... 74
ii. Target Hafalan ... 77
iii. Metode Tah{fi>z{ al-Qur’an ... 80
iv. Evaluasi dan Penilaian ... 84
xiii
c. Faktor Pendukung dan Penghambat ... 92
B. Analisis ... 97
1. Penerapan Metode Tah{fi>z{ Al-Qur’an ... 97
a. SD Islam Terpadu Ar-Rayyan ... 97
b. SD Islam Sari Bumi ... 100
2. Metode Tah{fi>z{ Al-Qur’an dalam Membentuk Generasi Rabani .... 103
a. SD Islam Terpadu Ar-Rayyan ... 103
b. SD Islam Sari Bumi ... 106
3. Faktor Pendukung dan Penghambat ... 109
a. SD Islam Terpadu Ar-Rayyan ... 109
b. SD Islam Sari Bumi ... 112
BAB V : PENUTUP A. Kesimpulan ... 117
B. Saran ... 118
DAFTAR KEPUSTAKAAN ... 119
LAMPIRAN ... 124
xiv
DAFTAR TABEL
Tabel.3.1 Daftar nama guru pengajar SDIT Ar-Rayyan Surabaya ... 52
Tabel.3.2 Daftar staf pengajar di SD Islam Sari Bumi Sidoarjo ... 57
Tabel 4.1 Rangkaian Pelaksanaan KBM Tahfiz dan Tahsin al-Qur’an / IQRO’
Senin-Kamis SDIT Ar-Rayyan Semester 2 TA 2016-2017 ... 64
Tabel 4.2 Rangkaian Pelaksanaan KBM Tahfiz dan Tahsin al-Qur’an / IQRO’
Hari Jumat SDIT Ar-Rayyan Semester 2 TA 2016-2017 ... 64
Tabel 4.3 Rangkaian Pelaksanaan KBM Tahfiz dan Tahsin al-Qur’an / IQRO’
Hari Sabtu SDIT Ar-Rayyan Semester 2 TA 2016-2017 ... 65
1
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan Islam adalah pendidikan yang seluruh komponen atau aspeknya didasarkan pada ajaran Islam.1 Maka Pendidikan Islam tidaklah bersandar pada naluri dan logika semata yang terlepas dari syariat Islam, akan tetapi terdapat sumber yang mengaturnya sehingga sesuai dengan batasan yang
diperintahkan oleh Allah ta’ala dan berusaha mewujudkan tujuan dari syariat Islam dan membawa kepada kebahagiaan dunia akhirat, dan sumber yang paling utama adalah al-Qur’an al-Kari>m.2
Al-Qur’an sebagai kitab suci yang berisi petunjuk dari Allah subh{a>nahu
wa ta’a>la>, mencakup petunjuk dalam segala sisi kehidupan manusia, termasuk
dalam bidang pendidikan. Oleh karena itu pendidikan Islam tidak akan mungkin lepas dari al-Qur’an. Bahkan pendidikan Islam seyogyanya berjalan di atas landasan cahaya al-Qur’an yang merupakan wahyu ilahi. Hal tersebut juga disadari oleh para pendidik dan cendekiawan Islam, sehingga mereka senantiasa menjadikan al-Qur’an sebagai sebagai dasar pendidikan Islam.
Ibn Khaldu>n pernah mengutarakan di dalam kitabnya Muqaddimah
tentang pentingnya pembelajaran al-Qur’an sebagai dasar pondasi ilmu pengetahuan, dia berkata : Ketahuilah bahwa pengajaran anak-anak untuk menghafal al-Qur’an adalah salah satu syiar Islam yang dipegang teguh oleh pemeluk agama ini dan dipraktekkan di seluruh negeri-negeri kaum muslimin, hal itu dikarenakan ayat-ayat al-Qur’an dan matan-matan hadits mengokohkan keimanan dan aqidah di dalam hati anak-anak. Al-Qur’an adalah pondasi pembelajaran yang akan menjadi dasar bagi segala macam ilmu yang akan dia pelajari setelahnya. Kemudian yang menjadi sebab hal tersebut adalah karena pendidikan di masa kanak-kanak lebih kokoh dan menjadi pondasi bagi pendidikan setelahnya, karena pendahuluan yang menyentuh hati akan menjadi
1 Abuddin Nata, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta : Prenada Media, 2012 M) 36.
2 Kha>lid al-H{a>zimy, Us}u>l al-Tarbiyah al-Isla>miyyah (Madinah : Da>r ‘A<lam al-Kutub, 1420 H),
2
asas bagi ilmu setelahnya, dan segala ilmu pengetahuan yang akan dibangun tergantung dari asas pondasi dan keadaannya.3
Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar yang abadi bagi Rasul kita
s}allallahu ‘alaihi wa sallam, yang telah dijamin keotentikannya oleh Allah
subh{a>nahu wa ta’a>la> dan terjaga dari segala bentuk penyelewengan maupun
perubahan, dan tidak seperti kitab-kitab sebelumnya, Allah menjamin di dalam firman-Nya :
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya4.5
Di antara makna firman-Nya : “dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” yaitu memelihara dengan cara menjaganya di dada para penghafal al-Qur’an.6 Maka di antara bentuk penjagaan Allah terhadap
al-Qur’an adalah dengan menjadikannya mudah untuk dihafal dan Allah memilih
di antara para hamba-Nya untuk menjadi pembawa al-Qur’an dengan menjadi penghafalnya. Allahsubh}a>nahu wa ta’a>la> berfirman :
Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk dihafal, Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran?7
Oleh karena itu Allah dan Rasul-Nya banyak memotivasi kaum muslimin untuk berusaha menjadi para penghafal al-Qur’an. Di antara bentuk motivasi tersebut adalah dengan menjanjikan kemuliaan bagi penghafal
al-Qur’an sebagaimana yang disebutkan dalam sabda Rasulullah s}allallahu ‘alaihi
wa sallam berikut ini :
