• Tidak ada hasil yang ditemukan

BKS IKM IKP IKK FKI - Badan Kerja Sama bagian IKM-IKP-IKK-FKI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "BKS IKM IKP IKK FKI - Badan Kerja Sama bagian IKM-IKP-IKK-FKI"

Copied!
43
0
0

Teks penuh

(1)

Mata Ajaran Ilmu Kesehatan Masyarakat – Kedokteran Pencegahan 3 (acuan SKDI 2012)

Kode Mata Ajaran

KMP 401

Beban Studi 4 (empat) SKS Semester 7

Tatap Muka Ke - ... Tanggal ... Penanggung

Jawab

(2)

Sub Pokok Bahasan :

1.Menjelaskan Pengertian Rujukan 2.Menjelaskan Jenjang Rujukan

3.Menjelaskan Azas Rujukan dalam Penyelenggaraan Puskesmas

4.Menjelaskan Tata cara melakukan Rujukan 5.Menjelaskan Surat Pengantar Rujukan

6.Menjelaskan Kesimpulan tentang Rujukan

Tujuan Setelah menyelesaikan mata ajaran ini, mahasiswa diharapkan mampu memahami dan mampu menjalankan sistem rujukan yang baik.

SKDI 2012 Lampiran 2 : Daftar Masalah Kesehatan : Kesehatan Masyarakat /

Kedokteran Komunitas / Kedokteran

Pencegahan

19. Sistem rujukan yang belum berjalan baik

(3)

1.Pengertian Rujukan

Pasal 51

Dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran mempunyai kewajiban :

b. merujuk pasien ke dokter atau dokter gigi lain yang mempunyai keahlian atau kemampuan yang lebih baik, apabila tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan;

Undang Undang RI Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran

Rujukan adalah pelimpahan wewenang dan

tanggungjawab atas kasus penyakit atau masalah kesehatan yang diselenggarakan secara timbal balik, baik secara vertikal dalam arti satu strata sarana pelayanan kesehatan ke strata sarana pelayanan kesehatan lainnya, maupun secara horisontal dalam arti antar sarana pelayanan kesehatan yang sama.

(4)

BAB III

SISTEM RUJUKAN Bagian Kesatu

Umum Pasal 3

Sistem Rujukan pelayanan kesehatan merupakan

penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang

mengatur pelimpahan tugas dan tanggung jawab pelayanan kesehatan secara timbal balik baik vertikal maupun horizontal.

(5)

Pasal 4

(1) Pelayanan kesehatan dilaksanakan secara berjenjang, sesuai kebutuhan medis dimulai dari pelayanan kesehatan tingkat pertama.

(2) Pelayanan kesehatan tingkat kedua hanya dapat diberikan atas rujukan dari pelayanan kesehatan tingkat pertama.

(3) Pelayanan kesehatan tingkat ketiga hanya dapat diberikan atas rujukan dari pelayanan kesehatan tingkat kedua atau tingkat pertama.

(4) Bidan dan perawat hanya dapat melakukan rujukan ke dokter dan/atau dokter gigi pemberi pelayanan kesehatan tingkat pertama.

(5) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) dikecualikan pada keadaan gawat darurat, bencana, kekhususan permasalahan kesehatan pasien, dan pertimbangan geografis.

(6)
(7)

Pasal 2

(1) Pengelolaan kesehatan diselenggarakan melalui pengelolaan administrasi kesehatan, informasi

kesehatan, sumber daya kesehatan, upaya

kesehatan, pembiayaan kesehatan, peran serta dan pemberdayaan masyarakat, ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kesehatan, serta pengaturan hukum kesehatan secara terpadu dan saling mendukung guna menjamin tercapainya derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.

(2) Pengelolaan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara berjenjang di pusat dan daerah dengan memperhatikan otonomi daerah dan otonomi fungsional di bidang kesehatan.

