Korespondensi dengan Penulis:
Nu rik a Rest u n in g d iah : Telp. + 62 341 551 312 E-mail: [email protected]
KOMISARIS INDEPENDEN, KOMITE AUDIT, INTERNAL AUDIT DAN RISK MANAGEMENT COMMITTEE TERHADAP
MANAJEMEN LABA
Nurika Restuningdiah
Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang Jl. Semarang No.5 Malang, 65145
Abstract
The purpose of this research was to examine the impact of independency of board commisioner, audit commit- tee, internal audit and risk management comittee to earning management. Regression Analysis of 35 public companies listing in Indonesia Stock Exchange on year 2009 through a random sampling technique indicated that there was no significant impact of independency of board commisioner, audit committee, internal audit and risk management comittee to earning management. The implication of this study was relevant to the decision maker of public companies to consider the skill and expertise of board commisioner, audit committe, internal audit and risk management comittee to support the internal corporate governance mechanism.
Key words: independency of board commisioner, audit committee, internal audit, earning management, risk management committee
Corporate governance merupakan salah satu elemen kunci dalam meningkatkan efisiensi ekonomis, yang meliputi serangkaian hubungan antara mana- jemen perusahaan, dewan komisaris, para peme- gang saham dan stakeholders lainnya. Corporate gov- ernance diharapkan dapat berfungsi untuk mene- kan atau menurunkan agency cost (Ujiyantho & Pra- muka, 2007). Perilaku manipulasi oleh manajer yang berawal dari konflik kepentingan tersebut dapat diminimumkan melalui suatu mekanisme monitoring yang bertujuan untuk menyelaraskan (alignment) berbagai kepentingan tersebut. Corpo- rate governance juga memberikan suatu struktur yang memfasilitasi penentuan sasaran-sasaran dari suatu perusahaan, dan sebagai sarana untuk me- nentukan teknik monitoring kinerja (Deni, dkk., 2004).
Corporate governance merupakan konsep yang didasarkan pada teori keagenan, dan diharapkan bisa berfungsi sebagai alat untuk memberikan ke- yakinan kepada para investor bahwa mereka akan menerima return atas dana yang telah mereka inves- tasikan. Corporate governance berkaitan dengan bagaimana para investor yakin bahwa manajer akan memberikan keuntungan bagi mereka, yakin bah- wa manajer tidak akan mencuri/menggelapkan atau menginvestasikan ke dalam proyek-proyek yang tidak menguntungkan berkaitan dengan dana/kapital yang telah ditanamkan oleh inves- tor, dan berkaitan dengan bagaimana para inves- tor mengontrol para manajer (Shleifer & Vishny, 1997).
Mekanisme corporate governance dapat meng- awasi manajemen dan pengambil keputusan, se- hingga memudahkan untuk memaksimalkan nilai
perusahaan (Handajani dkk., 2006). Beberapa hal yang terkait dengan mekanisme corporate governance adalah kepemilikian manajerial, kepemilikan insti- tusional, peran dewan komisaris (jumlah dewan komisaris serta independensi dewan komisaris).
Dechow, et al. (1996) dan Beasly (1996) menemukan hubungan yang signifikan antara peran dewan ko- misaris dengan pelaporan keuangan. Mereka me- nemukan bahwa ukuran dan independensi dewan komisaris mempengaruhi kemampuan mereka da- lam memonitor proses pelaporan keuangan. Dewan komisaris dipercaya dapat memegang peranan penting dalam corporate governance, terutama dalam memonitor manajemen puncak (Peasnell, et al., 2005).
Davidson, et al. (2005) menyatakan bahwa governance yang kuat merupakan keseimbangan antara kinerja perusahaan dengan tingkat peng- awasan (level of monitoring) yang cukup. Pengungkap- an laporan keuangan dapat mengurangi masalah keagenan dengan cara menjembatani asymmetry gap yang terjadi antara manajemen dengan pemegang saham. Beberapa hal yang terkait dengan monito- ring melalui mekanisme internal governance adalah dewan komisaris independen, komite audit, fungsi audit internal dan pemilihan audit eksternal (Davidson, et al., 2005). Peranan mekanisme inter- nal governance terkait dengan laporan keuangan ada- lah untuk meyakinkan ketaatan terhadap standar yang ada, serta untuk menjaga kredibilitas dari laporan keuangan (Dechow, et al., 1995).
Fama & Jensen (1983) menyatakan bahwa de- wan komisaris adalah mekanisme pengendalian yang paling penting. Dewan komisaris yang efektif harus meyakinkan kevalidan pemilihan metode akuntansi yang dibuat oleh manajemen dan impli- kasi keuangan untuk setiap keputusan yang dibuat oleh manajemen.
Dalam perspektif keagenan, kemampuan de- wan komisaris dalam mekanisme monitoring yang efektif bergantung pada independensinya terhadap manajemen (Beasley, 1996; Dechow, et al., 1996).
Komisaris independen terkait dengan perannya se- bagai non-executive director. Non-executive director secara keseluruhan independen terhadap manaje- men, dan diharapkan dapat memonitor manajemen (Baysinger & Butler, 1985). Beasley (1996) menya- takan bahwa kehadiran dewan komisaris indepen- den dapat mengurangi kecurangan dalam laporan keuangan. Bedard, et al. (2004) dan Sarkar, et al.
(2006) menyatakan bahwa dewan komisaris ber- pengaruh terhadap manajemen laba dan kualitas laporan keuangan. Hasil penelitian Peasnell, et al.
(2001) menyatakan bahwa komisaris independen berpengaruh negatif terhadap manajemen laba, namun demikian hasil penelitian Chtourou (2001) tidak menemukan adanya pengaruh komisaris independen terhadap manajemen laba.
Untuk lebih mengefisiensikan pekerjaannya, maka dewan komisaris dapat mendelegasikan tanggungjawabnya kepada dewan komite. Terkait dengan proses monitoring laporan keuangan, maka diharapkan komite audit dapat memberikan proteksi terbaik dalam menjaga kredibilitas lapor- an keuangan perusahaan. Hal ini disebabkan ka- rena proses monitoring terhadap laporan keuang- an dan aktivitas audit oleh audit komite (Davidson, et al., 2005). Dewan komisaris bertanggungjawab terhadap monitoring kinerja manajerial secara umum, sedangkan secara khusus monitoring laporan keuangan didelegasikan kepada komite audit (Karamanou & Vafeas, 2005). Hasil penelitian Davidson, et al., (2005) menunjukkan bahwa audit komite berpengaruh negatif terhadap manajemen laba. Hasil penelitian Karamanou & Vafeas (2005) menunjukkan bahwa perusahaan dengan struktur dewan komisaris dan komite audit yang efektif akan menghasilkan laporan keuangan yang lebih akurat. Peasnell, et al. (2005) menyatakan bahwa dua hal yang digunakan untuk mengukur keefek- tifan monitoring oleh dewan komisaris adalah pro- porsi anggota dewan komisaris independen (out- side director) dan apakan dewan komisaris memiliki komite audit. Peasnell, et al. (2005) lebih lanjut me- nyatakan bahwa komite audit memiliki tangung-
jawab khusus dalam menghasilkan laporan ke- uangan, dan biasanya mengkomunikasikannya de- ngan auditor eksternal.
Dechow, et al. (1996) dan Beasly (1996) mene- mukan hubungan yang signifikan antara peran de- wan komisaris dengan pelaporan keuangan. Mere- ka menemukan bahwa ukuran dan independensi dewan komisaris mempengaruhi kemampuan me- reka dalam memonitor proses pelaporan keuang- an. Berkaitan dengan ukuran dewan komisaris, Coller & Gregory (1999) menyatakan bahwa sema- kin besar jumlah anggota dewan komisaris, maka akan semakin mudah untuk mengendalikan CEO dan monitoring yang dilakukan akan semakin efektif. Dalam penelitian ini mekanisme GCG di- proksi dengan kepemilikan institusional, kepemi- likan manajerial, proporsi dewan komisaris inde- penden, dan ukuran dewan komisaris.
Sebagai tambahan terhadap komite audit, perusahaan dapat membentuk fungsi internal au- dit sebagai pelengkap terhadap keberadaan inter- nal governance framework (Davidson, et al., 2005).
Keberadaan fungsi internal audit menyediakan jasa konsultasi, yang dapat dikembangkan terha- dap efektifitas manajemen risiko, pengendalian, dan proses governance. Fungsi internal audit juga diharapkan dapat memfasilitasi efektifitas dan ope- rasional dari komite audit (Davidson, et al., 2005).
Manajemen laba merupakan suatu intervensi dengan maksud tertentu terhadap proses pelapor- an keuangan eksternal dengan sengaja untuk mem- peroleh beberapa keuntungan pribadi (Harahap, 2004). Praktik perataan laba (income smoothing) ada- lah salah satu bentuk dari manajemen laba. Scott (2000) menyatakan bahwa terdapat empat pola yang dilakukan manajemen untuk melakukan manajemen laba, yaitu (1) taking a bath, (2) income minimization, (3) income maximization dan (4) income smoothing.
Ronen & Sadan (1975) menyatakan bahwa praktik perataan laba dapat dilakukan melalui beberapa dimensi, yaitu: (1) perataan laba melalui
peristiwa yang terjadi atau pengakuan suatu peris- tiwa, (2) perataan laba melalui alokasi selama pe- riode tertentu dan (3) perataan laba melalui kla- sifikasi. Lebih lanjut Bartov (1993) menyatakan bahwa perataan laba dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai metode akuntansi atau taksiran akuntansi yang dapat digunakan dengan memperlakukan transaksi yang menyebabkan laba yang dilaporkan lebih mendekati angka yang di- targetkan daripada memaksimumkan aliran kas yang diharapkan saat ini.
Suranta & Merdistusi (2004) menyatakan bahwa penyebab terjadinya konflik kepentingan antara agen dan prinsipal adalah: (1) informasi me- ngenai laba yang merupakan salah satu parameter yang digunakan untuk mengukur kinerja mana- jamen, (2) adanya pemisahan fungsi pengelolaan dan fungsi kepemilikan dimana manajemen tidak merasakan langsung akibat adanya kesalahan da- lam pembuatan keputusan bisnis karena risiko ter- sebut sepenuhnya ditanggung oleh pemegang saham.
Perhatian investor yang seringkali hanya ter- pusat pada laba membuatnya tidak memperhati- kan prosedur yang digunakan untuk menghasilkan informasi laba tersebut (Beattie, et al., 1994; Sandra
& Kusuma, 2004; Harahap, 2004). Hal ini mendo- rong manajer untuk melakukan manajemen laba atau manipulasi atas laba (Assih & Gudono, 2000;
Sandra & Kusuma, 2004).
Bedard, et al. (2004) melakukan penelitian mengenai pengaruh keahlian, independensi, dan aktivitas komite audit terhadap kualitas laporan keuangan yang dipublikasikan. Hasil penelitian ter- sebut menunjukkan bahwa keahlian anggota ko- mite audit berhubungan negatif dengan keagresif- an manajemen laba.
Davidson, et al. (2005), menyatakan bahwa internal auditor merupakan pelengkap bagi audit eksternal. Keduanya harus terlibat dalam pende- teksian manajemen laba. Keberadaan fungsi inter- nal auditor berhubungan dengan rendahnya ting-
kat manajemen laba. Namun demikian hasil pene- litian Davidson, et al. (2005) menunjukkan bahwa fungsi internal auditor tidak berpengaruh terhadap manajemen laba.
Davidson, et al. (2005) melakukan penelitian mengenai pengaruh mekanisme internal governance (dewan komisaris, komite audit, fungsi audit inter- nal dan pemilihan audit eksternal) terhadap mana- jemen laba. Hasil penelitian terhadap 434 perusa- haan di Australia tersebut menunjukkan bahwa de- wan komisaris independen (non executive) dan komite audit berpengaruh secara signifikan terha- dap rendahnya manajemen laba, sedangkan fungsi audit internal dan pemilihan auditor tidak ber- pengaruh signifikan terhadap manajemen laba.
Namun demikian, hasil penelitian Sarkar, et al. (2006) menunjukkan bahwa bukanlah dewan komisaris independen sendiri yang berpengaruh terhadap manajemen laba, namun kualitas dewan komisarislah yang berpengaruh terhadap mana- jemen laba. Hasil penelitian tersebut menunjukkan dewan komisaris yang “rajin” berhubungan de- ngan rendahnya manajemen laba, sedangkan de- wan komisaris yang memiliki banyak pekerjaan lain berhubungan dengan tingginya manajemen laba.
Hasil penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa Chief Executive Officer (CEO) yang memiliki duali- tas (tidak independen) akan cenderung mening- katkan manajemen laba. Sarkar, et al. (2006) me- nyatakan bahwa rendahnya kualitas laba berhu- bungan dengan lemahnya mekanisme governance.
Penelitian Karamanou & Vafeas (2005) me- nunjukkan bahwa corporate governance yang efektif berpengaruh dengan tingginya kualitas pengung- kapan laporan keuangan. Perusahaan dengan struktur dewan komisaris dan komite audit yang efektif akan lebih sering melakukan update terha- dap prediksi laba, dan prediksi yang dilakukan menjadi lebih tepat, akurat, dan lebih direspon oleh pasar.
Perubahan teknologi, globalisasi, dan per- kembangan transaksi bisnis seperti hedging dan
derivative menyebabkan makin tingginya tantangan yang dihadapi perusahaan dalam mengelola risiko yang harus dihadapinya (Beasley, 2007). Akibat- nya, untuk menghadapi segala tantangan tersebut, penerapan sistem manajemen risiko secara formal dan terstruktur merupakan suatu keharusan bagi perusahaan. Apabila dilaksanakan dengan efektif, sistem manajemen risiko dapat menjadi sebuah ke- kuatan bagi pelaksanaan good corporate governance (Andarini & Januarti, 2010).
Aspek pengawasan merupakan kunci pen- ting demi berjalannya sistem manajemen risiko per- usahaan yang efektif. Dewan komisaris berperan dalam mengawasi penerapan manajemen risiko untuk memastikan perusahaan memiliki program manajemen risiko yang efektif (Krus & Orowitz, 2009). Untuk meringankan beban tanggungjawab- nya yang begitu luas, dewan komisaris dapat men- delegasikan tugas pengawasan risiko kepada ko- mite pengawas manajemen. Komite tersebut diha- rapkan dapat mendiskusikan kebijakan dan pandu- an untuk mengatur proses manajemen risiko per- usahaan (Krus & Orowitz, 2009). Komite pengawas manajemen dapat sebagai komite audit atau komite lain yang terpisah dari audit dan berdiri sendiri, meskipun demikian tanggungjawab utama dari pengawasan manajemen risiko tetap di tangan dewan komisaris secara penuh (Subramaniam, et.
al, 2009).
Risk management committee (RMC) merupakan mekanisme pengawas risiko yang penting bagi per- usahaan (Subramaniam, et al, 2009). Lebih lanjut, secara umum area tugas dan wewenang RMC ada- lah: mempertimbangkan strategi manajemen risiko organisasi, mengevaluasi operasi manajemen risiko organisasi, menaksir pelaporan keuangan orga- nisasi, dan memastikan bahwa organisasi dalam prakteknya memenuhi hukum dan peraturan yang berlaku.
Subramaniam, et al. (2009) menyatakan bah- wa dalam pembentukannya RMC dapat tergabung dengan audit atau dapat pula menjadi komite yang
terpisah dan berdiri sendiri. Komite terpisah yang secara khusus berfokus pada masalah risiko (RMC), dinilai dapat menjadi mekanisme yang efek- tif dalam mendukung dewan komisaris untuk me- menuhi tanggungjawabnya dalam tugas pengawas- an risiko dan manajemen pengendalian internal.
RMC yang terpisah dari audit akan lebih mencurah- kan lebih banyak waktu dan usaha untuk mengga- bungkan berbagai risiko yang dihadapi perusahaan secara luas dan mengevaluasi pengendalian terkait secara keseluruhan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengembang- kan hasil penelitian Davidson, et al. (2005), mela- kukan penelitian mengenai pengaruh mekanisme internal governance (dewan komisaris, komite au- dit, fungsi audit internal dan pemilihan audit eks- ternal) terhadap manajemen laba pada 434 perusa- haan di Australia, dimana hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa dewan komisaris independen (non executive) dan komite audit berpengaruh se- cara signifikan terhadap rendahnya manajemen laba, sedangkan fungsi audit internal dan pemilih- an auditor eksternal tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba. Pada penelitian ini pe- milihan audit eksternal tidak dimasukkan sebagai variabel penelitian karena berdasarkan pendapat dari Subramaniam, et al. (2009) yang menyatakan bahwa pemilihan auditor eksternal bukan meru- pakan mekanisme internal governance, melainkan external governance. Pada penelitian ini ditambahkan variabel RMC yang terpisah dari komite audit, ka- rena komite yang secara khusus berfokus pada ma- salah risiko, dinilai dapat menjadi mekanisme yang efektif dalam mendukung dewan komisaris untuk memenuhi tanggungjawabnya dalam tugas peng- awasan risiko dan manajemen pengendalian inter- nal. Komite manajemen risiko yang terpisah dari audit akan lebih mencurahkan lebih banyak waktu dan usaha untuk menggabungkan berbagai risiko yang dihadapi perusahaan secara luas dan meng- evaluasi pengendalian terkait secara keseluruhan Subramaniam, et al. (2009). Kontribusi yang diha-
rapkan dapat diberikan dari penelitian ini adalah bahwa hasil pengujian empiris ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi perusahaan untuk mem- perhatikan mekanisme internal governance (dewan komisaris independen, komite audit, dan komite manajemen risiko), yang diharapkan dapat meng- atasi masalah keagenan terkait dengan perataan laba.
HIPOTESIS
Berdasarkan latar belakang, dirumuskan hipotesis penelitian ini sebagai berikut:
H1: Proporsi dewan komisaris independen ber- pengaruh terhadap manajemen laba.
H2: Komite audit berpengaruh terhadap manaje- men laba.
H3: Internal audit berpengaruh terhadap manaje- men laba.
H4: RMC berpengaruh terhadap manajemen laba.
METODE
Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan publik yang terdaftar (go- public) di Bursa Efek Indonesia dan menerbitkan laporan keuangan pada tahun 2008 hingga 2009.
Metode pengambilan sampel yang digunakan ada- lah purposive random sampling, dengan kriteria: (1) Perusahaan non finansial; (2) perusahaan menerbit- kan laporan keuangan untuk periode 2008 hingga 2009; (3) laporan keuangan berakhir 31 Desember, dan (4) data tanggal pengumuman laba periode 31 Desember 2008 dan 31 Desember 2009 tersedia di bursa atau di media massa. Berdasarkan kriteria yang ada, dipilih secara acak 35 perusahaan sebagai sampel.
Jenis data dalam penelitian ini adalah data sekunder, yaitu data mengenai mekanisme inter- nal governance (meliputi: dewan komisaris indepen- den, komite audit, risk management committee),
laporan keuangan auditan (data diperoleh dari web site perusahaan, www.duniainvestasi.com serta dari www.idx.co.id).
Definisi operasional dan pengukuran variabel yang digunakan dalam penelitian ini meliputi:
Manajemen Laba
Manajemen laba yang digunakan dalam pe- nelitian ini adalah perataan laba. Bartov (1993) menyatakan bahwa perataan laba dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai metode akuntansi atau taksiran akuntansi yang dapat digunakan de- ngan memperlakukan transaksi yang menyebabkan laba yang dilaporkan lebih mendekati angka yang ditargetkan daripada memaksimumkan aliran kas yang diharapkan saat ini. Dalam penelitian ini pe- ratan laba diukur dalam dengan menggunakan indeks Eckel (1981) yang membedakan antara per- usahaan perata laba dengan perusahaan bukan pe- rata laba. Rumusnya adalah:
Indeks perataan laba = (CVΔI/CVΔS) Notasi:
(CVΔI/CVΔS)= perubahan laba dalam satu periode (CVΔI/CVΔS) = perubahan penjualan dalam satu periode
(CVΔI/CVΔS)= koefisien variasi untuk perubahan laba (CVΔI/CVΔS) = koefisien variasi untuk perubahan pen-
jualan
(CVΔI/CVΔS)(CVΔI/CVΔS) dapat dihitung dengan: dan
Variabel ini merupakan variabel dummy, ang- ka satu untuk perusahaan perata laba dan nol un- tuk perusahaan bukan perata laba. Laba yang digu- nakan dalam penelitian ini peneliti adalah laba ope- rasi. Digunakan angka ini karena laba operasi me- rupakan laba yang dihasilkan dari aktivitas utama perusahaan (Ashari, et al., 1994).
Proporsi Dewan Komisaris Independen
Komisaris independen adalah anggota de- wan komisaris yang tidak terafiliasi dengan mana- jemen, anggota dewan komisaris lainnya dan pe- megang saham pengendali, serta bebas dari hubung- an bisnis atau hubungan lainnya yang dapat mem- pengaruhi kemampuannya untuk bertidak indepen- den atau semata-mata demi kepentingan perusaha- an (Ujiyantho & Pramuka, 2007). Dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan persentase ang- gota dewan komisaris yang berasal dari luar per- usahaan dari seluruh jumlah anggota dewan komi- saris perusahaan.
Komite Audit
Komite audit dalam penelitian ini adalah efektifitas komite audit, yang diukur berdasarkan banyaknya jumlah pertemuan yang dilakukan selama setahun (Davidson, et al., 2005).
Internal Audit
Adalah keberadaan fungsi internal audit di perusahaan. Perusahaan yang mengungkapkan ke- beradaan internal audit dalam laporan tahunannya diberikan nilai satu (1), sebaliknya diberi nilai nol (0).
Risk Management Committee (RMC)
Adalah keberadaan RMC yang berdiri sen- diri dan terpisah dari komite lainnya.
Perusahaan yang mengungkapkan keberada- an RMC secara terpisah dari komite lainnya dalam
CVΔI dan CVΔS = X
n X
X
2 1) (
Notasi:
ÄX = perubahan laba (I) atau perubahan penjualan (S) tahun t-1 ke tahun t.
n = jumlah tahun yang diamati.
Perusahaan diklasifikasikan sebagai bukan perata laba jika:
CVΔI ≥ CVΔS
laporan tahunannya diberikan nilai satu (1), se- baliknya diberi nilai nol (0).
Metode analisis yang digunakan untuk meng- uji hipotesis dalam penelitian ini adalah regresi logisitik. Regresi logistik digunakan karena vari- abel dependen pada penelitian ini merupakan vari- abel dichotomous, dan variabel independennya ber- sifat kombinasi antara metric dan non metric. Regresi logistik tidak memerlukan uji normalitas, heteroskedastisitas dan uji asumsi klasik pada variabel dependennya (Ghozali, 2005). Model regresi logisitiknya adalah:
HASIL
Hasil analisis data menggunakan regresi logistik adalah sebagai berikut:
Persamaan yang dibentuk berdasarkan hasil pengujian regresi logistik (Tabel 1) ditunjukkan dengan:
logit (ML) = 1,148 – 1, 091 KI +0,501KA -,746 AI -0,554 RMC + e
Hasil analisis data mengenai pengaruh komi- saris independen terhadap manajemen laba men- dapatkan hasil sig t = 0,731, pada taraf signifikansi p =0,005 (H01 tidak ditolak), sehingga hal ini menunjukkan bahwa proporsi Dewan Komisaris Independen tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba. Pengaruh efekfifitas komite au- dit terhadap manajemen laba mendapatkan hasil sig t = 0,358, pada taraf signifikansi p=0,005, (H02 tidak ditolak), sehingga hal ini menunjukkan bah- wa efektifitas komite audit tidak berpengaruh sig- nifikan terhadap manajemen laba. Pengaruh fungsi internal audit terhadap manajemen laba menda- patkan hasil sig t = 0,425, pada taraf signifikansi p=0,005, (H03 tidak ditolak), sehingga hal ini me- nunjukkan bahwa internal audit tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba. Pengaruh risk management committee (RMC) terhadap manajemen laba mendapatkan hasil sig t = 0,575, pada taraf signifikansi p=0,005, (H04 tidak ditolak), sehingga RMC tidak berpengaruh terhadap manajemen laba.
logit (ML) = α + β1 KI + β2 KA + β3 AI + β4 RMC + e
Keterangan:
ML = Manajemen laba (perataan laba), variabel dummy, nilai 1 untuk perusahaan yang melakukan perataan laba, sedangkan nilai 0 untuk sebaliknya.
KI = Proporsi dewan komisaris independen.
KA = Efektifitas komite audit, yang diukur berdasarkan banyaknya jumlah pertemu- an yang dilakukan selama setahun.
AI = Auditor internal variabel dummy, nilai 1 untuk perusahaan yang memiliki audi- tor internal, sedangkan nilai 0 untuk seba- liknya.
RMC = Keberadaan risk management committee, nilai 1 untuk perusahaan yang memiliki RMC, sedangkan nilai 0 untuk sebaliknya.
Variabel B S.E. Wald df Sig. Exp(B)
Internal Auditor -,746 ,936 ,636 1 ,425 ,474
Risk management commite -,554 ,787 ,495 1 ,482 ,575
Komisaris independen -1,091 3,175 ,118 1 ,731 ,336
Komite audit ,501 ,545 ,845 1 ,358 1,650
Konstanta 1,148 1,651 ,484 1 ,487 3,153
Tabel 1. Hasil Pengujian Regresi Logistik
PEMBAHASAN
Pengaruh Komisaris Independen terhadap Manajemen laba
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ke- beradaan komisaris independen tidak berpengaruh terhadap tindakan manajemen laba. Hal ini memi- liki makna bahwa perusahaan yang memiliki komi- saris independen memiliki kemungkinan untuk melakukan manajemen laba maupun tidak me- lakukan manajemen laba. Hal ini sesuai dengan pendapat Sarkar, et al. (2006) menyatakan bahwa bukanlah dewan komisaris independen sendiri yang berpengaruh terhadap manajemen laba, namun kualitas dewan komisarislah yang ber- pengaruh terhadap manajemen laba. Hasil penelitian tersebut menunjukkan dewan komisaris yang “rajin” berhubungan dengan rendahnya ma- najemen laba, sedangkan dewan komisaris yang memiliki banyak pekerjaan lain berhubungan dengan tingginya manajemen laba. Hasil penelitian ini juga mendukung hasil penelitian Chtourou (2001), yang tidak menemukan adanya pengaruh komisaris independen terhadap manajemen laba.
Hasil penelitian ini memiliki makna bahwa meski- pun terdapat dewan komisaris independen, namun apabila dewan komisaris independen tersebut tidak memiliki cukup banyak waktu untuk perusa- haan karena kesibukannya yang lain, maka keber- adaannya tidak akan efektif. Demikian juga dengan keahlian dewan komisaris independen juga meme- gang peranan dalam rendahnya manajemen laba.
Strandberg (2005) menyatakan bahwa kompetensi dewan komisaris memegang peranan penting dalam pengambilan keputusan, sehingga bukan hanya komposisi dewan komisaris independen yang dipertimbangkan, namun juga kemampuan (skill), pengetahuan, latar belakang dan kompetensi sehingga dapat meningkatkan kualitas pengambil- an keputusan pada tingkat komisaris. Demikian juga dengan pendapat Carson (2007) yang menya- takan bahwa kualitas dan latar belakang pendidik- an anggota dewan komisaris lebih menentukan
kualitas fungsi pengawasan dewan dibandingkan komposisi dan tingkat independensinya.
Hasil penelitian ini tidak mendukung hasil penelitian Peasnell, et al. (2000), Bedard, et al.
(2004), Davidson, et al. (2005), Sarkar, et al. (2006) yang menyatakan bahwa kehadiran dewan komi- saris independen dapat mengurangi kecurangan dalam laporan keuangan.
Pengaruh Komite Audit terhadap Manajemen laba
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa efektifitas komite audit (diukur berdasarkan banyak- nya jumlah pertemuan yang dilakukan selama setahun) tidak berpengaruh terhadap manajemen laba. Hal ini memiliki makna bahwa seringnya komite audit mengadakan pertemuan tidak ber- dampak pada manajemen laba. Perusahaan yang komite auditnya sering mengadakan rapat maupun yang tidak sering mengadakan rapat sama-sama memiliki kemungkinan untuk melakukan atau tidak melakukan praktik manajemen laba.
Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil pene- litian Bedrad, et al. (2004), yang menyatakan bahwa aktifitas komite audit, termasuk frekuensi rapatnya maupun jumlah anggota komite audit tidak ber- pengaruh terhadap keagresifan terjadinya manaje- men laba. Lebih lanjut Bedrad, et al. (2004) menyata- kan bahwa yang diperlukan untuk menghalangi terjadinya manajemen laba adalah keahlian komite audit dalam masalah keuangan. Semakin ahli ko- mite audit tersebut dalam masalah keuangan, maka semakin efektif pemantauan terhadap proses pe- laporan keuangan. Selain keahlian, tingkat inde- pendensi komite audit juga memegang peranan da- lam pemantauan laporan keuangan.
Hasil penelitian ini tidak mendukung hasil penelitian Karamanou & Vafeas (2005), Peasnell, et al. (2005) dan Davidson, et al., (2005) yang menya- takan bahwa komite audit berpengaruh terhadap manajemen laba.
Pengaruh Internal Audit terhadap Manajemen Laba
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa fungsi internal audit tidak berpengaruh terhadap manajemen laba. Hal ini memiliki makna bahwa dalam perusahaan yang memiliki internal audit da- pat terjadi atau tidak terjadi praktik manajemen laba, demikian juga dengan perusahaan yang tidak memiliki internal audit dapat pula terjadi atau ti- dak terjadi praktik manajemen laba.
Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil pene- litian Davidson, et al. (2005). Keberadaan fungsi internal audit saja tidak cukup efektif untuk mengendalikan manajemen laba, apabila internal audit tersebut belum memerankan tugasnya dalam corporate governance serta kurangnya terjadi interak- si antara fungsi internal audit dengan komite au- dit. Keberadan internal audit diharapkan dapat mem- fasilitasi keefektifan fungsi komite audit, sesuai dengan tujuan fungsi audit adalah pemantauan ter- hadap pelaporan keuangan yang merupakan tang- gungjawab dari komite audit. Fungsi internal au- dit yang selama ini hanya terfokus pada pengen- dalian dan risiko operasional, dapat dikembang- kan pada pemantauan terhadap manajemen laba serta laporan keuangan.
Pengaruh Risk Management Committee (RMC) terhadap Manajemen Laba
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keberadaan RMC yang terpisah dari komite lainnya tidak berpengaruh terhadap manajemen laba. Hal ini memiliki makna bahwa perusahaan yang memi- liki RMC yang terpisah dari komite lainnya dapat melakukan atau tidak melakukan praktik mana- jemen laba. Demikian halnya dengan perusahaan yang tidak memiliki RMC, juga memiliki kemung- kinan untuk melakukan atau tidak melakukan praktik manajemen laba.
Berdasarkan hasil penelitian ini terlihat bah- wa bukanlah pembentukan RMC yang terpisah
dari komite audit yang diperlukan untuk pengen- dalian manajemen laba, namun keahlian anggota komite dalam menjalankan tugasnya adalah merupakan faktor penting dalam manajemen laba.
Hal ini serupa dengan keberadaan komite audit, dimana yang diperlukan untuk menghalangi ter- jadinya manajemen laba adalah keahlian komite audit dalam masalah keuangan Bedrad, et al.
(2004).
Hasil penelitian ini tidak mendukung pernya- taan Subramaniam, et al. (2009), yang menyatakan bahwa komite terpisah yang secara khusus ber- fokus pada masalah risiko (RMC), dinilai dapat menjadi mekanisme yang efektif dalam mendu- kung dewan komisaris untuk memenuhi tanggung- jawabnya dalam tugas pengawasan risiko dan manajemen pengendalian internal (Subramaniam, et al., 2009). RMC yang terpisah dari audit akan lebih dapat mencurahkan lebih banyak waktu dan usaha untuk menggabungkan berbagai risiko yang dihadapi perusahaan secara luas dan mengevaluasi pengendalian terkait secara keseluruhan (Subra- maniam, et al., 2009). Penelitian mengenai RMC ma- sih sedikit dilakukan, karena keberadaan RMC di sektor industri masih bersifat sukarela. Pemerintah memandatkan komite pengawas risiko di sektor per- bankan, namun untuk sektor industri lainnya masih bersifat sukarela.
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh mekanisme internal governance yang meliputi ko- misaris independen, komite audit, fungsi audit internal, dan risk management committee (RMC) ter- hadap manajemen laba. Hasil penelitian ini menun- jukkan bahwa mekanisme internal governance yang diproksi dengan proporsi dewan komisaris indepen- den, efektifitas komite audit, fungsi internal audit dan keberadaan RMC tidak berpengaruh terhadap manajemen laba. Hal ini memiliki bahwa perusa- haan yang memiliki mekanisme internal governance,
dapat melakukan maupun tidak melakukan praktik manajemen laba.
Hasil penelitian ini memiliki makna bahwa meskipun terdapat dewan komisaris independen, namun apabila dewan komisaris independen terse- but tidak memiliki cukup banyak waktu untuk per- usahaan karena kesibukannya yang lain, maka ke- beradaannya tidak akan efektif. Demikian juga de- ngan keahlian dewan komisaris independen juga memegang peranan dalam rendahnya manajemen laba, sehingga bukan hanya komposisi dewan ko- misaris independen yang dipertimbangkan, namun juga kemampuan (skill), pengetahuan, latar bela- kang dan kompetensi sehingga dapat meningkat- kan kualitas pengambilan keputusan pada tingkat komisaris.
Perusahaan yang komite auditnya sering mengadakan rapat maupun yang tidak sering mengadakan rapat sama-sama memiliki kemung- kinan untuk melakukan atau tidak melakukan praktik manajemen laba. Hal yang diperlukan untuk menghalangi terjadinya manajemen laba adalah keahlian komite audit dalam masalah ke- uangan, bukan seringnya pertemuan antar anggota komite audit, namun keahlian komite auditlah yang memegang peranan penting. Semakin ahli komite audit tersebut dalam masalah keuangan, maka se- makin efektif pemantauan terhadap proses pelapor- an keuangan. Selain keahlian, tingkat indepen- densi komite audit juga memegang peranan dalam pemantauan laporan keuangan.
Keberadaan fungsi internal audit saja tidak cukup efektif untuk mengendalikan manajemen laba, apabila internal audit tersebut belum meme- rankan tugasnya dalam corporate governance serta kurangnya terjadi interaksi antara fungsi internal audit dengan komite audit. Keberadaan internal audit diharapkan dapat memfasilitasi keefektifan fungsi komite audit, sesuai dengan tujuan fungsi audit adalah pemantauan terhadap pelaporan ke- uangan yang merupakan tanggungjawab dari ko- mite audit. Fungsi internal audit yang selama ini hanya terfokus pada pengendalian dan risiko ope-
rasional, dapat dikembangkan pada pemantauan terhadap manajemen laba serta laporan keuangan.
Berdasarkan hasil penelitian ini terlihat bah- wa bukanlah pembentukan RMC yang terpisah dari komite audit yang diperlukan untuk pengen- dalian manajemen laba, namun keahlian anggota komite dalam menjalankan tugasnya adalah merupakan faktor penting dalam manajemen laba.
Saran
Mekanisme internal governance (dewan komi- saris independen, komite audit, dan komite manajemen risiko) serta fungsi internal audit merupakan upaya yang diharapkan mengatasi masalah keagenan terkait dengan manajemen laba (khususnya untuk perataan laba), namun hasil pengujian empiris dalam penelitian ini menunjuk- kan bahwa perusahaan yang memiliki dewan ko- misaris independen, komite audit, komite mana- jemen risiko maupun fungsi internal audit saja bukan merupakan jaminan tidak terjadinya pera- taan laba. Hal ini disebabkan karena belum efektif- nya mekanisme internal governance serta fungsi in- ternal audit tersebut. Hal ini merupakan masukan bagi perusahaan untuk memperhatikan kualitas mekanisme internal governance (seperti kemampuan (skill), pengetahuan, latar belakang dan kompetensi dewan komisaris, keahlian dan tingkat indepen- densi komite audit, serta keahlian komite manajemen risiko dan fungsi audit internal.
Jumlah sampel serta periode penelitian yang pendek, yaitu sebanyak 35 perusahaan yang terdaftar di BEI pada tahun 2008 dan 2009 meru- pakan keterbatasan dalam penelitian ini. Untuk penelitian selanjutnya disarankan untuk memper- banyak jumlah sampel dan memperpanjang periode penelitian. Penelitian ini tidak membedakan jenis industri perusahaan yang mungkin saja dapat mem- pengaruhi tingkat mekanisme internal governance dalam perusahaan. Peneliti selanjutnya dapat me- masukkan variabel keahlian komisaris independen, komite audit, internal auditor dan RMC sebagai
variabel bebas dalam hubungannya dengan mana- jemen laba.
DAFTAR PUSTAKA
Andarini, P. & Januarti, I. 2010. Hubungan Karakteristik Dewan Komisaris dan Perusahaan terhadap Pengungkapan Risk Management Committee (RMC) pada Perusahaan Go Public Indonesia.
Simposium Nasional Akuntansi XIII. Purwokerto.
Assih, P. & Gudono, M. 2000. Hubungan Tindakan Perataan Laba Dengan Reaksi Pasar Atas Pengumuman Informasi Laba Perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, 3(1): 35-53.
Bartov, E. 1993. The Timing of Asset Sales and Earning Manipulation. The Accounting Review, 68(4): 840- 855.
Baysinger, B. & Butler, H. 1985. Corporate Governance and The Board of Directors: Performance Effects of Changes in Board Composition. Journal of Law, Economics, and Organization, (1): 101 -124
Beasley, M. S. 1996. An Empirical Analysis of the Rela- tion Between the Board of Director Composition and Financial Statement Fraud. The Accounting Review, 17(4): 443-465.
Beasley, M.S. 2007. Audit Committee Involvement in Risk Management Oversight. http://slideshare.net/
Micheal22/audit-committee-involvement-in-risk- management-oversight. (Diakses 20 Februari 2010).
Bedrad, J., Chtourou, SM., & Coourteau, L. 2004. The Ef- fect of Audit Committee Expertise, Independence, and Activity on Aggresive Earning Management.
Auditing: A Journal of Practice and Theory, 23(2): 13- 35.
Carson, E. 2002. Factors Associated With The Develop- ment of Board Sub-Committees. Corporate Gover- nance: An International Review, 10(1): 4-18.
Coller, P. & Gregory, A. 1999. Audit Committee Activity and Agency Costs. Journal of Accounting and Public Policy, 18 (4-5): 311-332.
Davidson R., Stewart, J., & Kent, P. 2005. Internal Gover- nance Structures and Earning Management. Ac- counting and Finance 45: 241-267.
Dechow, P.M., Sloan, R.G. & Sweeney, A.P. 1995. Detect- ing Earnings Management. The Accounting Review, 70: 193-225.
Dechow, P.M., Sloan, R.G., & Sweeney, A.P. 1996. Causes and Consequences of Earnings Manipulaton: An Analysis of Firms Subject to Enforcement Actions By The SEC. Contemporary Accounting Research, 13, 1-36.
Deni, D., Khomsiyah, & Rika, G.R. 2004. Hubungan Cor- porate Governance dan Kinerja Perusahaan.
Simposium Nasional Akuntansi VIII.
Fama. E.F. & Jensen, M.C. 1983). Separation of Owner- ship and Control. Journal of Law and Economics, 26:
301-325.
Jensen, MC. & Meckling, W.H. 1976. Theory of the Firm, Managerial Behavior, Agency Costs and Owner- ship Structure. Journal of Financial Economics, 3(4):
305-360.
Karamanou, S. & Vafeas, N. 2005. The Association be- tween Corporate Boards, Audit Committees, and Management Earning Forecasts: An Empirical Analysis. Journal of Accounting Research, 45(3): 453- 482.
Peasnell, K.V., Pope, P.F., & Young, S. 2001. Board Moni- toring and Earnings Management: Do Outside Directors Influence Abnormal Accruals. Account- ing and Business Research, 30: 41-63.
Peasnell, KV., Pope P.F., & Young, S. 2005. Board Moni- toring and Earning Management: Do Outside Di- rectors Influence Abnormal Accruals? Journal of Business Finance and Accounting, 32(8): 1311 – 1342.
Ronen, J. & Sadan, S. 1975. Classificatory Smoothing:
Alternative Income Models. Journal of Accounting Research: 133-149.
Sandra, D. & Kusuma, I.W. 2004. Reaksi Pasar terhadap Tindakan Perataan Laba dengan Kualitas Audi- tor dan Kepemilikan Manajerial sebagai Variabel Pemoderasi. Makalah SNA VII.
Scott, W.R. 2000. Financial Accounting Theory. Prentice- Hall International, Inc. New Jersey.
Strandberg, C. 2005. The Convergence of Corporate Gov- ernance and Corporate Social Responsibility:
Though-Leader Study. www.corostranberg.com (Diakses tanggal 20 Februari 2010).
Sembiring, E.R. 2005. Karakteristik Perusahaan dan Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial: Studi Empiris pada Perusahaan yang Tercatat di Bursa Efek Jakarta. Simposium Nasional Akuntansi VIII.
Solo.
Shleifer, A. & Vishny, R.W. 1997. A Survey of Corporate Governance. Journal of Finance, 52(2): 737-783.
Subramaniam, Nava, L.M., & Zhang, J. 2009. Corporate Governance, Firm Characteristics, and Risk Man- agement Committee Formation in Australia Com- panies. Managerial Auditing Journal, 24(4): 316-339.
Sarkar, J., Sarkar, S., & Sen, K. 2006. Board of Directors and Opportunistic Earning Management: Evi- dence from India. Journal of Accounting, Auditing, and Finance: 517 -547
Ujiyantho, M. & Pramuka, B.A. 2007. Mekanisme Corpo- rate Governance, Manajemen Laba dan Kinerja Keuangan. Simposium Nasional Akuntansi X.
Makassar 26 – 28 Juli.