BAB V
KESIMPULAN
5.1. KesimpulanTemuan dan analisis pada pengamatan wilayah studi kasus mengenai pola adaptasi kegiatan kepariwisataan pada kawasan wisata gunungapi, telah menjawab mengenai hal-hal penting yang menjadi pertanyaan penelitian. Aspek penting dari kegiatan kepariwisataan pada kawasan wisata gunungapi Merapi dalam menghadapi bencana ini diperoleh melalui studi pustaka, tinjauan perundang-undangan yang relevan dan hasil pengamatan di lapangan. Berdasarkan hal tersebut maka hasil penelitiannya antara lain sebagai berikut:
5.1.1. Peluang Pemanfaatan Kegiatan Kepariwisataan Yang Dapat Dikembangkan di Kawasan Lereng Merapi Berdasarkan Kondisi Eksisting di Lapangan dan Persepsi Stakeholder
Berdasarkan analisis di lapangan dan persepsi stakeholder terhadap peluang pemanfaatan ruang dalam kegiatan kepariwisataan adalah:
a. Mengatur pemanfaatan lahan di Kawasan Rawan Bencana sesuai peraturan peruntukkan yang berlaku;
b. Melestarikan artefak-artefak kerusakan akibat erupsi 2010 sebagai pembelajaran dan sarana pariwisata bagi masyarakat; c. Memanfaatkan momentum lelehnya aliran lahar sebagai
penawaran atraksi wisata yang menarik bagi wisata minat khusus;
d. Perencanaan Early Warning System(mitigasi dan evakuasi) yang terpadu dan menyeluruh di kawasan rawan bencana Merapi ini untuk kepentingan wisatawan khususnya dan masyarakat secara umum;
e. Moment erupsi Merapi 2010 diantisipasi warga masyarakat sebagai gairah dalam memulihkan roda perekonomian;
f. Proses sosialisasi dan adaptasi mengenai pemanfaatan lahan di kawasan rawan bencana perlu terus dilakukan secara berkala;
g. Pengelolaan yang diserahkan sepenuhnya kepada desa-desa sekitar kawasan erupsi dalam memanfaatkan lahan sebagai kegiatan kepariwisataan perlu untuk di evaluasi secara berkala dan dimonitor oleh Dinas Pariwisata;
h. Jika terjadi kecelakaan terhadap wisatawan maupun pelaku wisata lain pada saat kegiatan kepariwisataan terdapat jaminan asuransi dari Dinas Pariwisata;
i. Sinergi yang menyeluruh dari berbagai kalangan (baik pemerintah, pelaku industri pariwisata dan masyarakat maupun kelompok-kelompok kerja yang peduli akan berlangsungnya penghidupan di Merapi) untuk menjadikan bencana erupsi ini sebagai sumber kehidupan yang menjanjikan sehingga tercapai masyarakat yang sejahtera, terutama masyarakat pelaku wisata di sekitar Merapi.
5.1.2. a. Sebaran Potensi dan Resiko Bencana di Gunung Merapi Berdasarkan analisis yang berbasis dari dampak yang terjadi pada bencana primer maupun bencana sekunder, potensi dan resikonyadapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 18 Potensi Serta Resiko Bencana Primer dan Bencana Sekunder Pada Kegiatan Wisata di Kawasan Gunung Merapi
Wisata Alam Wisata Budaya Wisata Khusus Bencana Primer -Kegiatan wisata relatif terhenti, kecuali bagi wisatawan minat khusus; - Sepanjang kegiatan wisata bukan di KRB II dan III tidak berbahaya;
- Sepanjang kegiatan wisata bukan di KRB II dan III tidak berbahaya; Bencana
Sekunder
-Pada saat musim hujan, dianjurkan untuk berhenti dahulu bagi keseluruhan kegiatan wisata. - Bagi kegiatan wisatatidak berbahaya, dan dapat dilakukan sepanjang tahun, asal bukan di Daerah Aliran Sungai (DAS) - Secara umum pada wisata khusus ini tidak mengalami pengaruh dari adanya bencana sekunder, karena letak lokasinya. Sumber: Analisis Penulis, 2013
Sedangkan berdasarkan analisis potensi dan resiko bencana erupsi Merapi karena perbedaan antara musim panas dan musim hujan, beberapa jalur kelompok wisata yang dapat ditawarkan saat musim hujan (November-Mei),antara lain:
1. Lokasi-lokasi desa-desa wisata di lereng Merapi; dan 2. Agrowisata salak pondoh.
Sedangkan kelompok yang dapat dikunjungi pada saat musim panas (Juni-Oktober), yaitu:
1. Kelompok lokasi wisata yang dapat dikunjungi pada saat terdapat event-event khusus;
2. Kelompok lokasi wisata yang dianjurkan dapat dikunjungi pada saat musim panas/kemarau (Juni-Oktober);
3. Kelompok lokasi wisata yang dianjurkan dapat dikunjungi sepanjang tahun;
4. Kelompok lokasi wisata yang dapat dikunjungi pada saat liburan anak-anak sekolah;
b. Sebaran Potensi dan Peluang Kepariwisataan Terhadap Wilayah dan Resiko Bencana Merapi
Peluang pemanfaatan ruang dalam kegiatan kepariwisataan berdasarkan basis potensi, antara lain:
1. Wisata Alam: jelajah alam, viewing panorama, melihat aliran lahar, melihat keanekaragaman flora fauna, hiking, outbond. 2. Wisata Budaya: jelajah wisata pedesaan, memancing, kemah,
bertani, membatik, karawitan, outbond-inbond, napak tilas ke desa-desa yang terkena dampak erupsi dan penuturan sejarah eruipsi, mengikuti kehidupan tradisional masyarakat desa lereng Merapi serta kearifan lokalnya dengan beberapa hari menginap di rumah salah satu penduduk desa;
3. Wisata Khusus: viewing panorama, berenang, learning history (penuturan sejarah).
Sedangkan peluang pemanfaatan kegiatan pariwisata berdasarkan sebaran lokasi-lokasi potensial yang memiliki peluang untuk berkembang di kawasan rawan bencana gunung Merapi dikelompokkan berdasarkan Peta Rekomendasi dari PVMBG mengenai Area Terdampak Erupsi Gunungapi Merapi, dan dihasilkan kelompok-kelompoknya sesuai cakupan radius Kawasan Rawan Bencana (KRB) dengan beberapa tema pengembangan, diantaranya adalah:
1. Zona Wisata A–Wisata Jelajah Erupsi;
2. Zona Wisata B - Wisata Petualangan – Wisata Ekstrim Menantang Bahaya;
3. Zona Wisata C -Wisata Ekologi - Wisata Pendidikan; 4. Zona Wisata D -Wisata Budaya - Wisata Desa; 5. Zona Wisata E-Wisata Agro – Wisata Desa; 6. Zona Wisata F -Wisata Agro;
7. Zona Wisata G - Wisata Agro – Wisata Desa; 8. Zona Wisata H– Wisata Olahraga.
5.1.3. Pola Adaptasi Kegiatan Kepariwisataan Terkait dengan Potensi dan Resiko Bencana di Gunungapi Merapi
Pola Adaptasi Kegiatan Kepariwisataan berdasarkan pengelompokkan zona wisata dan titik-titik penghubungnya di gunung Merapi menghasilkan titik hub dan entry point,diantaranya adalah:
1. Titik Hub Utama berada di perempatan Pakem; 2. Titik Hub Alternatif berada di Bangunkerto;
3. Titik Entry Point I berada di Kecamatan Hargobinangun; 4. Titik Entry Point II berada di Kecamatan Cangkringan.
Sedangkan berdasarkan dari pembagian beberapa zona wisata yang disesuaikan dengan tema pengembangannya, menghasilkan jalur-jalur wisata yang dapat diperkenalkan kepada wisatawan untuk mengantisipasi jika salahsatu tidak diperkenankan untuk dikunjungi. Adapun jalur-jalur wisata itu antara lain:
a. Jalur 1: Hub Utama Zona D Entry Point 1 Zona C Zona B;
b. Jalur 2: Hub Utama Zona D Entry Point 1 Zona A; c. Jalur 3: Hub Utama Zona D Entry Point 1Zona
CZona E;
d. Jalur 4: Hub Utama Zona G Zona F atau dari Hub Alternatif Zona F Zona G;
e. Jalur 5: Hub Utama/ Entry Point II Zona H.
Dengan sistem pengelompokkan dan pendistribusian wisatawan dengan pembentukan jalur-jalur wisata melalui penawaran wisata terlebih dahulu ini, diharapkan akan memudahkan dalam pendataan, kerapihan distribusi dan koordinasi penawaran paket wisata di lokasi-lokasi wisata potensial antar hub dan entry point, serta mengenalkan beberapa lokasi yang belum diketahui dengan baik oleh wisatawan.
5.1.4. Variabel Pola Keruangan Yang Adaptif dan Antisipatif Terhadap Tingkat Kerentanan Bencana Gunungapi Merapi
Berdasarkan analisis Peluang Pemanfaatan Kegiatan Kepariwisataan, analisis Potensi dan Resiko, serta analisis Pola Adaptasi. Variabel yang muncul terhadap pola keruangan yang adaptif dan antisipatif di Kawasan Rawan Bencana Merapi antara lain:
1. Pembagian delapan zona wisata;
2. Pengembangan tema pada tiap zona wisata; 3. Pembentukkan hub dan entry point;
5.1.5. Rekomendasi
a. Arahan/Rekomendasi Untuk Mewujudkan Kawasan Pariwisata Gunungapi Merapi Tanggap Bencana (Tabel 19)
Berdasarkan hasil kesimpulan analisa pemanfaatan kegiatan kepariwisataan di kawasan wisata terhadap bencana di gunungapi tersebut, dan menjawab pertanyaan penelitian ini maka dalam upaya mewujudkan kawasan pariwisata gunungapi yang tanggap bencana diperlukan, antara lain dapat dilihat pada Tabel 19 sebagai berikut:
No Substansi Arahan/ Rekomendasi Mewujudkan
Kawasan Pariwisata Gunungapi Tanggap Bencana A. Kepariwisataan
1 Penataan Kawasan Wisata Mengatur kondisi/fungsi, jarak, skala layanan, lokasi bagi penunjang kegiatan wisata di Kawasan Rawan Bencana:
- Zona KRB III hendaknya kembali pada ketetapannya yaitu sebagai kawasan wisata alam.
- Zona KRB II digunakan untuk pembangunan fasilitas-fasilitas pendukung.
-Zona antara II ke III digunakan sebagai gatepintu masuk (ticketing)
2 Konsep Produk Pariwisata Pengenalan produk wisata yang berbasis alam pada Kawasan Rawan
Bencana gunung Merapi dengan pengenalan wisata budaya masyarakat (desa-desa wisata) dan pengenalan museum di sekitarnya sebagai kelengkapannya.
3 Kuantitas dan kualitas amenitas - Untuk memaksimalkan fasilitas pendukung wisata bagi pengunjung kawasan (amenitas), maka perletakkannya yaitu disesuaikan
kembali dengan ketetapan yang berlaku mengenai pemanfaatan dan peruntukan ruang. Dimana pada KRB III sebagai kawasan yang bebas akan berbagai fasilitas permanen.
- Ketetapan diatas sekaligus memudahkan pemangku kepentingan untuk mengarahkan pelaku-pelaku wisata dalam membangun
bangunan di KRB II.
4 Kuantitas dan kualitas aksesibilitas - Perbaikan akses jalur utama sekaligus sebagai jalan evakuasi dapat memudahkan masyarakat maupun pengunjung untuk segera
menemukan akses dimana kendaraan dapat melaluinya pada saat-saat terjadi indikasi bahaya erupsi.
- Pada lokasi-lokasi yang sudah tertimbun material erupsi sehingga akses tertutup, tidak memerlukan perbaikan karena justru akan menambah kesan bagi pengunjung ketika melaluinya. Sekaligus turut memberi manfaat kepada masyarakat yang mengelola jasa sewa motor trail sebagai salahsatu produk atraksi baru.
B1. Strategi Pengembangan Produk
1 Daya Tarik Motivasi, minat:
- Pada adventourism:sesuai data pengunjung sangat banyak yang berminat pada kegiatan-kegiatan adventurer yang cenderung menantang bahaya.Salahsatunya yaitu keinginan wisman untuk melihat langsung siklus lelehan lava. Sehingga perlu kecermatan dalam melihat siklus/periode lelehan lava. Karenaini sebagai
informasi yang akurat bagi special interest tourist (wisatawan minat khusus) untuk berkunjung dan datang ke Merapi.
-Pada passive tourism:beberapa kawasan wisata lain yang sudah berkembang, seperti: desa wisata, kawasan Kaliurang, museum-museum dapat berjalan beriringan untuk berkembang bersama berkembangnya minat pada hard tourism yang sedang banyak diminati.
2 Fasilitas (Jenis/fungsi, skala layanan, daya tampung, luasan, jarak, lokasi, konsep desain) a. Fungsi bangunan terkait amenitas
kepariwisataan.
- Peletakkan fungsi bangunan disesuaikan dengan konsep plotting (peruntukkan lahan) di kawasan rawan bencana.
- Keseluruhan detil desain pendukung amenitas pariwisata bertemakan wisata di kawasan bencana gunung berapi.
kepariwisataan. memenuhi standar fasilitas umum, karena banyak dari pelaku wisata terutama wisatawan berasal dari negara-negara maju yangterbiasa dengan fasilitas yang nyaman dan memadai.
Perihal fasilitas pendukung ini sering alpa diperhatikan dengan sungguh-sungguh oleh pemangku kepentingan baik pemerintah atau pelaku bisnis wisata. Harapannya dengan tersedianya berbagai fasilitas yang nyaman ini, akan mengundang banyak investor untuk menanamkan modalnya demi kemajuan pengembangan kegiatan wisata di lereng gunung Merapi.
c. Bangunan berwawasan lingkungan sekitar.
Penampilan bangunan disesuaikan dengan gaya/langgam arsitektur bangunan lokal setempat (bangunan Jawa yaitu: joglo atau limasan). 3 Akses
a. Sarana Intensitas jarak, daya tampung, luasan yang mendukung kualitas
kegiatan wisata.
b. Non Sarana kesiapan lingkungan dalam pelayanan, kenangan wisatawan,
keterlibatan staf pendukung dalam proses pembentukan produk wisata.
B2. Strategi Pengembangan Keruangan
1 Zonasi/peruntukan ruang Jenis/fungsi, struktur, konstruksi, jarak a. Perencanaan ruang terbuka sebagai
fasilitas evakuasi.
- Selain digunakan sebagai tempat evakuasi pada saat genting bencana, ruang-ruang terbuka ini dapat digunakan juga sebagai ruang untuk kegiatan wisata pada hari-hari biasa.
- Peletakkannya disosialisasikan di berbagai tempat strategis, termasuk di titik-titik potensial yang banyak dikunjungi wisatawan. b. Fasilitas pendukung tempat evakuasi. Jumlah, daya tampung, serta luasan disesuaikan dengan asumsi
banyaknya warga yang dievakuasi. Sehingga walaupun sebagai tempat bernaung sementara, tetapi dapat memberi pelayanan yang memadai pada saat bencana terjadi.
c. Fungsi ganda antara fasilitas pariwisata dan mitigasi bencana.
Seperti pada perencanaan ruang terbuka yang berfungsi ganda, selain sebagai tempat evakuasi dan pariwisata, fasilitas pariwisata
diharapkan dapat digunakan juga seperti konsep adanya ruang terbuka. Sehingga berdirinya bangunan pendukung kegiatan pariwisata ini tidak hanya digunakan pada waktu bencana saja.
2 Kegiatan Lapangan
a. Mitigasi Alam/ tipologi alam pegunungan
Tipologi alam pegunungan (tebing, luasan tebing, kontur, vegetasi, lokasi ancaman)
• Pengenalan tipologi Alam Kawasan. Sebagai tambahan produk atraksi yang merupakan pengetahuan untuk pengunjung mengenai kebencanaan kegunungapian yang diakibatkan oleh kondisi alam.
• Karakteristik masing-masing tipologi alam
Masing-masing karakteristik alam di lereng pegunungan dapat dijadikan produk atraksi non permanen sesuai dengan peraturan ketentuan peruntukan lahan.
• Lingkungan alam sebagai tempat aman.
Sebagai produk atraksi wisata secara umum, dipastikan kepada wisatawan bahwa pada waktu lingkungan alam yang ditawarkan ada pada kondisi yang aman. Kecuali pada keinginan wisatawan untuk wisata minat khusus.
• Alam sebagai atraksi. Keindahan alam pegunungan merupakan potensi alami sebagai produk wisata itu sendiri.
b. Mitigasi Buatan Mitigasi secara fisik dan non fisik
• Peraturan dan regulasi. Berbagai peraturan maupun regulasi dalam penyelenggaraan
kegiatan pariwisata di kawasan lereng Merapi secara berkala ditinjau ulang seiring dengan perkembangan kegiatan yang berlangsung. • Kelompok kerja partisipatif. Pelatihan oleh pihak-pihak yang berwenang kepada berbagai
kelompok-kelompok kerja yang muncul karena dorongan partisipatif dari berbagai kalangan lapisan masyarakat dalam penyelenggaraan kegiatan mitigasi buatan.
• Fasilitas Keamanan Dipastikan bahwa kegiatan wisata yang berlangsung didukung
fasilitas keamanan yang cukup dan memadai.
• Fasilitas Mitigasi Bencana. Tersedianya kesiapan berbagai fasilitas untuk mendukung kegiatan mitigasi bencana untuk wisatawan maupun warga sekitar.
• Fasilitas Tanggap Darurat. Tersedianya kesiapan berbagai fasilitas untuk mendukung proses tanggap darurat untuk wisatawan maupun warga sekitar.
3 Struktur Jaringan Kondisi/fungsi, jarak, skala layanan, ketinggian, lokasi
4 Peningkatan kesadaran masyarakat dan pengelola terhadap kawasan
Pengetahuan letusan gunungapi dan kawasan
a. Penguatan berkala pokja. Monitoring dan proses evaluasi yang terjadwal pada pokja-pokja yang
ada di masyarakat, harapannya dapat menambah gairah berbagai pokja dalam meningkatkan pelayanan yang baik kepada pengunjung (=wisatawan).
b. Pendidikan bencana kepada
masyarakat.
- Kejelasan informasi mengenai pengetahuan kebencanaan yang ditujukan kepada masyarakat lereng merapi khususnya dan pengunjung secara umum.
- Berbagai informasi ini disampaikan secara simultan di seluruh titik lokasi potensial yang dikunjungi wisatawan, dan merupakan hal utama pada penyelenggaraan kegiatan wisata di gunung merapi ini. c. Simulasi mitigasi bencana Sebagai salahsatu kegiatan utama dalam penyelenggaraan kegiatan
kepariwisataan di seluruh lokasi wisata gunung Merapi.
d. Sosialisasi dan penyuluhan periodik Melakukan simulasi secara periodik dengan melibatkan wisatawan-wisatawan pada jam-jam tertentu sebagai informasi, edukasi dan atraksi wisata di kawasan gunungapi Merapi.
e. Masyarakat sebagai informan wisatawan.
Penguatan partisipasi masyarakat dalam rangka membantu memberikan informasi kebencanaan kegunungapian kepada wisatawan.
5 Peningkatan kesadaran wisatawan terhadap kawasan
Pengetahuan letusan gunungapi dan kawasan.
a. Media informasi. Memperluas media penyebaran informasi selengkap-lengkapnya
mengenai kepariwisataan dengan segala potensi, masalah, kondisi dan ancaman yang berpotensi muncul dilengkapi dengan peta-peta ancaman, kerentanan dan peta resiko bencana.
rangka pemasaran wisata (selebaran, tiket, leaflet, buklet, brosur) kepada wisatawan mengenai kondisi kawasan disertai dengan peta kawasn (peta ancaman dan peta evakuasi).
c. Image sebagai kawasan wisata
tanggap bencana.
Menciptakan brand image sebagai kawasan wisata yang tanggap bencana dengan dukungan fasilitas, infrastruktur, mitigasi, keamanan dan kenyamanan yang dapat mendukung aktivitas wisata yang aman dari bencana.
d. Asuransi berwisata Melakukan penjaminan akan keamanan dan keselamatan berwisata
dari ancaman bencana, terutama kepada wisatawan-wisatawan mancanegara.
e. Simulasi Melakukan simulasi secara periodik dengan melibatkan
wisatawan-wisatawan pada jam-jam tertentu sebagai informasi, edukasi dan atraksi wisata di kawasan gunungapi Merapi.
b. Rekomendasi Arah Kebijakan, Strategi dan Indikasi Program Pengembangan Pariwisata di Kawasan Merapi (Tabel 20)
NO KEBIJAKAN ARAH STRATEGI INDIKASI PROGRAM TAHUN WILAYAH Penanggung Sektor
Jawab
Sektor/Pihak Terkait
13 14 15 16 17
1 Pelestarian
Kawasan Revitalisasi dan Rehabilitasi Kawasan
1. Review tata ruang sesuai undang-undang dan kajian yang berlaku; 2. Perencanaan kepariwisataan mengacu pada KRB dari PVMBG 3. Penerapan aturan-aturan untuk pengembangan pariwisata di kawasan rawan bencana. Semua zona wisata yang masuk dalam tema perencanaan BAPPEDA Dinas Kehutanan, masyarakat setempat, dan wisatawan
Kualitas Wisata standarisasi pengelola 2. Pengenalan wisata berbasis wisata kawasan rawan bencana gunungapi 3. Penambahan fasilitas pendukung seperti tourist information centre, souvenir shop, dst wisata yang masuk dalam tema perencanaan Dinas Pariwisata, Dinas Kehutanan Tenaga Kerja, PVMBG, usaha-usaha vulcanotour, ‘pemerhati’ Merapi, masyarakat setempat, pokja-pokja 2 Pengembangan dan Manajemen Atraksi lokal sebagai alternatif produk atraksi Divertifikasi atraksi lokal dan pengembangannya 1. Menciptakan event-event wisata baru yang sesuai dengan atraksi dan tema yang ada; 2. Penjadwalan momentum wisata dan promosi di berbagai media strategis 3. Pengembangan kemasan atraksi wisata alam dan pedesaan. 1. Kelompok Wisata Buatan 2. Kelompok Wisata Jelajah Erupsi (Baru) Dinas
Pariwisata Stakeholder (=pamong desa), Kelompok Pecinta Seni Lokal Merapi, masyarakat setempat, Pokja-pokja Merapi Identifikasi ODTW, membuat zona wisata 1.Peningkatan kualitas ODTW 2. Pengembangan simpul jejaring
(Node dan Linkage)
bagi keseluruhan ODTW Dinas Pariwisata, BAPPEDA, stakeholder Usaha wisata, masyarakat setempat Manajemen ODTW
Baru 1. Pengembangan produk wisata baru misalnya, memorial park di dusun Zona Wisata Buatan dan Zona Wisata Jelajah Dinas
Pariwisata Dinas PU, PVMBG, stakeholder, masyarakat
Kinahrejo dan dusun
Bakalan. Erupsi setempat, pokja-pokja
2.Pengembangan amenitas kawasan,
fasilitas pendukung seperti lahan parkir dan lain-lain di setiap zona yang direncanakan
KRB II dan I Dinas PU BAPPEDA,
Kimpraswil,
stakeholder
3.Pengembangan produk wisata di setiap zona /ODTW
Semua zona wisata yang masuk dalam tema perencanaan Dinas
Pariwisata Stakeholder, masyarakat setempat 3 Pengelolaan Dan Manajemen Kelembagaan Objek Yang Lebih Terpadu Menciptakan ‘gate’ (=gerbang) kawasan wisata beserta penetapan titik-titik hub serta
entry point
1.Memperjelas titik gate, hub dan entry
point.
2. ‘Gate’ sebagai ruang
‘penangkap’ dan penerima wisatawan, serta penawaran paket wisata Entry pont 1
dan 2 Dinas PU Dinas Pariwisata, Dinas Kehutanan, stakeholder. Standarisasi Pengelolaan dan Manajemen 1. Pelatihan dan sertifikasi bagi pengelola dantour guide; 2. Penawaran paket wisata yang lebih terpadu. Semua zona wisata yang masuk dalam tema perencanaan Dinas
Pariwisata Dinas Tenaga Kerja, pokja-pokja, masyarakat setempat. Pengelolaan dan Pelestarian Kawasan 1. Zona penerima sebagai kantong parkir utama; 2. Distribusi penawaran paket wisata yang merata. Entry pont 1 dan 2 serta semua zona wisata yang masuk dalam tema perencanaan Dinas PU, Dinas Pariwisata, Dinas Kehutanan Kimpraswil, masyarakat setempat