3 Khaldu>n, Ibn, Muqaddimah Ibn Khaldu>n (-- : Da>r Ya’rub, 1425 H), 1/346. 4 QS.al-Hijr (15) : 9.
3
ُ ءيِجَ
ُ
ُ نآْر قلا
ُ
ُجمْوج ي
ُ
ُِةجماجيِقلا
ُ
ُ لو قج يج ف
ُ:
ُجيُ
ُِ بجر
ُ
،ِهِ لجح
ُ
ُ سجبْل يج ف
ُ
ُجججَ
ُ
،ِةجماجرجكلا
ُُ
م ث
ُ
ُ لو قج ي
ُ:
ُجيُ
ُِ بجر
ُ
، ْدِز
ُ
ُ سجبْل يج ف
ُ
ُجةمل ح
ُ
،ِةجماجرجكلا
ُُ
م ثُ
ُ لو قج ي
ُ:
ُجيُ
ُِ بجر
ُ
ُجضْرا
ُ
، هْجع
ُ
ىجضْرج يج ف
ُ
، هْجع
ُ
ُ لاجق يج ف
ُ
ُ هجل
ُ:
ُْأجرْ قا
ُ
،جقْراجو
ُ
ُ داجز يجو
ُ
ُِ ل كِب
ُ
ُ ةجيآ
ُ
ُ ةججسجح
Al-Qur’an akan datang pada hari kiamat lalu berkata : wahai Rabb-ku, hiasilah dia, maka dikenakanlah mahkota kemuliaan. Kemudian al-Qur’an berkata : wahai Rabb-ku, tambahkanlah baginya, maka dipakaikanlah baginya pakaian kemuliaan. Kemudian al-Qur’an berkata : wahai Rabb-ku, ridhailah dia, maka Allah pun meridhainya, lalu dikatakan kepadanya : bacalah dan naiklah, ditambah baginya bagi setiap ayat satu kebaikan.8
Mahkota dan pakaian kemuliaan di dalam hadits tersebut bukan hanya diberikan kepada si penghafal al-Qur’an, namun juga akan diberikan kepada kedua orang tuanya. Itulah keutamaan yang besar bagi penghafal al-Qur’an, dimana dia akan memberikan kebahagiaan dan kebanggaan yang besar bagi kedua orang tuanya. Hal ini bersandarkan kepada hadits Nabis}allallahu ‘alaihi
wa sallam :
ُجمُْن
ُ
ُجأجرج ق
ُ
ُجنآْر قلا
ُ
ُجمملجعج تجو
ُ
ُجلِمجعجو
ُ
ُِهِب
ُ
ُجسِبْل أ
ُ
اجدِلاجو
ُ
ُجمْوج ي
ُ
ُِةجماجيِقلا
ُ
ا ججَ
ُ
ُْنِم
ُ
ُ رْو ن
ُ
ُ ؤْوجض
ُ
ُ لْثِم
ُ
ُِءْوجض
ُ
ُِسْممشلا
ُ
ىجسْك يجو
ُ
ُ اجدِلاجو
ُ
ُِْيج تمل ح
ُ
ُجل
ُ
ُ مْو قج ي
ُ
اجم جَ
ُ
اجيْ نُدلا
ُ
ُِنجلْو قج يج ف
ُ
ُ:
ُجِبُ
اجْ يِس ك
ُ
؟اجذج
ُ
ُ لاجق يج ف
:ُ
ُِذْخجِِ
ُ
اجم كِدجلجو
ُ
ُجنآْر قلا
Barangsiapa yang membaca al-Qur’an dan mempelajarinya dan beramal dengannya, maka di hari kiamat kelak, kedua orang tuanya akan dikenakan mahkota dari cahaya yang bersinar seperti cahaya matahari, dan akan dipakaikan pakaian yang keindahannya mengalahkan dunia dan seisinya. Lalu keduanya bertanya : dengan sebab apa kami diberikan kenikmatan ini? Maka dikatakan kepada keduanya : sebabnya adalah anakmu yang telah menghafal al-Qur’an.9
Oleh karena sebab-sebab tersebutlah, maka menghafalkan al-Qur’an dan mengajarkannya hukumnya adalah fardhu kifayah, al-Imam al-Suyu>t}y berkata dalam kitabnya al-Itqa>n : Ketahuilah, bahwasannya menghafalkan
al-Qur’an hukumnya adalah fardhu kifayah atas seluruh umat, dan hal ini ditegaskan oleh al-Jurja>ny dalam kitabnya al-Sha>fy, begitupula al-‘Uba>dy dan para ulama lainnya. Al-Juwainy berkata : dan maksud dalam pernyataan ini
8 Turmudhy (al), Sunan al-Turmudhy (Mesir : Syarikah Mus}t}afa>, 1975 M), 5/178, no.2915 9 H{a>kim (al), al-Mustadrak ‘ala> al-S{ah}i>hain (Beirut : Da>r al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1411 H),
4
adalah agar tidak terputus jumlah yang banyak sehingga tidak terjadi perubahan dan penyelewengan di dalamnya, maka jika telah ada sejumlah orang yang cukup menghafalnya maka jatuh kewajiban atas yang lainnya, namun jika tidak, maka semuanya terkena dosa. Begitupula hukum mengajarkan hafalan al-Qur’an adalah fardhu kifayah, dan hal ini merupakan salah satu jenis ibadah yang paling utama, di dalam al-S{ah}i>h disebutkan : Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.10
Hal inilah yang mendorong banyak di antara kaum muslimin berlomba-lomba untuk mempelajari al-Qur’an dengan masuk ke dalam pondok-pondok pesantren dan memasukkan juga anak-anak mereka ke pondok-pondok tersebut.
Namun pada saat ini banyak di antara para orang tua murid yang menyekolahkan anaknya ke sekolah formal juga menginginkan anak-anaknya mendapatkan pengajaran hafalan atau tah}fi>z} al-Qur’an, mengingat besarnya keutamaan yang akan diraih bukan saja bagi sang anak namun juga bagi kedua orang tuanya. Hal ini kemudian menjadi sebuah tuntutan bagi sekolah-sekolah formal untuk mengadakan pengajaran tah}fi>z} al-Qur’an.
Bahkan pada saat ini program hafalan al-Qur’an yang dilakukan oleh sekolah-sekolah tersebut menjadi daya tarik tersendiri yang menarik para orang tua untuk menyekolahkan anaknya. Orang tua siswa akan memberikan pertimbangan lebih untuk program hafalan al-Qur’an yang ditawarkan oleh pihak sekolah. Fenomena yang terjadi ini menyebabkan sekolah-sekolah khususnya sekolah tingkat dasar berusaha untuk mengadakan pengajaran tah}fi>z} al-Qur’an bagi para siswanya sebagai nilai plus bagi para orang tua siswa.
Namun pelaksanaan pembelajaran tah}fi>z} al-Qur’an di sekolah tentu akan menghadapi berbagai macam permasalahan dalam proses pelaksanaannya. Oleh karena itu perlu untuk dilakukan penelitian mengenai pembelajaran tah}fi>z} al-Qur’an di sekolah-sekolah dasar formal, sehingga dapat diketahui metode pembelajaran apa yang sesuai untuk diaplikasikan, dan apa saja problematika yang terjadi di dalamnya sehingga dapat dicari solusi untuk
10 Suyu>t}y (al), Al-Itqa>n fi> ‘Ulu>m al-Qur’an ( Kairo : al-Hai’ah al-Mis}riyyah al-‘A<mah li al
5
mengatasinya. Maka di sini penulis mengajukan penelitian berjudul : “Metode
Tah}fi>z} al-Qur’an dan Pembentukan Generasi Rabani (Studi multi kasus di
SDIT Ar-Rayyan Surabaya dan SD Islam Sari Bumi Sidoarjo).”
B. Identifikasi dan Batasan Masalah
Penelitian ini akan difokuskan pada metode pembelajaran tah}fi>z}
al-Qur’an yang dilaksanakan di SDIT Ar-Rayyan Surabaya dan SD Islam Sari Bumi Sidoarjo. Untuk itu data-data penelitian akan dicari dari sumber-sumber yang terkait, baik kepala sekolah, para guru dan para siswa. Di samping itu juga diperlukan data-data berupa dokumen pembelajaran tah}fi>z} al-Qur’an di sekolah tersebut.
Di samping itu, akan diteliti pula pemikiran para ulama tentang metode pembelajaran tah}fi>z} al-Qur’an, untuk melihat keselarasan metode yang telah dilaksanakan dengan pemikiran para ulama. Dapat pula dilihat metode yang lebih tepat ataupun kombinasi dari beberapa metode untuk meningkatkan efektifitas pembelajaran.
Begitu pula tidak menutup kemungkinan dalam penelitian ini ketika ditemukan kasus permasalahan dalam pembelajaran tah}fi>z}, untuk kemudian dianalisis dan dicari solusinya untuk pengembangan pembelajaran tah}fi>z} ke depan.
