9 BAB II
TEORI DAN PERUMUSAN HIPOTESIS
A. Tinjauan Peneliti Terdahulu
Rai Prastuti dan Merta Sudiartha (2016) melakukan penelitian
terkait bagaimana pengaruh struktur modal, kebijakan deviden, dan ukuran perusahaan terhadap nilai perusahaan pada perusahaan manufaktur listing BEI tahun 2011 – 2013 yang bertujuan untuk mengetahui signifikansi pengaruh secara parsial variabel struktur modal terhadap nilai perusahaan. Hasil penelitian tersebut menyimpulkan bahwa struktur modal memiliki hubungan positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan. Selain itu, hasil dari penelitian menyebutkan bahwa kebijakan deviden dan ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan.
Manoppo dan Arie (2016) yang meneliti pengaruh struktur modal,
ukuran perusahaan, profitabilitas terhadap nilai perusahaan pada perusahaan otomotif lisiting BEI tahun 2011 – 2014 menghasilkan kesimpulan bahwa struktur modal berpengaruh positif signifikan terhadap nilai perusahaan. Berdasarkan hipotesis selain hasil tersebut, penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan, namun profitabilitas berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan.
Irawan dan Kusuma (2019) melakukan penelitian terkait pengaruh struktur modal dan ukuran perusahaan terhadap nilai perusahaan pada perusahaan manufaktur listing BEI tahun 2014 – 2016. Hasil penelitian tersebut menyimpulkan bahwa struktur modal tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan sehingga meskipun struktur modal mengalami perubahan tidak akan mempengaruhi nilai dari perusahaan tersebut.
Selain itu hasil dari penelitian tersebut menunjukkan ukuran perusahaan berpengaruh negative dan signifikan terhadap nilai perusahaan.
Pamungkas (2019) dalam penelitiannya terkait bagaimana pengaruh enterprise risk management terhadap nilai perusahaan pada perusahaan manufaktur listing BEI tahun 2012 – 2015. Berdasarkan hipotesis atas penelitian tersebut menghasilkan kesimpulan bahwa enterprise risk management berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.
Iswajuni et al. (2018) melakukan penelitian yang terkait bagaimana pengaruh enterprise risk management terhadap nilai perusahaan pada perusahaan manufaktur listing BEI tahun 2010 – 2013.
Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa enterprise risk management berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.
Pamungkas dan Maryati (2017) melakukan penelitian terkait bagaimana pengungkapan enterprise risk management, pengungkapan intellectual capital, dan debt to asset ratio terhadap nilai perusahaan pada perusahaan manufaktur listing BEI tahun 2011 – 2015. Berdasarkan hasil
pengujian hipotesis yang pertama membuktikan bahwa pengungkapan enterprise risk management tidak memiliki pengaruh terhadap nilai perusahaan. Hasil pengujian atas hipotesis kedua menunjukkan pengungkapan intellectual capital berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Hasil pengujian terhadap hipotesis ketiga menunjukkan bahwa debt to asset ratio memiliki pengaruh terhadap nilai perusahaan.
B. Tinjauan Pustaka
1. Stakeholder theory
Freeman (1982) dalam (Ulum, 2017) menyatakan mengenai stakeholder theory : “any identifiable group or individual who can affect the achievement of an organisation’s objectives, or is affected by the achievement of an organisation’s objectives”. Berdasarkan stakeholder theory, manajemen organisasi diharapkan untuk menjalankan aktivitas - aktivitas yang dianggap penting oleh stakeholder dan melaporkan kembali aktivitas tersebut kepada stakeholder (Ulum, 2015). Stakeholder theory mampu menjawab dua pertanyaan besar pada setiap perusahaan. Yang pertama adalah apakah tujuan perusahaan dan yang kedua adalah kepada siapa kewajiban perusahaan dilaksanakan (Freeman, 2010). Dalam teori ini menuntut perusahaan beroperasi bukan hanya untuk kepentingan sendiri namun juga harus memberikan dampak positif berupa manfaat terhadap stakeholder seperti para pemegang saham, kreditur, konsumen, supplier, pemerintah, masyarakat, pegawai, dan pihak lain. Sehingga
setiap perusahaan harus menyisipkan kepentingan stakeholder dalam kegiatan operasinya dan para manajemen harus terus memikirkan kemakmuran stakeholder terutama bagi shareholder yang berkepentingan terkait financial. Stakeholder theory bertujuan untuk meminimalkan kerugian atas ketidak pastian yang mungkin bagi stakeholder serta membantu bagaimana manajemen perusahaan dalam meningkatkan penciptaan nilai sebagai dampak dari aktivitas – aktivitas yang dilakukan.
