• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN"

Copied!
67
0
0

Teks penuh

(1)

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Penentuan Lokasi 5.1.1. Location Quotient (LQ)

Salah satu upaya menuju efisiensi ekonomi pembangunan sektor pertanian dalam arti luas, dapat ditempuh dengan mengembangkan komoditas yang mempunyai keunggulan komparatif baik ditinjau dari sisi penawaran maupun permintaan. Dari sisi penawaran komoditas unggulan dicirikan oleh superioritas dalam pertumbuhannya pada kondisi biofisik, teknologi dan kondisi sosial ekonomi petani di suatu wilayah. Sedangkan dari sisi permintaan, komoditas unggulan dicirikan oleh kuatnya permintaan di pasar baik pasar domestik maupun internasional (Syafaat dan Supena, 2000 dalam Hendayana, 2003). Kondisi sosial ekonomi yang dimaksud mencakup penguasaan teknologi, kemampuan sumberdaya manusia, infrastruktur misalnya pasar dan kebiasaan petani setempat

Superioritas tersebut harus dapat diukur secara kuantitatif dalam kaitannya dengan komoditas lain dalam wilayah yang lebih luas. Diperlukan cara atau metode dalam menentukan apakah suatu komoditas tersebut mempengaruhi perekonomian wilayah setempat. Salah satu teori yang banyak dipakai dalam menentukan sektor basis dalam wilayah adalah Location Quotient (LQ).

Teknik LQ merupakan salah satu pendekatan yang umum digunakan dalam model ekonomi basis sebagai langkah awal untuk memahami sektor kegiatan yang menjadi pemacu pertumbuhan. LQ mengukur konsentrasi relatif atau derajat spesialisasi kegiatan ekonomi melalui pendekatan perbandingan.

Berdasarkan hasil analisis Location Quotient (LQ) yang menggunakan data luas areal komoditas kelapa pada 6 kecamatan di wilayah Pesisir Kabupaten Lampung Barat, diketahui bahwa kelapa merupakan komoditas yang memiliki pengaruh besar dalam perekonomian wilayah. Hal ini terlihat bahwa dari 6 kecamatan terdapat 43 dari 85 (51 persen) desa Pesisir yang memiliki nilai LQ > 1, sedangkan sisanya (49) memiliki nilai LQ<1. Adapun uraian hasil analisis sebagai berikut: pada Kecamatan Bengkunat terdapat 10 desa (50 persen) yang memiliki nilai LQ>1, Kecamatan Pesisir Selatan terdapat 3 desa (30 persen)

(2)

dengan nilai LQ>1, selanjutnya Kecamatan Pesisir Tengah desa dengan nilai LQ.1 berjumlah 9 desa (45 persen), Kecamatan Karya Penggawa 6 desa (60 persen) yang memiliki nilai LQ>1, Kecamatan Pesisir Utara terdapat 11 desa ( (68 persen) yang memiliki LQ>1 dan 4 desa (36 persen) pada Kecamatan Lemong yang memiliki nilai LQ kelapa>1.

Sebagai daerah dengan mata pencaharian pokok penduduk bertumpu pada sektor pertanian, peranan komoditas perkebunan lainnya seperti Kopi, Cengkeh, Lada dan Kelapa Sawit di wilayah pesisir cukup dominan. Hal ini ditunjukkan dengan nilai LQ>1 pada beberapa desa. Di Kecamatan Bengkunat, terdapat 8 desa yang memiliki nilai LQ>1 untuk komoditas Kopi, 6 desa untuk komoditas Cengkeh, 5 desa untuk komoditas Lada dan 7 desa memiliki nilai LQ> 1 untuk komoditas Kelapa Sawit.

Keberadaan komoditas Kopi, Lada, dan Cengkeh merupakan bentuk pola budidaya masyarakat pesisir yang menggunakan sistem budidaya kebun campuran dengan tanaman Damar atau dikenal dengan istilah Repong Damar. Tanaman tersebut merupakan bagian dari usaha budidaya Damar yang tumbuh dengan baik pada pola kebun campuran Kopi, Lada, Cengkeh dan tanaman buah-buahan lainnya. Sedangkan Kelapa Sawit di Kecamatan Bengkunat merupakan perkebunan perusahaan swasta PT. Karya Canggih Mandirutama (PT. KCMU), yang mengusahakan perkebunan Kelapa Sawit dengan Pola Perkebunan Inti Rakyat (PIR).

Kecamatan Pesisir Selatan nilai LQ>1 tanaman kelapa hanya terdapat pada 3 desa, sedangkan tanaman Kopi terdapat 7 desa yang memiliki nilai LQ>1, 3 desa untuk tanaman Cengkeh, dan 5 desa untuk komoditas Lada serta 2 desa untuk Kelapa Sawit. Seperti halnya Kecamatan Bengkunat, di kecamatan ini pola pengusahaan tanaman perkebunan dengan sistem Repong Damar.

Peranan sektor perkebunan tidak begitu besar di Kecamatan Pesisir Tengah, hal ini terbukti dengan nilai LQ>1 hanya terdapat pada beberapa desa yaitu kelapa 8 desa, Kopi terdapat pada 4 desa, Cengkeh 5 desa, dan 3 desa untuk tanaman Lada. Sedangkan tanaman Kelapa Sawit belum ada di Kecamatan ini. Rendahnya peranan sektor perkebunan karena Kecamatan Pesisir Tengah merupakan wilayah yang relatif lebih maju dari kecamatan lain dalam wilayah

(3)

pesisir Kabupaten Lampung Barat. Hal ini disebabkan aktifitas ekonomi lebih bertumpu pada sektor perdagangan komoditas pertanian, kehutanan, dan jasa.

Sebagai kecamatan yang memiliki jumlah desa paling sedikit, Karya Penggawa, merupakan wilayah penyangga dan pemasok hasil perkebunan untuk wilayah Pesisir Tengah. Berdasarkan hasil analisis LQ diketahui bahwa desa-desa yang memiliki nilai LQ>1 untuk komoditas Kelapa terdapat pada 6 desa, Kopi terdapat 1 desa, Cengkeh 1 desa dan 3 desa untuk komoditas Lada, sedangkan Kelapa Sawit tidak terdapat di wilayah ini. Rendahnya peranan sektor perkebunan terutama komoditas Kopi, dan Cengkeh karena sebagian wilayah ini berada pada daerah hutan Taman Nasional dan pantai.

Kecamatan Pesisir Utara merupakan daerah perbukitan, dimana usaha budidaya pertanian berada di sekitar hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Budidaya pertanian di kecamatan ini merupakan campuran antara tanaman perkebunan dan kehutanan yaitu Damar. Berdasarkan hasil analisis LQ diketahui bahwa kontribusi beberapa komoditi antara lain: Kelapa dengan nilai LQ>1 terdapat pada 12 desa, kopi dengan 3 desa, Cengkeh terdapat pada 12 desa, dan Lada terdapat pada 8 desa. Peranan sektor perkebunan sangat besar karena terdapat satu pulau yaitu Pulau Pisang dimana mata pencaharian penduduk sangat tergantung pada komoditas Kelapa dan Cengkeh serta perikanan tangkap. Sedangkan wilayah pegunungan Kecamatan Pesisir Utara didominasi oleh perkebunan campuran Cengkeh, Kopi dan Damar.

Kecamatan Lemong merupakan wilayah yang berada di sisi paling Utara Pesisir Kabupaten Lampung Barat dan berbatasan langsung dengan Propinsi Bengkulu. Wilayah pantai dengan bagian daratan berupa punggung Bukit Barisan Selatan, maka mata pencaharian masyarakat bergantung pada sektor perkebunan. Hasil analisis LQ menunjukkan bahwa terdapat 4 desa dengan nilai LQ>1, 4 desa untuk komoditas kopi, 5 desa untuk komoditas Cengkeh, dan 5 desa untuk komoditas Lada. Sedangkan Kelapa Sawit belum diusahakan di wilayah ini. Pada kecamatan Lemong dan Pesisir Utara produksi hasil perkebunan sulit terdata secara detil karena banyak lahan yang merupakan kawasan hutan lindung dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS).

(4)

Secara lengkap hasil analisis LQ komoditas kelapa berdasarkan indeks luas panen dapat dilihat pada Tabel 19 berikut ini.

Tabel 19. Hasil analisis Location Quotient desa-desa pesisir Kabupaten Lampung Barat.

No NAMA DESA KELAPA KOPI CENGKEH LADA K. SAWIT

KECAMATAN BENGKUNAT 1 W H BELIMBING 1.01 1.47 - 2.10 - 2 BANDAR DALAM 4.43 1.33 1.00 0.80 - 3 KOTA JAWA 0.94 1.40 0.15 2.19 - 4 PENYANDINGAN 0.67 1.33 - 2.39 - 5 SUKAMARGA 0.01 0.97 - 1.62 0.82 6 KOTA BATU 4.08 0.74 11.07 0.40 - 7 PARDASUKA 0.52 0.78 0.30 0.62 1.59 8 RAJABASA 0.28 1.13 12.22 0.37 0.62 9 MULANG MAYA 0.59 2.95 2.20 0.32 0.01 10 NRATU NGARAS 2.94 0.79 13.62 0.48 - 11 G CAHYA KUNINGAN 0.92 0.72 0.27 0.18 1.83 12 N.R. NGAMBUR 1.40 0.14 0.04 0.13 2.18 13 PEKONMON 1.70 0.16 0.11 0.10 2.11 14 SUMBER AGUNG 6.56 0.36 - 0.18 0.66 15 PAGAR BUKIT 0.44 0.65 1.15 0.52 1.71 16 TANJUNG KEMALA 0.64 1.29 0.57 0.53 1.22 17 ULOK MUKTI 0.75 1.29 0.57 0.53 1.22 18 SUKA NEGARA 1.20 0.56 0.45 1.20 0.80 19 MUARA TEMBULIH 1.70 0.16 0.11 0.10 - 20 SUKA BANJAR 1.20 0.59 0.60 0.70 -

KECAMATAN PESISIR SELATAN

21 MARANG 0.50 0.22 0.49 0.47 1.57 22 WAY JAMBU 0.75 0.51 - 1.53 1.26 23 BIHA 1.54 0.71 0.25 0.81 0.77 24 TANJUNG SETIA 2.53 1.41 2.65 - - 25 PAGAR DALAM 0.00 4.44 - - - 26 TANJUNG JATI 0.41 6.27 - - - 27 SUMUR JAYA 1.23 2.21 - 8.42 - 28 PELITA JAYA 0.49 4.80 5.33 4.17 - 29 SUKARAME 0.80 3.60 - 6.84 - 30 N.R TENUMBANG 0.45 4.42 13.10 4.80 -

