• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka 1. Loncat Katak a. Pengertian Loncat Katak

Yang dimaksud loncat katak dalam penelitian ini adalah meloncat seperti katak dengan tumpuan kedua kaki dengan posisi badan tegak dan tangan tidak menyentuh di lantai. Tujuan loncat katak adalah menumpu, membawa titik badan melayang diudara dan menumpu dengan dua kaki untuk mencapai loncatan yang sejauh-jauhnya.

- Gambar 1 Loncat Katak

(Sumber: Ria Lumintuarso. 2011, 63) b. Teknik Loncat Katak

Prestasi belajar yang optimal dalam loncat katak dapat dicapai jika peloncat dapat melakukan teknik yang ada dengan cara yang efisien dan efektif berdasarkan mekanika gerak yang baik. Loncat katak terdiri atas rangkaian teknik gerakan Teknik gerakan loncat katak dapat dibagi menjadi 3 fase yaitu:

(a) Sikap awal, (b) Loncat tiga kali berturut-turut dengan bertumpu, (c) Sikap akhir.

Keempat fase tersebut harus diperhatikan sungguh-sungguh, untuk mencapai prestasi yang optimal dalam loncat katak. Keempat teknik tersebut harus dapat dikuasai dan dilakukan dengan irama yang tepat. Selain itu pelaksanaan teknik tersebut harus memperhatikan efisien dan efektifitas gerakan agar dapat mencapai hasil yang optimal.

(2)

2. Media Pembelajaran a. Pengertian Media

Media (Bentuk jamak dari kata medium), merupakan kata yang berasal dari bahasa latin medius, yang secara harfiah berarti “tengah, perantara, atau pengantar” (arsyad, 2002). Oleh karena itu media dapat diartikan sebagai perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. Media dapat berupa bahan atau alat. Sedangkan menurut Gerlach & Ely (dalam arsyad 2002), bahwa media jika dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi, yang menyebabkan siswa mampu memperoleh pengetahuan, ketrampilan, atau sikap. Jadi menurut pengertian ini guru, teman sebaya, buku teks, lingkungan sekolah dan luar sekolah bagi seorang siswa merupakan media.

Media merupakan sarana pembelajaran yang digunakan untuk menyampaikan informasi kepada siswa yang bertujuan untuk membuat siswa mengerti. Media adalah pembawa pesan yang berasal dari suatu sumber peran (dapat berupa orang atau benda) kepada penerima pesan. Dalam proses belajar mengajar penerima pesan itu adalah siswa. Pembawa pesan (media) itu berinteraksi dengan siswa melalui indera mereka. Siswa dirangsang dengan media itu untuk menerima informasi. Kadang-kadang siswa dituntut untuk menggunakan kombinasi dari beberapa indera supaya dapat menerima pesan yang lebih lengkap.

Menurut Arsyad (2011) erdasarkan uraian beberapa batasan tentang media, berikut dikemukakan ciri-ciri umum yang terkandung pada setiap batasan sebagai berikut: (1). Media pendidikan memiliki pengertian fisik yang dewasa ini dikenal sebagai hardware (perangkat keras), yaitu sesuatu benda yang dapat dilihat, didengar, atau diraba dengan panca indera. (2). Media pendidikan memiliki pengertian nonfisik yang dikenal sebagai software (perangkat lunak), yaitu kandungan pesan yang terdapat dalam perangkat keras yang merupakan isi yang ingin disampaikan kepada siswa. (3) Penekanan media pendidikan terdapat pada visual dan audio. (4). Media pendidikan memiliki pengertian alat bantu pada proses belajar baik didalam maupun di luar kelas.

(3)

(5). Media pendidikan digunakan dalam rangka komunikasi dan interaksi guru dan siswa dapat proses pembelajaran, dan (6). Media pendidikan dapat digunakan secara missal (misalnya: radio, televisi), kelompok besar dan kelompok kecil (misalnya: film, slide, video, OHP), atau perorangan (misalnya: modul, computer, radio tape/kaset, video recorder). Sikap, perbuatan, organisasi, strategi, dan manajemen yang berhubungan dengan penerapan suatu ilmu.

b. Manfaat Media Pembelajaran.

