• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab 5. Ringkasan. sebesar 40 miliar dolar AS, dan hubungan perdagangan kedua negara masih memberikan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Bab 5. Ringkasan. sebesar 40 miliar dolar AS, dan hubungan perdagangan kedua negara masih memberikan"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Bab 5 Ringkasan

Menurut Indonesia Naik Peringkat Sebagai Tujuan Investasi Jepang dalam LKBN ANTARA (2007), sejak 1967 hingga 2007 total jumlah investasi Jepang mencapai

sebesar 40 miliar dolar AS, dan hubungan perdagangan kedua negara masih memberikan surplus bagi Indonesia sebesar 14.2 milyar dolar AS. Survei terbaru Japan Bank for International Cooperation (JBIC) menempatkan Indonesia di urutan kedelapan dari daftar negara tujuan investasi Jepang, yang berarti naik satu tingkat dari posisi sebelumnya. Kenaikan peringkat ini membuktikan Jepang menaruh kepercayaan terhadap upaya-upaya perbaikan iklim investasi di Indonesia.

PT. Nippon Ceramics Indonesia merupakan perusahaan industri otomotif yang berasal dari Jepang yang terletak di Kawasan Industri Cikarang. Perusahaan ini menghasilkan produk berupa filter penyaring emisi gas kendaraan bermotor, namun pada pertengahan tahun 2007 perusahaan tersebut mengalami masalah yang serius.

Setelah dilakukan tes melalui optical gauge, produk berupa filter tersebut tidak dapat berfungsi.

PT. Nippon Ceramics Indonesia berusaha untuk mengatasi masalah ini dengan

menerapkan konsep gemba kaizen. Dengan menerapkan gemba kaizen, perusahaan

tersebut berusaha dapat menemukan penyebab terciptanya produk gagal ini dan dapat

menanggulanginya secara permanen dengan menggunakan biaya yang rendah.

(2)

Jepang.

Gemba kaizen terdiri dari beberapa unsur dalam penerapannya, penulis hanya

menulis unsur-unsur yang berkaitan pada kasus yang terjadi di PT. Nippon Ceramics Indonesia saja pada skripsi kali ini. Adapun unsur-unsur tersebut adalah sebagai berikut:

A. Lima aturan emas

Memahami dan menjaga kontak dengan gemba atau tempat kerja adalah langkah pertama dalam mengelola tempat produksi secara efektif, dalam manajemen gemba ada yang dikenal sebagai lima aturan emas. Kelima butir aturan tersebut

merupakan sekumpulan kata kunci dalam penerapan kaizen di gemba, lima aturan emas dalam manajemen gemba, yaitu

1. Pergi ke gemba 2. Periksa gembutsu

3. Lakukan penanggulangan sesaat 4. Cari akar permasalahan

5. Standarisasi

B. Empat M (4M)

Empat M (4M) merupakan empat sumber daya utama yang terdapat di

gemba. Empat M (4M) terdiri dari manusia (作業者), mesin (機械), material (材料)

dan metode (方法).

(3)

C. Kegiatan Asaichi (朝市)

Pasar pagi atau asaichi ( 朝 市 ) adalah kegiatan yang dibudayakan pada perusahaan Jepang sebagai bagian dari kegiatan harian guna mengurangi tingkat produksi cacat dan gagal di gemba. Dalam bahasa Jepang, asaichi juga berarti “hal pertama di pagi hari”. Pasar pagi gemba umumnya digunakan untuk memperagakan produk cacat atau gagal dari hari sebelumnya, dengan cara ini penanggulangan dapat dipikirkan dan dijalankan.

D. Lima R (5R) atau 5S

Penataan atau 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin) merupakan unsur penting bagi manajemen yang baik. Melalui 5R karyawan mempelajari dan mempraktekan disiplin diri. Karyawan tanpa disiplin diri tak mungkin akan menghasilkan produk maupun layanan yang berkualitas bagi konsumen.

Lima R (5R) merupakan singkatan dari lima istilah Jepang yang berkaitan dengan pemeliharaan tempat kerja yang disebut dengan 5S yang terdiri dari seiri (整 理), seiton (整頓), seisou (清掃), seiketsu (清潔), sitsuke (躾).

E. Standarisasi

Unsur lain penerapan gemba kaizen adalah standarisasi. Standarisasi adalah

proses merumuskan, menetapkan, menerapkan dan merevisi standar, yang

dilaksanakan secara tertib dan berkerjasama dengan semua pihak.

(4)

yang bisa muncul setiap hari seperti standar kerja yang kurang memadai serta kesalahan karena kelalaian operator.

Adapun penerapan unsur-unsur tersebut di PT. Nippon Ceramics Indonesia adalah sebagai berikut:

a. Lima aturan emas

Melalui penerapan lima aturan emas, PT. Nippon Ceramics Indonesia mampu mengidentifikasikan masalah dan menemukan penyebabnya dengan melakukan tahap-tahap sebagai berikut:

1. Pergi ke gemba.

Pihak perusahaan pergi ke gemba untuk melihat keadaan yang sesungguhnya terjadi dan untuk mencari informasi yang sebenar-benarnya.

2. Periksa gembutsu.

Pihak perusahaan melihat dan memeriksa terhadap gembutsu, yang dalam hal ini berupa produk gagal yaitu filter yang tidak dapat berfungsi dan juga melakukan kegiatan pasar pagi atau asaichi.

3. Lakukan penanggulangan sesaat.

Pihak perusahaan pun kemudian melakukan penanggulangan sesaat dengan tetap melakukan produksi dengan menggunakan material yang diimpor dari Jepang.

4. Cari akar permasalahan.

Dalam mencari akar permasalahan, disamping memeriksa gembutsu pihak

perusahaan juga memeriksa empat sumber daya utama di gemba. Akhirnya

(5)

pihak perusahaan menemukan akar permasalahan tersebut dan segera berusaha menemukan solusi untuk menanggulanginya.

5. Standarisasi.

Setelah ditemukan solusi untuk menanggulanginya yaitu dengan melakukan kegiatan 5R terhadap lingkungan kerja dan empat sumber daya utama di gemba (manusia, mesin, material dan metode). Ternyata 5R ini berhasil dan

kemudian pihak perusahaan menetapkan 5R sebagai nilai standar yang baru guna mencegah masalah ini terulang kembali.

b. Pasar pagi atau asaichi (

朝市)

Dalam upaya menemukan akar permasalahan, PT. Nippon Ceramics Indoensia juga melakukan kegiatan asaichi atau pasar pagi. Kegiatan tersebut dilakukan dengan memperlihatkan gembutsu (produk gagal) oleh pihak perusahaan dari bagian produksi kepada seluruh pekerja di gemba pada pagi hari sebelum melakukan pekerjaan.

Hal ini dilakukan agar seluruh pihak tanpa terkecuali para pekerja pun

melihat dan mengetahui gembutsu tersebut, sehingga dengan demikian semua

pihak secara bersama-sama ikut andil dalam mencari penyebabnya. Sesuai

dengan prinsip kaizen di tempat kerja yang berarti penyempurnaan

berkesinambungan yang melibatkan setiap orang baik manajer maupun

karyawan.

(6)

c. Empat M (Manusia, Mesin, Metode, Material)

Dalam upaya menemukan akar permasalahan, PT. Nippon Ceramics Indonesia melakukan penelitian dan investigasi terhadap empat sumber daya di gemba yang disebut juga dengan 4M, yang terdiri dari manusia, mesin, metode

dan material. Adapun penjelasannya sebagai berikut:

1. Manusia (作業者)

Pihak perusahaan memeriksa para pekerja di gemba. Apakah telah melakukan tugasnya masing-masing sesuai dengan metode yang ditetapkan sebelumnya, lalu kedisiplinan pekerja dalam menjaga dan merawat kebersihan lingkungannya, serta kedisiplinan para karyawan dalam mematuhi peraturan yang ada di gemba.

2. Mesin (機械)

Pihak perusahaan memeriksa kondisi mesin sebelum dan sesudah proses produksi dan memastikan kondisi mesin selalu dalam keadaan siap pakai.

3. Metode (方法)

Pihak perusahaan memeriksa apakah ada kekurangan metode tertentu dalam melakukan proses produksi ataupun penyimpanan material dan lain sebagainya.

4. Material (材料)

Pihak perusahaan memeriksa kondisi material dan tempat penyimpanan

materialnya. Memastikan bahwa material tersebut dalam kondisi siap

untuk diolah.

(7)

Dengan melakukan serangkaian konsep ini (lima aturan emas, asaichi, dan 4M) kemudian pihak perusahaan dapat mengetahui penyebab terjadinya produk gagal tersebut yakni terdapat kontaminasi debu atau kotoran terhadap material bahan bakunya. Untuk segera meanggulangi dan mencegah masalah ini terulang kembali, maka pihak perusahaan melakukan 5R, yang akan penulis sampaikan pada sub bab berikutnya.

d. Lima R (5R) atau 5S

Lima R (5R) merupakan budaya tentang bagaimana memperlakukan tempat kerjanya secara benar. Lima R (5R) adalah singkatan dari lima istilah Jepang yang berkaitan dengan pemeliharaan tempat kerja. dalam bahasa Jepang dikenal dengan sebutan 5S yang terdiri dari seiri (整理), seiton (整頓), seisou ( 清掃), seiketsu (清潔), sitsuke (躾).

Setelah pihak perusahaan melakukan kegiatan 5R ini pada lingkungan kerja dan empat sumber daya utama di gemba (manusia, mesin. metode dan material), ternyata membuahkan hasil pada hasil produksinya, tidak ada lagi produk gagal yang dihasilkan oleh PT. Nippon Ceramics Indonesia.

e. Standarisasi

Karena keberhasilan 5R dalam menanggulangi masalah produk gagal ini,

kemudian PT. Nippon Ceramics Indonesia menetapkan 5R sebagai standarisasi

(8)

Seluruh pihak di bagian produksi PT. Nippon Ceramics Indonesia mulai dari pihak manajer sampai operator secara aktif melakukan kegiatan 5R sebagai standarisasi yang diatur dalam SOP (Standar Operasional Produksi), hal ini dilakukan untuk menjaga lingkungan kerja dan semua sumber daya utama agar tetap dalam keadaan yang baik sehingga dapat menghasilkan produk-produk yang berkualitas dan mencegah masalah kontaminasi ini terulang kembali.

Berdasarkan penelitian, PT. Nippon Ceramics Indonesia terbukti telah

berhasil menanggulangi produk gagal dengan menerapkan gemba kaizen, dan

gemba kaizen telah distandarisasikan sebagai alat utnuk mengatasi masalah-

masalah yang timbul di dalam gemba.

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil penelitian di RS.Telogorejo Semarang, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengaruh antara ultrasound dengan LLLT terhadap penurunan nyeri

Begitu pula dengan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Jurusan Administrasi Bisnis Universitas Pembangunan Nasional Veteran Surabaya diharapkan mampu memiliki kontrol diri yang

Sebuah bidang datar ditentukan oleh persamaan: Ax + By + Cz + D = 0 maka bilangan A, B dan C adalah bilangan-bilangan arah bidang datar itu yang

Berdasarkan definisi-definisi diatas, maka dapat disimpulakan bahwa kecenderungan narsistik adalah suatu keinginan individu yang cenderung suka meminta pengaguman, pujian

Layout PCB hendaknya bersih dari segala macam benda yang dapat mempengaruhi dalam proses pembuatan PCB, misal bayangan hitam karena tinta, benda kecil, dan lain sebagainya. Karena

Dalam penelitian ini, hasil belajar yang diperoleh dari guru adalah hasil belajar kognitif yang diambil dari penilaian terhadap kemampuan siswa menjawab dengan benar soal

Kegiatan pelatihan penggunaan Alat Peraga Manual Matematika SD ini diikuti oleh 35 peserta yang berasal dari kecamatan Atinggola di Kabupaten Gorontalo Utara. Kegiatan pelatihan

Babad Buleleng mengandung pola struktur sastra yang meramu tema, alur, latar dan tokoh-tokoh dalam satu-kesatuan yang berupa mitologi dalam jalinan genealogi