C. Rumusan Masalah
Dari penjelasan latar belakang penelitian yang telah dipaparkan di atas, maka permasalahan yang akan diuraikan dalam tesis ini dirumuskan dalam bentuk beberapa pertanyaan berikut ini :
1. Bagaimana proses penerapan metode tah}fi>z} al-Qur’an yang dilakukan di SDIT Ar-Rayyan Surabaya dan SD Islam Sari Bumi Sidoarjo?
6
3. Apa faktor pendukung dan penghambat metode tah}fi>z} al-Qur’an dalam mewujudkan generasi rabani di SDIT Ar-Rayyan Surabaya dan SD Islam Sari Bumi Sidoarjo?
D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas maka tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui proses penerapan metode tah}fi>z} al-Qur’an yang dilakukan di SDIT Ar-Rayyan Surabaya dan SD Islam Sari Bumi Sidoarjo. 2. Untuk mengetahui cara mewujudkan generasi rabani melalui metode tah}fi>z}
al-Qur’an yang diterapkan di SDIT Ar-Rayyan Surabaya dan SD Islam Sari Bumi Sidoarjo.
3. Untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat metode tah}fi>z}
al-Qur’an dalam mewujudkan generasi rabani di SDIT Ar-Rayyan Surabaya dan SD Islam Sari Bumi Sidoarjo.
E. Kegunaan Penelitian
Penelitian yang dilakukan ini diharapkan untuk dapat memberikan manfaat bagi penulis pribadi, maupun bagi UIN Sunan Ampel Surabaya dan bagi dunia pendidikan Islam pada umumnya. Adapun penjabaran manfaat ini, yaitu :
1. Bagi penulis : Dapat memberikan bagi penulis pengetahuan dan kemampuan untuk mengembangkan diri dalam menekuni bidang pendidikan Islam. 2. Bagi UIN Sunan Ampel Surabaya : Dapat menambah khazanah ilmu
pengetahuan khususnya di bidang pendidikan Islam, sehingga dapat dimanfaatkan oleh civitas akademika UIN Sunan Ampel Surabaya.
7
F. Kerangka Teoritik
Sebelum dilakukannya penelitian di lapangan, maka dibutuhkan suatu kajian pendahuluan secara teoritik untuk mengetahui bidang yang akan diteliti. Hal ini juga perlu dilakukan untuk memudahkan peneliti dalam penelitiannya di lapangan. Di antara kajian pendahuluan yang perlu dipahami adalah sebagai berikut :
1. Pengertian Metode
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa metode adalah cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai yang dikehendaki; cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.11
Dalam pandangan filosofis pendidikan, metode merupakan alat yang dipergunakan untuk mencapai tujuan pendidikan. Alat itu mempunyai fungsi ganda, yaitu : bersifat polipragmatis dan monopragmatis. Polipragmatis bilamana metode mengandung kegunaan yang serba ganda (multi-purpose), misalnya suatu metode tertentu pada situasi kondisi tertentu dapat digunakan untuk membangun atau memperbaiki sesuatu. Kegunaannya dapat tergantung pada si pemakai, atau pada corak, bentuk dan kemampuan mengguakan metode sebagai alat. Sebaliknya, monopragmatis bilamana metode mengandung satu macam kegunaan untuk satu macam tujuan.12
Metode adalah seperangkat cara, dan jalan yang digunakan oleh pendidik dalam proses pembelajaran agar peserta didik dapat mencapai tujuan pembelajaran atau menguasai kompetensi tertentu yang dirumuskan dalam silabi mata pelajaran.13
Berbagai metode pengajaran tersebut pada intinya ialah berbagai alternatif jalan yang dapat ditempuh agar pengajaran dapat berjalan efektif,
11 Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta : Balai Pustaka, 2005), 740.
8
memberi pengaruh dan mampu memberikan perubahan kepada peserta didik.14
Selain istilah metode, terdapat beberapa istilah lainnya yang memiliki makna yang hampir sama, di antaranya adalah strategi, pendekatan, taktik, dan teknik. Oleh karena itu perlu diketahui masing-masing makna dari istilah-istilah tersebut.
Strategi menunjukkan pada sebuah perencanaan untuk mencapai sesuatu. Pendekatan (approach), merupakan titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran. Taktik adalah gaya seseorang dalam melaksanakan suatu teknik atau metode tertentu. Taktik sifatnya lebih individual.15 Teknik adalah apa yang sesungguhnya terjadi dalam kelas dan merupakan pelaksanaan dari metode.16 Model adalah seperangkat prosedur yang berurutan untuk mewujudkan suatu proses. Dapat pula diartikan sebagai sesuatu yang menggambarkan adanya pola berpikir.17
2. Pengertian Tah}fi>z} Al-Qur’an
Tah}fi>z} berasal dari bahasa Arab yang diserap ke dalam bahasa
Indonesia. Oleh karena itu untuk dapat memahami makna sebenarnya dari kata tersebut dibutuhkan penelusuran melalui kitab ataupun kamus induk bahasa Arab.
Kata tah}fi>z} (
َ يظ
َ حَ ف
َ تـ
) sendiri berasal dari kata hifz} (ظ
َ ف
َ ح
), yang secaraetimologi bermakna menjaga (
ه س ر ح
َ:
ًَاظ ف حَ،َُه ظ ف ح
) 18. Oleh karena di dalam al-Qur’an Allahsubh{a>nahu wa ta’a>la> berfirman :
14
Abuddin Nata, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta : Prenada Media, 2010 M), 152. 15
Direktorat Lembaga Kependidikan Dirjen.Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga
Kependidikan Kementerian Kependidikan Nasional, Strategi Pembelajaran dan Pemilihannya
(Jakarta : 2008), 5-6. 16
Wa Muna, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab (Yogyakarta : Teras, 2011 M), 13.
17
Direktorat Lembaga Kependidikan Dirjen.Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga
Kependidikan Kementerian Kependidikan Nasional, Strategi Pembelajaran dan Pemilihannya
(Jakarta : 2008), 5. 18
Muhammad al-H{usainy, Ta>j al-‘Aru>s Min Jawa>hir al-Qa>mu>s (Beirut : Da>r al-Fikr, 1414 H),
9
...
65. … dan Kami akan dapat memberi Makan keluarga Kami, dan Kami akan dapat menjaga saudara Kami, dan Kami akan mendapat tambahan takaran (gandum) seberat beban seekor unta. itu adalah takaran yang mudah (bagi raja Mesir)".19
Adapun kata hifz} al-Qur’an maknanya adalah menghafalnya dalam hati20. Sedangkan kata tah}fi>z} (
َ يظ
َ حَ ف
َ تـ
) yang merupakan mas}dar dari katakerja (
َُظّ ف ُُ
َ
-
َ ظ ف ح
), di dalam al-Mu’jam al-Wasi>t} maknanya adalahmenjadikan seseorang hafal suatu ilmu atau ucapan (
َ لَُهَ
َ جَ ع
َ:
َ مَ
َ ل
َ كلا
َ و
َ لَ مَ
َ علا
َ
َ ظَُه
َ حَ ف
يَ ـَ ح
َ فَ
ُظ
َُه
)21.Menurut definisi secara bahasa tersebut, diketahui bahwa proses tah}fi>z} adalah kegiatan yang dilakukan oleh dua pihak, yaitu guru dan murid. Hal ini adalah karena kata-kata tah}fi>z memiliki sifat ta’diyah (ةيدعت), yaitu membutuhkan objek22, maka terjalinlah hubungan antara 2 pihak tersebut.
