TINGKAT KEBERLANJUTAN PERMUKIMAN KAMPUNG WARNA-WARNI, KELURAHAN JODIPAN, KOTA MALANG
Indah Mei Yunita, I Nyoman Suluh Wijaya, Surjono
Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Jalan MT. Haryono 167 Malang 65145 – Telp (0341)567886
Email: [email protected]
ABSTRAK
Kampung Warna-Warni merupakan salah satu kampung yang telah diresmikan sebagai destinasi wisata oleh Pemerintah Kota Malang. Akan tetapi, masih terdapat beberapa permasalahan lingkungan yang belum tertangani secara maksimal, yaitu terkait Ruang Terbuka Hijau (RTH), jalan, Penerangan Jalan Umum (PJU), drainase, air bersih, persampahan, dan sanitasi. Dengan berkembangnya kampung ini sebagai kampung wisata yang memanfaatkan situasi eksisting lingkungan, maka perlu dipertimbangkan nilai keberlanjutannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat keberlanjutan serta mendefinisikan atribut-atribut yang mempengaruhi nilai keberlanjutan Kampung Warna-Warni menggunakan teknik multidimensional scalling.
Dalam proses operasionalnya, dilakukan penilaian kualitas masing-masing variabel. Karena variabel yang tersedia sesuai teori keberlanjutan mempunyai karakteristik ukuran nilai kualitas yang tidak seragam, maka diperlukan penyesuaian variabel dan sub variabel untuk membentuk kesetaraan penilaian pada masing-masing karakteristik variabel. Tingkat keberlanjutan dihitung berdasarkan tiga dimensi, yaitu sosial, ekonomi, dan lingkungan. Seluruh dimensi kemudian dianalisis dengan MDS menggunakan rapfish untuk menghasilkan tingkat keberlanjutan.
Adapun analisis leverage yang digunakan untuk mendefinisikan atribut-atribut yang paling mempengaruhi nilai keberlanjutan. Hasil analisis MDS ini menunjukkan bahwa tingkat keberlanjutan Kampung Warna-Warni secara keseluruhan berada pada tingkat cukup berkelanjutan.
Kata Kunci: Keberlanjutan, Permukiman, Multidimensional-Scalling
ABSTRACT
Kampong Warna-Warni is one of the villages that inaugurated as a tourist destination by Malang City Government. However, there are still some environmental problems that have not been handled optimally, namely those related to Green Open Space, roads, street lighting, drainage, clean water, solid waste, and sanitation. With the development of this village as a tourist village that takes advantage of the existing environmental situation, it is necessary to consider its sustainability value. This study aims to identify the level of sustainability and define the attributes that affect the sustainability value of Kampong Warna-Warni using multidimensional scalling techniques. In the operational process, an assessment of the quality of each variable is carried out. Because the available variables according to the theory of sustainability have non-uniform quality measurement characteristics, it is necessary to adjust the variables and sub-variables to form an equal assessment of each characteristic variable. The level of sustainability is calculated based on three dimensions, namely social, economic, and environmental. All dimensions were then analyzed by MDS using rapfish to produce a level of sustainability. The leverage analysis is used to define the attributes that most influence the value of sustainability. The results of the MDS analysis show that the level of sustainability of Kampong Warna-Warni as a whole is at a fairly sustainable level.
Key Words: Sustainability, Settlement, Multidimensional-Scalling
PENDAHULUAN
Pertumbuhan jumlah penduduk di perkotaan merupakan salah satu akibat urbanisasi, tidak terkecuali di Kota Malang. Laju pertumbuhan penduduk yang terus meningkat mengakibatkan munculnya permukiman- permukiman berkepadatan tinggi dengan berbagai permasalahan (Nursyahbani dan Pigawati, 2016). Salah satu permasalahan
tersebut yaitu keterbatasan pemenuhan infrastruktur permukiman yang dapat berpengaruh pada keberlanjutan suatu permukiman. Ide mengenai pengembangan permukiman berkelanjutan muncul karena banyaknya penurunan kualitas lingkungan pada permukiman perkotaan (Dyah dan Yuliastuti, 2014).
Kampung Warna-Warni yang terletak di Kelurahan Jodipan, tepatnya di RW 02, RT 06, RT
07, dan RT 09 menyediakan pemandangan menarik berupa rumah berwarna-warni.
Kampung tersebut memang telah mengalami perubahan dan memiliki daya tarik bagi pengunjung, baik dari dalam maupun luar Kota Malang. Sehingga diresmikan Pemerintah Kota Malang sebagai kampung wisata pada tahun 2016.
Sebagai kampung wisata, penduduk memperoleh keuntungan secara ekonomi karena dapat membuka usaha kecil berupa toko kecil untuk memenuhi kebutuhan pengunjung. Meskipun demikian, pendapatan penduduk di Kampung Warna-Warni masih berada di bawah UMK Kota Malang (Wulandari, 2017). Kampung ini juga memiliki karang taruna yang beranggotakan pemuda di Kelurahan Jodipan. Namun, menurut wawancara bersama Ketua RW 02 Kelurahan Jodipan, karang taruna yang seharusnya menjadi wadah pemuda-pemudi dalam menyalurkan hobi positif dan membantu menyelesaikan permasalahan pemuda di Kampung Warna- Warna sudah tidak aktif dalam melaksanakan fungsinya.
Kondisi lingkungan di Kampung Warna- Warni masih memiliki banyak permasalahan.
Pertaman, jalan lingkungan sekunder yang sempit karena permukiman yang kumuh dan padat (Virgin et al. 2018). Kedua, saluran drainase dipenuhi oleh sampah dan tidak memiliki bangunan pelengkap, sehingga menimbulkan genangan (Virgin et al. 2018). Kampung Warna- Warni juga memiliki kekurangan fasilitas tempat sampah (Virgin, 2018). Menurut hasil penelitian Wijaya (2016), Kelurahan Jodipan merupakan kelurahan dengan kondisi kumuh sedang, termasuk Kampung Warna-Warni. Kondisi lingkungannya juga tidak layak untuk di huni karena terletak di sempadan sungai. Namun, saat ini Kampung Warni merupakan salah satu kampung tematik yang menonjol di Kota Malang.
Sehingga, perlu adanya identifikasi keberlanjutan lokasi hunian tersebut.
Menurut kondisi kampung saat ini, tingkat keberlanjutan Kampung Warna-Warni sebagai kawasan permukiman perkotaan masih menjadi pertanyaan. Dengan berkembangnya kampung ini sebagai kampung wisata dengan memanfaatkan situasi eksisting lingkungannya, nilai keberlanjutan kampung perlu untuk diperhatikan demi mengidentifikasi masalah-masalah lingkungan yang berpotensi muncul dan memperburuk situasi permukiman. Untuk itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat keberlanjutan serta mendefinisikan
atribut-atribut yang mempengaruhi nilai keberlanjutan Kampung Warna-Warni.
Nilai keberlanjutan permukiman dihitung menggunakan analisis multidimensional scalling (MDS) dan analisis leverage dengan mengaplikasikan rapfish Rapfish dilakukan untuk mengevaluasi status keberlanjutan pada berbagai dimensi. Analisis MDS akan menentukan nilai keberlanjutan yang kemudian akan diklasifikasikan menjadi empat tingkat keberlanjutan, yaitu tidak berkelanjutan, kurang berkelanjutan, cukup berkelanjutan, dan sangat berkelanjutan. Analisis leverage akan menentukan atribut-atribut sensitif atau berpengaruh dalam perubahan nilai keberlanjutan. Semakin besar nilai leverage, maka semakin besar juga pengaruh atribut dalam perubahan nilai keberlanjutan pada suatu dimensi.
METODE PENELITIAN Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di Kampung Warna- Warni terletak di RW 02, khususnya RT 06, RT 07, dan RT 09 Kelurahan Jodipan, Kecamatan Blimbing dengan luas 1,33 ha. Kampung tersebut merupakan permukiman liar yang berada di Bantaran Sungai Brantas. Lokasi Kampung Warna- Warni dijelaskan pada Gambar 1 dan adapun batas-batas kampung tersebut, yaitu:
Utara : RW 12 , Kelurahan Ksatrian Selatan : RW 02, Kelurahan Jodipan Barat : RW 01, Kelurahan Sukoharjo dan
RW 05 Kelurahan Kidul Dalem Timur : RW 01, Kelurahan Jodipan
Gambar 1 Peta Kampung Warna-Warni
Variabel Penelitian
Variabel penelitian merupakan objek yang akan diteliti untuk mencapai tujuan penelitian.
Variabel pada penelitian ini diambil dari teori Hamidah et al. (2016) yang menyatakan terdapat tiga dimensi untuk menentukan kemampuan suatu kota atau komunitas permukiman yang berkelanjutan, yaitu dimensi sosial, ekonomi, dan lingkungan. Variabel tersebut kemudian dijabarkan kembali menjadi sub variabel yang diperoleh dari berbagai studi terkait keberlanjutan permukiman perkotaan. Indikator untuk menghitung sub variabel ditentukan berdasarkan adaptasi dari indikator SDGs menurut Soetopo et al. (2014) dengan menambahkan indikator lain sesuai dengan sub variabel yang diperoleh dari hasil studi literatur.
Tabel 1 Variabel Penelitian
Variabel Sub Variabel Sumber Lingku-
ngan
RTH Soetopo et al. 2014
Pengolahan Sampah
Soetopo et al. 2014
Drainase Lingkungan
Hidajat, 2014
Sanitasi Soetopo, et al. 2014 Air Bersih Soetopo, et al. 2014 Jalan Soetopo, et al. 2014 Penerangan Jalan
Umum
Kepmen Perkimpraswil No. 534/KPTS/M/2001 Pengelolaan
Sampah
Hidajat, 2014
Sosial Pendidikan Penduduk
Soetopo, et al. 2014
Pelayanan Kesehatan
Hidajat, 2014
Pelayanan Pendidikan SD
Hidajat, 2014
Pelayanan Pendidikan SMP
Hidajat, 2014
Pelayanan Pendidikan SMA
Hidajat, 2014
Program KB Soetopo, et al. 2014 Pengurus
Kampung
Chaidir, 2014
Karang Taruna Chaidir, 2014 Ekonom
i
Perlindungan Sosial
Soetopo et al. 2014
Peluang Usaha Hidajat, 2014 Angkatan Kerja Soetopo et al. 2014 Lembaga
Keuangan Mikro
Chaidir, 2014
Pengeluaran Penduduk
Soetopo et al. 2014
Pendapatan Penduduk
Soetopo et al. 2014
Teknik Analisis
Analisis Multidimensional Scalling (MDS)
Teknik analisis untuk menilai tingkat keberlanjutan permukiman Kampung Warna- Warni yaitu analisis Multidimensional Scalling (MDS) dengan modifikasi software Rapfish untuk microsoft excel (Chaidir dan Murtini, 2014).
Tahap-tahap untuk mengaplikasikannya yaitu (Kavanagh dan Pitcher, 2004):
1. Menentukan atribut dari setiap dimensi permukiman berkelanjutan.
2. Menilai masing-masing atribut menurut parameter. Penilaian berupa skor menurut hasil survei dengan rentang skor baik – buruk dalam skala ordinal.
3. Melakukan analisis multidimensi untuk menentukan status keberlanjutan. Tabel 2 merupakan indeks keberlanjutan menurut Kavanagh dan Pitcher (2004).
Tabel 2 Kategori Tingkat Keberlanjutan
Nilai Indeks Kategori
0,00 – 24,99 Tidak Berkelanjutan 25,00 – 49,99 Kurang Berkelanjutan 50,00 – 74,99 Cukup Berkelanjutan 75,00 – 100,00 Sangat Berkelanjutan Sumber: Kavanagh dan Pitcher, 2004
4. Melakukan analisis monte carlo untuk mengurangi kesalahan pada proses analisis dengan taraf kepercayaan 95%. Analisis monte carlo merupakan analisis untuk menduga pengaruh galat. Hasil analisis monte carlo disebut indeks monte carlo, dan jika perbedaannya dengan indeks MDS kecil berarti:
a. Kesalahan pembuatan skor dalam setiap atribut relatif kecil.
b. Variasi pemberian skor akibat perbedaan opini relatif kecil.
c. Proses analisis stabil.
d. Kesalahan pemasukan data dan data yang hilang dapat dihindari.
5. Melakukan analisis leverage untuk mengetahui atribut yang sensitif pada peningkatan atau penurunan status keberlanjutan yang ditentukan menurut presentase perubahan Root Mean Square (RMS). Semakin besar nilai, maka peran atribut semakin besar.
6. Menganalisis nilai stress guna menentukan lack of fit MDS. Nilai stress yang dapat diterima yaitu lebih kecil dari 0,25 (Kavanagh dan Pitcher, 2004).
7. Menganalisis koefisien determinasi (RSQ) untuk menentukan penambahan atribut. Nilai R2 yang mendekati 1 memiliki arti jumlah atribut cukup akurat.
HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum
Kampung Warna-Warni terletak di RW 02, khususnya RT 006, RT 007, dan RT 009 Kelurahan Jodipan, Kecamatan Blimbing dengan luas 1,33 ha.
Kampung tersebut merupakan permukiman liar yang berada di bantaran Sungai Brantas.
Kampung Warna-Warni merupakan kampung yang berhasil diubah oleh kelompok mahasiswa dari kampung kumuh menjadi kampung wisata (Ningsih, 2017). Adapun hasil perbaikan yang tampak secara langsung yaitu dinding bangunan rumah berwarna-warni serta kampung menjadi lebih bersih. Hal tersebut menyebabkan kampung menjadi perhatian penduduk kota dan hingga menjadi tempat wisata dan telah diresmikan oleh Pemerintah Kota Malang. Sampai saat ini, penduduk merasa harus menjaga kebersihan kampungnya agar memiliki daya tarik sebagai destinasi wisata Kota Malang.
Penduduk di kampung tersebut mayoritas berprofesi sebagai pedagang. Hal tersebut disebabkan adanya peluang usaha perdagangan akibat banyaknya wisatawan yang memasuki kampung. Terdapat juga beberapa penduduk yang mulai membuat kerajinan yang dijual sebagai cinderamata.
Multidimensional Scalling Dimensi Sosial
Posisi nilai keberlanjutan berada pada sumbu X, sedangkan nilai pada sumbu Y mengindikasikan variasi atribut yang tidak berhubungan dengan keberlanjutan. Nilai pada sumbu Y bergantung pada penilaian UP dan DOWN saat menjalankan analisa rapfish.
Atribut yang digunakan untuk menghitung tingkat keberlanjutan dimensi sosial yaitu tingkat pendidikan, pelayanan pendidikan (SD, SMP, dan SMA), pelayanan kesehatan (puskesmas, puskesmas pembantu, dan praktik dokter), program Keluarga Berencana (KB), pengurus kampung, dan karang taruna. Pada setiap atribut tersebut akan diberikan skor menurut kondisi di Kampung Warna-Warni oleh responden.
Responden berjumlah 85 penduduk yang mewakili setiap KK. Atribut dengan kondisi buruk akan memiliki skor 1, atribut dengan kondisi sedang akan memiliki skor 2, dan atribut dengan kondisi baik akan memiliki skor 3.
Nilai keberlanjutan yang ditentukan berdasarkan skor dari masing-masing responden akan dirata-rata untuk mengetahui nilai keberlanjutan sosial secara keseluruhan. Nilai keberlanjutan masing-masing responden kemudian digambarkan pada diagram letak titik- titik keberlanjutan. Gambar 2 merupakan diagram letak titik-titik keberlanjutan dimensi sosial dan Tabel 3 merupakan nilai keberlanjutan dimensi sosial menurut masing-masing responden.
Gambar 2 Tingkat Keberlanjutan Dimensi Sosial Good Bad
Up
-60 Down -40 -20 0 20 40 60
0 20 40 60 80 100
Other Distingishing Features
Nilai Keberlanjutan
Nilai Keberlanjutan Dimensi Sosial
Nilai Keberlanjutan Reference anchors Anchors
Tabel 3 Skor Atribut Dimensi Sosial
Responden
Pendidikan Pelayanan Kesehatan Pelayanan Pendidikan SD Pelayanan Pendidikan SMP Pelayanan Pendidikan SMA Kepuasan Pelayanan KB Pengurus Kampung Karang Taruna
Nilai Keberlanjutan
Responden 1 1 3 2 2 2 3 3 2 58,83
Responden 2 2 3 3 2 2 3 3 2 65,09
Responden 3 1 2 3 2 2 3 3 2 60,15
Responden 4 1 3 3 3 3 1 3 2 72,23
Responden 5 1 2 3 3 2 2 3 1 59,49
Responden 6 1 2 2 2 2 2 3 1 50,27
Responden 7 2 3 3 3 3 3 3 2 80,93
Responden 8 1 3 3 3 2 3 3 1 71,10
Responden 9 1 3 3 3 3 3 3 2 80,39
Responden 10 1 1 2 2 1 1 3 1 32,02
. . .
. .
. .
. .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
Responden 85 2 3 3 3 3 3 3 2 81,07
Rata-rata 72,21
Gambar 3 Analisis Pengungkit Dimensi Sosial Menurut Tabel 3, dimensi sosial memiliki
kategori sangat berkelanjutan dengan nilai rata- rata 72,21. Terdapat empat faktor yang mendukung keberlanjutan dimensi sosial, yaitu responden banyak yang menggunakan fasilitas pendidikan dan kesehatan yang terletak paling dekat dengan kampung. Lokasi kampung memang dekat dengan fasilitas pendidikan baik SD, SMP, maupun SMA dan fasilitas kesehatan yang berupa puskesmas dan puskesmas pembantu. Selain itu, para responden juga sebagian besar telah puas dengan pelayanan KB yang telah diberikan.
Pengurus kampung yang aktif dalam melaksanakan tugasnya juga turut mendukung keberlanjutan dimensi sosial di kampung ini.
Menurut Ketua RW 02, pengurus kampung selalu mengadakan rapat setiap satu bulan sekali untuk membicarakan langkah dalam pengembangan kampung. Namun, terdapat dua hal yang kurang
mendukung keberlanjutan dimensi sosial yaitu responden yang memiliki latar belakang pendidikan yang masih dalam tingkat dasar dan karang taruna yang sudah tidak aktif dalam melaksanakan tugasnya, bahkan keberadaannya hampir sudah tidak dianggap oleh responden.
Kondisi karang taruna tersebut juga sesuai dengan pendapat Ketua RW 02 yang menyatakan bahwa karang taruna masih ada, namun sudah tidak berfungsi.
Gambar 3 menunjukkan bahwa terdapat atribut dengan nilai perubahan Root Mean Square (RMS) tertinggi. Atribut dengan nilai perubahan RMS tertinggi adalah karang taruna (7,65), balita dan tingkat pendidikan (6,54). Tingginya nilai perubahan ini menunjukkan bahwa atribut tersebut merupakan atribut sensitif atau paling berpengaruh dalam perubahan nilai keberlanjutan dimensi sosial.
6.54 2.81
4.58 4.28 3.43 3.06
4.54
7.65
0 2 4 6 8 10
Pendidikan Pelayanan Kesehatan Pelayanan Pendidikan SD Pelayanan Pendidikan SMP Pelayanan Pendidikan SMA Kepuasan Pelayanan KB Pengurus Kampung Karang Taruna
Root Mean Square Change % in Ordination when Selected Attribute Removed (on Status scale 0 to 100)
Attribute
Leverage of Attributes
Nilai leverage atribut karang taruna termasuk tinggi, karena 76,47% responden berpendapat jika karang taruna tidak aktif dalam melaksanakan tugasnya, serta terdapat 21,18%
responden yang menganggap sudah tidak terdapat karang taruna. Nilai leverage atribut tingkat pendidikan juga termasuk tinggi, karena 64,71% responden memiliki tingkat pendidikan dasar, serta 34,12% merupakan responden dengan pendidikan menengah. Kedua atribut tersebut termasuk atribut yang paling berpengaruh karena memiliki presentase skor rendah terbanyak. Hal tersebut berarti, atribut karang taruna dan tingkat pendidikan memiliki pengaruh negatif terhadap perubahan nilai keberlanjutan dimensi sosial. Sehingga untuk meningkatkan nilai keberlanjutan pada dimensi sosial, maka perlu meningkatkan presentase skor tinggi pada atribut tersebut.
Adapun untuk meningkatkan atribut karang taruna yaitu dengan mengaktifkan kembali karang taruna yang sudah ada, seperti membuat kegiatan yang dapat dilakukan oleh kelompok pemuda untuk pengembangan kampung.
Kegiatan tersebut dapat berupa membuat berbagai souvenir yang dapat dijual kepada pengunjung kampung. Keuntungan dari penjualan tersebut dapat digunakan sebagai kas untuk menambah keuangan kampung. Sedangkan, untuk atribut pendidikan, karena banyak responden yang memilih bekerja daripada melanjutkan pendidikannya, maka dapat
ditambahkan pelatihan kerja untuk meningkatkan kemampuan penduduk.
Multidimensional Scalling Dimensi Ekonomi Posisi nilai keberlanjutan berada pada sumbu X, sedangkan nilai pada sumbu Y mengindikasikan variasi atribut yang tidak berhubungan dengan keberlanjutan. Nilai pada sumbu Y bergantung pada penilaian UP dan DOWN saat menjalankan analisa rapfish.
Atribut yang digunakan yaitu pengeluaran penduduk, peluang usaha, perlindungan sosial, angkatan kerja, lembaga ekonomi mikro, dan pendapatan penduduk. Pada setiap atribut tersebut akan diberikan skor menurut kondisi di Kampung Warna-Warni oleh responden.
Responden berjumlah 85 penduduk yang mewakili setiap KK. Atribut dengan kondisi buruk akan memiliki skor 1, atribut dengan kondisi sedang akan memiliki skor 2, dan atribut dengan kondisi baik akan memiliki skor 3.
Nilai keberlanjutan yang ditentukan berdasarkan skor dari masing-masing responden akan dirata-rata untuk mengetahui nilai keberlanjutan ekonomi secara keseluruhan. Nilai keberlanjutan masing-masing responden kemudian digambarkan pada diagram letak titik- titik keberlanjutan. Gambar 4 merupakan diagram letak titik-titik keberlanjutan dimensi ekonomi dan Tabel 4 merupakan nilai keberlanjutan dimensi ekonomi menurut masing- masing responden.
Gambar 4 Tingkat Keberlanjutan Dimensi Ekonomi Good Bad
Up
-60 Down -40 -20 0 20 40 60
0 20 40 60 80 100
Other Distingishing Features
Nilai Keberlanjutan
Nilai Keberlanjutan Dimensi Ekonomi
Nilai Keberlanjutan Reference anchors Anchors
Tabel 4 Skor Atribut Dimensi Ekonomi
Responden Pengeluaran Penduduk
Perlindungan Sosial
Peluang Usaha
Angkatan Kerja
Lembaga Ekonomi Mikro
Pendapatan Penduduk
Nilai Keberlanjutan
Responden 1 2 3 2 2 3 2 59,06
Responden 2 1 3 2 3 3 1 62,10
Responden 3 2 3 2 3 3 2 69,12
Responden 4 2 3 3 2 2 1 59,50
Responden 5 2 3 2 2 3 2 59,06
Responden 6 2 3 2 2 3 2 59,06
Responden 7 2 3 2 2 3 2 59,06
Responden 8 2 3 2 2 3 1 56,25
Responden 9 2 3 3 2 3 1 68,30
Responden 10 2 3 2 2 3 2 59,07
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
Responden 85 2 2 2 2 3 1 50,52
Rata-rata 61,23
Gambar 5 Analisis Pengungkit Dimensi Ekonomi
Menurut Tabel 4, dimensi ekonomi memiliki kategori cukup berkelanjutan dengan nilai rata-rata 61,23. Nilai ini menunjukkan bahwa dimensi ekonomi cukup mendukung keberlanjutan permukiman.
Terdapat tiga faktor pendukung keberlanjutan dimensi ekonomi. Pertama, yaitu banyak responden yang telah puas dengan program perlindungan sosial yang diberikan di Kampung Warna-Warni. Program tersebut berupa PKH, raskin, dan jaminan kesehatan yang dikoordinasikan oleh kelurahan. Kedua, yaitu sudah terdapat responden yang memanfaatkan peluang usaha dengan membuka toko souvenir atau makanan. Kampung Warna-Warni memang memiliki peluang usaha karena ramai oleh pengunjung. Lembaga keuangan mikro yang aktif dalam melaksanakan tugasnya juga turut mendukung keberlanjutan dimensi sosial di kampung ini. Menurut Ketua RW 02, terdapat lembaga keuangan mikro atau bendahara yang aktif mengelola keuangan kampung. Namun, terdapat tiga hal yang kurang mendukung
keberlanjutan dimensi ekonomi yaitu masih terdapat responden yang memiliki pendapatan di bawah setengah pendapatan perkapita dan pengeluaran di bawah garis kemiskinan rumah tangga nasional. Kondisi tersebut didukung dengan banyaknya responden dengan pekerjaan tidak tetap atau pekerjaan lepas (freelance).
Gambar 5 menunjukkan bahwa terdapat atribut dengan nilai perubahan RMS tertinggi.
Atribut dengan nilai perubahan RMS tertinggi adalah perlindungan sosial (6,25), lembaga ekonomi mikro (5,80), dan peluang usaha (5,68).
Tingginya nilai perubahan ini menunjukkan bahwa atribut tersebut merupakan atribut sensitif atau paling berpengaruh dalam perubahan nilai keberlanjutan dimensi ekonomi.
Nilai leverage atribut perlindungan sosial termasuk tinggi, karena 91,77% responden telah puas dengan program perlindungan sosial yang diberikan pada responden, serta terdapat 5,88%
dan 2,35% responden yang masih cukup puas dan tidak puas. Hal tersebut karena responden merasa jika program yang diberikan belum tepat
5.41
6.25 5.68 5.10
5.80 5.10
0 1 2 3 4 5 6 7
Pengeluaran Penduduk Perlindungan Sosial Peluang Usaha Angkatan Kerja Lembaga Ekonomi Mikro Pendapatan Penduduk
Root Mean Square Change % in Ordination when Selected Attribute Removed (on Status scale 0 to 100)
Attribute
Leverage of Attributes
sasaran dan tidak merata. Nilai leverage atribut lembaga keuangan mikro termasuk tinggi karena 84,71% responden menganggap lembaga ekonomi mikro telah aktif dalam melaksanakan tugas, serta terdapat 14,11% masih menganggap jika lembaga keuangan mikro tidak aktif melaksanakan tugas, bahkan 1,18% menganggap jika sudah tidak ada. Nilai leverage atribut peluang usaha juga termasuk tinggi, karena 77,65%
responden berpendapat jika terdapat peluang usaha namun belum memanfaatkannya, serta 2,35% merupakan responden yang menganggap tidak terdapat peluang usaha.
Atribut perlindungan sosial dan lembaga keuangan mikro termasuk atribut yang paling bepengaruh karena memiliki presentase skor tinggi terbanyak, yang artinya memiliki perubahan secara positif. Sehingga untuk meningkatkan nilai keberlanjutan pada dimensi ekonomi, kondisi pada atribut perlindungan sosial dan lembaga keuangan mikro perlu dipertahankan, karena dua atribut tersebut memiliki pengaruh perubahan positif pada nilai keberlanjutan dimensi ekonomi. Sedangkan atribut peluang usaha paling berpengaruh karena memiliki presentase skor sedang terbanyak.
Sehingga diperlukan adanya peningkatan presentase pada skor baik. Peningkatan tersebut dapat dilakukan apabila terdapat beberapa rumah yang membuka usaha di dalam Kampung Warna-Warni.
Multidimensional Scalling Dimensi Lingkungan Posisi nilai keberlanjutan berada pada sumbu X, sedangkan nilai pada sumbu Y mengindikasikan variasi atribut yang tidak berhubungan dengan keberlanjutan. Nilai pada sumbu Y bergantung pada penilaian UP dan DOWN saat menjalankan analisa rapfish.
Atribut dimensi lingkungan yang digunakan pada penelitian ini yaitu sanitasi, air bersih, tempat sampah, jalan, drainase, PJU, pengolahan sampah, dan RTH. Pada setiap atribut tersebut akan diberikan skor menurut kondisi di Kampung Warna-Warni oleh responden. Responden berjumlah 85 penduduk yang mewakili setiap KK.
Atribut dengan kondisi buruk akan memiliki skor 1, atribut dengan kondisi sedang akan memiliki skor 2, dan atribut dengan kondisi baik akan memiliki skor 3.
Nilai keberlanjutan yang ditentukan berdasarkan skor dari masing-masing responden akan dirata-rata untuk mengetahui nilai keberlanjutan ekonomi secara keseluruhan. Nilai keberlanjutan masing-masing responden kemudian digambarkan pada diagram letak titik- titik keberlanjutan. Gambar 6 merupakan diagram letak titik-titik keberlanjutan dimensi lingkungan dan Tabel 5 merupakan nilai keberlanjutan dimensi lingkungan menurut masing-masing responden.
Gambar 6 Tingkat Keberlanjutan Dimensi Lingkungan Good Bad
Up
-60 Down -40 -20 0 20 40 60
0 20 40 60 80 100
Other Distingishing Features
Nilai Keberlanjutan
Nilai Keberlanjutan Dimensi Lingkungan
Nilai Keberlanjutan Reference anchors Anchors
Tabel 5 Skor Atribut Dimensi Lingkungan
Responden RTH Sanitasi Air Bersih Kepemilik- an Tempat Sampah Kondisi Jalan Drainase PJU Pengolah- an Sampah
Nilai Keberlanjutan
Responden 1 1 2 3 1 2 1 1 2 30,82
Responden 2 1 2 2 1 2 1 1 1 24,13
Responden 3 1 2 3 1 2 1 1 2 30,82
Responden 4 1 2 3 1 2 1 1 1 27,58
Responden 5 1 2 3 1 2 1 1 1 27,58
Responden 6 1 2 2 1 2 1 1 1 24,12
Responden 7 1 2 3 1 2 1 1 1 27,58
Responden 8 1 2 3 1 2 1 1 1 27,58
Responden 9 1 2 2 1 3 2 2 1 39,21
Responden 10 1 2 2 1 3 2 2 1 39,21
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
. . .
Responden 85 1 2 2 2 1 1 1 1 23,10
Rata-rata 29,53
Gambar 7 Analisis Pengungkit Dimensi Lingkungan
Menurut Tabel 5, dimensi lingkungan memiliki kategori kurang berkelanjutan dengan nilai 29,53. Terdapat empat faktor yang cukup mendukung keberlanjutan dimensi lingkungan.
Pertama, jalan berada dalam kondisi sedang.
Jalan di Kampung Warna-Warni banyak yang memiliki lebar kurang dari standar, namun memiliki pengerasan yang baik. Kedua, drainase juga dalam kondisi sedang. Drainase hanya tersedia di jalan utama, namun belum memiliki bangunan pelengkap sebagai masuknya air hujan.
Ketiga, air bersih berada dalam kondisi sedang.
Semua rumah telah terlayani air bersih baik perpipaan maupun bukan perpipaan, namun kondisi air termasuk buruk. Selain itu, kondisi sanitasi juga berada dalam kondisi sedang, karena hampir semua responden memiliki MCK pribadi, namun tidak memiliki septictank. Adapun empat
faktor yang kurang mendukung keberlanjutan dimensi lingkungan. Pertama, kurangnya RTH dan PJU karena keterbatasan lahan. Selain itu, masih banyak rumah yang belum memiliki tempat sampah pribadi sehingga harus menggunakan kantong plastik untuk pewadahan sampah.
Sebagian besar rumah juga banyak yang belum berpartisipasi baik secara aktif maupun pasif.
Skor pada atribut sanitasi dapat ditingkatkan dengan menambahkan septictank pada rumah, namun karena keterbatasan lahan untuk membangun septictank, maka sebagai alternatif dapat ditambahkan IPLT. Atribut air bersih dapat ditingkatkan dengan memperluas cakupan perpipaan air bersih. Sedangkan pada atribut jalan, dapat dilakukan peningkatan dengan perubahan perkerasan yang awalnya merupakan plester menjadi paving.
3.49
5.79 4.98
3.91 4.36 3.09
3.22 2.74
0 1 2 3 4 5 6 7
RTH Sanitasi Air Bersih Kepemilikan…
Kondisi Jalan Drainase PJU Pengolahan…
Root Mean Square Change % in Ordination when Selected Attribute Removed (on Status scale 0 to 100)
Attribute
Leverage of Attributes
Gambar 8Diagram Nilai Keberlanjutan Kampung Warna-Warni
Tabel 6 Perbandingan Nilai Keberlanjutan Kampung Warna Warni
No. Dimensi Nilai
Keberlanjutan Tingkat Keberlanjutan Indeks Monte
Carlo Perbedaan %
Perbedaan
1 Sosial 72,21 Cukup Berkelanjutan 72,56 0,35 0,48
2 Lingkungan 29,53 Kurang Berkelanjutan 29,72 0,19 0,68
3 Ekonomi 61,23 Cukup Berkelanjutan 60,88 0,35 0,12
Rata-rata 54,32 Cukup Berkelanjutan
Gambar 7 menunjukkan bahwa terdapat atribut dengan nilai perubahan RMS tertinggi.
Atribut dengan nilai perubahan RMS tertinggi adalah sanitasi (5,79), air bersih (4,98),dan jalan (4,36). Tingginya nilai perubahan ini menunjukkan bahwa atribut tersebut merupakan atribut sensitif atau paling berpengaruh dalam perubahan nilai keberlanjutan dimensi lingkungan.
Nilai leverage atribut sanitasi termasuk tinggi, karena 91,76% responden berpendapat jika kondisi sanitasi termasuk sedang. Hal tersebut karena hampir seluruh rumah telah memiliki MCK pribadi namun belum memiliki septictank. Nilai leverage atribut air bersih termasuk tinggi karena 64,71% responden menganggap jika kondisi air bersih termasuk sedang dan terdapat 30,59% buruk. Nilai leverage atribut jalan juga termasuk tinggi, karena 74,12%
responden berpendapat jika kondisi jalan termasuk sedang dan 17,65% termasuk buruk.
Ketiga atribut tersebut termasuk dalam atribut paling berpengaruh karena memiliki presentase skor sedang yang cukup tinggi. Sehingga untuk meningkatkan nilai keberlanjutan dimensi lingkungan, dapat dilakukan dengan meningkatkan presentase skor baik pada atribut sanitasi, air bersih, dan jalan.
Tingkat Keberlanjutan Kampung Warna-Warni Tingkat keberlanjutan Kampung Warna- Warni secara keseluruhan ditentukan melalui
rata-rata nilai keberlanjutan masing-masing dimensi dan kemudian dibandingkan dengan indeks monte carlo. Gambar 8 merupakan diagram yang menggambarkan nilai keberlanjutan Kampung Warna-Warni dan Tabel 6 merupakan perbandingan antara nilai keberlanjutan dan indeks monte carlo.
Berdasarkan Tabel 6, dimensi yang termasuk kategori kurang berkelanjutan yaitu lingkungan, sehingga perbaikan kampung sebaiknya difokuskan pada atribut-atribut dimensi tersebut. Dimensi yang termasuk kategori cukup berkelanjutan yaitu sosial dan ekonomi, sehingga perlu dipertahankan. Selisih indeks monte carlo dan nilai keberlanjutan juga relatif kecil (< 5%) (Supardi et al., 2017). Hal tersebut berarti bahwa:
1. Pengaruh kesalahan penentuan skoring relatif kecil.
2. Pengaruh variasi skoring akibat perbedaan nilai masing-masing atribut termasuk relatif kecil.
3. Proses analisis yang dilakukan berulang- ulang cukup stabil
4. Kesalahan input data atau data yang hilang relatif kecil
Pada analisis tingkat keberlanjutan menggunakan MDS juga perlu diketahui keakuratan atribut yang telah dikaji dengan memperhatikan nilai stress dan koefisien determinasi (RSQ) yang telah dijelaskan pada Tabel 7.
72.21
29.53 61.23
0.00 20.00 40.00 60.00 80.00 100.00Sosial
Lingkungan Ekonomi
Nilai Keberlanjutan Kampung Warna-Warni
Tabel 7 Nilai Stress dan Nilai RSQ
No. Dimensi Nilai Stress Nilai RSQ Iterasi
1 Sosial 0,1564 0,9575 3
2 Lingkungan 0,1927 0,9325 3
3 Ekonomi 0,2289 0,9066 3
Nilai stress merupakan ukuran ketidakcocokan pada pemberian skor (lack of fit) yang mana apabila nilainya semakin kecil (mendekati angka 0), maka skor yang diberikan semakin sesuai. Koefisien determinasi (RSQ) merupakan kuadrat koefisien korelasi yang menunjukkan proporsi variasi data yang optimal (ketepatan atau goodness of fit) yang mana apabila nilainya semakin besar (mendekati angka 1), maka variasi data yang diberikan semakin sesuai. Berdasarkan Tabel 7, nilai stess menunjukkan nilai 0,15 – 0,23, sedangkan nilai koefisien determinasi yaitu 0,90 – 0,96. Hal tersebut menunjukkan bahwa atribut-atribut yang digunakan dalam penelitian ini dinilai akurat, karena nilai stress menunjukkan angka kurang dari 0,25 dan nilai koefisien determinasi mendekati 1.
KESIMPULAN
Kondisi keberlanjutan pada dimensi sosial berada pada kategori cukup berkelanjutan dengan skor 72,21. Hal tersebut karena lokasi kampung dekat dengan fasilitas pendidikan dan kesehatan, responden puas dengan pelayanan KB, pengurus kampung yang aktif, latar belakang pendidikan penduduk pada tingkat dasar dan menengah, dan karang taruna yang tidak aktif.
Kondisi keberlanjutan pada dimensi ekonomi berada pada kategori cukup berkelanjutan dengan skor 61,23. Hal tersebut karena responden puas dengan program perlindungan sosial, terdapat responden yang memanfaatkan peluang usaha, lembaga keuangan mikro yang aktif, terdapat responden dengan pendapatan di bawah setengah pendapatan perkapita dan pengeluaran di bawah garis kemiskinan rumah tangga nasional, serta banyak responden dengan pekerjaan lepas.
Kondisi keberlanjutan pada dimensi lingkungan berada pada kategori kurang dengan skor 29,53. Hal tersebut karena masih kurangnya RTH, jalan belum memenuhi standar, penerangan jalan umum belum tersedia, drainase belum terdapat bangunan pelengkap, banyak rumah belum terlayani sumber air bersih perpipaan, rumah tangga belum memiliki tempat sampah dan berpartisipasi dalam pengolahan sampah,
serta belum adanya septic tank sanitasi yang menyebabkan nilai untuk atribut sanitasi menurun.
Secara keseluruhan, tingkat keberlanjutan Kampung Warna-Warni berada pada tingkat cukup berkelanjutan dengan nilai 54,32. Hal tersebut berarti kondisi keberlanjutan permukiman sudah cukup baik, namun kurang memperhatikan aspek lingkungan.
Atribut-atribut dengan nilai leverage tertinggi yang artinya paling mempengaruhi nilai keberlanjutan pada dimensi sosial yaitu: pertama atribut karang taruna (7,65), karena 76,47%
responden berpendapat jika karang taruna sudah tidak aktif dan 21,18% responden menganggap sudah tidak terdapat karang taruna. Kedua, tingkat pendidikan (6,54), karena 64,71%
responden memiliki tingkat pendidikan pendidikan dasar dan 34,12% pendidikan menengah.
Atribut-atribut dengan nilai leverage tertinggi pada dimensi ekonomi yaitu: pertama perlindungan sosial (6,25), karena karena 91,77%
responden telah puas dengan program perlindungan sosial yang diberikan pada responden, serta terdapat 5,88% dan 2,35%
responden yang masih cukup puas dan tidak puas.
Kedua, lembaga ekonomi mikro (5,80), karena 84,71% responden menganggap lembaga ekonomi mikro telah aktif dalam melaksanakan tugas, serta terdapat 14,11% masih menganggap jika lembaga keuangan mikro tidak aktif melaksanakan tugas, bahkan 1,18% menganggap jika sudah tidak ada. Ketiga, peluang usaha (5,68) karena 77,65% responden berpendapat jika terdapat peluang usaha namun belum memanfaatkannya dan 2,35% menganggap tidak terdapat peluang usaha.
Atribut-atribut dengan nilai leverage tertinggi pada dimensi lingkungan yaitu: pertama, sanitasi (5,69), karena 91,76% responden berpendapat jika kondisi sanitasi termasuk sedang. Kedua air bersih (4,98), karena 64,71%
responden menganggap jika kondisi air bersih termasuk sedang dan terdapat 30,59% buruk.
Ketiga, jalan (4,36), karena 74,12% responden berpendapat jika kondisi jalan di sekitar rumahnya termasuk sedang dan 17,65% buruk.
Atribut-atribut yang menjadi prioritas yaitu atribut yang termasuk leverage dengan hasil survei berupa presentase yang tinggi pada kategori sedang (skor 2) dan rendah (skor 1).
Atribut-atribut tersebut antara lain: pada dimensi sosial yaitu keberadaan dan keaktifan karang
taruna serta tingkat pendidikan. Pada dimensi ekonomi yaitu dan peluang usaha. Sedangkan pada dimensi lingkungan yaitu sanitasi, air bersih, dan jalan.
DAFTAR PUSTAKA
Chaidir, A & Murtini, T.W. 2014. Keberlanjutan Permukiman Rawa Desa Baru di Kabupaten Hulu Sungai Utara Kalimantan Selatan.
Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota. 10 (1): 59-69.
Dyah, V. Yuliastuti, N. 2014. Penilaian Keberlanjutan Permukiman Kampung Lama di Kelurahan Lempongsari. Jurnal Teknik PWK. 3 (4): 766-775.
Hamidah, N. Rijanta, R. Setiawan, & B. Marfai, M.A. 2016. Kampung sebagai Model Permukiman Berkelanjutan di Indonesia.
INERSIA. XII (2): 114-124.
Hidajat, J.T. 2014. Model Pengelolaan Kawasan Permukiman Berkelanjutan di Pinggiran Kota Metropolitan Jabodetabek. Disertasi.
Bogor: Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
Kavanagh, P & Pitcher, T.J. 2004. Implementing Microsoft Excel Software for Rapfish: A Technique for The Rapid Appraisal of Fisheries Status. Vancouver. University of British Columbia.
Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No. 534/KPTS/M/2001 tentang Pedoman Standar Pelayanan Minimal
Bidang Penataan Ruang, Perumahan dan Permukiman, dan Pekerjaan Umum.
Nursyahbani & R. Pigawati, B. 2016. Kajian Karakteristik Kawasan Permukiman Kumuh di Kampung Kota (Studi Kasus: Kampung Gandekan Semarang). Jurnal Teknik PWK.
4 (2):267-281.
Supardi, S. Hariyadi, S & Fahrudin, A. 2017.
Analisis Keberlanjutan Pembangunan Kota Tepian Pantai (Studi Kasus: Kota Baubau Provinsi Sulawesi Tenggara). Jurnal Wilayah dan Lingkungan. 5 (3): 188-204.
Soetopo, A. Arthati, D.F & Rahmi, U.A. 2014.
Kajian Indikator Sustainable Development Goals (SDGs). Jakarta. Badan Pusat Statistik.
Virgin, P.A. Poerwati, T. Imaduddina, A.H. 2018.
Tourism Development Strategy of Kampung Warna-Warni in Sub-District Jodipan Malang. Malang. Institut Teknologi Nasional Malang.
Wijaya, D.W. 2016. Perencanaan Penanganan Kawasan Permukiman Kumuh Studi Penentuan Kawasan Prioritas untuk Peningkatan Kualitas Infrastruktur pada Kawasan Permukiman Kumuh di Kota Malang. Jurnal Ilmiah Administrasi Publik (JIAP). 2 (1): 1-10.
Wulandari, P.K. 2017. Inovasi Pemuda dalam Mendukung Ketahanan Ekonomi Keluarga (Studi di Kampung Warna-Warni Kelurahan Jodipan, Kecamatan Blimbing, Kota Malang). Jurnal Ketahanan Nasional. 23 (3):
300-319.