Peraturan Presiden RI No. 72 Th 2012 ttg Sistem Kesehatan Nasional

Pasal 5

SKN menjadi acuan dalam penyusunan dan

(8)

Pasal 6

(3) Pelaksanaan SKN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memperhatikan:

a. cakupan pelayanan kesehatan berkualitas, adil, dan merata; b. pemberian pelayanan kesehatan yang berpihak kepada rakyat;

c. kebijakan kesehatan masyarakat untuk meningkatkan dan melindungi kesehatan masyarakat;

d. kepemimpinan dan profesionalisme dalam pembangunan kesehatan;

e. inovasi atau terobosan ilmu pengetahuan dan teknologi yang etis dan terbukti bermanfaat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan secara luas, termasuk penguatan sistem rujukan;

f. pendekatan secara global dengan mempertimbangkan kebijakan kesehatan yang sistematis, berkelanjutan, tertib, dan responsif gender dan hak anak;

g. dinamika keluarga dan kependudukan; h. keinginan masyarakat;

i. epidemiologi penyakit;

j. perubahan ekologi dan lingkungan; dan

k. globalisasi, demokratisasi dan desentralisasi dengan semangat persatuan dan kesatuan nasional serta kemitraan dan kerja sama lintas sektor.

(9)

A.5. Penyelenggaraan

158. Terdapat tiga tingkatan upaya, yaitu upaya kesehatan tingkat pertama/primer, upaya kesehatan tingkat kedua/sekunder, dan upaya kesehatan tingkat ketiga/tersier.

159. Upaya kesehatan diselenggarakan secara terpadu, berkesinambungan, dan paripurna melalui sistem rujukan.

Peraturan Presiden RI No. 72 Th 2012 ttg Sistem Kesehatan Nasional

167. Rujukan di bidang upaya kesehatan perorangan dalam bentuk pengiriman pasien, spesimen, dan

pengetahuan tentang penyakit dengan

(10)

A.5.a. 1). a). Pelayanan Kesehatan Perorangan Primer (PKPP)

171. Pelayanan kesehatan perorangan primer adalah pelayanan kesehatan dimana terjadi kontak pertama secara perorangan sebagai proses awal pelayanan kesehatan.

172. Pelayanan kesehatan perorangan primer memberikan penekanan pada pelayanan pengobatan, pemulihan tanpa mengabaikan upaya peningkatan dan pencegahan, termasuk di dalamnya pelayanan kebugaran dan gaya hidup sehat (healthy life style).

(11)

A.5.a. 2). a). Pelayanan Kesehatan Perorangan Sekunder (PKPS)

187. Pelayanan kesehatan perorangan sekunder adalah pelayanan kesehatan spesialistik yang menerima rujukan dari pelayanan kesehatan perorangan primer, yang meliputi rujukan kasus, spesimen, dan ilmu pengetahuan serta dapat merujuk kembali ke fasilitas pelayanan kesehatan yang merujuk.

188. Pelayanan kesehatan perorangan sekunder dilaksanakan oleh dokter spesialis atau dokter yang

sudah mendapatkan pendidikan khusus dan

mempunyai izin praktik serta didukung tenaga kesehatan lainnya yang diperlukan.

189. Pelayanan kesehatan perorangan sekunder dilaksanakan di tempat kerja maupun fasilitas pelayanan kesehatan perorangan sekunder baik rumah sakit setara kelas C serta fasilitas pelayanan kesehatan lainnya milik Pemerintah, Pemerintah Daerah, masyarakat, maupun swasta.

(12)

A.5.a. 3).a). Pelayanan Kesehatan Perorangan Tersier (PKPT)

198. Pelayanan kesehatan perorangan tersier menerima rujukan subspesialistik dari pelayanan kesehatan di bawahnya, dan dapat merujuk kembali ke fasilitas pelayanan kesehatan yang merujuk.

199. Pelaksana pelayanan kesehatan perorangan tersier adalah dokter subspesialis atau dokter spesialis yang telah mendapatkan pendidikan khusus atau pelatihan dan mempunyai izin praktik dan didukung oleh tenaga kesehatan lainnya yang diperlukan.

200. Pelayanan kesehatan perorangan tersier dilaksanakan di rumah sakit umum, rumah sakit khusus setara kelas A dan B, baik milik Pemerintah, Pemerintah Daerah maupun swasta yang mampu memberikan pelayanan kesehatan subspesialistik dan juga termasuk klinik khusus, seperti pusat radioterapi.

