• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODEL PROBABILISTIC RISK ASSESSMENT PADA INDUSTRI GALANGAN KAPAL SUB KLASTER SURABAYA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MODEL PROBABILISTIC RISK ASSESSMENT PADA INDUSTRI GALANGAN KAPAL SUB KLASTER SURABAYA"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

B-283

MODEL

PROBABILISTIC RISK ASSESSMENT

PADA INDUSTRI GALANGAN

KAPAL SUB KLASTER SURABAYA

Minto Basuki1, A.A Wacana Putra2

1,2Jurusan Teknik Perkapalan, Fakultas Teknologi Mineral dan Kelautan, ITATS, Surabaya

e-mail :1[email protected],2[email protected] ABSTRACT

The research aims to assessment the risk of ship building industry in Indonesia. In this paper conducted a risk assessment on the ship building industry in the sub-cluster Surabaya. Samples of data obtained in the process of new building a type tanker vessel owned PT. Pertamina, which was built in the PT. Dumas (3,500 DWT), PT. Dok dan Perkapalan Surabaya (6.500 DWT) and in the PT. PAL Indonesia Surabaya(17,500 DWT). Analysis were performed using probability theory approach and multiplication principle, each are onthe main models, design models, material models and production models in the process of new building. From the analysis result, the probability of delay on the design group is 0.017, the probability of delay on the material group is 0.217, the probability of the production group is 0.1. In the design model, the probability of the biggest delays in the activity yard plan that is 0.001, the greatest probability to the model material is 0.013 on hull out fitting and machinery out fitting activities. Activity hull construction is the biggest cause of delays in the production model with probability 0,004.

Key words: Shipyard, Outfitting,Probabilistic, Risk Assessment

PENDAHULUAN

Industri galangan kapal dunia akan menjadi perhatian internasional seiring dengan pertumbuhan ekonomi China sejak tahun 2003. Industri galangan kapal Korea juga salah satu yang menikmati, hal ini salah satunya dapat dilihat dari pertumbuhan order sampai 236% pada industri galangan kapal selama lima tahun terakhir, dan setelah tahun 2003 order tumbuh 5,2% pertahun. Pada tahun 2006, 496 juta CGT order baru dimenangkan Korea 38,3%, China 29,6% dan Jepang 13,9% (Lee et al. 2007). Menurut Suryohadiprojo (2004), Industri galangan Indonesia, dengan perputaran uang untuk transportasi laut sebesar 50,7 triliun rupiah pertahunnya, seharusnya menjadi galangan kapal yang tangguh, modern dan sumber devisa Indonesia. Di sisi lain, saat ini Jepang dan Korea menguasai lebih dari 80% share market dunia. Industri galangan kapal Indonesia hanya menyerap 0,5% share market galangan kapal dunia. Akibat dari kesulitan pergerakan aktifitas galangan kapal Indonesia, industri pendukung seperti industri baja, industri permesinan, industri kelistrikan, industri kimia mengalami penurunan produktifitas dan banyak yang bangkrut.

Menurut data yang dikeluarkan versi Lloyd Registerfairplay tahun 2006 (dalam Basuki dkk, 2010), jumlah kapal yang dibangun oleh galangan – galangan kapal di dunia dengan klasifikasi

Lloyd Register berjumlah 6.716 unit dengan berbagai tipe kapal. Pada benua Asia, Negara yang paling aktif dalam pembangunan kapal adalah Negara China tercatat membangun 1.480 unit sama dengan 30,1 %, Korea Selatan tercatat membangun 1.426 unit sama dengan 29%, Jepang tercatat membangun 1.262 unit sama dengan 25,67% dan Indonesia tercatat membangun 68 unit atau sebanding dengan 1,38%. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 1 berikut:

Sumber: Lloyd Registerfairplay tahun 2006, diolah.

