S MAT 1103667 Chapter 3

Teks penuh

(1)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode Penelitian

Barton (1996) menjelaskan bahwa “berdasarkan empat kegiatan

ethnomatematical yakni deskriptif, arkeologi, matematis dan aktivitas analisis menunjukkan perlunya menggambarkan praktek budaya dan konteksnya sebagai komponen integral dari proses penelitian ethnomatical”, oleh karena hal itu Alangui (2010: 61) menjelaskan bahwa “memungkinkan untuk menempatkan penelitian ethnomathematics sebagai penelitian kualitatif”. Hal

itu pun sesuai dengan karakteristik penelitian kualitatif seperti yang diungkapkan Hamdi dan Bahrudin (2014, hlm. 9) bahwa karakteristik penelitian kualitatif yaitu:

1) Sumber data ialah situasi yang wajar atau “naturral setting”, artinya bahwa peneliti mengumpulkan data berdasarkan observasi situasi yang wajar, sebagaimana adanya, tanpa dipengaruhi dan sengaja,

2) Peneliti sebagai instrumen penelitian artinya dalam penelitian kualitatif

peneliti merupakan “key instrument” atau alat penelitian utama,

3) Sangat deskriptif, artinya dalam penelitian kualitatif diusahakan mengumpulkan data deskriptif yang banyak yang dituangkan dalam bentuk laporan dan uraian. Penelitian ini tidak mengutamakan angka – angka dan dan statistik, walaupun tidak menolak data kuantitatif,

4) Mementingkan proses maupun produk, artinya memperhatikan bagaimana perkembangan terjadinya sesuatu di samping bagaimana hasil dari proses tersebut,

(2)

6) Mengutamakan data langsung atau “first hand”, sehingga peneliti sendiri

yang terjun ke lapangan untuk mengadakan observasi atau wawancara. Peneliti tidak menggunakan tes atau angket dengan demikian akan mengambil jarak dengan sumber data.

7) Triangulasi, artinya data atau informasi dari satu pihak harus dicek kebenarannya dengan cara memperoleh data itu dari sumber lain, misalnya dari pihak kedua, ketiga, dan seterusnya dengan menggunakan metode yang berbeda – beda.

8) Menonjolkan rincian kontekstual, artinya peneliti mengumpulkan dan mencatat data yang sangat terinci mengenai hal – hal yang dianggap bertalian dengan masalah – masalah yang diteliti. Data tidak dipandang lepas – lepas akan tetapi saling berkaitan dan merupakan suatu keseluruhan atau struktur.

9) Subjek yang diteliti dipandang berkedudukan sama dengan peneliti. Artinya subjek yang diteliti tidak dipandang sebagai objek atau yang lebih rendah kedudukannya akan tetapi sebagai manusia yang setaraf. Peneliti tidak menganggap dirinya lebih tinggi atau lebih tahu, datang untuk belajar, untuk menambah pengetahuan dan pemahamannya.

10)Partisipasi tanpa menggangu, artinya untuk memperoleh situasi yang

“natural” atau wajar, peneliti hendaknya jangan menonjolkan diri sepanjang melakukan observasi.

11)Mengadakan analisis sejak awal penelitian, artinya analisis data penelitian dilakukan sejak awal pnelitian dan terus berlanjut sepanjang melakukan penelitian.

(3)

digunakan untuk mengungkapkan kasus matematika berkaitan dengan ethnomathematics.

Penelitian ethnomathematics memiliki suatu metode dalam pendekatannya yakni dengan menggunakan metode ethnography. Creswell (dalam Nursyahida,

2013, hlm. 63) mengatakan bahwa “ethnography merupakan salah satu jenis

penelitian kualitatif dimana peneliti melakukan studi terhadap budaya

kelompok dalam konsidi alamiah melalui proses observasi dan wawancara”.

