ORIGINAL ARTICLE
Makna Kristus sebagai Tujuan Akhir Hukum Taurat dalam Roma 10:4
*The Meaning of Christ as the Ultimate End of the Torah in Romans 10:4
Yuli Putri Berkati Hulu1
1Prodi S1 Teologi STT Banua Niha Keriso Protestan Sundermann Nias [email protected]
Received: 24 August 2021 | Revised: 4 October 2021 | Accepted: 15 October 2021 | Published online: 16 October 2021 Copyright © The Author(s) 2021
Abstract
Salvation is only obtained through faith in Christ, not by relying on the law, as Romans 10:4 states. The Torah, which has a function to lead humans to salvation, cannot achieve its ultimate end because humans tend to sin.
Therefore, the law needs the power to realize its ultimate end, namely Christ, who has overcome the power of sin, so that the ultimate end of the law is Christ. The research method used is a qualitative method that refers explicitly to the New Testament biblical study. Through studying the Torah and its relation to salvation in the Old Testament, Paul's understanding and experience of salvation and the way Christ saves, salvation is measured in Christ, not the Torah.
Keywords: Christ, Romans 10:4, salvation, the ultimate end, Torah
Abstrak
Keselamatan hanya diperoleh melalui iman kepada Kristus bukan karena mengandalkan hukum Taurat, seperti yang dinyatakan dalam Roma 10:4. Hukum Taurat yang memiliki fungsi untuk menuntun manusia pada keselamatan tidak mampu mencapai tujuan akhirnya karena manusia yang cenderung melakukan dosa. Oleh karena itu, hukum Taurat membutuhkan kuasa yang mampu mewujudkan tujuan akhirnya yakni Kristus yang telah mengalahkan kuasa dosa, sehingga tujuan akhir hukum Taurat adalah Kristus. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif yang secara khusus merujuk pada kajian biblika Perjanjian Baru. Melalui kajian hukum Taurat dan hubungannya dengan keselamatan dalam konsep Perjanjian Lama, pemahaman Rasul Paulus dibarengi dengan pemahaman tentang keselamatan dari Kristus serta cara Kristus menyelamatkan, maka ukuran keselamatan adalah Kristus dan bukan hukum Taurat.
Kata kunci: hukum Taurat, keselamatan, Kristus, Roma 10:4, telos
Pendahuluan
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini, turut mendorong perkembangan dalam bidang ilmu teologi. Perkembangan ilmu teologi mengharuskan orang Kristen untuk bergumul dalam berbagai kajian yang relevan dan dapat digunakan untuk meneguhkan iman kepada Kristus. Kajian terhadap kata, frasa, istilah (bahasa) dalam Alkitab memengaruhi pemahaman orang percaya terhadap imannya kepada Kristus. Hal ini sejalan dengan klaim Gadamer dalam Verdianto (2020) bahwa pemahaman hermeneutika terjadi ketika teks dan penafsirnya saling menyatu. Seorang interpreter
teks harus hati-hati memahami arti tersembunyi dari bahasa yang diungkapkan oleh penulis.1 Banyak nats-nats Alkitab yang maknanya kurang tepat sasaran karena penggunaan kata-kata, salah satunya adalah Roma 10:4 yang berbunyi “sebab Kristus
*Artikel ini merupakan intisari Skripsi Yuli Putri Berkati Hulu, “Makna Kristus Sebagai Tujuan Akhir Hukum Taurat Dalam Roma 10:4” (STT BNKP Sundermann, 2021).
1 Yohanes Verdianto, “Hermeneutika Alkitab Dalam Sejarah: Prinsip Penafsiran Alkitab Dari Masa Ke Masa,” Mitra Sriwijaya: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen 1, no. 1 (July 10, 2020): 45–57, http://sttsriwijaya.ac.id/e-
journal/index.php/mitra_sriwijaya/article/view/2.
adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya”.
Roma 10:4 hendak menyatakan bahwa Kristus lebih berkuasa daripada hukum Taurat untuk memberikan kebenaran yang mendatangkan keselamatan bagi setiap orang percaya. Hal ini berkenaan dengan keadaan yang tengah dihadapi oleh jemaat Roma karena adanya perbedaan pendapat yang membentuk dua kelompok, yakni lemah iman dan kuat iman. Kelompok lemah iman adalah orang Kristen Yahudi yang tetap mengandalkan hukum Taurat sebagai jalan keselamatan, sedangkan kelompok kuat iman adalah orang Kristen non-Yahudi yang tidak bergantung pada hukum Taurat. Orang Yahudi tidak mudah melepaskan hukum Taurat dalam kehidupannya termasuk dalam pemahaman tentang Kristus dan keselamatan yang dibawa-Nya untuk manusia. Hal ini disebabkan karena Taurat adalah kebanggaan orang Yahudi (Roma 2:17-23);2 hukum Taurat menjadi sandaran untuk mengetahui kehendak Allah. Sebab orang Yahudi percaya bahwa Allah telah melakukan perjanjian khusus dengan leluhur mereka, sehingga mereka menjadi umat perjanjian (Ul. 4:31) dan hukum Taurat menjadi bagian integral dalam perjanjian tersebut (Ulangan 4:1, 10, 40; 5:29-33, 6:1-2, 18, 24).3 Oleh karena itu, orang Yahudi cenderung memaksakan agar orang yang mengikut Kristus melaksanakan hukum Taurat.