Dari penjelasan secara bahasa di atas, maka yang dimaksud dengan istilah tah}fi>z al-Qur’an adalah kegiatan menghafalkan al-Qur’an oleh seorang murid dengan bimbingan guru untuk menghafal al-Qur’an secara sempurna dalam hati.
3. Metode Tah}fi>z} Al-Qur’an
Dari penjelasan di atas, maka definisi metode tah}fi>z} al-Qur’an adalah suatu cara teratur dan sistematik yang digunakan untuk melaksanakan kegiatan menghafalkan al-Qur’an oleh murid dengan bimbingan guru untuk memudahkan proses kegiatan tersebut guna mencapai tujuan yaitu hafal
al-Qur’an secara sempurna.
19 QS. Yusuf (12) : 65.
20 Ahmad al-Muqry, al-Mis}ba>h} al-Muni>r fi> G{ari>b al-Sharh} al-Kabi>r (Beirut : Maktabah
al-‘Ilmiyyah, -), 1/142.
21 Ibrahim Mus}t}afa dkk., al-Mu’jam al-Wasi>t} (Kairo : Da>r al-Da’wah , -), 1/185.
22 Mahmud al-Zamakhshary, al-Mufas}s}al fi> S{un’ah al-I’ra>b (Beirut : Maktabah al-Hilal, 1993
10
Di antara metode yang banyak dipergunakan dalam pembelajaran tah}fi>z} al-Qur’an adalah sebagai berikut23 :
1.Metode Tasmi>’
Metode ini dilaksanakan dengan cara murid membacakan ayat al-Qur’an yang telah dihafal kepada gurunya, kemudian guru menetapkan batasan ayat -sesuai dengan kemampuan sang murid- yang harus dihafal di rumahnya untuk disetorkan keesokan harinya atau pada majelis yang lain. Guru mendengarkan bacaan murid ayat demi ayat secara hafalan.
2.MetodeTasmi>’ dan Mura>ja’ah
Metode ini dilakukan dengan cara murid membacakan sejumlah ayat
al-Qur’an yang telah dia hafal kepada gurunya, kemudian murid membacakan
batasan ayat-ayat yang sebelumnya telah dia hafal kepada gurunya untuk menguatkan hafalan sebelumnya.
3.MetodeTa’li>m al-Tajwi>d
Metode ini dilakukan dengan cara guru memperbaiki bacaan murid dan mengoreksi hal-hal yang keliru dari hukum-hukum tajwid. Guru meminta murid untuk mempraktekkan hukum-hukum tajwid, dan menjelaskan sebab hukumnya.
4.Metode Talqi>n Qobla al-Hifz{
Metode ini dilakukan dengan cara guru meminta kepada murid membaca potongan al-Qur’an, atau potongan surat, atau ayat-ayat yang ingin dihafal untuk keesokan harinya, dengan membaca dari mushaf lalu guru memperbaiki kesalahan dalam bacaannya agar ayat yang dihafal selamat dari kekeliruan.
Adapun metode lainnya disebutkan oleh Sa’dulloh ada 5 jenis, yaitu24
: 1.Metode Bi al-naẓar
Yaitu membaca dengan cermat ayat-ayat al-Qur’an yang akan dihafal dengan melihat mushaf al-Qur’an secara berulang-ulang. Bi al-naẓar hendaknya dilakukan sebanyak mungkin atau sebanyak 40 kali seperti yang
23 Ibra>hi>m al-Huwaimil, Taqwi>m Hifz{ al-Qur’an al-Kari>m wa Ta’li>mihi ( Riyadh : Majma’ al
-Malik Fahd, 1421 H), 95-96.
11
dilakukan oleh ulama terdahulu. Hal tersebut bertujuan untuk memperoleh gambaran menyeluruh tentang lafaz maupun urutan ayat-ayatnya.
2.Metode tah}fiẓ
Yang dimaksud dengan metode ini adalah menghafalkan sedikit demi sedikit ayat-ayat al-Qur’an yang telah dibaca berulang-ulang. Misalnya menghafal satu halaman yaitu menghafalkan ayat demi ayat dengan baik, kemudian merangkaikan ayat-ayat yang sudah dihafal dengan sempurna dimulai dari ayat awal, ayat kedua dan seterusnya.
3. Metode talaqqi>
Metode talaqqi> adalah menyetorkan atau mendengarkan hafalan yang baru
dihafal kepada seorang guru atau instruktur. Proses talaqqi> ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui hasil hafalan seorang murid tahfi>z{ serta untuk mendapatkan bimbingan secara langsung dari guru atau instruktur. 4.Metode takrīr
Metode takrīr adalah mengulang hafalan yang sudah pernah dihafalkan atau
sudah pernah di-sima’-kan kepada seorang guru atau instruktur. Takri>r dimaksudkan agar hafalan yang pernah dihafal tetap terjaga dengan baik, selain itu juga untuk melancarkan hafalan sehingga tidak mudah lupa. 5.Metode tasmi>’
Metode tasmi>’ adalah mendengarkan hafalan kepada orang lain, baik
kepada perseorangan maupun kepada jamaah. Dengan melakukan tasmi>’ seorang penghafal al-Qur’an akan diketahui kekurangan dalam hafalannya dan agar lebih berkonsentrasi.
4. Generasi Rabani
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa kata-kata rabani maknanya adalah yang berkenaan dengan Tuhan; bersifat ketuhanan.25 Makna tersebut terjadi karena kata-kata rabani adalah kata serapan dari bahasa Arab.
