LP Hernia Inguinalis

15 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASKEP

HERNIA INGUINALIS, HERNIOTOMY

RUANG OK RSUD LAWANG

Untuk Memenuhi Tugas Profesi Departemen Surgikal

Oleh

RISYDA MA’RIFATUL KHOIROT 115070207111030

KELOMPOK 7 PSIK A REGULER 2011 JURUSAN KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2015 HERNIA INGUINALIS 1. DEFINISI

Hernia merupakan protrusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau bagian lemah dari dinding rongga yang bersangkutan. Pada hernia abdomen, isi perut menonjol melalui defek atau bagian lemah dari lapisan muskulo-aponeurotik dinding perut. Hernia terdiri atas cincin, kantong dan isi hernia (R. Sjamsuhidayat, 2004)

Hernia inguinalis adalah hernia yang melalui anulus inguinalis internus/lateralis menelusuri kanalis inguinalis dan keluar rongga abdomen melalui anulus inguinalis externa/medialis (Mansjoer A, dkk 2000).

Hernia inguinalis adalah prolaps sebagian usus ke dalam anulus inginalis di atas kantong skrotum, disebabkan oleh kelemahan atau kegagalan menutup yang bersifat kongenital (Cecily L. Betz, 2004).

(2)

Menurut lokalisasi 1. Hernia Inguinalis

Indirek: batang usus melewati cincin abdomen dan mengikuti saluran spermamasuk ke dalam kanalis inguinalis

Direk: batang usus melewati dinding inguinalis bagian posterior 2. Hernia Diafragma

Hernia yang melalui diafragma 3. Hernia Umbilikal

Batang usus melewati cincin umbilical 4. Hernia Femoralis

Batang usus melewati femoral ke bawah ke dalam kanalis femoralis 5. Hernia Scrotalis

Batang usus yang masuk ke dalam kantong skrotum Hernia insisi menurut sifatnya

1. Hernia Reponibel

Isi hernia dapat keluar masuk, usus keluar jika mengedan, dan masuk jika berbaring atau didorong masuk, tidak ada keluhan nyeri/gejala.

2. Hernia Ireponibel

Kantong hernia tidak dapat dikembalikan ke dalam rongga, ini disebabkan oleh perlekatan isi kantong pada peritoneal

3. Hernia Inkarserata/Hernia Strangulata

Isi hernia terjepit oleh cincin hernia/ terperangkap, tidak dapat kembali ke dalam rongga perut

3. ETIOLOGI & FAKTOR RESIKO

a. Kongenital/cacat bawaan. Sejak kecil sudah ada, prosesnya terjadi intrauteri, berupa kegagalan perkembangan

b. Herediter (kelainan dalam keturunan) c. Umur (hernia dijumpai pda semua umur)

d. Jenis kelamin, Lebih banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan dengan wanita e. Didapat, seperti mengedan terlalu kuat, mengangkat barang-barang yang berat f. Keadaan yang dapat menyebabkan tekanan intraabdominal di anatranya ;

kehamilan, batuk kronis, pekerjaan mengangkat benda berat, mengejan pada saat defekasi, dan mengejan pada saat miksi, hipertropi prostat

g. Adanya prosesus vaginalis yang terbuka. h. Kelemahan otot dinding perut

i. Anulus internus yang cukup lebar 4. MANIFESTASI KLINIS

1. Benjolan pada regio iunginale, di atas ligamentum inguinal, yang mengecil bila pasien berbaring.

2. Bila pasien mengejan atau batuk, mengangkat berat, maka benjolan hernia akan bertambah besar.

3. Bila isinya terjepit akan menimbulkan perasaan sakit di tempat itu disertai perasaan mual.

4. Bila terjadi hernia inguinalis strangulata perasaan sakit akan bertambah hebat serta sakit diatasnya menjadi merah dan panas.

