• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemahaman Interkoneksi. Agus Priyanto

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pemahaman Interkoneksi. Agus Priyanto"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

Pemahaman Interkoneksi

Agus Priyanto

(2)

Definisi Definisi

Interkoneksi antar jaringan adalah keterhubungan langsung antara dua jaringan Interkoneksi antar jaringan adalah keterhubungan langsung antara dua jaringan yang dikelola oleh penyelenggara yang berbeda.

yang dikelola oleh penyelenggara yang berbeda.

Hal – hal yang menyangkut dengan interkoneksi jaringan :y g y g g j g

• Pada awal kompetisi, peran regulator sangat kritis untuk interkoneksi;

• New entrance sangat membutuhkan interkoneksi untuk dapat

k b i b l di iliki l h i b

mengakses sebagian besar pelanggan, yang dimiliki oleh incumbent.

Dilain pihak incumbent tidak butuh interkoneksi , dan sekaligus tidak ingin disaingi.

l b k k b h l d l k

• Pengalaman membuktikan bahwa peran Regulator tetap diperlukan, terutama terkait dengan layanan interkoneksi terminasi.

• Keberhasilan kompetisi dan liberalisasi, tergantung kepada adanya peraturan/pengaturan dari Regulator yang memadai termasuk penegakan hukum.

(3)

Definisi Definisi

y Interkoneksi sebelum 2006 masih menggunakan formula b i h il

bagi hasil

y Semenjak tahun 2006 diberlakukan berdasarkan biaya (berbayar berdasarkan trafik yang dikirim)

( y y g )

y Interkoneksi pada dasarnya bukan bisnis penyelenggara

y Interkoneksi merupakan kewajiban yang harus dipenuhi oleh penyelenggara untuk menjamin

keterhubungan antar 1 pelanggan dengan pelanggan lainnya.

lainnya.

(4)

Peran Regulator Peran Regulator

Regulator menentukan hal-hal berikut :

• Prinsip-prinsip untuk mencapai persyaratan yang adil &

wajar untuk menggunakan/meng-akses bottleneck.

• Infrastruktur apa saja yang masuk kategori bottleneck

• Prinsip-prinsip untuk mencapai persyaratan yang adil &

wajar untuk menggunakan/meng-akses bottleneck.

• Infrastruktur apa saja yang masuk kategori bottleneckInfrastruktur apa saja yang masuk kategori bottleneck.

• Menjadi mediator bila diperlukan.

• Menentukan jadwal negosiasi.

Infrastruktur apa saja yang masuk kategori bottleneck.

• Menjadi mediator bila diperlukan.

• Menentukan jadwal negosiasi.j g

• Punya kewenangan untuk menentukan siapa Dominan Operator

j g

• Punya kewenangan untuk menentukan siapa Dominan Operator

(5)

Dasar Hukum Interkoneksi Dasar Hukum Interkoneksi

• Pasal 10 : Larangan praktik monopoli dan persaingan tidak sehat antara PenyelenggaraTelekomunikasi mengacu pada UU no 5 tahuny gg g p 1999

• Pasal 25 : Setiap Penyelenggara jaringan wajib memberi interkoneksi dan berhak mendapatkan interkoneksi dari penyelenggaralainnya, berdasarkan :Efisiensi, KeserasianTeknis, Peningkatan Mutu pelayanan, Persaingan sehat

UU 36 / 1999

• Pasal 20 : Wajib menjamin tersedianya interkoneksi; Dilaksanakan pada titik Interkoneksi ( POI ).

• Pasal 21 : Dilarang melakukan diskriminasi.

PP 52 / 2000 • Pasal 22 : Berdasarkan kesepakatan dan dituangkan dalam perjanjian tertulis ; Apabila tidak terjadi kesepakatan, para pihak dapat meminta penyelesaian Menteri atau mencari upaya hukum.

PP 52 / 2000

• Peraturan menteri

Tentang Interkoneksi

PM 8 /2006

g

(6)

Layanan Interkoneksi Layanan Interkoneksi

Terdapat 3 Layanan dari interkoneksi

• Originasi : Pembangkitan panggilan interkoneksiOriginasi : Pembangkitan panggilan interkoneksi dari jaringan penyelenggara asal

• Terminating : Pengakhiran panggilan interkoneksig g p gg di penyelenggara tujuan

• Transit : Penyaluran panggilan interkoneksi dari

l l k d l

penyelenggara asal kepada penyelenggara tujuan melalui penyelenggara jaringan lainnya

(7)

Dasar Interkoneksi Dasar Interkoneksi

Pencari Akses

Penyelenggara jaringan / jasa telekomunikasi yang meminta layanan interkoneksi dan Penyelenggara jaringan / jasa telekomunikasi yang meminta layanan interkoneksi dan akses terhadap fasilitas penting untuk interkoneksi kepada penyelenggara lainnya

