• Tidak ada hasil yang ditemukan

Daftar Isi. Bab.1. Pendahuluan Halaman Umum.. Halaman Identitas Pemrakarsa. Halaman -3

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Daftar Isi. Bab.1. Pendahuluan Halaman Umum.. Halaman Identitas Pemrakarsa. Halaman -3"

Copied!
80
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)

iii

Daftar Isi

Kata Pengantar……… Halaman - i Daftar Isi ………. Halaman –ii Daftar Tabel………. Halaman –iii Daftar Gambar……… Halaman – iv

Bab.1. Pendahuluan ……… Halaman -1

1.1. Umum ……….. Halaman -1 1.2. Identitas Pemrakarsa………. Halaman -3 1.3. Lokasi Usaha Dan/Atau Kegiatan……… Halaman -4 1.4. Deskripsi Kegiatan………. Halaman - 6 1.5. Kegiatan Pendukung………. Halaman-11 1.6. Jenis Kegiatan Lain ………. Halaman -13 1.7. Peralatan Yang Digunakan……….. Halaman -14 1.8. Penggunaan Bahan Bakar……… Halaman - 15 1.9. Pengelolaan Sanitasi……… Halaman -16 1.10. Perkembangan Lingkungan Sekitar……… Halaman -16 1.11. Lokasi Quarry………. Halaman -17

Bab.2. Pelaksanaan Dan Evaluasi……….. Halaman -19

2.1. Pelaksanaan……… Halaman - 21 1. RKL……… Halaman - 21 2. RPL……… Halaman - 30 2.2. Evaluasi………. Halaman - 37

Bab.3. Kesimpulan………. Halaman – 39

3..1. Umum……… Halaman - 39 3.2. Tanda Tangan Dan Cap Pemrakarsa………. Halaman - 40

(5)

iv

Daftar Tabel

Tabel. 1. Luas Base Camp Dan AMP………. Halaman - 5 Tabel. 2. Item Pekerjaan Yang Dilaksanakan……… Halaman -12 Tabel.3. Ruas-Ruas Jalan Direhabilitasi dan Rekonstruksi ……… Halaman -14 Tabel.4. STA Ruas-Ruas Jalan ……… Halaman -14 Tabel.5. Daftar Peralatan Kerja……… Halaman -15 Tabel.6. Lokasi Quarry Di Wilayah Studi……… Halaman -17 Tabel.7. Pelaksanaan RKL……… Halaman -21 Tabel.8. Pelaksanaan RPL……… Halaman -30

(6)

v

Daftar Gambar

Gambar. 1. Lokasi Ruas Jalan Tompe-Kota Palu-Surumana……… Halaman - 3 Gambar. 2. Struktur Organisasi Satuan Kerja……… Halaman - 4 Gambar. 3. Gambar Bagian-Bagian Jalan……… Halaman - 8 Gambar. 4. Ruas Jalan Nasional Provinsi……… Halaman - 9 Gambar. 5. Street Map Penanganan Jalan ……… Halaman -10 Gambar. 6. Titik Sampling Dan Lokasi Pengelolaan Dan Pemantauan…… Halaman - 36

(7)

vi

Daftar Lampiran

1. Lampiran 1: Orientasi Lokasi 2. Lampiran 2: Street Map

3. Lampiran 3: Site Plan Base Camp dan AMP

4. Lampiran 4: Hasil pemeriksaan Udara, kebisingan dan debu 5. Lampiran 5: Lokasi Titik Sampling Dan RKL & RPL

6. Lampiran 6: Surat Dinas Lingkungan Hidup terkait Arahan Izin Lingkungan, 10 November 2020

7. Lampiran 7: Rekomendasi Dokumen Evaluasi Lingkungan Hidup, 17 Desember 2015

(8)

Dokumen Pelaksanaan RKL & RPL Rekonstruksi & Rehabilitasi Jalan Tompe – Kota Palu - Surumana Page 1

BAB.I

PENDAHULUAN

1.1. Umum

Ruas Jalan Nasional di Provinsi Sulawesi Tengah dari Tonggolobibi, Kota Palu sampai dengan Surumana dengan total panjang jalan 273,17 km yang mencakup antara lain Ruas Jalan Tompe - Dalam Kota Palu - Surumana telah memiliki dokumen lingkungan DELH (Dokumen Evaluasi Lingkungan Hidup) yang menguraikan kegiatan antara lain kegiatan rekonstruksi jalan pada ruas/bagian jalan dengan kondisi rusak berat, dan kegiatan rehabilitasi jalan; dan telah mendapatkan Rekomendasi dari Gubernur Sulawesi Tengah tertanggal 17 Desember 2015 dengan Nomor: 660/773/BLHD-G.ST/2015, dan Izin Lingkungan dari Gubernur Sulawesi Tengah tertanggal 17 Desember 2015 dengan Nomor: 660/774/BLHD-G.ST/2015.

Di Provinsi Sulawesi Tengah khususnya di Kota Palu dan Kabupaten Donggala telah terjadi bencana alam tsunami dan liquifaksi pada tanggal 28 September 2018. Bencana alam tersebut telah mengakibatkan terjadinya kerusakan berbagai infrastruktur wilayah, sarana dan prasarana umum dan permukiman penduduk di wilayah tersebut, termasuk infrastruktur jalan nasional yang berada pada ruas jalan Tompe – Dalam Kota Palu – Surumana, serta menimbulkan perubahan kondisi lingkungan pada dan sekitar ruas jalan tersebut dibandingkan dengan kondisi lingkungan pra bencana alam.

Saat ini, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat - Direktorat Jenderal Bina Marga - Balai Pelaksanaan Jalan Nasional Provinsi Sulawesi Tengah (sebelumnya BPJN XIV Palu) tengah melaksanakan kegiatan rekonstruksi dan rehabilitasi pada ruas jalan Tompe – Dalam Kota Palu – Surumana sepanjang 55,11 Km dan pemeliharaan rutin jembatan dengan total panjang 634,4 m. Sementara itu, sesuai poin kedelapan dalam Izin Lingkungan dari Gubernur Sulawesi Tengah tersebut diatas dinyatakan bahwa penanggung jawab kegiatan wajib mengajukan permohonan perubahan izin lingkungan apabila terjadi perubahan atas rencana usaha dan/atau kegiatannya dan/atau oleh sebab lain sesuai kriteria perubahan yang tercantum dalam pasal 50 PP No 27 Tahun 2012. Berkaitan dengan hal tersebut di atas, BPJN Provinsi Sulawesi Tengah sebagai penanggung jawab kegiatan telah berkonsultasi dengan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Tengah pada 16 Februari 2020. Pada konsultasi tersebut, DLH mengutarakan

(9)

Dokumen Pelaksanaan RKL & RPL Rekonstruksi & Rehabilitasi Jalan Tompe – Kota Palu - Surumana Page 2 bahwa dengan masih beroperasinya jalan ruas jalan Tompe – Dalam Kota Palu – Surumana serta masih digunakan oleh masyarakat, maka dengan sendirinya dokumen lingkungan (DELH) dan izin lingkungan tahun 2015 tersebut di atas masih berlaku. Namun demikian, BPJN Provinsi Sulawesi Tengah memandang perlu untuk mendapatkan pernyataan resmi dari DLH Provinsi Sulawesi Tengah tentang status dokumen lingkungan tersebut dengan cara mengajukan surat permohonan arahan terkait perubahan izin lingkungan kepada Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Tengah Nomor: HM 05-1-Bb14/1676 tanggal 6 November 2020. DLH Provinsi Sulawesi Tengah melalui surat balasannya yang ditujukan kepada Kepala BPJN Provinsi Sulawesi Tengah Nomor: 660/1911/BID.I/DISLH tanggal 10 November 2020 (Terlampir), menyatakan bahwa Rencana Kegiatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pada Ruas Jalan Tompe – Kota Palu – Surumana dapat dilaksanakan tanpa perubahan izin lingkungan dan/atau penyusunan dokumen lingkungan hidup tersendiri, dan terhadap pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup atas Rencana Kegiatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pada Ruas Jalan Tompe – Kota Palu – Surumana agar mengacu pada DELH dan Izin Lingkungan dari Gubernur Sulawesi Tengah Nomor: 660/774/BLHD-G.ST/2015 tertanggal 17 Desember 2015 dan dilaporkan kepada Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Tengah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Palu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Donggala.

Berdasarkan arahan DLH Provinsi Sulawesi Tengah tersebut di atas, BPJN Provinsi Sulawesi Tengah melakukan penyusunan Laporan Pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Rencana Pemantauan Lingkungan Kegiatan Ruas Jalan Nasional di Provinsi Sulawesi Tengah dari Tonggolobibi, Kota Palu sampai dengan Surumana untuk periode Juli – Desember 2019, yang meliputi kegiatan pemeliharaan jalan; kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi ruas jalan Tompe – Dalam Kota Palu – Surumana sepanjang

55,11 Km dan pemeliharaan rutin jembatan sepanjang 634,4 m. Untuk kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi ruas jalan Tompe – Dalam Kota Palu – Surumana serta kegiatan pemeliharaan rutin jembatan sendiri baru dimulai tanggal 25 Oktober 2019.

(10)

Dokumen Pelaksanaan RKL & RPL Rekonstruksi & Rehabilitasi Jalan Tompe – Kota Palu - Surumana Page 3 Gambar.1. Lokasi Ruas Tompe-Kota Palu-Surumana

Penyusunan Laporan Pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Rencana Pemantauaan Lingkungan Kegiatan Ruas Jalan Nasional di Provinsi Sulawesi Tengah dari Tonggolobibi, Kota Palu sampai dengan Surumana ini mengikuti acuan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No 45 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan Laporan Pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauaan Lingkungan (RPL).

1.2. Identitas Pemrakarsa

1. Nama Pemrakarsa : Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional XIV Palu,

Provinsi Sulawesi Tengah.

Nama Penanggung Jawab : Ir. A. Satriyo Utomo, M.Eng.Sc

2. Alamat Kantor : Jalan MT.Haryono No : 10 Palu 94111

Sulawesi Tengah

3. Telepon/ Faksimili : (0451) 425811

4. Bagan Struktur Organisasi : Gambar Terlampir

5. Status Penanaman Modal : BLN (WB) Nomor :

02-52/02-WINRIP-RR/RB/A/8043/11-19

6. Jenis Usaha : Rekonstruksi dan Rehabilitasi Jalan dan Saluran

(11)

Dokumen Pelaksanaan RKL & RPL Rekonstruksi & Rehabilitasi Jalan Tompe – Kota Palu - Surumana Page 4 Gambar 2. Struktur Organisasi Satuan Kerja

1.3. Lokasi Usaha Dan/Atau Kegiatan

a. Nama Usaha/Kegiatan : Rekonstruksi dan Rehabilitasi Ruas Jalan Tompe –

Dalam Kota Palu – Surumana,

b. Lokasi Usaha/Kegiatan

1. Nama Jalan : Ruas Tompe – Dalam Kota Palu – Surumana 55,11 Km

2. Kelurahan : Kelurahan Talise, Birobuli Utara, Lere, Watusampu,

Surumana.