Dalam buku The Handbook of Qualitative Research in Education Wolcott (1992, hlm. 21-22) menjelaskan bahwa

Sebuah “field of Study” dan “ethnography” berlabel sama, saling terkait tetapi tidak sama. Field of Sutdy dalam hal ini ethnomathematics dan ethnography memanfaatkan tiga teknik dasar untuk semua penelitian lapangan yang berorientasi kepada mengalami, bertanya dan memeriksa, yang membedakannya adalah bahwa siapa saja yang melakukan ethnography membuat klaim tidak hanya tentang prosedur tetapi juga bahwa hasilnya akan berupa ethnography. Ethnography adalah produk akhir untuk sebuah penelitian terfokus budaya dan interpretasi yang mencirikan lapangan anthropology”.

Jadi ethnography merupakan penelitian lebih mendalam tentang budaya suatu masyarakat menjadi metode yang dipilih dalam penelitian ini yakni berupa observasi, wawancara, dokumentasi dan catatan lapangan.

B. Desain Penelitian

Alangui (2010, hlm. 63) menjelaskan bahwa kerangka penelitian ethnomathematics yang memfokuskan pada praktik budaya yang tidak biasa dibangun dengan empat pertanyaan umum berikut ini:

1) Where to start looking (Dimana memulai pengamatan)? 2) How to look (Bagaimanakah cara mengamatinya)?

3) How to recognize that you have found something significant (Bagaimana untuk mengenali sesuatu yang penting yang ditemukan)?

(4)
(5)

pada penentuan

matematika baru yang ditemukan dari pada penentuan hari – hari besar Islam dan Keraton

C. Tempat dan Sampel Sumber Data Penelitian

Dalam penelitian kualitatif, menurut Spradley (dalam Sugiyono, 2013,

(6)

partisipan, informan, teman dan guru dalam penelitian. Sampel bukan disebut sampel statistik, tetapi disebut sampel teoritis, karena tujuan penelitian kualitatif adalah untuk menghasilkan teori. Pada penelitian kualitatif, peneliti memasuki situasi sosial tertentu untuk melakukan observasi dan wawancara kepada orang-orang yang dipandang tahu tentang situasi sosial tersebut (Sugiyono, 2013, hlm. 216).

Penentuan lokasi dan sampel sumber data penelitian dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling. Purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan dan tujuan tertentu. Pertimbangan tertentu ini, misalnya orang tersebut dianggap paling tahu tentang apa yang diharapkan peneliti (Sugiyono, 2013: 218-219).

Penelitian ini dilakukan di Keraton kasepuhan Cirebon yang berada di wilayah Cirebon, berada di Kota Madya Cirebon, Kelurahan Kasepuhan, RW 04 Kecamatan Lemah Wungkuk, Kota Cirebon Jawa Barat. Sedangkan untuk sampel sumber data yang diambil dalam penelitian ini yakni orang-orang yang mempunyai pengetahuan, informasi serta pemahaman tentang penentuan hari – hari besar Islam dan Keraton Kasepuhan Cirebon, sehingga sampel sumber data yang dianggap sesuai adalah abdi dalam Keraton dan masyarakat Keraton.

D. Instrumen Penelitian

(7)

Jadi, peneliti merupakan instrumen kunci dalam penelitian kualitatif (Sugiyono, 2013, hlm. 222-223).

Menurut Nasution (Sugiyono, 2009, hlm. 61-62), peneliti sebagai instrumen tepat untuk penelitian kualitatif karena memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1) Peneliti sebagai alat peka dan dapat bereaksi terhadap segala stimulus dari lingkungan yang harus diperkirakannya bermakna atau tidak bagi penelitian.

2) Peneliti sebagai alat dapat menyesuaikan diri terhadap semua aspek keadaan dan dapat mengumpulkan aneka ragam data sekaligus.