Stakeholder theory lebih menekankan bagaimana perusahaan atau organisasi dapat memuaskan keinginan para stakeholder.
Stakeholder theory juga menekankan hak – hak stakeholder salah satunya adalah memperoleh informasi terkait aktivitas- aktivitas perusahaan tersebut yang mana informasi yang disajikan untuk stakeholder dapat berpengaruh bagi investor tersebut terutama informasi yang terkait bagaimana pengelolaan modal yang shareholder tanamkan pada perusahaan tersebut. Adanya kelompok stakeholder menjadi suatu pertimbangan bagi manajemen perusahaan untuk mengungkap atau tidak suatu informasi di dalam laporan perusahaan tersebut (Ulum et al., 2008)
2. Trade off theory
Trade off theory membahas bagaimana hubungan antara struktur modal dengan nilai perusahaan. Esensi dari teori ini dalam struktur modal adalah menyeimbangkan manfaat dan pengorbanan yang timbul
sebagai akibat penggunaan utang dengan memaksimalkan perlindungan pajak terhadap utang serta meminimalkan biaya kepailitan terhadap utang . Disaat utang sudah tinggi namun manfaat yang dihasilkan lebih besar maka kondisi tersebut masih diperkenankan. Ketika pengorbanan karena penggunaan utang sudah sangat tinggi maka perusahaan lebih baik tidak untuk menambah utang. Pada hakikatnya trade off theory menunjukkan bahwa penggunaan utang dapat meningkatkan nilai perusahaan pada titik tertentu dan apabila utang melebihi titik tersebut penggunaan utang dapat menurunkan nilai perusahaan (Myers dan Majluf, 1984).
3. Nilai Perusahaan
Nilai perusahaan dapat didefinisikan sebagai persepsi seseorang terhadap sebuah perusahaan ketika perusahaan tersebut dijual atau diakuisisi. Selain itu nilai perusahaan didefinisikan sebagai nilai pasar karena nilai perusahaan dapat memberikan kemakmuran kepada pemegang saham apabila harga saham mengalami peningkatan. Harga pasar saham dianggap menjadi cerminan dari nilai asset perusahaan sesungguhnya. Harga pasar tersebut terbentuk antara pembeli dan penjual yang disebut sebagai nilai pasar perusahaan. Nilai perusahaan merupakan potensi pertumbuhan suatu perusahaan yang dihubungkan dengan perkembangan harga saham sehingga menimbulkan persepsi investor (Sanjaya dan Linawati, 2015). Dengan keputusan yang tepat terkait bagaimana perusahaan mampu memaksimalkan nilai perusahaan
akan berdampak pada kemakmuran perusahaan termasuk pemegang saham.
Menurut (Hermuningsih, 2013) harga saham yang tinggi akan cenderung membuat nilai perusahaan juga tinggi. Hal tersebut dapat meningkatkan kepercayaan pasar tidak hanya terhadap kinerja financial dan non-financial saja, namun juga terhadap prospek perusahaan di masa depan (Setyanto dan Permatasari, 2014). Konsep nilai suatu perusahaan menurut (Christiawan dan Tarigan, 2007), terdapat beberapa konsep nilai yang menjelaskan nilai suatu perusahaan yang pertama adalah nilai nominal, yaitu nilai yang tercantum secara formal dalam anggaran dasar perseroan, disebutkan secara eksplisit dalam neraca perusahaan, dan juga ditulis jelas dalam surat saham kolektif.
