• Tidak ada hasil yang ditemukan

PSG LANGSUNG DIAN KHOLIKA HAMAL. Sesi 7

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PSG LANGSUNG DIAN KHOLIKA HAMAL. Sesi 7"

Copied!
70
0
0

Teks penuh

(1)

PSG LANGSUNG

DIAN KHOLIKA HAMAL Sesi 7

(2)

• Mahasiswa mampu menentukan status gizi dengan metode PSG Langsung secara antropometri

• Mahasiswa mampu menentukan status gizi dengan metode PSG Langsung secara biokimia

• Mahasiswa mampu menentukan status gizi dengan metode PSG Langsung secara biofisik

• Mahasiswa mampu menentukan status gizi dengan metode PSG Langsung secara klinis

(3)

Status gizi adalah keadaan tubuh

sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat yang terkandung dalam

makanan (Almatsier, 2001).

(4)

TUJUAN PENILAIAN STATUS GIZI

• Memberikan gambaran secara umum mengenai metode penilaian status gizi

• Memberikan penjelasan mengenai keuntungan dan kelemahan dari masing-masing metode yang ada

• Memberikan gambaran singkat mengenai pengumpulan

data, perencanaan , dan implementasi untuk penilaian

status gizi

(5)

Penilaian status gizi pada dasarnya merupakan proses pemerikasaan keadaan gizi seseorang dengan cara mengumpulkan data penting, baik yang bersifat objektif maupun subjektif dapat diperoleh dari data pemeriksaan laboratorium perorangan serta sumber lain oleh anggota tim”penilai”.

(6)

PenilaianStatus Gizi

Langsung

Tidak Langsung

1. Antopometri 2. Biokimia

3. Klinis 4. Biofisik

1. Survei Konsumsi 2. Statistik Vital 3. Faktor Ekologi

(7)

1. ANTROPOMETRI

Secara umum antopometri artinya ukuran tubuh manusia. Ditinjau dari sudut pandang gizi maka antopometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Antopometri secara umum digunakan untuk melihat ketidakseimbangan asupan protein dan energi. Ketidakseimbangan ini terlihat pada pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot,

dan jumlah air dalam tubuh. • Antropometri adalah pengukuran besar tubuh, berat badan dan proporsi.

• Ukuran antropometri dapat digunakan untuk mengevaluasi status gizi.

• Untuk mengkaji status gizi secara akurat, beberapa pengukuran secara spesifik juga diperlukan dan pengukuran ini mencakup Umur, BB (Berat Badan), TB (Tinggi Badan), Lingkar Kepala, BMI atau IMT (Index Massa Tubuh), dan Rasio Pinggang Panggul (LPP), Lingkar Lengan Atas (LLA/LILA) dan Tebal Lemak Kulit.

(8)

Jenis Parameter

1. Umur

2. Berat Badan 3. Tinggi Badan

4. Lingkar Lengan Atas 5. Lingkar Kepala

6. Lingkar dada

(9)

1. UMUR

Faktor umur sangat penting dalam penentuan status gizi.

Kesalahan penentuan umur akan menyebabkan interpretasi status gizi menjadi salah. Hasil pengukuran tinggi badan dan berat badan yang akurat, menjadi tidak berarti bila tidak disertai dengan penentuan umur yang tepat.

(10)

METODE UNTUK MELENGKAPI DATA UMUR

1. Meminta surat kelahiran, kartu keluarga atau catatan lain yg dibuat oleh orang tuanya.

2. Jika diketahui kalender lokal seperti bulan Arab atau bulan lokal, cocokan dengan kalender nasional

3. Jika tetap tidak diketahui, catat kelahiran anak berdasarkan daya ingat orang tua atau berdasarkan kejadian-kejadian penting seperti lebaran, tahun baru, puasa dll

4. Cara lain dapat dilakukan dengan membandingkan anak yg diketahui umurnya dengan anak kerabat/tetangga yg diketahui pasti tanggal lahirnya

5. Jika tanggal lahirnya tidak diketahui dengan tepat sedangkan bulan dan tahunnya diketahui, maka tanggal lahir anak tersebut ditentukan tanggal 15 dibulan yg bersangkutan

(11)

1. Berat Badan Menurut Umur (BB/U)

Berat badan adalah salah satu parameter yang memberikan gambaran massa tubuh. Berat badan adalah parameter antropometri yang sangat labil.

(12)

Pengukuran berat badan untuk bayi dan anak berusia dibawah 5 tahun

Penimbangan bayi dan anak dibawah 5 tahun (balita) dengan

menggunakan timbangan gantung yang disebut Dacin. Atau khusus untuk bayi menggunakan alat timbangan Baby Scale.

2. Baby Scale 1. DACIN

(13)

1. Gantungkan dacin pada : dahan pohon, palang rumah, atau penyangga kaki tiga.

2. Periksalah apakah dacin sudah tergantung kuat.

3. Sebelum dipakai letakkan bandul geser pada angka nol, batang dacin dikaitkan dengan tali pengaman.

4. Pasanglah celana timbang, kotak timbang atau sarung timbang yang kosong pada dacin. Ingat bandul geser pada angka nol.

5. Seimbangkan dacin yang sudah di bebani celana timbang, sarung timbang, atau kotak timbangdengan cara memasukan pasir ke dalam kantong plastik.

6. Anak ditimbang dan seimbangkan dacin.

7. Tentukan berat badan anak, dengan membaca angka di jung bandul geser.

8. Catat hasil penimbangan diatas dengan secarik kertas.

9. Geserlah bandul ke angka 0 (nol), letakkan batang dacin dalam tali pengaman, setlah itu bayi atau anak dapat diturunkan.

PROSEDUR PENGGUNAAN DACIN

(14)

Spesifikasi dacin :

1. Terbuat dari kuningan, berat ±5kg

2. Panjang 90 cm

3. Terdapat gelang gantung 4. Kapasitas maks untuk anak-

anak 25kg

5. Kepekaan 0,1 kg

Kegunaan :

 Untuk menimbang Berat badan balita usia 1-5 tahun

Kelebihan :

1. Dacin merupakan timbangan yang paling valid.

2. Setiap posyandu hampir memiliki dacin, sehingga mudah ditemukan.

Kekurangan :

1. Kurang praktis, karena ukuran yang relative besar dan berat.

2. Mempunyai resiko jika terjadi

kesalahan dalam pemasangan alat.

DACIN

(15)

1. Letakkan timbangan pada bidang yang datar.

2. Letakkan bayi pada bidang timbangan.

3. Perhatikan jarum petunjuk, jika setelah bayi diletakkan dan jarum berhenti berwarna merah, maka yang dibaca adalqh angka yang berwarna merah, namun jika jarum bergerak hingga batas akhir kemudian kembali lagi dan jarum berwarna biru, maka yang dibaca adalah angka yang biru.

4. Catat hasil penimbangan

PROSEDUR PENGGUNAAN BABYSCALE

Kegunaan :

Untuk menimbang bayi berusia 0-1 tahun

Kelebihan :

 Bayi bisa ditidurkan pada alat timbangan.

Kekurangan :

 Bayi tidak bisa diam, sehingga kesulitan untuk membaca hasilnya.

Spesifikasi Baby scale : 1. Kapasitas 20 kg

2. Merah : 0-10 kg, kepekaan 0,05 kg 3. Biru : 10-20 kg, kepekaan 0,1 kg

(16)

• Pengukuran berat badan untuk anak diatas 5 tahun, dewasa dan lansia

Penimbangan ini biasanya menggunakan timbangan berat badan biasa (timbangan injak). Atau khusus untuk lansia yang susah berdiri bisa

menggunakan alat timbangan bedscale.

5. Timbangan Digital

3. Timbangan Injak 4. Bed Scale

(17)

1. Letakkan timbangan injak pada lantai yang datar.

2. Pakaian dibuat seminim mungkin, sepatu dan barang-barang yang cukup menambah beban dilepaskan.

3. Berdiri tegap pada timbangan injak. Lihat angka yang tertera pada skala timbangan injak dan catat hasilnya.

PROSEDUR PENGGUNAAN TIMBANGAN INJAK

Spesifikasi :

1. Kapasitas maks 130 kg 2. Jarum petunjuk

Kegunaan :

 Untuk menimbang berat badan saat menggunakan pakaian seminim mungkin

Kelebihan :

 Mudah dibawa kemana-mana.

Kekurangan :

1. Memerlukan bantuan orang lain untuk membaca hasil penimbangan agar mendapatkan hasil penimbangan yang akurat.

2. Menggunakan per (cepat rusak dan kepekaan berkurang).

3. Tidak dapat untuk menimbang balita.

(18)

• Persiapkan timbangan terlebih dahulu.

• Subjek berbaring di atas ranjang timbangan (subjek dalam posisi terlentang lurus, dan tenang)

• Kemudian subjek diangkat oleh gendongan pada timbangan

• Baca dan catat hasil.