(13)

A.5.a. 1). b). Pelayanan Kesehatan Masyarakat Primer (PKMP)

179. Pelayanan kesehatan masyarakat primer adalah pelayanan peningkatan dan pencegahan tanpa mengabaikan pengobatan dan pemulihan dengan sasaran keluarga, kelompok, dan masyarakat.

180. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan

masyarakat primer menjadi tanggung jawab Dinas

Kesehatan Kabupaten/Kota yang pelaksanaan

operasionalnya dapat didelegasikan kepada

Puskesmas, dan/atau fasilitas pelayanan kesehatan

primer lainnya yang diselenggarakan oleh

Pemerintah, Pemerintah Daerah dan/atau

masyarakat.

(14)

A.5.a. 2).b). Pelayanan Kesehatan Masyarakat Sekunder (PKMS)

193. Pelayanan kesehatan masyarakat sekunder menerima rujukan kesehatan dari pelayanan kesehatan masyarakat primer dan memberikan fasilitasi dalam bentuk sarana, teknologi, dan sumber daya manusia kesehatan serta didukung oleh pelayanan kesehatan masyarakat tersier.

194. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan

masyarakat sekunder menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan/atau Provinsi sebagai fungsi teknisnya, yakni melaksanakan pelayanan kesehatan masyarakat yang tidak sanggup atau tidak memadai dilakukan pada pelayanan kesehatan masyarakat primer.

195. Dalam penanggulangan penyakit menular yang tidak terbatas pada suatu batas wilayah administrasi pemerintahan (lintas kabupaten/ kota), maka tingkat yang lebih tinggi (provinsi) yang harus menanganinya.

(15)

A.5.a. 3).b). Pelayanan Kesehatan Masyarakat Tersier (PKMT)

204. Pelayanan kesehatan masyarakat tersier menerima rujukan kesehatan dari pelayanan kesehatan masyarakat sekunder dan memberikan fasilitasi dalam bentuk sarana, teknologi, sumber daya manusia kesehatan, dan rujukan operasional, serta melakukan penelitian dan pengembangan bidang kesehatan masyarakat dan penapisan teknologi dan produk teknologi yang terkait.

205. Pelaksana pelayanan kesehatan masyarakat tersier adalah Dinas Kesehatan Provinsi, unit kerja terkait di tingkat provinsi, Kementerian Kesehatan, dan unit kerja terkait di tingkat nasional.

(16)

Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 001 Tahun 2012 Tentang Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan Perorangan

BAB II

PELAYANAN KESEHATAN PERORANGAN Pasal 2

(1) Pelayanan kesehatan perorangan terdiri dari 3 (tiga) tingkatan yaitu :

a. Pelayanan kesehatan tingkat pertama; b. Pelayanan kesehatan tingkat kedua; dan c. Pelayanan kesehatan tingkat ketiga.

(2) Pelayanan kesehatan tingkat pertama

sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a

merupakan pelayanan kesehatan dasar yang

diberikan oleh dokter dan dokter gigi di puskesmas, puskesmas perawatan, tempat praktik perorangan, klinik pratama, klinik umum di balai/lembaga pelayanan kesehatan, dan rumah sakit pratama.

(17)

Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 001 Tahun 2012 Tentang Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan Perorangan

BAB II

PELAYANAN KESEHATAN PERORANGAN Pasal 2

(4) Pelayanan kesehatan tingkat kedua sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b merupakan pelayanan kesehatan spesialistik yang dilakukan oleh dokter spesialis atau dokter gigi spesialis yang menggunakan pengetahuan dan teknologi kesehatan spesialistik.

(18)

Pasal 5

(1) Sistem rujukan diwajibkan bagi pasien yang merupakan peserta jaminan kesehatan atau asuransi kesehatan sosial dan pemberi pelayanan kesehatan.

(2) Peserta asuransi kesehatan komersial mengikuti aturan yang berlaku sesuai dengan ketentuan dalam polis asuransi dengan tetap mengikuti pelayanan kesehatan yang berjenjang.

(3) Setiap orang yang bukan peserta jaminan

kesehatan atau asuransi kesehatan sosial,

sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat mengikuti sistem rujukan.