25 Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta : Balai
12
Allah subh{a>nahu wa ta’a>la> menyebutkan kata-kata rabani di antaranya adalah dalam firman-Nya :
Tidak sewajarnya bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya al-Kitab, Hikmah dan kenabian, lalu Dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabani, karena kamu selalu mengajarkan Al kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.26
Begitu pula di dalam firman-Nya :
mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan Perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnya Amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu.27
Al-imam Ibn Kathi>r rahimahullah menukilkan di dalam kitab tafsirnya:
Ibn ‘Abba>s, Abu> Razi>n, dan yang lainnya berkata : makna rabba>niyyi>n
adalah orang-orang yang bijak, yang berilmu, yang tenang. Al-Hasan dan yang lainnya berkata : maknanya orang-orang fakih yang memahami hukum-hukum Islam. Diriwayatkan pula dari al-Hasan : maknanya adalah ahli ibadah dan ahli taqwa.28
Al-imam al-Baghawy menyebutkan di dalam tafsirnya : Para mufassirin
berbeda pandangan tentang makna ayat “jadilah kalian orang-orang rabani”,
‘Ali, Ibn Abba>s, al-Hasan mengatakan : jadilah kalian orang-orang yang paham agama dan berilmu. Qata>dah berkata : orang-orang yang bijak dan
berilmu. Sa’i>d bin Jubayr berkata : orang berilmu yang mengamalkan
26 QS.Ali Imran (3) : 79 27 QS.al-Maidah (5) : 63
13
ilmunya. Disebutkan pula maknanya : rabani adalah orang yang mendidik manusia dengan ilmu dasar sebelum ilmu yang tinggi. Atha’ berkata : Orang-orang yang berilmu dan bijak yang memperhatikan para makhluk Allah karena-Nya. Abu Ubaidah berkata : aku mendengar seorang alim mengatakan : seorang rabani adalah orang berilmu yang mengetahui yang halal dan yang haram, mengetahui yang diperintah dan yang dilarang, mengetahui keadaan umat baik yang telah terjadi maupun sedang terjadi. Dikatakan bahwa orang-orang rabani di atas kedudukan para ah{ba>r, ah{ba>r adalah para ulama, adapun orang-orang rabani yaitu menggabungkan ilmu agama dengan kemampuan memimpin manusia.29
Dari penjelasan para mufassiri>n di atas, maka makna dari rabani adalah orang yang menguasai ilmu agama, bersikap tenang dan bijak dan memegang kepemimpinan di antara manusia. Hal ini sesuai dengan apa yang dijelaskan oleh Ibn Kathi>r ketika menafsirkan ayat ke-63 dari surat al-Maidah di atas : Makna orang-orang rabani adalah para ulama yang beramal dan yang memiliki kepemimpinan atas manusia.30
Hairuddin mengatakan bahwa generasi rabani adalah generasi yang mapan dari segi aqidah dan cakap dari etika/karakter.31
Dari penjelasan di atas, maka yang dimaksud dengan generasi rabani di dalam penelitian ini adalah generasi yang mapan dalam tiga hal, yaitu ibadah, akhlak/etika dan berjiwa kepemimpinan. Di mana ketiga hal tersebut dalam tingkat pendidikan yang diteliti, dalam hal ini pendidikan dasar maka terwakili masing-masingnya melalui sifat berikut : ibadah diwakili oleh kewajiban shalat 5 waktu, etika diwakili oleh sikap siswa kepada orang-orang di sekitarnya baik di rumah maupun sekolah, dan kepemimpinan diwakili oleh kemampuan menjadi imam shalat.
29 Baghawy (al), Ma’a>lim al-Tanzi>l ( -- : Da>r al-T{ayyibah, 1417 H), 2/60. 30 Kathi>r, Ibn, Tafsi>r al-Qur’an al-‘Az}i>m (-- : Da>r al-T{ayyibah, 1420 H), 3/144.
31 Hairuddin, Pendidikan Karakter Berbasis Sunnah Nabi (Jurnal Al-Ulum, IAIN Sultan Amai
14
G. Penelitian Terdahulu
Penelitian yang akan dilaksanakan ini diharapkan untuk dapat memperkaya khazanah ilmiah khususnya dalam bidang pendidikan Islam. Oleh karena itu diperlukan studi pendahuluan mengenai penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, agar tidak terjadi duplikasi karya ilmiah dari hasil penelitian terdahulu. Diharapkan hasil dari penelitian ini menjadi pengembangan dari penelitian sebelumnya, atau perincian dari kajian ilmiah yang telah dilakukan, atau jawaban dari problematika yang terjadi saat ini. Di antara penelitian yang sebelumnya telah dilakukan adalah :
1. Tesis oleh Iqlima Zahari yang berjudul “Pembelajaran Tah}fi>z} Al-Qur’an
(Studi Kasus di Ma’had ‘Umar Ibn al-Khat}t}a>b Surabaya)”, 2011. IAIN
Sunan Ampel Surabaya. Penelitian yang dilakukan termasuk ke dalam field
research (penelitian lapangan) dengan metode penelitian kualitatif. Adapun
pendekatan yang dipergunakan adalah pendekatan fenomenologis. Tesis ini meneliti tentang proses pembelajaran tah}fi>z} al-Qur’an di Mahad ‘Umar Ibn
al-Khat}t}a>b Surabaya dan perbedaan latar belakang santri yang berasal dari sekolah umum dan sekolah keagamaan. Dari penelitian yang telah dilakukan menghasilkan kesimpulan bahwa proses pembelajaran tah}fi>z}
al-Qur’an di Mahad ‘Umar Ibn al-Khat}t}a>b Surabaya dilakukan dalam tiga langkah yaitu perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Hasil lainnya yaitu terdapat persamaan dan perbedaan antara santri yang berasal dari sekolah umum dan sekolah keagamaan, persamaannya yaitu dalam semua program kegiatan seluruh siswa wajib menyelesaikannya dalam waktu 2 tahun, adapun perbedaannya adalah pada awal program dilaksanakan tes bacaan al-Qur’an di mana kebanyakan siswa yang berasal dari sekolah keagamaan telah memiliki kemampuan yang cukup, adapun siswa dari sekolah umum yang memiliki kemampuan kurang harus mengikuti program tah}si>n.
2. Tesis oleh R.Kholisol Muhlis yang berjudul “Metode Pembelajaran
15
pendekatan fenomenologis. Tesis ini membahas tentang proses pembelajaran tah}fi>z} al-Qur’an di Pondok Pesantren Bustanul Huffadz
Assaidiyah Sampang Madura. Dari penelitian tersebut didapatkan hasil yaitu program pendidikan yang dirancang bertujuan untuk mencetak santri
yang berjiwa Qur’ani, metode yang digunakan terbagi menjadi dua yaitu
santri secara umum dengan metode bi al-Naz}ar, bi al-G{aib, dan Qira>’ati, adapun yang kedua, bagi santri tunanetra dengan metode sama’i, untuk mengetahui tingkat penguasaan materi, santri wajib mengikuti ujian setahun sekali dengan materi : penguasaan tajwid, makha>rij al-h}uru>f, dan kemampuan membaca bi al-G}aib.
3. Tesis oleh Shofwan Aljauhari yang berjudul “Problematika Pembelajaran Tah}fi>z} al-Qur’an Program Khusus (PK.) Madrasah Tsanawiyah Perguruan
Muallimat Cukir Jombang Jawa Timur”, 2008. IAIN Sunan Ampel Surabaya. Penelitian yang dilakukan termasuk ke dalam field research (penelitian lapangan) dengan metode penelitian kualitatif. Adapun pendekatan yang dipergunakan adalah pendekatan fenomenologis. Tesis ini meneliti tentang faktor yang menghambat pencapaian target hafalan siswa program khusus di Madrasah Tsanawiyah Perguruan Muallimat Cukir Jombang Jawa Timur. Kesimpulan yang dihasilkan pada penelitian tersebut adalah adanya faktor penghambat dalam pembelajaran tah}fi>z} al-Qur’an
yaitu adanya perbedaan kompetensi siswi yang sangat kontras, adanya perbedaan intensitas pertemuan antara pendidik dengan siswi yang tinggal di asrama dan di luar asrama.
16
pengembangan bahan ajar dalam muatan lokal baca al-Qur’an agar
pembelajaran lebih efektif, hasil dari pengembangan berupa bahan ajar baru berupa metode Falahi, dan setelah diadakan pretest dan postest didapatkan hasil bahwa metode ini efektif dalam meningkatkan prosentase hasil kelulusan siswa.
Penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya memberikan gambaran kepada penulis bahwa belum pernah dilakukan penelitian mengenai metode tah}fi>z} al-Qur’an di sekolah dasar formal.
H. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian
Dilihat dari tempat pengambilan data atau berlangsungnya penelitian ini, maka penelitian ini termasuk ke dalam penelitian lapangan (field research).32
Oleh karena itu pendekatan yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll., secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.33
Metode yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif interaktif. Metode kualitatif interaktif adalah studi yang mendalam menggunakan teknik pengumpulan data langsung dari orang dalam lingkungan alamiahnya. Peneliti menginterpretasikan fenomena-fenomena bagaimana orang mencari makna daripadanya.34
Adapun secara khusus, metode kualitatif interaktif yang dipergunakan adalah studi kasus. Studi kasus (case study) merupakan suatu penelitian yang dilakukan terhadap suatu kesatuan sistem. Kesatuan ini dapat berupa
32 Lihat Trianto, Pengantar Penelitian Pendidikan (Jakarta : Kencana, 2011 M),160.
33 Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2007 M), 6. 34 Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan (Bandung : Remaja Rosdakarya,
17
program, kegiatan, peristiwa, atau sekelompok individu yang terikat oleh tempat, waktu, atau ikatan tertentu.35
2. Sumber Data
Yang dimaksud dengan sumber data dalam penelitian adalah subyek dari mana data dapat diperoleh.36 Dalam penelitian ini yang menjadi subyek penelitian adalah seluruh civitas sekolah di mana penelitian berlangsung yang berkaitan langsung dengan bidang yang diteliti, seperti kepala sekolah, guru tah}fi>z} al-Qur’an, siswa, dan yang lainnya.
Berdasarkan sumbernya, data penelitian dapat dikelompokkan dalam dua jenis yaitu : data primer dan data sekunder.
a. Data primer ialah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh peneliti secara langsung dari sumber datanya.
b. Data sekunder ialah data yang diperoleh atau dikumpulkan peneliti dari berbagai sumber yang sudah ada. 37
Data primer dalam penelitian ini berupa hasil wawancara dan observasi terhadap pembelajaran tah}fi>z} al-Qur’an di sekolah partisipatori, adapun data sekunder berasal dari buku, jurnal, dan dokumen-dokumen pendukung yang terkait dengan obyek yang diteliti.
3. Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data adalah prosedur yang sistematik dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan.38 Dalam penelitian ini metode pengumpulan data yang akan dilakukan adalah dengan wawancara, observasi dan analisis dokumen.
Wawancara adalah suatu bentuk dialog yang dilakukan oleh peneliti untuk memperoleh informasi dari narasumber39, dalam hal ini yaitu kepala sekolah, guru pengajar dan para siswa mengenai metode tah}fi>z} al-Qur’an
35 Ibid, 64.
36 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian; Suatu Pendekatan Praktik (Jakarta : Rineka Cipta, 2006 M), 129.
18
yang dipergunakan dan problematika yang dihadapi. Wawancara bersifat terstruktur, di mana peneliti berpedoman pada sejumlah pertanyaan yang lengkap dan terperinci. Data hasil wawancara yang dihasilkan berbentuk catatan lapangan ataupun dalam bentuk rekaman audio.
Observasi adalah suatu teknik pengumpulan data dengan jalan mengadakan pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung.40 Dalam penelitian ini penulis akan melakukan pengamatan secara global mengenai kondisi sekolah tempat penelitian ini berlangsung. Kemudian dilakukan observasi khusus terhadap kegiatan pembelajaran tah}fi>z}
al-Qur’an yang dilaksanakan di sekolah. Hal ini untuk melihat kesesuaian
metode tah}fi>z} al-Qur’an yang berlangsung dengan data lainnya dan mencari problematika yang terjadi selama proses kegiatan pembelajaran berlangsung.
Analisis dokumen atau studi dokumenter adalah suatu teknik pengumpulan data dengan menghimpun dan menganalisis dokumen-dokumen, baik dokumen tertulis, gambar maupun elektronik.41 Peneliti dalam hal ini akan berusaha mengumpulkan dokumen-dokumen yang berkaitan dengan obyek penelitian, baik berupa buku ajar, kartu hapalan, surat-surat, foto dan dokumen lainnya. Dokumen-dokumen tersebut akan dianalisis untuk mengetahui metode tah}fi>z} al-Qur’an yang dilakukan dan problematika yang dihadapi.
4. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data
Untuk menetapkan keabsahan (trustworthiness) data diperlukan teknik pemeriksaan. Pelaksanaan teknik pemeriksaan didasarkan atas sejumlah kriteria tertentu. Ada empat kriteria yang digunakan, yaitu : derajat kepercayaan (credibility), keteralihan (transferability), kebergantungan (dependability), dan kepastian (confirmability).42
40 Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2012 M), 220.
41 Ibid, 221.
42 Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2007 M),
19
Pemeriksaan keabsahan data dalam penelitian ini dilihat dari kriteria kepercayaan (credibility) datanya. Teknik pemeriksaan yang digunakan yaitu teknik ketekunan pengamatan dan triangulasi sumber.
Teknik ketekunan/keajegan pengamatan artinya melakukan pengamatan secara lebih cermat dan berkesinambungan. Dengan cara tersebut maka kepastian data dan urutan peristiwa akan dapat direkam secara pasti dan sistematis.43
Teknik triangulasi yaitu teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain. Di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Patton dalam Sugiyono (2007 : 330) menyebutkan bahwa triangulasi dengan sumber berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif.44
5. Metode Analisa Data
Analisis data adalah proses menyusun data agar data tersebut dapat ditafsirkan. Menyusun data berarti menggolongkannya ke dalam berbagai pola, tema, atau kategori. Tafsiran atau interpretasi artinya memberikan makna kepada analisis, menjelaskan pola atau kategori, mencari hubungan antara berbagai konsep.45
Data yang diperoleh selanjutnya dianalisa dengan analisis model Miles and Huberman melalui langkah-langkah berikut ini : reduksi data (data reduction), penyajian data (data display), penarikan kesimpulan atau verifikasi (conclusion drawing/ verification).46
Data yang telah didapatkan selama penelitian di lapangan yang berjumlah banyak dan beragam direduksi dengan cara dirangkum, dipilih hal-hal pokok, dan difokuskan pada hal-hal yang penting yang berkaitan
43 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Bandung : Alfabeta, 2009), 370.
44 Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2007 M), 330.
20
dengan masalah yang diteliti. Dengan dilakukannya reduksi maka diharapkan akan didapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai masalah yang diteliti dan mempermudah fase selanjutnya yaitu pemaparan data.
Pemaparan data adalah proses pemetaan informasi yang telah direduksi agar memungkinkan untuk diambil kesimpulan darinya. penyajian data dalam penelitian ini dilakukan dalam bentuk teks naratif ataupun bentuk lainnya yang sesuai dengan kebutuhan analisis data. Dengan pemaparan data diharapkan akan memudahkan penulis untuk memahami informasi data yang telah dikumpulkan dan menarik kesimpulan awal.
Langkah selanjutnya adalah penarikan kesimpulan yang dilakukan dengan meninjau kembali data-data yang telah tersusun. Data-data tersebut diuji kebenarannya secara terus-menerus hingga didapatkan kesimpulan yang mendalam. Dengan dilakukannya proses ini diharapkan dihasilkan kesimpulan yang kokoh dan valid.
I. Sistematika Pembahasan
Dalam memaparkan dan menguraikan penelitian ini, penulis menyusun kerangka sistematika pembahasan penelitian sebagai berikut :
Bab I yaitu bab pendahuluan. Bab ini meliputi beberapa sub bab yaitu : latar belakang masalah, identifikasi dan batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, kerangka teoritik, penelitian terdahulu, sistematika pembahasan.
Bab II yaitu bab kajian teori mengenai metode tah}fi>z} al-Qur’an. Bab ini
meliputi beberapa sub bab yaitu : definisi tah}fi>z} al-Qur’an dan metode tah}fi>z} al-Qur’an, sejarah metode tah}fi>z} al-Qur’an, tujuan tah}fi>z} al-Qur’an, jenis
metode tah}fi>z} al-Qur’an dan langkah-langkahnya, keutamaan h}a>fiz} al-Qur’an, dan implementasi metode tah}fi>z} al-Qur’an dalam mewujudkan generasi rabani.
21
Bab IV yaitu bab pemaparan data hasil penelitian dan analisis. Bab ini meliputi beberapa sub bab yaitu : proses penerapan metode tah}fi>z} al-Qur’an, metode tah}fi>z} al-Qur’an dan generasi rabani, faktor pendukung dan penghambat dalam pembelajaran tah}fi>z} al-Qur’an, dan analisis dari data yang diperoleh.
22
BAB II KAJIAN TEORI
A. Metode Tah{fi>z{ Al-Qur’an
1. Definisi Metode Tah{fi>z{ Al-Qur’an a) Pengertian Metode
Metode dalam bahasa Yunani berasal dari kata met hodos yang bermakna jalan. Adapun dalam bahasa Inggris metode berasal dari kata methode yang bermakna suatu prosedur, teknik atau cara yang direncanakan untuk melaksanakan sesuatu; aturan atau sistem untuk melakukan apapun.1
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa metode adalah cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai yang dikehendaki; cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.2
Dalam pandangan filosofis pendidikan, metode merupakan alat yang dipergunakan untuk mencapai tujuan pendidikan. Alat itu mempunyai fungsi ganda, yaitu : bersifat polipragmatis dan monopragmatis. Polipragmatis bilamana metode mengandung kegunaan yang serba ganda (multi-purpose), misalnya suatu metode tertentu pada situasi kondisi tertentu dapat digunakan untuk membangun atau memperbaiki sesuatu. Kegunaannya dapat tergantung pada si pemakai, atau pada corak, bentuk dan kemampuan menggunakan metode sebagai alat. Sebaliknya, monopragmatis bilamana metode mengandung satu macam kegunaan untuk satu macam tujuan.3
Metode adalah seperangkat cara, dan jalan yang digunakan oleh pendidik dalam proses pembelajaran agar peserta didik dapat mencapai tujuan pembelajaran atau menguasai kompetensi tertentu yang dirumuskan
1 Richard Marius, Webster’s College Dictionary (Toronto : Random House, 1991), 853. 2 Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta : Balai
Pustaka, 2005), 740.
23
dalam silabi mata pelajaran.4 Nana Sudjana menyebutkan bahwa metode mengajar ialah cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran, oleh karena itu peranan metode mengajar adalah sebagai alat untuk menciptakan proses mengajar dan belajar.5
Perpaduan antara kedua kegiatan ini (yaitu kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh guru dan murid) dapat direalisirkan dalam jenis metode. Metoda adalah cara yang sistematik yang digunakan untuk mencapai tujuan, di mana cara yang sistematik ini merupakan bentuk kongkrit daripada penerapan petunjuk-petunjuk umum pengajaran pada pada proses pengajaran tertentu.6
Berbagai metode pengajaran tersebut pada intinya ialah berbagai alternatif jalan yang dapat ditempuh agar pengajaran dapat berjalan efektif, memberi pengaruh dan mampu memberikan perubahan kepada peserta didik.7
Tah}fi>z} berasal dari bahasa Arab yang diserap ke dalam bahasa Indonesia. Oleh karena itu untuk dapat memahami makna sebenarnya dari kata tersebut dibutuhkan penelusuran melalui kitab ataupun kamus induk bahasa Arab.
b) Pengertian Tah}fi>z} Al-Qur’an
Kata tah}fi>z} (
َ يظ
َ حَ ف
َ تـ
) sendiri berasal dari kata hifz} (ظ
َ ف
َ ح
), yang secaraetimologi bermakna menjaga (
ه س ر ح
َ:
ًَاظ ف حَ،َُه ظ ف ح
) 8. Oleh karena di dalam al-Qur’an Allah subh{a>nahu wa ta’a>la> berfirman :...
4 Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta : Kalam Mulia, 2012 M), 272.
5 Nana Sudjana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar (Bandung : Sinar Baru Algesindo, 2010), 76.
6 I.L.Pasaribu & B.Simandjuntak, Proses Belajar Mengajar (Bandung : Tarsito, 1983), 13. 7 Abuddin Nata, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta : Prenada Media, 2010 M), 152.
24
65. … dan Kami akan dapat memberi Makan keluarga Kami, dan Kami
akan dapat menjaga saudara Kami, dan Kami akan mendapat tambahan takaran (gandum) seberat beban seekor unta. itu adalah takaran yang mudah (bagi raja Mesir)".9
Adapun kata hifz} al-Qur’an maknanya adalah menghafalnya dalam
hati10. Sedangkan kata tah}fi>z} (
َ يظ
َ حَ ف
َ تـ
) yang merupakan mas}dar dari kata kerja ( ظّ فحي - ظَفح), di dalam al-Mu’jam al-Wasi>t} maknanya adalah menjadikan seseorang hafal suatu ilmu atau ucapan (َ:
َ مَ
َ ل
َ كلا
ََ و
َ لَ م
َ علا
َ
َ ظَُه
َ حَ ف
َ جَ ع
َ لَُهَ
يَ ـَ ح
َ فَ
ُظ
َُه
)11.Menurut definisi secara bahasa tersebut, diketahui bahwa proses tah}fi>z} adalah kegiatan yang dilakukan oleh dua pihak, yaitu guru dan murid. Hal ini adalah karena kata-kata tah}fi>z} memiliki sifat ta’diyah (ةيدعت) yaitu membutuhkan objek12, maka terjalinlah hubungan antara 2 pihak tersebut.
Dari penjelasan di atas, maka definisi metode tah}fi>z} al-Qur’an
adalah suatu cara teratur dan sistematik yang digunakan untuk melaksanakan kegiatan menghafalkan al-Qur’an oleh murid dengan bimbingan guru untuk memudahkan proses kegiatan tersebut guna mencapai tujuan yaitu hafal al-Qur’an secara sempurna.
2. Sejarah Metode Tah{fi>z{ Al-Qur’an di Masa Rasulullah s}allallahu ‘alaihi
wa sallam
Al-Qur’an memiliki 3 tahapan ketika diturunkannya13, yang pertama adalah ketika diturunkan di al-Lauh} al-Mah}fuz}, dasarnya adalah firman Allah :
9 QS. Yusuf (12) : 65.
10 Ahmad al-Muqry, al-Mis}ba>h} al-Muni>r fi> G{ari>b al-Sharh} al-Kabi>r (Beirut : Maktabah
al-‘Ilmiyyah, -), 1/142.