5. Pada laki-laki isi henia dapat mengisi skrotum (Sjamsuhidayat, 2004; Arif Mansjoer, 2000). 6. PEMERIKSAAN

(3)

a. Inspeksi

Pasien diperiksa dalam keadaan berdiri dan diminta untuk mengejan, Pada saat pasien mengedan dapat dilihat hernia inguinalis lateralis muncul sebagai penonjolan di regio inguinalis yang berjalan dari lateral atas ke medial bawah. Benjolan yang terlihat di atas lipat paha menunjukkan hernia inguinalis, sedang di bawah lipat paha menunjukkan hernia femoralis. Pada hernia yang telah terjadi incarserata atau strangulasi maka disekitar hernia akan terlihat eritema dan udema

b. Auskultasi

Auskultasi pada hernia ditentukan oleh isi dari hernia, jika isi dari hernia adalah usus maka akan terdengar peristaltik usus. Sedangkan jika isi hernia omentum tidak akan terdengar apa-apa.

c. Palpasi

Pada palpasi akan teraba benjolan berbatas tegas, bisa lunak atau kenyal tergantung dari isi hernia tersebut. Untuk membedakan hernia inguinalis lateralis dan medialis dapat digunakan 3 cara:

1) Finger test

Untuk palpasi menggunakan jari telunjuk atau jari kelingking pada anak dapat teraba isi dari kantong hernia, misalnya usus atau omentum (seperti karet). Dari skrotum maka jari telunjuk ke arah lateral dari tuberkulum pubicum, mengikuti fasikulus spermatikus sampai ke anulus inguinalis internus.

2) Siemen test

Dilakukan dengan meletakkan 3 jari di tengah-tengah SIAS dengan tuberculum pubicum dan palpasi dilakukan di garis tengah, sedang untuk bagian medialis dilakukan dengan jari telunjuk melalui skrotum. Kemudian pasien diminta mengejan dan dilihat benjolan timbul di annulus inguinalis lateralis atau annulus inguinalis medialis dan annulus inguinalis femoralis.

3) Tumb test

Sama seperti siemen test, hanya saja yang diletakkan di annulus inguinalis lateralis, annulus inguinalis medialis, dan annulus inguinalis femoralis adalah ibu jari.

4) Diapanoskopi

Untuk melihat apakah ada cairan atau tidak, dilakukan untuk membedakan dengan hidrocele testis. Caranya dengan menyinari scrotum dengan senter yang diletakkan di belakang scrotum.

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang foto roentgen biasanya tidak diperlukan untuk mendiagnosis hernia. Rontgen hanya diperlukan untuk hernia interna, misalnya hernia diafragmatica. Sedangkan USG bisa digunakan untuk menyingkirkan diagnosis massa yang berada di dalam dinding abdomen atau untuk menyingkirkan diagnosis bengkaknya testis.

(4)

Jika dicurigai adanya hernia strangulata, maka bisa dilakukan pemeriksaan radiologik berupa:

a. Foto rontgen dada untuk menyingkirkan adanya gambaran udara bebas (sangat jarang terjadi).

b. Foto abdomen PA dan posisi supine untuk mendiagnosis obstruksi VU untuk mengidentifikasi daerah diluar rongga abdomen.

c. CT Scan atau USG bisa juga digunakan untuk penegakan dignosis: - Spigelian atau hernia obturator

- Pada pasien dengan bentuk tubuh yang kurang baik. 7. PENATALAKSANAAN

Penanganan hernia ada dua macam: 1) Konservatif

a. Reposisi

Reposisi adalah suatu usaha untuk mengembalikan isi hernia ke dalam cavum peritonii atau abdomen. Reposisi dilakukan pada pasien dengan hernia reponibilis dengan cara memakai dua tangan.

b. Suntikan

Dilakukan penyuntikan cairan sklerotik berupa alcohol atau kinin di daerah sekitar hernia, yang menyebabkan pintu hernia mengalami sclerosis atau penyempitan sehingga isis hernia keluar dari cavum peritonii.