KECAMATAN PESISIR TENGAH

31 BALAI KENCANA 1.23 0.97 0.60 1.01 - 32 WAY SULUH 1.32 1.57 0.36 0.27 - 33 WAY NAPAL 1.65 - 0.43 - - 34 PADANG HALUAN 1.88 - - - - 35 LINTIK 0.01 0.28 0.53 0.71 - 36 WALUR 1.88 - - - - 37 PEMERIHAN 1.21 0.92 0.70 0.79 - 38 WAY REDAK 1.43 1.42 0.27 - - 39 SERAY 0.16 - 2.48 2.94 - 40 KAMPUNG JAWA 1.88 - - - -

(5)

Tabel 19 (lanjutan) 41 RAWAS 0.15 - 2.32 3.74 - 42 PASAR KRUI - - - - - 43 SUKANEGARA 0.17 1.45 2.08 - - 44 PAHMUNGAN 0.14 1.93 2.43 - - 45 PAJAR BULAN - - - - - 46 BUMIWARAS - - - - - 47 PENGGAWA V ILIR - - - - - 48 BANJAR AGUNG 0.63 - 2.28 - - 49 ULU KRUI 1.21 0.92 0.70 0.79 - 50 GUNUNG KEMALA 0.13 6.25 0.48 1.44 -

KECAMATAN KARYA PENGGAWA

51 MENYANCANG 2.75 0.13 0.16 0.87 - 52 PENGGAWA V TENGAH 2.87 0.06 0.23 0.39 - 53 LAAY 2.14 0.45 0.62 0.14 - 54 PENGGAWA V ULU 1.97 0.60 0.32 1.46 - 55 PENENGAHAN 0.00 0.98 0.79 3.33 - 56 WAY NUKAK 1.82 0.25 0.91 1.40 - 57 KEBUAYAN 2.18 0.45 0.55 0.25 - 58 WAY SINDI 0.08 1.49 1.44 0.87 -

KECAMATAN PESISIR UTARA

59 WALUR 0.62 1.20 0.50 1.54 - 60 PADANG RINDU 3.61 0.03 0.41 0.46 - 61 KURIPAN 2.88 0.03 1.86 1.50 - 62 NEGERI RATU 2.74 0.16 1.34 1.70 - 63 KERBANG LANGGAR 0.00 1.24 1.23 2.52 - 64 KERBANG DALAM 0.41 0.52 4.28 3.55 - 65 BALAM 1.52 0.55 2.03 1.80 - 66 WAY NARTA 1.31 0.37 3.39 2.50 - 67 KOTA KARANG 2.17 0.29 2.34 1.03 - 68 BATURAJA 0.21 1.48 0.23 0.64 - 69 SUKAMARGA 1.97 - 5.08 - - 70 PEKON LOK 1.43 - 6.47 - - 71 BANDAR DALAM 1.54 - 6.18 - - 72 PASAR PULAU PISANG 1.31 - 6.77 - - 73 SUKADANA 1.40 - 6.53 - - 74 LABUHAN 1.31 - 6.77 - - KECAMATAN LEMONG 75 PENENGAHAN 0.83 0.93 4.30 1.04 - 76 BANDAR PUGUNG 1.79 0.86 0.78 1.00 - 77 PAGAR DALAM 0.52 1.44 0.65 0.60 - 78 BAMBANG 0.93 0.61 1.13 1.48 - 79 MALAYA 0.00 0.61 1.16 1.58 - 80 CAHAYA NEGERI 0.17 1.26 0.26 0.90 - 81 LEMONG 0.80 1.14 0.60 0.88 - 82 WAY BATANG 5.32 0.49 0.47 0.66 - 83 TANJUNG SAKTI 3.77 0.58 1.08 0.88 - 84 TANJUNG JATI 3.11 0.61 1.39 0.98 - 85 RATA AGUNG 0.03 1.08 0.55 1.13 -

(6)

Gambaran secara spasial desa-desa lokasi penelitian menunjukkan kecenderungan pengelompokan (klaster) wilayah yang memiliki nilai LQ>1. Di Kecamatan Bengkunat desa-desa yang memiliki nilai LQ>1 yaitu: Way Haru dan Bandar Dalam merupakan desa yang bersebelahan. Desa-desa lain yang memiliki nilai LQ>1 seperti Kota Batu, Negeri Ratu Ngaras, Negeri Ratu Ngambur, Pekon Mon dan Sumber Agung juga merupakan lokasi yang secara geografis berada dalam jarak yang berdekatan. Demikian juga dengan Sukanegara, Muara Tembulih dan Suka Banjar merupakan desa-desa yang berdekatan.

Kecamatan Pesisir Selatan terdapat 3 desa yang memiliki nilai LQ>1 yaitu: Biha, Tanjung Setia dan Sumur Jaya, yang berdekatan secara geografis satu sama lainnya. Kecamatan Pesisir Tengah, terdapat beberapa desa yang memiliki nilai LQ>1 yaitu: Balai Kencana, Way Suluh, Way Napal, Padang Haluan, Walur, Pemerihan, Way Redak, dan Kampung Jawa secara spasial merupakan desa-desa yang berdekatan satu sama lain, sedangkan desa Ulu Krui berada pada lokasi yang agak berjauhan dengan desa-desa lainnya. Pada Kecamatan Karya Penggawa 6 dari 8 desa yang memiliki nilai LQ>1, secara spasial berada dalam jarak yang berdekatan.

Di lain pihak di Kecamatan Pesisir Utara, 3 desa yang merupakan sentra Kelapa yaitu Balam, Kota Karang dan Way Narta secara geografis berdekatan satu sama lain. Desa Kuripan, Negeri Ratu dan Kerbang Langgar juga memiliki jarak yang saling berdekatan. Sedangkan 6 desa penghasil Kelapa lainnya yaitu: Pekon Lok, Sukamarga, Labuhan, Pasar Pulau Pisang, Sukadana dan Bandar Dalam adalah desa-desa di Pulau Pisang. Demikian juga dengan desa-desa di Kecamatan Lemong yang memiliki nilai LQ>1, terdapat 3 desa yang berdekatan yaitu: Way Batang, Tanjung Sakti dan Tanjung Jati, sedangkan Bandar Pungung berada pada wilayah yang relatif agak jauh dengan ketiga desa di atas.

Pola penyebaran komoditas perkebunan, yang cenderung berdekatan secara administratif disebabkan oleh perluasan areal komoditas sejenis banyak diusahakan secara turun temurun. Secara lengkap tampilan spasial desa-desa lokasi penelitian yang memiliki nilai LQ>1 disajikan pada gambar 5.

(7)
(8)

5.1.2. Analisis Skalogram

Analisis skalogram merupakan salah satu alat untuk mengidentifikasi pusat pertumbuhan wilayah berdasarkan fasilitas yang dimilikinya, dengan demikian dapat ditentukan hirarki pusat-pusat pertumbuhan dan aktivitas pelayanan suatu wilayah. Wilayah dengan fasilitas yang lebih lengkap merupakan pusat pelayanan, sedangkan wilayah dengan fasilitas yang kurang akan menjadi daerah belakang (hinterland)

Lampung Barat merupakan salah satu daerah Kabupaten dalam wilayah Propinsi Lampung yang berada di pantai barat. Keberadaan wilayah yang hampir 78 persen merupakan kawasan lindung ini menjadikan Kabupaten Lampung Barat mengalami hambatan dalam pembangunan infrastruktur. Topografi yang berbukit dengan kawasan hutan yang luas membuat banyak desa memiliki kekurangan dalam hal sarana dan prasarana fisik.

Berdasarkan hasil analisis skalogram diketahui bahwa dari 85 desa di wilayah Pesisir yang menjadi lokasi penelitian diketahui hanya terdapat 6 desa (7 persen) yang memiliki hirarki wilayah 1 atau berkembang. Adapun desa-desa tersebut berada dalam wilayah Kecamatan Bengkunat 4 desa, Kecamatan Pesisir Selatan 1 desa dan 1 desa berada di Kecamatan Pesisir Tengah. Sedangkan Kecamatan lain seperti Karya Penggawa, Pesisir Utara dan Lemong, berdasarkan hasil analisis tidak terdapat desa dengan hirarki 1.

Desa-desa yang memiliki hirarki 2 atau relatif berkembang berjumlah 26 desa (31 persen) antara lain di Kecamatan Bengkunat terdapat 7 desa, Pesisir Selatan 3 desa, Pesisir Tengah 6 desa, Karya Penggawa 3 desa, Pesisir Utara 4 desa dan Kecamatan Lemong 2 desa. Sedangkan sisanya atau 53 desa (62, persen) merupakan wilayah yang berhirarki 3 atau belum berkembang. Adapun desa-desa yang memiliki hirarki 3 yaitu Kecamatan Bengkunat 9 desa, Pesisir Selatan 6 desa, Pesisir Tengah 13 desa, Karya Penggawa 3 desa, Peisir Utara dan Lemong masing-masing 12 dan 9 desa.

Berdasarkan data di atas diketahui bahwa beberapa desa yang memiliki hirarki 1 merupakan ibukota kecamatan, seperti halnya Biha yang merupakan ibukota Kecamatan Pesisir Selatan, Pasar Krui adalah ibu kota Kecamatan Pesisir Tengah dan Pardasuka yang merupakan ibukota Kecamatan Bengkunat.

(9)

Sedangkan ibukota Kecamatan Karya Penggawa, Pesisir Utara dan Lemong masing-masing memiliki hirarki 2.

Desa Pagar Bukit dan Sumber Agung di Kecamatan Bengkunat memiliki hirarki 1, karena merupakan pusat aktifitas perdagangan dan adanya perusahaan perkebunan Kelapa Sawit di Kecamatan Bengkunat, sedangkan desa Penyandingan memiliki hirarki 1 karena berbatasan langsung dengan Kabupaten Tanggamus, dimana desa ini merupakan pusat perdagangan desa-desa sekitar seperti Way Haru, Bandar Dalam, Sukamarga dan desa-desa dalam Kabupaten Tanggamus yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Lampung Barat. Dengan demikian adalah wajar bila fasilitas tersedia karena aktifnya pergerakan kegiatan perekonomian setempat.