(2)

B-284

Melihat gambar diatas, menandakan bahwa betapa kecilnya share market yang bisa direbut oleh galangan kapal nasional dan ini juga menandakan betapa tertinggalnya industri galangan kapal di Indonesia. Disamping itu juga bisa bisa diartikan bahwa galangan kapal nasional masih belum banyak diminati oleh pemilik kapal.Seharusnya kondisi ini tidak boleh terjadi, mengingat Indonesia adalah negara maritim. Ketertinggalan ini akan membawa dampak tidak berkembangnya industri pendukung, karena industry perkapalan dari hulu sampai hilir banyak tergantung pada industri lain.

Menurut Basuki dan Widjaja (2008), ada beberapa alasan mengapa industri galangan kapal harus dikembangkan, antara lain: nilai ekonomis industri galangan kapal, berkembangnya industri ini akan turut mengembangkan industri lain yang akan memberikan multiplier-effect yang besar kepada proses industrialisasi dalam suatu negara. Disamping itu industri galangan merupakan industri padat karya yang mampu menciptakan lapangan kerja cukup besar dengan nilai tambah yang cukup tinggi. Dengan berkembangnya industri ini, maka kemandirian sektor pertahanan dengan pembuatan alat pertahanan di dalam negeri akan dapat dicapai

Seperti dijelaskan pada paragraph diatas, industri galangan kapal sangat tergantung pada industri lain dari hulu sampai hilir. Ketergantungan ini akan menentukan kelangsungan dan tingkat risiko yang dihadapi oleh industri galangan kapal (Basuki dkk, 2010). Hal ini dapat dilihat seperti Gambar 2 berikut:

Gambar 2. Skema Hubungan Galangan Kapal

Melihat gambar 2 diatas, tidak bisa dipungkiri bahwa pengembangan industri galangan kapal suatu negera, khususnya di Indonesia perlu segera dibenahi. Pengembangan industri galangan kapal yang baik dan memenuhi harapan segala pihak akan bisa memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi. Pengembangan industri galangan perlu dilakukan, mengingat Indonesia adalah negara maritim dan mempunyai lebih 300 industri galangan yang tersebar, seperti pada gambar 3 berikut:

(3)

B-285 Sumber: Departemen Perindustrian (Deperindag, 2010)

Gambar 3. Penyebaran Industri Galangan Kapal

Industri perkapalan di Indonesia masih kalah bersaing dengan industri galangan luar negeri seperti Singapura, Hongkong, dan Malaysia, apalagi persaingan dengan negara Korea Selatan dan Jepang. Dari keadaan tersebut, perlu adanya pengkajian dari segi produktivitas dan efisiensi kerja.

Untuk mendukung peningkatan produktivitas pada pembangunan kapal baru perlu

dikembangkan suatu sistem yang disesuaikan dengan kondisi galangan. Salah satu usaha peningkatan produktivitas galangan adalah dengan kemampuan membangun kapal sesuai standar mutu yang ditentukan oleh pihak pemesan. Pesanan kapal dapat dilakukan tepat waktu, harga bersaing serta mutu yang memadai (Basuki dan Choirunisa, 2012).

METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang dilakukan dengan menggunakan terminologi Risk = Probability of risk occurrence X Consequences of risk occurrence (Basuki dan Suardi, 2012). Analisis ditekankan pada Probability of risk occurrence dengan menggunakan pendekatan statistik (azaz perkalian, teori peluang, Bayesian). Proses bangunan baru dibagi menjadi 3 bagian besar, yaitu desain, material dan produksi. Masing-masing bagian tersebut dilakukan penilaian Probability of risk occurrence pada titik simpul pada jejaringnya (Value at Risk/VaR).

Langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut: (i) Identifikasi hazard (list semua skenario kejadian yang relevan dengan faktor penyebab dan dampak yang potensial) pada proses pembangunan kapal baru, yaitu pada kegiatan desain, pengadaan material dan proses produksi. (ii) Penilaian risiko (evaluasi faktor-faktor risiko); Fokus pada skenario yang penting, Ukur risiko pada setiap scenario, Analisa darimana risiko datang, fokus perhatian pada penyebab, Identifikasi faktor yang berhubungan yang mempengaruhi tingkatan risiko, dan Evaluasi risiko dan tingkat risiko dengan pendekatan value

Jakarta

• PT. Dok&PerkapalanKodjaBahari • PT. InggomShipyard • PT. DayaRadar Utama • PT. Marspec

• PT. Wayata Kencana Dockyard • PT. Indomarine

• PT. Karya Teknik Utama • PT. Sarana Laut Pawitra

Surabaya • PT. PAL Indonesia • PT. Dok&PerkapalanSurabaya • PT. Dumas • PT. NajatimDockyard • PT. AdiluhungSegaraUtama • PT. Dewa Ruci Agung • PT. Bayu Samudera Sakti • PT. Ben Sentosa

Semarang

• PT. JasaMarinaIndah • PT. Dok&PerkapalanKodjaBahari • PT. Galkap Tirtamas • PT. Tegal Shipyard Utama • PT. Tirta Raya Mina

Batam

• PT. Nan IndahMutiaraShipyard • PT. Pan United Shipyard • PT. KarimunSembawangS. • PT. BatamasJalaNusantara • PT. Bahtera Mutiara Harapan • PT. Bandar Victory Shipyard • PT. Inocin

• PT. Inter Nusa Jaya • PT. Kacaba Marga Marina • PT. Palma Progress Shipyard • PT. Sumatra Timur Indonesia • PT. Hyundai Citra Shipyard • PT. Dwi Rejeki Jaya Indonesia

Palembang

•PT. IntanSengkunyit •PT. Dok&PerkapalanKodjaBahari •PT. Mariana Bahagia •PT. SAC Nusantara •PT. Dok Karang Sumatera •PT. Karya Makmur •PT. Nirwana Indah •PT. Hidup Sejahtera •PT. Galpin Samarinda • PT. KaltimShipyard • PT. RejekiAbadiSakti • PT. ManumbarKaltim • PT. Bengkel Merdeka Balikpapan 1. PT. Amerta Marina Perkasa 2. PT. BalikpapanUtama 3. PT. Dua Dua 4. PT. Megah Mulia 5. PT. H&H Utama International 6. PT. Sarana Daya Utama 7. PT. Panrita Shipbuilding 8. PT. Teknik Samudera Ulung

9. PT. Gema Cipta Bahtera Menado

• PT. IndustriKapalIndonesia

Makasar

• PT. IndustriKapalIndonesia • Perikanan Samudera Besar

Ambon

• PT. Dok&PerkapalanWaiame • PT. Perum Perikani • Seram Jaya Prima

Papua •PT. Pertamina •PT. Navigasi •PT. Usaha mina Pakanbaru(Dumai) • PT. Pertamina • PT. Usda Soraya Jaya

Rengat • PT. Wirastuti • PT. Bangun Maritim

Indonesia

Bangka Belitung

• PT. Dok & Perkapalan Air Kantung

• PT. Timah • PT. Dwi Jasa Mitra • PT. Sarana Marindo

Pontianak

• PT. Inocin

• PT. Kapuas Cahaya Bahari • PT. Wahana Kapuas

(4)

B-286

at risk dengan menggunakan metode statistik. Kerangka dasar yang dikembangkan dalam metode penelitian seperti pada gambar 4 berikut

Gambar 4. Kerangka Kerja Penelitian Risk Assessment Bangunan Baru PEMBAHASAN

Untuk mensederhanakan penyelesaian dan berdasarkan data lapangan yang diperoleh, bahwa pada dasarnya proses pembangunan kapal dibagi menjadi tiga bagian besar, yaitu: proses desain, proses pengadaan material dan proses produksi. Pada masing-masing proses tersebut juga ada subproses yang dijalankan. Proses desain, proses pengadaan material dan proses produksi beserta sub prosesnya akan memunculkan risiko yang berbeda. Keterkaitan antar proses dan subproses dianalisis

hazard potensial yang muncul untuk dipetakan besaran nilai probabilitas serta dampak yang ada, dalam bentuk jejaring untuk mengetahui hubungan antar titik simpul. Model jejaring dikembangkan, karena pekerjaan bangunan baru, antara satu proses dengan proses yang lainnya sangat berhubungan sekali, bahkan antara subproses satu dengan subproses yang lainnya juga sangat berhubungan. Antara subproses dengan proses juga memiliki keterkaitan serta hubungan. Apabila satu proses atau satu subproses terhambat dan terlambat, maka akan berpnegaruh terhadap proses yang lainnya. Model jejaring yang dikembangkan dibagi menjadi model jejaring utama dan model jejaring untuk masing-masing proses serta subprosesnya.

Model Jejaring Utama

Model jejaring utama dirumuskan seperti pada gambar 5 berikut:

Gambar 5. Model Jejaring Utama

NEW BUILDING PROJECT

Design (Including

Model Test) Material Productuon Performance factor

Cost factor Probability of risk occurrence Design Probability of risk occurrence Material Probability of risk occurrence Production Schedule factor Total Probability of risk occurrence Consequences of risk occurrence Total Risk

(5)

B-287

Nilai probability of risk occurrence dihitung berdasarkan probabilitas untuk masing-masing titik simpul Value at Risk (VaR) dan disusun dalam Tabel 1 berikut:

Tabel 1. Nilai Probabilitas VaR Jejaring Utama

Komponen Probabilitas VaR

Desain (termasuk tes model kapal) 0,017

Material 0,217 Produksi 0,100

Total 0,334 Model Jejaring Desain

Model jejaring desain dirumuskan seperti pada gambar 6 berikut:

Gambar 6. Model Jejaring Desain

Nilai probability of risk occurrence dihitung berdasarkan probabilitas untuk masing-masing titik simpul Value at Risk (VaR) dan disusun dalam tabel berikut:

Tabel 2. Nilai Probabilitas VaR Jejaring Desain

Komponen Probabilitas VaR

Basic design 0,0005 Key plan 0,0008 Yard plan 0,0010 Production drawing 0,0008 Documentation 0,0002 Total 0,0033 Model Jejaring Material

(6)

B-288

Gambar 7. Model Jejaring Material

Nilai probability of risk occurrence dihitung berdasarkan probabilitas untuk masing-masing titik simpul Value at Risk (VaR) dan disusun dalam tabel berikut:

Tabel 3. Nilai Probabilitas VaR Jejaring Material

Komponen Probabilitas VaR

Hull construction 0,0110 Paint material 0,0020 Hull outfitting 0,0130 Machinery outfitting 0,0130 Electric outfitting 0,0040 Total 0,0430

Model Jejaring Produksi

(7)

B-289

Gambar 8. Model Jejaring Produksi

Nilai probability of risk occurrence dihitung berdasarkan probabilitas untuk masing-masing titik simpul Value at Risk (VaR) dan disusun dalam tabel berikut:

Tabel 4. Nilai Probabilitas VaR Jejaring Produksi

Komponen Probabilitas VaR

Work preparation 0,0008 Hull construction 0,0048 Leak test 0,0006 Hull outfitting 0,0019 Machinery system 0,0025 Electric outfitting 0,0010

Painting and corrosion control 0,0006

Spare part and inventory 0,0001

Total 0,0130

KESIMPULAN

Dari hasil pembahasan, dapat disimpulkan sebagai berikut: pada model utama probabilitas terbesar penyebab keterlambatan adalah kegiatan produksi. Kegiatan yard plan adalah penyebab terbesar keterlambatan proses bangunan baru pada model desain. Pada model material, probabilitas terbesar penyebab keterlambatan adalah kegiatan hull outfitting dan machinery outfitting. Pada model produksi, kegiatan hull construction mempunyai probabilitas terbesar penyebab keterlambatan bangunan baru. Aktifitas pengadaan material harus mendapat perhatian, karena mempunyai risiko besar penyebab keterlambatan bangunan baru kapal tanker yang dikerjakan pada 3 galangan kapal pada klaster Surabaya.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penelitian ini adalah bagian dari laporan penelitian Fundamental. Terima kasih kepada Direktur DP2M atas bantuan pembiayaan, sehingga penelitian ini bisa terselenggara. Terima kasih juga diucapkan pada para mitra bestari internal dan eksternal yang telah banyak memberikan masukan.

(8)

B-290 DAFTAR PUSTAKA

Basuki, M dan Widjaja, S, 2008, Studi Pengembangan Model Manajemen Risiko Usaha Bangunan Baru Pada Industri Galangan Kapal, Prosiding Seminar Nasional Teknologi Produksi, Jurusan Teknik Perkapalan, FTMK ITATS.

Basuki, M., Artana, I.K.B., Nugroho, S., dan Dinariyana, A.A.B., 2010, Probabilistic Risk AssessmentPada Industri Galangan Kapal, Prosiding Seminar Nasional Teori dan Aplikasi Teknologi Kelautan (SENTA) 2010, FTK, ITS.

Basuki, M dan Suardi, A.T, 2012, Analisis Risiko Proses Bangunan Baru Pada Industri Galangan Kapal Skala Besar, Jurnal Saintek, Volume 9, Nomor 1, Juni 2012, pp. 44-47, Kopertis VII Surabaya.

Basuki, M. dan Choirunisa, B, 2012, Analisa Risiko Proses Pembangunan Kapal Baru 3.500 LTDW White Product Oil Tanker – Pertamina di PT. Dumas Tanjung Perak Surabaya, Jurnal Neptunus, Volume 18, Nomor 2, pp. 97-109, Edisi Juli 2012, Fakultas Teknik UHT.

DeperindagJawa Timur, 2010, Laporan Akhir Kajian Industri Perkapalan di Jawa Timur.

Lee, E., Shin, J.G. and Park, Y, 2007, A Statistical Analysis of Engineering Project Risk in the Korean Shipbuilding Industry, Journal Ship Production, Volume 23, Number 4, pp. 223-230.

Gambar

Gambar 1. Prosentase Negara Asia Pembangunan Kapal Klas LR
Gambar 2. Skema Hubungan Galangan Kapal
Gambar 3. Penyebaran Industri Galangan Kapal
Gambar 4. Kerangka Kerja Penelitian Risk Assessment Bangunan Baru
+4

Referensi

Dokumen terkait

Secara umum strategi daya saing yang dibutuhkan industri galangan kapal adalah strategi korporasi dan bisnis seperti yang dilakukan negara lain yang berhasil dalam

Dalam LOPA, skenario adalah penyebab awal yang merupakan dampak potensi bahaya yang terdapat pada HAZOP yang memiliki nilai dari risk rank tinggi (Lassen, CA,

Puji Syukur kehadirat ALLAH S.W.T, karena atas segala Anugerah dan Kuasa- Nya penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini sebagai bagian dari silabus kuruikulum teknik Perkapalan

Risiko Kategori Risiko.. • Identifikasi pengukuran untuk mengontrol risiko, dari tingkatan risiko yang diperoleh dari matrik risiko, untuk menurunkan nilai indeks risiko harus

Berdasarkan hal tersebut, pada penelitian ini dilakukan identifikasi kejadian risiko dan penyebab terjadinya suatu risiko, serta usulan strategi penanganan yang

Langkah-langkah pembentukan model extended untuk mengatasi nonproportional hazard pada kejadian bersama antara lain; (1) penambahan fungsi waktu pada variabel yang tidak

Penelitian terdahulu yang relevan bertujuan untuk memberikan gambaran tentang langkah-langkah yang dilakukan dalam menyusun rancangan manajemen pengendalian persediaan obat

Melalui kegiatan survey pendahuluan dan risk assessment didapati beberapa risiko utama yang mungkin terjadi pada PT.X dan dapat mengakibatkan hazard and disaster event risk sebagai