c. Sabuk Hernia

Diberikan pada pasien dengan hernia yang masih kecil dan menolak dilakukan operasi. Bentuk kepala sabuk seperti kepala ular. Kepala sabuk ditempatkan tepat di pintu hernia supaya menghalangi keluarnya organ intra abdomen. 2) Operatif

Operasi merupakan tindakan paling baik dan dapat dilakukan pada: - Hernia reponibilis

- Hernia irreponibilis - Hernia strangulasi - Hernia incarserata Tujuan operasi hernia: - Reposisi isi hernia - Menutup pintu hernia

- Mencegah residif dengan memperkuat dinding perut

a) Herniaplasty : memperkecil anulus inguinalis internus dan memperkuat dinding belakang.

b) Herniatomy : pembebasan kantong hernia sampai ke lehernya, kantong dibuka dan isi hernia dibebas kalau ada perlekatan, kemudian direposisi, kantong hernia dijahit ikat setinggi lalu dipotong.

c) Herniorraphy : mengembalikan isi kantong hernia ke dalam abdomen dan menutup celah yang terbuka dengan menjahit pertemuan transversus internus dan muskulus ablikus internus abdominus ke ligamen inguinal.

8. KOMPLIKASI

1) Terjadi pelekatan antara isi hernia dengan dinding kantong hernia, sehingga isi hernia tidak dapat dimasuki kembali, keadaan ini disebut hernia irrepponsibilis. Pada

(5)

keadaan ini belum ada gangguan penyaluran isi usus. Isi hernia yang tersering menyebabkan keadaan irreponsibel adalah omentum, karena mudah melekat pada dinding hernia dan isinya dapat menjadi lebih besar karena infiltrasi lemak. Usus besar lebih sering menyebabkan irreponsibel dari pada usus halus.

2) Terjadi tekanan terhadap cincin hernia akibat makin banyaknya usus yang masuk, keadaan ini menyebabkan gangguan aliran isi usus diikuti dengan gangguan vaskular (proses strangulasi). Keadaan ini disebut hernia inguinalis strangulata. 3) Pada keadaan strangulata akan timbul gejala ileus, yaitu perut kembung, muntah,

dan obstipasi. Pada strangulasi nyeri yang timbul lebih hebat dan kontinyu, daerah benjolan menjadi merah dan pasien menjadi gelisah (Arif Mansyoer, 2000).

(6)
(7)

MANAJEMEN PERIOPERATIF HERNIA INGUINALIS PRE OPERASI

1. Anamnesa

Terdiri dari nama, umur, alamat, pekerjaan, agama, status perkawinan, dll. keluhan saat ini dan tindakan operasi yang akan dihadapi. riwayat penyakit yang sedang/ pernah diderita yang dapat menjadi penyulit anestesi. Alergi obat, obat yang sedang digunakan Riwayat anestesi/ operasi sebelumnya, menjadi acuan dalam pertimbangan anestesi. kebiasaan sehari-hari yang mempengaruhi anestesi, keadaan umum, dan sistem organ. 2. Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan dilakukan dari kepala sampai ujung kaki, serta pemeriksaan syaraf cranial untuk mengetahui adakah gangguan atau kelainan lain pada tubuh.

3. Pemeriksaan Laboratorium

Dilakukan secara rutin meliputi darah lengkap, urin (protein, reduksi, dan sedimen), foto dada terutama (untuk bedah mayor), elektrokardiografi (untuk pasien berusia diatas 40 tahun). Elektrokardiografi pada anak, bronkospirometri pada pasien tumor paru, fungsi hati pada pasien ikterus, fungsi ginjal pada pasien hipertensi/mengalami gangguan miksi. 4. Konsultasi dengan bagian medis lain

Lakukan konsultasi kepada bagian medis bila ditemukan adanya kelainan atau gangguan dari sistem tubuh misalnya, penyakit dalam, neurologi, psikiatri, dll.