Menurut Rustiadi et al. (2006), sarana penunjang sangat diperlukan karena menyangkut lokasi produksi, ditribusi dan pemasaran produk atau komoditi. Pada kenyataannya sarana penunjang tidak menyebar secara merata dalam satu sistem ruang, tetapi penyebarnnya tergantung pada permintaan dan permintaan sangat tergantung pada konsentrasi penduduk. Keadaan ini mengakibatkan timbulya hirarki pusat-pusat pelayanan.

Hirarki dari pusat pelayanan yang lebih tinggi memiliki sarana pelayanan yang lebih banyak dan lebih beragam dari pusat pelayanan yang berhirarki lebih rendah (Rustiadi et al 2006). Hirarki tidak selalu sama dengan hirarki administratif. Adanya hirarki secara teoritis mencerminkan adanya perbedaan masa, dimana hirarki yang lebih tinggi mempunyai masa yang lebih besar daripada yang berhirarki lebih rendah.

Keberadaan fasilitas pendukung dalan rencana lokasi industri sangat penting karena merupakan kebutuhan primer masyarakat dan wajar harus tersedia, demi menunjang aktifitas masyarakat sekitar lokasi industri. Satu hal yang penting adalah bahwa masyarakat sekitar lokasi industri akan menanggung dampak lingkungan dari aktifitas industri. Secara lengkap gambaran hirarki desa dalam lokasi penelitian disajikan pada tabel 20 berikut ini.

(10)

Tabel 20. Hasil analisis Skalogram desa-desa pesisir Kabupaten Lampung Barat. No Nama Desa Jumlah Penduduk Luas Desa (Ha) Total Fasilitas Jumlah Jenis Fasilitas Hierarki Wilayah KECAMATAN BENGKUNAT 1 PENYANDINGAN 2213 960 81.00 26 1 2 PAGAR BUKIT 3711 11008 82.00 27 1 3 PARDA SUKA 2304 7570 84.00 27 1 4 SUMBER AGUNG 1640 7252 34.00 25 1 5 WAY HARU 2888 13550 39.00 18 2 6 BANDAR DALAM 3633 2626 39.00 16 2 7 TANJUNG KEMALA 2550 11550 67.00 20 2 8 G CAHYA KUNINGAN 4490 3215 42.00 21 2 9 N RATU NGAMBUR 2010 2041 64.00 24 2 10 ULOK MUKTI 2860 956 42.00 15 2 11 SUKA BANJAR 2442 1140 43.00 15 2 12 KOTA JAWA 3717 15160 66.00 14 3 13 SUKAMARGA 4105 14400 41.00 14 3 14 RAJA BASA 1201 5413 21.00 11 3 15 MULANG MAYA 772 9023 24.00 13 3

16 NEGERI RATU NGARAS 2337 13500 24.00 10 3

17 KOTA BATU 1520 7000 16.00 10 3

18 PEKON MON 3422 6676 39.00 14 3

19 SUKA NEGARA 1136 1264 29.00 13 3

20 MUARA TEMBULIH 727 1211 10.00 8 3

KECAMATAN PESISIR SELATAN

21 BIHA 4770 2526 117.00 31 1 22 MARANG 4468 4512 98.00 23 2 23 WAY JAMBU 3678 18590 72.00 22 2 24 SUMUR JAYA 1455 9313 42.00 17 2 25 TANJUNG SETIA 1364 6680 21.00 14 3 26 PAGAR DALAM 608 2165 13.00 8 3 27 TANJUNG JATI 332 2165 15.00 12 3 28 PELITA JAYA 1455 9313 31.00 10 3 29 SUKARAME 798 5052 10.00 9 3 30 NR. TENUMBANG 2125 15349 44.00 12 3

KECAMATAN PESISIR TENGAH

31 PASAR KRUI 8598 546 207.00 31 1 32 BALAI KENCANA 1720 984 32.00 18 2 33 WAY REDAK 797 393 23.00 16 2 34 SERAY 1300 492 27.00 16 2 35 KAMPUNG JAWA 2096 345 34.00 22 2 36 RAWAS 1193 464 30.00 15 2 37 ULU KRUI 2833 1803 33.00 22 2 38 WAY SULUH 1505 600 14.00 10 3 39 WAY NAPAL 860 508 17.00 11 3 40 PADANG HALUAN 665 264 19.00 13 3 41 LINTIK 1509 328 26.00 13 3 42 WALUR 526 437 37.00 11 3

(11)

Tabel 20. (lanjutan) 43 PEMERIHAN 632 513 20.00 12 3 44 SUKANEGARA 840 328 18.00 10 3 45 PAHMUNGAN 976 923 29.00 12 3 46 PAJAR BULAN 380 219 15.00 9 3 47 BUMIWARAS 401 153 17.00 11 3 48 PENGGAWA V ILIR 1292 387 33.00 14 3 49 BANJAR AGUNG 441 164 19.00 9 3 50 GUNUNG KEMALA 2340 1327 53.00 14 3

KECAMATAN KARYA PENGGAWA

51 LAAY 1260 492 34.00 16 2 52 PENENGAHAN 2667 1530 53.00 15 2 53 KEBUAYAN 839 392.5 23.00 15 2 54 WAY SINDI 4409 1913 96.00 20 2 55 MENYANCANG 1160 333 21.00 13 3 56 P. LIMA TENGAH 1047 546 26.00 9 3

57 PENGGAWA LIMA ULU 1380 130.5 26.00 12 3

58 WAY NUKAK 1378 437 21.00 10 3

KECAMATAN PESISIR UTARA

59 KURIPAN 876 2923 42.00 22 2

60 NEGERI RATU 1058 3080 39.00 19 2

61 PASAR PULAU PISANG 849 447 28.00 18 2

62 LABUHAN 737 516 29.00 19 2 63 WALUR 921 4280 32.00 11 3 64 PADANG RINDU 800 2980 23.00 13 3 65 KERBANG LANGGAR 658 3040 20.00 12 3 66 KERBANG DALAM 650 2005 21.00 12 3 67 BALAM 788 2880 19.00 10 3 68 WAY NARTA 402 2615 11.00 7 3 69 KOTA KARANG 918 2704 30.00 17 3 70 BATURAJA 668 2713 20.00 11 3 71 SUKAMARGA 166 779 11.00 10 3 72 PEKON LOK 331 200 18.00 9 3 73 BANDAR DALAM 419 152 18.00 9 3 74 SUKADANA 473 156 15.00 10 3 KECAMATAN LEMONG 75 PENENGAHAN 2222 4561 39.00 17 2 76 LEMONG 3330 1287 42.00 15 2 77 BANDAR PUGUNG 706 2962 18.00 11 3 78 PAGAR DALAM 1176 3209 15.00 11 3 79 BAMBANG 729 2463 22.00 9 3 80 MELAYA 2221 3222 31.00 11 3 81 CAHYA NEGERI 960 7513 28.00 11 3 82 WAY BATANG 782 2556 16.00 8 3 83 TANJUNG SAKTI 213 2334 10.00 9 3 84 TANJUNG JATI 381 2773 12.00 9 3 85 RATA AGUNG 2026 1056 45.00 14 3 Jumlah fasilitas 139,022 292,578 2,926.00 1,206.00

(12)

Secara spasial sebaran desa-desa berdasarkan hirarki wilayah menunjukkan bahwa desa-desa dengan hirarki 1 cenderung mengelompok. Pada wilayah Kecamatan Bengkunat, desa-desa berhirarki 1 berada dalam wilayah yang berdekatan yaitu yaitu Pagar Bukit dan Pardasuka, kecuali desa Penyandingan. Namun demikian secara geografis desa Penyandingan berada dalam lokasi yang tidak terlalu berjauhan dengan kedua desa lainnya.

Kecamatan Pesisir Selatan yang memiliki 1 desa berhirarki 1, yaitu Biha, sedangkan di Wilayah Kecamatan Pesisir Tengah hanya terdapat 1 desa dengan hirarki 1 yaitu desa Pasar Krui. Tersedianya fasilitas pendukung di desa-desa yang berdekatan merupakan hal yang wajar sebagai akibat aktifitas ekonomi dan pemerintahan lokal. Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa desa yang memiliki hirarki 1 merupakan ibukota kecamatan yang memiliki fasilitas lebih baik dari desa lainnya. Ketersediaan fasilitas tersebut akan memicu pergerakan ekonomi daerah sekitar sebagai akibat kegiatan ekonomi dalam hal ini pasar. Dampak tersebut akan sangat dirasakan oleh desa-desa yang secara geografis berdekatan dengan ibukota kecamatan. Menurut Rustiadi et al. (2006) aspek spasial adalah fenomena yang alami. Adalah wajar bila perkembangan suatu wilayah lebih dipengaruhi oleh wilayah sebelahnya atau lebih dekat dibandingkan wilayah yang lebih berjauhan akibat adanya interaksi sosial ekonomi penduduk.

Kecamatan Karya Penggawa dan Pesisir Utara merupakan daerah belakang (hinterland) yang menjadi pemasok produk hasil pertanian ke Kecamatan Pesisir Tengah. Sebagian besar mata pencaharian pendudukdi ketiga kecamatan tersebut tergantung pada sektor pertanian dan perikanan laut yang pada umumnya bersifat tradisonal.

Desa Pasar Krui merupakan pusat aktifitas ekonomi dan Pemerintahan di Kecamatan Pesisir Tengah, serta memiliki pelabuhan pendaratan ikan, jalur transportasi laut masyarakat Pulau Pisang dan pusat perdagangan produk pertanian dan kehutanan. Oleh karena itu sebagai desa dengan hirarki 1, Pasar Krui menjadi pusat pelayanan bagi desa-desa disekitarnya termasuk desa-desa di Kecamatan lainnya. Fasilitas pelabuhan, pasar dan sarana sosial lain tersedia di ibukota Kecamatan Pesisir Tengah ini. Secara lengkap gambaran secara spasial hasil analisis hirarki wilayah berdasarkan fasilitas disajikan pada gambar 6.

(13)
(14)

5.1.3. Analisis Kesesuaian Lahan

Dalam analisis kesesuaian lahan, prosedur penilaian kesesuaian lahan dilakukan dengan pendekatan satuan lahan yang dikemukakan FAO (1976). Penilaian kelas kesesuaian lahan dilakukan dengan cara mencocokkan (matching) karakteristik dan kualitas lahan dengan persyaratan tumbuh tanaman tertentu.