Konsep yang kedua adalah nilai pasar sering disebut kurs adalah harga yang terjadi dari proses tawar menawar di pasar saham. Nilai ini hanya bisa ditentukan jika saham perusahaan dijual di pasar saham.
Konsep yang ketiga adalah nilai intrinsic merupakan nilai yang mengacu pada perkiraan nilai riil suatu perusahaan. Nilai Perusahaan dalam konsep nilai intrinsik ini bukan sekedar harga dari sekumpulan aset, melainkan nilai perusahaan sebagai entitas bisnis yang memiliki kemampuan menghasilkan keuntungan di kemudian hari. Konsep nilai perusahaan yang ke empat yaitu nilai buku, adalah nilai perusahaan yang dihitung dengan dasar konsep akuntansi. Konsep nilai perusahaan yang kelima yaitu nilai likuidasi adalah nilai jual seluruh asset
perusahaan setelah dikurangi semua kewajiban yang harus dipenuhi.
Nilai sisa itu merupakan bagian para pemegang saham. Nilai likuidasi bisa dihitung berdasarkan neraca performa yang disiapkan ketika suatu perusahaan akan dilikuidasi.
Dalam penelitian ini, peneliti melihat pengaruh nilai perusahaan dicerminkan oleh informasi tentang Enterprise Risk Management.
Penyajian berupa informasi non-financial yang diperlukan para investor sebagai bentuk transparansi yang dilakukan perusahaan (Devi et al., 2017). Selain itu, peneliti ingin melihat pengaruh nilai perusahaan yang dicerminkan oleh informasi terkait struktur modal. Penyajian terkait financial juga sangat diperlukan investor sebagai salah satu faktor pertimbangan dalam melihat sehat atau tidaknya keuangan perusahaan tersebut karena peningkatan utang dapat menjadi sinyal adanya ancaman ebangkrutan, dengan adanya ancaman kebangkrutan perusahaan akan berhati – hati dalam mengelola pendanaan seperti dana dari pemegang saham (Brigham, 2010).
Nilai perusahaan tercermin dari harga pasar per lembar saham dari suatu perusahaan yang mana harga tersebut berani dibayar oleh pembeli untuk mendapatkan kemakmuran dari perusahaan. Rasio Price Book Value (PBV) adalah salah satu jenis rasio yang dapat digunakan untuk menghitung nilai perusahaan. Rasio PBV mampu menunjukkan tingkat kemampuan perusahaan dalam menciptakan nilai relative terhadap jumlah modal yang diinvestasikan(Nurhayati dan Harapan,
2013). Nilai PBV yang tinggi menunjukkan harga saham yang tinggi yang artinya semakin berhasil perusahaan dalam menciptakan nilai lebih yang berdampak pada keuntungan pemegang saham.
4. Enterprise Risk Management
Enterprise Risk Management Disclosure (ERM) merupakan pengungkapan atas risiko yang telah dikelola perusahaan atau pengungkapan atas upaya perusahaan dalam mengendalikan risiko (Dwi Astuti, 2018). COSO (2017) mendefinisikan misi terkait manajemen risiko yaitu “The process by which companies identify, measure, manage, and disclose all key risks to increase value to stakeholders”. Dengan manajemen risiko yang baik, diharapkan bahwa setiap risiko dapat teridentifikasi, dikelola, dikendalikan dan ditangani sesuai dengan kondisinya. Sehingga tidak menimbukan dampak negatif dalam mencapai tujuan perusahaan
Enterprise Risk Management dapat dikatakan salah satu strategi perusahaan dalam mempertahankan keberlanjutan usaha. Sehingga diperlukan manajemen risiko dan pengendalian internal yang baik untuk keberhasilan jangka panjang setiap perusahaan. Setiap perusahaan yang mengungkapkan mengenai bagaimana perusahaan dalam mengendalikan risiko terkait ketidak pastian yang mungkin terjadi dengan cara – cara yang telah disiapkan perusahaan akan berpengaruh pada stakeholder. Pengungkapan risiko merupakan salah satu upaya perusahaan untuk berkomunikasi dengan pengguna laporan
tahunan terkait apa saja yang mengancam perusahaan sehingga dapat dijadikan faktor pertimbangan dalam mengambil keputusan. Informasi non financial terkait risiko apa saja yang akan timbul dan pengelolaan manajemen dalam melakukan pengendalian terhadap risiko serta bagaimana mengatasinya, hal seperti ini tentu sangat membantu bagi investor.
Berdasarkan Enterprise Risk Management framework yang dikeluarkan oleh COSO tahun 2017 sebagai pembaruan indikator menyatakan bahwa pengungkapan Enterprise Risk Management terdiri dari 20 item yang mencakup lima dimensi yaitu (1) pemerintahan dan budaya, (2) strategi dan penetapan tujuan, (3) kinerja, (4) ulasan dan revisi, dan (5) informasi, komunikasi, pelaporan. Dengan mengadopsi pendekatan yang sistematis dan konsisten untuk mengelola semua risiko yang dihadapi perusahaan, Enterprise Risk Management dianggap menurunkan risiko kegagalan suatu perusahaan secara keseluruhan, dan dengan demikian dapat meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan (Gordon et al., 2009). Komponen Enterprise Risk Management diperlukan untuk pencapaian tujuan perusahaan baik operasional, strategis, pelaporan keuangan dan kepatuhan. Adapun 20 item pengungkapan Enterprise Risk Management yang terdapat dalam 5 komponen diatas adalah :
Tabel 2.1.
Dimensi Pengungkapan Enterprise Risk Management A. Pemerintahan dan Budaya
1. Latihan Pengawasan Risiko Dewan 2. Membangun Struktur Operasi
3. Menentukan Budaya Yang Diinginkan
4. Menunjukkan Komitmen Terhadap Nilai-Nilai Inti
5. Menarik, Mengembangkan, Dan Mempertahankan Individu Yang Mampu
B. Strategi dan Penetapan Tujuan 6. Menganalisa Konteks Bisnis 7. Menentukan Appetite Risiko 8. Mengevaluasi Strategi Alternatif 9. Merumuskan Tujuan Bisnis C. Kinerja
10. Identifikasi Risiko
11. Menilai Tingkat Keparahan Risiko 12. Prioritaskan Risiko
13. Mengimplementasikan Respons Risiko 14. Mengembangkan Tampilan Portofolio D. Ulasan dan Revisi
15. Menilai Perubahan Substansial 16. Meninjau Risiko Dan Kinerja
17. Mengejar Peningkatan Manajemen Risiko Perusahaan E. Informasi, Komunikasi, Pelaporan
18. Memanfaatkan Informasi Dan Teknologi 19. Mengkomunikasikan Informasi Risiko
20. Laporan Tentang Risiko, Budaya, Dan Eksekutif Kinerja Sumber : COSO (2017)
5. Struktur Modal
Struktur modal merupakan kunci kinerja perusahaan dan perbaikan produktivitas. Struktur modal merupakan kumpulan dana yang dialokasikan untuk perusahaan yang mana baik buruknya struktur modal berdampak langsung terhadap nilai perusahaan. Hutang jangka panjang merupakan salah satu dari bentuk pembiayaan jangka panjang yang memiliki jatuh tempo lebih dari satu tahun.
Mengukur besarnya aktiva perusahaan yang dibiayai oleh kreditur (debt ratio). Semakin tinggi debt ratio, semakin besar jumlah modal pinjaman yang digunakan di dalam menghasilkan keuntungan bagi perusahaan. Modal sendiri adalah dana jangka panjang perusahaan yang di sediakan oleh pemilik perusahaaan (pemegang saham), yang terdiri dari berbagai jenis saham (saham preferen dan saham biasa).
Penambahan utang akan boleh dilakukan apabila manfaat yang diterima akan lebih besar dan jika ternyata pengorbanan karena hutang sudah lebih besar maka penambahan hutang tidak diperbolehkan (Dewi dan Wirajaya, 2013).
C. Perumusan Hipotesis
1. Pengaruh Enterprise Risk Management terhadap Firm Value
Pengungkapan risiko oleh perusahaan menjadi salah satu dari upaya perusahaan untuk berkomunikasi kepada pengguna laporan keuangan sehingga dapat menjadi pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Pengungkapan ERM dapat mempengaruhi pandangan investor terhadap nilai suatu perusahaan dikarenakan dapat diindikasikan bahwa perusahaan benar – benar meningkatkan kemampuan dalam mengelola ketidakpastian, meminimalisir ancaman, memaksimalkan peluang, dan memanfaatkan setiap peluang yang dapat meningkatkan nilai perusahaan (COSO, 2017). Pengungkapan manajemen risiko adalah pengungkapan mengenai bagaimana perusahaan dalam mengendalikan risiko terkait masa mendatang atau
pengungkapan atas risiko-risiko dengan cara yang telah dikelola perusahaan (Sulistyaningsih dan Gunawan, 2018).
Adanya pengungkapam profil risiko, perusahaan lebih dianggap menjalankan prinsip transparansi dan tentu akan menarik investor untuk berinvestasi karena perusahaan dianggap memikirkan kemakmuran investor yang sejalan dengan stakeholder theory bahwa perusahaan tetap memperhatikan kepentingan stakeholders. Dengan begitu sudut pandang investor secara tidak langsung akan terbentuk bahwa perusahaan tersebut memiliki nilai perusahaan yang baik. Hal ini diperkuat oleh penelitian Iswajuni et al. (2018) dan Pamungkas (2019) yang berhasil membuktikan bahwa pengungkapan enterprise risk management berpengaruh positif dan signifikan pada nilai perusahaan.
Maka dengan demikian hipotesis yang diajukan :
H1 : Enterprise Risk Management Disclosure berpengaruh terhadap Firm Value.
2. Pengaruh Capital Structure terhadap Firm Value
Perbandingan antara modal eksternal jangka panjang dengan modal sendiri sering disebut dengan struktur modal yang merupakan aspek penting bagi setiap perusahaan karena mempunyai efek langsung terhadap posisi finansial perusahaan. Trade off theory mendefinisikan struktur modal sebagai penyeimbang antara manfaat dan pengorbanan yang timbul sebagai akibat penggunaan utang. Disaat utang sudah tinggi namun manfaat yang dihasilkan lebih besar maka kondisi
tersebut masih diperkenankan. Ketika pengorbanan karena penggunaan utang sudah sangat tinggi maka perusahaan lebih baik tidak untuk menambah utang.
Berdasarkan trade off theory tersebut dapat ditarik sebuah pernyataan bahwa apabila jika posisi struktur modal berada dibawah titik optimal maka setiap penambahan hutang dapat menaikkan nilai perusahaan. Sebaliknya, apabila utang melebihi titik tersebut penggunaan utang dapat menurunkan nilai perusahaan. Dalam penelitian Rai Prastuti dan Merta Sudiartha (2016) dan Manoppo dan Arie (2016) berhasil membuktikan secara empiris bahwa terdapat adanya hubungan positif antara struktur modal dengan nilai perusahaan.
Oleh karena itu, hipotesis yang diajukan :
H2 : Capital Structure berpengaruh terhadap Firm Value.
D. Kerangka Pemikiran
Kerangka pemikiran yang dapat dibentuk untuk memahami variabel – variabel yang digunakan seperti variabel enterprise risk management disclosure, capital structure, dan firm value dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Gambar 2.1. Kerangka Pemikiran Enterprise Risk
Management Disclosure
Capital Structure
Firm Value