Namun, hal ini akhirnya menyebabkan ancaman perpecahan dalam jemaat Roma. Oleh karena itu, Paulus menjelaskan bahwa hukum Taurat tidak mampu untuk menyelamatkan manusia dari kuasa dosa, sehingga dari hukum Taurat dosa menjadi nyata (Roma 7:1-25).4 Bukan karena hukum Taurat jahat tapi karena dosa yang telah ada dalam diri manusia (Roma 5:12-14) membuat manusia tidak dapat mengikuti kehendak hukum Taurat.5 Paulus memahami bahwa keselamatan adalah pembenaran karena iman, mengenal Allah,
2 Shintia Maria Kapojos and Hengki Wijaya, “Konsep Bermegah (Boasting) Dalam Surat Roma Dan Implikasinya Bagi Gereja Masa Kini,” FIDEI: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika 2, no. 1 (June 18, 2019): 1–19, http://www.stt- tawangmangu.ac.id/e-journal/index.php/fidei/article/view/24.
3 Samuel Benyamin Hakh, “Persoalan Status Sebagai Anak-Anak Abraham Dalam Surat Galatia,” GEMA TEOLOGIKA 1, no. 1 (April 28, 2016): 13, http://journal- theo.ukdw.ac.id/index.php/gemateologika/article/view/209.
4 Th. Van den End, Tafsiran Alkitab Surat Roma (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1995).
5 Ibid.
penebusan dalam Kristus, dan Roh yang memberi hidup.6
Hukum Taurat tidak mendorong manusia agar melakukan dosa karena hukum Taurat adalah baik, benar, dan kudus (Roma 7:12).7 Akan tetapi, hukum Taurat tidak dapat melawan kuasa dosa membuatnya tidak dapat memberikan hidup (Gal.
3:21) karena tidak ada yang dapat sempurna untuk melaksanakan hukum Taurat (Roma 8:7).8 Namun, karena Allah mengasihi manusia, maka Allah memberikan kuasa besar dengan hadir dalam dunia dan mengalahkan bahkan mematikan kuasa dosa.
Allah yang mampu menghukum dunia dan manusia tidak melakukan penghukuman tetapi memberikan nyawa-Nya untuk yang patut dihukum, inilah kuasa Allah dalam Kristus (dynamis tou Theou - Roma 1:16-17), supaya manusia diselamatkan (Roma 1:14-15).9 Dengan demikian Allah menyatakan kebenaranya-Nya (Roma 1:17, 3:5, 21-22, 25-26),10 sehingga benar bahwa keselamatan adalah anugerah Allah bukan karena kebenaran manusia.
Dengan demikian orang percaya tidak lagi hidup dalam dosa tetapi hidup dalam roh dan harapan akan keselamatan.11 Karena itu, Paulus mengingatkan jemaat Roma bahwa mereka yang percaya kepada Kristus harus hidup dalam anugerah itu dan bertanggungjawab untuk membawa orang- orang yang belum percaya menjadi percaya kepada Kristus.
Namun, realita adalah masih ada orang percaya yang justru menjadikan pelaksanaan hukum Taurat sebagai ukuran keselamatan, sehingga banyak orang percaya yang dengan mudah menghakimi orang lain termasuk saudara yang seiman. Sadar atau tidak, akhirnya orang percaya tidak lagi menjadikan Kristus sebagai ukuran keselamatan tetapi oleh kemampuan melakukan hukum Taurat. Kasus ini sama seperti yang
6Tom Jacobs, Paulus: Hidup, Karya Dan Teologinya (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010), 175-238.
7 Dave Hagelberg, Tafsiran Roma Dari Bahasa Yunani (Bandung: Kalam Hidup, 2013), 132–133.
8 George Eldon Ladd, A Theology of the New Testament (Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 1991), 539.
9 Iwan Kurniawan, “Konsep Keselamatan Menurut Rasul Paulus Dalam Surat Roma Dan Implikasinya Terhadap Kehidupan Umat Beragama Di Indonesia” (Universitas Kristen Duta Wacana, 2016), https://katalog.ukdw.ac.id/1979/.
10 Aya Susanti, “Keselamatan Dalam Konsep Rasul Paulus,” Integritas: Jurnal Teologi 1, no. 1 (June 27, 2019):
15–28,
http://journal.sttjaffrayjakarta.ac.id/index.php/JI/article/view/8.
11 Jacobs, Paulus: Hidup, Karya Dan Teologinya, 127–
134.
dihadapi oleh jemaat Roma, sehingga Paulus menegaskan kepada mereka bahwa Kristus adalah kegenapan hukum Taurat. Akan tetapi pemahaman orang percaya sekarang dengan kata kegenapan tidak seperti yang dipahami oleh Paulus dan jemaat Roma karena banyak yang justru secara tidak sengaja memandang bahwa hukum Taurat lebih tinggi, sehingga Kristus harus menanggung maut demi menggenapi hukum Taurat. Inilah yang akhirnya mendorong pemahaman bahwa hukum Taurat memiliki andil dalam keselamatan manusia.
Akhirnya orang percaya menjadi seperti bangsa Yahudi yang mengandalkan pahala untuk memperoleh keselamatan.12
Seseungguhnya manusia yang telah diselamatkan bebas dari hukum Taurat (Roma 7:6) dan melayani dalam kebaruan Roh.13 Artinya, orang yang telah dibenarkan dalam kebenaran Allah melalui keselamatan dari Kristus yang telah mengalahkan dosa menjadi orang yang dibaharui dalam Roh dan mengerti tujuannya sebagai orang yang telah diselamatkan, yakni untuk memberitakan keselamatan yang sama kepada mereka yang masih hidup dalam perhambaan dosa dan hukum Taurat.