Penyedia Akses

Penyelenggara jaringan / jasa telekomunikasi yang memiliki layanan interkoneksi dan akses terhadap fasilitas penting interkoneksi yang diminta oleh penyelenggara

telekomunikasi lainnya

Titik Interkoneksi (Point Of Interconnection)

Titik atau lokasi dimana terjadi interkoneksi secara fisik, dan merupakan batas bagian yang menjadi milik penyelenggara jaringan yang satu dari bagian yang menjadi milik

y g j p y gg j g y g g y g j

penyelenggara jaringan dan atau penyelenggara jasa yang lain, yang merupakan titik batas wewenang dan tanggung jawab mengenai penyediaan, pengelolaan, dan

pemeliharaan jaringan.

(8)

Dasar Interkoneksi Dasar Interkoneksi

Titik Pembebanan (Point Of Charge)

Titik referensi yang merupakan lokasi geografis untuk menetepakan besaran biaya interkoneksi dan tanggung jawab terhadap panggilan interkoneksi

Sentral Gerbang (Gateway) Interkoneksi Sentral Gerbang (Gateway) Interkoneksi

Perangkat dalam suatu jaringan yang merupakan gerbang ke jaringan lain, dan langsung berhubungan dengan sentral gerbang jaringan melalui titik interkoneksi.

Link Interkoneksi

Sistem transmisi yang dipergunakan untuk keperluan interkoneksi

Route

Jalur dalam jaringan yang diikuti atau harus diikuti untuk menyalurkan pesan atau untuk membangun hubungan antara titk asal dan titik tujuan.

(9)

Konfigurasi Dasar Interkoneksi ( l l )

(seluler)

TERMINASI ORIGINASI

POI BTS

B#

BTS

ON NET

A#

Si A (A#) menelpon Si B

(B#) POC 2

BTS POI

TERMINATION CHARGE/ FF E POC 1

OFF NET B#

INTERCONNECTION CHARGE

POC 3

(10)

K fig i D I t k k i (fi d) Konfigurasi Dasar Interkoneksi (fixed)

(11)

Skema Interkoneksi (originasi dan t i i)

terminasi)

(12)

Skema Interkoneksi (Transit) Skema Interkoneksi (Transit)

(13)

Bisnis Interkoneksi Bisnis Interkoneksi

y Trafik interkoneksi masih menjadi bisnis yang memberikan porsi pendapatan yang besar terutama bagi penyelenggara net-receiver (mendapatkan terminasi lebih besar daripada terutama bagi penyelenggara net receiver (mendapatkan terminasi lebih besar daripada originasi).

Perkembangan Trafik Voice di Indonesia 180 00

Trafik Total 140.00

160.00 180.00

)

Trafik Total Trafik Interkoneksi

80.00 100.00 120.00

fik (Milyar Menit)

Trafik Interkoneksi

20.00 40.00 60.00

Traf

-

2005 2006 2007 2008

(14)

Pengaturan POI dan POC eksisting Pengaturan POI dan POC eksisting

Ketentuan tentang penetapan titik pembebanan atau zona

pembebanan serta jumlah titik interkoneksi sesuai yang terdapat pembebanan serta jumlah titik interkoneksi sesuai yang terdapat dalam FTP (Fundamental Technical Plan) nasional yang berlaku adalah sebagai berikut :

b b d l k l d k

y Zona Pembebanan (POC) dari Jaringan tetap lokal ditetapkan

sesuai dengan penetapan area lokal danal penomoran jaringan tetap lokal, yang ditetapkan berdasarkan pertimbangan geografis

y Zona Pembebanan (POC) dari Jaringan bergerak seluler

didefinisikan dan ditetapkan sendiri oleh penyelenggara jaringan bergerak selularg

y Lokasi titik interkoneksi ditetapkan sepanjang teknis

memungkinkan untuk melakukan fungsi dari titik interkoneksi.

(15)

Arah Regulasi Interkoneksi Arah Regulasi Interkoneksi

Regulasi Eksisting egu as s s g Arah Regulasi Kedepan

• POI dan POC Fixed diatur sesuai FTP Nasional sedangkan mobile tidak

• Jumlah POI ≠ jumlah POC

• Perlu pengaturan POI dan POC yg regulated

• Adanya Keseimbangan Jumlah POI dan POC

• Arah perkembangan Teknologi Ke depan (NGN) yang tidak memerlukan banyak POI j

• Penetapan zone pembebanan diatur oleh masing-masing operator sesuai strategi bisnisnya masing- masing