PROSEDUR PENGGUNAAN BEDSCALE

(19)

PROSEDUR PENGGUNAAN TIMBANGAN DIGITAL

Spesifikasi :

1. Kepekaan 0,01 kg 2. Bisa ditera/dinolkan 3. 3. kapasitas

maksbermacam-

mavcam (130-156 kg) 4. auto ON

Cara penggunaan :

1. Letakkan timbangan pada lantai yang datar.

2. Injak timbangan untuk memastikan timbangan dalam posisi 0 (nol).

3. Menggunakan baju seminim mungkin.

4. Berdiri pada timbangan dengan posisi badan tegap.

5. Lihat angka pada timbangan.

6. Catat hasil pengukuran

Kegunaan :

 Untuk menimbang berat badan anak-anak sampai orang dewasa

Kelebihan :

1. Mempunyai kepekaan yang paling bagus.

2. Mudah dibawa kemana- mana

Kekurangan :

1. Harus diletakkan pada lantai yang benar-benar datar.

2. Masih banyak orang yang belum mengerti

menggunakan alat ini

(20)

2. Tinggi Badan Menurut Umur (TB/U)

Tinggi badan merupakan antropometri yang menggambarkan keadaan pertumbuhan skeletal. Pada keadaan normal tinggi badan tumbuh

seiring dengan pertambahan umur.

(21)

Untuk bayi atau anak yang belum dapat berdiri menggunakan Alat Pengukur Panjang Badan Bayi. Dan untuk anak yang sudah dapat berdiri menggunakan microtoise.

Pengukuran tinggi badan untuk bayi dan anak berusia dibawah 5 tahun, diatas 5 tahun, dewasa sampai lansia.

Microtoice

(22)

PROSEDUR PENGGUNAAN MICROTOICE

1. Tempelkan dengan paku microtoice tersebut pada dinding yang lurus dan datar setinggi tepat 2 meter. Angka 0 (nol) pada lantai datar yang rata.

2. Responden tidak mengenakan alas kaki (sendal/sepatu), penutup kepala (topi).

Posisikan responden tepat dibawah microtoice.

3. Responden diminta berdiri tegak, persis di bawah alat geser.

4. Posisi kepala dan bahu bagian belakang, lengan, pantat dan tumit menempel pada dinding tempat microtoice dipasang.

5. Padangan lurus kedepan, dan tangan dalam posisi tergantung bebas menghadap paha.

6. Responden diminta menarik nafas panjang untuk membantu menegakkan tulang rusuk. Usahakan badan tetap santai.

7. Gerakan alat geser sampai menyentuh bagian atas kepala responden. Pastikan alat geser berada tepat di tengah kepala responden. Dalam keadaan ini bagian belakang alat geser harus tetap menempel pada dinding.

8. Dibaca angka tinggi badan pada jendela baca kearah angka yang lebih besar (ke

bawah). Pembacaan dilakukan tepat di depan angka (skala) pada garis merah, sejajar dengan mata petugas.

9. Apabila pengukur lebih rendah dari yang diukur, pengukur harus berdiri di atas bangku agar hasilpembacaannya benar. Catat tinggi badan pada skala 0,1 cm terdekat.

(23)

• Sebelum mengukur panjang bayi letakkanlah alat pada permukaan yang rata dengan ketinggian yang nyaman untuk mengukur dan cukup kuat.

• Beri alas yang tidak terlalu tebal, bersih, dan nyaman misalnya selembar selimut tipis atau kertas tisu yang lebar.

• Sebelum megukur tinggi badan bayi lepaskan tutup kepala bayi misalnya topi, hiasan rambut, dan kaos kaki bayi

• Kemudian pengukur berdiri pada salah satu sisi. Sebaiknya sisi yang paling dekat dengan skala pengukur

• Letakkan bayi dengan kepala menempel pada bagian kepala atau head board

• Posisikan kepala bayi sehingga sudut luar mata dan sudut atas liang telinga berada pada garis yang tegak lurus dengan bidang infantometer.

• Usahana dapat mempertahankan kepala bayi pada posisi

• Luruskan tubuh bayi sejajar dengan bidang infantometer

• Luruskan tungkai bayi bila perlu salah satu tangan pengukur menahan agar lutut bayi lurus

• Tangan pengukur menekan lutut bayi kebawah dengan lembut

• Dengan tangan yang lain pengukur mendorong atau menggerakkan bagian kaki atau foot board sehingga menempel dengan tumit bayi.

• Posisi kaki bayi adalah jari kaki menunjuk ke atas

• Baca ukuran panjang badan bayi sampai 0,1 cm terdekat. Pengukuran dapat dilakuakan pada satu atau dua kaki bayi.

PROSEDUR PENGGUNAAN ALAT PENGUKUR PANJANG BAYI

(24)

Detecto

Cara penggunaan :

1. Taruh timbangan pada lantai/tanah yg datar.

2. Berdiri tegap pd timbangan

3. Lihat danbaca angka pd jarum petunjuk

4. Untuk TB : tarik meteran, paskan pada ujung

rambut, baca angkanya.

5. Catat hasil pengukuran Spesifikasi :

1. Menggunakan jarum petunjuk.

2. Maksimal beban 120 kg 3. Tinggi meteran 200 cm

Kegunaan :

 Untuk menimbang berat badan dan

mengukur tinggi badan anak diatas 5tahun, dewasa, lansia.

Kelebihan :

1. Bisa mengetahui BB dan TB bersamaan

2. Bisa digunakan dengan seorang diri karena pada saat membaca angkanya bisa dilihat sendiri

Kekurangan :

1. Kurang praktis karena ukuran yang besar dan berat.

(25)

Pengukuran Tinggi Badan (TB) untuk Lansia

Hasil pengukuran tinggi badan pada Lansia sebagian besar tidak akurat karena komponen penentu tinggi badan lansia sebenarnya telah berubah seperti mengalami osteoporosis (pembungkukan tulang belakang) dan skoliosis, sehingga tidak dapat berdiri dengan tegak.

Gambar

(26)

1. Responden duduk diatas lantai yang datar dengan salah satu kaki ditekuk hingga membentuk sudut 90° proximal hingga patella.

2. Kaki diletakkan di atas alat pengukur tinggi lutut dan pastikan kaki responden membentuk sudat 90° dengan melihat kelurusannya pada tiang alat ukur.

3. Dibaca dengan sedikit menjongkok sehingga mata pembaca tepat berada pada angka yang ditunjukkan oleh alat ukur. Catat tinggi badan pada skala 0,1 cm terdekat.

PROSEDUR MENGUKUR TINGGI LUTUT

(27)

3. Lingkar Kepala

Pengukuran lingkar kepala dapat dilakukan seperti pada gambar dibawah ini :

Tujuan mengukur lingkar kepala pada anak :

 Untuk mengetahui kemungkinan adanya keadaan patologis yang berupa pembesaran (hidrosefalus) atau pengecilan

(mikrosefalus).

(28)

1. Siapkan pita pengukur (meteran)

2. Lingkarkan pita pengukur pada daerah glabella (frontalis) atau supra orbita bagian anterior menuju oksiput pada bagian posterior. Kemudian tentukan hasilnya.

3. Cantumkan hasil pengukuran pada kurva lingkar kepala.

PROSEDUR MENGUKUR LINGKAR KEPALA

(29)

4. Rasio Pinggang Panggul

• Rasio pi-pa diukur mula-mula mengukur lingkaran pinggang (perut) pada lingkaran terkecil diatas umbilikus.

• Kemudian, lingkaran panggul diukur lewat tonjolan gluteus yang paling maksimal

(30)

Untuk

mengetahui resiko tinggi Penyakit DM type II,

Kolesterol, Hipertensi, Jantung

Tujuan Pengukuran Lingkar Pinggang dan

Panggul

Prosedur mengukur lingkar pinggang

1. Responden menggunakan pakaian yang longgar (tdk menekan) sehingga alat ukur dapat diletakan dengan sempurna. Sebaiknya pita pengukur tdk berada diatas pakaian yang digunakan.

2. Responden berdiri tegak dengan perut dalam keadaan rileks

3. Pengukur menghadap ke subyek dan meletakkan alat ukur melingkar pinggang secara horizontal dimana merupakan bagian paling kecil dari tubuh atau pada bagian tulang rusuk paling terakhir.

4. Pengukuran dilakukan di akhir dari ekspresi yang normal dan alat ukur tidak menekan kulit.

5. Dibaca dengan teliti hasil pengukuran pada pita hingga 0,1 cm terdekat.

(31)

1.Responden mengenakan pakaian yang tidak terlalu menekan.

2.Responden berdiri tegak dengan kedua tangan berada pada kedua sisi tubuh dan kaki rapat.

3.Pengukur jongkok disamping responden sehingga tingkat maksimal dari panggul terlihat.

4.Alat pengukur dilingkarkan secara horizontal tanpa menekan kulit. Seorang pembantu diperlukan untuk meletakkan alat ukur dengan tepat.

5.Dibaca dengan teliti hasil pengukuran pada pita hingga 0,1 cm terdekat.

Prosedur mengukur Lingkar Panggul

(32)

• Rumus Rasio pi-pa :

𝑙𝑖𝑛𝑔𝑘𝑎𝑟 𝑃𝑖𝑛𝑔𝑔𝑎𝑛𝑔 𝑙𝑖𝑛𝑔𝑘𝑎𝑟 𝑃𝑖𝑛𝑔𝑔𝑢𝑙

• Rasio pi-pa (WHR) sebesar <1,0 –1,0bagi laki-laki

danuntukwanita<0,8 –0,8 merupakan nilai yang normal.

(Hartono, Andry. 2006)

(33)

Lingkar lengan atas memberikan gambaran tentang keadaan jaringan otot dan lapisan lemak bawah kulit. Lingkar lengan atas akan berkolerasi dengan in deks BB/U maupun BB/TB.

Pengukuran LILA sangat penting untuk menentukan apakah ibu hamil mengalami Kekurangan Energi Kronis (KEK). LILA <23,5cm menandakan KEK, sedangkan LILA

>23,5cm menandakan bukan KEK.

5. Lingkar Lengan Atas Menurut Umur (LLA/LILA)

(34)

1. Responden diminta berdiri tegak

2. Responden diminta untuk membuka lengan pakaian yang menutup lengan pakaian yang menutup lengan kiri atas (bagi yang kidal gunakan lengan kanan)

3. Tekukan tangan responden membentuk 90° dengan telapak tangan menghadap ke atas. Pengukur berdiri dibelakang dan menentukan titik tengah antara tulang rusuk atas pada bahu kiri dan siku.

4. Ditandai titik tengah tersebut dengan pena

5. Dengan tangan tergantung lepas dan siku lurus disamping badan, telapak tangan menghadap ke bawah.

6. Diukur lingkar lengan atas pada posisi mid point dengan pita LILA menempel pada kulit dan dilingkarkan secara horizontal pada lengan. Perhatikan jangan sampai pita menekan kulit atau ada rongga antara kulit dan pita.

7. Lingkar lengan atas dicatat pada skala 0,1 cm terdekat.

Prosedur penggunaan LILA

(35)

Tujuan pengukuran LILA pada anak berusia

dibawah 5 tahun :

 Untuk mengetahui resiko tinggi terkena KEP (Kekurangan Energi Protein) yang

berdampak anak bayi &

balita terkena Marasmus dan

Kwashiorkor sehingga menghambat tumbuh kembang (IQ menurun, Pendidikan terhambat, tdk produktif)

Tujuan pengukuran LILA pada WUS

(Wanita Usia Subur) :

 Untuk mengetahui resiko tinggi terkena KEK (Kekurangan Energi Kalori) yang menyebabkan BBLR.

Kelemahan

menggunakan LILA : 1. Buku LILA yang

sekarang digunakan belum mendapat pengujian yang memadai untuk digunakan di Indonesia.

2. Kesalahan

pengukuran relatif lebih besar

dibandingkan pada TB.

3. Sensitif untuk suatu golongan tertentu (Bayi&Balita), tetapi kurang sensitif untuk golongan dewasa.

(36)

Pengukuran lemak tubuh melalui pengukuran ketebalan lemak bawah kulit dilakukan pada beberapa bagian tubuh, misalnya pada bagian lengan atas, lengan bawah, di tengah garis ketiak, sisi dada, perut, paha, tempurung dan lainnya.

6. Tebal Lemak Bawah Kulit

(37)

1. Pengukuran dilakukan pada daerah boceps (daerah lengan bagian atas), triceps (daerah lengan bagian belakang), subscapular (daerah bagian bawah bahu), dan supraililac (daerah pinggang depan). Pengukuran dilakukan pada sisi kiri tubuh.

2. Kulit dicubit dan diangkat (tidak terlalu kuat) di antara jari telunjuk dan ibu jari tangan kiri, tanpa menyertakan jaringan otot dibawahnya.

3. Pada setiap bagian tubuh dilakukan pengukuran masing-masing 3 kali hasilnya kemudian di rata-ratakan. Selanjutnya hasil rata-rata pengukuran daerah I,II,II,IV dijumlahkan

Prosedur mengukur Tebal Lemak Dibawah

Kulit

(38)

Indeks Massa Tubuh (IMT)

IMT adalah perbandingan antara berat badan dengan tinggi badan. Biasanya digunakan untuk menilai berat badan orang dewasa. Tujuannya untuk

mengetahui apakah berat badan tergolong kurang, normal, lebih atau obese.

Rumus IMT :

𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝐵𝑎𝑑𝑎𝑛 (𝑘𝑔) 𝑇𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖 𝐵𝑎𝑑𝑎𝑛2 (𝑚)

(39)

Interpretasi nilai IMT pada orang dewasa untuk Indonesia (Depkes RI, 2004) adalah sebagai berikut :

1. IMT < 17,0 : Berat badan kurang tingkat berat (sangat kurus)

2. IMT 17,0-18,4 : Berat badan kurang tingkat ringan (kurus)

3. IMT 18,5-25,0 : Berat badan normal

4. IMT 25,1-27,0 : Berat badan lebih tingkat ringan (gemuk)

5. IMT > 27,0 : Berat badan lebih tingat berat (sangat gemuk)

(40)

Contoh pengukuran IMT :

Andi memiliki berat badan 45kg sedangkan tinggi badannya 158cm. Berapa IMT andi ?

𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝐵𝑎𝑑𝑎𝑛 (𝑘𝑔)

𝑇𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖 𝐵𝑎𝑑𝑎𝑛2 (𝑚) = 45

(158/100)2 = 18 ( Kurus tingkat ringan )

(41)

Indeks Penilaian Status Gizi Anak

Untuk menilai status gizi anak usia dibawah 5 tahun digunakan beberapa indeks, yaitu:

1. Berdasarkan BB/U 2. Berdasarkan BB/TB

3. Berdasarkan PB/U atau TB/U 4. Berdasarkan IMT/U

(42)
(43)
(44)
(45)

KLINIS

• Pemeriksaan klinis adalah metode yang sangat penting untuk menilai status gizi masyarakat yang didasarkan atas perubahan-perubahan yang terjadi yang dihubungkan dengan ketidakcukupan zat gizi.

• Klinis dapat dilakukan dengan cara melihat pada jaringan epitel (superficial epithelial tissues) seperti

a. Kulit c. rambut

b. Mata d. mukosa oral

e. Kelenjar tiroid

(46)

Kegunaan Metode Klinis

• Umumnya untuk survei klinis secara cepat (rapid clinical surveys).

Survei ini dirancang untuk mendeteksi secara cepat tanda-tanda klinis umum dari kekurangan salah satu atau lebih zat gizi.

• Disamping itu digunakan untuk mengetahui tingkat status gizi

seseorang dengan melakukan pemeriksaan fisik yaitu tanda (sign) dan gejala (symptom) atau riwayat penyakit.

(47)

Tanda Klinis Anemia

a. Kulit : Pucat dan timbul bintik merah b. Kelopak Mata : Pucat

c. Rambut : Rontok

d. Mukosa oral : Kering dan sakit

(48)

Tanda Klinis Kurang Energi Protein

KWASIORKOR

• Edema, umumnya seluruh tubuh, terutama pada punggung kaki (dorsum pedis), perut dan tangan

• Muka bulat seperti bulan (moonface)

• Pandangan mata sayu

• Rambut yang kering, jarang, dan rapuh, bahkan dapat berubah warna menjadi putih atau kuning kemerahan.

• Bercak merah pada kulit yang berubah gelap atau mengelupas.

• Mudah marah.

• Kelelahan dan mengantuk.

• Tubuh tidak berkembang.

• Perut membesar.

• Kuku pecah

• Berubahnya pigmen kulit.

• Diare.

• Ruam atau dermatitis.

MARASMUS

• Pertumbuhan terhambat

• Lemak dibawah kulit berkurang

• Otot-otot berkurang dan melemah

• Tampak sangat kurus, hingga tulang terbungkus kulit

• Apatis dan wajah seperti orang tua

• Cengeng, rewel

• Kulit keriput

• Anak kelihatan waspada dan lapar

• jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada (pada daerah pantat tampak seperti memakai celana longgar/baggy pants)

• Perut cekung

• Iga gambang

• Gastroenteritis yang diikuti dehidrasi, infeksi saluran pernapasan, tuberkulosis, cacingan berat dan penyakit kronis lain

• Diare

• Terdapat darah pada tinja.

(49)

TANDA KLINIS GAKI

• Seseorang menjadi malas dan lamban

• Kelenjar tiroid membesar yang biasa disebut sebagai gondok di masyarakat.

• Gondok ini diakibatkan karena konsentrasi hormon tiroid menurun dan hormone perangsang tiroid / TSH (Thyroid Stimulating Hormone) meningkat agar kelenjar tiroid mampu menyerap lebih banyak yodium bila kekurangan berlanjut sehingga selkelenjar tiroid membesar dalam usaha meningkatkan pengambilan yodium oleh kelenjar tersebut.

• Pada ibu hamil dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin, dan dalam keadaan berat bayi lahir dalam keadaan cacat mental yang permanen serta hambatan pertumbuhan yang dikenal sebagai kretinisme.

(50)

TANDA KLINIS KEKURANGAN VIT A

menurut klasifikasi WHO / USAID UNICEF / HKI / IVACG, 1996 sebagai berikut:

- XN : Buta senja

- XIA : Xerosis konjungtiva (kekeringan pada selaput lendir mata) - XIB : Xerosis konjungtiva disertai bercak bitot

- X2 : Xerosis kornea (kekeringan pada selaput bening mata)

- X3A : Keratomalasia atau ulserasi kornea (borok kornea) kurang dari 1/3 permukaan kornea

- XS : Jaringan parut kornea (sikatriks / scar)

- XF : Fundus xeroftalmia, dengan gambaran seperti “cendol”.

 XN, XIA, XIB, X2 biasanya dapat sembuh kembali normal dengan

pengobatan yang baik. Pada stadium X2 merupakan keadaan gawat darurat yang harus segera diobati karena dalam beberapa hari bisa berubah

menjadi X3.

 X3A dan X3B bila diobati dapat sembuh tetapi dengan meninggalkan cacat yang bahkan dapat menyebabkan kebutaan total bila lesi (kelainan) pada kornea cukup luas sehingga menutupi seluruh kornea (optic zone cornea).

(51)

Kelebihan & Kekurangan Klinis

KELEBIHAN KEKURANGAN

Murah Subjektif

Cepat Keterbatasan kepastian penyebab zat gizi, terkadang penyebabnya bukan karena kurang gizi, tetapi penyebab lain seperti

Infeksi

Tidak membutuhkan highly qualified staff Banyak tanda klinik yang muncul pada tingkat defisiensi berat.

Tidak menimbulkan rasa sakit pada orang yang diperiksa

(52)

BIOKIMIA

Pemeriksaan spesimen untuk uji laboratorium yang dilakukan pada jaringan tubuh dan cairan tubuh seperti darah dan urine

Test laboratorium meliputi pemeriksaan biokimia, hematologi, dan parasitologi.

Butuh spesimen yang akan diuji seperti darah, urin, tinja dan jaringan tubuh seperti hati, otot, tulang, rambut, kuku, dan lemak bawah kulit.

(53)

Penilaian status gizi secara biokimia

Adalah pemeriksaan spesimen yang di uji secara laboratoris.

Seperti : darah, urine, tinja.

(54)

Gambar alat pengukur gula darah, kolesterol, dan

asam urat

(55)

Tujuan Penelitian secara Biokimia

Untuk mengetahui tingkatan status gizi seseorang dengan

melakukan pemeriksaan status biokimia pada jaringan dan

cairan tubuh dan tes fungsional (Ningtyias, 2010).

(56)

Keunggulan pemeriksaan biokimia

1. Dapat mendeteksi defesiensi zat gizi lebih dini

2. Hasil dari pemeriksaan biokimia lebih objektif, hal ini karena menggunakan peralatan yang ditera dan pada pelaksanaannya dilakukan oleh tenaga ahli.

3. Dapat menunjang hasil pemeriksaan metode lain dalam penilaian status gizi.

(57)

Kelemahan penelitian biokimia

1. Pemeriksaan biokimia hanya bisa dilakukan setelah timbulnya ganggua metabolisme.

2. Membutuhkan biaya yang cukup mahal

3. Dalam melakukan pemeriksaan diperlukan tenaga ahli.

4. Kurang praktis dilakukan di lapangan, hal ini karena pada umumnya pemerikssaan laboratorium memerlukan peralatan yang tidak mudah dibawa kemana-mana.

5. Pada pemeriksaan tertentu spesimen sulit untuk diperoleh, misalnya penderita tidak bersedia diambil darahnya.

(58)

Nilai normal kolesterol

Yang dianjurkan pada anak yaitu :

Kolesterol total Kolesterol LDL

Di perbolehkan < 170 mg/dl < 110 mg/dl

Batas tinggi 170-199 mg/dl 110-129 mg/dl

tinggi > 200 mg/dl > 130 mg/dl

kolesterol baik perbatasan bahaya

Kolesterol total < 200 200-239 > 240

Kolesterol HDL < 130

< 100 bila ada DM

130-159 100-159

> 160

Kolesterol LDL > 60 40-59 < 40

(59)

Nilai normal gula darah

Normal

Gula darah puasa (GDP) 70 – 100 mg/dl

Gula darah 2 jam setelah makan 140 mg/dl Gula darah sesat (kapan saja) 70 – 200 mg/dl

(60)

Nilai normal asam urat

normal

Laki-laki 3,4 – 7,0 mg/dl atau 202 – 416 mcmol/L

perempuan 2,4 – 6,0 mg/dl atau 143 – 357 mcmol/L

anak 2,0 – 5,5 mg/dl atau 119 – 327 mcmol/L

(61)

Cara Pemakaian

1. Setiap botol strip pada gula darah, asam urat & kolestrol terdapat chip test.

2. Gunakan chip asam urat untuk test asam urat & chip kolestrol untuk test kolestrol, Chip gula untuk test Gula.

3. Pada layar akan muncul angka/kode sesuai pada botol strip.

4. Setelah itu akan muncul gambar tetes darah & kedip-kedip.

5. Masukan jarum pada lancing/alat tembak berbentuk pen & atur kedalaman jarum sesuai nomor.

6. Gunakan tisu alkohol untuk membersihkan ujung jari anda.

7. Tembakkan jarum pada ujung jari & tekan supaya darah keluar.

8. Darah disentuh pada tepi samping strip & bukan ditetes diatas tengah strip alat test darah EasyTouch.

9. Sentuh pada bagian garis yang ada tanda panah.

10. Darah akan langsung meresap sampai ujung strip & bunyi beep.

11. Tunggu sebentar, hasil akan keluar beberapa detik pada layar.

12. Cabut jarumnya dari lancing juga stripnya & buang.

13. Chip di simpan ke botol lagi.

14. Tutup rapat botol strip apabila tidak dipakai.

15. Perhatikan masa expired / kadaluarsa pada setiap strip .

(62)

PENYAKIT

Asam Urat : kondisi yang dapat menyebabkan nyeri tidak tertahankan, pembengkakan, dan rasa panas persendian.

Biasanya sering terjadi pada sendi jari tangan, lutut, dan pergelangan kaki.

Kolesterol : kondisi tingkat kolesterol dalam darah melampaui batas normal.

Kolesterol mengendap dalam pembuluh darah akan menyebabkan stroke dan serangan jantung.

Diabetes : kondisi kadar gula darah melampaui batas normal.

Diabetes menyebabkan urinnya manis, gangren, luka yang sulit sembuh.

(63)

Kegunaan Metode Biokimia

• Metode ini digunakan untuk suatu peringatan bahwa kemungkinan akan terjadi keadaan malnutrisi yang lebih parah lagi, Banyak gejala klinis yang kurang spesifik, maka penentuan kimia faali dapat lebih banyak menolong untuk menentukan kekurangan gizi yang spesifik

(64)

Pemeriksaan Biokimia

1. PEMERIKSAAN DALAM CAIRAN TUBUH

a) Darah  Kadar protein dalam tubuh, Status gizi Fe, dan Status Gizi Vit A, C, Thiamin, Riboflavin, Niacin

b) Urine  Pemeriksaan kadar protein dalam tubuh, Penentuan status gizi vitamin dan gizi Iodium

2. PEMERIKSAAN JARINGAN TUBUH

a) Biopsi, co : hati, Bone Marrow, sel darah (warna merah muda/ tua)

b) Bagian tubuh: rambut, kuku, mineral c) Tes Fungsi Organ, co : SGOT, SGPT

(65)

PEMERIKSAAN DARAH

A. HAL YANG DIPERIKSA

• Kadar protein dalam tubuh (deteksi KEP)

• Status gizi Fe (deteksi AGB)

• Status Gizi Vit A, C, Thiamin, Riboflavin, Niacin

pada pemeriksaan darah tidak memerlukan biopsi karena hanya memeriksa darah dan serum

B. Faktor Eksternal yang perlu diperhatikan dalam pemeriksaan darah:

• Sterilitas

• Kontaminasi  penyimpanan botol: suhu supaya tidak rusak

Contoh pemeriksaan darah : untuk deteksi anemia megaloblastis  banyak sel darah muda (<< B12)

(66)

PEMERIKSAAN URINE

A. HAL YANG DIPERIKSA

• Pemeriksaan kadar protein dalam tubuh (deteksi KEP)

• Penentuan status gizi vitamin (deteksi kekurangan vit A)

• Penentuan status gizi Mineral (deteksi GAKI & AGB) B. TUJUAN

• Menggambarkan kondisi akut daripada kronis

• Menentukan status mineral, vitamin, larut dalam air, protein

• Menggambarkan “dietary intake”

(67)

Kelebihan & Kekurangan Biokimia

KELEBIHAN KEKURANGAN

Penilaian Objektif Biaya mahal, alat dan bahan mahal dan langka

Gradible, dapat dirangking apakah ringan, sedang atau berat.

Hanya dilakukan bila sudah timbul gangguan metab

Deteksi dini defisiensi zat gizi Dibutuhkan data referensi untuk menentukan hasil lab.

Menunjang hasil pemeriksaan metode lain exp: antrop, klinis dsb

Kesukaran yang berhubungan dengan spesimen pada saat pengumpulan, pengawetan, dan transportasi.

Kurang praktis untuk dilakukan di lapangan

(68)

BIOFISIK

penentuan status gizi berdasarkan kemampuan fungsi dari jaringan dan perubahan struktur dari jaringan.

 Fungsi : melihat kemampuan fungsi jaringan dan perubahan struktur

 Kekurangan : Biaya sangat mahal dan butuh tenaga ahli

(69)

Pemeriksaan Biofisik

• Tes Fungsi Fisik

Mengukur perubahan fungsi yang dihubungkan dengan ketidakcukupan gizi :

Ketajaman penglihatan, adaptasi pada keadaan gelap  KVA

Penampilan fisik, koordinasi otot2

• Sitologi

 Untuk KEP berat

 Melihat noda epitel dari mukosa oral

(70)

Pemeriksaan Biofisik

• Uji Radiologi

Untuk kelainan tertentu yang memiliki tanda yang jelas/khas

JENIS PENYAKIT TANDA

Riketsia Pelebaran tulang lengan dan pinggul

Osteomalasia Kelainan bentuk tulang dan

rapuh,khususnya panggul

Beri-beri Pembesaran jantung

Fluorosis Pengerasan tulang , pengpuran dan

perubahan bentuk tulang belakang

Gambar

Gambar alat pengukur gula darah, kolesterol, dan  asam urat

Referensi

Dokumen terkait

Status gizi tidak hanya diketahui dengan mengukur berat badan (BB) atau tinggi badan (TB) sesuai dengan umur (U) secara masing-masing, tetapi juga dalam bentuk