Dari penjelasan di atas, untuk memberikan pemahaman yang benar tentang keselamatan yang berasal dari Kristus adalah dengan menggunakan kata yang tepat untuk menjelaskan bahwa Kristus lebih berkuasa daripada hukum Taurat sehingga orang percaya dapat memaknainya dalam kehidupan sehari-hari. Kata kegenapan, yakni telos (τέλος) perlu diungkapkan dalam kata atau istilah lain yang lebih mampu dipahami oleh orang percaya, pendengar khotbah, dan semua orang percaya.
Akhirnya, tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan sekaligus memberikan pemahaman tentang Kristus sebagai ukuran keselamatan agar orang percaya dapat memaknainya melalui penggunaan kata yang mudah untuk menjelaskan telos. Secara khusus, penulis membahas bagaimana Kristus dipahami sebagai telos hukum Taurat.
Kristus tidak hanya dimaknai sebagai kegenapan hukum Taurat tapi Kristus dimaknai sebagai ‘tujuan akhir’ hukum Taurat.
Metode
12 J. Sidlow Baxter, Menggali Isi Alkitab 2: Ayub Sampai Dengan Maleakhi (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2012), 473.
13 Susanti, “Keselamatan Dalam Konsep Rasul Paulus.”
Penulis melakukan penelitian dengan motode kualitatif yakni penelitian yang ditunjukkan untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian.14 Peneliti menggunakan motode penelitian ini untuk memahami kompleksitas dan proses; serta variabel terkait yang belum teridentifikasi.15 Pembahasan dimulai dengan mengkaji latar belakang hukum Taurat dalam Perjanjian Lama, disusul dengan kesimpulan istilah yang sesuai untuk telos yang dihubungkan dengan pandangan Paulus tentang hukum Taurat, akhirnya adalah implikasi pemaknaan Kristus sebagai tujuan akhir hukum Taurat. Penelitian ini juga dibarengi dengan penelitian lapangan dengan melakukan wawancara, data dianalisis dengan interactive model Miles dan Huberman serta hermeneutic.16
Hasil dan Pembahasan
Temuan penelitian menunjukan bahwa masih banyak orang percaya yang menjadikan hukum Taurat sebagai ukuran keselamatan, sehingga tanpa sengaja menghakimi orang lain yang melanggar atau tidak menghargai hukum Taurat. Orang percaya menjadi tertutup pada orang yang tidak percaya kepada Kristus, sehingga orang yang melakukan pelanggaran dan masih hidup dalam dosa tetap hidup di dalamnya. Keselamatan yang diberikan oleh Kristus tidak digunakan untuk menyelamatkan orang lain tetapi justru menjadi batu sandungan bagi sesama. Hukum Taurat menjadi ukuran keselamatan karena dipengaruhi oleh beberapa hal (Tabel 1).
Tabel 1: Aspek yang Memengaruhi dan Akibatnya
Aspek yang Memengaruhi Akibat Efektivitas pengajaran Injil
dari awal
Membentuk pemahaman Pengajaran dalam keluarga Kurang kritis
Iman yang bersifat warisan Minimnya bahan pengajaran
dan kemampuan SDM
Iman yang didikte
Pengaruh agama lain Tidak mengenal iman dengan jelas
Metode pengajaran katekisasi Katekumen hanya menghafal tidak memahami
Sosial dan budaya Kebiasaan memengaruhi pemahaman
14 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012).
15 Catherine Marshall and Gretchen B. Rossman, Designing Qualitative Research, 6th ed. (Thousand Oaks, CA:
SAGE Publications, Inc., 2015).
16 Janice D. Crist and Christine A. Tanner,
“Interpretation/Analysis Methods in Hermeneutic Interpretive Phenomenology,” Nursing Research 52, no. 3 (2003): 202–205.
Tabel di atas menunjukkan bahwa pemahaman warga jemaat tentang keselamatan terbagun dari dua bentuk pemahaman, yakni pertama, keselamatan hanya dengan iman kepada Kristus, sebagai akibat dari kesungguhan dalam persekutuan dan menelaah Alkitab dan kedua, keselamatan hanya di dalam Kristus dan melakukan hukum Taurat.
Pelayan gereja sebagian besar telah memahami bahwa keselamatan adalah anugerah Allah dalam Kristus yang telah memberikan keselamatan. Namun, kenyataan bahwa orang percaya masih mengantungkan keselamatannya pada hukum Taurat tidak dapat disangkal. Ada banyak faktor yang menyebabkan hal di atas, yakni pengajaran awal yang belum efektif (sejak Injil diterima di daerah yang belum pernah terjamah sebelumnya), bahan-bahan pengajaran yang terbatas diikuti dengan keterbatasan sumber daya manusia untuk mempergunakan bahan pengajaran, pengajaran dalam keluarga, metode pengajaran dalam Sekolah Minggu dan katekisasi, pemahaman agama lama, dan budaya yang telah melekat [Etaniusman Zega & Otilina Hondro, Wawancara, 03-05-2021].
Meski demikian, seiring perkembangan zaman dan teknologi memberikan pengaruh besar bagi orang percaya untuk memahami dan mengenal imannya, sehingga sebagian orang percaya keluar dari pemahaman bahwa pelaksanaan hukum Taurat adalah jaminan keselamatan dengan tetap menelaah Alkitab [Sowanolo Hulu, Wawancara, 07-05-2021].
Berdasarkan informasi ini, dapat disimpulkan bahwa orang percaya yang bergumul dengan imannya dan mencari kebenaran melalui penelaahan Alkitab baik dalam persekutuan ataupun secara pribadi memberikan pemahaman yang benar tentang Kristus sebagai pemberi keselamatan.
Faktor dan akibat saling berhubungan dalam membangun pemahaman orang percaya tentang Kristus sebagai keselamatan. Dari penelitian yang telah dilaksanakan, sangat jelas bahwa efektivitas pengajaran dari awal masuknya Injil di suatu daerah menentukan iman jemaat. Terlebih hal ini menjadi terabaikan apabila jemaat yang menerima Injil tidak menjadikan Injil sebagai motivasi utama, justru mengharapkan keuntungan lain apabila mau menerima Injil. Misalnya, jaminan keamanan, pendidikan, dan lain sebagainya, sehingga makna dari Kristus sebagai keselamatan tidak dihidupi.
Demikian juga dengan pengajaran dalam keluarga, apabila orang tua hanya menerima pengajaran dengan secara mengambil dikte, hal yang sama
akan berlanjut terus kepada anak. Akibatnya adalah ketiadaan kemampuan kritis terhadap pengajaran yang diterima, menyangkut pengajaran yang menyimpang, yang menjadikan hukum Taurat sebagai ukuran keselamatan. Hal ini akhirnya membangun iman warisan, dimana penerima warisan tidak memahami imannya tetapi tetap mengaku sebagai orang beriman.
Keterbatasan bahan ajaran yang memadai juga menjadi faktor yang mendorong orang percaya memiliki pemahaman yang menyimpang dengan memahami bahwa hukum Taurat adalah keselamatan. Hal ini juga, dipengaruhi oleh keterbatasan sumber daya manusia untuk memahami pengajaran yang diterima atau bahkan orang yang tidak memiliki talenta untuk mengajar diharuskan untuk mengajar dan akhirnya pengajaran tidak tepat. Demikian pula dengan metode pengajaran dalam keluarga, atau dalam katekisasi yang pada awalnya hanya menggunakan metode menghafal, sehingga orang-orang mampu menghafal tapi tidak memahami termasuk hukum Taurat. Hukum Taurat terkhusus Kesepuluh Firman (Kel. 20:1-17) dapat dihafal tapi tidak mengetahui maknanya.
Belum lagi pengaruh dari agama lama yang menyebabkan keburaman iman. Orang yang dipengaruhi oleh agama lama menyatakan bahwa perbuatan akan mendatangkan berkat ataupun kutuk dihubungkan dengan pelaksanaan hukum Taurat, sehingga pemahaman bahwa hukum Taurat adalah jalan keselamatan semakin besar dan meluas. Selain hal-hal di atas, sosial-budaya juga mempengaruhi pemahaman bahwa hukum Taurat adalah ukuran keselamatan karena hukum dimiliki di setiap tempat dan hukum Taurat disamakan dengan hukum pada umumnya. Akhirnya, hukum Taurat dipandang sebagai ukuran keselamatan dan setiap orang mengusahakan keselamatannya sendiri, sehingga tanpa segaja menjadi hakim atas orang lain dan sekaligus menjadi batu sandungan.
Pemahaman yang tepat tentang Kristus sebagai keselamatan satu-satunya dimiliki oleh sebagian orang percaya karena persekutuan dengan saudara seiman. Jumlah orang-orang yang rajin bersekutu dan menelaah Alkitab memang tidak seberapa dibanding dengan yang orang percaya yang memiliki pemahaman bahwa hukum Taurat mendukung keselamatan dari Kristus. Dewasa ini, perbedaan pemahaman di atas disebabkan oleh tingkat kesadaran untuk bersekutu dan meleaah Alkitab.
Kata torah dari kata kerja bahasa Ibrani yarah.
Dalam pangkal verba (konjugasi) hifil, kata הרי (yarah) berarti "memberi pengajaran, mengajarkan, menunjukkan,”17 yaitu anggota terpenting dari kanon orang Yahudi.18 Hukum Taurat adalah hal yang sangat penting bagi Bangsa Israel, sejak hukum Taurat diberikan Allah melalui Musa sebagai sarana untuk mengikat bangsa Israel kepada Allah. Allah mengikat bangsa pilihan-Nya yang telah menerima perjanjian tersebut dan diharapkan melalui Taurat ada ketaatan untuk memelihara hubungan dengan Allah (Ul. 30:15-20;
Hab. 2:4; Am. 5:4,14; Yer. 38:20) yang telah menganugerahi keselamatan kepada manusia.19 Alkitab menyatakan bahwa Musa menerima Taurat Tuhan di Gunung Sinai. Bangsa Yahudi adalah suatu masyarakat yang berlandaskan Taurat, Tenney menyatakan bahwa Taurat tidak hanya mewakili budaya nasional yang harus dihormati, tetapi juga sebagai suara Tuhan sendiri. Semua ketentuannya harus ditaati tanpa ada yang menyangkal, dan semua pesan yang tersirat di dalamnya harus dianggap sebagai perintah suci.
Seluruh hidup mereka dihembusi oleh hukum dan seluruh cara berpikir mereka diwarnai oleh iman yang melandasinya.20
Jadi, Taurat bagi bangsa Yahudi harus dihormati sebagai suara Tuhan dengan cara taat tanpa membantah dan menerima sebagai pesan suci serta kehidupan dan pikiran bernafas hukum Taurat.
Dalam mukadimah traktat Aboth dinyatakan tentang dasar agama Yahudi: “Musa menerima Hukum dari Sinai dan mempercayakannya kepada Yosua, dan Yosua kepada para tua-tua, dan para tua-tua kepada para nabi; dan para nabi memercayakannya kepada orang-orang dari Sinagoge Agung.”21
Dapat dinyatakan bahwa hukum Taurat yang Allah berikan kepada Musa telah dipelihara dengan setia dari masa ke masa dengan generasi-generasi yang komitmen walaupun tetap ada penyimpangan- penyimpangan dan perubahan-perubahan yang tidak dapat terhindarkan yang terlihat mulai dari masa pembuangan ke Babel. Beberapa ayat Firman Tuhan seperti Ulangan 28:36-51; Yeremia 7:1-15;
17 D. L. Baker, Kamus Singkat Ibrani-Indonesia (Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 2001).
18 W. S. Lasor, D. A. Hubbard, and F. W. Bush, Pengantar Perjanjian Lama 1: Taurat Dan Sejarah (Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 2016).
19 Ladd, A Theology of the New Testament, 268–270.
20 Merrill C. Tenney, Survei Perjanjian Baru (Malang:
Gandum Mas, 2013).
21 Ibid.
Yehezkiel 5:5-17; 2 Tawarikh 36:11-21 bila diringkas menjadi satu ajaran dari empat bagian, yaitu Bangsa Israel melanggar perintah dan perjanjian Tuhan (terutama melalui penyembahan berhala), dan menolak Firman yang disampaikan melalui para nabi-Nya, sehingga menodai Bait Suci.
Hal ini terjadi di bawah kepimpinan raja-raja Yahudi yang jahat sehingga bangsa Israel menjadi seperti semua bangsa jahat di sekitarnya dan nama Allah tercemar. Oleh karena itu, Tuhan mengutus bala tentara asing untuk merusakkan tanah, menghancurkan Yerusalem dan Bait Suci-Nya, dan membawa orang-orang Yahudi ke tempat pengasingan.
Setelah pulang dari penawanan, jabatan ahli Taurat dilakukan oleh imam Ezra, juga sebagai penyalin hukum Taurat, mengajar ketetapan- ketetapan dan peraturan-peraturan Tuhan kepada bangsa Israel (Ezra 7:6-10). Perubahan besar ini disebabkan oeh faktor seperti yang dinyatakan oleh Baxter, “pertobatan orang Yahudi dari penyembahan berhala kepada suatu kepercayaan yang berkobar-kobar akan agama dan Kitab Suci mereka sendiri. Kebutuhan yang meningkat di pembuangan “akan guru-guru yang khusus, berhubung terpisahnya dari negri asal, ibukota Yerusalem dan bait Allah.”22 Pergerakan besar- besaran ini tidak bisa terbendungkan, semangat yang berkobar untuk memperjuangkan kitab suci.
Maka sangat diperlukan sejenis ahli-ahli yang baru dalam penelitian dan pengutaraan kitab suci.
Tujuannya adalah agar semua bangsa Yahudi di mana pun berada memperoleh pengajaran tentang Taurat.
Sinagoge menjadi tempat ibadah bangsa Yahudi di pembuangan untuk belajar Taurat, mengajarkan isi kitab suci yaitu firman Tuhan.
Khususnya bagi mereka yang kurang mengerti bahasa Ibrani, maka pembacaan Taurat itu harus disertai terjemahannya. Di dalam terjemahan itu ditambah dengan penjelasan, dan pembacaan Taurat itu akhirnya beralih menjadi khotbah karena semakin mengutamakan “huruf” Taurat dan
‘syariat-syariat lahiriah’ saja. Sejak itu di mana- mana sinagoge (rumah sembahyang orang Yahudi di pembuangan) menjadi tempat membaca dan menerangkan arti Firman Tuhan.
Ahli Taurat adalah golongan yang menjadi juru penerjemah dan yang menafsirkan Firman itu, di mana keduanya semakin bertambah penting.
22 J. Sidlow Baxter, Menggali Isi Alkitab 3 (Jakarta:
Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1993).
Sejak itulah mulai terjadi suatu penafsiran yang tertentu dan peraturan-peraturan tambahan, sehingga agama Yahudi menjadi suatu agama lahiriah seperti nyata pada zaman Yesus.23 Nabi Hagai, Zakharia dan Maleakhi adalah nabi yang sesudah masa pembuangan atau pada masa intertestamen. Pesan yang disampaikan nabi itu berulang-ulang menekankan tentang akhlak.
Kitab Injil menulis tentang Yesus menurut hukum Taurat yaitu mulai sejak lahir bahwa pada hari ke delapan Yesus disunat, serta menaati Taurat.
Hal ini terlihat pada keempat puncak jubbah Yesus memakai “jumbai-jumbai” (Bil. 15:38-41; Ul.
22:12) aturan yang mengingatkan bahwa Yesus menaati perintah Allah. Yesus membayar bea Bait Allah (Mat. 17:24-27). Yesus berkata, “jangan kamu menyangka, ... Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya (Mat. 5:17).”24
Mereka yang rajin menelaah Alkitab mampu memahami dan menjelaskan imannya dengan benar dan sebaliknya mereka yang jarang tidak mampu memahami imannya sendiri. Oleh karena itu, gereja harus bekerja keras dalam membantu mereka yang belum memahami imannya dengan benar. Jika manusia mengandalkan hukum Taurat, maka tidak ada satu orang pun yang akan selamat (Galatia 3:21) karena tidak ada yang dapat dengan sempurna melakukannya (Roma 8:7).25
Oleh karena itu, Paulus memberikan penjelasan melalui suratnya kepada jemaat Roma 10:4 “Sebab kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya,”26 sedang dalam TL “karena Kristus itulah penyudah Taurat, menjadi kebenaran bagi tiap-tiap orang percaya.”27 Dalam BIS,
“hukum lama sudah dipenuhi oleh Kristus. Jadi setiap orang yang percaya kepada Kristus, hubungannya dengan Allah menjadi baik kembali,”28 sedangkan dalam bahasa Yunani adalah “τέλος γάρ νόμου Χριστοòς είς δικαιοσύνην παντί τώ πιστεύοντι.”29
23 Baxter, Menggali Isi Alkitab 2: Ayub Sampai Dengan Maleakhi, 473.
24 Alkitab Terjemahan Baru (Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 1974).
25 Ladd, A Theology of the New Testament, 539.
26 Alkitab Terjemahan Baru.
27 Alkitab Terjemahan Lama (Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 1958).
28 Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-Hari (Jakarta:
Lembaga Alkitab Indonesia, 1985).
29 Perjanjian Baru Indonesia-Yunani, 3rd ed. (Jakarta:
Lembaga Alkitab Indonesia, 2018).
Kata telos30 memiliki banyak arti, yakni akhir, tujuan akhir,31 kesudahan, kesempurnaan, dan penyelesaian.32 Istilah-istilah ini dapat digunakan untuk menjelaskan kata telos lebih dari yang mampu dijelaskan oleh kata kegenapan yang berarti
‘terpenuhi, tergenapi’. Istilah kegenapan digunakan untuk menyatakan suatu hal tidak kurang lagi untuk perabotan atau perlengkapan, seperti ‘kegenapan peralatan kapal untuk berlayar’.33 Dalam Injil, telos diartikan sebagai ‘tujuan akhir, akhir, atau selesai’
yang berhubungan dengan peristiwa eskatologi, di mana Kristus memiliki kuasa untuk mencapainya (Luk. 22:37; Mrk. 23:7, 21-27; Mat. 24:14).34
Kata telos dalam dunia Yunani berarti pemenuhan, melaksanakan nubuat/perintah, di mana seseorang mendapatkan tugas resmi untuk melaksanakannya dan harus sukses.35 Di sisi lain, artinya adalah penyelesaian yang harus sempurna, dan dapat diartikan pula sebagai titik balik atau tujuan, kewajiban, persembahan.
Dari penjelasan di atas, penulis memilih untuk menggunakan ‘tujuan akhir’ untuk menjelaskan tentang telos karena dapat menjelaskan bahwa tujuan akhir hukum Taurat adalah Kristus karena Kristus mampu mewujudkan tujuan hukum Taurat untuk menyelamatkan manusia dari maut.
Kenyataan bahwa hukum Taurat tidak mampu untuk menyelamatkan disebabkan karena manusia lebih rentan melakukan dosa yang sebab keinginan daging selalu berlawanan dengan keinginan roh (Gal. 5:17).36 Galatia 3:24 menjelaskan bahwa hukum Taurat hanyalah sebagai paedagogos37, yakni penuntun menuju pada kehendak Allah, sehingga hukum Taurat menyatakan ada banyak dosa (Roma 7:112-13, 20) dan upah dosa ialah maut.38 Paulus menegaskan bahwa dalam Kristus, manusia menerima dikaiosine (kebenaran) yang
30 George Ricker Berry, The Interlinear Greek-English New Testament (Zondervan, 1981).
31 Geoffrey William Bromiley, Theological Dictionary of the New Testament (Volume VIII), ed. Gerhard Kittel and Gerhard Friedrich, 1st ed. (Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 1972), 49.
32 Bromiley, Theological Dictionary of the New Testament (Volume VIII).
33 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2005).
34 Bromiley, Theological Dictionary of the New Testament (Volume VIII), 50–51.
35 Ibid., 49.
36 Herman Nicolaas Ridderbos, Paul: An Outline of His Theology (Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 1997).
37 Berry, The Interlinear Greek-English New Testament.
38 Walter C. Kaiser Jr. et al., Hard Sayings of the Bible (The Hard Sayings Series) (Illionis: InterVarsity Press, 2010).
menyelamatkan manusia dari maut39. Ketika Kristus telah datang dan menghancurkan kuasa maut, maka hukum Taurat tidak lagi menjadi penuntun dalam memperoleh keselamatan karena keselamatan telah diwujudkan oleh Kristus kepada manusia.40 Hukum Taurat memiliki fungsi untuk memperkenalkan dosa, sehingga dosa menjadi nyata (Roma 7:7, 10- 11) dan manusia harus menghindari dosa.
Dalam Hard Sayings of the Bible, dinyatakan bahwa “His answer to that question is “Jesus Christ our Lord” (Rom. 7:25). Why? Because
“Christ is the end of the law.” The word ‘end’
(telos) can designate either the ‘goal’, ‘outcome’,
‘purpose’, to ward which something is directed, or the ‘end’. Many interpreters believe that both meanings are caught up in this text. For Paul, the law “was our custodian until Christ come” (Gal.
3;24). Its temporary function has now been accomplished; and Christ is therefore also the terminus, the cessation of law.”41 Yang berarti bahwa Paulus menegaskan bahwa Kristus adalah Allah karena Kristus adalah akhir dari hukum Taurat. Ini menunjukkan bahwa orang benar tidak lagi hidup di bawah perhambaan hukum Taurat.
Namun, hukum Taurat tidak diakhiri seluruhnya secara harafiah karena hukum Taurat memiliki fungsi untuk mengenalkan dosa kepada manusia agar manusia tidak melakukannya dan juga menyadari kelemahannya dalam melaksanakan hukum Taurat, sehingga orang percaya benar-benar mengandalkan anugerah Allah dalam Kristus untuk memperoleh keselamatan. Oleh karena itu, hukum Taurat tetap dipelajari oleh orang percaya.
Bersamaan dengan teladan yang telah diberikan oleh Paulus dalam melaksanakan hukum Taurat, demikian pula orang Kristen harus selaras dengan Kristus dalam batiniah.42
Berdasarkan penjelasan di atas, penggunaan kata ‘akhir’, seperti yang digunakan oleh Walker jika tidak dijelaskan dengan hati-hati akan menggiring orang percaya pada pemahaman bahwa hukum Taurat tidak berguna lagi pada masa kini oleh karena telah diakhiri oleh Kristus. Jadi, kata yang tepat bahwa hukum Taurat tidak mampu mewujudkan tujuannya dan hanya Kristus yang
39 Donald Guthrie and Jan S. Aritonang, Teologi Perjanjian Baru 2: Misi Kristus, Roh Kudus, Kehidupan Kristen (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2021), 123.
40 Jr. et al., Hard Sayings of the Bible (The Hard Sayings Series).
41 Ibid.
42 Guthrie and Aritonang, Teologi Perjanjian Baru 2:
Misi Kristus, Roh Kudus, Kehidupan Kristen, 353–360.
mampu mewujudkannya adalah frasa “tujuan akhir.”
Kristus sebagai tujuan akhir hukum Taurat adalah bagian terakhir dari pembahasan ini untuk menjelaskan tentang telos. Dalam Alkitab bahasa Indonesia, telos diterjemahkan sebagai kegenapan.
Istilah kegenapan justru membangun pemahaman bahwa hukum Taurat memiliki andil yang lebih besar dalam karya keselamatan atau memiliki kuasa yang lebih besar dari Kristus.
Namun, yang sesungguhnya terjadi adalah hukum Taurat tidak mampu mewujudkan tujuan akhirnya untuk menyelamatkan manusia karena dosa yang telah menjadi DNA manusia dan karena itu hukum Taurat membutuhkan kuasa yang lebih besar untuk mewujudkan tujuan akhirnya dan itulah Kristus. Kristus bukan datang untuk mengakhiri hukum Taurat dengan fungsinya sebagai pengenalan tentang dosa karena Kristus secara jasmaniah dan bahkan mewujudkan tujuan akhirnya, yaitu menyelamatkan manusia dari kuasa dosa.43 Dengan demikian Kristus sebagai tujuan akhir hukum Taurat merupakan dikaioosis (Roma 4:25, 5:18)44 dimana Kristus menjadi korban tebusan manusia dari hukuman karena dosa.
Tujuan akhir hukum Taurat adalah Kristus karena Kristus mampu mewujudkan tujuan akhirnya. Ini sama dengan seorang yang ingin pergi ke luar negeri tetapi tidak memiliki ongkos yang cukup dan karena itu perlu mengumpulkan uang yang cukup tetapi tiba-tiba ada seseorang yang memberikannya tiket pesawat gratis, maka fokus orang tersebut bukan lagi untuk mengumpulkan uang. Namun, fokusnya adalah tiket gratis. Orang tersebut adalah hukum Taurat, uang adalah kuasa dosa, tiket gratis adalah Kristus, dan luar negeri itu adalah keselamatan. Kristus mampu mewujudkan kehendak hukum Taurat untuk menyelamatkan manusia, sehingga tujuan akhir hukum Taurat adalah Kristus.
43 Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru 2: Misi Kristus, Roh Kudus, Kehidupan Kristen (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1995), 353–360.
44 Jacobs, Paulus: Hidup, Karya Dan Teologinya, 162–
165.
Tujuan Akhir Mewujudkan
Gambar 1. Tujuan Akhir hukum taurat adalah Kristus
Dari penjelasan di atas, istilah yang tepat untuk menjelaskan karya keselamatan yang dilakukan oleh Kristus dalam Roma 10:4 adalah tujuan akhir, yakni terjemahan dari kata telos.
Sejalan dengan klaim Gadamer bahwa pemahaman hermeneutika terjadi ketika teks dan penafsirnya saling menyatu. Penulis juga sependapat dengan terjemahan yang dipakai oleh Alkitab BIS, sehingga orang percaya saat ini dapat memaknai Kristus sebagai tujuan akhir hukum Taurat dalam kehidupan sehari-hari.
Kesimpulan
Manusia yang telah ber-DNA dosa tidak dapat melawan kuasa dosa, sehingga Allah sendiri datang dalam Kristus untuk memberikan keselamatan kepada manusia. Kristus yang mampu menyelamatkan manusia menjadi tujuan akhir hukum Taurat karena hukum Taurat tidak mampu mewujudkan tujuan akhirnya menyelamatkan manusia. Hukum Taurat jika diandalkan hanya akan mendorong manusia menyombongkan diri. Namun, hukum Taurat tetap dipelajari untuk mengenal dosa dan menjauhinya.
Karena itu, orang percaya tidak hidup hanya untuk dirinya sendiri tetapi untuk orang lain juga dan mengenalkan kasih Kristus kepada mereka yang tidak mengenal-Nya dan masih hidup dalam dosa. Orang percaya yang telah diselamatkan dalam Kristus juga tidak sekedar mengaku tapi bertindak untuk menjadi teladan, sehingga keselamatan diperoleh setiap orang melalui pengenalan akan anugerah dalah dalam Kristus oleh karena tindakan kesaksian orang yang menerima keselamatan.
Orang percaya mengimplikasikan makna Kristus sebagai tujuan akhir hukum Taurat dalam kehidupannya dengan (1) membangun hubungan intim dengan Kristus melalui doa dan menelaah Alkitab; (2) intropeksi diri dan selalu membangun diri dengan meneladani Kristus yang taat dan penuh kasih; (3) menuntun orang lain pada pengenalan kasih Kristus dengan tidak menghakimi mereka yang berdosa dan telah melakukan pelanggaran; dan (4) memanfaatkan ilmu hermeneutik untuk mengetahui maksud dan makna Firman Tuhan dalam Alkitab. Namun, karena tidak semua orang percaya memiliki kemampuan yang sama untuk memahami ilmu hermeneutik, maka teolog harus mampu menjelaskan makna firman Tuhan dengan baik.
Referensi
Baker, D. L. Kamus Singkat Ibrani-Indonesia. Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 2001.
Baxter, J. Sidlow. Menggali Isi Alkitab 2: Ayub Sampai Dengan Maleakhi. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2012.
———. Menggali Isi Alkitab 3. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1993.
Berry, George Ricker. The Interlinear Greek-English New Testament. Zondervan, 1981.
Bromiley, Geoffrey William. Theological Dictionary of the New Testament (Volume VIII). Edited by Gerhard Kittel and Gerhard Friedrich. 1st ed.
Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 1972.
Crist, Janice D., and Christine A. Tanner.
“Interpretation/Analysis Methods in Hermeneutic Interpretive Phenomenology.” Nursing Research 52, no. 3 (2003): 202–205.
End, Th. Van den. Tafsiran Alkitab Surat Roma. Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 1995.
Guthrie, Donald. Teologi Perjanjian Baru 2: Misi Kristus, Roh Kudus, Kehidupan Kristen. Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 1995.
Guthrie, Donald, and Jan S. Aritonang. Teologi Perjanjian Baru 2: Misi Kristus, Roh Kudus, Kehidupan Kristen. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2021.
Hagelberg, Dave. Tafsiran Roma Dari Bahasa Yunani.
Bandung: Kalam Hidup, 2013.
Hakh, Samuel Benyamin. “Persoalan Status Sebagai Anak-Anak Abraham Dalam Surat Galatia.”
GEMA TEOLOGIKA 1, no. 1 (April 28, 2016): 13.
http://journal-
theo.ukdw.ac.id/index.php/gemateologika/article/vi ew/209.
Jacobs, Tom. Paulus: Hidup, Karya Dan Teologinya.
Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010.
Jr., Walter C. Kaiser, Peter H. Davids, F. F. Bruce, and Manfred Brauch. Hard Sayings of the Bible (The Hard Sayings Series). Illionis: InterVarsity Press, 2010.
Kapojos, Shintia Maria, and Hengki Wijaya. “Konsep Bermegah (Boasting) Dalam Surat Roma Dan Implikasinya Bagi Gereja Masa Kini.” FIDEI:
Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika 2, no. 1 (June 18, 2019): 1–19. http://www.stt-
tawangmangu.ac.id/e-
journal/index.php/fidei/article/view/24.
Kurniawan, Iwan. “Konsep Keselamatan Menurut Rasul Paulus Dalam Surat Roma Dan Implikasinya Terhadap Kehidupan Umat Beragama Di Indonesia.” Universitas Kristen Duta Wacana, 2016. https://katalog.ukdw.ac.id/1979/.
Ladd, George Eldon. A Theology of the New Testament.
Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 1991.
Lasor, W. S., D. A. Hubbard, and F. W. Bush. Pengantar Perjanjian Lama 1: Taurat Dan Sejarah. Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 2016.
Marshall, Catherine, and Gretchen B. Rossman.
Designing Qualitative Research. 6th ed. Thousand Oaks, CA: SAGE Publications, Inc., 2015.
Moleong, Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012.
Nasional, Departemen Pendidikan. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 2005.
Ridderbos, Herman Nicolaas. Paul: An Outline of His Theology. Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 1997.
Susanti, Aya. “Keselamatan Dalam Konsep Rasul Paulus.” Integritas: Jurnal Teologi 1, no. 1 (June 27, 2019): 15–28.
http://journal.sttjaffrayjakarta.ac.id/index.php/JI/art icle/view/8.
Tenney, Merrill C. Survei Perjanjian Baru. Malang:
Gandum Mas, 2013.
Verdianto, Yohanes. “Hermeneutika Alkitab Dalam Sejarah: Prinsip Penafsiran Alkitab Dari Masa Ke Masa.” Mitra Sriwijaya: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen 1, no. 1 (July 10, 2020): 45–57.
http://sttsriwijaya.ac.id/e-
journal/index.php/mitra_sriwijaya/article/view/2.
Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-Hari. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 1985.
Alkitab Terjemahan Baru. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 1974.
Alkitab Terjemahan Lama. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 1958.
Perjanjian Baru Indonesia-Yunani. 3rd ed. Jakarta:
Lembaga Alkitab Indonesia, 2018.