Artikel Penelitian 10.33221/jiiki.v9i03.1088
Efektifitas Stimulasi Oral Terhadap Reflek Hisap Lemah Pada BBLR
Heri Saputro*, Feri MegawatiDepartemen Keperawatan, Institut Ilmu Kesehatan STRADA Indonesia Email : [email protected]
Abstrak
Pendahuluan: Reflek hisap yang masih lemah menyebabkan bayi mempunyai reflek menelan yang lemah pula. Bayi dengan reflek hisap yang lemah menyebabkan bayi tidak mampu memenuhi kebutuhan nutrisi secara maksimal, sehingga berat badan bayi menjadi rendah. Untuk mengatasi hal ini maka diupayakan untuk memberi stimulasi oral terhadap reflek hisap.
Tujuan: Untuk mengetahui efektifitas pemberian stimulasi oral setelah terhadap reflek hisap lemah pada bayi
Metode: Desain penelitian ini adalah one group pretest posttest dengan pendekatan cross sectional sejumlah 30 bayi. Teknik sampling yang digunakan adalah consecutive sampling
Hasil: refleks hisap bayi BBLR sebelum dil- akukan stimulasi oral di IRNA Mawar RSUD dr.
Iskak Tulungagung dari 30 responden, semua bayi BBLR mengalami refleks hisap lemah (100%), se- dangkan dilakukan stimulasi oral memberikan efektifitas pada bayi BBLR dengan reflek hisap kuat sebesar 23 bayi (76,7%). Uji statistik menggunakan Paired Sample T-Test diperoleh nilai p value = 0,000 < 0,05 α sehingga H0 ditolak dan H1 diterima.
Kesimpulan: Stimulasi oral sangat bermanfaat untuk meningkatkan kekuatan refleks hisap bayi, karena stimulasi oral dapat merangsang nervus X (nervus vagus), sehingga mengaktifkan refleks pada nervus X dan merangsang timbulnya rasa lapar pada bayi
Abstract
Introduction: Infants with low birth weight have a disorder in the nervous system and organ function that can affect the suction reflex in the baby. The weak suction reflection causes the baby to have a weak swallowing reflex as well. Infants with weak suction reflexes cause the baby is unable to meet the nutritional needs to the maximum, so the ba- by's weight becomes low. To overcome this it is at- tempted to give oral stimulation of the suction re- flex.
Objective: to determine the effectiveness of oral stimulation of weak suction reflex in infants BBLR Method: The design of this study was a one group pretest posttest with a cross sectional approach of 30 babies. The sampling technique used was con- secutive sampling
Results: The results showed the suction reflex of infant BBLR before done oral stimulation in IRNA Mawar RSUD dr. Iskak Tulungagung from 30 re- spondents, all BBLR infants had a weak suction reflex (100%), whereas after oral stimulation gave effectiveness in LBW infants with strong suction reflexes of 23 babies (76.7%). The statistical test using Chi-Square Test obtained p value = 0.000 <
0,05 α so that H0 is rejected and H1 accepted.
Conclusion: Oral stimulation is helpful for in- creasing the strength of the baby's suction reflex, because oral stimulation can stimulate the X- nerve (vagus nerve), thus activating reflexes in the X-nerve and stimulating the emergence of hunger in infants
Kata Kunci: stimulasi oral, reflek hisap, berat ba-
dan lahir rendah Keywords: oral stimulation, suction reflexes, low birth weigh,
Volume 09, Nomer 03, 2019
609
Pendahuluan
Berat Badan Bayi Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi baru lahir yang berat ba- dan pada saat kelahiran kurang dari 2.500 gram. Dahulu neonates dengan berat badan la- hir kurang dari 2.500 gram atau sama dengan 2.500 gram disebut prematur. Menurut World Health Orgamization (WHO) semua bayi yang baru lahir dengan berat lahir kurang dari 2.500 gram disebut Low Birth Weight Infants (BBLR). Ciri-ciri bayi baru lahir sehat berat badan 2.500-4000 gram dengan panjang badan 48-52 cm, lingkar dada 30-38 cm, lingkar kepala 33-35 cm, frekuensi jantung 120-160 kali/menit, pernafasan kurang lebih 60-40 kali/menit. Bayi baru lahir rendah memiliki tiga gerak reflek bayi, yaitu reflek hisap dan menelan, reflek morrow atau gerak memeluk bila dikagetkan, dan reflek graps atau menggenggam.1
Perkiraan WHO pada hampir semua atau 98% dari lima juta kematian neonatal terjadi di negara berkembang, lebih dari dua pertiga kematian itu terjadi pada periode neonatal dini, umumnya dikarenakan berat badan lahhir kurang dari 2.500 gram. Menurut WHO, 17% dari 25 juta kehamilan pertahun adalah BBLR dan hampir semua terjadi di negara berkembang.2
Menurut Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) tahun 2015, angka kematian bayi di Indonesia tahun 2015 sebesar 22,23% per 1000 kelahiran hidup (Profil kesehatan Indonesia). Di Jawa Timur angka kematian bayi tahun 2014 sebesar 26,66% per 1000 kelahiran hidup. Jumlah kabupaten atau kota yang memiliki AKB di atas angka provinsi adalah sebesar 52,63%, tertinggi di kabupaten Probolinggo mencapai 61,48% dan terendah di kabupaten Blitar yaitu sebesar 17,99%. Di Kabupaten Tulungagung pada tahun 2015 angka kematian bayi mencapai 9,45 per 1000 kelahiran hidup. Jumlah yang mati yaitu 142 jiwa dari 15.019 jiwa kelahiran (Profil Kesehatan Tulungagung 2015). Di RSUD dr.
Iskak sendiri pada tahun 2016 terdapat 366 ka- sus kematian bayi dengan 28 bayi diantaranya
bayi BBLR (data IRNA Mawar RSUD dr. Is- kak Tulungangung).
Salah satu upaya untuk membantu BBLR adalah dengan pemberian ASI langsung, namun pada BBLR terdapat kelemahan dalam daya hisap. Untuk mengatasi hal ini maka diupayakan untuk memberi stimulasi oral terhadap reflek hisap, yaitu melatih oral BBLR untuk dapat menghisap secara langsung pada saat memberikan ASI. Metode stimulasi oral sudah mulai disosialisasikan, dan lebih disukai karena lebih aman dan murah.3 Melalui sentuhan dan stimulasi teru- tama jaringan otot daerah sekita mulut dapat meningkatkan peredaran darah, meningkatkan fungsi otot dan merangsang refleks hisap pada bayi terutama pada bayi BBLR serta dapat meningkatkan fungsi organ tubuh lainnya.4
Keterampilan oral bayi prematur dibagi ke dalam 4 fase, yaitu berkembangnya reflek menghisap, kematangan proses menelan, kematangan fungsi pernafasan, koordinasi gerakan menghisap, menelan dan bernafas.
Komponen refleks menghisap sudah mulai ada sejak usia kehamilan 28 mingu, namun sinkronasi masih tidak teratur, dan bayi mudah mengalami kelelahan. Sejalan dengan proses pematangan, maka mekanisme yang lebih teratur akan didapatkan pada usia kehamilan 32-36 minggu. Berbagai penelitian telah dikemukakan hubungan yang kuat antara kematangan bayi dan teroganisirnya pola suckling. Penelitian Jones membuktikan bahwa masa transisi dapat dipercepat dengan paparan suckling lebih dini.2
Stimulasi oral khusus yang memberikan bantuan gerakan untuk mengaktifkan kontraksi otot dan untuk memberikan gerakan terhadap perlawanan untuk membangun kekuatan. Fokus intervensi ini adalah untuk meningkatkan respon fungsional terhadap tekanan dan gerakan, jangkauan, kekuatan, dan pengendalihan berbagai gerakan bibir, pipi, rahang, dan lidah. Intervensi yang ditentukan oleh penilaian kemampuan oral.
Perangkat yang dilakukan adalah dengan mengunakan gerakan dibantu dan reflek peregangan untuk mengukur respon terhadap
Submited: 25/8/19 Accepted: 15/9/19 Review: 29/8/19 Published: 28/9/19
Artikel Penelitian 10.33221/jiiki.v9i03.1088 Saputro H. (2019)
tekanan dan gerakan, jangkauan, kekuatan, dan kontrol berbagai gerakan untuk pipi, bibir, rahang, lidah dan langit-langit lunak. Inilah cara yang dilakukan pada motorik BBLR untuk dapat menghisap secara langsung pada saat mendapatkan ASI.2
Berdasarkan fenomena di atas maka peneliti tertarik melakukan penelitian tentang
“Efektifitas Stimulasi Oral Terhadap Reflek Hisap Lemah pada BBLR di IRNA Mawar RSUD dr. Iskak Tulungagung. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah
“Bagaimana efektifitas stimulasi oral terhadap reflek hisap lemah pada BBLR di IRNA Mawar RSUD dr. Iskak Tulungagung?
Metode
Desain Penelitian
Dalam penelitian ini desain yang digunakan adalah pretest, posttest dengan pendekatan cross sectional yaitu kelompok subjek yang memenuhi kriteria inklusi dari peneliti, sebelum menerima perlakuan ter- lebih dahulu dilakukan observasi, kemudian setelah menerima perlakuan dilakukan ob- servasi ulang untuk mengetahui akibat dari perlakuan tersebut, dimana kedua variabel diukur dalam waktu yang bersamaan. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan desain penelitian one group pretest posttest.
Populasi, Sampel dan Sampling
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh bayi yang lahir dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) yang mempunyai re- flek hisap lemah yang dirawat di IRNA Mawar RSUD dr. Iskak Tulungagung sejumlah 40 bayi. Sampel dalam penelitian ini adalah bayi yang lahir dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) yang dirawat di IRNA Mawar RSUD dr. Iskak Tulungagung sejumlah 30 bayi.
Cara sampling yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan dengan Consecutive Sampling, yaitu pengambilan sampel dengan memilih sampel yang memenuhi kriteria inklusi sampai kurun waktu tertentu sehingga jumlah sampel terpenuhi.5
Variabel Penelitian
Variabel independent dalam penelitian ini adalah stimulasi oral. Sedangkan variabel dependent penelitian ini adalah reflek hisap lemah pada BBLR.
Bahan dan Instrumen
Variabel dependen diukur dengan menggunakan lembar observasi. Observasi atau pengamatan adalah sesuatu yang terencana, meliputi melihat dan mencatat jumlah serta taraf aktifitas tertentu yang ada hubungannya dengan masalah yang diteliti.6
Observasi akan dilakukan pada kelompok Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) dengan reflek hisap lemah. Bayi tersebut akan diberikan tindakan stimulasi oral sesuai dengan SOP dan dilaksanakan sehari 2 kali, yaitu pagi dan sore. Setelah dilakukan tindakan stimulasi oral, bayi diamati lagi untuk mengetahui apakah refleks hisap bayi meningkat atau tidak dengan cara diberi minum lewat sendok. Hasil dari observasi dicatat di lembar observasi. Hasil observasi yang didapatkan akan menjadi tolak ukur evaluasi peneliti.
Hasil
Penelitian ini dilakukan di IRNA Mawar RSUD dr. Iskak Tulungagung bagian Perina- tologi yang mempunyai kapasitas jumlah tem- pat tidur NICU 8, HCU 8, Isolasi 3, Persiapan RG 10 dan jumlah total ada 29. Tersedia pula Dapur Susu, Ruang lbu Meneteki, Ruang Tin- dakan dan Tempat Linen. Dengan ketenagaan 4 orang dokter spesialis anak, 22 orang perawat, 1 orang tenaga administrasi dan 1 orang asper.
Tabel 1. Karakteristik Responden Berdasar- kan Reflek Hisap Bayi BBLR Sebelum Perlakuan Stimulasi Oral
Reflek Hisap
Sebelum Stimulasi Oral
n %
Lemah 30 100
Kuat 0 0
Jumlah 30 100
Karakteristik responden berdasarkan re- fleks hisap sebelum dilakukan stimulasi oral di IRNA Mawar RSUD dr. Iskak
611
Tulungagung Tahun 2017 menunjukkan bahwa, dari 30 responden semua bayi BBLR mengalami refleks hisap lemah (100%).
Tabel 2. Karakteristik Responden Berdasar- kan Reflek Hisap Bayi BBLR Setelah Perlakuan Stimulasi Oral
Reflek Hisap
Setelah Stimulasi Oral
n %
Lemah 7 23,3
Kuat 23 76,7
Jumlah 30 100
Karakteristik responden berdasarkan re- fleks hisap sebelum dilakukan stimulasi oral di IRNA Mawar RSUD dr. Iskak Tulungagung Tahun 2017 menunjukkan bahwa, sebagian besar responden sesudah dil- akukan stimulasi oral, refleks hisap bayi BBLR menjadi kuat yaitu sebesar 23 bayi (76,7%).
Tabel 3. Tabulasi Silang Variabel Stimulasi
Oral
Reflek Hisap Total P Value Lemah Kuat
n % n % n %
Sebelum Stimulasi Oral
30 100 0 0 30 100 0,000 Setelah
Stimulasi
Oral 7 23,3 23 76,7 30 100 Berdasarkan hasil tabulasi silang tabel 3 di atas dapat diketahui bahwa stimulasi oral memang memberikan dampak yang positif bagi perubahan reflek hisap bayi BBLR. Ber- dasarkan penelitian tersebut, reflek hisap bayi BBLR yang belum diberlakukan stimulasi oral cenderung mempunyai reflek hisap lemah. Kemudian setelah diberlakukan stimu- lasi oral, reflek hisap bayi menjadi kuat, dari 30 responden, bayi BBLR yang sebelumnya memiliki reflek hisap lemah menjadi kuat se- banyak 23 bayi (76,7%). Tentunya hal terse- but tergantung pada kondisi fisik bayi, berat badan bayi, lama rawat inap dimana kese- muanya berkaitan dengan proses pemberian stimulasi oral motor pada responden.
Tabel 5. Hasil Uji Statistik
Paired Samples Test Paired Differences
t df Sig
. (2- tail ed) Me
an Std
. De via tio n
Std.
Error Mean
95% Confidence Interval of the
Difference
Lower Upper Pair 1 Sebelum
Stimulasi Oral - Setelah Stimulasi Oral
- .76 66 7
.43 01 8
.0785
4 -.92730 -.60603 - 9.7 61
29 .00 0
Berdasarkan hasil uji Paired Sample T- Test diperoleh nilai p value = 0,000 < 0,05 α, sehingga H0 ditolak dan H1 diterima. Terdapat perbedaan daya hisap bayi BBLR sebelum dan sesudah diberikan stimulasi oral. Dengan demikian terdapat efektifitas pemberian stimulasi oral terhadap reflek hisap lemah pada bayi BBLR di IRNA Mawar RSUD dr.
Iskak Tulungagung.
Pembahasan
Mengidentifikasi Reflek Hisap Pada Kelompok Bayi yang Mempunyai Berat Badan Lahir Rendah Sebelum Diberikan Perlakuan Stimulasi Oral di IRNA Mawar RSUD dr. Iskak Tulungagung
Berdasarkan data hasil penelitian se- bagaimana yang dapat dijelaskan bahwa, dari 30 responden yang diambil sebagai sampel penelitian semua mengalami refleks hisap lemah (100%).
Komponen refleks menghisap sudah mu- lai ada sejak usia kehamilan 28 minggu, na- mun sinkronisasi masih tidak teratur, dan bayi mudah mengalami kelelahan. Sejalan dengan proses pematangan, maka mekanisme yang lebih teratur akan didapatkan pada usia ke- hamilan 32-36 minggu. Berbagai penelitian telah dikemukakan hubungan yang kuat antara kematangan bayi dan terorganisirnya pola suckling. penelitian Jones tahun 2003 mem- buktikan bahwa mass transisi dapat dipercepat dengan paparan suckling lebih dini.7
Pada penelitian ini semua bayi BBLR tidak dimasukkan ke dalam kriteria penelitian.
Submited: 25/8/19 Accepted: 15/9/19 Review: 29/8/19 Published: 28/9/19
Artikel Penelitian 10.33221/jiiki.v9i03.1088 Saputro H. (2019)
Sebagaimana data yang telah disebutkan da- lam latar belakang penelitian, bahwa di RSUD dr. Iskak Tulungagung masalah yang terbesar dari BBLR adalah imaturitas refleks hisap yang lemah yaitu sebesar 70%, sehingga dalam penelitian ini hanya bayi BBLR yang mengalami refleks hisap lemah saja yang diteliti. Bayi dengan BBLR seringkali men- imbulkan masalah antara lain hipotermi, sin- droma gawat nafas, perdarahan intrakranial, hiperbillirubinemia dan hipoglikemi akibat dari refleks hisap yang lemah. Hal ini diaki- batkan imaturitas dari fungsi dari organ-organ vitalnya.
Bayi dengan refleks hisap lemah sebelum dilakukan stimulasi oral sangat berpengaruh terhadap asupan nutrisi. Bila nutrisi bayi tidak terpenuhi, akibat yang paling nyata adalah akan terjadi penurunan berat badan yang akan berakibat pada kondisi-kondisi patologis lainnya seperti yang sudah disebutkan di atas.
Pada keadaan ini tidak dilakukan pe- natalaksanan secara baik maka bayi akan jatuh dalam kondisi yang lebih berat, akibatnya masa perawatan di rumah sakit akan semakin panjang, bila hal ini terjadi keluarga akan se- makin terbebani oleh biaya yang besar dan an- caman terjadinya infeksi nosokomial semakin besar pula. Dengan demikian bayi akan teran- cam integritasnya.
Mengidentifikasi Reflek Hisap Pada Kelompok Bayi yang Mempunyai Berat Badan Lahir Rendah Setelah Diberikan Perlakuan Stimulasi Oral di IRNA Mawar RSUD dr. Iskak Tulungagung
Berdasarkan data di atas menunjukkan bahwa, sebagian besar responden setelah dil- akukan stimulasi oral adalah dengan refleks hisap kuat yaitu sebesar 23 bayi atau 76,7%.
Stimulasi oral adalah suatu sentuhan dan pijatan pada jaringan otot daerah sekitar mulut untuk melancarkan peredaran darah dan me- rangsang syaraf-syaraf yang akan mem- berikan pengaruh yang positif.13 Selain itu, juga bisa dikatakan berbagai strategi dan teknik yang telah dilakukan dalam teknik stimulasi, seperti menyikat (pijat tekanan) tulang pipi, caranya memutar ke arah luar
dilakukan 1 kali dan 3 kali, kemudian icing (stimulasi termal), peregangan cepat (penyadapan), dan getaran (manual dan mekanis). Stimulasi oral dilakukan untuk mempersiapkan area otot untuk gerakan.
Strategi ini tidak dapat mengubah rentang pergerakan otot atau kekuatan otot tanpa gerakan otot tambahan.
Beberapa langkah dalam melakukan stimulasi oral adalah dengan melakukan pem- ijatan yang diawali dari daerah sekitar hidung, diakhiri pada daerah rahang bayi. Teknik yang dapat dilakukan adalah dengan senyum I, senyum II, senyum III, dan lingkaran kecil dirahang (small circles around jaw).8
Reflek hisap yang kuat pada bayi terjadi 30 menit setelah melahirkan, sehingga sangat dianjurkan jika reflek bayi kuat dalam waktu 30 menit diberikan ASI. Tanda reflek hisap yang kuat yaitu apabila diberikan rangsangan pada mulut bayi, maka bayi segera men- ghisapnya. Refleks ini merupakan reaksi yang inheren (built in) terhadap rangsangan tertentu dan bayi kecil secara otomatis akan mem- berikan respons penyesuaian diri terhadap lingkungan mereka. Refleks mengatur gerakan-gerakan bayi yang baru lahir. Sifat re- fleks ini adalah otomatis dan di luar kendali bayi yang baru lahir tersebut.7 Kemampuan menghisap bayi yang baru lahir berbeda-beda.
Sebagian bayi yang baru lahir menghisap dengan efisien dan bertenaga untuk mem- peroleh susu, sementara bayi-bayi lain tidak begitu terampil dan kelelahan bahkan sebelum mereka kenyang.
Untuk meningkatkan kekuatan refleks hisap pada bayi dengan BBLR ini perlu dil- akukan suatu usaha untuk meningkatkannya, yaitu dengan melakukan stimulasi. Stimulasi yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan stimulasi oral. Memberikan stimu- lasi sejak dini berupa sentuhan pemijatan ter- hadap jaringan otot di sekitar mulut. Melalui sentuhan dan stimulasi terutama jaringan otot daerah sekitar mulut dapat meningkatkan peredaran darah, meningkatkan fungsi otot dan merangsang refleks hisap pada bayi.
Selain adanya peningkatan fungsi otot di seki- tar mulut, efek lain dari sentuhan pemijatan
613
terhadap jaringan otot di sekitar mulut (stimu- lasi oral) ini adalah merangsang nervus X (nervus vagus), sehingga mengaktifkan re- fleks pada nervus X dan merangsang tim- bulnya rasa lapar pada bayi. Efek inilah yang menyebabkan refleks hisap bayi semakin meningkat. Berdasarkan data penelitian di atas, stimulasi oral sangat bermanfaat untuk meningkatkan kekuatan refleks hisap.
Menganalisa Efektifitas Pemberian Stimulasi Oral Terhadap Reflek Hisap Pada Bayi BBLR di IRNA Mawar RSUD dr. Iskak Tulungagung
Berdasarkan hasil Uji Paired Sample T- Test diperoleh nilai p value = 0,000 < 0,05 α.
Dengan demikian H0 ditolak dan H1 diterima, artinya ada efektifitas pemberian stimulasi oral terhadap reflek hisap lemah pada bayi BBLR di IRNA Mawar RSUD dr. Iskak Tulungagung.
Pemberian stimulasi oral motor pada BBLR dalam pelaksanaannya diberikan selama 3- 5 detik. Berbagai penelitian telah dikemukakan hubungan yang kuat antara ke- matangan bayi dan terorganisirnya pola suck- ling. penelitian Jones tahun 2003 membuk- tikan bahwa masa transisi dapat dipercepat dengan paparan suckling lebih dini.9
Pada hakekatnya manusia dilahirkan un- tuk mempertahankan hidupnya menggunakan naluri dan refleksnya. Refleks ini timbul oleh karena rangsangan yang berasal dari luar dirinya melalui pendengaran, penglihatan, dan perabaan dari kulitnya. Sehingga bayi yang baru lahir akan menggunakan reflex-refleks primitifnya seperti; rooting, sucking, dan lain- lain. Bayi baru lahir dengan berat badan yang rendah mempunyai ketidakmaturan dalam sis- tem persarafan dan fungsi organ sehingga re- flek-reflek tersebut lemah. Walaupun seiring dengan berjalannya waktu dan dengan ber- tambahnya umur bayi kemampuannya akan meningkat, akan tetapi hal ini akan mening- katkan ketergantungan bayi akan terapi nitrisi yang tidak fisiologis (infus dan sonde) aki- batnya meningkatkan morbiditas dan mortali- tas bayi dengan BBLR. Dengan demikian bayi akan semakin lama dirawat di rumah sakit dan
ini akan meningkatkan risiko terjadinya in- feksi nosokomial.
Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi baru lahir yang berat badan lahimya pada saat kelahiran kurang dari 2.500 gram. Dahulu neonates dengan berat badan lahir kurang dari 2.500 gram atau sama dengan 2.500 gram disebut prematur. Berat badan lahir rendah (BBLR) ialah bayi baru lahir yang berat badan lahimya pada saat kelahiran kurang dari 2500 gram.10
Pada bayi dengan berat badan lahir rendah salah satu penatalaksanaan yang perlu diperhatikan adalah pengawasan pemberian nutrisi harus dengan cermat dan seksama.
Hambatan yang terdapat pada BBLR sehubungan dengan pengawasan nutrisi adalah reflek hisap bayi yang belum sempurna atau masih lemah. Oleh sebab itu, pemberian nutrisi harus dengan cermat. Bayi dengan reflek hisap yang kuat ASInya diberikan ½ jam setelah lahir, sedangkan bayi dengan reflek hisap yang lemah, ASI diberikan khusus dengan sonde.3
Intervensi ini khusus yang memberikan bantuan gerakan untuk mengaktifkan kontraksi otot dan untuk memberikan gerakan terhadap perlawanan untuk membangun kekuatan. Fokus intervensi ini adalah untuk meningkatkan respons fungsional terhadap tekanan dan gerakan, jangkauan, kekuatan, dan pengendalian berbagai gerakan bibir, pipi, rahang dan lidah. Oral motor merupakan ketrampilan dasar kelangsungan hidup dam- pak seperti mengisap dan menelan dengan bayi yang mulai dengan bulan ketiga kehamilan.11
Reflek hisap yang kuat pada bayi terjadi 30 menit setelah melahirkan, sehingga sangat dianjurkan jika reflek bayi kuat dalam waktu 30 menit diberikan ASI. Tanda reflek hisap yang kuat yaitu apabila diberikan rangsangan pada mulut bayi, maka bayi segera menghisapnya. Reflek hisap yang masih lemah pada bayi ditandai dengan bayi malas menetek, reflek batuk belum sempuma, dan tidak segera tanggap atau dihisap apabila diberikan rangsangan pada mulutnya.12
Submited: 25/8/19 Accepted: 15/9/19 Review: 29/8/19 Published: 28/9/19
Artikel Penelitian 10.33221/jiiki.v9i03.1088 Saputro H. (2019)
Penjelasan di atas memberikan gambaran bahwa pemberian stimulasi oral pada BBLR sangat penting untuk menimbulkan rangsangan reflek hisap yang lemah menjadi lebih kuat. Hal ini menunjukkan bahwa hasil penelitian mempunyai kesesuaian dengan teori bahwa reflek stimulasi oral memberikan pengaruh yang signifikan terhadap reflek hisap pada bayi BBLR. Pada dasarnya reflek hisap tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin maupun berat badan bayi. Reflek hisap cenderung berkaitan dengan kematangan saraf, karena reflek hisap ditimbulkan rangsangan saraf kranial yang terdiri dari saraf Trigeminus, Fasialis, Glosofaringeus dan Vagus. Apabila bayi lahir prematur, maka saraf-saraf tersebut belum matang sehingga pada bayi prematur selalu diikuti oleh reflek hisap yang lemah. Dengan stimulasi oral motor pada bayi BBLR harapannya adalah dapat memperkuat reflek hisap. Reflek hisap yang kuat dapat diketahui apabila mulut bayi dirangsang dengan jari dan puting susu maka bayi langsung menghisap dengan kuat.
Sedangkan reflek hisap yang lemah atau belum kuat ditandai dengan bayi sering berhenti menghisap saat minum ASI. Reflek hisap sangat penting bagi pengawasan dan perkembangan asupan nutrisi pada bayi.
Dengan demikian terdapat efektifitas stimu- lasi oral terhadap reflek hisap lemah pada bayi BBLR.
Kesimpulan
Refleks hisap bayi Berat Badan Lahir Rendah sebelum dilakukan stimulasi oral di IRNA Mawar RSUD dr. Iskak Tulungagung dari 30 responden, semua bayi BBLR mengalami refleks hisap lemah, Refleks hisap bayi Berat Badan Lahir Rendah setelah dilakukan stimulasi oral di IRNA Mawar RSUD dr. Iskak Tulungagung dari 30
responden sebagian besar adalah dengan refleks hisap kuat sebesar 23 bayi,Stimulasi oral mempunyai efektifitas yang signifikan terhadap refleks hisap pada bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di IRNA Mawar RSUD dr. Iskak Tulungagung.
Daftar Pustaka
1. Yushananta. Perawatan Bayi Resiko Tinggi.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama; 2003.
2. Octavia, Susanti. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian BBLR di RS Urip Somoharjo Lampung. Skripsi. Lampung:
STIKes Mitra Lampung; 2006.
3. Lismayani. Perawatan Bayi Resiko Tinggi.
Jakarta: EGC; 2007.
4. Manuaba, Ida Bagus Gede. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan & KB. Jakarta: EGC;
2008.
5. Sugiyono. Statistik Non Parametris. Bandung:
Alfa Beta; 2001.
6. Notoadmodjo, Soekidjo. Metodologi Penelitian Kesehatan Edisi Kedua. Jakarta: PT.
Rineka Cipta; 2002.
7. Wong, L. D. Pedoman Klinis Perawatan Pediatrik (Wong and Whaley’s Clinical Manual of Paediatrik Nursing). Alih bahasa:
Monica Ester, edisi 4. EGC. Jakarta; 2004.
8. Krausen. Fisioterapi Oral, Jakarta: EGC;
1985.
9. Hidayat, AA. Prosedur Penelitian Kebidanan:
Teori dan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta;
2007.
10. Prawirohardjo, Sarwono. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta:
YBP-SP; 2005.
11. Doenges, Marilynn, E. Rencana Asuhan Keperawatan Psikiatri. Edisi 3. Jakarta: EGC;
2006.
12. Bobak, M. I., Lowdermilk, D.L., Jensen, M. D., Perry, S. E. Buku Ajar; 2007.
Keperawatan Maternitas Edisi 4.Jakarta : EGC 13. Utami, Roesli. "Inisiasi menyusu dini plus ASI
eksklusif." Jakarta: Pustaka Bunda (2008): 2-31.
615
Pengaruh Clinical Pathway Terhadap Mutu Pelayanan Keperawatan Dan Kepuasan Pasien
Lenny Widjaja,1 Catharina Dwiana Wijayanti,2 Emiliana Tjitra3
1,2,3Program Studi Keperawatan Program Magister Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sint Carolus
Salemba Raya No 41 Jakarta Pusat 10440
Email :[email protected],1 [email protected],2 [email protected]3
Abstrak
Pendahuluan: Untuk Peningkatan mutu pelayanan keperawatan dan kepuasan pasien di RS X, di- lakukan penelitian penerapan CP.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk Untuk mengetahui pengaruh CP terhadap mutu pelayanan keperawatan dan kepuasan pasien di Rumah Sakit.
Metode: Rancangan penelitian ini kuasi eksperimen pre-post tes dan dengan kelompok kontrol, selama delapan minggu di empat unit perawatan.
Hasil: arakteristik perawat antara kelompok penelit- ian tidak berbeda, kecuali proporsi perawat laki-laki lebih banyak di kelompok intervensi (22,9% vs 3,0%). Karakteristik pasien yang dirawat pada se- belum dan sesudah intervensi antar kelompok penelitian beragam,umur dan diagnosis penyakit MRS. Penerapan CP pada awal penelitian dilakukan tidak lengkap di kedua kelompok penelitian, dan setelah penyegaran CP terjadi perbaikan penerapan CP hanya di kelompok intervensi (0 vs 68,6%).
Mutu pelayanan keperawatan juga membaik hanya di kelompok intervensi (62,9% vs 97,1%). Kepuasan pasien tidak mengalami perbaikan yang bermakna di kedua kelompok penelitian setelah penelitian.Hasil multivariat karateristik perawat, pasien serta penye- garan CP tidak mempengaruhi penerapan CP, mutu pelayanan keperawatan dan kepuasaan pasien. Pen- erapan CP mempengaruhi kepuasan pasien dan mutu pelayanan keperawatan memberikan pengaruh ter- hadap kepuasan pasien.
Kesimpulan : peningkatan penerapan CP dapat memperbaiki mutu pelayanan keperawatan dan kepuasan pasien.
Abstract
Introduction: To escalate the quality of nursing services and patient satisfaction in Hospital X, an applied study was conducted on the application of CP.
Objective: This study aims to determine the effect of CP on the quality of nursing services and patient satisfaction in hospitals.
Method: The design of this study was a quasi exper- imental pre-post test and with a control group, and applied for eight weeks in four nursing ward.
Results: Nurse characteristics between the study groups did not differ, except the proportion of male nurses was more in the intervention group (22.9 %:
3.0 %). The characteristics of patients treated be- fore and after the intervention between the study groups varied, age and diagnosis of MRS disease.
The application of CP at the beginning of the study was incomplete in both study groups, and after the re-education of CP, there was escalate in the appli- cation of CP, but only in the intervention group (0:
68.6%). The nursing quality services also escalate only in the intervention group (62.9%: 97.1%). Pa- tient satisfaction did not encounter significant esca- late in the two study groups after the study. The multivariate results of nurses are patients and CP re-education did not influence the application of CP, the quality of nursing services, and patient satisfac- tion. The application of CP influences patient satis- faction, and the quality of nursing services influ- ences patient satisfaction
Conclusion: the escalation the use of application of CP can improve the quality of nursing services and Kata Kunci: clinical pathway, mutu pelayanan
keperawatan, kepuasan Keywords: clinical pathway, quality of nursing ser- vices, patient satisfaction
DOI : 10.33221/jiiki.v9i03.364
Submited: 25/8/19 Accepted: 14/9/19 Review: 28/8/19 Published: 28/9/19
Pendahuluan
Clinical Pathway (CP) adalah alat yang bermanfaat untuk memastikan adanya integrasi dan koordinasi yang efektif dari pelayanan dengan menggunakan secara efisien sumber daya yang ada.1 Clinical pathway (CP), merupakan bagian penting dokumen dan tools dalam mewujudkan Good Clinical Gov- ernance di rumah sakit. Dokumen tersebut menjadi salah satu syarat yang harus dipenuhi dalam Standar Akreditasi RS versi KARS 2012
Integrated Care Pathway ( ICP ) atau dikenal juga dengan nama lain seperti Clinical Pathway, Critical Care Pathway, Coordinated Care Pathway, atau Caremaps. ICP pertama kali digunakan pada tahun 1985 oleh Zander dkk di New England Medical Centre, Boston.2
Rumah Sakit Indonesia CP diterapkan pada tahun 2006 untuk meminimalkan keter- lambatan, meningkatkan penggunaan sumber yang tersedia dan memaksimalkan kualitas perawatan. CP dapat mendukung pelaksanaan casemix untuk menurunkan keragaman dari perawatan, meningkatkan homogenitas kasus, meningkatkan kualitas dari data casemix dan peningkatan analisa dengan casemix.3 CP membuat perawatan pasien terorganisir dan efisien berdasarkan praktek berbasis bukti dan mengoptimalkan hasil dalam pengaturan per- awatan.Proses Keperawatan digunakan sebagai kerangka kerja dalam pembuatan CP. Dalam membuat CP, proses keperawatan digunakan sebagai kerangka kerja. Proses keperawatan memberikan template untuk keberhasilan gabungan dari orientasi pada pasien, kesepa- katan dalam manajemen pengobatan yang di- hasilkan untuk memperbaiki pelayanan dengan meningkatkan pasien safety dan biaya yang efektif.4 sehingga CP dapat meningkatkan mutu pelayanan keperawatan dan kepuasan pasien
Mutu pelayanan kesehatan adalah in- tervensi terintegrasi kepada pasien atau pelanggan secara aman dan sesuai standar profesi dengan memanfaatkan sumber daya yang terlatih sehingga kebutuhan pelangan dapat terpenuhi dan mencapai derajat kese- hatan yang optimal. Mutu pelayanan keper- awatan profesionalitas yang mengacu pada 5 dimensi kualitas pelayanan yaitu : reability, tangibles, assurance, responsiveness, dan em- pathy.5
Kepuasan pasien adalah evaluasi posi- tif dari dimensi pelayanan yang beragam, sulit diukur, dapat berubah – ubah serta banyak fak- tor yang berhubungan dengan dimensi manu- sia. Pengaruh faktor mutu pelayanan (aspek kompetensi teknis, aspek pelayanan, efektifi- tas, efisiensi, hubungan antar manusia, kea- manan, kenyamanan dan kesinambungan ter- hadap kepuasan pasien.6
Pelaksanaan CP di RS X sudah dimulai pada bulan September 2014 yaitu pada pasien trans uretra resection prostat (TUR-P), total knee replacement (TKR), Appendictomy, herniorapy dan secio caesar (SC). Sampai tahun 2018 ada 9 CP yang dilakukan audit medik secara lengkap yaitu : trans uretra resection prostat (TUR-P), total knee replacement (TKR), Ap- pendictomy, herniorapy dan sectio caesar (SC), DHF pada dewasa, anak Thyphoid pada dewasa dan Hiperbillirubinemia pada bayi.
Dalam upaya meningkatkan mutu Sub Komite Mutu Keperawatan RS X melakukan kegiatan survey angket kepuasan pasien tentang penge- tahuan, ketrampilan dan sikap dari perawat.
Tahun 2015 sampai dengan 2018 di dapatkan hasil angket kepuasan pasien masih dibawah standar kurang dari 90 %.
Hasil audit CP belum digunakan seba- gai standar mutu pelayanan keperawatan dan kepuasan pasien, pelaksanaan audit CP belum dilaksanakan untuk melihat peningkatan mutu dan kepuasan pasien. Berdasarkan beberapa fakta yang telah dipaparkan dan fenomena dilapangan, CP dalam asuhan keperawatan belum berjalan secara optimal, dan belum di- gunakan sebagai standar mutu keperawatan peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang Pengaruh Clinical Pathway Terhadap Mutu Pelayanan Keperawatan dan Kepuasan pasien Di Rumah Sakit X di Jakarta
Metode
Penelitian ini dengan kuantitatif den- gan design kuasi eksperimental pre - post tes dan kelompok kontrol. Populasi dalam penelit- ian ini adalah semua perawat dan pasien di unit medikal bedah yang sudah melaksanakan CP di RS X Jakarta, sesuai kriteria inklusi dan ek- slusi pada perawat serta pasien dengan diag- nosa trans uretra resection prostat (TUR-P), total knee replacement (TKR), Appendictomy, atau herniorapy, DHF pada dewasa dan Thy- Widjaja. L, et al. (2019)
617
phoid pada dewasa. Pasien di unit medikal be- dah dengan tindakan :trans uretra resection prostat (TUR-P), total knee replacement (TKR), Appendictomy, herniorapy, DHF pada dewasa dan Thyphoid pada dewasa. Tehnik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling yang disebut juga dengan judgmental sampling.
Penelitian dilakukan di RS X Jakarta pada bulan Mei – Juli 2019 . Pelaksaan meng- gunakan 2 unit medikal bedah sebagai unit kontrol dan 2 unit medikal bedah sebagai unit intervensi pengambilan data pada pre interven- si selama sebulan , lalu dilakukan penyegaran CP pada kelompok intervensi kemudian pengambilan data post selama 1 bulan .
Alat pengumpulan data yang digu- nakan dalam penelitian ini adalah: Audit Clini- cal Pathway yang digunakan adalah audit standar yang digunakan pada Rumah Sakit X Jakarta. Kuisoner mutu pelayanan keperawatan sudah dilakukan uji validitas dan reabilitas.
Angket pasien yang digunakan dalam penelit- ian ini adalah angket pasien di gunakan oleh RS X Jakarta. Analisa data dengan analisa uni- variat, uji beda parametrik, uji beda T – Test Independent , dan Regresi Logistik Binary.
Hasil
Analisa yang dilakukan memperoleh hasil sebagai berikut
Grafik 1 karateristik umur pasien pada kelom- pok intervensi mayoritas umur pasien 36 – 64 tahun 68,6 %, pada kelompok kontrol menun- jukkan mayoritas umur 18 – 35 tahun 69,7%, jenis kelamin pasien pada kelompok intervensi
mayoritas berjenis kelamin laki-laki 54,3%, dan kelompok kontrol mayoritas berjenis ke- lamin laki-laki 54,5% diagnosis pasien pada kelompok intervensi mayoritas kasus appen- dictomy 28,6%,
Kelompok kontrol kasus DHF 75,8%.
Distribusi karakteristik umur pasien pada kelompok post intervensi menunjukkan may- oritas berada pada rentang usia 36-64 tahun 57,1%, sedangkan pada kelompok kontrol usia 18-35 tahun 78,8%, karakteristik jenis kelamin pada kelompok intervensi berjenis kelamin perempuan 54,3%, sedangkan pada kelompok kontrol laki-laki 63,6% sedangkan diagnosis pasien pada kelompok intervensi DHF 25,7%, Pada kelompok kontrol DHF 72,7%.
Grafik 2 distribusi karakteristik umur perawat menunjukkan mayoritas responden perawat berusia ≥ 25 tahun 85,7% pada kelompok intervensi sedangkan pada kelom- pok kontrol 84,8%. Karakteristik jenis kelamin pada kelompok intervensi 22,9% berjenis ke- lamin laki-laki dan 77,1% berjenis kelamin perempuan. Sedangkan pada kelompok kontrol 3.0% berjenis kelamin laki-laki dan 97.0%
berjenis kelamin perempuan. karakteristik lama kerja pada kelompok intervensi mayori- tas 74,3% memiliki lama kerja > 5 tahun. Pada kelompok kontrol mayoritas 57,6% memiliki lama kerja > 5 tahun.
Grafik 1. Gambaran Karakteristik Pasien
Grafik 2. Gambaran Karakteristik Perawat
Grafik 3. Gambaran Hasil Audit CP
DOI : 10.33221/jiiki.v9i03.364
Submited: 25/8/19 Accepted: 14/9/19 Review: 28/8/19 Published: 28/9/19
Grafik 3 data pre intervensi pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol didapatkan data bahwa hasil audit CP tidak lengkap 100%. Sedangkan mayoritas perawat di unit kelompok intervensi 68,6% melak- sanakan CP secara lengkap sedangkan pada kelompok kontrol 100% melaksanakan CP tidak lengkap
Grafik 4 mayoritas mutu pelayanan keper- awatan pada kelompok post intervensi 60,0%
dan pada kelompok kontrol 81,8%, sedangkan mayoritas responden pada kelompok post in- tervensi 68,6% dan pada kelompok kontrol 63,6% menyatakan pelayanan keperawatan memuaskan
Nilai kemaknaan hasil analisis multi- variat parsial dan simultan dari variabel inde- penden tehadap variabel dependen (penerapan CP, mutu pelayanan keperawatan dan kepuasan pasien) dapat dilihat pada tabel 1 dibawah yang terdiri dari umur perawat, jenis kelamin perawat, lama kerja, pre dan post umur pasien, diagnosis pre dan post, penyegaran CP, pener- apan CP, mutu pelayanan, kepuasan pasien dan simultan (omnibus).
Grafik 4. Mutu Pelanan Keperawatan dan Kepuasan Pasien
No Penerapan Clini-
cal Pathway Mutu Pelayanan Kepuasan Pasien
1 Partial
Umur Perawat 0,997 0,999 0,483
Jenis Kelamin Perawat 0,648 0,999 0,282
Lama Kerja 0,291 0,355 0,059
Pre umur Pasien 0,443 0,404 0,609
Post Umur Pasien 0,124 0,907 0,441
Pre Jenis Kelamin 0,673 0,244 0,154
Post Jenis Kelamin 0,251 0,906 0,335
Diagnosis Pre 0,604 0,671 0,616
Diagnosis Post 0,645 0,615 0,720
Penyegaran CP 0,996 0,855 0,153
Penerapan CP 0,217 0,048
Mutu Pelayanan 0,999 0,004
Tabel 1. Nilai kemaknaan hasil analisis multivariat parsial dan simultan dari variabel independen tehadap variabel dependen (penerapan CP, mutu pelayanan keperawatan dan kepuasan pasien) Widjaja. L, et al. (2019)
619
Tabel 1 Karateristik perawat dan pasien serta penyegaran CP tidak mempen- garuhi penerapan CP, mutu pelayanan keper- awatan dan kepuasan pasien. Penerapan CP dan mutu pelayanan mempengaruhi kepuasaan pasien( p < 0,5 ), Mutu pelayanan mempen- garuhi kepuasan pasien (p <0,5) dan kepuasan pasien mempengaruhi penerapan CP. Secara menyeluruh hanya penerapan CP dipengaruhi oleh karateristik perawat dan karateristik pasien serta dan kepuasan pasien.
Pembahasan
Berti, Hendriks, Brandes, Deaton, Cri- jns, Camm, et al dalam penelitiannya menge- nai Digital CP pada pasien dengan atrial fibril- lation pada tahun 2011 yang dilakukan di Bel- gia mengungkapkan bahwa Interdisciplinary CP merupakan pengorganisasian perawat den- gan menggunakan proses perawatan secara menyeluruh (dari pengkajian yang komprehen- sif sampai evaluasi dari pelaksanaan rencana perawatan) yang dinyatakan ke dalam per- awatan dan dipercaya dapat mempercepat per- awatan pasien dengan mengoptimalkan sumber pelayanan kesehatan. CP terintegrasi dari per- awat dan dokter bertujuan untuk menurunkan varians pada praktek klinis, meningkatkan standar klinis dari perawatan dan memfasilitasi panduan pelaksanaan bagi tim kesehatan lain- nya, mencegah duplikasi, perawat dan dokter untuk menggunakan waktu dengan baik dalam mengelola penyakit.7
Pada penelitian ini karakteristik pasien antara kelompok umumnya berbeda pada kelompok umur dan diagnosis MRS yang disebabkan karena kondisi yang tidak dapat dipadankan. Kelengkapan melaksanakan CP sesuai standar baku yang dilaksanakan di RS X. Selain itu penelitian dilakukan di 4 unit medikal bedah yang menerima pasien dengan pembiayaan umum maupun BPJS, sehingga diagnosis pasien sesuai CP memungkinkan bervariasi sesuai kondisi saat itu.
Karakteristik primary nurse tidak berbeda distribusi kelompok umur dan pen- galaman lama kerjanya antar kelompok
penelitian. Di kelompok intervensi perawat laki-lakinya lebih banyak dibandingkan per- awat laki di kelompok kontrol, dan sebaliknya.
Robbins 2013 menyatakan bahwa jenis ke- lamin berpengaruh terhadap kinerja, upah, dan kompetensi. Perempuan mempunyai kinerja yang lebih tinggi daripada laki – laki, namun laki –laki dinilai lebih memiliki potensi pro- mosi yang lebih tinggi.8
Penerapan CP pada awal penelitian dilakukan tidak lengkap di kedua kelompok penelitian. Pada akhir penelitian terjadi per- baikan penerapan CP hanya di kelompok inter- vensi yang telah mendapat penyegaran CP.
Seperti penerapan CP, mutu pelayanan keper- awatan terjadi peningkatan/perbaikan hanya di kelompok intervensi walaupun pada awal penelitian mutu pelayanan keperawatan di kelompok kontrol lebih baik. Kepuasan pasien tidak mengalami perubahan/ perbaikan yang bermakna di antar kelompok penelitian baik pada awal maupun akhir penelitian. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Romeyke dan Stummer 2012 bahwa penyusunan clinical pathway bagi penyedia layanan terdapat pada tingkat proses inti (dok- ter spesialis, perawat, terapis dan staf keper- awatan).9 Johnson, Blaisdell, Walker dan Eggleston, 2000 pada penelitiannya yang berjudul “Effectiveness of a Clinical Pathway for Inpatient Asthma Management” meny- atakan bahwa perawat yang menggunakan CP akan mengoptimalkan waktu mereka. Penggu- naan CP yang efektif akan menaikkan mutu asuhan pelayanan keperawatan, dimana per- awat menjadi terarah dalam memberikan pelayanan asuhan keperawatan.10
Hambatan pelaksanaan CP adalah keengganan individu untuk melakukan pe- rubahan. Hal ini bisa disebabkan karena ku- rangnya pedoman berdasarkan bukti yang ada, waktu yang tidak memadai, sumber daya manusia yang kurang kompeten, kurangnya komitmen untuk pelaksanaan CP, tidak mau menerima perubahan atau resisten terhadap perubahan, tidak jelas diagnosis pasien saat masuk, adanya co-morbiditas, dan sistem dari
Kepuasan Pasien 0,004 0,999
2 Simultan (Omnibus) 0,000 0,549 0,074
DOI : 10.33221/jiiki.v9i03.364
Submited: 25/8/19 Accepted: 14/9/19 Review: 28/8/19 Published: 28/9/19
rumah sakit yang kurang efisien (tenaga dan peralatan). hambatan politis, dan kurangnya penghargaan yang diberikan untuk perbaikan dalam kualitas pelayanan. Bila CP tidak dilak- sanakan dapat menurunkan komunikasi mul- tidisiplin, kerjasama, dan rencana perawatan pasien menjadi tidak efisien, menurunkan kualitas perawatan serta penurunan kewas- padaan antara dokter dalam mengontrol biaya .
Berdasarkan hasil pelaksanaan audit CP, masih ada pelaksanaan CP yang tidak dis- upervisi dan frekuensi supervisi yang tidak terjadwal secara konsisten. Hal ini dapat mem- pengaruhi motivasi perawat dan tim kesehatan lain dalam melaksanakan CP. Cara memahami CP dapat dilaksanakan dengan mendapatkan bimbingan dari perawat kepala ruang atau te- man sebaya, membaca pedoman CP. Penelitian yang dilakukan oleh Clark, Marshall, Sheward,
& Allan2012 menunjukkan bahwa terdapat hambatan pada lingkungan organisasi terma- suk tata letak sarana dan persepsi tidak memi- liki waktu melaksanakan CP dan anggota tim yang cukup.11 Penelitian yang dilakukan oleh Kim dkk 2014 didapatkan bahwa CP yang t e r u s m e n g a l a m i p e r b a i k a n , d a p a t meningkatkan kelayakan CP pada pasien den- gan total knee replacement dan sebaliknya mengurangi perhatian petugas kesehatan men- genai nilai CP.12 Dalam penelitian ini juga ditemukan CP dapat dilakukan dengan aman dan digunakan untuk strategi perawatan peri- operatif yang optimal untuk pasien dengan total knee replacement terlepas adanya rotasi petugas layanan kesehatan.
Hasil analisa regresi logistic binary didapat bahwa karateristik perawat dan pasien serta penyegaran CP tidak mempengaruhi pen- erapan CP, mutu pelayanan keperawatan dan kepuasan pasien. Penerapan CP mempengaruhi kepuasan pasien (p< 0,05) dan mutu pelayanan memberikan pengaruh secara signifikan ter- hadap kepuasan pasien (p<0,05). Secara simu- latan karakteristik perawat dan pasien, mutu pelayanan keperawatan dan kepuasan pasien memberikan pengaruh yang signifikan ter- hadap penerapan clinical pathway.
Dari pernyataan bahwa karateristik perawat dan pasien mempengaruhi penerapan CP dan saling berkesinambungan dipengaruhi pada mutu pelayanan dan kepuasan pasien.
Jabbour, Curran, Scott, Guttman, Rotter, Ducharme, et all 2013pada penelitiannya yang berjudul “Best strategies to implement clinical pathways in an emergency department setting:
study protocol for a cluster randomized con- trolled trial” Partisipan pada penelitian ini adalah staf unit emergensi dan dokter yang berasal dari 16 unit emergensi di Ontario.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dan kualitatif.13 Analisa kuantitatif untuk melihat karakteristik pasien dan rumah sakit dan variabel yang diteliti.
Analisa kualitatif dengan melakukan focus group discussion (FGD) dan wawancara dan data dianalisa dengan mengguanakan N- VIVO. Selain analisa kuantitatif dan kualitatif ini juga dilakukan analisa ekonomi, biaya rumah sakit.
CP untuk mempersempit kesenjangan klinis, memberikan kekhususan dari rumah sakit. Penelitian ini menghasilkan dasar penge- tahuan baru pada teori strategi implementasi dasar untuk melakukan CP di rumah sakit dan menunjukan perubahan sikap antara petugas kesehatan profesional, interprofesional, hasil yang diharapkan dan dampak pada biaya per- awatan pasien selama di rumah sakit. Menurut Ismail, Sulung, Aljunid, Hamdan, Yahaya, Harunarashid, Maskon, Ban, Harun, Saiboon, Nor 2012 pada penelitiannya yang berjudul
“Clinical Pathways: Development and Imple- mentation at a Tertiary Hospital in Malaysia”
menunjukan hasil yaitu dari empat CP yang dikembangkan yaitu Total Knee Replacement (TKR), ST Elevation Myocardial Infarction (AMI), Chronic Obstructive Airways Diseases (COAD) and elective Lower Segment Cae- sarean Section (LSCS) terbukti memberikan panduan yang efektif pada pengelolaan pelayanan kesehatan yang menghasilkan pelayanan pasien dapat ditingkatkan dan biaya perawatan dapat di kontrol.14 Tomey 2009 me- nungkapkan CP adalah bagian standar yang penting dari perawatan, mengurangi yang tidak dibutuhkan pada perawatan, menurunkan bi- aya.15 CP menunjukan hasil dalam waktu yang ditentukan dan dikembangkan untuk berbagai diagnosa. Varians baik yang positif maupun negatif dapat merubah CP dan mempengaruhi tindakan yang akan dilakukan. Kepuasan Pasien menpengaruhi penerapan CP dari saran dan masukan dari pasien dapat menjadi ma- Widjaja. L, et al. (2019)
621
sukan untuk peningkatan pada penerapan CP baik secara pembuatan CP ataupun pen- ingkatan kepatuhan dalam penerapan CP. Den- gan hasil penelitian ini perlu adanya penerapan CP yang bermanfaat untuk meningkatkan mutu pelayanan keperawatan dan kepuasan pasien
Kesimpulan
Dari hasil dan pembahasan dapat dis- impulkan bahwa penerapan CP dapat memper- baiki mutu pelayanann keperawatan dan kepuasan pasien. Hasil penelitian ini diharap- kan dapat sebagai bahan masukan pengemban- gan dan menambah kepustakaan bagi institusi pendidikan dalam menerapkan mutu asuhan keperawatan dan kepuasan pasien dari pelak- sanaan intervensi CP. Dapat menerapkan hasil penelitian tentang pengaruh penyegaran CP untuk meningkatkan mutu pelayanan keper- awatan dan kepuasan pasien di rumah sakit Daftar Pustaka
1. Indonesia, Kementerian Kesehatan RI, Direk- torat Jendral Bina Pelayanan Medik : Standar akreditasi rumah sakit. Kementerian Kesehatan RI Jakarta. 2011.
2. Bleser, L. D., Depreitere, R., Waele, K. D., Vanhaecht, K., Vlayeb, J., & Sermeus, W..
Defining Pathways.Vol 14. Journal of nursing management, Vol 14, 553-563; 2006.
3. Aljunid, S., Ismail, A., & Sulong, S. . Can Clin- ical Pathway Enhance The Implementation Of A Casemix SystemA Case Study In A Teaching Hospital In Malaysia. BMC Health Services Researce ; 2011.
4. Calhoun, B. C Uncomplicated Pregnancy : Clinical Pathway Genesis Based On The Nurs- ing Process. Military Medicine Vol 165 (11), 839-843: 2000.
5. Munijaya, AA, Manajemen mutu pelayanan kesehatan,Jakarta: Buku Kedokteran EGC : 2011.
6. Satrianegara, M. Fais Organisasi dan manaje- men pelayanan kesehatan teori dan aplikasi dalam pelayanan puskesmas dan rumah sakit.
Jakarta : Salemba Medika; 2014.
7. Berti, D., Hendriks, J. M., Brandes, A., Deaton, C., Crijns, H. J., Camm, A. J., et al : A Pr- poposal For Interdiciplinary, Nurse-Coordinat- ed Atrial Fibrilation Expert Programmes As A Way To Structure Daily Practice. Eropian Heart Journal, Vol 34, 2725-2730; 2013.
8. Robbins SP, Perilaku organisasi ed 12.Jakarta, Salemba; 2013.
9. Romeyke, T.. Clinical Pathway As Instrumens For Risk And Cost Management In Hospitals - A Discussion Paper. Global Journal of Health Science, Vol 4 (2), 50-59 : 2012.
10. Johnson, K. B., Blaisdell, C. J., Walker, A., &
Eggleston, P. Effectiveness Of A Clinical Path- way For Inpatient Asthma Management. Amer- ican Academy of Pediatrics, Vol 106 (5), 1006- 1012 ;2000.
11. Clark, J., Marshall, B., Sheward, K., & Allan, S.. Staff perceptions of the impact of the liver- pool care pathwat in aged residential care in new zeland. International Journal of Palliative Nursing, Vol 18 (4), 171-178 ; 2012.
12. Kim, T. K., Chang , M. J., Kim, S. J., Song, Y.
D., & Kim, S. K. . Countinuous Improvement Of A Clinical Pathway Increased Its Feasibility And Improved Care Providers' Perseption In TKA. Journal Knee Surgery and Related Re- search, Vol 26 (4), 199-206; 2014.
13. Jabbour, M., Curran, J., Scott, S. D., Guttman, A., Rotter, T., Ducharme, F. M., et al.. Best Strategies To Implement Clinical Pathway In A E Emergency Departement Setting; Studi Pro- tocol For A Cluster Randomized Controlled Trial. Journal Implmentation Science, Vol8(55), 2-11; 2013.
14. Ismail, A., Sulung, S., Aljunid, S. M., Hamdan, N., Yahaya, N., Harunarashid, H., et al.. Clini- cal Pathway : Development And Implementa- tion At A Tertiary Hospital In Malaysia. In- ternational Journal of Public Health Research, vol 2 (2), 153-160 ; 2012.
15. Tomey, A. M. Guide to nursing management and leadership. Canada: Mosby Elsevier ; 2009.
DOI : 10.33221/jiiki.v9i03.354
Submited: 22/8/19 Accepted: 2/9/19 Review: 24/8/19 Published: 28/9/19
Hubungan Pengetahuan dan Sikap dengan Perilaku Ibu Menghadapi Anak Berkebutuhan Khusus
Fanny Dameria,1 Elisabeth Isti Daryati,2 dan Sada Rasmada3
1,2,3Program Studi Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sint Carolus
Salemba Raya No 41 Jakarta Pusat 10440
Email :,[email protected],1 [email protected],2 [email protected]3
Pendahuluan
Anak retardasi mental disebut juga anak berkebutuhan khusus yang memiliki keterbelakangan mental. Anak retardasi mental yang sangat berat sering mengalami kesulitan dalam mengurus diri selayaknya anak normal.
Anak ini memiliki kemampuan intelektual yang rendah sehingga mengalami keterbatasan dalam bidang keterampilan, komunikasi, per- awatan diri, kegiatan sehari-hari, kesehatan, keselamatan dan akademis.1 Keterbatasan yang dimiliki anak ini perlu mendapatkan perhatian Abstrak
Pendahuluan: Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang secara signifikan berbeda dalam beberapa dimensi dari fungsi kemanusiaannya. Kurangnya penerimaan tentang kondisi anak dan kurangnya pengetahuan akan kebutuhan anak yang berkebu- tuhan khusus sering kali menyebabkan seseorang bersikap negatif terhadap anak tersebut.
Tujuan: Tujuan penelitian adalah mengetahui adakah hubungan antara pengetahuan dan sikap dengan perilaku ibu menghadapi anak retardasi mental.
Metode: Jenis penelitian ini adalah studi kuantitatif deangan desain korelasi deskriptif dan metode pen- dekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 30 ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus (retardasi mental) di SLBC Dian Grahita.
Analisis data menggunakan chi-square.
Hasil: Hasil penelitian ini menunjukan ada hubun- gan pengetahuan ( p value = 0,03 ) dan sikap (p val- ue = 0,00) terhadap perilaku ibu menghadapi anak retardasi mental di SLBC Dian Grahita Jakarta.
Kesimpulan: Ada hubungan antara pengetahuan dengan perilaku ibu dalam menghadapi anak dengan retardasi mental.
Abstract
Introduction: Children with special needs are chil- dren who are significantly different in some dimen- sions of his humanitarian function. Lack of accep- tance of the child's condition and the lack of knowl- edge of the needs of children who have special needs often cause someone to be negative towards the child.
Objective: The purpose of this study was to deter- mine whether there is a relationship between knowl- edge and attitude with the behavior of mothers fac- ing mental retardation children.
Method: This type of research is a quantitative study of and descriptive correlation design and cross-sectional approach methods. The samples in this study were as many as 30 mothers who had special needs children (mental retardation) at SLBC Dian Grahita. Data analysis with Chi-square Results: The results of this study showed that there was a knowledge relationship (p-value = 0.03) and attitude (p-value = 0.00) to the behavior of the mother facing mental retardation child in Jakarta.
Conclusion: There is a relationship between knowl- edge and mother's behavior in dealing with children with mental retardation.
Kata Kunci: pengetahuan, perilaku, retardasi men- tal, sikap
Indonesian Nursing Scientific Journal Volume 09, Nomer 03, 2019
Keywords: knowledge, attitudes, mental retarda- tion, behaviour
623
lebih dari orang tua. Orangtua perlu berusaha memberikan yang terbaik pada anak dengan meminta bantuan pada orang yang ahli dalam menanganinya.
Seseorang dengan retardasi mental memiliki intelegensi dibawah rata-rata sejak masa perkembangan dan ketidakmampuan dalam interaksi sosial.2 Keterbatasan intelektu- al dan fungsi adaptif yang ada merupakan hasil dari proses patologik di dalam otak.3 Gang- guan patologik dalam otak ini dapat dise- babkan oleh infeksi atau intoksikasi akibat dari dalam kandungan, gangguan metabolisme, pertumbuhan atau gizi kurang, akibat penyakit otak yang nyata, pengaruh prenatal yang tidak jelas dan prematuritas.4
Data WHO (2017) diperkirakan jum- lah anak retardasi mental di Indonesia se- banyak 6,6 juta jiwa.5 Insiden tertinggi anak ini pada masa sekolah dengan puncak umur 10 sampai 14 tahun. Penyandang retardasi mental lebih banyak mengenai 1,5 kali pada laki-laki dibandingkan perempuan.6 Berdasarkan data dari Dinas Sosial pada tahun 2012 di Jawa Tengah terdapat penyandang retardasi mental sekitar 18,516 orang anak dan di Semarang jumlah anak yang mengalami retardasi mental 363 orang pada tahun 2014. Prevalensi retar- dasi mental di Jakarta 62.011 anak yang terba- gi menjadi 60% berjenis kelamin laki-laki dan 40% berjenis perempuan.7
Berdasarkan Undang-Undang Pen- didikan Nasional tahun 2012 dan Peraturan Pemerintah No.72 tahun 2012, bentuk pen- didikan kelompok untuk anak dengan retardasi mental berupa sekolah-sekolah khusus yang disebut sekolah luar biasa (SLB) dan sekolah dasar luar biasa (SDLB). Pendidikan di SLB ini membantu melatih perkembangan anak dari segi pemikiran dan perilaku anak. Namun rangsangan pikiran dan perilaku ini perlu di- lakukan secara kontinyu bukan hanya di seko- lah tetapi juga di rumah.
Peran orangtua sangat dibutuhkan un- tuk mempertahankan kehidupan fisik anak dan meningkatkan kesehatannya. Orang tua harus memfasilitasi anak dan memberi kesempatan untuk melakukan kegiatan sejalan dengan tahapan perkembangannya dalam berperilaku sesuai dengan nilai agama dan budaya.8,9 Peran ini dapat berjalan dengan baik jika orangtua memiliki pengetahuan yang memadai tentang
kondisi anak. Pengetahuan ibu tentang retar- dasi mental dapat membantu memahami kendala-kendala yang dialami anak. Ibu perlu memberikan perhatian khusus dan lebih peka dalam memberikan rangsangan emosi dan sosial agar kondisi anak juga semakin positif.3,8 Hal ini sejalan dengan hasil riset yang menyatakan ibu yang memahami dan menyadari akan kelemahan anak retardasi mental merupakan faktor yang membantu perkembangannya di lingkungan.1,8 Penelitian Hafid menyatakan bahwa pengetahuan ibu ten- tang retardasi mental yang sangat minim, membuat orangtua tidak memahami dan menghadapi kendala yang akan muncul dalam keseharian anak.10,11 Hal ini dapat menjadi pemicu ada rasa tidak berdaya bahkan menyangkal kondisi anak retardasi mental, sehingga membuat orangtua pesimis di saat anak sulit ditangani.10
Ibu dengan anak retardasi mental se- bagian besar mengalami syok, kecewa dan bersifat menolak. Sikap ini dan kebiasaan yang diterapkan oleh ibu dan keluarga dapat menun- jukkan kecenderungan anak akan menjadi lebih rendah diri dan menarik diri pada lingkungan. Sikap yang dilakukan tersebut sebagai usaha melampiaskan kepuasan ibu.12 Ibu yang dapat menerima keadaan anak retar- dasi mental memiliki sikap bahwa anak terse- but sudah pemberian Tuhan dalam keluarga.
Sikap ini biasanya disebabkan karena ibu mendapat dukungan sosial dan motivasi yang cukup dari lingkungan sekitar, seperti keluarga teman, dan orang-orang terdekat. Sikap pener- imaan dan dukungan yang diterima ibu dapat membuat orangtua berhasil dalam menghadapi tantangan merawat anak dengan retardasi men- tal. Oleh karena itu dukungan dari keluarga sangat penting untuk membantu ibu mengem- bangkan kemampuannya sesuai dengan kapa- sitas yang dimiliki anak.8,13
Berdasarkan hal di atas, peneliti ingin mengetahui adakah hubungan antara penge- tahuan dan sikap dengan perilaku ibu meng- hadapi anak retardasi mental.
Metode
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan rancangan cross sectional, dan desain korelasi deskriptif. Popu- lasi dalam penelitian ini adalah ibu yang
DOI : 10.33221/jiiki.v9i03.354
Submited: 22/8/19 Accepted: 2/9/19 Review: 24/8/19 Published: 28/9/19
memiliki anak retardasi mental yang masih aktif disekolah SLB C Dian Grahita Jakarta dengan jumlah sampel 30. 17 Penelitian di- lakukan di SLB C Dian Grahita Jakarta pada bulan Desember- Juli 2017/2018. Analisa data pada jenis penelitian kuantitatif meliputi anal- isa data univariat untuk mengetahui distribusi frekuensi dari tiap variabel dan analisa data bivariate menggunakan uji statistik Chi- square.18
Hasil
Analisa yang dilakukan memperoleh hasil sebagai berikut
Tabel 2 menunjukkan bahwa hasil analisis sta- tistik didapatkan p value = 0,03 < α=0,05, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
Tabel 1. Menyajikan tingkat pengetahuan ku- rang sebanyak 16 reponden (53,4%). Mayori- tas ibu memiliki sikap positif dalam meng- hadapi anak retardasi mental di SLBC Dian Grahita ini, yaitu sebesar 53,3%. Responden memiliki dapat dilihat 15 responden (50,0%) memiliki perilaku yang positif dan 15 respon- den (50,0%) memiliki perilaku yang negatif.
ada hubungan antara pengetahuan dan perilaku ibu dalam menghadapi anak retardasi mental Tabel 1. Distribusi Frekuensi Pengetahuan,
Sikap dan Perilaku
Pengetahuan Frekuensi Presentase
Kurang 16 53,4%
Cukup 7 23,3%
Baik 7 23,3%
Hubungan Pengetahuan dan Sikap...
Sikap Frekuensi Presentase
Negatif 14 46,7%
Positif 16 53,5%
Perilaku Frekuensi Presentase
Negatif 15 50%
Positif 15 50%
Total 30 100%
Perilaku
Pengetahuan
Negatif Positif Total P-Value
N % N % N %
Kurang 12 75 4 25 16 100
Cukup+Baik 3 21,4 11 78,6 14 100 0,03
Total 15 50 15 50 30 100
Tabel 2. Hubungan Pengetahuan dengan Perilaku Ibu dalam Menghadapi Anak Retardasi Mental
Tabel 3. Hubungan Sikap dengan Perilaku Ibu dalam Menghadapi Anak Retardasi Mental Perilaku
Sikap
Negatif Positif Total P-Value
N % N % N %
Kurang 13 92,9 1 17,1 14 100
Cukup+Baik 2 12,5 14 87,5 16 100 0,03
Total 15 50 15 50 30 100
625