• Tidak ada hasil yang ditemukan

S FIS 1100902 Chapter3

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "S FIS 1100902 Chapter3"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode dan Desain Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah quasy experiment. Alasan penggunaan metode ini karena sulit dilakukan pengontrolan variabel sehingga sulit dilakukan eksperimen murni (Sukmadinata, 2009, hlm. 207).

Desain penelitian yang digunakan adalah Pretest-Posttest Control Group Design. Kelompok eksperimen dan kontrol memiliki karakteristik yang sama

karena diambil atau dibentuk dari populasi yang homogen pula (Sukmadinata, 2009, hlm. 204). Penelitian dilakukan di dalam dua kelas, dengan adanya lima kali pertemuan. Pada pertemuan pertama siswa diberikan pretest mengenai materi fluida statis, pertemuan kedua, ketiga dan keempat siswa diberi model pembelajaran inkuiri abduktif pada materi fluida statis, kemudian pada pertemuan kelima siswa diberi posttest berbasis penguasaan konsep dan literasi sains pada materi fluida statis.

Tabel 3.1

Pretest-Posttest Control Group Design

Kelompok Pretest Perlakuan Posttest

Eksperimen O1 X1 O2

Kontrol O1 X2 O2

Sumber : Sukmadinata (2009, hlm. 204)

Keterangan: O1 adalah tes sebelum pembelajaran dan O2 adalah tes setelah pembelajaran. X1 adalah perlakuan yang berupa model pembelajaran inkuiri abduktif. X2 adalah perlakuan yang berupa model pembelajaran inkuiri pada kelas kotrol.

(2)

Gambar 3. 1 Desain Penelitian

B. Populasi dan Sampel Penelitian

Penelitian ini akan mengambil populasi, yaitu kelas X di salah satu SMA Negeri di Kota Cimahi. Sampel penelitian adalah siswa kelas X dengan jumlah 39 orang dan 37 orang. Sampel ditentukan dengan teknik simple nonsampling dengan anggapan bahwa seluruh individu yang menjadi anggota populasi memiliki peluang yang sama dan bebas dipilih sebagai anggota sampel (Sukmadinata, 2012, hlm. 255).

C. Definisi Operasional

1. Model Inkuiri Abduktif

Model inkuiri abduktif merupakan model pembelajaran yang terdiri dari empat elemen (Oh, 2013): exploration (eksplorasi), examination (pemeriksaan), selection (seleksi), dan explanation (penjelasan). Dalam setiap tahapan pembelajaran inkuiri abduktif siswa dituntun untuk membuat hipotesis berdasarkan fenomena yang diberikan hingga diperoleh penjelasan terbaik berdasarkan fenomena yang diberikan. Model inkuiri abduktif diobservasi keterlaksanaannya menggunakan lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran yang diisi oleh observer yang berlatar belakang pendidikan minimal mahasiswa jurusan

Potensi

(3)

kependidikan. Lembar observasi keterlaksanaan tersebut, dapat diukur keterlaksanaan setiap tahapan dalam model inkuiri abduktif.

2. Peningkatan Penguasaan Konsep

Penguasaan konsep merupakan kemampuan siswa menguasai materi pelajaran yang diberikan. Penguasaan konsep merupakan dasar dari penguasaan prinsip-prinsip teori artinya untuk dapat menguasai prinsip dan teori harus dikuasai terlebih dahulu konsep-konsep yang menyusun prinsip dan teori yang bersangkutan. Penguasaan konsep pada penelitian ini mencakup 4 aspek sistwm kognitif menurut Marzano dan Kendall (2008, hlm. 16), meliputi penarikan kembali, pemahaman, analisis dan penggunaan pengetahuan. Peningkatan penguasaan konsep siswa dianalisis berdasarkan tes pilihan ganda yang diberikan sebelum dan setelah dilakukan pembelajaran pada materi fluida statis. Kemudian membandingkan skor N-gain yang ternormalisasi dari dua kelas yang diberikan pembelajaran menggunakan model pembelajaran yang berbeda.

3. PeningkatanLiterasi Sains

Literasi Sains adalah kapasitas seseorang untuk menggunakan pengetahuan sains untuk mengidentifikasi pertanyaan dan untuk menggambarkan fakta untuk menghasilkan suatu kesimpulan sehingga dapat mengerti serta dapat membantu dalam membuat keputusan tentang kehidupan kita di alam dan merubah itu untuk peningkatan aktifitas manusia (Programme for International Student Assesment (PISA), Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD)

(4)

D. Prosedur Penelitian

Penelitian dilakukan dengan prosedur yang terdiri dari 3 tahap utama, yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap pelaporan.

1. Tahap Persiapan

a. Memperoleh permasalahan yang berkaitan dengan dunia pendidikan, meliputi, model pembelajaran, penguasaan konsep siswa dan literasi sains siswa.

b. Menyusun proposal penelitian. c. Melaksanakan seminar penelitian.

d. Mengurus surat izin penelitian dan menghubungi pihak sekolah untuk dapat melakukan penelitian di salah satu sekolah menengah atas di Kota Cimahi.

e. Melakukan studi pendahuluan, meliputi hasil belajar siswa berupa nilai, soal ulangan harian, observasi keterlaksanaan pembelajaran, wawancara dengan siswa dan guru Mata Pelajaran Fisika.

f. Merumuskan masalah penelitian berdasarkan kondisi yang terjadi di lapangan, berdasarkan studi pendahuluan yang telah dilaksanakan. g. Studi literatur terhadap jurnal, buku, artikel, dan laporan penelitian

mengenai abduktif, model inkuiri abduktif, penguasaan konsep dan literasi sains.

h. Menelaah kurikulum Fisika SMA mengenai pokok bahasan yang akan dijadikan fokus dalam penelitian, meliputi cakupan materi, waktu pemberian materi, dan banyaknya jam tatap muka dengan siswa.

i. Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) berdasarkan model inkuiri abduktif.

j. Menyusun instrumen penelitian berupa soal penguasaan konsep dan soal literasi sains sesuai dengan materi yang telah ditentukan sebelumnya.

(5)

l. Memperbaiki instrumen setelah dikoreksi oleh judgement tes.

m. Melakukan uji coba instrumen kepada siswa yang telah memperoleh pembelajaran mengenai materi yang telah ditentukan.

n. Menganalisis secara statistik hasil uji coba instrumen yang meliputi validitas, tingkat kesukaran, daya pembeda, dan reliabilitas sehingga dapat diketahui kelayakan instrumen tersebut.

2. Tahap Pelaksanaan

a. Melaksanakan pretest penguasaan konsep dan literasi sains pada materi fluida statis pada kedua kelas.

b. Melaksanakan pembelajaran menggunakan model inkuiri abduktif pada kelas eksperimen dan pembelajaran menggunakan model inkuiri pada kelas kontrol.

c. Melaksanakan posttest penguasaan konsep dan literasi sains pada materi fluida statis pada kedua kelas.

d. Mengolah data hasil pretest dan posttest, kemudian membandingkan skor pretest dan posttest sehingga diperoleh gambaran peningkatan kemampuan penguasaan konsep dan literasi sains siswa pada materi fluida statis berupa skor N-gain.

e. Menganalisis perolehan skor N-Gain antara kelas eksperimen dan kelas kontrol berdasarkan teori yang relevan.

3. Tahap Pelaporan

a. Menarik kesimpulan berdasarkan data dan analisis yang dilakukan. b. Menyusun laporan penelitian.

(6)

Gambar 3. 2 Tahapan Penelitian

E. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian yang digunakan antara lain adalah lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran menggunakan model inkuri abduktif dan model inkuiri, tes penguasaan konsep dan tes literasi sains. Tes penguasaan konsep dan literasi sains disusun dalam bentuk pilihan ganda. Penguasaan Konsep diukur berdasarkan 4 aspek menurut Marzano. Literasi sains diukur menggunakan adaptasi dari Test Of Scientific Literacy Skills (TOSLS) menurut Gormally. Berikut merupakan rincian instrumen yang digunakan dalam penelitian.

1. Lembar Observasi

Lembar observasi merupakan lembar yang digunakan peneliti untuk dapat menilai aktivitas guru dan siswa selama pembelajaran yang berlangsung. Lembar observasi ini menunjukkan persentase keterlaksanaan

(7)

tahapan kegiatan guru dan siswa yang berlangsung sesuai dengan penyusunan RPP yang dilakukan sebelumnya sehingga keterlaksanaan tahapan pembelajaran menggunakan model inkuiri abduktif dan model inkuiri dapat digambarkan.

Bentuk lembar observasi merupakan lembaran isian ceklis sehingga observer hanya membubuhkan tanda ceklis (v) untuk setiap pernyataan pada format observasi yang diberikan berkaitan dengan kegiatan guru dan kegiatan siswa pada setiap tahapan pembelajaran model inkuiri abduktif dan model inkuiri.

2. Tes Pengetahuan Konsep

Tes Penguasaan Konsep merupakan test yang disusun berdasarkan 4 aspek penguasaan konsep menurut Marzano yang meliputi penarikan kembali, pemahaman, analisis dan penggunaan pengetahuan. Tes penguasaan konsep diberikan dalam bentuk tes pilihan ganda.

Tes diberikan dua kali berupa pretest dan posttest. Soal-soal yang digunakan pada pretest dan posttest adalah soal yang sama, agar tidak memberikan pengaruh yang signifikan yang diakibatkan perbedaan kualitas instrumen terhadap perubahan penguasaan konsep yang terjadi. Dengan soal yang sama pula dapat memudahkan analisis peningkatan kemampuan penguasaan konsep siswa.

Penentuan skor tes literasi sains menggunakan Right Skor Only artinya jika benar diberi nilai 1 dan jika salah diberi nilai 0.

3. Test Literasi Sains

Test Of Scientific Literacy Skills (TOSLS) merupakan tes pilihan

(8)

temuan/kesimpulan, (5) Membuat representasi grafik dari data, (6) Membaca dan menafsirkan data yang disajikan dalam bentuk grafik, (7) Menyelesaikan masalah menggunakan keterampilan kuantitatif, termasuk statistik dan probabilitas, (8) Memahami dan menginterpretasikan dasar statistik, dan (9) Membenarkan inferensi, prediksi, dan kesimpulan berdasarkan data kuantitatif.

Tes diberikan dua kali berupa pretest dan posttest. Soal-soal yang digunakan pada pretest dan posttest adalah soal yang sama, agar tidak memberikan pengaruh yang signifikan yang diakibatkan perbedaan kualitas instrumen terhadap perubahan skor yang terjadi. Dengan soal yang sama pula dapat memudahkan analisis peningkatan literasi sains siswa.

Penentuan skor tes literasi sains menggunakan Right Skor Only artinya jika benar diberi nilai 1 dan jika salah diberi nilai 0.

F. Uji Coba Instrumen

Sebelum diujikan pada siswa, soal tes melewati proses judgement, setelah melalui proses judgement soal diuji cobakan pada siswa yang telah memperoleh pembelajaran mengenai fluida statis. Uji coba instrumen dilakukan pada siswa yang memiliki karakteristik yang sama dengan siswa yang akan dijadikan sampel penelitian. Data hasil uji coba instrumen dianalisis secara statistik yang meliputi uji validitas butir soal, uji reliabilitas tes, uji daya pembeda butir soal, dan uji tingkat kesulitan butir soal.

1. Validitas Butir Soal

Validitas adalah nilai yang menunjukkan tingkat valid atau sahih dari instrumen, mengukur apa yang hendak diukur (Arikunto, 2012, hlm. 80). Jika suatu instrumen dapat mengukur objek yang ingin diukur serta dapat mengungkapkan data sesuai dengan kebutuhan penelitian maka intrumen tersebut dikatakan valid. Nilai validitas instrumen menunjukkan menyimpang atau tidaknya data yang telah terkumpul sebagai gambaran dari tingkat validitas instrument.

(9)

= ̅ − ̅ √ … .

Sumber: Wikipedia

Keterangan:

= koefisien korelasi point biserial

̅ = skor tiap butir soal untuk setiap siswa uji coba ̅ = skor total tiap siswa uji coba

p = jawaban benar q = jawaban salah Sn = standar deviasi.

Nilai yang diperoleh dapat diinterpretasikan untuk menentukan validitas butir soal dengan menggunakan kriteria pada Tabel 3.2.

Tabel 3.2

Interpretasi Validitas

Koefisien Korelasi Kriteria Validitas

, < , Sangat Tinggi

, < , Tinggi

, < , Cukup

, < , Rendah

, < , Sangat Rendah

Sumber: Arikunto (2012, hlm. 89)

2. Reliabilitas Tes

(10)

20, instrumen yang digunakan berupa soal pilihan ganda. Persamaan K – R 20 tersebut pada Persamaan 3.2.

= � −∑ ...(3.2)

Sumber: Arikunto (2012, hlm. 115)

Keterangan :

= realibilitas instrumen

p = proporsi siswa yang menjawab item dengan benar q = proporsi siswa yang menjawab item dengan salah S = standar deviasi dari tes

n = banyaknya item

Nilai yang diperoleh diinterpretasikan dalam menentukan reliabilitas instrumen dengan kriteria apabila > rtabel maka instrumen tersebut reliabel , kriteria terdapat pada tabel 3.3.

Tabel 3.3

Interpretasi Reliabilitas

Koefisien Korelasi Kriteria Reliabilitas

, < , Sangat Tinggi

, < , Tinggi

, < , Cukup

, < , Rendah

, < , Sangat Rendah

Sumber: Arikunto (2009, hlm. 75)

3. Tingkat Kesukaran Butir Soal

(11)

untuk mempertinggi usaha agar dapat memecahkan persoalan yang ada. Sebaliknya soal yang terlalu sukar menyebabkan siswa menjadi putus asa sehingga berkurang semangat untuk mencoba memecahkan persoalan yang berada di luar jangkauan (Arikunto, 2012, hlm. 222). Nilai yang menunjukkan tingkat kesukaran dari suatu soal disebut indeks kesukaran. Indeks kesukaran berada di dalam rentang nilai antara 0,00 hingga 1,00. Besarnya indeks kesukaran dapat di peroleh dengan menggunakan Persamaan 3.3.

=��.... (3.3)

Sumber: Arikunto (2012, hlm. 223)

Keterangan:

P = Indeks kesukaran

B = Banyak siswa menjawab betul JS = Jumlah siswa.

Nilai P yang diperoleh diinterpretasikan dalam menentukan tingkat kesukaran butir soal dengan kriteria Tabel 3.4.

Tabel 3.4

Interpretasi Tingkat Kesukaran

Indeks Tingkat Kesukaran

0,00-0,30 Sukar

0,30-0,70 Sedang

0,70-1,00 Mudah

Sumber: Arikunto (2012, hlm. 225)

4. Daya Pembeda Butir Soal

(12)

� = � −� = − … . . .

Sumber: Arikunto (2012, hlm. 228)

Keterangan:

J = jumlah peserta tes

= banyaknya peserta kelompok atas = banyaknya peserta kelompok bawah

� = jumlah kelompok atas yang menjawab benar � = jumlah kelompok bawah yang menjawab benar

Nilai D yang diperoleh diinterpretasikan dalam menentukan daya pembeda butir soal dengan kriteria Tabel 3.5.

Tabel 3.5

Interpretasi Daya Pembeda

Indeks Tingkat Daya Pembeda

0,00-0,20 Negatif

0,20-0,40 Cukup

0,40-0,70 Baik

0,70-1,00 Baik Sekali

Negatif Semuanya tidak baik

Sumber: Arikunto (2012, hlm. 226)

G. Hasil Uji Coba

(13)

menurut Marzano dan Kendall (2008, hlm. 16). Kemudian dilakukan uji validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran dan daya pembeda seperti pada Tabel 3.6.

Tabel. 3.6 Rekapitulasi Hasil Uji Instrumen Penguasaan Konsep

No.

Soal

Validitas Konstruks Reliabilitas Daya Pembeda Tingkat

Kesukaran Ket

Nilai Kategori Nilai Kategori Nilai Kategori Nilai Kategori

1 0,46 Cukup

(14)

Sukar Sedang

Gambar 3. 3 Sebaran Validitas Point Biserial dan Tingkat Kesukaran

Instrumen Penguasaan Konsep

Berdasarkan Gambar 3.3, sebaran validitas dan tingkat kesukaran diperoleh nilai uji validitas item butir soal sebesar 5,56% berkategori sangat rendah, 5,56% berkategori rendah, 73,33% berkategori cukup, dan 27,78% berkategori tinggi. Uji reliabilitas yang bernilai 0,55 berkategori sedang. Uji tingkat kesukaran butir soal sebesar 50,00% berkategori sedang dan 50,00% berkategori sukar.

Soal penguasaan konsep yang digunakan untuk penelitian sebanyak 15 soal dengan membuang nomor 5, 13 dan 16 karena indikator soal sudah terwakili oleh soal yang lain. Kemudian ada satu soal yang validitasnya rendah yaitu soal nomor 15 masih digunakan karena berdasarkan analisis statistik validitas konstruk empirik yang berdasarkan uji coba tes dan mempertimbangkan hasil validitas isi yang dilakukan oleh judgment tes, soal tersebut dapat mewakili penguasaan konsep siswa karena tidak ada indikator soal lain yang dapat mewakili soal tersebut sehingga soal tersebut digunakan dalam penelitian.

Soal Literasi Sains yang disusun terdiri dari 13 soal. Soal tersebut disusun berdasarkan indikator literasi sains menurut Gormally (2012 , hlm. 367) pada penelitian ini digunakan 8 indikator penelitian diantaranya sebagai

(15)

berikut: 1) Mengetahui suatu informasi dan analisis menggunakan metode inkuiri sehingga dapat membangun pengetahuan sainstifik, meliputi a) mengidentifikasi kebenaran dari suatu argumen sains sebanyak 2 soal, b) mengevaluasi kebenaran sumber sebanyak 2 soal, c) mengevaluasi penggunaan sebanyak 2 soal ; 2) Mengorganisasi, menganalisis, dan menginterpretasi data kuantitatif dan informasi sains, meliputi a) membuat grafik yang dapat merepresentasikan data sebanyak 2 soal, b) membaca dan menginterpretasikan data sebanyak 1 soal, c) menyelesaikan masalah menggunakan kemampuan kuantitatif termasuk probabilitas dan statistik sebanyak 1 soal, d) mengerti dan menginterpretasikan dasar statistik sebanyak 2 soal, e) menganalisis interferensi, prediksi dan kesimpulan berdasarkan data kuantitatif sebanyak 1 soal. Kemudian dilakukan uji validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran dan daya pembeda seperti pada Tabel 3.7.

Tabel. 3.7 Rekapitulasi Hasil Uji Instrumen Literasi Sains

No.

Soal

Validitas Konstruks Reliabilitas Daya Pembeda Tingkat

Kesukaran Ket

Nilai Kategori Nilai Kategori Nilai Kategori Nilai Kategori

(16)

Berdasarkan Tabel 3.7, dari 13 butir soal literasi sains yang telah melalui proses judgement dan uji coba, terdapat tiga butir soal yang tidak digunakan karena indikator tersebut masih terwakili oleh nomor soal lainnya. Sehingga butir soal literasi sains yang akan diujikan sebanyak 10 butir soal. Kemudian dianalisis sebaran instrumen literasi sains dilihat dari validitas point biserial dan tingkat kesukaran pada Gambar 3.4.

Sukar Sedang Mudah

Gambar 3. 4 Sebaran Validitas Point Biserial dan Tingkat Kesukaran

Instrumen Literasi Sains

Berdasarkan Gambar 3.4, sebaran validitas dan tingkat kesukaran diperoleh nilai uji validitas item butir soal sebesar 15,38% berkategori rendah, 53,84% berkategori cukup, dan 30,76% berkategori tinggi. Uji reliabilitas yang bernilai 0,59 berkategori sedang. Uji tingkat kesukaran butir soal sebesar 7,69% berkategori mudah, 53,84% berkategori sedang dan 38,46% berkategori sukar. Berdasarkan tabel dan sebaran tersebut, maka soal literasi sains yang digunakan untuk penelitian sebanyak 10 soal dengan membuang soal nomor 22, 24 dan 30 karena indikator soal sudah terwakili oleh soal yang lain. Kemudian ada satu soal yang validitasnya rendah yaitu soal nomor 27 masih digunakan karena berdasarkan analisis statistik validitas konstruk empirik yang

(17)

berdasarkan uji coba tes dan mempertimbangkan hasil validitas isi yang dilakukan oleh judgment tes, soal tersebut dapat mewakili literasi sains siswa karena tidak ada indikator soal lain yang dapat mewakili soal tersebut sehingga soal tersebut digunakan dalam penelitian.

H. Teknik Pengumpulan Data

Data yang diperoleh terdiri dari dua jenis data yaitu data kuantitatif dan data kualitatif.

1. Data Kuantitatif

Data kuantitatif diperoleh melalui pretest dan posttest adalah nilai penguasaan konsep dan literasi sains yang sebelum dan setelah dilakukan pembelajaran menggunakan model inkuiri abduktif, sehingga dapat menggambarkan peningkatan penguasaan konsep dan literasi sains siswa dengan adanya skor N-gain. Bentuk tes yang digunakan yaitu tes pilihan ganda pada materi fluida statis.

2. Data Kualitatif

Data kualitatif dalam penelitian diperoleh format observasi. Format observasi diperlukan untuk mengetahui keterlaksanaan dari tahapan pembelajaran. Data diperoleh berdasarkan observasi menggunakan alat pengumpul data berupa lembar observasi keterlaksanaan model pembelajaran inkuiri abduktif. Observasi dilakukan oleh observer yang berlatar belakang pendidikan minimal mahasiswa jurusan kependidikan.

I. Teknik Pengolahan Data

Data yang diperoleh dari penelitian ini adalah berupa data kuantitatif dan data kualitatif. Prosedur analisis dari tiap data sebagai berikut.

1. Pengolahan Data Kuantitatif

a. Pemberian skor untuk pretest dan posttest.

Penskoran yang dilakukan adalah penskoran Rights Only, yaitu pemberian skor 1 untuk jawaban benar dan pemberian skor 0 untuk jawaban salah. Pemberian skor dihitung menggunakan Persamaan 3.5.

(18)

b. Menghitung skor gain ternormalisasi (N-gain)

Skor N-gain merupakan skor yang digunakan untuk mengetahui peningkatan penguasaan konsep dan literasi sains siswa berdasarkan skor pretest dan posttest yang diperolehnya. Sehingga pengaruh penggunaan

perlakuan dapat diketahui. Skor gain ternormalisasi diperoleh menggunakan persaman 3.6.

= � −� �

� −� �....(3.6)

Keterangan :

Spost = skor tes akhir Spre = skor tes awal Smaks = skor maksimum

Nilai yang diperoleh diinterpretasikan dalam menentukan skor gain ternormalisasi dengan kriteria seperti pada Tabel 3.8.

Tabel 3.8

Interpretasi Skor Gain Ternormalisasi

Kriteria

0,70 Tinggi

0,30 <0,70 Sedang

< 0,30 Rendah

Sumber: Hake (1999, hlm. 1)

c. Uji normalitas.

(19)

normalitas diperoleh menggunakan Persamaan 3.7 (Sudjana, 2005, hlm. 273).

ᵡ = ∑ − ℎ

ℎ . . . . .

Persamaan diatas merupakan distribusi χ² (chi-kuadrat) dengan derajat kebebasan (k-1). Adapun langkah-langkah untuk melakukan uji normalitas sebagai berikut.

1) Menghitung nilai rata-rata (Mean = M)

2) Menghitung nilai standardeviasi (sd)/membuat frekuensi observasi (Fo) dan Frekuensi harapan (Fh) dengan menentukan:

a) Rentang skor: r = skor tertinggi - skor terendah b) Banyak kelas: k = 1 + 3,3 log n

c) Panjang kelas: p = r/k d) Tabel distribusi

Kelas (k)

Frekuensi (Oi)

Batas Kelas (bk)

z-score l1-l2 L (l2-l1) Ei χ²

Dengan = −�

e) Menentukan derajat kebebasan: υ=k-1

f) Menentukan nilai χ² pada tabel chi kuadrat g) Penentuan normalitas

Sumber : Pangabean (2001)

Berdasarkan tabel chi-kuadrat dengan � = 0,05 dan derajat kebebasan (k-1), akan diperoleh nilai χ²total tertentu. Selanjutnya dengan menggunakan

perhitungan akan dihasilkan χ²hitung tertentu juga. Jika χ²total lebih besar χ²hitung

(20)

Jika data berdistribusi normal, maka pengolahan data dilanjutkan dengan uji homogenitas. Tetapi, jika salah satu dari data tersebut tidak berdistribusi normal pengolahan dilanjutkan kepada uji hipotesis, yaitu Uji Mann Whitney. d. Uji homogenitas.

Uji homogenitas digunakan untuk mengetahui homogen atau tidaknya data yang diperoleh. Pengujian dilakukan dengan menggunakan uji homogenitas varians data N-gain dua kelompok dengan Persamaan 3.8 (Sudjana, 2005, hlm. 219).

� =� �

� � � ....(3.8)

Jika � � � � ,� nilai diperoleh dari daftar distribusi F dengan peluang 1/2� dan derajat kebebasan v1 dan v2 masing-masing sesuai dengan dk pembilang dan penyebut dalam persamaan tersebut maka tolak H0 dan terima H1.

e. Uji hipotesis.

Uji hipotesis digunakan agar untuk menentukan hipotesis tersebut dapat diterima atau ditolak (Sudjana, 2005, hlm. 219). Hipotesis penelitian ini yaitu penerapan model Inkuiri Abduktif lebih baik dalam meningkatkan penguasaan konsep dan literasi sains siswa dibandingkan kelas kontrol. Pengujian hipotesis tersebut dengan Uji Mann Whitney. Uji hipotesis bertujuan untuk memperoleh perbedaan yang signifikan antara peningkatan N-gain pada kelompok kontrol dengan kelompok eksperimen jika zhitung berada di daerah penolakan H0. Pengujian hipotesis dilakukan menggunakan Persamaan 3.9.

Z = �− .

√ . . + + ....(3.9) Keterangan :

= Statistik Uji U1 = Statistik Uji U2 = jumlah rank sampel 1 = jumlah rank sampel 2

(21)

� = banyaknya anggota sampel 2

2. Pengolahan Data Kualitatif

Data hasil observasi diperoleh dari lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran. Lembar observasi ini bertujuan untuk mengetahui keterlaksanakan dari fase-fase pembelajaran yang digunakan. Dalam lembar observasi ini disediakan kolom kritik dan saran berupa keterangan. Hal ini dilakukan agar kekurangan serta kelemahan yang terjadi selama pembelajaran dapat diketahui sehingga diharapkan pembelajaran selanjutnya bisa lebih baik. Adapun presentase data lembar observasi tersebut dapat dihitung dengan menggunakan Persamaan 3.10.

% = ∑ �� �� �� �� �� � ���× % … .

Setelah data dari lembar observasi tersebut diolah, kemudian diinterpretasikan dengan mengadopsi kriteria presentase angket seperti Tabel 3.9.

Tabel 3.9

Interpretasi Tingkat Keterlaksanaan Pembelajaran

KT (%) Kriteria

= Tak satu pun kegiatan terlaksana < Sebagian kecil bagian terlaksana

< < Hampir setengah kegiatan terlaksana = Setengah kegiatan terlaksana

< Sebagian besar kegiatan terlaksana < < Hampir seluruh kegiatan terlaksana

= Seluruh kegiatan terlaksana

(22)

Keterangan:

Gambar

Tabel 3.1
Gambar 3. 2 Tahapan Penelitian
Tabel 3.2
Tabel 3.3
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini mempunyai kesamaan dengan variabel terikatnya, Sehingga dari hasil penelitian yang sudah dilakukan dapat disimpulkan bahwa frekuensi senam sedikit

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesiapsiagaan keluarga dalam menghadapi KLB DBD dan untuk mengetahui hubungan pengetahuan, sikap, rencana tanggap

Berdasarkan hasil pengujian dapat disimpulkan bahwa aturan asosiasi “Jika Musik, Linux, dan Komputer, maka News” dengan nilai confidence 100% yang dibentuk algoritma

Berdasarakan hasil dari kesimpulan pertama Kampung Seni Dago sebagai salah satu objek wisata yang kreatif dengan menawarkan beragam seni budaya yang saat ini

Penelitian ini dilaksanakan dengan mengacu pada teori dan pandangan Kemmis dan Taggrat (dalam Trianto, 2011:30) yang menggunakan sistem spiral refleksi diri mulai

Secara garis besar kesepakatan antara ninik mamak dan pemerintah telah memberikan kontribusi yang sangat besar dalam rangka mempertahankan identitas yang dimiliki

Pada waktu inkubasi tersebut, mempunyai kondisi terbaik bagi pertumbuhan bakteri isolat kitinolitik LA 21, karena nutrisi pada media untuk isolat kitinolitik LA 21 masih

Tingkat suku bunga, yang dapat mempengaruhi harga saham perusahaan dengan cara: (a) mempengaruhi laba perusahaan, hal ini terjadi karena bunga adalah biaya, semakin