• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN/INFLASI DI KOTA DUMAI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN/INFLASI DI KOTA DUMAI"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Bulan Maret 2014, Kota Dumai mengalami inflasi sebesar 0,24 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Dumai sebesar 111,27.

Dari 23 kota di Sumatera yang menghitung IHK, Tujuh kota mengalami inflasi dengan inflasi tertinggi terjadi di Pematang Siantar sebesar 0,59 persen; Dumai sebesar 0,24 persen; Jambi sebesar 0,22 persen; Pekanbaru dan Tanjung Pinang sebesar 0,15 persen; Batam sebesar 0,10 persen dan terendah Bengkulu sebesar 0,04 persen. Dan 16 (enam belas) kota mengalami deflasi dengan deflasi tertinggi terjadi di Pangkal Pinang sebesar 1,76 persen dan deflsi terendah di Padang Sidempuan sebesar 0,05 persen. Dari sepuluh ibukota Provinsi di Sumatera, inflasi tertinggi di Jambi sebesar 0,22 persen; Pekanbaru dan Tanjung Pinang 0,15 persen dan terendah di Pangkal Pinang sebesar -1,76 persen (deflasi).

Inflasi di Dumai terjadi karena adanya peningkatan indeks harga pada beberapa kelompok pengeluaran, dengan inflasi tertinggi pada kelompok sandang sebesar 1,34 persen; makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,48 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,35 persen, kelompok kesehatan 0,32 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,17 persen serta kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan 0,12 persenInflasi tahun kalender (Maret 2014 terhadap Desember 2013) sebesar 0,97 persen dan laju inflasi

“year on year” (Maret 2014 terhadap Maret 2013) sebesar 7,26 persen.

No. 04/69/14.73/Th.VII, 1 April 2014

PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN/INFLASI DI KOTA DUMAI

Jelang pemilihan umum legislatif pada 9 April 2014 nanti semua pelaku ekonomi menanti pengaruh apa yang bakal muncul dengan adanya pesta demokrasi pada bulan April 2014 ini. Namun yang pasti ada penantian, apakah akan berbuah seperti yang mereka harapkan atau sebaliknya. Bila berbuah manis, dipastikan bahwa perekonomian nasional kita akan berjalan baik atau bahkan lebih kencang dari saat sekarang ini. Salah satu barometer yang digunakan untuk melihat atau memantau situasi ekonomi makro kita itu adalah inflasi, selain angka pertumbuhan ekonomi, pengangguran, dan perkembangan indeks harga saham di bursa Jakarta.

Pihak penguasa moneter mensinyalir akan ada peningkatan jumlah uang beredar pada peristiwa pesta demokrasi ini, selain itu juga akan banyak ditemukan beredarnya uang palsu ditengah masyarakat. Terkait dengan bertambah meningkatnya jumlah uang beredar tentunya akan sangat berpengaruh pula pada angka inflasi. Sesuai dengan hukum ekonomi, jika suplai uang beredar di tengah masyarakat meningkat maka akan berpengaruh pula kepada kenaikan harga di masyarakat yang selanjutnya akan meningkatkan pula angka inflasi.

(2)

Kekhawatiran yang ujud di masyarakat kini terjawab sudah, walaupun akan ada pesta demokrasi ternyata tidak berpengaruh besar pada perkembangan angka inflasi. Dapat kita lihat pada bulan Maret ini tren peningkatan harga yang direfleksikan dengan inflasi lebih rendah dari bulan sebelumnya, namun sdikit lebih tinggi dibanding dengan bulan yang sama tahun sebelumnya.

INFLASI DIKOTA DUMAI

Berdasarkan hasil pemantauan BPS Kota Dumai pada Maret 2014 terjadi inflasi sebesar 0,24 persen, atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 110,00 pada Februari 2014 menjadi 111,27 pada Maret 2014. Inflasi Tahun Kalender Maret 2014 terhadap Desember 2013 adalah sebesar 0,97 persen dan tingkat inflasi “year on year” (Maret 2014 terhadap Maret 2013) sebesar 7,26 persen.

Inflasi di Dumai terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks pada sebagian besar kelompok pengeluaran, yaitu: kelompok sandang 1,34 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,48 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,35 persen;kelompok kesehatan 0,32 persen; kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga 0,17 persen; dan kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan 0,12 persen.

Tabel 1.

Inflasi Kota Dumai Bulan Maret 2014, Tahun Kalender dan Year on Year 2014 menurut Kelompok Pengeluaran (2012=100)

IHK IHK IHK Inflasi Laju Inflasi Inflasi Maret

2013 Desember2013 Maret2014 Maret 20141) Tahun Kalender2014 2) Tahun keTahun3)

(%) (%) (%)

[2] [3] [4] [5] [6] [7]

U m u m 103,74 110,20 111,27 0,24 0,97 7,26

1 Bahan Makanan 107,31 115,72 115,6 -0,23 -0,10 7,73

2 Makanan Jadi, minuman, Rokok dan

Tembakau 103,2 109,21

110,7 0,48 1,36 7,27

3 Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan

bakar 103,17 106,60

108,56 0,35 1,84 5,22

4 Sandang 102,35 107,25 109,5 1,34 2,10 6,99

5 Kesehatan 104,75 107,49 109,67 0,32 2,03 4,70

6 Pendidikan, Rekreasi dan Olah raga 102,16 106,13 106,92 0,17 0,74 4,66

7 Transpor dan Komunikasi dan Jasa

Keuangan 100,82 111,15 111,75 0,12 0,54 10,84

Kelompok Pengeluaran [1]

Di Kota Dumai pada Maret 2014 terjadi perubahan harga pada 111 komoditas kebutuhan masyarakat, diantaranya yang mengalami inflasi adalah: Air kemasan, Gembung/Gembolo/Aso-Aso, Serai, Sandal kulit, Celana panjang jeans, Kangkung, Minyak Goreng, Sewa Rumah dan sebagainya. Sedangkan komoditas yang mengalami deflasi antara lain: Cabai merah, Bawang Merah, Udang basah, Telur ayam ras, Tomat buah, Telepon seluler dan sebagainya.

1) Kolom (5) Persentase perubahan IHK bulan Maret 2014 terhadap IHK bulan Februari 2014 2) Kolom (6) Persentase perubahan IHK bulan Maret 2014 terhadap IHK bulan Desember 2013 3) Kolom (7) Persentase perubahan IHK bulan Maret 2014 terhadap IHK bulan Maret 2013

(3)

Tabel 2.

Andil Inflasi menurut Kelompok Pengeluaran di Kota Dumai Maret 2014 (%)

Kelompok Pengeluaran Andil Inflasi(%)

[1] [2]

Umum 0,24

1.

Bahan Makanan - 0.06

2.

Makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0.09

3.

Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar 0.07

4.

Sandang 0.09

5.

Kesehatan 0.01

6.

Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga 0.01

7.

Transpor, komunikasi dan Jasa Keuangan 0.02

Kelompok komoditas yang memberikan andil/sumbangan inflasi terbesar pada Maret2014 di Kota Dumai yaitu kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau dan kelompok sandang masing-masing sebesar 0,09 persen kemudian diikuti oleh kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,07 persen. Sedang kelompok bahan makanan justru mengalami deflasi sebesar 0,06 persen.

PERKEMBANGAN INFLASI KOTA DUMAI

Gambar 1.

Perkembangan Inflasi Bulanan Kota Dumai, 2012-2014

Selama tiga bulan Januari-Maret pada tiga tahun 2012 s.d. 2014 kita dapat melihat dengan jelas tren perkembangan inflasi yang sedikit bervariasi. Selama dua bulan terlihat menukik ke bawah (menurun) kemudian dilanjutkan terus menurun pada bulan Maret pada tahun 2013 dan 2014, sedang tahun 2012 menaik. Kekhawatiran pada bulan Maret 2014 dengan adanya peristiwa ”pesta demokrasi” pada 9 April terjawab sudah. Ternyata pesta

-1 -0.5 0 0.5 1 1.5 2 2.5

Jan Feb Mar Apr Mei Juni Juli Agust Sept Okt Nov Des

IN

FL

A

SI

(4)

Gambar 2.

Perkembangan Inflasi Year On Year Kota Dumai 2012-2014

URAIAN INFLASI KOTA DUMAI MENURUT KELOMPOK PENGELUARAN

1. Bahan Makanan

Pada bulan Maret 2014, kelompok Bahan Makanan mengalami deflasi sebesar 0,23 persen atau terjadi penurunan indeks harga dari 115,87 pada Februai 2014 menjadi115,60pada Maret 2014 .Inflasi tahun kalender (Maret 2014 terhadap Desember 2013) sebesar -0.10 persen dan laju Inflasi Year on Year(Maret 2013-Maret 2014) sebesar 7,73 persen.

Dari sebelas sub kelompok dalam kelompok bahan makanan, 5 sub kelompok mengalami inflasi, dengan inflasi tertinggi terjadi pada sub kelompok sayur-sayuran sebesar 2,76 persen, diikuti sub kelompok ikan segar sebesar 2,72 persen, dan sub kelompok lemak dan minyak sebesar 1,74 persen. Sub kelompok yang mengalami deflasi adalah sub kelompok bumbu-bumbuan sebesar 9,11 persen; sub kelompok buah-buahansebesar 0,87 persen; sub kelompok daging dan hasil-hasilnya sebesar 0,44 persen.

Sumbangan kelompok bahan makanan terhadap total inflasi Kota Dumai pada Maret 2014 sebesar -0,06 persen (deflasi). Komoditas yang memberikan sumbangan inflasi antara lain beras dengan andil sebesar 0.07 persen; mi kering instan dengan andil sebesar 0,07 persen; ayam hidup dan daging ayam ras masing-masing sebesar 0,03 persen, bawal, cumi-cumi, gabus, gembung/gambolo, kerang, lele dan ikan mas masing-masing sebesar 0,02 persen. Komoditas yang dominan memberikan sumbangan deflasi antara lain: santan jadi sebesar 0,15 persen, minyak goreng sebesar 0,09 persen, margarine sebesar 0,8 persen, kelapa 0,04 persen, cabai rawit sebesar 0,03 persen, cabai merah, kecap (isi), bawang putih masing-masing sebesar 0,02 persen.

(5)

2. Makanan Jadi, Minuman, Rokok & Tembakau

Kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau pada Maret 2014 mengalami inflasi sebesar 0,48 persen atau terjadi peningkatan indeks dari 110,17 pada Februari 2014 menajdi 110,70 pada Maret 2014. Inflasi tahun kalender (Maret 2014 terhadap Desember 2013) sebesar 1,36 persen dan laju inflasi Year on Year (Maret 2013- Maret2014) sebesar 7,27 persen.

Dalam kelompok ini, sub kelompok Minuman yang tidak beralkohol mengalami inflasi sebesar 2,53 persen, tembakau dan minuman beralkohol sebesar 0,05 persen dan makanan jadi sebesar 0,02 persen.

Pada Maret 2014 kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau menyumbang inflasi sebesar 0,09 persen. Komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi antara lain : biskuit dan selai masing-masing 0,08 persen dan 0,01 persen sedang komoditas lainnya memberikan andil kurang dari 0,01 persen.

3. Perumahan, Air, Listrik, Gas & Bahan bakar

Kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar pada bulan Maret 2014 mengalami inflasi sebesar 0,35 persen atau terjadi peningkatan indeks harga dari 108,18 pada Februari 2014 menjadi 108,56 pada Maret 2014. Inflasi tahun kalender (Maret 2014 terhadap Desember 2013) sebesar 1,84 persen dan laju inflasi Year on

Year (Maret 2013-Maret 2014) sebesar 5,22 persen.

Dari empat sub kelompok dalam kelompok ini, sub kelompok yang mengalami inflasi yaitu: sub kelompok perlengkapan rumah tangga mengalami inflasi sebesar 2,55 persen, sub kelompok penyelenggaraan rumah tangga sebesar 0,24 persen dan sub kelompok biaya tempat tinggal sebesar 0,16 persen, sedangkan sub kelompok bahan bakar penerangan dan air mengalami delasi sebesar 0,02 persen.

Pada Maret 2014, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar memberikan sumbangan inflasi sebesar 0,07 persen dengan komoditas penyumbang inflasi terbesar antara lain: batu bata sebesar 0,03 persen, besi beton sebesar 0,02 persen dan kayu lapis sebesar 0,01 persen, sedangkan beberapa komoditas lainnya memberikan andil kurang dari 0,01 persen.

4. Sandang

Kelompok Sandang pada Maret 2014 mengalami inflasi sebesar 1,34 persen, atau terjadi peningkatan indeks harga dari108,05 pada Februari 2014 menjadi 109,50 pada Maret 2014.Inflasi tahun kalender (Maret 2014 terhadap Desember 2013) sebesar 2,10 persen dan laju inflasi Year on Year (Maret 2013-Maret 2014) sebesar 6,99 persen.

Dari empat sub kelompok dalam kelompok ini, satu sub kelompok mengalami inflasi, yaitu: sub kelompok sandang laki-laki mengalami inflasi sebesar 2,87 persen, saub kelompok sandang wanita sebesar 2,22 persen dan sub kelompok barang pribadi dan sandang lainnya sebesar 0, 38 persen, sedangkan sub kelompok sandang anak-anak mengalami deflasi sebesar 0,33 persen.

Pada Maret 2014 kelompok sandang memberikan sumbangan inflasi sebesar 0,09 persen, dengan komoditas penyumbang inflasi adalah celan panjang jeans sebesar 0,04 persen, sandal kulit pria sebesar 0,03 persen, mukena 0,02 persen, sandal kulit wanita sebesar 0,01 persen sedangkan emas perhiasanmengalami deflasi sebesar 0,01 persen.

(6)

5. Kesehatan

Kelompok Kesehatan pada Maret 2014 mengalami inflasi sebesar 0,32 persen atau terjadi peningkatan indeks harga dari109,32 pada Februari 2014 menjadi 109,67 pada Maret 2014. Inflasi tahun kalender (Maret 2014 terhadap Desember 2013) sebesar 2,03 persen dan laju inflasi Year on Year (Maret 2013- Maret2014) sebesar 4,70 persen.

Dari empat sub kelompok dalam kelompok ini, dua sub kelompok mengalami inflasi yaitu: sub kelompok perawatan jasmani dan kosmetik sebesar 0,62 persen dan sub kelompok obat-obatan sebesar 0,10 persen, sedangkansub kelompok jasa kesehatan dan sub kelompok jasa perawatan jasmani relatif stabil.

Pada Maret 2014 kelompok kesehatan memberikan sumbangan inflasi sebesar 0,01persen. Hampir semua komoditas menyumbang di bawah 0,01 persen.

6. Pendidikan, Rekreasi, dan Olahraga

Kelompok Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga pada bulan Maret2014 mengalami inflasi sebesar 0,17persen atau terjadi peningkatan indeks dari 106,74 pada Februari 2014 menjadi 106,92 pada Maret 2014.Inflasi tahun kalender (Maret 2014 terhadap Desember 2013) sebesar 0,74 persen dan laju inflasi Year on Year (Maret 2013-Maret 2014) sebesar 4,66 persen.

Dari lima sub kelompok dalam kelompok ini, sub kelompok perlengkapan/peralatan pendidikan dan sub kelompok rekreasi mengalami inlasi masing-masing sebesar 0,83 persen dan 0,06 persen sedangkan sub kelompok pendidikan, sub kelompok kursus-kursus /pelatihan dan sub kelompok olah raga relatif stabil.

Pada Maret 2014, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga memberikan sumbangan inflasi 0,01 persen dengan komoditas penyumbang utama inflasi adalah personal komputer/dekstop sebesar 0,01 persen.

7. Transpor, Komunikasi, dan Jasa Keuangan

Kelompok Transpor, Komunikasi dan Jasa Keuangan pada bulan Maret 2014 mengalami inflasi sebesar 0,12 persen atau terjadi peningkatan indeks dari 111,62 pada Februari 2014 menjadi 111,75 pada Maret 2014. Inflasi tahun kalender (Maret 2014 terhadap Desember 2013) sebesar 0,54 persen dan laju inflasi Year on Year (Maret 2013-Maret 2014) sebesar 10,84 persen.

Dari empat sub kelompok dalam kelompok ini, dua sub kelompok yang mengalami inflasi yaitu Sarana dan penunjang transport sebesar 0,47 persen dan sub kelompok transport sebesar 0,35 persen, sedangkan sub kelompok komunikasi dan pengiriman mengalami deflasi sebesar 0,54 persen.

Pada Maret 2014 kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan memberikan sumbangan inflasi sebesar 0,02 persen, dengan komoditas penyumbang utama inflasi adalah bahan pelumas/oli sebesar 0,02 persen, sepeda dan sepeda motor masing-masing sebesar 0,01 persen sedangkan komoditas lainnya memberikan andil kurang dari 0,01 persen.

(7)

INFLASI DI PULAU SUMATERA

Di Pulau Sumatera terdapat 23 kota yang melakukan penghitungan Indeks Harga Konsumen dengan tahun dasar 2012 = 100. Dari 23 kota tersebut, 5 kota IHK tersebut mengalami inflasi pada Maret 2014, dengan inflasi tertinggi terjadi di Pematang Siantar sebesar 0,59 persen; diikuti Dumai sebesar 0,24 persen;Jambi sebesar 0,22 persen, dan beberapa kota IHK tersebu mengalami deflasi dengan deflasi tertinggi di Pangkal Pinang sebesar 1,76 persen. Berdasarkan urutan inflasi kota-kota di Provinsi Riau berada pada urutan 2 untuk Dumai, urutan ke 4 untuk Kota Pekanbaru, Tembilahan urutan ke 9 .

Dari 10 ibukota provinsi di Pulau Sumatera, inflasi tertinggi terjadi di Jambi sebesar 0,22 persen; Pekanbaru dan Tanjung Pinang masing-masing sebesar 0,15 persen;Bengkulu sebesar 0,04 persen dan yang terendah di Pangkal Pinang -1,76 persen (deflasi).

Tabel 3.

Perbandingan IHK dan Inflasi Maret 2014 Kota-Kota di Pulau Sumatera

Kota MaretIHK

2014 % perub thd Feb 2014 [1] [3] [4] PEMATANG SIANTAR 114,07 0,59 D U M A I 111,27 0,24 JAMBI 111,51 0,22 PEKANBARU 111,13 0,15 TANJUNG PINANG 113,56 0,15 B A T A M 109,82 0,10 BENGKULU 113,29 0,04 PADANGSIDIMPUAN 110,45 -0,05 TEMBILAHAN 116,05 -0,09 LUBUKLINGGAU 107,39 -0,13 BANDAR LAMPUNG 109,94 -0,15 BUKITTINGGI 109,82 -0,20 PALEMBANG 108,59 -0,20 MEDAN 111,57 -0,34 BUNGO 110,62 -0,35 PADANG 113,58 -0,39 BANDA ACEH 107,42 -0,52 SIBOLGA 110,37 -0,57 MEULABOH 112,12 -0,73 LHOKSEUMAWE 107,20 -0,77 METRO 121,33 -1,02 TANJUNG PANDAN 115,43 -1,03 PANGKAL PINANG 110,52 -1,76

(8)

Tabel 4.

Indeks Harga Konsumen Kota Dumai dan Perubahannya, Maret 2014 (Tahun 2012 = 100,00)

Kelompok/Sub kelompok Pengeluaran IHK

Maret 2014 % Perub. Maret 2014 thd Feb 2014 (Inflasi Bulanan) % Perub. Maret 2014 thd Des 2013 (Inflasi Tahun Kalender) % Perub. Maret 2014 thd Maret 2013 (Inflasi Yearon Year) ( 1 ) ( 2 ) ( 3 ) ( 4 ) ( 5 ) UMUM 111,27 0.24 0,97 7,26 1. BAHAN MAKANAN 115,60 -0,23 -0,10 7,73

a. Padi-padian, Umbi-umbian, & Hasil-hasilnya 107,46 0,44 1,71 3,27

b. Daging dan Hasil-hasilnya 123,14 -0,44 0,55 15,26

c. Ikan Segar 114,99 2,72 6,96 11,95

d. Ikan Diawetkan 115,13 -0,35 0,67 7,78

e. Telur, Susu dan Hasil-hasilnya 109,39 -0,11 1,49 6,48

f. Sayur-sayuran 133,49 2,76 6,40 28,74

g. Kacang-kacangan 112,90 -0,09 0,52 8,17

h. Buah-buahan 130,68 -0,87 0,58 5,58

i. Bumbu-bumbuan 117,16 -9,11 -20,93 -6,65

j. Lemak dan Minyak 102,40 1,74 2,46 2,18

k. Bahan Makanan Lainnya 102,46 0,00 -1,08 0,32

2. MAKANAN JADI, MINUMAN, ROKOK DAN TEMBAKAU 110,70 0,48 1,36 7,27

a. Makanan Jadi 110,65 0,02 1,49 8,77

b. Minuman yang Tidak Beralkohol 110,64 2,53 2,94 6,44

c. Tembakau dan Minuman Beralkohol 110,86 0,05 0,05 4,84

3. PERUMAHAN, AIR, LISTRIK, GAS & BAHAN BAKAR 108,56 0,35 1,84 5,22

a. Biaya Tempat Tinggal 104,93 0,16 0,43 1,79

b. Bahan Bakar, Penerangan, dan Air 116,12 -0,02 3,57 11,82

c. Perlengkapan Rumah Tangga 110,34 2,55 3,70 8,43

d. Penyelenggaraan Rumah Tangga 107,53 0,24 2,69 4,12

4. SANDANG 109,50 1,34 2,10 6,99

a. Sandang Laki-laki 110,14 2,87 2,87 7,59

b. Sandang Wanita 113,99 2,22 3,35 10,70

c. Sandang Anak-anak 110,36 -0,33 -0,33 6,96

d. Barang Pribadi dan Sandang Lainnya 102,95 0,38 2,55 2,17

5. KESEHATAN 109,67 0,32 2,03 4,70

a. Jasa Kesehatan 111,72 0,00 2,58 6,17

b. Obat-obatan 107,78 0,10 3,37 5,17

c. Jasa Perawatan Jasmani 106,80 0,00 0,00 0,00

d. Perawatan Jasmani dan Kosmetika 109,90 0,62 1,58 4,58

6. PENDIDIKAN, REKREASI DAN OLAHRAGA 106,92 0,17 0,74 4,66

a. Jasa Pendidikan 111,75 0,00 0,64 6,94

b. Kursus-kursus/Pelatihan 101,15 0,00 0,00 0,00

c. Perlengkapan/Peralatan Pendidikan 105,72 0,83 2,37 6,52

d. Rekreasi 101,87 0,06 0,06 1,08

e. Olahraga 100,46 0,00 0,00 0,00

7. TRANSPOR, KOMUNIKASI & JASA KEUANGAN 111,75 0,12 0,54 10,84

a. Transpor 119,84 0,35 0,89 17,80

b. Komunikasi & Pengiriman 99,23 -0,54 -0,53 0,13

c. Sarana dan Penunjang Transpor 103,87 0,47 1,30 3,21

(9)

Untuk keterangan lebih lanjut dapat menghubungi

BPS KOTA DUMAI

KHAIRUNAS, SE

Kepala BPS Kota Dumai

Jl. Tuanku Tambusai Bagan Besar Dumai.

Hp. 0852 7118 1113, Email: [email protected]

Referensi

Dokumen terkait

Ahmad Nasir Mohd Yusoff (Senior Lecturer) Usuluddin, History and Islamic Civilisation, Da’wah, B.A.Usuluddin (Hons)(UM), M.A.(UM), Ph.D.(UKM) Religion andSociology, Culture

Gillin dan Gillin (1982: 263) menjelaskan lebih lanjut mengenai perubah-an sosial yang dikutip oleh Soerjono Soekanto dalam bukunya Sosiologi Suatu Pengantar

pembakaran pun dipraktekkan. Inilah dosa terakhir dari sebuah model pengelolaan yang salah kaprah; dan pembakaran lahan juga merupakan salah satu yang digunakan oleh

Program termasuk sistem investigasi outbreak dari penyakit infeksi (lihat juga Sasaran Keselamatan Pasien 5, EP 1). Program diarahkan oleh peraturan dan prosedur yang berlaku

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana framing pemberitaan yang dilakukan oleh media online Detik.com dan Vivanews.com menyampaikan peristiwa di Kebun

Menurut Hanafiyah, jilid sebagai sebagai ta’zi>r harus harus dicambukan lebih keras dari jilid dalam had agar dengan ta’zi>r orang yang terhukum akan menjadi jera,

Istilah management berasal dari kata “to manage” yang berarti mengatur, melaksanakan, mengelola, mengendalikan, dan memperlakukan. Namun kata manajemen sendiri

Diharapkan dapat menerapkan asuhan kebidanan komprehensif yang bisa dilakukan dari trimester pertama agar lebih baik lgidan menambah wawasan, meningkatkan pemahaman, dan