Media dapat digunakan dalam proses belajar mengajar dengan dua arah yaitu sebagai alat bantu mengajar dan sebagai media belajar yang dapat digunakan sendiri oleh siswa. Media yang dipakai sebagai alat bantu mengajar disebut dengan dependent media. Sedangkan media yang dapat digunakan oleh siswa dalam kegiatan belajar mandiri, disebut independent media. Media dirancang dan disusun secara sistematik, serta dapat menyalurkan informasi secara terarah untuk mencapai tujuan intruksional tertentu. Contoh independent media adalah radio, televisi, video, film, media tercetak seperti modul yang memang dirancang untuk belajar secara mandiri.

Media seperti ini dapat digunakan oleh siswa bersama guru tetapi dapat digunakan sendiri oleh siswa diperpustakaan yang dilengkapi berbagai media tanpa bantuan orang lain. Media jenis ini seringkali dipakai dalam pelajaran klasikal. Dalam sistem pembelajaran media dapat digunakan untuk menggantikan fungsi guru, yaitu fungsi memberikan informasi atau isi pelajaran. Menurut Wibana dan Mukti (2001) pabila sistem belajar mengajar dengan media diterapkan, ada beberapa keuntungan yang diperoleh:

(1). Guru mempunyai lebih banyak waktu untuk membantu siswa yang lemah.

Sementara siswa sibuk belajar sendiri, guru dapat memberikan bantuan kepada siswa yang membutuhkannya. (2). Siswa akan belajar secara aktif, dan (3). Siswa dapat belajar sesuai dengan gaya dan kecepatan masing-masing.

Namun demikian perlu disadari benar-benar bahwa kalau sistem ini akan digunakan, guru perlu membuat persiapan yang matang dan perlu menyediakan media dan peralatan belajar yang cukup. Menurut Susilana dan Riyana (2007) media mempunyai kegunaan:

(4)

(1). Memperjelas pesan agar tidak terlalu verbilitas, (2). Mengatasi keterbatasan ruang, waktu, tenaga dan daya indera, (3). Menimbulkan gairah belajar, interaksi lebih langsung antara murid dengan sumber belajar, (4). Memungkinkan anak belajar mandiri sesuai dengan bakat dan kemampuan visual, auditori dan kinestetiknya, dan (5). Memberi rangsangan yang sama, mempersamakan pengalaman dan menimbulkan persepi yang sama.

Pembelajaran loncat katak dalam bentuk aktivitas bermain berorientasi bermain dapat mengembangkan berbagai dimensi, seperti diungkapkan oleh Hans Katzenbogner/Michael Medler (dalam Yoyo Bahagia, dkk, 2000:57), yaitu: “dapat mengembangkan dimensi permainan atletik, mengembangkan berbagai variasi gerakan atletik, dimensi irama atletik, memungkinan kompetisi serta mengembangkan dimensi pengalaman atletik. Unsur yang terkandung dalam permainan adalah kegembiraan atau keceriaan. Tanda-tanda menuju ke arah permainan yang menggembirakan tersebut antara lain: (1). menempatkan diri pada situasi, gerakan dan irama, (2). menanamkan kegemaran berlomba atau berkompetisi dalam situasi persaingan yang sehat, penuh tantangan dan kegembiraan, (3). unsur kegembiraan dan kepuasaan harus tercermin dalam bentuk praktik, (4). memberikan kesempatan untuk memamerkan kemampuan atau ketangkasan yang dikuasainya. (Yoyo Bahagia, dkk, 2000:57).

3. Pengertian Modifikasi

Modifikasi adalah menganalisis sekaligus mengembangkan materi pelajaran dengan cara meruntunkannya dalam bentuk aktivitas belajar yang potensial sehingga dapat memperlancar siswa dalam belajarnya. Cara ini dimaksudkan untuk menuntun, mengarahkan, dan membelajarkan siswa yang tadinya tidak bisa menjadi bisa, yang tadinya kurang terampil menjadi lebih terampil.

Beberapa aspek analisis modifikasi ini tidak terlepas dari pengetahuan guru tentang: tujuan, karakteristik materi, kondisi lingkungan, dan evaluasinya.

Khusus dalam penjas, disamping pengetahuan dan pemahaman yang baik tentang

(5)

tujuan, karakteristik materi, kondisi lingkungan, dan evaluasi, keadaan fasilitas, perlengkapan dan media pengajaran penjas yang dimiliki oleh sekolah akan mewarnai kegiatan pembelajaran itu sendiri.

Seperti telah dibahas bahwa minimalnya fasilitas dan perlengkapan pendidikan jasmani yang dimiliki sekolah-sekolah, menuntut guru penjas untuk lebih kreatif dalam memberdayakan dan mengoptimalkan penggunaan fasilitas dan perlengkapan yang ada sesuai dengan kondisi siswa dan sekolahnya. Halaman sekolah, taman, ruangan kosong, parit, selokan dan sebagainya yang ada ada lingkungan sekolah dapat direkayasa dan dimanfaatkan untuk mengoptimal pembelajaran pendidikan jasmani. Dengan melakukan modifikasi fasilitas maupun perlengkapan tersebut sebenarnya tidak akan mengurangi aktivitas siswa dalam melaksanakan pelajaran penjas melainkan sebaliknya, siswa lebih aktif karena siswa difasilitas untuk lebih banyak bergerak, dengan pendekatan bermain dalam suasana riang gembira.

Lutan (1988) menyatakan: Modifikasi dalam mata pelajaran pendidikan jasmani diperlukan dengan tujuan agar: (1). Siswa memperoleh kepuasaan dalam mengikuti pelajaran, (2). Meningkatkan kemungkinan keberhasilan dalam berpartisipasi, (3). Siswa dapat melakukan pola gerak secara benar. Pendekatan modifikasi ini dimaksudkan agar materi yang ada di dalam kurikulum dapat disajikan sesuai dengan tahap-tahap perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotorik anak.

Aussie (1996), mengembangkan modifikasi di Australia dengan pertimbangan: (1). Anak-anak belum memiliki kematangan fisik dan emosional seperti orang dewasa, (2). Berolahraga dengan peralatan dan peraturan yang dimodifikasi akan mengurangi cedera pada anak, (3). Olahraga yang dimodifikasi akan mampu mengembangkan keterampilan anak lebih cepat dibanding dengan peralatan standar untuk orang dewasa, dan (4). Olahraga yang dimodifikasi menumbuhkan kegembiraan dan kesenangan pada anak-anak dalam situasi kompetitif.

Dari pendapat tersebut dapat diartikan bahwa pendekatan modifikasi dapat digunakan sebagai suatu alternatif dalam pembelajaran pendidikan jasmani.

(6)

Karena pendekatan ini mempertimbangkan tahap-tahap perkembangan dan karakteristik anak, sehingga anak akan mengikuti pelajaran pendidikan jasmani dengan senang dan gembira. Dengan melakukan modifikasi, guru penjas akan menyajikan materi pelajaran yang sulit menjadi lebih mudah dan disederhanakan tanpa harus takut kehilangan makna dan apa yang akan diberikan.

Anak akan lebih leluasa bergerak dalam berbagai situasi dan kondisi yang dimodifikasi.