3) Setiap situasi merupakan keseluruhan. Tidak ada suatu instrumen berupa tes atau angket yang dapat menangkap keseluruhan situasi, kecuali manusia. 4) Suatu situasi yang melibatkan interaksi manusia, tidak dapat dipahami

dengan pengetahuan semata. Untuk memahaminya diperlukan untuk merasakannya, menyelaminya berdasarkan pengetahuan.

5) Peneliti sebagai instrumen dapat menganalisis data yang diperoleh.

6) Hanya manusia sebagai instrumen yang dapat mengambil kesimpulan dari data yang dikumpulkan pada suatu saat dan menggunakan segera sebagi balikan untuk memperoleh penegasan, perubahan, dan perbaikan.

7) Dengan manusia sebagai instrumen, respon yang aneh atau menyimpang, justru mendapat perhatian. Respon yang lain dari yang lain, bahkan bertentangan dipakai untuk mempertinggi tingkat kepercayaan dan pemahaman mengenai aspek yang diteliti.

(8)

Sedangkan Danim (2003, hlm. 252) memberikan penjelasan beberapa alasan mengapa manusia sebagai instrumen utama dalam penelitian kualitatif yakni sebagi berikut:

1) Peneliti sebagi instrumen dapat berinteraksi dengan responden dan lingkungan yang ada, memiliki kepekaan dan dapat bereaksi terhadap segala stimulus yang diperkirakan bermakna bagi penelitian.

2) Peneliti sebagai instrumen dapat menyesuaikan diri terhadap semua aspek keadaan dan dapat memahami situasi dalam segala seluk – beluknya. Sebagai instrumen utama, peneliti dapat mengumpulkan aneka ragam data pada berbagai jenis dan tingkatan karena sifat holistik penelitian kualitatif menuntut kemampuan menangkap fenomena dan segala konteksnya secara simultan.

3) Peneliti sebagai instrument dapat merasakan, memahami dan menghayati secara kompeten dan simultan atas aneka fenomena yang muncul secara kontekstual atau melalui proses interaksi. Bersamaan dengan itu, peneliti dapat menganalisis, menafsirkan, dan merumuskan kesimpulan sementara dalam menentukan arah wawancara dengan pengamatan selanjutnya terhadap responden untuk memperdalam atau memperjelas temuan penelitian.

4) Dengan adanya peneliti sebagai instrumen utama memungkinkan fenomena dan respon yang aneh dan menyimpang, bahkan bertentangan, dapat digali lebih jauh dan mendalam.

E. Teknik Pengumpulan Data

Ethnomathematics mempunyai kaitan yang sama dengan ethnography

(9)

yakni meminta bukti – bukti berupa dokumen atau naskah yang berkaitan dengan tujuan penelitian.

Peneliti terlebih dahulu melakukan studi pendahuluan,ke tempat penelitian untuk mengetahui apakah penelitian dapat dilakukan. Studi pendahuluan sangat penting untuk dilakukan sebagai acuan untuk melaksanakan langkah penelitian selanjutnya. Studi pendahuluan dapat dilakukan dengan observasi atau wawancara. Terdapat beberapa teknik pengumpulan data yang dalam penelitian kualitatif antara lain:.

1) Wawancara

Moleong (2010, hlm. 186) menyatakan bahwa “wawancara adalah

percakapan dengan maksud tertentu, percakapan itu dilakukan oleh dua pihak yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Sedangkan menurut Denzin dan Lincoln (Gunawan, 2013, hlm. 161) mengatakan bahwa “wawancara merupakan suatu percakapan, seni mengajukan pertanyaan dan mendengarkan. Wawancara bukan merupakan suatu hal yang netral, melainkan pewawancara menciptakan kondisi nyata sehingga tanya jawab dapat dilakukan dan jawaban dapat diperoleh. Wawancara menghasilkan pemahaman situasi berdasarkan peristiwa-peristiwa dari interaksi tertentu. Metode ini dipengaruhi oleh karakteristik personal pewawancara, meliputi ras, kelas, suku, dan gender.”

(10)

1. Menyiapkan pokok masalah yang akan menjadi bahan untuk dilakukannya wawancara.

2. Menemui narasumber yang akan diwawancarai yang telah ditunjuk oleh Sultan keraton Kasepuhan Cirebon.

3. Memulai wawancara.

4. Memverifikasi hasil wawancara dan mengakhiri wawancara. 5. Menuliskan hasil wawancara ke dalam bentuk catatan lapangan.

6. Mengidentifikasi dan menganalisa hasil wawancara yang telah diperoleh.

Secara praktik dalam penelitian ini, peneliti menggunakan jenis wawancara tidak terstruktur. Daymond dan Holloway (2007, hlm. 264) menjelaskan bahwa

“dalam wawancara tak terstruktur, tidak ada pertanyaan yang ditentukan

sebelumnya kecuali pada tahapan sangat awal, yakni ketika memulai wawancara dengan melontarkan pertanyaan umum dalam area studi. Menurut Endraswara (2006, hlm.166), wawancara tak terstruktur digunakan pada keadaan sebagai berikut:

1. Bila pewawancara berhubungan dengan orang penting

2. Ingin menanyakan secara mendalam tentang subjek penelitian 3. Apabila penelitian bersifat discovery (penemuan)

4. Jika tertarik untuk berhubungan langsung dengan informan

(11)

2) Observasi

Menurut Arikunto (dalam Gunawan, 2013, hlm. 143) mengatakan bahwa

“observasi merupakan suatu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan

cara melakukan penelitian secara teliti dan pengamatan secara sistematis. Observasi adalah studi yang disengaja dan sistematis tentang fenomena sosial dan gejala-gejala psikis dengan jalan pengamatan dan pencatatan.” Sedangkan menurut Purwanto (dalam Basrowi & Suwandi, 2008, hlm. 93), mengatakan bahwa “observasi adalah metode atau cara-cara menganalisis dan mengadakan pencatatan secara sistematis mengenai tingkah laku dengan melihat atau mengamati individu atau kelompok secara langsung. Observasi digunakan untuk melihat dan mengamati secara langsung keadaan di lapangan agar peneliti

memperoleh gambaran yang lebih luas mengenai permasalahan yang diteliti.”

Guba dan Lincoln (dalam Gunawan, 2013, hlm. 144) menyatakan bahwa alasan dilakukan observasi dalam penelitian kualitatif adalah sebagai berikut.

1. Observasi merupakan pengalaman langsung yang merupakan cara ampuh untuk memperoleh kebenaran.

2. Melalui observasi peneliti dapat melihat dan mengamati sendiri dan mencatat perilaku dan kejadian sebagaimana yang sebenarnya.

3. Observasi memungkinkan peneliti mencatat peristiwa yang berkaitan dengan pengetahuan yang relevan maupun pengetahuan yang diperoleh dari data penelitian.

4. Observasi dapat menghilangkan bias atau penyimpangan informasi atau data yang telah diperoleh.

5. Observasi memungkinkan peneliti untuk memahami situasi dan perilaku kompleks.

6. Observasi bisa dilakukan pada kasus-kasus tertentu yang tidak bisa tidak dapat dilakukan dengan menggunakan teknik komunikasi lainnya.

3) Studi Dokumentasi

(12)

penelitian atau berasal dari partisipan saat penelitian dilakukan. Dokumentasi merupakan pelengkap daripengunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif. Dokumen dapat berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang. Studi dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif.

4) Catatan Lapangan (Field Notes)

Menurut Bogdan dan Biklen (dalam Gunawan, 2013, hlm. 184), catatan lapangan adalah tulisan-tulisan atau catatan-catatan mengenai segala sesuatu yang didengar, dilihat, dialami, dan bahkan dipikirkan oleh peneliti selama kegiatan mengumpulkan dan merefleksikan data dalam kajian penelitiannya. Catatan lapangan harus dikerjakan segera setelah peneliti melakukan pengamatan (observasi), wawancara, atau kegiatan yang berkaitan dengan penelitian yang dilakukan. Keberhasilan memperoleh data penelitian sangat ditentukan oleh kerincian, ketepatan, keakuratan, dan keekstensifan catatan lapangan yang ditulis.