• Adanya Fair bisnis interkoneksi dan tidak merugikan salah satu pihak

• Efisiensi penyelenggaraan industri

• Memberikan benefit pada semua pihak

• Sering Terjadi dispute di lapangan • Cross Subsidi dapat dihilangkan

Regulasi Masa Transisi

• Penyesuaian jumlah POI dan POC terutama pada area layanan yang sering menimbulkan dispute

• Penetapan POI dan POC yang akan diatur secara bertahap

• Penetapan model untuk pengaturan POI dan POC denganPenetapan model untuk pengaturan POI dan POC dengan melibatkan masukan dari Stakeholder

• Revisi regulasi yang ada yang sudah tidak sesuai lagi

(16)

Trend interkoneksi di masa depan Trend interkoneksi di masa depan

Dengan adanya perubahan jaringan dari yang semula berbasisTDM menjadi jaringan berbasis IP Dengan adanya perubahan jaringan dari yang semula berbasisTDM menjadi jaringan berbasis IP yang lebih convergence, maka secara tidak langsung telah menyebabkan terjadinya perubahan struktur telekomunikasi dari penyelenggaraan jaringan dan jasa telekomunikasi dari yang dulunya bersifat vertikal menuju ke horizontal integrasi

(17)

Interkoneksi pada NGN Interkoneksi pada NGN

(18)

Gambaran Umum NGN Gambaran Umum NGN

ƒ Jaringan paket data (packet-based network) ang mem ngkinkan men ediakan la anan yang memungkinkan menyediakan layanan termasuk layanan telekomunikasi dan dapat menggunakan broadband, teknologi transport yang didukung Quality of Sevice (QoS enabled) yang mana layanannya (service) independen

dari teknologi layer transport-nya.

da e o og aye a spo ya

ƒ NGN ini memungkinkan pengguna (user) dapat mengakses penyedia layanan yang berbeda- beda, serta mendukung mobilitas standar yang konsisten dari layanan ke pengguna.y p gg

(19)

Gambaran Umum NGN Gambaran Umum NGN

NGN melibatkan perubahan pada arsitektur utama, yakni: pada core network, NGN menyiratkan konsolidasi dari beberapa jaringan transport yang dibangun untuk berbagai layanan ke dalam satu jaringan transport berbasis IP. Pada jaringan akses, terjadi migrasi dari circuit switch (voice) menjadi infrastruktur berbasis packet switch (VoIP). Dengan bersatunya beberapa platform ke dalam platform berbasis IP membuat struktur NGN bersatunya beberapa platform ke dalam platform berbasis IP, membuat struktur NGN menjadi flat.

(20)

Gambaran Interkoneksi NGN Gambaran Interkoneksi NGN

• Tergantung kesiapan I f t kt POI

Infrastruktur POI

• Masih dibedakan interkoneksi pada POI berbasis IP

• TDM & NGN

• TDM & TDM

• NGN & NGN

Masa Transisi

dengan TDM

Interkoneksi Interkoneksi

NGN

• NGN & NGN

Fully NGN

• POI sudah didesain full network NGN

• Interkoneksi sudah berbasis IP

berbasis IP

(21)

I t k k i NGN d t i i Interkoneksi NGN pada masa transisi

Media

TDM

IP Based

I t t

Gateway Border Gateway

Link

IP Link

Operator-1

Interconnect Exchange

y Media Gateway

TDM Link IP Li k

Operator-2 Border

Gateway

IP Link

Pola Interkoneksi Titik Interkoneksi Pola Interkoneksi Titik Interkoneksi Interkoneksi dengan penyelenggara jaringan

berbasis TDM (sirkit switch based)

Media Gateway (MGW)

Interkoneksi dengan penyelenggara jaringan berbasis NGN (IP based)

Border gateway atau

Session Border Controller

(22)

I t k k i NGN d t i i Interkoneksi NGN pada masa transisi

(23)

J i I t k k i d l NGN Jenis Interkoneksi pada layanan NGN

(24)

Contoh implementasi IP network Contoh implementasi IP network

architecture

(25)

A typical IP network architecture A typical IP network architecture

Nodes

Core Router

Core Router

Core ring Nodes

deployed in redundant pairs

Edge

Router Edge

Router

Edge rings

Three-tier ring

Aggregation rings

Aggregation Router

Aggregation Router

ring

topology

MSAN MSAN MSAN

Router Router

MSAN rings

19 MSANs

MSAN MSAN

(26)

Network Architecture

Hi hi l N k

Hierarchical Network

3 tier infrastructure of Networks

9 Access Network (all customers

MetroE Network

Access

PSTN (Voice) IPTV

connect here)

9 Metro E Network (IP & regional based transport)

9 IP MPLS Network (service creation &

IP/MPLS Network

Internet PSTN (Voice)

Mobile (Voice)

IPTV the backbone)

Data

( )

Benefit:

9 Facilitate the behavior differences 9 Easier to deploy, easier to manage 9 Isolate the problem

9 Manageable operational resources 9 Cost effective (centralized vs

distributed service creation) - Redundancy (links, PE-Service, IP Backbone)

- Coverage purpose (ring topology at Metro-E)

26

Hierarchical IP Network Implementation

(27)

Main PoP National Topology

Topologi IP PoP Nasional dibangun oleh 3 kota aggregasi utama dengan

6 M i P P 31 P i P P d 6 S d P P

p g g gg g g

mengedepankan Non-Stop Services Availability & Reliability di IP Backbone

6 Main PoP, 31 Primary PoP, dan 6 Secondary PoP

Connectivity antar PoP:

Dibangun dengan topologi ring (fisik dan logic)g g g g g

Setiap path memiliki proteksi DWDM untuk efisiensi routing logik di sisi IP

27

(28)

Metro Ethernet Regional Architecture

Regional MetroE dibangun dengan 3 layer Hirarki dan memanfaatkan

1. Implementasi model hirarki dan aggregasi pada Network Metro-E

g g g y

OTN/WDM untuk reliability, efisiensi biaya, dan kemudahan operasi

Metro E

2. Terdapat tiga layer hirarki / 3 Tier:

Tier 1 merupakan aggregasiTier 2.

Tier 2 merupakan aggregasiTier 3.

SekumpulanTier 3 yang membentuk ring menujuTier 2 SekumpulanTier 3 yang membentuk ring menujuTier 2 yang sama disebut Cluster.

Komunikasi antar Cluster dilakukan dengan aggregasi melaluiTier 1, tidak terdapat direct communication antar Cluster.

C uste . 3. Tier 1:

Perangkat Metro Tier 1 terletak pada titik IP PoP

Sebagai S-PE layanan Metro-E antar region

Tidak ada direct terminasi akses (OLT/MSAN/DSLAM)Tidak ada direct terminasi akses (OLT/MSAN/DSLAM) 4. Transport dan proteksi antarTier menggunakan

WDM/OTN

5. Untuk lokasi Akses remote/terpencil dibawa menggunakan transport ke Node Metro-E terdekat

28

6. Tidak terdapat direct terminasi node pelanggan / Node-B ke perangkat Metro tetapi melalui terminasi node akses (OLT/MSAN/DSLAM)

(29)

Hirarki Integrasi Network Element

(30)

CONTOH SESSION CALL FLOW CALL SESSION TELKOM

S i C ll S i C ll

MSAN  IMS PG  to OLO PG MSAN  SS PG to  MSAN IMS PG

HSS

DNS AS IMS

Scenario Call : Scenario Call :

MSAN  IMS MD  to OLO PG

CORE

AGCF MGCF

CORE

KOTA          B

KOTA  A

DIAMETER SIP

Protocol : Protocol :

MGCF AGCF

MSAN AGCF

MSAN

SIP H.248

DIAMETER   ALTERNATIF SIP ALTERNATIF H 248 STANDBY

SS

MSAN MSAN

SS

TGW TGW

H.248 STANDBY SIP MSAN SIGNALLING CCS #7

TGW

LE

LE OLO

TD/Combine

RSU RSU RSU RSU

OLO

LE RSU RSU LE RSU

RSU

TDM TDM

(31)

Thank youy

Referensi

Dokumen terkait

Uji hipotesis kedua menunjukkan bahwa variabel active mediation (X2) tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel persepsi efek negatif televisi pada anak (Y),

Hal ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan Chandra, 2012 tentang ”Hubungan Pengetahuan dan Sikap Wanita Pekerja Seks Komersial dengan Tindakan Pencegahan

Penelitian ini merupakan penelitian yang dilakukan bersama tim peneliti konseling menopause, menggunakan rancangan eksperimen semu, terdiri dari dua kelompok yakni kelompok

Ciri-ciri Polyrachis illaudata yang ditemukan adalah panjang total tubuh 9 mm, warna tubuh hitam mengkilau, bagian kepala terdapat antena terdiri dari 12 ruas,

Istilah perkolasi barasal dari bahasa latin per yang artinya “melalui” dan colare yang artinya “merembes”, secara umum dapat dinyatakan sebagai proses di mana obat yang sudah

Para ekspositor konservatif biasanya menghrapkan peristiwa-peristiwa dalam Alkitab memang benar-benar terjadi secara esensial, seperti yang dilaporkan; “Esau memang

Dari latar belakang yang telah dikemukakan, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa miskonsepsi dapat menimbulkan kesalahan dalam proses pembelajaran, karena

Pertumbuhan Cendawan Entomopatogen Lecanicillium lecanii pada Berbagai Media serta Infektivitasnya terhadap Kutudaun Kedelai Aphis.. glycines Matsumura (Hemiptera: