• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tanggapan IPB terhadap RUU Cipta Kerja Bidang Pertanian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Tanggapan IPB terhadap RUU Cipta Kerja Bidang Pertanian"

Copied!
137
0
0

Teks penuh

(1)

1 | P a g e

Tanggapan IPB

terhadap RUU Cipta Kerja Bidang Pertanian

Tim Penyusun:

Dr. Ir. Ernan Rustiadi, M.Agr.

Dr. Eva Anggraini, S.Pi., M.Si.

Prof. Dr. Ir. Nunung Nuryartono, M.Si.

Prof. Dr. Sudradjat, M.S.

Prof. Dr. Ir. Sobir, M.Si.

Prof. Dr. Ir. Luki Abdullah, M.Sc. Agr.

Prof. Dr. Muhammad Firdaus, S.P., M.Si.

Prof. Dr. Edi Santosa, S.P., M.Si.

Dr. Awang Maharijaya, S.P., M.Si.

Dr. Sofyan Sjaf, S.Pt., M.Si.

Dr. Akhmad Faqih, S.Si.

Dr. drh. Trioso Purnawarman, M.Si.

(2)

Tanggapan IPB terhadap RUU Cipta Kerja Bidang Pertanian

13 April 2020

Kontak:

Direktorat Publikasi Ilmiah dan Informasi Strategis (DPIS), IPB University

Gedung LSI Lantai 1 Jl. Kamper, Kampus IPB Dramaga, Bogor – Indonesia 16680 (0251) 8624057 / (+62) 81219801198

Email: [email protected] Website: dpis.ipb.ac.id

(3)

i

DAFTAR ISI

1 Pandangan Filosofis ... 1

1.1 Proporsionalitas, produktifitas dan inklusifitas ... 1

1.2 Kelestarian dan Keberlanjutan Lingkungan Hidup ... 1

1.3 Keadilan dan kedaulatan ... 2

1.4 Ketahanan Pangan dan Ketahanan Nasional ... 2

1.5 Pengembangan Potensi Kewirausahaan ... 2

2 Relevansi UU Cipta Kerja dalam Konteks Pertanian Indonesia ... 2

3 Ruang Lingkup Pengaturan Strategis ... 3

3.1 Daya Saing ... 3

3.2 Investasi yang Berkeadilan ... 4

3.3 Perlindungan Sumberdaya Lokal ... 4

3.4 Perlindungan dan Pemberdayaan Petani Kecil ... 5

3.5 Membangun Keseimbangan Kewenangan Pusat dan Daerah ... 5

3.6 Transfer Teknologi ... 6

3.7 Korporasi Petani ... 6

3.8 Sistem Informasi untuk Mendukung Integrasi dan Sharing Data ... 7

4 Komentar Umum terhadap RUU Cipta Karya ... 7

5 Lampiran ... 8

(4)

ii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 5.1 Review RUU Cipta Kerja terkait Undang-Undang Nomor 39 tentang Perkebunan ... 8 Lampiran 5.2 Review RUU Cipta Kerja terkait Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2000 tentang

Perlindungan Varietas Tanaman ... 41 Lampiran 5.3 Review RUU Cipta Kerja terkait Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2019 tentang Sistem

Budi Daya Pertanian Berkelanjutan dalam RUU Cipta Kerja Bidang Pertanian ... 47 Lampiran 5.4 Review RUU Cipta Kerja Terkait Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2013 tentang

Perlindungan dan Pemberdayaan Petani... 60 Lampiran 5.5 Review RUU Cipta Kerja terkait Undang-Undang No 13 Tahun 2020 tentang Holtikultura . 65 Lampiran 5.6 Review RUU Cipta Kerja terkait UU No 18 Tahun 2009 tentang Peternakan & Kesehatan

Hewan jo. UU No 41 Tahun 2014 Perubahan atas UU No. 18 Tahun 2009 tentang

Peternakan dan Kesehatan Hewan ... 85 Lampiran 5.7 Review RUU Cipta Kerja terkait Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Pangan114 Lampiran 5.8 Review RUU Cipta Kerja terkait Undang-Undang No 41 tahun 2009 tentang Perlindungan

Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan ...128

(5)

1

1 Pandangan Filosofis

Esensi sebuah UU mencakup tiga hal yaitu melindungi kepentingan dan kekayaan bangsa, mampu mengembangkan kekayaan dan kapasitas bangsa, dan mengatur agar kapasitas dan kekayaan bangsa dapat dimanfaatkan secara berkeadilan. Berangkat dari esensi ini, perlu dikembangkan landasan filosofis dari penyusunan UU Cipta Karya bidang pertanian. Beberapa perspektif filosofi dan konseptual yang perlu diperhatikan adalah:

1.1 Proporsionalitas, produktifitas dan inklusifitas

(a) Penciptaan lapangan kerja bukan hanya buah dari berkembangnya investasi dan berkembangnya usaha-usaha korporasi dan berskala besar yang dimudahkan proses perijinannya dan kemudahan- kemudaha usaha lainnya di dalam pemanfaatan sumberdaya nasional. Penciptaan lapangan kerja juga tercipta karena buah proses inklusif, yakni semakin terbukanya akses masyarakat secara luas, termasuk masyarakat perdesaan, petani, generasi muda, komunitas lokal dan masyarakat adat di dalam memanfaatkan sumberdaya-sumberdaya alam,

(b) Tertutupnya penciptaan peluang lapangan usaha di perdesaan seringkali bersumber dari kurang terbukanya peluang akses masyarakat loka dan perdesaan di dalam memanfaatkan sumberdaya agrarianya akibat tanah-tanah negara baik di kawasan hutan maupun non-hutan. Sebaliknya badan-badan usaha (swasta maupun milik pemerintah) yang diberikan hak akses dalam pengelolaan sumberdaya seringkali tidak mampu membuka lapangan usaha yang lebih luas dan memanfaatkan sumberdaya alam yang dikelolanya secara lebih baik dibandingkan pengelolaan oleh masyarakat lokal dalam skala-skala usaha kecil/skala rumah tangga.

(c) Sistem penguasan sumberdaya alam yang proporsional diatas tercermin dari luasnya lahan-lahan dengan status beri ijin atau dalam hak konsesi yang diterlantarkan atau dengan tingkat produktifitas lahan per luas lahan (land rent) dan penyerapan tenaga kerja per luas lahan pada tingkat yang jauh lebih rendah dibandingkan system pengelolaan rakyat.

(d) Pembangunan Indonesia perlu menempatkan sektor pertanian, kehutanan, peternakan, kelautan dan perikanan sebagai sektor yang penting (resource based economic activities) yang menjadi sumber pertumbuhan ekonomi.

1.2 Kelestarian dan Keberlanjutan Lingkungan Hidup

(a) Dengan menyadari bahwa keberlanjutan dimensi lingkungan dan social adalah adalah landasan bagi terwujudnya keberlanjutan ekonomi jangka panjang yang dapat menjaga penciptaan lapangan-lapangan kerja baru secara jangka panjang. Oleh karenanya upaya pencapaian kelestarian lingkungan tidak boleh dikorbankan untuk keperluan penciptaan lapangan kerja secara jangka pendek. Untuk itu pengendalian konversi lahan serta peningkatan pemanfaatan lahan- lahan kosong dan terlantar untuk untuk komoditas pertanian bernilai ekonomi perlu terus didorong. Sejalan dengan itu, pertanian kota juga perlu dikembangkan sebagai bisnis baru sehingga mengurangi konversi lahan hutan.

(b) Aspek lingkungan perlu menjadi perhatian penuh untuk meningkatkan daya dukung produksi, daya saing dan daya tarik investasi di bidang pertanian. Ini sangat penting untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi hijau.

(c) Penghapusan ketentuan-ketentuan pengendalian lingkungan seperti AMDAL secara substantif tidak dapat diterima, namun perbaikan atau penyempurnaan regulasi yang dalam kaitan terkait dengan penyederhanaan aspek procedural dapat diterima

(6)

2 1.3 Keadilan dan kedaulatan

(a) Proses penciptaan lapangan kerja perlu menjaga asas keberimbangan penciptaan lapangan kerja melalui Pengembangan usaha-usaha skala besar dan melalui proses penciptaan lapangan usaha melalui Pengembangan usaha skala menengah, kecil dan mikro, termasuk melalui pengembangan usaha-usaha baru

(b) Proses kemudahan berusaha dalam penciptaan lapangan kerja harus mempertimbangkan proporsi yang adil antara pengusaan sumberdaya oleh badan usaha asing dengan badan usaha nasional dan local.

1.4 Ketahanan Pangan dan Ketahanan Nasional

(a) Pengembangan kegiatan usaha dalam rangka penciptaann lapangan usaha tidak boleh menghilangkan dan mengorbankan kemampuan nasional dan masyarakat lokal dalam mempertahankan ketahanan, kemadirian dan kedaulatan pangan.

(b) Ketahanan pangan adalah bagian intergral dari sistem ketananan nasional dan bangsa. Penciptaan lapangan kerja tidak dapat menggantikan potensi hilangnya kemampuan mempertahankan ketahanan, kemadirian dan kedaulatan pangan secara jangka panjang.

(c) Sumberdaya dasar yang kritis dan langka untuk mendukungi kemampuan ketahanan pangan nasional dan lokal adalah lahan pertanian pangan, kekayaan keanekaragaman hayati, sumberdaya insani pertanian.

1.5 Pengembangan Potensi Kewirausahaan

(a) Konsep penciptaan lapangan kerja terkesan bias pada pengembangan korporasi skala besar yang mengandalkan pada kemudahan untuk memanfaatkan potensi sumbedaya-sumberdaya ekonomi tradisional (sumberdaya agrarian, pekerja/buruh, modal finansial, dll.). Cara pandang seperti ini bertentangan dengan paradigma yang sedang berkembangnya yakni pengembangan usaha-usaha pemula (start-up) yang berbasis pada kewirausahaan, inovasi, kreativitas dan penguasaan ipteks.

(b) Undang-undang Omnibus law harus lebih menitikberatkan potensi-potensi generasi baru dalam berwirausaha yang tidak lagi mengutamakan pada kemudahan akses bagi korporasi saja tetapi juga harus lebih mulai mengedepankan dan mengutamakan kemudahan akses bagi tumbuhnya usaha-usaha rintisan baru khususnya bagia generasi muda sehubungan dengan periode bonus demografi.

(c) Pemberian hak usaha oleh badan usaga berskala besar harus disertai dengan muatan kemitraan dan pembinaan tumbuhnya kewirausahaah lokal.

2 Relevansi UU Cipta Kerja dalam Konteks Pertanian Indonesia

Omnibus law atau UU Cipta Kerja sangat relevan dengan kondisi Indonesia di atas, yaitu melakukan efisiensi birokrasi dan/atau meminimumkan tumpang tindih regulasi, terutama antara Pemerintah Pusat dengan Daerah, dan antar Kementerian dan Lembaga. Regulasi juga harus mendukung penciptaan iklim berusaha yang baik. Studi kerjasama IPB dengan Badan Kerjasama Penanaman Modal sejak tahun 2007 menunjukkan bahwa rendahnya realiasi investasi dari persetujuan penanaman modal (hanya sekitar 20%), baik penanaman modal dalam negeri maupun asing, disebabkan oleh inefisiensi dalam birokrasi.

Studi dari lembaga lain seperti KPOD, berbagai think tank di dalam maupun luar negeri, juga menemukan hal serupa.

Efisiensi birokrasi menuntut perubahan kebijakan pertanian Indonesia, dan hal ini difahami oleh internasional sebagai langkah untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dengan suplai dari dalam

(7)

3 negeri (swasembada pangan). Di sinilah awal dilema muncul, sejauhmana kita harus mengubah kebijakan nasional pertanian, untuk menciptakan arah pembangunan ekonomi yang mandiri dan berdaulat?

Rancangan Omnibus law secara umum mengandung perubahan-perubahan yang signifikan terhadap konsep kemandirian dan kedaulatan pangan. Dalam pasal-pasal yang baru, kebijakan yang terkait dengan hambatan pada investasi asing, semisal pada UU Hortikultura; atau kebijakan pembatasan impor seperti yang tercantum pada UU Pangan dihilangkan. Hal ini perlu dicermati dengan seksama karena implikasinya akan sangat besar untuk kepentingan nasional, khususnya pelaku usaha lokal yang mayoritas berskala kecil dan menengah.

Sebagai contoh bentuk implementasi dari UU Cipta Kerja adalah kondisi terkini pada saat terjadi Pandemik Covid-19, dimana Pemerintah mengambil keputusan meniadakan RIPH dan Surat Persetujuan Impor untuk mendatangkan pangan dari luar negeri. Dalam UU Cipta Kerja terkait perubahan untuk UU Pangan, regulasi ini (izin dari Menteri Pertanian dan Menteri Perdagangan) diganti dengan surat izin berusaha.

Pada sepekan terakhir, kebijakan penghapusan RIPH menimbulkan polemik antara dua instansi Pemerintah, yang mencuat ke publik. Untuk kepentingan saat ini, kebijakan tersebut dapat diterima karena bertujuan melindungi konsumen dari naiknya harga-harga pangan, namun tentu tidak bisa diterima untuk jangka waktu yang lebih panjang. Ini adalah gambaran dimana kepentingan produsen dan konsumen sering menjadi dilema dalam penerapan kebijakan pertanian, khususnya yang terkait dengan perdagangan dan investasi. Sehingga, keputusan ini perlu ditinjau untuk kepentingan jangka panjang.

Penyediaan pangan secara aman adalah suatu keniscayaan bagi Indonesia yang memiliki jumlah penduduk lebih dari 260 juta jiwa dan merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Namun hal ini sulit dipenuhi karena berbagai faktor. Lahan pertanian semakin terfragmentasi, karena kepemilikan lahan yang sempit oleh petani serta, pola pewarisan serta konversi penggunaan untuk non pertanian, menyebabkan sulitnya mencapai skala ekonomi. Akibatnya produksi pangan dan hortikultura sering tidak bisa bersaing dengan produk dari negara lain. Studi IRRI pada tahun 2016 menunjukkan untuk menghasilkan 1 kg gabah, petani di Indonesia harus mengeluarkan biaya lebih dari 15 Peso Filipina; sedangkan negara lain seperti Vietnam, Thailand dan India hanya memakan biaya kurang 7 sampai 9 peso Filipina saja. Dua pertiga dari biaya produksi beras di Indonesia adalah untuk tenaga kerja dan lahan. Ditambah lagi dengan kondisi petani yang sudah aging, serta upaya peningkatan produktifitas, seperti pengembangan varietas unggul baru dan teknik budidaya yang efektif sering tidak berhasil.

3 Ruang Lingkup Pengaturan Strategis

Berdasarkan uraian pada dua bab sebelumnya, maka kami uraikan ruang lingkup pengaturan strategis yang perlu tercermin di dalam RUU Cipta Kerja Bidang Pertanian.

3.1 Daya Saing

World Economic Forum 2019 melaporkan bahwa posisi Indonesia memburuk baik dari skor maupun ranking, jauh tertinggal dari tiga negara terdekat di Asia Tenggara, yaitu Singapura, Malaysia dan Thailand.

Posisi ke-50 yang ditempati Indonesia, lebih banyak didukung oleh ukuran pasar domestik yang besar (untuk faktor ini Indonesia menempati posisi ketujuh). Tiga pilar lain yaitu inovasi, penerapan ICT dan pasar tenaga kerja menyumbangkan posisi Indonesia yang lebih rendah. Sementara komponen tranparansi juga berkontribusi pada memburuknya daya saing Indonesia dari kondisi tahun 2018.

Bagaimana Indonesia dapat meningkatkan daya saing? Merespon persaingan global yang terus meningkat, tiga hal yang perlu diupayakan pemerintah adalah peningkatan kualitas, kesesuaian delivery dan harga kompetitif. Intervensi yang dapat dilakukan pemerintah antara lain melalui pemenuhan

(8)

4 persyaratan sertifikasi baik produksi lapang hingga pasca panen yang selama ini sulit dipenuhi oleh pelaku usaha kecil karena keterbatasan kapasitas teknis dan pembiayaan. Intervensi dalam pemenuhan persyaratan sertifikasi ini tidak hanya akan meningkatkan daya saing produk, namun sekaligus dapat menciptakan investasi baru, dengan demikian UU cipta lapangan kerja juga akan berimbas pada peningkatan daya saing produk pertanian dalam negeri (penurunan nilai Domestic Resources Cost, DRC atau nisbah biaya bila diproduksi domestik dibandingkan impor.

3.2 Investasi yang Berkeadilan

Dari sisi investasi, selama dekade terakhir tingkat penanaman modal di sektor pertanian; terutama pangan, hortikultura dan perternakan relatif sangat rendah. Nilai penanaman modal dari dalam negeri, sudah termasuk untuk sektor perkebunan yang terbesar, masih kurang dari 10 persen nilai total. Memang investasi di sektor pertanian lebih berisiko dibandingkan dengan sektor jasa, serta memakan waktu jauh lebih lama untuk pengembalian modal. Sebenarnya dengan pengololaan yang baik, investasi di sub sektor hortikultura misalnya dapat memberikan pengembalian yang bersaing dengan penanaman modal di perkebunan atau non pertanian.

Peningkatan jumlah lapangan kerja dapat dilakukan dengan 3 pendekatan, yaitu 1) scaling up industri yang sudah ada; 2) diversifikasi usaha dari industri yang sudah ada; 3) Investasi baru pada industri pertanian. Industrialisasi pertanian jelas membutuhkan investasi, namun tidak harus mengundang investasi baru. Hal yang perlu didorong adalah konsolidasi upaya pertanian yang sudah ada di dalam negeri.

Penciptaan lapangan kerja pada bidang pertanian bisa berada pada tiga faktor, yaitu:

(a) Lintasan Utama, yang merupakan jalur dari Produksi Lapang hingga konsumen, yang terdiri produksi lapang, penanganan pasca panen, distribusi, industri pengolahan dan pemasaran dan retailing

(b) Faktor Pendukung Fisik mencakup industri benih, industri pupuk, industri pestisida, industri ALSINTAN dan industri infrastruktur

(c) Faktor Pendukung Non Fisik meliputi industri permodalan/bank, industri konsultansi dan industri pengembangan SDM

Return of Investment untuk tanaman buah dan perkebunan relatif panjang, sehingga tidak cukup hanya dengan kemudahan perizinan. Investasi pertanian perlu menjadi perhatian penuh dan didorong pada faktor lintasan utama. Selain itu kemudahan dalam pemberian izin investasi tidak boleh menegasikan kepentingan local dan petani local. Mengingat kondisi pertanian skala kecil dominan di Indonesia, maka investasi terbesar adalah pada konsolidasi usaha kecil untuk memenuhi skala ekonomi (dalam bentuk korporatisasi petani). Usaha kecil dan menengah akan mampu memberikan efek yang besar pada ekonomi karena spektrumnya besar. Penguatan kelompok lintasan utama akan mendorong permintaan dari faktor pendukung baik fisik, maupun non fisik, sehingga investasi bisa didorong.

3.3 Perlindungan Sumberdaya Lokal

Tuntutan terhadap perubahan kebijakan pertanian Indonesia, yang dianggap berangkat dari beberapa UU yang ada, sudah mulai dilakukan oleh internasional setidaknya sejak tahun 2014. Pada tahun 2017 Indonesia menerima dua keputusan Panel WTO (DS-477 dan DS-478), yang diajukan masing-masing oleh Selandia Baru dan Amerika Serikat (diikuti banyak negara lain) terkait kebijakan impor hortikultura, hewan dan produk hewan. Meskipun Indonesia menyikapi dengan menempuh langkah banding ke Appellate Body, namun pada tahun 2019, WTO tetap memutuskan bahwa 18 measures yang diterapkan Indonesia

(9)

5 terkait impor dua kelompok komoditas tersebut melanggar ketentuan WTO, yang sudah disepakati Indoenesia sejak awal (UU 7/1994).

Perlindungan varietas local merupakan salah satu isu penting. Perlindungan varietas bisa dilakukan melalui pengujian sebelum dilepas agar petani terlindungi dari varietas yang tidak bermutu, serta industri benih nasional terlindungi dari serbuan varietas asing yang tidak terkendali. Untuk itu, perizinan benih local perlu dilonggarkan agar dapat mendorong pengembangan benih lokal. Pengembangan varietas dapat dilakukan dalam bentuk kewajiban pemerintah dalam menyediakan sumberdaya genetik untuk pemuliaan, pelatihan SDM untuk pemuliaan tanaman dan bantuan biaya pelaksanaan uji PVT dan iuran wajib bagi pihak yang membutuhkan. Tidak hanya itu penyediaan modal lunak untuk industri sehingga industri benih nasional berkembang dan menyediakan lapangan kerja baru. Hal ini perlu diatur agar persaingan berjalan fair. Sebagai contoh, China memberikan modal awal sampai 50 juta dolar untuk start up industri benih dan membantu promosinya.

Penetapan aturan standarisasi bahan baku perlu dirasionalisasi karena dapat mematikan usaha dalam negeri karena tidak mungkin terpenuhi oleh pelaku local. Selain itu sumberdaya lokal juga perlu dilindungi dari dampak importasi yang tidak terkendali. Jika Importasi tidak dapat dihindari karena kebutuhan, maka yang diutamakan adalah komoditas hidup, baru kemudian bahan pangan dan pakan.

3.4 Perlindungan dan Pemberdayaan Petani Kecil

Hakekat dari perlindungan dan pemberdayaan petani adalah menghadirkan peran negara untuk membantu persoalan atau masalah yang dihadapi oleh petani yang struktur populasinya didominasi oleh lapisan petani gurem (petani yang memiliki keterbatasan pada alat-alat produksi, seperi: lahan, modal, teknologi , dll). Sementara itu, hakekat dari pemberdayaan petani adalah melakukan transfer pengetahuan untuk meningkatkan kemampuan petani agar petani yang didominasi oleh petani gurem dengan keterbatasan sumberdaya manusia mampu beradaptasi dengan perubahan dan mampu memiliki daya saing dalam memproduksi produk/komoditas pertanian. Tentunya, aktivitas pemberdayaan ini dilakukan pemerintah sebagai wujud tanggungjawab atas kedaulatan dan kemandirian pangan (merujuk Pasal 2 UU No. 19/2013).

RUU Cipta Kerja menggiring pada arah industrialisasi, dan cenderung meninggalkan sektor hulu yang mayoritas dikembangkan oleh masyarakat. Ada penggeseran dari hulu ke hilir ini tentunya akan melemahkan pelaku UMKM bidang pertanian, sehingga perlu diseimbangkan. Keberpihakan pada petani kecil juga dapat diwujudkan melalui skema Employee Stock Ownership Plan (ESOP) yang menerapkan profit sharing antara perusahaan dan pekerja melalui pembentukan trust fund.

Era VUCA menciptakan tantangan bagi petani kecil dan menengah, oleh karena itu perlu pemberdayaan untuk meningkatkan literasi digital para petani. Literasi digital juga menjadi modal untuk membangun model bisnis pertanian yang inklusif, yang bersifat saling menguntungkan. Selain itu, permasalahan aging dalam pertanian perlu dicarikan solusinya dengan membangun kompetensi SDM generasi muda petani melalui pendidikan vokasi tani/ desa.

3.5 Membangun Keseimbangan Kewenangan Pusat dan Daerah

Semangat Omnibus law adalah untuk memantai rantai birokrasi, namun terkesan lebih sentralistis, karena memangkas kewenangan daerah pada banyak hal. Sementara dalam implementasinya jangkauan pemerintah pusat sangat terbatas, terutama hal ini banyak terjadi di bidang pertanian. Misalnya kendala bidang peternakan adalah keterbatasan lahan dan selama ini bergantung pada kehutanan. Pengaturan pemanfaatan lahan hutan atau lahan perkebunan untuk perkebunan lebih mudah dilakukan oleh

(10)

6 pemerintah daerah. Kekhasan bidang pertanian seperti contoh tersebut membutuhkan pemilahan kewenangan pusat dan daerah dalam mengatur aktifitas ekonomi bidang pertanian.

Wilayah Indonesia memiliki karakteristik archipelagic yang sangat khas. Untuk kondisi seperti ini, pengaturan bidang pertanian bersifat continental tidak begitu tepat karena wilayah kepulauan membutuhkan jejaring logistic yang kuat. Model tatakelola berbasis kepulauan perlu dibangun dan untuk menyelesaikan hambatan-hambatan ekologis, ekonomi dan sosial selama ini tidak kunjung selesai.

3.6 Transfer Teknologi

Upaya mendorong investasi baru terutama investasi asing perlu diimbangi dengan kewajiban transfer teknologi agar investasi yang dilakukan dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi kepentingan nasional. Hal ini sangat penting untuk mengimbangi manfaat yang diterima oleh perusahaan asing yang melakukan investasi di Indonesia berupa keringanan pajak, pembebasan bea masuk, lahan, repatriasi keuntungan serta memanfaatkan pasar Indonesia yang besar (260 juta penduduk).

Membangun komitmen transfer teknologi dan pengetahuan oleh investor asing ini perlu diatur melalui instrument hukum yang jelas dan tegas. Beberapa hal yang penting diatur adalah: 1) aturan kontrak investasi atau lisensi teknologi yang tidak membatasi terjadinya alih teknologi; 2) kewajiban perusahaan penanaman modal asing yang memiliki teknologi strategis atau yang sangat penting bagi Indonesia untuk menggandeng perusahaan nasional (BUMN atau swasta) dan kewajiban alih teknologi, dan 3) kewajiban peningkatan kapasitas perusahaan nasional (manajemen sumber daya manusia) untuk memudahkan terjadi alih teknologi dari perusahaan penanaman modal asing. Dengan regulasi yang jelas maka tujuan investasi asing di Indonesia sesuai dengan asas kemandirian dapat tercapai, yakni meningkatkan daya saing dan kemandirian teknologi nasional.

3.7 Korporasi Petani

Korporatisasi pertanian telah menjadi focus pemerintah yang dituangkan dalam Perpes 20/2020, di mana ditargetkan terbentuknya 350 unicorn pada tahun 2024. Tentunya ini bukan upaya mudah dan tidak boleh main-main. Mayoritas sumber daya manusia (SDM) sektor pertanian, kehutanan, serta kelautan dan perikanan sebagian besar merupakan smallholder. Untuk meningkatkan efisiensi perlu transformasi dari pengelolaan usaha individual menjadi sebuah korporasi (corporate farming). Korporasi ditujukan untuk memperkuat kelembagaan dan mengubah pola kerja menjadi lebih modern. Korporasi juga diharapkan dapat menciptakan kelembagaan yang berkelanjutan (institutional sustainability) pada aras mikro dan makro. Korporasi memfasilitasi para petani dan nelayan untuk melakukan usaha secara bersama-sama melalui konsolidasi sumber daya dan konsolidasi manajemen.

Melalui konsolidasi sumberdaya, penerapan teknologi mekanisasi menjadi lebih mudah. Melalui konsolidasi manajemen, para anggotanya dapat menginduk dalam satu manajemen. Konsolidasi ini sekaligus mengimplikasikan berlangsungnya integrasi hulu-hilir dalam satu rantai pasok. Dalam kasus peternakan rakyat misalnya, konsolidasi yang dilakukan tidak sekadar mengumpulkan hewan ternak dari para anggotanya untuk kemudian dirawat bersama-sama, namun juga melibatkan pembagian peran antar anggota dalam sebuah rantai pasok. Tidak semua anggota harus melibatkan diri dalam proses produksi karena itu akan membuat tidak efisien, namun ada pembagian sehingga ada anggota yang mengurus sisi input misalnya dari pengadaan pakan, obat-obatan, sarana produksi peternakan (sapronak), dan inseminasi buatan. Anggota lain dapat mengurus sisi hilir seperti pascapanen, pengolahan transportasi, distribusi dan pemasarannya. Melalui skema ini, dapat diperhatikan bahwa konsolidasi dapat melahirkan profesi yang beragam bagi para peternak yang dapat mendukung usaha peternakan mereka.

(11)

7 3.8 Sistem Informasi untuk Mendukung Integrasi dan Sharing Data

Indonesia memiliki bentang wilayah daratan dan lautan yang cukup luas, sehingga aspek kewilayahan menjadi hal yang sangat penting dalam landasan penyusunan undang-undang dan proses pengambilan kebijakan baik di pusat maupun di daerah. Indonesia telah memiliki Kebijakan Satu Peta (One Map Policy) yang merupakan amanat Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial (IG).

Kebijakan tersebut dibuat dalam rangka untuk melakukan standarisasi dan menyatukan data spasial di seluruh wilayah Indonesia, sehingga terdapat basis peta yang dapat digunakan bersama oleh seluruh instansi dan juga dapat diakses secara bebas oleh masyarakat. Percepatan Kebijakan Satu Peta diperkuat melalui Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 9 Tahun 2016 tentang Percepatan pelaksanaan Kebijakan satu peta pada tingkat ketelitian peta skala 1:50.000. Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa kebijakan tersebut akan dijadikan sebagai dasar perencanaan untuk mendukung pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di masa depan. Sejalan dengan hal ini, maka penyusunan pasal-pasal yang terdapat dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) Cipta Kerja juga harus mengacu pada aspek kewilayahan dimana Kebijakan Satu Peta harus menjadi dasar.

Penyusunan RUU Cipta Kerja juga harus mempertimbangkan aspek tentang Kebijakan Satu Data Indonesia yang tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 39 Tahun 2019. Sebagaimana tertuang dalam Pasal 1 di Perpres tersebut “Satu Data Indonesia adalah kebijakan tata kelola Data pemerintah untuk menghasilkan Data yang akurat, mutakhir, terpadu, dan dapat dipertanggungjawabkan, serta mudah diakses dan dibagipakaikan antar Instansi Pusat dan Instansi Daerah melalui pemenuhan Standar Data, Metadata, Interoperabilitas Data, dan menggunakan Kode Referensi dan Data Induk”. Disamping hal tersebut, perlu juga mempertimbangkan tentang aspek perlindungan data dan informasi, terutama dalam konteks penggunaan teknologi informasi dalam rangka melindungi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan masyarakat pada umumnya.

4 Komentar Umum terhadap RUU Cipta Karya

UMKM merupakan tulang punggung perekonomian bangsa Indonesia, oleh karena itu sudah sepatutnya pelaku UMKM menjadi pihak yang paling mendapatkan manfaat dengan adanya UU Cipta Kerja. Pasal- pasal awal di dalam RUU Cipta Karya telah menyajikan semangat yang sangat baik dan pro kepada pelaku UMKM. Namun demikian semangat ini belum diterjemahkan dengan baik pada pasal-pasal lebih lanjut.

Cipta kerja seharusnya tidak hanya berupa korporasi dalam skala besar, namun perlu inklusi, perlakukan yang adil antara pelaku usaha besar dan usaha kecil dan menengah. Karena opportunity costs untuk memberikan peluang lebih pada usaha skala besar juga sangat besar. Memberikan kemudahan bagi pelaku usaha besar dan UMKM secara adil bertujuan untuk menghapuskan eksploitasi atau marjinalisasi pelaku UMKM. Oleh karena itu kebijakan-kebijakan afirmatif perlu dituangkan dalam RUU Cipta Kerja ini.

Selain itu, pasal-pasal dari UU eksisting yang direvisi harus harmoni dan saling menguatkan.

Tanggapan IPB terhadap pasal per per pasal yang terkait dengan bidang pertanian disampaikan di dalam lampiran.

(12)

8

5 Lampiran

Lampiran 5.1 Review RUU Cipta Kerja terkait Undang-Undang Nomor 39 tentang Perkebunan

Tanggapan IPB

Pasal 14

Dalam PP harus secara ekplisit disebutkan luas maksimum yang dapat diberikan kepada perusahaan.

Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 1996 Tentang Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan Dan Hak Pakai Atas Tanah:

Pasal 5 ayat (1) dan (2).

Pembatasan luas areal HGU untuk perorangan minimal 5 ha dan maksimal 25 ha, sedangkan untuk perusahaan tidak ditetapkan luas maksimalnya.

Koreksi Typo: Tertulis 2atasan, seharusnya batasan.

(13)

9 Tanggapan IPB

Harus dirinci batasan luas areal sesuai dengan karakteristik masing- masing komoditi perkebunan disesuaikan dengan kondisi wilayah yang ada untuk usaha perkebunan yang dimaksud. Pemindahan hak atas tanah Usaha Perkebunan dapat dilakukan jika diberikan kepada Koperasi Petani Perkebunan dengan tetap melakukan kemitraan yang win-win solution.

Dalam PP:

1. Maksimum satu tahun kegiatan usaha perkebunan harus sudah dimulai dan dalam waktu 3 tahun realisasi pembangunan kebun minimal 30%.

2. Jika tidak dilakukan diberi sangsi yang jelas.

Penghapusan Pasal 15 pada Undang-Undang Nomor 39 tentang Perkebunan.

Inti Pasal 15 bisa dihidupkan lagi dengan bunyi:

(14)

10

1. Setiap badan usaha berkewajiban

menyampaikan data update setiap tahun terkait penggunaan lahan kepada instansi yang berwenang 2. Instansi yang berwenang

akan ditetapkan dalam peraturan pemerintah.

Data lahan sangat penting, dalam rangka perencanaan dan pengembangan wilayah, selain itu untuk menekan terjadinya ‘land grabing’ yakni menguasai lahan tetapi sengaja untuk di’tidurkan’.

Harus ada jaminan bahwa dalam PP subtansi pasal 16 harus ada. Hal ini sangat penting agar tidak terjadi lahan tidur. Selain itu juga meminimalkan munculnya moral hazards dari status ha katas tanah.

(15)

11 Tanggapan IPB

Jelas.

(16)

12 Tanggapan IPB Dalam PP:

1. Sebelum diberikan sanksi diberi surat Peringatan terlebih dahulu (SP 1, SP 2, SP 3).

2. Jika setelah diberi Surat Peringatan 1,2,3, tidak ada kemajuan, maka diberi sangsi yang jelas.

3. Sanksi terhadap pelanggaran pasal 14 tidak cukup hanya sebatas sanksi administratif, sesuai dengan UU yang berlaku.

(17)

13 Tanggapan IPB

Perlu disinkronkan dengan:

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2019 Tentang Karantina Hewan, Ikan, Dan Tumbuhan.

Jelas.

(18)

14 Tanggapan IPB

Jelas

PP yang akan dibuat:

1. Seharusnya ada sinkronisasi dengan di UU No 22 Tahun 2019 tentang Sistem Budidaya Pertanian Berkelanjutan.

2. Mencantumkan persyaratan- persyaratan untuk mengatur penegendalian OPT termasuk penggunaan Alat Pelindung Diri dan pestisida yang digunakan.

(19)

15 Tanggapan IPB

Pelaku Usaha Perkebunan harus melibatkan masyarakat sekitar areal perkebunan dalam bentuk usaha kemitraan. Areal kebun untuk masyarakat minimal 40%.

Pasal 39 menjadi bagian yang penting dalam rangka untuk menciptakan investasi di sektor perkebunan. Oleh karena itu, menjadi lebih kuat apabila tidak semata-mata hanya

“mengundang” investor baik dalam maupun luar negeri, tetapi menjadi lebih penting apabila dalam pasal ini juga dimungkinkan adanya mekanisme kepemilikan saham karyawan di perusahaan (ESOP). Hal ini akan memberikan insentif bagi

karyawan untuk mampu

meningkatkan peran serta dan sekaligus produktivitas.

(20)

16 Tanggapan IPB Jelas

Jelas

(21)

17 Tanggapan IPB

Jelas

Dalam PP selain memenuhi syarat/izin lingkungan, kesesuaian dengan rencana tata ruang wilayah, kesesuaian dengan rencana perkebunan, namun yang penting juga harus mendapat persetujuan dari masyarakat sekitar perkebunan.

(22)

18 Tanggapan IPB

Dalam PP, batasan skala luasan dan kapasitas pengolahan hasil harus ditetapkan dengan skala yang pasti dengan memperhatikan: jenis tanaman, kesesuaian lahan, teknologi, tenaga kerja dan modal.

Dalam PP ini juga harus dibuka peluang bahwa masyarakat sekitar/petani pekebun memiliki saham di pabrik karena nilai tambah yang besar ada diproses pengolahan (off farm), sehingga masyarakat/petani mendapat keuntungan dari on farm- nya. Relevan dengan pasal 39 adanya mekanisme program ESOP

Jelas

(23)

19 Tanggapan IPB

Jelas

Jelas

(24)

20 Tanggapan IPB

Harus dipastikan dalam PP RUU Cipta Kerja, mengingat bahwa RT/RW seringkali tidak dipatuhi secara, sehingga peruntukan areal budidaya melanggar dokumen-dokumen yang telah ada. Apabila dilakukan oleh kepala Daerah, maka harus ada sangsi hukum yang jelas

Ditambahkan ayat bunyi:

Ayat 2. Setiap badan usaha

berkewajiban mendorong

peningkatan daya saing usaha rakyat sejenis yang ada disekitarnya.

Daya saing usaha perkebunan dan pertanian rakyat, akan mudah ditingkatkan apabila menerapkan teknologi advance yang sudah dikuasai oleh perusahaan besar.

(25)

21 Tanggapan IPB

Jelas

(26)

22 Tanggapan IPB Jelas

Jelas

(27)

23 Tanggapan IPB

Jelas

(28)

24 Tanggapan IPB

PP sebagai pengganti pasal 68 harus secara ekplisit dan jelas mencantumkan kewajiban-kewajiban sebagaimana dimaksud dalam pasal 68 (UU 30 tahun 2014 tentang Perkebunan). Hal ini berimplikasi terhadap pelanggaran dari pasal 68 yang tercantum pada pasal 109 dihapuskan.

(29)

25 Tanggapan IPB Jelas

Jelas

(30)

26 Tanggapan IPB

Jelas

(31)

27 Tanggapan IPB

Perlu ditunjukkan peraturan perundang-undangan apa? Harus dicantumkan. Data one map policy seharusnya menjadi acuan dalam pasal 86. Data-data menjadi hal yang sangat strategis untuk kemudian digunakan sebagai dari evaluasi. Monitoring dan kebijakan yang akan digunakan oleh pemerintah.

Penghapusan Pasal 86 pada Undang- Undang Nomor 39 tentang Perkebunan.

Inti Pasal 86 bisa dihidupkan lagi dengan bunyi:

Setiap badan usaha berkewajiban menyampaikan data update setiap tahun terkait penggunaan lahan.

(32)

28 Tanggapan IPB

(33)

29 Tanggapan IPB Jelas

(34)

30 Tanggapan IPB

Pasal 93 ayat 5 dan 6 menjadi penting.

Lembaga/badan pengelola dana perkebunan yang terbentuk harus mampu mengelola dana tersebut secara transparan. Peruntukan dana yang dihimpun dapat digunakan kembali untuk kegiatan-kegiatan tanaman perkebunan tsb dengan fokus kepada petani (peningkatan produktivitas dan kesejahteraan).

Jelas

(35)

31 Tanggapan IPB

Jelas

(36)

32 Tanggapan IPB

Jelas

(37)

33 Tanggapan IPB

Jelas

(38)

34 Tanggapan IPB Jelas

(39)

35 Tanggapan IPB Jelas

(40)

36 Tanggapan IPB Jelas

(41)

37 Tanggapan IPB Jelas

Jelas

(42)

38 Tanggapan IPB

Jelas

(43)

39 Pasal baru:

1. Setiap badan usaha yang bergerak pada bidang pertanian dan hilirisanya

berkewajiban untuk

menyampaikan data terkait hasil produknya kepada lembaga yang berwenang secara real time.

2. Data yang dimaksud menyangkut asal bahan baku, kuantitas bahan baku, dan hasil akhir yang dihasilkan.

3. Perlindungan atas data sharing dan data utilization diatur dalam peraturan perundangan 4. Lembaga berwenang akan

diatur dalam perundangan

Penjelasan masing-masing pasal baru:

1. Pada era 4.0, sharing data sangat penting. Tetapi sharing data yang tidak terencana dengan baik justru dapat merugikan petani kecil yang memiliki akses data terbatas.

Untuk itu, ini perlu diatur agar semua pihak terlibat dalam pembangunan daya saing produk ditingkat nasional.

(44)

40

2. Data produksi dan suply chain diperlukan untuk mendorong sistem logistik nasional yang lebih berdaya saing

3. Mendeteksi sedini mungkin terjadinya manipulasi data 4. Single data pangan, akan

meningkatkan efisiensi penggunaan APBN untuk biaya stabilisasi pangan

(45)

41 Lampiran 5.2 Review RUU Cipta Kerja terkait Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2000 tentang Perlindungan Varietas Tanaman

Tanggapan IPB

1. Perlu didefinisikan subjek

Perlindungan Varietas Tanaman:

"Varietas yang berhak

mendapatkan perlindungan varietas tanaman (PVT) adalah varietas hasil pemuliaan

tanaman yang memenuhi

persyaratan baru, unik, seragam dan stabil"

2. Siapa yang berhak mengajukan permohonan, ditulis sebagai berikut:

"Permohonan hak PVT diajukan oleh pemilik varietas dan atau kuasanya yang

(46)

42

berkedudukan di Indonesia"

3. Kemana permohonan diajukan, yaitu "

Permohonan hak PVT diajukan kepada Kantor PVT secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan membayar biaya sesuai dengan ketentuan

peraturan perundang-

undangan di bidang

Penerimaan Negara Bukan Pajak"

4. Ketentuan lebih lanjut mengenai

tata cara

pengajuan

permohonan hak PVT diatur dengan Peraturan

Pemerintah.

(47)

43 Tanggapan IPB

(48)

44 Tanggapan IPB

Ketentuan waktu sebaiknya tidak dinyatakan dalam UU tetapi dalam PP agar lebih fleksibel

Pada Pasal 40 Ayat 2 dan 3 tidak perlu karena berupa tatacara, lebih baik diatur dalam PP

(49)

45 Tanggapan IPB

Lisensi adalah bagian dari pengalihan hak, seharusnya sudah tercakup pada pasal 40, sehingga pasal 43 menjadi tidak perlu

(50)

46 Tanggapan IPB

Seharusnya masuk dalam bagian pasal kewajiban dan didetailkan dalam PP

Untuk meningkatkan investasi pada bidang PVT secara khusus dan industri perbenihan secara umum, seharusnya ada pasal pembinaan oleh pemerintah yang mencakup

1. Penyediaan SDG untuk pemuliaan 2. Pelatihan SDM untuk pemuliaan

Tanaman

3. Bantuan biaya pelaksanaan uji PVT dan iuran wajib bagi fihak yang membutuhkan

(51)

47 Lampiran 5.3 Review RUU Cipta Kerja terkait Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2019 tentang Sistem Budi Daya Pertanian Berkelanjutan dalam RUU Cipta Kerja Bidang Pertanian

Tanggapan IPB

Ayat 3 tidak jelas maksudnya. Revisi:

“Alih fungsi Lahan Pertanian yang telah memiliki jaringan pengairan lengkap untuk kepentingan umum dan/atau proyek strategis nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib dijaga fungsi jaringan pengairannya secara utuh”.

(52)

48 Tanggapan IPB

(1) Izin berusaha berlaku untuk pelaku, sehingga sebaiknya menjadi "

Pengadaan Benih unggul melalui pemasukan dari luar negeri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (1) setelah mendapatkan persetujuan dari Pemerintah Pusat, sesuai dengan perudangan yang berlaku."

(2) Ok

(3) dengan ayat 1 seperti itu maka instansi pemerintah jadi termasuk, sehingga lebih baik jadi " Ketentuan lebih lanjut mengenai syarat dan tata cara pemasukan dan pengeluaran benih diatur dengan Peraturan Pemerintah."

(53)

49 Tanggapan IPB

Ini ada bagian yang berhimpitan dengan pasal 32, sehingga bila tujuannya SDG lebih baik langsung dikaitkan dengan SDG agar lebih jelas

Ayat 1 dan 4 dapat disatukan

Ayat 2 seharusnya SDG apa yang dilarang masuk

Ayat 3 mengenai siapa yang boleh memasukan SDG

Ayat 5 menjadi "Ketentuan lebih lanjut mengenai syarat dan tata cara pemasukan dan pengeluaran SDG diatur dengan Peraturan Pemerintah."

(54)

50 Tanggapan IPB

Perlu diselaraskan dengan pasal pada perkebunan

(55)

51 Tanggapan IPB

Perlu diselaraskan dengan seluruh pasal lain

(56)

52 Tanggapan IPB

(57)

53 Tanggapan IPB

(58)

54 Tanggapan IPB

(59)

55 Tanggapan IPB

(60)

56 Tanggapan IPB

(61)

57 Tanggapan IPB

(62)

58

Untuk meningkatkan investasi pada Sistem Budidaya Pertanian Berkelanjutan perlu ada pembinaan oleh pemerintah dalam hal

1. Pengembangan Teknologi 2. Penyediaan Teknologi 3. Peningkatan kapasitas SDM 4. Pemenuhan persyaratan

sertifikasi bagi perdagangan internasional

5. Sarana dan Prasarana pendukung

6. Permodalan

7. Informasi dan intelejen pasar 8. Sistem informasi pendukung

Tambahan

1. Ada hal yang mengganjal pada UU perkebunan tertulis Organisme Pengganggu Tumbuhan, seharusnya Organisme Pengganggu Tanaman

2. Pada UU Hortikultura ada klausul sarana produksi yang mengandung hasil rekayasa genetika tanaman perlu perlakuan khusus tampaknya ini dimaksudkan untuk sarana produksi benih saja, karena

(63)

59

kalau keseluruhan dicakup maka pupuk dan pestisida organik akan terimbas.

(64)

60 Lampiran 5.4 Review RUU Cipta Kerja Terkait Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani

Tanggapan IPB

1. Upaya perlindungan dan pemberdayaan petani adalah bentuk kehadiran negara

(pemerintah) untuk

mempertahankan keberadaan petani gurem dalam produksi pertanian untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri.

Atas dasar ini, maka:

a) Pasal 15 ayat (1) bertentangan dengan semangat “pelindungan dan pemberdayaan petani” karena tidak tegas siapa subyek produksi pertanian yang ditekankan.

Artinya siapapun diperbolehkan oleh pemerintah pusat untuk melakukan peningkatan produksi pertanian dalam negeri. Oleh karena itu, dalam pasal 15 ayat (1) dalam RUU Cipta Kerja seharusnya tegas berbunyi: “Pemerintah Pusat melakukan upaya peningkatan produksi pertanian dalam negeri melalui pemberdayaan petani”.

b) Pasal 15 ayat (2) sudah sesuai.

(65)

61

(66)

62 Tanggapan IPB

2. Secara garis besar Pasal 30 dan Pasal 101 dalam RUU Cipta Kerja adalah “lepas tangan” atas kendali produksi pangan dari dalam negeri. Impor pangan bukanlah sesuatu yang tabu untuk dilakukan, jika kebutuhan dalam negeri benar-benar tidak mampu dipenuhi dari produksi dalam negeri. Seyogyanya, kemajuan teknologi di era VUCA, dapat dijadikan momentum untuk memastikan secara presisi kebutuhan pangan dan memastikan kemampuan produksi dalam negeri secara presisi dimulai dari desa. Hal ini dikarenakan pertanian dan desa adalah setali mata uang yang tak dapat dipisahkan. Terkait dengan RUU Cipta Kerja ini, khusus perubahan Pasal 30 dan Pasal 101 UU No.

19/2013 bertentangan delapan asas dalam UU ini. Dengan demikian, khusus Pasal 30 diperlukan instrumen yang mampu menghitung cadangan kebutuhan pangan dalam negeri berbasis desa, sehingga angka presisi

(67)

63

kemamuan dan kekurangan pangan dalam negeri kita dapat diketahui secara presisi. Atas dasar ini, maka:

(a) Pasal 30 Ayat (1) berbunyi:

“Kecukupan kebutuhan konsumsi dan/atau cadangan pangan pemerintah diutamakan berasal dari produksi dalam negeri”.

Ditambahkan Ayat (2) berbunyi:

“Impor pangan dilakukan, apabila cadangan pangan dari produksi dalam negeri tidak mencukupi”.

Kemudian Ayat (3) berbunyi:

“Kecukupan kebutuhan konsumsi dan/atau cadangan pangan pemerintah sebagaimana pada ayat (1) ditetapkan melalui perhitungan pangan secara presisi dari tingkat desa dan ditetapkan oleh pemerintah pusat”.

Selanjutnya ditambahkan Ayat (4) berbunyi: “Perhitungan pangan secara presisi sebagaimana ayat (3) diatur melalui peraturan pemerintah”.

(b) Pasal 101 tetap dipertahankan sebagai konsekuensi atas kehadiran negara untuk

(68)

64

melindungi dan memberdayakan petani dalam negeri.

(69)

65 Lampiran 5.5 Review RUU Cipta Kerja terkait Undang-Undang No 13 Tahun 2020 tentang Holtikultura

Tanggapan IPB

Pasal 15 ini bersifat netral atau tidak mengandung maksud khusus sehingga tidak ada kegunaannya masuk dalam UU

Sudah diatur dalam UU Ketenagakerjaan maka tidak peru diatur daam UU Hortikultura

(70)

66 Tanggapan IPB

Pasal ini akan berdampak pada perkembangan industri sarana hortikultura di dalam negeri terutama industri benih yang mulai berkembang. Di Yogyakarta terdapat Jogja Seed Center, dimana banyak seed breeder dan seed grower yang tumbuh. Sebagai contoh Bu Sumanah yang sudah melepas lebih dari 30 variteas hortikultura selama 10 tahun terakhir, tamatan SMK yang mengalahkan pemulia doktor Ayat 1 pada pasal 33 UU lama tetap perlu dipertahankan menjadi ayat 1 pada UU pasal 33 JUU Cipta Kerja Ayat selanjutnya pada pasal 33 UU Cipta kerja sudah bagus

Pasal 35 memang sebaiknya dihapuskan

(71)

67 Tanggapan IPB

Pasal 48 memang sebaiknya dihapuskan. Dalam hal ini pada UU Cipta Kerja sektor UMKM akan ada pengklasifikasian berdasarkan sektor usaha termasuk pertanian

(72)

68 Tanggapan IPB

Dalam pasal 49, ayat 1 disebutkan Pemerintah. Agar lebih jelas perlu dicantumkan Pemerintah Pusat, seperti pada ayat yang lain

Dengan era digitalisasi saat ini, upaya pendataan bahkan secara real time bukan lagi masalah. Terkesan Pemerintah Pusat hanya ingin yang mudah seperti pada ayat 2

Ini dapat dikaitkan dengan registrasi lahan dan penerapan GAP meskipun untuk usaha mikro dan kecil. Jurtru menurut Schultz: “small is beautiful?

(73)

69 Tanggapan IPB

Pasal 48 memang seabaiknya dihapuskan. Dalam hal ini pada UU Cipta Kerja sektor UMKM akan ada pengklasifikasian berdasarkan sektor usaha termasuk pertanian

(74)

70 Tanggapan IPB

Pasal 54 UU Cipta Kerja sudah tepat

(75)

71 Tanggapan IPB

Tidak mengandung maksud khusus sehingga tidak ada kegunaannya masuk dalam UU

(76)

72

(77)

73 Tanggapan IPB

Pasal 63 memang sebaiknya dihapuskan

(78)

74 Tanggapan IPB

Pasal 68 UU Cipta Kerja sudah tepat, karena semua Permen akan ditarik ke PP

(79)

75 Tanggapan IPB

Pasal 88 UU Cipta Kerja mendukung implementasi aturan WTO dalam perdagangan internasional, khususnya di bidang hortikultura.

Hambatan non tarif seperti SPS memang menjadi isntrumen proteksi utama yang digunakan oleh negara- negara yang lebih maju

Terkait dengan pembatasan pintu pelabuhan, lebih disebabkan oleh keterbatasan fasilitas untuk melakukan inspeksi produk impor

(80)

76

(81)

77 Ayat 1

Tanggapan IPB

Ayat 1 Pasal 92 UU Cipta Kerja bersifat netral, tidak mengandung maksud khusus sehingga sebaiknya ditiadakan

Pasal 92 cukup berisi ayat 2 pada draft UU Copta kerja tentang fasilitas pemasaran

(82)

78 Tanggapan IPB

Pasal 100 UU Hortikultura merupakan bagian yang sejak awal paling menimbulkan polemik dalam industri hortikultura Indonesia. Hasil kajian FEM IPB pada tahun 2016 menunjukkan hasil bahwa dengan kondisi terutama industri perbenihan yang masih banyak memerlukan transfer teknologi dari asing, maka pasal ini 100 pada UU Cipta kerja ini sudah bagus

(83)

79 Tanggapan IPB

Pasal 101 UU Hortikultura seharusnya tetap dipertahankan pada UU Cipta Kerja, karena adanya transfer teknologi, secara teori mislalnya dengan model OLI, mearupakan rasional dari penanaman modal asing di suatu negara

Pasal 122 UU Cipta Kerja sudah tepat

(84)

80 Tanggapan IPB

Pasal 123 UU Cipta Kerja sudah tepat Pasal 131 UU Cipta Kerja sudah tepat

(85)

81

(86)

82

(87)

83

(88)

84

(89)

85 Lampiran 5.6 Review RUU Cipta Kerja terkait UU No 18 Tahun 2009 tentang Peternakan & Kesehatan Hewan jo. UU No 41 Tahun 2014 Perubahan

atas UU No. 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan Catatan: tanggapan berikut ini belum mencakup bidang kesehatan hewan

Tanggapan IPB

Perlu ditambahkan pada Pasal 6 ayat (2) mengenai fungsi yaitu berfungsi sebagai

“tempat pengembangan ekonomi”

Lahan penggembalaan adalah areal produksi ternak ruminansia secara ekstensif yang sangat strategis karena mampu menjaga populasi ternak secara ekonomis dan berdaya saing tinggi dibandingkan sistem intensif. Beberapa negara sumber ternak ruminansia basis produksinya adalah padang penggembalaan. Oleh karena itu keberadaan (eksistensi) lahan penggembalaan harus dijaga dengan baik.

Regulasi setingkat PP dipandang sesuai untuk mengawal keberadaan dan keberlanjutan padang penggembalaan.

(90)

86 Tanggapan IPB

Kawasan padang penggembalan pada umumnya merupakan areal kehutanan oleh karena itu pasal-pasal terkait dengan pemanfaatan lahan kehutanan untuk padang penggembalan harus selaras dengan pasal 6 ini.

(91)

87 Tanggapan IPB

Pada Pasal 13 ayat (2) perlu ditambahkan kata “pembinaan”

(2) Pemerintah berkewajiban untuk melakukan pengembangan dan pembinaan usaha pembenihan dan/atau pembibitan dengan melibatkan peran serta masyarakat untuk menjamin ketersediaan Benih, Bibit, dan/atau Bakalan.

Bentuk pembinaan yang dimaksud antara lain : insentif, penerapan teknologi pemuliaan dan reproduksi, pemerintah bertindak sebagai off taker dan mencarikan pasar Bibit, Benih dan atau Bakalan hasil pemuliaan dari masyarakat untuk dikembangkan secara nasional, sehingga usaha pembibitan benih/bibit di Indonesia semakin berkembang dan stok bibit nasional tersedia sehingga tidak harus selalu import untuk kebutuhan benih/bibit

(92)

88 Tanggapan IPB

Kata “Pemerintah” pada pasal 13 ayat (2) harus jelas apakah ini pemerintah pusat atau daerah. Untuk mendorong pemerintah daerah agar mengembangkan bibit/ternak sebagai stok bibit nasional maka peran pemerintah daerah perlu dimunculkan. Oleh karena itu pasal 13 ayat (4) masih diperlukan. Hal ini juga untuk menstimulasi kreativitas daerah dalam mengembangkan bibit/benih lokal.

Saran perubahan redaksi :

“Dalam hal pengembangan dan pembinaan usaha pembibitan yang dimaksud dalam pasal (2-RUU Cipta Kerja) Pemerintah pusat dan/atau daerah membentuk unit pembeniah dan/atau pembibitan”.

(93)

89 Tanggapan IPB

Spirit perizinan berusaha untuk pemasukan dan pengeluaran benih antara lain komitmen untuk menjaga kemurnian plasma nutfah (asli) Indonesia dan pengembangan ekonomi masyarakat.

(94)

90 Tanggapan IPB

Syarat perizinan berusaha untuk pemasukan dan pengeluaran benih antara lain komitmen untuk menjaga plasma nutfah (asli) Indonesia.

Pasal 16 ayat(2) larangan sebaiknya bukan hanya untuk bibit dan/atau benih terbaik, tetapi larangan juga diberlakukan untuk bibit dan/atau benih galur murni ternak asli Indonesia.

(95)

91 Tanggapan IPB

Pasal 22 - Catatan untuk konten dalam PP, untuk setiap jenis dan varian pakan yang diproduksi dan diedarkan perlu diatur perizinannya, apakah cukup satu kali perizinan dalam izin berusaha atau setiap produk yang akan diedarkan, yang penting pada prinsipnya tetap harus ada pengawasan kualitas agar konsumen tidak dirugikan.

Untuk menjaga kualitas sesuai dengan persyatan pada pasal (4) maka harus ditambahkan klausul Pemerintah melakukan pengawasan mutu dan pembinaan.

(96)

92 Tanggapan IPB

(97)

93 Tanggapan IPB

Pasal 29 ayat (3) skala usaha perlu didefinisikan dengan jelas dan diatur dalam peraturan di bawah UU, sehingga kewenangan dalam pemberian perizinan berusaha lebih jelas antara pemerintah pusat dan daerah.

Misal skala usaha ternak unggas di bawah 100 ribu, ternak ruminansia kecil dibawah 2000 ekor dan ruminansia 1000 perizinan di pemerintah daerah.

(98)

94 Tanggapan IPB

Pasal 30 ayat (1) Statement ‘Pemerintah Pusat mengembangkan budidaya…”

terkesan pemerintah akan melakukan penyelenggaraan budidaya ternak.

Diusulkan kalimatnya menjadi :

“Pengembangan usaha budidaya diselenggarakan melalui penanaman modal oleh perorangan Warga Negara Indonesia atau korporasi yang berbadan hukum”.

Pasal 36B ayat (1)

Perlu Pasal terpisah antara pemasukan ternak dan pemasukan produk ternak.

Terkait pemasukan produk ternak, RRU Cipta Karya kurang memberikan insentif kepada usaha budidaya perorangan dan korporasi dalam negeri karena tidak ada klausul mengenai kondisi yang menjadi syarat pemasukan produk ternak.

Pada pasal terpisah untuk pemasukan produk ternak, penyelenggaraan pemasukan produk ternak hendaknya dilakukan jika kekurangan stok dari dalam negeri. Dalam hal ini pemerintah wajib melakukan perhitungan secara detail dan

(99)

95

akurat mengenai kondisi stok ternak dan produknya. Jumlah yang akan dimasukan perlu diatur.

Pemasukan produk ternak juga harus

mempertimbangkan keamanan

produknya dari Negara asal atau zona di Negara asal, dalam kaitannya dengan penyakit menular.

Pada pasal terpisah tentang pemasukan ternak untuk keperluan budidaya, dilakukan untuk memenuhi konsumsi masyarakat. Pemasukan ternak akan mendorong usaha perorangan dan korporasi dalam negeri dan terciptanya nilai tambah dalam negeri.

Pengaturan waktu budidaya akan mengikuti permintaan pasar dan pemenuhan konsumsi masyarakat.

Namun harus memperhatikan kaidah biosecurity nasional, dan keamanan pangan.

(100)

96 Tanggapan IPB

(101)

97 Tanggapan IPB Pasal 36C :

Konsistensi soal Zona pada pasal (1) dan pasal (3). Di pasal (1) RUU tidak ciantumkan zona, tetapi di pasal (3) persyaratan zona dimasukan. Sebaiknya zona dicantumkan kembali ke pasal (1).

(102)

98 Tanggapan IPB

(103)

99 Tanggapan IPB

Pasal 37 perlu memberi ruang untuk mengutamakan pemanfaatan bahan baku dari dalam negeri yang sudah memenuhi standar.

(104)

100 Tanggapan IPB

(105)

101 Tanggapan IPB

(106)

102 Tanggapan IPB

(107)

103 Tanggapan IPB

(108)

104 Tanggapan IPB

(109)

105 Tanggapan IPB

(110)

106 Tanggapan IPB

(111)

107 Tanggapan IPB

(112)

108 Tanggapan IPB

(113)

109 Tanggapan IPB

(114)

110 Tanggapan IPB

(115)

111 Tanggapan IPB

(116)

112 Tanggapan IPB

(117)

113 Tanggapan IPB

(118)

114 Lampiran 5.7 Review RUU Cipta Kerja terkait Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Pangan

Tanggapan IPB

Perbaikan pasal-pasal UU Pangan lebih banyak menyangkut dialihkannya kewenangan Pemerintah Daerah atau Menteri kepada Pemerintah Pusat untuk mencapai efisiensi briokrasi Pasal 1 UU Cipta Kerja ini mendukung implementasi aturan WTO dalam perdagangan internasional di bidang pangan, yaitu dihapuskannya pernyataan impor dilakukan bila produksi di dalam negeri tidak mencukupi

Dengan perubahan ini maka politik pangan dalam negeri berubaha dari

“keharusan” mencapai swasembada pangan, meskipun komoditas tidak berdaya saing, kepada kondisi dimana swasembada bersifat kondisional.

Diharapkan permintaan pangan tertentu dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri bila secara ekonomi layak. Jika tidak, maka dapat dilakukan impor, selanjutnya dikelola dalam cadangan pangan seperti yang sudah

(119)

115

dilakukan oleh Bulog atau BUMN lain selama ini

Komentar untuk pasal 14, 15 dan 36 sama dengan pasal 1

(120)

116 Tanggapan IPB

Jelas

(121)

117 Tanggapan IPB

Pasal 39 UU Cipta Kerja ini sduah tepat karena kebijakan impor dimaksudkan untuk mencegah ganggunan pada usatahani, bukan dari aspek perlindungan secara ekonomi. Misal impor pangan masih harus mensyaratkan SPS untuk melindungi kesahtan tanaman dan hewan di dalam negeri

Jelas

(122)

118 Tanggapan IPB

Jelas

(123)

119 Tanggapan IPB Jelas

(124)

120 Tanggapan IPB Jelas

(125)

121 Tanggapan IPB

Jelas

(126)

122 Tanggapan IPB

Jelas

(127)

123 Tanggapan IPB Jelas

(128)

124 Tanggapan IPB

(129)

125 Tanggapan IPB

(130)

126 Tanggapan IPB Jelas

(131)

127 Tanggapan IPB

(132)

128 Lampiran 5.8 Review RUU Cipta Kerja terkait Undang-Undang No 41 tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan

Tanggapan IPB

Pasal 44 dalam RUU Cipta Lapangan Kerja memang menjadi lebih ringkas dengan menghilangkan beberapa ayat. Hal yang penting untuk tetap menjadi perhatian bahwa perlu ada syarat-syarat penetapan lahan pertanian berkelanjutan sebagai pengganti. Syarat Teknis dan Ekonomi serta sosial perlu dimasukkan. Hal ini setidaknya untuk mencegah adanya lahan pertanian yang produktif justru digantikan dengan lahan marjinal denga produktifvitas lahan yang lebih rendah sehingga pada akhirnya akan mengganggu ketersediaan, ketahanan, kemandirian dan kedaulatan pangan nasional

(133)

129 Tanggapan IPB

(134)

130 Tanggapan IPB

(135)

131 Tanggapan IPB

(136)

132 Tanggapan IPB

(137)

133 Tanggapan IPB

Pasal 73 Jelas

Referensi

Dokumen terkait

Kesempatan kerja sektoral juga dipengaruhi oleh sumber-sumber pertumbuhan ekono mi dari sisi demand, namun hanya investasi dan ekspor yang secara konsisten signifikan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, analisis data menunjukkan bahwa terdapat pengaruh signifikan dari variabel kontrol diri terhadap variabel perilaku agresif

Oleh karena itu, proses dari manajemen pelaksanaan bimbingan pranikah yang dilaksanakan di KUA Kecamatan Galang berdasarkan penelitian dengan mewawancarai Bapak

Dapat dilihat bahwa angka porositas terbesar terletak pada spesimen B yang merupakan hasil pengecoran dari almuniun yang menggunakan media pasir cetak dengan campuran pasir

Disebabkan murid-murid menduduki kertas penilaian holistik yang lebih mudah di peringkat sebelumnya, penelitian awal guru mendapati bahawa mereka menghadapi kesukaran dalam

Memenuhi Terdapat Dokumen Rencana Kerja Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Alam (RKUPHHK-HA) Untuk Jangka Waktu 10 (Sepuluh) Tahun Periode 2011 – 2020 sesuai dengan

Data dari HYCOM+NCODA NRL archieve dataset untuk periode tahun 2012 (Cummings dan Smedstad 2013) menunjukkan pola pergerakan arus pada ekoregion 6.3.4 ini lebih

Hal ini menunjukkan bahwa semakin lama waktu kontak dan tinggi level yang diaplikasikan, semakin besar pula luas permukaan sintesis TiO 2 serbuk kayu kelor dalam menyerap