Peneliti dalam mengerjakan catatan lapangan menurut Williams (dalam Gunawan, 2013, hlm. 186), harus memperhatikan beberapa hal, yaitu pengambilan catatan lapangan yang dilakukan secara teratur, dimana di dalamnya diperlukan kreativitas, merupakan cara yang paling utama dari setiap peneliti kualitatif untuk memelihara alur dari sesuatu yang dilihatnya, didengarnya, dipikirkannya, dirasakannya, dipelajarinya, dan berbagai hal lainnya. Jadi catatan lapangan yang baik dapat memberikan kontribusi yang baik bagi penelitian ini.

5) Rekaman Suara

Peneliti menggunakan akat perekam suara bertujuan untuk melengkapi catatan lapangan dan mengabadikan hasil wawancara agar dapat diputar berulang – ulang liputan wawancara dengan narasumber. Ary

(13)

6) Rekaman Video

Perekam video hampir memiliki kegunaan yang sama dengan perakam suara. Berfungsi sebgai pelengkap dan juga untuk mengabadikan momen wawancara dengan narasumber. Baik rekaman video maupun suara mempunyai keunggulan dan kekuranggannya masing – masing. Perekam suara cenderung fleksibel tetapi tidak dapat menampilkan bentuk visual ketika wawancara sedang berlangsung. Menurut Ary et al (2006: 439), rekaman video dapat digunakan untuk mengkoleksi data wawancara. Berdasarkan penjelasan – penjelasan tersebut maka teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi, studi dokumentasi, catatan lapangan, rekaman audio dan rekaman video.

F. Teknik Analisis Data

Gunawan (dalam Budrisari 2014, hlm. 63) menjelaskan bahwa “analisis data kualitatif sesungguhnya sudah dimulai saat peneliti mulai mengumpulkan data, dengan cara memilah mana data yang sesungguhnya penting atau tidak. Ukuran penting atau tidaknya mengacu pada konstribusi data tersebut pada upaya menjawab fokus penelitian”. Miles dan Huberman (dalam Sugiyono, 2013, hlm. 246) mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung terus menerus sampai tuntas atau datanya jenuh. Aktivitas dalam analisis data tersebut adalah reduksi data, penyajian data, dan interpretasi data.

1) Reduksi data

Reduksi data adalah proses merangkum, memilih hal-hal pokok, memfokuskan pada hal-hal penting, mencari tema dan pola, dan mengorganisasikan data-data yang telah diperoleh sehingga diperoleh suatu tema, pola, atau gambaran yang lebih jelas.

2) Penyajian data

(14)

bentuk yang paling sering digunakan dalam penyajian data untuk data penelitian kualitatif adalah teks narasi.

3) Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi data

Langkah ketiga dalam teknik analisis data kualitatif menurut Miles dan Huberman (Sugiyono, 2013, hlm. 252) adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi data. Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang mendukung pada tahap pengumpulan data selanjutnya. Sehingga kesimpulan dalam penelitian kualitatif mungkin dapat menjawab rumusan masalah yang dirumuskan sejak awal, tetapi mungkin juga tidak, karena rumusan masalah dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara dan berkembang setelah penelitian dilakukan. Proses verifikasi data tidak dilakukan oleh peneliti seorang diri, tetapi dibantu oleh pelaku budaya sebagai subjek penelitian, anggota tim penelitian, dan para ahli terkait. Berdasarkan penjelasan – penjelasan tersebut maka maka Teknik yang diambil dalam skripsi ini adalah memilah dan merapihkan data yang diperoleh dari teknik pengumpulan data yang sekiranya diperlukan dalam penelitian

G. Teknik Pengujian Keabsahan Data

Dalam sebuah penelitian kualitatif terdapat beberapa teknik untuk melakukan uji data. Sugiyono (2013, hlm. 269) menyatakan bahwa uji keabsahan data dalam penelitian kualitatif meliputi uji kredibilitas (validitas internal), uji transferability (validitas eksternal), uji dependability (reliabilitas), dan uji konfirmability (objektivitas).