5. Klasifikasi Status Fisik (ASA)

Berdasarkan hasil pemeriksaan kita dapat menentukan status fisik pasien,American Society Of Anestesiologists (ASA) membuat klasifikasi pasien menjadi kelas-kelas : a. ASA I Pasien normal sehat fisik dan mental

b. ASA II Pasien dengan penyakit sistemik ringan dan tidak ada keterbatasan fungsional. c. ASA III Pasien dengan penyakit sistemik sedang hingga berat yang menyebabkan

keterbatasan fungsi.

d. ASA IV Pasien dengan penyakit sistemik berat yang mengancam hidup dan menyebabkan ketidakmampuan fungsi.

e. ASA V Pasien yang tidak dapat hidup / bertahan dalam 24 jam dengan atau tanpa operasi.

f. ASA VI Pasien mati batang otak yang organ tubuhnya dapat diambil.

g. E, Bila operasi yang dilakukan darurat (emergency) maka penggolongan ASA di ikuti huruf E (misalnya 1 E atau 2 E)

Pemilihan tehnik anestesi

Berdasarkan atas usia, status fisik, jenis pembedahan, keterampilan dan pengalaman ahli bedah serta keterampilan dan pengalaman dokter dan perawat anestesi. 1. Indikasi anestesi umum

Anestesi umum digunakan untuk bayi dan anak-anak, dewasa yang ingin dianestesi umum, prosedur operasi yang lama dan rumit seperti, pembedahan abdomen yang luas,

(8)

pembedahan yang berlangsung lama, dan operasi dengan posisi tertentu yang memerlukan pengendalian pernafasan, serta penderita dengan gangguan mental.

2. Indikasi anestesi regional

Anestesi regional digunakan untuk orang dewasa, dengan indikasi bedah ekstremitas bawah, operasi kebidanan, bedah urologi, tindakan sekitar rektum–perineum. Kontra indikasi absolut regional anestesi tidak boleh diberikan apabila pasien menolak, infeksi pada tempat suntikan, hipovolema berat, syok, koagulopati atau mendapat terapi antikoagulan, fasilitas resusitasi yang minim, kurang pengalaman atau tanpa didampingi konsultan anestesia

Persiapan alat dan obat anestesi 1. Persiapan alat

1) Persiapan mesin anestesi antara lain, Canester yang berisi sodalime. 3

2) Persiapan alat-alat intubasi, Scope yang terdiri dari Stetoskop, laringo-scope. Pilih bilah atau daun (blade) Tubes atau pipa trakea, pilih nomor sesuai usia Menjaga agar airway atau jalan nafas tetap bebas Diperlukan juga tape atau plester untuk fiksasi

Connector, Suction Spuit 10 cc. 3) Alat-alat intravena line

2. Persiapan Obat

1) Obat Anestesi Intravena

Natrium tiopental : induksi anestesi umum., operasi/tindakan yang singkat, sedasi anestesi regional, dan mengatasi kejang eklamsia atau epilepsi.

Propofol (diprivan 1%, fresofol 1%, recofol). obat anestesi umum yang bekerja cepat, efek obatnya dicapai dalam waktu 30 detik.

Ketamin (ketalar, anesject). obat anestesi umum yang bekerja cepat. Menyebabkan Perubahan kesadaran disertai analgesik kuat (anestesi disosiatif).

Midazolam (dormikum). obat induksi tidur jangka pendek untuk premedeksi, induksi, dan pemeliharaan anestesi.

Diazepam (valium). sebagai ansiolitik, sedatif, relaksasi otot, antikonvulsi dan amnesia. diindikasikan untuk sedasi sebelum melakukan tindakan pengobatan utama atau intervensi seperti kardioversi, kateterisasi jantung, endoscopi, prosedur radiologi, bedah minor.

2) Obat anestesi Inhalasi

Obat anestesi dihirup bersama udara pernapasan kedalam paru-paru, masuk kedalam darah dan sampai di jaringan otak dan mengakibatkan anestesia.