4. Teori Bermain

Bermain merupakan salah satu karakteristik anak sekolah dasar. Bermain adalah suatu kegiatan yang menyenangkan. Kegiatan bermain sangat disukai anak-anak. Bermain yang dilakukan secara tertata sangat bermanfaat untuk mendorong pertumbuhan dan perkembangan anak. Bermain merupakan pengalaman belajar yang sangat berharga untuk anak-anak. Pengalaman itu bisa berupa jalinan hubungan sosial untuk mengungkapkan perasaannya dengan sesama temannya dan menyalurkan hasrat.

a. Aip Syarifudin (2004:17) mengartikan “bermain adalah bentuk kegiatan yang bermanfaat/produktif untuk menyenangkan diri”. Bermain adalah aktivitas yang menyenangkan serius dan sukarela, dimana anak berada dalam dunia tidak nyata atau sesungguhnya. Siswa dan bermain merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Bermain bagi siswa merupakan kebutuhan seperti halnya kebutuhan akan makan akan, minum, tidur dan lain- lain. Melalui bermain anak dapat mengaktualisasi diri dan mempersiapkan diri untuk menjadi dewasa.

b. Menurut Seto (dalam Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas 2008:165) bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan anak-anak dengan spontan dan perasaan gembira, tidak memiliki tujuan ekstrinsik, melibatkan peran aktif anak, memiliki hubungan yang sistematik dengan hal diluar bermain (seperti perkembangan kreativitas sebagai kemampuan kognitif) dan merupakan interaksi antara anak dengan lingkungannya secara memungkinkan anak melakukan adaptasi dengan lingkungan itu.

(7)

c. Menurut W.R. Smith (dalam Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas, 2008:161), seorang psikolog, mengatakan bahwa bermain merupakan dorongan langsung dari dalam diri setiap individu, yang bagi anak- anak merupakan pekerjaan, sedangkan bagi orang dewasa lebih dirasakan.

5. Bermain dalam Pembelajaran Atletik

Pembelajaran atletik dikalangan siswa merupakan pelajaran yang membosankan, karena atletik hanya berisi gerakan yang monoton atau tidak bervariasi, yang isinya meliputi jalan, lari, lempar dan lompat, dan kurang menuntut tingkat keterampilan yang tinggi, namun melelahkan, sehingga unsur keriangan dan kegembiraan tidak terungkap dalam pelaksanaan pembelajaran.

Keadaan semacam ini menyebabkan pembelajaran atletik dalam pendidikan jasmani kurang mendapat perhatian para siswa. Untuk menyesuaikan pembelajaran atletik dengan karakteristik dan minat siswa makan perlu kiranya modifikasi dalam pembelajaran atletik, dimana penekanannya pada aspek bermain, karena bermain adalah bagian dari kehidupan anak.

Bermain dalam pembelajaran atletik maksudnya adalah penambahan unsur bermain dalam pembelajaran atletik. Bermain dalam hal ini sebagai pendekatan ke teknik yang akan dilaksanakan atau permainannya disesuaikan dengan materi yang akan dilaksanakan. Misalnya dalam materi lari, contoh bermainnya adalah memindahkan benda ke tempat yang lain, berlari dengan melewati rintangan dan sebagainya. Pendekatan permainan ini dapat dilakukan dalam nomor-nomor atletik yang lain. Secara filosofis manusia mempunyai ciri yang hakiki manusia sebagai makhluk bermain, sehingga diharapkan siswa menjadi termotivasi dalam mengikuti pembelajaran atletik yang menggunakan pendekatan bermain.

(8)

6. Modifikasi Pembelajaran

Pembelajaran loncat katak dibagi menjadi beberapa tahapan, tahapan- tahapan dalam loncat katak dapat memudahkan siswa dalam menyerap materi (loncat katak). Tahapan loncat katak ini dari gerak yang sederhana ke gerakan yang kompels. Langkah-langkah atau tahapan loncat katak, adalah awalan, tumpuan, melayang di udara dan mendarat. Untuk lebih memotivasi siswa dalam melaksanakan tiap tahapan dalam loncat katak, pembelajaran loncat katak ditambahkan unsur bermain, bermain dalam hal ini permainan yang mengarah ke materi (loncat katak).

Jenis-jenis Modifikasi Pembelajaran

a. Meloncat-loncat Melewati Tali yang Lurus

Tali dibentangkan memanjang di lapangan untuk. Siswa di samping seutas tali yang dibentangkan, setelah ada aba-aba siswa loncat melewati tali.

Gambar 2 Meloncat-loncat Melwati Tali yang Lurus (Sumber: Djumidar. 2003, 6.5)

b. Meloncat-loncat Melewati Tali yang Menyerupai Huruf “S”

Tali dibentangkan membentuk huruf “S” di lapangan untuk diloncati secara zig-zag. Siswa di samping seutas tali yang dibentangkan, setelah ada aba-aba siswa loncat kekanan dan kekiri dengan melewati tali.

Gambar 3 Meloncat-loncat Melewati Tali yang Menyerupai Huruf “S”

(Sumber: Djumidar. 2003, 6.4)

(9)

c. Meloncat-loncat Melewati Tali yang Melingkar

Tali dibentangkan membentuk lingkaran di lapangan untuk diloncati secara zig-zag. Siswa di samping seutas tali yang dibentangkan, setelah ada aba-aba siswa loncat kekanan dan kekiri dengan melewati tali.

Gambar 4 Meloncat-loncat Melewati Tali yang Melingkar (Sumber: Djumidar. 2003, 6.5)

d. Meloncat-loncat Menggunakan Ban Sepeda Bekas yang Disusun Berbentuk Lingkaran.

Ban sepeda bekas diletakkan di lapangan dengan berderet-deret membentuk lingkaran siswa meloncati di dalam ban secara bergantian hingga ban terakhir.

Gambar 5 Meloncat-loncat Menggunakan Ban Sepeda Bekas yang Disusun Berbentuk Lingkaran

(Sumber: Djumidar. 2003. Hal: 6.5)

e. Meloncat-loncat Menggunakan Ban Sepeda Bekas dengan Susunan dari Loncatan yang Sedikit ke Loncatan yang Banyak

Ban sepeda bekas disusun dari jumlah sedikit hingga terbanyak. Siswa meloncati di dalam ban dari loncatan yang sedikit ke loncatan yang banyak.

(10)

Gambar 6 Meloncat-loncat Menggunakan Ban Sepeda Bekas dengan Susunan dari Loncatan yang Sedikit ke Loncatan yang Banyak

(Sumber: Djumidar. 2003, 6.6)

f. Meloncat-loncat Menggunakan Kardus Membentuk Garis Lurus

Kardus diletakkan di lapangan dengan membentuk garis lurus. Siswa meloncati kardus satu persatu hingga kardus terakhir.

Gambar 7 Meloncat-loncat Menggunakan Kardus Membentuk Garis Lurus (Sumber: Djumidar. 2003, 6.7)

g. Meloncat-loncat Menggunakan Kardus Membentuk Huruf “S”

Siswa meloncati kardus satu persatu hingga kardus terakhir.

Gambar 8 Meloncat-loncat Menggunakan Kardus Membentuk Huruf “S”

(Sumber: Djumidar. 2003, 6.7)

(11)

h. Meloncat-loncat Menggunakan Kardus yang Disusun Membentuk Lingkaran yang Terputus.

Siswa meloncati kardus satu persatu hingga kardus terakhir.

Gambar 9 Meloncat-loncat Menggunakan Kardus yang Disusun Membentuk Lingkaran

(Sumber: Djumidar. 2003, 6.7)

i. Meloncat-loncat Menggunakan Kardus yang Membentuk Barisan 3 Berbanjar Kartu diletakkan di tanah membentuk barisan 3 berbanjar. Siswa meloncati kardus yang disusun lurus secara bergantian hingga terakhir.

Gambar 10 Meloncat-loncat Menggunakan Kardus yang Membentuk Barisan 3 Berbanjar

(Sumber: Djumidar. 2003, 6.7) j. Loncat Katak

Loncat katak adalah meloncat seperti katak dengan tumpuan kedua kaki ke depan dari posisi jongkok.

Gambar 11 Loncat Katak (Sumber: Ria Lumintuarso. 2011, 63)

(12)

Siswa melakukan loncat katak tiga kali berturut-turut dengan bertumpu dan mendarat dua kaki.

B. Kerangka Berfikir

Pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang direspon anak dan adanya partisipasi anak sehingga menimbulkan keaktifan anak dalam proses pembelajaran untuk menghasilkan pencapaian prestasi yang sesuai harapan dalam proses pembelajaran.

Permasalahan umum dalam pembelajaran penjas adalah kurang sarana dan peran aktif siswa dalam kegiatan belajar. Proses pembelajaran yang berlangsung belum mewujudkan adanya partisipasi siswa secara penuh. Siswa hanya sebagai subyek dalam pembelajaran. Penggunaan model nyata yang dapat diamati dan dipegang secara langsung oleh siswa memungkinkan siswa untuk terlibat secara aktif dalam kegiatan belajar. Model nyata yang dimaksud adalah media pembelajaran, penggunaan modifikasi alat pembelajaran memungkinkan siswa lebih banyak melakukan kegiatan seperti menyentuh, merasakan, melalui modifikasi alat bantu tersebut.

Pemanfaatan alat bantu sederhana, berupa Modifikasi Alat Pembelajaran, sebagai sarana membantu guru dalam menjelaskan teknik dasar loncat katak pada siswa. Melalui alat bantu sederhana tersebut guru dapat memperlihatkan dan memberikan penjelasan yang lebih terperinci pada anak sehingga anak akan merasakan kesenangan dalam proses pembelajaran loncat katak.

Pembelajaran dengan modifikasi alat pembelajaran anak yang merasa takut, dengan dimodifikasi dengan bentuk bermain dalam aktivitas bermain anak tidak takut lagi. Penggunaan aktivitas bermain anak semakin dan akan dapat merasakan loncat katak yang benar, sehingga antusius anak serta keaktivan akan timbul untuk menuju prestasi yang diharapkan.

Gambar

Gambar 2 Meloncat-loncat Melwati Tali yang Lurus  (Sumber: Djumidar. 2003, 6.5)
Gambar 4 Meloncat-loncat Melewati Tali yang Melingkar  (Sumber: Djumidar. 2003, 6.5)
Gambar 6  Meloncat-loncat  Menggunakan  Ban  Sepeda  Bekas   dengan  Susunan dari Loncatan yang Sedikit ke Loncatan yang Banyak
Gambar 9 Meloncat-loncat Menggunakan Kardus yang Disusun  Membentuk Lingkaran

Referensi

Dokumen terkait

“Bagi mewujudkan masyarakat yang sejahtera dan penyayang bukanlah tugas satu pihak sahaja, tetapi keseluruhan komuniti dan masyarakat Malaysia. Pihak JKM

suatu lembaga yang pembentukan pertama dengan surat keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Barat Nomor 135 Tahun 1990 tanggal 26 Maret 1990 tentang susunan Organisasi

menunjukkan bahwa agresi pada anak dapat terbentuk karena setiap hari anak sering melihat dan menyaksikan kekerasan dalam rumah tangga baik secara langsung atau

Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa kedudukan penderita HIV/AIDS yang adalah manusia yang memiliki hak kodrat dari Tuhan Yang Maha Esa sudah sepatutnya

Alternatif teknologi pengelolaan limbah padat B3 yang dapat direkomendasikan anatara lain dengan pengadaaan bahan yang sesuai kebutuhan; melaksanakan house keeping yang lebih

Pembangunan Indikator Kinerja Sat. Capaian Kinerja SKPD Pelaksana Targ. Meningkatnya budaya dan minat baca masyarakat 6. Pengembangan Budaya Baca dan Pembinaan

Berdasarkan berbagai pendapat di atas, maka dapat dikatakan bahwa faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja dan prestasi kerja pada hakekatnya adalah faktor intern yang timbul

Dari pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa rasio keuangan adalah suatu perhitungan matematis yang dilakukan dengan cara membandingkan beberapa pos tertentu