3. Kecamatan : Kecamatan Mantikulore Kota Palu, Tanah Runtuh, Palu Selatan,

Palu Barat, Ampera Selatan,

4. Peta Lokasi : Terlampir-1 ( orientasi lokasi),

Koordinat Lokas Jl. Yos Sudaso : 0o45’30.14” LS - :119o52,28’.85”

Koordinat Lokas Jl. Tanah Runtuh : 0o38’22.07” LS - :119o48,19’.75”

Koordinat Lokas Jl. Tawaeli : 0o44’29.30” LS - :119o51’37.96”

Koordinat Lokas Jl. Basuki Rahmat : 0o54’59.24” LS - :119o53’17.36”

(12)

Dokumen Pelaksanaan RKL & RPL Rekonstruksi & Rehabilitasi Jalan Tompe – Kota Palu - Surumana Page 5

Koordinat Lokas Jl. Diponogoro : 0o53’24.49” LS - :119o51’09.76”

Koordinat Lokas Jl. Malonda : 0o50’12.89” LS - :119o48’51.31”

Koordinat Lokas Jl. Watusampu : 0o48’29.45” LS - :119o48’32.86”

Koordinat Lokas Jl. Ampera – Surumana : 0°42'10.23" LS - :1119°46'3.81"

Terlampir-2 ( street map )

5. Peta Site Plan BC : Terlampir-3 ( site plan Base Camp )

c. Skala Kegiatan : Besar *) Modal Rp. 165.640.728.000,-

d. Jumlah Pekerja : - Base Camp : 291 Org

- Pasangan Batu/Sub Kontraktor : 80 Org - AMP : 65 org (manajer dan staf karyawan)

e. Waktu Operasi/shift : Pukul 08.00 WIB s/d 20.00 WIB ; > 20.00 WIB shift.

f. Kapasitas Usaha : Ruas Jalan sepanjang 55,11 Km, Jembatanr 634,4 meter

g. Jenis Kegiatan : Rekonstruksi Dan Rehabilitasi Jalan, Pemeliharaan rutin

jembatan

h. Luas Lahan Base Camp Dan AMP : BC = 1.589 m2 dan AMP = 5.600 m2

Tabel.1. Luas Base Camp dan AMP No. Keterangan Ukuran (m) Satuan (m2)

1. Kantor Direksi Keet NP 7 x 24 168

2. Toilet A 2 bh 1,5 x 2 3

3. Toilet B 2 bh 1,5 x 2 3

4. Toilet C 1 bh 1,5 x 2 3

5. Mushola 6 x 9 54

6. Kantor Direksi Keet Konsultan 14 x 7 98

7. Kantor Direksi Keet PPK 6 x 7 42

8. Barak Kerja A 7 x 30 210 9. Barak Kerja B 7 x 30 210 10. Barak Kerja C 7 x 30 210 11. Laboratorium 9 x 7 63 12. Gudang Logistik 7 x 25 175 13. Gudang Solar 3 x 7 21

14. Area Stok Batu Pecah 16 x 8 128

15. Area Stok Pasir 16 x 8 128

16. Area BAching Plan 8 x 8 64

17. Area Security 3 x 3 9

JUMLAH BC ( tanpa AMP ) 1.589

18. AMP 70 x 80 5.600

(13)

Dokumen Pelaksanaan RKL & RPL Rekonstruksi & Rehabilitasi Jalan Tompe – Kota Palu - Surumana Page 6

1. Pemanfaatan Listrik/Energi : 6.000 Watt

2. Pemanfaatan Oli/pelumas : 2.400 liter/bulan

3. Pemanfaatan Air : 12.000 ltr/Hari, (Lampiran 4. Hasil Uji Lab Air)

Lampiran-5 Peta titik sampling pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan.

 Jenis Sumber : sumur pantek/bor ( submersible *)

 Kamar Mandi/WC : 4.000 lt/hari

 Penyiraman/Cuci : 3.500 lt/hari

 Minum & : 3.000 lt/hari

 Lain-lain : 1.500 lt/hari

4. Limbah Produksi/Usaha :

 Hasil Lab Air Limbah : Lampiran 4 (Hasil Uji Laboratorium)

 Pengolahan Limbah : Bak rembesan air bekas

 Hasil Lab.Air Kotor : Lampiran (Hasil Uji Laboratorium blm dilakukan)

 Pengolahan Air Kotor :

- Septik Tank : 2 m x 3 m sebanyak 2 unit di Lokasi Office - Septik Tank : 2 m x 2 m sebanyak unit di lokasi barak pekerja

- Bak penambung air bekas cucian masak 1 unit di belakang kantin dengan ukuran 2 m x 3 m.

1.4. Deskripsi Kegiatan

Gempa bumi dengan kekuatan 7,4 SR diikuti dengan tsunami yang melanda pantai barat Pulau Sulawesi, Indonesia, bagian utara pada tanggal 28 September 2018, pukul 18.02 WITA. Pusat gempa berada di 26 km utara Donggala dan 80 km barat laut kota Palu dengan kedalaman 10 km. Guncangan gempa bumi dirasakan di Kabupaten Donggala, Kota Palu, Kabupaten Parigi Moutong, Kabupaten Sigi, Kabupaten Poso, Kabupaten Tolitoli, Kabupaten Mamuju, dan wilauah sekiitar lainnya yang

mengakibatkan jaringan jalan dan sarana prasarananya mengalami kerusakan, mulai dari kerusakan ringan sampai dengan berat. Pusat gempa berada di kedalaman 10 kilometer di jalur sesar Palu Koro,

Lahan tanah yang terliquefaksi tidak dapat menahan berat apapun yang berada di atasnya, baik itu berupa lapisan batuan di atasnya maupun bangunan yang akhirnya mengakibatkan hilangnya daya dukung pada pondasi bangunan. Di Teluk Palu yang jaraknya lebih dekat dengan pusat gempa diperkirakan terlebih dahulu mengalami tsunami setinggi 1,5 meter, Sedangkan titik terendah tsunami tercatat 2,2

(14)

Dokumen Pelaksanaan RKL & RPL Rekonstruksi & Rehabilitasi Jalan Tompe – Kota Palu - Surumana Page 7 meter, terjadi di Desa Mapaga, Kabupaten Donggala, titik tertinggi tsunami tercatat 11,3 meter, terjadi di Desa Tondo, Palu Timur.

Jembatan Palu IV atau Jembatan Ponulele di Kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng) melintang di atas Teluk Talise ambruk akibat gempa, jembatan yang menghubungkan Kecamatan Palu Timur dan Palu Barat sepanjang 250 meter ini identik dengan konstruksi lengkung berwarna kuning itu rusak parah.

Sebagaimana telah di jelaskan di atas pada deskripsi pekerjaan, bahwa ruas jalan Tompe – Dalam Kota Palu – Surumana terdampak gempa yang cukup besar, sehingga upaya penanggulangan utamanya untuk prasarana jalan dan saluran drainase serta jembatan secara cepat harus dilakukan sesuai dengan kondisi aksesibilitas jalan antar wilayah.

Ruas jalan Tompe – Dalam Kota Palu – Surumana, sesuai dengan lingkup kerja kontraktor adalah sepanjang 55,11 Km dan pemeliharaan rutin jembatan total panjang 634,4 m, dimana berdasarkan SK Gubernur tentang ruas – ruas jalan menurut status sebagai jalan provinsi di daerah Sulawesi Tengah. Dengan kelas jalan kolektor primer, yang dimulai dari titik awal ruas di Jalan Tompe sampai dengan Surumana.

Lebar manfaat jalan berdasarkan lampiran Permen PU N0.19 Tahun 2011, Tentang persyaratan teknis jalan dan kriteria perencanaan teknis jalan sesuai dengan kelas jalan kolektor primer 9,00 meter dengan kemiringan jalan sebesar 3.00% , dimana lebar saluran drainase sebelah kiri dan kanan jalan memiliki lebar 1,5 meter. Upaya perbaikan jalan dan saluran drainase jalan serta marka dan rambu – rambu jalan dilaksanakan setelah terjadinga gempa bumi.

Komponen kegiatan dari Ruas Jalan Nasional di Provinsi Sulawesi Tengah, terdiri dari : 1. Pengoperasian jalan

2. Pemeliharaan rutin 3. Pemeliharaan berkala

4. Rehabilitasi jalan pasca gempa dan lequifaksi 5. Rekonstruksi jalan pasca gempa dan lequifaksi

6. Peningkatan kapasitas (termasuk pelebaran jalan di dalam Rumija) pasca gempa dan lequifaksi.

(15)

Dokumen Pelaksanaan RKL & RPL Rekonstruksi & Rehabilitasi Jalan Tompe – Kota Palu - Surumana Page 8 Gambar.3. Gambar Bagian-Bagian Jalan

Ruas jalan nasional dari Tonggolobibi, Kota Palu sampai dengan Surumana dengan total panjang jalan adalah ± 273,17 km dengan rincian ruas jalan mulai dari Tonggolobibi - Sabang - Tambu - Tompe - Pantoloan - Tawaeli - Jalan Akses Pelabuhan Taipa - Kebunsari - Jalan Tanah Runtuh - Jalan Yos Sudarso (Palu) - Jalan Sam Ratulangi (Palu) - Jalan Sudirman (Palu) - Jalan Hasanuddin I (Palu)-Jalan Hasanuddin II (Palu)-Jalan Emmy Saelan (Palu)-Jalan Woter Monginsidi (Palu)-Jalan Basuki Rahmat Palu)-Jalan Abdul Rahman Saleh (Palu)-Jalan Gajamada (Palu)-Jalan Imam Bonjol (Palu)-Jalan Diponegoro (Palu)-Jalan Malonda (Palu)- Watusampu-Ampera (Bts Kabupaten Donggala)-Surumana (Bts Provinsi Sulawesi Barat).

