Ririn Probowati, Rela PP Jombang-Surabaya Raih Wisudawan Terbaik S3 FKM
UNAIR NEWS – Usaha keras Dr. Ririn Probowati, S.Kp, M.Kes dengan berangkat jam 03.00 pagi dan pulang jam 22.00 (jam 10 malam) dari Jombang ke Surabaya tidaklah sia-sia. Jerih payahnya selama menempuh studi doctoral itu akhirnya terbayar dengan menyabet predikat sebagai wisudawan terbaik.
Perempuan kelahiran Banyuwangi 15 Juli 1965 ini, dalam d i s e r t a s i n y a m e n g a n g k a t j u d u l “ M o d e l K e p e r a w a t a n Roleattainment Ibu Bekerja dengan pendekatan Self Efficacy Dalam Kompetensi Stimulasi Pertumbuhan dan Perkembangan Bayi”.
Baginya, penelitian tersebut diangkat untuk memberikan gambaran mengenai cara untuk mengurangi angka kematian bayi baru lahir.
“Penelitian ini saya lakukan agar penelitian dapat berkontribusi menurunkan angka kematian bayi baru lahir dan meningkatkan kesejahteraan bayi baru lahir,” jelasnya.
Selama menempuh studi S3, perempuan yang tinggal di Sumobito, Jombang ini menturkan bahwa ia kerap menjadi pembicara di berbagai konferensi internasional, baik di dalam negeri ataupun di luar negeri.
“Saya pernah menjadi pembicara dalam International Conference di Makassar, Malaysia, dan Bandung,” paparnya.
Selain kuliah, Ririn juga aktif dalam organisasi PKK di Pemerintah Kabupaten Jombang, pada Penjamin Mutu Asosiasi Instititusi Pendidikan Ners Indonesia (AIPNI) regional Jawa Timur, dan berbagai organisasi serta forum kemasyarakatan lainnya.
Baginya, untuk menjadi mahasiswa yang berprestasi diperlukan sikap iklas, motivasi tinggi untuk menyelesaikan tugas tepat pada waktunya, giat, dan rajin. ”Memiliki prinsip itu penting, yaitu untuk mengerjakan tugas dengan tepat waktu, membagi waktu antara belajar, bekerja, dan menjadi ibu, serta bersosial,” jelasnya. (*)
Penulis: Nuri Hermawan Editor : Dilan Salsabila
Dari Pantai Gading, Daniel Bitty Jadi Wisudawan Terbaik S-3 UNAIR
UNAIR NEWS – Pentingnya pengaruh keuangan dalam kehidupan sehari-hari dan memahami kebijakan yang berkembang di negara Afrika dan Asia, menjadi sorotan Dr. Moro Kadjo Daniel Bitty, BBA, M.E., dalam penelitian disertasinya.
Hasil penelitian itu ikut mengantar Daniel menjadi wisudawan terbaik S3 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, pada wisuda 16 Juli 2016. Berarti ia adalah satu-satunya wisudawan terbaik dalam wisuda ini yang meraih IPK 4,00 (sempurna).
Pria kelahiran Tiassale, Pantai Gading, 25 April 1986 ini memfokuskan penelitian terhadap masalah moneter. Judulnya
”Exchange Rate Regime for the Macroeconomic Performance:
Lessons from Regional Integrated Areas in Southeast Asia (ASEAN-10) and West Africa (ECOWAS-15)”.
Menurut Daniel, sekarang nilai tukar tampaknya menjadi alat
moneter tunggal yang dapat digunakan secara bersamaan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan melindungi fundamental ekonomi nasional terhadap guncangan eksternal.
Dalam disertasinya itu Daniel menganalisis korelasi faktual antara nilai tukar dan lima makroekonomi variabel, yaitu pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto), inflasi, investasi asing langsung, tingkat pengangguran, dan neraca perdagangan.
Pria yang berasal dari Côte d’Ivoire ini mengaku sejak kecil sudah termotivasi oleh sosok Nelson Mandela, melalui kata mutiaranya: “Pendidikan adalah senjata terkuat yang bisa kau gunakan untuk mengubah dunia”.
Pengalaman di Indonesia
”Saya ingat pertama kali sampai di Indonesia dengan membawa impian memperoleh gelar doktoral dari ekonomi ASEAN. Saya hanya punya uang 200 US Dollar di kantong dan tidak punya simpanan. Saya sadar tidak akan mampu melaluinya dengan baik karena beasiswa saya, beasiswa unggulan, hanya bisa digunakan untuk biaya kuliah,” kenangnya.
Tetapi selama melakukan penelitian, Daniel mendapatkan dukungan dan bantuan dari dosen-dosen di Universitas Airlangga. Karena ia merasa harus menyampaikan terima kasih kepada para pembimbing disertasinya, yakni Prof. Djoko Mursinto, Dr. Unggul Heriqbaldi, dan Dr. Rudi Purwono. Daniel juga mengucapkan terima kasih pada semua sivitas akademika UNAIR dan orang-orang yang membantunya selama di Indonesia. Ia berharap penelitiannya dapat berguna bagi dunia akademisi Indonesia.
”I will only give you the same advice my father gave me before i fly to Indonesia: Daniel, you have to allow changes in your life, don’t be affraid of it, because changes will help you to know and overcross your pretended limits,” kata Dr. Moro Kadjo Daniel Bitty. (*)
Penulis: Lovita Martafabella.
Editor: Dilan Salsabila.
UU Tipikor Dianggap Berlebihan Jika Berlaku pada Perjanjian Kontrak
UNAIR NEWS – Pemberlakuan tindak pidana korupsi atas kontrak kerja konstruksi antara pemerintah sebagai pengguna jasa dengan pelaksana konstruksi sebagai penyedia jasa dirasa tidak adil dan berlebihan.
Pemberlakuan undang-undang yang dimaksud adalah pasal 2 dan 3 Undang-undang no. 31 tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi sebagaimana yang diubah menjadi UU No. 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU Tipikor).
Hal itu diungkapkan oleh Marthen Hengky Toelle dalam ujian doktor pada program studi Doktor Ilmu Hukum, Fakultas Hukum, Universitas Airlangga. Disertasi berjudul ‘Tindak Pidana Korupsi dalam Kontrak Kerja Konstruksi antara Pemerintah sebagai Pengguna Jasa dengan Penyedia Jasa Pelaksana Konstruksi’, berhasil ia pertahankan di hadapan tujuh penguji, Selasa (19/7).
Karya disertasinya berhasil memperoleh predikat ‘sangat memuaskan’, dengan indeks prestasi kumulatif sebesar 3,63.
“Praktik penerapan UU Tipikor, khususnya pasal 2 dan 3, kepada penyedia jasa konstruksi menjadi kegelisahan bagi saya.
Sementara, di dalam undang-undang jasa konstruksi diatur tentang hal-hal mengenai kontrak. Sehingga, seolah-olah
kontrak itu sesuatu yang bisa diasumsikan kesepakatan jahat.
Nah, itu berbahaya. Apakah benar seperti itu,” tutur Marthen ketika diwawancarai usai sidang disertasi.
Advokat spesialis kasus jasa konstruksi itu mengatakan, UU Tipikor tidak bisa serta diberlakukan untuk mengatur jasa konstruksi, meskipun dalam kontrak menggunakan keuangan negara. Apabila terjadi pelanggaran dalam perjanjian kontrak, maka si pelanggar cukup dikenai hukuman yang berlaku dalam perjanjian kontrak.
“Dalam kontrak, seandainya pihak pelaksana konstruksi itu tidak memenuhi kewajiban, penyedia jasa kan, harus mengganti kerugian. Seperti contohnya, pekerjaannya tidak sesuai mutu.
Pekerjaannya tidak sesuai mutu, misalnya, besi yang digunkan untuk membangun jembatan berukuran 18, tapi yang dipakai hanya 10. Dihitung aja kekurangannya. Uang negara itu juga dikembalikan, tapi tidak serta merta dibilang niatnya jahat,”
tutur Marthen.
Marthen bahkan menegaskan, dengan adanya pemberlakuan pasal 2 dan 3 UU Tipikor dalam jasa konstruksi membuat sejumlah pihak merasa takut untuk menjadi penguasa anggaran.
Suasana disertasi oleh Marthen Hengky Toelle (Foto: UNAIR NEWS)
“Kita tidak bisa mengasumsikan ada niat jahat dalam kontrak.
Kontrak kok berniat jahat. Kita harus berpikir positif karena kita orang hukum. Nah, itu banyak korban sekarang. Bahkan ekses yang lain akibat penerapan pasal 2 itu, adalah sekarang itu SILPA (sisa lebih penggunaan anggaran) makin tinggi. Orang takut untuk menjadi panitia. Orang takut untuk menjadi tipikor. Orang takut untuk menjadi pengguna anggaran. Bahkan secara nasional pun SILPA-nya tinggi sekali,” tegas Marthen.
Namun, ia tak menampik bahwa pemikirannya ini cukup banyak diperdebatkan dalam proses ujian sidang. Karena perjanjian kontrak dengan pemerintah akan melibatkan keuangan negara.
Para penguji mempertanyakan, bahwa keuangan negara sendiri merupakan unsur korupsi.
“Yang banyak (diperdebatkan, -red) adalah keuangan negara.
Seolah-olah karena ada keuangan negara, makanya masuk korupsi.
Bagi saya, unsur korupsi kan, bukan hanya keuangan negara.
Kalau dalam kontrak, ada kerugian negara, ya, ganti rugi kan
bisa juga. Hanya saja ada logika, kalau itu ada keuangan negara berarti korupsi. Ini yang saya katakan, saya tidak sependapat,” tutur lelaki kelahiran 19 Maret 1953. (*)
Penulis : Defrina Sukma S.
Editor : Binti Q. Masruroh
S3 Ilmu-Ilmu Sosial, Satu Pintu Masuk, Banyak Pintu Keluar
UNAIR NEWS – Ada konsep yang menarik yang dituangkan Dekan FISIP Dr. Falih Suaedi, Drs., M.Si. dalam mengelola program studi S-3 Ilmu-ilmu Sosial. Melalui Surat Keputusan Dekan, dia menerapkan paradigma “satu pintu masuk, banyak pintu keluar”.
Maksudnya, untuk bisa mengenyam S-3 di FISIP, semua mahasiswa dapat masuk melalui satu program studi. Namun, di dalamnya akan ada banyak konsentrasi atau peminatan.
Peminatan yang dimaksud, mulai tahun akademik 2016/2017 ini, berjumlah empat yakni, Administrasi Publik, Media dan Komunikasi, Ilmu Politik, dan Ilmu Antropologi. Dalam waktu dekat, bukan mustahil akan ada peminatan baru. Misalnya, bidang Hubungan Internasional.
“Dengan model seperti ini, efisiensi bisa dilakukan,” ujar pria asal Bojonegoro tersebut.
Di samping itu, semua mahasiswa yang berbeda keilmuan, bisa saling sapa atau saling mengenal di semester-semeter awal perkuliahan. Mereka juga dapat menimba ilmu dari beragam perspektif. Jadi, wawasan bisa semakin luas. Dengan demikian,
doktor-doktor lulusan FISIP akan lebih berkualitas.
“Dinamika satu disiplin ilmu selalu bergerak. Saat ini, satu disiplin ilmu, menuntut banyak solusi yang bukan mustahil berasal dari disiplin ilmu yang lain. Makanya, FISIP selalu berupaya memahamkan para mahasiswa untuk tidak eksklusif,”
papar dia.
Pada bagian lain, pemecahan konsentrasi atau peminatan ini juga dapat mempermudah dari aspek marketing. Bila tidak ada peminatan, para calon mahasiswa akan bertanya-tanya, apa yang akan didapat dari sekolah S3 di FISIP? Nah, dengan adanya peminatan, pertanyaan itu bisa terjawab.
Dulu, mereka yang lulusan S-2 di bidang komunikasi, mungkin bimbang untuk melanjutkan S-3 di FISIP. Begitu pula, para jebolan magister antropologi, administrasi negara, dan ilmu politik. Dengan adanya peminatan yang jelas, mereka bakal lebih yakin untuk melanjutkan studi di FISIP UNAIR.
“Alhamdulillah, prodi S-3 di FISIP juga sudah terakreditasi A.
Jadi, mutunya telah terjamin dan sangat baik,” terang Falih.
(*)
Penulis: Rio F. Rachman Editor: Defrina Sukma S.
Hanik Endang Kembangkan Psikospiritual untuk Penderita Kanker Payudara
UNAIR NEWS – Aktivitas ibadah yang dilakukan sungguh-sungguh diyakini mampu menyeimbangkan gejolak stress dan emosi
seseorang. Karena itu ketika seseorang usai beribadah, pikiran, hati, dan emosi menjadi lebih tenang dan stabil.
Pengobatan dengan pendekatan psikospiritual inilah yang sedang dan terus diteliti oleh Hanik Endang Nihayati. Hasil penelitian yang ditulis sebagai Disertasinya itulah termasuk yang menunjang Hanik meraih predikat wisudawan terbaik jenjang doktoral Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga periode Maret 2016.
Ia memilih kasus penyakit kanker payudara sebagai contoh.
Mengapa? Karena kanker payudara merupakan penyebab kematian tertinggi perempuan antara usia 18 – 54 tahun. Kemudian kunjungan di Poli Onkologi Satu Atap (POSA) RSUD Dr. Soetomo menunjukkan kasus kanker payudara menjadi kasus tertinggi juga setelah kanker serviks. Data lain juga menunjukkan bahwa jumlah pasien baru kanker payudara setiap tahun cenderung mengalami peningkatan.
Hanik berfikir keras untuk mengembangkan keilmuan tentang keperawatan jiwa yang mengantisipasi persoalan psikososialnya.
Mengapa masalah psikososial begitu penting? Menurut Hanik, perempuan penderita kanker itu selalu dihantui rasa takut terus-menerus. Penderita sering mengalami ketidaknyamanan hidup dan berimbas pada aspek kehidupannya, seperti ekonomi, keluarga, fisik, dan kepercayaan diri yang berangsur-angsur meredup.
Dalam situasi sulit begini, pasien memerlukan tindakan intervensi berupa pendekatan asuhan psikospiritual SEHAT (Syukur Selalu Hati dan Tubuh). Pendekatan SEHAT ini merupakan cara untuk meningkatkan hubungan dengan Tuhan agar emosi terkendali. Harapannya, penderita kanker dapat menghadapi
rasa sakitnya dengan sikap bersyukur.
“Penanganan distress pada penderita kanker payudara tidak selalu sama. Penderita memerlukan suatu pemahaman dan diagnosis yang tepat agar pemilihan terapi adekuat kualitas hidupnya bisa diperbaiki. Kompleksitas masalah yang dialami
penderita kanker menyebabkan munculnya kebutuhan spiritual,”
imbuh Hanik.
Psikospiritual SEHAT menitikkberatkan pada ritual ibadah salat Dhuha, membaca Alquran, dzikir dan motivasi spiritual dengan menuliskan nikmat Allah SWT. Strategi ini diharapkan dapat mengubah mekanisme koping, mengubah persepsi stress dari distress menjadi eustress yang akan berpengaruh pada respon tubuh. Mekanisme demikian sejalan dengan konsep psikologis yang menyatakan bahwa perubahan kognitif dapat menurunkan intensitas stress.
Perjuangan menuntaskan studi yang dilalui oleh pengajar pada Departemen Keperawatan Jiwa, Fakultas Keperawatan UNAIR ini, tidaklah mudah. Hanik harus melalui pengalaman dramatis saat menjelang semester III. Saat itu Hanik, yang juga wisudawan terbaik magister Keperawatan UNAIR tahun 2011, tengah mengandung anak kembar. Namun, kehamilannya saat ini disertai dengan berbagai macam komplikasi, salah satunya pre-eklampsia berat dan kelainan jantung.
“Sungguh luar biasa. Saya harus bedrest total. Mau tidak mau, saya harus mengesampingkan semua kewajiban sekolah. Jadi, inilah yang terus memotivasi saya selama saya sehat,” tandas penggerak Lingkungan Terbaik Kota Surabaya tahun 2015 ini. (*) Penulis : Sefya H. Istighfaricha
Editor : Defrina Sukma S.
Sergio Santoso dan Ria
Sandra, Dua Wisudawan Terbaik yang Punya Komitmen Tinggi
UNAIR NEWS – Di masyarakat, belimbing wuluh sering dimanfaatkan sebagai obat herbal yang berguna bagi tubuh, atau setidaknya khasiatnya mengurangi dampak pemakaian obat kimia.
Karena buah tropis Indonesia ini, konon bisa digunakan sebagai obat alternatif karena mengandung antioksidan, anti bakteri, dan anti inflamasi.
S e r g i o S a n t o s o wisudawan terbaik S1 Fakultas Kedokteran G i g i ( F K G ) ( F o t o : Istimewa)
Penasaran dan ingin membuktikan seperti apa khasiat belimbing wuluh itu, maka Sergio Santoso melakukan penelitian terhadap ekstrak daun belimbing wuluh. Hasil penelitiannya kemudian sebagai bahan skripsinya. Jadilah skripsinya berjudul ”Uji Viabilitas Ekstrak Daun Belimbing Wuluh Terhadap Sel Firoblas BHK 21”, yang sekaligus turut mengantarkan Sergio terpilih sebagai wisudawan terbaik S1 Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Airlangga dengan IPK 3,78.
“Yang melatari penelitian ini adalah banyaknya bahan kimia yang digunakan sebagai obat. Untuk mencari obat alami sebagai alternatif perawatan saluran akar, juga sebagai bahan herbal untuk mengurangi bahan kimia yang memungkinkan terjadinya iritasi di lingkungan rongga mulut,” kata pria kelahiran Malang 29 November 1994 ini.
Selama penelitian ia harus di laboratorium dan berkutat dengan ELISA reader menggunakan ekstrak daun belimbing wuluh dan sel firoblas BHK 21. Penelitiannya ini merupakan kolaborasi dengan dosen pembimbingnya, Nirawati Pribadi, drg., M.Kes., Sp.KG(K) dan Dr. Ira Widjiastuti drg., M.Kes, Sp. KG (K). Skripsinya ini juga dibimbing oleh Ari Subiyanto, drg.,MS., Sp.KG (K), dan mendapat bantuan dari Prof. Dr. Adioro Soetojo, drg., M.S., Sp. KG (K) dan Dr. Tamara Yuanita, drg., M.S., SpKG (K).
Penggemar futsal dan gym ini juga mendapatkan motivasi dan dukungan dari orang tua, kekasih, dan teman-temannya yang ikut berjuang bersamanya. Ia mengaku tidak memiliki kendala ketika melakukan penelitian, kecuali perasaan kurang mandiri lantaran jauh dari rumah. Namun setelah menemukan teman-teman baiknya, ia mampu membiasakan diri dengan lingkungan.
”Bagi saya, teman adalah segalanya. Tanpa kalian, saya bukan apa-apa,” katanya sebagai ucapan terima kasih pada kawan- kawannya yang ikut membantu dan menyemangatinya selama belajar di UNAIR. (*)
KOMITMEN TERHADAP PENYELAMATAN LINGKUNGAN
Ria Sandra Alimbudiono Wisudawan Terbaik S3 Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) (Foto:
Istimewa)
Sementara itu Ria Sandra Alimbudiono, yang dinyatakan sebagai Wisudawan Terbaik S3 Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNAIR, punya komitmen tinggi terhadap lingkungan. Baginya, menjaga lingkungan hari ini merupakan bagian dari mencintai anak cucu, sebab merekalah kelak yang akan mewarisi bumi ini.
“Jangan mengatakan sayang KEpada anak cucu jika belum menjaga lingkungan, karena mereka tidak akan bisa hidup nyaman tanpa lingkungan yang nyaman,” ujarnya.
Berbekal kepedulian yang tinggi terhadap isu lingkungan itulah, maka dosen Universitas Surabaya (Ubaya) ini mengangkatnya isu lingkungan tersebut sebagai topik disertasinya. Ia meneliti pengaruh environmental management accounting knowledge terhadap timbulnya environmental intention pada mahasiswa.
“Hasilnya memang ada pengaruh pengetahuan yang dimiliki seseorang akan lingkungan dalam mendorong adanya niatan orang tersebut berperilaku ramah lingkungan,” katanya. Dengan
mengangkat isu lingkungan agak terasa “beda” disertasi Ria ini, dibanding dengan disertasi kebanyakan.
“Saya terkejut dan tidak menyangka dipilih yang terbaik.
Padahal saya hanya melakukan ‘I Do My Best’ ketika sekolah di UNAIR, ya karena saya sudah bukan lagi anak muda yang punya banyak waktu bebas. Karena itu saya tidak menyangka dapat predikat ini,” imbuhnya.
Dalam menempuh pendidikan S3 Ilmu Akuntansi ini ia akui banyak tantangannya. Pertama, katanya, faktor usianya yang bukan lagi usia untuk sekolah. Jadi harus berkorban banyak hal mulai waktu bersama keluarga, finansial, dsb. Namun disadari ini bagian dari konsekuensi yang harus dijalaninya.
“Menempuh pendidikan doktoral merupakan pilihan pribadi yang kita pilih secara sadar dan dewasa. Karena itu selesaikan segala sesuatu yang telah dimulai dengan indah dan diakhiri dengan indah pula,” tambahnya. (*)
Penulis : Lovita Marta Fabella & Yeano Dwi Handika Editor : Bambang Bes
Rektor UNAIR Kukuhkan 644 Mahasiswa Baru Pascasarjana
UNAIR NEWS – Rektor Universitas Airlangga Prof. Dr. Mohammad Nasih, SE., MT., Ak., CMA., mengukuhkan 652 mahasiswa baru program Doktor, Magister, Spesialis, dan Professi Universitas Airlangga semester genap tahun 2015-2016, Kamis, (11/2) kemarin.
Pengukuhan ini juga dihadiri oleh pejabat perwakilan dari
Kejati Jatim, Kodam V Brawijaya, Akademi Angkatan Laut, dan pejabat UNAIR seperti perwakilan Majelis Wali Amanat (MWA), Senat Akademik, dekan fakultas, guru besar, dan ketua program studi, serta ketua badan/lembaga di lingkungan UNAIR.
Pengukuhannya berlangsung di Aula Garuda Mukti, Kantor Manajemen UNAIR.
Dari 652 mahasiswa Pascasarjana tersebut, 202 berasal dari Fakultas Kedokteran (FK), 10 mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi (FKG), 152 mahasiswa Fakultas Hukum (FH), 159 mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), 9 mahasiswa Fakultas Farmasi (FF), 16 mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan (FKH), 23 mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi (FST), 13 mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), 8 mahasiswa Fakultas Psikologi (FPsi), dan 52 mahasiswa Sekolah Pascasarjana.
Pada pengukuhan ini, secara bersamaan mahasiswa baru berikrar
“Janji Mahasiswa Kepada Almamater”, dan dilanjutkan dengan penyerahan Beasiswa Unggulan Biro Perencanaan Kerjasama Luar Negeri (BPKLN) oleh rektor. Penyerahan beasiswa secara simbolis ini dilakukan kepada Abdulrahman Taresh Abdulghani, mahasiswa asing yang menempuh sudi doktoral di FEB UNAIR.
Setelah itu, Rektor UNAIR memberikan sambutannya.
Dalam sambutannya, rektor UNAIR Prof. Moh. Nasih, mengajak mahasiswa untuk menjadikan riset dan penelitian sebagai tulang punggung perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di UNAIR.
“Pada program magister, para peserta harus memiliki kecakapan lebih dari yang dipunyai lulusan program sarjana. Kecakapan yang dimaksud, terutama pada aspek kreativitas daya cipta sesuai bidang masing-masing dan di aspek produktivitas temuan- temuan baru yang berdasarkan sebuah penelitian. Lalu, di program Doktor, semua peserta harus mampu melakukan penelitian secara mandiri,” kata Prof. Moh Nasih.
“Kampus harus bisa mengambil peran dengan menggenjot jumlah riset yang berfokus menemukan solusi aplikatif bagi persoalan
bangsa,” lanjut Guru Besar bidang Akuntansi FEB UNAIT ini.
Rektor juga menambahkan bahwa karya ilmiah yang disumbangkan itu dapat memberikan sumbangan orisinil pada bidang ilmu yang digeluti oleh mahasiswa. (*)
Penulis: Binti Qurotul Masruroh Editor: B. Edy Santoso