Gas anestesi (N2O gas gelak)

Obat Anestesi Inhalasi (volatile) - Halotan

- Enfluran - Isofluran - Desfulran - Sevofluran

(9)

Obat pelumpuh otot

Obat golongan ini menghambat transmisi neromuskular sehingga menimbulkan kelumpuhan pada otot rangka.

1) Obat Pelumpuh Otot Nondepolarisasi - Pavulon (pankuronium bromida). - Vekuronium (norkuron).

- Rokuronium (esmeron). - Trakrium (atrakurium besilat). 2) Obat Pelumpuh Otot Depolarisasi

Suksametonium (suksinil kolin). 4) Obat Analgetik Narkotik

- Morfin. - Pethidin. - Fentanyl. Analgetik nonnarkotik

- Ketorolak (Toradol, Remopain). Obat Anestesi Regional

Bupivacaine 0,5% ( Marcaine 0,5% ), Lignocaine HCL, Prilocaine 5% Amethocaine HCl, Procaine HCl, Mepivacaine HCl 4%

Obat Resuitasi

Obat Anticholinergik yaitu sulfas atropine Obat furosemid/Lasix Persiapan pasien Sebelum hari operasi

Pembersihan dan pengosongan saluran pencernaan untuk mencegah aspirasi isi lambung, karena regurgitasi/muntah. Pada operasi elektif, pasien dewasa puasa 6-8 jam, pada anak cukup 3-5 jam. Dan gigi palsu, bulu mata palsu, perhiasan (cincin, gelang, kalung) dilepas serta bahan kosmetik (lipstik, cat kuku), di bersihkan sehingga tidak mengganggu pemeriksaan.

Kosongkan juga kandung kemih dan bila peelu lakukan katerisasi, bersihkan lendir dari saluran napas. Jangan lupa memberikan informed consent kepada keluarga dan membuat izin pembedahan/anestesi secara tertulis. Sebelum pasien masuk kamar operasi harus mengenakan pakaian khusus (diberi tanda dan label, terutama pada bayi). Pemeriksaan tentang fisik pasien dapat diulangi di ruang operasi.3

Premedikasi

Premedikasi adalah penberian obat-obatan 1 atau 2 jam sebelum induksi secara oral, intramuskular, intravena maupun perrektal. Adapun tujuan dari pemberian premedikasi adalah, menimbulkan rasa nyaman pada pasien (menghilangkan kekuatiran, memberikan ketenangan, membuat amnesia dan memberikan analgesi), juga untuk memudahkan/memperlancar induksi, rumatan dan sadar dari anestesi serta mengurangi jumlah obat-obatan anestesi.

Adapun obat-obat yang dapat diberikan antara lain : Sulfas atropin, 0,1 mg/kgBB

Diazepam per oral10-15 mg untuk pereda kecemasan. Pethidin 50 mg untuk mengurangi nyeri atau kesakitan.

Simethidin/ranithidin 150 mg untuk mengurangi ph asam cairan lambung, Ondacetron, 2-4 mg untuk mengurangi mual-muntah pascabedah.

(10)

6. Penatalaksanaan Tindakan Anestesi Terhadap Pasien yang Menjalani Operasi Hernioraphy pada HIL Inkarserata.

Berikan pre-oksigenisasi dengan oksigen 100% 2-3 liter selama 3-5 menit sebelum induksi. Untuk Induksi dan intubasi di lakukan bila operator yaitu dokter bedah sudah siap. Setelah induksi dan intubasi maka operasi dilakukan. Induksi dilakukan dengan menggunakan penthotal 4 – 6 mg / kgBB atau propofol 2 – 2,5 mg / kgBB. Untuk inhalasi diberikan nitrous oksida: oksigen dipakai 50:50 dengan konsentrasi volatile yang rendah. Berikan pelumouh otot nondepolarisasi yaitu, atrakurium 0,3-0,6 mg/kgBB atau esmerron 0,6 mg/kgBB, bila pasien sudah rileks maka dapat lakukan intubasi.

Pada operasi darurat dilakukan induksi cepat (crush induction) untuk mencegah aspirasi selama tindakan intubasi. Diindikasikan terutama pada pasien dengan lambung penuh. Selain peralatan intubasi dipersiapkan pula alat pengisap lendir dan pipa lambung. Pasien dipersiapkan dalam posisi setengah duduk atau telentang dengan posisi kepala lebih rendah. Awali dengan penberian 02 100% (praoksigenisasi) selama tiga sampai lima menit kemudian berikan obat pelumpuh otot nondepolarisasi dosis (prekurarisasi). Suntikan obat induksi cepat diberikan sampai refleks bulu mata hilang. Tulang krikoid ditekan ke arah posterior (sellick manouver) dan kemudian obat pelumpuh otot depolarisasi diberikan. Setelah itu dilakukan tindakan laringoskopi dan intubasi. Bila pipa endotrakeal telah masuk, balon pipa (cuff) segera dikembangkan.7

INTRA OPERASI

1) Monitoring Intraoperatif

Kontrol tekanan darah systole dan diastole tidak boleh naik diatas 20% baseline atau turun 20% dibawah baseline, dapat dilakukan dengan menggunakan alat monitor automatik atau dengan tensimeter manual. Monitoring pada nadi dapat dilakukan dengan, tehnik palpasi (merasakan dengan tangan) dan dibantu dengan alat elektronika / pulse oximetri dan juga stethoscope untuk mendengarkan detak jantung. Pernapasan dapat dilihat pada monitor,bila ada gangguan dapat di pantau dengan pemasangan saturasi, dapat dilakukan melalui suatu monitor dengan alat sensor yang dipasang pada jari utuk melihat nadi dan saturasi oksigen. Monitoring Diuresis dilakukan untuk mengetahui adanya kekurangan cairan atau gangguan pada ginjal. Monitoring pemberian cairan infus perlu dilakukan agar pasien tidak mengalami kekurangan cairan akibat puasa maupun pembedahan.7Monitoring suhu badan dengan menggunakan thermometer secara manual atau dengan monitor outomatik.

2) Ekstubasi

Setelah operasi selesai, obat anestesi dihentikan pemberiannya. Berikan oksigen 4-6 liter dalam waktu 5-15menit. Bersihkan rongga hidung dan mulut dari lendir. Bila perlu berikan obat anticholinesterase (prostigmin 0,04 mg/kgbb) dan atropin 0,02 mg/kgbb. Jika

(11)

masih ada depresi nafas oleh narkotik-analgesik berikan Narkotik Antagonis (Nalolxone) 0,1-0,4 mg secara intravena. Ekstubasi dilakuakan saat pasien masih teranastesi/tidur dalam, untuk mengurangi traumatis dan mencegah batuk. Dikerjakan bila nafas spontannya adekuat, keadaan umumnya baik serta tidak ada resiko aspirasi pulmonal dan tidak memerlukan intubasi awake atau rapid sequence induction.

(12)

POST OPERASI

Penatalaksanaan Pascaanestesi di recovery room.

Ruang pemulihan atau Recovery room(RR) disebut juga unit perawatan pascaanestesi atau postanesthesia caru unit ( PACU ). Setelah operasi selesai pasien dibawa ke ruang pemuluhan atau ke ruang rawat intensif bila ada indikasi. Di ruang pemulihan dilakukan pemantauan atau monitor sampai pasien sadar betul. Yang harus di monitor antara lain, keadaan umum, kesadaran, tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu, sensibilitas nyeri, perdarahan dari drain, dll.9

Awasi keadaan vital penderita secara saksama, periksa tekanan darah, frekuensi nadi dan frekuensi pernapsan dilakukan paling tidak setiap 5 menit dalam 15 menit pertama atau hingga stabil, setelah itu dilakukan setiap 15 menit. Perbaiki defisit yang masih ada (cairan, darah, nyeri, mual–muntah,menggigil karena hipotermia,dll). Seluruh pasien yang sedang dalam pemulihan dari anestesi umum harus mendapat oksigen 30-40% selama pemulihan.

Bila keadaan umum dan tanda vital pasien normal dan stabil, maka pasien dapat dipindahkan ke ruangan dengan pemberian intruksi postoperatif menilai keadaan umum sebelum pasien dipindahkan ke ruang perawatan, dapat dipakai aldrete score untuk orang dewasa dan steward Score untuk anak dengan berbagai kriteria penilaian. Nilai score yang normal 8 -10, pasien dapat di pindahkan ke ruang perawatan ataupun pulang bila pasien rawat jalan, tetapi atas ijin dokter anestesi yang bertugas MANAJEMEN KEPERAWATAN

a. Pre operasi :

Pengkajian : ditujukan pada nyeri, ada tonjolan pembengkakan daerah inguinal, cemas, tingkat pengetahuan pasien tentang hernia dan penanganannya. Pengkajian juga ditujukan pada riwayat.

Diagnosa keperawatan : masalah keperawatan yang bisa muncul adalah gangguan kenyamanan, kecemasan, kurang pengetahuan dan resiko tinggi terjadi infeksi.

Intervensi keperawatan (secara umum)

1) beri posisi kepala tempat tidur ditinggikan,

2) bila hernia turun/menonjol dimasukan kembali secara manual, 3) anjurkan menggunakan sabuk hernia,

4) beri analgesik sesuai advise,

5) hindari manuever yang bisa meningkatkan tekanan intra abdominal : batuk kronik, angkat berat, mengedan secara kuat dan

6) anjurkan untuk kompres dingin pada daerah yang bengkak.

Gangguan rasa Nyaman: Nyeri berhubungan dengan adanya benjolan hernia dengan keluhan sakit pada benjolan hernia, perilaku hati-hati pada saat berdiri, penurunan toleransi terhadap aktifitas, wajah menahan nyeri, perubahan pola tidur.

(13)

Kriteria hasil : Tidak merasa sakit, postur tubuh rileks, tidak mengeluh, mampu tidur atau istirahat dengan tepat.

Intervensi :

a. Kaji dan catat karakteristik nyeri, gunakan skala nyeri dengan pasien, rentangkan ketidaknyamanan dari 0-10, selidiki dan laporkan nyeri dengan tepat.

Rasional : Berguna dalam pengawasan keefektifan obat, kemajuan penyembuhan. Perubahan pada karakteristik nyeri menunjukkan terjadinya abses atau peritonitis. Memerlukan upaya evaluasi medik dan intervensi.

b. Demonstrasikan penggunaan ketrampilan relaksasi seperti napas dalam.

Rasional : Dengan memfokuskan kepada perhatian tertentu, menurunkan ketegangan otot, meningkatkan rasa memiliki dan kontrol atau menurunkan rasa kurang nyaman. d. Pertahankan istirahat dengan posisi semifowler.

Rasional : Gravitasi melokalisasi eksudat inflamasi dalam abdomen bawah atau pelvis, menghilangkan ketegangan abdomen yang bertambah dengan terlentang.

e. Dorong ambulasi dini.

Rasional : Meningkatkan normalisasi fungsi organ. f. Beri analgetik sesuai indikasi.

Rasional : Menghilangkan nyeri mempermudah kerjasama dengan intervensi lain ( Doengoes, 2000:511).

intra operasi

2. Resiko infeksi berhubungan dengan peningkatan kerentanan terhadap luka, peningkatan kerentanan tubuh terhadap bakteri sekunder pembedahan (Doengoes, 2000: 502).

Tujuan : Tidak terjadi infeksi, mengungkapkan pemahaman tentang situasi atau faktor resiko dan aturan pengobatan individual.

Kriteria hasil : Tidak ada tanda-tanda infeksi, klien akan menunjukkan penyembuhan dengan bukti tepi luka utuh, menyatu atau jaringan granulasi.

Intervensi :

a. Pantau terhadap tanda dan gejala infeksi luka. Peningkatan pembengkakan dan kemerahan, pemisahan luka, peningkatan atau drainase, purulen, peningkatan suhu tubuh

Rasional : Respon jaringan terhadap infiltrasi patogen dengan peningkatan darah dan aliran limfe dimanifestasikan dengan edema, kemerahan dan peningkatan drainase penurunan epitelisasi ditandai dengan pemisahan luka, patogen yang bersikulasi merangsang hipotalamus untuk menaikan suhu tubuh.

(14)

Rasional : Luka bedah dengan tepi disatukan oleh jahitan biasanya sembuh dengan proses primer jaringan granulasi tak tampak dan jaringan pembentukan parut minimal. c. Lakukan langkah untuk mencegah infeksi: cuci tangan sebelum dan sesudah mengganti balutan, gunakan sarung tangan sampai luka tetutup

Rasional : Tindakan ini membantu mencegah masuknya mikro organisme kedalam luka d. Ganti balutan atau perban sesuai aturan dengan menggunakan teknik aseptik.

Rasional : Perban atau balutan yang lembab merupakan media kultur untuk pertumbuhan bakteri, dengan mengikuti teknik aseptik akan mengurangi resiko kontaminasi bakteri. e. Beritahu dokter jika luka tampak merah dan bernanah, pemisahan ujung luka, luka sangat lembek, jumlah leuklosit diatas normal, ambil contoh luka untuk tes kultur dan sensitifitas.

Rasional : Keadaan tersebut mengidentifikasi infeksi luka kultur mambantu mengidentifikasi milkroorganisme yang menyebabkan infeksi sehingga ditentukan terapi antibiotik yang tepat. Laboratorium tentang sensitifitas akan mengidentifikasi antibiotik yang efektif melawan organisme tersebut.

f. Berikan antipiretik jika terdapat demam

Rasional : Antipiterik memperbaiki mekanisme termostatik dalam otak untuk mengatasi demam.

g. Beri perawatan perineal dua kali sehari sesuai prosedur ketika kateter foley mulai dipasang, setelah kateter di lepas laporkan masalah berkemih (terbakar, sakit, keluar sedikit dorongan, sering dengan jumlah yang sedikit).

Rasional : Membersihakan bagian genital membantu mengurangi jumlah bakteri yang lewat. Kerusakan saluran kencing dan infeksi adalah masalah utama yang berhubungan dengan kateter menetap dalam kandung kemih.

b. Post operasi

Dihubungkan dengan pembedahan umum lainnya seperti masalah resiko tinggi infeksi, masalah gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan lukaoperasi, dan pendidikan pasien untuk perencanaan pulang.

Hernia inguinalis lateralis reponibilis dilakuakn tindakan bedah elektif karena di takutkan akan terjadi komlikasi yaitu Herniatomy dan Herniagrafi.

Bedah elektif adalah kanalis di buka, isi hernia di masukkan kantong di ikat dan di lakukan bassiny plasty untuk memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis.

Hernia inkarserata dan strangulasi dilakukan bedah darurat yaitu cincin hernia di cari dan di potong usus dilihat apakah vital atau tidak bila vital dikembalikan ke rongga perut dan bila tidak di lakukan reseksi usus dan Anastomisis.

Gangguan mobilitas fisik b/d nyeri Tujuan : pasien mampu mobilisasi

Kriteria Hasil : -pasien mampu melakukan pergerakan secara bertahap -pasien bisa beraktifitas mandiri

(15)

Beri motivasi & latihan pada pasien untuk beraktifitas R/ : meningkatkan perasaan untuk beraktivitas Ajarkan teknik mobilisasi di tmpat tidur

R/ : melatih menggerakan anggota tubuh

Anjurkan keluarga untuk memotivasi dan membantu melatih mobilisasi pasien R/ : keluarga punya peran penting membantu pasien

Tingkatkan aktifitas secara bertahap R/ : meningkatkan mobilitas pasien

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :