• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. METODE PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB III. METODE PENELITIAN"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III.

METODE PENELITIAN

A. Lokasi dan Waktu Penelitian 1. Lokasi Penelitian

Peneliti memilih untuk mengambil sampel dari lingkup Kanwil DJP Kaltimtara dikarenakan peneliti telah bekerja di beberapa KPP di lingkungan Kanwil DJP Kaltimtara sebelumnya, menjadi bagian dan mengalami adanya permasalahan overload informasi dalam penerimaan-konsultasi SPT Tahunan. Hal itu membuat peneliti meyakini bahwa sampel telah memenuhi standar awal penelitian yang dipilih oleh peneliti. Meskipun Kanwil DJP Kaltimtara terdiridari beberapa kantor yang berbeda dan jumlah pegawai disetiap seksi mungkin sedikit berbeda antar kantor, namun secara umum seragam. Sebagian besar seksi dilengkapi dengan komputer dan sistem perangkat lunak yang sama, dan dilengkapi dengan jenis program e-mail kedinasan dan atau pesan instan yang sama. Oleh karena itu, peneliti memilih untuk mewawancarai informan dengan jobdesc yang sama, tujuanya adalah untuk memastikan media komunikasi yang mereka gunakan secara keseluruhan sama. Seksi atau departemen yang dipilih adalah seksi pelayanan, seksi pengawasan (dan konsultasi), seksi ekstensifikasi dan penyuluhan, serta seksi penagihan dikarenakan sesuai dengan seksi yang bersinggungan langsung dengan penerimaan dan konsultasi SPT Tahunan.

Selanjutnya alasan pemilihan Kanwil DJP Kaltimtara digunakan sebagai sampel adalah secara demografi kantor pajak dibandingkan dengan luas wilayah kerja merupakan salah satu yang terluas dengan jumlah WP yang cukup banyak.

Selain itu, proporsi pegawai didaerah tidak sebanding dengan jumlah pengawasan WP yang dilakukan oleh pegawai. Terdapat beberapa kantor dengan kondisi yang saling berkebalikan (jumlah pegawai berbanding jumlah WP), sehingga dapat digunakan sebagai pembanding terhadap kasus overload informasi tersebut apakah terjadi secara simultan atau tidak. Ditambah, akses jaringan untuk wilayah Pulau Kalimantan yang tidak selancar Pulau Jawa menjadi pertimbangan tambahan kenapa lokasi dipilih oleh peneliti.

(2)

Dalam menjalankan tugasnya Kanwil DJP Kaltimtara selalu bersinergi dengan 10 KPP dan 6 Kantor Penyuluhan, Pelayanan dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP) untuk mencapat target penerimaan pajak yang diamanahkan. Dibawah ini merupakan Tabel perbandingan Luas Area Pengawasan, Jumlah WP dan Jumlah Pegawai:

Tabel 3.1. Perbandingan Luas Area, Jumlah WP dan Jumlah Pegawai Kantor DJP Kaltimtara

No. Kantor Luas Area

Pengawasan (𝑘𝑚2)

Jumlah Wajib Pajak

Jumlah Pegawai 1 KPP Madya Balikpapan ± 204.534 ± 1,000 ± 100 2 KPP Pratama Penajam

± 11.063 ± 130,000 ± 80

KP2KP Tanah Grogot ± 10

3 KPP Pratama Bontang

± 36.154 ± 170,000 ± 85

KP2KP Sangatta ± 10

4 KPP Pratama Tarakan

± 14.092 ± 120,000 ± 80

KP2KP Nunukan ± 5

5

KPP Pratama Tanjung Redeb

± 82.615 ± 135,000

± 90

KP2KP Tanjung Selor ± 10

KP2KP Malinau ± 5

6 KPP Pratama Tenggarong

± 43.983 ± 130,000 ± 90

KP2KP Sendawar ± 5

7 KPP Pratama Balikpapan Barat

± 527 ± 165,000 ± 100

8 KPP Pratama Balikpapan Timur ± 150,000 ± 100 9 KPP Pratama Samarinda Ilir

± 16,098 ± 130,000 ± 95

10 KPP Pratama Samarinda Ulu ± 165,000 ± 90

Sumber: SIKKA DJP, Buku Profil DJP Kaltimtara, data diolah oleh peneliti Memilih pegawai dari seksi yang berbeda dalam lingkungan organisasi yang sama secara keseluruhan juga dapat memastikan bahwa pengalaman pribadi ini tidak khusus terjadi pada satu seksi saja, dan oleh karena itu tidak mewakili konteks atau lokasi tertentu. Selain itu hal ini juga untuk dapat memastikan bahwa pengalaman peserta tidak spesifik untuk jenis pegawai tertentu atau hanya terjadi ditingkat pegawai tertentu. Tidak diperlukan klasifikasi dan peringkat yang spesifik dan terpadu antar sampel, justru keberagaman jenis pekerjaan pegawai dianggap lebih sesuai untuk memastikan bahwa pengalaman tidak hanya mewakili pegawai tertentu.

2. Waktu Penelitian

Waktu penelitian dijadwalkan selama enam bulan, dimulai pada saat jatuh tempo pelaporan SPT Tahunan Pajak Penghasilan 2020 yakni periode Maret dan

(3)

April 2021 (dilakukan survey awal), hingga wawancara selesai dilakukan yang di perkirakan selesai pada bulan Agustus 2021. Periode ini dianggap paling tepat dimana overload informasi sangat dimungkinkan berulang terjadi.

B. Pendekatan dan Jenis Penelitian 1. Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Pendekatan kualitatif dipilih karena proses penelitian melibatkan masalah dan prosedur yang terlihat dan dapat diamati. Pertanyaan yang biasa digunakan dalam pendekatan kualitatif adalah pertanyaan terbuka yang memungkinkan peneliti dapat melihat suatu permasalahan semakin mendalam. Pendekatan kualitatif menggunakan data penelitian yang dikumpulkan dari data wawancara, data observasi dan data dokumen yang dapat diamati dan diteliti, bukan berupa data olah hitung menggunakan data statistik.

Selainjutnya, penelitian dengan pendekatan kualitatif studi kasus lebih menekankan pada sifat empirik dengan permasalahan yang terjadi saat ini.

Penelitian kualitatif juga berusaha memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian (seperti perilaku, persepsi, tindakan dll) secara holistik dengan cara mendeskripsikanya dalam bentuk kata kata dan bahasa (Moleong, 2014).

Data tersebut akan dianalisis berdasarkan teks dan audio untuk menentukan tema atau pola interpretasi. Data dikumpulkan sesuai dengan bagaimana informan telah diberikan informasi awal sebelum dilakukan pengambilan data. Selanjutnya, analisis data dirangkum dari berbagai topik tertentu menjadi topik yang lebih umum, kemudian peneliti menjelaskan arti dari data tersebut. Laporan tertulis pada akhirnya diharapkan memiliki struktur yang fleksibel. Partisipan dalam penelitian di desain untuk mendukung penelitian yang menekankan pada pentingnya gaya induktif, makna pribadi dan kompleksitas atas suatu situasi (Creswell and Creswell, 2018).

Alasan penggunaan metode kualitatif dalam penelitian ini diantaranya adalah:

a. Pendekatan kualitatif mampu mengungkap data secara menyeluruh berkaitan dengan kasus overlod informasi yang terjadi dalam organisasi dan kaitanya

(4)

dengan iklim komunikasi yang ada didalamnya.

b. Pendekatan kualitatif lebih mampu menjelaskan fakta dilapangan dikarenakan karena penggalian informasi dan data dilakukan melalui wawancara secara langsung kepada subyek penelitian atau pelaku terkait.

c. Pendekatan kualitatif pada penelitian-penelitian sebelumnya lebih sesuai digunakan pada jenis penelitian studi kasus

2. Jenis Penelitian

Yin (2018) mengatakan bahwa studi kasus adalah cerita tentang sesuatu yang unik, istimewa atau menarik-dapat melibatkan individu, organisasi, proses, prosedur, lingkungan, institusi, atau bahkan suatu peristiwa. Tujuan penelitian studi kasus ini adalah untuk mengeksplorasi, mendeskripsikan dan menjelaskan arti umum dari peristiwa, maka penting untuk memperhatikan cara sebuah peristiwa atau pengalaman seseorang menggunakan teknologi. Penelitian studi kasus lebih mengacu pada pertanyaan “why” dan “how” pada permasalahan yang terjadi pada masyarakat yang didesain secara rinci dan mendalam. Permasalahan yang diteliti dalam penelitian ini nyata, tetapi belum dapat dilihat secara jelas penyebab terjadinya kasus tersebut (Yin and Campbell, 2018).

Melalui metode kualitatif studi kasus, penelitian ini meneliti bagaimana CMC di lingkungan tempat kerja dan organisasi melalui pengalaman pegawai yang mengalami overload informasi. Secara khusus, studi ini mengeksplorasi dampak kelebihan informasi pada produktivitas organisasi dan perubahan perilaku komunikasi pegawai pada layanan perpajakan kemudian menjelaskan bagaimana peneliti melihat sebagai kesatuan dampak overload informasi terhadap iklim komunikasi organisasi. Dalam kasus ini dengan menjelajahi bagaiamana setiap pribadi pegawai menggunakan CMC di tempat kerja, deskripsi yang dicari diharapkan mampu mengungkapkan arti umum di balik pengalaman overload informasi yang dirasakan pegawai, efek yang ditimbulkan, persepsi atas produktivitas kerja, adanya perubahan perilaku komunikasi dikaitkan dengan bagaimana overload informasi terebut dapat mempengaruhi iklim komunikasi organisasi.

Alasan digunakannya jenis penelitian tudi kasus dalam penelitian ini adalah:

(5)

a. Penelitian studi kasus diterapkan dalam penelitian ini diharapkan mampu menjawab dan menjelaskan pertanyaan “bagaimana” dan “mengapa”

sehingga diketahui latar belakang penyebab dan menjelaskan proses terjadinya overload informasi yang diakibatkan penerapan CMC ditempat kerja dan pemilihan media yang digunakan.

b. Menerapkan jenis penelitian studi kasus juga diharpakan mampu mengungkapkan latar belakang permasalahan secara mendalam, sehingga didapatkan solusi dan coping dari overload informasi yang terjadi di organisasi.

C. Teknik Pengumpulan dan Sumber Data

Yin (2013) menjelaskan bahwa sumber bukti paling umum ada enam jenis alat yang digunakan untuk melakukan studi kasus, yaitu dokumen, catatan arsip, wawancara, observasi langsung, observasi partisipan, dan produk fisik lainnya.

Penelitian ini menggunakan teknik wawancara mendalam (in-depht interview) semi terstruktur sebagai sumber data penelitian utama, dan penggunaan obesrvasi non-partisipatori dan dokumen pendukung sebagai sumber data penelitian sekunder. Melalui teknik wawancara mendalam, peneliti dapat mengajukan pertanyaan kepada informan terutama tentang fakta tentang masalah dan pandangan mereka tentang kasus terakit (Yin and Campbell, 2018).

1. Wawancara

Menurut praktik penelitian kualitatif, data dikumpulkan oleh peneliti melalui wawancara mendalam semi-terstruktur dengan informan atau partisipan (Creswell and Creswell, 2018). Peneliti dan partisipan melakukan wawancara selama kurang lebih 30-45 menit melalui zoom dan WhatssApp, dimana peneliti mencatat semua catatan tertulis dari tanggapan atau diskusi, dan mencatat keakuratan wawancara secara elektronik. Alat dan bahan khusus yang digunakan termasuk formulir pertanyaan untuk mebatasi diskusi tetap dalam koridor tujuan penelitian berupa formulir protokol wawancara (interview guide) untuk mencatat tanggapan responden dan komentar penting lainnya yang mungkin ditemukan peneliti (Creswell and Creswell, 2018). Selama wawancara, peserta juga diberikan daftar istilah atau bagaimana struktur penelitian ini dilakukan. Jika diperlukan, peneliti

(6)

dapat melakukan pertanyaan di luar daftar tersebut untuk lebih mengeksplorasi dan dapat digunakan sebagai alat referensi bagi peserta serta sebagai alat untuk diskusi lebih lanjut.

Secara umum, tujuan setiap wawancara adalah untuk mengungkapkan jawaban atas pertanyaan umum yang luas (Creswell and Creswell, 2018). Dalam studi ini, pertanyaan terkait pengalaman peserta dalam menggunakan CMC dan informasi yang berlebihan di tempat kerja. Wawancara seperti ini biasanya dibandingkan dengan komunikasi atau dialog dimana pewawancara membentuk arah percakapan secara umum dan mengejar topik tertentu yang diangkat oleh responden (Babbie and Williams, 2021). Melalui pertanyaan-pertanyaan ini, peneliti dapat mengembangkan struktur in-variansi penelitian dasar, yaitu deskripsi komprehensif tentang perspektif pengalaman individu terhadap suatu fenomena (Creswell and Creswell, 2018).

Peneliti mencatat pengalaman pribadi CMC di tempat kerja dan setiap insiden yang disebabkan oleh overload informasi dengan mengklarifikasi atau menghilangkan bias apa pun. Literatur diperoleh melalui penggunaan jurnal penelitian serta dokumen fisik dan logbook pegawai sebagai pembanding tingkat produktivitas, dan pada dasarnya sebagai fokus menilai reaksi individu dan keunikan sampel adalah satu-satunya cara yang dilakukan dalam penelitian ini. Hal tersebut dilakukan dengan menjelaskan secara lengkap bagaimana peserta memandang fenomena overload informasi kemudian peneliti mendeskripsikan pengalaman mereka sendiri sebanyak mungkin (Creswell and Creswell, 2018).

o Stakeholder Kunci: Pegawai KPP di lingkup Kanwil DJP Kaltimtara yang mengalami overload informasi selama proses penerimaan dan pelaporan SPT Tahunan.

o Stakeholder Primer: Atasan Eselon IV dari Pegawai KPP di lingkup Kanwil DJP Kaltimtara yang mengalami overload informasi selama proses penerimaan dan pelaporan SPT Tahunan.

2. Observasi Non-Parsipatory

Dalam observasi ini, peneliti tidak terlibat aktif dan hanya sebagai pengamat independen. Observasi akan dilakukan dengan cara peneliti akan mengikuti proses

(7)

konsultasi online, baik itu pelatihan maupun kelas pajak yang dilakukan di KPP yang menjadi sampel penelitian. Peneliti secara tertulis akan menyampaikan maksud dan tujuan dari mengikuti kegiatan tersebut dengan harapan agar mendapat gambaran langsung tahapan dan proses dari narasumber, situasi dan kondisi konsultasi, sehingga akan diketahui kondisi riil pada saat pelaksanaan.

3. Dokumen

Dokumen adalah salah satu teknik yang akan dilakukan oleh peneliti dalam pengumpulan data. Fungsi pengumpulan dokumen ini antara lain untuk memahami pokok masalah sehingga membantu peneliti dalam memberikan gambaran tentang apa yang akan diteliti. Dokumen yang akan digunakan dalam bentuk regulasi (Undang Undang hingga turunannya seperti Ketentuan Umum Perpajakan, Standard Operational Procedure (SOP), Siaran Pers, Perdirjen dan sebagainya), dokumentasi kegiatan penerimaan SPT Tahunan, notulen rapat, logbook dan maupun situs internet. Dokumen dapat berupa softcopy maupun hardcopy dan sebagainya yang dapat mendukung penelitian ini.

D. Teknik Pemilihan Sampel

Ide di balik penelitian kualitatif adalah dengan sengaja memilih partisipan atau dengan menemukan dan mendesain (file atau materi) yang akan membantu peneliti memahami masalah dan pertanyaan penelitian (Creswell and Creswell, 2018). Berdasarkan pernyataan ini, pemilihan sampel informan akan dilakukan melalui purposive sampling dengan metode homogeneous purposive sample, adalah sampel yang dipilih karena memiliki karakteristik atau kumpulan karakteristik yang sama, misalkan kesamaan dalam hal usia, budaya pekerjaan atau pengalaman hidup. Teknik ini berfokus pada kesamaan karakteristik dan bagaimana hubungannya dengan topik yang sedang diteliti (Patton, 2015).

Purposive sampling ini digunakan dipilih dalam penelitian ini karena untuk memastikan bahwa mereka semua bekerja di organisasi yang sama dan menangani proses pelaporan SPT Tahunan, menggunakan CMC yang sejenis, mengalami perspektif overload informasi dan kantor tempat bekerja memiliki struktur manajemen yang sama sehingga dimungkinkan iklim komunikasi organisasi yang ada atau terbentuk juga akan sama.

(8)

Perspektif ini didekati dengan menggunakan pengambilan sampel standar, dengan pengertian bahwa tingkat informasi tertentu yang overload selama proses pelaporan SPT Tahunan diakibatkan karena adanya banyaknya informasi yang didapat oleh pegawai dari eksternal dan juga internal (dari manajemen).

Pengambilan sampel individu sesuai dengan kriteria ini juga dapat memastikan bahwa semua individu memiliki beberapa karakteristik yang sama sehingga dianggap sebagai pilihan ideal. Alasan lain untuk menggunakan jenis homogeneus purposive sampling adalah untuk memastikan konsistensi dalam sampel. Pada dasarnya, ketika setiap peserta menggunakan jenis sistem komputer yang kurang lebih sama untuk pekerjaan layanan publik, peneliti dapat berasumsi bahwa pengalaman pribadi setiap informan akan memiliki aspek yang sama dengan peserta lainnya. Misalnya, departemen seperti seksi pelayanan atau seksi ekstensifikasi dan penyuluhan memiliki struktur dan fungsi yang berbeda, namun seperti yang disebutkan sebelumnya fokus penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pengalaman serupa dan berbagi teknologi yang tersedia yang digunakan individu di tempat kerja.

Meskipun individu pegawai berbeda dalam kemampuan mereka untuk memproses informasi, peningkatan arus pesan dalam komunikasi yang terlihat di setiap kantor atau tempat kerja membuat proses penerimaan dan pengolahan informasi dinilai sulit dan berlebihan. Informasi tidak selalu datang secara berlebihan, tetapi lebih besifat situasional. Penting juga untuk dicatat bahwa fokus studi ini bukan untuk menilai informasi yang berlebihan atau skenario terburuk apabila terjadi, tetapi untuk mendapatkan gambaran umum tentang pengalaman bersama individu dalam organisasi yang sama melewati proses overload informasi dan dampak keseluruhan terhadap iklim komunikasi organisasi di KPP unit vertikal DJP. Syarat informan:

1. Informan sebagai pegawai Kantor Pelayanan Pajak (KPP) di Lingkup Kantor Wilayah DJP Kalimantan Timur dan Utara dengan masa tugas minimal 2 tahun.

2. Informan merupakan pegawai di KPP terkait dengan salah satu job desc yang dilakukan adalah sebagai konsultan atau admin konsultasi pelaporan SPT Tahunan Pajak Penghasilan.

(9)

3. Informan telah melewati proses penerimaan SPT Tahunan Pajak Penghasilan Tahun 2019 dan atau 2020.

E. Analisis Data

Teknik analisis data penelitian kualitatif yang dikenal dengan interactive model ditawarkan oleh (Miles, Huberman and Saldana, 2014). Teknik analisis tersebut terdiri atas tiga unsur, yaitu 1) kondensasi data (data condensation), 2) penyajian data (data display), dan 3) penarikan kesimpulan dan pengujian (conclusion drawing/verification). Pada model Miles dan Huberman, analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas hingga datanya mencapai titik jenuh. Analisis data dapat dilakukan pada saat wawancara. Jika jawaban subyek penelitian belum memuaskan, peneliti dapat mengajukan pertanyaan hingga tahap tertentu sehingga diperoleh data yang dianggap kredibel.

Model Miles, Huberman dan Saldaña mencakup tiga tahapan yakni : 1. Data condensation (Kondensasi data)

Langkah ini merujuk pada proses memilih (selecting), mengerucutkan dan memfokuskan (focusing), peringkasan (abstracting), menyederhanakan (simplifiying dan atau mentransformasi data dari wawancara (transforming), dokumentasi dan data lainnya yang muncul pada tahapan pengumpulan data untuk mencari tema dan pola yang muncul dari data tersebut. Selanjutnya melakukan proses merangkum, mengkategorikan hal yang pokok, fokus dalam hal-hal yang penting, mencari pola dan tema serta menyingkirkan data-data yang tidak penting kemudian membuat kategori. Dengan tujuan untuk memberi gambaran yang lebih jelas. Kedua, memudahkan peneliti dalam melakukan pengumpulan data serta mencarinya jika diperlukan. Ketiga, menentukan fokus temuan dan jika terdapat temuan yang asing, tidak lazim, belum terpola, maka tersebut yang akan menjadi fokus oleh peneliti.

2. Data display (penyajian data)

Dalam penelitian kualitatif, penyajian data dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart dan sejenisnya namun menurut Miles, Huberman dan Saldaña, teks yang bersifat narasi adalah yang paling sering

(10)

digunakan. Dengan tujuan agar data yang sudah terorganisir, tersusun kedalam pola hubungan lebih mudah dipahami dan memudahkan merencanakan kerja lanjutan.

Kedua, hubungan yang interaktif pada kelompokkelompok data yang disajikan akan ditemukan setelah dilakukan analisis mendalam.

3. Conclusion drawing/verification (penarikan kesimpulan/verifikasi)

Terdapat dua kemungkinan pada data yang telah direduksi dan disajikan : pertama, jika tidak ditemukan bukti-bukti kuat yang mendukung kesimpulan awal, maka dapat ditarik kesimpulan akhir yang berbeda dengan kesimpulan awal.

Kedua, terdapat kesimpulan yang kredibel ketika peneliti kembali ke lapangan dan menemukan data-data yang konsisten dan valid yang memperkuat kesimpulan awal dari penelitian.

Sumber: Miles, Huberman dan Saldana, 2014

Jadi temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada menjadi kesimpulan pada penelitian kualitatif. Penelitian akan menjadi lebih jelas dan terang dimana sebelumnya masih gelap, remang-remang ketika terdapat temuan yang berupa deskripsi pada suatu obyek penelitian.

F. Keabsahan Data (Validitas Data)

Untuk menguji keabsahan data, dalam penelitian kualitatif mempunyai istilah yang berbeda dengan penelitian kuantitatif. Setidaknya validitas data dari hasil penelitian didapat dengan cara menggunakan instrumen penelitian yang valid, menggunakan sumber data yang cukup jumlahnya serta tepat, juga menggunakan analisis data dan metode pengumpulan yang benar. Formulasi pemeriksaan keabsahan data menyangkut kriteria derajat kepercayaan (credibility), keteralihan (tranferability), kebergantungan (dependability), dan kepastian (confirmability).

Dari empat kriteria tersebut, pendekatan kualitatif memiliki delapan teknik Pengumpulan

Data

Kondensasi Data

Penyajian Data

Penarikan Kesimpulan

(11)

pemeriksaan data, yaitu perpanjangan keikut-sertaan, ketekunan pengamatan, triangulasi, pengecekan sejawat, kecukupan referensi, kajian kasus negatif, pengecekan anggota, dan uraian rinci (Moleong, 2014).

1. Pengujian Kredibilitas (credibility)

Beberapa cara dapat digunakan untuk menguji kepercayaan terhadap data hasil penelitian kualitatif yakni dengan cara :

a. Perpanjangan keikut-sertaan

Melakukan penelitian dengan keterbatasan tidak menyurutkan langkah peneliti untuk melakukan pengamatan dengan berbagai cara, selain wawancara baik kepada narasumber yang pernah ataupun belum ditemui oleh peneliti untuk mendapatkan kepercayaan dari narasumber, peneliti mencoba untuk melakukan observasi mendalam. Peran rasa keterbukaan dan kepercayaan dengan narasumber sangat penting dikarenakan kemungkinan informasi yang dapat di peroleh oleh peneliti menjadi lengkap dan disembunyikan akan menjadi nihil.

b. Ketekunan pengamatan

Disini peneliti melakukan pengamatan lebih jeli dan berkesinambungan agar ketepatan data serta urutan atau rangkaian peristiwa dapat terekam dengan sistematis. Dengan meningkatkan ketekunan, peneliti dapat mengecek kembali salah atau tidaknya terhadap data yang ditemukan sehingga peneliti dapat mendeskripsikan data secara sistematis serta akurat.

c. Triangulasi Triangulasi sumber

Untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Dalam penelitiam, untuk menguji kredibilitas data tentang perilakupegawai, maka pengumpulan dan pengujian data yang telah diperoleh dilakukan kepada manajemen, pegawai bersangkutan dan Wajib Pajak. Data dari ketiaga sumber tersebut, tidak bisa diratakan seperti dalam penelitian kuantitatif, tetapi di deskripsikan, dikategorisasikan, mana pandangan yang sama, yang berbeda, dan mana yang spesifik dari tiga sumber data tersebut.

Data yang telah di analisis oleh peneliti sehingga menghasilkan suatu kesimpulan selanjutnya dimintakan kesepakatan (member check) dengan ketiga sumber data tersebut.

(12)

Triangulasi Teknik

Triangulasi teknik untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Pada penelitian ini data awal diperoleh dari survey awal, setelah itu data inti diperoleh dengan wawancara, lalu dicek dengan observasi non-parsitipasif dan melihat dokumentasi yang ada.

Triangulasi Waktu

Waktu juga sering mempengruhi kredibilitas data. Data yang dikumpul dengan teknik wawancara di pagi hari pada saat narasumber masih segar, belum banyak masalah akan memberikan data yang lebih valid sehingga lebih kredibel.

Triangulasi menjadi sangat penting dalam penelitian kualitatif, kendati pasti menambah waktu dan biaya serta tenaga. Tetapi harus diakui bahwa triangulasi dapat meningkatkan kedalaman pemahaman peneliti baik mengenai fenomena yang diteliti maupun konteks di mana fenomena itu muncul. Bagaimana pun, pemahaman yang mendalam atas masalah yang diteliti merupakan hal yang sangatlah urgen untuk diperhatikan atau dijunjung tinggi oleh setiap peneliti kualitatif. Sebab penelitian kualitatif lahir untuk menangkap arti yang sebenarnya atau memahami gejala, peristiwa, fakta, kejadian, realitas atau masalah tertentu mengenai peristiwa sosial dan kemanusiaan dengan kompleksitasnya secara mendalam, dan bukan untuk menjelaskan hubungan antar-variabel atau membuktikan hubungan sebab akibat atau korelasi dari suatu masalah tertentu.

Kedalaman pemahaman akan diperoleh hanya jika data cukup kaya, dan berbagai perspektif digunakan untuk memotret sesuatu fokus masalah secara komprehensif. Karena itulah memahami dan menjelaskan jelas merupakan dua wilayah yang tidaklah sama. Jadi tringulasi berarti cara terbaik untuk menghilangkan perbedaan-perbedaan konstruksi kenyataan yang ada dalam konteks suatu studi sewaktu mengumpulkan data tentang berbagai kejadian dan hubungan dari berbagai pandangan. Dengan kata lain bahwa dengan tringulasi, peneliti dapat mengecek kembali temuan dengan jalan membandingkannya dengan berbagai sumber, metode, atau teori.

d. Analisis kasus negatif

Kasus negatif juga dapat terjadi pada saat tertentu dimana merupakan kasus

(13)

yang tidak sesuai atau berbeda pada hasil penelitian. Pada data yang berbeda atau bertentangan dengan data yang ditemui, peneliti memilah data tersebut hingga tidak ada lagi data yang bertentangan dan mendapat data yang dipercaya.

e. Menggunakan bahan referensi

Bahan referensi merupakan data pendukung yang dapat digunakan oleh peneliti untuk memperkuat data yang ditemukan oleh peneliti, seperti misalnya : rekaman, foto-foto, maupun dokumendokumen yang berkaitan dengan penelitian.

f. Member check

Proses pengecekan data oleh peneliti kepada pemberi data yang bertujuan untuk mengetahui keabsahan data yang diberikan oleh pemberi data kepada peneliti hingga menghasilkan suatu kesepakatan pada kedua belah pihak. Jika telah terjadi kesepakatan maka data tersebut dapat dianggap kredibel dan valid, namun jika tidak terjadi kesepakatan maka peneliti dapat melakukan diskusi kembali kepada pemberi data untuk mendapatkan kesepakatan, jika ditemukan perbedaan data yang signifikan yang diberikan oleh pemberi data maka peneliti harus mengubah serta menyesuaikan dengan data yang diberikan oleh pemberi data. Membercheck dapat dikerjakan oleh peneliti kepada pemberi data ketika peneliti sudah mendapatkan data yang diperlukan atau ketika setelah mendapat temuan maupun kesimpulan.

2. Pengujian Transferability

Pada penelitian kualitatif, Transferability adalah validitas eksternal (derajat ketepatan) hasil penelitian kepada populasi dimana tempat sampel diperoleh peneliti. Nilai transfer tersebut berisikan pertanyaan sejauh mana hasil penelitian dapat digunakan pada situasi yang lain. Nilai transfer bergantung kepada pemakai khususnya bagi peneliti naturalistik. Supaya hasil penelitian dapat dipahami orang lain, maka peneliti dalam membuat suatu laporan wajib memberikan uraian yang rinci, jelas dan dapat dipercaya sehingga hasil penelitian mudah dipahami oleh orang ketika akan dipakai atau tidaknya hasil penelitian itu pada tempat lain.

3. Pengujian Dependability

Dependability dapat disebut sebagai reliabilitas, dimana pada proses penelitian tersebut dapat direplikasi oleh orang lain. Audit pada seluruh proses penelitian kualitatif ini ditempuh melalui uji dependability yang dilakukan oleh pembimbing ataupun auditor independen.

(14)

4. Pengujian Conformability

Disebut sebagai obyektivitas penelitian pada pengujian penelitian kualitatif dimana telah terdapat kesepakatan dari banyak orang pada hasil penelitian. Proses penelitian juga dikaitkan ketika menguji hasil penelitian, standar conformability akan diperoleh ketika fungsi dari proses penelitian merupakan hasil dari penelitian.

Pada penelitian wajub adanya suatu proses.

G. Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian perlu disusun untuk menghasilkan tulisan yang sesuai dengan yang diinginkan oleh penulis. Menurut Moelong (2010), penelitian kualitatif dapat dibagi menjadi empat tahap yaitu sebelum ke lapangan, proses pengerjaan di lapangan, analisis data dan penulisan. Dalam penelitian ini peneliti mencoba menyusun prosedur penelitian:

Persiapan Pelaksanaan

Pengumpulan Data Awal

Analisis Data Akhir

Analisis Data Awal

Pengumpulan Data Keseluruhan

Penarikan Kesimpulan

Penulisan Penelitian

Wawancara Observasi +

Dokumen

Gambar

Tabel 3.1. Perbandingan Luas Area, Jumlah WP dan Jumlah Pegawai   Kantor DJP Kaltimtara

Referensi

Dokumen terkait

Sampel adalah sebagian dari jumlah populasi yang dipilih untuk sumber data. 56 Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling berdasarkan

Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode probability sampling dengan teknik sampel Purposive Sampling atau pengambilan

Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan metode purposive sample yakni sampel dipilih atas Wajib pajak pelaku usaha yang

Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian adalah purposive sampling, yaitu dengan memilih kelompok subjek yang didasarkan pada ciri-ciri atau

Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling (sampel sengaja), yaitu sampel dipilih dengan sengaja petani kelapa sawit dengan pinjaman

Sedangkan teknik sampling yang digunakan adalah Purposive Sampling dengan kriteria sampel adalah pemilik atau manager yang bekerja pada UKM di Provinsi Daerah

54 Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling (sampel bertujuan) atau pengambilan sampel dengan pertimbangan tertentu. 55

Purposive sampling adalah teknik sampling yang digunakan jika peneliti mempunyai pertimbangan – pertimbangan tertentu dalam pengambilan sampelnya atau penentuan