1) Uji Kredibilitas

Menurut Sugiyono (2013, hlm. 270) bahwa “uji kredibilitas data hasil

penelitian kualitatif dilakukan dengan beberapa cara, antara lain dengan cara perpanjangan pengamatan, triangulasi (perubahan situasi sumber, teknik, waktu), kajian pustaka atau referensi dan membercheck

(15)

menggunakan bahan referensi dari berbagai sumber untuk memperkuat hasil data yang diperoleh serta mengkonfirmasi apa yang diperoleh peneliti dari berbagai referensi tersebut kepada narasumber.

2) Uji Transferability

Menurut Sugiyono (2013, hlm. 276) bahwa “transferability merupakan validitas eksternal dalam penelitian kuantitatif. Validitas eksternal menunjukkan derajat ketepatan atau dapat diterapkannya hasil penelitian

pada populasi dimana sampel tersebut diambil”. Peneliti membuat laporan penelitian dalam bentuk skripsi dengan uraian yang jelas, rinci, sistematis, dan dapat dipercaya, sehingga orang lain dapat memahami hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti.

3) Uji Dependability

Sugiyono (2013, hlm. 277) mengatakan bahwa “uji dependability

dilakukan dengan melakukan audit terhadap keseluruhan proses penelitian. Caranya dilakukan oleh auditor yang independen, atau pembimbing untuk mengaudit keseluruhan aktivitas peneliti dalam melakukan penelitian. Jika peneliti tidak dapat menunjukkan ‘jejak aktivitas lapangannya’, maka

dependabilitas penelitiannya patut diragukan”. Peneliti melakukan bimbingan dengan dosen pembimbing untuk melakukan audit atau pengawasan terhadap keseluruhan hasil penelitian.

4) Uji Konfirmability

(16)

H. Prosedur Penelitian

Terdapat 3 tahapan dalam skripsi ini yaitu:

1) Tahap Penelitian Pendahuluan

Dilakukan di lapangan dan di luar lapangan. Pada tahap ini dimulai dengan penelitian pendahuluan, studi literatur, merumuskan masalah, tujuan umum.

2) Tahap Persiapan

Mengidentifikasi masalah dan informasi hasil penelitian pendahuluan, serta melakukan analisis data hasil penelitian pendahuluan. Dari analisis data tersebut selanjutnya peneliti menentukan fokus masalah yang akan dijadikan bahan penelitian beserta tujuan penelitiannya, melakukan studi literatur, diskusi dengan pembimbing dan validasi instrumen (kesiapan peneliti).

3) Tahap Pelaksanaan

Melakukan penelitian dengan cara mengumpulkan data dari lapangan. yaitu menemui subjek penelitian yang sesuai kriteria, melakukan penelitian dengan mengumpulkan data dalam bentuk catatan lapangan, audio record, video dan foto hasil dari proses observasi dan wawancara dengan narasumber.

4) Tahap Penyelesaian

Pada tahap ini, peneliti menuangkan hasil penelitiannya ke dalam bentuk karya ilmiah berupa skripsi dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1. Pengumpulan data hasil penelitian.

2. Pengolahan data hasil penelitian.

3. Analisis data hasil penelitian, serta membahas dan mendeskripsilan temuan hasil dari penelitian ke dalam karya ilmiah.

4. Pengujian keabsahan data.

Figur

Tabel 3.1. Desain Penelitian Ethnomathematical

Tabel 3.1.

Desain Penelitian Ethnomathematical p.4

Referensi

Memperbarui...

Related subjects : S MAT 1103667 Chapter 3