• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ririn Probowati, Rela PP Jombang-Surabaya Raih Wisudawan Terbaik S3 FKM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Ririn Probowati, Rela PP Jombang-Surabaya Raih Wisudawan Terbaik S3 FKM"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Ririn Probowati, Rela PP Jombang-Surabaya Raih Wisudawan Terbaik S3 FKM

UNAIR NEWS – Usaha keras Dr. Ririn Probowati, S.Kp, M.Kes dengan berangkat jam 03.00 pagi dan pulang jam 22.00 (jam 10 malam) dari Jombang ke Surabaya tidaklah sia-sia. Jerih payahnya selama menempuh studi doctoral itu akhirnya terbayar dengan menyabet predikat sebagai wisudawan terbaik.

Perempuan kelahiran Banyuwangi 15 Juli 1965 ini, dalam d i s e r t a s i n y a m e n g a n g k a t j u d u l “ M o d e l K e p e r a w a t a n Roleattainment Ibu Bekerja dengan pendekatan Self Efficacy Dalam Kompetensi Stimulasi Pertumbuhan dan Perkembangan Bayi”.

Baginya, penelitian tersebut diangkat untuk memberikan gambaran mengenai cara untuk mengurangi angka kematian bayi baru lahir.

“Penelitian ini saya lakukan agar penelitian dapat berkontribusi menurunkan angka kematian bayi baru lahir dan meningkatkan kesejahteraan bayi baru lahir,” jelasnya.

Selama menempuh studi S3, perempuan yang tinggal di Sumobito, Jombang ini menturkan bahwa ia kerap menjadi pembicara di berbagai konferensi internasional, baik di dalam negeri ataupun di luar negeri.

“Saya pernah menjadi pembicara dalam International Conference di Makassar, Malaysia, dan Bandung,” paparnya.

Selain kuliah, Ririn juga aktif dalam organisasi PKK di Pemerintah Kabupaten Jombang, pada Penjamin Mutu Asosiasi Instititusi Pendidikan Ners Indonesia (AIPNI) regional Jawa Timur, dan berbagai organisasi serta forum kemasyarakatan lainnya.

(2)

Baginya, untuk menjadi mahasiswa yang berprestasi diperlukan sikap iklas, motivasi tinggi untuk menyelesaikan tugas tepat pada waktunya, giat, dan rajin. ”Memiliki prinsip itu penting, yaitu untuk mengerjakan tugas dengan tepat waktu, membagi waktu antara belajar, bekerja, dan menjadi ibu, serta bersosial,” jelasnya. (*)

Penulis: Nuri Hermawan Editor : Dilan Salsabila

Perpustakaan Siapkan Bursa Buku Second

UNAIR NEWS – Bila berjalan sesuai rencana, pada 13 hingga 15 September mendatang, Perpustakaan UNAIR akan menggelar Bursa Buku Second (bekas). Kegiatan yang dilaksanakan serempak di perpustakaan kampus A, B, dan C ini berisi setidaknya tiga kegiatan.

Pertama, penjualan buku second. Kedua, barter buku dan tukar tambah. Ketiga, pendonasian buku. Event ini dilaksanakan sebagai penyambutan tahun akademik baru. Maka dari itu, diperkirakan para peserta yang datang nantinya berasal dari mahasiswa beragam angkatan.

“Kakak angkatan yang ingin menyumbangkan buku, atau saling barter, bisa datang kemari,” ujar Humas Perpustakaan, Agung B.

Kristiawan. “Kalau dia mau jualan buku bekasnya juga tidak masalah. Fleksibel saja,” imbuhnya.

Untuk keterangan lebih lanjut, mereka yang berminat ikut dalam bursa buku second ini, bisa membuka laman www.lib.unair.ac.id.

Khususnya, bagi mereka yang ingin ikut membuka stand.

(3)

Nantinya, mereka bakal berhadapan secara langsung dengan seluruh pengunjung perpustakaan yang makin hari makin banyak.

Pasti sangat menyenangkan.

Apa yang digelar ini juga sebagai upaya turut menyemarakkan hari berkunjung ke perpustakaan yang biasanya diperingati saban 15 September. Agung menerangkan, perpustakaan mesti dibuat sedemikian rupa agar menjadi tempat beraktifitas bagi mahasiswa yang nyaman. Dengan demikian, mereka betah di situ dan ‘mengenyangkan’ diri dengan membaca buku yang tersedia.

Selama ini, perpustakaan terus melakukan pembenahan. Sudah banyak pula terobosan yang dibuat. Di antaranya, digitalisasi sistem loker yang dilengkapi barcode. Dan yang tak kalah menarik, terdapat laporan jumlah pengunjung dan interaksi media sosial realtime yang terpampang di pintu masuk. (*) Penulis: Rio F. Rachman

Editor : Dilan Salsabila

Melestarikan Kebudayaan dengan Bangga Mengenakan Kain Batik

UNAIR NEWS – Di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNAIR, terdapat seorang guru besar yang berpenampilan lain dari yang lain. Saat berada di kampus, dia selalu mengenakan kain jarik batik, juga sebuah tongkat. Tak ayal, penampilan ini membuat lelaki bernama Prof. Dr. Bambang Tjahjadi, SE.,MBA., Ak., lebih gampang dikenali karena terkesan “berbeda”.

Saat ditemui kru UNAIR News di gedung FEB, Selasa (2/8), pria

(4)

yang menamatkan jenjang S2 di Western Carolina University ini mengutarakan, penampilan ini sudah berlangsung sekitar tiga tahun. Tujuannya, untuk ikut melestarikan kebudayaan Jawa.

“Setidaknya, ada tiga kebudayaan Jawa yang diakui dunia.

Yakni, Batik, Wayang dan Keris. Ini luar biasa. Nah, kalau bukan kita sebagai warganegara yang bangga akan capaian tersebut, terus, siapa lagi?,” serunya.

Saat ditanya soal tongkat, Prof. Bambang menjelaskan, barang itu sekadar asesoris. Namun yang jelas, kain jarik yang digunakannya merupakan batik tulis asli. Tiap hari dia memakai motif batik beragam baik dari Pekalongan, Sidoarjo, hingga Madura.

Kebanggaan Prof. Bambang tidak hanya terimplementasikan di dalam negeri. Berkali-kali mengikuti kegiatan konferensi maupun seminar internasional di luar negeri, dia tak canggung mengenakan kain tersebut. Khazanah lokal ini mesti terus dikembangkan. Yang perlu diingat pula, jangan sampai orang Indonesia kelewat bangga dengan produk tekstil bermotif yang dikira batik nusantara. Padahal, barang impor!

Lebih dari itu, dia bersama kawan-kawan di FEB menggagas Perkumpulan Bangga Berkain Batik. Komunitas itu kini terus berkembang dan memiliki grup facebook. Anggotanya pun hingga berasal dari kampus-kampus lain. Salah satu rekan Bambang sesama dosen FEB adalah Dr.Neorlailie Soewarno, SE., MBA., Ak.

Noerlailie mengungkapkan, saat ini banyak orang Indonesia yang begitu bersemangat saat bicara pentingnya mengenakan kain batik. Namun, tak jarang mereka ternyata hanya pandai berujar.

Untuk memakainya, masih ogah-ogahan. Sikap ini tentu kurang baik.

Perkumpulan Bangga Berkain Batik, kata perempuan yang menyelesaikan gelar master di Amerika Serikat ini, ingin menyosialisasikan semarak mencintai warisan budaya. Beberapa

(5)

kali, para anggotanya menggelar acara pelatihan mengenakan kain batik yang baik dan benar.

“Jadi, kegiatan kami ini juga aplikatif dan menyentuh banyak kalangan. Kami sudah menggelar pelatihan tersebut di beberapa kampus dan lokasi lain. Kami juga kerap diundang hadir dalam event seperti itu,” ungkap dia. (*)

Penulis: Rio F. Rachman Editor : Dilan Salsabila

Resmi Dilantik, 107 Ners Baru Siap Hadapi Tantangan MEA

UNAIR NEWS – Sebanyak 107 wisudawan Program Pendidikan Ners Fakultas Keperawatan (FKp) UNAIR, resmi dilantik oleh Rektor UNAIR yang diwakili oleh Wakil Rektor II, Dr. Muhammad Madyan, S.E., M.Si., M.Fin. Acara yang dihelat di Aula Garuda Mukti Gedung Manajemen lantai 5 pada Selasa (2/8), tersebut merupakan yang kedua kalinya ditahun 2016, setelah pelantikan ners periode I yang dihelat pada 1 Maret lalu.

Selain para orang tua pendamping wisudawan, pelantikan tersebut juga dihadiri oleh Prof. Dr. Nursalam, M.Nurs (Hons) selaku Dekan FKp UNAIR, Prof. Dr. Nasronudin, dr., Sp.PD-KPTI selaku Direktur Rumah Sakit UNAIR, dr. Anang Indaryanto selaku Kepala Bidang Diklat RSUD dr. Soetomo, dan juga para stakeholder yang telah menjalin kerjasama dengan UNAIR, terutama dalam bidang keperawatan.

Mengenai peran profesi keperawatan dalam era MEA (Masyarakat Ekonomi Asean), Prof. Nursalam mengatakan, para ners baru yang dilantik harus memiliki tiga prinsip, yaitu self reform guna

(6)

mereformasi diri sendiri untuk menjadi lebih baik, interconnecting guna membangun jejaring dengan stakeholder.

“Dan yang ketiga adalah spirit fighting, jadi adik-adik jangan mudah menyerah,” ujarnya memberikan wejangan dihadapan para wisudawan.

Prof. Nursalam juga mengungkapkan bahwa FKp UNAIR telah terakreditasi A, dan hal tersebut juga menjadikan fakultas yang ‘didirikan’ pada tahun 1999 tersebut sebagai fakultas bidang keperawatan terbaik se-Indonesia Timur.

“Walaupun kita masih muda (umur fakultas 17 tahun, red), tapi kita bisa menjadi yang terbaik di Indonesia bagian timur dalam bidang keperawatan, jadi bapak ibu pantas bersyukur putra- putrinya telah lulus dari salah satu pendidikan terbaik,”

ungkapnya disambut tepuktangan hadirin.

Dalam kesempatan tersebut, Warek II UNAIR, Dr. M. Madyan berpesan kepada para ners yang baru dilantik, agar senantiasa menanamkan sikap ikhlas dalam individu masing-masing.

Pasalnya, profesi keperawatan memiliki tuntutan untuk melayani pasien dirumah sakit selama 24 jam.

“Profesi keperawatan adalah posisi sentral, karena harus melayani keluhan pasien dalam 24 jam, jadi kualitas pelayan sebuah rumah sakit tercermin dari kualitas pelayanan dari perawatnya. Maka dari itu, tanamkan pada diri kalian sikap ikhlas, terutama ikhlas dalam melayani,” ujarnya.

“Saya ucapkan selamat kepada para wisudawan yang telah dilantik. Buktikan bahwa anda merupakan lulusan UNAIR dengan kinerja yang bagus dan performa terbaik kalian,” imbuhnya mengakhiri.(*)

Penulis : Dilan Salsabila Editor : Nuri Hermawan

(7)

Kebiri Bukan Solusi Kasus Kekerasan Seksual

UNAIR NEWS – Sederet kasus kekerasan seksual terhadap perempuan yang telah diungkap publik pada semester awal tahun 2016 cukup mengejutkan. Untuk menghentikan, atau setidaknya mengurangi kejadian kasus kekerasan seksual, diperlukan kontribusi dari seluruh elemen baik pemerintah, masyarakat, maupun perguruan tinggi.

Menurut Prof. Dr. Emy Susanti Hendrarso, MA., yang juga Ketua Pusat Studi Wanita Universitas Airlangga mengatakan, kasus kekerasan seksual di Indonesia diibaratkan sebagai sebuah gunung es. Kasus yang terungkap di publik memang tak lebih banyak dari yang sebenarnya terjadi. “Artinya, dari dulu ada, tapi tidak terungkap,” tutur Prof. Emy dalam sebuah kesempatan.

Hanya saja, kini warga dan kelompok-kelompok tertentu lebih berani melaporkan kasus pelecehan seksual ke muka publik, termasuk media massa. Prof. Emy mengatakan, keberanian masyarakat dalam bersuara mengenai kasus pelecehan seksual itu didasari oleh keterbukaan pikiran dan penanganan kasus yang ditindaklanjuti oleh penegak hukum dan pihak berwenang terkait.

Penanganan

Sekitar akhir Mei 2016 lalu, Presiden RI Joko Widodo mengeluarkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang yang mengatur tentang hukuman kebiri kimiawi kepada pelaku pelecehan seksual. Merespon kebijakan pemerintah itu, Guru Besar Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UNAIR itu mengatakan, pemberlakukan perpu itu tak akan berjalan

(8)

efektif untuk menyelesaikan kasus kekerasan seksual itu.

Dalam jangka pendek, penanganan kasus kekerasan seksual perlu peran yang optimal dari seluruh pemangku kepentingan, mulai masyarakat, organisasi non-pemerintah, dan perguruan tinggi.

“Kalau jangka pendek, penanganan-penanganan kasus yang ada bisa dilakukan melalui lembaga-lembaga yang sudah eksis, seperti pusat perlindungan anak. Itu sudah ada di setiap daerah. Di kampus-kampus juga ada,” tutur Prof. Emy.

Sedangkan untuk jangka panjang, Prof. Emy menekankan untuk mengubah cara berpikir masyarakat. Salah satunya, melalui perubahan undang-undang. Undang-undang yang dimaksud diantaranya adalah peraturan baik di tingkat daerah maupun nasional mengenai pembatasan usia minimal pernikahan. Dengan adanya perubahan peraturan seperti itu, masyarakat diharapkan mengikuti norma hukum yang berlaku dan menjadi kebiasaan dalam bermasyarakat.

“Perubahan itu memang panjang sekali alurnya. Butuh peran pemerintah daerah dan pusat untuk mengubah dan menambah undang-undang, dan sebagainya. Diharapkan dengan perubahan sistem sosial budaya dan politik, konstruksi masyarakat terhadap kasus-kasus kekerasan juga bisa berubah,” tutur dosen lulusan Universitas Flinders, Australia.

“Karena kalau tidak, masyarakat masih mengira ini bukan kasus kekerasan, wong mengawinkan anak di bawa umur sudah ada sejak dulu. Atau misalnya, kalau terjadi perkosaan, ada anggapan wong ini pacarku, jadi aku bisa memaksa. Dengan adanya anggapan-anggapan seperti itu bisa dibuktikan bahwa sistem sosial budaya masyarakat masih seperti itu. Kalau ini tidak berubah, ya, sampai kapanpun akan tetap berlanjut,” imbuh Prof. Emy.

Menanggapi kebijakan kebiri untuk mengatasi persoalan kekerasan seksual, Prof. Emy mengatakan hal itu bukan kebijakan yang solutif dan efektif. Ia menegaskan, kebiri

(9)

bukanlah penyelesaian berjangka panjang. Salah satu cara lainnya yang efektif, adalah dengan sanksi sosial di masyarakat.

“Itu bukan satu-satunya. Belum tentu efektif. Banyak sanksi lain yang bisa dioptimalkan terutama sanksi sosial, karena sanksi sosial jauh lebih baik. Kalau semua orang udah tahu bahwa mengawinkan anak kecil muda sebelum usia 18 tahun, semua orang bisa menertawakan tetangganya yang melakukan itu. Terus mereka kalau perlu, nggak usah datang ke pernikahannya. Itu jauh lebih berfungsi,” tegas Prof. Emy. (*)

Penulis: Defrina Sukma S.

Editor: Nuri Hermawan

Kemenko Maritim Kenalkan Dunia Kemaritiman Sejak Dini

UNAIR NEWS – Langkah pemerintah untuk mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia, disambut baik oleh Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Maritim. Program Pengenalan Wawasan Kemaritiman untuk Anak Indonesia (PPWK-AI) 2016, menjadi program unggulan yang diprakarsai Kemenko Bidang Maritim dengan menggandeng Asosiasi Mitra Bahari Indonesia (AMBIN) dan Konsorsium Mitra Bahari (KMB) Regional Center Jawa Timur.

PPWK-AI sendiri digelar selama dua hari. Hari pertama (1/8), kegiatan dilaksanakan di Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) UNAIR dengan kegiatan pemberian materi seputar pengetahuan tentang dunia kemaritiman. Selanjutnya, hari kedua acara dilangsungkan di Ekowisata Mangrove, dengan mengajak seluruh peserta yang terdiri dari siswa SD tersebut menelusuri hutan

(10)

magrove di pesisir Surabaya, Selasa (2/8).

Staf Kemenko Bidang Maritim, Anom Wirojatmiko yang juga turut hadir memantau pelakasanaan kegiatan selama dua hari tersebut menuturkan, kegiatan PPWK-AI ini bagian dari perwujudan program pemerintah untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai poros maritim dunia. Baginya, acara tersebut bertujuan untuk pengenalan kepada anak-anak Indonesia agar mencintai dan peduli kepada dunia kemaritiman. Anom juga menambahkan, selain sebagai pemrakarsa, Kemenko Bidang Maritim juga penyedia anggaran demi kesuksesan acara.

“Jadi, Kemenko Bidang Maritim yang menyediakan anggaran. Lalu kami koordinasikan dengan AMBIN di pusat dan KMB di masing- masing daerah, untuk selanjutnya membentuk kepanitian yang melibatkan pihak lain, seperti Kobangdikal dan berbagai perguruan tinggi,” jelas Anom.

Senada dengan Anom, Sekretaris Jendral (Sekjen) AMBIN, Samuel Littik, Ph.D., menjelaskan bahwa mitra bahari sendiri merupakan forum kerja sama semua pihak terkait yang berlandaskan UU No.27/2007 yang diamandemen di UU No.1/2014, tentang pengelolaan wilayah Pesisir dan Pulau-pulau kecil.

Baginya, dengan landasan UU tersebut, kinerja AMBIN yang beranggotakan KMB dari seluruh Indonesia bisa lebih maksimal.

Ia juga menambahkan, peranan AMBIN dalam kegiatan ini yakni sebagai penghubung antara Kemenko Bidang Maritim dan KMB di seluruh Indonesia.

“AMBIN ini pelaksana di lapangan, karena kami punya mitra di provinsi yakni KMB itu. Intinya kami ini penghubung antara Kemenko sebagai pemrakarsa dan KMB sebagai pelaksana,”

jelasnya.

(11)

Mitra Kompak, (Dari Kiri) Staf Kemenko Maritim Anom Wirojatmiko, Sekjen AMBIN Samuel Littik, Ph.D., Ketua KMB Jatim Prof. Dr. Sri Subekti, BS. drh., DEA., dan Ketua Panitia Letkol (KH) Drs. Ambar Kristiyanto, M.Si., Sesaat Mengikuti Kegiatan Di Ekowisata Mangrove Surabaya. (Foto: UNAIR NEWS) Ditemui di lokasi yang sama, Prof. Dr. Sri Subekti, BS. drh., DEA., selaku penanggung jawab acara menjelaskan, PPWK-AI 2016 merupakan program bersama antara Kemenko Maritim, AMBIN, dan KMB. Prof. Sri juga menambahkan bahwa PPWK-AI kali ini diketuai oleh Letkol (KH) Drs. Ambar Kristiyanto, M.Si., yang sehari-hari menjabat sebagai Gumil Madya Kobangdikal. Mantan Dekan FPK UNAIR tersebut juga berharap, dengan diadakannya PPWK-AI pertama di Jawa Timur ini, nantinya bisa mendorong untuk suksesnya acara di provinsi lain. Baginya, dengan adanya kegiatan ini pula, cara pandang masyarakat yang terus menggali SDA di darat bisa beralih ke laut.

“Jika acara ini sukses, harapannya tidak sekedar bisa mendorong provinsi lain, tapi kegiatan ini nanti bisa masuk dalam program dari berbagai kementerian di lingkungan pemerintah, misal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk

(12)

dijadikan dari bagian kurikulum pendidikan,” tegasnya. (*) Penulis: Nuri Hermawan

Editor: Bambang Edy Santoso

Referensi

Dokumen terkait

Konsep sastra lisan modern pada stand up comedy merupakan bagian dari kebudayaan barat dan adanya unsur-unsur modernitas dalam pertunjukkan sedangkan tradisional di Indonesia

Metode pengaturan tekanan dilakukan dengan cara mengatur posisi open/close pada katub depresurised, memutar bagian pengatur (just) pada pressure switch dan mengatur

Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi,

Penelitian tersebut menggunakan metode algoritme genetika untuk menghasilkan kombinasi kromosom terbaik sehingga akan diperoleh susunan bahan makanan untuk ibu hamil

Dari hasil pengamatan selama perancangan, implementasi, dan proses pengujian perangkat lunak yang digunakan, diambil kesimpulan bahwa untuk mendapatkan rute

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kelengkapan imunisasi dasar lengkap dengan status gizi anak usia 12-24 bulan di Desa Ketanggung, Sine,

Alat evaluasi Indeks KAMI ini secara umum ditujukan untuk digunakan oleh instansi pemerintah di tingkat pusat.Akan tetapi satuan kerja yang ada di tingkatan Direktorat

Penulis memanjatkan puja dan puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan karunia nikmat, rahmat, taufiq, serta hidayahnya kepada penulis sehingga penulis dengan