1
PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PROGRAM REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI ERUPSI GUNUNG MERAPI TAHUN 2010
DI KECAMATAN SRUMBUNG KABUPATEN MAGELANG
Public Participation in the Rehabilitation and Reconstruction Program of the 2010 Merapi Volcano Eruption in Srumbung District of Merapi Regency
Oleh: Malikusniyah dan Yanuardi, M.Si., FIS UNY, [email protected]
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui partisipasi masyarakat dalam program rehabilitasi dan rekonstruksi erupsi Gunung Merapi tahun 2010 di Kecamatan Srumbung Kabupaten Magelang dan menjelaskan faktor pendukung dan penghambat partisipasi masyarakat dalam program rehabilitasi dan rekonstruksi erupsi Gunung di Kecamatan Srumbung Kabupaten Magelang.
Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Peneliti merupakan instrumen utama penelitian dengan menggunakan alat bantu pedoman wawancara dan pedoman observasi. Teknik pengumpulan data dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik pemeriksaan keabsahan data menggunakan triangulasi sumber. Sedangkan teknik analisis data menggunakan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: Partisipasi masyarakat dalam program rehabilitasi dan rekonstruksi erupsi Gunung Merapi tahun 2010 di Kecamatan Srumbung Kabupaten Magelang dilaksanakan dengan bentuk partisipasi masyarakat dalam tahap perencanaan berupa sumbangan saran, pemikiran dan tenaga. Pada tahap pelaksanaan, bentuk partisipasi masyarakat adalah mendukung sebagai pekerja, mendukung bantuan pendanaan, bantuan ketrampilan dan kemahiran. Partisipasi pada tahap evaluasi melalui forum pertemuan rutin setiap 35 hari sekali dan forum pertemuan ibu-ibu PKK disetiap dusun. Terdapat faktor pendukung yaitu faktor ekonomi, kesamaan nasib, adanya kesempatan untuk berpartisipasi dan bantuan pendampingan oleh tenaga ahli.
Faktor penghambat partisipasi masyarakat yaitu kurangnya pengetahuan masyarakat dan keterbatasan dana.
Kata kunci : partisipasi masyarakat, program rehabilitasi dan rekonstruksi, erupsi Gunung Merapi
2 Abstract
This study aims to determine public participation and to explain the supporting and resisting factors of public participation in the rehabilitation and reconstruction program of the 2010 Merapi volcano eruption in Srumbung district of Magelang regency.
This research employs a descriptive analysis method with a qualitative approach. The researcher is the main instrument of the research with the orientation of interview and observation. The techniques of collecting data involved interview , observation , and documentation. To reach the validity of the data, the researcher uses mechanical examination by source triangulation.
The research data were analysed using data collection, data reduction, data presentation and conclusion.
The finding shows that: Public participation in the rehabilitation and reconstruction program of 2010 Merapi volcano eruption in Srumbung district of Magelang regency has been implemented by participation in the planning stages in the form of suggestions, ideas and energy contributions. During the implementation phase the community participation were as the workers, self financis support and skills and proficiency supports. Participation in the evaluation phase was conducted through forums of societies gathering, then reported to the district governments as evidence of accountability programs that have been implemented. There are supporting factors namely the economic factor, the similarity of fate, the chance to participation and support mentoring by experts. Resisting factor of the public participation is that the lack of public knowledge and funds.
Keywords : public participation, the rehabilitation and reconstruction program, Merapi volcano eruption.
PENDAHULUAN
Erupsi Gunung Merapi yang terjadi pada bulan Oktober sampai November 2010. Pada tanggal 26 Oktober terjadi letusan yang pertama diiringi keluarnya awan panas setinggi 1,5 meter yang mengarah ke Kaliadem, Kepuharjo, Sleman. Letusan ke dua terjadi pada 5 November 2010 mengeluarkan awan panas hingga radius 15 km didaerah Kinahrejo, Sleman. Letusan pada tanggal 5 November tersebut merupakan letusan terbesar yang terjadi sejak tahun 1872.
Korban jiwa akibat erupsi Gunung Merapi 2010 sebanyak 337 orang.
Korban terbanyak di Kabupaten Sleman yaitu 246 jiwa, Kabupaten Magelang 52 jiwa, Klaten 29 jiwa, dan Boyolali 10 jiwa. Sedangkan jumlah pengungsi mencapai 410.388 orang.
(BNPB, 2010)
Dampak dari aktivitas Gunung Merapi tersebut berpotensi menimbulkan bencana. Bencana merupakan peristiwa atau rangkaian peristiwa yang dapat mengancam dan mengganggu kehidupan serta penghidupan masyarakat yang
disebabkan baik oleh faktor alam maupun faktor nonalam yang mengakibatkan timbulnya korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis.
Bencana tidak dapat di prediksi kapan terjadinya, namun dampak yang berpotensi bencana tersebut dapat dipelajari untuk ditangani dan diminimalisir kerugiannya. Untuk mengurangi dampak kerugian akibat bencana perlu dilakukan penanggulangan bencana.(UU No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana).
Pada kondisi ini diperlukan bantuan dari semua pihak untuk membantu pemulihan secara segera. Sesuai dengan Undang Undang No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, penangaan bencana pada tahap pasca bencana terdiri dari tahap rehabilitasi dan rekonstruksi.
(Pedoman Umum Penyelenggaraan Rehabilitasi Dan Rekonstruksi Pasca Bencana)
Pada erupsi Gunung Merapi tahun 2010 program rehabilitasi dan rekonstruksi berlangsung dalam dua
fase, yaitu fase pertama pada bulan Februari 2012 hingga Mei 2013 dan fase kedua pada bulan Februari 2013 hingga September 2014. Program rehabilitasi dan rekonstruksi ini mencakup tiga aspek. Pertama, pemulihan penghidupan berkelanjutan dan dukungan peningkatan pendapatan dengan memasukkan pendekatan analisis rantai nilai untuk komoditas terpilih. Kedua penguatan kapasitas pemerintah daerah untuk mengelola dan mengkoordinasikan program pemulihan berbasis pengurangan risiko bencana (PRB) dengan pengurus utama serta melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Ketiga, peningkatan ketangguhan dan penguatan kerjasama antara masyarakat dampingan dengan pemangku kepentingan. (BNPB, 2012)
Bantuan yang diberikan untuk lahan pertanian berupa pemberian bibit tanaman salak, pupuk dan alat pertanian. Untuk mendukung agar lahan pertanian cepat pulih pemerintah juga membangun kembali jalur irigasi untuk pengairan pertanian secara permanen yang dikerjakan secara
gotong royong oleh masyarakat dengan pendanaan matrial dari pemerintah. Selain sektor pertanian pemerintah juga memberikan bantuan kepada kelompok ekonomi produktif yaitu bantuan domba untuk diternakan.
Bantuan diberikan melalui kelompok tani dan kelompok ternak dengan tujuan untuk mempermudah dalam monitoring yang dilakukan pemerintah terkait.
Berdasarkan hasil observasi peneliti, partisipasi masyarakat dalam program rehabilitasi dan rekonstruksi masih terbatas pada beberapa orang yang aktif dan belum merata pada seluruh masyarakat Kecamatan Srumbung. Dari uraian latar belakang tersebut maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang partisipasi masyarakat dalam program rehabilitasi dan rekonstruksi erupsi Gunung Merapi tahun 2010 di Kecamatan Srumbung Kabupaten Magelang.
METODE PENELITIAN Desain Penelitian
Dalam penelitian ini pendekatan yang digunakan yaitu menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif.
Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini telah dilaksanakan di Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Magelang, Kantor, Kecamatan Srumbung dan Wilayah Kecamatan Srumbung Kabupaten Magelang.
Penelitian telah dilaksanakan dari tanggal 15 Mei sampai tanggal 30 September 2015.
Sebjek Penelitian
Bapak Arif Mutohar, kasi rekonstruksi BPBD Kab.Magelang.
Bapak Muchibin kasi
Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Kecamatan Srumbung.
Bapak Suprihno, Kepala Dusun Grogolsari. Bapak Warjono, anggota kelompok tani Candi Makmur. Ibu Jariyah, anggota kelompok simpan pinjam Guyup Rukun.
Instrumen Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti bertindak sebagai instrumen utama, peneliti merupakan instrumen kunci.
Sumber dan Jenis Data
Data primer penelitian ini diperoleh dari observasi dan wawancara langsung dengan subjek penelitian yaitu Bapak Arif Mutohar kasi Rehabititasi BPBD Kab.Magelang, Bapak Arif Mutohar kasi rekonstruksi BPBD Kab.Magelang,
Bapak Muchibin kasi
Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Kecamatan Srumbung. Data sekunder dalam penelitian yaitu Peraturan Bupati Magelang Nomor 41 Tahun 2011 tentang Rencana Aksi Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Bencana Erupsi Gunung Merapi Kabupaten Magelang Tahun 2011-2013, Laporan Program Rehabilitasi dan Rekonstruksi Kecamatan Srumbung Tahun 2011- 2013, partisipasi masyarakat dalam program rehabilitasi dan rekonstruksi erupsi Gunung Merapi
tahun 2010 di Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang.
Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulana data yang digunakan: (1) wawancara dilakukan kepada Bapak Arif Mutohar kasi rekonstruksi BPBD Kab.Magelang, Bapak Muchibin kasi Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Kecamatan Srumbung.
Bapak Budi Wiranto Ketua Kelompok Tani Jurang Jero Asri, Ibu Jariyah anggota kelompok simpan pinjam Guyup Rukun. (2) Observasi peneliti juga menggunakan metode partisipatoris dimana selain terjun langsung kelapangan peneliti juga turut serta dalam berbagai bentuk proses pengamatan tentang partisipasi masyarakat dalam program rehabilitasi dan rekonstruksi erupsi Gunung Merapi di Kecamatan Srumbung tahun 2010. (3) Dokumen yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari Peraturan Bupati Magelang Nomor 41 Tahun 2011 tentang Rencana Aksi Rehabilitasi dan Rekonstruksi
Pasca Bencana Erupsi Gunung Merapi Kabupaten Magelang Tahun 2011-2013, Laporan Program Rehabilitasi dan Rekonstruksi Kecamatan Srumbung Tahun 2011- 2013.
Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data
Dalam penelitian ini, peneliti memilih menggunakan triangulasi dengan sumber. Triangulasi dengan sumber berarti membandingkan dan mengecek ulang dengan derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melui waktu dan alat berbeda dalam metode kualitatif.
Teknik Analisis Data
Menurut Miles (1992) ada tiga alur yang digunakan yaitu: Reduksi Data (data reduction), Penyajian data (Display data), Penarikan Kesimpulan (Verification).
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1. Hasil Penelitian
A. Deskripsi umum Wilayah Penelitian
Kecamatan Srumbung terletak di radius 10 km dari puncak Gunung Merapi, pada erupsi tahun 2010 semua warga masyarakat Kecamatan Srumbung diungsikan dan dievakuasi. Kecamatan Srumbung termasuk dalam kawasan rawan bencana Gunung Merapi, kawasan rawan bencana Gunung Merapi dibagi menjadi tiga tingkatan yaitu Kawasan Rawan Bencana III, Kawasan Rawan Bencana II, dan Kawasan Rawan Bencana I.
Pada tanggal 20 September 2010, status kegiatan Gunung Merapi ditingkatkan dari Normal menjadi Waspada, dan selanjutnya ditingkatkan kembali menjadi Siaga (Level III) pada 21 Oktober 2010 dan
pada 25 Oktober 2010 status kegiatan Gunung Merapi dinaikkan dari “Siaga” (Level III) menjadi “Awas” (Level IV). Pada 26 Oktober 2010 Gunung Merapi mengalami erupsi pertama dan berlanjut dengan erupsi hingga 5 November 2010. Akibat dari erupsi Gunung Merapi tahun 2010 tersebut kerusakan terparah terjadi pada tanaman pertanian salak ngumut yang tertimbun abu vulkanik setinggi 10cm, yang mengakibatkan tanaman pertanian menjadi rusak dan mati. Kecamatan Srumbung juga dilewati sungai yang berhulu dari lereng Gunung Merapi diantaranya sungai Kali Putih, Krasak dan Bebeng yang semuanya di lewati aliran lahar dingin.
B. Deskripsi Hasil Penelitian Target rehabilitasi dan rekonstruksi pasca erupsi Gunung Merapi tahun 2010 di
Kecamatan Srumbung mempunyai fokus kegiatan pada tiga sektor, yaitu: sektor infrastruktur (rehabilitasi jalan desa, air bersih dan saluran irigasi ) bekerjasama dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Energi Sumber Daya Mineral, sektor ekonomi produktif (bantuan pertanian dan ternak) bekerja sama dengan Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, Perkebunan dan Kehutanan dan Dinas Peternakan dan Pertanian, serta sektor lintas sektor (pembangunan sarana pendukung pengungsi) bekerja sama dengan Dinas Bina Marga.
2. Pembahasan
Program rehabilitasi dan rekonstruksi dapat terlakasana apabila ada kerja sama yang baik antara pemerintah dengan masyarakat. Agar program tersebut sesuai dengan kebutuhan masyarakat maka perlu disusun berdasarkan tahap
pembangunan seperti yang dikemukakan oleh Ericson (dalam Slamet, 1994: 89) , terdiri dari tiga tahap yaitu perencanaan,pelaksanaan dan evaluasi yang akan dibahas secara rinci dibawah ini.
a. Partisipasi Masyarakat pada Tahap Perencanaan. Bentuk partisipasi masyarakat pada tahap perencanaan berupa sumbangan saran, pemikiran dan tenaga. Masyarakat diberikan informasi dan kesempatan untuk mengeluarkan pendapatnya tentang program utama yang menjadi fokus pemerintah Kecamatan Srumbung dalam rehabilitasi dan rekonstruksi pasca erupsi Gunung Merapi tahun 2010, yaitu fokus pada program infrastruktur, ekonomi produktif, dan lintas sektor.
b. Partisipasi Masyarakat pada Tahap Pelaksanaan.
Partisipasi dalam tahap
pelaksanaan sudah berlangsung sebagai pekerja dan swadaya pendanaan, dan partisipasi ketrampilan dan kemahiran. Pelaksanaan program rehabilitasi dan rekonstruksi yang sudah berjalan dengan baik tidak lepas dari peran serta pemerintah dan pihak swasta. Pemerintah melalui BPBD Kabupaten Magelang bekerjasama dengan dinas terkaitdibantu oleh REKOMPAK dan PNPM Mandiri melakukan pendampingan kepada
masyarakat dalam
pelaksanaan program agar berjalan dengan baik.
c. Partisipasi Masyarakat pada Tahap Evaluasi
Evaluasi pelaksanaan program rehabilitasi dan rekonstruksi pada tingkat masyarakat dusun dilakukan melalui forum pertemuan rutin setiap 35 hari sekali
(selapanan), setiap desa pasti ada forum selapanan yang dihadiri oleh bapak- bapak dan pemuda dusun, sedangkan untuk ibu-ibu ada sendiri yaitu forum ibu-ibu PKK yang diadakan berbeda-beda ada yang satu minggu sekali, dua minggu sekali dan satu bulan sekali.
Dalam forum ini, saran dan kritik yang diperoleh dari forum-forum tersebut akan disuarakan dan dibahas secara lebih lanjut.
Faktor pendukung dan penghambat partisipasi masyarakat dalam program rehabilitasi dan rekonstruksi erupsi Gunung Merapi tahun 2010 di Kecamatan Srumbung sebagai berikut:
Faktor pendukung, yaitu:
faktor ekonomi, kesamaan nasib, adanya kesempatan untuk berpartisipasi dan bantuan pendampingan oleh tenaga ahli. Faktor
Penghambat, yaitu:
Kurangnya pengetahuan masyarakat, keterbatasan dana dan menurunnya semangat gotong royong.
Dapat diketahui bahwa program rehabilitasi dan rekonstruksi di Kecamatan Srumbung telah melibatkan masyarakat mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi sehingga partisipasi masyarakat di Kecamatan Srumbung sudah terlaksana. Tingkat partisipasi masyarakat dalam setiap tahapannya stabil yaitu pada tahapan fungsional dan interaktif.
Masyarakat dibantu oleh lembaga pemerintah telah melaksanakan program rehabilitasi dan rekonstruksi dengan baik, terlihat dengan semakin meningkatnya keterlibatan masyarakat untuk berperan dan mempengaruhi keberhasilan
kegiatan. Peningkatan kemampuan masyarakat untuk berpartisipasi tidak terlepas dari upaya pemerintah sebagai fasilitator dan pengendali dalam setiap program yang dilaksanakan. Program rehabilitasi dan rekonstruksi di Kecamatan Srumbung bertujuan untuk membangun dari, oleh dan untuk masyarakat.
Meskipun partisipasi masyarakat dalam program rehabilitasi dan rekonstruksi sudah berjalan dengan baik, namun masih terdapat kelemahan. Keterbatasan pendanaan yang dimiliki pemerintah maka proses rehabilitasi dan rekonstruksi tidak dilakukan pada semua desa di Kecamatan Srumbung, pelaksanaan program diutamakan pada daerah KRB III, keterbatasan dana juga
membuat masyarakat harus melakukan swadaya baik pendanaan, matrial dan tenaga agar program pembangunan infrastruktur segera diselesaikan. Untuk bantuan bagi desa di KRB II dibantu oleh PNPM Mandiri namun dilaksanakan setelah program rehabilitasi dan rekonstruksi. jadi dapat dikatakan bahwa aspek
manfaat program
rehabilitasi dan rekonstruksi belum sepenuhnya diterima oleh masyarakat.
KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
1. Program rehabilitasi dan rekonstruksi yang menjadi fokus pemerintah Kecamatan Srumbung pasca erupsi Gunung Merapi tahun 2010, yaitu fokus pada program infrastruktur, ekonomi produktif, dan lintas sektor.
2. Partisipasi masyarakat dalam program rehabilitasi dan rekonstruksi pada tahap perencanaan sudah berlangusung berupa sumbangan saran, pemikiran dan tenaga.
3. Partisipasi masyarakat dalam program rehabilitasi dan rekonstruksi pada tahap pelaksanaan sudah berlangsung sebagai pekerja, swadaya pendanaan, partisipasi ketrampilan dan kemahiran.
4. Partisipasi masyarakat dalam program rehabilitasi dan rekonstruksi pada tahap evaluasi dilakukan melalui forum pertemun dusun dan desa, kemudian dilaporkan ke pemerintah kecamatan sebagai bukti pertanggung jawaban program yang sudah dilaksanakan.
5. Adanya faktor pendukung dan penghambat, yaitu:
Faktor ekonomi, kesamaan nasib, adanya kesempatan
untuk berpartisipasi, dan bantuan Pendampingan oleh tenaga ahli. Faktor Penghambat yaitu kurangnya pengetahuan masyarakat, keterbatasan dana, dan menurunnya semangat gotong royong.
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan atas hasil penelitian dan pembahasan maka peneliti memberikan saran sebagai berikut:
1. Pemerintah sebaiknya memberikan penyuluhan dan pengertian kepada masyarakat tentang besarnya manfaat tentang pentingnya keterlibatan partisipasi masyarakat dalam program rehabilitasi dan rekonstruksi untuk kemandirian masyarakat yang tinggal di daerah rawan erupsi Gunung Merapi seperti Kecamatan Srumbung sehingga menjadi bekal apabila nantinya terjadi
kembali erupsi Gunung Merapi.
2. Meningkatkan peran, tugas dan fungsi masyarakat yang
menerima program
rehabilitasi dan rekonstruksi untuk lebih aktif memelihara dan menjaga hasil dari program yang sudah dilakukan agar program tersebut.
3. Melakukan koordinasi aktif kepada pemerintah
kecamatan dengan
masyarakat terkait program rehabilitasi dan rekonstruksi untuk pengembangan program yang sudah terlaksana sehingga menjadikan partisipasi masyarakat mandiri dan berkelanjutan.
DAFTAR PUSTAKA
BNPB dan Bappenas .2010. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana (Renas PB) 2010- 2014, yang dipublikasikan oleh BNPB dan Kem/Bappenas
Christina Y Kusmiati.2005.Jurnal Administrasi Publik, Vol 4, No.2:Perbaikan Manajemen Penanggulangaan
Bencana.Bandung:Universitas Katolik Parahyangan.
Ibrahim Suratinijo .2001.Partisipasi Masyarakat dalam Program Sanitasi oleh Masyarakat di Desa Bajo Kecamatan Talimutu Kabupaten Balendono Gorontalo.1-15 Diskusi Mitigasi Pasca Bencana Alam Gempa Bumi
dan Tsunami
Aceh.Bandung:UNPAR
Ife dan Tesoriero. 2008. Community Development Alternatif Pengenmbangan Masyarakat di Era Globalisasi.
Yogyakarta. Pustaka Pelajar.
I Nyoman Sumaryadi. 2010. Sosiologi pemerintahan. Bogor: Ghalia Indonesia
Mardikanto, T & Soebiato, P.2012.
Pemberdayaan masyarakat dalam perspektif kebijakan publik.:Alfabeta.
McEntire, David A. et.al.2002. A Comparison of Disaster Paradigma: The Search for a Holistic Policy Guide.Public Administration Review 62 (3):
267-281.
Moleong, Lexy . 2009. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Siti Irene Astuti D, D.2007. Partisipasi
Masyarakat dalam
Desentralisasi Pendidikan:
Penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dan Partisipasi Orangtua Dalam Peningkatan Mutu Pada Satuan Pendidikan.
Slamet, Y.1994. Pembangunan Masyarakat Berwawasan Partisipasi. Surakarta.
Sebelas Maret University Press.
Sobirin, Supardiono.
dkk.2005.Manajemen Gempa dan Tsunami. Dalam Prosiding Sunarti, S.2003. Partisipasi
Masyarakat dalam
Pembangunan Perumahan Secara Berkelompok. Jurnal Tata Loka, 5(1).
Sundariningrum.2001. Partisipasi Masyarakat . Penerbit Pelajar Yogjakarta:Yogyakarta
Undang-undang Nomor 24 tahun 2007 tentang Penangulangan Bencana