Sedangkan pada dokumen lingkungan ini, ruas jalan yang dikaji dijelaskan pada keterangan di bawah ini;

(1) jl. yos sudarso 0+000 - 1+500 (2) jl. tanah runtuh- kebun sari 0+000 - 6+834 (3) jl. kebun sari- tawaeli 0+000 - 8+979 (4) jl. basuki rahmat 0+000 - 1+778 (5) jl. Abd. rahman saleh 0+000 - 1+250 (6) jl. diponegoro 0+000 2+680 (7) jl. malonda- watusampu 0+000 10+055 (8) jl. watusampu- amperera 0+000 14+756 (9) jl. ampera- surumana 0+000 1+125, dengan panjang 55,11 Km setelah ada ekskalasi panjang jalan dan pemeliharaan jembatan 634,4 meter.

(16)

Dokumen Pelaksanaan RKL & RPL Rekonstruksi & Rehabilitasi Jalan Tompe – Kota Palu - Surumana Page 9 Gambar. 4. Ruas Jalan Nasional di Provinsi Sulawesi Tengah Yang Dikaji

Bahwa jalan dikelompokkan dalam beberapa kelas berdasarkan fungsi dan intensitas lalu lintas guna kepentingan pengaturan penggunaan jalan dan kelancaran lalu lintas dan angkutan jalan dan daya dukung untuk menerima muatan sumbu terberat dan dimensi kendaraan bermotorPemeliharaan rutin meliputi kegiatan.

Peningkatan struktur merupakan kjegiatan penanganan untuk dapat meningkatkan kemmapuan ruas-ruas jalan dalam kondisi tidak mantap atau kritis agar ruas-ruas jalan tersebut mempunyai kondisi pelayanan mantap sesuai dengan umur rencana yang ditetapkan. Peningkatan kapasitas merupakan penanganan jalan dengan pelebaran perkerasan, baik menambah maupun tidak menambah jumlah jalur

Pemeliharaan/pembersihan bahu jalan, adapun kegiatan yang dilakukan untuk kegiatan pemeliharaan/pembersihan bahu jalan antara lain :

a. Membersihkan rumput dan semak-semak pada daerah bahu jalan. b. Mengurug lubang pada bahu jalan.

c. Buat sudetan dan beri gebalan rumput daerah yang gundul. Perbaiki tepi bahu jalan yang longsor.

(17)

Dokumen Pelaksanaan RKL & RPL Rekonstruksi & Rehabilitasi Jalan Tompe – Kota Palu - Surumana Page 10 e. Mengupas bahu jalan yang lebih tinggi dari permukaan.

f. Mengurug bahu jalan yang permukaannya terlalu rendah/ tergerus.

Pemeliharaan sistem drainase (dengan tujuan untuk memelihara fungsi dan untuk memperkecil kerusakan pada struktur, meliputi kegiatan :

a. Membabat rumput pada tebing saluran.

b. Membersihkan sampah, tumbuhan pengganggu yang berada di saluran. c. Memperbaiki longsoran kecil yang terjadi di lereng saluran.

d. Menambal dinding saluran yang retak dan merapikan bentuk profil saluran.

e. Memperbaiki saluran kecil pada tanggul akibat penurunan, rembesan, dan longsoran kecil.

f. Menambal dan memperbaiki kerusakan kecil pada jalan inspeks

(18)

Dokumen Pelaksanaan RKL & RPL Rekonstruksi & Rehabilitasi Jalan Tompe – Kota Palu - Surumana Page 11 g. Permukaan jalan dan harus dibersihkan terus menerus dari lumpur, tumpukan kotoran,

dan sampah.

h. Pemeliharaan/ pembersihan rumaja. Pemeliharaan pemotongan tumbuhan/tanaman liar (rumput-rumputan,semak belukar, dan pepohonan) di dalam rumija,

i. Pengisian celah/ retak permukaan (sealing ). j. Laburan aspal.

k. Penambalan lubang.

1.5 Kegiatan Pendukung

Kegiatan pedukung dari kegiatan utama Ruas Jalan Nasional Provinsi Sulawesi Tengah, dari jalan Tompe, Kota Palu sampai dengan Surumana dengan total panjang jalan adalah ± 55,11 km, terdiri dari :

1. Asphalt Mixing Plant Asphalt mixing plant /AMP (unit produksi campuran beraspal) adalah seperangkat peralatan mekanik dan elektronik dimana agregat dipanaskan, dikeringkan dan dicampur dengan aspal untuk menghasilkan campuran beraspal panas yang memenuhi persyaratan tertentu. Asphalt Mixing Plant dapat terletak di lokasi yang permanen atau berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Apabila ditinjau dari jenis cara memproduksi campuran beraspal dan kelengkapannya, ada beberapai jenis Asphalt Mixing Plant yaitu: a. Asphalt Mixing Plant jenis takaran ( batch plant ) b. Asphalt Mixing Plant jenis drum pencampur ( drum mix ) c. Asphalt Mixing Plant jenis menerus ( continuous plant ).

2. Batching Plant Batching plant merupakan alat yang di gunakan untuk mencampur atau memproduksi beton ready mix dalam jumlah produksi yag besar. Batching plant digunakan agar produksi beton ready mix tetap dalam keadaan yang baik, sesuai standart, nilai slump dan strenght - stabil

sesuai dengan yang di harapkan, untuk itu komposisi material harus terkendali, salah satu alat dalam batching plant adalah Dry mixed yaitu batching plant yang fungsinya hanya untuk menimbang saja, pengadukan beton ready mix dilakukan di concrete truck mixer. Semua material yang akan diaduk harus di timbang sesuai dengan mix design dengan memperhitungkan kandungan air dalam material, baik dalam agregat kasar maupun agregat halus (pasir). Bagian-bagian batching plant antara lain :

➢ Cement silo , berfungsi untuk tempat penyimpanan semen dan menjaga agar semen tetap baik.

(19)

Dokumen Pelaksanaan RKL & RPL Rekonstruksi & Rehabilitasi Jalan Tompe – Kota Palu - Surumana Page 12 ➢ Belt conveyor , berfungsi untuk menarik bahan material (agregat kasar/agregat

halus) ke storage bin.

➢ Bin , berfungsi tempat pengumpulan bahan material (agregat kasar/agregat halus) yang berasal dari penumpukan bahan di base camp dengan bantuan wheel loader untuk di tarik ke atas ( storage bin ).

➢ Storage bin , di gunakan utuk pemisah fraksi agregat, storage bin di bagi menjadi 4 fraksi yaitu : agregat butir kasar ( split ), butir menengah ( screening ), butir halus (pasir), dan fly ash .

➢ Timbangan pada alat batching di bagi menjadi 3 yaitu : timbangan agregat, timbangan semen, timbangan air.

➢ Dosage pump , digunakan untuk penambahan bahan admixture seperti retarder . ➢ Tempat penampungan air berfungsi sebagai supply air pada rea dy mix .

Tabel 2. Item Pekerjaan Yang Dilaksanakan

Sumber : Kontraktor Pelaksana Lapangan’2019

Rencana kegiatan yang akan dilaksanakan adalan pelebaran permukaan perkerasan aspal dengan konstruksi lapis aspal AC-WC 5,00 cm, Agregat base klas A tebal 15,00 cm, dan urugan pilihan tebal 25,00 cm untuk perkerasan bahu jalan sebelah kiri dan kanan

(20)

Dokumen Pelaksanaan RKL & RPL Rekonstruksi & Rehabilitasi Jalan Tompe – Kota Palu - Surumana Page 13 jalan selebar 1,00 m, dan trotoar 1,5 m, menggunakan material urugan pilihan dengan tebal bervariasi.

Untuk kegiatan peningkatan atau penggantian jembatan baik rusak ataupun yang lebarnya tidak sesuai dengan lebar badan jalan menurut persyaratan teknis jalan dan kriteria perencanaan teknis jalan, akan dilakukan pelebaran atau penggantian jembatan lama sesuai lebar badan jalan dan lebar bentang sungai yang ada saat ini.

1.6 Jenis Kegiatan Lain

Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2006 tentang Jalan, pada pasal 96 telah dijelaskan bahwa pengoperasian jalan merupakan kegiatan penggunaan jalan untuk melayani lalu lintas jalan dan harus dilengkapi dengan perlengkapan jalan untuk menjamin keselamatan pengguna jalan. Perlengkapan jalan yang digunakan merujuk pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009, dalam pasal 25 telah dijelaskan bahwa perlengkapan jalan terdiri dari rambu lalu lintas, marka jalan, alat pemberi isyarat lalu lintas, alat penerangan jalan, alat pengendali dan pengaman pengguna jalan, alat pengawasan dan pengamanan jalan, fasilitas untuk sepeda, pejalan kaki dan penyadang cacat serta fasilitas pendukung kegiatan lalu lintas dan angkutan jalan yang berada di jalan dan di luar badan jalan. Sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan, dalam pasal 30 ayat 1 point a dijelaskan bahwa pengoperasian jalan nasional dilakukan setelah dinyatakan memenuhi persyaratan laik fungsi secara teknis dan administratif. Laik Fungsi Jalan adalah kondisi suatu ruas jalan yang memenuhi persyaratan teknis kelaikan untuk memberikan keselamatan bagi penggunanya, dan persyaratan administratif yang memberikan kepastian hukum bagi penyelenggara jalan dan pengguna jalan, sehingga jalan tersebut dapat dioperasikan untuk umum. Saat dokumen ini disusun, Ruas Jalan Nasional di Provinsi Sulawesi Tengah dalam kondisi laik fungsi bersyarat. Dasar penetapan laik fungsi bersyarat adalah belum dipenuhinya salah satu persyaratan aspek administrasi yaitu dokumen lingkungan, sehingga belum memiliki izin lingkungan. Ruas Jalan Nasional di Provinsi Sulawesi Tengah dari Jalan Tompe - Kota Palu sampai dengan Jl. Surumana dengan total panjang jalan adalah ± 55,11 km dan pemeliharaan rutin jembatan total panjang 634,4 m yang masuk ke dalam pembiayaan Bang Dunia.

Berikut adalah ruas – ruas jalan yang masuk ke dalam pembiayaan bang dunia, yang terkena dampak langsung gempa dan tsunami serta lequifaksi.

(21)

Dokumen Pelaksanaan RKL & RPL Rekonstruksi & Rehabilitasi Jalan Tompe – Kota Palu - Surumana Page 14 Tabel. 3. Ruas-Ruas Jalan diRehabilitasi dan Rekonstruksi

Sumber : Kontraktor Pelaksana Lapangan’2019

Tabel.4. STA Ruas-Ruas Jalan Jalan

Sumber : Kontraktor Pelaksana Lapangan’2019

1.7 Peralatan Yang Digunakan

Pada kegiatan peningkatan jalan ruas Tompe - Kota Palu sampai dengan Jl. Surumana digunakan beberapa jenis peralatan sebagaimana tabel.5 berikut :

(22)

Dokumen Pelaksanaan RKL & RPL Rekonstruksi & Rehabilitasi Jalan Tompe – Kota Palu - Surumana Page 15 Tabel.5. Daftar Peralatan Kerja

1.8 Penggunaan Bahan Bakar

Bahan bakar yang digunakan dilapangan pada umumnya adalah berjenis solar, dan pada sisa hasil penggantian pelumas untuk peralatan yang digunakan, ditampung sementara di tempat yang disediakan berupa drum-drum bekas berkapasitas 100 liter, agar tida menimbulkan pencemaran limbah B3 kepada lingkungan sekitar.

(23)

Dokumen Pelaksanaan RKL & RPL Rekonstruksi & Rehabilitasi Jalan Tompe – Kota Palu - Surumana Page 16 1.9 Pengelolaan Sanitasi

Para pekerja pada kegiatan ruas jalan Tompe – Kota Palu - Surumana menggunakan Base Camp tersendiri dengan perlengkapan sanitasi yang sudah memadai, untuk kebutuhan sumber air bersih menggunapan sumur bor submersible (pompa dalam) dan penampungan tangki air dengan kapasitas 1.000 liter sebanyak 2 (dua) tangki air.

Kebutuhan untuk kakus/Wc, menggunakan Wc dengan dilengkapi septik tank sebanyak 4 (empat) buah 2 untuk wanita dan 2 (dua) buah untuk laki-laki dimana untuk kebutuhan kantor mengunakan WC tersendiri dan dilengkapi septik tank, site plan base camp terlampir.

1.10 Perkembangan Lingkungan Sekitar

Ruas jalan Tompe – Kota Palu - Surumana berdasarkan Perda No.08 tahun 2013 tentang rencana tata ruang provinsi (RTRWP) Provinsi Sulawesi Tengah 2013 – 2033 pada Pasal 15 ayat 3 dijelaskan bahwa Jaringan jalan nasional sebagai jalan arteri primer di Kota Palu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a meliputi Jl. Pantoloan-Tawaeli, Jl. Kebonsari (Talise) - Tawaeli, Jl.Tanah Runtuh - Kebonsari, Jl. Jend.Sudirman, Jl. Yos Sudarso, Jl. Sam Ratulangi, Jl. Wolter Monginsidi, Jl. Hasanuddin I, Jl. Emmi Saelan, Jl. Basuki Rahmat, Jl. Diponegoro, Jl. Gajahmada, Jl. Imam Bonjol, Jl.Malonda, Jl.Tawaeli - Nopabomba, Jl. S.Gumbasa, Jl. Danau Poso, Jl. Sungai Dolago, Jl.Sis Aljufrie dan Jl. Abdul Rahman Saleh dan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : SK.869/Menhut-II/2014 tanggal 29 September 2014 tentang Kawasan Hutan dan Konservasi perairan Provinsi Sulawesi Tengah Berdasarkan hasil overlay dengan lampiran Peta Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : SK.869/Menhut-II/2014 tanggal 29 September 2014 tentang Kawasan Hutan dan Konservasi perairan Provinsi Sulawesi Tengah, Ruas jalan nasional di provinsi Sulawesi Tengah dari Tonggo lobibi, Kota Palu sampai dengan Surumana dengan total panjang jalan ± 273,17 km berada pada Areal penggunaan Lain, yang bertujuan untuk mendorong perwujudan pembangunan wilayah yang bertumpu pada sektor pertanian, pariwisata dan pertahanan keamanan yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan.

Kesesuaian berdasarkan Perda No.08 tahun 2013 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP) Sulawesi Tengan 2013 – 2033, sudah sesuai dengan lokasi rencana kegiatan Peningkatan dan Rehabilitasi ruas jalan Tompe – Kota Palu - Surumana.

(24)

Dokumen Pelaksanaan RKL & RPL Rekonstruksi & Rehabilitasi Jalan Tompe – Kota Palu - Surumana Page 17 Peningkatan lalu lintas dan terjadinya kecelakaan terkait dengan adanya kegiatan pengiriman bahan dan alat untuk pekerja konstruksi dan transportasi menyebabkan peningkatan arus lalu lintas, peningkatan kecelakaan, serta beban tambahan pada infrastruktur jalan. Dampak lingkungan yang tercantum di bawah ini cenderung lebih relevan untuk proyek yang membutuhkan tenaga kerja lebih besar, yang menghasilkan kerja proyek yang lebih besar pula. Tempat pembuangan limbah yang tertata di sekitar base camp pekerja dan tempat pembuangan limbah ilegal yang kurang memadai, populasi pekerja pendatang dari luar kota Palu yang besar, menghasilkan peningkatan jumlah limbah domestik padat maupun cair, dimana belum ada dan tersedia tempat pengelolaan limbah lokal yang memadai, yang kemungkinan akan mengarah pada praktek pembuangan yang tidak tepat/sembarangan.

Pembuangan air limbah yang terkait dengan kegiatan proyek yang berada pada barak pekerja (base camp), menggunakan lubang kakus (WC) yang pada periode tertentu direncanakan dilakukan penyedotan apabila telah penuh.

Kondisi kesehatan yang dapat terdapat disekitar lokasi pekerjaan masih terlihat baik, namun sebagian pekjerja membutuhkan system penyediaan air bersih untuk kebutuhan mandi, cuci dan kakus yang terpisah antara laki-laki dan perempuan. Penyediaan air bersih dilakukan masing-masing base camp dan juga AMP untuk memenuhi kebutuhan airnya, dan untuk kebutuhan air minum rata-rata menggunakan air kemasan/gallon.

1.11 Lokasi Quarry

Quarry adalah system tambang terbuka yang diterapkan untuk menambang endapanendapan bahan galian industri atau mineral industri, antara lain: penambangan batu gamping, marmer, granit, andesit dan sebagainya. Quarry dapat menghasilkan material atau hasil tambang dalam bentuk loose /broken materials ataupun dalam bentuk dimensional stones, berikut akan disajikan daftar lokasi quarry yang terdapat di sekitar wilayah pekerjaan.

Tabel. 6. Lokasi Quarry di Wilayah Sulawesi Tengah

No. Nama Quarry Jenis Quarry Provinsi Kabupaten Kecamatan Nama Jalan

1 S. Bulur 1-2 Batu Kali, Sirtu Sulawesi Tengah Kota Palu Palu Barat Jl. Malonda ( Kota Palu ) 2 S. Tanamea Sirtu Sulawesi Tengah Donggala - Jl. Ampera-Surumana 3 S. Taipa Batu Kali, Pasir, Kerikil Sulawesi Tengah Kota Palu Palu Utara Jl. Kebunsari-Tawaeli 4 S. Tawalei Batu Kali, Sirtu Sulawesi Tengah Kota Palu Palu Utara Jl. Kebunsari-Tawaeli 5 S. Lam Bagu Batu Kali, Kerikil Sulawesi Tengah Donggala Tana

(25)

Dokumen Pelaksanaan RKL & RPL Rekonstruksi & Rehabilitasi Jalan Tompe – Kota Palu - Surumana Page 18

6 S. Labuan Batu Kali, Pasir, Kerikil Sulawesi Tengah Donggala Sindue Jl. Tompe-Pantoloan 7 S. Tibo Batu Kali, Kerikil Sulawesi Tengah Donggala Sindue Jl. Tompe-Pantoloan 8 S. Toaya Batu Kali, Sirtu Sulawesi Tengah Donggala Sindue Jl. Tompe-Pantoloan 9 S. Alindau Batu Kali, Pasir, Kerikil Sulawesi Tengah Donggala Sirenja Jl. Tompe-Pantoloan 10 S. Tanjung

Padang Sirtu Sulawesi Tengah Donggala Sirenja Jl. Tompe-Pantoloan 11 S. Tompe Batu Kali, Sirtu, Pasir Sulawesi Tengah Donggala Sirenja Jl. Tompe-Pantoloan 12 S. Labean Pasir Sulawesi Tengah Donggala Balaesang Jl. Tambu-Tompe 13 S. Siboang Pasir, Sirtu Sulawesi Tengah Donggala Balukang Jl. Siboang-Sabang

(26)

Dokumen Pelaksanaan RKL & RPL Rekonstruksi & Rehabilitasi Jalan Tompe – Kota Palu - Surumana Page 19

BAB.II

PELAKSANAAN DAN EVALUASI

Jenis dampak lingkungan yang diprakirakan timbul sebagai akibat adanya kegiatan rekonstruksi dan rehabilitasi ruas jalan Tompe – Kota Palu - Surumana berdasarkan pada sebaran dan besarannya, maka dampak yang ditimbulkan oleh adanya kegiatan ini tidak termasuk dampak penting. Namun demikian perlu adanya antisipasi terhadap kemungkinan terjadinya akumulasi dari dampak-dampak yang tidak penting menjadi dampak penting.

Oleh karena itu perlu dilakukan pengelolaan dan pemantauan lingkungan pada setiap tahapan kegiatan yang dilaksanakan di lapangan agar tidak terjadi atau meminimisasi dampak negatif yang mungkin timbul, pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan yang dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan saat ini, dimana masih sebagian masyarakat yang kembali ke tempat tinggal semula, sebagian masyarakat ditempatkan di hunian sementara (huntara), yang kemudian akan ditempatkan pada lingkungan baru berupa hunian tetap (huntap) pada lokasi yang dianggap aman dari lequifaksi secara bertahap.

Deskripsi kegiatan pada setiap tahapan kegiatan dalam pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan ini terdiri dari tahapaan masa konstruksi dan tahapan operasional atau pasca konstruksi, dimana tahapan pra-konstruksi tidak di kelola dan dipantau karna kondisi saat ini sudah langsung ke masa konstruksi untuk tindakan cepat dalam penanggulangan pasca gempa dan lequifaksi serta tsunami.

Adapun cakupan pengelolaan dan pemantauan yang dilakukan adalah sebagai berikut : 1. Tahap Konstruksi

Pada tahap konstruksi ini tahapan kegiatan yang diperkirakan akan menimbulkan dampak antara lain adalah : - Penetapan lokasi, - pembebasan lahan, - mobilisasi tenaga kerja, - pembuatan dan pengoperasian base camp/barak pekerja, - mobilisasi peralatan kerja, - pembersihan lapangan/lokasi, - pekerjaan galian dan timbunan, - perbaikan tanah dasar, - penghamparan material timbunan pilihan dan penghamparan material agregat, - pencampuran dan penghamparan aspal, - galian saluran drainase, - demobilisasi peralatan dan tenaga kerja.

(27)

Dokumen Pelaksanaan RKL & RPL Rekonstruksi & Rehabilitasi Jalan Tompe – Kota Palu - Surumana Page 20 Kegiatan operasional jalan akan memberikan dampak terhadap komponen lingkungan hidup yaitu dengan kondisi jalan yang sudah baik dan mantap. Yaitu : - Operasional jalan, - Pemeliharaan jalan.

(28)

Dokumen Pelaksanaan RKL & RPL Rekonstruksi & Rehabilitasi Jalan Tompe – Kota Palu - Surumana Page 21 2.1. Pelaksanaan

PROGRAM PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP

Tabel.7

Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan ( RKL ) 1. Tabel Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup ( RKL)

Sumber Dampak Jenis Dampak Besaran Dampak

(satuan atau ukuran) Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Lampiran Dokumen Pendukung Unit Pelaksana I. Konstruksi

Penetapan Lokasi Proyek Keresahan Masyarakat Timbulnya kekhawatiran warga adanya lahan dan tanaman yang masuk ke dalam tapak proyek sebanyak lebih kurang 21 KK.

Terjadinya kecelakaan lalu lintas dan kecelakaan terhadap binatang ternak seperti ayam dan kambing dan juga anjing serta sapi.

Sosialisasi Kepada masyarakat desa yang terlewati, di Kecamatan setempat.

Palu : Selasa 29 Januari 2019

Kontraktor pelaksana PT. Nindya – Passokorang,KSO dan Pemrakarsa Direktorat Jenderal Bina Marga Balai Pelaksanaan Jalan Nasional XIV Palu Sulawesi Tengah Juga Aparat setempat.

(29)

Dokumen Pelaksanaan RKL & RPL Rekonstruksi & Rehabilitasi Jalan Tompe – Kota Palu - Surumana Page 22

Penerimaan Tenaga Kerja

Konstruksi Mobilisasi Tenaga Kerja Timbulnya persepsi masyarakat dalam mendapat kesempatan kerja dari sebanyak 270 org baik di Kontraktor, AMP dan di Sub Kontraktor.

Penerimaan tenaga kerja mengutamakan tenaga lokal dari Palu sebesar 90 percent.

Kontraktor pelaksana PT. Nindya – Passokorang,KSO

Pengoperasian Base

Camp dan AMP Terjadinya gangguan lalu – lintas pada akses jalan keluar masuk.

Jumlah kendaraan proyek dan alat berat yang keluar masuk base camp dan AMP, sebanyak 35 unit kendaraan.

Menempatkan pekerja pada pintu keluar masuk

kendaraan proyek dan alat berat, dengan sistem bergilir.

Base Camp & AMP

Kontraktor pelaksana PT. Nindya – Passokorang,KSO dan Sub Kontraktor AMP.

(30)

Dokumen Pelaksanaan RKL & RPL Rekonstruksi & Rehabilitasi Jalan Tompe – Kota Palu - Surumana Page 23

Pembersihan dan penyiapan Tapak Proyek, Pengupasan Lapisan aspal lama.

Peningkatan debu, kebisingan dan terganggunya arus lalu lintas

Meningkatnya kadar debu melebihi Baku Mutu yang disyaratkan Kementerian LHK untuk partikulat debu halus PM2.5 dalam durasi waktu 24 jam adalah 65

mikrogram/m3.

KepMen LH No.48 Tahun 1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan Perumahan dan Permukiman 55 dBA.

Melakukan penyiraman berkala pada pagi hari pkl.9.00 wib Dan pada siang dan sore hari pkl.15.00 WIB. Tidak dilakukan pada malam hari saat warga beristirahat. Melaksanakan pengaturan arus lalu lintas dengan pemasangan rambu-rambu serta mempekerjakan personil dalam mengatur lalu lintas baik di awal trase jalan maupun diakhir STA jalan dengan menggunakan APD yang disyaratkan.

Kontraktor pelaksana PT. Nindya – Passokorang,KSO

Berkurangnya

Penghijauan Pada Rusa Jalan Karena Kegiatan Penebangan Pohon.

Berkurangnya estetika ruang hijau pada ruang milik jalan.

Permen PU No: 05/PRT/M/2008 tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan.

Penanaman kembali tanaman ditempatkan pada jalur tanaman (minimal 1,5 m dari tepi median); b) percabangan 2 m di atas tanah; c) bentuk percabangan batang tidak merunduk; d) bermassa daun padat; e) berasal dari perbanyakan biji; f) ditanam secara berbaris; g) tidak mudah tumbang.

Kontraktor pelaksana PT. Nindya – Passokorang,KSO Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sulawesi Tengah.

(31)

Dokumen Pelaksanaan RKL & RPL Rekonstruksi & Rehabilitasi Jalan Tompe – Kota Palu - Surumana Page 24

Pengangkutan material

dari sumber Quarry. Peningkatan debu, kebisingan dan terganggunya arus lalu lintas

Meningkatnya kadar debu melebihi Baku Mutu yang disyaratkan Kementerian LHK untuk partikulat debu halus PM2.5 dalam durasi waktu 24 jam adalah 65

mikrogram/m3.

KepMen LH No.48 Tahun 1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan Perumahan dan Permukiman 55 dBA

Melakukan penyiraman berkala pada pagi hari pkl.9.00 wib Dan siang serta pada sore hari pkl.15.00 WIB. Tidak dilakukan pada malam hari saat warga beristirahat. Melaksanakan pengaturan arus lalu lintas dengan pemasangan rambu-rambu serta mempekerjakan personil dalam mengatur lalu lintas baik di awal trase jalan maupun diakhir STA jalan dengan menggunakan APD yang disyaratkan.

Kontraktor pelaksana PT. Nindya – Passokorang,KSO Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sulawesi Tengah.

Pekerjaan galian dan

timbunan Peningkatan kadar debu, kebisingan dan gangguan arus lalu-lintas serta terjadinya kecelakaan kerja.

Meningkatnya kadar debu melebihi Baku Mutu yang disyaratkan Kementerian LHK untuk partikulat debu halus PM 2.5 dalam durasi waktu 24 jam adalah 65

mikrogram/m3.

KepMen LH No.48 Tahun 1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan Perumahan dan Permukiman 55 dBA.

Hasil pengamatan Kebisingan sebesar 68,80 dB (A), dengan batas maksimum

diperbolehkan adalah 70 dB (A).

Melakukan penyiraman berkala pada pagi hari pkl.9.00 wib Dan siang serta pada sore hari pkl.15.00 WIB. Tidak dilakukan pada malam hari saat warga beristirahat. Melaksanakan pengaturan arus lalu lintas dengan pemasangan rambu-rambu serta mempekerjakan personil dalam mengatur lalu lintas baik di awal trase jalan maupun diakhir STA jalan dengan menggunakan APD yang disyaratkan.

Menghindari terjadinya kecelakaan kerja dengan Melakukan supervisi

Kontraktor pelaksana PT. Nindya – Passokorang,KSO

(32)

Dokumen Pelaksanaan RKL & RPL Rekonstruksi & Rehabilitasi Jalan Tompe – Kota Palu - Surumana Page 25

lapangan terhadap para pekerja konstruksi dengan memberi pengarahan serta senantiasa menggunakan APD, untuk pengenalan dilapangan.

Melakukan pembersihan pada muka jalan yang dikupas serta galian saluran drainase jalan, dan

menempatkan hasil sisa kupasan pada sisi jalan kerja yang tidak mengganggu arus jalan dan estetika pada lokasi sekitarnya.

Penghamparan material timbunan pilihan dan penghamparan material agregat.

Peningkatan kadar debu, kebisingan dan gangguan arus lalu-lintas serta terjadinya kecelakaan kerja.

Meningkatnya kadar debu melebihi Baku Mutu yang disyaratkan Kementerian LHK untuk partikulat debu halus PM 2.5 dalam durasi waktu 24 jam adalah 65

mikrogram/m3.

KepMen LH No.48 Tahun 1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan Perumahan dan Permukiman 55 dBA. BM TSP (debu) PP.No: 41 Tahun 1999 = 230 µg/Nm3. Hasil sampling pada lokasi

Melakukan penyiraman berkala pada pagi hari pkl.9.00 wib Dan pada siang serta sore hari pkl.15.00 WIB. Tidak dilakukan pada malam hari saat warga beristirahat yaitu pada malam hari. Melaksanakan pengaturan arus lalu lintas dengan pemasangan rambu-rambu serta mempekerjakan personil dalam mengatur lalu lintas baik di awal trase jalan maupun diakhir STA jalan dengan menggunakan APD

Kontraktor pelaksana PT. Wasco – Sarana,KSO

(33)

Dokumen Pelaksanaan RKL & RPL Rekonstruksi & Rehabilitasi Jalan Tompe – Kota Palu - Surumana Page 26

proyek di Kebon Sari, Tawaeli Palu Utara sudah sebesar 305,07 µg/Nm3, sudah melebihi Baku Mutu.

yang disyaratkan. Menghindari terjadinya kecelakaan kerja dengan Melakukan supervisi lapangan terhadap para pekerja konstruksi dengan memberi pengarahan serta senantiasa menggunakan APD, untuk pengenalan dilapangan.

Menempatkan material agregat pada sisi badan jalan tidak terlalu lama, dan segera dihamparkan pada badan jalan dan dipadatkan kemudian disiram agar tidak berdebu.

Galian Saluran Drainase

Jalan Peningkatan kadar debu, kebisingan dan gangguan arus lalu-lintas,

terganggunya utilitas aliran listrik, saluran air bersih, serta terjadinya kecelakaan kerja.

Meningkatnya kadar debu melebihi Baku Mutu yang disyaratkan Kementerian LHK untuk partikulat debu halus PM 2.5 dalam durasi waktu 24 jam adalah 65

mikrogram/m3.

KepMen LH No.48 Tahun 1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan Perumahan dan Permukiman 55 d B(A). Warga sekitar wilayah kerja yang terganggu aliran listriknya serta utilitas pengaliran saluran air hujan yang ada sebelumnya.

Melakukan penyiraman berkala pada pagi hari pkl.9.00 wib Dan pada siang juga sore hari pkl.15.00 WIB. Tidak dilakukan pada malam hari saat warga beristirahat yaitu pada malam hari. Melaksanakan pengaturan arus lalu lintas dengan pemasangan rambu-rambu serta mempekerjakan personil dalam mengatur lalu lintas baik di awal trase jalan maupun diakhir STA jalan dengan menggunakan APD yang disyaratkan.

Kontraktor pelaksana PT. Wasco – Sarana,KSO

(34)

Dokumen Pelaksanaan RKL & RPL Rekonstruksi & Rehabilitasi Jalan Tompe – Kota Palu - Surumana Page 27

BM TSP (debu) PP.No: 41 Tahun 1999 = 230 µg/Nm3. Hasil sampling pada lokasi direksi keet sudah sebesar 458,19 µg/Nm3, sudah melebihi Baku Mutu.

Dan kebisingan sebesar 55,60 dB(A),

dengan batas maksimum diperbolehkan adalah 70 dB (A).

Menghindari terjadinya kecelakaan kerja dengan Melakukan supervisi lapangan terhadap para pekerja konstruksi dengan memberi pengarahan serta senantiasa menggunakan APD, untuk pengenalan dilapangan.

Pekerjaan Saluran

Samping (side dicth) Kebisingan, Debu, terganggunya utilitas umum, kemacetan lalu lintas, dan kecelakaan kerja dan lalu lintas.

Kebisingan <78 dB, debu < 25 ppm, antrian kendaraan sepanjang 40 meter, belum terjadi kecelakaan.

Hasil pengamatan untuk emisi bergerak untuk CO2 = 1,96%, HC = 18 ppm, masih dibawah BM yaitu CO2 = 20% dan HC = 2.400 ppm.

Tanah hasil galian segera dibersihkan diangkat dengan kendaraan bak yang

kodisinya tertutup terpal, mencegah terjadinya ceceran tanah, mengatur arus lalu-lintas dan kecepatan kendaraan proyek, melakukan penyiraman berkala dengan tangky air pada pagi hari jam 9 dan siang serta sore jam 15.00 WITA.

Memasang rambu pengarahan kepada

pengguna jalan yang terbaca pada malam hari.

Kontraktor pelaksana PT. Wasco – Sarana,KSO

(35)

Dokumen Pelaksanaan RKL & RPL Rekonstruksi & Rehabilitasi Jalan Tompe – Kota Palu - Surumana Page 28

rambu malam gengan reflektor Demobilisasi Tenaga Kerja

Konstruksi dan kendaraan konstruksi

Hilangnya lapangan kerja, hilangnya kebisingan dari kendaraan dan alat kerja konstruksi, hilangnya timbulan sampah sisa konstruksi dan

berkurangnya kemacetan akibat kegiatan

konstruksi.

Tenaga kerja konstruksi yang berjumlah lebih dari 100 orang akan berkurang bahkan pindah ke wilayah lain, dan kehilangan kerja.

Kebisingan <78 dB yang berasal dari Kendaraan Alat Berat akan berkurang, timbulan sampah lebih dari 30 m3 dan dan kemacetan pada jam kerja pkl. 07.00 WIT s/d pkl 16.30 WITA akan menyebabkan antrian.

Melaksanakan sosialisasi kepada para tenaga kerja, pekerja pengangkut sampah serta mengatur jadwal demobilisasi alat berat, pada lokasi persimpangan dan dekat dengan pemukiman warga.

Sesuai dengan arahan pengelolaan lingkungan disaat pelaksanaan demobilisasi kegiatan dilakukan.

Pemrakarsa Direktorat Jenderal Bina Marga Balai Pelaksanaan Jalan Nasional XIV Palu Sulawesi Tengah Juga Aparat setempat. serta Dinas Tenaga Kerja setempat.

Kegiatan Mobilisasi dan Demobilisasi Pekerja Konstruksi dan Peralatan Konstruksi.

Terjadinya gangguan lalu lintas pada ruas jalan dengan radius sampai dengan 100 meter.

Jumlah kendaraan yang terganggu lalulintasnya dengan radius 100 meter.

Pelaksanan mobilisasi demobilisasi kendaraan dan material terjadwal,

disesuaikan dengan jam jam sibuk kendaraan umum

Kontraktor pelaksana PT. Wasco – Sarana,KSO

II. Operasional Pengoperasian Ruas Jalan Tompe – Kota Palu - Surumana

Terjadinya Kecelakaan

Lalu-Lintas Terjadinya kecelakaan lalu-lintas akibat dari kelalaian pengguna jalan berkisar atara 25 kali kejadian setiap tahun.

Dilakukan pemeriksaan kelaikan jalan, dalam periode tahun anggaran dan saat terjadi darurat kerusakan

Sesuai dengan arahan pengelolaan selama beroperasinya jalan dimaksud.

Pemrakarsa Direktorat Jenderal Bina Marga Balai Pelaksanaan Jalan Nasional XIV Palu

(36)

Dokumen Pelaksanaan RKL & RPL Rekonstruksi & Rehabilitasi Jalan Tompe – Kota Palu - Surumana Page 29

jalan akibat longsor dan kejadian lain, periode 6 bulan sekali.

Pemeliharaan Ruas Jalan Terjadinya Kecelakaan Lalu-Lintas dan kerusakan badan jalan.

Terjadi kerusakan pada bagian bagian ruas jalan sepanjang 55,11 km.

Dialukan peperbaikan jalan, dalam periode tahun anggaran dan saat terjadi darurat kerusakan jalan akibat longsor dan kejadian lain, periode 6 bulan sekali.

Pemrakarsa Direktorat Jenderal Bina Marga Balai Pelaksanaan Jalan Nasional XIV Palu

(37)

Dokumen Pelaksanaan RKL & RPL Rekonstruksi & Rehabilitasi Jalan Tompe – Kota Palu - Surumana Page 30 Tabel. 8 Pelaksanaan Pemantauan Lingkungan ( RPL )

2. Tabel Pelaksanaan Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL) Sumber Dampak Jenis dan Besaran

Dampak

Parameter Dipantau

Tolok Ukur Lokasi Evaluasi Tindak Lanjut

Perbaikan I. Konstruksi Penetapan Lokasi Proyek Keresahan masyarakat sehubungan dengan lahan pekarangan yang terkena dalam tapak proyek.

Luas lahan penduduk yang terkena pelebaran jalan dan saluran.

Keluhan yang terjadi dimasyarakat tentang proses penetapan lokasi yang terkena patok proyek.

Sepanjang kiri-kanan rencana pembuatan saluran drainase jalan.

Terhadap jumlah KK dan luas lahan yang terkena pelebaran jalan dan saluran drainase jalan, senantiasa di sosialisasikan.

Sosialisasi secara kontinue tentang penetapan lokasi lahan dan pemasangan patok batas yang permanen. Penerimaan Tenaga Kerja Konstruksi Timbulnya persepsi masyarakat yang tidak mendapat kesempatan kerja, yang menimbulkan kecemburuan sosial antara tenaga kerja tingkat menengah dan buruh, yang berjumlah lebih dari 100 orang. Lapangan pekerjaan, interaksi sosial Terhadap masyarakat sekitar lokasi kegiatan yang belum

berkesempatan ikut bekerja dalam proyek

Desa – Desa yang terlewati, di wilayah Kecamatan.

Penerimaan tenaga kerja rata-rata dari penduduk sekitar, sebagian dari luar kota Palu, hampir 80% pekerja berasal dari tenaga lokal.

Terdatanya pekerja lokal dan pendatang dengan strata keahlian dan pendidikannya.

Pembuatan dan pengoperasian base camp/barak pekerja dan AMP

Peningkatan kebisingan, kemacetan lalu lintas, penurunan kualitas udara dan pencemaran. Dimana terjadi

Kebisingan <78 dBA, kemacetan lalu – lintas pada lintasan jalan arah ke Base Camp, Pencemaran air Meningkatnya kebisingan dan terjadinya gangguan lalu-lintas serta pencemaran air permukaan dari

Lokasi Base Camp kontraktor pelaksana kegiatan.

Lokasi base camp yang jauh dari

pemukiman penduduk sekitar proyek, memudahkan dalam manuver kerndaraan keluar masuk proyek.

Lokasi pembuangan air limbah domestik dibuat tertutup, menghindari

berkebangnta vektor pembawa penyakit (lalat).

(38)

Dokumen Pelaksanaan RKL & RPL Rekonstruksi & Rehabilitasi Jalan Tompe – Kota Palu - Surumana Page 31

timbulan sampah domestik dapat mencapai 60 kg/hari serta kadar debu <25 ppm. permukaan dan limbah domestik sampah yang mencapai 60 kg/hari.

hasil buangan ari bekas cucian, juga timbulan sampah domestik hasil buangan penghuni Base Camp.

Buangan limbah domestik cair yang diresapkan di kubangan dapat menyebabkan berkembang biaknya lalat.

Akses jalan keluar masuk pagar agar menggunakan lampur rotaru warna kuning agar terlihat oleh pengguna jalan.

Mobilisasi peralatan kerja proyek

Gangguan arus lalu – lintas, pada simpang jalan menyebabkan antrian mencapai 30 meter, kebisingan yang terjadi <78 dBA

Jumlah kendaraan yang mengalami antrian saat pergerakan kendaraan proyek, dan lamanya antrian berlangsung yang melebihi 30 menit. Kuaslitas udara disekitar lokasi pekerjaan mengalami penurunan dengan meningkatnya kadar debu. Sepanjang lokasi pekerjaan 55,11 km. Desa – Desa yang terlewati, di wilayah Kecamatan..

Pengaturan kendaraan proyek dan peralatan kerja dilapangan dibantu oleh pekerja pengatur lalu lintas khusus dan dilengkapi rambu dan pakaian pengenal (APD).

Penambahan jumlah pekerja pengatur lalu lintas kendaraan proyek dan ketaatan pekerja dalam menggunakan APD serta alat komunikasi khusus untuk pekerja pengatur lalu lintas proyek.

Jalan Akses dari lokasi Quarry ke lokasi proyek

Peningkatan kadar debu <25 ppm dan kebisingan <78 dBA serta gangguan arus lalu-lintas.

Kadar debu <25 ppm, kebisingan mencapai <98,67 dBA serta

gangguan arus lalu lintas CO sebesar 115,5 ppm, masih di bawah ambang batas, debu 68,6 ppm juga masih di bawah ambang batas ( 230 ppm ). Sepanjang lokasi pekerjaan 55,11 km. Desa – Desa yang terlewati, di wilayah Kecamatan

Pengaturan waktu pengangkutan material dari sumber quarry, menempatkan pekerja pengaturan lalu limtas di akses jalan, dan penyiraman badan jalan.

Pekerjaan

pengangkutan quarry pada jam malam hari di atas jam 20.00 WITA, penyiramana dilakukan minimal 3 kali dalam sehari.

Pembersihan Tapak Proyek, Pengupasan Lapisan aspalt lama. Peningkatan kebisingan<78 dBA, gangguan arus lalu-lintas dan debu <25 ppm, gangguan arus lalu – lintas yang dapat menyebabkan antrian mencapai 30 meter. Kadar debu <25 ppm, kebisingan mencapai <98,67 dBA serta

gangguan arus lalu lintas serta waktu antrian kendaraan proyek. CO sebesar 115,5 ppm, masih di bawah ambang batas, debu 68,6 ppm juga masih di bawah ambang batas ( 230 ppm ). Sepanjang lokasi pekerjaan 55,11 km. Desa – Desa yang terlewati, di wilayah Kecamatan.

Pengupasan lapisan aspal yang rusak akibat lequifaksi dan gempa, menyebabkan debu dan gangguan lalu lintas serta rawan kecelakaan.

Melakukan penyiraman secara berkala pagi dan sore ditambah siang hari sehingga dapat membantu munculnya debu saat pekerjaan tersebut dilakukan.

Sosialisasi kepada masyarakat senantiasa dilakukan sehingga

(39)

Dokumen Pelaksanaan RKL & RPL Rekonstruksi & Rehabilitasi Jalan Tompe – Kota Palu - Surumana Page 32 masyarakat yang

berdagang makanan dapat terhindar dari dampak debu.

Pekerjaan galian dan timbunan

Terjadinya kebisingan, gangguan arus lalu-lintas dan peningkatan kadar debu serta terjadinya kecelakaan . Kadar debu <25 ppm, kebisingan mencapai <98,67 dBA serta

gangguan arus lalu lintas serta waktu antrian kendaraan proyek. CO sebesar 115,5 ppm, masih di bawah ambang batas, debu 68,6 ppm juga masih di bawah ambang batas ( 230 ppm ). Sepanjang lokasi pekerjaan 55,11 km. Desa – Desa yang terlewati, di wilayah Kecamatan..

Pengupasan lapisan aspal yang rusak akibat lequifaksi dan gempa, menyebabkan debu dan gangguan lalu lintas serta rawan kecelakaan.

Melakukan penyiraman secara berkala pagi dan sore ditambah siang hari sehingga dapat membantu munculnya debu saat pekerjaan tersebut dilakukan. Sosialisasi kepada masyarakat senantiasa dilakukan sehingga masyarakat yang berdagang makanan dapat terhindar dari dampak debu. Penghamparan material timbunan pilihan dan penghamparan material agregat. Terjadinya kebisingan, gangguan lalu-lintas, getaran dan peningkatan kadar debu. Peningkatan kebisingan<78 dBA, gangguan arus lalu-lintas dan debu <25 ppm, gangguan arus lalu – lintas yang dapat menyebabkan antrian mencapai 30 meter. Kuaslitas udara disekitar lokasi pekerjaan mengalami penurunan dengan meningkatnya kadar debu. Sepanjang lokasi pekerjaan 55,11 km. Desa – Desa yang terlewati, di wilayah Kecamatan.

Pengupasan lapisan aspal yang rusak akibat lequifaksi dan gempa, menyebabkan debu dan gangguan lalu lintas serta rawan kecelakaan.

Melakukan penyiraman secara berkala pagi dan sore ditambah siang hari sehingga dapat membantu munculnya debu saat pekerjaan tersebut dilakukan. Sosialisasi kepada masyarakat senantiasa dilakukan sehingga masyarakat yang berdagang makanan dapat terhindar dari dampak debu.

(40)

Dokumen Pelaksanaan RKL & RPL Rekonstruksi & Rehabilitasi Jalan Tompe – Kota Palu - Surumana Page 33 Galian Saluran Drainase Jalan Terjadinya kebisingan, gangguan lalu-lintas, getaran dan peningkatan kadar debu. Peningkatan kebisingan<78 dBA, gangguan arus lalu-lintas dan debu <25 ppm. Kuaslitas udara disekitar lokasi pekerjaan mengalami penurunan dengan meningkatnya kadar debu. Sepanjang lokasi pekerjaan 55,11 km. Desa – Desa yang terlewati, di wilayah Kecamatan.

Pengupasan lapisan aspal yang rusak akibat lequifaksi dan gempa, menyebabkan debu dan gangguan lalu lintas serta rawan kecelakaan.

Melakukan penyiraman secara berkala pagi dan sore ditambah siang hari sehingga dapat membantu munculnya debu saat pekerjaan tersebut dilakukan. Sosialisasi kepada masyarakat senantiasa dilakukan sehingga masyarakat yang berdagang makanan dapat terhindar dari dampak debu. Pekerjaan Saluran Samping (side dicth) Kebisingan, pencemaran udara akibat debu, terganggunya utilitas umum seperti PLN dan saluran irigasi, kemungkinan terjadinya kecelakaan. Peningkatan kebisingan<78 dBA, gangguan arus lalu-lintas dan debu <25 ppm. CO sebesar 115,5 ppm, masih di bawah ambang batas, debu 68,6 ppm juga masih di bawah ambang batas ( 230 ppm ). Sepanjang lokasi pekerjaan 55,11 km. Desa – Desa yang terlewati, di wilayah Kecamatan.

Pengupasan lapisan aspal yang rusak akibat lequifaksi dan gempa, menyebabkan debu dan gangguan lalu lintas serta rawan kecelakaan.

Melakukan penyiraman secara berkala pagi dan sore ditambah siang hari sehingga dapat membantu munculnya debu saat pekerjaan tersebut dilakukan. Sosialisasi kepada masyarakat senantiasa dilakukan sehingga masyarakat yang berdagang makanan dapat terhindar dari dampak debu. Demobilisasi Tenaga Kerja Konstruksi dan kendaraan konstruksi Hilangnya lapangan pekerjaan, debu dan kebisingan, timbulan sampah dan gangguan lalu – lintas. Kehilangan lapangan pekerjaan bagi para pekerja lokal lebihn kurang 100 orang.

Baku mutu tingkat kebisingan sekitar pemukiman adalah 55 dBA sehingga dilapangan sudah melebihi BM, untuk kadar debu Sepanjang lokasi pekerjaan 55,11 km. Desa – Desa yang terlewati, di wilayah Kecamatan.

Demobilisasi Tenaga Kerja baik lokal

maupun luar Kota Palu menyebabkan

kehilangan mata pencaharian, sehingg perlu dipikirkan upaya

Melaksanakan sosialisasi kepada masyarakat melalui kantor kelurahan maupun kecamatan tentang proses demobilisasi tenaga

(41)

Dokumen Pelaksanaan RKL & RPL Rekonstruksi & Rehabilitasi Jalan Tompe – Kota Palu - Surumana Page 34 Terjadi kebisingan mencapai 68,7 dBA dan penyebaran debu dengan hasil laboratorium mencapai 98,67 ppm. kebisingan serta parameter lainnya masih di bawah BM. penerimaan tenaga kerja di sektor lainnya. Untuk angkutan alat kerja dan kendaraan kerja diperlukan tempat parkir sementara di lokasi base camp, sehingga kontrak lahan base camp bisa

diperpanjang untuk sampai selesai proses demobilisasi.

kerja dan peralatan kerja. II. Operasional Pengoperasian Ruas Jalan Tompe – Kota Palu - Surumana Kecelakaan lalu – lintas yang terjadi diperkirakan

mencapai lebih dari 15 kali per tahun.

Jumlah kejadian kecelakaan dalam 1 bulan selama periode Januari-Juni 2020. Kecepatan kendaraan disarankan serta tonase kendaraan yang dibatasi. Sepanjang lokasi pekerjaan 55,11 km. Desa – Desa yang terlewati, di wilayah Kecamatan.

Pada saat operasional jalan dilaksanakan maka harus didukung oleh kondisi rambu serta aparat terkait tepenuhi juga, guna menghindari terjadinya kemacetan dan kelebihan muatan serta kecelakaan. Melakukan sosialisasi kepada pengguna jalan melalui rambu serta baliho yang menghimbau kepada pengguna jalan terkait persyaratan kecepatan kendaraan dan

kepatuhan, yang dilakukan oleh Pemrakarsa Dinas Bina Marga Dan Penataan Ruang Provinsi Sulawesi Tengah dan dibantu opeh instansi lain seperti Kepolisian juga Dinas Perhubungan.

Pemeliharaan Ruas Jalan

Kecelakaan lalu – lintas yang terjadi diperkirakan

mencapai lebih dari 15 kali per tahun

Periode

pemeliharaan jalan serta kerusakan badan jalan dan peralatan pendukungnya.

Musim penghujan dan atau musim kemarau dimasa badan jalan sering mengalami kerusakan akibat

Sepanjang lokasi pekerjaan jalan dan jembatan km.

Desa dan, Kecamatan yang terlintasi jalan.

Pemeliharaan jalan secara berkala dimana sifatnya berupa program maupun situasional, mengingat pasca gempa yang

Menghimbau kepada pemrakarsa agar senantiasa melakukan perbaikan cepat pada daerah-daerah badan jalan yang mengalami

(42)

Dokumen Pelaksanaan RKL & RPL Rekonstruksi & Rehabilitasi Jalan Tompe – Kota Palu - Surumana Page 35

dan kemacetan lalu longsor atau

pengelupasan aspal.

terjadi, banyak lokasi jalan akses ke kampung-kampung yang belum tertangani.

kerusakan, tanpa menunggu anggaran tahunan.

(43)

Dokumen Pelaksanaan RKL & RPL Rekonstruksi & Rehabilitasi Jalan Tompe – Kota Palu - Surumana Page 36 Gambar. 6. Peta Lokasi Titik Sampling Dan Pengelolaan & Pemantauan Lingkungan

(44)

Dokumen Pelaksanaan RKL & RPL Rekonstruksi & Rehabilitasi Jalan Tompe – Kota Palu - Surumana 37 2.2. Evaluasi

Peristiwa liquefaksi adalah perilaku tanah di bawah beban siklik yang terjadi akibat beban siklik yang singkat, massa tanah tiba-tiba mengalami transisi dari keadaan padat ke keadaan cair atau memiliki konsistensi utama seperti cairan. Peristiwa likuifaksi saat gempa dapat ditandai dengan adanya pergerakan tanah dalam arah horizontal, rembesan air keluar dari rekahan tanah, bergeraknya bangunan miring atau turun, penurunan muka tanah, serta terjadinya longsor pada tanggul dan lereng. Pada bangunan yang berada pada daerah terlikuifaksi dapat berakibat terjadinya amblas, miring atau bergerak ke samping atau bahkan mengakibatkan keruntuhan bangunan tersebut. Dari sejumlah catatan kejadian yang telah lalu, diketahui bahwa peristiwa likuifaksi lebih berpotensi terjadi pada konsistensi tanah granular jenuh yang lepas dengan sifat drainase didalam tanah yang jelek. Deposit tanah yang berpotensi terlikuifaksi pada saat terjadinya gempa adalah pasir halus, pasir berlumpur dan pasir biasa. Apabila beban siklik terjadi seperti saat gempa bumi, pasir lepas cenderung pengalami penurunan volume, hal ini mengakibatkan terjadinya peningkatan tekanan air pori dan penurunan kekuatan geser effektif tanah. Pada saat itu pula tegangan dalam elemen tanah meningkat. Untuk waktu yang singkat, peningkatan tegangan dalam elemen tanah terjadi dalam bentuk tekanan pori, sedangkan tegangan efektif antara partikel tanah relatif tetap. Peningkatan tegangan sesaat ini, pada deposit berpasir yang sangat permeabel, akan ditransfer langsung ke tegangan efektif antara partikel. Namun untuk tanah berpasir yang semi-permeable, seperti pasir berlumpur dan pasir halus, waktu terjadinya peningkatan tekanan pori sangat pendek dibandingkan dengan waktu yang dibutuhkan untuk mentransfer kedalam bentuk tegangan effektif partikel-partikel tanah. Jika peningkatan tekanan pori lebih besat dibandingkan tegangan efektif butiran tanah, maka tanah akan berperilaku sebagai mana cairan.

2.2.1. Evaluasi Kecenderungan

Perubahan kualitas lingkungan yang terjadi pada lokasi wilayah proyek ruas jalan Tompe – Kota Palu - Surumana, tidak terlalu menonjol, mengingat pada saat setelah kejadian gempa penduduk yang masih ada pada lokasi kegiatan hanya sedikit, sehingga secara fisik kualitas udara, kebisingan, kemacetan lalu lintas serta pencemaran akibat domestik dan buangan sampah domestik tidak banyak terdapat dilokasi kegiatan. Keadaan ini membuat kondisi kualitas liengkungan menjadi lebih baik dan udara masih terasa segar. Namun demikian, dengan berangsurnya pemulihan sarana prasarana baik jalan maupun

(45)

Dokumen Pelaksanaan RKL & RPL Rekonstruksi & Rehabilitasi Jalan Tompe – Kota Palu - Surumana 38 perumahan, membuat pergerakan orang dan barang kembali ke lokasi wilayah proyek berangsur – angsur semakin ramai, sehingga pengelolaan sarana dan prasarana jalan serta sanitasi lingkungan dan air bersih sudah harus di antisipasi.

2.2.2. Evaluasi Tingkat Kritis

Pada saat pekerjaan konstruksi, mulai dari persiapan sampai dengan penyelesaian nanti, dampak yang perlu dicermati adalah dampak negatif pada kondisi sanitasi ( sampah padat, air limbah domestik dan MCK), disamping ketertiban berlalu lintas sehingga dapat menghindari terjadinya kecelakaan, pemulihan wilayah dengan sendirinya meningkatkan jumlah pemakai kendaraan baik roda dua maupun roda empat ke wilayah proyek, sehingga pengelolaan terhadap keamanan berlalu – lintas menjadi penting.

2.2.3. Evaluasi Penataan

Pemrakarsa kegiatan dalam hal ini Balai Pelaksana Jalan Nasional XIV Palu Provinsi Sulawesi Tengah, telah dan tengah melaksanakan pelaporan pengelolaan dan pemantauan lingkungan mencakup kondisi lingkungan fisika – kimia, sosial ekonomi budaya serta kesehatan masyarakat dan keamanan serta ketertiban lingkungan. Secara konprehensip hal tersebut dilakukan dengan pelibatan instansi terkait, kontraktor serta konsultan.

Peningkatan dan kelengkapan yang harus juga dilakukan adalah melakukan pembaharuan dokumen dengan memulai lagi membuat pelaporan pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan setiap semester dan setiap ada kegiatan pada ruas jalan dimaksud, pelaporan lingkungan hidup dapat berupa Surat Pernyataan Pengelolaan Lingkungan (SPPL) dari pihak pemrakarsa dan juga bisa berupa pembuatan dokumen pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan ( Pelaksanaan RKL & RPL ).

(46)

Dokumen Pelaksanaan RKL & RPL Rekonstruksi & Rehabilitasi Jalan Tompe – Kota Palu - Surumana 39

BAB.III

KESIMPULAN

3.1. Umum

Dampak lingkungan menurut uuplh no. 23 tahu 1997, perubahan lingkungan oleh suatu kegiatan, baik kegiatan yang bersifat alamiah maupun kegiatan yang dilakukan manusia. Dampak lingkungan bisa positif maupun negatif.

Batasan dampak lingkungan di dalam analisis dampak lingkungan : perbedaan antara kondisi lingkungan yang diperkiraan akan ada tanpa adanya pembangunan dan yang diperkirakan akan ada dengan adanya pembangunan. Dengan batasan tersebut maka dampak yang disebabkan oleh aktivitas lain di luar pembangunan, baik alamiah maupun oleh manusia, tidak ikut diperhitungkan dalam perkiraan dampak.

Dampak lingkungan bersifat berkesinambungan artinya dari satu dampak akan menyebabkan dampak lain kalau tidak segera ditanggulangi.

Perencanaan manajemen lingkungan hidup ruas jalan Tompe – Kota Palu - Surumana telah tersusun. Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) tahap konstruksi sampai tahap operasional dapat dilihat pada tabel pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup.

Berikut ini adalah kesimpulan dari hasil analisis dan penyusunan dokumen UKL-UPL: a. Peruntukan lokasi ruas jalan Tompe – Kota Palu - Surumana sepanjang 55,11 km

sudah sesuai dengan tata ruang kawasan provinsi, dimana ruas-ruas jalan yang direhabilitasi dan rekonstruksi, merupakan kawasan peruntukan permukiman perkotaan dan jalur pariwisata.

b. Lebar dan panjang jalan, yang rencana dibangun sudah memenuhi aspek legal dimana pihak pemrakarsa sudah mempertimbangkan aspek lingkungan hidup baik tata hijau maupun saluran drainase hujan dan sanitasi lingkungan serta keselamatan berlalu-lintas.

c. Kondisi air dan udara pada tapak proyek dan wilayah sekitarnya tidak ada yang melapaui baku mutu yang telah ditetapkan, sehingga tidak ada pengelolaan lebih lanjut pada masa pra konstruksi.

d. Total panjang ruas jalan Tompe – Kota Palu - Surumana adalah sepanjang 55,11 Km, dengan lebar jalan 12 meter, terdiri dari 7 meter badan jalan, 2 meter bahu jalan da 3 meter untuk drainase.

(47)

Dokumen Pelaksanaan RKL & RPL Rekonstruksi & Rehabilitasi Jalan Tompe – Kota Palu - Surumana 40 e. Jumlah karyawan kontraktor dan AMP untuk pekerjaan ini kurang lebih 270 orang, dari tenaga kasar sampai dengan manager proyek yang berasal dari tenaga lokal dan tenaga pendatang, dimana sebagian besar tenaga konstruksi ditempatkan dalam lokasi base camp, baik untuk base camp kontraktor maupun base camp AMP.

f. Timbulan limbah cair, emisi, dan sampah sudah dapat diprediksi, dikelola dan dipantau dengan baik. Analisis timbulan limba cair, emisi, dan sampah.

g. Perencanaan pengelolaan sanitasi sudah direncanakan sesuai dengan ketentuan regulasi yang berlaku serta hasil perhitungan kapasitas limbah cair yang ditimbulkan. h. Analisis bahaya K3 sudah dibuat dan bentuk penanggulan serta pengendalian sudah

direncanakan.

i. Dalam kajian arus lalu lintas, ada rekomendasi khusus terkait arus lalu lintas di ruas jalan ini pada tahap konstruksi dan operasional, yaitu pada saat malam hari rambu bisa terlihat dengan bahan yang terang bila tersorot lampu.

j. Pengelolaan tanaman/pohon sekitar jalan yang terkena pembebasan untuk selanjutnya dilakukan penanaman/penghijauan kembali (landscape dan penataan tanaman).

k. Ruang parkir yang direncanakan sudah memenuhi regulasi yang berlaku dan mencukupi baik untuk di base camp kontraktor maupun di lokasi AMP.

3.2. Tanda Tangan Dan Cap Pemrakarsa

Demikian Laporan ini kami sampaikan, atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

Gambar

Gambar 5. Street Map Penanganan Dan Perkerasan Jalan
Tabel 2. Item Pekerjaan Yang Dilaksanakan

Referensi

Dokumen terkait

8) Aspek kekonsistenan. Dalam aspek kekonsistenan yang meliputi 2 indikator menunjukkan bahwa tidak memerlukan revisi karena hasil dari penilaian validator menunjukkan

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa agama adalah suatu ajaran yang sudah ada sejak dahulu, diwarisi secara turun temurun yang berfungsi sebagai pegangan dan pedomana hidup

Walaki sebenarnya wadah luka sanggup hilang secara sendirinya, namun beberapa orang mengaku terganggu konsekuensi keberadaan bekas luka tersebut, khususnya untuk kamu yang

Dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2000 tentang Pembentukan Provinsi Banten, maka Pemerintah Provinsi Banten melalui Badan Koordinasi Penanaman Modal

Untuk memenuhi tenaga kerja yang terampil, maupun keahlian mengenai pekerjaan dalam skala besar, sekarang ini sudah waktunya menerapkan suatu bentuk pendidikan dengan

Dari Ibnu Abbas radhiyallahuanhu, dia berkata bahwa telah terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah SAW. Maka Rasulullah SAW melakukan shalat bersama-sama dengan orang

(4) untuk memperoleh dukungan suara karena para politisi beranggapan dapat menyelamatkan PHK tenaga kerja, dengan membantu perusahaan yang hampir runtuh untuk tetap dapat bertahan

Hasil uji statistik menunjukkan bahwa perlakuan kompos tandan kosong sawit (TKS) berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi bibit, bobot basah dan bobot kering akar pada umur 12