1
Ikhtisar
Sampai bulan Januari 2005, kondisi ekonomi makro Indonesia masih tetap stabil disertai dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi. Kontribusi konsumsi swasta pada pertumbuhan ekonomi terlihat masih dominan, sedangkan kontribusi investasi dan ekspor terus menunjukkan peningkatan. Dengan mempertimbangkan hal tersebut, pertumbuhan ekonomi tahun 2005 diperkirakan tetap tumbuh sebesar 5%-6% (y-o-y) meskipun terdapat bencana alam di Nangroe Aceh Darussalam (NAD) dan Sumatera Utara (Sumut). Dari sisi penawaran, tingginya permintaan domestik masih mendorong dunia usaha untuk meningkatkan produksinya, sehingga seluruh sektor ekonomi tumbuh cukup tinggi, kecuali sektor pertambangan. Selain itu, nilai tukar rupiah bergerak relatif stabil dengan volatilitas yang rendah, suku bunga dalam negeri yang masih relatif rendah dan perkembangan positif di pasar modal dan perbankan telah menciptakan iklim yang kondusif bagi perkembangan dunia usaha. Namun demikian, seiring dengan rencana Pemerintah untuk menurunkan subsidi bahan bakar minyak (BBM) sehingga meningkatkan ekspektasi inflasi maka inflasi ke depan diperkirakan akan meningkat. Dengan mempertimbangkan hal tersebut, Bank Indonesia akan tetap mempertahankan kebijakan moneter yang cenderung ketat untuk mengendalikan inflasi dengan tetap memberikan iklim yang kondusif bagi upaya percepatan pertumbuhan ekonomi.
Perkembangan harga bulan Januari menunjukkan kenaikan dibandingkan bulan Desember. Inflasi pada bulan Januari tercatat sebesar 1,43% (m-t-m) lebih tinggi 0,39% daripada inflasi bulan Desember dan secara tahunan, inflasi tercatat sebesar 7,32% (y-o-y). Kenaikan inflasi tersebut terutama disebabkan oleh faktor ekspektasi inflasi sebagai akibat rencana pemerintah mengurangi subsidi BBM, dampak bencana alam di NAD dan Sumut serta kenaikan bahan makanan khususnya beras. Berdasarkan kelompok makanan, kenaikan harga tertinggi dialami oleh kelompok bahan makanan sebesar 3,11% (m-t-m), disusul kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,80% (m-t-m) serta kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 1,48% (m-t-m).
Nilai tukar rupiah selama bulan Januari bergerak relatif stabil dengan kecenderungan apresiasi. Rupiah secara rata-rata menguat tipis 33 point menjadi Rp9201/USD dan secara point-to-point menguat 116 point menjadi Rp9167/USD dengan volatilitas yang relatif rendah. Derasnya aliran modal masuk (capital inflow)
dan masih stabilnya permintaan domestik merupakan faktor utama yang mempengaruhi pergerakan rupiah. Aliran modal asing tersebut didukung oleh faktor domestik serta faktor eksternal terkait dengan trend global melemahnya USD. Selain itu, pengumuman Fitch Rating yang telah menaikan rating utang jangka panjang mata uang valas dan mata uang lokal Pemerintah Indonesia dari “B+” menjadi “BB-“ juga turut memberikan sentimen positif pergerakan rupiah. Nilai tukar rupiah
Suku bunga instrumen moneter sampai bulan Januari masih belum berubah. Suku bunga SBI 1 bulan hanya menurun 1 bps menjadi 7,42% demikian pula SBI 3 bulan masih berada pada posisi 7,29% dan suku bunga FASBI masih tetap. Hal ini diikuti oleh suku bunga JIBOR 1 bulan yang menurun 2 bps menjadi 7,42%. Sementara itu, suku bunga deposito 1 bulan pada bulan Desember meningkat menjadi 6,43%, demikian pula suku bunga deposito 3 bulan meningkat menjadi 6,71%. Namun demikian, suku bunga kredit konsumsi, investasi dan modal kerja sampai dengan bulan Desember masih terus menunjukkan penurunan. Perkembangan ini menunjukkan indikasi yang positif bagi sektor riil. Selain itu,
spread antara suku bunga simpanan dan suku bunga kredit semakin kecil seiring dengan penurunan suku bunga kredit yang diikuti kenaikan suku bunga deposito.
Posisi uang primer pada akhir Januari menurun sebesar Rp15,7 triliun dibandingkan bulan sebelumnya. Berdasarkan pergerakan hariannya, posisi sementara test date rata-rata uang primer dengan menggunakan GWM lama adalah Rp163,66 triliun (target indikatif Rp164,66 triliun) dan dengan GWM baru tercatat Rp183,14 triliun (target indikatif Rp184,38 triliun). Dilihat dari sisi komponennya, penurunan uang primer tersebut bersumber dari turunnya uang kartal yang beradar di masyarakat dan di perbankan juga penurunan saldo positif bank di BI. Sedangkan dari faktor-faktor yang mempengaruhinya, penurunan uang primer tersebut utamanya bersumber dari kontraksi tagihan bersih kepada pemerintah (Net Claims on Government/NCG) dan kontraksi Operasi Pasar Terbuka (OPT).
Posisi M2 pada akhir Desember mengalami peningkatan sebesar Rp33,2 triliun dan secara tahunan tumbuh sebesar 8,14%. Peningkatan ini utamanya berasal dari naiknya M1 sebesar Rp3,59 triliun menjadi Rp253,81 triliun demikian pula uang kuasi sebesar Rp29,59 triliun menjadi Rp779,71 triliun. Kenaikan yang terjadi pada M1 terutama bersumber dari kenaikan uang kartal sebesar Rp4,59 triliun menjadi Rp109,26 triliun sedangkan uang giral mengalami penurunan Rp1 triliun menjadi Rp144,55 triliun.
Beberapa indikator perbankan sampai bulan Desember masih membaik. Total aset perbankan mengalami peningkatan menjadi Rp1272 triliun, DPK naik menjadi Rp963 triliun demikian pula jumlah kredit yang disalurkan perbankan meningkat menjadi Rp595 triliun. Sementara itu, CAR relatif stabil, hanya menurun 0,3% menjadi 19,4% demikian pula NPL baik secara gross maupun net masih stabil. Perkembangan yang sama terjadi pula pada modal perbankan yang selama bulan Desember meningkat tipis Rp3 triliun dan berada pada posisi Rp118,6 triliun. Selain itu dari kredit perbankan, kredit modal kerja meningkat sebesar Rp13,04 triliun menjadi Rp285,74 triliun, kredit konsumsi juga meningkat sebesar Rp4,91 triliun menjadi Rp150,95 triliun demikian pula kredit investasi meningkat sebesar Rp3,91 triliun menjadi Rp116,86 triliun
Suku bunga instrumen moneter relatif stabil.
Uang primer menurun....
Indikator
perbankan masih membaik.
3
Perkembangan Ekonomi, Moneter, dan Perbankan
Inflasi, Nilai Tukar, Suku Bunga, Pasar Uang dan Pasar Modal
Perkembangan harga bulan Januari menunjukkan kenaikan dibandingkan bulan Desember. Inflasi pada bulan Januari tercatat sebesar 1,43% (m-t-m) lebih tinggi 0,39% daripada inflasi bulan Desember sebesar 1,04% (m-t-m). Secara tahunan, inflasi tercatat sebesar 7,32% (y-o-y) dengan perkiraan inflasi tahun 2005 ditetapkan sebesar 6% deviasi +/-1%. Kenaikan inflasi tersebut terutama disebabkan oleh faktor ekspektasi inflasi terkait dengan rencana kenaikan harga BBM dan dampak bencana alam di NAD dan Sumut. Selain itu, kenaikan inflasi juga disumbangkan oleh kenaikan bahan makanan khususnya beras karena terdapat penurunan pasokan sejalan dengan mundurnya masa panen.
Bulan Januari mencatat inflasi...
Apabila dilihat dari kelompok barang dan jasa, inflasi pada bulan Januari terjadi karena kenaikan harga pada semua kelompok barang dan jasa. Kenaikan tertinggi dialami oleh kelompok bahan makanan yang mengalami inflasi sebesar 3,11% (m-t-m), disusul kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,80% (m-t-m) serta kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 1,48% (m-t-m). Sementara itu, kelompok yang memberikan sumbangan inflasi tertinggi adalah kelompok bahan makanan sebesar 0,82% dan kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,14%.
...terutama berasal dari kelompok bahan makanan.
Grafik 1. Tingkat Inflasi Grafik 2. Inflasi Berdasarkan Kelompok Barang
Grafik 3. Inflasi Inti Tahunan Grafik 4. Rata-rata Nilai Tukar Rupiah
Jan Mar Mei Jul Sep Nop Jan Mar Mei Jul Sep Nop Jan Mar Mei Jul Sep Nop Jan
Sumber : BPS 2002 2003 2004
4,0
-3,00 -2,00 -1,00 0,00 1,00 2,00 3,00 4,00 5,00
Sumber : BPS
Sumbangan Inflasi
Bahan Makanan Sandang Pendidikan, Rekreasi & Olahraga Mkn Jadi, Mnm, Rokok & Temb. Perumahan Kesehatan Transportasi & Komunikasi
% y-o-y
Jan Mar Mei Jul Sep Nov Jan Mar Mei Jul Sep Nov Jan Mar Mei Jul Sep Nov Jan
2002 2003 2004 2005
9,142
8,4328,5708,620 9,003
Nov Jan Mar Mei Jul Sep Nov Jan Mar Mei Jul Sept Nov Jan
2003
Inflasi inti juga naik.
Sementara itu, inflasi inti bulan Januari juga meningkat dibandingkan bulan Desember sebesar 0,53% (y-o-y) dari 6,62% (y-o-y) menjadi 7,15% (y-o-y). Kenaikan ini lebih disebabkan karena pengaruh naiknya ekspektasi inflasi sebagai akibat rencana Pemerintah untuk menurunkan subsidi BBM dalam waktu dekat ini.
Nilai tukar rupiah selama bulan Januari bergerak stabil dengan kecenderungan apresiasi. Rupiah secara rata-rata menguat tipis 33 point dari Rp9233/USD menjadi Rp9201/USD dan secara point-to-point rupiah menguat 116 point dari Rp9283/ USD pada bulan Desember menjadi Rp9167/USD. Sementara itu, volatilitas pergerakan rata-rata rupiah relatif rendah dari 0,19% pada bulan Desember menjadi 0, 15% bulan Januari (Grafik 5).
Derasnya aliran modal masuk (capital inflow) dan masih stabilnya permintaan domestik merupakan faktor utama yang mempengaruhi pergerakan nilai tukar. Aliran modal asing yang terus berlanjut ini tidak terlepas dari dukungan faktor domestik terutama imbal hasil rupiah yang masih menarik dan menurunnya premi risiko, sementara dari faktor eksternal terutama terkait dengan trend global melemahnya USD. Sentimen positif yang mendukung penguatan rupiah antara lain realisasi komitmen utang luar negeri dan hibah dari negara-negara yang tergabung dalam CGI dan Paris Club dan pengumuman Fitch Rating yang telah menaikan rating utang Pemerintah Indonesia jangka panjang mata uang valas dan mata uang lokal dari “B+” menjadi “BB-“.
...ditunjang oleh aliran modal masuk dan sentimen positif...
Stabilnya pergerakan nilai tukar rupiah dan relatif terkendalinya inflasi menyebabkan kepercayaan investor asing terhadap prospek perekonomian Indonesia ke depan masih positif. Indikator risiko jangka pendek maupun panjang (premi swap 1 s.d 12 bulan) pada bulan Januari tercatat masih menurun dibandingkan bulan Desember. Premi swap 1 dan 3 bulan masing-masing menurun sebesar 123 bps dan 73 bps menjadi 5,25% dan 5,75% demikian pula premi swap 6 dan 12 bulan masing-masing menurun 21 bps dan 10 bps menjadi 6,35% dan 6,65%. Indikasi positif lainnya nampak dari angka premi risiko yaitu yield spread
antara Indonesian Global Bond dengan US T-Notes1, yang cenderung menurun ..., kepercayaan
investor masih positif.
Nilai tukar rupiah stabil dan
volatilitasnya rendah...
Grafik 5. Volatilitas Nilai Tukar Rupiah Grafik 6. Premi SWAP
2003 2004
2002
0,0 0,5 1,0 1,5 2,0 2,5 3,0 3,5 4,0 4,5 5,0
Persen
Volatilitas Kurs Rp Rata-rata nilai tukar Rupiah
Jan Mar Mei Jul Sep Nop Jan Mar Mei Jul Sep Nop Jan Okt Des
2005 2003 2004
Jan Mar Mei Jul Sep Nop Jan Mar Mei Jul Sep Nop Jan 1 Bulan
3 Bulan 6 Bulan 12 Bulan
1,0 3,0 5,0 7,0 9,0 11,0
Persen
5
Indeks REER dan BRER meningkat.
Suku bunga instrumen moneter sampai bulan Januari masih belum banyak berubah dimana suku bunga SBI 1 bulan hanya menurun 1 bps menjadi 7,42% dari 7,43% demikian pula SBI 3 bulan masih berada pada posisi 7,29%. Selain itu, suku bunga FASBI belum berubah dari posisi 7,00% sedangkan suku bunga JIBOR 1 bulan menurun 2 bps dari 7,44% bulan Desember menjadi 7,42% (Grafik 10).
Suku bunga SBI dan FASBI relatif stabil...
Grafik 7. Premi Resiko dan Kurs Rupiah2 Grafik 8. Real Effective Exchange Rate
dan pada Januari. Premi risiko tercatat menurun sebesar 21,8 point dari 244,6 bulan Desember menjadi 222,8 point (Grafik 6 dan 7).
Relatif stabilnya nilai tukar rupiah ditengah mata uang partner dagang yang mengalami pelemahan telah menyebabkan indeks Real Effective Exchange Rate
(REER) bulan Januari meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. REER meningkat 2,19 poin dari 80,64 menjadi 82,84 (Grafik 8). Perkembangan yang sama nampak pula pada indeks Bilateral Real Exchange Rate-BRER yang juga meningkat 1,55 poin dari 65,80 pada bulan Desember menjadi 67,31 (Grafik 9). Selain Indonesia, negara lain yang mengalami peningkatan indeks adalah China, Korea Selatan dan Thailand. Meskipun meningkat, tingkat competitiveness (daya saing) Indonesia secara riil di antara negara-negara partner dagang masih cukup kompetitif.
Grafik 9. Bilateral Real Exchange Rate Grafik 10. Suku Bunga Instrumen
Moneter dan Pasar Uang
1 Sejak bulan Januari 2005 menggunakan selisih antara Global Bond Indonesia dengan US T Notes yang lebih mencerminkan yield spread.
2 Selisih antara Global Bond Indonesia dengan US treasury bills berjangka waktu 10 tahun
Rp/USD
Mar Apr Mei Mei Jun Ags Sep Okt Okt Des Des Jan
Indeks
Mei Jul Sep Nov Jan Mar Mei Jul Sep Nov Jan Mar Mei Jul Sep Nov Jan Mar Mei Jul Sep Nov Jan
2005
Sumber : CEIC dan blomberg (diolah)
Indeks
2002 2003 2004 2005
55
Sumber : CEIC dan Bloomber (diolah)
Mar Mei Jul Sep Nov Jan Mar Mei Jul Sep Nov Jan Mar Mei Jul Sep Nov Jan
Percent
2003 2004 2005
6
SBI 1 Bulan
JIBOR 1 Bulan
Grafik 11. Rata-rata Suku Bunga PUAB Pagi dan Sore
Grafik 12. Perkembangan Suku Bunga SBI, Deposito, dan Penjaminan
..., serta suku bunga deposito meningkat namun tren penurunan suku bunga kredit masih berlanjut. ..., diikuti stabilnya suku bunga PUAB O/N pagi dan sore...
Stabilnya suku bunga instrumen moneter sampai dengan bulan Januari, memberikan pengaruh kepada kestabilan rata-rata suku bunga PUAB O/N pagi dan sore. Rata-rata suku bunga PUAB O/N pagi hanya meningkat 23 bps dari 5,27% pada bulan Desember menjadi 5,50% demikian pula rata-rata suku bunga PUAB O/N sore meningkat tipis 8 bps dari 4,41% menjadi 4,48% (Grafik 11). Hal ini diikuti pula dengan rendahnya, rata-rata volume transaksi perdagangan PUAB O/N pagi dan sore. Rata-rata volume transaksi PUAB O/N pagi selama bulan Januari hanya meningkat sebesar Rp0,7 triliun dari Rp2,8 triliun menjadi Rp3,6 triliun demikian pula rata-rata volume transaksi PUAB O/N sore meningkat Rp0,9 triliun dari Rp1,5 triliun menjadi Rp2,4 triliun.
Sementara itu, suku bunga simpanan (deposito 1 dan 3 bulan) sampai dengan bulan Desember 2005 menunjukkan peningkatan. Suku bunga deposito 1 bulan meningkat sebesar 7 bps dari 6,36% menjadi 6,43%, demikian pula suku bunga deposito 3 bulan meningkat 5 bps dari 6,66% menjadi 6,71% pada bulan Desember (Grafik 12). Di sisi lain, suku bunga tabungan relatif stabil pada posisi menjadi 4,30%. Namun demikian, suku bunga kredit sampai dengan bulan Desember masih terus menunjukkan penurunan. Suku bunga kredit modal kerja, investasi dan konsumsi masing-masing turun sebesar 16 bps, 13 bps dan 17 bps. Kredit modal kerja menurun dari 13,57% bulan Nopember menjadi 13,41%, kredit investasi menurun dari 14,18% bulan Nopember menjadi 14,05%, demikian pula kredit konsumsi menurun dari 16,74% bulan Nopember menjadi 16,57% (Grafik 13). Perkembangan ini menunjukkan indikasi yang positif bagi sektor riil. Selain itu, spread antara suku bunga simpanan dan suku bunga kredit semakin kecil seiring dengan penurunan suku bunga kredit yang diikuti kenaikan suku bunga deposito.
0,0 500,0 1000,0 1500,0 2000,0 2500,0 3000,0 3500,0 4000,0
0,0 2,0 4,0 6,0 8,0 10,0 12,0 14,0
Jan Mar Mei Jul Sep Nop Jan Mar Mei Jul Sep Nop Jan
Suku Bunga (%) Volume Pasar Uang (Miliar Rp)
Volume PUAB Pagi Volume PUAB Sore Sk. Bunga PUAB Pagi Sk. Bunga PUAB Sore
2004
2003 2005
Persen
5 7 9 11 13 15 17 19
2002 2003 2004
SBI 1 Bulan Jam Dep. 1
Dep 1 WA
7
Covered interest rate parity meningkat.
Grafik 13. Perkembangan Suku Bunga Kredit Grafik 14. Covered Interest Rate Parity
Grafik 15. IHSG dan Kapitalisasi
Covered interest parity (CIP) pada bulan Januari tercatat meningkat dari posisi negatif 1,42% menjadi positif 0,54% atau meningkat 196 bps (Grafik 14)3. Perkembangan ini didorong oleh masih lebih tingginya suku bunga dalam negeri yang diwakili oleh JIBOR 1 bulan dibandingkan SIBOR yang selama bulan Januari menurun 75 bps menjadi 1,63% dan penurunan yang juga terjadi pada swap rate 1 bulan menjadi 5,25%. Secara riil, perkembangan ini menunjukkan daya tarik penanaman dana di dalam negeri masih menjanjikan return yang menarik bagi investor.
Perkembangan pasar modal di bulan Januari terus mengalami peningkatan dan kembali mencatat rekor tertinggi. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang pada bulan Januari secara point to point ditutup meningkat 46,25 point menjadi 1046,48 dari posisi sebelumnya 1000,23. Transaksi di pasar modal cukup ramai meskipun telah melewati periode akhir tahun. Kenaikan tersebut diperkirakan sebagai akibat adanya sentimen positif dari pelaksanaan BUMN Summit 2005 dengan rencana modal asing yang akan masuk dan pengumuman Fitch Rating telah menaikan rating utang Pemerintah Indonesia dari “B+” menjadi “BB-“. Pada pertengahan bulan Januari, investor asing sempat membukukan net beli sebesar IHSG terus
mengalami peningkatan...
3 Covered interest rate parity = suku bunga dalam negeri (JIBOR 1 bulan) – suku bunga luar negeri (SIBOR 1 bulan) – premi swap (1 bulan).
Persen
2002 2003 2004
Kredit Investasi Kredit Konsumsi Kredit Modal Kerja
Apr Ags Des Apr Ags Des Apr Ags Des Apr Ags Des
Persen
2002 2003 2004
-3,0
Covered Interest Rate Parity
Poly. (Covered Interest Rate Parity)
Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb Apr Jun Ags Okt Des
2004
Sumber : BEJ
Kapitalisasi (Rp miliar) IHSG
Jan Apr Jun Ags Okt Des Feb Apr Jun Ags Nop Jan
Kapitalisasi
Rp862 miliar sementara di akhir bulan masih mencatat net beli sebesar Rp491 miliar. Kapitalisasi pasar juga menunjukkan peningkatan yaitu sebesar Rp30,42 triliun dari Rp679,94 triliun bulan Desember menjadi Rp. Rp710,37 triliun (Grafik 15).
Di sisi lain, rata-rata nilai perdagangan di pasar saham secara point to point
meningkat sebesar Rp0,7 triliun dari Rp0,8 triliun pada akhir bulan Desember menjadi Rp1,5 triliun. Demikian pula rata-rata volume perdagangan yang mengalami peningkatan sebesar 1,04 miliar lembar saham dari 1,13 miliar lembar saham pada akhir bulan Desember menjadi 2,17 miliar saham.
Uang Primer
Posisi uang primer pada akhir Januari menurun sebesar Rp15,7 triliun dibandingkan bulan sebelumnya, menjadi Rp183,74 triliun. Berdasarkan pergerakan harian uang primer, posisi sementara test date rata-rata uang primer dengan menggunakan GWM lama (5%) adalah sebesar Rp163,66 triliun (tumbuh 13,3%, y-o-y), di bawah target indikatif yang ditetapkan sebesar Rp164,66 triliun. Sementara itu, bila menggunakan ketentuan GWM baru (8%), test date sementara uang primer adalah Rp183,14 triliun, di bawah target indikatif yang ditetapkan sebesar Rp184,38 triliun (Grafik 16). Dilihat dari sisi komponennya, penurunan uang primer tersebut bersumber dari turunnya uang kartal yang beradar di masyarakat dan di perbankan masing-masing sebesar Rp5,76 triliun dan Rp1,17 triliun demikian pula saldo positif bank di BI menurun sebesar Rp8,99 triliun.
...demikian pula nilai dan volume perdagangan.
Uang primer menurun...
Apabila dilihat dari faktor-faktor yang mempengaruhinya, penurunan uang primer tersebut utamanya bersumber dari kontraksi tagihan bersih kepada pemerintah (Net Claims on Government/NCG) sebesar Rp8,36 triliun dan kontraksi Operasi Pasar Terbuka (OPT) sebesar Rp9,23 triliun yang utamanya bersumber dari kontraksi SBI sebesar Rp17,96 triliun sedangkan FASBI mengalami ekspansi sebesar Rp8,72 triliun.
...terutama karena kontraksi NCG dan OPT...
Grafik 16. Uang primer Grafik 17. Pergerakan Musiman Uang Kartal
Trilion Rp
2002 2003 2004 2005
Target Indikatif Aktual Test Date
Sep Nop Jan Mar Mei Jul Sep Nop Jan Mar Mei Jul Sep Nop Jan
Miliar Rp
2002 2003 2004
estimasi (2) = estimasi (1) + error
Aktual
estimasi (1) = trend+seasonal
9
..., NIR meningkat sedangkan NDA menurun.
Grafik 18. Posisi NIR Grafik 19. Posisi NDA
Cadangan devisa bersih (NIR) pada bulan Januari meningkat sebesar USD0,23 miliar dari USD24,40 miliar bulan Desember menjadi USD24,63 miliar (Grafik 18) sementara itu aktiva domestik bersih (NDA) menurun sebesar Rp17,33 triliun dari Rp28,60 triliun pada bulan Desember menjadi Rp11,27 triliun (Grafik 19).
Des
199.446 187.558 184.723 183.835 183.747 -15.699
126.895 124.940 119.973 118.155 119.956 -6.939 110.911 110.175 105.661 104.646 105.144 -5.767 15.984 14.765 14.312 13.509 14.812 -1.172 72.053 62.141 64.218 65.046 63.061 -8.992
0 0 0 0 0 0
498 479 533 635 730 232
170.846 171.542 170.863 172.474 172.476 1.630
28.600 16.016 13.860 11.361 11.271 -17.329
226.620 221.958 213.521 222.719 218.253 -8.367 16.037 16.038 16.037 16.055 16.034 -3 12.349 12.350 12.349 12.367 12.346 -3
0 0 0 0 0 0
3.688 3.688 3.688 3.688 3.688 0
33.654 33.653 33.653 33.654 33.674 20 -144.548 -156.089 -150.648 -156.637 -153.785 -9.237 -103.825 -114.836 -114.365 -122.015 -121.788 -17.963 -40.723 -41.253 -36.283 -34.622 -31.997 8.726 -103.163 -99.544 -98.703 -104.430 -102.905 258
60.091 60.546 62.195 62.051 61.304 1.213 11.962 1.595 2.023 2.995 1.757 -10.205
Tabel 1. Uang Primer dan Faktor yang Mempengaruhinya
(Miliar Rp)
Uang Primer
Uang kertas dan logam yang diedarkan - di masyarakat
- di perbankan
Giro bank pada Bank Indonesia porsi BBO & Bank tanpa TPL* Giro sektor swasta
Cadangan Devisa Bersih (NIR)
Aktiva Domestik Bersih
1. Tagihan bersih kepada pemerintah 2. Tagihan pada bank komersial
a. Kredit likuiditas
b. Tagihan kepada BPPN dan bank non BPPN c. Utang lainnya
3. Tagihan lainnya 4. Operasi Pasar Terbuka
- SBI - FASBI
5. Lainnya Bersih (NOI)
Memorandum item GWM
Kelebihan GWM
*TPL = Third Party Liability
(Miliar USD)
Jan Mar Mei Jul Sep Nop Feb Apr Jun Ags Okt Des
(Trilliun Rp)
Jan Mar Mei Jul Sep Nov Feb Apr Jun Ags Okt Des
NDA (aktual)
Likuiditas domestik
Posisi M2 pada akhir Desember mengalami peningkatan sebesar Rp33,2 triliun dari Rp1000,33 triliun pada bulan Nopember menjadi Rp1033,52 triliun dan secara tahunan, M2 tumbuh sebesar 8,14%. Peningkatan ini utamanya berasal dari naiknya M1 sebesar Rp3,59 triliun menjadi Rp253,81 triliun demikian pula uang kuasi meningkat sebesar Rp29,59 triliun menjadi Rp779,71 triliun. Kenaikan yang terjadi pada M1 terutama bersumber dari kenaikan uang kartal sebesar Rp4,59 triliun dari Rp104,66 triliun bulan Nopember menjadi Rp109,26 triliun sedangkan uang giral mengalami penurunan Rp1 triliun menjadi Rp144,55 triliun (Grafik 20).
M2 dan M1 meningkat…
Grafik 20.Pertumbuhan M1 & M2 Riil Grafik 21. Pertumbuhan Divisia dan M2
Dilihat dari faktor-faktor yang mempengaruhinya, peningkatan M2 tersebut utamanya disebabkan oleh pengharuh ekspansi tagihan perbankan pada sektor swasta (Claim on Business Sector/CBS) sebesar Rp21,05 triliun menjadi Rp615,80 triliun, ekspansi NCG sebesar Rp18,67 triliun menjadi Rp498,01 triliun dan peningkatan NFA sebesar Rp3,31 triliun menjadi Rp263,64 triliun. Peningkatan CBS tersebut bersumber dari kenaikan pada kredit rupiah sebesar Rp21,85 triliun yang utamanya bersumber dari kenaikan kredit rupiah sebesar Rp16,59 triliun menjadi Rp438,88 triliun (Tabel 2).
...disebabkan oleh ekspansi CBS, NCG dan NFA.
%, y-o-y
(10) (5) 0 5 10 15 20
2002 2003 2004
Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb Apr Jun Ags Okt Des M1 Riil
M2 Riil
Persen
-5,0 0,0 5,0 10,0 15,0 20,0 25,0
2001 2002 2003 2004
Growth Divisia M2 Growth M2 Poly. (Growth Divisia M2)
11
Indeks money divisia meningkat sedangkan APU menurun.
Grafik 22. APU 1, APU 2, dan rasio C/DPK
Masih rendahnya insentif penempatan dana di perbankan mengakibatkan indeks
money divisia bulan Desember meningkat sebesar 1,40% menjadi 9,76% dan secara tren masih cenderung meningkat (Grafik 21). Sementara itu, selama bulan Desember uang primer di akhir tahun meningkat lebih tinggi daripada kenaikan M2 dan M1 sehingga hal ini menyebabkan proses penciptaan uang mengalami penurunan seperti yang nampak dari turunnya M1 (APU 1) dan M2 (APU 2) (Grafik 22).
KOMPONEN M2
M2 Rupiah M1 - Uang Kartal - Uang Giral Uang Kuasi
- Uang Kuasi Rupiah = Deposito Rupiah = Tabungan Rupiah - Simpanan Valas (dalam miliar USD)
FAKTOR NFA NCG
Claims on Business Sector Kredit
- Kredit Rupiah - Kredit Valas Lainnya NOI
Memorandum Item Nilai Tukar (posisi neraca)
Tabel 2. Perkembangan Uang Beredar Dalam Arti Luas
Des 2002
Ags Sep Des Mar Jun Jul Ags Sep Nop Des %,y-o-y
(dalam miliar Rp, posisi)
INDIKATOR BESARAN MONETER
883.908 905.499 911.224 955.692 935.161 975.166 975.090 980.223 986.806 1.000.338 1.033.528 8,14 743.443 771.362 773.712 816.514 793.103 827.176 830.803 835.510 846.570 859.933 897.927 9,97 191.939 201.859 207.587 223.799 218.999 233.726 238.059 238.959 240.911 250.221 253.818 13,41 80.686 80.283 81.118 94.542 86.794 97.574 97.220 96.919 99.505 104.668 109.265 15,57 111.253 121.576 126.469 129.257 132.205 136.152 140.839 142.040 141.406 145.553 144.553 11,83 691.969 703.640 703.637 731.893 716.162 741.440 737.031 741.264 745.895 750.117 779.710 6,53 551.504 569.503 566.125 592.715 574.104 593.450 592.744 596.551 605.659 609.712 644.109 8,67 359.847 361.120 354.362 350.885 327.722 334.336 330.888 332.524 336.197 331.869 349.091 -0,51 191.657 208.383 211.763 241.830 246.382 259.114 261.856 264.027 269.462 277.843 295.018 21,99 140.465 134.137 137.512 139.178 142.058 147.990 144.287 144.713 140.236 140.405 135.601 -2,57 15.71 15.72 16.39 16.44 16.54 15.72 15.74 15.51 15.29 15.57 14.60 -11,22
250.696 243.435 240.781 271.820 287.824 280.070 265.103 264.686 258.684 260.328 263.647 -3,01 510.351 481.622 481.552 479.885 449.011 468.907 476.648 474.424 476.451 479.344 498.019 3,78 389.296 432.499 441.205 466.826 477.504 549.966 551.132 567.559 576.823 594.751 615.802 31,91 365.410 403.544 411.696 437.942 446.593 486.067 488.407 505.242 513.224 531.689 553.548 26,40 271.851 310.657 318.820 342.027 347.363 376.034 380.369 392.686 404.173 422.288 438.881 28,32 93.559 92.889 92.877 95.917 99.231 110.033 108.038 112.556 109.051 109.401 114.667 19,55 23.886 28.955 29.509 28.884 30.911 63.899 62.725 62.317 63.599 63.062 62.254 115,53 -266.434 -252.059 -252.483 -262.839 -279.178 -323.777 -317.792 -326.446 -325.152 -334.085 -343.940 30,86
8.940 8.535 8.389 8.465 8.587 9.415 9.168 9.328 9.170 9.018 9.290
2004
2002 2003 2004
APU2 (M2/M0)
APU1 (M1/M0) Skala Kanan C/DPK (%)
Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb Apr Jun Ags Okt Des
Sektor Eksternal
Nilai ekspor Indonesia selama bulan Desember tercatat sebesar USD6,44 miliar atau meningkat 24,58% dibandingkan USD5,17 miliar pada bulan sebelumnya (Tabel 3). Peningkatan ekspor tersebut utamanya didorong oleh naiknya ekspor nonmigas sebesar 34,7%, yakni dari USD3,80 miliar pada bulan Nopember menjadi USD5,12 miliar. Sementara itu ekspor migas mengalami penurunan sebesar 3,5% menjadi USD1,3 miliar yang terutama disebabkan oleh turunnya ekspor minyak mentah sebesar 17,8% dari USD0,55 miliar pada bulan Nopember menjadi USD0,45 miliar sedngkan di sisi lain ekspor hasil minyak mengalami kenaikan sebesar 14,6% menjadi USD0,1 miliar.
Total ekspor meningkat...
Sejalan dengan itu, nilai impor pada bulan Desember juga mengalami kenaikan sebesar 29,50% dari USD3,71 miliar menjadi USD4,80 miliar. Kenaikan impor tersebut terutama disebabkan oleh naiknya impor non migas sebesar 35,5% dari USD2,65 miliar menjadi USD3,59 miliar. Sementara impor migas juga meningkat walaupun tidak sebesar non migas yaitu dari USD1 miliar pada bulan Nopember menjadi USD1,21 miliar. Komponen utama migas yang mengalami kenaikan adalah impor minyak mentah yang meningkat 18,5% dari USD0,44 miliar pada bulan Nopember menjadi USD0,52 miliar.
Keterangan
Nilai CIF % Perubahan % Perubahan % Peran Thd
Des 2004 Thd Jan - Des Jan - Des Nop 2004 2004 thd 2003 total 2004
3.714,1 4.809,2 33.085,9 46.179,7 29,48 39,58 100,00
1.065,0 1.218,2 7.630,3 11.625,2 14,38 52,36 25,17
440,2 521,8 4.027,4 5.831,4 18,54 44,79 12,62
624,8 694,8 3.581,3 5.785,7 11,20 61,55 12,53
0,0 1,6 21,6 8,1 0,00 -62,50 0,02
2.649,1 3.591,0 25.455,6 34.554,5 35,56 35,74 74,83
Tabel 4. Impor Indonesia
(Juta USD)
Nopember Desember
2004 2004
Sumber : BPS
Total Impor
Migas
Minyak Mentah Hasil Minyak Gas
Non Migas ... begitu pula total impor.
2003 2004
Keterangan
Nilai FOB % Perubahan % Perubahan % Peran Thd
Des 2004 Thd Jan - Des Jan - Des
Nop 2004 2004 thd 2003 total 2004
Total Ekspor
Migas
Minyak Mentah Hasil Minyak Gas
Non Migas
Tabel 3. Ekspor Indonesia
(Juta USD)
Nopember Desember
2004 2004
Sumber : BPS
5.173,9 6.445,8 62.527,1 69.713,8 13,45 11,49 100,0
1.372,2 1.323,7 13.651,4 15.587,5 -3,53 14,18 22,4
555,9 457,0 5.621,0 6.241,4 -17,79 11,04 8,95
88,2 101,1 1.553,7 1.647,4 14,63 6,03 2,36
728,1 765,6 6.476,7 7.698,7 5,15 18,87 11,04
3.801,7 5.122,1 48.875,7 54.126,3 18,85 10,74 77,64
13
Posisi pinjaman luar negeri Indonesia pada bulan Desember relatif stabil atau hanya meningkat USD73 juta dari USD136,06 miliar bulan Nopember menjadi USD136,14 miliar. Hal ini disebabkan karena berimbangnya kenaikan posisi utang LN pemerintah dan swasta dengan penurunan utang dari surat-surat berharga (Tabel 5). Utang LN pemerintah mengalami kenaikan sebesar USD287 juta menjadi USD80,27 miliar demikian pula utang LN swasta meningkat sebesar USD102 juta menjadi USD52,5 miliar. Sementara disisi lain, utang LN dari surat-surat berharga mengalami penurunan sebesar USD316 juta menjadi USD3,36 miliar. Tabel 5. Posisi Pinjaman Luar Negeri
...sedangkan pembayaran pinjaman LN meningkat. Posisi pinjaman luar negeri stabil...
Sementara itu, pembayaran pinjaman luar negeri pada bulan Desember meningkat USD1,01 miliar dibandingkan bulan sebelumnya, sehingga menjadi USD2,75 miliar. Peningkatan tersebut utamanya berasal dari naiknya pembayaran pokok pinjaman LN sebesar USD748 juta menjadi USD2,15 miliar dan pembayaran bunga pinjaman LN yang juga meningkat sebesar USD271 juta menjadi USD599 juta. Sedangkan berdasarkan pemiliknya, kenaikan ini disebabkan oleh naiknya pembayaran pinjaman LN pemerintah sebesar USD700 juta menjadi USD1,37 miliar demikian pula pembayaran pinjaman LN swasta meningkat sebesar USD319 juta menjadi USD1,37 miliar (Tabel 6).
2 0 0 3
Pemerintah Swasta
Lembaga Keuangan
Bank Non Bank
Bukan Lembaga Keuangan Surat-Surat Berharga
Total
Tabel 5. Posisi Pinjaman Luar Negeri
(Juta USD)
* Angka Sementara
Mar Jun Sep Des Jan Mar Jun Sep Nov*) Des*)
74.513 76.008 77.709 81.666 81.480 81.217 78.591 76.980 79.991 80.278
53.750 53.288 52.991 51.942 52.839 52.836 52.080 51.783 52.399 52.501
7.806 7.056 7.571 7.537 7.726 7.968 7.587 7.530 8.079 8.180
4.850 4.059 4.414 4.316 4.385 4.479 3.766 3.499 3.833 3.872
2.956 2.997 3.157 3.221 3.341 3.489 3.821 4.031 4.246 4.308
45.944 46.232 45.420 44.405 45.113 44.868 44.493 44.253 44.320 44321
1.203 1.290 1.253 1.794 1.759 2.626 2.467 3.075 3.677 3.361
Konsumsi swasta dalam PDB masih dominan...
Sektor Riil
Dari sisi permintaan, kontribusi konsumsi swasta pada pertumbuhan masih dominan, sedangkan kontribusi investasi dan ekspor diperkirakan meningkat seiring dengan meningkatnya pertumbuhan ekspor dan investasi. Masih tingginya pertumbuhan konsumsi ditunjang oleh perbaikan pertumbuhan ekonomi sehingga menaikkan disposable income, suku bunga kredit yang cenderung terus menurun dan kemudahan pembiayaan untuk konsumsi. Perkiraan pertumbuhan investasi terkait dengan rencana pemerintah untuk memperbaiki iklim investasi utamanya rencana percepatan pengembangan infrastruktur melalui forum Infrastructure Summit.
Namun demikian, berdasarkan hasil survei konsumen, optimisme konsumen menunjukkan penurunan dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan ini diperkirakan masih terkait dengan rencana kenaikan harga BBM dan ekspektasi inflasi. Indeks keyakinan konsumen bulan Januari menurun 11,9 poin dari 119,1 menjadi 107,1 diikuti indeks kondisi ekonomi saat ini yang menurun 10 poin dari 101,8 menjadi 91,8 demikian pula ekspektasi konsumen menurun 13,9 poin dari 136,3 menjadi 122,4 (Grafik 23). Hasil yang sama juga terlihat dari hasil survei perusahaan Jepang di Indonesia yang dilakukan oleh JETRO (Grafik 24). ...dari sisi
konsumen, ekspektasi konsumen menurun...
Tabel 6. Realisasi Pembayaran Pinjaman Luar Negeri Indonesia
Total Pembayaran Pinjaman Luar Negeri / Total External Debt Servicing
- Pokok / Principal - Bunga / Interest
A. Pemerintah / Government - Pokok / Principal - Bunga / Interest
B. Swasta / Private - Pokok / Principal - Bunga / Interest B.1. Lembaga Keuangan
- Pokok / Principal - Bunga / Interest 1. Bank
- Pokok / Principal - Bunga / Interest
2. Bukan Bank / Non Bank Institutions - Pokok / Principal
- Bunga / Interest B.2. Bukan Lembaga Keuangan
- Pokok / Principal - Bunga / Interest
(Juta USD)
* Angka Sementara
Mar Sep Des
2 0 0 3 Total
2003 Total
2002
Keterangan 2 0 0 4
Jan Mar Jun Ags Nop* Des*
20.983 1.293 1.717 1.966 18.900 1.464 1.990 2.697 1.529 1.732 2.751
16.950 1.135 1.524 1.471 15.669 1.216 1.788 2.123 1.268 1.404 2.152 4.033 158 193 496 3.231 248 203 574 261 328 599
7.374 358 498 781 6.450 680 697 1.147 804 676 1.376
5.009 248 355 398 4.000 456 539 682 608 453 874 2.365 110 143 383 2.451 224 158 465 196 223 502
13.609 935 1.219 1.186 12.449 784 1.294 1.550 725 1.056 1.375
11.941 886 1.170 1.073 11.669 760 1.249 1.441 660 951 1.278
1.668 48 50 113 780 24 45 109 65 105 97
5.808 398 440 423 5.656 382 772 791 324 355 580
5.323 391 435 395 5.521 379 768 780 315 348 564
485 7 4 28 136 3 5 11 9 7 16
4.825 308 381 372 5.078 351 701 756 271 297 465
4.372 307 379 345 4.965 349 699 746 262 291 451 453 1 1 27 113 2 1 10 9 6 14
983 90 59 51 579 31 72 35 53 58 115
951 84 56 50 556 30 68 34 53 57 113 32 6 3 1 23 1 3 1 0 1 2
7.801 537 780 762 6.793 402 521 759 401 701 795
15
Sementara itu, dari sisi penawaran, total indeks produksi bulan Desember menunjukkan peningkatan. Seluruh industri yang tercakup dalam perhitungan angka indeks produksi menunjukkan peningkatan produksi kecuali industri logam dasar. Indeks industri makanan, minuman dan tembakau meningkat 8,4 poin menjadi 91,6 disusul indeks industri tekstil, pakaian jadi dan kulit meningkat 1,7 poin menjadi 104 dan indeks kimia, minyak bumi, batu bara, karet dan plastik yang meningkat 10,3 menjadi 117,3 (Grafik 25). Hal ini dikonfirmasi pula oleh total indeks utilisasi kapasitas produksi yang selama bulan Desember meningkat sebesar 4 poin dari 64,9 menjadi 68,9. Kenaikan indeks tersebut terutama didorong oleh industri kertas, percetakan dan penerbitan, industri tekstil dan industri makanan (Grafik 26).
Grafik 23. Survei Konsumen Grafik 24. Survei JETRO
...namun dari sisi produsen
indeks produksi mengalami peningkatan.
Grafik 25. Indeks Produksi Grafik 26. Utilisasi Kapasitas Produksi
2002 2003 2004
Indeks
40,0 60,0 80,0 100,0 120,0
Ekspektasi Konsumen
Indeks Keyakinan Konsumen Kondisi Ekonomi Saat Ini optimis
pesimis
Jan Mar Mei Jul Sep Nop Jan Mar Mei Jul Sep Nop Jan Mar Mei Jul Sep Nop Jan
2005
Difussion
-50 -40 -30 -20 -10 0 10 20 30 40 50
Permintaan:ekspor Permintaan: domestik
Inventory Harga jual:domestik
Jun Ags Okt Des Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb Apr Jun Ags Okt Des Feb
2003
2001 2002 2004 2005
40 60 80 100 120 140 160 180 200
Indeks Total Makanan, minuman & Tembakau Tekstil, pak. jadi & kulit Kimia, m. bumi, btbara, karet & plastik
2004 2003
2002
Des
Feb Apr Jun Ags Okt Feb Apr Jun Ags Okt DesFeb Apr Jun Ags OktDes
Indeks
0 20 40 60 80 100
Total Makanan Tekstil Kimia
Persen
2004 2003
2002
Des
Secara umum indikator perbankan membaik...
Kondisi Perbankan
Beberapa indikator perbankan sampai bulan Desember masih terus menunjukkan perbaikan khususnya total aset, Dana Pihak Ketiga (DPK), total penyaluran kredit, NIM dan LDR. Sementara itu CAR, modal dan NPL relatif stabil (Tabel 7). Total aset perbankan mengalami peningkatan sebesar Rp43,90 triliun menjadi Rp1272 triliun, DPK naik Rp30,5 triliun menjadi Rp963 triliun demikian pula jumlah kredit yang disalurkan perbankan meningkat Rp21,60 triliun menjadi Rp595 triliun (Grafik 28).
CAR pada bulan Desember relatif stabil, hanya menurun 0,3% menjadi 19,4%
demikian pula NPL baik secara gross maupun net masih stabil dan berada pada posisi 5,80% (NPL gross) dan 1,70% (NPL net). Perkembangan yang sama terjadi pula pada modal perbankan yang selama bulan Desember meningkat tipis Rp3 triliun dan berada pada posisi Rp118,6 triliun (Grafik 27).
...CAR, NPL dan modal masih relatif stabil.
Grafik 27. Dana Pihak Ketiga Grafik 28. Persetujuan dan Realisasi Kredit Baru
Keterangan
1.112,2 1.068,4 1.157,2 1.150,0 1185,7 1213,0 1228,1 1272,0
835,8 902,3 889,1 881,6 912,8 926,4 932,5 963,0
410,3 477,2 475,0 485,9 528,7 555,0 573,4 595,0
38,4 43,2 40,1 43,7 46,4 48,2 49,5 50,0
23,0 19,3 23,8 23,5 20,9 20,5 19,7 19,4
8,1 8,2 8,2 7,8 7,6 6,9 6,6 5,8
2,1 3,0 2,8 2,7 2,1 2,1 2,0 1,7
4,0 3,2 5,2 5,7 5,4 5,3 5,0 6,3
93,0 110,8 117,9 120,9 108,6 114,0 115,6 118,6
(Triliun Rp)
Total Asset DPK Kredit LDR (%) CAR (%) NPLs : - Gross (%) - Net (%) NIM
Modal
Des-02 Des-03 Jan-04 Mar-04 Jun-04 Sept-04 Nop-04 Des-04
Tabel 7. Kondisi Umum Perbankan
B a n k
2004 2003
2002
0 50 100 150 200 250 300 350 400 450 500
0 200 400 600 800 1000 1200
Giro Tabungan Deposito Total
Triliun Rp Total DPK (Triliun Rp)
Des
Feb Apr Jun Ags Okt Feb Apr Jun Ags OktDes Feb Apr Jun Ags OktDes
2003 2004 2002
0 28.269 56.538
Miliar Rp Proporsi (%)
Jan Mar Mei Jul Sep Nov Jan Mar Mei Jul Sep Nov Jan Mar Mei Jul Sep Nov Des Persetujuan Realisasi Proporsi
17
Grafik 29. Kredit Rupiah Perbankan
Grafik 30. Perkembangan NPL Grafik 31. Perkembangan Posisi NIM Perbankan
Meningkatnya jumlah kredit yang disalurkan atas, utamanya berasal dari naiknya 3 tipe kredit baik modal kerja, konsumsi maupun investasi selama bulan Desember. Kredit modal kerja meningkat sebesar Rp13,04 triliun dari Rp272,70 triliun bulan Nopember menjadi Rp285,74 triliun sementara konsumsi juga meningkat sebesar Rp4,91 triliun dari Rp146,04 triliun di bulan Nopember menjadi Rp150,95 triliun. Hal yang sama terjadi pada kredit investasi yang meningkat sebesar Rp3,91 triliun dari Rp112,95 triliun menjadi Rp116,86 triliun (Grafik 29).
Ketiga tipe kredit masih meningkat.
LDR dan NIM membaik.
Indikator lainnya, Loan to Deposit Ratio (LDR) pada bulan Desember membaik dengan posisi terakhir pada 50% demikian pula Net Interest Margin (NIM) meningkat 1,3% dari 5,0% pada bulan Nopember menjadi 6,4% (Grafik 31).
Kredit Per jenis (Triliun Rp) Total Kredit (Triliun Rp)
0,0
Channeling Total Kredit Total Adjst Investasi Konsumsi
Mar Jun Sep Des Jan Feb Mar Jun Sep Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags SepOktNopDes
2 0 0 2 2 0 0 3 2 0 0 4
kredit (kanan) NPLs (%) (kiri) NPLs Net (%) (kiri)
Apr Jun Ags Okt Des Feb Apr Jun Ags Okt Des feb
Apr Jun Ags Okt Des feb
2002 2003 2004 2002 2003 2004
Triliun Rp
3,353,553,66 3,82 5,35,405,45,30
5,3 6,4
5 6,3
Apr Jun Ags Okt Des Feb Apr Jun Ags Okt Des feb
Prospek
Perekonomian Indonesia pada triwulan I-2005 diperkirakan tumbuh pada kisaran 5%-6% (y-o-y)4 dengan sumbangan ekspor dan investasi yang
meningkat secara bertahap. Sejalan dengan berbagai upaya pemulihan ekonomi yang akan terus diperkuat disertai dengan ekspansi ekonomi yang lebih seimbang di tahun 2005, kestabilan ekonomi makro diperkirakan akan berlanjut di tahun 2005. Pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan I-2005 diperkirakan akan berkisar antara 5,0%-6,0% (yoy). Hal ini seiring dengan meningkatnya pertumbuhan ekspor dan investasi terutama investasi non bangunan. Kontribusi konsumsi swasta pada PDB masih dominan sejalan dengan meningkatnya pendapatan masyarakat, suku bunga yang mendukung, meningkatnya kepercayaan asing dan kinerja neraca pembayaran yang diyakini masih cukup baik.
Dari sisi harga, tekanan terhadap inflasi diperkirakan meningkat. Tekanan inflasi khususnya di triwulan I-2005 diperkirakan akan meningkat terutama terkait dengan rencana untuk menaikkan harga BBM oleh Pemerintah serta meningkatnya permintaan barang dan jasa dalam rangka produksi dan konsumsi. Walaupun hal ini dapat mempengaruhi pencapaian target inflasi tahun 2005 yang ditetapkan Pemerintah sebesar 6% + 1% namun demikian pengaruhnya diupayakan untuk dapat diminimalkan.
Pergerakan nilai tukar rupiah pada triwulan I-2005 diperkirakan masih akan sedikit menguat dibanding kondisi akhir tahun. Secara umum, optimisme pergerakan rupiah tersebut didukung oleh cukup kondusifnya kondisi eksternal dan internal. Permintaan valas dari kegiatan impor diperkirakan meningkat sejalan dengan meningkatnya kegiatan investasi dan konsumsi. Namun demikian, pasokan valas dari ekspor dan aliran modal asing (capital inflows) terutama yang berjangka pendek juga diperkirakan meningkat. Naiknya perkiraan pasokan valas dari ekspor sejalan dengan membaiknya kinerja ekspor non-migas. Selain itu, berbagai faktor positif dari dalam maupun luar negeri akan mempengaruhi insentif penanaman dana di Indonesia oleh investor asing seperti masih cukup menariknya imbal hasil rupiah dan meningkatnya rating serta outlook utang Indonesi oleh beberapa lembaga selama tahun 2004.
...tekanan harga diperkirakan meningkat...
...nilai tukar rupiah di awal 2005 diperkirakan menguat.
19
* angka BPS berdasarkan tahun dasar 2000 r) revisi
1) minggu terakhir 2) rata2 tertimbang
3) penutupan pada akhir periode 4) closed file
Sumber : Bank Indonesia, kecuali data pasar modal (BAPEPAM), IHK, ekspor/impor dan PDB dari BPSw. I 2004*)
Jan Mar Des Jan Mar Jun Sep Des Jan
SEKTOR KEUANGAN
Indikator Terkini
12,69 11,40 8,31 7,86 7,42 7,34 7,39 7,43 7,42
12,94 11,97 8,34 8,15 7,33 7,25 7,31 7,29 7,29
12,64 11,90 6,62 6,27 5,86 6,23 6,31 6,43 na
13,49 12,90 7,14 6,68 6,11 6,31 6,61 6,71 na
12,71 11,72 8,35 7,99 7,38 7,15 7,1 7,14 7,13
425 398 692 753 736 730 816 1.004 1.046
127.407 125.211 166.474 147.039 142.730 166.474 175.325 199.446 183.747
180.111 181.239 223.799 216.343 218.821 233.717 239.299 253.818 183.747
75.908 72.323 94.542 90.619 86.616 97.565 97.893 109.265 105.144 104.203 108.916 129.257 125.724 132.205 136.152 141.406 144.553 na
873.683 877.776 955.692 947.277 934.983 975.157 985.194 1.033.528 na
693.572 696.537 731.893 730.934 716.162 741.440 745.895 779.710 na 550.357 558.977 592.715 588.946 574.104 593.450 605.659 644.109 na 362.553 370.692 350.885 346.347 327.722 334.336 336.197 349.091 na 187.804 188.285 241.830 242.599 246.382 259.114 269.462 295.018 na 143.215 137.560 139.178 141.988 142.058 147.990 140.236 135.601 na 730.468 740.216 816.514 805.289 792.925 827.176 846.570 897.927 na
382.536 400.353 466.826 461.827 477.504 549.966 576.823 615.802 na
358.084 376.141 437.942 432.738 446.593 486.067 513.223 553.548 na
0,80 -0,23 0,94 0,57 0,36 0,48 0,02 1,04 1,43
8,74 7,12 5,06 4,82 5,11 6,83 6,27 6,4 7,32
8.940 8.908 8.465 8.441 8.587 9.400 9.155 9.270 9.167
3.936 4.008 3.717 3.837 3.871 4.340 5.685 5.122 na
2.322 2.267 2.335 2.049 2.183 2.721 3.091 3.591 na
21,81 22,68 24,20 24,00 25,70 23,70 23,66 24,40 24,63
4,35 4,46 5,03 5,13
5,01 6,43 4,30 6,89
0,68 4,24 13,09 15,71
6,48 0,85 19,85 8,47
1,78 6,54 29,87 24,95
2 0 0 3 2 0 0 4 2005
Tw. IV Tw.I Tw. III Tw. IV
SUKU BUNGA & SAHAM Suku bunga SBI 1 bln 1) Suku bunga SBI 3 bln 1) Suku bunga deposito 1 bln 2) Suku bunga deposito 3 bln 2) JIBOR satu minggu 2) BEJ Indeks 3)
BESARAN MONETER (miliar Rp) Base Money
M1(C+D) Uang Kartal (C) Uang giral (D)
Broad Money (M2 = C+D+T) Uang kuasi (T)
Uang kuasi (Rupiah) Deposito Tabungan Deposito (Valas) M2 - Rupiah
Tagihan pada Dunia Usaha Kredit-Bank Umum
Inflasi bulanan (%) y-y %
Rp/USD (akhir periode, nilai tengah) Barang Non migas (f.o.b, juta USD) 4) Impor Barang Non migas (c & f, juta USD) 4) Net International Reserve (juta USD)
Pertumbuhan PDB (% yoy) Konsumsi
Investasi Ekspor Impor
HARGA
SEKTOR EKSTERNAL
INDIKATOR KUARTALAN