• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMAKNAAN IKLAN GERY O’DONUTS (Studi Semiologi Iklan Gery ”Versi Bulat-Bulat Ingat Gery O’Donuts” di Televisi).

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PEMAKNAAN IKLAN GERY O’DONUTS (Studi Semiologi Iklan Gery ”Versi Bulat-Bulat Ingat Gery O’Donuts” di Televisi)."

Copied!
102
0
0

Teks penuh

(1)

ADITYA SETIADI NPM. 054 3010 025

Telah dipertahankan dihadapan dan diterima oleh Tim Penguji Skripsi Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

(2)

dan karunia-Nya, sehingga Penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul PEMAKNAAN IKLAN GERY O’DONUTS (Studi Semiologi Iklan Gery Versi ”Bulat- Bulat Ingat Gery O’Donuts” di Televisi)

Penulis menyadari bahwa di dalam penyusunan skripsi ini banyak terdapat kekurangan, hal ini disebabkan sangat terbatasnya ilmu dan kurangnya pengalaman Penulis dalam penyusunan skripsi. Meskipun demikian, dalam penyusunan skripsi ini Penulis telah mendapatkan bimbingan, saran dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini pula, Penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan proposal skripsi ini, diantaranya:

1. Dra. Hj. Suparwati, MSi, selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

2. Bapak Juwito, S.Sos, MSi, Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur. 3. Bapak Drs. Saifuddin Zuhri, MSi, Dosen Pembimbing Utama Penulis yang telah

memberikan bimbingan dan saran, khususnya dalam memberikan teori.

(3)

 

6. Teman- Teman Seperjuangan yang selalu menemani dalam suka dan duka: Ary Nuryansyah E.P, Radeya Dewayana, Risky Sena F, Aris Sapta Hadi, Wiryawan Prasetyo, Charlez Febrian, Denny Dwi Alfianto, Dwi Marianto, M Catur Rahmadi dan Guzman Adiwoso.

7. Untuk semua pihak yang mendukung baik semangat maupun doa-nya yang Peneliti tidak dapat sebutkan satu per satu.

Demikian atas segala bantuan, baik moril maupun materiil yang telah diberikan, semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya. Penulis menyadari bahwa ini semua masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun

Surabaya, April 2010

(4)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI ... ii

HALAMAN PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN SKRIPSI ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR GAMBAR... vi

DAFTAR LAMPIRAN... vii

ABSTRAKSI ... viii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 8

1.3 Tujuan Penelitian ... 8

1.4 Kegunaan Penelitian ... 8

1.4.1 Kegunaan Teoritis... 8

1.4.2 Kegunaan Praktis ... 9

(5)

2.1.1 Iklan ... 10

2.1.1.1 Definisi Iklan ... 10

2.1.1.2 Manfaat Iklan... 12

2.1.1.3 Tujuan Kegiatan Periklanan ... 14

2.1.1.4 Strategi Kreatif Pesan Iklan... 15

2.1.2 Periklanan Sebagai Bentuk Komunikasi Massa ... 19

2.1.3 Iklan Televisi (TVC / Television Commercial)... 21

2.1.4 Strategi Dalam Merancang Iklan Televisi ... 24

2.1.5 Seksualitas Dalam Media Massa ... 27

2.1.5.1 Dimensi Seksualitas... 28

2.1.5.2 Identitas Seksual ... 32

2.1.5.3 Orientasi Seksual ... 34

2.1.5.4 Variasi Dalam Ekspresi Seksual... 35

2.1.6 Konsep Makna ... 35

2.1.7 Semiotika ... 39

2.1.7.1 Respon Psikologi Warna ... 42

2.1.7.2 Tipe-tipe Shot Pada Kamera... 43

2.1.8 Representasi... 46

2.2 Kerangka Berpikir ... 49

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian ... 51

(6)

3.2.1 Corpus ... 51

3.3 Unit Analisis ... 52

3.4. Teknik Pengumpulan Data ... 52

3.5. Teknik Analisis Data ... 53

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN KESIMPULAN 4.1. Gambaran Umum Objek Penelitian dan Penyajian Data... 54

4.1.1. Gambaran Umum Objek Penelitian Gery O’donuts dengan Versi “bulat- Bulat Ingat Gery O’Donuts... 54

4.1.2. Penyajian Data ... 57

4.2. Hasil Dan Pembahasan John Fiske Dalam Iklan Gery O’donuts Dengan Versi “Bulat-Bulat Ingat Gery O’Donuts... 58

4.2.1 Analisis Tampilan Visual Dalam Scene Iklan Gery O’donuts Dengan Versi “Bulat-Bulat Ingat Gery O’Donuts Dengan Pendekatan Semiologi John Fiske... 58

4.2.2.1 Tampilan Visual Dalam Scene 1 ... 59

4.2.2.2 Tampilan Visual Dalam Scene 2 ... 63

4.2.2.3 Tampilan Visual Dalam Scene 3 ... 66

4.2.2.4 Tampilan Visual Dalam Scene 4 ... 69

4.2.2.5 Tampilan Visual Dalam Scene 5 ... 72

4.2.2.6 Tampilan Visual Dalam Scene 6 ... 76

(7)

4.3. Makna Iklan Gery O’donuts Dengan Versi “Bulat-Bulat Ingat Gery O’Donuts Dengan Pendekatan Semiologi

John Fiske ... 81

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan ... 84 5.2. Saran ... 85

(8)

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 4.1. Sepasang pria dan wanita yang digambarkan sedang

berada di dalam sebuah stadion terlihat saling

berhadapan wajah dan seperti akan berciuman. ... 59 Gambar 4.2. Tiba- tiba si wanita memperlihatkan produk Gery

O’Donuts, dan ekpresi keduanya terlihat terkejut. ... 63 Gambar 4.3. Sepasang pria dan wanita yang digambarkan sedang

berada di dalam sebuah stadion terlihat saling

berhadapan wajah dan seperti akan berciuman. ... 66 Gambar 4.4. Kali ini tiba- tiba si pria yang memperlihatkan

produk Gery O’Donuts, dan ekpresi keduanya

terlihat terkejut. ... 69 Gambar 4.5. Sekali lagi sepasang pria dan wanita tersebut

saling berhadapan wajah dan terlihat seperti akan berciuman, namun kali ini terlihat semakin

dekat ... 72 Gambar 4.6. Kali ini yang menunjukkan produk Gery O’Donuts

bukan si pria atau si wanita, namun orang asing yang berada di belakang mereka. Diikuti dengan

(9)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman Lampiran 1. SCENE IKLAN GERY O’DONUTS ... 88

(10)

 

(11)

O’Donuts” di Televisi)

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna iklan produk televisi Gerry O Donut.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Penelitian ini mempresentasikan penggambaran iklan televisi komersial. Metode penelitian diskriptif dengan menggunakan pendekatan semiologi John Fiske untuk mengetahui pemaknaan secara meneyeluruh iklan Gerry O Donut di televisi dimana proses pembentukan makna oleh semiotika bersifat intensional dan memiliki motivasi..

Metode yang digunakan sebagai pendekatan dalam menganalisis data penelitian ini adalah analisis semiotik John Fiske yang membagi film (iklan) menjadi beberepa level utama yaitu pada realitas dan level representasi. Sehingga peneliti dapat menginterpretasikan semua unsur atau elemen (talent, setting, wardrobe, adegan, slogan / tagline, camera angel, sound / suara , dll) kemudian dilanjutkan dengan analisis semiologi John Fiske yang terdapat pada iklan Gerry O Donut di televisi dan menyimpulkan berbagai makna dan dari tampilan visulisasi tersebut dalam beberapa scene dan beberapa shot potongan-potongan visual iklan

Berdasarkan analisis peneliti mengenai pemaknaan iklan Gery O Donuts di televisi dengan pendekatan John Fiske maka dapat disimpulkan: Dalam visualisasi Iklan Gary O Donuts dengan versi “Bulat-Bulat Ingat Gary O Donuts di televisi secara keseluruhan mengandung unsure eksploitasi seksualitas. Hal ini dapat dilihat dalam Iklan Gary O Donuts dengan versi “Bulat-Bulat Ingat Gary O Donuts visualisasinya adalah seorang pria dan wanita yang benar-benar di tonjolkan seksualitasnya dalam iklan tersebut. Pada iklan ini menunjukkan sisi eskploitasi seksualitas, hal ini dibuktikan dengan kedua talent memposisikan tubuh dan bentuk bibir pasangan tersebut yang membentuk seperti huruf “O” yang bulat, seperti orang yang akan berciuman.

(12)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang Masalah

Saat ini perkembangan dunia sangat maju pesat, perkembangan yang sangat pesat ini juga merambah pada perkembangan media massa. Oleh karena adanya perkembangan media massa tersebut maka banyak sekali masyarakat yang menggunakan media massa sebagai media penyampai pesan atau informasi ke masyarakat luas. Dengan kondisi seperti ini, banyak perusahaan yang menggunakan iklan media massa terutama media televisi sebagai media penyampai suatu pesan atau informasi kepada masyarakat luas. Hal ini terbukti dengan bantuan Advertising Formation Servicer Nielsen media Research, televisi tetap menjadi penyumbang belanja iklan terbesar (Cakram edisi 271, 2006:08). Data Media Scene menyebutkan, dari beberapa media yang dipilih oleh pengiklan sebagai sarana berpromosi, sejak tahun 1994 TV menyedot sekitar 70 % dari total belanja iklan. Selain itu, Nielsen Media Research mencatat, pertumbuhan perolehan iklan TV pada setiap tahun juga terus meningkat (Cakram edisi 269, 2006:07).

(13)

berbagai kebutuhan manusia, baik hiburan, informasi, maupun pendidikan dengan sangat memuaskan. Penonton televisi tak perlu susah-susah pergi ke gedung bioskop atau gendung sandiwara karena pesawat televisi menyajikan ke rumahnya (Effendy, 2002:60). Dengan adanya keistimewaan tersebut, masyarakat saat ini telah menjadikan televisi sebagai benda yang wajib untuk dimiliki. Hal ini terbukti dengan kondisi masyarakat saat ini terutama masyarakat di kota-kota besar seperti Surabaya yang hampir di setiap rumah memiliki televisi.

Komunikasi yang menggunakan media massa disebut sebagai komunikasi massa (Effendy, 2002:50). komunikasi massa melibatkan jumlah komunikan banyak, tersebar dalam area geografis yang luas, namun mempunyai perhatian minat dan isu yang sama. Karena itu, agar pesan dapat diterima serentak pada waktu yang sama, maka digunakan media massa seperti televisi, radio, surat kabar. Dalam komunikasi massa, umpan balik relatif tidak ada atau bersifat tunda. Komunikator cenderung sulit mengetahui umpan balik komunikan dengan segera. Untuk mengetahuinya, maka biasanya harus dilakukan survey atau penelitian (Vardiansyah, 2004:33).

(14)

produsen yang dikenal dengan menggunakan media massa untuk mempersuasi atau mempengaruhi khalayak. Sedangkan menurut Lee dan Johnson (2004:03) mengatakan bahwa iklan adalah komunikasi komersil dan non personal tentang sebuah organisasi dan produk-produknya yang ditransmisikan ke suatu khalayak melalui media bersifat misal seperti televisi, radio, koran, majalah, direct mail, reklame luar ruang atau kendaraan umum. Pada komunitas global iklan dapat disampaikan melalui media baru khusunya internet. Iklan merupakan salah satu instrument pemasaran modern yang aktivitasnya didasarkan pada konsep komunikasinya maka keberhasilannya dalam mendukung program pemasaran merupakan pencerminan dari keberhasilan komunikasi. Agar komunikasi efektif dan mencapai sasaran harus diperhatikan pengaruh perilaku dalam proses komunikasinya apakah pengujian pesan tersebut efektif atau tidak. Dengan beriklan, perusahaan berusaha mengkomunikasikan baik keberadaan perusahaan itu sendiri maupun produk ataupun jasa yang dihasilkan dan semaksimal mungkin bagaimana iklan tersebut mampu memuaskan konsumen dengan menyajikan pesan yang sesuai keinginan konsumen.

(15)

maka masing-masing perusahaan bersaing untuk memperebutkan pasar konsumen melaui iklan. Akhirnya, yang terjadi adalah persaingan iklan besar-besaran. Dari tahun ketahun memperlihatkan bahwa total belanja iklan selalu terjadi peningkatan. Inovasi produk tanpa didukung promosi dan iklan akan sia-sia belaka. Perpaduan antara inovasi dan belanja iklan inilah yang bisa mengantarkan produk ke jenjang posisi lebih baik di pasar.

Iklan yang lebih kreatif, simpel dan mengena bagi konsumen artinya iklan yang efektif. Selain itu, yang perlu diingat juga, budget iklan yang sangat tinggi, maka menuntut iklan tersebut harus efektif. Untuk itu, perlu dikaji mengenai efektivitas iklan. Efektivitas iklan yang berkaitan dengan pengingatan dan persuasi dapat diketahui melalui riset tentang dampak komunikasi (Durianto, 2003:15).

Periklanan adalah fenomena bisnis modern. Tidak ada perusahaan yang ingin maju dan memenangkan kompetisi bisnis tanpa mengandalkan iklan. Demikian pentingnya peran iklan dalam bisnis modern sebagai penghubung antara perusahaan dengan masyarakat, khususnya konsumen yang juga menjadi salah satu bonafiditas perusahaan.

(16)

penawaran suatu produk atau jasa dengan menggunakan media. Menurut Wahyu Wibowo (2003 : 5) iklan atau advertising di definisikan sebagai kegiatan promosi baik berupa barang atau jasa melalui media massa. Atau bentuk komunikasi yang dimaksudkan untuk mempresentasikan kualitas produk, jasa, dan ide berdasarkan kebutuhan konsumen dan keinginan konsumen.

Salah satu media yang digunakan dalam beriklan adalah televisi. Televisi merupakan salah satu media dalam beriklan yang menggunakan warna, suara, gerakan dan musik atau dapat disebut sebagai media audio visual. Selain itu pemirsanya dapat diseleksi menurut jenis program dan waktu tayangnya. Televisi adalah media yang mampu menjangkau wilayah luas, dapat dimanfaatkan oleh pengiklan untuk tes pemasaran atau peluncuran produk baru.

(17)

Aspek artistik bahwa materi iklan yang disajikan sebaiknya, menerjemahkan secara optimal pesan atau informasi yang ingin disampaikan oleh pihak produsen dan pengiklan sehingga mampu membentuk kesan yang positif pada khalayak sasaran yang dituju (Sumartono, 2002 : 134). Sedangkan etika bisnis dalam beriklan adalah bahwa materi atau isi pesan yang disajikan dalam iklan harus mengandung informasi (pesan) yang jelas, akurat, faktual dan lengkap sesuai dengan kenyataan dari produk atau jasa yang ditawarkannya (Sumartono, 2002 : 34). Hal ini dimaksudkan agar masyarakat tidak merasa tertipu oleh sajian-sajian ikaln yang “bumbastis” yang hanya menjual produk tetapi tidak terbukti kebenarannya.

Televisi menyajikan barbagai macam informasi. Informasi tidak mengalir secara harfiah. Kenyataannya, informasi sendiri tiada bergerak yang sesungguhnya terlihat adalah penyampaian suatu pesan, interpretasi penyampaian dan penciptaan penyampaian pesan itu sendiri.

Tampilan iklan-iklan pada media televisi berlomba-lomba menarik simpati para pemirsanya dengan berbagai variasi. Salah satunya adalah tampilan iklan yang mengandung unsur pornografi.

(18)

pemirsa ke arah yang negatif dengan mengeksploitasi imajinasi seksual pemirsa bahkan seringkali unsur pornografi yang dimasukkan ke dalam sebuah iklan tidak sesuai dengan maksud dan tujuan dari pengiklan itu sendiri. Selain itu kedua unsur tersebut yaitu unsur pornografi juga bertentangan dengan etika dan moral budaya di Indonesia.

Fenomena pornografi di dalam iklan di media massa, khsusnya pada televisi inilah yang membuat peneliti tertarik untuk meneliti simbol-simbol yang ditonjolkan dalam iklan televisi. Iklan yang diambil adalah iklan Gerry O Donut

Pemilihan iklan Gery O’Donuts sebagai objek penelitian karena di dalam iklan tersebut unsur pornografinya sangat jelas terlihat. Dan penayangan iklan yang tidak pada jam malam, membuat orang tua harus mendampingi putra-putrinya untuk melihat iklan tersebut.

(19)

Teks pornografi yang dipaparkan oleh iklan tersebut juga bersifat sangat subyektif sehingga peneliti akan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan semiologi untuk mencari makna yang terkandung di dalam iklan Gery O’Donuts versi “Bulat Bulat ingat Gery O’Donuts”.

1.2Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana pemaknaan iklan produk televisi Gery O’Donuts.

1.3 Tujuan Penelitian

Sesuai dengan permasalahan diatas, maka tujuan diadakan penelitian

ini adalah untuk mengetahui makna iklan produk televisi Gery O’Donuts.

1.4 Kegunaan Penelitian

1.4.1 Kegunaan Teoritis

a. Untuk memberikan sumbangan pemikiran pada ilmu komunikasi khususnya pada studi semiotika tentang analisis iklan televisi.

b. Menjadi bahan informasi untuk dimanfaatkan dan dipertimbangkan dalam penelitian lebih lanjut.

(20)

a. Dari hasil yang diharapkan, dapat memberi pertimbangan dan masukan pada bidang periklanan, sehingga dapat menjadi kerangka acuan bagi produsen agar semakin kreatif dan bagi konsumen agar dapat lebih aktif memaknai suatu iklan.

(21)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori

2.1.1 Iklan

2.1.1.1. Definisi Iklan

Iklan adalah bentuk komunikasi tidak langsung, yang didasari pada

informasi tentang keunggulan atau keuntungan suatu produk, yang disusun

sedemikian rupa sehingga menimbulkan rasa menyenangkan yang akan

merubah pikiran seseorang untuk melakukan pembelian. AMA (American

Marketing Association) mendefinisikan iklan sebagai berikut :

“Semua bentuk bayaran untuk mempresentasikan dan mempromosikan

ide, barang atau jasa secara non personal oleh sponsor yang jelas. Sedangkan

yang dimaksud periklanan adalah seluruh proses yang meliputi persiapan,

perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan iklan” (Tjiptono, 2001:226).

Sedangkan definisi periklanan menurut Institusi Periklanan Inggris

adalah periklanan merupakan pesan-pesan penjualan yang paling persuasif

yang di arahkan kepada konsumen yang paling potensial atas produk barang

atau jasa tertentu dengan biaya yang paling ekonomis” (Jefkins, Frank :

(22)

Definisi standar dari periklanan menurut Sutisna mengandung enam

elemen yaitu :

1. Periklanan adalah bentuk komunikasi yang dibayar, walaupun beberapa

bentuk periklanan seperti iklan layanan masyarakat, biasanya

menggunakan ruang khusus yang gratis atau walaupun harus membayar

tapi dengan jumlah yang sedikit.

2. Dalam iklan juga terjadi proses identifikasi sponsor. Iklan bukan hanya

menampilkan pesan mengenai kehebata produk yang ditawarkan, tapi juga

sekaligus menyampaikan pesan agar konsumen sadar mengenai

perusahaan yang memproduksi produk yang ditawarkan.

3. Periklanan merupakan upaya membujuk dan mempengaruhi konsumen.

4. Periklanan memerlukan elemen media massa sebagai media penyampai

pesan.

5. Periklanan memiliki sifat non personal (bukan pribadi).

6. Audience. Tanpa identifikasi audience yang jelas, pesan yang disampaikan

dalam iklan tidak akan efektif (Sutisna, 2003:275-276).

Dari berbagai definisi diatas dapat disimpulkan bahwa periklanan

merupakan bentuk komunikasi non personal yang dibayar dari sponsor yang

terindetifikasi yang menggunakan media massa untuk membujuk atau

mempengaruhi audience sasaran. Pembuatan program periklanan harus selalu

(23)

membuat lima keputusan utama dalam pembuatan program periklanan, yang

disebut lima (Kotler 2000:578).

1. Mission (misi) : Apakah tujuan periklanan ?

2. Money (uang) : Berapa banyak yang dapat dibelanjakan ?

3. Messsage (pesan) : Pesan apa yang harus disampaikan ?

4. Media (media) : Media yang akan digunakan ?

5. Measurement (pengukuran) : Bagaimana mengevaluasi hasilnya ?

2.1.1.2. Manfaat Dan Fungsi Iklan

Kasali menyebutkan ada beberapa manfaat iklan, antara lain :

1. Iklan memperluas alternatif bagi konsumen.

2. Iklan membantu produsen menimbulkan kepercayaan bagi konsumennya.

3. Iklan membuat orang kenal, ingat dan percaya. (Kasali, 1995:16)

Seiring dengan menjamurnya penawaran-penawaran produk melalui

berbagai media maka konsumen juga dipermudah dalam memilih produk

sesuai dengan apa yang diinginkan dan dibutuhkan. Konsumen juga dengan

mudah dapat membandingkan dan memilih produk mana yang lebih baik.

Melalui iklan penyampaian pesan dalam penjualan produk akan efektif. Jika

sebelumnya produsen menjual produknya dengan cara bertatap muka secara

terbatas oleh ruang dan waktu melalui iklan produsen, dapat mempromosikan

produknya mengenai manfaat, memperlihatkan fisik produk, harga dan

(24)

Terlebih lagi jika dalam tayangan iklan tersebut ditampilkan tokoh

yang sudah dikenal oleh public, sehingga public akan semakin percaya kepada

perusahaan. Dari tayangan iklan juga konsumen akan mengenal, meningkat

dan mempercayai produk yang akhirnya pada perusahaan. Hal tersebut dapat

dilakukan dengan menayangkan iklan dengan frekuensi berulang-ulang,

sehingga konsumen akan cepat mengenal, selalu ingat dan percaya pada

produk.

(Wright, dkk, 1978) mengatakan, dalam periklanan mencangkup

beberapa fungsi, antara lain :

1. Fungsi pemasaran.

2. Fungsi komunikasi.

3. Fungsi pendidikan.

4. Fungsi ekonomi.

5. Fungsi sosial.

6. Fungsi yang ditinjau dari segi komunikator dan komunikasi. (Wright

dalam Liliweri, 1992:52).

Fungsi pemasaran dalam periklanan merupakan fungsi untuk

memenuhi permintaan para pemakai ataupun pembeli terhadap barang

ataupun jasa serta gagasan yang diperlukannya. Melihat fungsi komunikasi

dalam periklanan, semua bentuk iklan memang mengkomunikasikan melalui

media berbagai pesan dari komunikator kepada komunikan yang terdiri atas

(25)

sesuatu dari iklan yang dibacanya, ditonton dan didengarnya hal tersebut yang

menjadikan periklanan memiliki fungsi pendidikan.

Selain itu iklan mengakibatkan orang semakin tahu tentang produk

tertentu, pelayanan jasa maupun kebutuhan serta memperluas ide yang

mendatangkan keuntungan financial, tentunya hal ini pula yang menyebabkan

dalam periklanan mencangkup fungsi ekonomi. Sifat manusia yang ingin terus

maju dan menjadi lebih baik dalam iklan juga memiliki fungsi sosial yang

membantu menggerakan sesuatu perubahan standar hidup yang ditentukan

oleh kebutuhan manusia di seluruh dunia. Jika fungsi periklanan ditinjau dari

segi komunikator dan komunikan terdiri dari menambah frekuensi

penggunaanya, menambah frekuensi penggantian benda yang sama,

menambah volume pembelian dari barang atau jasa yang dianjurkan,

menambah dan memperluas musim penggunaan barang atau jasa.

2.1.1.3. Tujuan Kegiatan Periklanan

Tujuan periklanan dapat digolongkan menurut sasarannya. Menurut

(Kotler, 2002:659), mengatakan bahwasannya iklan itu untuk membujuk,

menginformasikan, atau mengingatkan. Periklanan informatve biasanya

dilakukan secara besar-besaran pada tahap awal suatu jenis produk.

Tujuannya adalah membentuk permintaan pertama. Periklanan persuasive

penting dilakukan pada tahap kompetitif tujuannya adalah membentuk

(26)

Beberapa periklanan persuasive telah beralih ke jenis periklanan

perbandingan (Comparative Advertising), yang berusaha untuk membentuk

keunggulan suatu merek melalui perbandingan atribut spesifik dengan satu

atau beberapa merek lain di jenis produk yang sama. Iklan pengingat sangat

penting untuk produk yang sudah mapan. Bentuk iklan ini adalah iklan

penguat (Reinforcement Advertising), yang bertujuan meyakinkan pembeli.

2.1.1.4. Strategi Kreatif Pesan Iklan

Strategi kreatif pesan iklan diuraikan oleh Durianto, Sugiarto, Widjaja

dan Supratikno (2003:25-30) dengan menjawab pertanyaan “How to Say?”,

yaitu:

1. Directed Creativity

Ada 14 teknik visual untuk membuat naskah iklan yang dramatis:

a. Spokes Person

Suatu teknik dimana seseorang langsung berhadapan dengan kamera

yang menampilkan pandangan atau pendapatnya tentang suatu produk

kepada pemirsa televisi.

b. Testimonial

Teknik ini menggunakan artis untuk memberikan kesaksiannya setelah

(27)

c. Demonstrasi

Periklanan yang memakai teknik ini menggambarkan dengan jelas

bagaimana suatu produk bekerja.

d. Close-ups

Teknik ini membuat gambar menjadi lebih hidup. Contohnya adalah

foto-foto gambar makanan yang ada di restoran-restoran,

menggambarkan kelezatan makanan yang ada dalam foto tersebut,

sehingga terlihat lebih indah dan lebih menyentuh jika dibandingkan

dengan aslinya.

e. Story line

Iklan yang menggunakan teknik ini dibuat dalam bentuk cerita yang

pendek untuk menggambarkan merek yang di iklankan.

f. Direct Product Comparison

Teknik ini langsung membandingkan merek suatu produk dengan

merek pesaingnya. Di Indonesia, teknik ini tidak bisa dibandingkan

langsung antara dua merek yang sedang bertarung di pasaran.

Biasanya, pemasar menyiasatinya dengan membuat perbandingan

tidak langsung, seperti dengan menutup merek dari pesaing yang akan

dibandingkan.

g. Humor

Banyak iklan yang menggunakan teknik humor karena biasanya lebih

(28)

h. Slice of Life

Iklan dengan teknik ini menggambarkan penggalan kehidupan

sehari-hari yang dimulai dengan adanya masalah, pemecahan masalah, dan

diakhiri dengan happy ending.

i. Customer Interview

Iklan dengan teknik ini berisi wawancara langsung dengan konsumen

yang telah mengkonsumsi produk yang telah di iklankan. Biasanya

konsumen akan menceritakan pengalaman dan pendapatnya tentang

produk tersebut.

j. Vignettesa andSituations

Dalam iklan dengan teknik ini digambarkan seseorang yang sedang

menikmati suatu produk diiringi dengan iringan musik.

k. Animation

Iklan yang menggunakan teknik animasi biasanya ditujukan kepada

konsumen anak-anak.

l. Stop Motion

Jika teknik story line berisi sebuah cerita pendek, maka stop motion

berisi rangkaian cerita bersambung.

m. Rotoscope

Teknik ini menggabungkan animasi dengan gambar nyata.

n. Combination

(29)

2. Brand Name Exposure

Brand name exposure terdiri dari individual brand name dan company

brand name. Brand name exposure dianggap penting karena bertujuan

untuk mendapatkan brand awareness. Bila terlalu mementingkan

kreativitas iklan dan mengabaikan brand name exposure maka akan

mengalami kegagalan karena konsumen hanya mengingat kreativitas

iklannya (misal, slogannya saja) tanpa mengingat mereknya.

3. Positive Uniquness

Iklan yang efektif harus mampu menciptakan asosiasi yang positif. Jangan

sampai setelah melihat iklan, konsumen justru memiliki asosiasi yang

salah atau bahkan melenceng. Pertama-tama iklan harus efektif, kemudian

kreatif, karena akan sia-sia bila iklan dibuat sekreatif mungkin namun

tidak efektif mencapai konsumen sasarannya.

4. Selectivity

Berkaitan dengan:

a. Message sources, yaitu pembawa pesan / product endorser yang

terbagi menjadi: expertise (ahli), trustworthness (dipercaya), dan

likability (disukai). Karakter product endorser harus disesuaikan

dengan jenis produk yang akan diiklankan.

b. Message structure

(30)

1. Conclusion maksudnya: apakah perusahaan yang akan membuat

kesimpulan sendiri atau menyerahkan langsung kepada konsumen

untuk menarik kesimpulan.

2. Argumentation, maksudnya: menjelaskan argumen yang

mendukung pesan perusahaan. Umumnya, jenis iklan argumentasi

hanya one side, artinya mendukung dengan argumentasi yang baik.

Tetapi, ada juga yang mendukung dengan two side, artinya

mendukung sisi yang baik.

3. Climax, maksudnya: apakah suatu iklan akan menampilkan

klimaks di depan atau di akhir iklan. Pada umumnya, iklan yang

banyak dibuat memunculkan klimaks di akhir.

c. Message content

Isi pesan dalam iklan biasanya terdiri dari:

1. Rational, untuk industry goods.

2. Emotional, untuk consumer goods.

3. Moral, untuk iklan layanan masyarakat.

2.1.2 Periklanan sebagai Bentuk Komunikasi Massa

Menurut Harold Lasswell, unsur-unsur komunikasi massa terdiri dari sumber

(source), pesan (message), saluran (channel), penerima (receiver), dan efek (effect)

(31)

komunikator/orang-orang kreatif di biro iklan. Unsur pesan adalah apa yang

dikomunikasikan oleh sumber pengiklan tersebut. Unsur pesan ini memiliki sifat

terbuka untuk umum (publicity), singkat dan simultan (rapid), segera dan sekali pakai

(transient). Unsur saluran menyangkut media yang dipakai untuk menyebarluaskan

pesan-pesan (surat kabar, majalah, radio, televisi, dan internet). Unsur penerima

adalah khalayak sasaran (mass audience) dari pesan komunikasi massa yang

disampaikan melalui media. Sifat-sifat dari khalayak sasaran ini antara lain : luas dan

banyak (large), beragam (heterogen), antara sasaran dengan dengan komunikator

tidak saling kenal (anonim). Untuk itu, dalam strategi pemilihan media iklan dan

strategi kreatif periklanan dikenal tahapan identifikasi dan segmentasi khalayak

sasaran untuk membuat pesan dan media yang dipilih menjadi lebih fokus dan

spesifik. Unsur efek adalah perubahan-perubahan yang terjadi pada khalayak sasaran

setelah menerima pesan tersebut. Identifikasi efek perubahan dalam tiga

kecenderungan perubahan pengetahuan, perubahan sikap, dan perubahan perilaku.

Untuk itu, dalam strategi periklanan harus ada upaya-upaya :

a. Merubah pengetahuan baru bagi khalayak, dengan cara menginformasikan

produk baru dan atau kelebihan produk tersebut

b. Merubah sikap khalayak sehingga sasaran menjadi tertarik dan menyukai

c. Merubah perilaku sehingga khalayak sasaran memutuskan untuk membeli

produk yang diiklankan.

Periklanan merupakan salah satu bentuk khusus komunikasi untuk memenuhi

(32)

dilakukan dalam kegiatan periklanan tentu saja harus lebih dari sekedar memberikan

informasi kepada khalayak. Periklanan harus mampu membujuk khalayak ramai agar

berperilaku sedemikian rupa sesuai dengan strategi pemasaran perusahaan untuk

mencetak penjualan dan keuntungan. Periklanan harus mampu mengarahkan

konsumen membeli produk-produk yang oleh departemen pemasaran dirancang

sedemikian rupa, sehingga diyakini dapat memenihi kebutuhan dan keinginan

pembeli. Singkatnya, periklanan harus dapat mempengaruhi pemilihan dan keputusan

pembeli (Jefkins, 1996 : 15).

2.1.3 Iklan Televisi (TVC / television commercial)

Iklan bisa didefinisikan sebagai semua bentuk presentasi non personal yang

mempromosikan gagasan, barang dan jasa yang dibiayai pihak sponsor tertentu.

Sponsor iklan dalam hal ini tidak terbatas pada perusahaan, namun mencakup semua

pihak yang menyebarkan pesannya pada publik sasaran termasuk sekolah, organisasi,

amal dan lembaga pemerintahan. Iklan merupakan cara efektif untuk menyebarkan

pesan, apakah itu bertujuan membangun preferensi merek atau mengedukasi

masyarakat. Secara garis besar iklan mempunyai 3 tujuan yaitu : (1) iklan informatif,

iklan ini umumnya dianggap sangat penting untuk peluncuran produk baru, dimana

tujuannya adalah merangsang permintaan awal, (2) iklan persuasive, sangat penting

apabila mulai tercipta tahap persaingan, dimana tujuan iklan adalah membangun

preferensi pada merek tertentu, (3) iklan yang bertujuan mengingatkan (remainder

(33)

lanjutan dari iklan pengingat ini adalah reinforcement advertising yang bertujuan

meyakinkan konsumen atau calon konsumen bahwa mereka membeli produk yang

tepat. Tujuan iklan semestinya merupakan kelanjutan atau turunan dari keputusan

perusahaan sebelumnya tentang pasar sasaran, positioning dan bauran pemasaran.

Selain itu, tujuan iklan harus didasarkan pada analisa mendalam situasi pasar terkini.

Jika produknya sudah masuk tahap kedewasaan, perusahaan juga pemimpin pasar,

tapi penggunaan mereknya masih rendah, maka tujuan yang lebih tepat adalah

mendorong penggunaan (usage) lebih besar lagi. (Sulaksana, 2005 : 92-93).

Iklan menjadi wacana penting dalam bisnis, terutama dalam proses

membangun merek atau branding. Kegiatan periklanan yang efektif dipandang

mampu mempengaruhi kecenderungan mengkonsumsi dalam masyarakat. Tindakan

mengkonsumsi secara berulang (repeat buying) adalah salah satu tujuan dalam

pemasaran. Iklan yang efektif juga akan mengubah pengetahuan publik mengenai

ketersediaan dan karakteristik sebuah produk (product knowladge), elastisitas

permintaan produk akan sangat dipengaruhi aktivitas periklanan. Iklan televisi atau

TVC sesungguhnya hanyalah bagian kecil dalam proses branding. Masih banyak

elemen-elemen lain dalam mencapai sebuah merek yang kuat dan (diharapkan)

mempunyai brand life cycle yang panjang bahkan abadi. (http://www.makin.co.id)

Dalam membuat iklan yang cerdas, harus kreatif sekaligus menjual artinya

dari segi pendekatan bahasa komunikasinya (visual atau verbal) iklan tersebut

mampu menarik target audience untuk melihat (stopping power), mengerti dan

(34)

tertanam kuat dalam benak konsumen (reminding) tetapi juga mampu menggerakkan

calon konsumen untuk mengambil keputusan (action). (Majalah Cakram edisi khusus

Juni-Juli 2005).

Periklanan dipandang sebagai media yang paling lazim digunakan suatu

perusahaan (khususnya produk konsumsi / consumer goods) untuk mengarahkan

komunikasi yang persuasif pada konsumen. Iklan ditujukan untuk mempengaruhi

perasaan, pengetahuan, makna, kepercayaan, sikap dan citra konsumen yang

berkaitan dengan suatu produk atau merk. Tujuan ini bermuara pada upaya

mempengaruhi perilaku konsumen dalam membeli. Meskipun tidak secara langsung

berdampak pada pembelian, iklan menjadi sarana untuk membantu pemasaran yang

efektif dalam menjalin komunikasi antara perusahaan ke konsumen dan sebagai

upaya perusahaan dalam menghadapi pesaing. Kemampuan ini muncul karena adanya

suatu produk yang dihasilkan suatu perusahaan. Bagaimanapun bagusnya suatu

produk, jika dirahasiakan dari konsumen maka tidak ada gunanya. Konsumen yang

tidak mengetahui keberadaan suatu produk tidak akan menghargai produk tersebut.

Penggunaan televisi dalam mengkampanyekan iklan mempunyai kemampuan

dalam membangun citra, iklan televisi mempunyai cakupan, jangkauan dan repetisi

yang tinggi dan dapat menampilkan pesan multimedia (suara, gambar, dan animasi)

yang dapat mempertajam ingatan. Biaya iklan televisi per tampil relatif murah

dibanding iklan di majalah atau koran. Meskipun demikian, biasanya biaya

(35)

Penggunaan televisi sebagai media beriklan bukanlah sebuah ruang kosong

yang hampa makna, tetapi merupakan sederet penanda (signifiers) yang membawa

bersama sederet penanda atau makna (signifieds), menyangkut gaya hidup, karakter

manusia, nilai kepemimpinan, hingga wajah realitas sosial masyarakat

(www.kompas.com/kompas mediacetak/0308/17/seni/495655.htm)

Pada dasarnya media televisi bersifat transistory atau hanya sekilas dan

menyampai pesannya dibatasi oleh durasi (jam, menit, detik). Pesan dari televisi

memiliki kelebihan tersendiri tidak hanya didengar tetapi juga dapat dilihat dalam

gambar yang bergerak (audiovisual). Televisi merupakan media yang paling disukai

oleh para pengiklan. Hal tersebut disebabkan keistimewaan televisi yang mempunyai

unsur audio dan visual sehingga para pengiklan percaya bahwa televisi mampu

menambah daya tarik iklan dibanding media lain. Televisi juga diyakini sangat

berorientasi mengingatkan khalayak sasaran terhadap pesan yang disampaikan

(Kasali, 1992:172).

2.1.4 Strategi Dalam Merancang Iklan Televisi

Pertimbangan dalam strategi merancang iklan televisi adalah cerita atas narasi

iklan. Hal ini penting mengingat cerita bisa menjadi daya tarik sebuah iklan. Pada era

dimana iklan menjadi komoditas hiburan, maka unsur cerita atau narasi akan semakin

kuat. Memang tidak semua pengiklan membuat cerita menjadi kekuatan iklan. Hal

lain yang perlu diperhatikan adalah atribut-atribut dalam iklan seperti logo, warna,

(36)

semua atribut tersebut bisa ditangkap dengan mudah oleh audiens dan kemudian

recall. Strategi yang lain yang perlu diperhatikan adalah melihat perilaku / sikap

konsumen atau calon konsumen yang berhubungan dengan iklan tersebut. Dalam

experimental merketing, yang perlu diperhatikan adalah melihat perilaku / sikap

konsumen atau calon konsumen pada tahap ini meliputi sense, feel, dan think.

Tujuannya adalah agar audience bisa merespon iklan tersebut. Kemampuan

memberikan rangsangan ini perlu diperhatikan karena bisa membuat konsumen atau

calon konsumen tidak jadi berpindah channel televisinya. Perilaku seseorang

terhadap iklan juga mencakup apa yang terlintas di otak pada saat melihat iklan

ditayangkan seperti rasa bangga, rasa percaya, kemegahan dan lain sebagainya. Hal

ini khususnya iklan yang ingin menancapkan image apa yang dipikirkan audience,

pada saat melihat iklan menjadi penting (majalah marketing, hal:34-35,maret 2007)

Pertimbangan yang lain dalam strategi dalam merancang iklan televisi harus

berdasarkan prinsip-prinsip dasar dengan menggunakan teknik dalam membuat

sebuah karya film. Beberapa perimbangan dalam membuat iklan televisi :

1. Memahami penglihatan, suara dan gerakan. Masing-masing tersebut harus

berhubungan dengan persepsi dari pesan yang diinginkan penonton, yaitu

membuat kepastian bahwa produk yang di iklankan menampilkan audio yang

sesuai dengan gambar yang ditampilkan.

2. Kata yang ditampilkan dalam iklan mengitepretasikan gambar dan

(37)

3. Tampilan iklan televisi umumnya lebih efektif dalam penampilan daripada

perkataan. Untuk itu karena kemampuan video untuk berkomunikasi dengan

penonton harus lebih menonjol.

4. Sejumlah adegan harus direncanakan secara hati-hati karena jika adegan

terlalu banyak akan membuat penonton bingung.

5. Tampilan iklan televisi harus merupakan acara yang mengalir sehingga

penonton akan mengikuti dengan mudah.

6. Pada dasarnya televisi adalah media yang close-up. Layar televisi umumnya

terlalu kecil untuk mengungkapkan secara rinci adegan dalam iklan. Long

lebih efektif untuk membangun latar belakan tetapi tidak efektif untuk

menampilkan keunggulan produk.

7. Waktu yang difungsikan dengan baik. Adegan yang ditampilkan iklan televisi

membutuhkan lebih banyak waktu daripada copy (narasi) oleh pengisi suara

secara langsung. Karena itu, iklan harus banyak menampilkan adegan

dibandingkan pembacaan naskah.

8. Menggunakan slogan/tagline sebagai tema dasar, sehingga penonton melihat

dan mendengar keunggulan produk yang diiklankan.

9. Jika memungkinkan iklan dapat menampilkan nama merek dengan

menonjolkan bidikan kamera pada kemasan atau logo untuk membangun

(38)

2.1.5 Seksualitas Dalam Media Massa

Seksualitas merupakan hal yang sulit untuk didefinisikan karena menyangkut

banyak aspek kehidupan dan diekspresikan dalam bentuk perilaku yang beraneka

ragam. Sedangkan kesehatan seksual telah didefinisikan oleh WHO (1975) sebagai

“pengintegrasian aspek somatik, emosional, intelektual, dengan cara yang positif,

memperkaya dan meningkatkan kepribadian, komunikasi, dan cinta”.

Ternyata kebanyakan orang memahami sexualitas sebatas istilas sex, padahal

antara sex dengan sexualitas merupakan hal yang berbeda. Menurut Zawid (1994),

kata sex sering digunakan dalam dua hal, yaitu: (a) aktivitas sexsual genital, dan (b)

sebagai label jender (jenis kelamin).

Sedangkan seksualitas memiliki arti yang lebih luas karena meliputi tentang

bagaimana seseoarang merasa tentang diri mereka dan bagaimana mereka

mengkomunuksikan perasaan tersebut terhadap orang lain melalui tindakan yang

dilakukannya seperti, sentuhan, ciuman, pelukan, senggama, atau melalui perilaku

yang lebih halus seperti isyarat gerak tubuh, etiket, berpakaian, dan perbendaharaan

kata.

Lebih lanjut Menurut Raharjo yang dikutip oleh Nurhadmo (1999) menjelaskan

bahwa seksualitas merupakan suatu konsep, kontruksi sosial terhadap nilai, orientasi,

(39)

2.1.5.1. Dimensi seksualitas

Banyaknya variasi seksualitas dan perilaku seksual membutuhkan perspektif

yang holistik (menyeluruh). Bagaimanapun seksualitas dan kesehatan seksual

memiliki banyak dimensi antara lain: dimensi sosiokultural, agama & etika,

psikologis, dan biologis.

a. Dimensi Sosiokultural

Merupakan dimensi yang melihat bagaimana seksualitas muncul

dalam relasi antar manusia, bagaimana seseorang menyesuaikan diri dengan

tuntutan peran dari lingkungan sosial, serta bagaimana sosialisasi peran dan

fungsi seksualitas dalam kehidupan manusia.

Dengan kata laian seksualitas dipengaruhi oleh norma dan peraturan

kultural yang menentukan apakah perilaku tersebut diterima atau tidak

berdasarkan kultur yang ada. Sehingga keragaman kultural secara global

menyebabkan variabilitas yang sangat luas dalam norma seksual dan

menghadirkan spektrum tentang keyakinan dan nilai yang luas. Misalnya:

perilaku yang diperbolehkan selama pacaran, hal-hal yang dianggap

merangsang, tipe aktivitas seksual, sanksi dan larangan dalam perilaku

seksual, atau menentukan orang yang boleh dan tidak boleh untuk dinikahi.

Contoh lain tradisi seksual kultural adalah sirkumsisi. Meskipun di

AS masih merupakan masalah kontroversial, akan tetapi hampir 80%

neonatus laki-laki disana disirkumsisi dengan alasan higienis atau simbol

(40)

budaya beberapa negara sirkumsisi pada wanita merupakan tanda fisik

kedewasaan seorang wanita, simbol kontrol sosial terhadap kesenangan

seksual dan reproduksi mereka.

Survei definitif dan komprehensif mengenai keyakinan dan praktek

seksual di Amerika yang dilakukan oleh para peneliti Universitas Chicago

menunjukan bahwa seorang individu dipengaruhi oleh jaringan sosial

mereka dan cenderung untuk melakukan apa yang digariskan oleh

lingkungan sosial mereka (Michael et al, 1994). Hal ini diperkuat dengan

hasil penelitian kualitatif mengenai perilaku seksual anak jalanan di stasiun

kereta api Lempuyangan Jogjakarta. Lingkungan sosial yang bersifat

permisif membuat mereka dengan usia yang sangat muda telah akrab

dengan berbagai aktivitas seksual, mulai dari meilhat sampai dengan

melakukan hubungan intim. (Purnawan, 2004).

Singkatnya, setiap masyarakat memainkan peran yang sangat kuat

dalam membentuk nilai dan sikap seksual, juga dalam membentuk atau

menghambat perkembangan dan ekspresi seksual anggotanya. Misalnya

bagi bangsa timur, khususnya Indonesia, melakukan hubungan intim

(senggama) di luar nikah merupakan sebuah aib walaupun sekarang mulai

memudar, akan tetapi bagi masyarakat Barat hal tersebut merupakan hal

(41)

b. Dimensi Agama dan Etik

Seksualitas berkaitan dengan standar pelaksanaan agama dan etik

Jika keputusan seksual yang ia buat melawati batas kode etik individu maka

akan menimbulkan konflik internal, seperti perasaan bersalah, berdosa dan

lain-lain. Spektrum sikap mengenai seksualitas memiliki rentang mulai dari

pandangan tradisional (hubungan seks hanya boleh dalam perkawinan)

sampai dengan sikap yang memperbolehkan sesuai dengan keyakinan

individu tentang perbuatannya.

Akan tetapi meskipun agama memegang peranaan penting, akan

tetapi keputusan seksual pada akhirnya diserahkan pada individu, sehingga

sering timbul pelanggaran etik atau agama. Seperti yang dikemukakan

Denney & Quadagno (1992) bahwa seseorang dapat menyatakan pada

publik bahwa ia meyakini sistem sosial tertentu tetapi berperilaku cukup

berbeda secara pribadi. Misalnya: Seseorang meyakini kalau hubungan sex

diluar nikah itu tidak diperbolehkan menurut agama atau etika, tapi karena

kurang bisa mengendalikan diri, ia tetap melakukan juga.

Michael et al (1994) membagi sikap dan keyakinan individu tentang

seksualitas menjadi 3 kategori:

1) Tradisional : keyakinan keagamaan selalu dijadikan

pedoman bagi perilaku seksual mereka. Dengan demikian

homoseksual, aborsi, dan hubungan seks pranikah dan diluar

(42)

2) Relasional : berkeyakinan bahwa sex harus menjadi bagian

dari hubungan saling mencintai, tetapi tidak harus dalam ikatan

pernikahan.

3) Rekreasional : menyatakan bahwa kebutuhan seks tidak ada

kaitannya dengan cinta.

c. Dimensi biologis

Merupakan dimensi yang berkaitan dengan anatomi dan fungsional

organ reproduksi termasuk didalamnya bagaimana menjag kesehatan dan

memfungsikan secara optimal.

d. Dimensi psikologis

Seksualitas mengandung perilaku yang dipelajari sejak dini dalam

kehidupannya melalui pengamatan terhadap perilaku orang tuanya. Untuk

itulah orang tua memiliki pengaruh secara signifikan terhadap seksualitas

anak-anaknya. Seringkali bagimana seseorang memandang diri mereka

sebagai mahluk seksual berhubungan dengan apa yang telah orang tua

tunjukan tentang tubuh dan tindakan mereka.

Menurut Deney & Quadagno hasil penelitian menunjukan

kecenderungan orang tua memperlakukan anak perempuan dan laki-laki

secara berbeda, mendekorasi kamar secara berbeda, dan demikian pula

respon terhadap tindakan mereka.

Orang tua juga akan memberikan penghargaan terhadap anak

(43)

sering didorong untuk menjadi penolong dan meminta bantuan. Lebih lanjut

orang tua cenderung mempertegas permaian sesuai dengan jenis kelamin

pada anak-anak prasekolah mereka. Kesimpulannya orang tua

memperlakukan anaknya sesuai dengan jender.

2.1.5.2. Identitas seksual

a. Identitas biologis

Perbedaan biologis antara pria dan wanita ditentukan pada masa

konsepsi. Janin perempuan menerima kromosom X (satu dari setiap orang

tuanya), sedangkan janin laki laki menerima satu kromosom X dari ibunya dan

satu kromosom Y dari ayahnya.

Walaupun awalnya genitalia janin belum bisa dibedakan, tetapi pada

saat hormon seks mulai mempengaruhi janin, genitalia membentuk karakteristik

pria atau wanita. Pada saat pubertas wanita mengalami putaran siklus

menstruasi dan karakteristik seks skunder. Sedangkan pada anak laki-laki

mengalami pembentukan sperma dan karakteristik seks skunder pria.

b. Identitas Jender

Jender adalah suatu ciri yang melekat pada kaum lelaki maupun

perempuan yang dikonstruksikan secara sosial maupun kultural (Faqih, 1996).

Sedangkan Identitas Jender merupakan rasa menjadi feminin atau maskulin.

Dimana segera setelah bayi lahir orang tua dan komunitasnya akan

(44)

akan memperlakukan secara berbeda antara bayi laki-laki dengan perempuan.

Pola interaksi yang berbeda inilah yang kemudian mempengaruhi bayi

mengembangkan rasa identitas jendernya.

Pada usia tiga tahun, anak-anak sudah menyadari bahwa mereka akan

menjadi anak perempuan atau anak-laki-laki. Pengenalan ini merupakan bagian

dari perkembangan konsep diri.

c. Peran Jender

Peran jender merupakan cara dimana seseorang bertindak sebagai wanita

atau pria. Ternyata faktor lingkungan (orang tua, teman sebaya, media massa

dll) bukan satu-stunnya faktor yang membentuk perbedaan perilaku seksual

individu, beberapa peneliti berkeyakinan hormon seks yang mempengaruhi

perkembangan otak janin, ikut membentuk terbentuknya peran jender tersebut.

Sehngga perilaku seksual merupakan hasil kombinasi fakor lingkungan dan

biologis.

Selanjutnya faktor kultural juga merupakan elemen penting dalam

menentukan peran seks atau jender. Ada kultur yang secara ketat

menggambarkan peranaan sebagai feminin atau maskulin (misal: pencari nafkah

dan koordinator finansial rumah tangga sebagai peran maskulin; sedangkan

pemberi perawatan anak dan memasak adalah peran feminin). Kelompok kultur

lain mungkin lebih fleksibel dalam mendefinisikan peran jender mendorong

wanita maupun pria untuk menggali berbagai peran atau perilaku tanpa

(45)

2.1.5.3. Orientasi Seksual

Orientasi seksual merupakan preferensi yang jelas, persisten, dan erotik

seseorang untuk jenis kelaminnya atau orang lain. Dengan kata lain orientasi

seksual adalah keteratarikan emosional, romatik, seksual, atau rasa sayang yang

bertahan lama terhadap orang lain

Orientasi seksual memiliki rentang dari Homoseksual murni sampai

dengan Heteroseksual murni termasuk didalamnya Biseksual. Sebagian besar

orang termasuk heteroseksual yang memiliki ketertarikan hanya dengan lawan

jenis. Sedangkan sebagian kecil termasuk homoseksual atau biseksual.

Homoseksual merupakan orang yang mengalami ketertarikan emosional,

romantik, seksual, atau rasa sayang pada sejenis, sedangkan biseksual merasa

nyaman melakukan hubungan seksual dengan kedua jenis kelamin. Kaum

homoseksual disebut gay (bila laki-laki) atau lesbian (perempuan).

Rentang ini memberikan model konseptual tentang orientasi seksual

dalam masyarakat dan komplesitas perilaku manusia. Sehingga ada

kemungkinan individu mempunyai perasaan erotik yang ditujukan pada

seseorang dengan jenis kelamin yang sama tanpa melakukan aksi terhadap

perasaan itu.

Gaya hidup gay atau lesbian sangat dipengaruhi oleh bagaimana mereka

memutuskan untuk merahasiakan atau terbuka tentang orientasi seksualnya. Hal

ini berkaitan dengan proses penghargaan diri, penerimaan diri, dan keterbukaan

(46)

pria gay selalu berkelakuan agak feminin atau memiliki keinginan menjadi

seorang wanita, atau sebaliknya wanita lesbian tidak mesti maskulin atau

memiliki keinginan untuk jadi pria. Sebagian besar dari mereka merasa puas

dengan jender dan peran sosial mereka, dan hanya memiliki keinginan untuk

bersama dengan anggota jenis kelamin mereka sendiri

2.1.5.4. Variasi dalam expresi seksual

Transeksual adalah orang yang identitas seksual atau jender nya

berlawanan dengan sex biologisnya. Seorang pria mungkin berfikir tentang

dirinya sebagai seorang wanita dalam tubuh pria, atau seorang wanita mungkin

menggambarkan dirinya sebagai pria yang terperangkap dalam tubuh wanita.

Perasaan ’terperangkap’ ini disebut juga dengan ’disforia jender’.

Transvetit biasanya adalah pria heteroseksual secara periodik berpakaian

seperti wanita untuk pemuasan pikologis dan seksual. Sikap ini bersifat sangat

pribadi bahkan bagi orang yang terdekat sekalipun.

2.1.6 Konsep Makna

Para ahli mengakui, istilah makna (meaning) memang merupakan kata dan

istilah yang membingungkan. Dalam bukunya The Meaning of Meaning, Ogden dan

Richards telah mengumpulkan tidak kurang dari 22 batasan mengenai makna. Bentuk

makna diperhitungkan sebagai istilah, sebab bentuk ini mempunyai konsep dalam

(47)

makna dari sebuah wahana tanda (sign-vehicle) adalah satuan cultural yang

diperagakan oleh wahana-wahana tanda yang lainnya serta dengan begitu secara

semantic mempertunjukkan pula ketidaktergantungannya pada wahana tanda yang

sebelumnya.

Makna, merupakan konsep yang abstrak yang telah menarik perhatian para

ahli filsafat daripada teoritis ilmu sosial selama 2000 tahun silam. Semenjak Plato

mengkonseptualisasikan makna manusia sebagai salinan “ultrarealitas”, para pemikir

besar telah sering mempergunakan konsep itu dengan penafsiran yang sangat luas

merentang sejak pengungkapan mental dari Locke sampai respons yang dikeluarkan

dari Skinner. “Tetapi, kata Jerold Katz (dalam Fiser) setiap usaha untuk memberikan

jawaban yang langsung telah gagal. Beberapa, seperti misalnya jawaban Plato telah

terbukti terlalu samar dan spekulatif. Yang lainnya memberikan jawaban yang salah.

Dari mana datangnya makna? Makna ada dalam diri manusia, “kata Devito.

Menurutnya, makna tidak terletak pada kata-kata melainkan pada manusia. “kata, “

lanjut Devito, menggunakan kata-kata yang mendekati makna yang kita ingin

komunikasikan. Tetapi kata-kata ini tidak secara sempurna dan lengkap

menggambarkan makan yang dimaksudkan.

Demikian pula makna yang didapat dari pendengar dari pesan-pesan, akan

sangat berbeda dengan makna yang ingin kita gunakan untuk memproduksi di benak

pendengar, apa yang ada dalam benak kita. Reproduksi ini hanyalah sebuah proses

(48)

Ada tiga hal yang dijelaskan para filusuf dan linguis sehubungan dengan

usaha menjelaskan istilah makna. Ketiga hal itu, yakni : (1) Menjelaskan makna

secara ilmiah, (2) mendeskripsikan kalimat secara alamiah, (3) menjelaskan makna

dalam proses komunikasi (Muhajir, dalam Sobur, 2003 : 256)

Menurut Muhajir, terjemah merupakan upaya mengemukakan materi atau

subtansi yang sama dengan media berbeda, media tersebut mungkin berupa bahasa

yang satu ke bahasa yang lain, dari verbal ke gambar dan sebagainya. Pada penafsiran

setiap berpegang materi yang ada, dicari latar belakangnya, konteks agar dapat

dikemukakan konsep atau gagasannya lebih jelas. Eksplorasi lebih menekankan pada

kemampuan daya pikir manusia untuk menangkap hal di balik yang tersajikan.

Sedangkam memberi makna merupakan upaya yang lebih jauh dari penafsiran yang

mempunyai kesejajaran dengan eksplorasi. Pemaknaan lebih menuntut pada

kemampuan intregative manusia, indrawinya, daya pemikirannya dan akal budinya.

Materi yang disajikan seperti juga eksplorasi dilihat tidak lebih dari tanda-tanda atau

indikator bagi sesuatu yang lebih jauh. Hanya saja eksplorasi terbatas dalam arti

empirik, logic sedangkan dalam pemaknaan dapat menjangkau yang etik maupun

transendental (Sobur, 2003 : 256).

Ada beberapa pandangan yang menjelaskan teori atau konsep makna. Model

proses makna Johnson dalam Devito (1997 : 123-125) sebagai berikut :

a. Makna dalam diri manusia. Makna tidak terletak pada kata-kata melainkan pada

manusia. Kita menggunakan kata-kata untuk mendekati makna yang ingin kita

(49)

menggambarkan makna yang kita maksudkan. Komunikasi adalah proses yang

kita gunakan untuk mereproduksi, dibenak pendengar, apa yang ada di benak kita.

Reproduksi ini hanyalah sebuah proses parsial dan selalu bisa salah.

b. Makna berubah. Kata-kata relatif statis, banyak dari kata-kata yang kita gunakan

200 atau 300 tahun lalu. Tetapi makna dari kata-kata ini terus berubah dan

khususnya terjadi pada dimensi emosional makna.

c. Makna membutuhkan acuan. Walaupun tidak semua komunikasi mengacu pada

dunia nyata, komunikasi hanya masuk akal bilamana ia mempunyai kaitan dengan

dunia atau lingkungan eksternal.

d. Penyitaan yang berlebihan akan mengubah makna. Berkaitan erat dengan gagasan

yang timbul akibat penyingkatan yang berlebihan tanpa mengkaitkan dengan

acuan yang diamati. Bila kita berbicara tentang cerita, persahabatan, kebahagiaan,

kejahatan dan konsep-konsep yang lain yang serupa tanpa mengkaitkannya

dengan sesuatu yang spesifik, kita tidak akan bisa berbagi makna dengan lawan

bicara.

e. Makna tidak terbatas jumlahnya. Pada suatu tertentu, jumlah kata dalam suatu

bahasa terbatas, tetapi maknnya tidak terbatas. Karena itu kebanyakan kita

mempunyai banyak makna. Ini bisa menimbulkan masalah bila sebuah kata

diartikan secara berbeda oleh dua orang yang sedang berkomunikasi.

f. Makna yang dikomunikasikan hanya sebagian. Makna yang kita peroleh dari

suatu kejadian bersifat multi aspek dan sangat kompleks, tetapi hanya sebagian

(50)

tersebut yang tetap tinggal dalam benak kita. Karenanya pemaknaan yang

sebenarnya mungkin juga merupakan tujuan yang ingin kita capai tetap tidak

pernah tercapai (Sobur, 2003 : 285-259).

2.1.7 Semiotika

Semiotika adalah suatu ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda dan

makna (Sobur, 2006:15). Sebuah tanda menunjuk pada sesuatu selain dirinya sendiri

yang mewakili barang atau sesuatu yang lain itu, dan sebuah makna merupakan

penghubung antara suatu objek dengan suatu tanda (Hartoko dan Rahmanto,

1986:131 ). Kata “semiotika” itu sendiri berasal dari bahasa Yunani ‘semeion’ yang

berarti “tanda” (Sudjiman dan Van Zoest, 1996:vii) atau ‘seme’ yang berarti ‘penafsir

tanda’ (Cobley dan Jansz, 1999:4). Semiotika berakar dari studi klasik dan skolastik

atau seni logika, retorika, dan poetika (Kurniawan, 2001:49). ‘Tanda’ pada masa itu

masih bermakna sesuatu hal yng menunjuk pada adanya hal lain.

John Fiske memperkenalkan konsep the codes of television atau kode- kode

televise. Dalam konsep tersebut menunjukkan kode yang digunakan dan muncul

pada sebuah tayangan televisi dan bagaimana kode- kode tersebut saling

berhubungan dalam membentuk sebuah makna. Menurut Fiske, sebuah kode tidak

(51)

penggunanya. Lebih lanjut mengenai teori ini, kode digunakan sebagai

penghubung antara produser, teks dan penonton.

Menurut teori ini pula, sebuah realitas tidaklah muncul begitu saja melalui

kode-kode yang timbul. Namun juga diolah melalui pengindraan serta referensi

yang telah dimiliki oleh pemirsa. Dalam artian, sebuah kode akan dipersepsi

(52)

Teori yang dikemukakan John Fiske dalam The Codes of Television

(Fiske, 1987) menyatakan bahwa peristiwa yang telah dinyatakan telah diencode

oleh kode- kode social adalah sebagai berikut :

1. Level Realitas

Level ini menjelaskan suatu peristiwa yang dikonstruksikan sebagai realitas

oleh media, yang berhubungan dengan kode- kode social antara lain :

Penampilan (appearance), kostum (dress), riasan (make up), lingkungan

(environment), kelakuan (behavior), dialog (speech), gerakan (gesture),

ekspresi (expression), dan suara (sound).

2. Level Representasi

Di sini kita menggunakan perangkat secara teknis. Dalam bahasa tulis, alat

tulis itu adalah kata, kalimat atau proposisi, grafik, dan sebagainya. Level ini

berhubungan dengan kode- kode social antara lain: kamera (camera),

pencahayaan (lightning), perevisian (editing), music (music), dan suara

(sound).

3. Level Ideologi

Bagaimana kode- kode representasi dihubungkan dan diorganisasikan ke

dalam koherensi social, seperti kelas social atau kepercayaan dominan yang

ada di dalam masyarakat seperti individualism, patriarki, ras, kelas,

(53)

melakukan representasi tidak bisa dihindari kemungkinan menggunakan

ideology tersebut.

2.1.7.1. Respon Psikologi warna

Warna merupakan simbol yang menjadi penandaan dalam suatu hal. Warna

juga dianggap sebagai satu fenomena psikologi. Respon psikologi dari

masing-masing warna :

1. Merah : Power, energi, kehangatan, cinta, nafsu, agresif, bahaya. Merah jika

dikombinasikan dengan putih, akan mempunyai arti “Bahagia” di budaya

oriental, menggairahkan, merangsang, melindungi.

2. Biru : Kepercayaan, konservatif, keamanan, teknologi, kebersihan,

keteraturan.

3. Hijau : Alami, sehat, keberuntungan, pembaharuan.

4. Kuning : Optimis, Harapan, filosofi, ketidakjujuran, pengecut (untuk budaya

Barat), pengkhianat.

5. Ungu/Jingga: Spiritual, misteri, kebangsawanan, transformasi, kekasaran,

keangkuhan.

6. Orange : Energi, keseimbangan, kehangatan.

7. Coklat : Tanah/Bumi, Reliability, comfort, daya tahan.

8. Abu-abu : Intelektual, Masa depan (kaya warna millennium), keserdehanaan,

(54)

9. Putih: Kesucian, kebersihan, ketepatan, ketidakbersalahan, kematian,

ketakutan, kesedihan, keanggunan (

http://www.toekangweb.or.id/07-tips-bentukwarna1.html)

2.1.7.2 Tipe-tipe Shot pada Kamera

Pada pembuatan video, film dan industri televisi kita akan mengenal beberapa

tipe-tipe pengambilan gambar agar hasil yang dicapai nantinya optimal sesuai dengan

keinginan.

Bagi yang pengen mendalami dunia videografi tentunya harus memahami teknik ini.

Barangkali kita sudah sering melakukan teknik yang sudah benar, tetapi taukah nama

dari teknik pengambilan tersebut ? Saya akan sharing sedikit mengenai istilah-istilah

dalam pengambilan gambar tersebut.

Ada beberapa istilah yang akan dibahas, sbb :

Teknik ini adalah teknik mengambil gambar sangat jauh dari subyek yang mungkin

tidak akan kelihatan dengan jelas. Teknik ini bertujuan untuk menunjukan lingkungan

disekitar subjek dan dirancang untuk menunjukan pendengar di mana tempat tindakan

diambil. EWS juga disebut dengan istilah extra long shot or extreme long show.

VWS (Very Wide Shot)

Teknik ini sudah mengambil lebih dekat dengan lingkungan disekitar subjek.

(55)

memfokuskan pada satu objek seperti jendela atau berada dibagian apa dalam

lingkunganya.

WS (Wide Shot)

Teknik ini mengambil subyek dalam bingkai yang penuh. Kita mengambil dari

gambar kaki subjek dan juga mengambil pada bagian kepala hampir pada bagian

atas frame. Teknik ini sungguh sulit untuk dikerjakan, karena dari awal sampai

akhir harus selalu mengikuti pergerakan subjek. Kalo tidak kita akan

mendapatkan gambar yang terpotong dari subjek.

MS (Mid Shot)

Teknik pengambilan ini bertujuan untuk menunjukan subyek lebih detail, dan

juga bisa menunjukan emosi yang ditampulkan oleh subjek. Teknik ini banyak

digunakan pada penyampaian berita televisi oleh presenter, wartawan yang akan

mewawancara sehingga subjek dengan leluasa mengeluarkan expresinya, seperti

gerak tangan, dll.

MCU (Medium Close Up)

Teknik yang mengambil gambar dari dada sampai atas kepala untuk menunjukan

ekspresi wajah lebih jelas.

CU (Close Up)

Teknik mengambil gambar hanya pada bagian wajah (close up). Teknik ini lebih

menonjolkan pada ekspresi wajah dari subjek. Close-up juga dapat digunakan

sebagai teknik cut-in. Dengan teknik ini penonton dapat menggambar atau

(56)

ECU (Extreme Close Up)

Pengambilan gambar dengan teknik ini akan menunjukkan secara detil ekspresi

dari subjek, seperti linangan air mata dan luapan kegembiraan terpancarkan dari

wajah atau mata subjek.

CA (Cutaway)

Teknik yang mengambil pergerakan dan reaksi dari sekitar subjek atau

menekankan sesuatu milik dari subjek, contoh gambar kucing adalah objek dari

pemiliknya.

Cut-In

Hampir mirip dengan Cutaway, bedanya hanya menjelaskan bagian dari subejk

secara lebih jelas, contoh pengambilan tangan yang menunjukan berupa luapan

emosi, grogi, takut, dll.

Two-Shot

Ini merupakan variasi pengambilan gambar. Pada saat interview atau wawancara

bisa dilakukan pengambilan presenter dan subjek atau hanya presenter saja dan

juga hanya subjek saja yang akan di ambil. Dengan teknik ini bisa membuat

suasana wawancara menjadi lebih hidup dan tidak terjadi kekosongan objek

disekitarnya.

(57)

Teknik ini merupakan teknik pengambilan subjek dari sisi belakang orang lain.

Pengambilan gambar dilakukan dengan memotong frame dari belakang telinga

sekitar 1/3 dari lebar frame dan orang yang diambil harus menduduki kira-kira

2/3 dari lebar frame. Subjek yang diambil harus terlihat dengan jelas dan

usahakan juga bahunya terambil.

Noddy Shot

Sering digunakan pada wawancara, penonton akan terlihat mendengarkan dan

berinteraksi dengan subjek.

Weather Shot

Teknik yang mengambil suasana dari cuaca hari ini, biasanya akan mengambil

paling sedikit 2/3 dari frame untuk ditampilkan. Cara ini menunjukan bagaimana

cuara yang sedang terjadi pada saat program acara dilakukan, seperti olahraga.

2.1.8 Representasi

Representasi merupakan tindakan yang menghadirkan sesuatu lewat sesuatu

yang lain di luar dirinya, biasanya berupa tanda atau symbol.(Piliang, Yasraf amir,

2006:24).

Representasi adalah proses dan hasil yang memberi makna khusus pada tanda.

Gambar

Gambar 2.1 Bagan kerangka berpikir penelitian tentang pemaknaan iklan Gerry O Donut
Gambar 4.1.
Gambar 4.2.
Gambar 4.3.
+5

Referensi

Dokumen terkait