Berdasarkan analisis kesesuaian lahan di wilayah Pesisir Kabupaten Lampung Barat, diketahui bahwa luas areal yang sangat sesuai untuk tanaman kelapa (S1) 72.231 ha, cukup sesuai (S2) 33.688 ha,sesuai marjinal (S3) 84.973 ha, dan tidak sesuai (N1) seluas 92.801 ha dan Tidak sesuai selamanya (N2) 10.3610 ha. Tabel 21 berikut menunjukkan hasil analisis kesesuaian lahan: Tabel 21. Hasil Analisis Kesesuaian Lahan Tanaman Kelapa

Keterangan Luas (Ha) Persentase

Sangat Sesuai (S1) 72.231 24,78

Cukup Sesuai (S2) 33.688 11,40

Sesuai Marjinal (S3) 84.973 28,76

Tidak Sesuai Saat ini (N1) 92,801 31,40

Tidak Sesuai Untuk Selamanya (N2) 10.808. 3,66

Jumlah 294.502 100,00

Mengacu pada hasil analisis di atas, potensi lahan untuk tanaman kelapa sangat luas, dimana wilayah yang sesuai (S1 dan S2) untuk tanaman kelapa mencapai 105.919 ha. Sedangkan lahan yang sesuai marjinal 84.973 ha.

Berdasarkan data statistik Perkebunan Kabupaten Lampung Barat Tahun 2006, luas areal tanaman kelapa mencapai 6.809,6 ha, kondisi tersebut menggambar potensi pengembangan areal perkebunan kelapa di wilayah pesisir masih sangat besar. Potensi tersebut belum tergarap secara maksimal karena banyak keterbatasan seperti: sarana produksi, sumberdaya manusia, preferensi petani dan kebijakan pemerintah.

Menurut buku satuan lahan Lembaran Kota Agung Pusat Penelitian Tanah Departemen Pertanian, dijelaskan bahwa di daerah pesisir Lampung Barat, merupakan dataran rendah yang terletak pada ketinggian 0-20 meter dari permukaan laut (m dpl), banyak dijumpai tanah jenis Entisol/Alluvial (Tropopsamments) yang merupakan tanah belum berkembang dan cocok untuk perkebunan kelapa. Selanjutnya dibagian Barat pesisir juga dijumpai Grup Teras Marin yang terletak pada ketinggian 0-200 m dpl dengan jenis tanah utama

(15)

Dystropepts/Eutropepts yang sangat baik untuk dikembangkan kegiatan pertanian lahan kering baik semusim dan tahunan. Grup Marin dan Teras Marin ini memanjang dari bagian selatan menuju arah Utara sampai dengan Kecamatan Pesisir Utara.

Berdasarkan Peta Satuan Lahan Pusat Penelitian Tanah Departemen Pertanian, di daerah bagian utara banyak dijumpai jenis tanah Dystropepts, Hapludult dan Humitropepts. Pembatas kesesuaian lahan di daerah ini adalah kelerengan yang berkisar antara 30-75 persen. Demikian juga di daerah Timur Pesisir pembatas utama adalah kelerengan yang berkisar antara 16-30 persen dan pegunungan yang memiliki kelerengan > 75 persen. Hasil analisis kesesuaian lahan disajikan pada gambar 7.

5.1.4. Pemilihan Lokasi

Pemilihan lokasi rencana pusat agroindustri didasarkan pada beberapa kriteria antara lain: dukungan sektor basis komoditas kelapa (LQ), sarana dan prasarana (Skalogram) dan kesesuaian lokasi pengembangan kelapa. Disamping itu perlu dipertimbangkan faktor-faktor lain seperti jumlah penduduk yang terkait dengan tenaga kerja, jarak dan kebijakan pemerintah.

Dalam penelitian ini penentuan lokasi potensial didasarkan pada kriteria kesesuaian lahan, LQ dan hasil analisis skalogram. Analisis dibatasi oleh kriteria utama yaitu kesesuaian lahan aktual. Hal ini dasarkan pada beberapa pertimbangan antara lain: faktor kesesuaian lahan aktual merupakan hal yang alamiah (given), artinya keberadaanya sudah ada sejak secara alami tanpa adanya campur tangan manusia. Kesesuaian lahan juga dalam proses evaluasinya memerlukan persyaratan yang cukup kompleks menyangkut tanah, iklim, kelerengan, drainase dan lain-lain.

Skalogram merupakan output dari aktifitas budaya manusia dan sifatnya dapat berubah tergantung kondisi suatu wilayah. LQ lebih menggambarkan kondisi kegiatan masyarakat yang hasilnya baik berupa barang atau jasa diperuntukkan bagi masyarakat itu sendiri dalam kawasan kehidupan ekonomi

(16)
(17)

masyarakat tersebut. Konsep swasembada, mandiri, kesejahteraan dan kualitas hidup sangat menentukan dalam kegiatan non basis ini.

Kriteria potensi lokasi disusun sebagaimana tabel berikut: Tabel 22. Kriteria Potensi Lokasi

Kriteria Kesesuaian Lahan Location Quotient Hirarki (Skalogram) Potensial 1 S1, S2 LQ>1 I dan II Potensial 2 S2, S3 LQ<1 III Potensial 3 S2, S3 LQ<1 III

Tidak Potensial N1, N2 LQ<1 III

Adapun pengertian dari masing-masing adalah sebagai berikut:

Potensial 1 : Pada wilayah tersebut memiliki kesesuaian lahan yang baik untuk

pengembangan kelapa, dimana salah satu indikatornya adalah tanah. Dalam teori lokasi istilah tanah mengandung pengertian keadaan topografi dan keadaan cuaca yang terdapat di wilayah tersebut, kesemuanya ini juga akan mempengaruhi lokasi penempatan suatu industri. Dari struktur ekonomi basis, wilayah potensial 1 merupakan basis komoditas kelapa, dengan kata lain daerah tersebut mampu mengekspor kelapa ke daerah lain. Dari struktur hirarki, wilayah dengan potensial 1 merupakan daerah yang sudah maju atau berkembang, dimana fasilitas infrastruktur sudah tersedia.

Potensial 2 : Pada wilayah tersebut memiliki kesesuaian lahan yang baik untuk pengembangan kelapa, dengan salah satu indikatornya adalah tanah. Dalam teori lokasi istilah tanah mengandung pengertian keadaan topografi dan keadaan cuaca yang terdapat di wilayah tersebut, kesemuanya ini juga akan mempengaruhi lokasi penempatan suatu industri. Dari struktur ekonomi basis, wilayah potensial 2 bukan merupakan basis komoditas kelapa, daerah tersebut belum swasembada kelapa atau terdapat komoditas lain yang lebih potensial dari komoditas kelapa. Dari struktur hirarki, wilayah dengan potensial 3 merupakan daerah yang belum maju atau berkembang, dimana fasilitas infrastruktur belum tersedia. Daerah potensial 3 masih cocok untuk pengembangan lokasi suatu agroindustri.

(18)

Potensial 3 : Pada wilayah tersebut memiliki kesesuaian lahan yang baik untuk pengembangan kelapa, dimana salah satu indikatornya adalah tanah. Dalam teori lokasi istilah tanah mengandung pengertian keadaan topografi dan keadaan cuaca yang terdapat di wilayah tersebut, kesemuanya ini juga akan mempengaruhi lokasi penempatan suatu industri. Dari struktur ekonomi basis, wilayah potensial 3 merupakan non basis komoditas kelapa, daerah tersebut belum mampu mengekspor kelapa ke daerah lainnya. Dari struktur hirarki, wilayah dengan potensial 3 merupakan daerah yang masih belum berkembang, yang dicirikan dengan belum tersedia/kurangnya infrastruktur yang memadai.

Tidak Potensial : Wilayah ini tidak memiliki kesesuaian lahan untuk komoditas

kelapa baik dalam jangka pendek atau bersifat permanen. Dari struktur ekonomi basis belum mampu mencukupi kebutuhan masyarakat wilayah tersebut akan komoditas kelapa. Sedangkan dari hirarki wilayah merupakan daerah dengan infrastruktur yang belum memadai atau belum berkembang. Daerah ini tidak cocok untuk pengembangan lokasi industri, akibat keterbatasan sarana dan prasarana pendukung.

Gambaran spasial hasil overlay LQ, Skalogram dan Kesesuaian Lahan yang menunjukkan alternatif disajikan pada gambar 8.

Berdasarkan hasil overlay peta LQ, Skalogram, dan Kesesuaian lahan diketahui desa-desa yang memiliki kesesuaian lokasi (Potensial 1) untuk kawasan Usaha Agro Terpadu meliputi: Desa Biha, Way Jambu, dan Marang Kecamatan Pesisir Selatan, Sumber Agung dan Negeri Ratu Ngambur Kecamatan Bengkunat dan Desa Way Redak Kecamatan Pesisir Tengah.

(19)

Gambar. 8. Hasil Penentuan Lokasi Berdasarkan Over Lay LQ, Skalogram dan Kesesuaian Lahan

(20)

Tabel berikut menyajikan hasil pemilihan calon lokasi Kawasan Usaha Agro Terpadu (KUAT):

Tabel 23. Hasil Analisis Lokasi Potensial

Potensi Nama Desa Jumlah

Potensial 1 NR. Ngambur, Sumber Agung, Marang, Biha, Way Redak

5 Potensial 2 Pagar Bukit, Penyandingan, Pardasuka,

Sukanegara, Way Jambu, Tanjung Setia, Sumur Jaya, Kp. Jawa, Seray, Walur, Pasar Krui, Balai Kencana, Way Napal, Laay, Penengahan, Way Sindi

16

Potensial 3 GC Kuningan, Pekonmon, Bd Dalam, Kota Jawa, Sukamarga, Tanjung Kemala, Rajabasa, Mulang Maya, Sukabanjar, Muara Tembulih, Ulok Mukti, Pelita Jaya, Tanjung Jati, Pagar Dalam, Sukarame, NR. Tenumbang, Way Suluh, Pemerihan, Lintik, Rawas, Sukanegara, Bumiwaras, Pajar Bulan, Padang Haluan, Penggawa V Tgh, Menyancang, Penggawa V Ulu, Way Nukak, Kebuayan, Walur, Kuripan, NR. Ratu, Pdg Rindu, Kerbang Langgar, Kota Karang, Kerbang Dalam, Penengahan, Bandar Pugung, Lemong, Way Batang, Tanjung Sakti

40

Tidak Potensial

NR. Ngaras, Kota Batu, Way Haru, PenggawaV Ilir, Banjar Agung, Pamungan, Ulu Krui, Way Narta, Baturaja, Sukamarga, Pekonlok, Bandar Dalam, Pasar Pulau Pisang, Sukadana, Labuhan, Balam, Bambang, Pagar Dalam Malaya, Cahaya Negeri, Tanjung Jati, Rata Agung.

19

Hasil analisis di atas menunjukkan bahwa kesesuaian lokasi untuk kawasan usaha agro terpadu di Kabupaten Lampung Barat terdapat beberapa alternatif berdasarkan pengelompokan lokasi:

Alternatif Pertama : Kelompok Desa Biha, Marang, Sumber Agung, dan Negeri

Ratu Ngambur. Beberapa hal pendukung alternatif tersebut antara lain: secara geografis wilayah tersebut saling berdekatan, sehingga dalam pengembangan dapat dibentuk suatu klaster agroindustri. Dengan kata lain beberapa persyaratan lokasi sudah sangat memadai.

Diantara pilihan tersebut terdapat Desa Way Jambu yang berada di antara Biha dan Marang, lokasi ini budidaya kelapa banyak ditumpangsari dengan

(21)

melinjo. Hal ini cukup memberikan gambaran bahwa alternatif pertama bisa dijadikan pilihan.

Dari aspek dukungan bahan baku, infrastruktur dan kesesuaian untuk pengembangan lokasi tersebut sangat memadai karena secara geografis beberapa wilayah berdekatan satu sama lain. Artinya pemilihan satu lokasi dapat memberikan Multiplier Effect kepada daerah sekitarnya. Menurut Handoko (2000) beberapa alasan dalam memilih lokasi oleh industri antara lain: fasilitas dan biaya transportasi, kedekatan dengan bahan baku, tenaga kerja, kedekatan dengan pasar, dan lingkungan masyarakat.

Alternatif Kedua : Kelompok Desa Way Redak, Kampung Jawa, Pasar Krui,

Seray, dan Walur. Pada wilayah ini terdapat beberapa hal yang mendukung, antara lain: daerah tersebut secara administratif berada dalam satu Kecamatan yaitu Pesisir Tengah. Dari sudut infrastruktur wilayah merupakan daerah yang relatif lebih dekat dengan ibukota Kabupaten Lampung Barat (35 km) sehingga memudahkan dalam hal koordinasi. Kota Krui sudah sangat dikenal masyarakat sebagai kota pelabuhan yang berfungsi sebagai jalur perdagangan pada era tahun 70 an, dimana transportasi laut merupakan jalur utama dalam hal keluar masuknya barang. Jalur Keberadaan Krui sebagai pusat perdagangan komoditas pertanian dan kehutanan menjadi salah satu pedukung pemilihan lokasi ini.

Alternatif Ketiga : Pardasuka, Pagar Bukit dan Sukanegara. Pada wilayah ini secara geografis sangat jauh dari ibukota kabupaten, namun relatif lebih dekat dengan Bandar Lampung Bila melewati Kabupaten Tanggamus. Secara hirarki wilayah alternatif ini agak sulit untuk dipilih karena dukungan fasilitas masih sangat minim.

Pemilihan alternatif lokasi suatu kawasan tidak terlepas dari kesesuaian secara teknis, ekonomi, sosial dan kebijakan pemerintah. Menurut Djojodipuro (1992) pemerintah dapat menentukan lokasi industri. Kebijaksanaan ini dapat mendorong, menghambat, atau melarang kegiatan industri pada lokasi tertentu. Kebijaksanaan pengaturan yang didasarkan atas pembagian daerah atau zoning

terkait dengan perencanaan pengembangan suatu wilayah.

Selain itu alternatif di atas harus disesuaikan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Lampung Barat. Berdasarkan Rencana Tata Ruang

(22)

Wilayah Kabupaten Lampung Barat, Kecamatan Pesisir Tengah dan Pesisir Selatan diarahkan sebagai sentra pengembangan aneka industri seperti pengolahan tambang, hasil perikanan dan kerajinan rakyat. Pada wilayah pesisir juga didukung oleh keberadaan jalur Lintas Barat dalam jangka panjang dapat mendorong percepatan pengembangan wilayah. Pada dasarnya pilihan atas alternatif di atas tergantung pada kepentingan Pemerintah Daerah Kabupaten Lampung Barat selaku pemilik program. Lokasi alternatif berdasarkan hasil analisis disajikan pada gambar 9 berikut ini.

(23)

5.2. Analisis Preferensi Masyarakat

Pemilihan produk potensial dalam penelitian ini menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Struktur AHP dibangun menggunakan beberapa kriteria yang menjadi tolok ukur apakah suatu produk layak untuk dikembangkan.

Dalam menentukan produk agroindustri yang memiliki nilai jual ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu aspek pasar dan pemasarannya, aspek teknis dan teknologis, aspek manajemen dan aspek ekonomi. Beberapa pertimbangan yang diperlukan menurut Sutojo (1996) adalah: peluang pasar, teknologi yang digunakan, lokasi pabrik yang strategis, ketersediaan tenaga kerja dan modal.

Dalam penelitian ini kriteria-kriteria yang dipertimbangkan didasarkan pada studi literatur dan konsultasi dengan para pakar, maka terdapat 7 kriteria yang dipilih yaitu: Peluang Pasar (PP), Kebijakan Pemerintah (KP), Nilai Tambah (NT), Dampak Lingkungan (DL), Penyerapan Tenaga Kerja (PTK), Kualifikasi SDM (KS), dan Teknologi Yang digunakan (TEK).

Sedangkan produk-produk agroindustri kelapa yang dipilih berdasarkan hasil studi literatur dan konsultasi dengan para pakar. Produk-produk tersebut adalah: Dessicated Coconut/Kelapa Parut Kering (DC), Minyak Kelapa (MK), Arang Aktif (AA), Santan Kelapa (SK), Coco Fiber (CF), Nata De Coco (NDC) dan Coco Peat (CP).

Menurut Turban (1993) penyusunan hirarki adalah langkah pendefinisian masalah yang kompleks sehingga menjadi lebih jelas dan rinci. Hirarki keputusan disusun berdasarkan pandangan pihak-pihak yang memiliki keahlian dan pengetahuan di bidang yang bersangkutan. Keputusan yang diambil sebagai tujuan dijabarkan menjadi elemen-elemen yang lebih rinci hingga menjadi suatu tahapan yang terstruktur. Hirarki permasalahan akan mempermudah pengambil keputusan untuk menganalisis dan menarik kesimpulan terhadap permasalahan tersebut.

Adapun Struktur Hierarki penentuan produk prospektif dalam penelitian ini digambarkan sebagai berikut:

(24)

Gambar 10 Struktur Hirarki Pemilihan Produk Propektif

Penilaian urutan kriteria didapat dari pendapat para pakar yang berasal dari instansi pemerintah Kabupaten Lampung Barat, peneliti agroindustri kelapa, dan pelaku industri berbasis kelapa.

Pakar-pakar tersebut adalah:

1. Ir. Eric Enrico, MT. pakar yang mewakili Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pasar kabupaten Lampung Barat

2. Ir. Karyo Kardono, M.Si. pakar yang mewakili Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Lampung Barat

3. Ir. Ahliansyah. Pakar yang mewakili Dinas perkebunan Kabupaten Lampung Barat

4. Ir. Slameto, M.Si. Pakar yang mewakili Peneiliti Agroindustri Kelapa dari Badan Pengembangan Teknologi Pertanian (BPTP) Lampung

5. Ir. Sugiarto pakar yang berasal dari PT. Sari Segar Husada industri pembuatan Dessicated Coconut dan Santan Kelapa

6. Drs. Yusrizal Roni pakar yang berasal dari PT. Sinar Laut industri yang menghasilkan Minyak Goreng.

Berdasarkan pendapat para pakar yang didapat melalui wawancara tertulis dengan metode AHP, dimana penilaian pendapat dilakukan dengan pembobotan pada tujuh kriteria tersebut, maka didapatkan hasil urutan kriteria yang menjadi

Pemilihan Produk Potensial Dalam KUAT PP KP NT DL PTK KS TEK DC MK AA SK CF NDC CP DC PRODUK-PRODUK AGROINDUSTRI KELAPA PROSPEKTIF

(25)

penentu pemilihan produk prospektif, sebagaimana ditunjukkan pada tabel berikut ini:

Tabel 24. Urutan prioritas faktor kriteria penentu pemilihan produk unggulan Kawasan Usaha Agro Terpadu (KUAT)

Kriteria Deskripsi Bobot Urutan

Peluang Pasar Prospek permintaan pasar baik dalam negeri maupun luar negeri, semakin tinggi peluang pasar, semakin prospektif untuk dikembangkan.

0.23

1

Kebijakan Pemerintah Kebijakan pemerintah pusat dan daerah dalam mendukung pengembangan dan pemasaran produk agroindustri

0.17

2 Nilai Tambah Besarnya keuntungan yang akan diperoleh jika produk

tersebut dikembangkan.

0.16

3 Dampak Lingkungan Dampak lingkungan yang dihasilkan bila suatu produk

dikembangkan. 0.12 4 Penyerapan Tenaga Kerja

Indikator yang menunjukkan jumlah tenaga kerja yang terserap oleh agroindustri penghasil produk kelapa yang prospektif

0.11

5

Kualifikasi SDM Tingkat kemampuan/keahlian teknik dari SDM yang ada di Kabupaten Lampung Barat dalam agroindustri kelapa

0.10

6 Teknologi Yang

digunakan

Kriteria ini menunjukkan kemampuan teknologi yang tersedia dalam menghasilkan produk prospektif, apakah sudah operasional atau baru tingkat uji laboratorium

0.10

6

Dari Tabel tersebut terlihat bahwa faktor penentu yang dimiliki oleh Peluang Pasar sebesar 0,23, diikuti oleh Kebijakan Pemerintah dengan nilai 0,17, dan Nilai Tambah dengan bobot 0,16. Selanjutnya pada urutan ke empat kriteria yang dipilih pakar adalah Dampak Lingkungan dengan skor 0,12, Penyerapan Tenaga Kerja sebesar 0,11, Kualifikasi SDM dengan nilai 0,10 dan diikuti kriteria Teknologi yang digunakan dengan bobot 0,10.

Pengembangan suatu produk agroindustri harus memperhatikan prospek pasar karena semakin besar peluang pasar suatu produk, maka hal ini akan memberikan gambaran bahwa produk tersbut semakin prospektif untuk dikembangkan. Selain itu peluang pasar sangat penting karena akan menunjukkan prospek kebutuhan produk agroindustri kelapa yang akan dikembangkan untuk keperluan pasar dalam negeri maupun ekspor. Faktor peluang pasar sangat penting untuk mendukung pengembangan sektor agroindustri kelapa, karena kualitas dan kuantitas yang memadai tidak cukup membantu bila peluang pasar suatu produk sangat rendah. Selain itu peluang pasar akan dapat meningkatkan kinerja ekspor dan penambahan devisa negara, serta mendukung pengembangan agroindustri itu sendiri. Berdasarkan pendapat para pakar, kriteria peluang pasar mendapat nilai 0,23

(26)

Kebijakan pemerintah yang mendukung program pengembangan agroindustri kelapa merupakan salah satu kriteria yang dipakai dalam menentukan produk prospektif dalam KUAT. Kebijakan pemerintah pusat dan daerah dalam mengembangkan agroindustri berbasis kelapa sangat tidak diragukan. Hal ini terlihat dari rencana pengembangan program KUAT.

Program KUAT merupakan sinergi pemerintah pusat melalui Departemen Perindustrian Republik Indonesia dengan Pemerintah Daerah dalam mengembangkan klaster agroindustri di luar pulau Jawa. Semakin besar dukungan pemerintah terhadap pengembangan dan pemasaran produk, semakin prospektif produk tersebut untuk dikembangkan. Sebaliknya semakin rendah dukungan pemerintah, maka produk tersebut semakin tidak prospektif. Para pakar berpendapat dengan memberikan penilaian terhadap kriteria ini 0,17.

Nilai tambah menunjukkan besarnya keuntungan yang akan diperoleh jika produk tersebut dikembangkan. Dengan demikian akan muncul keyakinan memperoleh keuntungan yang tinggi dari pelaksanaan kegiatan suatu usaha dimana pada akhirnya meningkatkan motivasi para investor untuk menanamkan modalnya. Semakin besar nilai tambah suatu produk, maka akan semakin besar prospeknya untuk dikembangkan. Pada tabel di atas terlihat bahwa para pakar memberikan penilaian terhadap kriteria ini dengan skor 0,16.

Salah satu faktor yang menjadi pembatas dalam dalam pengembangan usaha adalah dampak terhadap lingkungan. Semakin besar dampak lingkungan atas pengembangan suatu produk, maka semakin tidak prospektif produk tersebut untuk dikembangkan. Pada penilaian para pakar atas kriteria pengembangan produk prospektif, dampak terhadap lingkungan menempati urutan ke empat dengan nilai 0,12.

Kriteria penyerapan tenaga kerja mengandung pengertian jumlah tenaga kerja yang dapat terserap dengan pengembangan suatu produk. Pendirian usaha agroindustri yang banyak menyerap tenaga kerja akan menguntungkan masyarakat di sekitar lokasi program, juga akan membantu pemerintah dalam mengurangi angka pengangguran. Berdasarkan penilaian para pakar terhadap kriteria penyerapan tenaga kerja, tampak bahwa para pakar memilih kriteria ini sebagai prioritas kelima dengan nilai 0,11.

(27)

Berdasarkan pendapat para pakar, kriteria kualifikasi SDM mendapat nilai 0,10. Hal ini menunjukkan bahwa kualifikasi SDM agroindustri kelapa yang meliputi tingkat kemampuan teknik dari SDM yang ada di Kabupaten Lampung Barat bukan merupakan kriteria yang berpengaruh besar dalam menentukan produk prospektif. Dengan kata lain agroindustri kelapa belum memerlukan tenaga dengan kemampuan teknik yang spesisifk.

Kriteria terakhir adalah Teknologi yang digunakan, berdasarkan pendapat para pakar kriteria ini mendapat nilai 0,10. Pada dasarnya kriteria teknologi yang digunakan perlu dipertimbangkan dalam mendirikan suatu usaha agroindustri, hal ini menunjukkan kemampuan teknologi proses sudah tersedia. Teknologi yang digunakan akan mempengaruhi kualitas produk yang dihasilkan, sehingga mampu bersaing dengan produk sejenis di pasaran.

Hasil penilaian para pakar dalam memilih produk yang potensial untuk dikembangkan pada Kawasan Usaha Agro Terpadu (KUAT) di Kabupaten Lampung Barat diketahui bahwa, minyak kelapa dan Dessicated Coconut merupakan prioritas pertama dan kedua yang layak dikembangkan. Kedua produk olahan kelapa tersebut memiliki nilai masing-masing 0,215 dan 0,170. Produk berikutnya yang layak dikembangkan menurut para pakar adalah secara berturut-turut yaitu arang aktif, santan kelapa, coco fiber, nata de coco dan coco peat dengan nilai masing-masing yaitu: 0,112, 0,112, 0,105, 0,098, 0,096, dan 0,092.

Dipilihnya Minyak kelapa dan Dessicated Coconut sebagai produk yang paling prospektif merupakan hal yang wajar karena minyak kelapa merupakan salah satu dari sembilan bahan pokok (sembako), artinya produk ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat untuk keperluan rumah tangga. Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) oleh BPS diketahui bahwa konsumsi rata-rata perkapita perminggu minyak kelapa di Indonesia tahun 2002 sebesar 0,197 liter, tahun 2005 sebesar 0,195 liter dan 0,198 liter pada tahun 2007.

Hal ini cukup memberikan gambaran bahwa kebutuhan masyarakat akan minyak goreng sangat besar. Meskipun saat ini terdapat produk alternatif dari kelapa sawit, namun peranan minyak kelapa sebagai bahan kebutuhan memasak didapur masih cukup di kalangan masyarakat Indonesia.

(28)

Dessicated Coconut/Kelapa Parut Kering dipilih oleh pakar sebagai salah satu produk prospektif karena potensi pasar Dessicated Coconut sangat besar mengingat produk ini merupakan bahan tambahan untuk produk biskuit. Besarnya nilai ekspor sebagaimana dijelaskan oleh Asia Pacific Coconut Community (AAPC), peningkatan nilai ekspor periode 2004-2006 sangat signifikan. Pada tahun 2004 total ekspor Dessicated Coconut sebesar 30.780 ton dengan nilai 21.245.000 US Dollar, tahun 2005 mencapai 51.025 ton dengan nilai 35.939.000 US Dollar dan pada tahun 2006 mencapai 62.249 ton dengan nilai 36.886.000 US Dollar.

Peningkatan nilai ekspor ini sangat dipengaruhi oleh besarnya permintaan terutama oleh negara-negara Eropa dan Asia Pasifik. Sebagai produk yang bernilai ekspor tinggi adalah wajar bila Dessicated Coconut menjadi pilihan dalam pengembangan agroindustri berbasis kelapa. Menurut Palungkun (1998) permintaan produk Dessicated Coconut merupakan indikasi cerahnya prospek pasar, dan Indonesia memiliki potensi untuk merebut peluang yang ditawarkan.

Produk lain yang memiliki prospek untuk dikembangkan menurut para pakar adalah Arang Aktif, dimana berdasarkan pendapat para pakar memiliki skor 0,112. Arang aktif banyak diperlukan untuk proses pemurnian dalam dunia industri makanan dan kimia. Menurut APCC (2007) ekspor produk Arang Aktif Indonesia tahun 2004-2006 terus mengalami peningkatan, dimana tahun 2004 total ekspor mencapai 15.624 ton dengan nilai12.387.000 US Dollar, pada tahun 2005 meningkat menjadi 25.670 ton dengan nilai 16.303.000 US Dollar namun menurun menjadi 15.529 ton dengan nilai 17.577.000 US Dollar pada tahun 2006.

Pada dasarnya produk Arang dari tempurung kelapa sangat prospektif untuk dikebangkan ditengah gencarnya isu menipisnya bahan bakar fosil, karena arang tempurung berpotensi menjadi bahan bakar alternatif pengganti minyak tanah. Saat ini pemanfaatan Arang Tempurung sebagai pengganti arang kayu dan minyak tanah belum banyak dilakukan di kalangan masyarakat, sebagan besar tempurung kelapa terbuang percuma. Oleh karena itu potensi pemanfaatan produk tempurung kelapa masih sangat besar.

Produk Santan Kelapa adalah bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia karena berfungsi sebagai bahan pelengkap makanan. Namun komersialisasi

(29)

produk ini masih sangat kurang. Hal ini tidak terlepas dari belum banyak tersedianya santan kelapa kemasan. Berdasarkan pendapat para pakar dalam penelitian ini skor untuk Santan Kelapa 0,112. Produk ini sebenarnya sangat prospektif untuk dikembangkan, berdasarkan data Statistical Year Book APCC (2006) ekspor Indonesia pada tahun 2004-2006 terus meningkat. Pada tahun 2004 total ekspor mencapai20.240 ton dengan nilai 15.248.000 US Dollar, meningkat menjadi 32.480 ton pada tahun 2005 dan mencapai 27.402 ton dengan nilai 21.928.000 US Dollar pada tahun 2006. Disisi lain bagai masyarakat perkotaan keberadaan santan kelapa kemasan merupakan pilihan yang tepat sebagai pelengkap masakan karena terbatasnya waktu dalam mengolah kelapa menjadi santan.

Produk lainnya seperti Coco Fibre menurut para pakar mendapat skor 0,105. Pada dasarnya produk ini sangat banyak diperlukan oleh rumah tangga dan industri, namun belum difahaminya peluang pasar dan nilai tambahnya, maka sabut kelapa sampai saat ini masih menjadi limbah di kalangan masyarakat terutama di wilayah Kabupaten Lampung Barat. Menurut APCC (2007) ekspor Coco Fibre Indonesia pada periode 2004-2006 sebesar 1.180 ton, 3.550 ton dan 3450 ton.

VCO, Nata De Coco, dan Coco Peat menurut para pakar berada pada urutan belakang dengan skor 0,098, 0,096, dan 0,092. Produk ini baik untuk dikembangkan, namun dalam skala industri kelapa terpadu seperti KUAT, ketiga produk dapat dikembangkan dalam jangka panjang, artinya dalam jangka pendek pengembangan produk ini belum dapat dilaksanakan. Ke depan melalui pemberdayaan masyarakat, produk-produk ini dapat dilaksanakan melalui skala rumah tangga dengan kata lain melalui Usaha Kecil dan Menengah atau industri rumah tangga.

Program KUAT merupakan upaya Pemerintah Daerah Kabupaten Lampung Barat melaksanakan percepatan pertumbuhan ekonomi wilayah dengan motor utama sektor Industri. Selama ini belum terdapat usaha agroindustri yang berskala menengah dan besar di wilayah ini. Namun demikian terkait dengan Program KUAT dengan komoditas utama Kelapa, pengembangan produk harus bersifat terpadu. Dengan kata lain meskipun berdasarkan analisis para pakar

(30)

cenderung untuk memilih produk Minyak Kelapa dan Dessicated Coconut, pembangunan agroindustri kelapa harus bersifat terpadu. Bila konsep terpadu tidak dilaksanakan, maka sasaran dari aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan sulit tercapai.

Pengembangan agroindustri kelapa dengan produk yang terbatas menjadikan kelayakan ekonomis sangat sulit tercapai, hal ini disebabkan harga produk kelapa segar cenderung terus meningkat, terutama dalam 2 tahun terakhir. Oleh karena itu langkah peningkatan peranan ekonomi rakyat melalui komoditas kelapa harus dilakukan secara terpadu. Bagaimana peranan pemerintah, masyarakat dan swasta harus disinergikan sehingga produk kelapa yang dikembangkan dapat dilaksanakan oleh berbagai pihak, sesuai dengan ketersediaan teknologi dan sumberdaya yang ada.

Hasil Pemilihan produk prospektif yang akan dikembangkan dalam Kawasan Usaha Agro Terpadu (KUAT), berdasarkan pendapat para ahli disajikan pada Tabel berikut ini:

Tabel 25. Urutan Prioritas Pemilihan Produk Kawasan Usaha Agro Terpadu (KUAT) Kabupaten Lampung Barat

Kriteria Penentu Pemilihan Produk Produk Peluang Pasar Kualifika si SDM Nilai Tambah Penyrp Tenaga Kerja Tekno logi Yang Diguna kan Kebija kan Peme rintah Dampak Ling kungan Agre gasi Hasil Urutan Prio ritas Minyak Kelapa 0.27 0.16 0.20 0.24 0.17 0.26 0.21 0.215 1 Dessicated Coconut 0.16 0.20 0.14 0.17 0.22 0.17 0.12 0.170 2 Arang Aktif 0.10 0.07 0.10 0.10 0.07 0.16 0.18 0.112 3 Santan Kelapa 0.09 0.14 0.11 0.12 0.1 0.1 0.09 0.112 3 Coco Fiber 0.11 0.10 0.16 0.08 0.09 0.10 0.10 0.105 4 VCO 0.09 0.12 0.12 0.08 0.11 0.07 0.09 0.098 5 Nata De Coco 0.09 0.11 0.08 0.12 0.11 0.06 0.10 0.096 6 Coco Peat 0.09 0.10 0.09 0.09 0.09 0.08 0.10 0.092 7

(31)

Dari hasil analisis di atas diketahui bahwa Minyak Kelapa dan Dessicated Coconut merupakan produk unggulan pertama dan kedua dengan nilai masing-masing 0,215 dan 0,170. Jenis lain yang berpotensi untuk dikembangkan yaitu Arang Aktif ,Santan Kelapa dan Coco Fiber dengan skor 0,112 , 0,112 dan 0,105. Terlepas dari hasil analisis di atas terdapat 2 hal yang berbeda yaitu produk Minyak Kelapa dan Dessicated Coconut dan Santan memiliki bahan baku yang berasal dari daging buah. Sebaliknya Arang Aktif dan Coco Fiber berasal dari tempurung dan sabut kelapa. Hal ni menjelaskan bahwa untuk efisiensi produktifitas pembangunan agroindustri berbasis komoditas kelapa harus dilakukan secara simultan dan terpadu.

Sebagai sebuah program pembangunan klaster industri yang diharapkan menjadi trigger (pemicu) pergerakan perekonomian wilayah, maka harus dipilih produk yang akan dikembangkan sesuai dengan ketersediaan sumberdaya yang ada. Pemerintah Daerah tidak mungkin akan membangun agroindustri terpadu secara serentak karena keterbatasan dana. Sedangkan keberadaan masyarakat di sekitar lokasi program harus dilibatkan dalam proses pembangunan. Oleh karena itu beberapa pilihan alternatif dalam membangun keterpaduan dapat ditempuh dengan memberdayakan kelmbagaan masyarakat.

Produk-produk agroindustri yang membutuhkan modal, teknologi dan sumberdaya manusia yang tinggi dapat dilaksanakan oleh pemerintah dan atau swasta. Produk-produk tersebut antara lain: Dessicated Coconut, Minyak Kelapa dan Santan Kelapa. Hal ini penting karena produk tersebut memerlukan Quality Control dan persyaratan mutu, tingkat higienis yang tinggi. Sedangkan produk dengan teknologi sederhana dan Quality Cntrol yang kurang ketat, seperti Arang Aktif, Coco Fiber, Nata De Coco dan Coco Peat dapat dilaksanakan melalui lembaga masyarakat atau kelompok tani.

Menurut Allolerung dan Lay (1998), pengolahan kelapa skala industri besar dewasa ini telah mengolah hampir seluruh komponen buah kelapa baik secara terpadu maupun parsial yang menghasilkan produk bernilai ekonomi dan pasaran yang luas antara lain: minyak kelapa, Dessicated Coconut (Kelapa Parut), Santan, Bungkil Tepung Tempurung, Arang Aktif, Serat Sabut dan Nata De Coco. Pengembangan aneka ragam produk menghasilkan nilai tambah besar, namun

(32)

tidak berpengaruh terhadap perbaikan pendapatan petani. Hal ini disebabkan posisi petani hanya sebagai penyedia bahan baku industri. Oleh karena itu pelibatan petani diharapkan agar mereka apat menikmati nilai tambah tersebut.

Pengembangan pengolahan kelapa terpadu skala pedesaan adalah alternatif yang memadai untuk dirintis karena ketersediaan bahan baku, sumberdaya manusia dan teknologi di Kabupaten Lampung Barat. Produk-produk dengan batasan mutu dan teknologi yang rendah dapat dilaksanakan oleh masyarakat. Dengan demikian pembangunan kawasan agro usaha terpadu dapat berjalan efektif dengan biaya yang relatif lebih murah serta melibatkan partisipasi masyarakat.

Formulasi kerjasama pengolahan kelapa terpadu dengan partisipasi masyarakat perlu dirumuskan sehingga dapat diperjelas peranan dan tanggungjawab masing-masing pihak.

5.3. Persepsi Masyarakat Tentang Program KUAT

Berdasarkan hasil wawancara menyangkut rencana program KUAT, dari 30 responden yang terdiri dari 20 orang petani dan 10 pedagang pengumpul pada 6 kecamatan dalam wilayah pesisir diketahui bahwa petani di Kecamatan Bengkunat, Pesisir Selatan dan Pesisir Tengah dan Karya Penggawa sudah mengetahui tentang rencana Program KUAT. Sebaliknya responden di Kecamatan Pesisir Utara dan Lemong cenderung belum mengetahui rencana tersebut. Pengetahuan petani tentang rencana pemerintah meliputi komoditas yang akan dikembangkan dan produk yang dipilih yaitu minyak kelapa. Produk selain minyak kelapa tidak diketahui oleh masyarakat. Menurut pendapat masyarakat pemerintah akan mengembangkan pabrik minyak kelapa.

Kekurangtahuan masyarakat Pesisir Utara dan Lemong tidak terlepas dari jarak yang jauh, dan lokasi sentra kelapa berada pada kecamatan Karya Penggawa, Bengkunat, Pesisir Selatan dan Pesisir Tengah.

Menurut para pedagang pengumpul, pada hampir seluruh kecamatan mengetahui tentang rencana program KUAT. Hal ini tidak terlepas dari lancarnya arus informasi di kalangan pedagang pengumpul. Atas dasar tersebut dapat

(33)

dijelaskan bahwa sosialisasi program berjalan cukup efektif. Hasil analisis pendapat masyarakat disajikan pada tabel berikut ini:

Tabel 26. Persentase pemahaman petani dan pedagang menyangkut program KUAT

Petani Pedagang Pengumpul

Rencana Program Produk Rencana Program Produk Kecamatan Tahu (%) Tidak Tahu (%) Tahu (%) Tidak Tahu (%) Tahu (%) Tidak Tahu (%) Tahu (%) Tidak Tahu (%) Bengkunat 74 26 60 40 80 20 80 20 Pesisir Selatan 86 14 63 37 90 10 80 20 Pesisir Tengah 89 11 63 37 80 20 60 40 Karya Penggawa 67 33 52 48 40 60 50 50 Pesisir Utara 27 73 20 80 40 60 40 60 Lemong 24 76 21 79 40 60 30 70

Persepsi masyarakat diperlukan dalam upaya pelaksanaan suatu program. Hal ini terkait dengan kesuksesan pelaksanaan di lapangan. Menurut Handoko (2000), kesediaan masyarakat suatu daerah menerima segala konsekuensi baik positif mapupun negatif didirikannya suatu pabrik merupakan suatu syarat penting. Perusahaan perlu memperhatikan nilai-nilai lingkungan dan ekologi dimana perusahaan berlokasi. Di lain pihak masyarakat memerlukan industri sebagai penyedia lapangan kerja dan uang yang dibawa industri ke masyarakat.

5.4. Prospek Pasar Produk Kelapa 5.4.1. Rantai Tata Niaga

Tata niaga Kelapa di Kabupaten Lampung Barat identik dengan pemasaran produk pertanian yang umumnya bertingkat, yaitu mulai dari petani sebagai produsen, pedagang pengumpul tingkat desa, pedagang pengumpul kecamatan sampai dengan konsumen dan industri. Pola pemasaran yang panjang tersebut sangat tidak menguntungkan pihak petani karena semakin panjang rantai tata niaga, maka marjin yang diterima petani semakin kecil.

Berdasarkan hasil pengamatan di lokasi penelitian di Kabupaten lampung Barat, diketahui bahwa terdapat tiga tingkatan pedagang pengumpul yang berperan dalam tata niaga kelapa sebelum sampai pada konsumen akhir atau industri. Perdagangan kelapa pada umumnya dimulai dengan transaksi langsung

(34)

antara petani dengan pedagang desa, dengan sistem harga borongan berupa kelapa utuh belum di kupas.

Selanjutnya pedagang desa menjual kepada pedagang kecamatan yang akan membeli dengan cara datang langsung ke pedagang desa. Sistem pembelian dilakukan dengan cara borongan tanpa memperhatikan ukuran biji kelapa. Pedagang Kecamatan selanjutnya menjual kepada pedagang kabupaten di Liwa atau Pasar Fajar Bulan di Kecamatan Way Tenong, yang kemudian dijual kepada pedagang pengecer. Pedagang pengecer membeli kelapa untuk dipasarkan langsung ke konsumen. Pada tahapan pemasaran ke konsumen ukuran biji kelapa menjadi dasar dalam menentukan harga.

Rantai tata niaga kelapa juga terjadi antara pedagang tingkat kecamatan dengan pedagang pengirim yang akan membawa komoditas kelapa ke industri berbahan baku kelapa di Bandar Lampung. Industri tersebut merupakan produsen produk nata de coco, vco, santan kelapa dan desisicated coconut.

Kelapa pecah akan diapkir dan menjadi tanggungjawab pembeli yang umumnya merupakan pedagang desa, pada tahapan ini kelapa apkir akan diolah menjadi kopra. Pedagang pengumpul kopra berada di Kelurahan Pasar Krui, dimana harga jual berkisar antara sebesar Rp. 3.000-3.500/kg tergantung pada mutu kopra yang dijual. Harga tersebut cenderung tetap dari tahun ke tahun. Bila kopra tersebut jumlahnya sudah memadai, maka akan dibawa ke Bandar Lampung atau Kota Metro untuk dijual kepada Industri Minyak Goreng. Namun seiring dengan harga kelapa yang cukup tinggi, produksi kopra menjadi berkurang karena petani menjual dalam bentuk kelapa butiran. Sebaliknya bila harga kelapa butiran rendah, maka petani akan mengolah kelapa menjadi kopra.

Berkurangnya produksi kopra karena secara ekonomi pengolahan kopra tidak menguntungkan dimana untuk menghasilkan 1 Kg kopra dibutuhkan sekitar 4 butir kelapa, dengan harga jual Rp. 2.000 sampai dengan 3.750/kg. Sedangkan bila dijual butiran maka harga kelapa Rp. 1.100/butir. Oleh karena itu merupakan hal yang wajar bila petani tidak mengolah kelapa menjadi kopra di saat harga kelapa cukup tinggi. Secara lengkap bagan rantai pemasaran kelapa di Kabupaten Lampung Barat di sajikan pada gambar berikut ini:

(35)

Gambar 11. Rantai Pemasaran Kelapa di Kabupaten Lampung Barat

5.4.2. Marjin Pemasaran

Berdasarkan hasil analisis biaya dan marjin tata niaga di Kabupaten Lampung Barat diketahui bahwa biaya angkutan merupakan komponen terbesar dalam biaya pemasaran. Menurut Damanik dan Sientje (1992) besarnya biaya angkutan produk kelapa disebabkan bentuk fisik kelapa yang berifat kamba (rasio volume dan bobot sangat besar). Secara geografis wilayah Kabupaten Lampung Barat memiliki topografi datar sampai dengan berbukit. Besarnya komponen biaya sesuai dengan jarak tempuh, dimana untuk pedagang desa, jarak tempuh relatif dekat dengan kata lain masih dalam satu desa. Sedangkan pedagang kecamatan harus mengangkut lebih jauh dengan jarak 30-80 km. Besarnya biaya angkut untuk komponen industri disebabkan jarak angkut menuju lokasi industri berkisar antara 260 km sampai 300 km.

Marjin tata niaga dipisahkan menjadi dua yaitu dari petani sampai dengan konsumen dan dari petani ke industri. Pemisahan ini dilakukan karena terdapat

KONSUMEN PEDAGANG PENGECER PEDAGANG PENGUMPUL DESA PEDAGANG PENGUMPUL KECAMATAN INDUSTRI VCO,KELAPA PARUT,NATA DE COCO, DLL KELAPA PECAH /APKIR KOPRA KERING PEDAGANG PENGUMPUL KOPRA INDUSTRI MINYAK KELAPA PETANI /PRODUSEN PEDAGANG PENGIRIM

(36)

pedagang pengirim yang ikut dalam proses tata niaga. Pedagang pengirim mengambil produk kelapa dari pedagang kecamatan. Peran pedagang pengirim cukup besar, hal ini ditunjukkan dengan besarnya marjin.

Distribusi biaya pemasaran relatif merata kecuali biaya angkut dan harga beli. Marjin keuntungan tertinggi berada pada level pedagang pengirim yang mencapai Rp. 300/butir. Hal ini disebabkan besarnya resiko yang dihadapi, disamping besarnya modal dalam mekanisme pemasaran. Sedangkan marjin terendah berada pada tingkat pedagang pengumpul desa. Salah satu penyebabnya adalah adanya biaya pengupasan kulit luar yang harus ditanggung sebelum pembeli tingkat kecamatan datang. Selain itu dari sisi permodalan pedagang pengumpul desa relatif memiliki modal yang kecil. Resiko pecah dan apkir juga menjadi pembatas pedagang level ini untuk menigkatkan marjin keuntungan.

Marjin keuntungan setiap golongan pedagang lebih besar dibandingkan biaya pemasaran sehingga harga di tingkat petani menjadi relatif rendah. Damanik dan Sientje (1992) menyatakan bahwa pola tata niaga di atas merupakan ciri dari pemasaran yang bersifat monopsoni. Harga ditentukan oleh beberapa atau satu lembaga pemasaran yang dalam hal ini pemilik modal.

Dalam pemasaran kelapa, pedagang pengirim memegang peranan yang sangat besar dalam menjalankan fungsi tata niaga kelapa, karena mereka inilah yang menyediakan sebagian besar modal kerja dan menghadapi resiko paling besar. Resiko inilah yang sering dijadikan alasan untuk menekan harga di tingkat pedagang pengumpul maupun petani, sebagai akibatnya tata niaga kelapa di daerah menjadi tidak efisien (Herman dan Saputro (1990) dalam Damanik dan Sientje (1992).

Disisi lain posisi petani sebagai price taker (penerima harga) menjadikan pedagang memiliki kekuasaan untuk menentukan harga, selain beberapa petani telah menerima pembayaran awal harga kelapa sebelum panen. Pola pembayaran awal banyak dilakukan pada kondisi petani memerlukan dana untuk biaya anak sekolah atau biaya berobat. Kebutuhan tersebut mendorong petani kelapa meminjam dana kepada pedagang dengan konsekuensi pembayaran dengan produk kelapa pada saat panen. Hasil analisis marjin tata niaga kelapa menurut golongan pedagang disajikan pada tabel berikut:

(37)

Tabel 27. Hasil Analisis Marjin Pemasaran Produk Kelapa di Kabupaten Lampung Barat.

Harga Biaya Persentase Persentase

No Uraian

(Rp/butir) (Rp/butir Konsumen Industri

1 Harga jual petani 1,100 - - -

2

Harga beli pedagang pengumpul

Desa 1,100 - 61.11 50.00 Biaya sortir dan membersihkan - 50 7.14 4.55 Biaya angkut/transportasi - 50 7.14 4.55 Keuntungan - 50 7.14 4.55 3 Harga beli pedagang kecamatan 1,250 - 69.44 56.82 Biaya bongkar muat - 50 7.14 4.55 Biaya Angkut/transportasi - 100 14.29 9.09 Keuntungan - 100 14.29 9.09 4 Harga Beli Pedagang Pengecer 1,500 - 83.33

Biaya bongkar muat 50 7.14

Biaya Angkut/transportasi 50 14.29

Keuntungan 200 28.57

5 Harga Beli Konsumen 1,800 - - -

Jumlah Marjin Konsumen 700

6 Harga Beli Pedagang Pengirim 1,250 - - 64.10 Biaya bongkar muat - 100 - 9.09 Biaya Angkut/transportasi - 300 - 27.27 Keuntungan - 300 - 27.27 Harga Beli Industri 1,950 - - - Jumlah Marjin Industri - 1,100 107.14 100.00

Menurut data statistik Dinas Perkebunan Kabupaten Lampung Barat, harga kelapa dan kopra pada tahun 2004-2006 rata-rata Rp. 700-1.500-/ butir dan Rp.1.000- 3.150/kg. Harga tersebut cenderung meningkat terutama pada tahun 2005-2006. Peningkatan tersebut tidak lepas dari bertambahnya konsumsi kelapa di kalangan masyarakat.

Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat diketahui bahwa harga kelapa di tingkat petani berada pada level di atas Rp. 1.000/butir sejak tahun 2005 sampai dengan sekarang. Bagi petani harga tersebut cukup memberikan gairah untuk menjadikan kelapa sebagai salah satu alternatif pendapatan. Berikut ini disajikan perkembangan harga komoditas kelapa di Kabupaten Lampung Barat tahun 2004-2006.

Gambar

Tabel 19. Hasil analisis Location Quotient desa-desa pesisir Kabupaten Lampung   Barat
Tabel 19 (lanjutan) 41  RAWAS         0.15             -             2.32          3.74             -    42  PASAR KRUI            -              -                -              -              -    43  SUKANEGARA         0.17          1.45            2.08
Gambar 5.   Hasil analisis Location Quotient (LQ)
Tabel 20.  Hasil analisis Skalogram desa-desa pesisir Kabupaten Lampung Barat.  No  Nama Desa  Jumlah   Penduduk  Luas   Desa (Ha)  Total  Fasilitas  Jumlah Jenis Fasilitas  Hierarki  Wilayah   KECAMATAN BENGKUNAT  1  PENYANDINGAN                     2213
+7

Referensi

Dokumen terkait

Location Quotient ( LQ ) menunjukkan bahwa tanaman pangan yang merupakan sektor basis di Kabupaten Siak dengan pendekatan nilai LQ luas panen dan LQ produksi

Analisis yang digunakan adalah Location Quotient (LQ) dan Shift Share Analysis (SSA).Berdasarkan hasil analisis, dapat diketahui bahwa komoditas dengan nilai LQ &gt;1

Jika dilihat dari Gambar 9, luas areal sadapan cenderung sebanding dengan kontribusi hasil sadapan getah pinus terhadap pendapatan rumah tangga walaupun pada

HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Location Quotient (LQ) Location quotient adalah ukuran dari sebuah konsentrasi sektor di wilayah relatif terhadap wilayah acuan, yang

Lokasi penelitian berada di Kabupaten Pesisir Barat Provinsi Lampung yang menjadi tujuan wisatawan asing dari berbagai negara. wilayah Kabupaten Pesisir Barat memiliki luas

Lokasi penelitian berada di Kabupaten Pesisir Barat Provinsi Lampung yang menjadi tujuan wisatawan asing dari berbagai negara. wilayah Kabupaten Pesisir Barat memiliki luas

Analisis Potensi Komoditas Unggulan Agribisnis Potensi komoditas unggulan agribisnis dianalisis dengan Location Quotient LQ dengan rumus berikut : LQ = S/N /Ni Si = Ni/N /S Si

Berdasarkan hasil Analisis Location Quotient LQ dari luas tanam komoditas tanaman tebu di 29 kabupaten dan 6 kota di Provinsi Jawa Tengah dari tahun 2018-2022, terdapat 16 kabupaten