Pasal 6

Dalam rangka meningkatkan aksesibilitas,

pemerataan dan peningkatan efektifitas pelayanan kesehatan, rujukan dilakukan ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat yang memiliki kemampuan pelayanan sesuai kebutuhan pasien.

(19)

BAB I  

PENDAHULUAN  

Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI) merupakan standar minimal kompetensi lulusan dan bukan merupakan standar kewenangan dokter layanan primer. SKDI pertama kali disahkan oleh Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) pada tahun 2006

dan telah digunakan sebagai acuan untuk

pengembangan kurikulum berbasis kompetensi

(KBK). SKDI juga menjadi acuan dalam

pengembangan uji kompetensi dokter yang bersifat nasional.

(20)

Lampiran 3 : Daftar Penyakit

Tingkat Kemampuan 1: mengenali dan menjelaskan Lulusan dokter mampu mengenali dan menjelaskan gambaran klinik penyakit, dan mengetahui cara yang paling tepat untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai penyakit tersebut, selanjutnya menentukan rujukan yang paling tepat bagi pasien. Lulusan dokter juga mampu menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan.

Tingkat Kemampuan 2: mendiagnosis dan merujuk

Lulusan dokter mampu membuat diagnosis klinik terhadap penyakit tersebut dan menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan pasien

selanjutnya. Lulusan dokter juga mampu

menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan.

(21)

Tingkat Kemampuan 3: mendiagnosis, melakukan penatalaksanaan awal, dan merujuk

3A. Bukan gawat darurat

Lulusan dokter mampu membuat diagnosis klinik dan memberikan terapi pendahuluan pada keadaan yang bukan gawat darurat. Lulusan dokter mampu menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan pasien selanjutnya. Lulusan dokter juga mampu menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan.

3B. Gawat darurat

Lulusan dokter mampu membuat diagnosis klinik dan memberikan terapi pendahuluan pada keadaan gawat darurat demi menyelamatkan nyawa atau mencegah keparahan dan/atau kecacatan pada pasien. Lulusan dokter mampu menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan pasien

selanjutnya. Lulusan dokter juga mampu

menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan.

(22)

Tingkat Kemampuan 4: mendiagnosis, melakukan penatalaksanaan secara mandiri dan tuntas

Lulusan dokter mampu membuat diagnosis klinik dan melakukan penatalaksanaan penyakit tersebut secara mandiri dan tuntas.

4A. Kompetensi yang dicapai pada saat lulus dokter 4B. Profisiensi (kemahiran) yang dicapai setelah selesai internsip dan/atau Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan (PKB)

Dengan demikian didalam Daftar Penyakit ini level kompetensi tertinggi adalah 4A

(23)

BAB II JENIS Pasal 2

(1) Berdasarkan jenis pelayanannya, klinik dibagi menjadi Klinik Pratama dan Klinik Utama.

(2) Klinik Pratama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempakan klinik yang menyelenggarakan pelayanan medik dasar.

(3) Klinik Utama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan klinik yang menyelenggarakan pelayanan medik spesialistik atau pelayanan medik dasar dan spesialistik.

(4) Klinik Pratama atau Klinik Utama sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) dapat mengkhususkan pelayanan pada satu bidang tertentu berdasarkan disiplin ilmu, golongan umur, organ atau jenis penyakit tertentu.

(5) Jenis Klinik Pratama atau Klinik Utama sebagaimana dimaksud pada ayat (4) serta pedoman penyelenggaraannya ditetapkan oleh Menteri.

(24)

3. Azas Rujukan dalam

(25)

B. Azas penyelenggaraan

Penyelenggaraan upaya kesehatan wajib dan upaya kesehatan pengembangan harus menerapkan azas penyelenggaraan puskesmas secara terpadu. Azas penyelenggaraan puskesmas yang dimaksud adalah : 1. Azas pertanggungjawaban wilayah

2. Azas pemberdayaan masyarakat 3. Azas keterpaduan

4. Azas rujukan

(26)

4. Azas rujukan

Sebagai sarana pelayanan kesehatan tingkat pertama, kemampuan yang dimiliki oleh puskesmas terbatas.

Padahal puskesmas berhadapan langsung dengan

masyarakat dengan berbagai permasalahan

kesehatannya. Untuk membantu puskesmas

menyelesaikan berbagai masalah kesehatan tersebut dan juga untuk meningkatkan efisiensi, maka penyelenggaraan setiap upaya puskesmas (wajib, pengembangan dan inovasi) harus ditopang oleh azas rujukan.

Sesuai dengan jenis upaya kesehatan yang diselenggarakan oleh puskesmas ada dua macam rujukan yang dikenal, yakni :

a. Rujukan upaya kesehatan perorangan b. Rujukan upaya kesehatan masyarakat

(27)

a. Rujukan upaya kesehatan perorangan

Cakupan rujukan pelayanan kesehatan perorangan adalah kasus penyakit. Apabila suatu puskesmas tidak mampu menanggulangi satu kasus penyakit tertentu, maka puskesmas tersebut wajib merujuknya ke sarana pelayanan kesehatan yang lebih mampu (baik horisontal maupun vertikal). Sebaliknya pasien paska rawat inap yang hanya memerlukan rawat jalan sederhana, dirujuk ke puskesmas.

Rujukan upaya kesehatan perorangan dibedakan atas tiga macam :

1). Rujukan kasus keperluan diagnostik, pengobatan, tindakan medik (biasanya operasi) dan lain-lain.

2). Rujukan bahan pemeriksaan (spesimen) untuk pemeriksaan laboratorium yang lebih lengkap.

3). Rujukan ilmu pengetahuan antara lain

mendatangkan tenaga yang lebih kompeten untuk melakukan bimbingan kepada tenaga puskesmas dan ataupun menyelenggarakan pelayanan medik di puskesmas.

(28)

b. Rujukan upaya kesehatan masyarakat

Cakupan rujukan pelayanan kesehatan masyarakat adalah masalah kesehatan masyarakat, misalnya kejadian luar biasa, pencemaran lingkungan, dan bencana

Rujukan pelayanan kesehatan masyarakat juga dilakukan apabila satu puskesmas tidak mampu menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat wajib dan pengembangan, padahal upaya kesehatan masyarakat tersebut telah menjadi kebutuhan masyarakat. Apabila suatu puskesmas tidak mampu menanggulangi masalah kesehatan masyarakat, maka puskesmas tersebut wajib merujuknya ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.

(29)

Rujukan upaya kesehatan masyarakat dibedakan atas tiga macam :

1). Rujukan sarana dan logistik, antara lain peminjaman peralatan fogging, peminjaman alat laboratorium kesehatan, peminjaman alat audio visual, bantuan obat, vaksin, bahan-bahan habis pakai dan bahan makanan.

2). Rujukan tenaga antara lain dukungan tenaga ahli untuk penyelidikan kejadian luar biasa, bantuan

penyelesaian masalah hukum kesehatan,

penanggulangan gangguan kesehatan karena bencana alam.

3). Rujukan operasional, yakni menyerahkan sepenuhnya masalah kesehatan masyarakat dan tanggungjawab penyelesaian masalah kesehatan

masyarakat dan atau penyelenggaraan upaya

kesehatan masyarakat (antara lain Upaya Kesehatan Sekolah, Upaya Kesehatan Kerja, Upaya Kesehatan Jiwa, pemeriksaan contoh air bersih) kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Rujukan operasional diselenggarakan apabila puskesmas tidak mampu.

(30)

PERORANGAN/ Praktek Dr. Spec. Swasta RS Umum/Khusus

(31)
(32)

Bagian Kedua Tata Cara Rujukan

Pasal 7

(1) Rujukan dapat dilakukan secara vertikal dan horizontal.

(2) Rujukan vertikal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan rujukan antar pelayanan kesehatan yang berbeda tingkatan.

(3) Rujukan horizontal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan rujukan antar pelayanan kesehatan dalam satu tingkatan.

(4) Rujukan vertikal sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dilakukan dari tingkatan pelayanan yang lebih rendah ke tingkatan pelayanan yang lebih tinggi atau sebaliknya.

Pasal 8

Rujukan horizontal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) dilakukan apabila perujuk tidak dapat memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan pasien karena keterbatasan fasilitas, peralatan dan/atau ketenagaan yang sifatnya sementara atau menetap.

(33)

Pasal 9

Rujukan vertikal dari tingkatan pelayanan yang lebih rendah ke tingkatan pelayanan yang lebih tinggi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (4) dilakukan apabila:

a. pasien membutuhkan pelayanan kesehatan spesialistik atau sub spesialistik;

b. perujuk tidak dapat memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan pasien karena keterbatasan fasilitas, peralatan dan/atau ketenagaan.

(34)

Pasal 10

Rujukan vertikal dari tingkatan pelayanan yang lebih tinggi ke tingkatan pelayanan yang lebih rendah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (4) dilakukan apabila:

a.permasalahan kesehatan pasien dapat ditangani oleh tingkatan pelayanan kesehatan yang lebih

rendah sesuai dengan kompetensi dan

kewenangannya;

b.kompetensi dan kewenangan pelayanan tingkat pertama atau kedua lebih baik dalam menangani pasien tersebut;

c.pasien membutuhkan pelayanan lanjutan yang dapat ditangani oleh tingkatan pelayanan kesehatan yang lebih rendah dan untuk alasan kemudahan, efisiensi dan pelayanan jangka panjang; dan/atau

d.perujuk tidak dapat memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan pasien karena keterbatasan sarana, prasarana, peralatan dan/atau ketenagaan.

(35)

Pasal 11

(1) Setiap pemberi pelayanan kesehatan

berkewajiban merujuk pasien bila keadaan penyakit atau permasalahan kesehatan memerlukannya, kecuali dengan alasan yang sah dan mendapat persetujuan pasien atau keluarganya.

(2) Alasan yang sah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pasien tidak dapat ditransportasikan atas alasan medis, sumber daya, atau geografis.

(36)

Pasal 13

Perujuk sebelum melakukan rujukan harus:

a. melakukan pertolongan pertama dan/atau tindakan stabilisasi kondisi pasien sesuai indikasi medis serta sesuai dengan kemampuan untuk tujuan keselamatan pasien selama pelaksanaan rujukan;

b. melakukan komunikasi dengan penerima rujukan dan memastikan bahwa penerima rujukan dapat menerima pasien dalam hal keadaan pasien gawat darurat; dan

c. membuat surat pengantar rujukan untuk disampaikan kepada penerima rujukan.

Pasal 14

Dalam komunikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf b, penerima rujukan berkewajiban:

a. menginformasikan mengenai ketersediaan sarana dan prasarana serta kompetensi dan ketersediaan tenaga kesehatan; dan

b. memberikan pertimbangan medis atas kondisi pasien.

(37)

Pasal 16

(1) Transportasi untuk rujukan dilakukan sesuai dengan kondisi pasien dan ketersediaan sarana transportasi.

(2) Pasien yang memerlukan asuhan medis terus menerus harus dirujuk dengan ambulans dan didampingi oleh tenaga kesehatan yang kompeten.

(3) Dalam hal tidak tersedia ambulans pada fasilitas pelayanan kesehatan perujuk, rujukan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dapat dilakukan dengan menggunakan alat transportasi lain yang layak.

Pasal 17

(1) Rujukan dianggap telah terjadi apabila pasien telah diterima oleh penerima rujukan.

(2) Penerima rujukan bertanggung jawab untuk melakukan pelayanan kesehatan lanjutan sejak menerima rujukan.

(3) Penerima rujukan wajib memberikan informasi kepada perujuk mengenai perkembangan keadaan pasien setelah selesai memberikan pelayanan.

(38)

Bagian Ketiga Pembiayaan

Pasal 18

(1) Pembiayaan rujukan dilaksanakan sesuai ketentuan yang berlaku pada asuransi kesehatan atau jaminan kesehatan.

(2) Pembiayaan rujukan bagi pasien yang bukan peserta asuransi kesehatan atau jaminan kesehatan

menjadi tanggung jawab pasien dan/atau

keluarganya.

BAB VII

KETENTUAN PENUTUP Pasal 22

Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku, Surat

Keputusan Menteri Kesehatan RI No.

032/Birhup/1972 tentang Referal System dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

(39)

5.Surat Pengantar Rujukan

Pasal 15

Surat pengantar rujukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf c sekurang-kurangnya memuat : a. identitas pasien;

b. hasil pemeriksaan (anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang) yang telah dilakukan;

c. diagnosis kerja;

d. terapi dan/atau tindakan yang telah diberikan; e. tujuan rujukan; dan

f. nama dan tanda tangan tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan.

(40)

Pasal 12

(1) Rujukan harus mendapatkan persetujuan dari pasien dan/atau keluarganya.

(2) Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah pasien dan/atau keluarganya mendapatkan penjelasan dari tenaga kesehatan yang berwenang.

(3) Penjelasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sekurang-kurangnya meliputi:

a. diagnosis dan terapi dan/atau tindakan medis yang diperlukan;

b. alasan dan tujuan dilakukan rujukan;

c. risiko yang dapat timbul apabila rujukan tidak dilakukan;

d. transportasi rujukan; dan

e. risiko atau penyulit yang dapat timbul selama dalam perjalanan.

(41)

Kop Surat

Dengan ini kami mengirimkan pasien :

Nama : ... jenis kelamin :...

pemeriksaan fisik : ...

pemeriksaan penunjang

: ...

diagnosis kerja : ...

terapi dan/atau tindakan yang telah

diberikan : ...

tujuan rujukan : ... Terimakasih.

tanggal dan waktu : ...

nama dan tanda tangan tenaga kesehatan ... Catatan :

Rujukan telah mendapatkan Persetujuan dari pasien dan/atau keluarganya.

Persetujuan diberikan setelah pasien dan/atau keluarganya mendapatkan Penjelasan, meliputi:

(42)

6. Kesimpulan tentang Rujukan

Jenis Rujukan :

a. Rujukan upaya kesehatan perorangan b. Rujukan upaya kesehatan masyarakat

Arah Rujukan :

a. Rujukan secara vertikal b. Rujukan secara horizontal Jenjang Rujukan :

a. upaya kesehatan perorangan

1)Pelayanan Kesehatan Perorangan Primer (PKPP) 2)Pelayanan Kesehatan Perorangan Sekunder (PKPS) 3)Pelayanan Kesehatan Perorangan Tersier (PKPT) b. upaya kesehatan masyarakat

1)Pelayanan Kesehatan Masyarakat Primer (PKMP) 2)Pelayanan Kesehatan Masyarakat Sekunder (PKMS)

3)Pelayanan Kesehatan Masyarakat Tersier (PKMT)

Surat Pengantar

(43)

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini diperlukan sebagai dasar teori dan dasar praktis dalam memanfaatkan daun jambu biji sebagai bahan obat tradisional untuk mengetahui pengaruh daya

Surat Teguran dan Surat Paksa yang diterbitkan dibayar dengan waktu yang bervariasi, ada beberapa yang membayar sebelum diterbitkannya Surat Teguran atau Surat

Panitia Pengadaan Sarana Pengolahan Limbah BALAI PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN DI PANGKALPINANG Komplek Perkantoran Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Jalan Pulau Bangka,

The measured ozone concentration will increase with the increasing concentration and volume of ozonized methyl orange and potassium iodide solution. The better method to

a. Katarak kongenital, adalah katarak yang mulai terjadi sebelum atau segera setelah lahir dan bayi berusia kurang dari satu tahun. Katarak kongenital sering ditemukan pada bayi

PENINGKATAN KEMAMPUAN REPRESENTASI DAN DISPOSISI MATEMATIS SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA DENGAN PENDEKATAN COLLABORATIVE PROBLEM SOLVING.. Universitas Pendidikan Indonesia |

Abstrct : Barong Landung in Banjar Kaja Pedungan is a Balinese traditional performing art form, amidst the way of life of an urbanized community, as a result of modernization

1.000.000.000,- (Satu milyar rupiah) Tahun Anggaran 2017, maka dengan ini diumumkan bahwa Pemenang E-lelang pemilihan langsung pekerjaan tersebut di atas adalah sebagai berikut :..