11 Ibrahim Mus}t}afa dkk., al-Mu’jam al-Wasi>t} (Kairo : Da>r al-Da’wah, --), 1/185.
12 Mahmud al-Zamakhshary, al-Mufas}s}al fi> S{un’ah al-I’ra>b (Beirut : Maktabah al-Hilal, 1993 M), 341.
13 Mus}t}afa Dayb al-Bagha, al-Wa>d}ih fi> ‘Ulu>m al-Qur’an (Damaskus : Da>r al-Kalim al-T{ayyib,
25
(21). bahkan (yang didustakan mereka) itu ialah Al Quran yang mulia, (22). yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh.14
Yang kedua, al-Qur’an diturunkan secara sekaligus dari Lauh}
al-Mah}fuz} ke Bait al-‘Izzahdi langit dunia pada malam kemuliaan yang penuh
berkah pada bulan Ramadhan, sebagaimana yang Allah firmankan dalam ayat-ayat berikut ini :
...
(3). Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi
…15
Begitu pula firman-Nya :
(1). Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.16
Dan dalam firman-Nya :
...
(185). Bulan Ramadhan yang di dalamnya diturunkan Al Quran …17
Berkata al-Zurqa>ny : Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwasannya
al-Qur’an diturunkan dalam satu malam yang disifatkan bahwa malam tersebut
penuh dengan berkah sebagaimana disebutkan dalam surat ad-Dukhan, dan malam tersebut disebut sebagai malam kemuliaan sebagaimana disebutkan dalam surat al-Qadr, dan malam tersebut jatuh pada salah satu malam di bulan Ramadhan sebagaimana disebutkan dalam surat al-Baqarah. Telah diketahui pula melalui dalil-dalil yang pasti bahwasannya al-Qur’an
14 QS.al-Buru>j (85) : 21-22
26
diturunkan kepada Nabi secara berangsur-angsur, bukan dalam satu malam melainkan bertahun-tahun.18
Yang ketiga, al-Qur’an diturunkan dari Bait al-‘Izzah dengan perantaraan malaikat Jibril dan diwahyukan ke dalam hati Rasulullah.
Al-Qur’an turun secara berangsur-angsur sesuai kejadian dan peristiwa.19 Hal ini berdasarkan hadits-hadits berikut :
ُلييْْيج َلَعَجَف ،اَيْ ندلا يءاَمسلا يِ يةزيعْلا يتْيَ ب يِ َعيضُوَ ف ،يرْكي ذلا َنيم ُنآْرُقْلا َليصُف
َ ُ ي ُم َاسلا يهْيَلَع
ي ز
ُهُلي تَرُ يَو ،َملَسَو يهْيَلَع ُه ىلَص ي يِلا ىَلَع ُهُل
ًاييتْرَ ت
Al-Qur’an dipisahkan dari al-Dhikr (Lauh al-Mahfuzh), lalu diletakkan di Bait al-‘Izzah di langit dunia, lalu mulailah Jibril ‘alaihi al-Sala>m menurunkannya kepada Nabi, dan membacakannya dengan tartil.20
Dalam hadits lainnya disebutkan :
ينَع
َلاَق ُهنَأ ،ٍسابَع ينْبا
" :
يةَلْ يَل يِ اَيْ ندلا يءاَََ ََيإ ًةَديحاَو ًةَلُْ ُنآْرُقْلا َليزْنُأ
ًةََس َنييرْشيع يِ َكيلَذ َدْعَ ب َلي زُ ن ُ ،يرْدَقْلا
{
يسا لا ىَلَع َُأَرْقَ تيل ُاَْ قَرَ ف ًًآْرُ قَو
يزَْ ت ُاَْلزَ نَو ٍثْكُم ىَلَع
ًاي
}
[ "
ءارسإا
:
601
ِ
Dari Ibnu ‘Abbas, bahwasannya dia berkata : al-Qur’an diturunkan sekaligus ke langit dunia pada malam kemuliaan, kemudian setelah itu diturunkan berangsur-angsur selama dua puluh tahun, {dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.}.21
Adapun ayat yang pertama kali diturunkan kepada Nabi, maka tidak ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama, bahwasannya ayat-ayat yang pertama kali diturunkan dari al-Qur’an adalah lima ayat pertama dari surat al-Alaq.22 Hal ini berdasarkan hadits :
18 Muhammad Abd al-‘Az}i>m al-Zurqa>ny, Mana>hil al-‘Irfa>n fi> ‘Ulu>m al-Qur’a>n ( Lebanon :
Maktabah ‘Isa, --), 1/44.
19 Mana>’ al-Qat}t}a>n, Maba>h}ith fi> ‘Ulu>m al-Qur’a>n (-- : Maktabah al-Ma’a>rif, 2000), 97. 20 H{a>kim (al), al-Mustadrak ‘ala> al-S{ah}i>hain (Beirut : Da>r al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1411 H), 2/242, no.2881.
21 Baihaqy (al), Shu’ab al-I<ma>n (Riyadh : Maktabah al-Rushd, 1423 H), 3/522, No.2053. 22 Musa>’id al-T{ayya>r, Al-Muharrar fi> ‘Ulu>m al-Qur’an (Jedah : Ma’had al-Imam al-Shat}iby,
27
ْتَلاَق اَه نَأ َنييمْؤُما ي مُأ َةَشيئاَع ْنَع
:
يهْيَلَع ُه ىلَص يَا ُلوُسَر يهيب َئيدُب اَم ُلوَأ
ييْحَولا َنيم َملَسَو
َلْثيم ْتَءاَج ايإ ََْؤُر ىَرَ ي َا َناَكَف ،يمْو لا يِ ُةَيِاصلا ََْؤرلا
يهييف ُث َحَتَ يَ ف ٍءاَريح يراَغيب وُلََْ َناَكَو ،ُءَاَخا يهْيَليإ َبي بُح ُ ،يحْبصلا يقَلَ ف
َوَُو
ُدبَع تلا
ْنَأ َلْبَ ق يدَدَعلا يتاَوَذ َيِاَيللا
ُعيجْرَ ي ُ ،َكيلَذيل ُدوَزَ تَ يَو ،يهيلَْأ ََيإ َعيزَْ ي
ُكَلَما َُءاَجَف ،ٍءاَريح يراَغ يِ َوُ َو قَِا َُءاَج ََح ،اَهيلْثيميل ُدوَزَ تَ يَ ف َةَجيدَخ ََيإ
َلاَقَ ف
:
َلاَق ،ْأَرْ قا
:
«
ٍئيراَقيب ًََأ اَم
»
َلاَق ،
" :
يِطَغَ ف يَِذَخَأَف
َدْهَجا ي ِيم َغَلَ ب ََح
َلاَقَ ف ، يَِلَسْرَأ ُ
:
ُتْلُ ق ،ْأَرْ قا
:
َغَلَ ب ََح َةَييناثلا يِطَغَ ف يَِذَخَأَف ،ٍئيراَقيب ًََأ اَم
َلاَقَ ف ، يَِلَسْرَأ ُ َدْهَجا ي ِيم
:
ُتْلُقَ ف ،ْأَرْ قا
:
ثلا يِطَغَ ف يَِذَخَأَف ،ٍئيراَقيب ًََأ اَم
َةَثيلا
َلاَقَ ف ، يَِلَسْرَأ ُ
:
{
َقَلَخ ييذلا َكي بَر يمْسيِ ْأَرْ قا
.
ٍقَلَع ْنيم َناَسْنيإا َقَلَخ
.
ْأَرْ قا
ُمَرْكَأا َكبَرَو
}
[
قلعلا
:
2
" ِ
dari Aisyah -Ibunda Kaum Mu'minin-, bahwa